FF Hyunseung Beast

image

              NEED YOU NOW
                (ONE SHOOT)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Jang Hyunseung (Beast)

Other Cast :
Lee Gikwang (Beast)
Yang Yoseob (Beast)
Yoon Doojoon (Beast)
Krystal (fx)
Kim Taehee
Shin Min Ah
Lee Minwoo (Shinhwa)

Songfict :
VIXX Someday

Genre :
Romance, Friendship, Family

A/N :
Ini FF ke 24 author. Sebenarnya ini FF jadul yang di buat pas tahun 2007 dan baru author post ke sosmed Januari lalu. Dan author repost hari ini di WP.
Semoga feel nya dapet dan tidak mengecewakan.
HAPPY READING!
DON’T PLAGIARISM!
|
|
|
|
|
“Eomma, kenapa aku harus menikah dengan Gikwang? Kami berdua bersahabat dan hal konyol jika kami harus menjadi sepasang suami istri!” Park Jiyeon, yeoja dengan rambut pirang yang ia ikat asal itu nampak tengah memohon pada sang eomma, Kim Tae Hee. Bagaimana tidak, saat ia kembali dari kampusnya di Kyungsung University, Busan, ia di kejutkan dengan cerita sang eomma bahwa ia akan di jodohkan dengan Lee Gikwang yang notabene adalah sahabatnya sendiri.

“Chagiya, eomma dan juga keluarga Lee sudah sepakat untuk melakukan hal ini pada kalian berdua!” Ujar Kim Taehee sang eomma.

“Keundae Eomma, aku sudah menganggap Gikwang seperti saudara ku sendiri. Sangat tidak masuk akal jika aku menikahi saudaraku sendiri!” Jiyeon terus menyuarakan isi hatinya.

“Eomma ara, chagi. Kalian berdua memang sangat dekat sejak kecil. Keundae, ini akan menjadi keputusan yang terbaik untuk kalian berdua. Kalian tidak perlu lagi saling mengenal satu sama lain. Gikwang dan keluarganya sudah sangat berjasa bagi keluarga kita. Sejak Appa mu meninggal dunia, mereka lah yang terus membantu kita hingga saat ini!”

“Aniyo, eomma. Aku tidak mau menikah dengan Gikwang. Eomma tidak bisa begitu saja menjual Jiyeon pada keluarga Lee!”

“JIYEON-AH!” Bentak Taehee tak habis pikir karena putri semata wayangnya berfikir hal seperti itu tentangnya. Demi tuhan ia hanya ingin membuat yang terbaik untuk putrinya tersebut.

“Terserah kau mau setuju atau tidak, yang jelas kau akan tetap menikah dengan Gikwang!” Taehee bangkit dan hendak meninggalkan Jiyeon.

“Eomma, kami berdua tidak saling mencintai!”

“Eomma tidak perduli! Kau akan tetap menikah dengan Gikwang!” Lalu Taehee benar-benar meninggalkan Jiyeon sendiri di ruang tamu rumah mereka.
Rumah yang sederhana, tak seperti milik keluarga Lee yang mewah. Wajar saja, penghasilan TaeHee sebagai pelayan restaurant tak memungkinkan ia memiliki hunian sebesar dan semewah milik keluarga Lee. Dengan bisa menyekolahkan Jiyeon hingga perguruan tinggi saja sudah lebih dari cukup baginya.

“Aisssh, ige eotteokhae!” Jiyeon mengacak poni rambutnya.
Terbesit ide di kepalanya untuk menghubungi Gikwang sahabatnya itu, namun sayang nomor Gikwang selalu sibuk dan tak bisa di hubungi.

“Sedang apa sebenarnya si brengsek itu!” Gerutu Jiyeon kesal.

Telephon rumah Jiyeon tiba-tiba berdering dan ia langsung mengangkatnya.

“Yeoboseyo!” Jawab Jiyeon.

“Ne, yeoboseyo. Bisa bicara dengan Jiyeon?”

Jiyeon menautkan kedua alisnya.
Siapa yang mencarinya?

“Ne, ige nan. Ige, nugunde?” Tanya Jiyeon. Terdengar suara hembusan nafas dari seberang telephon.

“Kupikir ini imo. Syukurlah kau yang mengangkatnya!”

“Kya! Gikwangie! Ada apa dengan suaramu?” Tanya Jiyeon yang baru menyadari bahwa yang menghubunginya itu adalah Gikwang, sahabatnya. Ia bahkan tak mengenali suara namja itu karena Gikwang rupanya memainkan suaranya saat pertama kali berbicara. Kini suaranya kembali normal dan Jiyeon pun dapat dengan mudah mengenali suara sahabatnya itu.

“Aku takut imo yang mengangkatnya, maka dari itu aku merubah suaraku. Ada apa dengan handphonemu? Aku tak bisa menghubungi nomormu!” Protes Gikwang.

“Nomor mu juga selalu sibuk. Mungkinkah kita saling menghubungi satu sama lain?”

“Kurasa begitu. Bisakah kau keluar malam ini? Ada hal penting yang harus ku katakan padamu!”

“Eum, nado. Kalau begitu kita bertemu di tempat biasa!”

“Eum, geurae.”

Akhirnya keduanya pun mengakhiri pembicaraan mereka dengan memutuskan sambungan telephon masing-masing. Jiyeon pun berjalan menuju kamarnya lalu mengambil sweaternya. Setelah mengenakannya ia pun keluar tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada sang eomma. Mungkin sang eommapun sudah terlelap mengingat ia baru saja kembali bekerja terlebih terlibat beberapa pertengkaran dengan putrinya. Pasti ia amat merasa lelah.

Dan di sinilah Jiyeon. Bulwoo Gongyang. Sebuah restaurant yang cukup terkenal di kawasan Busan milik warga negara Uzbekistan. Restaurant ini terkenal dengan menu vegetariannya.

“Kau sudah menunggu lama?” Tanya Jiyeon yang langsung duduk tepat di kursi yang ada di hadapan Gikwang.

“Aniyo. Kau mau pesan apa?” Tanya Gikwang.

“Seperti biasa saja!” Jiyeon membuka sweaternya. Menyimpannya tepat di belakang punggungnya di atas kursi yang tengah ia duduki.

“CHOGI!” Teriak Gikwang memanggil salah satu pelayan di sana.

Nampaklah seorang pelayan dengan rambut yang ia ikat rapih tentu dengan pakaian khas pelayan di sana.

“Ne. Apakah tuan ingin memesan?” Tanya sang pelayan yeoja lembut.

Gikwang terpana. Pelayan itu benar-benar cantik.
Tidak, ia manis sekali. Gikwang bahkan lupa dengan tujuannya memanggil sang pelayan.

“Tu-tuan!” Sang pelayan nampak risih dengan tatapan aneh yang Gikwang berikan padanya.

“Wangie-Ah! Kya!” Jiyeon berusaha mengembalikan sahabatnya itu pada dunia nyata.

“N-ne?” Bagai orang bodoh, Gikwang justru bertanya pada sahabatnya itu.

“Eoh, hahaha…. saya mau memesan!” Nampaknya Gikwang baru menyadari kebodohannya.
Ia pun mulai menunjuk makanan yang ada di menu makanan dan dengan hati-hati sang pelayan itu mencatat nya di buku pesanan. Setelah selesai, pelayan itupun pamit untuk menyiapkan makanan yang di pesan Gikwang.
Hingga pelayan itu beranjak dari meja mereka, mata Gikwang tak pernah lepas dari sang yeoja.

“Ck, kau menyukainya?” Tebak Jiyeon.

“Ne? Hahah… Apa aku harus meminta nomor handphonenya?” Tanya Gikwang meminta pendapat sahabatnya itu.

“Eum, mullon. Sepertinya ia pelayan baru disini!” Ucap Jiyeon yang memang baru pertama kali melihatnya.

“Dia datang!” Gikwang nampak berdebar saat sang pelayan membawakan pesanannya.

“Jaga sikapmu! Kau membuatnya takut karena tingkah konyolmu itu!”

Gikwang langsung duduk tegap di kursinya meski jantungnya terus berdentum keras. Ia dapat merasakan langkah kaki sang yeoja yang berjalan mendekat ke meja nya.

“Silahkan di nimkati tuan, nyonya! Jika ada hal lain yang kalian butuhkan, jangan sungkan untuk memanggil saya!” Pelayan itu pun kembali setelah mengantarkan makanan yang tamunya pesan.

Gikwang nampak bernafas lega. Percaya atau tidak, selama pelayan itu di meja nya, namja itu bahkan menahan nafasnya. Ck, membuat lucu saja. Jiyeon hanya tersenyum geli melihat sahabatnya itu.

“Kurasa tujuan kita sama! Ini tentang perjodohan sialan itu! Apa yang akan kau lakukan. Kau harus tau kalau hal itu mustahil! Kita tidak akan pernah menikah.” Jiyeon memulai mengatakan tentang tujuannya.

“Eum. Ara. Nado. Aku akan terus berusaha membujuk kedua orang tuaku untuk membatalkan ini semua!” Gikwang mulai memakan makanannya.

“Jeongmal?”

“Ck, kapan aku berbohong padamu!” Gikwang nampak kesal karena sahabatnya itu meragukannya.

“Gomawo, Gikwangie. Aku berharap banyak padamu!”

Keduanya pun kembali ke rumah mereka setelah Gikwang mengantarkan Jiyeon ke rumah menggunakan mobil mewahnya.
|
|
|
|
|
@Kyungsung University, Busan

“Annyeong!” Sapa Gikwang yang masuk ke dalam kelas Jiyeon. Ia memang tidak sekelas dengan yeoja itu. Ia lebih memilih jurusan seni di bandingkan dengan jurusan bisnis yang di ambil sahabatnya tersebut.

“Kya! Apa kau menangis semalaman?”

“Mwo?”

“Lihat matamu itu! Ck, benar-benar menyeramkan!”

Ya, Jiyeon tak membantah. Ia kembali bertengkar dengan sang eomma setelah kembali dari restaurant semalam.

Mata Jiyeon kemudian tertuju pada satu sosok namja bersurai merah yang baru saja memasuki kelas. Itu adalah Jang Hyunseung. Mahasiswa dengan jurusan yang sama seperti dirinya.

“Sampai kapan kau akan memperhatikannya seperti ini?” Bisik Gikwang menyadarkan Jiyeon dari pesona seorang Hyunseung.

“Ck. Jangan menggangguku! Kembalilah ke kelasmu!” Balas Jiyeon.

Jiyeon dapat melihat dari ekor matanya, yeoja bernama Krystal yang sejak awal terus mengekor Hyunseung terlihat tengah bergelayut manja di lengan namja itu.

“Hyunseung-Ah, bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama!” Jiyeon mendengar yeoja itu bersuara dengan manjanya.

“Kya! Apa kau hanya akan mengajaknya, eoh?” Protes namja bertubuh tinggi, Yoon Doojoon.

“Bagaimana dengan kami?” Yang Yoseob, namja itu juga menyampaikan protesnya.

“Kalian bisa pergi berdua!” Jawab Krystal dengan mudahnya.

“MWO?” Teriak Doojoon dan Yoseob secara bersamaan.

“Kau pikir kami ini apa, eoh?” Doojoon nampak kesal.

“Yeoja sialan!” Gerutu Yoseob.
Sedangkan namja bersurai merah itu hanya terdiam. Tak seperti ke tiga sahabatnya. Ia lebih pendiam dan tenang.

“Kau harus mengatakan perasaanmu padanya! Jika tidak, yeoja yang ada di sampingnya itulah yang akan mendapatkannya!” Bisik Gikwang.

Jiyeon bernafas lelah. Ia lelah dengan perasaannya yang mencintai sosok Jang Hyunseung. Sosok yang bahkan sangat sulit ia gapai. Sejak namja itu pindah ke Busan 6 tahun silam, ia mulai menyukainya. Tepat ketika mereka baru memasuki Senior High School. Sulit di percaya namun ini benar nyatanya, mereka selalu satu kelas sejak saat itu. Sayang, mereka tak terlihat seperti teman pada umumnya. Jika mereka berbicara, hanya pertengkaranlah yang kiranya keluar dari bibir mereka. Bagai minyak dan juga air, mereka sangat sulit untuk di satukan.

“Haaaaaaaah, kembalilah ke kelasmu! Sebentar lagi dosen akan datang!” Jiyeon bersuara.
Gikwangpun mau tak mau harus kembali ke kelasnya di susul dengan Krystal yang memang berbeda jurusan pula.

Hingga jam kuliahpun berakhir, Jiyeon memilih untuk tinggal di dalam kelasnya. Jikapun ia kembali ke rumah, yang ada ia hanya akan kembali bertengkar dengan sang eomma. Ya, Taehee bekerja dari mulai pkl 06.00 pagi hingga pkl 14.00 siang, jadi bisa di pastikan saat ini sang eomma sudah kembali ke rumah.

Ia hanya menumpukan wajahnya pada kedua lengannya. Memikirkan tentang perjodohan itu akan membuatnya semakin gila saja.

Tanpa Jiyeon sadari, ternyata bukan hanya dirinyalah yang berada di dalam sana. Jang Hyunseung, namja bersurai merah itupun masih ada di dalam kelas.

“Kau mempunyai masalah?”

Jiyeon mendengarnya. Mendengar suara itu bertanya padanya. Ia pun menarik wajahnya dan menoleh ke arah Hyunseung. Ya, namja itu masih duduk di sana.

“Bukan urusanmu!” Ya, jawaban yang terkesan jutek selalu keluar dari mulutnya setiap kali namja itu mulai membuka suara, sedikit mengajaknya berbicara.

“Kalau begitu, pulanglah! Sudah hampir larut!” Hyunseungpun bangkit dan berjalan menuju pintu jelas.

Jiyeon mau tak mau pun mengekor di belakang. Bukankah hal langka ia bisa bersama namja yang ia suka hanya berdua saja?
Haruskah ia menyiakan kesempatan ini?
Setidaknya sebelum ia menikah dengan Gikwang, ia harus sedikit berusaha untuk mengungkapkan perasaannya pada namja itu.

“Bagaimana denganmu? Kenapa kau belum pulang?” Tanya Jiyeon masih dengan nada juteknya. Kini langkah kakinya beriringan dengan langkah kaki milik Hyunseung.

“Hanya sedang memikirkan sesuatu!” Jawab Hyunseung tanpa menoleh ke arah Jiyeon sedikitpun.

Jiyeon nampak mengerutkan keningnya.
Apa yang perlu namja itu pikirkan?
Ia sudah tampan, kaya raya dan masalah yeoja tak perlu di tanyakan, ada banyak yeoja yang siap mengantri untuk menjadi kekasihnya.

“Kau mau pulang bersamaku?” Tanya Hyunseung menghentikan langkahnya membuat Jiyeon pun ikut berhenti.

“Ne?”
Apa yeoja itu tak salah dengar? Namja itu! Jang Hyunseung! Namja yang sudah 6 tahun di sukainya, mengajaknya untuk pulang bersamanya?
Apakah ia tengah mabuk?
Atau Jiyeon yang tengah bermimpi?

“Aku akan mengantarmu pulang!” Setidaknya ucapan dari Hyunseung menegaskan semua pertanyaan Jiyeon.

Yeoja itu tak menolak, ia juga tak mengatakan apapun selama dalam perjalanan menuju rumahnya. Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil lamborghini milik Hyunseung.

“Sepertinya kalian bertengkar!” Akhirnya Hyunseung memecah keheningan.

“Ne?” Entah mengapa, hari ini Jiyeon terlihat seperti orang bodoh. Apa mungkin efek karena ia tengah bersama Hyunseung saat ini?

“Kau dan juga kekasihmu!”

“Mwo?”

“Lee Gikwang. Dia kekasihmu, bukan!” Perjelas Hyunseung masih tetap fokus menatap jalanan di depannya.

“Gikwang? Kekasihku? Hahahaha….” Untuk pertama kalinya Jiyeon tertawa di hadapan Hyunseung.

Hyunseung menoleh ke arah Jiyeon. Melihat yeoja itu tertawa untuk pertama kali karena nya.

“Mi-mian!” Jiyeon menghentikan tawanya saat ia menyadari tatapan Hyunseung tertuju padanya.

“Kami hanya bersahabat. Sejak kecil kami sangat dekat bahkan ia seperti saudaraku sendiri. Keluarga kami juga sangat dekat. Keundae…..” Jiyeon menghentikan ucapannya mengingat bahwa pada akhirnya sahabatnya itulah yang akan menjadi suaminya kelak karena perjodohan yang kedua orang tua mereka lakukan.

“Wae?”

“Aniyo.” Jiyeon tak melanjutkan ucapannya. Ia merasa terlalu banyak berbicara pada Hyunseung.

“Bagaimana denganmu?”

Tak ada jawaban dari Hyunseung, membuat Jiyeon kembali membuka suaranya.

“Maksudku, Krystal. Kenapa kau tak pulang bersama kekasihmu itu!” Hati Jiyeon terasa tersayat begitu mengucapkan kata ‘kekasih’.
Oh begitu menyakitkan rupanya. Batin Jiyeon

“Kami hanya bersahabat!”

“Ne?”

“Aku dan Krystal. Sama seperti kau dan juga Gikwang!”

“Jeongmalyo?” Oh tidak, nampaknya perasaan Jiyeon yang senang begitu mendengar krystal bukan kekasih Hyunseung membuat ia sedikit berteriak dengan ucapannya.

“Mian!” Jiyeon kembali menutup mulutnya menyadari kebodohannya.

Suasana kembali hening hingga tiba di depan rumah Jiyeon.

“Gomawo, karena sudah mengantarku!” Ucap Jiyeon saat ia hendak membuka pintu mobil.

“Apa aku boleh berkunjung ke sini lain waktu?”

“Ne?” Pertanyaan Hyunseung membuat Jiyeon membalikkan tubuhnya kembali menghadap namja itu.

“Aku, berkunjung ke rumahmu!” Perjelas Hyunseung.

Jiyeon tersenyum. Senyum tulus yang untuk pertama kali ia perlihatkan pada namja itu.

“Datanglah! Aku akan menunggumu!” Kali ini Jiyeon dapat melihat seulas senyum tipis dari wajah datar Hyunseung. Benarkah namja itu memberikannya sebuah senyuman?
|
|
|
|
|
|
Sejak kejadian malam itu, Jiyeon mulai berani menyapa Hyunseung meski namja itu hanya membalas seperlunya. Ia tak lagi kecewa, setidaknya sebelum ia mengakhiri masa lajangnya dan melepaskan cintanya, ia akan berusaha untuk memberanikan diri menyampaikan perasaannya itu meski ia masih menunggu waktu.

“Kau sudah pulang, chagi?” Sambutan dari Shin Minah di dapatkan Jiyeon kala ia memasuki rumahnya.

“Imo!” Jiyeon langsung memeluk imonya yang tak lain adalah eomma dari Gikwang,  sahabatnya.

“Bagaimana kabarmu? Kenapa jarang sekali berkunjung ke rumah imo?” Min Ah nampak merajuk pada yeoja muda yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri itu.

“Mian imo, akhir-akhir ini Jiyeon sibuk mengurus tugas akhir semester. Sebentar lagi kan Jiyeon akan menghadapi kelulusan!”

“Eum, imo ara!” Min Ah mengelus lembut rambut pirang Jiyeon.

“Apa imo datang sendirian? Dimana samchon dan juga Gikwang?”

“Mereka sedang menemani eommamu memasak!”

“Sincha? Apa samchon juga bisa memasak?”

“Mullon. Dari mana Gikwang belajar memasak jika bukan dari Appanya!”

“Errrrr, kita lihat makanan apa yang mereka buat!”

“Kajja!”

Mereka berdua pun melangkah menuju dapur dan Lee Minwoo, appa Gikwang, terlihat tengah menyiapkan piring bersama dengan Gikwang.

“Eoh, kau sudah pulang Jiyeon-Ah!” Sapa Minwoo.

“Ne, samchon!” Jawab Jiyeon.

Setelah selesai menyiapkan makanan, mereka pun mulai menyantap makanan yang Gikwang, Minwoo dan juga Taehee buat.

Suasana terasa hangat hingga percakapan tentang perjodohanpun kembali membuat Jiyeon maupun Gikwang tak bersuara.
|
|
|
|
|
“Apa kita benar harus melakukannya?” Jiyeon tertunduk sedih. Saat ini ia tengah berdua bersama dengan Gikwang di atas loteng kampus mereka.

“Mianata! Aku sudah melakukan semampu yang aku bisa, Jiyeon-Ah!” Gikwang nampak merasa bersalah.

Jiyeon menghela nafas nya berat.
Haruskah berakhir seperti ini? Sejak awal kisah cintanya memang sudah gagal.

“Apa kau akan menyatakan perasaanmu pada Hyunseung?” Tanya Gikwang.

“Molla. Keundae, kurasa itu tak penting lagi. Meski aku merasa sekarang hubungan kami berdua jauh lebih baik dari sebelumnya, ini tak membuahkan hasil apapun!”

“Bagaimana kalau dia juga menyukaimu? Bukankah kau bilang ia dan Krystal hanya bersahabat! Berarti masih ada kesempatan untukmu mendapatkannya!”

“Eum. Kurasa itu malah akan sangat menyakitkan bagi kami berdua. Kalaupun ia juga memiliki perasaan yang sama seperti apa yang kurasakan terhadapnya, itu hanya akan menyakitinya. Yeoja yang ia cintai akan menikah dengan namja lain. Akan lebih baik jika hanya aku yang mencintainya, itu akan membuat semuanya terasa mudah. Hanya akan ada aku yang terluka. Keundae, aku pasti akan mengatakannya. Mengatakan semua perasaan yang aku rasakan selama 6 tahun ini padanya. Setidaknya aku tak akan pernah memendam apapun lagi setelah menikah denganmu kelak!” Jiyeon tersenyum getir.

“Jiyeon-Ah, mianata! Jeongmal mianata!” Gikwang benar-benar merasa bersalah. Ia tak bisa melakukan apapun tentang perjodohan ini.

“Setelah malam ini, aku akan mengatakan semuanya padanya. Dan aku pun juga akan mulai melupakan dan melepaskannya!” Ya, malam ini adalah malam ia dan Gikwang akan bertunangan. Miris sekali, karena ia akan mengatakan perasaan yang selama 6 tahun ini ia pendam dan dalam satu hari juga ia akan melepaskan perasaannya itu.
|
|
|
|
|
Kini, yeoja itu sudah siap dengan gaun yang sudah eommanya siapkan. Mereka memang tak mengundang siapapun dalam pertunangan ini. Hanya ada ia, Taehee, Gikwang dan juga kedua orang tua Gikwang.

Jiyeon pun keluar dari dalam kamar dan mendapat tatapan kagum dari orang-orang yang ia sayangi atas penampilannya malam ini.

“Chagiya, neomu yeoppo!” Puji Min Ah.

“Gomawo, imo!”

“Errrr, si itik berubah menjadi angsa di malam hari rupanya!” Ejek Gikwang yang mengundang tawa bagi semuanya.

“Aigoo, jangan berkata seperti itu! Jiyeon-Ah, penampilanmu malam ini memang benar-benar luar biasa!” Minwoo memberikan komentar.

Jiyeon hanya menanggapinya dengan senyum yang ia paksakan. Jujur saja, jika boleh, malam ini ia menghilang saja. Tapi ia tak ingin melukai siapapun, terlebih orang-orang yang begitu ia sayangi selama ini.

“Kau cantik, chagi!” Taehee pun memuji putrinya.

Hingga pandangan semuanya pun beralih saat sosok Jang Hyunseung yang muncul di sana, pintu rumah memang sengaja tidak di tutup jadi Hyunseung tak perlu mengetuk pintu terlebih dahulu untuk memasukinya.

Jiyeon begitu terpana. Penampilan Hyunseung malam ini benar-benar berbeda.
Apa Gikwang mengundangnya? Jahat sekali! Kenapa ia membiarkan orang yang Jiyeon cintai hadir di pertunangannya?

“Apa kami datang terlambat?” Ucap seorang namja paruh baya. Parasnya sangat mirip dengan Hyunseung.
Siapa dia?
Apa yang mereka lakukan disini?

Seorang yeoja paruh baya yang datang bersama Hyunseung langsung berjalan ke arah Jiyeon yang masih mematung. Yeoja itu tersenyum lembut padanya. Ia memeluk Jiyeon lalu mengecup singkat kening Jiyeon.

“Kau benar-benar cantik! Pantas putraku begitu tergila-gila padamu!” Ucapnya masih dengan senyum menghiasi wajahnya.

Jiyeon kembali di buat bingung. Apa yang barusan yeoja ini ucapkan?
Ada apa sebenarnya ini?

“Kajja! Kita mulai acara pertunangannya! Kau membawa cincinnya, bukan!” Ucap Gikwang.

“Eum. Tentu saja!”

Hyunseungpun mengeluarkan kotak kecil dari saku tuxedo yang ia kenakan.

Jiyeon masih tak bergeming saat Hyunseung berjalan ke arahnya dengan senyum yang bahkan tak pernah Jiyeon lihat sebelumnya.

“I-ige, mwohaneungeoya?” Tanya Jiyeon saat namja itu tiba di hadapannya.

“Kau tak ingin menikah denganku?” Pertanyaanlah yang justru keluar dari bibir Hyunseung.

“Mwo?”

Menanggapi keterkejutan Jiyeon, Taehee sang eommapun menghampirinya. Ia menepuk lembut pundak putrinya seraya mengangguk.

Jiyeon mengerjapkan matanya. Melihat satu-persatu wajah semua orang yang ada di dalam rumahnya. Tak ada raut kecewa di wajah orang-orang itu sedikitpun, yang ada hanya senyum bahagia yang menghiasi wajah mereka. Tanpa sadar yeoja itu mengeluarkan air matanya.

“Hey! Kenapa menangis?” Hyunseung menyeka air mata yang jatuh di pipi Jiyeon dengan lembut.

“Ige…..Hiks….” Jiyeon masih bingung dengan apa yang terjadi.

“Aku membutuhkanmu! Menikahlah denganku! Jadilah istriku! Jadilah eomma bagi anak-anakku kelak! Park Jiyeon, aku mencintaimu!” Perkataan terpanjang yang pernah Hyunseung ucapkan seumur hidupnya. Pernyataan yang membuat Jiyeon semakin deras mengeluarkan air matanya. Mimpikah ini?
Atau ini adalah hal nyata?

Hyunseung langsung merengkuh Jiyeon kedalam pelukannya. Menenangkan yeoja yang selama ini begitu ia cintai itu.

“Huwaaaa, aku ingin pulang saja kalau begini! Kenapa jadi mengaharukan seperti ini!” Gerutu Gikwang seraya menghapus air matanya.

Jiyeon membalas pelukan Hyunseung. Tak peduli ini mimpi atau nyata, yang jelas Jiyeon tak ingin beranjak dari dalam pelukan Hyunseung mulai saat ini juga.
|
|
|
|
|
“MWO? HYUNSEUNG MENIKAH DENGAN JIYEON? APA KAU BERCANDA?” Teriak Krystal. Baru saja selama sebulan ia berlibur ke China setelah kelulusan, ia mendapatkan berita yang begitu mengejutkan.

“Aisssh, harusnya kau pergi lebih lama lagi di China!” Balas Doojoon menutup gendang telinganya.

“Mereka sudah bertunangan sebelum hari kelulusan, maka wajar saja jika setelah kelulusan mereka langsung menikah!” Yoseob berkomentar.

“Aisssh, aku benar-benar terlambat! Aku seperti orang bodoh saja!” Gumam Krystal.

“Maja!” Yoseob menyetujui hal itu dan berhasil membuat Krystal berdecak kesal.

“Keundae, aku tak akan patah hati. Selama di China, aku memiliki seorang teman kencan. Jadi ini bukanlah berita luar biasa!” Jawab Krystal dengan cueknya.

“Aigoo, lalu kenapa tadi kau sampai berteriak seperti itu? Menyebalkan!” Gerutu Doojoon.

“Hanya refleks!” Jawab Krystal tak merasa bersalah sedikitpun.

Doojoon dan Yoseob hanya menghela nafas mereka.

Sementara itu di Balwoo Gongyang Restaurant.

“Kya! Berikan aku alamat rumahmu! Setidaknya berikan nomor handphonemu!” Gikwang masih terus berusaha membujuk seorang pelayan yeoja yang beberapa hari lalu ia temui saat makan malam bersama Jiyeon. Ya, sejak malam itu, ia terus berusaha mendekati yeoja itu, namun nampaknya akan sulit meluluhkan hati sang pelayan, Gikwang harus berusaha lebih keras untuk mendapatkannya.

“Ayolaaaaaaah!” Rengeknya, lagi.
|
|
|
|
|
Pagi ini, Jiyeon masih bergelayut di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuh polosnya.

“Bangunlah, chagi!” Bisik Hyunseung.

“Ehmmmm!” Hanya gumaman tak jelas yang keluar dari bibir Jiyeon, membuat Hyunseung tersenyum geli melihatnya.

“Atau kau ingin melanjutkan rode ke empat?” Bisiknya berhasil membangunkan yeoja itu.

“Kya!” Protes Jiyeon yang langsung hilang begitu saja kantuknya.

“Bangunlah! Aku sudah menyiapkan makanan!”

Jiyeon hanya mengerucutkan bibirnya.

Tepat 2 bulan sudah usia pernikahan Jiyeon dan juga Hyunseung. Mereka tinggal di Apartement yang memang sudah Hyunseung sediakan untuk mereka. Namja itu bekerja di perusahaan appanya, sedangkan Jiyeon diberikan kepercayaan untuk mengajar di kampusnya dulu mengingat otaknya yang encer dan bisa di bilang IQ di atas rata-rata.

“Mianhae, harusnya aku yang menyiapkan makanan!” Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian, Jiyeon langsung menemui suaminya yang sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.

“Gwaenchana! Itu salahku juga karena membuatmu tidak bisa bangun pagi ini!”

Jiyeon langsung memerah mendengar ucapan suaminya itu. Ya, tubuhnya terasa remuk karena harus melayani suaminya hingga 3 kali. Mereka baru terlelap pkl 04:00 pagi karena nampaknya Hyunseung semalam tidak membiarkan Jiyeon untuk bernafas lega karena ia terus menyatukan tubuh mereka berdua ke dalam kenikmatan tiada tara.

“Oppa, kapan kau akan menceritakan tentang lamaranmu waktu itu?” Jiyeon kembali menagih janji Hyunseung tentang malam di mana seharusnya ia dan Gikwanglah yang bertunangan tapi malah Hyunseung yang datang bersama kedua orang tuanya dan akhirnya namja itulah yang bertunangan dengan Jiyeon dan sekarang menjadi suaminya.

“Apa imbalannya?” Hyunseung mulai duduk di kursinya tepat di hadapan Jiyeon.

“Kya! Kenapa kau meminta imbalan dari istrimu sendiri!” Jiyeon mengerucutkan bibirnya membuat Hyunseung terkekeh.

“Kau ingat siang sebelum kau akan bertunangan dengan Gikwang?”

“Eum. Mullon. Wae?”

“Aku ada di sana saat itu!” Hyunseung meminum susu yang ia buat.

“M-mwo?”

“Aku mendengarnya. Mendengar semuanya.”

Ya, Jiyeon ingat. Siang itu ia membicarakan tentang perasaannya pada Hyunseung di atap kampus.

“Ba-bagaimana mungkin?” Jiyeon nampak tak percaya.

“Gikwang menghubungiku. Sebenarnya saat aku mengantarmu pulang, aku bertemu Gikwang saat kau memasuki rumah. Tadinya ia hendak menemuimu, tapi ia membatalkan niatnya dan lebih memilih berbicara denganku!”

Jiyeon nampak berantusias mendengarnya.

“Ia mengatakan semuanya. Tentang perasaanmu padaku selama 6 tahun ini. Rasanya aku seperti mimpi saat itu. Sulit di percaya karena kau juga memiliki perasaan yang sama denganku!” Ya, Hyunseung memang menyukai Jiyeon sejak awal. Ia terlalu sulit untuk mendekati seorang yeoja selain yeoja yang terlebih dahulu mengejarnya.

“Selama 6 tahun ini, kupikir kau membenciku. Kau selalu berkata ketus jika aku mencoba untuk mendekatimu!”

“Mianhae!” Jiyeon tertunduk.

“Saat aku mengetahui Gikwang dan Kau akan menikah, aku menjadi tak punya nyali untuk lebih mendekatimu. Lalu aku menceritakan semua ini pada kedua orang tuaku. Mereka membantuku. Menemui keluarga Gikwang dan juga eommamu, tentu dengan Gikwang yang ikut membantu meyakinkan mereka bahwa kau dan aku saling mencintai!”

“Omo, Apa mungkin…..” Jiyeon ingat, malam itu eomma dan Keluarga Gikwang datang ke rumah untuk makan malam bersama. Apa itu adalah saat dimana mereka meyakinkan bahwa aku dan Gikwang tak saling mencintai? Batinnya.

“Dan saat di atap kampus, aku makin percaya bahwa kau juga mencintaiku. Aku pun meminta persetujuan eomma dan appa untuk meminangmu, tepat di hari kau akan bertunangan. Dan malam itu pun aku menggantikan Gikwang menjadi tunanganmu!”

Jiyeon, yeoja itu meneteskan air matanya. Sungguh, ia terharu. Ternyata cintanya selama ini memang tak pernah bertepuk sebelah tangan. Namja yang ia cintai, selalu membalas perasaannya.

“Hey! Kenapa menangis?” Hyunseung melangkah, ia bersimpuh di hadapan Jiyeon. Menghapus jejak air matanya.

“Mi-mian! Hiks….”

Hyunseung tersenyum lembut.

“Kenapa harus meminta maaf? Justru aku berterimakasih, setidaknya aku tidak terlambat mendapatkanmu!”

Jiyeon langsung memeluk suaminya itu dan tanpa ragu Hyunseung pun membalasnya. Mengelus rambut istrinya itu penuh sayang.
Jiyeon tiba-tiba merasa ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam mulutnya.

“W-wae?” Hyunseung nampak panik melihat wajah Jiyeon.

“Uoooooo!” Jiyeonpun langsung berlari menuju toilet, membuang apa yang masuk ke dalam perutnya. Hyunseung yang melihatnya langsung berlari mengikuti Jiyeon. Memijat tengkuk istrinya itu dengan perasaan cemas.

“Chagiya, gwaenchana?”

“Uoeeeekkkkk….” Jiyeon, ia terus memuntahkan isi di dalam perutnya.

“O-oppa!” Lirihnya.

“Wae? Bagian mana yang sakit? Katakan padaku!” Hyunseung panik.

“A-aku sudah telat 1 bulan!”

Butuh beberapa menit bagi Hyunseung untuk mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Jiyeon.

“Ku-kurasa…. Aku hamil!”

Hyunseung membuka lebar matanya. Wajahnya yang pucat karena panik langsung berubah cerah seketika. Ia langsung memeluk Jiyeon.

“Jeongmalyo? Huwaaaa…..Aku akan jadi appa! Gomawo, chagiya!” Hyunseung memberikan jutaan kecupan di wajah Jiyeon mendengar kebahagiaan itu.

Akhirnya, inilah kebahagiaan yang Jiyeon butuhkan, yang ia inginkan, dan yang ia harapkan.
|
|
|
|
|
Huwaaa story nya kependekan yah!
Feelingnya dapet ga nih?
Kritik hujatan dan makian siap author trima.
Coment jusaeyo!