FF Yunhyeong iKON

image

                       HER
               (ONE SHOOT)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Song Yunhyeong (iKon aka Team B)

Other Cast :
All Member iKon aka Team B
Yamamoto Yusuke ( Ouran High School)
Song Eunjin (Yunhyeong sister)

Songfict :
Fudanjuku Ame Tokidoki Hare Nochi Niji

Genre :
Mystery (idol life)

A/N :
Ini FF ke 22 author yang pernah author publish di bulan Januari lalu.
Author coba couple baru lagi nih.
JiHyeong couple.
Jauh dari kata romance karena lebih ke cerita mystery atau mungkin fantasy. Ah author juga bingung nentuin genre nya.
Semoga FF ke 22 ini tidak mengecewakan.
HAPPY READING!
DON’T PLAGIARISM!
.
.
                 ~HER~
.
.
Kalian tau apa itu Edo Tensei?
Suatu jurus terlarang yang berasal dari Jepang. Jurus ini memungkinkan penggunanya untuk menghidupkan seseorang kemudian mengendalikan kesadarannya sesuka hati. Dan dari sinilah kisah itu di mulai.
Saat seseorang tengah berada di kota Tokyo, Jepang, seseorang yang bahkan bukan berasal dari negeri sakura tersebut. Ia telah menghidupkan seseorang yang telah lama meninggalkan dunia fana ini.
Dia adalah, Song Yunhyeong.
.
.
                ~HER~
.
.
“Huwaaaaaa…….Chinca daebak! Suatu saat kita harus kembali ke tempat itu!” Ucap Bobby kagum. Bagaimana tidak, hari ini untuk pertama kalinya, ia dan team nya ikut konser bersama dengan para sunbaenya dalam konser bertajuk YG FAMILY. Meski ia dan team nya belumlah debut, namun para YG Stand, sebutan untuk para penggemar YG Family, sudah banyak mengidolakan mereka sejak mereka mengikuti acara yang di selenggarakn oleh YG Entertainment yakni WIN, singkatan dari Who Is Next. Para penggemar mengenal mereka sebagai Team B.

“Ne, majayo! Kita harus melakukan konser tunggal di sana suatu hari nanti!” Sambung Yunhyeong.

“Ne ne ne. Huwaaaaa…..Membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan!” B.I sang leader bergidik senang.

“Ribuan penonton memenuhi Tokyo Dome City. Huwaaaa……Chinca chinca daebak!” Junhoe, sang maknae ikut berkomentar.

“Donghyuk-Ah, kita berdua yang paling memiliki banyak fans di sana. Itu karena wajah kita tak semenyeramkan mereka. Hahaha…….” Jinhwan ber highfive dengan Donghyuk.

“Ne, hyung. Majayo!” Balas Donghyuk dengan bangganya.

“Errr, jangan lupakan sosok leader dengan penuh kharisma di sini!” B.I membanggakan diri.

Semuanya berdecak mendengar leader mereka begitu percaya diri.

Selesai mengikuti konser, Ke 6 anggota Team B ini langsung kembali menuju hotel tempat dimana mereka menginap.
.
.
                  ~HER~

@Wing International Kourakuen Hotel.

“Neo eodiga?” Tanya Bobby saat melihat Yunhyeong yang telah rapih dan bersiap meninggalkan hotel.

“Hanya keluar sebentar.” Jawab Yunhyeong yang tengah mengenakan sepatunya. Selama tinggal di hotel, Yunhyeong memang tidur satu kamar dengan Bobby.

“Apa aku boleh ikut?” Tanya Bobby bersemangat.

“Aissh, kau hanya akan merepotkanku!” Gerutu Yunhyeong yang sepertinya tidak ingin di ganggu.

“Ajaklah Jinhwan hyung! Ia juga pandai berbahasa Jepang. Aku harus menemui sahabat ayahku. Kebetulan tempatnya tak jauh dari sini.” Yunhyeong sudah selesai mengikat tali sepatunya dengan rapih.

“Apa ke restaurant?” Tebakan Bobby tepat sekali. Yunhyeong memang hendak menemui sahabat ayahnya yang seorang koki, jangan heran jika itu menyangkut makanan, karena Yunhyeong adalah putera pemilik restaurant BBQ yang cukup terkenal di Korea.

“Aku akan membawakannya untukmu!” Sepertinya Yunhyeong sudah hapal isi di kepala Bobby, ia pun langsung bergegas menuju pintu keluar.

“Nan khalke!” Pamitnya.

“JANGAN LUPA MAKANANNYA!” Teriak Bobby membuat Yunhyeong berdecak karenanya.
.
.
                  ~HER~
.
.
Dan di sinilah kini Yunhyeong, disebuah restaurant Seafood bernama Kaisen Misakiko yang terletak di Nakano, Tokyo, Jepang.
Saat ini ia tengah duduk di salah satu kursi yang ada di sudut kiri restaurant. Setelah seorang pramusaji mengantarkan makanan yang ia pesan, namja itu hanya menyesap minumannya dan belum berniat untuk memakan makanan yang ia pesan.

“Kon’nichiwa!”
Sebuah suara khas namja paruh baya berhasil menginterupsikannya untuk menoleh ke sumber suara. Ia lalu bangkit dan membungkukkan tubuhnya memberi salam.

“Ko-Kon’nichiwa!”
Sapanya. Ia pun kembali mengangkat tubuhnya dan melihat namja paruh baya yang tengah mengenakan seragam kebanggaan khas kokinya itu mempersilahkan Yunhyeong untuk duduk di ikuti olehnya yang menyusul setelahnya.

“Ogenki desuka, Yunhyeong-San?”
Yamamoto Yusuke, namja paruh baya itu menanyakan kabar namja muda yang ada di hadapannya saat ini.

“Daijobu, Yamamoto-San. Anata wa do?”
Tanya Yunhyeong balik dengan sopan.

“Watashi mo genki desu!” Jawabnya ramah.

“Eoh….” Yamamoto terlihat berusaha mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.

“Ige…” Yamamoto menyerahkan sebuah kotak mini tepat ke arah Yunhyeong.

“Eoh, Apakah anda bisa berbahasa Korea?” Tanya Yunhyeong nampak terkejut saat mendengar Yamamoto mengucapkan dengan bahasa Korea.

“Hanya sedikit!” Jawab Yamamoto canggung. Ia masih belum terlalu fasih menggunakan bahasa negeri gingseng tersebut.

“Ige mwoya?” Tanya Yunhyeong saat kembali matanya terpokus pada sebuah kotak mini yang di serahkan Yamamoto ke hadapannya.

“Igo….Treasure!” Yamamoto sedikit menggunakan bahasa inggris karena ia belum mengetahui apa bahasa korea dari harta karun.

“Treasure? Apakah anda memberikan ini pada saya?” Tanya Yunhyeong hati-hati.

Yamamoto menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah pada Yunhyeong.
Yunhyeong memiliki paras yang sama persis dengan sahabatnya, yakni ayah Yunhyeong.

“Kami berdua menemukannya saat masih bersekolah di Tokyo University. Namun dia enggan menyimpannya karena takut ibumu akan marah dan berfikir macam-macam tentangnya. Saat itu mereka masih menjadi sepasang kekasih, bukan suami istri seperti sekarang.” Yamamoto memberi penjelasan.

“Lalu kenapa anda memberikannya pada saya?” Tanya Yunhyeong bingung.

“Igo…..Satu minggu lagi saya akan menikah. Akan tidak menyenangkan jika istri saya nanti melihatnya. Jadi kupikir kau bisa menyimpannya menggantikanku.
” Jawab Yamamoto tersipu. Ternyata pria paruh baya ini baru hendak menikah, sedangkan ibu dan ayah Yunhyeong bahkan sudah memiliki 2 orang anak, dirinya dan juga Song Eunjin sang adik.

“Cincin?” Yunhyeong nampak terkejut saat melihat isi kotak mini tersebut. Sebuah cincin berwarna emas yang cukup menyilaukan mata.

“Kenapa anda tidak menjualnya saja?” Tanya Yunhyeong.

“Eoh, Igo….. Saya tidak tega melakukannnya. Kami menemukan itu dan sudah pasti itu ada pemiliknya. Bertahun-tahun saya coba mencarinya, namun hasilnya nihil. Hingga detik ini saya belum mengetahui siapa pemilik cincin tersebut. Saya belum pernah menggunakannya sekalipun. Saya hanya menyimpannya.” Jawab Yamamoto panjang lebar.

“Eoh, waktu saya sudah habis. Saya harus kembali bekerja. Sampaikan salam untuk ayah dan ibumu. Saya akan menyiapkan sedikit makanan untuk kau bawa pulang ke hotel nanti. Dan makanan yang kau pesan tadi, kau tak perlu membayarnya.” Yamamoto bangkit dari kursinya.

“Arigato, Yamamoto-San!” Yunhyeong bangkit, sedikit menundukkan kepalanya untuk mengucapkan terimakasih pada sahabat dari kedua orang tuanya itu.

Yunhyeong kembali duduk setelah kepergian Yamamoto. Ia terus memandangi cincin emas cerah itu.

Memintanya datang hanya untuk memberikan benda ini?
Tapi setidaknya ia mendapatkan makanan gratis hari ini. Ia juga bisa memberikan Bobby makanan tanpa harus mengeluarkan uang se won pun. Tidak buruk. Anggap saja hari ini ia beruntung.
.
.
                    ~HER~
.
.
Setelah kembali ke Korea, para anggota Team B di perbolehkan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing dan di perbolehkan juga untuk tetap tinggal di dorm untuk berlatih dan mengasah kemampuan mereka.

“Apa aku boleh ikut denganmu?” Tanya Bobby saat ia bersiap hendak pulang ke rumahnya.

“Bukankah kau ada pemotretan besok?” Yunhyeong melihat kesedihan di wajah Bobby.

“Bisakah aku tinggal semalam saja? Aku merindukan suasana rumah. Rindu saudara, ayah, Terutama ibu.”

Kali ini Yunhyeong menyerah. Ia tidak tega melihat wajah memohon Bobby.

“Kajja!” Ajak Yunhyeong.

“Chinca?” Bobby nampak tak percaya.

“Atau kau mau ku tinggalkan?”

“Aniyo!” Bobby langsung membereskan barang-barangnya. Ya, ia tidak mungkin pulang karena jarak yang cukup jauh dari Korea ke Virginia, US. Ya, hanya ia seoranglah anggota yang berasal dari negari jauh.
.
.
                 ~HER~
.
.
“Oppa, dimana Bobby oppa?” Tanya Song Eunjin, adik Song  Yunhyeong, saat ia memasuki kamar oppanya itu.

“Hm? Mungkin sudah kembali ke dorm!” Jawab Yunhyeong dengan suara khas bangun tidurnya.

“Aissh, Alaku bahkan belum berfoto dengannya!” Gerutu Eunjin kesal.

“Dia ada pemotretan hari ini.” Yunhyeong sepertinya masih sangat mengantuk.

“Errrr, harusnya kau menyuruhnya untuk tinggal sampai aku terbangun oppa! Kalian datang saat larut malam dan aku sudah terlelap. Sekarang aku bangun lebih awal dan kau membiarkannya pergi sepagi ini!”

“Cerewet!”

“OPPA!” Rengek Eunjin.

“Kau tau aku sangat mengidolakannya, bukan! Setidaknya biarkan aku berfoto dengannya sebelum dia pergi!” Protes Eunjin.

“Aissh!” Yunhyeong terbangun dengan sangat terpaksa.

“OPPA!” Teriak Eunjin kesal saat sang oppa malah meninggalkannya masuk ke dalam kamar mandi.

“Bocah itu semakin besar semakin cerewet saja!” Gumamnya yang sudah berada di dalam kamar mandi. Ini lebih menyeramkan dibandingkan saat B.I mengomelinya.
Ini hari libur dan seharusnya ia dapat menikmati itu dengan tidur seharian di dalam kamar yang ia rindukan itu. Tapi rencana indahnya di ganggu bagitu saja oleh dongsaeng cerewetnya itu.
Menyebalkan! Batinnya.

Saat Yunhyeong hendak mengambil sikat gigi, ia melihat kotak mini yang ia dapat dari Yamamoto saat di Jepang. Semalam ia meletakkannya di sana usai membersihkan diri.
Ia pun kemudian membukanya.

“Sayang sekali jika benda sebagus ini hanya di simpan di dalam kotak mini!” Gumamnya saat mengeluarkan cincin emas terang itu.

“Sebaiknya kugunakan saja. Tidak buruk juga untuk pelengkap aksesoris. Apa di kelingkingku bisa muat, ya?” Yunhyeong memasukkan cincin tersebut ke dalam jari kelingkingnya.

Muat!
Yunhyeong tersenyum puas mendapati benda itu yang akhirnya bertengger di kelingking tangan kirinya.

“Mmmmm, tidak buruk!” komentarnya saat menarik tangan kirinya ke udara.

“Arigato!”
Ucapnya dalam bahasa Jepang.

Yunhyeong merasakan ada hawa dingin yang tiba-tiba menjalar ke seluruh permukaan kulitnya. Bukan karena ia berada di dalam kamar mandi, namun hawa dingin ini bahkan melebihi suhu udara saat musim dingin tiba.
Tubuh Yunhyeong langsung menggigil.
Sungguh ia bisa mati membeku jika tetap seperti ini.

Saat Yunhyeong membuka pintu kamar mandinya, tubuhnya tiba-tiba terpental dan betapa menyakitkannya saat punggung Yunhyeong tepat menyentuh pinggir ranjang. Ia meringis kesakitan. Hawa dingin yang semula menjalar di tubuhnya menghilang secara ajaib.

“Aissh!” Yunhyeong memegang punggungnya yang terasa sakit. Saat ini tubuhnya merosot di atas lantai.

“So, Anata wa watashi ni natte imasu ka?”
“Jadi, kau yang menghidupkanku?” Suaranya lembut, namun nampak begitu tegas.

Yunhyeong langsung mengangkat kepalanya. Wajahnya menegang seketika. Dihadapannya kini berdiri sosok tinggi menjulang seorang yeoja dengan kulit putih bak porselen, rambutnya berwarna emas cerah semakin membuat yeoja itu nampak anggun. Tubuhnya semampai. Rambutnya panjang.
Sempurna!
Itu yang dapat Yunhyeong jabarkan dari sosok yeoja yang kini berjalan perlahan ke arahnya.

“Onemaehanan desuka?”
“Siapa namamu?” Tanya sang yeoja saat duduk bersimpuh di hadapan Yunhyeong.

Yunhyeong mengerjap.

1x

2x

Hingga

“Anata ga watashi no senaka o mukete kita arigato!”
“Terimakasih sudah menghidupkanku kembali!” Yeoja itu menggunakan bahasa jepang. Itu berarti dia berasal dari negeri sakura tersebut. Dan bagaimana ia bisa berada di dalam kamar Yunhyeong?
Apa dia teman sekolah Eunjin?
Mustahil!
Eunjin bahkan tidak menguasai bahasa Jepang seperti dirinya, mana mungkin dia memiliki teman dari Jepang.

“N-neo…..Nu-nuguseyo?” Tanya Yunhyeong terbata menggunakan bahasa Korea.

“Eoh, anata wa Konkoku kara kini!”
“Eoh, kau berasal dari Korea rupanya!”

Bukannya Yunhyeong tidak mengerti dengan yang di ucapkan sang yeoja, ia bahkan sangat-sangat mengenal baik behasa Jepang. Hanya saja, ia masih terlalu terkejut dengan keberadaan yeoja itu yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya. Ia tidak sempat memikirkan untuk mengucapkan sesuatu menggunakan bahasa Jepang. Ini terlalu mengejutkan.

“Kugou Shikami!”
Jawab sang yeoja.

“Ne?”

“Itu di ambil dari kelahiranku. Kugou untuk tahun dan Shikami untuk tanggal dan bulan. Kugou Shikami. Dalam bahasa Korea berarti Park Jiyeon.” perjelas sang yeoja menggunakan bahasa Korea.

“N-neo, bisa berbahasa Korea?”

“Aku adalah mayat yang kau edo tensei. Dapat hidup sempurna selamanya dengan kemampuan tak terbatas dan memiliki tubuh yang akan selalu berregenerasi jika terluka.” Jawab Yeoja bernama Korea Park Jiyeon itu.

“Ma-mayat? Ba-bagaimana mungkin a-aku melakukan itu? A-aku sama sekali tidak bisa menggunakan ilmu beladiri, A-apalagi menghidupkan ma-mayat! I-ini konyol! Kau-kau sangat lucu no-nona. Hahahah…….” Yunhyeong tertawa hambar.

“Kau melakukannya. Cincin itu! Itu adalah cincin yang menyegelku dan kau membuka segel itu dengan sebuah mantra!”

Yunhyeong memandang cincin yang ada di kelingking tangan kirinya.
Bagaimana ia bisa melakukan itu semua?
Kapan ia mengucapkan mantra? Batin Hyunhyeong.

“Punggungmu terluka, bukan! Aku akan bantu menyembuhkanmu!”

“ANDWAE!” Teriak Yunhyeong.

“A-aku rasa kau salah masuk rumah orang, nona! Sebaiknya kau pergi dan kembali menemukan tujuanmu!” Yunhyeong nampak prustasi.
Hal yang seumur hidup tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Menghidupkan mayat?
Edo tensei?
Mantra?
Itu hal konyol!

Park Jiyeon, yeoja itu bangkit dan berjalan ke arah jendela kamar Yunhyeong yang memang berada di lantai dua rumahnya.

“Aku akan membuktikannya padamu!” Ucapnya.

“Katon, Housenka No Jutsu!”

Mata Yunhyeong melebar saat nafas yeoja itu mengeluarkan bola api kecil dengan jumlah tak sedikit.

“A-apa yang…..”

“Itu adalah salah satu jurus yang bisa ku gunakan.”

Yunhyeong mematung di tempat. Ia menelan salivanya.
Apa yeoja ini manusia?
Bagaimana bisa nafasnya berubah menjadi bola api?
Tidak!
Dia adalah mayat!
Bukankah yeoja itu sendiri yang mengatakannya.
Lalu, apa itu Edo Tensei?

“Edo Tensei adalah jurus untuk menghidupkan seseorang yang sudah mati.”

Mata Yunhyeong melebar.
Bagaimana bisa yeoja itu mengetahui apa yang ia pikirkan?

“Teknik Shintensin. Aku menggunakan untuk membaca pikiranmu.”

Yunhyeong benar-benar di buat kewalahan. Ini pertama kali dalam hidupnya menghadapi hal yang tidak masuk akal seperti ini.

“Biarkan aku menyembuhkan lukamu!” Jiyeon, yeoja itu kini duduk di belakang Yunhyeong yang memilih untuk tak bergeming. Baginya, yeoja dengan paras di atas rata-rata ini dapat membahayakannya jika ia melakukan kesalahan sedikitpun. Bisa-bisa rohnya terlepas begitu saja dari jasadnya dan akhirnya dialah yang akan menjadi mayat.

“Kishou Tensei!”

Yeoja itu meletakkan kedua telapak tangannya di punggung Yunhyeong, namun tak menyentuhnya. Berangsur-angsur Yunhyeong merasakan nyeri di punggungnya menghilang.

Apa yang setiap yeoja itu ucapkan adalah sebuah mantra? Pikir Yunhyeong.
.
.
                  ~HER~
.
.
Sejak kejadian itu, Park Jiyeon, yeoja itu terus berada di sampingnya. Entah jurus apa yang ia gunakan, yang jelas yeoja itu bisa membuat dirinya tak terlihat oleh siapapun termasuk Yunhyeong.

“Kya! Kenapa kau menampakkan wujudmu?” Yunhyeong hendak menghampiri Jiyeon yang tiba-tiba memunculkan wujudnya duduk di ranjang Yunhyeong, sayang kaki Yunhyeong sepertinya menginjak sesuatu sehingga tubuhnya terjatuh tepat di atas tubuh Jiyeon.

“Kya!” Pekiknya.

Jiyeon hanya terdiam dengan posisi Yunhyeong yang ada di atas tubuhnya. Sedangkan Yunhyeong, wajahnya merah padam menyadari saat ini tubuhnya berada di atas tubuh Jiyeon, mayat yang ia edo tensei, katanya.

“Hyung!” Suara B.I menginterupsi keduanya membuat Yunhyeong akhirnya kembali bangkit dari atas tubuh Jiyeon.

“N-nugu, hyung?” Tanya B.I penuh selidik melihat ada seorang yeoja dengan kulit putih dan rambut panjang berwarna emas cerah berada di kamar mereka. Ya, B.I dan Yunhyeong memang tidur didalam kamar yang sama. Ada 2 ranjang yang sudah tersedia di sana. Milik Yunhyeong dan juga B.I.

“I-ini…..Ini tidak seperti yang kau bayangkan B.I-Ya!” Yunhyeong mencoba mencari alasan.

“Hyung, nuna ini pacarmu?” Tebak B.I.

“Mwo? Aniyo! Dia hanya…..” Yunhyeong bingung harus menjawab apa.

“Hyung, aku mengerti bagaimana perasaanmu saat kau tengah jatuh cinta. Geundae, ini didalam dorm dan kau membawanya hingga masuk ke dalam kamar. Bagaimana kalau sajangnim Yang mengetahuinya? Semua bisa kena imbasnya!” B.I memulai aksi leader nya.

“Aisssh!” Yunhyeong nampak prustasi.
Bagaimana ia menjelaskan semua ini pada leadernya itu? Batinnya prustasi.

“Annyeonghasaeyo! Park Jiyeon imnida! Saya adalah mayat yang di Edo Tensei oleh Yunhyeong-San!” Jiyeon menggunakan sufiks ‘san’ saat menyebutkan nama Yunhyeong. Itu di tunjukkan untuk orang yang di hormati menurut budaya Jepang.

“MWO?” B.I nampak terkejut dengan penuturan sang yeoja.

Akhirnya Yunhyeong menceritakan semuanya. Tentang cincin dan juga Jiyeon yang akan selalu menempel pada Yunhyeong yang telah menghidupkannya.
Awalnya ini sulit di percaya, namun saat Jiyeon memperlihatkan salah satu jurusnya yang di luar nalar manusia pada umumnya, B.I langsung mempercayainya.
.
.
                  ~HER~
.
.
Hari ini tak ada siapapun di dorm. Yunhyeong memerintahkan Jiyeon untuk tetap tinggal di sana. Meski Jiyeon dapat menggunakan jurus untuk menghilangkan tubuhnya dari pandangan manusia, ia tetap harus mendapatkan ruang kosong. Ia bukanlah hantu yang menghilang dan muncul tiba-tiba. Ia bisa melakukan itu semua karena jurus yang ia kuasai beratus-ratus tahun lalu saat ia masih menjadi seorang putri dari sebuah kerajaan di Jepang dahulu. Ia hanyalah mayat yang di hidupkan. Ia butuh makan, butuh tidur, dan butuh kehidupan lainnya.

“Lapar!” Ucapnya saat memegangi perutnya yang sudah protes ingin di isi sedari tadi.
Jangan lupakan satu hal, bahwa mayat yang di Edo Tensei dapat berregenerasi dengan sangat cepat. Jika ia tergores, maka secara otomatis tubuhnya akan bekerja dengan cepat dan menyembuhkan luka itu. Ia juga dapat berregenerasi dengan sekelilingnya. Bahasa, tingkah laku, budaya, semua yang mengikuti jaman di mana ia kembali di hidupkan, ia dapat dengan mudah beradaptasi. Memiliki tubuh dan otak sempurna serta abadi. Itulah keuntungan yang ia dapat saat seseorang mengedo tensei dirinya. Hanya saja, ia tak akan pernah bisa terlepas dari tuannya. Itu berarti, ia akan selalu bersama dengan orang yang telah menghidupkannya.

“Barbie!” Suara lembut seorang namja membuat aktifitas Jiyeon yang tengah memasak terhenti.

“Kya! Nugunde?” Namja bertubuh tinggi dengan suara agak kasar itu nampak sedikit emosi melihat ada orang asing yang tengah menggunakan dapur mereka.

“Annyeonghasaeyo! Park Jiyeon imnida! Saya adalah mayat yang di edo tensei oleh Yunhyeong-San!” Ucapan yang sama yang ia keluarkan saat B.I mengetahui keberadaannya.

Kedua namja itu, Kim Donghyuk dan juga Goo Junhoe, duo maknae dari Team B saling beradu pandang.
Awalnya mereka kembali karena mengetahui costum yang hendak mereka kenakan tertinggal. Dengan sangat terpaksa, mereka akhirnya kembali ke dorm dan betapa terkejutnya mereka berdua dengan kenyataan aneh yang baru saja mereka lihat dan juga dengar dari seorang yeoja berkulit putih berambut panjang berwarna emas cerah bak sebuah boneka barbie, itu adalah hal pertama yang terlintas di otak Donghyuk saat pertama kali melihatnya.
.
.
                  ~HER~
.
.
Total kini 3 orang yang mengetahui tentang Park Jiyeon. B.I, sang leader yang tidur satu kamar dengan Yunhyeong, kemudian Donghyuk dan Junhoe, duo maknae dari Team B.

Yunhyeong menatap sosok Jiyeon yang tengah terlelap di atas ranjangnya. Sejak Jiyeon ikut bersamanya dan B.I mengetahui keberadaan Jiyeon, namja itu dengan baik hati mengijinkan Yunhyeong untuk tidur bersama di atas ranjangnya dan membiarkan Jiyeon tidur di atas ranjang Yunhyeong.

“Bagaimana caraku mengembalikanmu?
Tidak mungkin seumur hidupku kau selalu berada di sisiku. Aku bahkan tidak bisa membedakan kau ini hantu atau manusia. Kau hanya mengatakan bahwa kau adalah mayat yang di hidupkan. Tapi kemampuan yang kau miliki bahkan jauh dari kata manusia pada umumnya. Haaaaaaaah!” Yunhyeong menghembuskan nafasnya. B.I yang tidur disampingnya nampak sudah sangat terlelap sehingga tak mendengar gumamannya. Namun bagaimana dengan Jiyeon?
Apakah ia mendengar semua yang Yunhyeong ucapkan?
.
.
                  ~HER~
.
.
Hari ini, Team B mendapatkan kesempatan untuk tampil di konser sunbae mereka yakni 2ne1 yang diadakan di pulau Jeju. Sayang, Jinhwan tidak dapat ikut di karenakan cidera pada bagian lututnya. Bobby pun hari ini tidak bisa ikut di karenakan ada pemotretan. Sejak jadi pemenang di acara Show Me The Money 3, Bobby kebanjiran job untuk menjadi seorang model. Alhasil hanya 4 anggota yang ikut, Yakni B.I, Yunhyeong, Donghyuk, Dan juga Junhoe. Meski mereka gagal debut karena kalah di acara WIN (Who Is Next), namun beruntung mereka selalu ikut tampil di setiap konser sunbae mereka. Setelah Bigbang, kini mereka di beri kesempatan tampil di konser 2ne1.
Beruntung, bukan!

“Setelah pemotretan langsung pulang!” Perintah B.I sang leader pada Bobby yang hendak meninggalkan dorm untuk pergi ke salah satu brand terkenal untuk melakukan pemotretan.

“Ne!” Jawab Bobby seraya mengangguk.

“Dan hyung, jangan pergi kemanapun. Telephon staf jika kau memerlukan sesuatu!” B.I kembali memerintah Jinhwan yang tengah terbaring sakit. Sebenarnya bukan perintah, hanya saja ia melakukannya karena tanggung jawabnya sebagai leader mengkhawatirkan anggota lainnya meski Jinhwan dan Bobby adalah hyungnya.

“Ne!” Jinhwan mengikuti yang di lakukan Bobby.

Akhirnya ke 5 anggota Team B meninggalkan Jinhwan seorang diri di dorm.

Membosankan!
Itu yang Jinhwan rasakan.
Berdiam diri di dalam kamar seharian. Hanya bermain game dari dalam handphone.

Iseng, iapun menelphon Bobby. Berfikir mungkin saja namja itu sudah selesai melakukan pemotretan mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang.

“Eoh, neo eodi?” Tanya Jinhwan saat sambungan telephonnya sudah tersambung dengan Bobby.

“Sebentar lagi, hyung! Sebentar lagi sampai!” Jawab Bobby melenceng dari pertanyaan Jinhwan.

“Geurae, palli!”

“Ne!”

Sambungan telephon pun terputus. Jinhwan menghela nafasnya. Ia butuh sesuatu untuk menghilangkan rasa bosan yang menderanya. Ia pun berjalan keluar kamar dengan tertatih, tangannya bersandar pada dinding agar tubuhnya tetap terjaga dan tak terjatuh.

‘”N-nuguya?” Tanyanya nampak terkejut saat melihat seorang yeoja berkulit putih dengan rambut panjang emas cerahnya tengah memakan ramen di atas meja makan.

Yeoja dengan nama korea Park Jiyeon itu langsung bangkit kemudian membungkukkan tubuhnya 90 derajat pada Jinhwan.

“Annyeonghasaeyo! Park Jiyeon imnida! Saya adalah mayat yang di edo tensei Yunhyeong-San!” Perkenalan pertamanya sama dengan perkenalan yang ia lakukan pada 3 anggota sebelumnya. Bagaikan sebuah kaset.

“MWO? MAYAT?” Sembur Bobby yang rupanya baru saja tiba di dorm.
.
.
                   ~HER~
.
.
Sekembalinya dari Jeju, kini Yunhyeong di buat lebih pusing dengan fakta bahwa Bobby dan juga Jinhwan kini sudah mengetahui keberadaan Jiyeon. Berarti total semua anggota Team B mengetahui perihal hal aneh dan tidak masuk akal mengenai yeoja jepang itu.

“Apa kau bisa memunculkan makanan? Abrakadabra?” Bobby dengan sangat antusias bertanya.

Sosok Jiyeon kini tengah duduk bersimpuh dikelilingi ke 5 namja yang penasaran tentang jati dirinya. Berbeda dengan Yunhyeong, ia terlihat malas melakukannya.

“Animida!” Jawab Jiyeon datar.

“KYA! KENAPA MEMUKULKU?” Teriak Bobby kesal saat Jinhwan dengan sembarang memukul kepalanya.

“Dia ini bukan hantu, bodoh! Bukankah kau sudah mendengarkan penjelasannya. Dia itu mayat yang di hidupkan, berarti dia adalah makhluk hidup sama seperti kita. Mengenai hal-hal yang tidak bisa kita lakukan seperti dia, itu karena sebuah jurus yang ia pelajari saat ia masih hidup. Benar begitu, bukan!” Jinhwan nampaknya lebih mudah memahami dibandingkan dengan anggota lain.

Jiyeon hanya mengangguk membenarkan ucapan Jinhwan.

“Kau bisa menari?” Pertanyaan konyol di lontarkan Junhoe.

Ke 5 anggota Team B membulatkan mata mereka dengan sempurna saat melihat Jiyeon bangkit dan menari dengan sangat baik.

“HUWAA…….” Ucap kagum ke 5 anggota Team B di sertai tepukan tangan, kecuali Yunhyeong yang hanya terdiam duduk di atas sofa, berbeda dengan anggota lain dan juga Jiyeon yang duduk di atas lantai.

“Tubuh yang di edo tensei dapat berregenerasi dengan sangat cepat mengikuti budaya dan kebiasaan yang ada pada sang tuannya. Termasuk menari. Ku yakin kau juga pasti bisa menyanyi dan melakukan hal lainnya sama seperti manusia pada umunya!” B.I nampaknya tak mau kalah dengan Jinhwan dalam memberikan penjelasan.

“Termasuk menyembuhkam Jinhwan hyung?” Tanya Donghyuk.

Jiyeon kembali mengangguk membenarkan.

“Sampai kapan kalian akan menginterogasinya, eoh?” Yunhyeong membuka suaranya.

“Omo! Sepertinya ada yang marah!” Sindir Bobby.

“Cemburu mungkin!” B.I menambahkan.

“Wow wow wow!” Junhoe ikut berkomentar.

“KYA!” Teriak Yunhyeong tidak terima menjadi olok-olokan anggota lainnya.

Jiyeon hanya berekspresi datar.
.
.
                   ~HER~
.
.
Semua anggota kini bersahabat baik dengan Jiyeon. Bagi mereka, Jiyeon itu adalah penyemangat. Yeoja itu memiliki kemampuan yang luar biasa. Yeoja itu memasakkan makanan, bahkan membereskan dorm tanpa mengeluh sedikitpun. Jiyeon juga tidak perlu lagi menggunakan jurusnya agar orang lain tak melihat keberadaanya. Hanya satu hal yang tidak bisa ia lakukan, yakni berekspresi layaknya manusia pada umumnya. Wajahnya datar meski Bobby dan anggota lainnya sering melakukan aksi konyol bahkan lelucon bodoh dihadapannya. Itu tidak bisa ia lakukan. Mungkin itulah salah satu kelemahan dari Edo Tensei. Berfikir secara logika pun, mayat itu berwajah datar.

“Kau tidak ingin kembali?” Tanya Yunhyeong pada Jiyeon.

Jiyeon menoleh ke arahnya.

“Apa aku menyusahkanmu?” Tanya Jiyeon.

“Menurutmu? Semua ini tidak masuk akal. Aku hanya ingin hidup normal seperti yang lainnya. Aku akan terluka dan di rawat di rumah sakit. Tidak dengan menggunakan jurusmu. Tidak dengan semua kemampuanmu. Haaaaah!” Yunhyeong menghembuskan nafasnya.

“Mianata! Seharusnya aku tak mengatakan ini!” Yunhyeong nampak menyesal. Meski tak tergurat kesedihan di wajah Jiyeon, namun Yunhyeong merasa perkataannya terlalu kejam.

“Apa di sini ada sebuah tempat yang menyimpan kisah tentang sejarah?” Tanya Jiyeon.

“Eum. Perpustakaan. Wae?”

“Cobalah kau baca sejarah tentang Kugou Shikami!”

“Bukankah itu namamu dalam bahasa Jepang?”

“Mungkin di sana ada cara untuk menyegelku. Setelah kau berhasil melakukannya, maka aku tak akan kembali mengikutimu!”

Ada rasa kecewa saat Yunhyeong mendengarnya.
Tak rela. Itulah perasaan yang ia rasakan saat ini.
Apakah dengan begitu yeoja itu akan menghilang untuk selamanya? Batinnya.

“Kau yang menghidupkanku, maka kau pulalah yang bisa mematikanku kembali!”

Rasanya begitu sesak.
Bukankah memang itu yang Yunhyeong inginkan?
Terbebas dari keanehan ini semua.
Ada apa dengannya?
.
.
                   ~HER~
.
.
Semakin hari, Yunhyeong semakin menerima kehadiran Jiyeon. Kini tugas memasak tidaklah seorang diri. Sejak ada Jiyeon, ia melakukannya berdua bersama yeoja itu.

Menyenangkan!
Itu yang ia rasakan.

“Apa impianmu?” Tanya Jiyeon saat sedang menyiapkan daging untuk makan malam.

“Menjadi penyanyi. Awalnya aku ingin menjadi aktor. Aku sama sekali tidak tau bagaimana caranya menyanyi bahkan menari. Seiring berjalannya waktu, aku semakin menyukainya. Hidupku terasa bebas saat menyanyi dan menari. Itu lebih menyenangkan dari apa yang pernah kubayangkan dulu!” Yunhyeong nampak berbinar.

“Kau menyukai kebebasan, yah!”

“Eum. Eoh, bagaimana denganmu?” Tanya Yunhyeong pada Jiyeon.

“Omamori!”

“Omamori?”
Yunhyeong mengulang jawaban Jiyeon.

“KYA! LAMA SEKALI! APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN DIDAPUR, EOH?” Teriak Bobby tidak sabaran.

“BERCINTA MUNGKIN!” Celoteh B.I asal.

“Kya! Kata-kata mu terlalu vulgar!” Protes Jinhwan.

“AIGOO, PERUTKU SUDAH MENIPIS! EOTTEOKHAE!” Junhoe tak kalah ikut menggoda.

“KAMI MEMBUTUHKAN SESUATU UNTUK DIMAKAN!” Kini giliran Donghyuk yang bersuara.

“Cerewet!” Gumam Yunhyeong kesal.
.
.
                   ~HER~
.
.
Setiap hari, Jiyeon akan ikut berlatih bersama dengan para anggota Team B. Ia akan menari dan bernyanyi bersama mereka.

“Jiyeon-Ah, apa kau tidak lelah?” Tanya Bobby dengan banyaknya keringat yang keluar dari tubuhnya karena latihan menari yang baru saja ia lakukan.

“Dia kan dapat meregenerasi tubuhnya. Pasti akan hilang begitu saja meski awalnya merasa lelah!” B.I berpendapat.

“Minumlah!” Yunhyeong menyerahkan sebotol air mineral pada Jiyeon.

Ke 5 anggota Team B yang melihatnya hanya tersenyum jahil.

“CIYEEEEEEEEEEE!” Teriak mereka serempak.
.
.
                   ~HER~
.
.
“Aku akan berbelanja keluar!” Ucap Yunhyeong pada ke 5 anggota lainnya.

“Belikan aku ice cream, hyung!” Pesan B.I.

“Kau tak mau mengajaknya?” Tanya Jinhwan.

Yunhyeong lalu beradu pandang dengan Jiyeon.

“Hyung! Kemari sebentar! Fans memberikanku sebuah camera. Kemarilah! Kita berfoto bersama!” Ucap Donghyuk.

“Kajja! Kajja!” Junhoe nampak begitu bersemangat.

Mereka ber 6 pun akhirnya berfoto bersama.

“Jiyeon-Ah! Mendekatlah! Kita berfoto bersama!” Bobby menginteruksi.

Akhirnya mereka ber 7 berfoto bersama.

Yunhyeong nampak terlihat begitu canggung karena ia dan Jiyeon terlalu dekat jaraknya. Pipinya bahkan bersentuhan dengan pipi Jiyeon.

Saat semua anggota tengah melihat hasil foto mereka, Yunhyeong kembali hendak berbelanja.

“Tunggulah di rumah!” Ucap Yunhyeong mengelus lembut puncak kepala Jiyeon.

Jiyeon hanya mengangguk mengerti.

“So sweet!” Komentar Bobby yang melihat adegan adam hawa itu.

“Kalian seperti sepasang suami istri yang baru menikah saja!” Jinhwan bersuara.

“Cie cie cie!” B.I tak mau kalah.

“Cepatlah kembali pulang!” Donghyuk ikut berkomentar.

“Jangan biarkan istrimu menunggu lama, hyung!” Junhoe berkata dengan jahil nya.

Yunhyeong hanya berdecak kesal mendengar celoteh rekan-rekannya.
.
.
                  ~HER~
.
.
Sudah lebih dari 2 jam Yunhyeong keluar dorm.
B.I nampak khawatir.
Jiyeon hanya mondar-mandir di depan pintu meski raut wajahnya tak menyiratkan kekhawatiran.

“Apa dia tersesat?” Gumam B.I.
Hingga handphone B.I bersuara. Itu adalah panggilan masuk dari ayah Yunhyeong.
Untuk apa beliau menghubunginya? Batinnya.

“Yeoboseyo!”

Mata B.I membulat sempurna. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Semua anggota panik melihatnya.

“Waegeurae?” Tanya semuanya.

“Hyung, Yunhyeong hyung…….”
.
.
                   ~HER~
.
.
Dan disinilah mereka. Di depan sebuah ruangan khusus melakukan operasi.
Keluarga serta para staf dan juga para sunbae di YG Entertainment pun turut hadir tak terkecuali dengan sang CEO. Semuanya mengkhawatirkan keadaan Yunhyeong.

Menurut saksi mata, Yunhyeong di tabrak oleh sebuah truk saat melewati trotoar khusus pejalan kaki. Padahal lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi merah, namun truk tersebut dengan kecepatan penuh masih saja menerobos lampu merah dan naas saat itu Yunhyeong tengah menyeberangi jalan hingga tubuhnya terpental cukup jauh. Orang-orang yang melihat pun langsung menolong Yunhyeong yang sudah berlumuran darah. Sepertinya lukanya sangat parah. Bisa di bayangkan bagaimana tubuhnya saat itu. Polisi pun telah menangkap sang pengendara truk yang ternyata tengah mabuk. Pihak dari YG Entertainment sendiri menyembunyikan hal ini dari awak media.

Sudah lebih dari 5 jam, namun tak ada satupun dokter yang keluar dari dalam ruangan operasi tersebut.

Jiyeon dapat melihat akhirnya para dokter keluar. Entah, bagaimama ia menunjukkan ekspresinya saat melihat yeoja paruh baya yang mungkin adalah ibu Yunhyeong langsung pingsan saat mendengar sang dokter mengucapkan sesuatu. Jiyeon memang berdiri cukup jauh sehingga ia tak dapat mendengar perkataan mereka karena khawatir orang lain akan curiga jika ia bergabung bersama mereka. Namun hanya dengan melihat ekspresi dari orang-orang itu, Jiyeon dapat menebak sesuatu yang buruk telah terjadi pada tuannya.
Air matanya mengalir begitu saja meski ekspresi di wajahnya datar.
Jiyeon langsung menggunakan jurusnya untuk menghilang. Ia melewati mereka yang tengah menangis histeris di depan ruang operasi. Jiyeonpun masuk ke dalam ruangan tanpa ada seorang pun yang mengetahui wujudnya. Ia dapat melihat banyakna selang yang berada di tubuh Yunhyeong. Ia melangkahkan kakinya mendekat.

Wajah Yunhyeong nampak pucat, bahkan lebih pucat dari wajah Jiyeon.
Air mata Jiyeon terus mengalir. Raut wajahnya kini berubah.
Menyedihkan.
Ya, ia sedih.
Akhirnya ia menunjukkannya.
Ia menangis.
Layaknya manusia pada umumnya.

Jiyeonpun menghapus air matanya secara perlahan.
Yeoja itu tersenyum. Senyum yang untuk pertama kali ia lakukan.
Wajahnya maju ke arah kening Yunhyeong lalu mengecup lembut puncak kepala namja itu.

“Arigato!”
Lirihnya. Ia pun menjauh dari wajah Yunhyeong dan meletakkan kedua telapak tangannya tepat di dada Yunhyeong.

“Fuuinjutsu Shiki Fuujin!”
.
.
                  ~HER~
.
.
Sudah 1 bulan.
Ya, dudah satu bulan yeoja itu menghilang di ikuti dengan cincin emas cerah yang semula tak bisa terlepas dari kelingking Yunhyeong bahkan kini tak berbekas sedikitpun.

Ya, namja itu hidup.
Hidup dan sehat.
Hanya satu misteri yang belum terpecahkan.
Dimanakah Jiyeon?
Benarkah dia benar-benar sudah tidak ada di dunia ini lagi seiring dengan hilangnya cincin emas cerah itu?

“Kurasa Jiyeon menggunakan salah satu jurusnya untuk menghidupkanmu kembali!” Jinhwan tertunduk sedih.

“Aku sudah mendapatkan apa yang kau minta, hyung!” Junhoe menyerahkan sebuah buku cukup tua pada Yunhyeong. Sepertinya itu buku tentang sejarah. Tertera nama Kugou Shikami pada judul buku tersebut. Ternyata nama Jiyeon memang benar-benar ada dalam sejarah.

“Bacalah! Kau akan menemukan sebuah jawaban atas pertanyaanmu, hyung!” B.I menepuk bahu Yunhyeong lembut.

Ke 5 anggota Team B pun meninggalkan Yunhyeong seorang diri di dalam kamar.

Secara perlahan, Yunhyeong membaca lembar demi lembar tulisan yang ada di dalam buku sejarah tersebut.

Kini Yunhyeong mengetahui siapa Jiyeon sebenarnya.
Ia adalah seorang putri dari kerajaan jepang di abad ke 10. Putri yang begitu baik hati sesuai dengan parasnya yang begitu memikat hati.

Putri itu berbeda dari kebanyakan putri raja pada umumnya. Ia berlatih jurus-jurus yang hanya bisa di lakukan oleh para namja pada umumnya. Ia pun ikut bertempur bersama para prajuritnya. Ia bagai ksatria berwujudkan yeoja berparas ayu.

Suatu hari, raja menjodohkan sang putri dengan seorang bangsawan asing. Akhirnya mereka berdua pun menikah.

“Mungkinkah bangsawan asing itu adalah…..” Yunhyeong tidak mau sembarang menebak. Mustahil bangsawan asing itu adalah dirinya. Ia kemudian melanjutkan kembali membacanya.

Sang putri yang di ketahui bernama Kugou Shikami ternyata memiliki jurus terlarang, yakni Fuuinjutsu Shiki Fuujin. Sebuah jurus yang dapat menukar jiwa yang telah mati sehingga jiwa tersebut dapat kembali hidup, namun resikonya adalah ia yang menggunakan jurus tersebut harus menukarnya dengan nyawanya.
Perpindahan takdir.
Sebut saja seperti itu.

Berbeda dengan sang bangsawan asing, bangsawan asing itu justru tengah mengembangkan sebuah jurus yang lebih hebat di bandingkan dengan yang di miliki sang putri, yakni Edo Tensei. Jurus yang bisa menghidupkan kembali mayat.

Yunhyeong melebarkan matanya.
Itukah yang ia lakukan?
Apa mungkin ia adalah reinkarnasi dari sang bangsawan asing? Batinnya.

Musuh akhirnya mengetahui jurus terlarang itu dimiliki oleh sang putri dan juga sang bangsawan asing.

Peperanganpun tak terelakkan. Musuh ingin menggunakan jurus terlarang itu untuk kejahatan.
Akhirnya sang putri pun memilih untuk mati di tangan sang bangsawan asing yang notabene adalah suaminya. Ia tidak ingin membuat kehancuran di muka bumi dengan menyerahkan jurus tersebut pada orang-orang yang salah.

Merasa menyesal karena telah membuat istrinya meninggal, sang bangsawan pun berniat menggunakan Edo Tensei yang ia miliki untuk pertama kali dalam hidupnya. Namun, belum selesai hal itu ia lakukan, Team musuh kembali datang dan tak ada waktu baginya untuk menyempurnakan jurus tersebut. Ia pun akhirnya menebas kepalanya sendiri dengan pedangnya hingga meninggal.

Sebuah legenda dari negeri Jepang. Sebuah kesalahan yang mereka lakukan karena telah mengembangkan jurus terlarang tanpa mereka pikirkan akan dampak negatifnya jika jurus tersebut di kuasai oleh pihak yang salah.
Kisah bak Romeo Juliet dari negeri Sakura.
Pengembangan jurus terlarang yang hakekatnya ingin mengabadikan orang yang terkasih sehingga hidup abadi bersama.

Yunhyeong melihat sebuah gambar cincin emas cerah di dalam buku sejarah tersebut.

“Cincin ini……” Gumamnya.

Cincin pernikahan yang di berikan sang bangsawan saat menikahi sang puteri. Cincin itu, hingga detik ini belum di ketahui keberadaannya.

Yunhyeong menghembuskan nafasnya.
Apa ini ada hubungannya dengannya?
Bahkan dalam sejarah pun tak tertulis nama sang bangsawan asing.
Mungkinkah cincin itu yang menyimpan Edo Tensei Kugou Shikami oleh sang bangsawan asing?

“Zen Kageki!”

Yunhyeong tersengal saat nama itu begitu saja keluar dari mulutnya.

“Ada apa dengan nama itu? Bagaimana bisa tiba-tiba nama itu terlintas begitu saja?” Yunhyeong berusaha menormalkan detak jantungnya.
.
.
                    ~HER~
.
.
“Kau yakin sudah tidak apa-apa, hyung?” Tanya Donghyuk yang melihat Yunhyeong kini akan ikut berlatih bersama kembali.

“Tenang saja! Aku tak akan menyia-nyiakan nyawa yang sudah Jiyeon berikan padaku!” Jawabnya tersenyum tulus membuat semua anggota lain bernafas lega. Akhirnya Yunhyeong mereka telah kembali seperti sedia kala.

“Kalian sudah baca sejarah Kugou Shikami?” Tanya Yunhyeong di sela-sela latihan menarinya.

“Tentu saja. Sebelum kami menyerahkannya padamu, kami sudah membacanya terlebih dahulu!” Bobby menjawab.

“Kalian tau siapa bangsawan asing itu?” Tanya Yunhyeong kembali.

“Mana mungkin kami tau. Di dalam buku itu saja bahkan tidak di jelaskan nama sang bangsawan!” Jawab Junhoe.

Yunhyeong menghentikan gerakannya diikuti oleh ke 5 anggota lain yang memandang aneh ke arahnya.

“Namanya adalah Zen Kageki!”

“Mwo? Dari mana kau tau?” Tanya Jinhwan tidak percaya.

“Karena Zen Kageki adalah Song Yunhyeong!” Jawab Yunhyeong dengan bangganya.

Ke 5 anggota Team B langsung meninggalkan Yunhyeong seorang diri.

“KYA! AKU TIDAK BERBOHONG! AKU SERIUS! BANGSAWAN ASING ITU ADALAH AKU. AKU ADALAH REINKARNASI DARI ZEN KAGEKI. KALIAN BOLEH MEMERIKSANYA. ZEN KAGEKU MENURUT KOREA BERARTI SONG YUNHYEONG. KYA!”
.
.
                    ~HER~
.
.
Yunhyeong tersenyum cerah saat seseorang menjawab pertanyaanya dari seberang sana.

“Arigato, Yamamoto-San! Anata no kekkonshiki omedetegozaimasu!”
Yunhyeong mengucapkan terimakasih dan mengucapkan selamat atas pernikahan Yamamoto. Ia pun menutup sambungan telephonnya.

“Melindungi orang yang di cintai, ya!” Yunhyeong tersenyum bangga mengetahui hal itu. Kini ia tau apa arti dari Omamori, impian Jiyeon.

“Jadi kau begitu mencintaiku eoh, Park Jiyeon!” Gumamnya senang.
Tanpa sengaja matanya beralih memandang televisi. Matanya membulat sempurna saat ia melihat tayangan tersebut. 6 anggota sebuah grup yeoja tengah menyanyi dan menari pada sebuah acara yang tengah menyanyikan sebuah lagu berjudul Sugar Free. Matanya terus tertuju pada satu yeoja yang begitu tak asing di matanya
.
“T-ara, ya!” Gumamnya.

“Hahah….Geurae! Kita akan bertemu lagi! Secepatnya!”
Yunhyeong yang baru pertama kali melihat grup itupun tersenyum puas. Mungkin ia akan kembali di pertemukan dengan yeoja itu. Yeoja yang berrenkarnasi seperti dirinya.
.
.
                    ~END~
.
.
Gomawo buat master Masashi atas jurus-jurus yang telah master ciptakan dalam anime NARUTO sehingga saya bisa menggunakannya dalam FF ke 22 saya ini.
Arigatou gozaimash!
Dan buat para readers,
mohon kritik dan sarannya yah!
Coment Jusaeyo!

FF Jinhwan Jiyeon (HwanYeon Couple)

           

image

                 TREASURE
                    (One Shoot)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jinhwan (Team B aka iKon)

Other Cast :
Park Hyomin (T-ara)
Kim Hanbin aka B.I (Team B aka iKon)
Kim Jiwon aka Bobby (Team B aka iKon)
Goo Junhoe (Team B aka iKon)
Kim Donghyuk (Team B aka iKon)
Song Yunhyeong (Team B aka iKon)

Songfict :
Team B aka iKon Long Time No See

Genre :
Romance (idol life)

A/N :
Ini FF ke 19 author yang pernah author publish di tanggal 21 Desember 2014 silam. Kali ini author mencoba HwanYeon couple. Jinhwan Team B aka iKon jadi pairing Jiyeon di sini. Mungkin banyak yang ga tau karena iKon memang belum debut. Semoga dengan poster FF nya bisa di bayangin jinhwan seperti apa. Semoga FF nya tidak mengecewakan!
HAPPY READING!
DON’T PLAGIARISM!
.
.
.
.
.
Menyebalkan!
Sangat menyebalkan!
Itulah yang kurasakan saat ini!
Aaaaah, karena rasa kesalku aku sampai lupa memperkenalkan diri.

Aku, Kim Jinhwan. Orang terdekatku biasa memanggilku Jinny. Aku salah seorang trainee di YG Entertainment.
Kalian mengenal agensi besar itu, bukan? Tempat di mana grup besar seperti Bigbang dan juga 2ne1 bersarang.
Hey! Itu bukan kandang, Kim Jinhwan!
Ya, tapi bagiku, disana adalah kandang untuk orang-orang berbakat yang luar biasa.
Mari lanjutkan perkenalanku!

Aku menjadi seorang trainee sejak 2011.
Berbaur dengan para trainee lainnya. Ini sungguh, LUAR BIASA!
Ada banyak trainee bertalenta di sana.
Bakat mereka, sungguh mempesona!
Nyaliku tak menciut saat mengetahui ada banyak trainee berbakat di sana, justru aku semakin bersemangat.
Petualanganku akan segera di mulai!

Kalian tau apa yang membuatku sangat kesal hari ini?
Tentu saja kalian belum tau karena aku belum menceritakannya.
Benar, bukan?

Ah, maafkan aku karena aku sungguh tidak pandai merangkai kata seperti B.I atau Bobby yang pandai menulis lirik lagu.
Siapa mereka?
Akan ku perkenalkan satu-persatu kepada kalian semua setelah aku memberikan jawaban yang pertama.

Yang membuatku kesal hari ini adalah, karena hasil kompetisi yang dilakukan Appa YG yakni Yang Hyun Suk Sajangnim, CEO YG Entertainment mengatakan bahwa di antara 2 team yakni Team A dan Team B yang salah satu anggotanya adalah aku ini, yang berhasil memenangkan kompetisi WIN (Who Is Next) sebuah ajang kompetisi yang pemenangnya akan langsung di debutkan oleh YG Entertainment yang setiap anggotanya diambil dari para Trainee, pemenangnya adalah Team A, dan bukanlah Team ku, yakni Team B.

Saat Appa YG mengumumkannya, aku………. Sangat sangat merasa kecewa.
Aku, kurang berlatih!
Itulah yang selalu ku ucapkan dalam hati.

Meski para juri terus memberi team kami semangat, tetap saja kami merasa sedih dan sudah pasti begitu amat kecewa.
Bagaimana nasib kami selanjutnya?
Apakah Appa YG akan membubarkan Team B begitu saja saat Team A debut nanti?
Pikiran itu terus menghantuiku.
Hingga disinilah aku sekarang.
Duduk di dermaga. Memandang air laut di tengah malam dengan udara yang sangat dingin. Bodohnya aku karena lupa membawa jaket saat keluar dari dorm, tempat tinggal kami selama menjadi Trainee.
Hasilnya seperti ini, aku benar-benar merasa kedinginan.

Aku merasakan handphone yang ada di saku celana ku bergetar.
Oh, ada pesan masuk ternyata.

‘Hyung, neo eodiseo? Cepatlah kembali! Kami mengkhawatirkanmu!’

Aku tersenyum membacanya. Pesan itu dari B.I. Akan ku perkenalkan dia. Dia adalah leader kami, Team B. Sebenarnya namanya adalah Kim Hanbin, dia juga 2 tahun lebih muda dariku. Aku sangat mengaguminya. Dia benar-benar namja yang luar biasa di usianya yang masih sangat muda. Dia pandai menulis lirik lagu dan mengkomposisinya sendiri. Dia juga ahli di bidang Rapper dan juga Beat-Box. Oh, kalian akan semakin jatuh cinta padanya saat melihat ia menari. Ia benar-benar multitalenta. Bahkan Appa YG menjulukinya The 2nd GD.
GD?
Kalian tau siapa beliau, bukan?
G Dragon sunbaenim. Leader dari Bigbang. Fantastic, bukan!

Oh, handphone ku kembali bergetar.

‘Kumohon jangan mati membeku, hyung! Tetaplah hidup!’

Aku terkekeh membacanya. Itu adalah pesan dari Bobby. Ia juga salah satu anggota dari team kami.
Kim Jiwon. Itulah nama aslinya. Ia adalah namja spektakuler yang dimiliki Team B. Kalian akan langsung jatuh cinta saat melihatnya tampil. Dia sama seperti B.I, bakatnya sungguh luar biasa. Ia sangat pandai mencairkan suasana dan ialah magnet yang mampu menarik kami semua untuk tertawa. Usianya 1 tahun lebih muda dariku.

Bagaimana denganku?

Aku hanyalah namja biasa yang memiliki kelebihan di bagian suara. Aku juga memiliki kemampuan bermain terompet.
Seperti inilah aku!
Aku hanya mengakui kelebihanku di bagian suara dan itu dibenarkan dengan pendapat orang-orang yang sudah pernah mendengarku bernyanyi. Para dongsaengku mengatakan, bahwa tarian-tarian yang kulakukan terlihat aneh namun mengagumkan. Entahlah!
Kalau kalian ingin tau, maka nyalakanlah TV dan segera pindahkan channel TV kalian ke Mnet. Itu adalah stasiun televisi yang menayangkan kompetisi antara Team A dan Team B dari YG Entertainment.
Oh, kalau kalian tidak menemukannya, maka segeralah buka Youtube dengan menuliskan WIN pada kolom pencarian. Itulah nama acaranya.
Hey! Kenapa aku jadi seperti seorang salesman yang menawarkan produck mereka?
Aigoo.

” Neo gwaenchana?”

Suaranya lembut. Sangat lembut. Ini pertama kalinya aku mendengar suara selembut ini selain suara eomma ku.

Cantik, berkulit putih, bertubuh cukup tinggi dan langsing, Rambutnya hitam terurai panjang.
Apa dilaut ada bidadari?
Hey, apa mungkin putri duyung bisa berjalan sekarang?

“Chogi…..” Ia melambaikan tangannya tepat didepan wajahku membuatku terbangun dari pesonanya.

“N-ne?” Gugupku.

“Neo gwaebchana?” Dia kembali bertanya.

“Ye. Gwaenchana! Hahaha….”
Apa ini?
Kenapa aku malah tertawa?
Bagian mana yang lucu?
Kya! Kim Jinhwan, neo micheosseo?

“Dangsineun….” Dia kembali bersuara.

“Ne?” Potongku.

“Apa anda tidak merasa kedinginan?”

Aku membulatkan bibirku. Pertanyaannya membuatku menurunkan wajahku untuk melihat keadaanku!

PABO NAMJA!
MICHIN SARAM!
Itulah kata yang terus ku umpatkan.
Bagaimana bisa aku tak mengenakan sehelai kainpun pada bagian atas tubuhku di cuaca sedingin ini?
Ah, aku melupakannya!
Karena kekesalanku yang lupa membawa jaket saat keluar dorm, dengan bodohnya aku malah membuka kain satu satunya yang menempel di tubuh bagian atasku lalu melemparnya asal ke arah laut.
Neomu neomu pabo namja!

Aku langsung memeluk tubuhku yang bertelanjang dada.
Dingin!
Aku sudah merasakannya sedari tadi tapi kenapa aku baru menyadarinya?
Ini karena perkenalan bodohku pada kalian!
Hey! Aku bahkan belum debut, jadi sudah pasti kalian tidak mengenalku dan aku harus memperkenalkan diri.
Benar, bukan?

“Ige!”

Aku melihat jaket yang yeoja itu berikan padaku.
Apa aku tidak sedang bermimpi?
Dia?
Yeoja yeoppo yang baru ku lihat?
Memberikan jaket yang baru saja ia lepas dari tubuhnya?
untukku?
UNTUKKU?
KYA! APA AKU BERMIMPI?

“Pakailah! Baju yang ku kenakan cukup tebal dan membuatku hangat! Jangan khawatir, kau bisa menggunakan jaketku ini!”

Oh, darahku berdesir hebat.
Kenapa tuhan tak mempertemukan kami sejak dulu?
Hey! Tuhan juga mempertemukan kami dengan keadaanku yang benar-benar sangat memalukan seperti ini!
Ini tidak adil!
Tapi tunggu!
Ini adalah keajaiban, bukan?
Kalau kondisi ku tidak seperti ini, mungkin yeoja ini tak akan menghampiriku dan memberikanku jaketnya.
Omo, ini keberuntungan!

Mungkin karena tak ada respon dariku, ia langsung mengambil sebelah tanganku dan menyerahkan jaketnya tepat di atas telapak tanganku.

“Pakailah!” Ucapnya lagi. Aku pasti sangat terlihat bodoh saat ini.

“Kalau begitu aku pergi dulu!” Tambahnya lalu membungkukkan tubuhnya dan berbalik pergi meninggalkanku.

Brrrr, aku tidak tau bagaimana bunyi suara angin yang berhembus, yang jelas aku merasakan tubuhku semakin kedinginan karena angin laut yang semakin sering tertiup melewati tubuhku.

“KYA! GIDARYEO!” Teriakku pada sang yeoja. Aku langsung mengenakan jaketnya dan berlari mengejarnya.

~AUTHOR POV~

Park Jiyeon, itulah yeoja yang dengan baik hati memberikan jaketnya pada Jinhwan, namja yang belum ia ketahui namanya itu.
Matanya melebar saat melihat beberapa yeoja yang semula memang tengah mengejarnya. Ia langsung berbalik arah dan melihat Jinhwan berlari mengejarnya. Ia langsung berlari berlawanan arah.

“Eoh?” Jinhwan terlihat terkejut melihat Jiyeon yang juga berlari ke arahnya.

“Wae? KYA!” Jinhwan kembali di buat terkejut saat Jiyeon berlari semakin mendekat dan langsung menarik tangannya membuatnya ikut berlari bersama Jiyeon dengan arah yang sama.

“W-waegeurae?” Tanya Jinhwan yang berlari di belakang Jiyeon.

“Jebal! Jangan menengok kebelakang!” Jawab Jiyeon masih berlari.

“MWO?” Bodohnya Jinhwan malah menengok kebelakang karena penasaran. Matanya melebar saat melihat segerombolan yeoja menatap ke arahnya.

“KYA! ITU DIA! KAJJA!” Teriak salah satu dari gerombolan yeoja tersebut menginterupsikan yeoja lain untuk mengikutinya.

“Aissh!” Jiyeon terlihat kesal melihat gerombolan yeoja itu mulai kembali berlari mengejarnya.

“W-wae? K-kenapa mereka mengejar kita?” Tanya Jinhwan.

Tak ada waktu. Mereka pasti dapat menyusul keduanya.
Akhirnya Jiyeonpun berhenti membuat Jinhwan menubruk tubuhnya.

“Jeo-jeoseonghamnida!” Ucap Jinhwan yang tidak sengaja menabrak Jiyeon yang berhenti berlari secara tiba-tiba.

“Kya! Akhirnya kau berhenti juga! Dasar yeoja jalang!” Ucap salah seorang dari yeoja gerombolan itu saat mereka ikut berhenti.

“Mwo?” Jinhwan terkejut mendengar ucapan yeoja itu yang begitu kasar dan tidak sopan.

Jiyeon terlihat kelelahan. Ia berusaha mengatur nafasnya tanpa melepaskan tangan Jinhwan dari genggamannya.

Jinhwan langsung menoleh kearah Jiyeon.
Ada apa sebenarnya dengan yeoja-yeoja ini? Batinnya.

“Sekarang jelaskan pada kami! Ada hubungan apa antara kau dengan Zhoumi oppa, eoh?”

“Zhoumi?” Jinhwan bergumam. Ia seperti tak asing dengan nama itu.
Eoh, itu adalah nama orang cina, bukan? Pikirnya.

“Bagaimana bisa Zhoumi oppa memelukmu saat memenangkan tropi Mnet The Show, eoh?”

“Apa kalian berpacaran?”

“Kau pasti menggodanya?”

Pertanyaan-pertanyaan aneh yang di lontarkan oleh yeoja-yeoja itu pada Jiyeon membuat sakit telinga Jinhwan.
Apa yang sebenarnya mereka katakan? Batinnya.

“Kya! Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian mengejarnya? Kenapa kalian menanyakan semua hal itu padanya? Apa dia seorang presiden yang harus mendengarkan semua keluhan kalian, eoh?” Jinhwan mulai naik darah.

Jiyeon hanya dapat menolehkan wajahnya menatap Jinhwan. Ia tersenyum melihatnya.

“Ck, siapa namja ini?”

“Kya! Apa kau selingkuhannya, eoh?”

“Setelah kau merebut Zhoumi oppa dari kami, kau langsung mencampakkannya dan bersama namja lain. Yeoja jalang!”

Jiyeon mulai kesal mendengar ocehan mereka. Ia meniup poni panjangnya dan semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Jinhwan seolah memberikannya kekuatan lebih.

Jinhwan menoleh kearahnya saat merasakan genggaman tangan Jiyeon semakin erat.

“Dia adalah kekasihku!” Jawab Jiyeon.

“Mwo?”

“Ck, kau benar berselingkuh dari Zhoumi oppa. Dasar yeoja……”

“Hanya dia kekasihku!” Potong Jiyeon membuat Jinhwan terpaku di tempatnya.

“Apa kau sedang membohongi kami?”

“Ck, aktingmu sangat buruk!”

“Jangan pikir kami akan mudah tertipu oleh akting murahanmu itu!”

“Kau artis yang payah!”

Artis?
Jinhwan melebarkan matanya.
Apa ia tidak salah dengar?
Apa benar yeoja yang tengah mengakuinya sebagai kekasih itu adalah seorang artis?

“Ani. Aku sama sekali tidak berbohong. Dia memang kekasihku. Dan hanya dialah kekasihku. Aku dan Zhoumi oppa hanyalah sebatas rekan kerja. Kami bersahabat! Tidak lebih!” Tegas Jiyeon.

“Mungkin namja itu memang kekasihnya! Mungkin ia kabur karena harus segera menemui namja itu!” Bisik salah satu yeoja gerombolan.

“Kau percaya?”

“Lihatlah jaketnya! Itukan milik Jiyeon. Mereka berarti benar-benar dekat! Mereka pasti berkencan!”

“Ne. Tangan mereka juga terus bertaut!”

“Jangan tertipu! Mereka pasti sedang bersandiwara!”

Aissh, Jiyeon seperti habis kesabarannya. Mereka benar-benar merepotkan. Sementara Jinhwan, ia terus menggumamkan nama Jiyeon. Ia merasa tak asing dengan nama itu.
Apa mingkin?

“T-ARA!” Teriak Jinhwan membuat semuanya memandang ke arahnya tak terkecuali dengan Jiyeon.

Ya, Jinhwan ingat. Jiyeon adalah salah satu anggota dari girl grup T-ara. Yunhyeong salah satu anggota Team B adalah penggemar mereka. Tak jarang Jinhwan pun pernah mendengar nama personil mereka dari namja yang 1 tahun lebih muda darinya itu.

Jinhwan memang kurang mengenal artis yeoja. Terlebih girl grup. Ia sama sekali awam dalam hal itu.

“Eoh, ronniedeul T-ara sedang menunggu kita! Kita harus segera menemui mereka!” Bohong Jinhwan.

“Ne, oppa! Kajja!” Jiyeonpun mengikuti alur sandiwara yang ia buat sendiri. Di luar dugaan namja itu mau mengikuti alur cerita. Hey! Lalu sejak awal ini yang jadi pertanyaan author, kenapa Jiyeon menarik Jinhwan ikut berlari bersamanya?
Mungkinkah karena Jiyeon mengira Jinhwan akan menjadi objek wawancara gerombolan yeoja itu jika ia meninggalkannya mengingat Jinhwan mengenakan jaket miliknya?
Atau mungkin Jiyeon tertarik dengan namja itu saat pertama kali bertemu?

“Kya! Neo eodiga? Kalian berdua belum selesai dengan kami!”

Jiyeon menghembuskan nafasnya prustasi. Sampai kapan mereka akan menjadikannya seperti teroris yang harus segera mereka tangkap dan hukum? Batin Jiyeon.

Jinhwan yang mulai mengerti dengan situasi ini pun merasa iba melihat Jiyeon.

“Apa yang kalian inginkan? Kenapa mengganggu kencan kami?” Jinhwan kembali berbohong.

Jiyeon melebarkan matanya.
Bagaimana bisa namja ini terus ikut bersandiwara dengannya?
Namja ini melindunginya.
Tapi ini bagus.
Ia sudah lelah berurusan dengan fans sahabatnya itu.

“Ck, kau pandai berakting juga. Kalau begitu, tunjukan pada kami semua kalau kalian berdua benar berkencan!” Tantang salah seorang dari gerombolan yeoja tersebut.

“Ne, itu benar! Buktikan pada kami!”

“Ne! Ne!”

Jinhwan dan Jiyeon mulai kehabisan akal.
Ige eotteokhae?

“Bukti. Kalian ingin bukti apa dari kami?” Balas Jinhwan tak mau kalah.

“Berciumanlah!”

“MWO?” Teriak Jiyeon dan juga Jinhwan bersamaan. Mereka benar-benar terkejut dengan bukti yang yeoja gerombolan itu inginkan.

“Bukankah tidak sulit. Jiak kalian benar berkencan, pastilah kalian sudah sering melakukannya. Jadi tidak ada ruginya melakukan satu pertunjukkan di hadapan kami, bukan!” Mereka semua tersenyum meremehkan.
Sedangkan Jinhwan dan Jiyeon hanya mampu terdiam.

“Bagaimana mungkin? Aku bahkan tak mengenalnya. Bagaimana bisa kami berciuman? Kenapa senjata yang ku buat malah mengenaiku sendiri?” Rutuk Jiyeon dalam hati.

“Berciuman? Apa dia gila? Aku bahkan belum pernah melakukannya. Apa yang harus ku lakukan?” Batin Jinhwan.

“Ck, kalian berdua benar-benar penipu jalang!”

Mendengar kembali kata kotor itu membuat Jinhwan semakin kesal. Sedangkan Jiyeon, ia sudah terbiasa dengan kata-kata kasar seperti itu. Ia artis dan bukan rahasia lagi jika sebagian ada yang mengatasnamakan anti fans meskipun alasan mereka tidaklah penting dan jelas.

“Geurae! Akan kami lakukan!” Jawab Jinhwan mantap membuat semua menatapnya.

“Dan setelah itu, berhentilah mengganggunya! Jika kalian masih melakukan hal itu pada kekasihku, aku tak akan ragu untuk menghajar kalian meskipun kalian semua adalah yeoja!” Tambah Jinhwan membalas perkataan kasar gerombolan yeoja itu.

Jiyeon menelan ludahnya saat Jinhwan hendak memulai aksinya dengan menatap Jiyeon.

“Apa benar ia akan melakukannya? Bagaimana denganku?” Batin Jiyeon saat melihat Jinhwan semakin mendekatkan wajahnya.

Bibir itu, benar-benar menempel pada bibirnya. Tanpa ragu Jiyeonpun mengalungkan kedua lengannya pada leher Jinhwan.

“Omo! Mereka benar-benar melakukannya!” Komentar salah satu dari mereka.

“Aissh, kenapa aku merasa malu sendiri melihat adegan mereka!” Tambah salah satunya.

Keduanya malah melupakan sandiwara mereka dan mulai menikmati ciuman hangat itu.

“ARA! Kami mengerti dan hentikan adegan ini!” Perintah salah satu dari gerombolan yeoja itu.

Jinhwan dan Jiyeonpun melepaskan bibir pasangan masing-masing. Mata mereka berdua pun bertemu membuat semburat merah tiba-tiba saja hadir di pipi Jiyeon. Jinhwan sepertinya menyukai pemandangan itu. Ia memberikan senyum termanisnya pada Jiyeon, membuat yeoja itu mengerjapkan matanya.
Tampan.
Namja ini tampan.
Kenapa ia baru menyadarinya?

Jiyeon langsung menunduk malu karena tatapan dan senyuman yang Jinhwan berikan untuknya.

“Kajja!” Perintah yeoja bertubuh gempal menginterupsikan pasukannya untuk meninggalkan tempat itu.

Hey! Sampai kapan namja ini akan menatapnya dengan senyuman semanis itu?
Ini sudah hampir setengah jam sejak kepergian gerombolan yeoja yang mengaku sebagai Mitang alias Honey sebutan untuk fans Zhoumi itu.

“Cho-vhogiii…..” Jiyeon terlihat gugup.

“Ye!” Jinhwan masih memamerkan senyum manisnya.

“I-igo…..” Jiyeon semakin gugup untuk memulai percakapan di antara dirinya dan namja tak di kenal itu.

“Kamsahamnida! Jeongmal kamsahamnida!” Jiyeon hanya dapat membungkukkan tubuhnya berterima kasih pada Jinhwan.

“Ne?” Sepertinya melihat pergerakan Jiyeon namja itu mulai tersadar dari lamunannya.
Hey! Sejak kapan kau hobi melamun, Kim Jinhwan?

“Hahaha… Jangan seperti itu! Aku tak melakukan apapun!”Lagi-lagi Jinhwan mengeluarkan tawa anehnya.
Pabo!

“Dowajusaeyo kamsahamnida!” Tambah Jiyeon.

“Hahaha… Kokjongmasaeyo!” Jinhwan membalasnya dengan melambaikan tangan tepat di wajah tampannya.

Keduanya terdiam.
Jiyeon bingung harus mengatakan apa lagi.

“Malnwado dwaeyo?” Jinhwan kembali membuka suaranya.

“Ne. Mullonimda!” Jawab Jiyeon.

“Neo…. Gwaenchana?” Tanya Jinhwan hati-hati.

“Ye? Ne Ne. Nan gwaenchana. Haha…”
Apa namja ini sedang mengkhawatirkan
nya, ya?
Arrggh, kenapa udara sedingin ini terasa begitu panas? Batinnya.

Jiyeon melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya yang semakin memanas. Ia harus menghentikan kecanggungan ini.

“Geurae, ijen chulbalhaeyo hamnida. Meonjeo galyeyo. Manasseo bangabseumnida!” Jiyeonpun melangkahkan kakinya meninggalkan Jinhwan setelah mengucapkan salam perpisahan dengan membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah Jinhwan.

Apakah hanya begini saja?
Hey! Mereka bahkan belum berkenalan!

“KYA! GIDARYEO!” Teriak Jinhwan dan langsung menyusul Jiyeon.

“Ne?” Tanya Jiyeon saat Jinhwan sudah berjalan di sampingnya.

“Kajja! Uri seoro sogaehagi!” Ajak Jinhwan.

“Mwo?”

“Sogaehagi!” Jinhwan pun mengulang ucapannya.

“Ne. Mullonimda. Joeneun, Park Jiyeon imnida. Bangabseumnida!” Jiyeon memulai perkenalannya.

“Kim Jinhwan imnida!” Jinhwan melakukan perkenalannya dengan singkat.

Keduanya berjalan beriringan di sekitar dermaga.

“Untuk kejadian tadi, daya benar-benar minta maaf. Benar-benar di luar dugaan akan melibatkanmu dalam hal konyol ini!” Jiyeon menundukkan wajahnya merasa bersalah.

“Gwaenchana, aku senang melakukannya.”

“Mwo?”

“Eoh, maksudku membantumu!”

Keduanya kembali canggung. Mungkin pikiran keduanya sama karena ucapan Jinhwan.
Mungkinkah maksudnya senang yakni berciuman dengan Jiyeon?

“Kenapa kau ada di sini? Maksudku, dimalam sedingin ini bertelanjang dada. Aah, aku tidak bermaksud mewawancaraimu, kau tak perlu menjawabnya!” Jiyeon terlihat kaku memulai pembicaraannya.

“Ani. Gwaenchana. Aku akan menjawabnya. Geundae, apakah aku boleh bertanya lebih dahulu?”

“Ne?”

“Apa yang kau pikirkan tentangku saat pertama kali melihatku dengan keadaan seperti itu?”

Keduanya menghentikan langkah mereka.
Jinhwan masih setia menanti jawaban yang akan di berikan Jiyeon.

“Gelandangan!” Jawab Jiyeon.

“Mwo?”

“Ku pikir kau gelandangan mangkanya tak memiliki baju. Tapi melihatmu lebih dekat membuatku ragu. Kenapa kau menanyakannya?”

Jinhwan menghembuskan nafasnya. Setidaknya Jiyeon tak menganggapnya namja gila yang bertelanjang dada di cuaca sedingin ini!
Tapi tunggu!
KYA! YEOJA ITU MENGIRA IA ADALAH GELANDANGAN?
Apa itu lebih buruk dari pada di anggap namja gila?

“Kau boleh mengataiku namja bodoh!”

“Mwo?”

“Bodoh karena telah membuang baju yang ku kenakan ke laut! Itu julukan yang lebih baik di bandingkan dengan namja gila atau gelandangan!”

Sunyi. Keduanya terdiam.
Tak lama setelah itu Jiyeon langsung tertawa. Jinhwan entah mengapa malah terpesona dengan tawa Jiyeon.
Bagaimana bisa yeoja ini tertawa seperti ini di hadapan seorang namja tanpa rasa malu sedikitpun?
Ia tertawa dengan mulut yang tebuka lebar. Sangat lebar. Matanya menyipit seperti Jinhwan saat tersenyum. Tapi Jinhwan malah menyukainya. Yeoja ini tak harus menjaga image di depan orang lain. Dia, apa adanya. Bahkan dengan yang baru saja ia kenal. Jinhwan tersenyum senang melihatnya.

“Kau senang?”

“Eum, Hahaha…..!”

Jiyeon menghentikan tawanya.
Hey! Bagaimana bisa ia senang dengan kebodohan Jinhwan?
Tapi ini benar-benar lucu menurutnya!

“Jeoseonghamnida!” Jiyeon tertunduk merasa bersalah.

“Ck, gwaenchana! Aku suka melihatnya!”

“Mwo?”

“Melihatmu tertawa seperti itu!”

Wajah Jiyeon kembali merona.
Bagaimana ia bisa sering merona saat bersama namja yang baru ia kenal itu?

“Eoh, apa kau ini artis?”

“Ne?”

“Park Jiyeon, Aku sering mendengar nama itu dari salah satu dongsaengku. T-ara. Kaukah orangnya?”

Jiyeon sedikit menggembungkan pipinya.
Bagaimana bisa namja ini tak mengenalnya?
Apa Jiyeon tidak cukup terkenal?
Ia kan sering muncul di acara Mnet The Show sebagai MC bersama Zhoumi dan juga Hyeri.
Pantas saja namja ini terlihat bingung saat pertama kali ia menghampirinya.

“Ne. Akulah orangnya. Apa kau tak pernah melihatku sebelumnya? Di televisi atau mungkin di internet. Kau, sungguh tak pernah melihat wajahku?” Tanya Jiyeon menunjuk dirinya sendiri.

Jinhwan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ini akan semakin memalukan jika ia menjawabnya. Namun yeoja itu terlihat masih menanti jawaban yang akan ia berikan.
Eotteokhae?

“Kalau kau tak mau menjawabnya tak apa!”

“ANIYO! Aku akan menjawabnya!” Ya, ia tidak mau ada penghalang di antara keduanya. Ia ingin lebih dekat dan mengenal lebih jauh lagi sosok yeoja yang ada di hadapannya itu.

Jinhwan dan Jiyeon kembali melanjutkan langkah mereka. Jinhwan masih ragu untuk menjawabnya, sedangkan Jiyeon masih menanti jawaban dari namja itu tentangnya.

“Sebenarnya….” Jinhwan memulai ucapannya membuat Jiyeon menolehkan wajahnya menatap Jinhwan.

“Bukan hanya kau ataupun T-ara. Aku bahkan tidak tau girl grup yang ada.”

“Mwo?” Jiyeon benar-benar di buat terkejut dengan jawaban Jinhwan.

“Igo, bukan karena aku tidak punya televisi atau media untuk internet, aku memang kurang tertarik dengan artis. Sehari-hari aku hanya menghabiskan waktu luang untuk bermain terompet atau menemani eommaku melakukan pertunjukan violinist nya. Sejujurnya, aku tidak terlalu tertarik dengan dunia entertainment. Tapi itu dulu!”

“Ne?” Jiyeon menghentikan langkahnya di ikuti dengan Jinhwan.

“Apakah kau percaya bahwa aku ini adalah salah satu trainee di YG Entertainment?”

“Shinca?”

Jinhwan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.

“Omo! Daebak!”

Keduanya kembali melangkahkan kaki mereka masing-masing.

“Apa kau dekat dengan GD oppa?”

“Ne? Kami tidak terlalu dekat hanya pernah sesekali bertemu. Kau fans nya?”

Jiyeon memamerkan sederet gigi putihnya.
Itu jawaban yang lucu bagi Jinhwan.
Hey! Yeoja ini benar-benar lucu! Batinnya.

“Eoh, apa mereka sering mengganggumu?” Tanya Jinhwan mengingat kejadian beberapa menit lalu.

“Ani. Hanya setelah insiden kecil yang menurut mereka itu mengganggu mereka!”

Jinhwan masih memandang Jiyeon dengan seksama. Mendengarkan yeoja itu berbicara dengan jarak sedekat ini entah mengapa membuatnya begitu merasa tenang dan nyaman.

“Aku menjadi salah satu MC di sebuah acara musik. Dan namja yang menjadi rekanku di acara tersebut memelukku saat ia memenangkan trofi di lagu solonya.”

“MWO?” Jinhwan berteriak.
Bagaimana bisa yeoja itu di peluk namja lain?

“Wae? Kau berpikiran sama dengan mereka? kami hanya berteman cukup akrab dan ia pun sudah memiliki kekasih meski publik belum mengetahuinya. Sejak saat itulah fansnya menerorku. Ku pikir dengan cara kabur seperti ini mereka akan berhenti, namun ternyata mereka tetap mengejarku.”

Ada kelegaan di benak Jinhwan saat yeoja itu mengatakan bahwa mereka hanyalah berteman, namun kembali merasakan sesak saat yeoja itu menceritakan bagaimana fans dari sang namja itu terus menerornya.

“Neo gwaenchana?”

“Ne?”

“Dengan semua perlakuan mereka terhadapmu. Apa kau masih ingin tetap bertahan di dunia entertainment ini?” Tanya Jinhwan membuat Jiyeon terdiam.

“Tentu saja. Aku bahkan pernah mengalami hal buruk lebih dari ini.” Jiyeon menundukkan wajahnya saat ia teringat peristiwa 2 tahun lalu saat grupnya di tuduh membully salah satu anggota yang keluar dari grup. Membuat ia di kucilkan dan harus pindah ke Jepang untuk sementara waktu. Meski pada akhirnya semua itu terbukti tidaklah benar, namun masyarakat tetap membencinya. Kebenaran tidak 100% membuat seseorang kembali menyukaimu. Ada saatnya kau memulai kembali semuanya dari 0 dan inilah yang tengah Jiyeon lakukan.

“Kim Jinhwan, ku harap kelak kau menjadi artis luar biasa! Aku tidak tau kau trainee untuk menjadi penyanyi atau aktor, namun perjalananmu di dunia entertainment ini baru akan di mulai saat kau debut nanti. Akan ada banyak hal yang menantimu di depan sana. Kuharap kau mampu melewati semuanya dengan baik. Buatlah semua orang merasa bangga dan bahagia karena telah mengenalmu! Kau harus terus melangkah maju demi meraih impianmu. Kau sudah menentukannya sejak awal dan kau pun harus menyelesaikannya hingga akhir! Aku, akan menunggu hingga kita berada di panggung yang sama. Itu akan menjadi salah satu impianku mulai malam ini. Kim Jinhwan, fighting!” Jiyeon mengangkat satu tangannya yang mengepal ke udara memberi semangat untuk namja yang benar-benar mampu membuatnya merasa nyaman dan aman di hari pertama mereka berdua bertemu.

Jinhwan hanya terpaku. Kembali terpesona dengan apa yang baru saja di ucapkan sang yeoja.

“Aku harus kembali ke dorm! Eonniedeul pasti mencariku! Kalau begitu aku akan pamit terlebih dahulu. Senang bisa mengenalmu. Kuharap kita bisa bertemu lagi di kemudian hari.” Jiyeon tersenyum hangat sebelum membungkukkan tubuhnya dan berlari ke arah trotoar untuk menghentikan sebuah taksi yang akan membawanya kembali pulang ke dorm.

Jinhwan menyentuh dadanya yang berdentum cukup keras. Ia tersenyum lalu tertawa.
Perasaan apa ini?
Kenapa ia begitu merasa sangat bahagia?

“KYA! PARK JIYEON! TUNGGULAH AKU! AKU PASTI AKAN MEWUJUDKAN MIMPIMU ITU! KITA PASTI AKAN BISA TAMPIL DI PANGGUNG YANG SAMA! HUAHAHAHAH!”

Gila. Mungkin inilah yang akan orang-orang pikirkan saat melihat seorang namja yang berteriak cukup keras lalu melenggokkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri menari-nari senang di tengah udara malam yang semakin menusuk permukaan kulit.
.
.
.
.
.
Jiyeon terus mengetikkan sebuah nama pada laptopnya. Kim Jinhwan YG trainee
Itulah yang ia tuliskan di sana. Terdapat foto dan juga profilnya.

“Dia tidak berbohong. Dia benar-benar seorang YG trainee.” Gumamnya saat melihat profil Jinhwan.

“MWO? 94?”

“Waegeurae?” Tanya Hyomin yang mendengar teriakan dari maknae T-ara itu.

“Ani.” Jawab Jiyeon dengan sigap, membuat Hyomin mengerutkan keningnya.

“Dia 1 tahun lebih muda dariku. Aku bahkan tidak bisa memanggilnya oppa!” Jiyeon bergumam sedih.

“Ada apa dengan dinosaurus itu?” Batin Hyomin yang melihat perubahan ekspresi di wajah Jiyeon.
.
.
.
.
.
“Hyung, kau yakin baik-baik saja?” Tanya B.I sang leader.

“Ini lebih buruk. Kurasa siluman laut membuatnya tidak waras seperti ini!” Bisik Bobby.

Ya, Jinhwan memang satu kamar dengan B.I dan juga Bobby. Mereka sangat dekat mengingat masa trainee mereka lebih lama dan hampir dibilang sama dibanding dengan trainee lain.

“Hyung, apa kau bertemu sesuatu semalam?” Tanya Bobby.

Jinhwan yang sejak semalam tak pernah menghilangkan senyuman di wajahnya hanya mengangguk anggukkan kepalanya.

“Aissh, apa kita harus memberitahukan hal ini pada YG Appa?” Bisik B.I.

“Andwae! Kita harus menyembuhkannya!” Protes Bobby.

“Mwo?” Tanya B.I tidak mengerti.

“Ne. Kita berdua!” Balas Bobby.

“Bagaimana caranya?” Tanya B.I penasaran.

Bobby membisikkan sesuatu ketelinga B.I.

“NEO MICHEOSSEO?” Teriak B.I.

“Kya! Pelankan suaramu! Ini yang biasa kami lakukan di USA.” Jawab Bobby yang memang dibesarkan di USA.

“Kau yakin?” B.I terlihat ragu.

Bobby menganggukkan kepalanya mantap. Sedangkan objek yang sedang di bicarakan itu masih saja tersenyum lebar memandang jaket yang tergantung di dinding kamar. Ya, jaket milik yeoja yang berhasil merebut hatinya hanya dengan waktu satu malam.

“Hyung! Ikutlah denganku!” Ajak B.I pada Jinhwan.

“Ne? Eodie?” Tanya Jinhwan tanpa rasa curiga sedikitpun.

“Hanya pergi ke balkon. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu!” Jawabnya.

“Geurae!”

Tak ada Bobby di sana. Entah di mana keberadaan namja super atraktif itu.

“Waegeurae?” Tanya Jinhwan yang sudah berada di balkon bersama B.I.

“Hyung. Igo…”

Jinhwan masih menanti ucapan B.I hingga,

~BYURRRRR~

Tubuhnya basah kuyup saat seember air tepat mengenai tubuhnya.

“Hyung, mianhae! Ini semua rencana Bobby!” B.I terlihat ketakutan saat melihat ekspresi Jinhwan.

“Eotteokhae? Apa hyung sudah sembuh?” Tanya Bobby dengan wajah tanpa dosanya dan masih menenteng ember di tangannya. Sudah di pastikan siapa yang baru saja menyiram Jinhwan.

“KYA!” Teriak Jinhwan kesal dan B.I langsung bergegas menarik Bobby menjauh dari amukan hyungnya itu.
.
.
.
.
.
Jiyeon menghembuskan nafasnya kesal.

“Dia masih trainee dan sudah berani membuat skandal? Ck!”

Hyomin langsung keluar kamar melihat Jiyeon yang sepertinya akhir-akhir ini sudah mulai kehilangan kewarasannya karena berbicara seorang diri dengan laptopnya sendiri.
Ya, mereka berdua memang tidur di kamar yang sama.

“Jimin AOA. Aigoo, dia cukup cantik dan Rapper yang luar biasa. Aissh, aku bahkan jauh di atasnya. Aku sama sekali tidak bisa melakukan rapp!” Jiyeon mengacak rambutnya prustasi saat melihat beberapa foto tentang kedekatan Jinhwan dan juga Jimin AOA.

“Apa mereka benar-benar berkencan? Omo! Lalu bagaimana denganku? Kya! Apa yang kau pikirkan, Park Jiyeon? Apa kau berharap pada namja yang bahkan baru satu malam kau temui, eoh? Neo micheosseo! Ne, naega micheosseo! Neomu micheosseo! Aissh!” Jiyeon semakin prustasi menyadari perasaanya sendiri.
.
.
.
.
.
“HARTA KARUN?” Teriak Bobby dan B.I secara bersamaan saat mendengarkan cerita hyungnya itu.

“Eodie?” B.I bertanya.

“Laut?” Bobby menebak.

“Eum!” Jawab Jinhwan.

“Eoh, jeongmalyo?” Bobby begitu menggebu-gebu ingin mengetahui lebih jelas lagi.

“Shinca?” B.I pun turut di buat penasaran.

“Eum!” Lagi-lagi Jinhwan hanya menjawabnya seperti itu seraya menganggukkan kepalanya.

B.I langsung mendekat dan membantu Jinhwan yang tengah mengeringkan rambutnya setelah selesai mandi. Bobby pun ikut mendekat dan memijat-mijat tangan Jinhwan. Kini Jinhwan terlihat bak seperti seorang raja yang tengah di layani maidnya.

Jangan lupakan motif di balik sikap baik B.I dan juga Bobby, tentu mereka berdua akan meminta bagian dari harta karun yang baru saja di temukan Jinhwan.

“Geuraesseo?” B.I memulai.

“Kita mendapatkan bagian berapa, hyung?” Sambung Bobby.

“Mwo?” Jinhwan melongo.

“Kau tidak akan menghabiskannya seorang diri kan?” Bobby memulai aksinya.

“Ne. Kau pasti akan membaginya dengan kami berdua kan, hyung!” B.I membenarkan.

Jinhwan langsung berdiri dan menjauh dari kedua dongsaengnya itu.

“Apa kalian berdua sudah gila? Aku hanya memilikinya dan bagaimana mungkin aku membaginya dengan kalian berdua? Apa kalian pikir dia yeoja murahan yang bisa di bagi-bagi, eoh?” Jinhwan naik darah.
Tunggu!
Sepertinya ada yang tidak beres disini.

“Hyung, kenapa kau malah membicarakan seorang yeoja? Kami menginginkan sebagian dari harta karun mu, bukan yeoja!” B.I meluruskan.

“Ne, majayo!” Bobby menbenarkan.

“Itulah harta karun yang ku temukan!” Jawab Jinhwan.

“MWO?” Teriak B.I dan Bobby bersamaan.

“Ne. Dia adalah seorang yeoja cantik dan baik hati. Dia juga yeoja yang lucu. Dialah harta karun yang ku temukan di laut tempo hari. Aku tidak akan memberikannya pada kalian berdua!”

B.I dan Bobby langsung menghembuskan nafas mereka. Mereka berdua pun keluar kamar meninggalkan Jinhwan yang terlihat bingung melihat kedua dongsaengnya itu.

“Ada apa dengan mereka?” Gumamnya.
.
.
.
.
.
Sudah hampir 1 bulan sejak pertemuan HwanYeon couple ini. Mereka hanya dapat melepas kerinduan mereka melalui layar lebar yang ada di dorm mereka. Jinhwan yang tak pernah absen menonton program music The Show serta Jiyeon yang juga menonton tayangan Win dari internet karena acara tersebut sudah selesai di tayangkan di Mnet dan hanya melalui media internetlah ia dapat melihatnya.

“Akhir-akhir ini kau sering menggunakan internet. Mulailah menggunakan media sosial kembali jika kau rindu menyapa fans mu di sana!” Saran Hyomin.

“Ani.” Jawab Jiyeon jujur. Ia masih takut. Trauma yang ia alami 3 tahun silam belumlah hilang dan ia masih belum berani untuk kembali membuka akun sosial tersebut.

“Ck, lalu apa yang kau lihat eoh?”

“Eonnie! Mendekatlah dan lihat mereka!”

Hyomin yang penasaranpun mulai mendekat dan melihat 6 namja yang tengah tampil di atas panggung menyanyikan sebuah lagu.

“Nugunde?” Tanya Hyomin.

“Team B. Suara mereka sungguh indah, bukan! Lagu yang sedang mereka nyanyikan adalah ciptaan leader mereka. Mereka juga pandai menari dan menciptakan lagu. Mereka luar biasa!” Cerocos Jiyeon saat Team B tengah menyanyikan lagu Long Time No See.

“Ini acara apa? Eoh, bukankah ke 5 orang itu adalah grup baru YG Entertainment? Siapa, ya?” Hyomin terlihat berfikir saat kamera menzoom wajah para member Team A.

“Mereka adalah Winner. Sebelumnya mereka adalah team A yang memenangkan acara ini.” Jawab Jiyeon.

“Eoh, jadi mereka debut setelah memenangkan acara ini?” Tanya Hyomin.

“Eum. Tapi bagaimana dengan Team B, ya?” Jiyeon terlihat gelisah.

“Hey! Sejak kapan kau mulai mengikuti sebuah acara televisi? Apa ada yang kau sembunyikan dariku, eoh?” Tanya Hyomin penuh kecurigaan.

“Ani.” Jawab Jiyeon bohong.

Hyomin hanya berdecak mendengarnya.
.
.
.
.
.
“Kya! Apa kau tau apa yang terjadi dengan Jinhwan, hyung? Dia terlihat aneh setelah kita gagal memenangkan kompetisi!” Bisik sang maknae, Goo Junhoe.

“Molla. Geundae, dia terlihat tidak buruk. Ia terus tersenyum bahkan saat latihan.” Jawab Kim Donghyuk yang seusia dengan Junhoe.

“Jangan menghiraukannya! Ia sedikit kurang waras karena terlalu lama berada di laut malam itu. Beruntung siluman laut tak memakannya!” Ejek Bobby seraya memasukkan sepotong water melon ke dalam mulutnya.

“Eum, majayo!” B.I membenarkan.

“Kya! Song Yunhyeong! Apa menurutmu namja itu tipikalnya?” Tunjuk Jinhwan pada layar televisi yang tengah menayangkan acara music The Show dan tepat saat Zhoumi dan Jiyeon lah yang tengah mengisi scene itu sebagai MC.

“Nugu? Jiyeon nuna?” Tanya Yunhyeong mencoba meyakinkan.

Ke-4 member lain hanya menonton adegan 2 hyung mereka.

“Ne. Apa menurutmu mereka berkencan?”

Yunhyeong terlihat aneh mendengar pertanyaan Jinhwan.
Bagaimana mungkin ia tau akan hal seperti itu?
Ia kan bukan wartawan atau pecinta gosip.

“Kurasa tidak!” Jawab Yunhyeong asal.

“BINGO!” Teriak Jinhwan seraya menepukkan ke dua telapak tangannya.

“Ya, mereka tidak mungkin berkencan. Kim Jinhwan, kau harus mempertahankan harta karunmu. FIGHTING!”

Ke-5 dongsaengnya hanya melongo melihat aksi hyung mereka.
.
.
.
.
.
“Jika takdir memang berpihak padaku, kami pasti akan kembali bertemu!” Jinhwan yang sudah berada di dermaga terus menggumamkannya. Ia datang kembali ke tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan Jiyeon. Malam ini tentu ia tak bertelanjang dada lagi. Ia mengenakan baju panjang hangat di lapisi dengan jaket pemberian Jiyeon.
Hey! Dia hanya meminjamkannya, Kim Jinhwan!
Jinhwan terus menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kim Jinhwan?”

Eoh, itu suaranya. Harta karunnya telah datang. Ia harus berterimakasih pada takdir yang telah berada di pihaknya. Ia langsung tersenyum dan membalikkan tubuhnya.
Oh, ia begitu merindukan yeoja itu.
Bolehkah ia menerjangnya sekarang?
Pabo!

“Annyeong!” Sapanya dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.

“Ne, annyeong!” Balas Jiyeon. Sepertinya pipinya kembali merona hanya dengan di beri senyuman oleh Jinhwan.

“Oraemanieyo!”

“Ne!” Jiyeon terlihat kaku. Rasa gugup kembali menyerangnya.

“Eotteoseumnikka?”

“Jal jinaeseoyo. Jinhwan-ssineun eotteoseumnikka?”

“Jeodo jal jinaeseoyo!”

Keduanya kembali terdiam.
Suasananya semakin canggung saja.

“Eoh, aku menonton kompetisi mu. Kalian semua benar-benar sangat keren!” Jiyeon mengacungkan kedua ibu jarinya ke udara.

“Jeongmal?”

Jiyeon menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.

“Aku juga menontonmu. Kupikir kalian hanya bersahabat. Hanya orang-orang bodohlah yang menganggap kalian berdua berkencan!”

“Eoh?”

“Eoh, maksudku Zhoumi. Hahaha….” Jinhwan memulai kembali aksi tawa bodohnya.

Kesunyian kembali menyelimuti keduanya.

“Kau, apa benar berkencan dengan Jimin?” Jiyeon terdengar bergetar menanyakannya.
Pabo!
Untuk apa kau menanyakan hal pribadi itu, Park Jiyeon! Rutuknya.

“Mwo?”

“Ani. Lupakan saja!” Jiyeon memalingkan wajahnya tak sanggup melihat wajah bertanya Jinhwan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Jinhwan.

“Apa mungkin kita berjodoh! Hahaha…” Tawa bodohnya kembali terdengar.

Jiyeon sedikit kesal mendengarnya.
Bagaimana namja itu bisa mengatakan hal seperti itu sedangkan ia tengah berkencan dengan yeoja lain?

“A-apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” Tanya Jinhwan saat melihat reaksi Jiyeon.

Jiyeon menghembuskan nafasnya.

“Nan khalke!”

“Mwo?”

Jinhwan langsung mengejar Jiyeon yang meninggalkannya.

“Waegeurae? Apa aku melakukan kesalahan?” Tanyanya yang masih di acuhkan Jiyeon.

“Jebal! Katakan padaku dimana letak kesalahanku! jangan seperti ini!” Jinhwan terus memohon dan ia pun mulai berani menggenggam lengan Jiyeon dan berhasil membuat yeoja itu menghentikan langkahnya.

“Apa kau ingin aku mengatakannya?” Jiyeon menahan kekesalannya.

Jinhwan yang memang tidak ingin kesempatannya dengan Jiyeon hilang begitu saja langsung menganggukkan kepalanya.

“BAGAIMANA KAU BISA MENGATAKAN KITA BERJODOH DI SAAT KAU TENGAH BERKENCAN DENGAN YEOJA LAIN? MESKIPUN ITU HANYA LELUCON, TAPI DEMI TUHAN, LELUCON ITU SAMA SEKALI TIDAK LUCU, KIM JINHWAN. DAN KAU MENANYAKAN APA YANG KULAKUKAN DISINI? JAWABANKU ADALAH KARENA AKU MERINDUKANMU! KAU BOLEH MENGANGGAPKU GILA, TAPI AKU MEMANG MERASA GILA KARENA TERUS MEMIKIRKANMU!” Jiyeon terlihat terengah.
Sedangkan Jinhwan, namja itu terlihat membuka lebar mulutnya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja yeoja itu katakan.

“Lupakan! Dan anggap kau tak pernah mendengarnya!” Lanjut Jiyeon dan melepaskan lengannya dari genggaman Jinhwan. Ia pun kembali meninggalkan Jinhwan.

Seperti orang bodoh, Jinhwan baru menyadari satu hal setelah berkali-kali mengartikan setiap kata yang di ucapkan Jiyeon. Ia pun langsung mengejar yeoja itu dan menghentikan yeoja itu dengan memeluknya dari belakang.

“Jinhwan!” Suara Jiyeon tercekak.
Jinhwan benar-benar mendekapnya posesif.

“Kurasa…..Aku menyukaimu. Ani. Geundae, saranghandago!”

Jiyeon mematung. Namun tak lama ia mencoba melepaskan rengkuhan Jinhwan, membuat Jinhwan geram dan entah mendapatkan keberanian dari mana namja itu membalikkan tubuh Jiyeon untuk menghadapnya.

“Saranghae!” Ucapnya penuh keyakinan.

“Ck, kau sedang bercanda! Bagaimana bisa aku percaya, kau bahkan tengah mengencani yeoja lain dan berani sekali kau mengatakan bahwa kau jatuh cinta padaku!”

“Mwo? Siapa yang mengencani siapa? Bahkan seumur hidupku aku belum pernah melakukannya. Ini adalah pertama kalinya aku melakukan hal ini!” Bela Jinhwan.

“Jimin. Kau melupakannya setelah media mengetahui hubungan kalian? Neo, neomu neomu nappeun!”

Sepertinya Jinhwan mulai mengerti arah dari pembicaraan ini. Ia tersenyum jahil melihat Jiyeon yang benar-benar emosi atau mungkin, terbakar cemburu.

Jinhwan kembali memeluk Jiyeon, mengistirahatkan kepalanya di pundak yeoja itu dengan menghadapkan wajahnya ke leher Jiyeon, memberikan banyak kecupan disana. Sekaligus menghirup wangi khas yeoja yang telah memenangkan hatinya itu.
Hey!
Kim Jinhwan!
Berani sekali kau melakukan hal itu!

“Kau cemburu?”

Bingo!
Tepat sasaran!
Dan Jiyeon tak mampu menjawabnya.

“Kami hanya berteman. Sama halnya dengan kau dan Zhoumi. Gosip itu tidaklah benar. Percayalah!” Jinhwan merenggangkan pelukannya dan menatap Jiyeon intens.

“Aku hanya mencintaimu, Park Jiyeon. Dan kuharap, kau adalah gadis pertama dan terakhir yang mengisi hatiku. Meski aku tak sesempurna GD sunbaenim atau namja pujaan hatimu lainnya, tapi aku akan berusaha untuk mencintaimu dengan sempurna.” Jinhwan mendaratkan bibirnya di kening Jiyeon. Menyalurkan rasa hangat dan kasih sayang pada yeoja itu.

Jiyeon hanya mampu mematung.
Apakah ini berarti perasaanya terbalaskan?

“Aku akan berusaha mewujudkan mimpimu. Kita akan berdiri dipanggung yang sama suatu hari nanti. Tunggulah aku!”

Jiyeon masih membatu di tempatnya.

Jinhwan tersenyum dan kembali memeluk Jiyeon.
Ia menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya ia mendapatkan harta karun yang ia temui di laut. Bagaikan mimpi saja.

“Ji-jinhwan, K-kau ti-tidak se-sedang bercanda bukan?”

“Ck, panggil aku oppa! Bukankah aku ini kekasihmu!”

“O-oppa!”

“Ne, Kim Jinhwan adalah kekasih Park Jiyeon!”

Jiyeon tersenyum bahagia mendengarnya.
Konyol!
Ia langsung membalas pelukan Jinhwan dengan sangat erat.

“Saranghae! Saranghae, Kim Jinhwan!”

“Ne! Nado saranghae, Park Jiyeon!”

Ini cinta lebih dari satu malam meski pertemuan mereka hanya satu malam.
Siapa yang tau takdir Tuhan, bukan!

Kehangatan itu terus menjalar di tubuh kedua insan yang baru saja melepas rindu mereka dan baru saja memulai kisah asmara mereka.
HwanYeon couple, semoga selalu berbahagia!

“Aissh, mereka benar-benar berkencan! Harusnya kita tidak lewat sini!”

“Apa ini menjadi tempat pribadi mereka berkencan! Menyebalkan!”

“Kajja!”

Gerombolan yeoja itu terus mengumpat tidak jelas. Ya, mereka yang dulu pernah meneror Jiyeon kembali melihat adegan mesra HwanYeon couple yang jujur saja membuat mereka semua merasa iri.
.
.
.
.
.
Bagaimana HwanYeon couple ini?
Berikan kritik saran maupun komentar apapun ne!
Coment Jusaeyo!