FF Hoya (Infinite) part 1

image

      MIRACLE IN DECEMBER

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Lee Howon aka Hoya (Infinite)

Other Cast :
Lee Sungyeol (Infinite)
Park Chanyeol (EXO)
Park Yoochun (JYJ)

Songfict :
SHINee Like A Fire

Genre :
Romance, Family, Friendship, Sad

Length :
Two Shoot

A/N : Ini FF ke 18 author yang pernah author publish di desember 2014 tahun lalu.
Ini FF pertama menggunakan cast HoYeon. Semoga suka couple baru Hoya Jiyeon ini.
Untuk yang masih setia sama FF IF I RULED THE WORLD JaeYeon couple, jangan khawatir karena FF ke 17 tetap akan berlanjut dan tak akan berhenti di tengah jalan.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Ini kisahku, kisah seorang yeoja berusia 18 tahun yang baru saja lulus dari Anyang Art High School beberapa minggu lalu dan saat ini sudah menjadi seorang Mahasiswi di Konkuk University jurusan seni.

Desember.
Inilah kisahku tentang bulan paling akhir dalam setahun. Bulan dimana aku pertama kali bertemu dengan namja itu.
.
.
.
.
.
“Huuuh.” Lagi-lagi yeoja berambut panjang itu menghela nafasnya.

“Kau ini kenapa, sih?” Tanya Park Chanyeol, namja tinggi berparas tampan yang tengah mengemudikan ferrari hitam miliknya. Ia sedikit kesal pada dongsaeng satu-satu nya itu yang saat ini berada duduk tepat disampingnya, disamping jok pengemudi. Yeoja itu terus-menerus menghela nafasnya. Benar-benar mengganggu konsentrasinya dalam mengemudi saja! Gerutu Chanyeol.

“Aku masih belum mendapatkan teman, oppa!” Jawab Park Jiyeon yang adalah dongsaeng dari Park Chanyeol. Yeoja itu tertunduk sedih.

“Lalu?”

Jiyeon langsung mendelik ke arah oppanya itu dengan tajam.

Lalu?
Apa ia tidak sadar semua ini salah siapa?
Kalau saja oppanya itu mahasiswa baik di Universitasnya, tentu orang-orang tidak akan takut untuk dekat atau berteman dengannya.
Salahkan oppanya juga yang merekomendasikan ia sekolah di sana dan membuat sang Appa yang bernama Park Yoochun menyetujui hal itu dengan mengatakan agar Jiyeon dapat di awasi dan di jaga dengan mudah oleh oppanya jika sang appa sedang tidak berada di Seoul.

“Jangan menatapku seperti itu! Aku ini bukanlah pisang!” Protes Chanyeol.

“Jadi kau pikir aku ini monkey, eoh?” Timpal Jiyeon kesal.

“Aku tak mengatakan itu!” Jawab Chanyeol dengan santainya. Ia suka sekali menggoda yeodongsaeng satu-satu nya itu.

“Aku membencimu!” Sembur Jiyeon.

“Kamsahamnida!” Jawab Chanyeol dengan wajah bak malaikatnya.

Ya, itulah kehidupan sepasang saudara Park Family.
Chanyeol begitu menyayangi Jiyeon, ya mengingat mereka tidak mempunyai eomma.
Eomma mereka meninggal dunia saat Jiyeon masih duduk di bangku Junior High School karena penyakitnya. Chanyeol juga begitu memanjakan dongsaengnya itu, namun dengan caranya sendiri. Bukan dengan cara kebanyakan seorang oppa pada umumnya. Ia terlalu over protektif pada yeoja itu, mengingat tubuh Jiyeon memang tidak seperti yeoja lainnya. Yeoja itu begitu lemah. Itu sebabnya Chanyeol melarang dia melakukan aktifitas berat bahkan Jiyeon tidak pernah mengikuti ekstrakulikuler olahraga sejak Elementary School. Tubuh yeoja itu terlalu lemah dan gampang lelah.
Pernah suatu hari Chanyeol terlambat menjemput Jiyeon dan akhirnya Jiyeon harus menunggu terlalu lama.
Entah yeoja itu bodoh atau apa, ia hanya berdiri menunggu di depan pintu gerbang sekolah yang sudah tertutup. Padahal ia bisa saja pulang menaiki taksi atau ikut bersama temannya.

Tidak. Gadis itu tidaklah bodoh.
Salahkan Chanyeol karena melarang Jiyeon berteman dengan siapapun, membuat teman-teman Jiyeon ketakutan dan akhirnya tidak mau berteman lagi dengan yeoja itu.
Salahkan juga Appanya yang pagi itu lupa memberikannya uang saku dan akhirnya ialah yang menderita. Tak ada kawan dan juga uang.
Jadilah ia berdiri seorang diri di sana.
Bagaimana dengan Perutnya?
Tentu saja ia merasa amat sangat lapar. Beruntung pagi itu ia sarapan di rumah terlebih dahulu dan juga dibawakan sekotak bento oleh para maidnya.
Namun sekarang bagaimana?
Perutnya kembali berbunyi menandakan bahwa ia telah kembali lapar.
Ia pingsan detik itu juga.

Baiklah, sepertinya Park Family memanglah bermasalah!
.
.
.
.
.
~BRUK~

“Jeoseonghamnida!” Jiyeon berkali-kali membungkukkan tubuhnya meminta maaf saat ia tak sengaja menumpahkan minumannya pada tubuh seorang namja.

Namja.
Ya, namja yang tak sengaja bertabrakan dengan Jiyeon terlihat amat kesal saat melihat
pakaian yang ia kenakan basah.
Jiyeon menyadari itu. Ia langsung mengambil sapu tangan yang ada di dalam tas slempangnya.
Ya, yeoja itu memang selalu membawa sapu tangan hitam bergambarkan kucing yang ia buat sendiri.

Namja itu semakin kesal saat melihat yeoja itu menyentuh tubuhnya.

Tidak.
Yeoja itu berniat membantunya untuk membersihkan sisa minuman yang mengenai pakaiannya, namun pikirannya sudah bergelayut berfikir bahwa yeoja itu memang sengaja melakukannya agar dapat menyentuhnya.
Ya, di pikirannya adalah bahwa yeoja itu adalah salah satu yeoja yang menggilainya.
Sungguh percaya diri yang tinggi.

“JANGAN MENYENTUHKU!” Bentaknya tajam seraya menggenggam erat tangan Jiyeon bermaksud menyingkirkan tangan tersebut dari tubuhnya.
Namun seolah waktu berhenti berputar. Ia terhipnotis saat yeoja itu refleks menatapnya karena terkejut akan bentakkanya.
Mata itu menguncinya. Ia tidak dapat bergerak, namun di dalam sana, jantungnya bergemuruh. Ramai sekali. Matanya tak berkedip sedikitpun bahkan tangannya tetap menggenggam tangan lembut sang yeoja yang masih berada di tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Hoya?” Seorang namja menepuk bahunya. Suara itu mampu membuat waktu kembali berputar, mata yang kembali berkedip namun jantungnya masih saja bergemuruh ramai.

Jiyeon langsung menarik tangannya dan terlepaslah tangannya dari genggaman sang namja bernama Hoya itu. Jiyeon langsung menundukkan wajahnya.

“Jeoseonghamnida! Saya benar-benar tidak sengaja!” Lirihnya.

Lee Sungyeol, namja yang ternyata mengganggu moment HoYeon itu langsung menoleh ke arah Jiyeon yang masih setia menundukkan wajahnya.

“Eoh, neo!” Tunjuk Sungyeol pada Jiyeon.

Jiyeon masih menundukkan wajahnya. Ia sedikit menarik kepalanya dan melihat sosok Sungyeol, namun matanya kembali menatap sosok Hoya yang masih menatapnya tajam, refleks ia kembali menundukkan wajahnya takut.

“Park Jiyeon? Kau kah itu?” Tanya Sungyeol.

Eoh, namja bertubuh kurus itu mengenalnya?
Tunggu!
Ia merasa pernah melihatnya!
Tapi dimana? Batin Jiyeon mencoba mengingat.

“Ne!” Jawab Jiyeon masih menunduk.

“Waaah, kau kuliah di sini juga? Apa kau mahasiswa baru?” Tambahnya.

“Ne!”

“Kau jurusan seni juga?” Tanya Sungyeol. Tentu saja karena mereka saat ini tengah berada di gedung jurusan kesenian.

“Ne!” Jawab Jiyeon kembali.

“Kau….”

Pertanyaan yang hendak Sungyeol lontarkan kembali pada Jiyeon terpaksa terhenti saat Hoya menarik paksa tangan Jiyeon.

“KYA! KAU MAU MEMBAWANYA KEMANA?” Teriak Sungyeol saat melihat tingkah sahabatnya.

Hoya tak menghiraukan teriakan sepupu yang menjadi sahabatnya sejak kecil itu. Ia terus menarik tangan Jiyeon menaiki tangga menuju loteng atas gedung kesenian.

Jiyeon terlihat ketakutan.
Mau di apakan ia?

~BRUK~

Hoya langsung menendang pintu yang ada di hadapannya dengan kasar dan tibalah kini ke duanya berada di lantai paling atas pada gedung jurusan kesenian.

Hoya melepaskan genggaman tangannya membuat Jiyeon akhirnya dapat bernafas lega. Namun ia kembali di kejutkan saat ia melihat namja itu mulai membuka pakaiannya.

“Apa yang….”

~BRUK~

Jiyeon berhenti bertanya saat Hoya melemparkan pakaian yang ia lepas ke arahnya.
Kini, Jiyeon dapat melihat tubuh sixpack Hoya.
Wajahnya terasa panas.
Tubuh Hoya terlihat begitu indah apalagi dengan sinar matahari yang meneranginya.
Bagaimana rasanya jika Jiyeon menyentuh otot-otot tersebut?
Jiyeon menggelengkan kepalanya menyadari pikiran kotor yang mulai meracuninya.

“Neo wae?”

Jiyeon langsung tersadar akan pesona tubuh Hoya saat namja itu bertanya padanya.

“Ne?”

“Ck, kau terpesona pada tubuhku eoh?”

Wajah Jiyeon semakin memerah. Ia langsung membalikkan tubuhnya sebelum ia terbakar oleh semburat merah yang menjalar di wajahnya.

Hoya mengeluarkan smirknya. Jelas ia sudah melihat warna merah yang ada pada wajah yeoja yang ia ketahui dari Sungyeol adalah bernama Park Jiyeon.
Tidak.
Sejak kapan ia jadi penguping?

“Ma-mau apa kau?” Tanya Jiyeon gugup. Rasa takutnya malah berubah menjadi kegugupan yang luar biasa. Ia mendengar suara derap langkah yang semakin mendekat ke arahnya.

“Tentu saja membuatmu bertanggung jawab!” Jawab Hoya tepat di telinga Jiyeon membuat Jiyeon dapat merasakan hembusan nafas Hoya di telinganya.

“Ta-tanggung jawab a-apa?”

“Bersihkan pakaianku!” Jawab Hoya.

Jiyeon langsung berbalik.

“Mwo?”

~DEG~

Wajah keduanya terlalu dekat. Harusnya Jiyeon tidak berbalik dalam posisi seperti ini.

Kulitnya bersih, sangat cantik. Tidak kurus dan juga gemuk, benar-benar proposional.
Sial! Hoya sudah tidak tahan.
Tangan kirinya menarik pinggul Jiyeon makin mendekat membuat tak ada jarak lagi diantara keduanya.

Jiyeon tak bergeming. Ia masih terhipnotis oleh wajah tampan yang dimiliki namja yang ada di hadapannya saat ini hingga ia tersadar saat Hoya menempelkan bibirnya pada bibir Jiyeon.

Hoya mencium Jiyeon lembut.
Jiyeon yang kaget langsung melebarkan matanya sempurna.
Ini ciuman pertamanya. Sentuhan pertama yang ia dapatkan dari seorang namja.

Jiyeon mulai merasa kehabisan nafas. Ia pun membuka mulutnya berniat mencari oksigen, namun itu malah memberikan akses untuk Hoya memasukkan lidahnya ke dalam mulut Jiyeon.

Ciuman Hoya makin menggila.
Jiyeon memberontak, mencoba mendorong tubuh Hoya. Sungguh ia butuh bernafas sekarang.

Menyadari Jiyeon yang kelelahan karena memberontak, Hoya pun melepaskan ciumannya. Menciptakan benang saliva antara lidah keduanya.

Jiyeon bernafas berat, pipinya sudah sangat memerah dengan nafas memburu.
Pengalaman pertamanya.

“Sa-saya akan mengembalikannya se-setelah membersihkannya!” Ucap Jiyeon tersengal dan langsung keluar turun kembali.

Hoya langsung mencari oksigen sebanyak-banyaknya. Wajah cool nya kini berubah menjadi kepanikan. Ia membutuhkan oksigen.
Bodoh!
Ia terlalu menikmati ciuman itu sehingga tidak menyadari bahwa ia sudah hampir mati karena kekurangan oksigen.

***

Jiyeon mengikuti mata kuliah dengan jantung yang terus meletup-letup. Ia menengok ke samping kanan dimana tas nya berada.

Disana! Didalam tas yang memang sengaja tidak ia tutup, ia melihat pakaian sang namja.
Ia tersenyum mengingat bahwa ia bisa kembali bertemu dengannya.
Namun wajahnya kembali memerah saat ia mengingat kejadian diatas gedung tadi.
Ia memejamkan mata menahan malu padahal mahasiswa lain tengah memperhatikan dosen yang tengah mengajar.
Lalu, ia malu terhadap siapa?

***

“Pabo! Kenapa bertelanjang dada digedung yang bukan tempat kau belajar? Sepertinya kau sengaja memamerkan tubuhmu itu dihadapan para mahasiswi jurusan kesenian itu!” Sungyeol, namja itu terlihat kesal dengan keributan yang telah di timbulkan oleh sepupunya itu.

“Kya, Lee Sungyeol! Coba rasakan!” Hoya langsung menarik tangan Sungyeol tepat di jantungnya yang hanya terlapisi oleh kulit putih bersihnya.

“Heboh, bukan!” Tambahnya.

“Ck, neo micheosseo!” Sungyeol langsung menarik tangannya namun langsung ditahan Hoya.

“Kau tau? Ini pertama kalinya. Benar-benar menakjubkan!” Hoya tersenyum semanis gula.

“Pabo!” Hanya itu komentar yang dapat Sungyeol lontarkan. Sungguh ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan Hoya.

“A-apa yang….SEDANG KALIAN LAKUKAN?” Teriak seorang dosen yeoja paruh baya. Tentu saja Sungyeol dengan paksa langsung menarik tangannya kembali.

“Bu-bukan seperti yang ibu pikirkan!” Jawab Sungyeol mencoba menjelaskan. Sudah pasti orang yang melihat keduanya akan berpikir yang bukan-bukan. Dua orang namja dengan salah satu dari mereka yang tengah bertelanjang dada, apalagi salah satunya tengah menyentuh tubuh telanjang itu.
Sudah pasti pikiran seperti apa yang ada di otak mereka yang melihatnya.

Sementara Sungyeol terus memberi penjelasan pada sang dosen, sedangkan Hoya terlihat santai dengan wajah tanpa dosanya.
.
.
.
.
.
Jiyeon, yeoja itu tersenyum sendiri saat melihat pakaian yang menggantung didalam kamarnya. Pakaian namja yang ia ketahui bernama Hoya.
Ia sudah mencuci dan merapihkannya, tentu ia lakukan dengan tangannya sendiri. Ia tidak berani menyuruh maidnya untuk melakukannya, pasti akan langsung ketahuan oleh Chanyeol bahwa pakaian itu adalah milik seorang namja. Bisa-bisa Chanyeol menceramahi dan membuat sang namja babak belur dan akhirnya membuatnya menjauh dari sang namja.

Pabo!
Kenapa ia berharap bisa lebih dekat lagi dengan namja itu?

~Tok-Tok-Tok~

Jiyeon langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu.

“NUGU?” Teriaknya.

“Naega!”

Jiyeon hapal dengan suara serak itu, tentu saja itu suara oppanya.

“GIDARYEO!” Teriaknya lagi.
Jiyeon langsung membawa pakaian Hoya ke dalam kamar mandi dan menggantungkannya di sana. Ia tidak ingin oppanya yang cerewet itu melihatnya.

“Lama sekali!” Sembur Chanyeol saat Jiyeon sudah membukakan pintu untuknya.

“Waegeurae?” Tanya Jiyeon malas.

“Errrr…..” Chanyeol mengacak rambut Jiyeon membuat yeoja itu kesal. Ya, jangan lupakan satu hal bahwa itu adalah hobinya membuat sang dongsaeng kesal.

“Appa pulang!” Lanjut Chanyeol.

“Jeongmalyo?” Jiyeon terlihat senang mendengarnya.

“Eum! turunlah!” Jawabnya.

Jiyeon langsung berlari menuruni tangga rumahnya menuju lantai bawah dimana sang Appa sudah menunggunya di ruang makan.

***

Sepeninggalan Jiyeon, Chanyeol langsung masuk ke dalam kamar Jiyeon.
Ya, ia merasa ada yang Jiyeon sembunyikan darinya. Tidak biasanya Jiyeon bertanya siapa yang mengetuk pintu kamarnya, ia juga lama membuka pintunya. Pasti ada sesuatu.

Chanyeol makin melangkahkan kakinya lebih dalam memasuki kamar Jiyeon.
Tak ada yang aneh.
Gerak-gerik Chanyeol terlihat seperti seorang detektif saja. Mengendap-endap bagaikan pencuri.
Ya, sepertinya lebih tepat di sebut pencuri dari pada detektif.

***

Jiyeon langsung memeluk Park Yoochun yang tak lain adalah sang Appa. Ia begitu merindukan sosok tersebut. Tentu saja. Sudah hampir setengah tahun ia tak bertemu dengannya. Hanya berkomunikasi melalui telephon saja. Itupun sangat jarang. Appanya benar-benar sangat sibuk mengurusi perusahaannya seorang diri.

“Appa, bhogosippo!” Rengek Jiyeon didalam pelukan sang Appa.

“Errrr, kau bertambah besar Jiyeon-Ah!”

“Tentu saja! Makanku sangat banyak, appa!”

“Eoh, jeongmalyo?”

“Eum. Para maid bahkan kewalahan dengan porsi makanku.”

“Hahaha…. Kau ini rakus sekali!”

“Ne, appa! Diakan Dinosaurus. Mangkanya sangat rakus!” Sembur Chanyeol yang ikut bergabung.

“Oppa!” Protes Jiyeon.

“Mwo?”

“Appa, oppa selalu menjahiliku. Ia senang melihat aku menderita!” Adu Jiyeon.

Yoochun hanya memandang Chanyeol.
Ah, dia rindu keluarganya.
Andai Tae Hee sang anae masih hidup, ia pasti juga akan sangat bahagia melihat anak-anaknya sudah tumbuh dewasa seperti sekarang.

“Dia terlalu manja padaku, appa!” Balas Chanyeol langsung duduk.

“Mwo?” Jiyeon tidak terima.

“Sudah-sudah! Mari kita makan! Sudah lama kita tidak makan bersama, bukan!” Yoochun berusaha menjadi penengah di antara kedua putra-putrinya itu.

“Eum!” Jiyeon pun langsung melepaskan pelukannya dan duduk si samping sang Appa.

Mereka makan dengan tenang. Sesekali Jiyeon bermanja-manjaan pada Appanya meminta untuk di suapi beberapa makanan yang sudah maid sediakan di atas meja. Chanyeol yang melihatnya hanya berdecak. Bukan kesal, namun bahagia. Ia senang melihat Jiyeon yang sehat. Jiyeon yang bahagia dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Ya, itu cukup.
Baginya, Jiyeon adalah cetakan wajah sang eomma karena memang keduanya benar-benar berwajah sama.
Saat ia merindukan sang eomma, ia hanya perlu melihat dongsaengnya itu, maka rasa rindunya dapat terobati dengan seketika.
Baginya, Jiyeon adalah anugerah yang diberikan Appa dan eomma untuknya.
Mempunyai dongsaeng yang cantik dan juga pintar, ini nilai plus yang ia berikan pada Jiyeon.
Meski Jiyeon memiliki tubuh yang lemah, itulah juga nilai plusnya. Itu membuat ia begitu menjaga dan melindungi Jiyeon. Ia sangat menyayangi dongsaengnya itu.

“Bukankah kau lulus tahun depan, Yeollie-Ah!” Ucap Yoochun memulai pembicaraan di tengah acara makan mereka.

“Ne, appa. Bulan februari!” Jawab Chanyeol.

“Kau akan mulai bekerja di mana? Apa mau Appa bantu masukkan ke rumah sakit terkenal di Tokyo?” Tawar Yoochun.

Jiyeon terlihat terkejut.
Tokyo?
Apa harus ke sana?
Itukan Jepang.
Kenapa tidak di Korea saja?
Di Seoul, mungkin.

“Tidak perlu. Aku akan mencoba di rumah sakit yang ada di Seoul saja, appa!” Jawab Chanyeol.

Jiyeon bernafas lega. Akhirnya ia dapat kembali tenang. Setidaknya Oppanya itu tidak akan pergi jauh darinya. Ia kan tidak punya teman selain oppanya.
Lagi-lagi salahkanlah Chanyeol atas hal itu.

“Lagipula, mana mau Jiyeon terpisah dariku. Ia akan mati jika tidak melihatku sehari, appa!” Tambah Chanyeol.

“Mwo? Percaya diri sekali kau, Park Chanyeol!” Bantah Jiyeon.

“Tentu saja. Kau patut bangga mempunyai oppa tampan sepertiku. Bahkan ketampananku melebihi Hyun Bin hyung!” Tambahnya.

“KYA! JANGAN MENYAMAKANNYA DENGAN AKTOR FAVOURITEKU!”

“Itu memang kenyataannya!”

“ANDWAE!”

“Kau harus menerima itu!”

“KYA!”

Yoochun hanya dapat tertawa melihat tingkah putera-puterinya itu. Sudah cukup begini. Ia tidak memerlukan anggota keluarga baru lain seperti seorang istri. Ia sudah sangat bahagia memiliki Chanyeol dan juga Jiyeon, buah cintanya dengan Kim Tae Hee, meski yeoja itu kini sudah meninggal dunia.
.
.
.
.
.
~BRUK~

Hoya melihat kedatangan Park Chanyeol di kelasnya, tentu saja di gedung jurusan bisnis management. Berbeda dengan Chanyeol yang mengambil jurusan kedokteran.

“Jangan dekati Jiyeon!” Sembur Chanyeol setelah melemparkan pakaian milik Hoya tepat di wajahnya.

“Eoh, Chanyeol-Ah! Kau disini!” Sembur Sungyeol yang baru saja memasuki kelas Hoya.

Bukan pemandangan aneh jika kedua namja tampan itu selalu berseteru padahal mereka berbeda fakultas. Itu sudah terjadi sejak mereka masih Senior High School.

“Jauhi dia! Aku tidak akan segan-segan menghajarmu jika kau berani mendekatinya!” Tambah Chanyeol yang tak menghiraukan sapaan Sungyeol dan langsung keluar dari dalam kelas Hoya.

Sungyeol terlihat bingung.
Ada apa lagi ini? Pikirnya.

“Kya! Ada apa lagi dengan kalian berdua?” Tanya Sungyeol.

Hoya langsung bangkit dan meninggalkan Sungyeol.

“KYA!” Teriak Sungyeol.

Hoya tak menghiraukannya. Ia meremas kuat pakaian yang ada di tangannya itu. Ya, pakaian yang dilemparkan oleh seorang Park Chanyeol dengan SANGAT tidak sopan.

Kakinya terus melangkah mengacuhkan tatapan kagum dari para yeoja yang melihatnya.
Ia memang tampan.
Salahkah ia memiliki wajah yang nyaris sempurna tanpa cacat sedikitpun?
Salahkan yeoja-yeoja itu yang menurutnya terlalu berlebihan ketika memandangnya.

Kakinya terus melangkah mencari sosok yeoja yang tengah ia cari di gedung jurusan kesenian.
Park Jiyeon.
Ya, yeoja itulah yang tengah ia cari saat ini.

Matanya mencari ke seluruh ruangan.
Mulai dari ruang musik, ruang akting, ruang tari, hingga ia menemukan yeoja itu berada di dalam ruang lukis. Ya, saat ini yeoja itu tengah mengikuti ruang lukis.
Semua mahasiswapun langsung menatap sosok Hoya yang dengan kasar membanting pintu kelasnya.

“APA YANG KAU LAKUKAN?” Teriak sang dosen yang tengah mengajar. Tentu ia merasa AMAT SANGAT terganggu dengan adanya Hoya yang berhasil membuat keributan dikelasnya.

Hoya terus berjalan mengabaikan sang dosen dan Jiyeon yang melihat namja itu berjalan ke arahnya hanya bergidik ngeri.

“Ikut aku!” Hoya langsung menarik paksa tangan Jiyeon membuat yeoja itu mau tak mau harus mengikutinya.

~BRAK~

Kini keduanya berada di sini. Dilantai paling atas gedung kesenian. Tempat dimana ciuman pertama mereka berdua terjadi.

“Wae-waegeurae?” Tanya Jiyeon dengan takutnya. Hoya benar-benar menyeramkan saat ini. Namja itu menghimpitnya diantara tubuhnya dan juga dinding.
Apa namja itu akan memakannya?
Oh tidak, ia bukanlah kanibal sang pemakan tubuh manusia, Park Jiyeon!

Bukannya menjawab, Hoya malah mengangkat pakaian yang ada di tangannya ke udara membuat Jiyeonpun dapat melihatnya.

“Ba-bagaimana bisa……”

“Ada hubungan apa kau dengan Chanyeol?” Tanya Hoya tajam.

Chanyeol?
Lagi-lagi oppanya lah dalang dibalik semuanya.
Jadi, semalam ia menyelinap masuk ke dalam kamarnya dan mengambil pakaian Hoya?
Keterlaluan!

“O-oppa….”

“Ck, kau bahkan memanggilnya oppa.
Jadi kau adalah kekasihnya?
Kau memanfaatkanku!” Tuduh Hoya.

“A-apa maksudmu?” Tanya Jiyeon tidak mengerti.

“Ck, kau mendekatiku atas perintahnya bukan? Membuat ia memiliki alasan untuk bermain denganku! Kalian benar-benar pasangan yang licik! Menjijikan!”
Hoya pun membanting pakaiannya itu. Ia benar-benar terbakar emosi.

“Ku pikir kau berbeda dari yeoja lainnya. Ternyata kau sama saja. Aku menyesal sudah sangat menilaimu dengan sangat baik!” Hoya pun berjalan pergi meninggalkan Jiyeon.

Jiyeon, sungguh ia tidak mengerti dengan apa yang Hoya katakan.
Sebenarnya apa yang Chanyeol katakan pada namja itu?
Bermain?
Apa maksudnya?

Jiyeonpun langsung mengambil pakaian yang Hoya banting dan berlari mengejar namja itu.

“TUNGGU!” Teriak Jiyeon dan langsung menarik baju belakang yang Hoya kenakan saat ini. Beruntung namja itu tak begitu jauh sehingga ia dapat mengejarnya.

“A-aku….Aku tidak mengerti dengan yang kau katakan. Park Chanyeol, dia…..dia adalah oppaku. Kami ber-berdua bersaudara. Tentang pakaian, a-aku tidak tau dia yang mengambilnya da-dari dalam kamarku. A-aku sungguh tidak mengerti kenapa kau begitu marah. Tapi tolong, ma-maafkan aku! Tolong, tolong jangan membenciku! Hiks…” Jiyeon, yeoja itu menangis. Entah mengapa ia merasa sangat sakit saat namja itu terlihat begitu marah padanya.

Hoya yang mendengarnya langsung membalikkan tubuhnya dan melihat Jiyeon menangis. Rasanya, ia tidak tega melihat yeoja yang sudah berhasil membuat jantungnya bergemuruh hebat itu menangis.
Pabo!
Bukankah ia sudah mendengar nama sang yeoja adalah Park Jiyeon saat Sungyeol memanggilnya.
Park Jiyeon, Park Chanyeol, kenapa ia tidak bisa mencerna marga kedua orang itu. Marga yang sama.
Pabo!
Ia terlalu terbakar cemburu.
Cemburu?
Benarkah?
Ya, ia merasa cemburu karena Chanyeol mengatakannya seolah ia tengah melindungi kekasihnya, bukan dongsaengnya.
Lalu, siapakah yang salah?
Baiklah, sepertinya Chanyeol kembali menjadi biang masalah di sini.

Hoya mendekat. Tangannya terulur menghapus air mata Jiyeon.

“Mian! Hiks…”Jiyeon terus terisak.

Hoya langsung menangkup wajah Jiyeon menggunakan kedua tangannya. Membuat yeoja itu menatapnya.
Hoya tersenyum pada Jiyeon. Senyum yang bahkan tidak pernah ia perlihatkan pada siapapun.

Jiyeon langsung berhenti menangis.
Namja di hadapannya ini seperti memiliki dua kepribadian. Ia benar-benar seperti iblis saat marah dan terlihat bagaikan malaikat saat ia tersenyum.
Bolehkah Jiyeon memiliki senyuman itu?
Senyuman yang begitu hangat dan menenangkan. Senyuman yang hanya di tunjukkan padanya.

“Park Jiyeon!”

“Ne?”

“Kurasa aku sudah gila!”

Jiyeon menautkan kedua alisnya, tanda bahwa yeoja itu tidak mengerti dengan apa yang di katakan sang namja.

“Park Jiyeon, jadilah kekasihku!”

Jiyeon melebarkan matanya.
Kekasih?
Bahkan mereka baru bertemu dua kali.
Apa ia mimpi?

“Ba-bagaimana bisa?”

“Karena aku mencintaimu!” Jawab Hoya tegas.

Jiyeon semakin di buat terkejut.
Benarkah?

“Apa kau tidak merasakannya saat pertama kali kita bertemu?”

Ya, Jiyeon merasakannya. Merasakan hal aneh yang tiba-tiba tumbuh di hatinya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya selama 18 tahun ini, ia merasakan hal itu.
Getaran luar biasa. Euporia yang begitu dahsyat.
Apakah ini pertama kalinya juga bagi Hoya?

“Ta-tapi, kita belum saling mengenal.”

“Aku Lee Howon. Kau boleh memanggilku Hoya. Mahasiswa fakultas bisnis management semester akhir. Dan kau adalah Park Jiyeon, dongsaeng dari Park Chanyeol, mahasiswi jurusan kesenian semester pertama. Apa itu cukup?”

Jiyeon hanya menelan salivanya. Ia bingung. Tentu ia juga memiliki perasaan yang sama. Namun, rasanya aneh mengingat mereka yang baru bertemu dua kali.

“Ci-cinta.”

“Mwo?”

“Ki-kita harus saling ja-jatuh cinta!”

“Apa ciuman kemarin belum cukup?”

Jiyeon membatu.
Ciuman itu?
Ya, bahkan ia tak menolak dan malah menikmatinya.

“Apa lagi?” Tanya Hoya semakin mendekatkan wajahnya membuat Jiyeon semakin di buat gugup olehnya.

“Ke-kencan!”

Hoya berbalik menautkan ke dua alisnya.

“Kencan?”

“Ne. Ki-kita harus melakukan kencan terlebih dahulu.” Jawab Jiyeon seraya menundukkan wajahnya malu.

“Jadi, kau mengajakku?”

Jiyeon semakin merona.
Namja ini bisa membuatnya mati karena menahan rasa panas di wajahnya.

“Bu-bukan begitu! Ma-maksudku…..”

“Kajja!” Potong Hoya.

“Mwo?” Jiyeon kembali menaikkan kepalanya.

“Kita kencan!” Jawab Hoya.

Jiyeon mengercapkan matanya.

1x

2x

3x

Apa ini nyata?

“Kau masih ada mata kuliah?” Tanya Hoya.

Jiyeon hanya menggelengkan kepalanya membuat Hoya tersenyum mendengarnya.

“Kalau begitu, kajja!” Hoya kembali menarik tangan Jiyeon.

“Ki-kita akan kemana?”

“Tentu saja berkencan!”

“Jigeum?”

“Ne. Kau menolak?”

“A-aniyo. Keundae, mau kemana kita?”

“Kemanapun!”
.
.
.
.
.
Lucu, bukan!
Hanya 2 hari bertemu, 2 kali bertemu dan kami sudah menjadi sepasang kekasih. Bahkan sudah berciuman dihari pertama kali kami bertemu.
Inilah cinta!
Bahkan 18 tahun hidup, baru pertama kali merasakan apa itu cinta.
Bulan desember, yang dulunya kupikir menjadi bulan berkabung karena dibulan itulah kami ditinggalkan eomma yang harus kembali pada sang pencipta.
Namun, ketakutan kini berubah menjadi kebahagiaan.
Dibulan Itu aku bertemu dengannya. Dengan Lee Howon. Mahasiswa fakultas bisnis management di Konkuk University yang biasa dipanggil Hoya oleh teman dekatnya. Tidak. Hanya Lee Sungyeol. Sepertinya ia hanya memiliki teman bernama Lee Sungyeol.
Dari mana aku tau namanya?
Seperti dugaanku, kami pernah bertemu sebelumnya.
Di mana?
Tentu saja dirumahku.
Saat itu aku bertemu dengan Sungyeol oppa dan Sungyeol oppa adalah sahabat Chanyeol oppa.
Tapi sepertinya itu dulu. Itupun saat aku masih Junior High School. Kurasa aku tak pernah melihatnya lagi di rumah.
Entah apa yang terjadi dengan keduanya.

Chanyeol oppa?
Aku lupa meminta ijin padanya tentang kencanku.
Bagaimana keadaannya, ya?
.
.
.
.
.
“Park Jiyeon, kemana bocah itu?” Geram Chanyeol kesal. Ia tak dapat menemukan dongsaengnya itu di universitas.
Ia bingung harus mencari yeoja itu kemana.
Yeoja itu tidak memiliki teman, jadi ia tak punya tujuan untuk menanyai orang lain tentang keberadaan dongsaengnya itu.

Tiba-tiba terlintas dipikirannya tentang Hoya.

“Tidak mungkin!” Chanyeol mencoba membuang pikirannya.

“Tapi harus ku coba!” Akhirnya Chanyeol menyerah. Ia pun memutuskan untuk bertanya pada Sungyeol. Beruntung ia masih memiliki nomor handphone sahabatnya itu.

“Eoh, Chanyeol-Ah! Waegeurae?” Tanya Sungyeol dari seberang sana.

“Kau tau dimana Hoya?” Tanyanya langsung.

“Hoya? Aku tidak melihatnya lagi setelah kau pergi. Ia langsung keluar dari dalam kelasnya. Waegeurae? Apa kalian bertengkar lagi?”

“Gomawo!”
Chanyeol langsung memutuskan sambungan telephonnya mengabaikan kembali Sungyeol yang bertanya padanya.
Sabar ne Lee Sungyeol!

Dugaanya semakin kuat.
Jiyeon pasti bersama Hoya sekarang.
Hoya brengsek! Geram Park Chanyeol.
.
.
.
.
.
Bagaimana dengan FF ke 18 ini?
Butuh kritik dan sarannya!
Yang baik hati boleh lemparkan koin buat author hahha atau sempak Lee Howon!
Dengan senang hati bakalan author terima!
#Abaikan
Coment Jusaeyo

FF MyungYeon (Myungsoo Jiyeon) Part 6 – Ending

image

               MAKING LOVE
                   part 6 (END)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)

Other Cast :
Bae Suzy (Miss A)
Kahi aka Park Jinyoung (After School)
Choi Minho (SHINee)
Bae soo bin
Luna (Fx)
Kim Hee Chul (Supee Junior)
Park Yoochun ( JYJ )
Cho Kyuhyun (Super Junior)
Jung Yunho ( TVXQ )
Wu Yi Fan aka Kris ( EXO )

Songfict :
Kevin U-Kiss Remember

Genre :
Fantasy, Bromance, School life, Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N : Part Ending hadir.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
“Neo!” Ucap Myungsoo yang baru tiba didepan gedung dilaksanakannya pesta.

Kahi hanya tersenyum miring melihat kedatangan anak tirinya itu.
Polisi kemudian kembali menyeretnya.

“I…..Ige mwoya?” Tanya Suzy bingung yang datang bersama Myungsoo.

“A….Appa!” Ucapnya terkejut saat melihat sang appa diseret oleh beberapa polisi keluar dari dalam gedung.

“Chagi!”

“Appa! Ada apa ini?”

“Gwaenchana. Ini hanya sebuah kesalahpahaman. Kau tidak perlu khawatir!”

“Appa! Hiks…” Suzy tak kuasa menahan tangisnya saat sang appa dibawa masuk kedalam mobil polisi.

“Aigoo, inikah puteri pembunuh itu? Ck, benar-benar menjijikan keluarga Bae itu!” Ucap salah seorang tamu yang melewati Suzy.

Tak lama satu-persatu para tamu yang hadirpun mulai keluar gedung dan meninggalkan pesta.

“Tuan muda!” Panggil Yunho yang keluar dari dalam gedung dan melihat kedatangan Myungsoo.

“Ahjussi, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Myungsoo yang memang sudah mengenal baik sosok Yunho.

“Kajja! Kita masuk kedalam, tuan muda! Aku akan menceritakan semuanya pada anda!” Ajak Yunho.

“Naega eotteokhae?” Tanya Suzy.

“Pulanglah, nona! Tempat ini tidak aman untuk anda!”

“MWO?”

“Kajja, tuan muda!” Ajak Yunho dan Myungsoopun mengikuti langkah Yunho dan meninggalkan Suzy seorang diri didepan gedung.

“Ada apa ini sebenarnya?” Gumam Suzy.

“Aigoo, kau lihat wajahnya? Benar-benar mirip dengan pembunuh itu!” Gumam salah seorang yang melewati Suzy dan berhasil membuat Suzy kesal.

“MWORAGO? KYA!” Bentaknya.

“Benar-benar sama mengerikannya!” Tambah orang itu seraya pergi meninggalkan Suzy yang terlihat begitu amat kesal tentang apa yang tidak ia ketahui.

Sementara itu, Myungsoo yang dibawa kesebuah ruangan melebarkan matanya saat Yunho tiba-tiba bersimpuh tepat dihadapannya.

“A….Ahjussi, waegeurae?”

“Tuan muda, joeseonghamnida! Mianhae! Jeongmal mianata! Hiksn…” Tangis Yunho pecah.

“Wae…..Waeirae?” Tanya Myungsoo bingung.

“Nyonya…….Nyonyalah yang melakukan hal itu. Kecelakaan 2 tahun silam yang menyebabkan tuan muda Chanyeol meninggal dunia.”

Tubuh Myungsoo ambruk. Tubuhnya benar-benar terasa lemas.
Kenyataan apa lagi ini?
Kahi, jadi dialah pelaku penabrakan itu?
Jadi dia yang ingin membunuh Myungsoo namun gagal karena Chanyeol yang harus menjadi korban karena telah menyelamatkannya?

“A…..Ahjussi….. A…..Apa kau sedang bercanda? Katakan kalau ini semua hanyalah lelucon semata!” Air mata Myungsoo lolos begitu saja.

“Mianhae, tuan muda! Hiks…” Isak Yunho.

Myungsoo, hatinya terasa perih. Lagi-lagi kenyataan ini membuat hatinya merasa sakit. Namun ada yang mengganggu pikirannya. Yunho ahjussi. Kenapa ia sampai seperti itu? Kenapa ia harus berlutut dan ikut menangis?
Apa dia juga terlibat?

“Tuan muda! Jiyeon agassih, Sebenarnya ia telah meninggal dunia.”

“M….Mworago?”

“Saya……Saya diperintahkan nyonya untuk menghabisinya. Karena dengan melukai Jiyeon agasshi,tuan mudalah yang akan terkena imbasnya mengingat penyakit tuan muda 2 tahun terakhir ini selalu berkaitan dengan Jiyeon agasshi. Itu yang baru saja saya ketahui beberapa hari ini.”

Myungsoo mengepalkan tangannya menahan amarah. Jadi seperti inikah sosok Kahi yang sebenarnya?
Benar-benar keterlaluan.

“Jiyeon agasshi tidak kembali ke Daegu. Malam dimana tuan muda dirawat dirumah sakit, saya telah menembaknya. Menembaknya dengan tangan saya sendiri. Mian. Mianhae! Hiks…” Yunho terus terisak.

Meski Myungsoo marah dan juga kesal, namun ada keganjilan disana.
Jiyeon, bukankah ia masih hidup?
Bahkan Myungsoo sudah bertemu kembali dengan yeoja itu. Kalau memang Jiyeon sudah meninggal, lalu siapa yang datang kesekolah beberapa hari ini?

“Pergilah!”

“Ne?”

“Pergi dan serahkan dirimu pada polisi!” Perintah Myungsoo seraya bangkit.

“Tuan muda!”

“Aku tidak ingin melihatmu lagi!” Tambahnya lalu keluar dari dalam ruangan dan menyisakan Yunho yang terus terisak dengan penyesalannya.
.
.
.
.
.
Kahi, ia terus termangu didalam sel.

~FLASHBACK ON~

“kya! Apa yang kau lakukan, eoh?” Tanya yeoja paruh baya.

“Kya Park Jinyoung, aku akan meratakan semua bangunan yang ada disini. Aku akan membangun sebuah perusahaan besar disini.”

“Neo micheosseo! Sadarlah Kim Hee Chul, ini tempatmu tinggal semenjak kau kecil. Bagaimana bisa kau menghancurkan panti asuhan ini?”

“Park Jinyoung, aku kini sudah menjadi namja yang sukses. Aku membutuhkan lahan ini. Tempat ini begitu strategis. Ini akan menjadi pusat dikota Seoul.”

“Kau benar-benar keterlaluan! Tak sadarkah kalau kau dulu berasal dari tempat ini, eoh?”

“Jaga bicaramu, Park Jinyoung. Aku sudah membayar ini semua. Kau dan anak-anak panti yang lain bisa pergi kemanapun yang kalian inginkan.”

“Neo nappeun saram, Kim Hee Chul. Kelak perusahaanmu akan menghancurkan seluruh keluargamu!”

“Omo omo omo, apa kau sedang menyumpahiku? Aigoo, aku benar-benar takut. Hahaha….” Ejek Heechul.

~FLASHBACK OFF~

“Sudah berakhirkah? Sampai detik ini, sudah berakhirkah?” Gumam Kahi.
Wajahnya terlihat sangat mirip dengan sosok Park Jinyoung.
.
.
.
.
.
“Hyung?” Tanya Kyuhyun.

“Ne. Kahi, ia adalah puteri kandung dari Park Jinyoung.” Jawab Yoochun.

“Aigoo, aku bahkan tidak mengetahuinya.”

“Kim Hee Chul, ialah appa dari Kahi.”

“MWO?” Tanya Kyuhyun terkejut.

“Kahi terlalu membenci appanya. Hingga ia rela menikah dengan saudara kandungnya sendiri yakni Kim Jae Joong.”

Kyuhyun begitu terkejut mendengar kenyataan itu.

“Sebelum Heechul meninggalkan panti asuhan, ia telah menjalin hubungan dengan Jinyoung. Keduanya sama-sama besar dipanti asuhan karena dibuang oleh kedua orangtua mereka. Namun Heechul, pemuda itu meraih kesuksesan diusia mudanya dan menjadi sosok namja yang serakah. Apapun yang menjadi keinginanya, harus ia dapatkan tak terkecuali dengan lahan panti asuhan yang ia rasa sangat cocok untuk membangun sebuah gedung perusahaan.”

“Jadi, apa maksudmu Jinyoung tengah hamil muda saat Heechul meninggalkannya?”

“Eum. Sejak itulah Kahi tumbuh menjadi yeoja menyeramkan yang ambisius.”

“Lalu bagaimana kau bisa menikah dengannya, hyung?”

“Menurutmu, kalau aku tidak menikah dengannya, apakah akan ada yang melindungi Myungsoo?”

“Apa maksudmu pernikahanmu dan Kahi memang sengaja kau lakukan?”

Yoochun hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Kyuhyun.

“Hyung, aku benar-benar tidak mengerti. Jadi baik Myungsoo, Jiyeon, Chanyeol maupun Wu Yi Fan, mereka terlahir dari keluarga yang sama, keluarga Kim, benar bukan?”

Yoochun terkekeh melihat Kyuhyun yang mulai prustasi.

“Bukankah sudah kukatakan sejak awal, aku hanya ingin menunjukkan bahwa bukan takdir yang menentukan kita, melainkan kita sendirilah yang menentukan akan seperti apa takdir kita kelak.”

Kyuhyun hanya tersenyum seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
.
.
.
.
.
Myungsoo, namja itu melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Jiyeon dirawat. Beberapa jam lalu Minho menghubunginya dan memberitahukan bahwa Jiyeon tengah berada dirumah sakit dalam keadaan koma.

“Kim Myungsoo!” Ucap Minho yang melihat kedatangan Myungsoo.

“Dimana Jiyeon?”

“Dia ada didalam.” Jawab Minho yang tengah berada diluar ruangan dimana Jiyeon dirawat bersama dengan Luna.

Myungsoo langsung memasuki ruangan yang dimaksud.
Minho lalu menoleh kearah Luna yang terlihat tengah berfikir.

“Myungsoo sudah datang. Apa lagi yang kau fikirkan, eoh?” Tanya Minho.

“Park Jiyeon, apa sunbae tidak merasa kalau ini semua begitu aneh?”

“Mwo?”

“Park Jiyeon, bagaimana bisa dia berada dirumah sakit sejak seminggu yang lalu, sedangkan selama beberapa hari ini dia selalu menampakkan diri disekolah.”

“Eoh, kau benar. Bukankah perawat disini mengatakan Jiyeon ditemukan bersama namja China dengan luka tembak dibagian dadanya. Kejadian itu seminggu yang lalu. Lalu, kalau Jiyeon dirawat disini selama satu minggu, siapa yang ada disekolah beberapa hari ini? Omo, apa jangan-jangan……”

“Berhenti mengatakan hal yang tidak masuk akal!”

“Lalu, bagian mana yang masuk akal menurutmu? Apa mungkin ada 2 Jiyeon, eoh?”

Luna tak menjawab. Ia terus memikirkan hal itu.
Tak lama datanglah seorang namja paruh baya berpakaian dokter didampingi seorang suster.

“A….Ada apa, dok?” Tanya Minho yang melihat dokter begitu tergesa-gesa.

“Pasien nomor 203 telah siuman.” Jawab sang dokter.

“Permisi!” Lanjutnya.

Pasien nomor 203, tepat berada didepan ruangan dimana Jiyeon dirawat.

“Bukankah itu kamar namja China yang ditemukan bersama Jiyeon?” Tunjuk Minho pada ruangan yang telah dimasuki sang dokter beserta susternya.

“Sepertinya dia sudah terbangun dari tidur panjangnya. Geundae, bagaimana dengan Jiyeon?”

“Nan molla”

Tak lama, dokterpun kembali keluar bersama 2 suster. Suster yang baru terlihat itu ternyata yang menjaga namja China.

“Bagaimana keadaannya, dok?” Tanya Minho.

“Dia sudah sadar. Syukurlah kalian datang. Kupikir pasien ini tidak memiliki kerabat!” Jawab sang dokter.

“Apa kami boleh menemuinya?” Tanya Luna.

“Tentu saja! Masuklah!” Jawab sang dokter.

“Geundae dok, bagaimana dengan Jiyeon? Pasien yang ditemukan bersama dengan namja China itu?” Tambah Luna.

“Kami tidak dapat memastikannya. Selain luka tembak didadanya, ia juga sepertinya terkena benturan yang cukup keras. Dapat kami simpulkan bahwa keduanya adalah korban tabrak lari. Namun sepertinya sang yeoja yang sudah terlebih dahulu terkena luka tembak sebelum terjadinya kecelakaan. Kami tidak dapat memastikan kapan ia akan siuman. Kalian berdo’a saja agar ia bisa cepat sadar seperti namja China itu.” Ucap sang dokter.

“Park Jiyeon, sebenarnya siapa yang tega melakukan hal itu padamu?” Gumam Luna.

“Baiklah! Saya harus kembali! Pastikan keluarganya diberitahukan! Saya permisi dulu!” Pamit sang dokter pada Luna dan juga Minho.
Sang dokterpun pergi bersama kedua susternya.

Sementara itu, Myungsoo hanya memandangi sosok yeoja yang tengah terbaring dihadapannya saat ini.
Yeoja itu masih setia memejamkan matanya.

Myungsoo, ia tak mengeluarkan sepatah katapun, seolah hanya dengan menggunakan matanya ia berbicara dengan yeoja itu.

Luna dan Minho, mereka menunduk saat Wu Yi Fan melihat kedatangan keduanya.

“Annyeong!” Sapa Minho seraya mendekat kearah Wu Yi Fan yang masih terbaring diatas ranjangnya.

“Apa menurutmu dia mengerti bahasa kita, sunbae?” Bisik Luna.

“Eoh, kau benar. Apa kau bisa menggunakan bahasa China?”

“Ani.”

Wu Yi Fan, ia tersenyum melihat kedatangan keduanya.

“Saya mengerti dengan apa yang kalian ucapkan!”

“Eoh?”

“Jadi kau bisa menggunakan bahasa Korea?” Tanya Luna.

“Ne.” Jawab Wu Yi Fan masih setia dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

“Park Jiyeon, dimana dia?” Tanya Wu Yi Fan.

“Ne?”

“Kau mengenal Jiyeon?” Tanya Luna.

“Apa dia baik-baik saja?” Tambah Wu Yi Fan.

Luna dan Minho hanya saling
melempar pandang.

~FLASHBACK ON~

“Niga mwonde?” Tanya Wu Yi Fan pada sosok namja yang terlihat sama tinggi dengannya.

“Dimana ini?” Tambahnya terlihat bingung.

“Wow, kau benar-benar tampan!” Ucap kagum namja itu membuat Wu Yi Fan terlihat aneh melihatnya.

~PLAK~

“KYA!” Teriaknya saat seseorang memukul lengannya.

“Kenapa kau menggodanya, eoh?”

“Ani. Aku sama sekali tidak menggodanya. Dia memang terlihat tampan.” Jawabnya pada sosok namja tinggi yang datang bersamanya itu.

Namja itupun kemudian melemparkan senyumnya kearah Wu Yi Fan.

“Kau namja baik.” Ucapnya.

“Ne?”

“Perkenalkan, aku adalah Park Yoochun. Dan namja yang begitu memujamu ini adalah Cho Kyuhyun.” Ucap namja yang ternyata Yoochun itu memperkenalkan diri.

“Annyeong!” Sapa Kyuhyun.

Wu Yi Fan hanya tersenyum seraya menundukkan kepalanya memberi hormat.

“Kalian ini siapa? Apa saya mengenal kalian? Dan dimana ini?”

“Aigoo, kau bertanya lebih dari satu Wu Yi Fan-ssi!” Gerutu Kyuhyun yang hanya ditanggapi kekehan kecil oleh Yoochun.

“Kau ingat apa yang terjadi padamu terakhir kali?” Tanya Yoochun.

“Ne. Saya berada dijalanan dan tengah membantu seorang yeoja yang terluka dan setelah itu…..” Wu Yi Fan melebarkan matanya dan tak melanjutkan lagi ucapannya.
Ia kecelakaan.
Tubuhnya ditabrak oleh sebuah mobil.
Ia ingat itu semua.

“Yeoja itu, dia adalah Park Jiyeon. Terimakasih karena sudah membantunya.” Ucap Yoochun.

“Kau bertanya kami ini siapa, kamipun tidak mengerti kami ini siapa. Kami hanyalah dua makhluk yang tengah berusaha merubah takdir seseorang. Dan tentang apakah kau mengenal kami, lamipun tidak tau apakah sebelumnya kita sudah saling bertemu. Dan untuk pertanyaan dimana, kau ada dialam bawah sadarmu. Kami yang mencoba masuk kesini.”

Wu Yi Fan terlihat bingung. Ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Yoochun.

“Sulit sekali memasuki alam bawah sadarmu ini!
Kau tau, kurasa kau ini namja yang terlalu suci dan belum pernah tersentuh yeoja manapun.” Ejek Khuhyun.

Wu Yi Fan hanya menelan salivanya seraya mengerjapkan matanya. Ia memang belum pernah berkencan dengan yeoja manapun sebelumnya. Ia adalah sosok namja pemalu yang selalu berdiri dibelakang Rainie Yang sang eomma.

“Wu Yi Fan, bisakah kau membantunya?” Tanya Yoochun.

“Nugu?”

“Park Jiyeon. Kau akan membantunya untuk hidup kembali. Bukan menjadi sosok Wu Yi Fan yang sebenarnya, melainkan sosok Wu Yi Fan yang berbanding terbalik dengan kehidupan nyata! Setelah itu, kau akan tau kenapa kau harus membantu Jiyeon.”

~FLASHBACK OFF~

Wu Yi Fan, ia mengingat pertemuannya dengan Yoochun dan juga Kyuhyun. Begitu pula pertemuannya dengan Jiyeon setelah itu. Ia kini tau semuanya. Tau kenapa ia bisa terlibat dengan Jiyeon begitu pula dengan Myungsoo. Ini memang tidak masuk akal dan bisa saja ia dianggap gila bila menceritakan hal itu pada orang lain, namun ini nyata dan benar ia alami sendiri.

“Bisakah kalian membantuku menemui Jiyeon?” Tanya Wu Yi Fan.

Sementara itu, Kim Myungsoo, air matanya perlahan-lahan mulai turun. Pertahanannya kini runtuh begitu saja. Yeoja yang selama 2 tahun ini ia sia-siakan tengah terkapar tak berdaya dihadapannya.
Seperti inikah perasaan Jiyeon saat dirinya dirawat di rumah sakit?
Sedangkan ia hanya terus menerus menyalahkan yeoja itu.

“Park Jiyeon.” Lirihnya. Airmatanya sukses turun membasahi pipinya. Ia kini mulai terisak.

“Jiyeon-ah!” Paraunya.

“Ireona.” Ucapnya menangis diatas lengan Jiyeon.
.
.
.
.
.
“MENJAUH DARI RUMAHKU! APA YANG KALIAN LAKUKAN DENGAN BARANG-BARANGKU!” Teriak Suzy saat beberapa petugas mulai mengangkat satu-persatu barang-barang dari dalam rumahnya.

“KYA!”

“Dasar anak pembunuh. Kau ini berisik sekali! Kau tau, harta yang kau pakai selama ini adalah milik perusahaan Kim dan dengan kejamnya appamu  menghilangkan nyawa putra sang pemilik perusahaan. Kalian tidak pantas memiliki semua ini.” Jawab salah seorang karyawan perusahaan yang ikut membantu menaikkan barang-barang ke atas sebuah truk.

“KYA! MWORAGO? HENTIKAN! CEPAT LETAKKAN KEMBALI!” Teriak Suzy seraya menghalangi para pekerja.

“Awas!” Dorong salah seorang petugas yang dihalangi langkahnya oleh Suzy.

~BRUK~

Suzy terjatuh disebuah aspal yang ada didepan rumahnya. Tangannya terluka dan mengeluarkan darah. Tak lama iapun ambruk dan tak sadarkan diri.

“Dasar yeoja manja! Hanya terjatuh begitu saja ia pingsan.” Gumam pekerja yang melihat Suzy namun tak ada satupun yang berniat untuk membantunya.
.
.
.
.
.
“Apa kau yang melakukannya?” Tanya Yoochun.

“Mwo?”

“Kau mentransfer penyakit Myungsoo padanya?”

Kyuhyun hanya memalingkan wajahnya.

“Ne. Memangnya kenapa? Bukankah dia menginginkan Myungsoo, dia juga tentu tidak keberatan dengan penyakit itu!”

Yoochun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kyuhyun.

“Setelah ini kita akan bongkar kehidupanmu selama didunia! Bagaimana kau hidup dan bagaimana kau bisa sampai disini.”

“MWO?”

“Wae?”

“ANDWAE!”

“Aigoo, pasti kau sosok yang buruk saat kau hidup.”

“Ani.”

“Mengaku saja!”

“Aissh….”

Yoochun tertawa melihat Kyuhyun yang begitu terlihat kesal.
.
.
.
.
.
“Ji…..Jiyeon-ah!” Ucap Myungsoo panik saat melihat ECG didalam ruangan dimana Jiyeon dirawat berbunyi dan menunjukkan gelombang yang datar.

“Jiyeon-ah!” Myungsoo amat panik dan berusaha membangunkan Jiyeon dengan mengguncangkan tubuh yeoja itu berkali-kali.

“Waegeurae?” Tanya Luna yang langsung berhambur menghampiri Myungsoo.
Luna melebarkan matanya saat melihat monitor begitu pula dengan Minho yang datang bersama Luna dan juga Wu Yi Fan.

“Aku akan memanggil dokter!” Ucap Minho seraya berlari dari ruangan itu.

Wu Yi Fan yang masih terlihat lemah mulai berjalan perlahan mendekat. Ia melihat sosok Jiyeon. Wajahnya terlihat begitu pucat. Bibirnya bahkan membiru.
Mungkinkah ini adalah terakhir kalinya ia melihat yeoja itu?

“Jiyeon-ah!”

Luna langsung menyeret Myungsoo untuk keluar ruangan saat Minho membawa seorang dokter beserta susternya.

Wu Yi Fan, Kim Myungsoo, Luna dan juga Minho kini tengah menanti kabar dari sang dokter. Keempatnya tengah menunggu tepat didepan ruang rawat Jiyeon.

Wu Yi Fan, ia memandang sosok Myungsoo. Ia tersenyum memandang sosok yang begitu terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan yeoja yang ada didalam sana.

“Hyung!” Gumamnya.

Luna yang mendengarnya langsung menoleh ke arah Wu Yi Fan.

“Wu Yi Fan itu aneh sekali!” Pikirnya.

“Bagaimana keadaan Jiyeon, dok?” Tanya Myungsoo yang langsung berhambur menghampiri dokter yang keluar dari ruangan dimana Jiyeon dirawat.

Sang dokter hanya menunduk sedih seraya menggelengkan kepalanya.
.
.
.
.
.
“Hyung, kenapa endingnya seperti ini?” Tanya Kyuhyun terlihat sedih.

“Apa pelajaran yang kau dapat dari semua ini?” Ucap Yoochun balik bertanya.

“Myungsoo, namja itu harus lebih menghargai orang lain begitu pula dengan Suzy. Dan Kahi, dendam hanya akan menyiksa dirinya sendiri seperti kita yang membawa sebuah kotoran, kemanapun kita pergi, kotoran itu akan selalu menempel jika kita tidak mau membuangnya. Alhasil, kita hanya dapat mencium baunya setiap saat.”

“Kya! Kenapa kau menyamakannya dengan kotoran? Menjijikan sekali!” Protes Yoochun.

Kyuhyun hanya mempoutkan bibirnya.

“Dan Bae Soo Bin, keserakahan hanya akan menyengsarakan dirinya sendiri. Bukan hanya ia, namun keluarganyapun terkena imbasnya.” Kyuhyun kemudian menghembuskan nafasnya.

“Kita juga harus berhati-hati memilih teman. Jangan mudah percaya pada siapapun dan hargai dirimu sendiri. Benar, bukan?” Lanjutnya.

“Ck, kau mulai pintar Cho Kyuhyun!” Ejek Yoochun.

“Aigoo, dari dulu aku ini memang namja yang smart hyung!”

“Aissh….”

“Eoh, lalu bagaimana dengan Minho dan juga Luna hyung?” Kyuhyun bertanya.

“Menurutmu?”

“Kurasa mereka cocok menjadi detectif couple.”

Yoochun hanya tersenyum menanggapinya.
.
.
.
.
.
Myungsoo, kini ia tengah berada didepan makam Jiyeon bersama dengan Wu Yi Fan.

“Kau merindukannya, hyung?” Tanya Wu Yi Fan.

“Eum.”

Wu Yi Fan tersenyum menanggapi jawaban Myungsoo. Setidaknya ia pernah mengenal Jiyeon bahkan bertemu dengan yeoja itu sebelum ia meninggalkan semuanya.

“Dia pasti sangat senang dapat bertemu dengan Chanyeol hyung!”

“Chanyeol hyung?”

“Dia adalah oppa Jiyeon.”

Wu Yi Fan hanya menganggukkan kepalanya.

“Kya! Berhenti memanggilku hyung! Aku bahkan lebih muda darimu!” Tambah Myungsoo kesal.

“Kau itu putera dari Ahjussi ku yang tak lain adalah putera dari hyung appaku. Tentu aku harus memanggilmu hyung!”

“Shirreo! Walau bagaimanapun juga, usiaku lebih muda darimu. Aku tidak mau dipanggil hyung. Itu terkesan aku lebih tua darimu.”

Wu Yi Fan hanya tertawa menanggapi sikap konyol Myungsoo. Setidaknya mereka berdua kini lebih akrab dari sebelumnya.

“Gomawo, Park Jiyeon!” Batinnya.

“Eoh, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Tanya Myungsoo.

“Aku akan kembali ke China. Bagaimana denganmu?”

“Menurutmu? Aku bahkan tidak mempunyai seorangpun keluarga.”

“Ikutlah bersamaku ke China!” Ajak Wu Yi fan.

Myungsoo hanya tersenyum menanggapinya.

“Aku akan tetap disini. Aku akan tetap diKorea. Meski banyak kejadian yang begitu buruk, namun disinilah aku bertemu dengannya. Bertemu dengan cinta pertamaku. Di sini. Di Korea. Aku akan memperbaiki semuanya.” Jawab Myungsoo mantap.

“Baiklah. Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu. Ingat! Kau masih mempunyai keluarga! Aku dan juga eomma. Kami akan selalu menunggu kedatanganmu ke China.”

Keduanya tersenyum bahagia.
.
.
.
.
.
“Apa yang akan kau lakukan setelah lulus, sunbae?” Tanya Luna pada Minho.

“Tentu akan melanjutkan studyku. Aku akan pergi ke Amerika.”

“MWO?”

“Wae? Apa kau takut akan merindukanku, eoh?” Goda Minho.

“Aigoo… Kau terlalu percaya diri, sunbae!”

Minho hanya tersenyum jahil melihat ekspresi Luna. Ia kemudian melanjutkan kembali memakan jajangmyunnya. Keduanya saat ini tengah berada disebuah kedai tak jauh dari sekolah mereka.

“Ji….Jiyeon?”

“MWO?”

“Park Jiyeon!”

Minho langsung tersendak saat Luna mengatakan nama itu.

“A….Apa yang kau katakan?”

“Kajja sunbae, kita harus mengejarnya!” Tarik Luna saat melihat sosok Jiyeon.

“Mana ada orang yang sudah meninggal hidup lagi? Apa mungkin ada Jiyeon lagi? Setelah 2 Jiyeon, sekarang 3 Jiyeon? Aku bisa gila karena Jiyeon!” Ucap Minho prustasi.

“Apa jangan-jangan kau hanya membohongiku agar aku tidak jadi pergi ke Amerika, eoh?” Tambahnya.

~PLETAK~

“KYA!” Teriak Minho saat tangan Luna berhasil memukul kepalanya.

“Jangan berfikir yang macam-macam!”

“Apa jangan-jangan kau menyukaiku, eoh?”

Luna tak menjawab. Ia lalu melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Minho.

“KYA! KAU MENYUKAIKU, BUKAN!” Teriak Minho.

“Aissh, aku bahkan belum membayar makanan yang kumakan tadi!” Gumamnya.
.
.
.
.
.
Akhirnya Ending juga MAKING LOVE nya.
Boleh kasih kritik dan sarannya tentang FF Making Love ini!
Coment Jusaeyo!

FF MyungYeon (Myungsoo Jiyeon) Part 5

image

                 MAKING LOVE
                            (part 5)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)

Other Cast :
Bae Suzy (Miss A)
Kahi (After School)
Choi Minho (SHINee)
Bae soo bin
Luna (Fx)
Park Chanyeol ( EXO )
Park Yoochun ( JYJ )
Cho Kyunhyun (Super Junior)
Jung Yunho ( TVXQ )
Wu Yi Fan aka Kris ( EXO )

Songfict :
Taeyang I’am

Genre :
Fantasy, Bromance, School life, Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N :
Part 5 hadir. Pernah author publish di tanggal 6 Juli 2014 silam.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Namja tinggi itu memandang raga yang sudah tidak menyatu dengan jiwanya. Ia memandang tubuhnya sendiri yang tengah terkapar diatas sebuah ranjang rumah sakit. Ia memandang jiwanya yang membias. Memandang kedua tangannya.

“Apakah aku sudah mati?” Tanyanya.

“Park Chanyeol!”

Namja tinggi bernama Park Chanyeol itu langsung menoleh saat ia mendengar suara yang begitu tak asing  telinganya.

“A…..Appa!” Ucapnya saat memandang sosok namja yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat tersebut.

Park Yoochun, itulah sosok namja yang tengah tersenyum manis padanya.
Chanyeol langsung berhambur kedalam pelukan sang appa.

“Appa, benarkah ini kau?”

Yoochun hanya tersenyum seraya membalas pelukan puteranya itu.

“Appa, nan bhogosippo! Hiks…” Lirih Chanyeol yang menangis didalam dekapan hangat sang appa.

“Geogjeonghaji masaeyo!” Ucap Yoochun menepuk pelan punggung Chanyeol.

“Appa, apakah ini berarti aku sudah meninggal hingga dapat melihatmu?” Tanya Chanyeol saat melepaskan dekapannya.

“Kau anak yang baik! Kau sudah melakukan hal yang benar, nak!” Jawab Yoochun.

“Myungsoo, bagaimana dengannya appa? Namja itu sudah cukup menderita dengan penyakitnya selama ini. Ia tidak boleh meninggal begitu saja. Dan eomma…..”

“Semuanya akan baik-baik saja! Namja itu akan selamat. Kau tenang saja!” Potong Yoochun lembut.

“Appa, kenapa eomma tega melakukan hal itu?” Lirih Chanyeol.

“Semua salah appa. Appa akan berusaha untuk menghentikannya.” Balas Yoochun meyakinkan.

“Bagaimana dengan Jiyeon? Kini hanya dia yang tersisa!” Chanyeol nampak terlihat cemas.

“Jiyeon yang akan menjaga Myungsoo untuk menggantikanmu. Dia yang akan menyelamatkan Myungsoo. Pergilah, nak!”

“Kau tak mau ikut bersamaku, appa?”

Yoochun tersenyum menanggapi pertanyaan puteranya itu.

“Tuhan menghukumku karena aku tidak dapat menjaga keluargaku dengan baik. Tuhan tidak mengijinkanku untuk memasuki surganya sebelum tugasku berhasil kulakukan.” Jawabnya.

Chanyeol hanya memandang namja berpakaian serba putih itu. Namja yang selama bertahun-tahun tidak bertemu dengannya. Namja yang menjadi appanya.

“Appa berjanji akan menyelamatkan Myungsoo. Jiyeon akan appa jadikan sebagai perantara. Pergilah! Kau harus tenang didalam sana! Dan tunggulah appa serta Jiyeon!”

Chanyeol langsung memeluk kembali tubuh appanya itu.

“Aku akan menunggu kalian! Cepatlah datang!” Jawab Chanyeol.
.
.
.
.
.
“Apa yang kau fikirkan, hyung?” Tanya Kyuhyun pada Yoochun.

Yoochun, nampaknya namja itu tengah mengingat pertemuannya dengan Chanyeol sang putera 2 tahun silam.

“Animida. Aku tidak memikirkan apapun. Aku hanya merindukannya!” Jawab Yoochun jujur.

“Apakah Park Chanyeol? Namja yang menjadi puteramu saat kau masih menjadi manusia?” Tebak Kyuhyun tepat sasaran.

“Kurasa kemampuanmu semakin hebat, Cho Kyuhyun-ssi!” Goda Yoochun karena Kyuhyun berhasil menebak pikirannya dengan benar.

“Hahaha….. tentu saja. Kau iri padanya karena ia langsung masuk kedalam surga, bukan?” Ejek Kyuhyun.

“Ck, kau ini!”

“Hyung, kurasa Tuhan punya rencana lain untuk kita sehingga ia menghukum kita menjadi seorang dewa setelah kita meninggal.” Kyuhyun berkomentar.

“Ne. Mungkin kita ini sejenis makhluk yang membuat Tuhan bingung harus memasukkan kita kedalam surga atau neraka!” Balas Yoochun.

“Aissh, kalau aku harus masuk kedalam neraka, aku lebih memilih menjadi seorang dewa selamanya.”

Yoochun tertawa mendengar jawaban Kyuhyun.

“Geundae, apa Jiyeon dan Wu Yi Fan mampu melakukannya?” Tanya Kyuhyun penasaran.

“Kini mereka berdua yang menjadi kunci utamanya.” Tambah Kyuhyun.

“Kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya.” Jawab Yoochun pada akhirnya.
.
.
.
.
.
“Kau sudah pulang?” Tanya Kahi saat melihat Myungsoo datang.
Namja itu tak menjawab dan tetap melanjutkan langkahnya menuju lantai dua dimana kamarnya berada.

“Benar-benar tidak sopan!” Gumam Kahi.

Myungsoo, meski ia mendengarnya, namun namja itu malas untuk membalas ucapan Kahi. Apalagi bila ia mengingat bahwa Kahi yang telah menyuruh sang uisa untuk merahasiakan perihal kesembuhannya itu darinya.

“Eoh, apa kau sudah bertemu dengan Jiyeon?” Tanya Myungsoo kembali berbalik.

“Mwo?” Tanya Kahi terkejut.

“Wae? Kenapa kau begitu terkejut? Puterimu sudah kembali, tapi lihat bagaimana ekspresimu! Kau sama sekali tidak terlihat senang!” Selidik Myungsoo.

Kahi hanya tersenyum kaku.
Park Jiyeon?
Yeoja itu selamat jugakah? Batin Kahi.

“Apa yang kau fikirkan? Apa kau tidak ingin bertemu dengan puterimu?” Myungsoo nampak terlihat menautkan kedua alisnya penuh curiga.

“Ne?” Tanya Kahi takut.

“Tentu saja. Dimana dia? Dia tidak pulang bersamamu?” Lanjut Kahi berusaha menghilangkan ketakutannya.

Myungsoo mulai menangkap ada keanehan pada eomma tirinya itu.
Apa yang sebenarnya yeoja itu sembunyikan?
Apakah ada banyak rahasia yang tidak ia ketahui? Myungsoo membatin.

“W…Wae?” Tanya Kahi gugup saat tatapan menyelidik Myungsoo tertuju padanya.

Myungsoo tak menjawab. Ia hanya menautkan kedua alisnya penuh rasa penasaran. Ia pun kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.

Kahi, Yeoja itu menghembuskan nafasnya berkali-kali.

“Ada apa ini? Kenapa baik Wu Yi Fan maupun Jiyeon mereka berdua selamat? Dan Kim Myungsoo, apa dia mulai mencurigaiku? Ini tidak boleh dibiarkan! Aku tidak mau terjatuh kebawah lagi! Andhwaeyo!” Ucapnya panik.
.
.
.
.
.
“Apa yang sudah kau dapatkan?” Tanya seorang namja tinggi pada yeoja berambut ikal yang ada disampingnya saat ini.

Keduanya tengah berada diatas sebuah gedung. Lebih tepatnya berada dilantai paling atas diperusahaan Kim.

“Rekaman CCTV yang merekam kejadian dua tahun silam sudah kudapatkan. Begitu pula dengan jenis mobil dan pemiliknya.” Jawab sang yeoja seraya tersenyum penuh makna.

“Bagus, Park Ji Yeon! Tugas kita hampir selesai!” Ucap sang namja tinggi.

“Bagaimana denganmu, Wu Yi Fan? Apa yang sudah kau dapatkan sejauh ini?” Tanya Ji Yeon pada namja tinggi yang ternyata adalah Wu Yi Fan itu.

“Sejauh ini, aku telah membuat eommamu ketakutan dengan kemunculanku. Selanjutnya, aku akan mengakhiri Bae Family.” Jawabnya tak kalah sinis.

“Eomma? Dia bukanlah eommaku! Mungkin dia memang eommaku sebelum aku menjadi makhluk tak jelas seperti ini.” Tambah Ji Yeon mengeraskan rahangnya menahan amarah.

Wu Yi Fan langsung menoleh ke arah Ji Yeon. Ia melihat rona kebencian diwajah yeoja itu.

“Park Jiyeon!” Panggilnya.

“Wae?” Jawab Jiyeon tanpa menoleh sedikitpun ke arah Wu Yi Fan.

“Seperti apa sosokmu sebenarnya sebelum ini?”

Jiyeon hanya menghembuskan nafasnya. Ia memandang langit yang bersinar cukup cerah hari ini.

“Seperti apa? Bahkan langitpun lebih menyenangkan untuk dipandang dibandingkan mengingat masa laluku.” Jawabnya.

Wu Yi fan, namja itu hanya menganggukkan kepalanya. Ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi meskipun sebenarnya ia juga ingin tau kebenarannya. Kenapa ia bisa terlibat dengan sosok Jiyeon?
Kenapa ia bisa berada ditempat ini bersamanya?
Apakah ia juga ada kaitannya dengan semua kejadian yang terjadi pada keluarga Kim?
Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak seorang Wu Yi Fan.
.
.
.
.
.
“Sunbae, apa kau tidak merasa aneh dengan semua ini?” Tanya Luna.

“Mwo?”

“Park Jiyeon, luka dilehernya bahkan sudah tidak berbekas lagi. Ia seperti tidak mengenaliku. Ya, walaupun kami hanya sekali bertemu, tapi dia seperti sosok yang berbeda dari saat aku pertama kali bertemu dengannya. Ia bahkan tak menyapaku saat kami tak sengaja saling bertemu dikoridor kelas.” Jawab Luna menyampaikan pendapatnya.

“Mungkin dia tidak ingat padamu.” Jawab Minho asal seraya memasukkan ramen kedalam mulutnya.
Keduanya saat ini tengah berada dikantin sekolah. Luna dan Minho, mereka  berdua menjadi lebih akrab setelah insiden menghilangnya Jiyeon.

“Jeongmal?” Tanya Luna terlihat berfikir. Matanya kemudian menangkap sosok Myungsoo yang tengah duduk seorang diri tanpa adanya Jiyeon disampingnya.

“Sunbae!” Panggil Luna kembali.

“Eum.”

“Bukankah ini aneh? Kim Myungsoo dan juga Park Ji Yeon, mereka berdua menjadi legenda sekolah 2 tahun terakhir ini karena mereka berdua selalu bersama dan seolah tak bisa dipisahkan. Tapi lihatlah! Kim Myungsoo seorang diri duduk disana tanpa adanya seorang Park Jiyeon!”

Minhopun ikut menoleh, memandang kemana arah mata Luna tertuju.

“Kau ini ternyata suka sekali bergosip. Mana ada legenda seperti itu. Aisshhh…” Komentar Minho yang memang tak mengetahuinya.

“Kya! Aku mendengarnya dari para hagsaeng disini. Kau saja yang tidak suka bergaul dengan para manusia.” Ejek Luna.

“Mwo?”

“Bukankah temanmu itu hanyalah segelintir bola basket!” Ledek Luna.

“Mwo?”

“Berhenti mengucapkan kata itu dan segera habiskan ramenmu!” Ucap Luna beranjak dari kursinya.

“Berani sekali yeoja itu memerintahku.” Gumam Minho kesal kemudian langsung menghabiskan ramennya dengan cepat.

“KYA! GIDARYEO!” Teriak Minho.

Myungsoo, namja itu terus memikirkan perubahan sikap Jiyeon.
Apakah ia yang begitu keterlaluan pada yeoja itu? Sungguh, ia begitu merindukan sosok Jiyeon yang dulu.

“KYA!” Teriakan seorang yeoja membuat Myungsoo menoleh kearahnya. Dilihatnya Suzy dengan wajah menyeramkan tengah memandang kesal sosok yeoja yang ada dihadapannya.

“Park Jiyeon!” Gumam Myungsoo saat melihat ternyata sosok yang ada dihadapan Suzy adalah seorang Park Jiyeon.

“NEO MICHEOSSEO? APA KAU SENGAJA MELAKUKANNYA, EOH?” Bentak Suzy penuh amarah.

Jiyeon hanya terdiam. Ia malas menanggapi sosok yeoja cerewet itu.

“Ada apa ini?” Tanya Myungsoo saat tiba diantara keduanya.

“Myungsoo-ah!” Rengek Suzy bersikap manja pada Myungsoo.

“Lihat apa yang dilakukan monster ini padaku! Dia sengaja menumpahkan minumannya pada seragamku!” Jawab Suzy.

Myungsoo memandang Jiyeon. Sosok itu benar-benar berbeda. Kini Jiyeon yang ada dihadapannya saat ini mampu membalas tatapan tajamnya, bahkan tatapan yang yeoja itu lemparkan lebih tajam dibandingkan darinya.

“Park Jiyeon!” Panggil Myungsoo.

“Wae? Kau akan memarahiku juga?” Tanya Jiyeon menantang.

“Dan kau!” Ucapnya menatap tajam kearah Suzy.

“Kau bilang aku monster? Kau lupa apa yang sudah kau lakukan padaku tempo hari?”

Suzy menelan salivanya mendengar ucapan Jiyeon. Bagaimana bisa yeoja polos itu mampu mengatakan hal itu padanya?
Bagaimana bisa yeoja itu berani melawan ucapannya?

“Kau tentu tidak akan lupa hal itu, Suzy-ssi!” Ucap Jiyeon seraya mengangkat sebuah keping CD dihadapan Suzy membuat yeoja melebarkan matanya.
Apa Jiyeon tengah mengancamnya? Batin Suzy ketakutan.

“A….Apa itu? Apa kau sedang berusaha memfitnahku?” Tanya Suzy tergagap.

Melihat Suzy yang ketakutan seperti itu, membuat Jiyeon merasa senang. Yeoja itu malah tertawa puas melihat reaksi Suzy.

“Kau lucu sekali, Bae Suzy-ssi! Tentu kau tau ini apa, bukan? Bagaimana kalau sampai ini tersebar? Tentu kau akan tau resiko apa yang akan kau dapatkan!” Jiyeon memberikan senyum penuh kemenangannya.

“Neo…..”

“Berhenti menggangguku! Atau aku akan mengirimkan rekaman CCTV ini pada polisi. Kau, dan juga keluargamu, akan hancur. Kau tentu tau dengan jelas hal itu.”

Suzy, ia mematung. Sungguh ia tak memikirkan hal itu. Rekaman CCTV yang ada diperpustakaan?
Ia melupakan hal penting itu saat melakukan hal tidak selayaknya pada Jiyeon.

Myungsoo, ia terus memandang sosok Jiyeon. Seolah matanya enggan untuk berhenti menatap yeoja itu.
Semua hagsaeng yang tengah berada dikantinpun ikut tercengang melihat perubahan sikap Jiyeon yang berani melawan seorang Bae Suzy.

“Siapa kau?” Tanya Myungsoo membuat Jiyeon kemudian menoleh kearah Myungsoo. Ia melemparkan senyum miringnya pada namja itu.

“Kau ingin tau siapa aku?”

Myungsoo tak menjawab. Ia masih menatap lekat sosok yeoja yang ia rasa bukanlah Jiyeon itu.

“Park Jiyeon. Bukankah kau mengenal dengan baik nama itu. Yeoja polos yang selalu kau perlakukan layaknya seorang budak. Benarkan?” Jiyeon tersenyum penuh hinaan membuat Myungsoo mengeraskan rahangnya. Menahan amarah dan juga kesal. Sungguh ia tak bermaksud memperlakukan Jiyeon seperti itu di masa lampau.

“Dan aku bukanlah dia. Aku berbeda. Aku bukanlah budak atau pengikutmu. Aku bukanlah yeoja yang harus bertanya terlebih dahulu padamu tentang semua yang akan kulakukan. Aku bukanlah sosok yeoja yang selalu ditindas oleh tunanganmu. Aku bukanlah yeoja yang selalu menuruti kemauanmu. Aku bukanlah dia. Kau dengar, Kim Myungsoo-ssi? Aku bukanlah yeoja itu.” Ucap Jiyeon memberikan smirknya pada Myungsoo kemudian berjalan pergi membuat semua yang ada disana tercengang mendengar ucapan Jiyeon.

Seolah mengguncang sosok Kim Myungsoo.
Kim Myungsoo, ia jatuh terduduk dilantai. Kakinya kembali tak mampu menahan berat tubuhnya. Ucapan Jiyeon bagai kejutan besar baginya. Seperti itukah ia memperlakukan Jiyeon?

“Myungsoo-ah!” Panggil Suzy ikut berjongkok.

Kim Myungsoo, namja itu dengan mudah meneteskan air matanya. Namja itu benar-benar menyedihkan membuat hati Suzy terasa sakit melihat keadaan Myungsoo saat ini. Bagaimana bisa seorang Kim Myungsoo terlihat begitu rapuh hanya karena seorang Park Jiyeon?
.
.
.
.
.
“Hyung, apa ini tidak terlalu kejam untuk Myungsoo?” Tanya Kyuhyun penuh dengan kecemasan.

“Ini tidak kejam. Ia akan merasakan betapa sakitnya saat ia kehilangan seseorang yang baru ia sadari bahwa seseorang itu sangat berarti bagi hidupnya. Ia akan belajar menghargai setelah ini.” Jawab Yoochun bijak.

“Bagaimana dengan Jiyeon?” Kyuhyun kembali bertanya.

“Ini baik juga untuknya. Ia belajar bagaimana caranya mempertahankan harga dirinya. Ia belajar bagaimana ia mempunyai hak untuk bebas dan hidup. Kita belajar dari keduanya.”

“Hyung, aku benar-benar tidak mengerti. Bagaimana jadinya nanti akhir cerita ini!”

Yoochun hanya tersenyum menanggapi ucapan Kyuhyun.

“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya. Bukan takdir yang menentukan kita, melainkan kita sendirilah yang dapat menentukan takdir untuk kedepannya.”

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya.
.
.
.
.
.
“Baiklah Luna-ssi, kurasa kau benar.” Ucap Minho duduk disamping Luna.

“Mwo?”

“Tentang Park Jiyeon. Kau benar. Ada yang aneh dengan yeoja itu. Ia benar-benar berbeda. Sosok yang berbeda.”

“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya.”

“Park Jiyeon, pertama kali aku melihatnya, ia bahkan tidak pernah menunjukkan wajahnya dihadapan siapapun. Ia selalu menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Geundae, kau tau apa yang kulihat barusan? Dia berani melawan Bae Suzy.”

“Bae Suzy?” Luna mulai penasaran dengan arah pembicaraan Minho.

“Eum. Bahkan ia seperti mengancamnya, terlihat dengan jelas dari raut wajah Suzy yang berubah ketakutan.” Minho menjelaskan.

“Apa mungkin tentang insiden diperpustakaan itu?” Pikir Luna.

“Eum. Kurasa benar. Dia bahkan menunjukkan sebuah CD dihadapan Suzy. Bisa jadi itu rekaman CCTV yang ada disana tempo hari.”

“Aigoo, aku bahkan melupakan hal itu.”

“Kini Park Jiyeon mempunyai kekuatan.”

“Ne. Ini bagus agar ia tidak mudah diperlakukan kasar lagi. Geundae, tetap saja ini terasa aneh.” Luna nampak mulai prustasi.

“Ne, aku juga merasa seperti itu. Aissh, aku jadi semakin penasaran. Ada apa ini sebenarnya?”

“Sunbae!”

“Wae?”

“Kita berdua…..”

“Ne?”

“Kita berdua harus mengungkapkan semua ini.”

“Eum. Bagaimana kalau kita berdua mulai dari tempat terakhir kali Jiyeon menghilang?” Minho berpendapat.

“Eum. Kajja!”
.
.
.
.
.
“Wu Yi Fan. Kemana saja kau selama ini, eoh? Kupikir kau kembali ke China.” Ucap Bae Soo Bin saat Wu Yi Fan memasuki ruangannya.
Namja itu langsung duduk dihadapan Bae Soo Bin.

“Ahjussi!”

“Eum!”

“Aku akan menyetujuinya!”

“Ne?”

“Tentang jabatan menjadi CEO.”

“Jeongmal?”

“Wae? Kau tidak senang?”

“Ani. Tentu saja aku akan sangat senang. Kau akan menjadi pemimpin yang tepat untuk perusahaan Kim ini.”

Wu Yi Fan hanya tersenyum miring.
Ia kemudian menyerahkan beberapa CD pada Bae Soo Bin.

“Ige mwoya?” Tanya Bae Soo Bin nampak terlihat penasaran.

“Bukankah hal pertama yang harus kita lakukan adalah menyingkirkan Kahi ahjumma.” Jawab Wu Yi Fan memberikan senyum penuh kemenangannya.

“Ne. Kau benar. Kau memiliki senjata untuk melawannya? Haaha… aku bahkan tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.”

“Bagaimana kalau kita undang seluruh dewan direksi beserta para karyawan yang bekerja di perusahaan Kim dalam sebuah pesta?” Usul Wu Yi Fan.

“Ne?”

“Bukankah mereka harus mengenalku terlebih dahulu!”

“Ne. Kau benar. Mereka harus mengenal CEO kita. Hahha…”

“Putar CD itu saat acara berlangsung!” Perintah Wu Yi Fan.

“Ne. Ne. Akan kulakukan. Hahaha….” Soo Bin nampak sangat bersemangat mengingat sebentar lagi ia dapat menyingkirkan Kahi dari posisinya.

“Babo! Kau hanya akan kujadikan boneka untuk menguasai harta keluarga Kim. Setelah itu, aku yang akan menggantikanmu menjadi CEO disini. Hahaha…” Batin Soo Bin.

Wu Yi Fan, ia hanya tersenyum penuh arti.
.
.
.
.
.
“Mwo? Pesta?” Tanya Kahi terkejut.

“Ne. Seluruh dewan direksi beserta seluruh karyawan turut diundang dalam acara ini.” Jawab Yunho memberitahukan.

“Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?” Gumam Kahi.

“Kudengar, mereka akan memperkenalkan Wu Yi Fan pada publik.”

“Mworago? Wu Yi Fan?” Kahi begitu terkejut mendengar nama namja itu di sebutkan.

“Ne! Mereka akan memberitahukan bahwa Wu Yi Fan yang akan menjadi CEO kelak. Ada kemungkinan tuan Bae Soo Bin lah dalang dibalik semua ini. Sudah dipastikan dia akan berusaha menyingkirkan anda, nyonya!” Balas Yunho.

“Saek!” Umpat Kahi mengepalkan tangannya menahan amarah.
.
.
.
.
.
“Neo!” Tunjuk Suzy saat melihat sosok namja tinggi tengah berada didalam rumahnya.

“Suzy-ah! Kau sudah pulang, chagi!” Sambut Bae Soo Bin yang duduk dihadapan sang namja tinggi.

“Eoh, perkenalkan! Dia adalah Wu Yi Fan. Dia berasal dari China. Dia ini adalah adik sepupu Kim Myungsoo.” Soo Bin memperkenalkan Wu Yi Fan pada Suzy puterinya.

“Wu Yi Fan. Jadi itukah namamu?” Suzy berkomentar.

“Kau sudah mengenal dia sebelumnya, chagi?” Soo Bin bertanya.

“Beberapa hari lalu ia datang ke sekolah!” Jawab Suzy.

“Jeongmal?”

“Ne. Aku datang menemui Myungsoo hyung.” Jawab Wu Yi Fan.

“Jadi nona Bae Suzy ini adalah puteri anda, ahjussi?”

“Ne. Eotte? Dia sangat cantik, bukan? Hahaha… Kalian berdua terlihat sangat serasi. Hahaha…”

Suzy, ia memandang sosok Wu Yi Fan yang melemparkan tatapan aneh padanya.
Apa yang namja itu fikirkan tentang dirinya?
.
.
.
.
.
“Jiyeon-ah!” Panggil Myungsoo.

“Wae?” Balas Jiyeon malas.

“Kenapa sejak datang kau tidak pernah kembali kerumah? Apa kau tidak rindu pada eommamu? Pulanglah bersamaku!” Ajak Myungsoo dengan lembut.
Keduanya hari ini mendapatkan tugas untuk membersihkan kelas. Myungsoo memanfaatkan moment ini untuk berbicara lebih dekat lagi dengan yeoja itu.

“Itu bukanlah rumahku! Dan dia bukanlah eommaku!” Balas Jiyeon tak bersahabat.

“Kau boleh membenciku, geundae kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu tentang eommamu. Bagaimanapun juga, dia adalah keluargamu satu-satunya.”

“Sejak kapan kau memperdulikan hal itu, eoh?” Tantang Jiyeon.

“Pulanglah bersamaku!”

Jiyeon langsung menatap tajam sosok Myungsoo.

Myungsoo, namja itu terlihat begitu tulus.

“Kim Myungsoo, apakah kau menyesal dengan semua yang telah kau lakukan selama ini terhadapku eoh?” Jiyeon memberikan namja itu senyum sinisnya membuat Myungsoo terdiam. Namja itu menundukkan wajahnya.
Ya. Ia menyesal. Bahkan sangat menyesal. Namun seberapapun besar penyesalannya, itu tak akan merubah apapun. Semua yang sudah terjadi tidak mungkin bisa kembali seperti awal lagi.
Hanya penyesalan. Itu yang ia rasakan.

“Bisakah kau memperbaikinya dimasa depan?” Tambah Jiyeon dan berhasil membuat Myungsoo kembali mengangkat kepalanya.

“Jika suatu hari kau bertemu lgi denganku, jangan sia-siakan waktu yang kuberikan padamu!” Ucap Jiyeon pada akhirnya yang kemudian keluar dari dalam kelas dan meninggalkan Myungsoo yang mematung.
.
.
.
.
.
Seluruh ruangan didesain dengan amat indah dan cantik. Terlihat begitu banyak para tamu undangan yang hadir.

“Kenapa perasaanku menjadi begitu takut seperti ini?” Gumam Kahi.

“Ne?” Tanya Yunho yang tak sengaja mendengarnya.

“A….Aniya. Nan gwaenchana.” Jawab Kahi berbohong.

Terlihat diatas podium Bae Soo Bin mulai berbicara mengenai pengalamannya yang sudah hampir 50 tahun berada di perusahaan Kim. Tak luput pula ia menyinggung perihal kekosongan CEO yang sudah bertahun-tahun diabaikan.

“Aku benar-benar muak mendengarnya.” Ucap Kahi seraya meminum minuman yang sedari tadi berada ditangannya.

Yunho hanya terdiam melihat tingkah Kahi yang terlihat begitu tidak tenang hari ini.

“Baiklah, sebelum kita memulai acara yang sesungguhnya, ada baiknya kita menikmati hiburan yang akan saya perlihatkan pada kalian semua.” Ucap Bae Soo Bin yang kemudian memberi aba-aba untuk memutarkan CD yang diberikan Wu Yi Fan padanya beberapa hari lalu.

Mata Kahi melebar sempurna saat melihat adegan 2 tahun lalu terpampang dalam sebuah video yang ada pada layar besar yang memang sudah tersedia di sana. Video yang menampilkan ia yang dengan sengaja berusaha menabrak tubuh seorang Kim Myungsoo.

“Bukankah itu tuan muda Kim Myungsoo?” Bisik salah seorang tamu.

“Ne. Itu putera dari tuan muda Kim Jae Joong.”

“Omo, bukankah nyonya Kahi yang mengendarai mobil itu?”

“Benar. Apa dia sengaja melakukannya?”

“Bukankah 2 tahun lalu puteranya yang meninggal dunia?”

“Aigoo, ternyata benar ibu tiri itu benar-benar menyeramkan.”

Itulah bisikan-bisikan dari para tamu yang melihat rekaman CCTV disalah satu toko yang tepat merekam kejadian 2 tahun silam.

Kahi, tubuhnya bergetar hebat. Hampir saja ia ambruk, namun Yunho berhasil menahannya.

“Nyonya?”

“Bae Soo Bin!” Gumamnya mengeraskan rahangnya.
Tak lama berputar kembali sebuah video.

“A….Apa yang kau lakukan padaku eoh?” Tanya sosok namja muda dengan tubuhnya yang diikat sebuah tali.

“Kim Hyun Joong, setelah kau, maka hyungmulah yang akan kubereskan!” Ucap namja paruh baya yang ada dihadapan namja muda bernama Kim Hyun Joong.

Bae Soo Bin, ia melebarkan matanya saat adegan berpuluh-puluh tahun silam terpampang dengan jelas dilayar besar itu.

“A…..Apa-apa an ini? Cepat matikan!” Perintahnya gusar.

“Aigoo, ada apa ini sebenarnya? Apakah tuan Bae Soo Bin yang membuat tuan muda Kim Hyun Joong kecelakaan?” Tanya beberapa dewan direksi.

“Apa dia yang merencanakan semua peristiwa di Gangnam beberapa tahun silam?”

Tak lama, beberapa polisi pun datang.
Mereka datang mengepung Kahi dan juga Bae Soo Bin.

“Apa-apaan kalian?” Tanya Kahi saat salah satu polisi memborgol tangannya.

“LEPASKAN! KALIAN TIDAK TAU SIAPA AKU, EOH? CEPAT LEPASKAN!” Teriak Bae Soo Bin yang diseret keluar dari dalam gedung oleh beberapa polisi.

Wu Yi Fan, ia tersenyum. Air matanya entah mengapa tiba-tiba mengalir begitu saja.

“Jadi inikah alasan kenapa aku ikut terlibat dalam semua ini!” Ucapnya yang juga baru melihat rekaman beberapa tahun silam tentang Appanya.
Park Jiyeon, yeoja itulah yang memberikan CD itu padanya dan ia langsung memanfaatkan Soo Bin untuk mengungkap kejahatan Kahi. Namun tanpa ia duga, ternyata didalamnyapun berisi rekaman tentang penyekapan appanya sebelum meninggal.

“Appa, kau benar-benar namja yang tampan!” Ucapnya menatap layar besar yang masih menampilkan adegan sang appa yang tengah dipaksa masuk kedalam mobil oleh sekelompok orang pesuruh Bae Soo Bin.
Ternyata Jiyeon berhasil mengumpulkan banyak rekaman CCTV yang ada didaerah gangnam.

Wu Yi Fan, ia memandang tubuhnya yang semakin membias.

“Park Jiyeon, akankah kita bertemu kembali?” Gumamnya yang kemudian menghilang.
.
.
.
.
.
“Cepat telepon Myungsoo!” Perintah Luna yang saat ini tengah berada disebuah rumah sakit yang tidak jauh dari kediamannya.

“Aigoo, bagaimana ini semua bisa terjadi? Bagaimana bisa yeoja itu berada disini dalam keadaan koma?” Gumam Luna panik.

“KYA! KENAPA LAMA SEKALI?” Bentak Luna pada Minho yang tengah berusaha menghubungi Myungsoo.

“Aissh, namja itu sedang apa? Kenapa tidak menjawabnya?” Gumam Minho kesal.
.
.
.
.
.
“Apakah ini sudah berakhir, Hyung?” Tanya Kyuhyun.

“Menurutmu?” Tanya balik Yoochun.

“Kurasa ini akan menjadi sulit. Tentu bagi Myungsoo.” Jawab Kyuhyun asal. Sedangkan Yoochun hanya tersenyum menanggapi jawaban Kyuhyun.
.
.
.
.
.
Apakah Myungsoo dapat bertemu kembali dengan Jiyeon?
Masih penasaran?
Nantikan part Endingnya.
Kritik dan saran tetap dinanti.
Coment Jusaeyo! 😀

FF MyungYeon (Myungsoo Jiyeon) Part 4

image

               MAKING LOVE
                           (part 4)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram:
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Myungsoo (Infinite)

Other Cast :
Bae Suzy (Miss A)
Krystal ( Fx )
Kahi (After School)
Wu Yi Fan aka Kris (  EXO )
Cho Kyuhyun (Super Junior)
Park Yoochun ( JYJ )

Songfict :
Infinite Last Romeo

Genre :
Fantasy, Bromance, School life, Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N :
Part 4 datang. Pernah author publish di tanggal 3 Juli 2014 silam. Yang masih setia menunggu kelanjutan MyungYeon couple, monggo di jomot!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
“Omo, Omo, Omo, Geu namjaneun nuguyeyo?” Tanya beberapa hagsaeng yeoja histeris saat seorang namja tampan bertubuh tinggi melewati koridor sekolah.

“Mungkinkah ia hagsaeng baru?”

“Aigoo, benar-benar tampan!”

Sang namja tinggi itu hanya berjalan lurus seraya melemparkan senyum manisnya pada semua hagsaeng yang ia lewati.Namja itu berjalan hingga memasuki sebuah kelas.

“Neo eodisseo, Kim Myungsoo?” Gumamnya seraya melihat isi kelas.

Suzy yang tengah berada didalam kelas langsung berbinar saat matanya menangkap sosok namja tinggi diambang pintu kelasnya.

“Nu….Nugu?”Tanya Krystal yang tengah berada didalam kelas Suzy.

“Molla.” Jawab Suzy terpesona.

“Itu dia!” Gumam sang namja tinggi saat penglihatannya menangkap sosok namja yang tengah ia cari.

“Mau kemana dia?” Bisik Krystal.

“Molla.” Jawab Suzy yang masih menatap intens sang namja.

“Annyeong, hyung!” Sapa sang namja tinggi itu pada Myungsoo membuat Myungsoo menatap heran namja yang dengan lancang duduk dihadapannya, lebih tepatnya duduk di kursi yang biasa Jiyeon tempati.

“Hyung, ini seperti mimpi! Akhirnya kita dapat bertemu juga!” Tambah sang namja terlihat senang.

Myungsoo masih memandangnya dingin.
Hyung?
Bahkan wajahnya terlihat lebih dewasa dibandingkan darinya.

“Apa kau dongsaeng Kim Myungsoo?” Sembur Krystal yang datang mendekat.

“Animida. Aku adalah adik sepupunya!” Jawab sang namja tinggi ramah.

“Jeongmal?” Tanya Suzy yang ikut mendekat.

“Ne.”

“Naneun, Suzy imnida. Bangabseumnida!” Sapanya memperkenalkan diri dengan manisnya.

“Joeneun Krystal imnida.” Tambah Krystal yang ikut memperkenalkan diri.

“Annyeong!” Balas sang namja.

Tak lama bel pun berbunyi menandakan waktu belajar akan segera dimulai.

“Geureom, jega khalke hyung!”

Myungsoo terlihat malas menanggapi namja asing yang mengaku sebagai adik sepupunya itu.

“Kau berada dikelas mana?” Tanya Krystal saat sang namja hendak meninggalkan kelas.

“Aku bukan hagsaeng dikelas ini. Mungkin kau satu kelas denganku. Uri kaci gapsida!”Tambah Krystal sangat berantusias.

“Animida. Aku bukanlah hagsaeng disekolah ini.” Jawab sang namja seraya keluar dari dalam kelas Myungsoo.

“Mwo?” Tanya Krystal terkejut.

“Aku harus mendapatkannya!” Ucapnya pada Suzy bersemangat.

“Aissh, yeoja itu…” Gumam Suzy.

“Kenapa tidak memberitahukan padaku kalau kau punya adik sepupu yang tampan, eoh?” Tanya Suzy dengan manjanya.

Myungsoo tak menghiraukannya, bahkan untuk memandang yeoja itupun enggan ia lakukan.

Suzy terlihat kesal. Namun, seolah tak mau menyerah dengan sikap dingin Myungsoo, ia pun kembali tersenyum walaupun itu terpaksa ia lakukan.

“Kau tenang saja! Aku tidak akan berpaling pada adik sepupumu itu!” Tambahnya percaya diri.

“Kha!” Perintah Myungsoo.

“Mwo?”

“Pergi dan duduk kembali ketempatmu!”

“Neo! Aissh…” Suzy menahan rasa kesalnya dan kembali duduk dibangkunya.

Sementara itu, Krystal berlari mengejar namja yang mengaku sebagai adik sepupu Kim Myungsoo.

“GIDARYEO!” Teriak Krystal.Nafasnya nampak terengah saat berhasil tiba dihadapan sang namja. Koridor sekolah nampak sepi karena para hagsaeng lain sudah berada didalam kelasnya masing-masing setelah bel berbunyi.

“Ireumi mwoyeyo?” Tanya Krystal.

“Kita mungkin bisa lebih dekat lagi setelah ini!” Tambahnya.

Wajah sang namja tinggi berubah dengan seketika. Wajah yang terlihat begitu ramah dan ceria kini berubah dingin melebihi dinginnya seorang Kim Myungsoo.

“W….Wae? A….Apa aku salah bicara?” Tanya Krystal begitu ketakutan saat melihat perubahan di wajah sang namja.

“Enyah dari hadapanku sekarang!” Ucap sang namja dengan seriusnya.

“Ne?”

“Apa kau tuli? Apa aku perlu membuka lebar kedua telingamu itu, eoh?”

Krystal seolah tak dapat menjawab apapun. Lidahnya terasa kelu. Tubuhnya bergetar hebat. Namja yang beberapa detik lalu terlihat begitu manis, kini berubah menjadi sosok namja yang begitu mengerikan.

“Neo chugullae?”

Krystal melebarkan matanya saat sang namja mengatakan hal yang begitu mengerikan itu padanya.

“Yeoja tidak berguna!” Tambah sang namja menyingkirkan tubuh Krystal dari hadapannya dengan kasar membuat tubuh Krystal tepat membentur dinding sekolah. Rasa sakit pada tubuhnya tak sebanding dengan rasa takutnya saat ini.

Namja tinggi itu kemudian berjalan dengan tatapan kosong. Tak menampakkan ekspresi apapun. Matanya melebar saat seorang yeoja melewatinya. Ia langsung menoleh memandang kepergian sang yeoja yang semakin menjauh dari pandangannya. Namja itupun tersenyum miring memandang punggung sang yeoja.

“Park Jiyeon, akhirnya kau datang juga!” Ucapnya.

Sementara itu didalam kelas, Kim myungsoo, ia terus memandang kursi kosong yang ada dihadapannya itu meski saat ini pelajaran tengah berlangsung. Pikirannya tak pernah henti memikirkan sosok Park Jiyeon. Dimana sebenarnya keberadaan yeoja itu?

~Tok-Tok-Tok~

Kang songsaenim yang tengah mengajar langsung menoleh kearah pintu kelas yang berbunyi.

“Neo?” Ucap Kang songsaenim saat melihat seorang hagsaeng yeoja membuka pintu kelasnya.

“Mianhae saem, aku terlamat!” Ucapnya.

“Masuklah!”

Sang yeoja pun mulai memasuki kelas dan menghadap saemnya itu.

“Park Jiyeon?” Gumam Suzy yang melihat kedatangan Jiyeon.Yeoja itu langsung menoleh ke arah Myungsoo. Namja itu sepertinya belum menyadari kehadiran Jiyeon disana. Suzy tersenyum miring saat mendapati sosok Myungsoo yang seolah enggan untuk berhenti menatap kursi kosong milik Jiyeon itu.

“Benar-benar menyedihkan!” Gumamnya.

“Kemana saja kau selama ini, eoh?” Tanya Kang songsaenim.

“Mianata, saem!” Jawabnya.

“Geurae, setelah pelajaran berakhir, datanglah keruanganku. Arraseo?”

“Ne. Algesumnida saem!”

“Duduklah!” Perintahnya.

Sang yeoja yang ternyata Park Jiyeonpun mulai berjalan mendekati kursinya. Sedangkan tatapan Suzy masih tertuju padanya.

Myungsoo merasa kesal saat seseorang tiba-tiba duduk dikursi milik Jiyeon. Ia mulai menarik kepalanya. Matanya melebar sempurna saat dilihatnya seorang yeoja duduk disana. Yeoja yang begitu ia rindukan. Yeoja yang walau hanya melihatnya dari belakang ia akan tau siapa sosok itu. Yeoja yang akhir-akhir ini selalu membuatnya khawatir. Yeoja yang menghilang selama beberapa hari dari kehidupannya.

“Park Jiyeon!” Gumamnya. Ia langsung bangkit dan menarik tangan Jiyeon membuat yeoja itu menoleh kearahnya.

“Ikut aku!” Perintah Myungsoo seraya menarik Jiyeon.

“KYA! NEO EODIGA KIM MYUNGSOO?” Teriak Kang Songsaenim yang melihat keduanya keluar dari dalam kelas.

Suzy hanya tersenyum miris melihat adegan itu. Hatinya benar-benar terasa perih.

Park Jiyeon, ia hanya terdiam saat Kim Myungsoo membawanya ke atap sekolah.

Park Jiyeon, tatapannya terlihat begitu berbeda. Mata yang biasanya terlihat redup itu kini begitu tajam melebihi tajamnya tatapan seorang Kim Myungsoo. Wajah yang selalu ia tundukkan kini dengan berani ia perlihatkan.
Benarkah dia Park Jiyeon?

“Kemana saja kau selama ini?” Tanya Myungsoo.

Jiyeon hanya terdiam. Ia masih menatap tajam seorang Kim Myungsoo. Myungsoo terlihat heran. Yeoja itu tak terlihat seperti Jiyeon yang biasanya. Namun Myungsoo berusaha untuk menyingkirkan pikiran itu. Rasa penasaran tentang dimana Jiyeon selama ini lebih besar dari perasaan anehnya mengenai sosok Jiyeon yang saat ini tepat berada dihadapannya.

“Kenapa tidak menjawab? Apa yang kau lakukan selama ini? Dimana kau tinggal? Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku? Kenapa tidak memberi kabar sedikitpun?”

“Apa aku perlu menjawabnya?” Tanya Jiyeon dingin.

“Mwo?”

“Apa itu penting?”

“Neo…..”

Jiyeon tersenyum miring melihat keterkejutan Myungsoo saat melihat sikapnya.

“Seperti inikah rasanya bersikap dingin?” Tanyanya.

Myungsoo benar-benar tidak pernah berfikir sebelumnya bahwa yeoja itu akan berani mengatakan semua itu padanya.

“Aku mulai menikmatinya!” Tambahnya.

“Geumanhae! Kau tidak tau apa yang telah kau lakukan padaku! Karena kau, aku harus terbaring dirumah sakit! Kau tau itu?”

Jiyeon malah tertawa mendengar ucapan Myungsoo, membuat namja itu semakin bertanya-tanya dengan sikap Jiyeon yang benar-benar berubah.

“Lalu bagaimana denganku? Bagaimana denganku yang selama 2 tahun ini selalu dianggap pembantumu oleh semua hagsaeng disini? Selalu kau perlakukan buruk? Selalu dibentak sesuka hatimu? Bagaimana itu? Kau fikir aku tidak menderita selama ini?” Tanya Jiyeon dengan senyum sinisnya.

Myungsoo, benar yang dikatakan Jiyeon. Yeoja itu pasti lebih menderita darinya.

“Kau membuat masa remajaku hilang selama 2 tahun ini! Kau membuatku bahkan tidak bisa tersenyum maupun tertawa. Kau membuatku menjadi sosok pendiam dan bahkan tidak bergaul dengan siapapun!” Tambahnya.

Myungsoo tak menjawab. Semua yang dikatakan Jiyeon memang benar adanya.

“Apa kau pernah melihatku berteman dengan orang lain selain denganmu? Bahkan aku tidak mempunyai seorangpun teman. Apa kau tau mereka coba menyakitiku karenamu, eoh?”

Myungsoo mulai mengingat ucapan Luna dan Minho tempo hari padanya.

~FlashBack On~

“Apa Jiyeon-ssi mempunyai musuh?”

“Mwo?”

“Luna-ssi mengatakan, terakhir kali ia bertemu Jiyeon saat Jiyeon terkurung didalam perpustakaan!”

“Mwo?”

“Ne. Aku bertemu dengannya didalam perpustakaan yang terkunci. Ia tak sadarkan diri dengan goresan yang ada dilehernya.” Jawab Luna membenarkan penuturan Minho.

“Mworago? Goresan dileher?”

“Ne. Kupikir dia korban pembullyan. Ada kemungkinan Jiyeon-ssi menghilang terkait insiden itu.”

~FlashBack Off~

“Kim Myungsoo, bukankah kau muak padaku? Akupun begitu! Kurasa ini sudah cukup. Mulai hari ini, mari kita jalani hidup kita masing-masing.” Ucap Jiyeon pada akhirnya dan berjalan turun.

“Gidaryeo!” Myungsoo menahan lengan Jiyeon.

“Kau tidak bisa melakukannya! Kau lupa kalau kau dan aku punya ikatan? Kau bisa membahayakanku kalau kita menjalani hidup masing-masing. Kalau kau terluka, tetap saja aku yang akan terbaring dirumah sakit. Kau tidak bisa lepas dariku!”

Jiyeon langsung menghempaskan tangan Myungsoo dengan kasar. Ia membalikkan tubuhnya menghadap namja itu.

“Jeongmal?” Tanyanya tak kalah dingin dari Myungsoo membuat Myungsoo melebarkan matanya saat Jiyeon mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku seragamnya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Myungsoo panik.

~SREK~

Myungsoo menutup kedua matanya saat Jiyeon menggoreskan pisau itu tepat dipergelangan tangannya. Myungsoo kembali membuka matanya saat tubuhnya tak merasakan hal apapun. Bahkan ia tak merasakan sakit saat tubuh Jiyeon terluka. Ia melihat darah yang mengalir dari tangan Jiyeon.

“Mulai sekarang, siapapun yang melukaiku, aku akan melakukan hal yang sama terhadapnya. Aku tak akan membiarkan siapapun berani menyentuhku termasuk kau, Kim Myungsoo-ssi!” Ucap Jiyeon bergegas meninggalkan Myungsoo.

Myungsoo, ia terjatuh duduk. Kakinya seolah tak mampu menahan berat tubuhnya. Nafasnya terengah mengetahui hal itu.
Jiyeon dan dia kini tak mempunyai ikatan apapun?
Apa yang sebenarnya terjadi?
.
.
.
.
.
Namja tinggi itu memasuki ruangan Kahi membuat Kahi melebarkan matanya dengan sangat sempurna.

“Neo?”

“Annyeong, ahjumma!” Sapanya tersenyum manis saat duduk tepat dihadapan Kahi.

~FLASBACK ON~

“Kenapa mereka menyuruhku datanguntuk melakukan semua itu? Merebut harta milik keluarga Kim?Aigoo, eomma akan membunuhku jika sampai aku melakukannya!” Gumam seorang namja tinggi. Setelah beberapa jam lalu ia selesai menemui beberapa pesuruh dari Bae Soo Bin, ia memutuskan untuk segera kembali ke China karena ia tidak menyetujui rencana Bae Soo Bin yang memintanya untuk mengambil alih perusahaan Kim karena hanya ialah satu-satunya keturunan Kim yang dirasa mampu untuk mengelola perusahaan. Ia diminta untuk bekerjasama dengan Soo Bin untuk meyakinkan dewan direksi lain, menyingkirkan Kahi yang menjabat sebagai direktur utama saat ini.Serta memojokkan Kim Myungsoo karena usianya yang dianggap terlalu muda dan belum layak memimpin perusahaan.

“Kim Myungsoo, diakah kakak sepupuku?” Tanyanya saat melihat foto Kim Myungsoo yang ada pada layar android miliknya.

“Dia namja yang tampan. Appa dan juga Appanya pasti sama-sama tampan.” Tambahnya tersenyum bahagia.

“Kau beruntung hyung karena sudah pernah melihat wajah appamu. Sedangkan aku? Bahkan sejak lahir, aku belum pernah melihatnya.” Gumamnya sedih mengingat itu semua.

“Aku tidak pernah menyesal karena hal itu, setidaknya aku senang karena aku masih mempunyai keluarga di Korea.” Ucapnya memandang langit yang sudah berubah menjadi gelap.

“Aku datang kesini untuk bertemu denganmu, Appa! Aku ingin sekali berkunjung kepemakamanmu. Dan aku juga ingin bertemu denganmu, Kim Myungsoo. aku memang tidak mengerti bagaimana keluarga Kim dimasa lalu, geundae, aku hanya ingin bertemu dengan salah satu dari mereka yang tersisa.” Tambahnya.

Namja tinggi itu, ia adalah putra kandung dari Kim Hyun Joong.Beberapa hari sebelumnya, ada beberapa orang yang datang ke Guangzhou, China, menemuinya.Mereka mengatakan bahwa mereka adalah utusan dari keluarga Kim dan memintanya untuk ikut datang ke Korea.Rainie Yang, sang eomma pun mengijinkannya.

Wu yi Fan, itulah nama namja tinggi itu. Ia memang sejak kecil sudah diberitahukan oleh sang eomma bahwa appanya adalah putera kedua dari keluarga Kim yang berasal dari Korea. Hanya saja, sebelum HyunJoong, Appa Wu Yi Fan, menikahi Rainie Yang, ia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Rainie Yang yang saat itu tengah mengandungpun langsung kembali ke Guangzhou karena percuma saja ia mengatakan pada keluarga Kim bahwa ia tengah mengandung anak dari Hyun Joong, mereka tidak akan mempercayainya.

Rainie Yang, yeoja itu berasal dari Guangzhou, China, dan datang ke Korea hanya untuk berlibur. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Kim Hyun Joong dan menjalin kasih dengannya.

Wu Yi fan, sejak kecil ia berusaha mempelajari bahasa Korea hingga ia dapat dengan fasih menggunakannya. Sehingga saat ia datang ke Korea seperti saat ini, ia tak akan mendapat kendala apapun mengenai bahasa disana.

“Kenapa Ahjussi bernama Bae Soo Bin itu ingin aku melakukannya? Seperti apa wajahnya? Bukankah semua itu memang milik Kim Myung Soo. Aku sama sekali tidak menginginkan hal itu. Aku hanya ingin bertemudengannya. Hanya itu.” Tambahnya.

“KYA!” Teriaknya saat seorang preman mengambil android yang ada ditangannya.

“BERHENTI KAU! KYA! PENCURI!” Teriaknya. Iapun berlari mengejar sang pencuri.

~BRUK~

Ia terjatuh saat kakinya tak sengaja menginjak sebuah benda besar.

“Aigoo, ige mwoya?” Gumamnya saat tubuhnya tepat mendarat ditanah. Keadaan memang benar-benar terlihat sepi. Ini salahnya karena pergi begitu saja tanpa menggunakan taksi. Ia terlalu kesal pada Bae Soo Bin hingga ia tidak memikirkan resiko yang akan ia dapat dari berjalan kaki seorang diri di negara yang baru saja ia singgahi.

“M……Mwoya?”Ucapnya terkejut saat melihat ternyata yang membuat ia terjatuh adalah seonggok tubuh manusia. Seorang yeoja. Tubuhnya dipenuhi dengan darah.

“A….Aku harus menolongnya!” Ucapnya serayamengangkat tubuh sang yeoja.

Ia berusaha membawanya ke rumah sakit meski ia tidak tau dimana letaknya, setidaknya ia harus mencari seseorang untuk di mintai pertolongan.

Sementara itu, Kahi yang tengah mengendarai mobilnya dengan cepat melajukan mesin mobil itu. Ia begitu terlihat kesal saat mendengar bahwa Bae Soo Bin telah menemukan putera kandung dari Kim Hyun Joong dan akan menyingkirkannya dari perusahaan.

~DUAKK~

Kahi melebarkan matanya saat ia merasakan bahwa mobilnya telah menabrak seseorang. Ia langsung keluar dari dalam mobil dengan tergesa.

“Park Jiyeon!” Gumamnya saat melihat tubuh Jiyeon yang memang sudah dipenuhi darah serta luka tembak dibagian dadanya. Matanya kemudian beralih memandang sosok namja yang ada disamping Jiyeon yang ikut terkapar tak sadarkan diri.

“Wu…. Wu Yi Fan?” Ucapnya terbata. Ia langsung mengambil sebuah foto yang beberapa jam lalu diberikan oleh Yunho padanya.

“Wu Yi Fan. Benar, ini dia!” Gumamnya senang, ternyata benar sosok yang ada dalam foto itu sesuai dengan namja yang tengah terbaring dihadapannya saat ini. Ia langsung melihat ke sekeliling.Setelah dirasa sepi dan tak ada yang meilhat, ia pun kembali masuk kedalam mobilnya dan melajukan kembali mesin mobilnya. Ia kemudian tertawa senang.

“Ternyata tuhan benar-benar berpihak padaku. Dua orang yang menjadi penghalang langsung lenyap dengan seketika. Hahaha….. Kau sungguh beruntung Kahi-ssi!” Ucapnya penuh kemenangan.

~FLASHBACK OFF~

“Ahjumma?” Panggil Wu Yi Fan berusaha membangunkan Kahi dari ingatannya beberapa hari lalu.

“Ne?”

“Neo gwaenchana?”

Kahi hanya tersenyum. Nafasnya terlihat terengah.

“Bagaimana bisa dia masih hidup? Apa ada yang menolongnya malam itu? Bagaimana dengan Jiyeon? Apa dia juga selamat dan masih hidup?” Batinnya.

Wu Yi Fan, namja itu tersenyum miring melihat ekspresi Kahi.

“Kurasa Ahjumna sudah tau siapa saya! Mungkin Bae Soo Bin Ahjussi sudah memberitahukannya pada Ahjumma.”

Kahi hanya terdiam. Ia masih tidak percaya bahwa namja yang ada dihadapannya saat ini masih hidup.

“Seperti yang sudah Bae Soo Bin Ahjussi beritahukan padaku, mungkin aku akan mengisi kekosongan CEO karena usiaku lebih tua dibanding Myungsoo hyung. Apa ahjumma tidak keberatan membantuku?” Tanyanya terus memperlihatkan senyum miringnya.

Kahi hanya menelan salivanya.

“Apa dia tau bahwa akulah yang telah menabraknya malam itu?” Batinnya.

“Eoh, kurasa semua karyawan disini harus diberitahukan bahwa aku adalah putera kandung dari Kim Hyun Joong appa yang tak lain adalah putera kedua dari keluarga Kim.”

“Apa kau tidak takut dengan apa yang akan orang bicarakan tentangmu? Kim Hyun Joong bahkan belum menikahi eommamu. Kau tidak takut jika nanti orang-orang akan mengataimu anak haram karena tumbuh sebelum kedua orangtuamu menikah?” Tanya Kahi coba menyerang.

Wu Yi Fan, namja itu malah tertawa dan sukses membuat Kahi kesal.
Berani sekali bocah itu menertawainya!

“Ahjumma, kau ini lucu sekali!” Ucap Wu Yi Fan.

“Bukankah kau juga bukan eomma kandung Myungsoo hyung? Kau hanyalah eomma tirinya. Kau bahkan menjabat sebagai direktur utama disini. Apa kau fikir aku tidak bisa melakukannya, eoh? Kekuatanku bahkan lebih besar darimu karena aku adalah keturunan dari keluarga Kim. Bagian mana yang menurutmu dapat membuatku lemah?” Ucapan Wu Yi Fan mampu membius Kahi. Ia kalah telak dari namja itu.

“Ahjumma, selama berada di Korea, aku akan tinggal bersama Myungsoo hyung. Kurasa kau tidak akan keberatan karena itu semua milik keluarga Kim.” Tambah Wu Yi Fan seraya bangkit dan berjalan menuju pintu.

“Eoh, aku sudah bertemu dengan Myungsoo hyung. Dia benar-benar tampan. Sama sekali tidak mirip denganmu. Kurasa eomma kandungnya jauh lebih cantik darimu. Aku bertanya-tanya, apa yang menyebabkan Kim Jae Joong Ahjussi mau menikah denganmu dan menjadikan eomma bagi Myungsoo hyung? Kurasa Ahjussiku itu telah salah memilih atau mungkin ada gangguan dibagian matanya.” Ejek Wu Yi Fan sukses membuat Kahi mengepalkan tangannya menahan amarah atas apa yang dikatakan Wu Yi Fan tentangnya.

“Neo, tidak pantas memiliki kursi itu.” Tambahnya lalu keluar dari dalam ruangan Kahi.”

~BRAKK~

Kahi dengan kasar melemparkan gelas kearah pintu yang ditutup Wu Yi Fan. Ia benar-benar sangat kesal. Amarahnya sudah tidak dapat ia tahan lagi.

“Saekkiea!” Gumamnya.

Sedangkan Wu Yi Fan, ia hanya tersenyum sinis dibelakang pintu saat mendengar pecahan gelas. Rupanya ia berhasil membuat yeoja itu marah.
.
.
.
.
.
“Hyung, apakah sudah dimulai?” Tanya Kyuhyun penasaran.

“Eum. Perlahan-lahan pintu itu akan terbuka!” Jawab Yoochun.

Kyuhyun terlihat bersemangat mendengarnya membuat Yoochun hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tersenyum menang.
.
.
.
.
.
“Mwo? Kau bilang aku tidak menderita penyakit apapun?” Tanya Myungsoo pada seorang uisa yang ia temui. Ia memang sengaja datang ke rumah sakit yang berbeda dari yang biasa ia datangi untuk memastikan mengenai hal aneh yang ia lihat saat Jiyeon terluka dan tubuhnya tak bereaksi apapun.

“Ne. Kami tidak menemukan penyakit apapun dalam tubuh anda, tuan!” Jawab sang uisa.

Myungsoo langsung keluar dari dalam ruangan dokter tersebut.

“Namja muda yang aneh!” Gumam sang uisa.

Myungsoo, ia benar-benar tidak mengerti dengan kondisi tubuhnya saat ini.
Bagaimana bisa penyakit yang selama bertahun-tahun ada dalam tubuhnya menghilang begitu saja?
Ia kemudian mengingat kejadian 2 tahun lalu saat kecelakaan itu merenggut nyawa Chanyeol yang menolongnya.
Park Jiyeon, yeoja itu mendonorkan darahnya pada Myungsoo. Suatu keajaiban karena darah Jiyeon bisa sesuai dengan darah Myungsoo yang sama sekali tidak ada hubungan kekeluargaan dengannya. Sejak kejadian itu, Myungsoo menjadi sosok yang semakin sulit untuk didekati. Keanehan-keanehan mulai terjadi pada tubuhnya. Ia terluka namun tak merasakan apapun, sedangkan bila Jiyeon yang terluka, ia akan merasakan sakit yang tak tertahankan. Sejak itulah Jiyeon mulai tinggal bersama Kahi sang eomma dan juga Myungsoo.

Sikap Myungsoo semakin menjadi sangat dingin terhadap Jiyeon. Kadang namja itu bersikap kasar padanya. Itu cara yang ia lakukan untuk menutupi rasa bersalahnya atas kematian Chanyeol. Andai Chanyeol tak menyelamatkannya, mungkin Jiyeon masih dapat bertemu dengan oppanya itu. Ia juga merasa kesal karena Jiyeon mendonorkan darahnya pada Myungsoo dan mengakibatkan keanehan itu terjadi. Namun, namja itu sebenarnya merasa senang karena dengan begitu ia selalu bisa berada dekat dengannya. Hanya saja, ia tidak dapat menunjukkan perasaannya dengan baik. Jiyeon bahkan berubah menjadi sosok yeoja pendiam yang selalu menundukkan wajahnya. Sosok ceria yang pertama kali ia temui di Caffe kini telah hilang. Namun kejadian aneh kini kembali menghampirinya.Tubuhnya kini bahkan dinyatakan sehat dan tak menderita penyakit apapun.
Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikirannya.

“Eomma, apakah ia sudah tau hal ini?” Gumamnya.

Myungsoo pun berjalan dan menaiki sebuah taksi dan langsung menuju rumah sakit yang biasa ia datangi. Ia berjalan cepat menuju ruangan uisa yang biasa menangani penyakitnya saat tiba dirumah sakit.

“K….Kim Myungsoo!” Ucap sang uisa yang melihat kedatangan Myungsoo kedalam ruangannya. Bahkan namja muda itu tak mengetuk pintu ataupun memberi salam padanya. Namja muda itu langsung duduk dihadapannya dengan wajah serius. Benar-benar membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik ngeri.

“A…Ada apa kau kemari? Apa kau merasa sakit?” Tanya sang uisa terbata.

Myungsoo tak menjawab. Ia hanya menatap tajam sang uisa membuat sang uisa harus menelan salivanya sendiri dengan perlahan.

~BRAK~

Myungsoo membanting sebuah amplop cokelat tepat dimeja sang uisa.

“Ige mwonde?” Tanya sang uisa.

“Lihatlah!” Perintah Myungsoo yang membuat sang uisapun akhirnya dengan perlahan membuka isi amplop cokelat tersebut. Matanya melebar saat melihat ternyata isinya adalah selembar kertas tebal mengenai hasil pemeriksaan Kim Myungsoo yang negatif menderita Bleed Disorder maupun Hemofilia. Disana tertera dengan jelas bahwa Kim Myungsoo negatif menderita penyakit apapun. Ia sehat.

“Ige……”

“Sejak kapan kau mengetahuinya?”Tanya Myungsoo memotong ucapan yang hendak keluar dari mulut sang uisa membuat sang uisa hanya dapat menelan salivanya.

“Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku? Kenapa kau menutupinya?” Tambahnya.

Sang uisa hanya menunduk merasa bersalah.

“Aku bisa saja menuntutmu karena hal ini.” Ucapan Myungsoo berhasil membuat sang uisa kembali menatapnya.

“Andwaeyo! Aku benar-benar minta maaf atas hal ini. Geundae, aku melakukannya karena nyonyalah yang menyuruhku untuk merahasiakannyadarimu.”

“Nyonya?” Tanya Myungsoo menyelidik.

“Ne. Nyonya Kahi yang menyuruhku untuk melakukannya. Mianhae! Mianata! Kumohon jangan laporkan masalah ini pada polisi. Jebal!” Ucap sang uisa memohon.

Kim Myungsoo mulai memicingkan matanya.
Untuk apa Kahi melakukan semua itu?
Untuk apa ibu tirinya menutupi hal itu darinya?
.
.
.
.
.
Udah jelas belum ceritanya? Nantikan part selanjutnya. Jangan lupa kritik dan sarannya.
Di coment ya biar authornya kilat posting FF di WP nya!
Coment Jusaeyo!

FF MyungYeon (Myungsoo Jiyeon) Part 3

image

              MAKING LOVE
                         (part 3)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Myungsoo (Infinite)

Other Cast :
Bae Suzy (Miss A)
Kahi (After School)
Choi Minho (SHINee)
Bae soo bin
Luna (Fx)
Park Chanyeol ( EXO )
Park Yoochun ( JYJ )
Cho Kyunhyun (Super Junior)
Jung Yunho ( TVXQ )
Wu Yi Fan aka Kris ( EXO )

Songfict :
G.Dragon ft Jenny Kim Black

Genre :
Fantasy, Bromance, School life, Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N :
Selamat santap sahur 😀 nih author kasih Part 3 santapannya #plak. Pernah author publish di tanggal 1 Juli 2014 silam.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
“Benarkah hari ini kita akan bertemu dengan dongsaengmu, hyung?” Tanya Myungsoo pada namja tinggi yang ada disampingnya.

“Eum. Dia yeoja yang sangat cantik.Sudah lama kami tidak bertemu. Kau pasti akan langsung menyukainya.”

“Bolehkah?” Goda Myungsoo membuat namja yang di panggil hyung bernama Chanyeol itu terkekeh mendengar pertanyaan Myungsoo padanya.

“Tentu saja. Memangnya kenapa?
Kurasa kalian akan sangat cocok!”
Jawab Chanyeol terlihat senang.

“Kupikir kau akan menyesal jika
dongsaengmu itu berkencan dengan namja penyakitan sepertiku, hyung!” Tambah Myungsoo dengan nada menyedihkan yang di buat-buatnya.

“Kya! Memangnya kenapa kalau kau penyakitan, eoh? Yang penting kau tampan dan tidak menjijikan!” Timpal Chanyeol yang berhasil membuat Myungsoo kesal mendengarnya.

“MWO?”

Keduanya tertawa bersama.
Chanyeol, namja tinggi itu berniat mempertemukan dongsaeng kandungnya dengan Myungsoo.
Myungsoo, ia adalah dongsaeng tiri dari Chanyeol. Namun meski
keduanya tidak terlahir dari rahim yang sama, keduanya begitu akrab layaknya saudara kandung.

Saat itu usia Chanyeol baru 10
tahun. Kedua orangtuanya bercerai dan ia ikut bersama eommanya yang tak lain adalah Kahi..Awalnya Myungsoo tidak dapat menerima kehadiran Chanyeol sebagai hyung tirinya. Namun, dengan sabar Chanyeol mencoba lebih akrab dan dekat dengan Myungsoo yang dingin itu. Namja tinggi itu mampu meruntuhkan sikap dingin Myungsoo terhadapnya.

Chanyeol, ia begitu menyayangi dan menjaga Myungsoo seperti
dongsaengnya sendiri. Apalagi
mengingat penyakit yang diderita Myungsoo.

“Apa dia akan datang?” Tanya
Myungsoo sedikit ragu karena sudah hampir setengah jam mereka berdua menunggu disebuah cafe yang di janjikan, namun sosok yeoja yang tengah mereka tunggu belum juga nampak kedatangannya.

“Tunggulah sebentar lagi. Kau ini
tidak sabaran sekali.” Balas Chanyeol.

“JIYEON-AH! DISINI!” Teriak
Chanyeol saat melihat sosok yeoja berambut panjang lurus memasuki cafe.

Myungsoo, matanya bahkan tak
berkedip saat melihat sosok Jiyeon yang berjalan menghampiri mereka dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

“Oppa!”

Chanyeol langsung bangkit dan
memeluk dongsaengnya itu. Mereka berdua akhirnya melepas rindu setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
Sejak kedua orangtua mereka
bercerai, Jiyeon tinggal bersama
sang appa. Namun 3 tahun lalu
appanya meninggal dunia dalam
sebuah kecelakaan. Ia kemudian
tinggal disebuah yayasan dan
bersekolah disana. Meski Chanyeol meminta ia untuk tinggal bersama dengannya, namun yeoja itu menolak dan lebih memilih untuk tetap tinggal di Daegu, tempat
kelahirannya.

“Apakah kau mendapatkan nilai yang bagus, eoh?” Tanya Chanyeol saat melepaskan pelukannya.
Meski mereka tidak pernah bertemu lagi semenjak kedua orang tua mereka bercerai, namun keduanya tetap saling berkomunikasi satu sama lain.

“Tentu saja. Nilaiku sangat
sempurna!” Jawab Jiyeon dengan nada lucunya yang membuat keduanya terkekeh menyisakan Myungsoo yang masih memandang sosok Jiyeon.

“Kya! Apa yang kau lakukan dengan rambutmu ini, eoh? Apa kau meluruskannya? Dimana rambut bakmi mu itu?” Ejek Chanyeol seraya menyentuh rambut Jiyeon  yang dilihatnya berbeda itu.

“Kya! Geumanhae, oppa! Aku
sengaja pergi kesalon sebelum
bertemu denganmu. Ini special
untuk oppaku yang sudah lama tidak pernah bertemu!” Jawab Jiyeon mempoutkan bibirnya.

“Errrrrrr….. Apa kau sudah
mempunyai seorang namja, eoh? Apa jangan-jangan dongsaengku ini salah satu playgirl disekolahnya?” Goda Chanyeol.

“Aniya. Mana mungkin aku seperti itu.” Protes Jiyeon.

Myungsoo, ia merasa iri dengan
kedekatan Chanyeol dan juga Jiyeon. Memiliki seorang saudara benar-benar menyenangkan.

“Oppa, apa kau tidak akan
menyuruhku untuk duduk eoh?”

“Hahaha… Mian! Mian! Jiyeon-ssi. Aigoo! Kajja! Kajja! Duduklah Park Jiyeon-ssi!”

Jiyeon terkekeh mendengar kata-kata Chanyeol yang formal terhadapnya. Matanya kemudian menangkap sosok Myungsoo. Ia baru menyadari akan kehadiran namja itu disana. Jiyeon langsung membungkukkan
tubuhnya.

“Annyeonghasaeyo!” Sapanya.

Myungsoo ikut menunduk. Ia
tersenyum manis kearah Jiyeon.
Untuk pertama kalinya Jiyeon
merasakan jantungnya berdetak
abnormal saat melihat senyum
Myungsoo. Senyuman itu seolah
menjadi sihir. Wajah Jiyeon langsung bersemu merah karenanya. Ia kemudian duduk
dihadapan namja itu.
Chanyeol yang melihat keduanya
hanya tersenyun. Ia pun ikut
kembali duduk.

“Kya! Kya! Kya! Apa aku mengganggu kalian, eoh?” Goda Chanyeol.

“Ani.” Jawab Jiyeon dan Myungsoo bersamaan.

“Sudah kuduga. Kalian berdua
benar-benar sangat cocok!”
Tambahnya.

Ketiganyapun mengobrol bersama. Menceritakan saat Chanyeol dan Jiyeon masih tinggal bersama di Daegu sebelum kedua orang tua
mereka bercerai. Begitupula
menceritakan bagaimana kehidupan Chanyeol dan juga Myungsoo sebagai saudara tiri. Atmosfer disana mulai
mencair. Terkadang ketiganya
tertawa saat salah satu dari mereka menceritakan beberapa lelucon kecil.

“Oppa, aku harus kembali ke hotel. Malam ini kami akan kembali ke Daegu!” Ucap Jiyeon. Ia memang ke Seoul hanya untuk berkunjung satu hari ke Namsan Tower sebagai
hadiah dari yayasan karena ia
mendapat nilai paling tinggi.

“Kau tidak ingin bertemu dengan
eomma? Tinggallah sehari lagi! Oppa akan mengantarkanmu pulang kembali ke Daegu nantinya!” Tawar Chanyeol.

“Mianhae, oppa! Aku tidak bisa.
Mereka pasti sudah menungguku
saat ini.”
Jiyeon, Saat teman-temannya pergi ke Namsan Tower, ia memutuskan untuk bertemu dengan oppanya itu.

“Oppa akan mengantarmu sampai halte!” Ucap Chanyeol seraya ikut bangkit bersama Jiyeon dari kursi mereka.

“Aku benar-benar iri padamu, Jiyeon-ah! Chanyeol hyung begitu perhatian padamu! Bahkan ia rela mengantarmu ke halte padahal haltenya tepat berada didepan cafe ini.” Ejek Myungsoo dan berhasil
membuat Jiyeon tertawa.

“Kya! Apa kau cemburu, Kim
Myunsoo-ssi? Aissh, aku bahkan
sudah sering melakukan hal manis dan romantis terhadapmu! Aku hanya membantunya menyeberang.
Jangan terlalu cemburu!” Balas
Chanyeol dengan nada lucunya.

“Mwoya?” Protes Myungsoo dan
Jiyeon terus tertawa melihat tingkah 2 namja itu.
Sungguh hari ini begitu indah
karena dapat bertemu dengan
oppanya dan juga Kim Myungsoo.

“Kajja!” Ajak Chanyeol pada Jiyeon.

“Annyeong, Myungsoo-ah! Kuharap kita dapat bertemu kembali!” Ucap Jiyeon seraya tersenyum manis.

“Tentu saja!” Jawab Myungsoo
membalas senyum Jiyeon.

“Kajja! Kajja! Kajja! Kajja!” Ajak
Chanyeol menarik lengan Jiyeon.

Myungsoo terus memperhatikan
kepergian keduanya. Ia melihat dari kaca caffe Chanyeol yang tengah membantu Jiyeon menyeberangi jalan menuju
halte yang ada diseberang caffe.
Ia terus tersenyum memandangi dua kakak beradik itu. Chanyeol bagaikan
seorang malaikat baginya.
Ia kemudian mengalihkan
pandangannya pada secangkir coffe yang ada dihadapannya. Ia
kemudian mengambil dan
meminumnya. Matanya menangkap sebuah handphone yang ada didepannya.

“Mungkinkah ini milik Jiyeon?”
Gumam Myungsoo karena
sebelumnya Jiyeonlah yang tepat
duduk dihadapannya.
Myungsoo langsung mengambilnya dan segera keluar dari dalam caffe.

“HYUNG! HANDPHONE JIYEON!”
Teriaknya seraya mengangkat
handphone milik Jiyeon ke udara.

Chanyeol dan Jiyeonpun melihat
kearah Myungsoo yang ada
diseberang sana.
Mata Chanyeol melebar saat sebuah mobil melintas dengan kencang hendak menabrak tubuh Myungsoo yang tengah menyeberang jalan
menyusulnya.

“MYUNGSOO AWAS!” Teriak Chanyeol yang langsung berlari menghampiri Myungsoo dan berusaha mendorong tubuh Myungsoo.

~DUAKKK~

“OPPA!” Teriak Jiyeon saat melihat tubuh Chanyeol terpental. Sedangkan Myungsoo, namja itu selamat.
Ia melihat tubuh Chanyeol yang
terpental cukup jauh. Pandangannya mulai kabur. Darah dari kakinya mulai mengalir karena dorongan
Chanyeol. Ia pun mulai tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
Myungsoo, namja itu terbangun.
Terlihat peluh mengalir dari atas
kepalanya. Kejadian dua tahun lalu kembali menghampiri ingatannya. Nafasnya nampak terlihat terengah seolah ia kembali ketempat kejadian itu.

“Hyung!” Gumamnya.
Ia kemudian menoleh. Menatap
bingkai foto yang sudah baru karena beberapa minggu lalu ia lemparkan dan pecah. Ia memandang dua bocah yang ada dalam foto itu. Fotonya bersama dengan Chanyeol sang hyung tiri. Saat itu ia baru berusia 9 tahun dan Chanyeol berusia 10
tahun. Saat pertama kali Myungsoo mulai menerima kehadiran Chanyeol sebagai hyungnya.

“Mianhae! Mianhae, hyung! Hiks…” Tangis Myungsoo pecah. Sungguh selama dua tahun ini ia begitu menderita. Menderita atas kehilangan Chanyeol.
Menderita atas rasa bersalahnya
yang menyebabkan Chanyeol
meninggal dunia. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia bisa menerima kehadiran seseorang, namun dengan
mudahnya ia mengakibatkan orang itu meninggal dunia. Itu benar-benar menyakitkan hatinya.
.
.
.
.
.
“Kya! Luna-ssi! Apa kau sudah
menemukan keberadaan Jiyeon,
Eoh?” Tanya Minho pada Luna.
Keduanya saat ini tengah berada
dihalaman belakang Hannyoung
High School.

“Belum!”

“Aissh, kemana sebenarnya yeoja itu pergi?” Gumam Minho. Ia jadi sering pergi bersama Luna untuk mencari informasi mengenai keberadaan Jiyeon.

“Bukankah itu Kim Myungsoo!”
Gumamnya saat melihat sosok
Myungsoo yang hendak memasuki ruang latihan basket yang tak jauh dari halaman belakang Hannyoung High School.

“MYUNGSOO-SSI! KIM MYUNGSOO-SSI!” Teriak Minho seraya bangkit dan mengejar Myungsoo. Lunapun mengikuti Minho menghampiri Myungsoo.

“Wae?” Tanya Myungsoo dingin saat Minho tepat dihadapannya.

“Mian karena aku masih belum
menemukan keberadaan Jiyeon-ssi!” Sesal Minho.

Myungsoo merasa apa yang
dikatakan Minho tidaklah penting. Untuk apa namja itu memanggilnya jika belum menemukan Jiyeon?
Minho menahan lengan Myungsoo yang hendak pergi melanjutkan langkahnya.

“Apa Jiyeon-ssi mempunyai musuh?”

“Mwo?”

“Luna-ssi mengatakan bahwa
terakhir kali ia bertemu Jiyeon saat Jiyeon terkurung diperpustakaan!”

“Mwo?” Myungsoo nampak terkejut mendengarnya.

“Ne. Aku bertemu dengannya
didalam perpustakaan yang terkunci. Ia tak sadarkan diri dengan goresan yang ada dilehernya!” Jawab Luna.

“Mworago? Goresan dileher?” Nada suara Myungsoo terdengar lebih tinggi dibanding sebelumnya.

“Ne. Kupikir dia korban pembullyan. Ada kemungkinan Jiyeon-ssi menghilang terkait insiden itu.”

Myungsoo, jamja itu mengepalkan tangannya. Wajahnya benar-benar
menyeramkan saat ini.
Minho dan Luna nampak saling
menoleh dengn takutnya. Apakah mereka berdua telah salah bicara?

“Bae Suzy!” Gumam Myungsoo
mengeraskan rahangnya.

“Ne?” Tanya Minho dan juga Luna
bersamaan.

Myungsoo langsung berjalan cepat meninggalkan keduanya.

“Bae Suzy? Nugu?” Tanya Minho
pada Luna.

“Molla.” Jawab Luna yang sama-sama tidak mengetahuinya.

“Aigoo, apa kita berdua tinggal
dikutub selama ini? Bahkan kita
tidak mengenal banyak orang meski kita satu sekolah dengan mereka!” Tambah Minho prustasi.

Luna hanya memandang kepergian Myungsoo.

~BRAK~

Myungsoo membanting pintu kelas dengan kasarnya membuat emua hagsaeng nampak terkejut karena ulahnya. Myungsoo langsung berjalan kearah
Suzy membuat Suzy nampak begitu ketakutan melihatnya.

“W…..Wae?” Tanya Suzy gugup saat Myungsoo tepat berada
dihadapannya.

Myungsoo, namja itu langsung
menarik kerah seragam Suzy,
membuat seluruh hagsaeng didalam kelas bangkit.
Mereka tidak pernah berfikir bahwa Myungsoo dapat melakukan hal itu. Apalagi terhadap Bae Suzy, tunangannya sendiri.

“Apa yang kau lakukan?” Protes Suzy tak menghilangkan rasa takutnya. Iapun begitu terkejut dengan apa yang Myungsoo lakukan terhadapnya.

“Apa yang sudah kau lakukan
terhadap Jiyeon? Dimana dia?
JAWAB!” Ucap Myungsoo marah.

Suzy, tentu saja ia kesal. Jadi namja itu melakukan hal kasar itu padanya hanya karena Jiyeon?

“Lepaskan!” Perintah Suzy.
Meski ia sudah tau perihal
menghilangnya Jiyeon saat
mendengar percakapan Minho dan juga Luna diperpustakaan, namun ia tidak pernah berfikir bahwa Myungsoo akhirnya menanyakan hal itu padanya. Apalagi dengan cara yang kasar dan tidak pantas seperti ini.

“Dimana dia?” Geram Myungsoo.

“KUBILANG LEPASKAN!” Teriak Suzy.

“Kya! Kya! Kya! Apa yang kau lakukan Kim Myungsoo?” Tanya Kang songsaenim yang datang. Sepertinya ada salah seorang hagsaeng yang memberitahukannya.

“Cepat lepaskan!” Perintahnya pada Myungsoo.

Myungsoo pun berusaha meredakan emosinya. Dengan perlahan ia melepaskan tangannya dari kerah seragam Suzy.

“Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadap Jiyeon, kau orang pertama yang akan kubunuh!” Desisnya pada Suzy.

Suzy, matanya mulai berlinang.
Kejam sekali namja itu mengatakan hal mengerikan seperti itu padanya.
Semua hagsaeng dan juga Kang
songsaenimpun nampak tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Namja dingin itu ternyata mampu mengatakan hal seperti itu hanya karena seorang Park Jiyeon.
.
.
.
.
.
“Hyung, apa kau akan terus
membiarkan ini?” Tanya Kyuhyun
pada Yoochun.

“Menurutmu?” Tanya balik Yoochun terlihat santai.

“Aissh, kenapa kau begitu
menyebalkan? Kau membuat kacau keadaan dibumi!” Kyuhyun nampak prustasi karenanya.

“Mereka akan mengerti bagaimana caranya menghargai setelah mereka kehilangan sesuatu!” Jawab Yoochun bijak.

“Lalu, bagaimana dengan yeoja itu? Sampai kapan ia akan terlelap seperti itu?” Tanya Kyuhyun saat matanya menangkap sosok Jiyeon
yang masih terlelap.

“Sampai dia bersedia!”

“MWO?” Kyuhyun terkejut mendengarnya.

“Dia akan bersedia melakukannya!”

Kyuhyun hanya berdecak kesal
sedangkan Yoochun terus
melebarkan senyum hangatnya.
.
.
.
.
.
“Apa alasanmu ingin berhenti,
Yunho-ssi?” Tanya Kahi pada Yunho yang sudah bekerja dengannya sejak ia menikah dengan Jaejoong.

“Mianhae, nyonya! Jeongmal
mianhae! Aku tidak bisa berhenti
memimpikan Jiyeon agasshi. Aku
benar-benar merasa bersalah karena telah melakukannya. Mianhae!” Jawabnya seraya bersimpuh tepat dihadapan meja kerja Kahi.

Kahi langsung memandang kaca
jendela yang ada disana. Menatap kosong pemandangan yang ada dibawah gedung perusahaan Kim.
Jiyeon, ia telah menghilangkan
nyawa putri kandungnya sendiri.
Putri yang begitu ia sia-siakan demi memenuhi ambisinya.
Kejadian dua tahun lalu terulang
lagi. Dan ia kembali melakukan hal yang sama.

~FlashBack On~

“Kim Myungsoo, benarkah ia datang ketempat itu?” Tanya Kahi pada seseorang yang ada diseberang sana. Saat ini ia tengah menerima sebuah
panggilan telepon. Matanya melebar saat menemukan
sosok Myungsoo yang tengah
menyeberangi jalan didepan sana. Ia tersenyum miring. Ini
keberuntungan baginya.
Ia yang tengah berada didalam mobil mulai melajukan mobilnya dengan lebih cepat.

“Kim Myungsoo, sepertinya hari ini kau akan bertemu dengan eomma dan appamu!” Gumamnya penuh kemenangan.

“Park Chanyeol, dialah yang akan
menggantikanmu menjadi pewaris Kim.” Tambahnya seraya menambahkan kecepatan mobilnya.

Chanyeol melebarkan matanya saat melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan abnormal ke arah Myungsoo.

“Eomma!” Batinnya saat menyadari sosok Kahilah yang mengendarai mobil itu.

~DUAKK~

Kahi langsung melajukan kembali
mobilnya saat ia merasa telah
berhasil membanting tubuh
Myungsoo menggunakan mobilnya.
Yeoja itu tertawa terbahak didalam mobil yang ia kendarai tanpa ia ketahui siapa sosok yang sebenarnya ia tabrak.

“Kim Myungsoo, kau harus berterima kasih padaku karena telah membantumu untuk bertemu dengan kedua orangtuamu! Hahaha……” Kahi langsung menuju sebuah tebing. Ditepi tebing tepat ia
letakkan mobilnya itu.

“Aku akan membeli mobil yang lebih mewah lagi setelah ini. Goodbye my car!” Ucapnya seraya mendorong mobilnya.

~DUARRR~

Mobil yang baru saja ia beli itu
meledak saat terjatuh dari atas
tebing. Tentu saja ia lakukan untuk menghilangkan jejak.

~FlashBack Off~

“Aku tak merasakan apapun! Bahkan sebelum aku melakukannya pada Jiyeon, aku pernah melakukan hal yang sama terhadap Chanyeol!” Ucapnya terdengar begitu mengerikan.

Yunho langsung melebarkan matanya saat mendengar kenyataan yang diberitahukan Kahi padanya.
Jadi, tuan muda Park Chanyeol meninggal dunia juga karenanya?
Kecelakaan dua tahun lalu itu terjadi karena ulahnya?
Majikannya?

“Awalnya aku sangat kesal karena
telah gagal menyingkirkan
Myungsoo, geundae aku sama sekali tidak menyesal telah kehilangan Chanyeol. Chanyeol hanyalah korban yang tak terduga.” Tambahnya.

Yunho mulai ketakutan. Kahi terlihat seperti monster yang begitu mengerikan. Ia tega
melenyapkan dua orang darah
dagingnya sendiri. Apa mungkin ada korban lain sebelum kedua anaknya itu?

“Kalau kau ingin berhenti, lakukan saja! Tapi aku tidak bisa menjamin kau dan keluargamu akan selamat setelah ini!”

Yunho menelan salivanya sendiri. Ia sudah salah karena telah bekerja dengan sosok monster seperti Kahi.
Keringat mulai memenuhi tubuhnya. Tubuhnya tampak bergetar ketakutan. Bukan
hanya nyawanya, bahkan nyawa
keluarganyapun ikut terancam.
.
.
.
.
.
Kim Myungsoo, namja itu begitu
prustasi. Ia begitu merindukan sosok Jiyeon.

“Park Jiyeon, jigeum eodiyeyo?
Jigeum jaljinaeyo? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu!” Gumamnya saat berada dihalaman belakang kediamannya, tempat biasa ia
melukis dan selalu ditemani Jiyeon. Matanya memandang sebuah lukisan yang beberapa waktu lalu ia lukis. Lukisan wajah seorang Park Jiyeon yang tengah
terlelap. Tangannya bergerak
menyentuh lukisan itu. Menyentuhnya seolah-olah ia tengah menyentuh yeoja itu secara nyata. Matanya terpejam. Air matanya mulai mengalir.

“Nan bhogosippo!” Lirihnya.
.
.
.
.
.
“Hyung?” Ucap Kyuhyun yang
melihat keadaan Myungsoo yang
begitu menyedihkan.

“Mereka berdua adalah kunci.
Bagaikan sebuah pintu yang
tertutup beratus-ratus tahun dan
mereka berdualah yang dapat
membukanya. Dua orang yang
memiliki ikatan. Dua orang yang
mampu membuka gerbang neraka bagi mereka para penghuninya. Mereka berdualah yang akan menjawabnya.” Timpal Yoochun membuat Kyuhyun kembali berdecak kesal.
Selalu saja ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan Yoochun padanya.
.
.
.
.
.
“Kalian sudah menemukannya
kembali?” Tanya Bae Soo Bin pada ketiga namja yang ada
dihadapannya.

“Ne. Saat ini dia dalam perjalanan menuju kesini!” Jawab salah seorang dari mereka.

“Akhirnya! Hanya inilah cara yang
tepat untuk mendapatkan posisi
itu.” Gumamnya.

“Bawa dia kesini!” Perintahnya.

“Ne!” Jawab ketiganya yang kemudian keluar dari dalam ruangan Bae Soo Bin.

Bae Soo Bin, ia adalah salah satu
pemilik saham yang ada
diperusahaan Kim. Hanya saja, ia
tidak dapat mengambil alih
perusahaan itu karena ia kurang
kuat. Keturunan lebih berpengaruh dalam kalangan Chaebol.

“Suzy chagi, kau tidak perlu menikah dengan Kim Myungsoo lagi! Namja itu kini sudah tidak berguna!” Gumamnya seraya tersenyum tipis.

~Tok-Tok-Tok~

Terdengar suara ketukan pintu. Soo Bin langsung berteriak mengijinkan seseorang yang entah siapa ada di luar sana untuk masuk ke dalam.
Terlihat 3 orang yang baru saja keluar dari ruangannya itu kembali menghadapnya.

“Kami sudah membawanya, tuan!” Lapor salah satu dari mereka.

Soo Bin pun bangkit dari kursinya.
Nampak seorang namja tinggi,
Berkulit putih dan bertubuh kurus berjalan menghadapnya. Namja itu benar-benar tampan.
Soo Bin tersenyum senang
melihatnya. Namja tinggi itu benar-benar tak kalah tampan dari Kim Hyun Joong yang tak lain adalah appa sang namja.

“Wu Yi Fan?”

Namja bernama Wu Yi Fan itu
langsung menunduk memberikan hormat pada Bae Soo Bin.

“Annyeonghasaeyo!” Sapanya seraya memberikan senyum mautnya pada Soo Bin.
.
.
.
.
.
Jiyeon, matanya perlahan terbuka. Ia merasa aneh dengan keadaannya saat ini. Ia bangkit dan memandang sekitarnya. Pemandangan yang begitu indah. Dimana dia?

“Hyung, dia terbangun!” Ucap
Kyuhyun saat melihat Jiyeon yang sudah tersadar dari tidur
panjangnya.

“Aigoo, akhirnya kau terbangun
juga!” Tambah Kyuhyun
menghampiri Jiyeon membuat
Jiyeon semakin heran saat melihat sosok namja yang menghampirinya itu. Pakaian yang namja itu kenakan
begitu terlihat aneh. Semua
didominasi dengan warna putih.

“Dangshineun, nuguyeyo?” Tanyanya pada Kyuhyun.

“Aigoo, suaranya terdengar begitu indah. Hyung, apa kini dia sudah menjadi dewa seperti kita?” Tanya Kyuhyun.

Jiyeon memandang sosok namja yang membelakanginya. Ia tak dapat melihat wajahnya. Pakaiannya serupa dengan yang dikenakan Kyuhyun.

“Dia sudah bersedia!” Jawab
Yoochun masih belum membalikkan tubuhnya.

“Eoh, kau benar hyung! Diakah yang membuat yeoja ini terbangun?” Tanya Kyuhyun mengingat ucapan Yoochun beberapa waktu lalu.

Jiyeon nampak bingung. Sebenarnya dia dimana?
Siapa kedua namja yang
berpakaian aneh itu?
Jiyeon melebarkan matanya saat
melihat sosok Yoochun yang
membalikkan tubuhnya membuat Jiyeon dapat melihat wajahnya.

“A…..Appa?”

“Mwo?” Tanya Kyuhyun yang
mendengar Jiyeon memanggil
Yoochun dengan sebutan appa.

“Appa?” Tambah Jiyeon memastikan.

Yoochun tersenyum manis pada
Jiyeon.
.
.
.
.
.
Bagaimana kelanjutan kisah
MyungYeon ini?
Dapatkah Myungsoo bertemu dengan Jiyeon kembali?
Nantikan next partnya!
Jangan lupa berikan kritik dan
sarannya!
Coment Jusaeyo!

FF MyungYeon (Myungsoo Jiyeon) Part 2

image

             MAKING LOVE
                        (part 2)

Author:
Erni Eyexs

Twitter:
@ernieyex

Instagram:
@erni_eyexs

Main Cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Myungsoo  aka L (Infinite)

Other Cast :
Bae Suzy (Miss A)
Kahi (After School)
Choi Minho (SHINee)
Park Chanyeol (EXO)
Luna ( Fx )
Kyuhyun (Super Junior)
Park Yoochun ( JYJ )
Jung Yunho ( TVXQ )

Songfict :
Taeyang ft GD Stay With Me

Genre :
Fantasy, Bromance, School life,Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N : Baru beres buka puasa nih, author langsung publish Part 2. Pernah author publish ditanggal 30 Juni 2014 silam. Semoga part ini tidak mengecewakan.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Terdengar suara sirine ambulance menghiasi jalanan kota Seoul.

“Oppa, ireona! Hiks…” Tangis seorang yeoja muda berambut ikal pecah. Saat ini ia tengah berada didalam sebuah ambulance yang membawa seorang namja muda yang tengah terluka cukup parah.

“Ji…..Jiyeon-ah!” Ucap sang namja dengan lemahnya. Ia berusaha membuka matanya.

“Oppa, hiks… Chanyeol oppa!” Balas sang yeoja bernama Jiyeon itu pada namja bernama Chanyeol yang tengah terkapar tak berdaya dihadapannya.

“Myungsoo, Myungsoo eodie?” Tanya Chanyeol.

“Hiks…” Jiyeon semakin terisak. Bagaimana bisa namja yang tengah sekarat itu malah menanyakan orang lain?

“Myungsoo, ia harus selamat!”
Tambah Chanyeol.

“Oppa, geumanhae! Hiks…” Balas Jiyeon yang terus saja menangis.

“Jiyeon-ah, jebal! Bantulah dia! Dia harus selamat! Dia tidak boleh meninggal!”

“OPPA, GEUMANHAE! KENAPA KAU HARUS MEMPERDULIKANNYA DISAAT
KAU SENDIRIPUN BELUM TENTU
SELAMAT!” Teriak Jiyeon histeris.
Para petugas medis yang ada
didalam ambulance hanya terdiam.
Setidaknya ini baik bagi Chanyeol
agar namja itu tidak kehilangan
kesadarannya.

Chanyeol, namja itu terlihat berusaha menggerakkan tangannya untuk menggenggam erat tangan Jiyeon.

Jiyeon hanya memalingkan wajahnya. Keadaan Chanyeol saat ini benar-benar menyedihkan.

“Jiyeon-ah! Ini permintaan oppa
untuk terakhir kalinya. Jebal!
Apapun yang terjadi, kau harus membantu Myungsoo!” Mohon Chanyeol seraya menggenggam erat jemari Jiyeon.

“Hiks…” Jiyeon terus terisak.
Matanya melebar saat secara
perlahan genggaman tangan
Chanyeol terlepas. Ia langsung
kembali menoleh ke arah Chanyeol.

“OPPA! OPPA!” Teriaknya saat
melihat kedua mata Chanyeol kembali tertutup.
.
.
.
.
.
“OPPA! OPPA!”

“Jiyeon-ssi! Jiyeon-ssi, ireona!” Ucap seorang hagsaeng yeoja bername tag Luna mencoba membangunkan Jiyeon.

Jiyeon, yeoja itu akhirnya
membukakan matanya setelah tak sadarkan diri selama beberapa jam. Airmatanya mengalir begitu saja.

“Hiks…” Mendengar Yeoja itu terisak, Luna tampak bingung melihatnya.

“Kya! Waegeurae? Apa sangat sakit? Aku sudah menghentikan alirah darah dilehermu itu. Aku juga sudah menutup lukanya. Apa masih terasa sakit?” Tanya Luna panik.

Jiyeon tak menjawab. Ia terus saja menangis.

“Hiks…”

Kenapa kejadian 2 tahun lalu kembali menghampiri ingatannya?
Itu begitu menyakitkan.
.
.
.
.
.
“Kau yakin kau tidak apa-apa?” Tanya Luna saat Jiyeon hendak pulang kembali kerumahnya.

“Eum!” Jawab Jiyeon seraya
menganggukkan kepalanya.
Setelah dirasa ia sudah tenang,
yeoja itupun memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.

“Jiyeon-ssi, aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi padamu. Geundae, aku benar-benar sangat khawatir
saat melihatmu tak sadarkan diri didalam perpustakaan dengan goresan yang ada pada lehermu itu. Apalagi aku melihat darah itu terus menerus mengalir.
Apa kau korban pembullyan, eoh? Aigoo, itu benar-benar mengerikan. Itu sebabnya aku tidak suka bergaul dengan siapapun. Aku tidak mau
terlibat dengan hal apapun. Aku
hanya ingin cepat lulus dari sekolah ini.” Ucap Luna panjang lebar.

Jiyeon hanya terdiam.
Mereka berdua saat ini tengah
berjalan melewati gerbang sekolah.

“Untung saja hari ini aku
meninggalkan bukuku didalam
perpustakaan dan kembali lagi ke sana. Coba kalau aku tidak datang, entah apa yang akan terjadi padamu nanti didalam perpustakaan yang terkunci.” Tambah Luna. Sepertinya yeoja itu suka sekali berbicara.

“Ini terasa aneh. Aku ini adalah
sosok yeoja pendiam dan tak suka banyak bicara pada siapapun, geundae saat bersamamu yang sama-sama pendiam, rasanya mulutku ini
ingin terus berbicara. Hahaha…. Aneh bukan?” Ucapnya seraya tertawa berusaha mencairkan suasana yang terasa begitu kaku. Sedangkan Jiyeon, yeoja itu terus saja terdiam.

“Eoh, naneun Luna imnida. Kurasa kau sudah tau karena tertera dengan jelas pada name tag ku.” Tambah Luna memperkenalkan diri.

“Kuharap untuk kedepannya kau
tidak berhubungan lagi dengan para pembully itu! Jangan pernah berurusan dengan para pembully itu! Para pembully itu lebih mengerikan dari pada saat kau mendapatkan nilai nol. Saat kau mendapatkan nilai nol, kau masih bisa memperbaikinya lagi.
Namun jika kau dibully, para
pembully itu akan terus menerus melakukannya. Tidak akan pernah merasa puas. Menyiksa seseorang membuat mereka merasa senang. Itu sudah menjadi candu bagi
mereka.”

Jiyeon mulai memikirkan ucapan
Luna.
Benar yang dikatakan Luna.
Suzy tidak akan pernah berhenti
mengganggunya.
Kemudian ia teringat akan perkataan Suzy didalam perpustakaan.

~Flash Back On~

Suzy langsung menarik tubuh Jiyeon dan mendorongnya hingga tersungkur.

~BRUK~

“Ini hanya awal, Park Jiyeon-ssi!”
Ucap Suzy mengerikan.

“Kajja!” Ajaknya pada Krystal.
Mereka berduapun langsung keluar dari dalam perpustakaan.

~Flash Back Off~

“Baiklah, Jiyeon-ssi! Kurasa kita
harus berpisah disini!” Ucap Luna yang memang berbeda arah pulang dengan Jiyeon.

“Annyeonghasaeyo!” Ucap Luna
seraya membungkukkan tubuhnya. Ia pun mulai berjalan pulang.

Jiyeon hanya memandang kepergian Luna.

“LUNA-SSI!” Teriaknya dan berhasil membuat Luna menghentikan langkahnya. Yeoja itupun kembali membalikkan
tubuhnya.

“Eoh?”

Dilihatnya Jiyeon berjalan dengan cepat menghampirinya.

“Luna-ssi, bolehkah aku tinggal
dirumahmu malam ini?” Pinta
Jiyeon memohon.

Luna nampak terlihat terkejut mendengar permintaan Jiyeon. Mereka berdua baru kenal. Tapi seolah ada sesuatu dalam diri Jiyeon yang membuat Luna
ingin menolongnya.
Lunapun hanya dapat menghembuskan nafasnya.

“Geurae! Kajja!” Ucap Luna seraya menggandeng lengan Jiyeon.

“Gomawo.”

“Ne?”

“Gomawo karena sudah menolongku dan mengijinkanku tinggal dirumahmu!” Lanjut Jiyeon.

“Eum! Kau tidak perlu sungkan.
Kurasa kita bisa menjadi teman baik mulai sekarang!”
Keduanyapun tersenyum senang.
.
.
.
.
.
“Jiyeon eodie?” Tanya Myungsoo
pada para pelayan yang saat ini tengah berada didalam kamarnya. Semua pelayan yang Myungsoo panggil untuk menghadapnya hanya terdiam seraya menunduk. Mereka
tidak menjawab apapun mengenai pertanyaan yang Myungsoo pertanyakan itu.

“EODIE?” Teriak Myungsoo kesal.
Bagaimana namja itu tidak kesal,
dalam satu bulan ia harus berada
dirumah sakit berulang kali. Harus merasakan sakit yang tak
tertahankan.
Harus tak sadarkan diri selama berhari-hari.
Kini, setelah ia kembali ke rumah, ia tak menemukan
Jiyeon disana. Yeoja itu seolah
menghilang. Sejak dibawanya ia
kerumah sakit, yeoja itu tak pernah sekalipun muncul. Bahkan disekolahpun ia tak pernah datang.
Kemana sebenarnya yeoja itu? Geram Myungsoo.
.
.
.
.
.

“Ini aneh nyonya, penyakit Myungsoo tiba-tiba saja menghilang. Saat terakhir kali dia koma, kami tak menemukan sedikitpun penyakit dalam tubuhnya. Coba anda lihat
hasil pemeriksaan terakhirnya ini!” Ucap sang uisa pada Kahi.

Kahi, ia menerima sebuah kertas
berisikan hasil pemeriksaan
kesehatan Myungsoo. Disana tertera dengan jelas bahwa Myungsoo negatif menderita penyakit Bleed Disorder
maupun Hemofilia.
Setelah dokter mengijinkan
Myungsoo untuk pulang, ia langsung memanggil Kahi sang eomma untuk memberitahukan mengenai keganjilan penyakit yang diderita Myungsoo
sejak kecil yang dengan anehnya tiba-tiba menghilang begitu saja.

“Kami akan memanggil Myungsoo kembali untuk pemeriksaan ulang. Kami khawatir alat yang ada dirumah
sakit ini sudah tidak berfungsi
dengan baik lagi. Minggu depan
kami akan mendatangkan alat
pemeriksaan dari Kanada. Setelah itu, baru kami dapat memutuskan apakah Myungsoo benar-benar sudah sembuh atau belum.”

“Ne. Algesumnida. Geundae……”
Kahi mulai mendekatkan wajahnya kehadapan sang uisa.

“Bisakah uisa merahasiakan semua ini? Termasuk pada Myungsoo!” Lanjut Kahi seraya mengecilkan volume suaranya.

“Dan tidak perlu melakukan
pemeriksaan ulang!” Tambahnya
seraya memberikan sebuah cek dengan banyak nominal di sana.

“M….Mwo?” Tanya sang uisa gugup.

Kahipun memundurkan kembali
wajahnya.

“Aku akan memberikan lebih dari ini jika uisa merasa ini tidak cukup!” Jawab Kahi.

Sang uisa secara perlahan mulai
mengerjapkan matanya seraya
bersusah payah untuk menelan
salivanya sendiri.
.
.
.
.
.
“MYUNGSOO-SSI!” Panggil seorang namja yang berseragam sama dengan Myungsoo.
Myungsoo yang tengah berjalan
menuju kelasnyapun menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia menolehkan wajahnya dan melihat
ternyata sosok Minho lah yang
tengah berjalan cepat kearahnya.

“Eotteokhae jinaesseoyo?” Tanya
Minho saat tiba dihadapan
Myungsoo. Nafasnya terengah karena mengejar langkah Myungsoo.

“Mwo?” Tanya Myungsoo heran.
Untuk apa namja itu menanyakan keadaannya? Mereka bahkan tidak saling
mengenal dengan baik.

“Mianhae. Mianhae karena telah
membuatmu berbaring dirumah
sakit. Aku benar-benar tidak tau
kalau kau sedang sakit. Mianhae!” Jawab Minho merasa bersalah.

Myungsoo merasa malas
berhubungan dengan namja
bernama Minho itu. Ia tak
menanggapi permintaan maaf
Minho. Namja itu malah kembali
melanjutkan langkahnya.

“Myungsoo-ssi, aku akan menebus kesalahanku. Kau boleh melakukan apapun padaku!” Tambah Minho dan
berhasil membuat Myungsoo
menghentikan langkahnya.
Namja dingin itu kembali menoleh kearah Minho.

“Jiyeon.”

“Ne?”

“Park Jiyeon. Bisakah kau
menemukannya?”

Minho terlihat tengah berfikir.
Jiyeon?
Mungkinkah yeoja itu yang
bersama Myungsoo saat didalam
tempat latihan basket?

“Eoh, aku akan menemukannya
untukmu. Geundae, bisakah kau
memberikan fotonya padaku? Aku benar-benar tidak ingat dengan wajahnya karena kami hanya pernah bertemu sekali.
Kau tau bukan, aku ini kapten
basket. Jadi yang kuingat hanyalah bentuk bola. Hahaha….” Ucap Minho berusaha lebih akrab lagi dengan Myungsoo. Namun sepertinya Myungsoo tidak merasa tertarik. Namja dingin itu kembali
meninggalkan Minho sehingga
membuat Minho berdecak kesal.

“Kenapa namja itu begitu sulit untuk didekati?” Gumamnya.

“Geundae, untuk apa dia mencari yeoja bernama Park Jiyeon itu? Apa yeoja itu menghilang? Aissh….” Ucap Minho seraya mengacak
rambutnya prustasi.

“Ini karena aku terlalu sibuk dengan bola basket. Aku bahkan tak mengenal mereka berdua. Hachiman, kenapa aku begitu tertarik dengan keduanya? Aigoo, ada apa denganmu
Choi Minho!” Gumamnya semakin prustasi.

“Geundae, penyakit apa yang
diderita si Myungsoo itu? Aku
bahkan tidak menyentuhnya. Kenapa ia langsung terjatuh bahkan sampai harus dirawat dirumah sakit berhari-hari? Kurasa tak ada sedikitpun luka
ditubuhnya saat kubawa kerumah sakit?” Tambahnya bingung.

“Aissh, kenapa Park Jiyeon dan Kim Myungsoo itu penuh dengan
misteri? Aigoo, aku bahkan bukan teman mereka, tapi begitu pusing memikirkan keduanya.” Minhopun
mulai berjalan menuju kelasnya.
.
.
.
.
.
Myungsoo, namja itu hanya terdiam seperti biasanya didalam kelas. Hanya saja, matanya terus menatap
kursi kosong yang ada dihadapannya itu.
Jiyeon.
Itu adalah kursi yang
biasa Jiyeon tempati.
Kemana sebenarnya yeoja itu?

“Kudengar kau masuk rumah sakit? Jeongmalyo? Kenapa tidak
memberitahuku, eoh?” Ucap Suzy yang datang menghampiri
Myungsoo.
Myungsoo tak menjawabnya. Yeoja itu kemudian mengikuti kemana arah mata Myungsoo. Ia nampak kesal saat mengetahui bahwa yang ditatap Myungsoo adalah kursi yang biasa ditempati Jiyeon. Yeoja itu tampak berdecak kesal. Ia memandang sinis kursi itu seolah memandang sosok
Jiyeon disana.

“Kemana pembantumu itu, eoh?
Biasanya dimanapun kau berada dia juga selalu ikut bersamamu!” Sindir Suzy dan sukses membuat Myungsoo
menatapnya tajam.

Suzy mengerjapkan matanya saat
Myungsoo menatapnya seperti itu. Yeoja itu terlihat takut melihatnya.

“Dia bukanlah pembantu! Kau
dengar?”

Suzy hanya menganggukkan
kepalanya sebelum ia mati oleh
tatapan Myungsoo yang begitu tajam padanya.
.
.
.
.
.
Kahi, ia terlihat tengah duduk
diruang kerjanya. Tepat diatas
mejanya tertuliskan sebuah name tag Director tertata disana.
Kahi, setelah Jaejoong meninggal, ialah yang menggantikan posisi Direktur disebuah perusahaan milik
keluarga Kim. Kahi sangat beruntung karena bisa
menikah dengan putera Sulung dari keluarga Kim.

~FlashBack On~

“Nyonya, kudengar jajaran direksi tengah melakukan rapat
tersembunyi didaerah Suwon!” Ucap seorang namja bertuxedo rapih saat memasuki ruangan Kahi.

“Apa kau tau apa yang sedang
mereka rencanakan, Yunho-ssi?”
Tanya Kahi.

“Kudengar dari salah satu staff,
mereka tengah membicarakan
mengenai pergeseran kedudukan CEO. Setelah tuan besar Kim Heechul menyerahkan sepenuhnya aset
perusahaan pada tuan muda Kim
Jaejoong dan tuan muda meninggal, kedudukan CEO jadi terlalu lama dikosongkan.” Jawab namja bernama
Yunho itu.

“Bukankah Myungsoo pemilik sah perusahaan ini?”

“Tuan muda Myungsoo masih terlalu muda dan mereka berfikir bahwa itu sangat terlalu lama. Kudengar mereka tengah mengajukan putera dari anak bungsu tuan Kim Heechul.”

“Anak Bungsu? Apa maksudmu Kim Hyun Joong? Bukankah dia juga sudah meninggal bahkan sebelum Jaejoong meninggal?”
Kahi mengerutkan keningnya heran.

“Mereka menemukan anak kandung dari tuan muda HyunJoong. Ternyata sebelum tuan muda HyunJoong meninggal dunia, ia telah menjalin hubungan dengan seorang yeoja asal China.” Tambahnya.

Kim Heechul, ia adalah seorang
konglomerat pemilik berbagai
department store terkenal di Korea. Ia memiliki 2 orang putera. Namun sayang, putra keduanya yang bernama Kim Hyunjoong meninggal dunia saat berusia 25 tahun karena
kecelakaan mobil didaerah
Gangnam. Kim Jaejoong putera sulung dari keluarga Kim yang usianya memang tidak jauh berbeda dengan Hyunjoongpun satu tahun kemudian dijodohkan dengan seorang yeoja dari keluarga Choi bernama Choi
Gina Jane dan mendapatkan seorang putera yang diberi nama Kim Myungsoo.
Namun sayang, CHoi Gina meninggal dunia setelah melahirkan Myungsoo. Dan
dokterpun mengatakan bahwa
Myungsoo mengidap penyakit yang sama dengan Choi Gina yakni Bleed Disorder dan Hemofilia. Beberapa tahun kemudian, Kim Jaejoong pun menikah dengan Kahi.

“Jadi, menurutmu Myungsoo tidak berguna lagi?”

“Eum. Sudah dipastikan bahwa tuan muda Kim Myungsoo tidak akan memenangkan pertarungan ini.”

“Geurae, segera bunuh Park Jiyeon!”

“Ne?”

“Park Jiyeon. Bunuh dia!” Ulang Kahi tajam.

“Apa aku tidak salah dengar nyonya? Dia itu adalah puterimu. Bagaimana bisa aku membunuhnya?” Yunho nampak tak percaya saat mendengarnya.

“Lakukan saja! Jangan tinggalkan
jejak sedikitpun! Kalau aku tidak
bisa mendapatkan posisi itu, maka Myungsoo pun sudah tidak berguna lagi.”

“Ne, algesumnida!” Jawabnya seraya membungkukkan tubuhnya kemudian keluar dari ruang kerja Kahi.

“Kim Myungsoo, aku sudah tidak
membutuhkannya lagi!” Gumamnya tersenyum keji.

Kahi, tentu saja yang akan ia
singkirkan adalah Jiyeon, karena
dengan melukai yeoja itu, Myungsoo pun akan terluka.
Ia tidak mungkin melukai Myungsoo secara langsung. Keanehan itu terjadi saat dua tahun lalu. Jika Jiyeon terluka, maka Myungsoo lah yang akan terkena efeknya.
Maka dari itu, Myungsoo menjaga Jiyeon untuk
dirinya sendiri.

~FlashBack Off~

“Kim Myungsoo, bagaimana bisa ia baik-baik saja setelah Jiyeon
dibunuh? Bahkan penyakitnya hilang begitu saja. Apakah membunuh Jiyeon merupakan suatu kesalahan? Myungsoo, namja itu begitu beruntung.” Gumam Kahi.
.
.
.
.
.
“Kenapa yeoja itu begitu jahat? Apa manusia bumi memang ditakdirkan memiliki sifat seperti itu?” Tanya seorang namja muda pada namja yang ada disampingnya saat ini.

“Tidak semuanya. Hanya sebagian dari mereka memiliki perasaan yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka dapatkan saat ini.”

“Aigoo, mereka benar-benar
mengerikan!”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, Kyuhyun-ssi! Sebagai seorang dewa, kau tidak boleh ikut campur dengan kehidupan mereka para manusia.”

“Mwo? Tidak boleh ikut campur? Kya Yoochun hyung, lalu bagaimana denganmu yang menyuruhku untuk membantu yeoja itu eoh?” Timpal namja bernama Kyuhyun seraya
mengarahkan dagunya pada seorang yeoja yang tengah terlelap diatas hamparan rumput hijau. Yeoja itu nampak memperlihatkan wajah damainya saat terlelap.

Namja bernama Yoochun pun
menoleh ke arah yeoja itu.

~FlashBack On~

“Luna-ssi, bolehkah aku meminjam uangmu? Ada beberapa benda yang ingin kubeli di minimarket! Aku akan
menggantinya saat aku kembali
kerumah nanti!” Ucap Jiyeon saat
tiba dikediaman keluarga Luna.

“Eoh? Kau tidak perlu menggantinya! Pakailah!” Jawab Luna seraya menyerahkan beberapa lembar won pada Jiyeon.

“Kau ingat jalan kembali kesini?
Atau, apa perlu ku antar?” Tawar Luna berbaik hati.

“Ani. Aku mengingatnya. Jaraknya tak begitu jauh dari sini. Saat dalam perjalanan, bukankah kita melewatinya! Aku akan baik-baik saja!” Jiyeon meyakinkan.

“Baiklah kalau begitu!”

Jiyeonpun keluar dari kediaman
keluarga Luna. Ia berjalan melewati beberapa rumah untuk sampai di minimarket.

“Apa Myungsoo baik-baik saja? Dia pasti sedang dirawat dirumah sakit saat ini!” Gumamnya yang merasa
khawatir dengan keadaan Myungsoo, namun ia seolah ingin bersembunyi. Ingin menghilang dari pandangan
Myungsoo. Ia merasa bersalah
karena tidak dapat menjaga dirinya dengan baik dan mengakibatkan Myungsoo terluka.

“Bukankah itu Park Jiyeon agasshi?” Tanya seorang namja yang beberapa jam lalu menemui Kahi.

“Sedang apa dia berada disana?
Bukankah tuan muda Kim Myungsoo berada dirumah sakit?” Gumamnya.
Ia yang tengah mengendarai
mobilpun mulai menepikan
mobilnya. Ia keluar dari dalam mobil dan mulai mengikuti Jiyeon. Dilihatnya yeoja itu memasuki sebuah minimarket.

“Apakah aku harus melakukannya? Yeoja itu benar-benar mengerikan! Bahkan ia tega ingin menghabisi nyawa puteri kandungnya sendiri. Tapi kalau aku tidak melakukannya,
Maka akulah yang akan dihabisi
olehnya!” Ucapnya seraya
mengeluarkan sebuah senjata dari dalam saku tuxedonya. Ia memang selalu membawa benda berbahaya itu.

Tak lama, Jiyeonpun keluar dari
dalam minimarket dan berjalan
kembali menuju kekediaman
keluarga Luna. Namja itu mengikuti Jiyeon. Hingga tiba saat mereka berdua melewati tempat yang sepi, Jiyeon mulai mempercepat langkahnya saat
menyadari bahwa ada seseorang
yang mengikutinya.
Namja itupun ikut mempercepat
langkahnya berusaha mengejar
Jiyeon. Tak ada seorangpun disana. Sepertinya waktunya sangat tidak tepat untuk Jiyeon. Yeoja itu benar-benar dalam bahaya saat ini.

“JIYEON AGASSHI!” Teriak sang namja dan berhasil menghentikan langkah Jiyeon.
Jiyeon mengenal dengan jelas suara itu. Iapun membalikkan tubuhnya. Dilihatnya namja itu menodongkan sebuah pistol tepat kearahnya. Namun sayang, Jiyeon tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

“Ahjussi, kaukah itu?” Tebak Jiyeon.

“Mianhae!” Jawabnya yang kemudian melepaskan peluru tepat mengenai dada Jiyeon.

~DORR~

Jiyeon langsung ambruk.
Namja itupun mulai pergi
meninggalkan Jiyeon yang tak
sadarkan diri disana.

“Mianhae! Mianhae Jiyeon agasshi!” Gumamnya merasa bersalah.

~FlashBack Off~

“Kau menyuruhku untuk
membawanya kesini! Kalau sampai dewa besar tau kita membawa manusia kesini, habislah kita! Kita akan diusir dari sini! Atau bahkan kita akan langsung dilempar ke neraka!” Tambah namja bernama
Kyuhyun.

“Ada suatu hal yang ingin kupenuhi. Yakni janji kepada seseorang.”

“Mwo? Apa maksudmu janji pada
manusia 2 tahun silam, eoh?” Tebak Kyuhyun yang sepertinya tepat sasaran.

“Ne. Aku tak bermaksud mengubah takdir. Aku hanya ingin memberikan sebuah bukti bahwa tidak semua takdir itu benar.”

“Aku benar-benar tidak mengerti, hyung! Para manusia sudah diberikan takdir kehidupan mereka sejak lahir, untuk apa kita bersusah payah membantu mereka untuk
mengubahnya?” Protes Kyuhyun tak mengerti.

“Karena ada suatu alasan! Alasan
yang bahkan para dewapun tidak
akan mengerti!” Jawabnya seraya
memandang Jiyeon yang masih
memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
Myungsoo, namja itu begitu prustasi karena hingga detik ini ia belum menemukan keberadaan Jiyeon.

“Apa yang kau fikirkan?” Tanya Kahi saat memasuki kamar Myungsoo.

“Jiyeon. Apa masih belum ada kabar darinya?”

Kahi hanya menggelengkan
kepalanya sebagai jawaban.

“Aneh, kenapa kau terlihat sama
sekali tidak mengkhawatirkannya? Bukankah dia puteri kandungmu?” Tanya Myungsoo curiga.

“Apa yang bisa kulakukan? Mungkin dia ingin pergi jauh karena takdirnya yang harus selalu berada disampingmu. Mungkin ia merasa bahwa ia ingin bebas seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Dia mungkin sudah lelah selama 2
tahun ini selalu terikat denganmu!” Jawab Kahi yang membuat Myungsoo mulai memikirkan ucapan Kahi yang tak lain adalah ibu tirinya
itu.
Benarkah itu semua?
Benarkah Jiyeon ingin terlepas darinya, mengingat kejadian 2 tahun lalu bukanlah kesalahan yeoja itu. Mengingat bahwa 2 tahun ini ia tak pernah bersikap baik padanya?

“Jiyeon, mungkin ia kembali ke
Daegu.” Ucap Kahi.

Daegu, itu adalah tempat dimana
Jiyeon tinggal sebelum 2 tahun lalu ia tinggal di Seoul bersama
eommanya dan juga Myungsoo.

Jiyeon, saat usianya 9 tahun, kedua orangtuanya bercerai dan ia tinggal bersama appanya di Daegu.

“Dia akan baik-baik saja! Kau tidak perlu mengkhawatirkannya! Jiyeon
akan menjaga tubuhnya dengan
baik! Ia tidak akan mencelakai
tubuhnya sendiri karena itu bisa
berakibat fatal terhadapmu!”
Tambah Kahi.

Myungsoo hanya terdiam. Ia tak
menjawab lagi ucapan Kahi.
Perasaan bersalah mulai tumbuh
dibenaknya. Ia telah mengabaikan yeoja itu, dan kini ia begitu merindukannya. Merindukan sosok yang selama 2 tahun ini selalu berada disisinya, menemaninya.
.
.
.
.
.
“Aissh, bagaimana caraku
menemukan yeoja itu? Aku bahkan lupa dengan wajahnya!” Ucap Minho prustasi.
Saat ini ia tengah berada didalam
perpustakaan sekolah. Tak ada
banyak hagsaeng yang datang
ketempat itu.
Ia memandang sosok yeoja yang
duduk disampingnya seraya
membawa beberapa tumpukan buku.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya
Minho pada yeoja disampingnya itu.

“Eoh, Minho sunbae? Aigoo,
Annyeonghasaeyo!” Sapa sang yeoja saat menyadari bahwa ia duduk tepat disamping Minho seraya menunduk pada namja itu.

“Apa kau mengenalku?”

“Eum, eotteon! Kau ini kapten dari tim basket sekolah kita, Bukan! Aku sangat mengidolakanmu, Minho sunbae!”

“Jeongmalyo?” Tanya Minho terlihat begitu senang.

“Eum.” Jawab sang yeoja
menganggukkan kepalanya.

“Ireumi mwoyeyo?”

“Naneun, Luna imnida. Saya 1 tahun dibawah sunbae. Saya baru kelas 2.” Jawab Luna pada Minho yang memang duduk dikelas 3.

“Annyeong, Luna-ssi! Mulai hari ini kau resmi menjadi fansku!”

“Mwo?”

“Fans. Dan aku adalah idolamu.”

Luna terlihat tersenyum miris. Bukan maksudnya seperti itu. Ia hanya mengagumi Minho karena ia begitu baik dalam bermain basket.

“Eoh, apa yang kau lakukan dengan buku-buku itu? Bukankah itu buku milik para songsaenim?” Tanya Minho saat melihat buku dihadapan Luna.

“Eoh, ige? Kang songsaenim
memintaku menuliskan daftar nama para hagsaeng mulai dari kelas 1 hingga kelas 3. Ini benar-benar merepotkan!” Keluh Luna.

“Eoh, ada fotonya juga!” Ucap Minho saat membuka salah satu buku itu.

“Ige! Ige! Nugu?” Tanya Minho saat melihat foto seorang yeoja.

“Eoh, Park Jiyeon. Wae? Dia satu
angkatan denganku!”

“Mwo? Apa itu berarti Kim Myungsoo juga berada dibawahku? Aissh, harusnya dia memanggilku sunbae!” Gumamnya kesal.

“Mwo?”

“Ani. Eoh, apa kau mengenal yeoja ini? Park Jiyeon! Kau mengenalnya?” Tanya Minho sungguh-sungguh.

“Ani. Hanya saja beberapa hari lalu kami bertemu ditempat ini.
Keadaannya sangat menyedihkan. Sepertinya dia korban pembullyan dari salah satu hagsaeng disini!” Jawab Luna apa adanya.

“Mwo?”

“Ne. Dia terluka pada bagian
lehernya. Aku membantu
mengobatinya. Saat ia sadar, ia
memintaku untuk mengijinkannya tinggal dirumahku. Namun, ia tiba-tiba menghilang saat mengatakan
akan pergi ke sebuah minimarket. Kupikir dia kembali kerumahnya. Geundae, apa sunbae mempunyai hubungan khusus dengannya? Atau
mungkin sunbae ini namjachinguya?” Tanya Luna penasaran.

“Ani. Aniya. Aku hanya sedang
mencarinya untuk seseorang. Dia
menghilang sejak beberapa hari lalu. Baik dirumah maupun disekolah, ia tidak ada. Apa mungkin ia diculik?” Pikir Myungsoo.

“Mwo? Jadi ia benar-benar
menghilang?”

Minho hanya menganggukkan
kepalanya.
Seseorang yang ternyata ada
dibelakang merekapun mulai keluar dari dalam perpustakaan tanpa diketahui Minho maupun Luna bahwa ia telah mendengarkan percakapan keduanya.

“Park Jiyeon menghilang? Apa karena kejadian diperpustakaan tempo hari? Lalu kemana ia?” Gumamnya ikut penasaran.
.
.
.
.
.
Masih penasaran dengan cerita
selanjutnya?
Nantikan next partnya!
Jangan lupa kritik dan sarannya!
Coment Jusaeyo! Biar cepat author publish part 3 nya 😀

FF MyungYeon (Myungsoo Jiyeon)

image

           MAKING LOVE
                 (part 1)

Author:
Erni Eyexs

Twitter:
@ernieyex

Instagram:
@erni_eyexs

Main Cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Myungsoo aka L ( Infinite)

Other Cast :
Bae Suzy (Miss A)
Krystal ( Fx )
Kahi (After School)
Minho (SHINee)
Bae soo bin
Lee Jieun aka IU

Songfict :
C-Clown Far away young love

Genre :
Fantasy, Bromance, School life, Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N :
Pas banget lagi ada mood abis tadarusan jadi langsung post FF ke 12. Untuk yang ke 2 kalinya author pairingin Jiyeon dengan Myungsoo. FF ini pernah author publish di tanggal 8 Juni 2014 silam. Semoga MyungYeon
couple kali ini pun tidak mengecewakan para readers.
Author juga mau ngucapin selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang beragama muslim. Mohon maaf lahir dan batin! Langsung comot nih FF nya 😀
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
“KYA! PALLI!” Teriak namja berkulit putih pada yeoja berambut ikal yang ada dibelakangnya.

“Ne!” Jawab sang yeoja.

“MYUNGSOO-AH!” Panggil sang yeoja berambut panjang pada namja berkulit putih yang ternyata bernama Myungsoo itu.

“Wae?” Tanyanya malas.

“Appa memintamu datang nanti
malam!” Jawab sang yeoja berambut panjang itu seraya menggandeng manja lengan Myungsoo. Sedangkan yeoja yang ada dibelakang namja bernama Myungsoo hanya terdiam mengikuti langkah dua orang yang ada dihadapannya saat ini.

“Untuk apa?” Tanya Myungsoo seraya melepaskan tangannya membuat sang yeoja berambut panjang itu terlihat kesal karenanya.

“Tentu saja untuk membicarakan
masa depan kita!” Jawabnya.

Myungsoo langsung menghentikan langkahnya, begitu pula dengan yeoja yang ada dibelakangnyapun
ikut terhenti langkahnya.

“Dengar, Suzy-ssi! Kita ini masih
sekolah! Bahkan kita belum lulus
sama sekali! Jadi, singkirkan semua angan-anganmu itu! Dan belum pasti pula kelak kita berdua akan menikah!” Jawab Myungsoo dingin.

“MWO?”

“Kya, Park Jiyeon! Bisakah kau
melangkah lebih cepat lagi, eoh? Kau ini lelet sekali!” Tambah Myungsoo pada yeoja berambut ikal yang ternyata bernama Park Jiyeon itu.

“Eoh? Ne!” Jawab Jiyeon.

“Kya, Myungsoo-ah! Kenapa makhluk aneh ini selalu berada
dibelakangmu, eoh?” Tanya yeoja
berambut panjang bernama Suzy itu pada Myungsoo.

“Dia begitu menjijikan!” Tambahnya saat memandang Jiyeon.

Jiyeon hanya menundukkan
kepalanya. Tidak mau ikut terlibat dalam pertengkaran dua orang yang begitu popoler di sekolahnya itu.

Myungsoo ikut memandang Jiyeon. Ia lalu menghembuskan nafasnya lelah.
Jiyeon, selama 2 tahun terakhir ini ia memang selalu berada
dibelakangnya. Yeoja polos yang
tidak banyak bergaul dengan
hagsaeng lain. Setiap hari ia akan
selalu berada dibelakang Myungsoo.
Sebenarnya siapa Park Jiyeon itu?
Mengapa ia selalu berada dibelakang Myungsoo?

“Jangan libatkan dia dalam masalah ini!” Balas Myungsoo pada akhirnya.

Suzy, ia hanya berdecak kesal.
Hingga detik ini ia belum
mengetahui siapa sebenarnya
Jiyeon. Kenapa Myungsoo
membiarkan yeoja itu selalu berada dibelakangnya? Batinnya penasaran.

“PALLI!” Teriak Myungsoo pada
Jiyeon membuat yeoja itu kemudian mengangkat kembali kepalanya dan baru menyadari bahwa Myungsoo sudah
berjalan jauh didepannya. Yeoja itu langsung berlari, namun sayang ia terjatuh saat Suzy dengan sengaja menyodorkan kakinya.

~BRUK~

Myungsoo melebarkan matanya saat melihat Jiyeon yang tersungkur. Sedangkan Suzy, yeoja itu tersenyum puas
telah membuat Jiyeon terjatuh.

“Kau harus berhati-hati, Park Jiyeon-ssi!” Bisiknya mengerikan seraya tersenyum miring kemudian berjalan melewati
Myungsoo.

“Aissh…” Myungsoo hanya
memandang kesal kepergian Suzy.

Sementara itu, Jiyeon perlahan
bangkit. Ia membersihkan seragam sekolahnya yang kotor menggunakan tangannya.

“KYA!” Teriak Myungsoo saat melihat dagu Jiyeon berdarah. Ia langsung berjalan dengan cepat menghampiri Jiyeon.
Sedangkan Jiyeon, ia belum
menyadari bahwa dagunya terluka.

~BRUK~

Myungsoo, namja itu ambruk tepat dihadapan Jiyeon. Jiyeon langsung menghampir namja itu dengan panik.

“Myungsoo-ah!” Panggilnya berusaha membangunkan Myungsoo. Ia melebarkan matanya saat setetes darah tepat terjatuh mengenai wajah Myungsoo.

Jiyeon, yeoja itu kemudian
menyentuh dagunya menggunakan tangannya. Ia baru menyadari bahwa dagunya terluka karena terjatuh tadi yang mengakibatkan dagunya mengeluarkan darah.

“MYUNGSOO-AH!” Teriaknya lagi
panik.
.
.
.
.
.
“Bagaimana keadaan Myungsoo, uisa?” Tanya Kahi eomma Myungsoo. Saat ini ia dan juga Jiyeon tengah berada di Jangseonggun Hospital.

“Dia masih koma!” Jawab salah
seorang Uisa yang baru saja keluar dari dalam ruang UGD itu.

~BRUK~

Kahi langsung ambruk. Kakinya
seolah tak mampu menahan berat tubuhnya. Jiyeon langsung
berhambur hendak membantu Kahi.

“Apa kau terluka?” Tanya Kahi pada Jiyeon. Ia melihat dagu Jiyeon yang diperban dan sudah pasti yeoja itu terluka.
Jiyeon hanya menundukkan wajahnya merasa bersalah. Andai ia tak terluka, mungkin Myungsoo tidak akan berada didalam sana dalam keadaan koma saat ini.

Kim Myungsoo, ia adalah putra
tunggal dari pasangan Kim Jaejoong dan Kahi. Sejak kecil ia diagnosa menderita 2 penyakit darah yang mengerikan, yakni Bleed Disorder dan Hemofilia.
Myungsoo memiliki jenis darah yang sangat langka. Dia tidak bisa
sembarang menerima transfer darah dari orang lain. Myungsoo tidak boleh sedikitpun terluka. Karena jika sampai ia terluka, maka darah dari tubuhnya akan terus-terusan keluar. Penyakit inipun tidak bisa disembuhkan
karena memang ini penyakit dari
lahir, bukan seperti virus yang dapat disembuhkan. Itu berarti, Myungsoo harus berhati-hati seumur hidupnya. Dia harus hidup dengan 2 penyakit
itu ditubuhnya. Lalu, apa kaitannya itu semua dengan Jiyeon? Bukankah tubuh
Jiyeon yang terluka dan
mengeluarkan darah?
.
.
.
.
.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Kahi saat melihat Myungsoo mulai terbangun dari tidurnya.
Selama 5 hari Myungsoo koma dan genap 6 hari sudah Myungsoo dirawat dikediamannya.

“Nan gwaenchana!” Jawab Myungsoo malas. Namja itu seolah enggan menatap Kahi sang eomma.

“Jiyeon eodiga?” Tanyanya.

“Eoh? Dia ada dibawah! Kau ingin
aku memanggilnya?” Tanya Kahi
lembut.

Myungsoo hanya mengiyakan
menggunakan sedikit suaranya.
Kahipun bangkit dan berjalan keluar dari kamar Myungsoo.
Myungsoo menatap sebuah bingkai foto yang ada disamping ranjangnya. Bingkai itu berdiri tepat diatas meja. Terlihat 2 bocah namja berusia kira-kira 10 tahun dalam foto tersebut.

~BRAK~

Ia langsung membalikkan bingkai
foto itu. Tak ingin berlama-lama
memandangnya. Hatinya terasa
perih saat melihatnya.

“Kau memanggilku?” Tanya Jiyeon tertunduk saat memasuki kamar Myungsoo.

Myungsoo hanya menatap yeoja yang ada dihadapannya itu dengan intens.

Merasa tidak mendapatkan jawaban, Jiyeonpun mengangkat wajahnya.

~DEG~

Jiyeon kembali menunduk saat
mendapati tatapan Myungsoo yang begitu menusuknya. Namja itu seperti hendak menelannya hidup-hidup.

“Mian!” Lirih Jiyeon meminta maaf.

“Mianhae!” Tambahnya, namun
Myungsoo seolah enggan untuk
menjawabnya.

“Aku akan lebih berhati-hati lagi
untuk kedepannya!” Lanjut Jiyeon masih tertunduk.

Myungsoo langsung mengambil
bingkai yang ada disamping
ranjangnya tadi.

~PRANG~

Jiyeon menutup kedua telinganya saat mendengar suara bingkai yang pecah. Ternyata Myungsoo membanting bingkai itu dengan
kasar. Nafasnya tak beraturan
menahan amarah.
Jiyeonpun menoleh kearah bingkai yang pecah itu. Dilihatnya foto 2 bocah namja yang tengah tersenyum kearah kamera.

“Neo!” Ucap Myungsoo menahan
nafasnya.

“Bisakah kau menghilang?”
Tambahnya mengeratkan deretan giginya.

Jiyeon hanya menghembuskan
nafasnya. Ia tak berani memandang sosok namja itu.

“Aku benar-benar muak padamu!”

Jiyeon, tubuhnya bergetar hebat.
Namun ia tetap bertahan disana.
Tak berniat lari ataupun sembunyi. Ia berusaha menahan air mata yang hendak keluar dari sarangnya. Hatinya terasa perih. Meski kata-kata itu sudah sangat sering ia dengar
keluar dari mulut Myungsoo, namun hatinya tetap saja terasa sakit. Sebegitu bencikah Myungsoo padanya?
.
.
.
.
.
Myungsoo, namja itu sama sekali
tidak memperhatikan pelajaran yang yang tengah diberikan Kang
songsaenim. Yang ia terus
perhatikan hanya sosok Park Jiyeon yang tepat duduk dihadapannya. Setelah merasa dirinya sudah sehat, Myungsoopun mulai kembali
bersekolah di Hannyoung High
School.

Suzy, yeoja itu terus memperhatikan sosok
Myungsoo. Banyak pertanyaan yang bergelayut dibenaknya. Dan hingga detik ini ia belum mendapatkan satupun jawaban dari pertanyaan- pertanyaannya itu.
Siapa sebenarnya Jiyeon?
Kenapa ia selalu berada
disamping Myungsoo?
Kenapa yeoja itu seolah tak pernah bisa lepas dari Myungsoo?
Kenapa setiap kali Myungsoo tak hadir disekolah, yeoja itu pun tak pernah ada?
Kenapa setiap kali ada Myungsoo, pasti yeoja itu selalu berada disampingnya?
Kenapa mereka berdua seolah tak bisa dipisahkah?
Suzy mengurut kepalanya yang terasa pening karena terus menanyakan hal itu di benaknya.
.
.
.
.
.
“Neo joahe?” Tanya Myungsoo pada Jiyeon. Keduanya saat ini tengah berada dikantin sekolah.

Jiyeon hanya menganggukkan
kepalanya seraya menyantap buldak yang ia pesan. Yeoja itu begitu menyukai makanan pedas itu.

Myungsoo hanya terdiam. Ia tak
pernah menunjukkan ekspresi
tersenyum ataupun tertawa. Dingin.
Hanya itulah ekspresi yang selalu ia perlihatkan pada semua orang, tak terkecuali pula pada Jiyeon.

“MYUNGSOO-AH!” Panggil Suzy yang datang dan langsung duduk
disamping Myungsoo.
Myungsoo hanya memalingkan
wajahnya malas.

“Apa yang kau inginkan?” Tanya
Myungsoo yang tak ingin berlama-lama berdekatan dengan makhluk menyebalkan seperti Suzy. Ia tentu
masih ingat betul insiden
terjatuhnya Jiyeon karena yeoja itu dan mengakibatkan ia yang harus koma selama beberapa hari. Meski yeoja itu dinobatkan sebagai icon yeoja di Hannyoung High School karena ia memiliki paras yang cantik, namun Myungsoo sama sekali tidak
tertarik padanya.

“Kau ini! Tak bisakah kau bersikap lebih manis lagi pada tunanganmu ini, eoh?” Ucap Suzy kesal.

Tunangan?
Ya, Myungsoo memang sudah dijodohkan dengan Suzy sejak
kecil. Awalnya Suzy menolak, namun saat ia melihat paras Myungsoo yang tampan, ia pun langsung menyetujui perjodohan itu. Dan Suzy mulai
intens mengejar Myungsoo saat
mereka satu sekolah sejak 2 tahun yang lalu, begitu pula dengan kehadiran Jiyeon.

“Bagaimana kalau nanti ada namja yang merebutku darimu, eoh?” Tambah Suzy manja, namun terdengar begitu menjijikan bagi siapapun yang mendengarnya.

Myungsoo hanya menghembuskan nafasnya malas. Ia memandang
Jiyeon yang masih belum
menghabiskan buldaknya.

“Kya! Sampai kapan kau akan
memakannya, eoh? Bukan hanya
berjalan, bahkan makanpun kau
sangat lamban. Kau benar-benar
sejenis dengan kura-kura!” Ucap
Myungsoo pada Jiyeon.

Jiyeon menghembuskan nafasnya saat lagi-lagi Myungsoo mengatainya lamban. Yeoja itu hanya pasrah menanggapinya.

“Palliwa!” Perintah Myungsoo
membuat Jiyeon mempercepat
makannya hingga memasukkan
banyak buldak kedalam mulutnya.

Suzy berdecak kesal. Lagi-lagi ia
diabaikan oleh sosok namja yang ada disampingnya itu. Meski Myungsoo tidak pernah terlihat  bersikap manis pada Jiyeon, namun ia iri akan perlakuan
Myungsoo pada Jiyeon. Bisa selalu berada disamping namja itu meskipun namja itu tak pernah baik padanya, itu lebih baik dari pada selalu diabaikan olehnya.
.
.
.
.
.
“Appa!” Rengek Suzy pada Bae Soo Bin sang appa yang saat ini tengah berada diruang kerja dikediaman Bae Family.

“Mwo?”

“Kenapa kita tidak pernah
berkunjung kekediaman Myungsoo, eoh? Kajja! Kita harus berkunjung kerumah menantumu, Appa!” Ajak Suzy.

“Kya! Jangan bilang kau
menyukainya, Suzy-ah!” Tebak sang appa tepat sasaran.

“Ani. Mana mungkin aku
menyukainya.” Jawab Suzy
berbohong.

“Yang perlu kau lakukan hanya
menikah dengannya. Setelah itu,
ambil semua harta milik keluarga Kim. Maka keluarga Bae akan sejahtera untuk selama-lamanya. Hahaha….” Bae Soo Bin tertawa mengingat tentang semua rencananya untuk menguasai harta
kekayaan keluarga Kim. Sedangkan Suzy, ia hanya tersenyum palsu. Sebenarnya dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin memiliki
Myungsoo seutuhnya. Bukan hanya harta, namun hatinya pula ingin dimiliki olehnya sepenuhnya.
.
.
.
.
.
“Apa yang kau lihat, eoh?” Tanya
Myungsoo saat menyadari Jiyeon
yang tengah mencoba melihat lukisannya. Keduanya saat ini tengah berada dihalaman belakang kediaman keluarga Kim.

Jiyeon hanya menggembungkan
pipinya seraya menunduk.
Tidak ada banyak percakapan
diantara keduanya. Baik Jiyeon
maupun Myungsoo seolah enggan untuk berbicara.
Jiyeon hanya duduk menemani
Myungsoo yang tengah melukis
sebuah gambar. Entah apa yang
namja itu lukis. Meski Jiyeon
penasaran, namun namja itu pasti akan langsung menegurnya bila ia ketahuan melihat hasil
lukisannya.

Jiyeonpun mulai merasa bosan.
Berkali-kali ia menguap menahan rasa kantuk yang melandanya. Hingga akhirnya yeoja itupun benar-benar tak bisa lagi menahannya kemudian terlelap.

Myungsoo yang menyadari bahwa Jiyeon telah terlelap hendak bangkit dan mengomeli yeoja itu, namun ia urungkan niatnya itu saat melihat wajah damai Jiyeon yang tengah terlelap.
Seperti inikah wajah yang selalu Jiyeon tutupi dengan menunduk?
Manis.
Itu kesan Myungsoo untuk pertama kalinya saat melihat keseluruhan wajah Jiyeon.
Entah mendapat ide dari mana,
namja itu langsung mengambil
kanvas baru dan mulai kembali
melukis.
Melukis Jiyeon yang tengah
terlelap.
Dengan telaten jemarinya
melukis wajah Jiyeon. Ia tersenyum saat melihat hasil lukisannya. Senyum yang selalu ia sembunyikan pada siapapun.

Matanya kemudian tertuju pada lukisan bibir Jiyeon. Ia kemudian menoleh kearah
yeoja yang masih terlelap itu.
Matanya mengerjap saat melihat
bibir Jiyeon yang sedikit terbuka.
Entah dapat dorongan dari mana,
iapun mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Jiyeon. Hingga akhirnya bibirnya sukses mendarat pada bibir Jiyeon.

~CUP~

Menyadari telah melakukan
kesalahan, Myungsoo langsung
menjauhkan wajahnya dari wajah
Jiyeon.
Apa yang ia lakukan?
Myungsoo pun menyentuh bibirnya yang sempat bersentuhan dengan bibir Jiyeon walau hanya sepersekian
detik.
Ia menelan salivanya sendiri.
Myungsoo pun langsung berjalan
menjauh dengan cepat dan
meninggalkan Jiyeon yang masih
terlelap.
.
.
.
.
.
“Bisakah kalian membantuku?” Tanya Suzy pada dua orang yang adadihadapannya.
Mereka saat ini tengah berada di
halaman belakang Hannyoung High School.

“Aku akan memberikan imbalan yang.besar jika kalian berhasil
melakukannya!” Tambahnya memberikan senyum mengerikannya.
.
.
.
.
.
“Jiyeon-ssi!” Panggil Krystal saat
memasuki kelas Jiyeon.
Jiyeon yang tengah mencatat
langsung mengangkat wajahnya
kearah Krystal yang saat ini tengah berada didepan mejanya.

“Eoh?”

“Bisakah kau membantuku?”

Jiyeon terlihat bingung untuk
menjawabnya.

“Jebal! Hanya kau yang bisa
membantuku!” Tambah Krystal
memohon pada Jiyeon.

Jiyeon langsung memalingkan
tubuhnya menghadap Myungsoo
yang duduk tepat dibelakangnya.
Tanpa berbicarapun Myungsoo tau maksud Jiyeon. Yeoja itu hendak meminta persetujuan darinya.

“Andwae!” Jawab Myungsoo masih dengan tatapan dinginnya.

Krystal yang melihatnya tampak
kesal.

“Myungsoo-ssi, bukankah Jiyeon yang kumintai pertolongan. Kenapa malah kau yang menolaknya?” Ucap Krystal
kesal.

“Apa kau akan membantunya, Park Jiyeon?” Tanya Myungsoo pada Jiyeon dan mengabaikan ucapan Krystal.

Jiyeon hanya menghembuskan
nafasnya. Ia kemudian kembali
menghadap Krystal.

“Mianhae, Krystal-ssi!” Ucapnya menyesal membuat Krystal berdecak kesal mendengarnya.

“Sebenarnya kau ini siapa, eoh? Apa kau pembantunya? Benar-benar menyebalkan!” Ucap krystal yang kemudian melangkah keluar dari dalam kelas.

“Apa dia tidak punya tangan dan
kaki? Untuk apa dia minta
pertolongan? Dasar yeoja aneh!”
Gumam Myungsoo yang dapat
didengar jelas oleh Jiyeon.

“Sebenarnya dia mau minta tolong apa?” Tambahnya penasaran.

Jiyeon hanya menghembuskan
nafasnya. Kapalanya kembali
tertunduk. Ia mulai memikirkan
ucapan Krystal barusan. Bukankah ia BUKAN pembantu Myungsoo, kenapa ia harus selalu menuruti perkataan
namja itu?
Namun Jiyeon kembali menghembuskan nafasnya. Jika
bukan karena kejadian 2 tahun lalu, mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Terikat penuh dengan sosok Kim Myungsoo.

“Setelah ini, ikut aku kesuatu
tempat!” Perintah Myungsoo.

“Eodi?” Tanya Jiyeon namun tak
berniat membalikkan tubuhnya
menghadap Myungsoo.

“Kau hanya perlu ikut! Dan jangan mengatakan apapun pada eomma. Arraseo?”

Jiyeon hanya menganggukkan
kepalanya. Apa boleh buat, toh ia tak punya pilihan selain menuruti semua yang namja itu ucapkan.
.
.
.
.
.
Jiyeon menghembuskan nafasnya saat tiba ditempat yang dimaksud Myungsoo. Sudah ia duga, pasti Myungsoo hendak datang ketempat itu.
Stadium tempat bermain basket
yang ada di Hannyoung High School.

“Tunggu disini dan jangan kemana-mana!” Perintah Myungsoo seraya melempar ransel miliknya kearah Jiyeon.

Jiyeon langsung menangkapnya.
Yeoja itu hanya menggembungkan pipinya kesal. Namun ia tak berani menolak perintah Myungsoo.

Myungsoo, kakinya melangkah hendak mengambil bola basket yang berserakan disamping arena. Setelah mendapatkannya, namja itu pun mulai memainkan bola dan memasukkannya kedalam ring basket.

Jiyeon hanya terduduk menyaksikan permainan Myungsoo. Namja itu
benar-benar berbakat dalam
permainan itu. Hanya saja, karena penyakit yang ia derita, ia tidak dapat ikut bermain seperti kebanyakan namja pada umumnya.

Myungsoo, ia tak diijinkan mengikuti ekstrakulikuler olahraga apapun. Meski tidak membahayakan fisiknya
bahkan tidak mengakibatkan
tubuhnya terluka hingga berdarah, namun dokter tidak mengijinkannya. Begitu pula dengan Jiyeon. Atas perintah Myungsoo, yeoja itupun tidak diijinkan untuk berolahraga
apapun. Tentu saja pihak sekolah
mengijinkannya karena Myungsoo adalah putra tunggal dari Kim Family yang tak lain adalah pemilik yayasan Hannyoung High School.

Myungsoo, ia terlihat begitu lelah. Keringatnya mengalir melewati wajahnya. Meski namja itu tak menunjukkan ekspresi bahagia, namun ia terlihat puas setelah melakukannya.

“Myungsoo-ah!” Panggil Jiyeon seraya menunduk dan masih duduk ditempatnya semula, tak berniat untuk menghampiri Myungsoo membuat Myungsoo langsung menoleh kearah yeoja itu.

“Wae?” Tanyanya acuh.

“Bolehkah sebelum kembali kerumah, kita berkunjung kesana?” Tanya Jiyeon hati-hati.

“Mwo?”

“Aku akan merahasiakan ini dari
eomma. Geundae, bisakah kau
mengijinkanku untuk datang
kesana?” Jiyeon nampak terdengar memohon.

Myungsoo tersenyum miring. Tentu saja namja itu tau dengam jelas tempat yang dimaksud Jiyeon.

“Jadi, kau mulai berani mengajakku bernegosiasi eoh?” Senyum mengerikan Myungsoo ia keluarkan.

“Mian!” Jiyeon mulai ketakutan.

“Geurae, kita akan kesana! Kau
puas?”

“Gomawo!”

Myungsoo pun berjalan menghampiri Jiyeon dan mengambil ranselnya dengan kasar dari tangan yeoja itu.

Jiyeon hanya terdiam. Bukanlah hal baru baginya jika namja itu berlaku kasar padanya.

“Kau hanya akan kuberi waktu tidak lebih dari 15 menit!” Tambah Myungsoo.

“Ne!”

Jiyeonpun berjalan dibelakang
Myungsoo. Mengikuti kemanapun kaki namja itu melangkah.

~PROK PROK PROK~

Terdengar suara tepukan tangan.
Jiyeon dan juga Myungsoo langsung berhenti melangkah dan membalikkan tubuh mereka.
Disana, nampak terlihat sosok namja yang tidak kalah tampan dari Myungsoo. Namja itu berjalan mendekat kearah
Myungsoo dan melewati Jiyeon yang hanya menundukkan kepalanya.

“Myungsoo-ssi, ternyata kau sangat berbakat dalam bermain basket.” Puji sang namja.

Myungsoo tak menjawab. Ia hanya terdiam.

“Apa kau tak mengenalku?” Tanya sang namja pada Myungsoo.

Merasa tak mendapatkan respond dari Myungsoo, namja itupun tertawa.

“Hahaha…. Kupikir aku cukup
populer, ternyata masih ada yang belum mengenalku.” Tambah sang namja.

Myungsoo masih menunjukkan wajah datarnya. Begitu pula dengan Jiyeon yang masih menundukkan kepalanya.

“Geurae, kurasa aku harus
memperkenalkan diriku terlebih
dahulu padamu. Naneun Choi Minho imnida. Kau bisa memanggilku Minho. Dan aku adalah kapten basket di Hannyoung High School ini.” Ucapnya memperkenalkan diri
seraya mengulurkan tangannya
kearah Myungsoo, namun Myungsoo enggan menjambat tangan Minho.

Myungsoo memang tak memiliki seorang temanpun. Karena penyakitnya, ia tidak bisa
beraktifitas layaknya remaja lain. Ia harus berhati-hati terutama pada bagian fisiknya.

Minho kembali menarik tangannya. Sepertinya namja itu kesal karena perkenalannya tidak ditanggapi dengan baik oleh Myungsoo, bahkan namja itu mengabaikannya.

“Apa kau sudah selesai bicara?”
Tanya Myungsoo dengan dinginnya membuat Minho tersenyum miring. Ia merasa
Myungsoo itu namja yang cukup
menarik.

“Myungsoo-ssi, bisakah kita
berteman? Kurasa akan sangat
menarik jika kita berdua bisa lebih akrab lagi.” Tambah Minho.

Myungsoo merasa bosan dengan
Minho. Ia tak menghiraukan namja itu.

“Kajja!” Perintah Myungsoo pada Jiyeon seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Minho membuat Jiyeonpun mau tak mau hanya mengikutinya dari belakang.

“Myungsoo-ssi!” Panggil Minho.

Myungsoo hanya menghentikan
langkahnya dan tak berniat untuk
membalikkan tubuhnya menatap Minho.

“Bisakah kau datang kembali
ketempat ini lusa? Aku ingin sekali bermain bersamamu.” Ajak Minho.

Myungsoo lagi-lagi tak menjawab. Ia melanjutkan kembali langkahnya.

“Itupun kalau kau namja!” Tambah Minho dan sukses membuat Myungsoo menghentikan langkahnya.
Namja itu merasa tersinggung
dengan ucapan terakhir Minho. Apa maksudnya ia mengatakan itu?
Apa ia fikir Myungsoo bukanlah seorang namja karena ia tak pernah terlihat bergaul dengan namja manapun?
Apa karena selama ini ia selalu
bersama Jiyeon?

Myungsoo terlihat mengepalkan
tangannya menahan amarah.
Menyadari hal itu, Jiyeon langsung menarik lengan Myungsoo dan.membawa namja itu keluar dari sana.

“APA YANG KAU LAKUKAN?” Teriak Myungsoo kesal seraya melepaskan lengannya dari tangan Jiyeon dengan kasar membuat Jiyeon hanya dapat  menundukkan kepalanya takut. Ia hanya tidak ingin Myungsoo terlibat perkelahian dengan namja yang baru mereka temui itu.

“Mianhae!” Lirih Jiyeon.
.
.
.
.
.
“Oppa, naega ganda!” Ucap Jiyeon seraya bersimpuh dihadapan sebuah makam.
Saat ini ia dan juga Myungsoo
tengah berada di Seoul National
Cemetery. Ternyata tempat yang ingin Jiyeon kunjungi adalah sebuah pemakan
yang ada di Seoul.

Myungsoo, ia hanya terdiam. Ia
merasa enggan untuk ikut
bersimpuh seperti Jiyeon, bahkan untuk memberikan
penghormatanpun enggan ia
lakukan.

Jiyeon tak mengucapkan apapun.
Keduanya hanya terdiam. Hanya
terdengar semilir angin sore hari
yang mengiringi kunjungan mereka.
Siapa sebenarnya sosok yang ada
didalam sana?
.
.
.
.
.
“Apa kau akan datang memenuhi
permintaan namja tadi?” Tanya
Jiyeon saat keduanya hendak kembali pulang kekediaman kelurga Kim.

“Apa aku harus memberitahumu?” Balas Myungsoo dingin.

Jiyeon hanya menghembuskan
nafasnya. Seharusnya ia tau bahwa percuma saja ia bertanya karena Myungsoo sudah pasti akan mengabaikannya.

“Hajima!” Tambah Jiyeon membuat Myungsoo langsung menoleh kerah yeoja itu membuat Jiyeon kembali tertunduk takut.
.
.
.
.
.
Jiyeon, ia terus menerus menoleh kearah Myungsoo,  membuat namja itu merasa risih, padahal mereka saat ini tengah diberikan materi
pelajaran oleh Songsaenim.

Yeoja itu nampaknya khawatir jika Myungsoo menerima ajakan namja bernama Minho tempo hari. Ini adalah hari dimana Minho mengajak Myungsoo untuk bermain basket, lebih tepatnya, berduel.

“Jiyeon-ssi!” Panggil seorang yeojabername tag Lee Jieun saat
memasuki kelas Jiyeon.
Songsaenim yang baru saja
memberikan materi pelajaranpun.sudah keluar karena bel pulang sudah berbunyi sejak beberapa
menit yang lalu.

Jiyeon langsung menoleh kearah
yeoja bernama Lee Jieun yang
tengah berdiri diambang pintu
kelasnya itu.

“Kang songsaenim memintamu untuk membantuku membereskan perpustakaan hari ini!” Tambah yeoja yang berbeda kelas dengan
Jiyeon itu.

“Pergilah!” Ucap Myungsoo sebelum Jiyeon meminta persetujuan darinya.
Namja itu bangkit dan keluar dari dalam kelas.

Jiyeon terlihat khawatir.
Apa Myungsoo mengijinkannya agar namja itu bisa memenuhi ajakan Minho untuk berduel?

“Kajja!” Ajak Lee Jieun.

“Ne!” Jawab Jiyeon yang langsung
membereskan buku serta alat
tulisnya.
.
.
.
.
.
“Daebak!” Ucap Lee Jieun saat ia
dan Jiyeon telah tiba didalam
perpustakaan.

Jiyeon membuka lebar mulutnya saat mendapati banyak buku diperpustakaan yang berserakan dimana-mana. Pantas saja Kang songsaenim meminta ia dan juga namja bernama Jieun untuk membereskannya.
Perpustakaan ini lebih terlihat
seperti kandang babi dari pada
tempat belajar.
.
.
.
.
.
Benar dugaan Jiyeon, ternyata
Myungsoo datang menemui Minho dan menerima ajakan namja itu untuk bermain basket.

“Kupikir kau tidak akan datang!”
Ucap Minho yang tengah mendrible sebuah bola ditangannya.
Myungsoo lagi-lagi tak menjawabnya. Mereka berduapun mulai memainkan
permainan.
.
.
.
.
.
“Annyeong, Jiyeon-ssi!” Sapa Suzy yang tiba-tiba muncul dari balik rak buku perpustakaan.
Yeoja itu tersenyum miring pada
Jiyeon. Senyum menjijikan sekaligus mengerikan.

Jiyeon merasa ada yang tidak beres disana. Perasaannya mulai takut. Ia tentu masih sangat ingat saat Suzy dengan sengaja membuat ia jatuh tersungkur hingga mengakibatkan
dagunya berdarah dan membuat
Myungsoo koma berhari-hari
dirumah sakit.

“Jieun-ssi?” Panggilnya saat melihat Jieun menerima beberapa lembar won dari Krystal yang datang bersama Suzy.

“Gomawo!” Ucap Jieun pada Krystal yang kemudian langsung bergegas keluar dari dalam
perpustakaan.

Kini hanya tersisa Jiyeon bersama 2 yeoja mengerikan disana.
Jiyeon, ia berjalan mundur. Yeoja itu terlihat begitu takut pada sosok Suzy.

“Jiyeon-ssi, kenapa aku begitu iri
padamu eoh? Kenapa hanya kau
yang bisa begitu dekat dengan
Myungsoo? Padahal akulah yang
menjadi tunangannya?” Ucap Suzy seraya melangkah mendekat kearah Jiyeon membuat tubuh yeoja polos
itu membentur rak buku.

Jiyeon melebarkan matanya saat
Suzy mengeluarkan sebuah pisau
kecil dihadapannya.

“Aku hanya ingin memberikanmu sebuah pelajaran kecil, Jiyeon-ssi!”
Tambah Suzy dengan senyum sinisnya.

Jiyeon hanya menunduk seraya
memejamkan kedua matanya. Kedua alisnya terlihat menaut menandakan ia begitu ketakutan saat ini. Yeoja itu tak berani berteriak ataupun melawan.

~SREK~

Suzy tersenyum puas saat berhasil membuat goresan dileher Jiyeon.

Jiyeon kembali membuka matanya. Tangannya langsung menyentuh lehernya yang terluka.
Darah?
Darah itu keluar?
Jiyeon terlihat panik dan itu
membuat Suzy dan Krystal tertawa senang.

Suzy langsung menarik tubuh Jiyeon dan mendorongnya hingga tersungkur.

~BRUK~

“Ini hanya awal, Park Jiyeon-ssi!”
Ucap Suzy.

“Kajja!” Ajaknya pada Krystal.

Mereka berdua pun langsung keluar dari dalam perpustakaan dan langsung mengunci Jiyeon, membuat yeoja itu terkurung didalam sana.

Jiyeon bangkit dan mulai mencari kain atau benda apapun yang bisa menghentikan darah yang keluar dari dalam tubuhnya. Darah itu terus mengalir membuat seragamnya ternoda oleh darah.

“Andwae! Myungsoo-ah!” Ucap Jiyeon panik.
.
.
.
.
.
Myungsoo yang saat ini tengah berada ditengah-tengah lapang, terlihat tengah mendrible bola yang ada ditangannya. Tiba-tiba namja itu menghentikan langkahnya membuat Minho berhasil merebut bola itu
darinya.

“Park Jiyeon!” Gumamnya.

~BRUK~

Tubuh Myungsoopun ambruk.
.
.
.
.
.
Bagaimana nasib Jiyeon dan juga
Myungsoo?
Penasaran?
Atau ada yang sudah bisa menebak story MyungYeon ini?
Nantikan next part nya!
Coment Juseyo! Biar authornya tetep publish FF di WP.

FF Kim Myungsoo Park Jiyeon (MyungYeon)

image

               Love Triangle

Author :
Erni Eyexs

Main cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim MyungSoo aka L(Infinite)
Cho Kyuhyun (Super Junior)
Kahi (After School)
Lee Taemin (SHINee)
Choi Minho (SHINee)
Key (SHINee)
Onew (SHINee)
seohyun (SNSD)

Songfict :
G Dragon Who You

Genre :
Romance, School

Length :
One Shoot

A/N :
Nih author bawa FF ke 5 yang author publish di tanggal 10 Maret 2014 silam.
Langsung di comot!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

@Kyungnam High School

Terlihat gadis berambut panjang
tengah memasuki gerbang Kyungnam High School.

“Fighting, Park Jiyeon!” Batinnya
menyemangati dirinya sendiri.

Ia mulai memasuki lebih dalam lagi sampai

~BUGH~

Sebuah bola tepat mendarat
dikepalanya.
Kontan itu membuat sang gadis berusia 21 tahun itu oleng dan terjatuh.

~BRUK~

Sang anak laki-laki yang melempar bola tadi justru hanya menatap malas gadis yang tengah terjatuh itu, bukannya menolong ia malah
berteriak pada gadis itu.

“KYA! CEPAT LEMPAR KESINI
BOLANYA!” Perintahnya dan ternyata ia memakai seragam Kyungnam High School dan
sudah pasti dia salah satu dari
siswa disini.

Gadis itu jelas saja merasa kesal.
Dengan perasaan kesal iapun
bangkit. Kepalanya masih terasa
nyeri.

“Saekk!” Batinnya.

Iapun melihat bola yang tepat
berada disamping kiri kakinya itu. Ia tersenyum miring. Ia pun mengambil bola tersebut. Terlihat anak laki-laki itu
masih menunggu bolanya.

“Wajahnya benar-benar
menyebalkan!” Batinnya.

Dengan keras gadis itupun
melempar bola itu dan,

~BUGH~

Bola itu tepat mengenai wajah anak laki-laki yang tadi melempar bola ke arahnya.
Bukannya ketidaksengajaan, tapi
gadis itu benar-benar sengaja
melakukannya.

~BRUK~

Anak laki-laki itu terjatuh,
hidungnya berdarah. Semua teman-teman yang tadi bergabung bermain basket bersamanya kini mulai pergi
meninggalkannya. Mereka takut
terjadi sesuatu yang buruk apabila anak laki-laki itu sedang marah.

Anak laki-laki itu menyadari akan
keluarnya darah dari dalam hidungnya. Ia langsung menghapusnya kasar menggunakan tangannya.

Gadis itu tersenyum menang.

“Mian. Sepertinya itu terlalu tepat sasaran!” Ucap gadis itu lalu pergi meninggalkan sang anak laki-laki.

Sang anak laki-laki pun bangkit
dengan geramnya.

“KYA! BERHENTI DISANA!
NEO! KUBILANG BERHENTI!”

gadis itu tak menghiraukan teriakan anak laki-laki tadi, ia tetap berjalan menjauhi anak laki-laki itu dengan santainya.

Park Jiyeon, ia adalah gadis muda yang baru saja lulus dari Pukyong National University Busan. Ia lulus lebih cepat dari seharusnya. Ia lulus dengan nilai sempurna. Ia mengambil jurusan keguruan dan saat ini ia akan menjadi seorang
guru disalah satu sekolah terkenal di Busan yakni Kyungnam High School.

Setelah menyelesaikan berkas-berkas diruang kepala sekolah, ia pun mulai memasuki ruangan khusus para guru. Mejanya tepat bersebelahan dengan guru wanita yang berusia 28
tahun bernama Kahi.

“Annyeong!” Sapa Jiyeon.

“Annyeong! Eoh kau pasti Park Jiyeon, guru baru yang akan mengajar disini?” Tebak Kahi.

“Ne. Naneun Park Jiyeon imnida.
Banganseumnida!” Jiyeon memperkenalkan diri dengan sopan.

“Ne. Naneun Kahi imnida.”

Mereka berdua langsung akrab.
Semua gurupun mulai akrab dengan Jiyeon. Jiyeon menjadi guru termuda satu-satunya di Kyungnam High School.

Bel masukpun berbunyi.
Kahi ditugaskan sang kepala sekolah untuk memberitahukan dimana kelas yang akan Jiyeon ajar hari ini.

“Aaah, akan kuperingatkan satu hal padamu Jiyeon-ah. Jangan pernah berurusan dengan siswa bernama Kim Myung Soo! Arraseo?”

“Waeyo?” Tanya Jiyeon penasaran.

“Pokoknya jangan sampai berurusan dengannya!”

Jiyeon tak mengiyakan peringatan Kahi. Ia hanya memajukan bibirnya.

“Ige mwoya? Bagaimana bisa seorang guru takut pada muridnya!” Batinnya.

Kahipun berhenti tepat didepan
sebuah kelas.

“Aku akan masuk terlebih dahulu. Saat kupanggil, barulah kau masuk!”

“Ne, Aggesseumnida!”

Jiyeon menunggu di luar. Sepertinya Kahi mulai memberitahukan maksud
kedatangannya ke kelas itu. Tak
berapa lama Kahipun memanggil
Jiyeon. Jiyeon langsung masuk. Ia tersenyum dengan ramah kepada semua hagsaeng. Kebanyakan hagsaeng namja berbisik-bisik, entah
apa yang mereka fikirkan tentang Jiyeon. Jiyeon pun langsung memperkenalkan diri.

“Annyeong hasaeyo! Naneun Park Jiyeon imnida. Mulai hari ini saya akan menjadi sangsoengnim kalian sekaligus menjadi wali kelas kalian.
Mohon kerjasamanya!”

Semua hagsaeng namja bersorak
gembira. Pasalnya ini suatu
keberuntungan bagi mereka karena wali kelas sebelumnya seorang sangsoengnim namja yang sudah tua dan jelek. Dia juga sering marah-marah tidak jelas pada hagsaengnya
terutama hagsaeng namja.

Setelah perkenalan, Kahipun mohon undur diri. Dia adalah guru di bagian kesiswaan, jadi apabila ada hagsaeng yang bermasalah, maka ia akan berurusan dengan Kahi.

Jiyeon mulai mengabsen satu
persatu hagsaeng nya. Namun saat nama,

“KIM MYUNGSOO!”

Tak ada jawaban.

Semua murid hanya terdiam.

“Apa Kim Myungsoo tidak ada?”
Tanyanya pada semua hagsaengnya.

Tak berapa lama sosok laki-laki yang membuat mood Jiyeon buruk tadi pagi muncul dari arah pintu. Ia masuk kedalam kelas sambil mengunyah permen karet, sesekali ia membuat balon dan meletuskannya
kembali. Terpasang earphone tepat dikedua telinga laki-laki itu.
Ia begitu saja melewati Jiyeon.
Itu memang adalah kebiasaannya.
Tak ada yang berani menegurnya
sampai sejauh ini.

Laki-laki itu belum menyadari sosok Jiyeon yang sudah siap mengamuk karena ketidaksopanannnya.

“Itu Kim Myungsoo, saem!” Bisik seorang hagsaeng yeoja yang duduk dibarisan paling depan.

Dengan santainya Kim Myungsoo
duduk dibangkunya tepat dibarisan paling belakang. Kemudian ia menatap
kedepan.

~DEG~

Tatapannya bertemu dengan Jiyeon.
Ia membatu saat menatap mata itu, padahal gadis yang saat ini
menatapnya ingin membunuhnya detik itu juga.

Park Jiyeon dengan amarah yang
menggebu langsung menghampiri meja laki-laki yang diketahui bernama Kim Myungsoo itu.

Kim Myungsoo hanya menatap tanpa ekspresi pada gadis yang saat ini tepat berada dihadapannya itu.

Jiyeon, ia langsung melepas
earphone yang terpasang dikedua teling Myungsoo dengan kasar.

“KYA!” Bentak Myungsoo tak terima atas perlakuan Jiyeon.

“Buang permen karetmu itu!” Perintah Jiyeon.

Kim Myungsoo langsung berdiri. Ini pertama kalinya ada yang berani memerintahnya.
Kesal, tentu saja iya.

Kim Myungsoo langsung memberikan death glarenya gratisnta pada Jiyeon.

Bukannya takut, Jiyeon pun malah melakukan hal yang sama pada Kim Myungsoo.

“Ku bilang buang permen karetmu itu!” Perintah Jiyeon kembali menekankan semua
kata-katanya.

Semua hagsaeng memandang ngeri keduanya.
Ada yang kagum melihat keberanian sangsoenim baru itu, namun ada juga yang ketakutan jika Kim Myungsoo marah nantinya, Karena Kim
Myungsoo adalah sosok yang akan melakukan hal apapun pada
siapapun yang telah membuatnya marah.

Kim Myungsoo langsung membuang permen karetnya sembarang didepan
Park Jiyeon.

~CUH~

Jiyeon, gadis itu benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Ia menutup matanya dan menarik nafas lama lalu menghembuskannya
perlahan, mengatur emosinya agar ia tak melakukan kesalahan dihari pertamanya bekerja.

Kim Myungsoo hanya tersenyum
miring melihat aksi Jiyeon.

Jiyeon pun membuka kedua
matanya.

“Neo! Apa kau tidak tau dimana
letak tempat sampah, eoh?”

“NEO! NUGUNDE? APA KAU TIDAK TAU SIAPA AKU, EOH?”

Jiyeon tertawa sinis.

“Naega? Saya adalah sangsoengnim barumu. Saya akan menjadi walikelasmu mulai hari ini. Dan Kau? Saya tidak mau tau siapa kau! Yang jelas, mulai hari ini kau adalah hagsaengku, jadi bersikaplah lebih sopan lagi Kim Myungsoo-ssi!”

Kim Myungsoo tertawa seolah apa yang dikatakan Park Jiyeon adalah suatu lelucon yang patut ia tertawakan.

“NEO? SANGSOENGNIM? KAU ITU HANYA SANGSOENGNIM BARU DISINI. JADI JANGAN BERANI-BERANI MENGATUR HIDUPKU!”

Jiyeon benar-benar kehabisan
kesabarannya.
Ia menarik paksa tangan Kim
Myungsoo.

“KYA!” Teriak Myungsoo tak terima.

“Nal ttalawa!”

Jiyeon masih menyeret Kim
Myungsoo untuk keluar kelas.

Karena merasa kesal, Kim Myungsoo pun melepaskan tangannya dengan kasar.

Park Jiyeon kini benar-benar tidak bisa bersabar lagi.

“Jangan salahkan aku jika kau
terluka Kim Myungsoo-ssi!” Jiyeon memperingatkan.

Kim Myungsoo hanya tersenyum
melecehkan.

Park Jiyeon mulai melakukan kuda-kuda.
Semua hagsaeng hanya memandang ngeri pemandangan yang ada
dihadapan mereka saat ini.
Sedangkan Kim Myungsoo, ia mulai khawatir dengan apa yang akan Park Jiyeon lakukan.

Jiyeon, ia mulai maju dengan kedua tangan terkepal didepan dadanya dan tak lama ia pun mulai melompat.

~STTTT~

Tendangan Jiyeon belum mendarat sempurna diwajah Kim Myungsoo.
Saat ini kaki kanannya sudah berada tepat didepan wajah seorang Kim Myungsoo.
Semua hagsaeng membelalakan
matanya dengan mulut yang terbuka, mereka benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan sangsoengnim
baru itu.
Sedangkan Kim Myungsoo, ia masih menatap telapak kaki Jiyeon. Bahkan matanya tak dapat berkedip saat ini.
Rasanya untuk bernafaspun benar- benar sangat sulit untuk ia lakukan. Kim Myungsoo benar-benar shock.

Jiyeon lalu menurunkan kakinya.
Untung saat ini ia sedang memakai celana panjang.

Kim Myungsoo, ia membatu.

Jiyeon kemudian menarik nafasnya dan
menghembuskannya.

“Hampir saja!” Ucapnya.

Jiyeon, ia lalu mengunci kedua
tangan Kim Myungsoo dari belakang dengan kedua tangannya. Tak ada
perlawanan dari seorang Kim
Myungsoo. Ini bagus untuknya. Ia
pun langsung membawa Kim
Myungsoo keluar kelas.

“Kalian jangan ada yang berani
keluar! Kalian belajar sendiri untuk hari ini. Arraseo?”

Semuanya hanya mengangguk.
Ternyata sangsoengnim yeoppo itu lebih menyeramkan dari
sangsoengnim sebelumnya.

Jiyeon membawa Kim Myungsoo ke lapangan.
Kim Myungsoo seperti seorang
buronan yang ditangkap polisi saat ini.
Semua murid yang kebetulan sedang berolahraga dilapangan menatap sosok Park Jiyeon yang sudah melepaskan tangan Myungsoo.

“Berlarilah!” Perintah Jiyeon kembali.

“MWO?”

“Ini hukuman untukmu. Kau bahkan terlambat datang ke kelas di hari pertamaku. Kau juga sudah membuang sampah sembarangan dan bersikap tidak sopan padaku.”

“KAU BERCANDA?”

“Apa menurutmu kejadian dikelas itu lelucon? Atau kau benar-benar ingin merasakannya, Kim Myungsoo-
ssi?”

Kim Myungsoo benar-benar seperti orang bodoh saat ini. Ia tak bisa berkutik pada sangsoengnim barunya itu.

“Berlarilah! Berlarilah sampai bel istirahat berbunyi!”

Jiyeonpun meninggalkan Myungsoo.
Ia lalu kembali berbalik.

“Lakukan! Aku akan mengawasimu!”

Jiyeon benar-benar pergi setelah
mengatakan itu. Semua hagsaeng
dan sangsoengnim yang melihat Kim Myungsoo berlari mengelilingi lapangan sangat terkejut. Ini pertama kalinya seorang Kim Myungsoo mendapat hukuman.

Dalam sehari nama Park Jiyeon
langsung terkenal. Semua hagsaeng dan sangsoengnim memujinya.

Kim Myungsoo, ia benar-benar tak dapat berkutik sedikitpun. Ada apa dengannya?

***

Beberapa hari setelah kejadian itu, Kim Myungsoo jadi lebih rajin belajar. Ia pun tidak pernah
terlambat ataupun membolos lagi.
Ya, meskipun wajah dinginnya masih saja ia perlihatkan terutama pada Jiyeon.

@Supermarket

“Kim Myunsoo, ia adalah cucu
pemilik kyungnam High School.
Semua sangsoengnim dan hagsaeng termasuk juga kepala sekolah amat menghormatinya. Tak ada yang berani melakukan hal apapun padanya. Neo! Kau yang pertama Jiyeon-ah. Kau benar-benar hebat.” Ucap Kahi memuji.

“Biasa saja! Kalian hanya terlalu
memanjakannya. Ia tak akan bisa
berkembang kalau hanya
mengandalkan halmeoninya saja.”

“Ne. Mungkin karena sejak kecil ia kehilangan kedua orangtuanya, jadi ia melakukan semua hal yang menurutnya itu menyenangkan.”

“Dia yatim piatu?” Tanya Jiyeon
mulai iba karena iapun seorang yatim piatu.

“Hm, keluarga yang ia miliki hanyalah halmeoninya. Jadi wajar saja kalau sang halmeoni begitu memanjakannya.”

Jiyeon benar-benar terkejut
mengetahui kebenaran tentang
keluarga Kim Myungsoo.

Terdengar suara handphone Kahi
berdering. Kahi langsung
mengangkatnya.

“Ne.”

“Geurae, Eomeonineun jigeum
jibewaseo!”

Kahipun meletakkan kembali
handphonenya kedalam saku
celananya.

“Jiyeon-ah, aku harus pulang
sekarang. Anakku membutuhkanku. Mianhae tak bisa menemanimu lebih lama.” Sesal Kahi.

“Ne, gwaenchanayo.”

“Geureom, annyeong!”

“Ne, Annyeong!”

Kahi, ia sudah menikah dan
mempunyai seorang anak laki-laki berusia 3 tahun.

Selesai berbelanja, Jiyeon langsung pulang kerumahnya.
Saat jalan hendak pulang, ia melihat ada seseorang yang tengah dikeroyok.

“Dasar bocah!” Gumamnya.

Ia lalu menyimpan barang
belanjaannya dibawah pohon dan
mulai mendekati segerombolan anak berseragam sekolah itu.

“KYA!” Teriaknya menginterupsi kegiatan bocah-bocah sekah itu.

Semua anak berseragam yang terdiri dari 5 orang itu langsung melihat ke arah Jiyeon.
(bayangkan mereka adalah member SHINee)

“Nuguseyo?” Ucap anak berwajah
seperti seorang wanita, Lee Taemin.

“Apa yang sedang kalian lakukan
malam-malam begini, eoh?” Tanya Jiyeon. Nada suaranya terlihat menantang.

“APA URUSANMU!” Bentak anak yang paling tinggi, Choi Minho.

“Aissh, kau benar-benar tidak sopan. Aku ini lebih tua darimu.
Seharusnya kau memanggilku nuna!”

Semua anak tertawa mendengar
ucapan Jiyeon.

“AHJUMMA INI BENAR-BENAR
CEREWET!” Ucap anak yang memiliki suara berat, Onew.

“Aissh, kalian benar-benar
membuatku marah. Ahjumma? Kau panggil aku ahjumma? APA KAU FIKIR AKU INI MENIKAH DENGAN AHJUSSI MU, EOH!” Jiyeon berteriak.

Semua anak mulai takut melihat
Jiyeon.

“KALIAN! RASAKAN INI!”

Jiyeon langsung menghajar ke 5 anak itu.
Dengan sekali tendangan ke 5 anak itu ambruk.

Jiyeon, sejak berumur 5 tahun ia
berlatih beladiri. Ia juga pemegang sabuk hitam saat Senior High School.

“Ampun, ahjumma! Eoh, nuna!
Mianhae, jeongmal mianata! Jebal, maafkan kami! Kami tidak akan melakukannya lagi. Kami berjanji!” Ucap anak yang paling tampan ketakutan, Key.

“PULANGLAH! AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBUAT KALIAN MASUK KUBURAN JIKA KALIAN BERANI MELAKUKANNYA LAGI! ARRASEO?”

“Ne!” Ucap ke 5 anak itu yang
langsung berlari menjauhi Jiyeon.

“Benar-benar merepotkan!”
Gumamnya.

Jiyeon baru menyadari bahwa ia
melupakan sosok sang korban. Ia
langsung menghampirinya. Betapa terkejutnya ia saat mendapati ternyata sosok yang dikeroyok tadi adalah Kim Myungsoo.

“KIM MYUNGSOO!”

Myungsoo langsung memandang
Jiyeon.

~DEG~

Kim Myungsoo tersenyum. Ini
pertama kalinya Jiyeon melihat
senyum Myungsoo dan itu benar-benar sangat manis.

Kim Myungsoo, ia lalu tak sadarkan diri.

~BRUK~

“KYA! KIM MYUNGSOO! IREONA!
KYA!”

@JIYEON HOME

Saat ini Kim Myungsoo tengah
duduk disofa rumah Jiyeon,
kepalanya bersandar disandaran
sofa. Tak lama Jiyeon pun datang
membawa semangkuk air hangat
disertai handuk kecil berwarna putih bersih, Ia lalu meletakkannya diatas meja.
Ia menghampiri rak kecil yang tak jauh dari tempatnya meletakkan mangkuk tadi, kemudian ia mencari
sebuah antiseptic. Setelah berhasil menemukannya, ia kembali menghampiri Myungsoo yang masih memejamkan matanya. Ia duduk
tepat disamping Myungsoo.

“Bocah ini kenapa selalu saja
membuat masalah?” Gumamnya.

Jiyeon pun memasukkan handuk kecil itu kedalam mangkuk yang berisi air hangat.
Memerasnya hingga setengah kering.
Saat ia mau menempelkan handuk setengah basah tadi, wajahnya menangkap wajah Myungsoo, bocah itu masih belum membuka matanya.

Park Jiyeon, ia menatap setiap inci wajah Kim Myungsoo.

“Bocah ini ternyata sangat tampan jika sedang diam seperti ini.” Batinnya.

Tanpa sadar ia tersenyum. Ia lupa dengan apa yang akan ia lakukan. Ia terlalu asyik menikmati wajah damai
Kim Myungsoo.

“Kya! Park Jiyeon! Apa yang kau
lakukan? Andwae, andwae!”
Batinnya. Kepalanya pun ikut
menggeleng-geleng, Lucu sekali.
Ia lalu mulai menempelkan handuk setengah basah tadi ke sekitar mata Myungsoo yang memang terlihat bengkak, mungkin karena pukulan
dari anak-anak tadi.

Saat handuk itu tepat mendarat, Kim Myungsoo memegang tangan Jiyeon yang masih menempelkan handuk ke
sekitar daerah matanya.

~GREP~

Melihat Myungsoo yang bereaksi,
Jiyeon sedikit terkejut.
Ia melihat Kim Myungsoo mulai
membuka matanya.

“Eoh, kau sudah sadar!” Ucapnya.

Kim Myungsoo kini menatap kedua bola mata Jiyeon.

~DEG~

Keduanya terdiam. Lagi-lagi mata itu mampu menguncinya. Entah dapat keberanian dari mana, Kim Myungsoo menarik tangan Jiyeon sehingga
membuat jaraknya dengan Jiyeon sangat dekat.
Jiyeon tak dapat menggerakan
badannya.
Ia seperti terhipnotis oleh kedua
bola mata Kim Myungsoo.
Jantungnya berdetak tak karuan.

~CUP~

Kim Myungsoo berhasil mendaratkan bibirnya tepat dibibir mungil Jiyeon.
Jiyeon, gadis itu benar-benar
terkejut dengan apa  yang dilakukan Kim Myungsoo, namun tubuhnya pun tak
dapat ia gerakan.
Jantungnya berdetak dengan hebat.
Kim Myungsoo lalu melepaskan
tangannya dari tangan Jiyeon, kemudian tangan itu menekan tengkuk Jiyeon.
Mempermudah aksinya untuk
memperdalam ciumannya.
Tangan yang satu tepat mendarat
dipinggang Jiyeon. Gadis itu tak
menolak. Ia masih membelalakan matanya.
Kim Myungsoo makin memperdalam ciumannya. Membuat bibir Jiyeon
terbuka dan berhasil memasukinya.
Jiyeon seperti terhanyut dalam
ciuman yang diberikan Kim
Myungsoo, tak terasa ia pun
menutup kedua matanya, Menikmati setiap sentuhan yang diberikan Kim Myungsoo padanya.

~TING TONG~

Suara bel rumah Jiyeon menyadarkan keduanya.
Jiyeon langsung bangkit dan
mengelap bibirnya yang basah
akibat perlakuan Kim Myungsoo tadi.
Sedangkan Kim Myungsoo hanya
memandang Jiyeon santai tanpa ada rasa penyesalan atau canggung sedikitpun.
Sedangkan Jiyeon, ia masih terlihat kikuk.
Ia lalu melangkah membukakan pintu yang berbunyi.

~CHU~

Cho Kyuhyun mendaratkan bibirnya tepat dibibir Jiyeon.
Jiyeon terkejut. Bukan terkejut
karena ciuman singkat yang
dilakukan Kyuhyun padanya, tapi
karena kedatangan Kyuhyun tepat disaat ia bersama Kim Myungsoo.
Bukan. Tapi tepat disaat ia
melakukan ciuman dengan Kim
Myungsoo.

Kim Myungsoo mengepalkan kedua tangannya. Ada sesuatu yang terasa begitu menohok jantungnya ketika gadis itu dicium pria lain.

Cho Kyuhyun, ia tentu bingung
dengan sikap Jiyeon yang terkesan begitu terkejut dengan
kedatangannya itu.

“Waeyo, Chagi?” Tanyanya.

“Eum? A,, Ani. Oppa, kenapa tak
memberitahukan terlebih dahulu padaku kalau mau datang?” Tanyanya gugup.

“Eoh, oppa hanya kebetulan lewat dan mampir kesini chagi!” Ucapnya sembari mengelus lembut kepala Jiyeon.
Lalu matanya tertuju pada pria yang tengah duduk disofa. Terlihat banyak memar dibagian wajahnya.

“Nugu?” Tanya Kyuhyun pada Jiyeon.

“Dia? Dia hagsaengku oppa.
Kebetulan aku menemukannya yang sedang dikeroyok teman-teman seusianya. Kemudian aku membawanya kesini untuk mengobatinya.” Jawab Jiyeon jujur.

“Eoh.” Kyuhyun merasa tidak suka dengan tatapan yang diberikan Myungsoo
padanya.

Kim Myungsoo lalu bangkit dan
melewati keduanya begitu saja.
Jelas itu membuat Kyuhyun kesal.

“Aissh, dia benar-benar tidak
sopan.” Gerutu Kyuhyun.

“Dia memang seperti itu oppa.”
Jiyeon melihat punggung Myungsoo yang makin menjauh.
Ia merasa ada sesuatu yang hilang saat Myungsoo pergi.
Ia seperti tidak rela Myungsoo pergi.
Ada apa dengannya?

***

Semenjak kejadian malam itu, tak ada pembicaraan diantara keduanya.
Kim Myungsoo kini kembali seperti dulu, bahkan ia lebih sering membolos.

Park Jiyeon, entah apa yang ia
fikirkan tentang anak itu, ia pun tak melakukan hal apapun padanya.

“Ada apa denganmu Jiyeon-ah?”
Tanya Kahi.

“Eum?”

“Neo! Bahkan kau tak melakukan
apapun pada anak itu. Apa terjadi sesuatu diantara kalian?” Tanya Kahi penasaran.

“Ne?”

“Kau Ini!” Kahi pun tak menanyakan kembali pada Jiyeon, ia memutuskan untuk meninggalkan Jiyeon sendiri
di ruang sangsoengnim.
Gadis itupun bingung.
Ia bahkan tak mengerti dengan
dirinya sendiri.
Kemudian ia memegang bibirnya.
Ciuman yang dilakukan Kim
Myungsoo padanya ternyata benar-benar tidak bisa ia lupakan, bahkan hubungannya dengan Kyuhyunpun
renggang. Ia terus saja menghindari Kyuhyun, sang kekasih.

“Apa aku menyukainya?” Batinnya.

Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Andwae! Andwae Park Jiyeon! Dia itu hagsaeng mu. Kau itu
Sangsoengnim nya. ANDWAE!”
Batinnya.

Bel pelajaran pun berbunyi. Ia mulai memasuki kelas. Semua murid menyapanya.

Kim Myungsoo, kursinya terlihat
kosong.

“Kemana lagi anak itu?” Fikirnya.

@Hyundai Department Store

Saat ini Kim Myungsoo tengah
menemani Halmeoninya berbelanja disebuah mall terkenal di Seoul.

“Halmeoni, Palli! Ini sungguh
melelahkan!” Rengeknya yang
membawa banyak bungkusan
ditangan kanan dan kirinya.

“Kau ini cerewet sekali. Sebentar
lagi! Halmeoni mau beli gelang
dulu!”

“Kya, Halmeoni! Kau tak pantas
memakai benda seperti itu. Kau ini sudah terlalu tua untuk
mengenakannya, Halmeoni!”
Myungsoo baru menyadari bahwa ia telah salah bicara.
Ia langsung menutup mulutnya
rapat. Sedangkan Halmeoni
menatapnya kesal.

“Lagipula kenapa tidak mengajak
Ahjussi Lee saja? Biar dia yang
membawa barang-barang ini!”

“Kau ini cucuku atau bukan, eoh?
Hanya membawa barang sedikit saja sudah merengek seperti bayi. Ahjussi Lee harus menjaga mobil diparkiran. Nantu kalau ada yang mencurinyakan bahaya.”

Myungsoo benar-benar kesal.
Tak sengaja matanya menangkap
sosok Cho Kyuhyun bagitupun
sebaliknya.

“Siapa wanita yang ada
disampingnya itu?” Batin Myungsoo saat melihat sosok wanita yang dengan mesra menggandeng lengan Kyuhyun.

“Eoh, Kyuhyun-ssi!” Sapa Halmeoni Kim pada Kyuhyun.

“Nyonya Kim? Annyeong!” Balasnya membungkuk.

“Eoh, apa ini anaemu?”

Wanita yang menggandeng mesra Kyuhyunpun ikut membungkuk.

“Annyeong! Naneun Seohyun imnida. Bangabseumnida!”

“Eoh Seohyun-ssi, apa kau anaenya Cho Kyuhyun?”

“Ne, nyonya Kim. Seohyun adalah anae saya!” Jawab Kyuhyun mantap.

Kim Myungsoo langsung
membelalakan matanya mendengar pernyataan Cho Kyuhyun.
Bagaimana dengan Jiyeon?

“Aigoo, kau benar-benar pintar
mencari anae Kyuhyun-ssi! Seohyun- ssi, Kau benar-benar cantik.” Puji Halmeoni Kim.

“Kamsahamnida!” Balas Seohyun
membungkuk.

“Eoh, apa ini sonja mu nyonya Kim?” Tanya Seohyun.

Halmeoni Kim langsung memukul punggung Myungsoo.

“Beri Hormat!” Perintahnya.

Dengan malas Myungsoo pun
menunduk.

“Dia benar-benar sangat tampan!” Puji Seohyun.

Myungsoo hanya memandang sinis Kyuhyun. Ia sama sekali tidak memperdulikan Halmeoni dan Anae Kyuhyun.
Kyuhyun yang dipandang sinis
seperti itupun merasa risih.

“Mianhae nyonya Kim, kami harus segera pulang. Annyeong!” Ucapnya
membungkuk diikuti dengan
Seohyun sang Anae.

“Pengecut!” Gumam Myungsoo.

“Kya! Kau ini benar-benar tidak
sopan!” Tegur sang halmeoni yang mendengarnya.

Selesai berbelanja merekapun
kembali ke Busan.
Saat dalam perjalanan pulang, Kim Myungsoo bertanya pada
Halmeoninya

“Halmeoni, apa benar wanita yang bernama Seohyun itu anaenya Kyuhyun?”

“YAK! KAU INI BENAR-BENAR TIDAK SOPAN SEKALI. USIANYA JAUH LEBIH TUA DARIMU, SETIDAKNYA PANGGIL DIA HYUNG!” Bentak sang halmeoni.

“Halmeoni, cukup jawab
pertanyaanku saja!” Rengeknya.

“KAU INI! Ne, Seohyun itu anae Cho Kyuhyun. Wae?” Tanya sang halmeoni curiga

“Apa mereka sudah lama menikah?” Myungsoo kembali bertanya.

“Yang kudengar mereka menikah 2 tahun lalu. Tapi Halmeoni tidak menghadiri pernikahan mereka karena ada urusan. YAK! Kenapa kau
menanyakan mereka, Eoh?”

“Apa Kyuhyun itu salah satu
karyawan diperusahaan kita?”

Halmeoni Kim berdecak kesal. Anak itu bukannya menjawab malah memberikannya lagi pertanyaan.

“Apa kau pernah bertemu dengan Cho Kyuhyun sebelumnya?”

“Halmeonii!” Myungsoo merajuk. Ia kesal karena pertanyaannya belum dijawab.

“Aisssh, kau ini benar-benar
menyebalkan. NE. DIA SALAH SATU KARYAWAN
DIPERUSAHAAN KITA. WAE?”

Kim Myungsoo hanya tersenyum
penuh arti.

***

Malam ini, Kim Myungsoo datang ke rumah Jiyeon. Tapi sepertinya tak tepat waktunya. Ia melihat Kyuhyun yang tengah mengecup kepala Jiyeon.

“Mianhae! Seohyun sudah
menunggu oppa. Oppa akan
berkunjung kembali nanti.” Ucap
Kyuhyun yang sukses didengar
Myungsoo. Jiyeon yang belum
menyadari kedatangan Myungsoo hanya tersenyum. Entahlah, akhir-akhir ini ia benar-benar tidak ingat
sosok Kyuhyun. Yang ada
difikirannya saat ini adalah Kim
Myungsoo.
Apakah ia merindukannya?

Saat mobil yang dikendarai Kyuhyun sudah melaju,

“Jadi kau tau dia sudah mempunyai anae?”
Kim Myungsoo, akhirnya ia muncul.

Jiyeon benar-benar terkejut akan
kedatangan Myungsoo dan juga apa katanya, Anae?
Apa ia mengetahuinya? Mengetahui bahwa Kyuhyun namja chingunya sudah
mempunyai seorang anae?

“Kenapa diam? Kau terkejut aku
mengetahuinya?”

Jiyeon masih tak menjawab. Ia
sangat merindukan sosok laki-laki yang saat ini tepat berada
dihadapannya.

“Jadi, kau ini seorang wanita
simpanan?”

Mendengar ucapan Myungsoo
membuat darahnya mendidih.

~PLAK~

Tangannya tepat mendarat dipipi
Myungsoo.
Sudut bibir Myungsoo berdarah.
Kim Myungsoo hanya tersenyun sinis kemudian menghapus darah yang ada disudut bibirnya.

“Hidung dan pipiku, kau sudah
melakukannya dua kali nona Park
dan kau harus mempertanggungjawabkannya!”
Kim Myungsoo pun pergi.

Jiyeon kemudian melihat tangannya yang bergetar.
Ia melukai bocah itu lagi.

Jiyeon termenung didalam kamarnya.
Sebenarnya yang dikatakan
Myungsoo memang tidak ada yang salah. Ia memang simpanan Cho Kyuhyun. Sebenarnya 2 tahun lalu
saat mereka masih kuliah di Pukyong National University, Kyuhyun adalah sunbaenya, 2 tahun diatasnya.
Mereka menjalin hubungan hingga Kyuhyun lulus. Kemudian Kyuhyun dijodohkan dengan seorang anak pengusaha bernama Seohyun. Jiyeon
sempat mengakhiri hubungan
mereka, namun Kyuhyun berhasil membuat Jiyeon percaya lagi padanya dengan mengatakan bahwa Kyuhyun hanya mencintai Jiyeon.
Hubungan mereka berlanjut hingga sekarang dan Seohyun pun tak mengetahuinya.
Namun sepertinya sosok Kyuhyun sudah tergantikan dengan sosok hagsaengnya.
Park Jiyeon sebenarnya tak apa
dipanggil simpanan karena memang itu kenyataannya, namun yang membuatnya sakit adalah Kim Myungsoo lah yang mengatakan itu, Orang yang selama beberapa hari ini
mulai merajai hati dan pikirannya.

***

Sejak kejadian itu, hubungannya
dengan Kyuhyun makin memburuk.
Saat Kyuhyun ingin menemui Jiyeon, ia selalu menolaknya.

Kim Myungsoo, kelakuan bocah
itupun lebih parah dari sebelumnya.
Ia benar-benar tidak terkendali.
Selain membolos, ia pun sering
memukuli teman-teman yang tak sengaja menabrak atau
menyentuhnya. Amarahnya semakintak terkendali.
Jiyeon pun bingung.
Apa yang harus ia lakukan?

Saat berjalan pulang menuju halte bus, ia melihat sebuah mobil yang dikerubungi 3 pria yang membawa senjata tajam.

“Apa mereka perampok?” Fikirnya.

Ia melihat seorang wanita tua dan pria paruh baya keluar dari mobil itu. Keadaan memang terlihat sepi didaerah itu.

“Sial!” Ucap Jiyeon lalu menghampiri ke 5 orang itu.

“KYA!”

Mendengar teriakan Jiyeon,
Semuapun beralih menatapnya.

“Neo! Waeyo? Apa kau juga ingin
memberikan sejumlah uang pada kami, eoh?” Ucap pria yang
membawa sebilah pisau.

“Kalian ini! Apa kalian tidak takut
masuk penjara, eoh?”

Ketiga pria itu mulai kesal.
Salah satu dari mereka mendekati Jiyeon dan menodongkan pisaunya tepat dileher Jiyeon.

“Kau terlalu banyak ikut campur
nona!”

Jiyeon hanya tersenyum miring.
Iapun langsung memelintir tangan pria itu dan berhasil membuat pisau yang digenggam pria tadi terlepas.
Kedua pria yang lainpun mulai
mendekat. Dengan cekatan Jiyeon menghajar mereka semua. Tentu saja ia tak menyia-nyiakan ilmu bela diri yang ia miliki. Ketiga pria itu babak belur kemudian langsung kabur.
Jiyeon langsung menghampiri nenek tua dan pria paruh baya itu.

“Gwaenchana?” Tanyanya khawatir.

“Ne. Kamsahamnida Agasshi!” Ucap sang pria paruh baya berterimakasih.

Jiyeon hanya tersenyum ramah.

“Geureom, aku pamit terlebih
dahulu. Annyeong!” Ucapnya
meninggalkan ke dua orang yang
baru saja ia selamatkan itu.

@Jiyeon Home

“Kau berubah, chagi!” Ucap Kyuhyun saat Jiyeon akan menutup kembali pintunya yang ditahan Kyuhyun.
Jiyeon langsung membuka lebar
pintu rumahnya.

“Mianhae! Kurasa ini saatnya kita
berpisah oppa!”

“MWO?” Kyuhyun nampak terkejut mendengarnya.

“Kurasa Seohyun sudah terlalu jauh kau campakkan!”

“Kau hanya menutupi kesalahanmu dengan menggunakan Seohyun
sebagai alasan, kan? Neo! Apa karena bocah bernama Kim Myungsoo itu?”

Jiyeon terkejut. Bagaimana bisa
Kyuhyun tau nama Myungsoo.

“Wae? Apa itu benar? Kau
menyukainya?”

Jiyeon menunduk. Bagaimanapun juga ia tak bisa membohongi Kyuhyun.

Kyuhyun tertawa miris.

“Neo! Kau itu sangsoengnim nya dan dia itu hagsaeng mu. Apa kau tidak sadar itu, eoh?”

Jiyeon masih diam tak menjawab.
Ia tau bahwa ini adalah suatu
kesalahan.

“Kembalilah padaku! Kau tidak bisa bersama dengannya, Jiyeon-ah!”

“Mianhae, Oppa!”

Jiyeon pun berniat masuk kedalam rumahnya namun Kyuhyun mencengkeram tangannya kuat.

“Oppa, appo!” Ringisnya.

“Kau tak bisa meninggalkanku karena bocah itu, Park Jiyeon.”

Jiyeon, tangannya benar-benar
terasa sakit.

~BUGH~

Myungsoo tepat mendaratkan
tinjunya diwajah Kyuhyun dan
membuat Kyuhyun ambruk.

~BRUK~

“APA KAU TIDAK DENGAR DIA
KESAKITAN, EOH?”

Jiyeon benar-benar terkejut dengan kedatangan Myungsoo.

“NEO! JAUHI DIA! URUS ISTRIMU
ITU! MULAI HARI INI PARK JIYEON ADALAH
MILIKKU. ARASSEO!” Ucapan Myungsoo sungguh membuat
Jiyeon tersanjung namun ini salah, ini suatu kesalahan. Ia dan Kim Myungsoo tidak mungkin bisa bersama.
Jiyeon langsung menolong
Kyuhyun.

“Kim Myungsoo, Cukup! Kau itu
hanya hagsaeng ku. Dan aku tidak akan pernah menyukaimu. Jadi berhentilah bermimpi. Bangun dan sadarlah!”

Kim Myungsoo, jantungnya terasa sangat sakit mendengar penuturan Jiyeon. Ia hanya tersenyum sinis menahan amarah dan air matanya.

“Baiklah! Aku akan bangun dari
mimpiku. Tapi saat aku tersadarpun aku tidak akan pernah menjadi hagsaengmu nona Park Jiyeon.”
Kim Myungsoo langsung
meninggalkan keduanya dengan
perasaan hancur.

~BRUK~

Jiyeon ambruk. Ia tak dapat
menahan tangisnya lagi.
Kyuhyun benar-benar terkejut
melihat pemandangan itu.
Ternyata Jiyeon benar-benar
menyukai bocah itu dan mereka? Mereka
saling mencintai.

***

Keesokan harinya, seluruh
sangsoengnim dan hagsaeng
Kyungnam High School dikejutkan dengan kabar bahwa Sangsoengnim Park Jiyeon mengundurkan diri.
Kim Myungsoo yang mendengarnya langsung pergi ke rumah Jiyeon dan mendapati bahwa ada sebuah tulisan
terpasang dirumah itu

“RUMAH INI DIJUAL!”

***

~~~ 5 TAHUN KEMUDIAN ~~~

@Yeungjin High School, Daegu

Sudah 3 bulan terakhir ini sekolah digegerkan dengan penggusuran yang akan dilakukan oleh sebuah
perusahaan besar.
Jiyeon sebagai salah satu
songsaengnim disanapun merasa
khawatir.

“Apa tidak ada cara lain, pak?” Tanyanya pada sang kepala sekolah.

“Tidak ada. Tanah ini miliknya.
Sekolah ini benar-benar harus segera digusur.” Jawab sang kepala sekolah.

“Annyeong! Mianhae pak diluar
sudah menunggu presdir
perusahaan yang akan menggusur sekolah ini.”
Ucap seorang Songsaengnim saat
memasuki ruang kepala sekolah.
Mereka semuapun keluar menuju lapangan sekolah.
Semua hagsaeng pun ikut
berkumpul.
Terlihat pria berkacamata hitam
dengan setelan jas tengah
memandang gedung sekolah yang akan digusur itu. Ia lalu membuka kacamatanya.

~DEG~

Park Jiyeon benar-benar terkejut.

“Kim Myungsoo?” Lirihnya.

Ya, pria itu adalah pria yang selama 5 tahun ini ia rindukan.
Pak kepala sekolah menghampiri Kim Myungsoo.

Kim Myungsoo masih sama seperti dulu, wajahnya yang dingin dan terkesan begitu menyeramkan, apalagi
sekarang ia terlihat lebih dewasa
dari 5 tahun lalu.

“Annyeong, Presdir! Saya kepala
sekolah disini.” Sapa sang kepala
sekolah.

Kim Myungsoo hanya tersenyum
miring.
Ia lalu memandang Park Jiyeon yang masih terlihat begitu terkejut akan kedatangannya.

“Aku akan membatalkan
penggusuran ini!” Ucapnya.

“Jeongmalyo?”

Semua yang mendengar merasa
terkejut.

“Ne.”

“Kamsahamnida, Presdir Kim!” Ucap sang kepala sekolah membungkuk.
Semua sangsoengnim dan hagsaeng terlihat begitu senang, berbeda dengan Park Jiyeon yang masih terdiam.

“Tapi dengan satu syarat.” Tambah Kim Myungsoo.

“Ne?”

“Bisakah kau memecat gadis yang ada disana?” Lanjut Kim Myungsoo menunjuk tepat ke arah Jiyeon.

Semua terkejut tak terkecuali dengan Jiyeon.
Apa Kim Myungsoo akan membalas dendam padanya?

“Keundae Presdir, Park Jiyeon, dia sangsoengnim baik. Ia sangat
favorite dikalangan hagsaeng dan
sangsoengnim. Bagaimana bisa ia
saya pecat?”

Jiyeon mulai menghampiri Kim
Myungsoo.
Tatapan mereka masih beradu.

“Apa kau melakukan semua ini
karena aku?” Tanya Jiyeon kesal.

Songsangnim dan hagsaeng serta
kepala sekolah terkejut
mendengarnya.
Apakah Jiyeon mengenal presdir ini sebelumnya?

Kim Myungsoo masih tersenyum
sinis.

“Ne. Aku melakukan semua ini
karenamu, Park Jiyeon!”

Jiyeon amat kesal. Ia menahan amarahnya.

“jadi kau dendam padaku?” Tanyanya.

“Ne. Aku sangat dendam padamu. Kau melukai hidungku. Kau melukai pipiku. Bahkan hatikupun kau lukai. Kau harus bertanggungjawab atas
semuanya, Park Jiyeon. Kau harus menikah denganku!”
Ucapan Myungsoo lagi-lagi membuat semuanya terkejut terutama Jiyeon.
Ia membatu. Lagi-lagi bocah itu mampu membuatnya tak berkutik.

Myungsoo maju melangkah Jiyeon lebih dekat lagi.

“Menikahlah denganku, Park Jiyeon!”

Jiyeon tak menjawab. Ia masih
terpaku.

Myungsoo langsung menggenggam kedua tangan Jiyeon.

“Mianhae membuatmu menunggu dalam waktu yang lama. Mianata! Aku ingin menjadi pria yang sesungguhnya saat bertemu denganmu dan saat ini aku membuktikannya.”

Jiyeon tak dapat menahan
airmatanya lagi. Ia pun menangis. Ia begitu tersentuh dengan pernyataan Myungsoo.

Myungsoo langsung merengkuh
Jiyeon kedalam pelukannya.
Semua yang menyaksikanpun ikut bahagia.

“Mianhae! Sebenarnya saat kudengar kau mengundurkan diri dari sekolah, aku langsung datang kerumahmu. Tapi
kau sudah tidak ada. Aku lalu
menemui Kyuhyun dan Kyuhyunpun menceritakan semuanya. Aku sudah
mengetahui keberadaanmu, tapi aku mempunyai tekad untuk menjadi pria sukses terlebih dahulu yang benar-benar pantas bersanding denganmu lalu menemuimu.”

JIyeon masih menangis. Ia terisak didalam pelukan Myungsoo.

“Halmeoni, ia merestui hubungan kita. Ia bahkan langsung menyukaimu
saat aku menceritakan semua
tentangmu. Ia langsung ingin
menemuimu saat aku memberikan fotomu padanya.”

Jiyeon mulai tenang. Ia tak lagi
terisak. Ia lalu memandang lekat
Myungsoo. keduanya saling menatap dengan tersenyum manis.

“Saranghae, Park Jiyeon!”

“Nado. Nado saranghae Kim
Myungsoo!”

Myungsoo mulai mendekatkan
wajahnya bermaksud mencium
Jiyeon, namun Jiyeon langsung memukul kepala Myungsoo.

“KYA!” Protes Myungsoo.

“NEO MICHEOSSO!”

“WAE? KITA SUDAH 5 TAHUN TAK BERTEMU. APAKAH SEBUAH
CIUMANPUN TAK BISA KU DAPATKAN DARIMU, EOH?”

“KAU INI BENAR-BENAR MESUM. APA KAU TIDAK LIHAT KITA ADA DIMANA, EOH?” Jiyeon tak mau kalah.

Kim Myungsoo kemudian memandang sekelilingnya.
Ya, ia masih berada di lingkungan
sekolah dan semua yang memandang mereka berduapun tertawa.

“Bukankah kau akan menikahiku, Kau bisa melakukan lebih dari sebuah ciuman, Kim Myungsoo.” Bisik Jiyeon.

Myungsoo langsung membelalakan matanya senang.

“Jeongmalyo? Kalau begitu kajja! Kita menikah sekarang!”

Jiyeon kembali memukul kepala
Myungsoo.

“KYA!”

“Otak mesummu itu harus cepat-
cepat dibersihkan!”

“Bukankah kau juga
menginginkannya nona Park.”

“KYA!”

Weh weh weh, langsung di coment z deh monggo!