FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 12

image

       IF I RULED THE WORLD
                   (part 12)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong aka Hero (JYJ)

Other Cast :
Choi Siwon (Super Junior)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)
Lee Chaerin aka CL (2ne1)
Shin Min Ah
Lee Junki
Ravi (VIXX)
Hyuk (VIXX)
Park Jiyoung aka Kahi (After School)
Jung Yunho (TVXQ)
Song Hye Kyo
Bae Suzy (Miss A)

Songfict :
Team B Wait For Me

Genre :
Romance, Hurt, Bondage,
Family, NC 21+

Length :
Chaptered

A/N :
HAPPY READING!
DON’T PLAGIARISM!
.
.
.
.
.
Waktu itu, aku ingat malam itu menunjukkan pkl 11 malam. Aku masih terjaga. Ada banyak hal yang tengah ku pikirkan. Hingga Hyuk membuka pintu apartement dengan wajah kesalnya.

“Apa-apaan! Apa dia pikir aku akan melakukan hal sekeji itu? Dasar orang kaya! Benar-benar tidak punya hati nurani!” Ocehnya melempar selembar kertas ke atas meja.

“Waegeurae?” Tanyaku padanya.

“Eoh, hyung! Kau belum tidur?”

Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya. Aku melihat kertas yang baru saja di lempar Hyuk. Kulihat terdapat beberapa angka di sana. Mungkin nomor telephon. Pikirku saat itu.

“Kau kenapa? Apa ada yang mengganggumu?” Tanyaku.

Hyuk sudah ku anggap seperti dongsaengku sendiri. Kami sama-sama merantau ke Seoul untuk mendapatkan uang yang lebih di bandingkan dengan berada di daerah asal kami. Kamipun akhirnya di pertemukan di sebuah perusahaan yang menyediakan jasa berkeliling Seoul. Sama halnya dengan jasa traveller, namun bedanya kami menggunakan jalur udara, bukan jalur darat seperti pada umumnya. Dan kamipun berhasil menjadi salah satu pilot yang bekerja di sana.

Gajinya memang tidak seberapa dibandingkan dengan gaji pilot pesawat terbang, maklum saja karena tugas kami hanyalah berkeliling Seoul menggunakan Helikopter.

“Ne, hyung! Orang kota yang kaya raya dan brengsek! Berani sekali ia memintaku untuk mencelakai orang dengan mendapatkan imbalan yang besar. Apa ia pikir orang miskin dan udik seperti kita tidak punya hati nurani sehingga bisa melakukan hal sejahat itu. Aku benar-benar kesal karenanya. Aisssh!”

Kulihat Hyuk berjalan ke kamar mandi dan menutupnya. Mungkin ia akan membersihkan dirinya. Pikirku.

Kupandangi nomor telephon itu.
Mungkinkah ini nomor dari orang yang akan memberikan imbalan besar jika ia melakukannya?

Tanpa di ketahui Hyuk, aku mencoba menghubungi nomor tersebut.
Aku, membutuhkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit.
Berbeda dengan Hyuk yang masih melajang, aku sudah mempunyai seorang anak yang masih terlalu kecil serta seorang istri yang akan segera melahirkan anak ke 2 kami.

Kau tau apa yang sedang aku pikirkan saat Hyuk belum kembali?
Aku tengah memikirkan biaya persalinan istriku.
Beberapa jam lalu istriku menelepon bahwa dokter memberitahukan tentang kandungannya yang bermasalah dan harus segera melakukan operasi sesar. Dan itu membutuhkan biaya yang sangat banyak.
Dengan penghasilanku sekarang, mungkin aku butuh 5 sampai 6 bulan untuk mendapatkan uang sebanyak itu dari hasil gajiku. Tapi istriku harus segera di operasi secepatnya.
Apartement yang ku tempati bahkan jauh dari kata layak. Maklum, uang yang kumiliki bersama Hyuk hanya mampu menyewa apartement seperti ini. Tak jarang Hyuk pun sering membantuku mengenai masalah keuangan.

Aku langsung mengerti dengan semua tugas yang orang itu berikan padaku, termasuk air mineral yang harus ku berikan padamu. Dan aku pun melakukannya. Melakukan hal yang kusesali seumur hidupku. Aku sangat menyesal telah melakukannya. Meski keluargaku selamat dan akhirnya anak ke 2 ku lahir, tapi aku tidak bisa menemui mereka. Polisi pun memberitahukan pada keluargaku bahwa aku telah meninggal dunia.
Aku tak bisa muncul di mana pun. Tak bisa menampakkan diriku.

Bersembunyi.
Hanya itu yang bisa ku lakukan.
Setelah 3 tahun aku bersembunyi, aku pun mencoba menengok keadaan keluargaku dan betapa terkejutnya aku karena istriku sudah mempunyai suami baru. Aku marah. Aku merasa di khianati. Namun tak ada yang salah. Aku yang salah. Semua orang menganggap aku mati dan aku pun tak bisa membuka kebenarannya. Aku telah mendapatkan balasan atas semua kesalahan yang ku lakukan.

Siwon dan Jaejoong terdiam. Itu adalah cerita yang Ravi beritahukan pada mereka berdua. Ravi hanyalah korban, korban dari dalang yang sesungguhnya.

“Aku tidak akan berlari dan bersembunyi lagi. Jika kalian ingin menghukumku, maka lakukanlah! Aku akan menerimanya!” Ucap Ravi tulus.

“Bagaimana rasanya kehilangan keluarga dan orang-orang yang kau cintai?” Jaejoong membuka suaranya membuat Siwon dan Ravi langsung menoleh ke arah Jaejoong.

“Itu… Sangat menyakitkan.” Jawab Ravi tertunduk.

Jaejoong berfikir, mungkinkah itu yang Ha Ji Won rasakan saat kehilangan Kim Hee Chul yang harus menikah dengan eommanya yakni Yoon Eun Hye karena keegoisan keluarga Kim?
Mungkinkah itu yang Jiyeon rasakan saat Jaejoong menghilang 5 tahun lalu?
Mungkin itu yang akan ia rasakan jika Jiyeon sampai meninggalkannya?

“Aku akan menghukummu!”

Siwon terlihat terkejut namun bangga.
Akhirnya semuanya selesai sedangkan Ravi, namja itu hanya dapat pasrah jika ia di laporkan ke kantor polisi dan menerima hukuman.

“Bekerjalah padaku!” Ucap Jaejoong.

“Mwo?” Ravi terlihat terkejut.

“MWO? NEO MICHEOSSEO!” Teriak Siwon kesal.

“Bekerjalah padaku di kedai Buldak KNG! Jadilah pekerja di sana! Mulailah kehidupan baru bersama pemilik kedai! Dia sangat baik! Dia bisa kau jadikan keluarga barumu!”

“KYA!” Siwon benar-benar di buat kesal oleh Jaejoong.
Bagaimana bisa namja itu memberikan hukuman seperti itu?
Sedangkan Ravi, ia langsung berlutut dan mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Jaejoong.
.
.
.
.
.
“Hoonie-Ah!” Jiyeon terlihat tengah menggendong Jung Ilhoon, putera dari pasangan Jung Yunho dan Kahi yang tak lain adalah Park Jiyoung, eonnienya.

“Kau pasti mengalami banyak hal sulit selama ini!” Kahi terlihat menyesal setelah mendengarkan cerita dari dongsaengnya itu.

“Nan gwaenchana! Semua ini membuatku semakin lebih dewasa!” Jawab Jiyeon.

“Mian! Aku tidak cukup baik menjadi eonniemu!” Kahi tertunduk sedih.

“Eonnie, kau adalah eonnie terbaik di dunia ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika semua itu tidak terjadi, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan Jaejoong, mungkin aku masih menjadi yeoja tertutup, mungkin aku masih menjadi yeoja lemah yang berpura-pura kuat, mungkin aku akan selalu menghindar dari berbagai masalah yang menimpaku. Semua yang terjadi selama ini memberikanku banyak pelajaran. Inilah hidup yang sesungguhnya. Aku harus mensyukurinya!” Jawab Jiyeon tersenyum tulus berusaha menenangkan eonnienya itu.

“Lalu bagaimana dengan Myungsoo?”

Jiyeon terdiam.
Cukup lama.

“Aku sudah memaafkannya bahkan sebelum ia meminta maaf!”

Kahi terdiam. Dongsaengnya itu benar-benar memiliki hati bak malaikat. Tidak salah jika Jaejoong begitu menginginkan dongsaengnya itu.

“Aku hanya masih trauma. Geundae, aku tidaklah membencinya.”

Kahi tersenyum hangat melihat dongsaengnya.

“Kau tumbuh dewasa dengan sangat baik!” Kahi mengelus lembut rambut panjang Jiyeon.

“Omo! Jiyeon-Ah! Kau kah itu?” Yunho yang baru datang langsung menyerbu ketiganya.

“Annyeong, oppa!” Sapa Jiyeon tersenyum manis pada Yunho.

“Kemana saja kau selama ini? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Yunho khawatir.

“Aku baik. Sangat baik.” Jawab Jiyeon masih dengan senyuman di wajahnya.

“Omo! Aku merasa bersalah karena tidak dapat merawatmu selama ini!” Yunho terlihat begitu menyesal.

“Gwaenchana, oppa! Aku baik-baik saja!”

“Kya! Apa kau yang menidurkan Hoonie? Aissh, pasti Hoonie sangat berat bukan! Ia harus kembali ke kandangnya!”

Jiyeon dan Kahi terkekeh mendengarnya.
Hey! Itu anakmu Jung Yunho, bukan peliharaanmu!
Aisssh!

Yunho langsung mengangkat tubuh Ilhoon dari gendongan Jiyeon dan membawanya masuk ke dalam kamar.

“Hey! Bagaimana kalau kita memasak? Sudah lama kita tidak memasak bersama!” Usul Kahi.

“Hm. Ide bagus, eonnie!”

Keduanya pun berjalan bersama menuju dapur yang ada di rumah keluarga Jung itu.

Jiyeon merasa kehidupannya semakin sempurna. Perlahan-lahan kesedihan itu berubah menjadi kebahagiaan. Semuanya tidak ada yang sia-sia. Dari sekian banyaknya peristiwa yang ia alami, banyak pula hikmah yang dapat ia ambil. Semuanya kembali berjalan normal dan sempurna.
.
.
.
.
.
“Shin Family?” Jaejoong mengerutkan keningnya menerima laporan yang di berikan Chaerin.
Dari semua komisaris pemegang saham, hanya Shin Family lah yang mengeluarkan jumlah uang diatas normal sehari sebelum kejadian kecelakaan itu menimpanya.

“Apa kau pernah mengganggu mereka? Uang yang mereka buang benar-benar sangat banyak hari itu!” Ucap Chaerin.

“Molla. Apa mungkin Shin Family lah yang membuat para pemegang saham di Korea Utara mencabut saham mereka dari Kim Corporation sehingga membuat cabang di sana bangkrut dalam semalam dan mereka mendapatkan saham dua kali lipat dari Shin Family?” Tebak Jaejoong.

“Shin Shin Shin!” Siwon terus menggumamkan nama itu.

“Ini adalah pemilik nomor yang di berikan Ravi. Nomor tersebut di miliki oleh ketua pengurus di rumah Shin Family.” Tambah Chaerin.

“Benar mereka dalangnya. Ada banyak Shin Family di Korea, siapa Shin yang kau maksud Chaerin-Ssi?” Tanya Jaejoong.

“Molla. Aku hanya mendapatkan informasi itu. Mungkin seluruh keluarga bermarga Shin membencimu. Mungkin mereka iri pada keluarga Kim atau membalaskan dendam karena kau telah menyakiti salah satu dari mereka!” Jawab Chaerin asal.

“Apakah aku pernah berteman dengan salah satu dari mereka? Arrrgh, aku tak mengingat apapun!” Jaejooong mengacak prustasi rambutnya. Ternyata merepotkan juga tidak memiliki ingatan apapun.

“Shin….Shin….Shin Min Ah!” Gumam Siwon.

“KYA! SHIN MIN AH!” Teriak Siwon membuat Chaerin dan Jaejoong menoleh ke arahnya.

“Shin Min Ah? Manusia rubah itu? Ck, aku membencinya! Sangat membencinya!” Chaerin terlihat kesal mendengarnya.

“Shin Min Ah, nugu?” Tanya Jaejoong.

“Ia sepupuku. Maksudku ia menikah dengan sepupuku. Arrrgh, ini tidak bisa di percaya! Ini menyebalkan!” Chaerin terlihat malas membahas yeoja itu.

“Shin Min Ah, ia adalah sahabat kita berdua!” Jawab Siwon.

Chaerin yang memang sudah mendengar kisah persahabatan mereka bertiga nampak terlihat malas, sedangkan Jaejoong terlihat begitu tertarik mendengarnya.

“Apa mungkin dia?” Pikir Siwon.

“Bagaimana bisa aku bersahabat selain denganmu?” Tanya Jaejoong penasaran.

“Molla. Aku tak pernah menanyakan apa alasanmu. Kita bertiga bersahabat saat masih Junior High School.” Jawab Siwon membuat semuanya terdiam.

“Gidaryeo! Sepertinya memang ada yang aneh antara hubunganmu dengannya. Kau pernah begitu sangat marah padanya saat Jiyeon masuk rumah sakit. Aku melihatnya. Kau membuatnya begitu sangat ketakutan saat itu. Itu pertama kali dalam hidupku melihatmu yang begitu sangat murka pada seseorang!”

Jaejoong dan Chaerin semakin tertarik dengan apa yang baru saja Siwon ceritakan.

“Apa mungkin Min Ah, aisssh siluman rubah itu menyukaimu?” Tebak Chaerin.

Jaejoong terdiam. Ia bingung mau menjawab apa, sebab ia sama sekali tak mengingat apapun.

“Ku pikir itu jawaban kenapa ia hingga detik ini belum hamil padahal sudah 5 tahun menikah. Aisssh, kenapa sepupuku menyukai siluman itu? Ia pasti sangat menderita mempunyai anae seperti dia!” Chaerin terlihat khawatir.

“Eoh, kemarin Lee Junki sepupu ku memberitahukan bahwa ia akan kembali ke Italia. Omo! Apa mungkin siluman rubah itu sudah menyadari bahwa kejahatannya sudah terbongkar dan berniat melarikan diri? Dasar siluman!” Umpat Chaerin.

“Kalau begitu kita harus menyusulnya! Ia harus di hukum untuk semua kejahatan yang telah ia perbuat selama ini!” Tambah Siwon.

“Ne, aku setuju oppa!”

“Tidak!”

“MWO?” Teriak Siwon dan juga Chaerin secara bersamaan.

“Jangan lakukan itu! Biarkan saja!” Jawab Jaejoong.

“NEO MICHEOSSEO! SILUMAN RUBAH ITU YANG MEMBUATMU TAK MENGINGAT MASA LALU MU! SILUMAN ITU JUGA YANG MEMBUAT KAU DAN JIYEON TERPISAH! APA KAU AKAN MEMBIARKANNYA BEGITU SAJA, EOH?” Teriak Chaerin menggebu-gebu.

Siwon hanya dapat mengacak rambutnya, tidak habis fikir dengan keputusan yang Jaejoong ambil.

“Aku, memang tak ingin mengingatnya! Aku dan Jiyeonpun pada akhirnya kembali bersama, bukan! Geuraeseo, tak perlu di bahas lagi. Aku hanya ingin mengetahui siapa dalangnya saja!” Jawab Jaejoong tenang.

“APA KAU TIDAK INGIN MENGHUKUMNYA, EOH?” Teriak Chaerin kesal.

“Hukuman, ya? Sepertinya hukuman itu sudah ia dapatkan bahkan sebelum aku sendiri yang memberikannya, sama halnya dengan Ravi!” Jawab Jaejoong.

Siwon menangis. Menangis kesal. Usahanya selama ini tak membuahkan hasil apapun. Tak ada yang di hukum dan seperti sia-sia saja perjuangannya selama ini. Tapi ia lega, lega karena akhirnya semua ini berakhir. Akhirnya ia bisa menikahi Chaerin dengan tenang dan tanpa beban apapun.

“Terimakasih atas bantuan kalian berdua selama ini!”

Siwon dan Chaerin terpaku melihat senyum tulus yang Jaejoong berikan untuk mereka berdua dan untuk pertama kakinya mereka berdua melihatnya.

“Aku sudah menyiapkan sebuah pulau untuk kalian berdua berbulan madu nantinya. Kuharap kalian berdua menyukai semua fasilitas yang ada di sana!”

Siwon dan Chaerin saling beradu pandang.
Apa mereka berdua tidak salah dengar?

“Jangan khawatirkan masalah biaya! Anggap ini kado pernikahan kalian berdua!”

Siwon dan Chaerin langsung berpelukan. Mereka bahagia. Sangat bahagia.
Jaejoong pun ikut berbahagia untuk keduanya.
.
.
.
.
.
“Apa benar Hero ada di Seoul?” Tanya Song Hye Kyo, yeoja paruh baya yang telah merawat Jaejoong selama 5 tahun dan mengaku sebagai eommanya.

“Eum. Kita harus mencarinya, ahjumma. Yeoja jalang itu pasti menyembunyikannya di suatu tempat hingga Hero tidak bisa pulang ke desa!” Jawab Suzy sinis.

Ya, kedua yeoja yang berasal dari desa di ujung Korea Selatan itu datang ke Seoul untuk menemui dan membawa Hero kembali ke desa bersama mereka.

“Kau tidak boleh berbicara sembarangan, Suzy-Ah!” Hye Kyo tidak senang mendengar kata kata kotor yang baru saja di ucapkan oleh Suzy.

“Biarkan saja! Dia memang jalang!” Balas Suzy.

Hye Kyo hanya dapat menghela nafasnya.
Bagaimana bisa Hero bertahan bersama yeoja seperti Suzy selama ini?
Wajar jika Hero akhirnya meninggalkannya.

“Kita akan cari kemana?” Tanya Hye Kyo.

“Kemanapun!” Jawab Suzy percaya diri.

“Apa kau tau jalanan di Seoul?”

Suzy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya tersenyum bodoh dan menjawab, “Tidak”.

Lagi-lagi Hye Kyo hanya dapat menghela nafasnya.
Sebenarnya ia sudah ikhlas jika Hero nanti akan bertemu dengan keluarga kandungnya, toh memang Hero bukanlah anaknya.
Selama ini ia membohongi Hero karena tidak ingin membuat Hero sakit karena terlalu berusaha untuk mengingat masa lalunya. Ia pikir akan lebih baik bila secara perlahan Hero menemukan ingatannya sendiri.
Tapi tak ia sangka akan secepat ini.
Meski 5 tahun, namun Hye Kyo merasa bahagia memiliki putera seperti Hero.

“Pokoknya kita harus segera menemukannya dan membawanya kembali ke desa!” Suzy bersikukuh dengan pendiriannya.

“Apa ada yang bisa saya bantu?”

Suzy dan Hye Kyo langsung menolehkan wajahnya saat mendengar suara seseorang selain mereka berdua.

“Kyeopta!” Gumam Suzy yang melihat sosok namja tampan yang ada di hadapannya itu.

“Ahjumma, kurasa aku menyukai Seoul dan akan betah berada di sini!” Bisiknya pada Hye Kyo seraya memberikan senyum terbaiknya pada sang namja, senyuman yang lebih terlihat seperti orang idiot.

Hye Kyo hanya dapat berdecak melihat tingkah Suzy.
Sudah pasti akan seperti ini.
Harusnya ia tidak perlu ikut Suzy ke kota.

Sementara sang namja hanya dapat melihat aneh ke arah Suzy.
.
.
.
.
.
“KYA!” Teriak Jiyeon.

Jaejoong yang tengah berada di dapur langsung berlari menuju kamar Jiyeon saat mendengar suara teriakan yeoja itu.

“Jiyeon-Ah!” Tak ada siapapun.
Mungkinkah di kamar mandi? Pikirnya.

“Jiyeon-Ah, gwaenchana?” Tanyanya dari balik pintu kamar mandi. Karena tidak ada jawaban, Jaejoong semakin panik dan menerobos masuk ke dalam kamar mandi yang tak terkunci.
Matanya melebar. Sama halnya dengan Jiyeon yang melihat kedatangannya.
Ini buruk! Bencana! Oh, tidak!
Jaejoong melihatnya! Melihat tubuh polos Jiyeon tanpa sehelai kain pun menempel di sana.
Rupanya Jiyeon terpeleset saat mandi, yerbukti dari tubuhnya yang saat ini terlentang di atas lantai.

“Ji-Jiyeon-Ah!” Lirih Jaejoong.

Tubuh Jiyeon tidak dapat bergerak. Wajahnya merona sempurna menahan malu. Malu karena untuk pertama kalinya ada namja yang melihat tubuhnya.
Benar-benar memalukan! Pikirnya.
Ia pun hanya dapat memejamkan kedua matanya. Ini memalukan. Sangat memalukan. Bahkan untuk mengeluarkan suarapun ia tidak mampu.
Namun, ia merasakan tangan hangat Jaejoong. Sepertinya ia menggendongnya.
Tapi kenapa tidak menggunakan handuk terlebih dahulu untuk menutupi tubuh polos Jiyeon?
Kenapa ia membawanya seperti itu?
Ini seperti ia menjadikan tubuhnya tontonan gratis bagi Jaejoong.

Jaejoong meletakkan tubuh polos Jiyeon di atas ranjang.
Jiyeon langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

“O-oppa, naega…..”

“Jiyeon-Ah!”

Jiyeon menoleh ke arah Jaejoong.
Sial! Sepertinya Jaejoong terangsang.
Tanpa banyak bicara Jaejoong langsung mencium bibir nya. Ia kemudian menyingkap selimut yang semula menutupi tubuh Jiyeon untuk memperlihatkan tubuh indah kekasihnya itu tanpa penghalang apapun. Tubuh mungil dengan kulit mulus, pinggang yang ramping, dan dada yang penuh membuatnya terlihat begitu sempurna.

Jaejoong melepas bibir Jiyeon dan beralih ke lehernya. Mencari denyut di sekitar leher dan menangkapnya dengan bibirnya. Lidahnya menggelitik permukaan kulit Jiyeon yang seputih susu. Jaejoong mengecap rasa kulit hingga meninggalkan jejak berwarna merah ranum.
Ia kemudian menghujani dada Jiyeon dengan ciuman-ciuman dari bibirnya yang basah. Satu tangannya memijat pelan sebelah dada Jiyeon dan mencumbui yang satu lagi dengan bibirnya. Lidahnya bermain dengan puting kenyal Jiyeon sambil melumatnya.
Desahan-desahan yang keluar dari bibir mungil Jiyeon membuat Jaejoong semakin ingin menyentuhnya lebih jauh lagi.

Jaejoong kini turun ke perut rata Jiyeon untuk menghujani ciuman-ciuman di sana. Kedua tangannya mengangkangkan kaki Jiyeon untuk mendapatkan akses menuju daerah kewanitaannya. Tangannya menjaga posisi kaki Jiyeon dengan memegangi kedua pahanya.
Lidah Jaejoong mulai menyentuh kulit luar daerah kewanitaan Jiyeon yang sudah basah karena rangsangan yang ia berikan pada yeoja itu.

Setelah berkali-kali mengecup keindahan yang ada di sana, Jaejoong mencoba menjelajah lebih jauh lagi dengan lidahnya.
Cukup sulit awalnya. Kemudian Jaejoong semakin melebarkan kaki Jiyeon agar lidahnya dapat masuk ke dalam.

Terasa menggelitik bagi Jiyeon saat ia merasakan lidah Jaejoong bergerak-gerak di dalam dirinya.

“O-oppa!” Desahnya ketika merasakan cairan dari dalam tubuhnya mengalir ke lidah Jaejoong.

Jaejoong mengecap cairan tersebut dan menghisap seluruhnya kemudian Jaejoong berhenti sejenak untuk melepaskan seluruh pakaiannya. Ini adalah saatnya.

Jaejoong mencoba memasukkan miliknya ke dalam vagina Jiyeon secara perlahan-lahan.
Sangat sempit, sepertinya akan lama untuk bisa memasukinya.

Rintihan dari Jiyeon terdengar dan membuat Jaejoong menenangkannya dengan menciumnya mesra.
Jaejoong masih berusaha namun tampaknya cukup susah.
Meski sangat sakit, Jiyeon tetap merelakannya karena ia juga membutuhkan Jaejoong untuk meneruskan semua ini.

“A-Ahhhh!”

Dengan sedikit hentakan akhirnya Jaejoong masuk sepenuhnya ke dalam diri Jiyeon dan menjebol selaput daranya, menandakan bahwa yeoja itu seutuhnya sudah ia miliki. Darah pun keluar melewati paha Jiyeon.
Jiyeon memejamkan matanya erat-erat, menahan rasa sakit yang luar biasa menderanya.

Jaejoong mencium Jiyeon lagi dengan lembut, namun akhirnya berubah menjadi penuh nafsu saat Jaejoong mulai menggerakkan pinggulnya keluar masuk dengan perlahan.
Desahan demi desahan kembali keluar dari bibir keduanya.

Jiyeon melingkarkan kakinya pada pinggul Jaejoong, mengisyaratkan agar Jaejoong semakin mempercepat gerakannya.

Kehangatan semakin membara ketika ranjang ikut bergerak bersama mereka.
Jaejoong mencium Jiyeon, meremas dadanya dan terus bergerak di bawah sana. Desahan Jiyeon semakin membuat Jaejoong hilang kendali.

Jaejoong menghela nafasnya. Jiyeon kini menindihnya dengan posisi masih bersenggama. Jaejoong menatapnya.
Jiyeon mulai menggerakkan pinggulnya naik turun dan mereka kembali bercinta untuk yang ke sekian kalinya.

Suara desahan terus menggema di kamar Jiyeon.
Sepertinya hari ini memang hari JaeYeon couple.
Hey! Bahkan ChaeWon couple yang beberapa hari lagi akan melangsungkan pernikahan belum melakukannya!
Ya, mereka terlalu sibuk mengurusi JaeYeon couple.
.
.
.
.
.
“Ne, mianhae karena tidak bisa menghadiri pernikahanmu!” Lee Junki, namja yang tengah menerima telephon dari sepupunya yakni Lee Chaerin terlihat begitu menyesal mengucapkannya.

“Min Ah, dia baik!” Jawabnya yang langsung menolehkan wajahnya ke arah Min Ah yang terduduk tenang di dekat jendela yang ada di dalam kamar apartement mereka.

“Eum. Semoga pernikahanmu besok berjalan dengan lancar.” Balasnya.

“Eum.” Akhirnya Junki pun menutup sambungan telephonnya. Ia langsung berjalan menghampiri Min Ah.
Sejak kembali ke Italia, yeoja itu tak mengeluarkan suara sedikitpun. Genap satu minggu sudah mereka ada di sana.

Junki pun menurunkan tubuhnya, mensejajarkan tubuhnya dengan Min Ah yang duduk di atas kursi.

“Neo paegopaya?” Tanyanya seraya menggenggam tangan Min Ah.

Min Ah hanya menggelengkan kepalanya. Yeoja itu tak menampakkan ekspresi apapun.

Junki kemudian menenggelamkan wajahnya diantara ke dua paha dan tangan Min Ah.

Min Ah langsung menundukkan wajahnya menatap ke arah Junki saat merasakan tubuhnya basah.
namja itu!
Ia menangis!
Wae?

“Mian! Mian karena aku masih belum bisa membahagiakanmu! Hiks…” Tangis Junki.

Min Ah melebarkan matanya.
Namja itu menangis untuknya?

“Kenapa kau tidak melepaskanku saja?” Tanya Min Ah, hatinya terasa sakit melihat Junki seperti ini. Terlalu banyak hal yang sudah Junki lakukan untuknya.

Junki mendongakkan wajahnya. Menatap sosok Min Ah lembut.
Namja ini, meski sedang merasakan sakit di hatinya, ia masih bisa tersenyum tulus.
Terbuat dari apa sebenarnya hatinya itu?

“Tidak bisa. Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!” Jawabnya jujur.

“Wae? Bukankah kau sudah terlalu sering sakit hati karenaku?”

Junki terdiam.
Keduanya saling menatap.

“Karena kau istriku!” Jawabnya mantap dan berhasil membuat Min Ah tersentuh.
Yeoja itu semakin menundukkan wajahnya. Menyembunyikan air mata yang telah sukses terjatuh melewati pipinya.

“Mian! Hiks…” Lirihnya.

Junki langsung menghapus air mata Min Ah dengan ke dua tangannya lembut. Ia pun bangkit dan langsung memeluk Min Ah. Mencium sayang puncak kepala yeoja itu.

“Semua akan baik-baik saja! Kita berdua akan melewati ini semua! Kita akan merawat banyak anak nantinya. Kita akan menjadi keluarga paling bahagia di seluruh eropa!”

Min Ah terus menangis dalam pelukan Junki. Mungkin inilah saatnya. Saatnya ia membuka lembaran baru dalam hidupnya dan menutup lembaran masalalunya.
.
.
.
.
.
Terlihat Jiyeon dan Jaejoong tengah membantu mempersiapkan pernikahan antara Chaerin dan juga Siwon yang tinggal beberapa jam lagi.
Ya, ini saatnya mereka berdua membalas semua jasa-jasa ChaeWon couple.

“Oppa!” Panggil Jiyeon.

“Eum!” Jawab Jaejoong.

“Apa kita juga akan menikah?” Tanya Jiyeon tak berani menatap ke arah Jaejoong.

“Apa harus?”

“MWO?”

Jaejoong terkekeh mendengar reaksi Jiyeon yang begitu terlihat sangat sangat kesal mendengar ucapannya.

“Geurae, kalau begitu aku akan menikah dengan namja lain.”

“Eoh, nugu?” Tantang Jaejoong.

“Igo…..”

“Hyung!”

Jaejoong dan juga Jiyeon langsung menoleh ke arah sumber suara.
Kim Myungsoo.
Ya, namja yang memanggilnya hyung itu adalah dongsaengnya, Kim Myungsoo.

Jiyeon langsung pergi meninggalkan Jaejoong berdua bersama Myungsoo. Ia tidak menyangka akan bertemu namja itu di sini.
Sementara Jaejoong, ia membiarkan Jiyeon meninggalkan mereka berdua.
Mungkin inilah saatnya ia harus menampakkan dirinya didepan keluarganya.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Jaejoong tersenyum tulus.

Myungsoo langsung menangis dan berhambur memeluk hyungnya itu.

“Hyung, hyung, Jaejoing hyung! Hiks….”

Jaejoong hanya dapat menghela nafasnya, tidak menyangka dengan reaksi yang Myungsoo berikan saat melihatnya.
Ia pun menepuk punggung Myungsoo perlahan, berusaha menenangkan dongsaengnya itu.

“Bagaimana mungkin? Bagaimana hidupmu selama ini, hyung? Kau tinggal di mana? Apa kau makan dengan baik? Kemana saja kau selama ini? Kau tau, betapa eomma begitu mengkhawatirkan
mu? Kenapa tidak memberi kabar kalau kau masih hidup? Kenapa……”

“Hey! Bertanyalah satu-persatu! Apa kau sudah berganti profesi menjadi seorang wartawan, eoh?” Potong Jaejoong.

Myungsoo menghapus air matanya kemudian melepaskan pelukannya.

“Apa kau mengawasiku selama ini?” Tanya Myungsoo.

“Hm!”

“Posisimu….”

“Aku tau!” Potong Jaejoong.

“Jiyeon….”

“Aku tau!” Lagi-lagi Jaejoong memotong setiap ucapan Myungsoo.

Myungsoo melebarkan matanya.
Ternyata Jaejoong mengetahui semuanya.

“Mi-mian! Mianhae! Mianata, hyung! Hiks…” Myungsoo kembali menangis. Ia benar-benar merasa bersalah.

“Berhentilah menangis! Kau namja, bukan!”

Myungsoo langsung menghentikan tangisnya dan kembali menghapus air matanya.
Anak ini benar-benar penurut! Batin Jaejoong seraya tersenyum jahil.

“Bagaimana kabar eomma?”

“Baik. Temuilah dia, hyung! Dia pasti akan sangat bahagia melihatmu masih hidup!”

“Hm!”

Keduanya kembali terdiam.
Myungsoo seolah kehilangan kata-katanya. Ia yang biasanya banyak berbicara di banding hyungnya, kini hanya dapat terdiam menunduk.

“Bagaimana dengan Appa?”

“Aku terakhir kali bertemu dengannya saat kau mengalami kecelakaan, hyung!” Jawab Myungsoo jujur.

Jaejoong mengelus kepala Myungsoo membuat namja itu mengangkat kepalanya menatap Myungsoo.

“Jadilah CEO yang baik! Buatlah Kim Corporation semakin berkembang hingga di kenal di seluruh dunia.”

“Hyung….”

“Itu milikmu. Ini saatnya aku menyerahkannya padamu. Jangan jadikan itu sebagai beban, tapi jadikanlah itu sebagai kewajiban. Jangan pernah menganggap beban itu ada di atas kewajiban. Ingat! Hidup ribuan karyawan yang bekerja di Kim Corporation ada di tanganmu! Jangan selalu menggunakan ucapanmu untuk melawan mereka yang menentangmu, tapi gunakanlah otak dan tindakanmu! Berjuanglah, Kim Myungsoo!”

Myungsoo tersentuh. Ini pertama kali Jaejoong mengucapkan banyak kata padanya. Kata yang banyak memberikan makna untuknya.

“Bagaimana dengan hyung?”

“Jiyeon!”

“Mwo?”

“Kini kewajiban dan tanggung jawabku hanyalah Park Jiyeon!” Jawab Jaejoong membuat Myungsoo menundukkan wajahnya merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan pada kekasih hyungnya itu.

“Mian!” Lirihnya kembali.

“Aku tidak akan menyuruhmu melupakannya! Tapi jika kau kembali menyentuhnya, aku akan membunuhmu menggunakan kedua tanganku sendiri.”

“N-ne! A-aku tak akan me-melaukannya!” Myungsoo terlihat takut mendengar ucapan Jaejoong. Sedangkan Jaejoong yang awalnya hanya ingin menjahili dongsaengnya itu, malah tertawa melihat ekspresi Myungsoo yang benar-benar ketakutan mendengar ucapannya.

“Hyung!” Protes Myungsoo yang melihat Jaejoong tak henti menertawakannya. Ia pun akhirnya ikut tertawa bersama Jaejoong. Ini pertama kalinya Myungsoo melihat hyungnya itu tertawa lepas dan untuk pertama kali sejak mereka berkeluarga mereka berdua tertawa bersama. Bagaikan mimpi saja. Kebahagiaan ini akan Myungsoo ingat sepanjang sejarah hidupnya.

“Kim Jaejoong, gomawo karena telah menjadi hyung ku selama ini. Tidak salah aku mengidolakanmu, hyung! Kau memang pantas ku jadikan pedoman dalam hidupku. Kaulah yang terbaik, Kim Jaejoong!” Batin Myungsoo.
.
.
.
.
.
Coment Jusaeyo!

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 11

image

       IF I RULED THE WORLD
                  (part 11)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong aka Hero (JYJ)

Other Cast :
Choi Siwon (Super Junior)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)
Lee Chaerin aka CL (2ne1)
Shin Min Ah
Lee Junki
Kim Nam Gil
Lee Jongsuk
Ravi (VIXX)

Songfict :
Henry feat Hoya Need You Now

Genre :
Romance, Hurt, Bondage,
Family, NC 21+

Length :
Chaptered

A/N :
HAPPY READING!
DON’T PLAGIARISM!
.
.
.
.
.
“Jiyeon-Ah!” Panggilnya. Sedangkan yang di panggil hanya dapat mengeratkan pelukannya. Ia takut. Takut semua ini hanyalah mimpi belaka. Memeluk sosok namja yang begitu ia cintai. Kalaupun benar semua hanyalah mimpi, ia berharap tak akan pernah bangun untuk selamanya.

Sang namja tak kalah erat memeluknya. Ia mengecup, mencium aroma rambut sang yeoja yang begitu memabukkan itu.

“Kau mempercayaiku?” Tanyanya kembali membuka suara.

“Molla! Ini sangat membingungkan. Kejadian 5 tahun ini tidak akan mudah hanya dengan satu cerita yang entah ini benar atau tidak kebenarannya.” Jawabnya jujur. Bagaimana tidak, setelah ia meluapkan emosinya, sang namja yang ternyata Jaejoong itu menceritakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga akan terjadi padanya. Kecelakaan, kematian, obat penghilang ingatan, semuanya tidak dapat mudah Jiyeon cerna dengan sekejap. Yang ia tau hanyalah satu, sosok yang saat ini dalam dekapannya adalah benar sosok Kim Jaejoong. Orang yang sepenuhnya menguasai hati, pikiran, dan juga kehidupannya.

“Apa yang terjadi jika aku ini Hero?” Tambahnya.

“Tidak pernah ada Hero. Hero itu hanyalah ilusi dan karangan. Tidaklah nyata. Baik Suzy maupun desamu itu, itu tidaklah ada!” Jawab Jiyeon berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Sungguh ia tidak ingin namja itu kembali meninggalkannya. Dan tentu saja benar itu hanya ilusi dan karangan, wong author asal indonesia yang bikinnya haha… abaikan!

Jaejoong mengusap lembut rambut Jiyeon.

“Maukah kau membantuku untuk mengingat semuanya? Mengingat masa lalu yang entah mengapa hilang begitu saja dalam ingatanku!”

“Shirreo! Nan shirreoyo!” Jawab Jiyeon mantap.

“Wae?” Tanya Jaejoong tidak mengerti.

“Aku akan memberikan ingatan baru. Hanya ada aku, kau, dan juga kita.” Jawabnya.

Jaejoong menghembuskan nafasnya lega. Jawaban yang benar-benar diluar dugaannya. Ia tersenyum hangat mendengarnya.

“Geurae, mari kita mulai dari awal kenangan kita!”

Jiyeon mendongakkan wajahnya demi dapat menatap sosok namja yang jujur saja begitu amat ia rindukan itu.

“Kau yakin?”

“Hm. Aku tidak tau diriku yang dulu seperti apa, tapi aku akan membuat kau semakin menyukai sosok yang baru ini.”

Keduanya tersenyum hangat.
Jiyeonpun melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh dari Jaejoong membuat namja itu menautkan kedua alisnya heran.
Apakah ada yang salah dengan jawabannya?

“Geurae! Kita mulai!”

“Ne?” Tanya Jaejoong bingung.

“Perkenalan!”

Jaejoong menganggukkan kepalanya mengerti.

“Annyeong! Naneun Park Jiyeon imnida. Seorang perawat dari Seoul Hospital. Dongsaeng dari Park Jiyoung yang tak lain adalah mantan anggota grup After School, Kahi. Bangabseumnida!”

Jaejoong terkekeh mendengarnya. Ya, ia memang baru mengetahuinya sejak kembali ke Seoul. Setidaknya ini baik untuknya mengenal lebih dekat dan lebih jauh lagi tentang yeoja itu.

“Annyeong! Kim Jaejoong imnida. Namjachingu Park Jiyeon. Bangapta!” Timpalnya singkat.

“Kya! Bukan seperti itu!” Protes Jiyeon.

“Wae? Eotteokhae?”

“Kau harus memperkenalkan dirimu dengan benar!”

Keduanya berdebat kecil mengenai perkenalan pertama mereka. Ya, memang kenyataannya mereka berdua memang belum pernah berkenalan sebelumnya, bukan! Hahaha….. Akan sangat menyenangkan jika Siwon juga menyaksikan pertikaian kecil keduanya. Ini baru wajar.Pertikaian yang bahkan terlihat begitu hangat.
.
.
.
.
.
“Kim Heechul, beliau ini adalah appamu.” Tunjuk Siwon pada selembar foto yang ada di hadapannya.

“Beliau tampak cantik namun menyeramkan. Mirip sekali denganmu.” Tambahnya.

Kim Jaejoong memperhatikan foto itu dengan seksama. Wajahnya terkesan dingin, mungkin sama seperti dirinya, hanya saja beliau bertubuh lebih kurus dibanding dengannya.

“Ige Yoon Eun Hye. Eommamu!”

Wajah Jaejoong entah mengapa langsung berubah sendu saat melihatnya.

“Cantik, bukan?” Siwon tersenyum hangat.
Ya, saat ini ia tengah menjelaskan pada Jaejoong tentang silsilah keluarganya yang tanpa ia sengaja terlupakan dari ingatannya.

“Dimana beliau?” Tanya Jaejoong.

Siwon terdiam membuat Jaejoong langsung menolehkan wajahnya pada Siwon.

“Wae?” Tanyanya yang belum mendapatkan jawaban dari Siwon.

“Aku tidak tau beliau berada dimana. Bahkan kau yang dulu pun tidak mengetahuinya.” Jawab Siwon tertunduk.
Ya, mungkin itulah sebabnya Jaejoong merasa begitu merindukan sosok yang ada di dalam foto tersebut saat melihatnya.

“Dan karena itulah Appa menikah dengan eomma Myungsoo?” Tebaknya.

“Aku tidak tau cerita yang sebenarnya. Yang ku tau hanyalah, saat usia Myungsoo 6 tahun ia di bawa ke Seoul bersama nyonya besar Ha Ji Won dan mulai tinggal bersama denganmu dan juga tuan besar Kim.”

Jaejoong memperhatikan foto seorang yeoja paruh baya bersama dengan Myungsoo.

“Inikah Ha Ji Won?” Tunjuknya. Tentu ia dapat menebaknya hanya dengan melihat foto Myungsoo yang terlihat sangat akrab dengan yeoja yang ada di sampingnya.

“Ne. Beliau adalah eomma Myungsoo. Geundae, Mmeski Myungsoo datang di usianya yang sudah 6 tahun, ia tetaplah adik kandungmu.”

“Appa menikahinya diam-diam dan baru membawa mereka setelah usia Myungsoo genap 6 tahun?” Potong Jaejoong.

“Sepertinya begitu. Keluarga Kim terlalu sensitif. Yang ku ketahui, tak ada satupun dari mereka yang diperbolehkan bergaul dengan kalangan bawah. Hanya tuan Kim Heechul lah yang melanggarnya. Beliau bergaul dengan Appaku yang notabene hanyalah sekertarisnya, beliau juga menikahi nyonya besar Ha Ji Won yang ternyata adalah dari kalangan bawah. Sungguh aku tidak tau bagaimana kisah percintaan mereka, aku hanya mengetahui apa yang appaku ceritakan sebelum beliau meninggal dunia.” Jawab Siwon jujur.

Jaejoong terdiam. Mencerna setiap informasi yang Siwon berikan tentang keluarganya.
Ada sedikit perasaan bangga tentang Appanya mendengar itu semua, namun ada rasa kecewa saat ia mulai menyadari sesuatu.

“Geuraeseo, apa eommaku dan Appa di jodohkan? Eomma kabur setelah melahirkanku dan menghilang entah kemana dan setelah itu Appa baru berani membawa yeojanya?”

Siwon tersentak mendengarnya. Meski ia pun pernah berfikir seperti itu, namun ini terlalu kejam bagi Jaejoong.
Apa mungkin Jaejoong yang dulu pun berfikir seperti itu sehingga masih tetap bersikap hormat pada Ha Ji Won dan tetap menyayangi Myungsoo?
Mungkinkah ia berfikir karena dirinya lah Ha Ji Won dan Myungsoo terpisah dengan Kim Heechul Appanya?
Dan membuat dirinya begitu dingin terhadap orang lain, apakah karena eommanya?
Apa yang ia pikirkan selama ini?
Siwon terus bertanya dalam hatinya. Tak mampu ia mengucapkannya. Jujur saja, ia merasa sakit jika melihat Jaejoong terluka. Jaejoong bagaikan bagian dalam tubuhnya, yang tergores sedikit saja maka organ tubuh lain pun akan merasakannya.

“Bagaimana bisa aku terlahir dari keluarga serumit ini? Tak ada kasih sayang dari seorang Eomma ataupun Appa. Berdiri seorang diri tanpa penompang. Ck.” Terdengar nada kecewa dari Jaejoong saat ia menyadari kehidupannya. Ia tersenyum miris. Baginya, ia begitu menyedihkan.

Siwon terdiam. Benar yang dikatakan Jaejoong, dan mungkin itulah yang membuat Jaejoong begitu terobsesi pada Jiyeon. Ia membutuhkan sosok yang bisa ia jadikan penompang. Harta, tahta, wanita, semuanya bisa ia dapatkan dengan mudah. Namun sosok yang dapat membuatnya merasa nyaman, hanyalah Jiyeon yang mampu memberikannya.

“Bagaimana hubunganku dengan Myungsoo?” Tanyanya.

“Kau begitu menyayanginya. Yang kuketahui, kau begitu melindungi dan menjaganya. Kalian memang terlihat tidaklah dekat, namun siapapun dapat melihat bahwa kau adalah sosok yang akan pertama kali menolong Myungsoo saat namja itu mendapatkan kesulitan. Myungsoo juga begitu mengidolakanmu. Kadang aku juga merasa iri pada kalian berdua. Memiliki saudara pasti sangat menyenangkan!” Siwon membayangkannya. Betapa ia akan sangat bahagia bila memiliki saudara. Ya, ia memang anak tunggal di keluarga Choi.

“Kurasa cukup. Aku sudah mengerti sekarang. Gomawo, Choi Siwon!”

Siwon melebarkan matanya. Ini pertamakalinya Jaejoong mengucapkan kata terimakasih padanya.

“Wae?” Tanya Jaejoong heran melihat perubahan ekspresi Siwon.

“JAEJOONG-AH! HIKS….” Siwon langsung menangis berhambur memeluk Jaejoong.

“KYA! APA YANG KAU LAKUKAN?” Protes Jaejoong yang merasa risih dengan sikap Siwon.

“NAE HAENGBOKHAEEEEE!” Teriak Siwon.

Jaejoong hanya menghela nafasnya. Menurutnya, ini terlalu berlebihan.
.
.
.
.
.
“Sampai kapan kau akan menghindariku, Park Jiyeon?”

Jiyeon yang tengah berada di koridor rumah sakit langsung menghentikan langkahnya saat mendengar namanya di sebut seseorang yang suaranya sudah tak asing lagi ditelinganya.

“Jangan memanggil namaku dengan mulut kotormu itu!” Timpalnya tanpa membalikkan tubuhnya.

Myungsoo langsung menyeret Jiyeon membuat yeoja itu semakin dibuat ketakutan. Ya, yeoja itu trauma. Trauma jika berada dekat dengan namja yang hampir merenggut kesuciannya itu.

“Lepaskan!” Ia meronta, berusaha melepaskan diri tanpa membuat keributan.

Entah ruangan apa yang Myungsoo masuki. Ia langsung memenjarakan tubuh Jiyeon dengan kedua tangannya. Ia dapat melihat Jiyeon yang menunduk ketakutan. Ia dapat merasakan tubuh yeoja itu bergetar.

Menyadari bahwa ia telah kembali membuat kesalahan, namja itu langsung merosot. Terduduk lemah dibawah kaki sang yeoja.

“Mian!” Lirihnya.

“Mianata!” Tambahnya.

Jiyeon tak bergeming sedikitpun.
Takut. Ya, ia sangat ketakutan saat ini.

“Mianhae!” Terdengar suara namja itu makin mencicit.

Jiyeon dapat merasakan bahwa namja itu menangis.
Menyesalkah ia? Batinnya.

Jiyeon perlahan berbalik dan hendak membuka pintu yang ada dihadapannya, namun langkahnya terhenti saat merasakan tangan sang namja menyentuh pergelangan kakinya. Menggenggamnya erat.

“Aku benar-benar menyesal! Jebal, maafkanlah aku!”

Nafas Jiyeon tercekak.
Tangan itu!
Tangan itu kembali menyentuhnya.
Siapapun! Cepat tolong aku! Batinnya menjerit.

“Apa yang harus kulakukan agar kau bisa memaafkanku?” Myungsoo masih menahan pergelangan kakinya.

Jiyeon, kepalanya terasa pening. Ia merasa segalanya begitu berat dan gelap. Tubuhnya terasa melayang di udara.

“JIYEON-AH! KYA! PARK JIYEON!”
Hanya suara itu yang dapat ia dengar. Suara Kim Myungsoo yang kembali memanggil namanya.
.
.
.
.
.
“J-J-Jaejoong? Kim Jaejoong?” Chaerin, yeoja itu terlihat begitu terkejut melihat sosok namja yang saat ini tepat berada dihadapannya.

“O-Oppa, apa kau melihatnya? Yang di sampingmu itu?” Tanyanya pada Siwon yang memang berada di samping Jaejoong.

Siwon menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum seraya mengangkat kedua alisnya berkali-kali.
Lucu sekali ternyata reaksi yang diberikan kekasihnya itu saat melihat Jaejoong.
Mungkinkah ia juga seperti itu saat pertama kali menemukannya?
Hahaha…. ia tersenyum geli membayangkan ekspresinya sendiri saat itu.

“A-Apa aku ti-tidak sedang bermimpi?”

Siwon langsung mendekat ke arah Chaerin yang masih terbata dan langsung memeluknya dari samping.

“Tidak, chagiya. Namja yang ada dihadapan kita saat ini memanglah benar Kim Jaejoong.” Jawab Siwon berusaha meyakinkan yeoja yang 2 minggu lagi akan menjadi anaenya itu.

“Jadi….Jadi dia masih hidup?”

Siwon kembali menganggukkan kepalanya.

“KYA! LALU KEMANA SAJA KAU SELAMA INI? BAGAIMANA KAU BISA MENIPU KAMI SEMUA? KAU TAU! PERBUATANMU INI TELAH MENYAKITI JIYEON KAMI. DAN JUGA KAU TELAH MEMBUAT KAMI TIDAK CEPAT MENIKAH. BUTUH WAKTU 5 TAHUN BAGI SIWON UNTUK SEGERA MENIKAHIKU SETELAH MELAMARKU 5 TAHUN LALU. BAJINGAN BRENGSEK!”

Siwon langsung menenangkan Chaerin yang mengamuk.
Yeoja itu terlihat begitu sangat sangat kesal.

“Kya! Kya! Kya! Ini bukan salahnya. Selama ini ia tinggal di tempat yang jauh dan ingatan masalalunya menghilang!” Siwon mencoba memberi penjelasan pada kekasihnya itu.

“Mwo?”

“Ne. Sajangnim memang benar kecelakaan. Namun ia selamat dari kecelakaan itu dan ingatannya menghilang. Selama ini ia tinggal di sebuah desa di antara perbatasan Korea Selatan dan Utara.”

“Bagaimana bisa? Apa maksudmu Jaejoong mengalami amnesia, oppa?”

Siwon langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung menjelaskannya.

“Begini, setelah aku berhasil menemukannya, aku langsung membawanya menemui Jongsuk.”

“Lee Jongsuk?”

“Eum. Dia mengatakan bahwa tidak ada gangguan atau bekas luka pada Jaejoong. Namun Jongsuk menjelaskan, bahwa kemungkinan yang membuat Jaejoong melupakan ingatannya adalah karena ia telah mengkonsumsi suatu obat. Jongsuk mengatakan ia akan membantu kita untuk mencari tau jenis obat apa yang telah Jaejoong minum sebelum kecelakaan itu!”

“Kau yakin dia adalah Jaejoong, oppa?” Chaerin menajamkan matanya pada Jaejoong.

“Menurutmu?”

Chaerin menghembuskan nafasnya. Nol persen dia bukanlah Jaejoong. Dari sikap dingin dan tatapannya saja, sudah menjelaskan bahwa ia adalah Kim Jaejoong.

“Bagaimana dengan Jiyeon?” Tanya Chaerin pada Siwon.

“Dia sudah mengetahuinya!”

Akhirnya Chaerinpun sedikit tenang.

“Duduklah!” Setelah sekian lama ketiganya berdiri, akhirnya mereka pun duduk juga.

Terlalu mengejutkan bagi Chaerin. Awalnya ia merasa senang Siwon mengunjunginya, namun berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa saat melihat Jaejoong yang juga datang bersama Siwon ke apartement nya.

“Apa aku harus menyiapkan air minum?” Chaerin terlihat malas. Ya, mungkin ia masih kesal. Bagaimana tidak, orang yang ia anggap sudah meninggal dunia kini berada di hadapannya. Meski ia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Jaejoong 5 tahun terakhir, tetap saja ia merasa di bohongi. Apalagi jika ia mengingat pernikahannya yang harus di tunda setelah tragedi helikopter 5 tahun silam.

“Ani ani ani. Biar aku yang menyiapkannya. Kurasa Jaejoong akan mengatakannya sendiri padamu, chagi!” Siwon pun bangkit menuju dapur yang ada didalam apartement milik Chaerin. Ya, ia memang sering berkunjung, maka tak heran jika ia sudah hapal semua ruangan yang ada disana.

Chaerin mengerutkan keningnya saat Siwon meninggalkannya.
Apa yang Jaejoong butuhkan darinya?

“Langsung saja Chaerin-Ssi!” Jaejoong pun mulai membuka suaranya.

“Aku ingin kau membantuku!” Lanjutnya.

Chaerin masih terlihat bingung.
Bantuan?
Bukankah Jaejoong memiliki segalanya, ia bisa melakukan apapun dengan harta Kim yang bisa dibilang tidak akan pernah habis itu.

“Selidiki para komisaris pemegang saham yang ada di Kim Corporation!”

“Mwo?”

“Keluarga Lee adalah salah satu pemegang saham terbesar di sana. Kau bisa membantuku untuk mendapatkan info mengenai rekening para komisaris pemegang saham 5 tahun silam. Mulai dari seminggu sebelum dan sesudah kecelakaan yang terjadi padaku!”

“Bagaimana aku bisa melakukannya? Aku ini hanya seorang desainer dan tidak mengerti sama sekali dengan dunia bisnis.”

“Appamu!”

“Ne?”

“Appamu bisa melakukannya!”
Ya, Appa Chaerin memang salah satu pemegang saham terbesar di Kim Corporation.

“Kenapa aku harus melakukannya?”

“Karena kau tidak punya pilihan lain!”

Chaerin menatap tajam Jaejoong.
Apa maksud perkataanya?

“Sebagian biaya pernikahan kalian menggunakan uangku!”

“KYA! KENAPA KAU MENGATAKANNYA?” Sembur Siwon yang datang membawa 3 cangkir teh di tangannya. Ia tidak menyangka Jaejoong akan mengatakan itu sebagai senjatanya.

“Apa maksudnya, oppa?” Chaerin mendelik tajam pada Siwon.

“Kau tidak punya pilihan lain selain membantuku!” Potong Jaejoong.

“Kya! Apa kau sedang mengancamku, Kim Jaejoong!” Chaerin terlihat tidak suka mendengar nada bicaea Jaejoong yang selalu seperti perintah itu.

“Aku akan melupakan tentang biaya itu setelah kau berhasil mendapatkan apa yang ku inginkan!”

“Kenapa kau tidak memeriksanya sendiri? Bukankah ada dongsaengmu di sana!”

“Karena ada dia aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa percaya pada siapapun sebelum berhasil menemukan pelaku sesungguhnya dari tragedi 5 tahun lalu.” Jawab Jaejoong mantap.

“Oppaaaaaaaa….” Rengek Chaerin.

“Aissh, kenapa si vampire itu melakukannya?” Gumam Siwon.

“Apa dia sengaja melakukannya untuk balas dendam karena aku baru saja meneriakinya?”

“Sabar sabar sabar!” Siwon terus bermonolog.

“Aku menunggu hingga akhir minggu ini!” Jaejoong pun bangkit tanpa meminum teh yang sudah Siwon sediakan untuknya.

“KYA! NEO EODIGA?” Tanya Siwon seraya berteriak pada Jaejoong.

“Nan khalke!”

“KAU TIDAK BOLEH TERLIHAT OLEH SIAPAPUN!”

“Arra!” Jaejoong pun menghilang dibalik pintu apartement Chaerin.

Chaerin langsung memukuli tubuh Siwon.

“KYA! KYA! KYA! WAE?”

“WAE? KAU BILANG WAE? BAGAIMANA KAU BISA MENGGUNAKAN UANGNYA UNTUK PERNIKAHAN KITA, EOH?” Sembur Chaerin.

“AKU HANYA SEDIKIT MENGGUNAKANNYA! KUPIKIR IA BENAR-BENAR SUDAH MENINGGAL DUNIA!”

“BRENGSEK!” Chaerin terus menghujani tubuh Siwon dengan pukulannya.

“Nan eotteokhae? Apa yang harus ku katakan pada Appa? Ia pasti akan bertanya ini dan itu! Eotteokhaeeeeee?” Chaerin merajuk setelah menghentikan pukulannya pada Siwon.

“Mianhae! Ini karena aku sangat miskin da……”

“BERHENTI MENGATAKANNYA! KAU SEMAKIN MEMBUATKU KESAL!”

Siwon mempoukan bibirnya menunjukkan tampang sedihnya, berusaha menghilangkan kemarahan kekasihnya.
.
.
.
.
.
“Oppa!” Jiyeon langsung memeluk tubuh Jaejoong saat melihat kedatangannya kembali ke rumah.

“Kau sudah pulang? Bukankah nanti malam baru pulang?” Jaejoong sedikit heran melihat Jiyeon di jam segini sudah berada di rumah. Harusnya ia masih berada di rumah sakit untuk bekerja.

“Kau pergi kemana?” Bukannya menjawab, Jiyeon malah balik bertanya pada Jaejoong.

“Menemui Chaerin!” Jawab Jaejoong.

Jiyeon merenggangkan pelukannya demi dapat menatap wajah namjanya itu.

“CL eonnie?”

“O, sepertinya kalian berdua memang sangat akrab ya!” Jaejoong mengelus puncak kepala Jiyeon lembut.

“Oppa menemuinya?”

“Hm. Dia langsung meneriakiku saat pertama melihatku.”

“Ck, bagaimana mungkin?” Jiyeon sedikit terkekeh mendengarnya.

“Katanya aku telah menyakitimu dan membuatmu menderita selama 5 tahun terakhir ini.”

Jiyeon terdiam. Ia kembali mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya pada dada bidang milik Jaejoong.

“Oppa!”

“Hm?”

“Setelah CL eonnie dan Siwon oppa menikah, bisakah kita pergi dari sini?”

Jaejoong mengerutkan keningnya.

“Menjauh dari orang-orang yang mengenal kita!” Tambahnya.

Jaejoong membalas pelukan Jiyeon. Ia dapat merasakan suara Jiyeon bergetar saat mengucapkannya.
Lelah.
Ya, sepertinya ia mulai lelah. Lelah menghadapi semuanya.

“Hm!” Jawab Jaejoong. Ya, ia pun ingin meninggalkan semuanya. Hanya ada dirinya dan juga Jiyeon. Dan untuk itu, ia harus segera memecahkan misteri ini. Secepatnya.
.
.
.
.
.
Shin Min Ah, ia memandang pasangan remaja yang saat ini tengah bermain dengan bola sepak mereka. Mereka berdua terlihat bahagia hanya dengan melakukan hal sepele seperti itu.
Ia mengepalkan tangannya. Ia tidak suka. Tidak suka melihatnya. Ia seperti melihat sosok Jaejoong dan juga Jiyeon.
Memorynya kembali mengingat saat Jaejoong tersenyum hangat pada Jiyeon saat mengantarnya ke sekolah. Senyuman yang pertama kali ia lihat.
Kenangan saat Jaejoong meninggalkannya yang baru saja menciumnya paksa dan menghampiri Jiyeon.
Kenangan saat Jaejoong terlihat sangat marah padanya saat Jiyeon di rawat di rumah sakit.
Jiyeon, Jiyeon, Park Jiyeon, yeoja itu yang menghancurkannya. Menghancurkan cintanya, menghancurkan namja yang begitu ia cintai hingga ia gelap mata dan membuat namja itu dengan sengaja ia bunuh. Semuanya karena Park Jiyeon. Ia tak mendapatkan apapun. Hanya amarah, kebencian, dan juga ketidakpuasan. Semuanya begitu menyakitkan.

“CHAGIYA!”

Min Ah terbangun dari lamunannya saat Junki nampyeonnya terus memanggilnya. Ternyata cukup lama bagi Junki membuat Min Ah kembali ke dunia nyata hingga Junki harus berkali-kali untuk membangunkannya.

“Neo gwaenchana?” Tanya Junki khawatir.
Ya, keduanya saat ini memang tengah berada di taman. Junki pamit pergi untuk membeli beberapa makanan dan meminta Min Ah untuk menunggunya.

“Oppa!”

“Ne?”

“Aku ingin kembali ke Italia!”

“Mwo?”

Min Ah menoleh ke arah Junki.
Kini Junki dapat melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata sang yeoja. Ia langsung memeluknya. Dapat ia rasakan tubuh yeoja itu bergetar.

“Ne, kita akan kembali ke Italia sore ini!” Jawabnya. Yang perlu ia lakukan hanyalah tetap berada di samping sang yeoja. Jiwa sang yeoja terguncang. Cinta yang yeoja itu berikan untuk Jaejoong begitu besar.
Inikah rasanya mencintai seseorang terlalu berlebihan?
Bahkan bisa menghilangkan akal sehatnya.
Ya, ia harus membantunya. Membantu Min Ah kembali ke dunia nyatanya. Kembali membuatnya menjadi yeoja normal seperti yang lainnya.
Ia akan sabar menunggu hingga saat itu tiba.
.
.
.
.
.
“KYA! HERO! KEMANA SAJA KAU, BRENGSEK? KAU MEMBUAT KEDAIKU HANCUR. PEMUDA SIALAN!” Namgil langsung melempar piring ke arah Jaejoong saat melihat namja itu memasuki kedainya, beruntung Jaejoong dengan tepat menangkap piring yang Namgil lempar ke arahnya.

“Mianhae!” Jaejoong tersenyum tulus.

“Lupakan! Kemana saja kau, hah? Menghilang begitu saja! Apa kau baik-baik saja?” Terdengar nada khawatir di sana.

Jaejoongpun bergeser dan Namgil dapat melihat sosok yeoja cantik di sana.

“Annyeonghasaeyo!” Sapa Jiyeon seraya membungkukkan tubuhnya.

“Omo! Apa ini yeoja bernama Park Jiyeon itu? Bagaimana kau bisa menemukannya? Dan penampilanmu? Hey! Apa jangan-jangan kau orang kaya yang menyamar?”

Jiyeon dan Jaejoong terkekeh mendengar rentetan pertanyaan dari Namgil.

“Wae? Wae? Wae? Apa aku terlihat seperti seorang kakek tua yang bodoh?”

“Aniyo. Kau masih sangat tampan dan juga……Muda.”

“Ck, apa kau sedang menjilatku eoh?”

Mereka bertiga pun tertawa.
.
.
.
.
.
“Saya sudah mendapatkan jawabannya, dan sudah saya duga bahwa tuan Kim Jaejoong mengonsumsi obat terlalu berlebihan. Ada beberapa sebab seseorang mengalami gangguan daya ingat. Mulai dari mengonsumsi obat lebih dari 5 yang tidak sesuai dengan petunjuk dokter, mengonsumsi obat alergi atau pil tidur, metabolisme menurun karena memiliki masalah dalam hormon tiroid, kurang istirahat, kadar gula darah tinggi, setres, herpes, malnutrisi, merokok dan minuman keras. Dan yang dapat saya simpulkan dari penjelasan tersebut hanyalah bahwa tuan Kim Jaejoong mengonsumsi obat secara berlebihan. Bisa jadi obat tidur yang di netralkan sehingga menjadi cairan bening layaknya air mineral biasa. Kemungkinan tuan Kim Jaejoong juga saat itu kurang istirahat dan stres karena cabang perusahaan yang tiba-tiba bangkrut dalam semalam.”

“Ne, semuanya lebih masuk akal. Geundae, apakah ada cara untuk membuatnya kembali mendapatkan ingatannya?” Tanya Siwon.
Ya, namja itu saat ini tengah bersama dengan Dr.Lee Jongsuk membahas tentang kondisi Kim Jaejoong yang mengalami kehilangan ingatan masalalunya.

“Saya pernah mendengar ini. Para ilmuan asal California, Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka menemukan cara menstimulasi otak, agar membentuk memory baru, namun membutuhkan perangkat Neuroprosthetic atau topi berfir yang dapat membantu orang-orang untuk mengingat informasi. Namun kemungkinan tersebutpun mungkin masih jauh di masa depan. Kehilangan ingatan dan membentuk memory baru merupakan salah satu kesulitan dalam kehidupan manusia. Akan lebih baik untuk membiarkan masa lalu itu menghilang dan menemukan kembali masa depan yang baru. Akan lebih baik juga jika tuan Kim Jaejoong melakukan hal itu, karena tidak menutup kemungkinan tuan Kim Jaejoong sendirilah yang dapat menemukan jawaban tentang masalalunya.” Perjelas Jongsuk.

“Apakah walaupun Jaejoong bertemu dengan sang pilot yang terakhir bersamanya sebelum kecelakaan tidak akan membuatnya kembali mengingat masalalunya?” Tanya Siwon penuh harap mengenai kondisi Jaejoong.

“Kasus tuan Kim Jaejoong bukanlah amnesia pada umumnya, karena otaknya tak terluka sedikitpun. Jika amnesia bisa sembuh kalau otaknya kembali berfungsi normal, berbeda dengan kasus tuan Kim Jaejoong yang tidak seperti itu. Ingatannya menghilang karena obat yang ia konsumsi telah merambat ke seluruh jaringan otaknya.”

Siwon terlihat kecewa mendengar jawaban Jongsuk.
Mau bagaimana lagi?
Mungkin memang Jaejoong pun tidak ingin mengingat masa lalu nya lagi.
.
.
.
.
.
“Mashita!” Ucap Jiyeon riang saat memakan Buldak yang di buatkan Jaejoong untuknya.

“Tentu saja. Dia pandai membuat Buldak dan juga pandai membuat para pembeli betah berlama-lama di kedai!” Potong Namgil.

“Ahjussi, mian. Harusnya aku menemuimu lebih awal!” Jaejoong terlihat benar-benar menyesal.

“Hm. Yang sudah terjadi ya sudahlah! Mau bagaimana lagi? Bukankah masalalu tidak akan pernah kembali. Hanya masa depanlah yang nyata!”

Jaejoong terpaku mendengar jawaban Namgil.
Benar yang Ahjussi itu katakan, masalalu memang tidak akan pernah kembali.
Lalu untuk apa ia masih pusing-pusing untuk memecahkannya?
Bukankah masa depan sudah ia genggam.
Park Jiyeon.
Ya, masa depannya hanyalah Park Jiyeon.

“Eoh, aku sudah menyiapkan sebuah tempat untukmu Ahjussi. Kuharap kau menyukainya!”

“Mwo?”

“Aku menyiapkan sebuah restaurant Buldak untukmu. Kau bisa mengelolanya dengan resep Buldak yang kau miliki.”

“Eoh, jeongmalyo?”

“Hm!”

“Oke, thankyou!”

Ketiganya kembali terkekeh mendengar Namgil yang mengucapkannya menggunakan bahasa Inggris.
.
.
.
.
.
Siwon keluar dari Seoul Hospital dengan perasaan campur aduk.
Apa yang nanti akan ia katakan pada Jaejoong mengenai kondisi namja itu?

Aaargh, Siwon mengacak prustasi rambutnya.
Harusnya ia di pusingkan dengan resepsi pernikahannya yang hanya tinggal seminggu lagi, tapi ia sama sekali tidak memikirkan hal itu.
Ia malah di sibukkan dengan masalah Jaejoong.
Hey! Siwon mempunyai kehidupannya sendiri, bukan!
Ia tidak harus selalu memikirkan masalah Jaejoong!

Lagi-lagi Siwon hanya mampu menghembuskan nafasnya. Ia sudah terlanjur terlibat. Akan lebih merepotkan jika ia menghentikannya di tengah jalan.

Mata Siwon melebar saat ia melihat sosok yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia lihat pada sebuah foto.

“Neo?” Siwon menunjuk sang namja.

“KYA! KAU RAVI, BUKAN!” Teriaknya membuat sang namja langsung berlari menghindari Siwon.

“KYA! BERHENTI KAU!”
Siwon pun mengejar namja itu.
Ya, ia tidak salah lagi. Itu memang benar adalah Ravi. Pilot helikopter yang saat itu bersama Jaejoong.
Ternyata benar, dia masih hidup. Sama seperti Jaejoong.
Namun, kenapa ia langsung kabur saat mendengar namanya di sebut?
Sudah Siwon duga, pasti ada yang tidak beres dengan namja itu.

Akhirnya Siwon pun mengepungnya. Tak ada lagi jalan di belakang sang namja. Yang ada hanyalah tembok yang menjulang tinggi.

“Kau tidak bisa lari lagi!” Siwon terlihat terengah. Bagaimana pun juga aksi kejar-kejaran ini menguras tenaganya.

“Kenapa kau lari? Kau mengenaliku?” Siwon mendekat, membuat namja itupun refleks berjalan mundur namun naas kakinya tak bisa melangkah lebih jauh lagi. Ia benar-benar terjebak.

“Kau harus menjelaskan banyak hal padaku, Ravi-Ssi!” Siwon tersenyum miring. Terlihat begitu mengerikan. Ternyata ia bisa berubah menjadi sosok kejam juga.
Ya, ia mungkin sudah lelah. Lelah dengan masalah Jaejoong. Ia harus segera menyelesaikannya.

Siwon melebarkan matanya saat melihat sang namja berlutut dihadapannya.

“Mian! Mianhae! Aku sungguh sangat menyesal! Mianata! Hiks….” Tangisnya.

Siwon tersenyum puas.
Dapat!
Ia mendapatkan namja itu!
Akhirnya kasus 5 tahun silam akan segera terpecahkan.
.
.
.
.
.
Coment Jusaeyo!

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 10

image

       IF I RULED THE WORLD
                  (part 10)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong aka Hero (JYJ)

Other Cast :
Choi Siwon (Super Junior)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)
Shin Min Ah
Lee Junki
Lee Jongsuk

Songfict :
Chen (EXO) To Heaven

Genre :
Romance, Hurt, Bondage,
Family, NC 21+

Length :
Chaptered

A/N :
HAPPY READING!
DON’T PLAGIARISM!
.
.
.
.
.
Choi Siwon, namja itu hanya dapat membukakan mulutnya lebar saat melihat penampilan namja yang ada dihadapannya saat ini.

“Apakah terlihat aneh?” Tanya sang namja saat melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Choi Siwon padanya.

“Omo! Ternyata aku benar! Ya, sangat benar! Hahaha….”

Hero, namja itu hanya dapat tersenyum kaku melihat tawa Siwon yang menurutnya sangat aneh itu.

“Sajangnim! Kau memang benar Sajangnim Kim Jaejoong!”

Ya, penampilan Hero yang selama 5 tahun terakhir ini seperti seorang preman pasar kini benar-benar terlihat serupa dengan sosok Kim Jaejoong, seorang pengusaha muda kaya raya pemilik Kim Corporation. Rambut hitam yang kini di potong pendek, kemeja putih dengan setelan jas berwarna navy semakin membuat namja itu semakin tampan.

“Kita akan pulang ke rumahmu, sajangnim!”

“Ne?”

“Kau pasti akan sangat senang bertemu dengan penghuninya nanti.” Jawab Siwon dengan senyum jahil menghiasi wajahnya.

“Kuharap kau kembali mengingat masalalu mu setelah bertemu dengannya!” Tambahnya penuh harap.

Kini keduanya tengah menaiki ferrari hitam milik Choi Siwon menuju kediaman Kim Jaejoong.

“Sajangnim! Ige!”

Jaejoong menerima sebuah dompet yang di berikan oleh Siwon padanya.

“Itu milikmu, sajangnim!” Tambah Siwon yang melihat ekspresi bingung di wajah Jaejoong saat menerimanya.
Jaejoongpun membuka dompet tersebut.
Benar. Itu adalah yeoja yang tengah ia cari.
Park Jiyeon.
Foto yeoja itulah yang pertama kali ia lihat saat membuka dompet tersebut.

“Apa kau mengingatnya?” Tanya Siwon saat melihat ekspresi Jaejoong yang datar.

Jaejoong tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sangat tipis, bahkan semut sekalipun tak dapat melihatnya.

“Hutangku akan ku bayar nanti!” Siwon kembali membuka suaranya.

“Mwo?” Tanya Jaejoong yang kembali di buat tidak mengerti dengan ucapan Siwon.
Siwon menampilkan sederet gigi putihnya pada Jaejoong.

“Aku menggunakan beberapa uangmu! Mianhae, aku tidak meminta ijin terlebih dahulu padamu! Biaya pernikahanku masih kurang, maka dari itu aku tidak punya pilihan lain selain menggunakannya.” Jawab Siwon masih tetap fokus menyetir ferrarinya.

“Anda akan menikah?”

“KYA! KITA INI AKRAB! SANGAT AKRAB! JANGAN MENGGUNAKAN BAHASA SEFORMAL ITU DENGANKU!” Siwon langsung menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya saat menyadari bahwa ia telah berani berteriak pada sajangnimnya itu.

“Jeo-jeoseonghamnida!” Tambah Siwon merasa bersalah.

“Eonje?”

“Ne?”

“Menikah!”

“Eoh, igo! Aku akan menikah 2 minggu yang akan datang. Hihi…” Jawab Siwon senang saat membayangkan bahwa ia akhirnya akan menikah dengan yeoja yang amat di cintainya selama ini, Lee Chaerin.

“Chukkae!” Ucap Jaejoong tulus memberikan selamat untuk Siwon.

“Eoh, ne! Kamsahamnida!”

Keduanya terdiam.
Jaejoong masih terpaku menatap foto seorang Park Jiyeon.

“Eoh, sajangnim! Kau perlu mengetahui ini. Publik tidak mengetahui bahwa kau telah meninggal dunia. Ini akan mudah bagimu untuk kembali muncul dihadapan publik. Hanya saja, kupikir akan lebih baik untuk sementara waktu ini kau tidak muncul sampai kita mengetahui siapa dalang dibalik tragedi helikopter 5 tahun silam!”

Jaejoong tidak menjawab. Ia hanya menyimak setiap informasi yang diberitahukan oleh Siwon padanya.

“Dan selama kami fikir kau telah meninggal dunia, Kim Myungsoo lah yang menggantikanmu memimpin perusahaan.”

Kim Myungsoo?
Ya, dongsaengnya.
Ia ingat saat Siwon memberitahukan perihal keluarga Kim pada dokter Lee Jongsuk.

“Yang mengetahui kau telah meninggal dunia hanyalah tuan besar Kim, nyonya besar dan juga Kim Myungsoo. Tuan besar Kim meminta agar kematianmu di sembunyikan dari publik. Beliau tidak ingin nama besar keluarga Kim tercemar hanya karena kecerobohan sebuah helikopter yang menewaskan sang CEO. Ini akan membawa dampak buruk menurut beliau. Itu sebabnya kematian sajangnim tidak di publikasikan.”

Jaejoong masih terdiam. Ia harus mempelajari banyak hal lagi tentang keluarga itu.

“Aku dan calon istriku, Lee Chaerin, kami adalah salah satu dari mereka yang mengetahui perihal kematianmu. Park Jiyeon, foto yeoja yang ada di dalam dompet itu adalah salah satu publik yang kami bohongi. Ia tidak mengetahui perihal kematian sajangnim. Ini sudah 5 tahun lamanya ia menunggumu.”

Park Jiyeon!
Kini ia mengerti kenapa yeoja itu menangis malam itu, malam dimana pertama kali mereka berdua bertemu.
Inikah alasannya?
Yeoja itu pasti sangat merindukan sosok Kim Jaejoong yang entah benar atau tidak sosok itu adalah dirinya.

“Kim Myungsoo!” Akhirnya Jaejoong mengeluarkan suaranya.

“Ne?”

“Ada hubungan apa antara Jiyeon dengannya?”

“Mwo? Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa kau pernah melihat Myungsoo bersama Jiyeon sebelumnya?”

Jaejoong tak menjawab. Ia hanya membutuhkan jawaban,  bukan menjawab kembali pertanyaan.

“Arraseo!” Jawab Siwon.

“Ternyata sifat aslinya masih menepel!” Gerutu Siwon.

“Yang ku tau, dulu saat Elementary School mereka berdua sekolah di sekolah yang sama.” Jawab Siwon pada akhirnya.

“Hanya itu?” Tanya Jaejoong mengerutkan kedua alisnya.
Lalu bagaimana dengan ciuman itu?
Ciuman saat keduanya berada didalam mobil.
Apa mereka berdua berselingkuh dibelakangnya selama ini?
Tidak mungkin!
Terlihat dengan sangat jelas bahwa Jiyeon begitu mencintai sosok Kim Jaejoong.

“Waegeurae? Bagaimana kau bisa berfikir hal lain selain itu?” Tanya Siwon balik yang langsung mendapat tatapan tajam dari Jaejoong.

“Benar! Ia Kim Jaejoong!” Batin Siwon yang menyadari bahwa Jaejoong bukanlah tipe orang yang suka jika pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan.

“Mwollayo. Yang ku ketahui hanyalah itu!” Jawab Siwon jujur.

Jaejoong hanya dapat menghembuskan nafasnya.
Tidak ada jawaban jika seperti ini. Batinnya.

“Eoh, masalah dompet. Sebagian sudah digunakan untuk keperluan Jiyeon. Kau menitipkannya sebelum kecelakaan itu terjadi. Ia telah berhasil masuk universitas jurusan keperawatan. Kini ia tengah magang di Seoul Hospital. Ia gadis yang ceria. Meski selama ini ia selalu bersikap baik-baik saja
, namun aku tau bahwa ia begitu merindukanmu.”

Ya, tanpa Siwon beritahupun ia sudah mengetahuinya saat pertama kali Jiyeon memeluk dan mengira bahwa ia adalah Kim Jaejoong.
Ya, mengira?
Bagaimana kalau perkiraan itu salah?
Bagaimana kalau ternyata ia bukanlah sosok Kim Jaejoong yang Jiyeon dan Siwon kira?

“Bagaimana hubunganku dengan Jiyeon?” Tanyanya kembali.

“Mwo?”

“Bagaimana kami berdua bisa saling bertemu dan jatuh cinta?”

“Apa……Apa harus ku ceritakan dari awal?”

Jaejoong kembali terdiam.
Siwon harus kembali menghembuskan nafasnya. Sepertinya hari ini ia akan banyak berbicara.
Air!
Setidaknya Jaejoong harus menyediakan air minum untuknya.
Pasti akan sangat melelahkan nantinya!
Benar, bukan?

“Aku hanya akan menceritakan apa yang ku ketahui. Masalah apa yang kalian lakukan saat berdua saja selama ini, aku tidak tau sama sekali. Apakah kalian berdua sudah melakukan itu……..” Siwon kembali membekap mulutnya sendiri.

“Mian!” Lanjutnya. Ia pun melepaskan kembali tangannya dan kembali menceritakan JaeYeon couple ini.

“Hari itu, tiba-tiba kau memintaku menghubungi seluruh agensi keartisan yang ada di Korea untuk menolak setiap peserta audisi yang memiliki nama Park Jiyoung. Aku tidak tau alasannya, aku hanya diperintahkan seperti itu olehmu. Sampai aku mengetahui tujuan utamamu adalah untuk seorang yeoja Senior High School bernama Park Jiyeon yang kau undang untuk menemuimu di restaurant waktu itu. Lalu aku berfikir, apakah ini alasanmu melakukan semua itu? Kau terlihat begitu terobsesi padanya. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, sehingga kau memanfaatkan impian eonnienya yang tak lain adalah Park Jiyoung. Kau pun berhasil mendapatkannya dan membuat eonnie Jiyeon debut sebagai seorang artis terkenal dengan nama panggung Kahi. Beberapa hari setelah itu, kau memintaku untuk menyelidiki hubungan antara Jiyeon dan juga Myungsoo yang ternyata mereka berdua adalah siswa yang sekolah di sekolah yang sama saat Elementary School.”

Jaejoong kembali mengerutkan keningnya.
Hanya itukah hubungan antara Jiyeon dengan Myungsoo? Ia kembali membatin.

“Kalian berdua pun tinggal bersama. Kau membeli rumah yang sudah kau siapkan untuk tinggal bersama yeoja itu. Semakin hari aku semakin melihat tumbuh benih cinta di antara kalian berdua. Sungguh saat itu aku merasa iri melihatnya. Kalian berdua begitu terlihat saling mencintai satu sama lain meski aku tau sejak awal kaulah yang memiliki perasaan itu. Hingga peristiwa itu terjadi dan kalian berduapun akhirnya terpisah selama 5 tahun terakhir ini.”

“Kenapa saat itu aku menaiki helikopter?” Tanya Jaejoong mulai menganalisis kejadian 5 tahun silam.

“Pagi-pagi sekali cabang perusahaan yang ada di Korea Utara tiba-tiba anjlok. Bisa dibilang bangkrut dalam semalam. Hal yang aneh karena semua pemegang saham yang ada di sana tiba-tiba mencabut semua saham mereka. Entah dengan alasan apa, itulah penyebab utamanya. Aku tidak tau bagaimana kau bisa memilih menaiki helikopter di banding menaiki pesawat terbang sebab saat itu kau langsung menyuruhku untuk mengantarkan Jiyeon karena kau harus pergi ke sana dan memintaku untuk memberitahukannya pada Jiyeon perihal kepergianmu ke Korea Utara. Dipagi itu pula, kau menitipkan dompetmu padaku untuk memenuhi semua kebutuhan Jiyeon nantinya.”

“Apa kau mencurigai seseorang atas insiden ini?” Tanya Jaejoong kembali.

“Aku tak mencurigai siapapun. Pasalnya, polisipun mengatakan bahwa ini adalah murni kecelakaan.”

Keduanya terdiam. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan siapa sebenarnya dalang dibalik semua ini?

“Siapa yang paling di untungkan atas meninggalnya Kim Jaejoong?”

“Diuntungkan, yah?” Siwon terlihat berfikir. Mencoba menerawang kejadian masa lalu.

“Kupikir tidak ada. Karena tidak ada yang tau bahwa kau mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Ini semakin rumit!” Siwon mulai prustasi.

“Bagaimana dengan Myungsoo?” Tanya Jaejoong.

“Ne?”

“Bukankah dia yang menggantikan posisi Kim Jaejoong?”

“Ya, memang dia yang mendapatkan posisi itu. Tapi itupun terpaksa tuan besar kim lakukan karena ia tidak memiliki pewaris lain. Saat itu Myungsoo pun masih duduk di bangku Senior High School. Ia pun tidak mudah mendapatkannya. Banyak protes dari para komisaris pemegang saham lainnya yang tiba-tiba mendapatkan pimpinan baru, terlebih tuan muda Myungsoo belum lulus sekolah dan saat itu tuan besar Kim hanya mengatakan pada mereka bahwa kau tengah berlibur dan tidak bisa memimpin perusahaan untuk sementara waktu.”

Keduanya menghela nafas. Tidak ada titik terang sedikitpun dari penjelasan Siwon.

“Jadi benar. Kuncinya hanyalah si pilot yang terakhir kali bersama Jaejoong saat itu.”

“Eoh, pilot! Aku sudah menyelidikinya. Namanya Ravi. Berasal dari Busan. Menurut laporan yang ku peroleh, ia memiliki 2 orang putera yang saat itu masih berusia 2 tahun dan satu lagi masih berada dalam kandungan istrinya. Ia bersih tak memiliki catatan buruk apapun dari pihak kepolisian.”

“Bagaimana dengan keluarganya? Apa mereka semua tinggal di Seoul?”

“Mereka di Busan. Ravi bekerja sebagai pilot helikopter di Seoul.”

“Bagaimana bisa ia berhubungan dengan Kim Corporation? Kenapa ia yang ditunjuk menjadi pilot untuk helikopter yang akan kugunakan pagi itu?”

“Eoh, aku tak memikirkan hingga sejauh itu. Kalau ia bukan dari perusahaan kita, pasti ada seseorang yang sejak awal sudah membayarnya. Ini kasus pembunuhan berencana. KYA! INI MENJIJIKAN! SIAPA SEBENARNYA ORANG JAHANAM ITU?” Teriak Siwon prustasi.
Masih banyak teka-teki yang harus di pecahkan dalam kasus ini. Tidak mudah kembali membuka buku yang sudah 5 tahun tertutup. Mungkin sudah usang dan berdebu, dan semoga saja tulian didalamnya masih dapat dibaca dan tidak memudar.
.
.
.
.
.
Myungsoo memijat pelan pelipisnya.
Kejadian semalam benar-benar membuat pikirannya kacau hari ini.

~FLASHBACK ON~

Jiyeon meronta sejadinya, berusaha melepaskan diri dari sosok Myungsoo yang ada di hadapannya. Jiyeon hanya mampu meronta dengan badannya yang kini di dekap Myungsoo. Jiyeon terus menjerit dan menangis berusaha meminta pertolongan, berharap ada yang mendengarnya.

Myungsoo kemudian menjilat leher putih Jiyeon dan tangan kanannya meremas dada kiri Jiyeon. Myungsoo semakin gila. Ia menjilat dengan kasar leher Jiyeon. Myungsoo mengangkat pakaian Jiyeon sebatas leher.

Jiyeon meronta, menangis, ia berusaha keluar dan melawan.
Myungsoo semakin menakutkan kala ia mampu melihat gundukan putih kenyal milik Jiyeon yang kini hanya terhalang bra berenda hitam. Myungsoo langsung menjilat dan menghisap gundukan putih itu dengan tangan kirinya, meremas dada kiri Jiyeon dan tangan kanannya menjambak rambut Jiyeon agar yeoja itu mendongak ke atas.
Jiyeon hanya bisa menangis merasakan geli dan sakit.

Myungsoo menurunkan bra Jiyeon.
Terlihat kini dada Jiyeon yang sesungguhnya. Putih, mulus, namun tidak terlalu besar. Putting berwarna cokelat yang sangat menggoda, sekiranya itulah yang ada dipikiran Myungsoo.

“Jika kau tidak menghentikannya, Kau akan melihat mayatku keesokan harinya!”

Bagaikan sebuah mantra, Myungsoo langsung kembali pada kesadarannya.
Tuhan, apa yang sudah ia lakukan?

~FLASHBACK OFF~

Jiyeon, yeoja itu pasti sangat membencinya sekarang. Ia pasti tidak ingin lagi bertemu dengannya. Ia sudah melecehkan yeoja itu, melukainya, menyakiti yeoja yang sudah membuat ia jatuh cinta dengan sempurna padanya.
.
.
.
.
.
“Jadi ini anaemu, Junki-Ah!” Ucap Lee Jongsuk pada sosok Lee Junki yang tak lain adalah sepupunya. Sama seperti hubungannya dengan Lee Chaerin.

“Ne, Sukkie-Ah! Mian karena belum memberitahukan ini sebelumnya!” Jawab Junki menyesal.

“Naneun, Lee Jongsuk imnida. Saya adalah sepupu dari nampyeonmu ini. Kami berdua sama-sama tampan, bukan?”
Ketiganya terkekeh mendengar celoteh Jongsuk.

“Aissh, Junki-Ah ternyata pintar mencari seorang anae. Kau tampak lebih cantik jika tersenyum seperti itu!” Goda Jongsuk.

“Jangan menggodanya! Dia anaeku!”

Jongsuk dan Min Ah kembali terkekeh melihat Junki yang sepertinya cemburu atas pujian yang Jongsuk berikan untuk anaenya itu.

“Lihat! Dia cemburu pada sepupunya sendiri! Pabo!” Senyum jahil menghiasi wajah Jongsuk.

“Eoh, kau hanya akan memperkenalkan anaemu padaku tanpa memberitahukan namanya padaku, Lee Junki-Ssi?” Ejek Jongsuk mengingatkan.

“Shin Min Ah imnida. Bangabseumnida, Jongsuk-Ssi!” Jawab Min Ah memperkenalkan diri.

“Omo, kyeopta!” Timpalnya.

“KYA!” Teriak Junki kesal.

Ketiganya kembali terkekeh.
Min Ah berfikir, apa yang kurang dari kehidupannya sekarang?
Junki sudah sangat sempurna sebagai nampyeonnya selama ini. Memberikan rasa aman, nyaman dan bahagia untuknya.
Kenapa ia masih merasa kurang?

~Tok-Tok-Tok~

Kekehan ketiganya terinterupsi saat mendengar suara ketukan pintu dari luar ruang kerja Jongsuk.
Ya, ketiganya saat ini tengah berada di dalam ruangan Dr. Lee Jongsuk di Seoul Hospital.

“Masuk!” Perintah Jongsuk.

Shin Min Ah yang ikut menoleh ke arah pintu langsung melebarkan matanya sempurna saat melihat sosok yang amat ia kenal. Sangat dikenalnya.

“Eoh, Jiyeon-Ah! Masuklah!” Perintah Jongsuk saat melihat Jiyeonlah yang membuka pintu ruangannya itu.

Jiyeon yang belum menyadari kehadiran Min Ah hanya dapat melangkah maju mendekati sosok Jongsuk.

“Jongsuk uisa, Eunjung uisa meminta anda untuk menggantikan beliau memeriksa pasien dikamar 149. Beliau harus pulang lebih awal! Kudengar eomma beliau sakit!”

“Eoh, jeongmalyo?” Jongsuk sedikit terkejut.

“Kenapa ia tidak menghubungiku!” Gumamnya.

“Geurae, tolong kau jaga pasien tersebut sampai aku tiba di sana Jiyeon-Ah!”

“Ne, algeseumnida uisa. Kalau begitu, saya permisi dulu!” Jiyeonpun membungkukkan sedikit tubuhnya dan berbalik keluar dari ruangan Lee Jongsuk.

Min Ah hanya menunduk terdiam. Ia dapat melihat sosok Jiyeon yang keluar ruangan melalui ekor matanya. Tanpa Min Ah sadari, Junki pun menyadari sikap Min Ah yang berbeda ketika melihat kedatangan perawat tersebut.
Apakah Min Ah mengenalnya? Batin Lee Junki.

“Sepertinya pertemuan hari ini cukup sampai disini dulu! Kau tah bukan, aku ini sangat sibuk!”

“Ne, saking sibuknya sampai lupa untuk mencari pasangan hidup.” Sindir Junki.

“Ck, aku tidak lupa. Aku hanya belum siap!” Elak Jongsuk.

“Belum siap untuk apa? Kau sudah sangat siap melakukannya!” Protes Junki.

“Jangan memprovokasiku, Lee Junki-Ssi! Kita akan bertemu kembali di pernikahan Chaerin 2 Minggu lagi. Pastikan kalian berdua hadir atau yeoja itu akan memanggang kalian berdua hidup-hidup!”

“Arra arra arra. Aku lebih banyak mengenalnya dari pada kau, Lee Jongsuk uisa.”

“Ck, geurae. Nan khalke. Tutup pintunya jika kalian ingin meninggalkan ruangan ini!”

“Ne!” Jawab Junki mengiringi kepergian Jongsuk.

“Neo gwaenchana?” Tanya Junki hati-hati pada Min Ah.

“Ne?” Sepertinya Min Ah baru saja kembali dari dunianya sendiri.

“Kau terlihat pucat!” Junki mengusap lembut pipi Min Ah.

“Kita akan membeli makanan dimana hari ini? Atau ada tempat yang ingin kau kunjungi?” Tanyanya seraya mengelus lembut rambut panjang terawat anaenya itu.

Min Ah terdiam. Cukup lama. Akhirnya ia pun membuka kembali suaranya.

“Appa. Aku belum menemuinya semenjak kembali ke Korea.” Jawabnya.

“Geurae, hari ini kita akan menemui beliau!” Junki tersenyum hangat lalu mengecup lembut kening Min Ah.
Sosok nampyeon yang benar-benar sempurna, bukan?
.
.
.
.
.
Jiyeon, yeoja itu menatap tajam sosok namja yang saat ini tengah menyandarkan punggungnya pada pintu ferrari hitam miliknya yang terparkir di depan Seoul Hospital tempat Jiyeon bekerja.
Namja itu langsung berdiri tegap saat menyadari kehadiran yeoja itu.

“Jiyeon-Ah!” Panggilnya.

Jiyeon mengalihkan pandangannya dengan malas. Ia pun berbelok arah, namun langsung di tahan oleh sang namja. Dengan kesal yeoja itu langsung menghempaskan tangannya kasar.

“Jangan menyentuhku! Jangan pernah menemuiku dan jangan pernah memanggil namaku!” Ucapnya tanpa berniat memandang wajah sang namja.

“Mianhae!” Hanya kata itu yang dapat di ucapkannya. Ia benar-benar menyesal dengan kejadian malam sebelumnya yang sungguh tanpa ia duga ataupun rencanakan sebelumnya.

“Kim Myungsoo!”

Keduanya langsung menolehkan wajah mengikuti sumber suara yang memanggil nama sang namja yang ternyata adalah Kim Myungsoo itu.

“Apa aku mengganggu kalian?” Tanyanya saat melihat ekspresi keduanya.

“Animida. Tumben oppa kesini. Apa oppa sakit?” Tanya Jiyeon khawatir.

“Aniyo. Aku sengaja ke sini untuk menjemputmu, Jiyeon-Ah!” Jawab sang namja.

“Eoh, bagaimana denganmu Myungsoo-Ah? Sedang apa kau disini?” Tanyanya pada Myungsoo.

Myungsoo terdiam sejenak. Bingung apakah harus berbohong atau menjawab jujur.

“Dia hanya menemui temannya yang sedang dirawat disini. Kami kebetulan bertemu saat aku hendak pulang, Siwon oppa!”

“Eoh, begitu yah! Jadi kau punya teman juga, Kim Myungsoo?” Ejek namja yang ternyata adalah Choi Siwon seraya menepuk pundak Myungsoo cukup keras.

Sementara didalam mobil milik Choi Siwon yang tak jauh dari tempat ketiganya, sesosok namja dengan topi hitam yang cukup menyamarkan wajahnya mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya yang putih dapat menembus kulit mulusnya. Ia memandang ketiganya geram. Mereka benar-benar terlihat sangat akrab. Apalagi ketika Siwon belum bergabung dengan keduanya. Ia dapat melihat namja yang diucapkan Choi Siwon adalah dongsaengnya tengah menyentuh yeojanya. Yeoja Kim Jaejoong. Ya, ia adalah Hero. Hero yang entah benar atau bukan adalah sosok Kim Jaejoong yang “?”. Bahkan author pun bingung mengatakannya karena Lee Jongsuk yang seorang dokter berpengalaman pun menampik bahwa Hero mengalami amnesia.
Jadi, kondisi apa yang cocok untuk menggambarkan keadaannya saat ini?
Bisakah readers menemukan jawabannya?
Tinggalkan ocehan author dan kembali pada kisah JaeYeon.

Entah apa yang mereka bertiga bicarakan saat author mendeskripsikan tentang keadaan Hero yang berada di dalam mobil Siwon, yang dapat terlihat detik ini oleh mata Hero adalah sosok Siwon yang tengah berjalan kearahnya bersama dengan Jiyeon, minus Kim Myungsoo yang terlihat mematung di tempatnya.
Apa yang mereka bicarakan sebelum Siwon menghampiri mereka?
Muncul pertanyaan itu di benak Hero.

“Siapa namja yang ada di dalam mobil oppa itu?” Tanya Jiyeon pada Siwon yang tak dapat ia lihat dengan jelas siapa sosok yang tengah berada didalam mobil Siwon karena gelapnya malam dan topi yang menutupi setengah wajah sang namja. Sepertinya memang sengaja dilakukan agar orang lain tak dapat mengenalinya.

“Kau akan tau setelah kau bertemu dengannya nanti!” Jawab Siwon dengan senyum jahilnya.

Sementara itu, Myungsoo menautkan kedua alisnya saat menyadari ada sosok namja yang tengah duduk di samping kursi kemudi milik Siwon. Ia dapat merasakan tatapan tajam sosok itu padanya.
Siapa?
Berani sekali ia memberikan tatapan kurang ajar itu padanya?
Apa ia tidak tau siapa Myungsoo?
Kim Myungsoo.
CEO Kim Corporation.
Berani sekali!
Tapi, Myungsoo merasa seperti mengenal dengan baik tatapan itu.
Tapi, siapa?
Sial!
Kenapa harus malam hari?
Tatapan itu benar-benar menusuk!
Andai tatapan itu dapat berbicara, mungkin Myungsoo dapat mengartikan bahwa tatapan itu mengatakan
“Akan ku bunuh kau!”
Myungsoo melebarkan matanya.
Siapa dia?

Sepi, Ccanggung, dan terasa aneh.
Itu yang dapat Siwon rasakan dari keadaan ini. Tak ada yang bersuara semenjak dalam perjalanan hingga tiba di kediaman Jaejoong dan juga Jiyeon saat ini. Tadinya Siwon berfikir ia tak akan repot-repot menjelaskan apapun pada Jiyeon karena pasti akan lebih baik jika Jaejoong sendirilah yang menjelaskannya. Namun hingga Hero yang mungkin benar adalah Jaejoong membuka topinya dan memperlihatkan dengan jelas wajahnya, tak ada satupun ucapan yang keluar dari mulut Jiyeon maupun Jaejoong. Tangis haru yang Siwon pikir akan Jiyeon berikanpun tidak ada mengingat penantian yeoja itu demi Jaejoong selama 5 tahun ini begitu setia dan pasti begitu sangat merindukannya. Semua hal yang ia pikirkan akan terjadi pada dua insan yang telah terpisah selama 5 tahun itu salah. Meleset. Dan jauh dari apa yang ia perkirakan sebelumnya. Hanya tatapan datar tak bermakna yang dapat Siwon rasakan dari keduanya. Membuat ia merasa sesak dan merasa tengah berada di dunia lain saja. Atmosfer aneh dan menyebalkan.
Ada apa ini? Batinnya.

“Ehem!” Siwon berusaha memecah keheningan.

Tak ada yang bergeming.
Tuhan! Sepertinya kau kembali menguji kesabaranku! Batinku, Choi Siwon.

“Kya! Apa kalian lapar? Apa ingin ku belikan makanan? Kalau begitu aku akan membelikan makanan dan….”

“Tetap di sini, oppa!” Suara pertama yang keluar dari mulut seorang Park Jiyeon. Mungkin lebih terdengar seperti sebuah perintah.

Siwon menelan salivanya. Jiyeon ternyata jelmaan kedua dari Jaejoong.
Bagaimana bisa?
Nada perintah yang seolah tak terbantahkan itu sama dengan Jaejoong.
Selamatkan Siwon dari situasi ini!
Bahkan Siwon belum menikah!
Setidaknya tunggu 2 minggu lagi hingga ia selesai menikahi Chaerin!
Ratap seorang Choi Siwon.

“Kau pulang?”

“Hm!”

Benar-benar aneh.
Ada apa dengan keduanya?
Mereka tidak seperti orang yang baru bertemu setelah 5 tahun berpisah.

“Ada apa ini sebenarnya?” Tanya Siwon mulai prustasi seraya mengacak rambut yang sudah ia tatan serapi mungkin itu.

“Kau ingin mandi? Apa ingin ku siapkan air hangat?”

“Hm!”

Selalu itu.
Pertanyaan bodoh dan jawaban yang juga bodoh yang selalu keluar dari mulut keduanya.

“KYA! ADA APA DENGAN KALIAN BERDUA? KALIAN TIDAK SALING MENANGIS BERPELUKAN ATAUPUN MELEPAS RINDU SETELAH 5 TAHUN BERPISAH! APA HARUS AKU YANG MELAKUKAN ADEGAN ITU, EOH? APA KALIAN INGIN MEMBUATKU MATI SEBELUM AKU MELANGSUNGKAN PERNIKAHAN YANG HANYA TERSISA 2 MINGGU LAGI, EOH?” Sembur Siwon. Ia benar-benar kesal dengan situasi seperti ini.

“Menangis, ya?”

Jaejoong dan Siwon langsung menatap Jiyeon saat yeoja itu kembali membukakan suaranya.

“Apa masih bisa?” Jiyeon tersenyum miris.

“Ada apa iniiiiiiiii?” Rengek Siwon. Sepertinya namja inilah yang siap untuk menangis.

“Air mataku sepertinya sudah kering dan habis. Menangisi namja yang bahkan tak pernah memikirkanmu.”

“Apa maksudmu, Jiyeon-Ah?” Tanya Siwon tidak mengerti.

Jaejoong yang sudah mengerti hanya mampu terdiam tak bergeming.

“Kau tak mengajak yeoja bernama Suzy itu kemari?” Tanya Jiyeon masih dengan senyum mirisnya.

“Suzy? Siapa lagi itu? Tolong jelaskan semua ini! Kalian berdua terlihat aneh!” Tambah Siwon mengurut pelipisnya.

“Hm!” Jawab Jaejoong kembali mengacuhkan Siwon.

“KYA! SIAPA SUZY? APA YANG SEBENARNYA TERJADI ANTARA KALIAN BERDUA?” Teriak Siwon di ujung tanduk.

“Bagaimana dengan Myungsoo? Kalian berdua terlihat sangat akrab!”

“Hm.”

“Geurae! Kesabaranku sudah habis! Terserah kalian berdua mau melakukan apapun! TERSERAH! NAN KHALKHE!” Akhirnya Siwon pun menyerah dan memilih meninggalkan arena pertempuran antara JaeYeon couple ini.

Hening. Entah selama berapa menit keduanya tak ada yang bersuara. Hingga Jaejoong merasa jengah dengan keadaan tersebut. Apalagi bayangan-bayangan tentang kebersamaan Jiyeon dengan Myungsoo, Semakin membuat ia merasa kesal.

“Ada hubungan apa kau dengan Myungsoo?” Tanyanya tajam.

“Apa aku harus menjawabnya?” Bukannya menjawab, Jiyeon malah balik bertanya. Beruntung Siwon sudah lebih dulu enyah dari sana, mungkin Siwon pun akan merasa berada didalam kandang harimau jika masih tetap di sana dan menyaksikan keduanya yang membuat suasana semakin mencekam.
Hey! Ini bukan FF bergenre horor, bukan!

“Apa kau berselingkuh dengannya?” Kembali Jaejoong menyuarakan hatinya.

“Bagaimana denganmu?” Jiyeon rupanya tak mau kalah.

Sepertinya kesabaran Jaejoong mulai habis. Dengan kasar ia menarik Jiyeon dan langsung memojokkannya ke dinding.

Jiyeon meringis kesakitan merasakan punggungnya membentur tembok. Bagai dejavu, namun dengan namja yang berbeda.

“Jadi…..” Jaejoong menggeram. Amarahnya membuncah.

“Kalian berdua benar-benar berselingkuh di belakangku, hm?”

Jiyeon, detik itu juga ia ingin membungkam mulut Jaejoong. Sungguh, ia merasa bahwa ialah yang menjadi satu-satunya tersangka di sini. Sedangkan yang ia ketahui adalah bahwa Jaejoonglah yang telah mengkhianatinya selama ini.

“Jalang!”

Jiyeon melebarkan matanya saat kata itu benar-benar keluar dari mulut Jaejoong.
Benarkah namja itu mengucapkannya?

“Ck, ne. Kau benar. Aku ini jalang! Lalu, bagaimana denganmu? BAGAIMANA DENGANMU, KIM JAEJOONG? KAU MERAMPAS HIDUP SI JALANG INI SEJAK AWAL. SETELAH MEMBUATNYA TERGILA-GILA PADAMU, KAU MENINGGALKANNYA DAN BERSAMA YEOJA LAIN. SEKARANG KAU DATANG KEMBALI MENEMUI SI JALANG INI. APA MAUMU SEBENARNYA? APA KAU BENAR-BENAR INGIN MEMBUATNYA GILA, HAH?” Akhirnya. Akhirnya yeoja itu meluapkan semua emosinya.

Jaejoong nampak terkejut melihat reaksi yeoja itu.

“Neo! Jika kau memang benar-benar tidak menyukaiku, sejak awal harusnya kau melakukan itu! Jangan mengatakan cinta atau bersikap manis terhadapku! Aku….” Jiyeon menunduk, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang selama ini ia tanggung seorang diri.

“Aku ini siapamu?
Aku juga tidak tau.
Apakah hanya sebuah mainan atau apa.
Jika memang kau sudah bosan, harusnya kau membuangku bukannya datang dan seolah masih menginginkanku. Itu akan lebih mudah bagiku.”

Jaejoong hanya bisa mematung mendengarnya.

“Kau bilang aku bersekingkuh! Kau bilang aku ini jalang. Lalu, untuk apa kau kembali menemuiku dan menghakimiku seperti ini? Kalaupun bisa, aku lebih memilih menjadi seperti apa yang kau katakan dibandingkan harus memiliki perasaan ini. Perasaan yang sepenuhnya di kuasai oleh sosok Kim Jaejoong. Ini menyakitkan! Aku benci! Benci memiliki perasaan ini! Hiks…” Tangisnya pecah yang hanya dapat membuat Jaejoong terpaku di tempatnya.
.
.
.
.
.
Apakah JaeYeon bisa bersatu?
Bagaimana dengan aksi Min Ah selanjutnya jika mengetahui bahwa Jaejoong masih hidup?
Apakah Siwon dapat menyatukan kembali JaeYeon couple ini?
Bagaimana nasib Myungsoo setelah membuat Jiyeon kembali membencinya?
Nantikan part 11.
Coment jusaeyo!

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 9

image

         IF I RULED THE WORLD
                    (part 9)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong aka Hero (JYJ)

Other Cast :
Choi Siwon (Super Junior)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)
Shin Min Ah
Lee Chaerin aka CL (2ne1)
Lee Junki
Lee Jongsuk
Kim Namgil
Park Jiyoung aka Kahi (After School)
Jung Yunho (TVXQ)
Luna (Fx)

Songfict :
VIXX Error

Genre :
Romance, Hurt, Bondage, Family, NC 21+

Length :
Chaptered

A/N :
Ada adegan NC di part ini, author cuma ngasih NC biasa bukan hard lemon.
Jadi,
YANG MASIH KECIL HARAP MINGGIR DULU!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Para pembeli di kedai Buldak milik tuan Kim Namgil mulai bersorak saat pelayan tampan yang mereka tunggu mulai keluar dari dapur kedai membawa beberapa Buldak yang mereka pesan. Bukan hanya kalangan remaja, bahkan yang sudah lewat dari remaja pun ikut datang ke kedai Buldak KNG untuk membeli Buldak kebanggaan tuan Kim Namgil tersebut, mungkin lebih untuk bertemu dengan pelayan tampan dengan rambut hitam sebahu yang sejak seminggu lalu bekerja di sana. Kedai yang awalnya sepi dan hanya tuan Kim Namgil yang bekerja disana seorang diri, Kini terlihat ramai sejak kedatangan namja tampan itu.

“Aigoo, ternyata kau membawa keberuntungan bagi Buldak KNG ini!” Puji sang pemilik kedai KNG yakni tuan Kim Namgil yang memberi nama kedainya menggunakan singkatan dari namanya sendiri.

“Ini karena Buldak milik Ahjussilah yang enak, bukan karena saya!” Timpal namja tampan itu.

“Minggu ini kita mendapakan banyak keuntungan, Hero!”

Namja yang ternyata adalah Hero itu hanya tersenyum seraya mempersiapkan kembali Buldak-Buldak yang hendak ia antarkan kepada para pembeli yang sudah menanti.

Hero, sudah hampir seminggu ia tinggal di kota besar Korea itu. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan yeoja bernama Park Jiyeon itu. Beruntung ia bertemu dengan Kim Namgil yang mau menampung dan mempekerjakannya. Namja paruh baya itu tinggal seorang diri dikedai yang sebenarnya adalah sebuah rumah yang ia sulap menjadi kedai. Saat Hero tidak sengaja menemukan kedai Buldak tersebut, ia pun memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu dan berniat mencari kembali keberadaan yeoja itu. Ia pikir menemukan yeoja itu adalah hal yang mudah, ternyata ibu kota benarlah sangat luas, terlebih ia hanya memiliki uang yang hanya cukup untuk beberapa hari saja. Akhirnya tuan Namgil bersedia membantunya. Memberinya pekerjaan dan tempat tinggal. Saling menguntungkan satu sama lain, bukan!
Tuan Namgil mendapatkan untung yang besar sejak Hero bekerja disana. Pesona yang dimiliki namja muda itu sungguh luar biasa.

“Kau akan kembali mencari yeoja bernama Park Jiyeon itu, nm?” Tanya tuan Namgil saat kedainya sudah ia tutup. Ya, kedainya hanya buka dari pkl 10:00 hingga pkl 18:00, hanya beroperasi selama 8 jam saja.

Terlihat Hero tengah mempersiapkan dirinya.

“Eum. Saya harus menemukannya!” Jawab Hero mantap.

“Seoul ini luas. Kau yakin akan tetap mencarinya? Bagaimana kalau ternyata yeoja itu sudah memiliki kekasih bahkan mungkin sudah mempunyai suami dan anak?” Tanya Namgil kembali.

“Gwaenchana! Saya hanya ingin mengetahui mengapa waktu itu ia mengira bahwa saya ini adalah namja bernama Kim Jaejoong. Siapa Kim Jaejoong itu? Saya hanya ingin bertanya saja.” Jawab Jaejoong kembali.

“Kau yakin?” Tanya tuan Namgil meyakinkan kembali keputusan Hero.

Hero menautkan kedua alisnya.

“Maksud, ahjussi?”

“Kau yakin kau menemuinya bukan karena kau jatuh cinta pada yeoja itu?”

Hero terdiam.
Jatuh cinta, ya?
Mungkinkah?
Ia tak mengenal yeoja itu, bagaimana bisa ia jatuh cinta padanya?
Tapi, rasa rindu dan juga hasrat ingin memiliki selalu muncul saat ia melihat yeoja itu. Rasa nyaman, rasa ingin melindungi dan memiliki. Rasa itu selalu muncul bahkan saat ia hanya mengingat namanya saja.
Apakah itu bisa diartikan dengan cinta?

“Aku hanya takut kau akan terluka, Hero. Entah mengapa, aku begitu menyayangimu meski kita baru bertemu 1 minggu ini. Ku harap kau melakukan hal yang benar. Kau orang baik dan kau pantas mendapatkan hal yang baik pula.” Namgil menepuk pelan pundak Hero membuat Hero merasa sangat nyaman dengan sikap kebapakan yang dimiliki Namgil.

“Ahjussi, jika nanti saya kembali ke desa, akan saya ajak eomma kesini. Akan saya kenalkan eomma padamu!”

“Ck,apa kau berniat menjodohkanku dengan eommamu eoh?”

“Bagaimana menurutmu? Tidaklah buruk memiliki putra tampan sepertiku!”

“Benar-benar percaya diri sekali kau!” Cibir Namgil.

“Tentu saja. Kau sudah melihat buktinya seminggu ini, bukan!”

“Arasseo arasseo arasseo. Kkha! Aku mual mendengarmu membagakan diri sendiri!”

Hero hanya tertawa melihat ekspresi Namgil. Namja paruh baya itu terasa tidak asing baginya. Ia seperti sosok seorang Appa baginya. Mungkin karena ia merindukan sosok Appa karena yang ia tau Appanya telah meninggal dunia, itulah yang sang eomma ceritakan padanya.
.
.
.
.
.
“Park Jiyeon!” Sapa namja tampan yang tengah menyandarkan punggungnya pada ferarri miliknya yang terparkir dengan sangat cantik di depan Seoul Hospital.

“Kim Myungsoo!” Ucap Park Jiyeon pada namja yang ternyata adalah Kim Myungsoo itu.

“Bukankah sudah kukatakan untuk tidak menjemput kembali!” Semburnya saat tiba di hadapan namja tampan itu.

“Aku mengkhawatirkanmu! Aku takut kau akan sakit lagi dan pingsan di tengah jalan.” Jawab Myungsoo jujur.

” Jangan berlebihan! Aku baik-baik saja! Aku sehat! Dan sudah seminggu aku magang disini dan sudah seminggu pula aku merasa bosan ditanyai para perawat senior. Mereka bertanya tentang apakah aku mempunyai nomor handphonemu, apakah kau sudah mempunyai seorang kekasih dan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu sangat menggangguku.”

“Omo, sejak kapan kau jadi yeoja cerewet seperti ini Park Jiyeon? Aku benar-benar terkejut!”

Jiyeon merenggut. Ia benar-benar kesal. Namja itu entah mengapa begitu memperdulikannya sejak pertemuan kembali mereka. Selalu menjemputnya tepat didepan Seoul Hospital tempatnya Magang. Membuat para yeoja histeris saat melihatnya.
Ini rumah sakit dan bukanlah tempat jumpa fans!
Menyebalkan! Gerutu Jiyeon.

“Kya! Apa yang kau lakukan?” Jiyeon terlihat terkejut saat Myungsoo mengambil paksa tas nya.

“Kya! Kim Myungsoo!”

“Diamlah!” Myungsoo mengambil android milik Jiyeon dan mulai menyentuhnya.

“Ini nomorku. Jika mereka menanyakan nomorku, maka jawablah ya, kau memilikinya!”

Jiyeon mengambil kembali tas dan androidnya dengan kesal.

“Dan jika mereka menanyakan apakah aku sudah memiliki kekasih……” Myungsoo terlihat ragu untuk meneruskan ucapannya.
Jiyeon langsung menyipitkan matanya.

“Jawablah Ya, kau kekasihku!”

“Mwo?”

“Hanya itu satu-satunya cara agar mereka berhenti bertanya tentangku padamu!” Myungsoo terlihat malu mengucapkannya.
Kenapa jadi salah tingkah begitu?

“Konyol!” Hanya kata itu yang terucap dari mulut Jiyeon.

“Kajja! Aku akan mengantarmu pulang!”

Mereka berduapun bergegas memasuki mobil dan meninggalkan rumah sakit kebanggaan kota Seoul itu.
Tak ada percakapan diantara keduanya.
Sebenarnya Myungsoo jengah dengan keadaan seperti ini, namun ia juga bingung harus memulainya dari mana. Alhasil ia hanya dapat ikut terdiam.

Ferarri yang Myungsoo kendarai terhenti saat lampu merah menyala. Ia menolehkan wajahnya untuk melihat Jiyeon dan ia menemukan yeoja itu sudah terlelap. Sepertinya ia kelelahan. Ia pandangi wajah damai yeoja itu.
Cantik. Sangat cantik.
Bibirnya melengkung ke atas menunjukkan bahwa namja itu tengah tersenyum. Matanya kemudian memandang bibir Jiyeon yang sedikit terbuka. Matanya mengerjap. Rasanya seperti ingin meledak jika ia tidak membuat bibir itu tertutup. Ia ingin memasuki mulut itu dengan lidahnya. Mengabsen gigi-giginya dan membelitkan lidahnya. Hasratnya semakin menggebu saat yeoja itu terlihat pasrah dengan fantasy liarnya.
Tentu saja pasrah, diakan tengah terlelap. Bodoh!

~CUP~

Kenyal dan lembut. Itu yang ia rasakan saat bibirnya tepat mendarat dibibir Jiyeon. Ingin sekali ia melakukan hal lebih selain hanya menempelkan saja, ia ingin melumat dan menggigit bibir menggoda itu. Namun hasratnya menghilang saat ia mendengar suara klakson mobil yang ada dibelakang ferarri nya. Beruntung ia sudah menjauhkan wajahnya saat Jiyeon terbangun karena suara berisik yang di dengarnya.

“Waegeurae?” Tanya Jiyeon dengan suara serak khas bangun tidur.

Sial!
Bahkan suaranya terdengar begitu menggoda. Rutuk Myungsoo.

” Aniyo. Gwaenchana. Kembalilah beristirahat!” Jawab Myungsoo dengan tenangnya seraya kembali menyalakan ferarrinya karena lampu hijau sudah menyala sedari tadi.

Bukan adik Kim Jaejoong jika Myungsoo tidak bisa bersikap tenang untuk menyembunyikan hatinya yang siap meledak karena begitu menikmati bibir mungil milik Park Jiyeon. Setidaknya Myungsoo memiliki sedikit bakat seperti Jaejoong meskipun tak sesempurna hyungnya itu.
.
.
.
.
.
“Tersisa 2 minggu lagi. Bagaimana bisa kekurangan biaya begini!” Rutuk Choi Siwon. Sepertinya ia memerlukan biaya lebih untuk resepsi pernikahannya nanti.

“Apa harus ku gunakan dulu, ya?” Tanya Siwon saat memandang sebuah dompet. Ia membuka dompet tersebut dan hal pertama yang ia lihat adalah foto seorang Park Jiyeon di dalam sana.

“Sajangnim, kau sangat kaya! Kau tak akan rugi jika aku memintanya, bukan!” Gumamnya.

Ya, dompet tersebut adalah milik Kim Jaejoong. 5 tahun lalu saat Jaejoong hendak pergi ke Korea Utara sebelum kecelakaan itu terjadi, ia menitipkan Jiyeon pada Siwon. Karena Jaejoong pikir ia belum tau akan sampai kapan berada di Korea Utara, ia pun menyerahkan dompetnya langsung pada Siwon untuk mengurusi semua keperluan Jiyeon.
Terjawab sudah dari mana biaya hidup Jiyeon selama 5 tahun ini.
Ya, dari seorang Kim Jaejoong dan bukan Choi Siwon. Semuanya menggunakan uang Kim Jaejoong. Namja itu benar-benar bertanggung jawab akan yeoja itu.

Siwon terlihat menghembuskan nafasnya saat mengambil kartu kredit dari beberapa kartu yang ada didalam dompet tersebut.

“Apakah aku ini pencuri?” Pikirnya.

“Anio anio anio.” Siwon menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya mengambil…..” Siwon terlihat berfikir.

“Gaji. Ya, gaji. Selama ini kan aku yang menjaga Jiyeon.”

Siwon tersenyum manis. Tak lama ia langsung memukul kepalanya sendiri dengan cukup keras.

“Apa aku selama ini tidak ikhlas membantu Jiyeon? Aigoo, CHOI SIWON. SEJAK KAPAN KAU JADI ORANG PAMRIH SEPERTI INI? KYA!” Siwon berteriak prustasi dengan tindakannya sendiri.

“Anio. Anggap aku meminjamnya. Ne. Sajangnim, akan ku kembalikan nanti! Jadi jangan coba-coba untuk muncul dihadapanku dan menakut-nakutiku. Ne?” Siwon bicara seolah ada sosok Kim Jaejoong di sana.
.
.
.
.
.
Hero, ia terus menundukkan wajahnya. Hatinya terasa hancur. Ia ingin sekali melenyapkan namja yang beberapa jam lalu telah mencium Jiyeon. Namun semuanya sirna begitu ia menyadari, mungkin namja itu adalah kekasih Park Jiyeon, bahkan bisa saja itu adalah suaminya.

Pertanyaan tentang siapa Kim Jaejoong mungkin saja adalah mantan kekasihnya dan mungkin orang tersebut sudah meninggal dunia sehingga yeoja itu sudah memiliki namja lain.

“Harusnya aku tak melihat semuanya!” Lirihnya.

Ya, saat ia hendak menyeberangi jalan, matanya tanpa sengaja bertemu dengan sosok yeoja yang selama ini ia cari. Park Jiyeon. Dan sialnya ia melihat adegan yang ingin detik itu juga ia membutakan matanya sendiri. Adegan saat namja yang ada di samping yeoja itu menciumnya.
Hero mengepalkan tangannya.

Cemburu?
Ya, ia cemburu. Bahkan sangat cemburu.
Baiklah, sepertinya ia harus mengakui bahwa ia telah jatuh hati pada yeoja itu.
Konyol, bukan?
Mencintai yeoja yang bahkan belum pernah berinteraksi denganmu.
Tunggu!
Hero jelas sudah pernah berinteraksi dengan yeoja itu.
Ya, berinteraksi dalam sebuah ciuman. Bukan hanya sekali, namun dua kali.

Entah sejak kapan seringaian muncul di wajah tampannya. Perasaan ini tak asing baginya. Perasaan ingin memiliki.
Ya, ia akan merebut yeoja itu entah dari kekasih atau suaminya.
Yang harus ia lakukan adalah memiliki yeoja itu.
Ya, harus.
Batinnya.
.
.
.
.
.
“Jadi ini tempat tinggal yang Jaejoong sediakan untukmu, Park Jiyeon.” Gumam seorang yeoja berlesung pipi yang ternyata adalah Shin Min Ah itu. Saat ini ia tengah berada didalam mobilnya yang tengah terparkir tepat di depan kediaman Jaejoong.

“Beruntung sekali kau, Park Jiyeon!”

Yeoja itu menautkan kedua alisnya saat melihat sebuah mobil terparkir tak jauh dari tempatnya.
Matanya melebar saat melihat sosok Park Jiyeon yang keluar bersama dengan seorang namja tampan.

“Siapa namja itu?” Gumamnya.

Ia terus memperhatikan keduanya. Namja tampan itu terus memberikan senyum terbaiknya pada Jiyeon, membuat siapapun yang melihatnya akan tau bahwa namja itu menyukai yeoja yang ada di hadapannya saat ini.

“Ck, kau bahkan sudah mendapatkan penggantinya!”
Senyum sinis keluar dari bibir seorang Shin Min Ah saat melihat Jiyeon mulai memasuki rumah.

“Jadi kau tetap bahagia setelah kematian Jaejoong?”

Min Ah melihat sosok namja yang mengantarkan Jiyeon mulai memasuki mobil dan menjauh dari kediaman Jaejoong.

“Ha, ha, hahaha…. Lucu sekali! Kau masih bisa bahagia setelah aku melenyapkan kekasihmu? Hahaha….” Min Ah tertawa miris. Tawanya terhenti dan kembali ia memunculkan seringaian diwajahnya.

“Tapi itu tidak akan berlangsung lama. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia setelah apa yang telah kau lakukan padaku. Setelah kau merebut milikku. Hahaha….” Tawanya terdengar begitu memilukan. Obsesinya terhadap Jaejoong belum berakhir. Bahkan sasarannya kini adalah orang yang begitu Jaejoong cintai.
Apakah Jiyeon akan baik-baik saja setelah kembalinya Shin Min Ah ke Korea?
.
.
.
.
.
Jiyeon menghempaskan tubuhnya pada ranjang king size yang ada didalam kamarnya.
Sebenarnya ia enggan untuk kembali ke rumah itu, rumah itu memiliki banyak kenangan tentangnya bersama Jaejoong.
Semakin merasa sesak tiap ia mengingat namja itu dan sepertinya itu akan terus terjadi dalam hidupnya. Namja itu tidak akan pernah lepas dari ingatannya.

“Kapan kau pulang?” Lirihnya menatap langit-langit kamarnya.

“Berapa banyak wanita yang kau kencani di luar sana?” Ucapnya saat menerawang sosok Suzy.

“Apa kau akan kembali dan membawa wanita-wanitamu itu ke rumah ini?
Kau akan membuangku setelah itu?
Hahahah…. Aku menyedihkan, bukan? Hahaha…. Hiks…” Yeoja itu tertawa, tertawa dalam tangisnya.
Begitu menyedihkan hidupnya ini.
.
.
.
.
.
Pagi itu, ini memang hari minggu dimana Hero tidak bekerja di hari itu.
Ya, tuan Kim Namgil menutup kedainya dihari itu.
Dengan uang yang tuan Namgil berikan padanya, ia berniat untuk membeli beberapa pakaian ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota Seoul. Tidak mungkin ia akan mengejar Park Jiyeon hanya dengan bermodalkan wajah tampan dan pakaian lusuhnya saja, bukan. Ia berniat ingin membeli pakaian yang sama dengan pakaian yang namja itu kenakan.
Namja yang beberapa hari lalu telah mencium Park Jiyeon.
Entah mengapa ia benar-benar merasa terganggu jika mengingat namja itu. Tentu rivalnya itu jauh lebih baik darinya. Wajahnya yang tampan dan tidak lupa pula dengan hartanya. Namja itu bukan orang sembarangan tentunya.
Masalah wajah, Hero tak kalah lebih tampan dari namja itu.
Namun bagaimana dengan hartanya?
Ya, ia harus berusaha lebih keras lagi.
Setidaknya memakai pakaian yang memang menjadi umum untuk di gunakan di kota besar seperti Seoul ini.

“Sa-sa-sajangniiiiiiiim!” Ucap seorang namja bertubuh kekar dengan kumis tipis saat melihat sosok Hero yang tengah memilih beberapa pakaian di sana.

Hero hanya dapat menautkan kedua alisnya bingung.
Ada apa dengan namja di hadapannya itu?
Kenapa ia begitu ketakutan saat melihatnya?

“Neo gwaenchana?” Tanya Hero.

“KYA!” Choi Siwon. Itulah namja yang tanpa sengaja bertemu dengan Hero di sana. Namja itu berteriak saat Hero hendak menyentuhnya.

“Waegeurae?” Tanya seorang SPG yang datang dan juga beberapa pengunjung yang mendengar teriakan Siwon.

“Ha-hantu! A-ada hantu!” Tunjuk Siwon pada sosok Hero.

“Hantu? Dimana tuan?” Tanya Hero.

“KYA! JANGAN MENDEKAT! KAU-KAU HANTU!” Teriaknya histeris.

Para pengunjung mulai berbisik-bisik.
Mungkinkah namja yang berteriak itu memiliki kelainan jiwa? Batin mereka.

“Tuan, sebaiknya anda pulang! Apa ada nomor yang mungkin perlu saya hubungi? Mungkin tuan sakit dan harus ke rumah sakit!” Ucap sang SPG.

“SAKIT? KAU BILANG AKU SAKIT? APA-APA KAU MENGANGGAPKU GILA?”

SPG itu mulai kesal.
Para pengunjungpun mulai kembali melakukan aktififas berbelanja mereka.

“JANGAN MEMBUATKU SEMAKIN PUSING, TUAN! KAU INGIN MELAKUKAN KEGIATAN MENGGANGGU ORANG, BUKAN DI SINI TEMPATNYA. APA NAMANYA JIKA BUKAN ORANG SAKIT SAAT KAU MENGATAKAN MANUSIA ITU ADALAH HANTU, EOH!” Teriak sang SPG yang bername tag Luna itu pada Siwon. Sepertinya kesabarannya sudah mulai habis.

“Kau! Apa kau bisa melihatnya?” Tunjuk Siwon pada Hero.

“Pergi dari sini sebelum saya memanggil polisi untuk membawa anda ke rumah sakit jiwa!” Jawab Luna dengan geramnya.

Siwon bergidik mendengar ancaman Luna.

Hero yang mulai jengah dengan keadaan langsung membungkukkan badannya pada Luna.

“Jeoseonghamnida!”
Hero pun langsung menarik Siwon keluar.

“KYA! DIA BAHKAN BISA MENYENTUHKU!”

Luna hanya menggelengkan kepalanya mendengar teriakan histeris dari Choi Siwon.

“Ada apa itu?” Tanya Junki yang rupanya tengah berbelanja bersama Min Ah.

” Molla! Mungkin hanya sekumpulan orang bodoh yang mencari sensasi!” Jawabnya sinis.

Junki hanya menghembuskan nafasnya. Ia belum berhasil merubah sifat buruk Min Ah. Pikirnya.

Junki langsung mengeratkan dekapannya pada pinggang Min Ah membuat yeoja itu menautkan kedua alisnya heran dengan tingkah Junki.

“Waegeurae?”

“Anio.” Jawab Junki seraya menggelengkan kepalanya.

“Kita lanjutkan berbelanjanya!” Tambahnya memberikan senyum tulusnya pada sosok yeoja yang sudah dinikahinya selama 5 tahun itu.
.
.
.
.
.
“Kuharap kau akan datang! Ayolah Kahi-ah, Aku ingin kau datang ke pernikahanku nanti. Aku benar-benar ingin mendengarkanmu bernyanyi. Pasti sangat menggemparkan  jika kau datang ke sana nanti!” Lee Chaerin, yeoja itu terlihat tengah membujuk seorang Kahi. Pagi-pagi sekali ia datang ke kediaman Kahi hanya untuk membujuk yeoja itu agar bisa menghadiri pesta pernikahannya yang hanya tinggal 2 minggu lagi.

“Kau memintaku datang hanya untuk membuatku bernyanyi di sana dan bukan benar-benar ingin aku menyaksikan pernikahanmu! Dasar kau!”

Chaerin memamerkan senyum 3 jarinya.
Yang dikatakan Kahi memanglah benar, namun tidak sepenuhnya benar. Ia juga ingin yeoja itu menyaksikan pernikahannya.
Persahabatan keduanya terjalin saat Kahi selalu memesan pakaian panggungnya pada Chaerin. Tanpa keduanya ketahui bahwa mereka berdua adalah eonnie dari Park Jiyeon.
Mungkin mereka akan terkejut saat Park Jiyeon hadir dan memanggil keduanya dengan sebutan eonnie.

“Kahi sudah bukan penyanyi lagi, Chaerin-Ah! Dia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa sekarang!” Sembur Yunho yang tengah menggendong putera mereka, yakni Jung Ilhoon.

“Yunho-Ah, tentu ini akan semakin meriah. Kahi mantan member After School comeback di acara pernikahan Lee Chaerin seorang desainer cantik setelah memutuskan untuk berhenti dari dunia entertainment sejak ia mengandung anak pertamanya.
Acara pernikahanku akan semakin luar biasa. Kau harus membantuku!
Bujuk istrimu ini, Yunho-Ah!” Chaerin terus memohon.

“Kau berani membayarku berapa untuk satu lagu yang kunyanyikan, eoh?”

“KYA! APA KAU BEGITU PERHITUNGAN PADAKU, EOH?”

Perdebatan kecil mereka itu terhenti saat si kecil Ilhoon menangis.

“Teriakanmu menakutkan, Chaerin-Ah! Kau membuat Hoonie kami menangis!” Sembur Yunho.

“Mianhae!” Chaerin tertunduk sedih sedangkan ke dua orang tua itu terlihat tengah menenangkan putera mereka.
.
.
.
.
.
“Kau nyata!” Ucap Siwon saat menyentuh ke dua pipi Hero. jelas Hero merasa risih dengan perlakuan namja itu padanya.

“HUWAAAAA, SAJANGNIIIIM!” Siwon langsung memeluk Hero dan menangis.

“KAU MASIH HIDUP! KAU MASIH HIDUP, KIM JAEJOONG! HIKS….”

Hero terdiam.
Lagi-lagi nama itu.
Apa mungkin namja ini juga mengenal Kim Jaejoong?
Berarti namja ini juga mengenal Park Jiyeon, bukan!
Ini akan mudah baginya untuk menemui yeoja tersebut.

“Kupikir kau sudah meninggal. Kecelakaan itu, aku yakin kau masih hidup saat polisi tidak menemukan jasadmu! Hiks…” Tangis Siwon.

Hero terus berfikir.
Meninggal?
Jasad?
Kecelakaan?
Ia pun melepaskan pelukan Siwon.

“Tunggu, tuan! Saya benar-benar tidak mengerti. Kenapa anda juga menganggap bahwa saya ini adalah namja bernama Kim Jaejoong? Apa kami berdua sangatlah mirip? Siapa sebenarnya Kim Jaejoong itu? Dan yeoja…..”

“Astaga. Apa kau tidak ingat siapa dirimu?” Potong Siwon.

“Mwo?”

“Sepertinya yang terjadi pada drama-drama benarlah nyata. Tokoh utama kecelakaan lalu amnesia dan melupakan masalalunya.” Pikir Siwon.

“Apa yang anda katakan, tuan?” Hero semakin di buat bingung dengan pikiran Siwon.

“Kau harus ikut aku ke rumah sakit! Kita harus memeriksakan keadaannu, sajangnim!”

“Saya sehat dan saya tidaklah sakit!” Protes Hero.

“Tunggu! Kemungkinan kecelakaan itu adalah sesuatu yang di sengaja. Nyawamu benar-benar terancam, sajangnim!”

Hero benar-benar tidak mengerti dengan semua asumsi-asumsi yang namja itu ucapkan.
Bisakah namja itu menjelaskan satu persatu padanya?

“Kita harus menyamar. Kita tidak tau siapa sebenarnya yang hendak menyelakaimu, sajangnim!” Siwon bersiaga.

“Tuan anda….”

“Eoh, rambutmu berwarna hitam dan juga panjang.” Potong Siwon saat melihat penampilan Hero.

“Saya mencatnya seminggu yang lalu. Ahjussi Namgil menyuruhku melakukanya.”

“Siapa itu Ahjussi Namgi? Ah, lupakan! Ini bagus. Kau tidak terlihat seperti Kim Jaejoong. Geurae! Kita harus segera ke rumah sakit!”

“Keundae….” Sebelum Hero protes Siwon sudah menariknya meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut.
.
.
.
.
.
“Aku ingin mampir!”

“Mwo?”

Sebelum Jiyeon memulai protesnya, Kim Myungsoo yang lagi-lagi mengantarkannya pulang malam ini sudah keluar dari dalam Ferarri miliknya.

“Sepertinya aku merindukan rumah ini.” Ucapnya seraya memandang rumah yang ada di hadapannya itu.

“Dan rumah itu sudah di tinggalkan oleh pemiliknya selama 5 tahun beserta penghuni di dalamnya.” Balas Jiyeon saat keluar dari dalam mobil Myungsoo.

Entah mengapa Myungsoo merasa tidak suka saat yeoja itu mulai mengingat tentang hyungnya.

“Aku ingin coffee!” Ucapnya seraya melangkah memasuki rumah hyungnya itu.

“Aku tidak punya. Sebaiknya kau pulang karena kau tidak akan menemukan apapun didalam sana. Tidak ada cofee maupun hyungmu disana.”

Myungsoo menolehkan wajahnya. Menatap yeoja yang ada dibelakangnya dengan tajam.

“Wae? Apa aku salah bicara? Minggir!” Jiyeonpun melewati Myungsoo dan mulai membuka kunci rumahnya. Ralat. Rumah Kim Jaejoong. Benar begitu, bukan?
Entah mengapa ia merasa sedikit sakit jika mengingat namja itu. Pertemuan terakhir mereka masih terus terlintas di pikirannya. Saat namja itu menyentuhnya, mencumbunya dan juga saat yeoja yang mengaku sebagai kekasih namja itu datang dan mengatainya.
Semuanya masih terekam sangat jelas di memorynya.

Brengsek!
Kim Jaejoong, brengsek!
Sampai kapan ia akan menyiksa perasaannya seperti ini?
Apa ia pikir hatinya adalah sebuah batu yang tak berperasaan?
Batin Jiyeon kesal.
.
.
.
.
.
“Bagaimana?” Tanya Siwon berantusias pada sosok namja tampan bertubuh kurus yang baru saja memeriksa namja berambut hitam panjang yang ia yakini adalah Kim Jaejoong itu.

Namja berjas putih bername tag Lee Jongsuk itu kembali duduk ditempatnya disusul dengan Hero yang duduk si samping Siwon.

“Tidak ada bekas luka sedikitpun dikepalanya, bahkan tidak ada gangguan sedikitpun pada otaknya.”

Ucapan Jongsuk sontak membuat Siwon amatlah terkejut.

“Mwo? Bagaimana mungkin? Beliau mengalami kecelakaan 5 tahun lalu dan aku sangat yakin kalau beliau mengalami amnesia.”

“Sudahlah, Siwon-ssi! Mungkin benar saya ini bukanlah namja yang anda maksud!” Ucap Hero berusaha mencairkan suasana.
Ya, keduanya saat ini tengah berada di Seoul Hospital. Sebuah rumah sakit terkemuka yang ada di ibukota Korea Selatan. Sebelumnya Siwon memperkenalkan diri pada Hero dan menceritakan semuanya pada Hero. Tentang Kim Jaejoong yang mungkin masih hidup karena hingga detik ini jasadnya belum di temukan dan Siwon amatlah yakin bahwa Hero itu sebenarnya adalah Kim Jaejoong yang mengalami amnesia.

“Apa anda pernah mengkonsumsi sesuatu yang berat? Semisal obat-obatan terlarang atau mungkin sejenis minuman dengan kadar alkohol diatas rata-rata?” Tanya Jongsuk pada Hero.

“Saya rasa tidak. Didesa saya tidak ada jenis minuman bahkan obat seperti itu.” Jawab Hero polos.

Jongsuk terlihat berfikir dengan jawaban yang di berikan Hero.

“Sajangnim juga tidak pernah mengkomsumsinya.” Tambah Siwon yang juga bingung dengan fakta tersebut.

“Bagaimana hyung bisa sangat yakin kalau Hero-ssi ini adalah tuan Kim Jaejoong?” Tanya Lee Jongsuk pada Siwon yang ternyata masih kerabat dekat dari Lee Chaerin, tunangannya.

“Tentu saja aku sangat yakin. Aku mengenal Jaejoong sejak kecil. Kami tumbuh bersama dan aku tidak mungkin salah mengenali orang.” Jawab Siwon mantap.

“Mungkinkah tuan Kim Jaejoong mempunyai saudara kembar?” Tanya Jongsuk kembali.

“Tidak. Dan aku tau 100% akan hal itu. Nyonya besar hanya melahirkan seorang putra dan kalaupun Jaejoong mempunyai saudara, itu adalah Kim Myungsoo. Namun mereka jelas tidaklah kembar karena mereka terlahir dari rahim yang berbeda meski satu ayah.”

Hero terdiam.
Kim Myungsoo?
Bagaimana hubungan namja bernama Kim Jaejoong dengan adiknya itu?
Mereka tidak terlahir dari rahim yang sama?
Apakah mereka berdua hidup dengan rukun? Batin Hero.

Jongsuk menghembukan nafasnya. Ia juga tidak mungkin salah memeriksa mengingat ia memang ahli di bidangnya.

“Hanya ada satu kemungkinan.” Ucap Jongsuk yang langsung mendapatkan perhatian penuh oleh kedua namja yang ada di hadapannya.

“Tuan Kim Jaejoong memakan atau meminumnya sebelum kecelakaan terjadi. Sejenis obat yang akan menghilangkan memorynya. Mungkin orang yang terakhir kali bersama tuan Kim Jaejoonglah yang mengetahuinya.” Lanjut Jongsuk.

“Orang terakhir yang bersama Jaejoong? Mungkinkah sang pilot yang membawa helikopter itu terbang?” Tanya Siwon.

“Bisa jadi. Sepertinya ialah yang menjadi kunci tentang kecelakaan itu.” Jawab Jongsuk mantap.

“Tapi polisi mengatakan tak ada yang tersisa. Hanya sisa-sisa bangkai helikopterlah yang ditemukan di perairan.” Jawab Siwon lagi.

“Berarti jasad keduanya belum di temukan, bukan? Dan ada kemungkinan keduanya masih hidup. Mungkin salah satunya tuan Hero ini! Dan tidak menutup kemungkinan bahwa pilot tersebut juga masih hidup.”

Ketiganya terdiam. Berfikir dengan asumsinya masing-masing. Berusaha memecahkan kasus 5 tahun silam.

“Kau benar, Jongsukkie! Selama ini keberadaan pilot tersebut bahkan tak tersentuh pihak kepolisian. Atau bisa saja ini memang skenario yang sudah di rancang seseorang dengan amat sempurna. Seseorang yang berniat menyingkirkan sajangnim. Benar-benar keterlaluan!” Siwon terlihat emosi mendapati fakta itu.

Hero hanya mampu terdiam. Banyak pertanyaan yang bergelayut di benaknya mengenai Kim Jaejoong.
Seperti apa namja itu hingga membuat orang lain dengan kejam ingin menyingkirkannya dari muka bumi ini?
Benarkah Kim Jaejoong itu adalah dirinya?
.
.
.
.
.
“Bukankah sudah ku katakan tidak ada coffee disini!” Sembur Jiyeon yang melihat Myungsoo langsung menuju kearah dapur.

Myungsoo tersenyum memandang sebuah lemari es.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Jiyeon dan ia pun mengikuti arah pandang Myungsoo.

“Aku mengingat saat pertama kali kita bertemu di rumah ini………”

“Dan kau hampir membuatku mati saat itu!” Jiyeon langsung memotong jawaban Myungsoo.

“Ck, hey! Waktu itu aku hanya ingin menakutimu saja, Park Jiyeon!”

“Dan kau berhasil membuatku amat sangat ketakutan. Jika tidak ada hyungmu, mungkin aku sudah benar-benar terbunuh saat itu.”

Myungsoo langsung menarik Jiyeon dan menghempaskan tubuh yeoja itu hingga punggungnya membentur lemari es yang ada di belakangnya.

“KYA!” Teriak Jiyeon yang merasa perih dibagian punggungnya.

“Apa yang kau lakukan?” Jiyeon mulai was-was saat Myungsoo mengunci tubuhnya dengan kedua tangan yang berada di bahunya.

“Bisakah kau berhenti membicarakannya!” Myungsoo menatap Jiyeon dengan tajam. Nada suaranya pun terdengar begitu dingin di telinga Jiyeon.
Bagaikan dejavu dan Jiyeon tidak ingin kejadian 5 tahun lalu kembali terulang.

“Apa yang kau bicarakan? Kau membuatku kembali merasa takut, Kim Myungsoo!”

Myungsoo tersenyum miring membuat Jiyeon bergidik ngeri melihatnya.
Mungkinkah Myungsoo memang belum berubah dan tetap membencinya?
Senyuman itu sama seperti 5 tahun lalu.
Mengerikan. Batin Jiyeon.

“Bagaimana kalau kita mengubah kenangan di tempat ini?”

“Mwommmmmh….” Bibir Jiyeon langsung tertutup oleh bibir tebal milik Myungsoo saat hendak mengucapkan pertanyaan mengenai maksud ucapan namja itu.

“Huump….” Erang Jiyeong tertahan ketika dirasakannya lidah Myungsoo mulai menerobos masuk ke dalam mulutnya.
Jiyeon berusaha untuk melepaskan dirinya, namun Myungsoo sepertinya masih ingin merasakan bibir Jiyeon yang menurutnya begitu manis dan hangat bersentuhan dengan bibirnya untuk yang ke dua kalinya.

Myungsoo dapat merasakan sesuatu yang hangat menuruni pipi Jiyeon. Namja itu tau kalau itu adalah air mata Jiyeon. Tapi terlalu tanggung untuk menghentikan aktifitasnya.
.
.
.
.
.
Bagaimana nasib Jiyeon?
Bagaimana Siwon dan Hero akan memecahkan kasus 5 tahun silam?
Coment Jusaeyo

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 8

image

     IF I RULED THE WORLD
               (part 8)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong aka Hero (JYJ)

Other Cast :
Choi Siwon (Super Junior)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)
Shin Min Ah
Lee Chaerin aka CL (2ne1)
Bae Suzy (Miss A)
Yoo In Na
Lee Junki
Ha Jiwon

Songfict :
2ne1 Missing You

Genre :
Romance, Hurt, Bondage, Family, NC 21+

Length :
Chaptered

A/N :
Lanjut baca aja dah!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Hero, entah apa yang tengah namja itu pikirkan. Sejak pertemuannya dengan Jiyeon, tidak, bahkan ia belum mengetahui nama gadis yang terus menghantui pikirannya itu.
Ada apa dengannya?

“Apa kau sakit, oppa?” Tanya Suzy.

“Eoh? Suzy-Ah! Sejak kapan kau datang?” Hero, namja itu tersenyum canggung.

“Errr, bahkan kau tidak menyadari kedatanganku.” Suzypun duduk disamping Hero.

“Akhir-akhir ini kau tidak mau keluar rumah. Waegeurae? Ku pikir oppa sedang sakit!” Suzy langsung merebahkan kepalanya di bahu Hero.

“Ani. Nan gwaenchana.” Jawab Hero berbohong.

“Oppa!” Suzy mengangkat wajahnya memandang Hero.

“Eum!” Refleks Hero pun ikut memandang Suzy.

Suzy mulai mendekatkan wajahnya seraya memejamkan kedua matanya. Hero mengernyitkan alisnya. Ia mengerti maksud Suzy. Hero pun langsung bangkit dari atas ranjang, membuat Suzy kembali membukakan kedua bola mata nya.

“Aku lapar!” Ucap Hero yang langsung keluar dari dalam kamarnya. Sedangkan Suzy, yeoja itu terlihat kesal karena telah kembali gagal mencium namja yang sudah hampir 3 tahun itu menjadi kekasihnya.
3 tahun?
Bagaimana mungkin?

Hero langsung mencari makanan yang mungkin saja ditinggalkan sang eomma sebelum pergi berkebun.

“Kau menolakku lagi, oppa!” Ucap Suzy dengan kesalnya menghampiri Hero.

“Kau sudah makan?” Hero tak menjawab dan lebih memilih untuk duduk siap menyantap makanannya.

“Jangan mengalihkan pembicaraan!” Protes Suzy.

“Eum, ini enak. Kemarilah! Kau harus mencobanya.” Tambah Hero setelah mencicipi makanan yang dibuatkan sang eomma.

Suzy langsung berjalan mendekat.

“Eum, cobalah!” Hero memberikan sesendok makanan tepat kehadapan Suzy yang masih berdiri disampingnya.

Suzy tak menyiakan kesempatan itu, ia langung menarik dagu Hero agar lebih dekat dengan wajahnya.

~CUP~

“Eoh, mian mian!”

Hero langsung menarik kembali wajahnya saat menyadari ada orang lain selain dirinya dan juga Suzy. Hero melihat siapakah gerangan yang bertamu, dan matanya langsung melebar sempurna saat melihat yeoja yang tempo hari sempat bercumbu dengannya. Yeoja itu hanya menatapnya datar. Sedangkan yeoja disampingnya terlihat kesal karena telah menonton adegan yang tak seharusnya ia tonton.

“Ja-jangan salahkan kami! Harusnya kalian menutup pintu sebelum melakukannya!” Protes In Na yang terus menyuarakan pendapatnya.

“Siapa kau? Ada keperluan apa ke sini? Sepertinya kalian orang baru disini!” Suzy terlihat kesal melihat dua yeoja asing yang bertamu ke kediaman kekasihnya itu, apalagi mengingat mereka telah mengganggu aktifitasnya. Namun ia sedikit senang karena akhirnya ia dapat merasakan bibir kenyal Hero. Sangat singkat. Bahkan hanya hitungan detik saja.
Menyebalkan! Batin Suzy.

“Errr, yeoja ini menyebalkan! Apa wajah kita susah diingat? Tempo hari kita bertemu dengannya. Sepertinya dia memang sengaja mengatakan itu!” Bisik In Na pada Jiyeon.

Jiyeon terus terdiam. Matanya tetap menatap Hero, begitu pula dengan namja itu. Keduanya seperti terkunci pada bola mata dihadapan mereka. Suzy yang menyadari itu semakin dibuat kesal melihatnya.

“Sebaiknya pergi dari sini! Kalian pengganggu!” Ucap Suzy menatap tajam Jiyeon yang masih belum mengalihkan pandangannya dari Hero.

“Aissh, bersabarlah In Na!” Gumam Yoo In Na menyemangati dirinya sendiri.

“Sebenarnya kami datang ke sini untuk….”

“Ayo kita pergi!” Ajak Jiyeon memotong ucapan In Na.

“Mwo?” In Na langsung menoleh ke arah Jiyeon.

Jiyeon langsung membungkukkan tubuhnya pada kedua orang yang ada dihadapannya.

“Mian karena telah mengganggu!” Ucapnya dan langsung memutar tubuhnya, meninggalkan dua orang yang tengah berada diruangan tersebut.

Ya, rumah Hero tidaklah besar. Hanya ada 2 kamar dan 1 kamar mandi serta 1 ruangan yang difungsikan untuk memasak dan juga sebagai ruang tamu, terlihat dari meja satu-satunya yang berada disana dan langsung terhubung dengan pintu utama.

“Mereka itu siapa? Berkeliaran didesa ini! Sangat tidak nyaman dipandang mata!” Gerutu Suzy, sedangkan Hero masih saja menatap kepergian Jiyeon. Entah mengapa ia merasa bersalah pada yeoja itu, padahal mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
Ada apa dengannya?

“Aku ingin sekali melempar yeoja itu ke neraka. Benar-benar menyebalkan!” Gerutu In Na saat keduanya berjalan  cukup jauh dari kediaman Hero.

“Tugas kita sudah selesai, bukan! Besok kita kembali ke kota!” Ucap Jiyeon.

“Eoh, bagaimana dengan penghuni rumah itu? Apa tidak perlu kita tanyai?”

“Tidak usah! Semua penghuni yang ada di desa ini sudah kita data, bukan! Hanya satu penghuni, jadi tak perlu khawatir!” Jawab Jiyeon tenang.

“Hm, geurae! Aku juga tidak ingin bertemu dengan iblis sialan itu lagi!”

Jiyeon terus bersikap tenang. Pandangannya pun terlihat biasa saja. Wajahnya datar tak menunjukkan ekspresi apapun. Namun, apakah dibalik sikap setenang airnya itu hatinya juga tenang?
Bagaimana perasaannya saat melihat orang yang ia cintai berciuman dengan yeoja lain tepat didepan matanya?
.
.
.
.
.
Kim Myungsoo, ia langsung membanting tubuhnya tepat diatas ranjang king size nya. Benar-benar menguras banyak tenaga pekerjaannya hari ini. Matanya menerawang langit-langit kamarnya. Matanya mengerjap  secara perlahan seiring ingatan dimasa lalu yang kembali terlintas di bayangannya.

~FLASHBACK ON~

“A-apa yang eomma katakan? Bagaimana mungkin? Tidak mungkin Jaejoong hyung…..” Myungsoo tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Hatinya terlalu sulit menerima kenyataan ini. Tidak mungkin hyungnya meninggal dunia dengan cara seperti ini, bahkan jasadnya pun tidak dapat ditemukan.

“Eomma…..”

Ha Jiwon, sang eomma hanya dapat menangis.
Saat mendengar berita itu dari Siwon, ia langsung menghubungi Myungsoo dan menyuruhnya kembali ke Korea dan sungguh awalnya ia tidak tega memberitahukan kabar buruk itu mengingat Myungsoo begitu memuja Jaejoong meski mereka terlahir bukan dari rahim yang sama. Pada akhirnya ia pun menceritakan semuanya. Mengenai kecelakaan yang mengakibatkan Jaejoong harus meninggal dunia.

“Eomma….” Myungsoo terus memanggil Ha Jiwon, berharap semua hanya lelucon belaka. Namun firasatnya semakin buruk saat sang eomma tak kunjung henti menangis, menandakan bahwa ini benarlah kenyataan.

~BRUK~

Myungsoo langsung jatuh terduduk. Menarik satu kakinya, menyembunyikan tangisnya didalam satu tanganya. Bagaimana bisa ini semuanya terjadi?

“Myung myung, tenangkan dirimu nak!” Ha Jiwon langsung memeluk tubuh puteranya itu. Berusaha memberi kekuatan agar puteranya mampu menghadapi semua ini. Meski Jaejoong bukanlah darah dagingnya, namun ia begitu menyayangi namja itu. Apalagi bila ia mengingat eomma Jaejoong, rasa bersalah terus menghinggapinya.

~FLASHBACK OFF~

“Sudah 5 tahun, hyung! Meski kau jarang berbicara padaku, demi tuhan aku merindukanmu!” Lirihnya.
Ingatannya kembali pada sosok yeoja yang membuatnya terus mengingat hyungnya. Park Jiyeon. Yeoja pertama yang ia ketahui mampu membuat hyungnya itu hampir membunuhnya. Yeoja yang mampu membuat hyungnya rela melepaskan segalanya. Yeoja yang ia sadari telah berhasil menguasai hati dan pikiran hyungnya. Yeoja yang begitu dicintai hyungnya.
Bagaimana keadaannya sekarang?
Semenjak menjadi CEO menggantikan Jaejoong, pikirannya hanya terfokus pada Kim Corporation.
Apa yeoja itu baik-baik saja?
Apa ia tau mengenai kecelakaan itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghiasi otaknya.

Rumah!
Ya, rumah yang pernah ia datangi. Rumah yang ditinggali hyung dan juga Jiyeon.
Apa yeoja itu masih tetap tinggal disana setelah hyungnya meninggal dunia?
.
.
.
.
.
Lagi-lagi, yeoja berambut panjang itu termangu seorang diri di tepi sungai malam ini. Ini hari terakhirnya didesa ini. Ia tersenyum mengingat betapa ramahnya penduduk saat berinteraksi dengannya. Ia tersenyum mengingingat keindahan-keindahan alam yang disuguhkan desa ini. Namun, senyum dibibirnya menghilang saat yeoja itu kembali mengingat kejadian pagi tadi. Saat matanya menangkap sosok namja yang begitu ia cintai tengah berciuman dengan yeoja lain. Rasanya bagai ditikam seribu jarum. Ini lebih menyakitkan dibanding saat namja itu mengatakan bahwa ia bukanlah Jaejoong.

Kenapa ia hanya terdiam
Menikmati semua drama yang sudah tuhan tentukan untuknya?
Kenapa ia tak berteriak meminta keadilan atas kisah cintanya?
Kisah cintanya?
Ya, hanya cintanya.
Ia masih mengingat dengan jelas ucapan namja itu saat mengatakan cinta padanya dirumah sakit 5 tahun silam. Hatinya berbunga. Begitu tersanjung menyadari bahwa perasaannya bersambut tangan dan bukanlah bertepuk sebelah tangan. Namun semuanya sirna selama 5 tahun ini. Jangankan ucapan cinta atau perlakuan manis, bahkan pertemuanpun tidak. Akhirnya yang dapat ia simpulkan setelah semua rentetan peristiwa yang terjadi selama ini adalah, bahwa Kim Jaejoong benar hanya menganggapnya sebagai sebuah permainan. Dan ia sudah terjebak dalam permainan itu terlalu dalam, bahkan tidak bisa terlepas dari jeratnya.
Bagaimana bisa seorang kekasih meninggalkannya selama bertahun-tahun setelah mengatakan cinta padanya?
Dan itulah kesimpulannya. Jiyeon menyimpulkan bahwa Jaejoong tidaklah benar mencintainya. Bahwa Jaejoong hanyalah mempermainkannya.
Lalu, Apa yang harus yeoja itu lakukan sekarang?
Jiyeon hanya dapat menikmatinya. Menikmati semua permainan yang ia pikir Jaejoong lakukan padanya.
Apalagi saat Tuhan kembali mempertemukan mereka disaat Jaejoong telah memiliki yeoja lain.
Lalu, kenapa namja itu harus berpura-pura mengganti namanya?
Berhakkah ia menyalahkannya karena perasaan cinta yang terus membelenggunya?
Tidak. Sejak awal Jaejoonglah sutradanya. Ia hanya seorang pemeran yang mengikuti semua permainannya. Ya, sejak Kahi memutuskan untuk menyerahkannya pada Jaejoong demi mengejar karir keartisannya.

“Kenapa yeoja itu menangis?” Tanya Hero dibalik pohon yang tak jauh dari tempat Jiyeon berada. Entah bagaimana bisa ia berada disana kembali, langkah kakinyalah yang menuntunnya hingga ke tempat itu kembali.
Ia melihat Jiyeon yang semakin terisak. Tangisnya kian mengeras membuat para penghuni yang ada disekiar hutan terbangun. Bukan binatang buas, namun para burung dan binatang yang dekat dengan area Jiyeon berada ikut terbangun. Tangisnya begitu memilukan, seolah yeoja itu sudah sangat lama menahannya dan malam ini ia membiarkan para hewan yang terbangun karenanya menyaksikan semuanya. Menyaksikan kesedihannya. Menyaksikan kerapuhannya. Menyaksikan kesakit hatiannya. Tangis itu kian mengeras dan tak kunjung henti membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasakan kesedihan yang teramat sangat. Ikut merasakan sakitnya teriris sembilu.

Kini, Jiyeon sudah tidak sanggup menahannya.
Selama 5 tahun terakhir ini ia menahan semuanya. Kini pertahanannya hancur begitu saja saat adegan ciuman Jaejoong dan yeoja lain kembali melintas dimemory otaknya. Saat pikirannya kembali mengingat bahwa Jaejoong memang hanya ingin mempermainkannya sejak awal. Sakitnya begitu tak terkira. Biarlah!
Biarlah malam ini menjadi saksinya! Menjadi saksi bahwa Jiyeon hanyalah manusia biasa yang tidak selamanya kuat. Ia rapuh. Ia lemah dan ini adalah batas pertahanannya.

Hero, sungguh ia merasa hatinya amat sakit saat melihat yeoja itu menangis. Saat suara tangisnya kian memilukan di pendengarannya. Kakinya terus melangkah secara perlahan. Ia ingin menghapus semua kesedihan yang yeoja itu rasakan tanpa ia ketahui bahwa ialah penyebab yeoja itu menangis. Bahwa ialah yang membuat hati sang yeoja merasa tersakiti.

“Jangan menangis!”

Jiyeon dapat merasakan jari-jari halus yang membantunya menghilangkan air matanya.

Kim Jaejoong. Namja itu duduk tepat dihadapannya. Menatapnya sendu. Menyeka air matanya. Namja yang ia anggap Jaejoong itu tengah berada tepat didekatnya. Bahkan sangat dekat.

Ia memang berhenti menangis, namun jantungnya kembali bergemuruh. Ya, itu hal yang selalu terjadi padanya jika namja yang ia anggap Jaejoong itu berada pada jarak yang sangat dekat dengannya.
Matanya terpejam menikmati jari-jari namja yang ia anggap Jaejoong perlahan membelai pipinya. Menghilangkan air matanya.
Biarlah!
Biarlah ia menikmati ini!
Ia terlalu mencintai namja itu, ia tidak sanggup menuntut apapun darinya. Dunianya telah dikuasai oleh namja itu. Setiap nafas dan detak jantungnya, hanya namja itulah yang ia ingat. Kini, apapun yang akan namja itu lakukan terhadapanya, ia hanya bisa pasrah. Pasrah saat merasakan bibir tebal sang namja menekan bibirnya. Ia tak sanggup membuka matanya. Mari kita lanjutkan permainan yang kau buat, Kim Jaejoong. Batin Jiyeon.

Hero, seolah sudah sejak lama ia begitu merindukan bibir itu. Sadar atau tidak, ia mulai bernafsu untuk melakukan hal lebih pada yeoja yang tengah berada dalam ciumannya itu. Hero terus-menerus mengecup bibir Jiyeon lembut. Menjilatnya dan sesekali menggigitnya, membuat Jiyeon mengerang.
Kemudian Hero menggigit bibir bawah Jiyeon cukup keras, membuat yeoja itu terkejut dan membuka mulut serta matanya. Hero langsung menggunakan kesempatan itu. Lidahnya mulai memasuki rongga mulut Jiyeon, mengabsen semua giginya, menghisap dan membelit lidah Jiyeon dengan lidahnya.

Hero melepaskan pagutannya dibibir Jiyeon yang memerah, memindahkan bibirnya ke leher jenjang Jiyeon. Namja itu menjilat lalu menggigit-gigit kecil leher Jiyeon. Memainkan lidahnya ditelinga yeoja yang belum ia ketahui namanya itu. Tangannya mulai bergerak memasuki pakaian yang Jiyeon kenakan. Mengelus lembut perut rata Jiyeon, membuat yeoja itu menggelinjang antara geli dan juga nikmat.
Baiklah, ini salah!
Hero melakukannya dengan yeoja yang tidak ia kenal yang bukan kekasihnya, namun ia menyingkirkan pikiran itu. Kini pikirannya terus tertuju untuk menyentuh lebih dan lebih sosok yeoja yang ada dihadapannya saat ini.

Tangan Hero bergerak menuju payudara Jiyeon yang masih terlapisi oleh bra. Ia menyentuhnya lembut, namun semakin kasar, membuat Jiyeon mengerang. Ia merindukan sentuhan ini. Sentuhan memabukkan yang hampir menghilangkan akal sehatnya.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?”

Hero langsung melepaskan tangannya dan juga bibirnya dari leher Jiyeon saat mendengar teriakan seorang yeoja yang sudah tidak asing lagi ditelinganya.

Bae Suzy, ia berjalan dengan geramnya.
Bagaimana tidak, namja yang menjadi kekasihnya tengah mencumbu yeoja lain. Tengah menyentuh yeoja lain. Sedangkan ia sebagai kekasihnya bahkan tidak pernah mau Hero sentuh.

“Suzy-Ah!”

“BRENGSEK KAU!”

~PLAK~

Suzy langsung menampar Jiyeon saat Jiyeon dan Hero bangkit.

Jiyeon hanya terdiam. Ia hanya menampakkan wajah datarnya meski tangannya terus menyentuh wajahnya yang terasa perih dan juga bengkak karena tamparan yeoja yang baru ia ketahui bernama Suzy itu.

“DASAR JALANG!”

Hero langsung menghalangi Suzy yang hendak kembali menyerang Jiyeon.

“APA YANG KAU LAKUKAN!” Teriak Hero.

“MWO? APA YANG SUDAH YEOJA JALANG ITU BERIKAN PADAMU HINGGA KAU BERANI MEMBENTAK KEKASIHMU SENDIRI, EOH?”

Bagai Dejavu, Hero seperti kembali ke masa lalu yang entah peristiwa apa itu sehingga ia membela yeoja yang baru saja ia cumbui itu. Seperti sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya.

“DASAR YEOJA MURAHAN! BERANI SEKALI KAU BERCUMBU DENGAN KEKASIH ORANG. DASAR JALANG BRENGSEK! PELACUR!”

“HENTIKAN! TUTUP MULUTMU! Kita pulang!”

“LEPASKAN!” Teriak Suzy saat Hero menyeretnya pergi dari tempat itu dan menyisakan Jiyeon yang tinggal seorang diri.

Jalang?
Murahan?
Pelacur?
Ya, sepertinya julukan itu pantas untuk Jiyeon.
Sebenarnya disini, siapa yang merebut kekasih siapa?

Jiyeon tidak menangis.
Ya, ia tidak akan menangis lagi. Sejak awal bukankah ia memang murahan! Menjual diri demi karir sang eonnie meski eonnienyalah yang membuat ia harus menyerahkan diri terhadap namja bernama Kim Jaejoong itu.
Ia hanya perlu bersikap layaknya murahan, bukan!
Melanjutkan permainan Jaejoong.
Ya, hanya itu.
.
.
.
.
.
“Berhenti melamun! Kau harus cari cara untuk membungkam mulut para komisaris. Jika tidak, bersiaplah kehilangan kursimu itu!” Ucap Choi Siwon saat memasuki ruangan Kim Myungsoo.

“Hyung, kau mengenal Park Jiyeon?”

“Mwo?”

“Ya, kau pasti mengenalnya. Kau sangat dekat dengan Jaejoong hyung, bukan!”

Siwon mendekat dan memberikan beberapa map berwarna pada Myungsoo.

“Kenapa kau menanyakannya?”

“Apa dia masih tinggal di rumah Jaejoong hyung yang baru?”

Siwon mendelik.
Dari mana Myungsoo tau?

“Aku sudah mengetahuinya, hyung! Aku bahkan pernah kesana!”

Siwon menyentuh keningnya. Menganggap telah gagal menjaga rahasia Jaejoong. Ia pikir hanya terbongkar pada Ha Jiwon eomma Myungsoo saja, ternyata Myungsoo pun sudah mengetahuinya.

“Ya, dia tinggal disana!” Jawab Siwon dengan berat hati. Percuma ia menutupinya, toh Myungsoo pun sudah tau.

Myungsoo tersenyum mendengarnya.

“Aku akan menemuinya!”

“NEO MICHEOSSEO?”

“Reaksimu terlalu berlebihan, hyung!”

Siwon menghembuskan nafasnya.
Akan terbongkar satu rahasia lagi. Firasatnya.

“Jiyeon belum mengetahui jika Jaejoong sudah meninggal dunia!”

“MWO?” Kini giliran Myungsoo yang memekik terkejut.

Keduanya terdiam.
Yeoja itu, yeoja yang paling berharga bagi Jaejoong.

“Bagaimana bisa?”

“Mereka berdua saling mencintai. Aku tidak sanggup melihat wajah terluka Jiyeon jika ia mengetahui Jaejoong telah meninggal dunia!”

“Dan hyung membiarkan dia menunggu orang yang jelas-jelas tidak akan pernah kembali?”

Siwon kembali terdiam. Ya, ini kesalahannya. Ia telah membuat luka diatas luka bagi yeoja itu.

“Sampai kapan hyung akan menyembunyikannya?”

“Aku berencana akan memberitahunya saat pernikahanku nanti!”

“Kau yakin, hyung?”

Siwon hanya menganggukkan kepalanya. Jiyeon memang harus mengetahuinya.

“Jadi kumohon, jangan memberitahunya. Biarkan ini berjalan apa adanya. Aku belum siap melihatnya terluka saat ini!”

“Kau menyayanginya, hyung?”

“Eum. Semua yang ada didekatnya pasti akan menyayanginya. Tidak ada alasan untuk tidak menyayangi yeoja itu. Yeoja itu terlalu berharga untuk dilukai.”

“Park Jiyeon, kau beruntung! Dan entah mengapa aku merasa menyesal telah menyia-nyiakanmu di masa lalu.” Batin Myungsoo.

“Jadi kumohon, biarkan nanti aku sendirilah yang memberitahukan semuanya.”

“Apa calon istrimu sudah mengetahuinya, hyung?”

“Eum. Chaerin sangat dekat dengan Jiyeon.”

“Geurae, aku hanya akan datang berkunjung untuk mengetahui bagaimana keadaannya. Kau tak perlu khawatir, hyung!”

“Kapan kau akan berkunjung?”

” Mungkin sore ini!”

“Eoh, sekalian jemput dia dihalte. Ia baru saja pergi melakukan tugas akhir kuliahnya. Hari ini dia kembali. Apa kau bisa?”

“Eum. Tentu! Akan ku lakukan!”

“Geurae! Segera selesaikan pekerjaanmu, Sa-jang-nim!”

Myungsoo hanya berdecak. Ia membiarkan Siwon bersikap kurang sopan padanya. Biarlah! Hanya Siwonlah kini yang jadi saudaranya. Ya meskipun bukan saudara kandung, tapi Siwon sudah seperti bagian dari keluarganya.

Sedangkan Siwon, tentu saja ia merasa senang. Jika dengan Jaejoong, mana berani ia melakukannya. Hahaha…..
.
.
.
.
.
“Sebaiknya kita akhiri hubungan ini!”

“MWO?” Suzy terlihat begitu terkejut dengan apa yang baru saja Hero katakan padanya.

“Apa karena wanita jalang itu, eoh? Ck!”

“Jaga bicaramu! Kita tidak mengenalnya dan kita tak pantas mengatakan hal itu tentangnya!”

“Ck, tapi yeoja yang tak kau kenal itu adalah yeoja yang hampir saja kau nodai!”

Hero terdiam. Ini salahnya. Semua yang dikatakan Suzy memanglah benar dan ia membenarkan itu semua.

“Hari ini dia kembali ke kota. Kita tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Jadi jangan mengatakan hal-hal aneh seperti itu lagi!”

Hero, ia merasa ada yang salah. Hatinya menolak untuk membiarkan yeoja yang belum ia ketahui namanya itu pergi. Ia ingin mengenal lebih jauh lagi tentang yeoja itu.

“Kita mulai lagi semuanya seperti dulu, tanpa yeoja jalang itu. Aku akan melupakan semuanya, oppa!” Suzy bergelayut manja pada lengan tangan Hero.

“Tidak. Ini bukan karena dia. Ini karena memang kita harus mengakhirinya. Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai adik. Kau yeoja baik dan kuharap kau akan mendapatkan namja yang lebih baik dariku. Mianhae!” Jaejoongpun pergi meninggalkan Suzy.

“OPPA! KAU TIDAK BISA MENGAKHIRI SEMUANYA BEGITU SAJA! OPPA!” Teriak Suzy.

“BRENGSEK!” Yeoja itu menjerit kemudian menangis.
.
.
.
.
.
“Bagaimana kabarmu, Park Jiyeon?”

Jiyeon menolehkan wajahnya dan mendapati sosok namja tampan yang baru saja keluar dari dalam mobil ferarri hitam miliknya.

“Kim Myungsoo!” Lirihnya.

Myungsoo pun melangkah mendekat ke arah Jiyeon yang saat ini tengah duduk menunggu bis di halte.

“Lama tidak berjumpa!” Ucap namja itu saat duduk disamping Jiyeon.

“Sudah 5 tahun dan kelihatannya kau banyak berubah!”

Jiyeon masih belum membuka suaranya. Ia merasa apa yang Myungsoo ucapkan tidaklah perlu untuk ia jawab.

“Kau terlihat semakin cantik!” Puji Myungsoo yang langsung mengalihkan pandangannya. Ia merasakan panas menjalar disekitar wajahnya.
Bagaimana bisa ia merasa malu setelah mengatakan itu?
Ia berharap Jiyeon tidak melihat wajahnya yang sudah merona.
Perasaan apa ini?

Jiyeon tetap memasang wajah datarnya. Entah mengapa rasanya seribu pujian sekalipun yang ditunjukkan untuknya tidaklah berarti jika bukan Jaejoonglah yang mengatakannya.

Tak mendapat respon apapun, Myungsoo pun kembali menolehkan wajahnya.
Ada yang aneh dengan yeoja yang ada disampingnya saat ini.
Ada apa dengannya?
Apa dia baik-baik saja?

“Park Jiyeon!” Panggil Myungsoo.

Jiyeon hanya menolehkan wajahnya menatap Myungsoo.

“Neo gwaenchana?” Tanya Myungsoo mulai cemas.

~BRUK~

Tubuh Jiyeon ambruk dan untung saja Myungsoo berada disampingnya.

“KYA! PARK JIYEON! KYA!”
.
.
.
.
.
Hero kembali datang datang ke sungai, tempat dimana ia bertemu dengan Jiyeon. Ia merasa begitu merindukan yeoja itu.

“Siapa kau sebenarnya?” Gumamnya.

“Apa kita pernah saling kenal sebelumnya?”
Hero terus memikirkan hal itu.

“Kim Jaejoong. Nama namja yang ia pikir itu adalah aku. Apakah kami sangat mirip? Apa aku juga mengenal namja bernama Kim Jaejoong itu?”
Hero mulai prustasi. Begitu banyak pertanyaan diotaknya, Namun tak ada satupun yang ia temukan jawabannya.

“Kim Jaejoong. Kim Jaejoong. Kim Jaejoong.” Hero terus menyebutkan nama itu, berharap ia akan menemukan salah satu jawaban dari ribuan pertanyaannya.
.
.
.
.
.
Yeoja berlesung pipi itu tersenyum.

“Kau senang?” Tanya namja yang tengah memeluk mesra pinggang sang yeoja.

“Eum. Tentu saja!”

“OPPA!” Teriak yeoja yang rupanya sudah menunggu kedatangan sang namja.

“Junki oppa, kau….” Ucapannya terhenti saat ia melihat sosok yeoja di samping Junki.
Shin Min Ah, itulah yeoja yang tengah berada dalam dekapan seorang namja yang ternyata adalah Lee Junki. Ia langsung menunduk member salam pada yeoja yang pernah bertemu dengannya 5 tahun silam.

“Neo!” Tunjuknya begitu terkejut.

“Jangan bilang kalau yeoja yang oppa nikahi di Italia adalah dia!” Tambahnya meminta penjelasan.

“Shin Min Ah, Chaerin. Kau bisa memanggilnya eonnie mulai sekarang!” Jawab Junki pada yeoja yang menjemputnya yang tak lain adalah adik sepupunya, Lee Chaerin.

“Ck, bagaimana bisa aku mempunyai sepupu baru seorang siluman rubah!” Gerutu Chaerin.

“Kau masih belum berubah, Chaerin-Ah! Kau masih cemburu padaku karena Siwon pernah dekat denganku, eoh? Padahal kalian sudah akan menikah, kenapa kau masih tidak mempercayainya? Kasian sekali Choi Siwon itu!” Ejek Min Ah.

“Jangan memanggilku seolah-olah kita ini akrab, Shin Min Ah-ssi!” Balas Chaerin.

“Eoh, tentu saja akan ku lakukan Chaerin-ssi!” Min Ah menyeringai melihat kekesalan Chaerin.

“Kau berpacaran lama dengan Siwon, tapi baru akan menikah sekarang! Butuh waktu lama ternyata!” Cibir Min Ah.

“Apa itu masalahmu? Dan lihat bagaimana dirimu! Kau sudah lebih dulu menikah dan hingga detik ini kau belum juga mengandung. Aku meragukan kalau kau ini seorang yeoja!” Balas Chaerin tak mau kalah.

“Neo……”

“Sudah-sudah! Baru bertemu kembali, kenapa malah bertengkar seperti ini? Kalian bukan anak kecil lagi. Kalian ini sudah dewasa. Seperti Tom and jerry saja. Setiap bertemu pasti bertengkar.”

Chaerin dan Min Ah hanya terdiam mendengar ceramah gratis dari Junki.
.
.
.
.
.
“Bagaimana keadaannya, dok?” Tanya Myungsoo saat melihat dokter yang keluar dari dalam ruangan dimana Jiyeon dirawat.

“Dia hanya kelelahan. Setres dan terlalu banyak menggunakan pikirannya. Ia harus beristirahat yang cukup. Pastikan dia agar tidak memikirkan hal berat dahulu. Tubuhnya ikut terpengaruh jika ia terlalu banyak memikirkan sesuatu.”

“Ne, dok. Kamsahamnida!” Ucap Myungsoo menunduk.

Dokterpun kembali untuk memeriksa pasien lainnya, meninggalkan Myungsoo yang langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar rawat Jiyeon.

Ia memandang sosok yang tengah terpejam saat ini. Ia cantik. Kulitnya putih bersih. Hanya saja, tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding 5 tahun lalu saat terakhir kali ia bertemu dengannya.

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Park Jiyeon? Kenapa sampai jatuh sakit seperti ini? Apa karena kau terlalu merindukan Jaejoong hyung, eoh? Bisakah kau membuka hatimu untukku dan melupakannya?” Kalimat itu tanpa sadar terucap dari bibir seorang Kim Myungsoo.

“Apa yang terjadi?” Sembur Siwon yang baru saja memasuki kamar rawat Jiyeon.

“Hyung!”

“Apa dia baik-baik saja?” Terlihat Siwon begitu mengkhawatirkan sosok yang tengah terbaring tak berdaya diatas ranjang itu.

“Dokter bilang ia harus banyak beristirahat. Ia terlalu banyak memikirkan sesuatu dan mengakibatkan tubuhnya drop.”

“Apa ia memikirkan Jaejoong?” Tebak Siwon.

“Sepertinya begitu!”

Siwon mengelus lembut puncak kepala Jiyeon. Ia semakin merasa bersalah pada yeoja yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.

“Apa aku harus memberitahukan padanya secepatnya?”

“Jangan, hyung! Kondisinya tidak memungkinkan. Aku khawatir ia akan semakin parah sakitnya. Kita tunggu hingga waktunya tepat.”

Siwon mengecup kening Jiyeon penuh rasa sayang. Myungsoo yang melihatnya hanya dapat menelan salivanya.
Bagaimana jika ia juga melakukannya?
Tapi ia tidak menganggap Jiyeon seperti saudaranya, berbeda dengan Siwon. Ia menganggap Jiyeon layaknya seorang yeoja biasa. Ia tidak bisa menjamin jika ia melakukannya maka ia tidak akan meminta lebih dari hal itu.

“Kau pulanglah! Kau harus beristirahat! Besok ada rapat, bukan! Chaerin akan segera datang. Kami akan menjaganya!”

“Eum, geurae! Nan khalke, hyung!” Myungsoo pun bergegas keluar dari ruangan Jiyeon. Ia juga tidak sanggup jika hanya ditinggal berdua dengan yeoja itu, Bisa-bisa ia menerkamnya, mengingat kondisi Jiyeon saat ini tidak memungkinkan untuk melawannya.
Kya!
Kim Myungsoo!
Bagaimana bisa kau berfikiran seperti itu?
Kau bukanlah namja mesum, bukan!
Myungsoo semakin melangkahkan kakinya dengan cepat berharap pikiran-pikiran erotisnya cepat enyah.
.
.
.
.
.
“Park Jiyeon. Jadi namanya adalah Park Jiyeon.” Gumam Hero saat ia mengetahui beberapa informasi yang ia dapat dari kediaman dimana Jiyeon tinggal saat berkunjung ke desa.

“Aku harus menemuinya. Setidaknya aku harus mendapatkan jawabannya meski hanya satu jawaban yang bisa ku dapatkan dari ribuan pertanyaan yang ada diotakku ini.” Gumam Hero.
Ia pun mulai bersiap membawa beberapa pakaian yang akan ia masukkan ke dalam tasnya. Tak lupa ia pun menulis surat untuk sang eomma karena saat ini eommanya tidak ada dirumah. Ia memeriksa dompet dan mengecek sejumlah uang yang nantinya akan ia pergunakan selama dikota nanti.

“Kurasa cukup!” Ucapnya.

Hero pun mulai membawa tasnya keluar rumah. Namun langkahnya terhenti saat ia mendapati sosok Suzy yang tengah berada didepan rumahnya.

“Kau mau kemana, oppa?”

“Aku akan pergi ke kota!”

“MWO? APA KAU AKAN MENEMUI PELACUR ITU, EOH?”

“TUTUP MULUTMU! Dia punya nama dan kau tidak pantas mengatainya seperti itu. Nan Khalke!” Hero pun berjalan meninggalkan rumahnya.

“OPPA! KAU TIDAK BOLEH MENEMUINYA! KAU HANYA BOLEH BERSAMAKU! OPPA!” Teriak Suzy dan tak Hero Hiraukan.

“Park Jiyeon, tunggulah aku!” Batin Hero.
.
.
.
.
.
Makin rumit aja nih FF.
Moga yang baca ga bosen dah.
Selalu berharap tidak mengecewakan para readers!
Coment Jusaeyo!

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 7

image

        IF I RULED THE WORLD
                    (part 7)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong aka Hero (JYJ)

Other Cast :
Park Jiyoung aka Kahi (After School)
Jung Yunho (TVXQ)
Choi Siwon (Super Junior)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)
Yoo In Na
Cha Hakyeon aka N (Vixx)
Lee Chaerin aka CL (2ne1)
Shin Min Ah
Lee Junki
Bae Suzy (Miss A)

Songfict :
Infinite Destiny

Genre :
Romance, Hurt, Bondage, Family, NC 21+

Length :
Chaptered

A/N : Ga bakal banyak ngomong. Langsung z di comot monggo!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Park Jiyeon, yeoja berambut panjang itu terlihat tengah mempersiapkan barang-barang yang hendak ia bawa.
Kemana yeoja itu hendak pergi?

“Kau sudah siap?” Tanya Choi Siwon.

“Eoh, oppa! Sebentar lagi!” Jawabnya saat melihat kedatangan Siwon.

“Oppa, kau tidak perlu mengantarku. Aku akan pergi bersama In Na. Sebaiknya oppa mempersiapkan pernikahan oppa yang tinggal sebulan lagi!”

“Si Vampire akan menghisap darahku hingga habis jika aku membiarkanmu sendiri!” Canda Siwon.

Jiyeon hanya terkekeh.
Vampire?
Ya, ia merindukan sosok berwajah dingin namun berhati hangat itu.

“Apa dia akan pulang saat pernikahan oppa nanti?” Tanya Jiyeon penuh harap.

“Ne? Hahaha…. Semoga saja.” Jawab Siwon kikuk. Ia dapat melihat raut kesedihan diwajah yeoja cantik itu.

“Kau merindukannya?” Tanya Siwon. Pertanyaan bodoh yang sudah tentu ia tau akan jawabannya.

Jiyeon hanya tersenyum. Berusaha mati-matian menahan tangisnya. Menahan rasa rindu yang begitu membuncah.
Kim Jaejoong, ia merindukannya.
.
.
.
.
.
“Aissh, tua bangka itu benar-benar menyebalkan! Dia ingin melawanku? Awas saja!” Gerutu namja berkulit putih didalam gedung Kim Corporation.

“Bagaimana bisa hyung bertahan selama ini dengan si tua bangka itu? Benar-benar menyebalkan!” Tambahnya.

Kim Myungsoo, itulah namja yang kini tengah memasuki ruangan yang cukup luas. Ruangan yang dulunya pernah menjadi singgasana seorang Kim Jaejoong.

Ya, kini Kim Myungsoo lah pemiliknya. Menjadi seorang pemimpin yang disegani banyak orang.
Sepertinya namja itu tengah merasa kesal karena meeting yang terjadi beberapa menit lalu mengharuskannya untuk berdebat dengan para komisaris jenderal yang tengah berusaha menjatuhkan kedudukannya.

“Hyung, aku merindukanmu!” Gumamnya saat menyandarkan punggungnya pada punggung kursi yang tengah ia tempati saat ini.
.
.
.
.
.
Terlihat sebuah keluarga kecil tengah melakukan sesi wawancara dengan beberapa wartawan yang berkunjung ke kediaman mereka yang minimalis bergaya eropa.

“Putra anda sungguh tampan, Kahi-ssi!”

“Dan juga cantik. Hahahha….” Tambah salah seorang wartawan dan berhasil membuat beberapa orang yang ada disana ikut tertawa.

“Kamsahamnida! Kami berharap Hoonie kelak menjadi namja yang membanggakan, ne chagi!” Kahi tersenyum hangat pada suami yang tengah duduk disampingnya saat ini.

“Ne. Ini anak pertama kami. Kami berharap ia menjadi namja yang mampu menjadi pemimpin dimasa depan nanti.” Jawab suami Kahi.

“Apakah kalian sudah mempunyai rencana akan menjadi seperti siapa putra kalian nanti? Menjadi seorang artis seperti Kahi-ssi kah? Atau menjadi pengusaha kuliner seperti Yunho-ssi?” Tanya seorang wartawan.

Ya, Jung Yunho. Itulah suami sah Kahi. Setelah mereka menikah 2 tahun lalu, akhirnya kini mereka dikarunia seorang putra yang diberi nama Jung Ilhoon.
Ingin tau bagaimana kisah antara Kahi dan juga Yunho?
Mari kita kembali ke masa lalu sejenak.

~FLASHBACK ON~

Kahi, yeoja itu tengah bersiap memasuki sebuah ruangan dimana para netizen dan anggota lain serta manager menunggunya.
Ya, hari ini adalah hari dimana ia akan di perkenalkan oleh N selaku manager After School sebagai anggota baru.

Kahi, yeoja itu terlihat gugup.
Apa yang sebenarnya ia pikirkan?

Sorotan dari berbagai kamera mulai terarah padanya saat ia memasuki ruangan itu.
Tentu saja para netizen semuanya terlihat begitu terkejut melihat kedatangan Kahi.

Jadi, inikah anggota baru After School?
Kahi sang idola didunia akting dan juga modeling?

“Baiklah. Kalian tentu sudah mengetahui bahwa kami tengah melakukan audisi secara tertutup untuk menambahkan anggota baru After School. Dan seperti yang kalian lihat, kami bersama Kahi-ssi disini. Dan mungkin ada yang sudah menebak mengenai keberadaan Kahi-ssi disini. Ya, kami mengumumkan bahwa anggota baru dari After School adalah saudara Kahi-ssi!” Jelas N selaku manager After School.

Sontak seluruh netizen dan juga para kameramen langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Kahi setelah N menjelaskan semuanya.

“Kami memilih Kahi bukan karena ia seorang artis, tapi karena kemampuannya. Kami juga memboyong beberapa artis bertalenta dalam dunia musik untuk menjadi juri saat itu. Dan akhirnya terpilihlah Kahi-ssi sebagai pemenangnya dan menjadi anggota baru dari After School.” Lanjut N.

“Mungkin ada yang ingin Kahi-ssi tambahkan atau sekedar perkenalan sebagai anggota baru After School!” Tawar N pada Kahi.

Kahi mengatur nafasnya. Terlihat sekali ia begitu tegang. Lebih tegang dibandingkan saat pertama kali ia debut sebagai seorang artis.

“Annyeonghasaeyo, Kahi imnida!” Ucapnya mengawali perkenalannya seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.

“Saya adalah anggota baru dari After School. Saya harap dimasa depan saya bisa memberikan yang terbaik untuk semuanya. Dengan kemampuan dan kerja keras, saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan semuanya. Mohon dukungannya!” Tambahnya.

Semuanya bertepuk tangan menyambut kedatangan Kahi sebagai anggota baru dari After School. Sepertinya semua yang hadir pun tidak meragukan kemampuan yang dimiliki Kahi. Mereka memberikan dukungan untuknya.

“Dan, saya akan menyampaikan satu hal lagi.” Lanjut Kahi membuat N dan seluruh yang hadir disana menanti ucapan Kahi selanjutnya.

“Sebenarnya….” Kahi terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya. Ia memandang ke segala arah.
Beranikah ia mengatakannya?

Sementara itu didalam sebuah ruangan.
Disana terlihat seorang namja yang tengah duduk santai dikursi kebesarannya. Jung Yunho, itulah nama yang tertera pada papan nama di atas mejanya. Ia yang baru saja menyalakan layar televisi itu begitu merasa bosan saat tak sengaja salah satu stasiun televisi tengah menayangkan sesi wawancara Kahi yang baru saja menjadi anggota baru dari grup yang bernama After School. Tangannya yang hendak menekan tombol pada remote televisi terpaksa terhenti saat telinganya mendengar pernyataan yang dilontarkan Kahi.

“Saya……… Nama asli saya sebenarnya adalah Park Jiyoung.”

Para netizen dan juga kameramen yang hadir begitu terkejut saat Kahi memberitahukan hal yang sebenarnya.

Park Jiyoung?
Bukankah Kahi adalah nama aslinya?
Setidaknya itu yang publik ketahui saat Kahi debut untuk pertama kalinya.

Yunho, namja itu begitu terkejut mendengarnya.
Bagaimana bisa yeoja itu dengan berani mengungkapkan kebenaran itu?
Apa ini karenanya?
Karena ucapannya?

“Dan saya juga tidak sendiri. Saya mempunyai seorang dongsaeng bernama Park Jiyeon dan kedua orang tua kami sudah meninggal dunia.”

Semuanya terlihat terkejut.
Jadi, saat pertama kali Kahi debutpun yeoja itu memalsukan identitasnya kehadapan publik?

“A-apa yang kau lakukan, Kahi-ssi?” Geram N. Jelas namja itu merasa kesal. Ini acaranya, kenapa malah jadi ajang pengakuan diri?

“Saya memohon maaf untuk semua kebohongan yang telah saya buat. Saya akan tetap menggunakan nama Kahi dan tidak akan menghilangkan nama asli saya.” Tambahnya.

Suasana menjadi ricuh dengan beberapa spekulasi dari berbagai pihak.

“Dan saya bukanlah lulusan dari perguruan tinggi terkenal. Saya hanya lulusan Senior High School dan sebelumnya saya bekerja di sebuah restorant milik kekasih saya.” Kahi berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan seluruh fakta yang ada.

“Ya, setidaknya sebelum keegoisan saya menguasai saya kami masih menjadi sepasang kekasih.” Ia tersenyum miris mengingat kisah cintanya.

“Entah ini hanya ambisi saya atau benar-benar impian saya, saya benar-benar menyesal untuk semua kebohongan yang telah saya buat.
Mulai sekarang, saya akan lebih bekerja keras lagi. Demi impian saya.
Ya, ini impian dan bukan sekedar ambisi semata.
Saya akan menunjukkan talenta saya kepada semuanya, bukan dengan kebohongan, melainkan dengan kemampuan yang benar-benar saya miliki.
Saya yakin ini bukan akhir, melainkan awal dimana saya akan menjadi seorang entertainer. Awal bergabung dengan After School.
Mohon jangan lihat saya ini apa, saya ini siapa, saya ini berasal dari mana, seperti apa keluarga saya, apa pendidikan saya, lihatlah karya dan kerja keras saya!
Lihatlah talenta saya!
Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk membayar masa lalu saya.
Dan inilah saya!
Seorang Kahi yang bernama asli Park Jiyoung yang hanya memiliki keluarga seorang dongsaeng bernama Park Jiyeon dan hanya seorang yeoja lulusan senior high school yang tengah meraih impiannya.
Mohon bantuan semuanya!” Akhirnya seraya membungkukkan tubuhnya dihadapan
semua orang yang hadir di sana.

~FLASHBACK OFF~

Yunho tersenyum manis mendengar pertanyaan salah satu netizen yang hadir.

“Akan menjadi seperti siapa anak kami nanti, hanya Jung Ilhoon sendirilah yang dapat menentukannya. Kami hanya perlu mendukungnya. Memberi semangat dan motivasi. Kami berharap, kelak ia menjadi yang terbaik di antara yang baik.” Jawab Yunho.

Jung Ilhoon, bayi itu terlihat berusaha meraih tangan sang appa saat ia berada dipangkuan eommanya. Lucu sekali.

Perjalanan cinta Yunho dan Kahi memanglah tak semulus jalanan beraspal. Butuh perjuangan untuk Kahi mendapatkan kembali kepercayaan publik terlebih dari Yunho. Dan butuh hati yang besar juga bagi Yunho untuk kembali mempercayai Kahi. Namun mereka berdua mampu melewati itu semua. Kerikil atau bahkan batu besar sekalipun akan hancur oleh angin yang menerpa meski dengan kurun waktu yang tidaklah sebentar. Dan yakinlah, jika kita memang ditakdirkan untuk bersama, dengan cara dan waktu selama apapun kita pasti akan bersama hingga akhir.
Lalu bagaimana dengan hubungan Jiyeon dan juga Jaejoong?
Sang pemeran utama yang hingga detik ini belum menemukan titik terang. Bahkan sepertinya mereka harus bersabar agar dapat di persatukan seperti Kahi dan juga Yunho.
Kesabaran ekstra,
dan sepertinya bagi para pembaca juga yang sudah jenuh menunggu akhir cerita ini. Ataukah semakin merasa menarik dan penasaran?
.
.
.
.
.
Yoo In Na, itulah sosok yeoja manis yang terlihat begitu kesal saat menaiki pegunungan yang ada diperbatasan antara korea selatan dan utara.

“Kenapa harus pergi ketempat terpencil segala, sih? Dosen itu benar-benar menyebalkan. Kita ini kan bukan dokter dan hanya perawat. Kenapa memberikan tugas akhir hingga seperti ini? Bagaimana kalau nanti ternyata didesa itu banyak orang berpenyakitan?” Gerutu Yoo In Na.

Jiyeon, yeoja yang berjalan didepan In Na hanya tersenyum menanggapi kekesalan sahabatnya itu.

Dongmakgol. Itulah desa yang tengah mereka berdua tuju saat ini. Mahasiswi jurusan keperawatan semester akhir itu tengah melaksanakan tugas akhir yang diberikan sang dosen untuk menganalisis berbagai jenis penyakit yang biasa dialami penduduk pada desa terpencil. Dan Dongmakgol lah desa yang dosen mereka berdua tunjuk untuk keduanya.
.
.
.
.
.
“Apa yang kau pikirkan, oppa?” Tanya Lee Cherin saat menghampiri Siwon yang datang berkunjung kebutik nya.

“Eoh?”

“Errr, apa kau tengah memikirkan yeoja lain?”

“Hm.”

“MWO?”

“A-aniya. Maksudku…”

“KYA CHOI SIWON, PERNIKAHAN KITA TINGGAL 1 BULAN LAGI DAN KAU MALAH MEMIKIRKAN YEOJA LAIN?” Potong Chaerin.

“Kya! Tidak seperti yang kau pikirkan, chagi. Yeoja itu, maksudku adalah Park Jiyeon.”

“Park Jiyeon? JADI KAU BERSELINGKUH DENGANNYA?”

“Ani ani aniya. Aissh, ini tentang Kim Jaejoong.”

Chaerin menyipitkan matanya.

“Jeongmalyo.” Tambah Siwon berusaha meyakinkan kecurigaan yeoja yang 1 bulan lagi akan ia persunting itu.
Siwon menghembuskan nafasnya. Ia menunduk sedih.

“Apa yang harus kukatakan pada Jiyeon saat pernikahan kita nanti?”

Chaerin, sepertinya yeoja itu mulai penasaran dengan maksud ucapan Siwon. Ia pun langsung duduk disamping Siwon. Ya, keduanya tengah berada diruang kerja Chaerin.

“Apa maksudmu, oppa?”

“Park Jiyeon, sampai detik ini ialah orang yang belum mengetahui tentang kebenaran itu.” Jawab Siwon.

~FLASHBACK ON~

Choi Siwon, namja itu terlihat tengah berlari memasuki kantor polisi setelah turun dari atas mobil yang ia kendarai. Ia langsung menemui petugas di sana.

“Sa-saya Choi Siwon. Asisten dari Kim Jaejoong. Mengenai berita yang anda beritahukan pada saya di telephon, itu tidak benar bukan?” Tanya Siwon penuh harap.

“Itu semua benar. Helikopter yang jatuh dan meledak diperairan adalah milik saudara Kim Jaejoong.”

Siwon langsung lemas mendengarnya. Nafasnya tak teratur. Ini buruk. Berita yang benar-benar buruk.

“Lalu, bagaimana dengan Kim Jaejoong dan juga pilotnya?”

“Kami masih mencarinya.”

Pening. Kepala Siwon benar-benar teras pening. Ia tak bisa menjaga sahabatnya yang sudah ia anggap saudaranya sendiri.

~FLASHBACK OFF~

“Ini sudah 5 tahun dan hanya Jiyeonlah yang belum mengetahuinya. Apa yang harus kukatakan? Sungguh, aku tidak tega melihat wajah sedihnya nanti saat mengetahui kebenaran ini. Hiks…” Choi Siwon, namja itu menangis. Ia begitu menyesal telah membohongi Jiyeon. Ia mengatakan bahwa Jaejoong harus pindah ke Amerika untuk beberapa waktu dan mengurus salah satu cabang perusahaan di sana. Sungguh ia tidak tega memberitahukan pada Jiyeon bahwa Jaejoong telah meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter yang hendak membawanya pergi ke Korea Utara karena meledak. Bahkan para petugas pun sudah menyisiri seluruh perairan namun tak ditemukan satu tubuhpun. Mereka meyakini bahwa 2 tubuh tersebut sudah dimakan hiu atau terbakar habis karena ledakan helikopter karena selama 1 bulan pencarian mereka tidak menemukan apapun. Nihil.

Chaerin langsung memeluk tubuh Siwon. Berusaha menenangkan kekasihnya itu.
Ya, harusnya ia tidak menunggu pernikahan ini selama 5 tahun setelah lamaran Siwon padanya, namun karena kecelakaan yang menimpa Jaejoong, akhirnya mereka memutuskan untuk menunda pernikahan mereka dan 1 bulan lagi lah waktu yang mereka tentukan. Mereka merasa sudah cukup selama 5 tahun ini berkabung karena kepergian Jaejoong.

“Dia bertanya, apakah Jaejoong akan datang dipernikahan kita nanti? Sungguh saat itu juga aku ingin berlutut dihadapannya, meminta maaf karena telah membohonginya selama 5 tahun ini. Hiks…” Isak Siwon.

Chaerin mengelus lembut rambut Siwon. Ia dapat merasakan kesedihan yang Siwon rasakan. Sejak kecil ia tumbuh dan besar bersama Jaejoong. Ikatan keduanya sangatlah kuat. Mereka bagai saudara kembar yang tak terpisahkan.

“Aku sudah menganggapnya seperti dongsaengku sendiri. Hiks… Terlebih ia adalah yeoja yang begitu dicintai Jaejoong. Hari itu aku melihat tatapan keduanya saat mengantarkan Buldak ke sana. Mereka, hiks… Mereka berdua saling mencintai. Dan aku bertekad akan melindungi keduanya sejak saat itu. Mereka tersenyum hangat. Sungguh aku begitu bahagia saat itu meski merasa kesal karena kehadiranku begitu di acuhkan oleh mereka berdua. Hiks…” Siwon terus menangis dalam pelukan Chaerin.

“Sungguh, aku tak sanggup bila melihat salah satu dari mereka terluka. Dan Jiyeon, Gadis itu hiks… Gadis itu yang akan amat sangat terluka bila mengetahui bahwa orang yang begitu ia cintai hiks… ternyata sudah tidak ada lagi didunia ini. Sungguh aku tidak sanggup melihat wajah sedih dan kecewanya. Ia sudah menunggunya selama 5 tahun. Ia begitu lama menunggunya, merindukannya. Dan apa yang akan ia dapat setelahnya? Hiks…Ia hanya akan mendapatkan berita buruk bahwa orang yang selama ini ia tunggu, yang selama ini begitu ia cintai hiks…tidak akan pernah kembali untuk selamanya.”

Chaerin makin mengeratkan pelukannya. Ia begitu mengerti bagaimana perasaan Siwon saat ini. Ia mengerti Siwon selama ini selalu menjaga dan melindungi Jiyeon demi Jaejoong dan karena Siwon benar-benar menyayangi gadis itu seperti saudara kandungnya sendiri. Sama seperti dirinya yang langsung menyukai dan menyayangi sosok Jiyeon sejak pertama kali mereka bertemu dan ia ingat saat itu Jaejoong dan Jiyeon lah yang menjadi saksi saat Siwon melamarnya.

“Ini bukan salahmu, oppa. Kau sudah melakukan hal yang terbaik untuk Jiyeon. Mungkin inilah saatnya Jiyeon mengetahuinya. Kita akan bersama-sama menguatkannya. Kita akan bersama-sama melindungi dan menjaganya.” Ucap Chaerin.
.
.
.
.
.
@Bassa, Italia

Terdengar suara lonceng dari menara alta yang berbunyi hingga 100 kali. Itu menunjukkan bahwa saat ini di Bassa sudah pukul 10 malam. Kota kecil yang hanya dihuni sekitar 120 jiwa saja dan cukup jauh dari pusat kota roma. Namun itulah yang membuat kota kecil itu terasa begitu nyaman untuk dihuni.

“Sudah 5 tahun, ya!” Gumam yeoja berlesung pipi diujung jendela kamar apartement nya.

~FLASHBACK ON~

“Ya, sepertinya aku harus memulai kehidupan baru. Melupakan Kim Jaejoong dan hidup bersama Lee Junki. Itu pilihan yang terbaik.” Gumam Shin Min Ah. Tiba-tiba seringaian muncul dari wajah cantiknya.

“Tapi aku harus memastikan sesuatu. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka Jiyeonpun tidak.” Tambahnya. Seringaian diwajahnya semakin melebar. Ia terlihat begitu mengerikan.
Ia lalu mengatur rencana busuk. Menyuruh seseorang yang ia percaya untuk membantunya. Ia pun dapat dengan mudah menjalankan rencananya itu. Membuat cabang perusahaan Kim di Korea Utara bangkrut dalam seketika karena para pemegang saham memutuskan untuk menarik saham mereka.

Pagi itu, Jaejoong begitu terkejut saat Siwon memberitahukan hal buruk itu. Namja itu pun langsung melesat dan menyuruh Siwon untuk mengantarkan dan menjaga Jiyeon karena ia harus pergi ke Korea Utara detik itu juga.
Rupanya umpan telah dimakan Jaejoong dengan sempurna.

Saat Jaejoong begitu gelisah tentang perusahaannya, seseorang menyarankan agar ia pergi menaiki helikopter untuk bisa cepat sampai di Korea Utara dan Jaejoong tanpa berfikir panjang langsung menyetujuinya.
Ya, orang-orang itu tentu sudah di bayar oleh Shin Min Ah beserta pilot yang membawa Jaejoong pergi.

Hanya sebotol mineral yang Jaejoong minum pagi itu, itupun diberikan oleh sang pilot dan Jaejoong hanya dapat menerimanya karena ia pun belum memasukkan apapun kedalam perutnya. Ia memang tidak menghabiskan minuman itu, namun efek yang ia dapatkan adalah kepalanya terasa pening. Tubuhnya terasa lemas. Ia dapat melihat seringaian di bibir sang pilot dan ia melihat sang pilot mulai membuka pengaman dan membuka pintu kemudi lalu langsung terjun dari sana. Tentu saja dengan parasut yang sudah ia siapkan sejak awal.

Helikopter terbang tanpa sang pengemudi, sudah dipastikan akan melayang tak tentu arah di atas perairan laut ujung selatan korea dan

~DUARR~

~FLASHBACK OFF~

“Apa yang kau pikirkan, chagi?” Sebuah suara halus memenuhi pendengaran yeoja yang ternyata Shin Min Ah itu.

“Eum? Aku hanya berfikir, kapan kita berkunjung ke Korea?”

Lee Junki, namja itu langsung memeluk tubuh Min Ah dari belakang.

“Kau merindukan seseorang?” Tanyanya tepat diantara telinga dan leher Min Ah.

“Tentu saja. Aku merindukan appa.”

“Hanya itu?”

Min Ah terkekeh, tentu ia tau siapa yang Junki maksud.
Ya, namja itu belum mengetahui perihal meninggalnya Jaejoong.
Haruskah Kim Jaejoong yang ia rindukan?
Ck, untuk apa merindukan orang yang sudah mati. Ia justru merindukan yeoja yang Jaejoong tinggalkan. Ia sangat ingin melihat keadaan Park Jiyeon saat ini. Pasti begitu menyedihkan. Pikirnya senang.
.
.
.
.
.
Park Jiyeon, yeoja itu terlihat tengah duduk dipinggir sungai malam itu. Senyuman tak pernah henti terlepas dari wajahnya tatkala ia melihat pemandangan malam yang begitu indah.

Disebuah desa terpencil bernama Dongmakgol. Sore hari ia tiba disana dan tinggal disebuah rumah milik ketua desa. Matanya tak jua terpejam hingga ia merasa bosan dan memilih berjalan-jalan mengelilingi desa. Tak ada rasa takut timbul sedikitpun dibenaknya. Ia justru merasa aman dan damai berada disana,  hingga ia menemukan sebuah sungai yang mengalir dengan cukup tenang. Benar-benar membuatnya merasa nyaman.

Ingatannya menerawang jauh pada hari dimana terakhir kali ia melihat sosok Jaejoong sebelum kepergiannya ke Amerika. Ya, setidaknya itulah yang ia ketahui dari Siwon selama 5 tahun ini.

Ia mengingat akan janji Jaejoong malam itu. Ia ingat bahwa namja itu berjanji bahwa esok ia akan memberitahukan perihal kapan Jaejoong mulai mengenal Jiyeon dan bagaimana namja itu mulai menyukai dan jatuh cinta padanya.
Namun, bahkan ia harus menunggu selama 5 tahun.
Jika harus terpisah selama itu, maka Jiyeon tidak akan mempertanyakan hal itu dan bahkan tidak berharap bahwa namja itu akan memberitahukan padanya.

Ya, ia begitu merindukan sosok itu. Bahkan teramat sangat rindu.

~FLASHBACK ON~

“Oppa!” Jiyeon terlihat terkejut melihat kedatangan Siwon pagi itu.

“Kau sudah siap?”

“Eoh? Apa oppa yang akan mengantarkanku ke sekolah? Dimana Jaejoong oppa?”

“Pagi ini dia harus pergi ke Korea Utara. Terjadi masalah disana. Jadi, kau harus mau oppa antar dan jemput sekolah!”

Jiyeon terlihat murung.

“Bahkan ia tak membangunkanku.” Gumamnya menunduk sedih.

“Errr, jangan memasang wajah seperti itu! Seperti tidak akan bertemu lagi saja.”

Jiyeon memperlihatkan senyum tiga jarinya pada Siwon.
Ya, ia akan bertemu lagi dengan Jaejoong. Jadi tak perlu khawatir. Batinnya.

“Kajja!” Ajak Jiyeon dengan riangnya.

~FLASHBACK OFF~

“Bhogosippo!” Lirih Jiyeon. Ia menangis. Yeoja itu menangis. Harusnya namja itu kembali padanya terlebih dahulu setelah selesai dengan urusan di Korea Utara, bukannya malah langsung meninggalkannya ke Amerika. Sungguh ia begitu merindukan namja itu.
Namja itu bak tertelan bumi. Meski sering mengiriminya hadiah dan surat, namun tak sekalipun ia menghubunginya. Sungguh, ia begitu merindukan suaranya. Kim Jaejoong, namja itu begitu amat ia rindukan.

“Hey! Kenapa kau menangis?”

Terdengar suara yang begitu amat familiar ditelinga Jiyeon. Apakah ia bermimpi?
Apakah ini hanya fantasinya semata karena begitu merindukan sosok itu?

“Sepertinya kau orang baru di sini.” Tambahnya.

Jiyeon, yeoja itu memberanikan diri untuk menolehkan wajahnya. Melihat siapakah gerangan yang tengah duduk disampingnya dan berbicara dengannya itu.

Matanya melebar sempurna. Tubuhnya terasa lemas dan juga bergetar.
Benarkah yang ia lihat saat ini? Kim Jaejoong?
Diakah?

“Kenapa menatapku seperti itu, eoh? Apa aku ini hantu? Menyebalkan!” Gerutu sang namja.

Sang namja langsung melebarkan matanya tatkala ia mendapatkan pelukan hangat dan juga erat dari yeoja yang ada disampingnya itu.

“A-Apa yang……”

“Oppa! Hiks…” Potong Jiyeon. Jiyeon menangis didada sang namja. Aromanya, tubuhnya, ya, ia adalah Kim Jaejoong. Kekasihnya. Namja yang begitu ia cintai. Meski ia sedikit berbeda dengan rambutnya yang sedikit panjang serta kulit yang terlihat kecoklatan terlihat dari cahaya rembulan yang menyinarinya, namun Jiyeon yakin ia adalah Kim Jaejoong. Namja yang teramat ia rindukan selama 5 tahun ini dan ini bukan fantasinya semata, ini nyata dan bahkan ia dapat memeluknya saat ini.

“Oppa. Hiks….” Jiyeon terus menangis menumpahkan semua rasa rindunya pada namja yang ia anggap Jaejoong itu.

“Ku-ku rasa anda sa-salah orang, nona.” Ucap sang namja namun tak berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Jiyeon.

Jiyeon merenggangkan tubuhnya, sedikit menjauh dari tubuh sang namja agar ia bisa melihat wajah sang namja. Tangannya bergerak menyentuh pipi sang namja.

Mata itu, ya, mata itu masih sama dan hanya mata itulah yang sanggup meluluhkan hatinya. Jiyeon lebih mendekat lagi dan,

~CUP~

Jiyeon melumat bibir sang namja. Sang namja tersentak saat Jiyeon menggigit bibirnya dengan agak kasar. Ya, Jiyeon menyalurkan semua rasa rindunya selama ini. Sang namja tak menolak. Ia masih terpaku, berusaha meyakinkan dirinya. Nyatakah ini?
Bahkan dengan kekasihnya sekalipun ia tak pernah melakukannya. Namun tubuhnya menerima semua perlakuan sang yeoja.
Libidonya naik dengan sangat drastis.
Ada apa dengannya?

Jiyeon mulai melumat bibir sang namja dengan lembut, membuat sang namja merasakan rasa manis saat lidah yeoja yang bahkan baru ia temui itu memasuki mulutnya. Jiyeon mulai mengalungkan tangannya pada leher sang namja. Sang namja pun mulai melingkarkan tangannya di pinggang Jiyeon dan mulai membalas ciuman Jiyeon.

Lama mereka melakukan aktifitas memabukkan itu, hingga mereka merasa membutuhkan oksigen dan akhirnya dengan sangat terpaksa ciuman itupun terlepas meninggalkan benang-benang saliva karenanya. Nafas keduanya beradu, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.

Jiyeon melihat sang namja bangkit.

“O-oppa!”

“Ini salah. Dan-dan saya rasa…..”

“Jaejoong oppa!”

Namja itu menatap Jiyeon tajam. Entah mengapa ia begitu kesal saat yeoja yang baru saja bercumbu dengannya itu memanggilnya dengan nama orang lain. Dan sudah dapat ia pastikan bahwa yeoja itu telah salah mengenali orang.

“Hero. Itu namaku. Dan aku bukanlah namja yang kau maksud!”
Hero, namja itu langsung meninggalkan Jiyeon yang terlihat sedih.
Kenapa ia merasa kesal?
Kenapa ia menikmati aktifitasnya barusan?
Kenapa ia merasa begitu merindukan yeoja itu?
Kenapa ia merasa pernah menyentuh yeoja itu sebelumnya?
Siapa sebenarnya yeoja itu?

Hero mengacak rambut panjangnya kesal seraya terus berjalan menuju rumahnya.

Sementara itu, Jiyeon terus menangis.
Benarkah ia salah orang?
Tidak. Semuanya sama. Itu adalah Kim Jaejoong. Itu adalah Jaejoongnya. Sentuhannya benar-benar sama. Hanya rambut dan warna kulit yang berbeda. Tentu saja hal itu lumrah mengingat setelah 5 tahun ia baru kembali bertemu dengan namja itu. Tapi, kenapa namja itu mengatakan bahwa dirinya adalah Hero?
Jiyeon menangis prustasi.
.
.
.
.
.
Kim Myungsoo, namja itu terlihat begitu prustasi. Ia datang menemui Siwon di apartementnya.

“Kau ini kenapa, eoh?” Tanya Siwon.

“Bagaimana caranya Jaejoong hyung bertahan selama ini? Beritahukan padaku, hyung!”

Siwon mengerutkan keningnya.
Apa maksud dari bocah ini? Pikirnya.

“Aissh!” Myungsoo mengacak  prustasi rambutnya.

“Para penanam saham itu, mereka benar-benar membuatku ingin menghabisi mereka satu-persatu!” Tambah Myungsoo.

Siwon berdecak. Jadi ini alasan kenapa bocah itu begitu terlihat kacau saat ini. Benar-benar tidak terlihat pantas menjadi seorang pemimpin. Ya, walaupun kenyataannya seperti itu. Bocah itu adalah sajangnimnya saat ini.

“Kau masih kurang belajar rupanya.” Jawab Siwon enteng.

“MWO? KYA! SELAMA INI AKU SUDAH BELAJAR DENGAN SANGAT KERAS. BAHKAN AKU LULUS SEBELUM WAKTUNYA DEMI SEMUA INI.” Protes Myungsoo tidak terima.

“Kau tau kelemahanmu?”

Myungsoo memandang Siwon sinis.
Kelemahan?
Apakah ia kurang sempurna?

“Kau kurang ini!” Tunjuk Siwon tepat pada dada Myungsoo membuat Myungsoo semakin di buat bingung olehnya.

“Apa maksudmu, hyung?”

“Jaejoong, ia menggunakan itu sebagai kekuatannya.
Hati. Ia menggunakan hatinya demi perusahaan ini. Bukan hanya sekedar otak dan juga tenaga. Bukan hanya untuk jabatan semata. Ia menggunakan hatinya untuk membangun perusahaan ini,  menggantikan tuan besar Kim. Ini caranya membalas semua kebaikan tuan besar Kim.
Ia bersabar dan mengatur strategi untuk melawan para komisaris yang menurutnya cukup mengganggu.
Sejak dulu, ia tidak menggunakan ucapannya,  melainkan menggunakan tindakannya.
Kau memang tidak bisa seperti hyung mu itu, tapi Jaejoong mengajari mu satu hal. Kau harus berdiri sendiri. Pada kakimu sendiri. Tanpa Jaejoong ataupun tuan besar Kim di sampingmu. Dan inilah saatnya. Kau harus tunjukkan pada hyungmu itu bahwa kau sudah mampu melakukannya.” Jawab Siwon meninggalkan Myungsoo dan masuk kedalam kamar mandi.

“Lagi-lagi aku seperti seorang ayah yang mengajari anaknya. Haruskah aku angkat Jiyeon dan juga Myungsoo sebagai anakku? Oh tidak, mereka sudah terlalu tua sekarang. Kau memang keren, Choi Siwon!” Gumamnya membanggakan dirinya sendiri.

Sementara Myungsoo, ia terlihat tengah mencerna ucapan Siwon perlahan-lahan.
Ya, itu benar.
Kenapa ia melupakan ucapan Jaejoong itu?
Bodoh!
Bertambah jauh saja otaknya untuk menyamai sang hyung.

“Kim Jaejoong!” Gumam Myungsoo.

“Padahal aku ingin kau melihatku sekarang, hyung!” Tambahnya menunduk sedih.

“Tidak. Aku tidak akan menghancurkan perjuangan appa dan juga hyung selama ini. Aku harus bisa mengatasi keparat-keparat itu. Bersiaplah menyambut Kim Myungsoo!” Geramnya.
.
.
.
.
.
“Ada apa denganmu, eoh?” Tanya Yoo In Na yang melihat sahabatnya terus terdiam sejak tadi pagi.

“Semalam kau kemana, eoh? Kenapa pergi tidak memberitahuku?”

Jiyeon lagi-lagi tidak menjawab dan semakin membuat In Na kesal.

“KYA!”

Keduanya tengah berjalan menyusuri jalan setapak didesa, bermaksud untuk menemui penduduk satu-persatu untuk menanyakan jenis penyakit yang sering menimpa mereka serta cara pengobatan yang mereka lakukan mengingat desa mereka yang cukup jauh dari perkotaan dan berada dikaki gunung.

“Kemana saja kau semalam, chagi? Aku datang ke rumahmu dan kau tidak ada.” Seorang yeoja bertubuh sintal terlihat tengah bergelayut manja di lengan sang namja.

“Hanya keluar mencari angin, Suzy-ah!”

Park Jiyeon, tatapannya tertuju pada namja yang berada dihadapannya saat ini. Dan Hero, namja itupun menghentikan langkahnya. Keduanya saling menatap. Datar.
.
.
.
.
.
Mengecewakankah FF nya?
Hahah silahkan lemparkan kekesalan readers sesuka hati.
Lempar uang ke author juga boleh, dengan senang hati malah hahha…
Nantikan part 8 nya.
Coment Jusaeyo!

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) part 6

image

        IF I RULED THE WORLD
                    (part 6)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong (JYJ)

Other Cast :
Park Jiyoung aka Kahi (After School)
Jung Yunho (TVXQ)
Choi Siwon (Super Junior)
Shin Min Ah
Lee Junki
Lee Chaerin aka CL (2ne1)
Cha Hakyeon aka N (VIXX)

Songfict :
4L Move

Genre :
Romance, Hurt, Bondage, Family, NC 21+

Length :
Chaptered

A/N :
Yang di bawah 21 tahun segera menjauh!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Kim Jaejoong, namja itu terlihat tengah berlari diantara koridor rumah sakit dengan paniknya.

“Aigoo, bagaimana ia bisa berlari secepat itu?” Gumam Siwon terengah. Ia tidak dapat menyamakan langkah kakinya dengan Jaejoong yang sudah cukup jauh berada didepannya.
Sepertinya Siwon harus diet!
Abaikan!

“Kekuatan cinta!” Tambah Siwon seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Syukurlah dia tidak berfikir jika berat tubuhnya semakin naik sehingga membuat ia sulit untuk berlari!

Jaejoong benar-benar tidak dapat menahan rasa khawatirnya.

Matanya melebar saat mendapati sosok Shin Min Ah yang tengah duduk bersandar pada punggung kursi yang ada didepan ruangan dimana Jiyeon dirawat.

“APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA, EOH?” Bentak Jaejoong mengagetkan Min Ah, membuat yeoja itu langsung bangkit dari duduknya.

“KALAU SAMPAI TERJADI SESUATU PADANYA, AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKANMU!”

“Kya! Kya! Kya! Ini dirumah sakit, Kim Jaejoong!” Beruntung Siwon datang dan melerainya berusaha mengingatkan sahabatnya itu.

Jaejoong langsung memasuki ruangan itu dan meninggalkan Siwon dan juga Min Ah di luar sana.

Siwon menatap iba sosok Min Ah. Sungguh ia tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi sehingga Jaejoong begitu marah pada yeoja itu.
Apa ada hubungannya dengan Jiyeon?

Siwon melihat sosok Min Ah yang begitu ketakutan. Tentu ini begitu mengejutkan baginya. Namja dingin itu begitu menyeramkan ketika sedang marah. Benar-benar mengerikan.

“Oppa!” Lirih Jiyeon saat melihat kedatangan Jaejoong.

Jaejoong masih tetap berdiri disamping ranjang yeoja itu. Menatap sendu sosok Jiyeon yang tengah terbaring diranjang rumah sakit.
Jaejoong melihat Jiyeon yang berusaha bangun. Ia membiarkan yeoja itu terduduk bersandar pada punggung ranjang. Ia hanya dapat memperhatikannya.

“Oppa tidak bekerja?” Tanya Jiyeon.

Jaejoong tetap terdiam. Matanya tak pernah lepas dari sosok yeoja itu.

“Waegeurae? Apa terjadi sesuatu yang buruk?”

Pabo.
Yeoja Pabo.
Jelas-jelas yang tengah mengalami hal buruk itu adalah dirinya, kenapa malah menanyakannya pada Jaejoong?

Jiyeon mencoba meraih tangan Jaejoong. Ia merasa heran karena Jaejoong terus-menerus terdiam.

“Op……” Jiyeon menghentikan ucapannya saat Jaejoong merengkuh tubuhnya.

“Oppa, waegeurae?”

Disana. Dibalik punggung Jiyeon. Seorang Kim Jaejoong menitikkan air matanya. Ia menangis. Namja ini, ada apa lagi dengannya?

“Oppa!”

“Jangan sakit! Jangan membuatku panik! Jangan membuatku khawatir! Aku bisa mati jika kau melakukannya!”

Jiyeon membeku. Namja itu! Namja itu mengkhawatirkannya! Namja itu mencemaskannya! Itukah yang membuat namja itu menjadi seperti ini sekarang?

“Oppa!”

Jaejoong makin mengeratkan pelukannya. Membuat Jiyeon dapat merasakan air mata namja itu yang membasahi seragam rawatnya.

“Aigoo, bagaimana bisa namja vampire itu begitu melankolis seperti ini?” Gumam Siwon diujung pintu.

Min Ah hanya dapat terdiam melihat pemandangan itu.

“Tutup pintunya!” Perintah Min Ah.

“Mwo?”

“Apa kau akan mengganggu mereka?”

Siwon mengerucutkan bibirnya.
Siapa juga yang mau mengganggu?
Bahkan ia yang sering diganggu oleh sajangnimnya itu.

Siwonpun akhirnya menutup kembali pintu kamar rawat Jiyeon dan membatalkan niatnya untuk menjenguk yeoja itu.

“Aissh, sebenarnya apa yang terjadi dengan Jaejoong? Kenapa ia malah marah padamu saat mendengar Jiyeon masuk rumah sakit?”

Min Ah tidak menjawab. Ia hanya mampu terdiam.

“Tunggu dulu! Apa itu berarti kau mengenal Jiyeon? Eoh, bukankah kau mengatakan bahwa kau adalah seorang pengajar disebuah sekolah khusus yeoja? Apakah mungkin kau mengajar disekolah yang sama dengan dimana Jiyeon juga bersekolah?”

Min Ah langsung pergi meninggalkan Siwon, ia bahkan tidak menjawab terlebih dahulu pertanyaan yang Siwon ajukan padanya.

“KYA!” Teriak Siwon kesal.

Kembali pada pasangan JaeYeon.

Jaejoong mulai melepaskan tubuh Jiyeon setelah ia menghapus air matanya, berharap yeoja itu tak melihat wajahnya yang mungkin sedikit berantakan karena air mata yang keluar membasahi wajah tampannya.

Jiyeon tersenyum. Sedikit lega. Ya, itulah yang yeoja itu rasakan. Ia merasa Jaejoong benar-benar menjadikannya yeoja yang special.

“Oppa!”

Jaejoong kembali terdiam.

“Apa aku boleh bertanya?”

Jaejoong tetap terdiam.
Apakah Jiyeon akan menanyakan hal yang berkaitan dengan Shin Min Ah?

“Apa…..” Jiyeon terlihat berfikir.

Apa yang sebenarnya akan yeoja itu tanyakan?
Kenapa Jaejoong menjadi takut sekarang?
Semoga Jiyeon tidak mempertanyakan mengenai ciuman itu, ciuman yang Min Ah luncurkan padanya.

“Apa setelah ini oppa akan kembali memberikanku Buldak?”

Jaejoong mengerutkan keningnya.
Buldak?

“Tempo hari oppa memberikanku banyak Buldak setelah aku kembali dari rumah sakit. Apa hari ini pun akan sama?”

Jaejoong, wajah seriusnya kini berubah menjadi sebuah senyuman jahil.
Yeoja dihadapannya saat ini benar-benar membuatnya hampir gila!
Jaejoong mengelus lembut rambut Jiyeon.

“Bahkan selain Buldakpun akan oppa berikan!”
ANDWAE!
Kata-kata Jaejoong selalu berhasil membuat yeoja berambut panjang itu tersipu malu.
Bukan kata-kata rayuan, melainkan kata-kata yang tulus dan dapat dibuktikan kebenarannya.
Itulah yang Jiyeon ketahui.

“Oppa!”

“Eum!”

Jiyeon terdiam membuat Jaejoong merasa heran.
Apa lagi yang hendak yeoja itu ucapkan?

“Wae?” Tanya Jaejoong.

Jiyeon menunduk.
Haruskah ia menanyakannya?
Bolehkah?

“Apa oppa menyukaiku?”

Akhirnya. Akhirnya pertanyaan yang sejak awal bergelayut dipikiran Jiyeon dapat ia utarakan juga. Ia sudah bersiap jika jawaban yang Jaejoong berikan tidak sesuai dengan harapannya.
Ya, tentu saja harus siap dengan kemungkinan terburuk bahwa Jaejoong benar-benar hanya menjadikannya sebuah mainan.

Jaejoong duduk tepat disisi ranjang Jiyeon. Tangan besarnya menyentuh tengkuk Jiyeon, membuat yeoja itu mengangkat kembali wajahnya dan kini menatapnya.

Kini, Jaejoong seutuhnya mengendalikan Jiyeon.
Jaejoong mulai mendekatkan wajahnya. Mengecup bibir yeoja itu lembut dan mulai melumatnya.

Lumatan-lumatan yang Jiyeon dapatkan nyaris membuat Jiyeon meneteskan air matanya.
Karena eonnienya, ia melakukan ini. Tinggal bersama namja asing dan akhirnya benar-benar jatuh cinta padanya.
Mengingat itu semua, Jiyeon benar-benar merasa takjub. Baginya, jaejoong yang dulunya hanyalah seseorang yang ia anggap berbahaya, kini menjadi seseorang yang paling berharga baginya.
Meski saat ini hatinya tengah merasa teriris karena kehadiran Min Ah.
Mungkin.
Entahlah.
Ia benar-benar menginginkan hanya ia seoranglah pemilik dari Kim Jaejoong, seutuhnya dan selama-lamanya.

Jaejoong melepaskan pagutannya. Benang saliva tercipta dari bibir keduanya.
Selang beberapa detik, Jaejoong kembali melumat bibir yeoja itu.
Kalau sudah begini, Jiyeon hanya bisa pasrah.

Lebih dari 7 menit mereka bergulat lidah. Bibir Jaejoong mulai turun ke bawah mengecupi leher jenjang Jiyeon yang harum baginya.

Jiyeon mendongakkan kepalanya merasakan sensasi aneh dilehernya.
Jiyeon pun pasrah begitu saja saat Jaejoong membuka satu-persatu pengait seragam rawatnya.

Jaejoong menjauhkan wajahnya, menatap wajah Jiyeon.

“Saranghae!”
Kata itu.
Kata yang akhirnya menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang singgah diotak Jiyeon.
Persetan dengan songsaenimnya.
Kini ia yakin, namja itu hanya miliknya. Dan ialah yang boleh menyentuhnya.
Ya, mulai detik ini, ia akan menetapkan hatinya.
2 Shin Min Ah,
3 Shin Min Ah, bahkan jika ada 4 Shin Min Ah sekalipun berdatangan, tidak akan ia biarkan mengambil Kim Jaejoong darinya.
Baiklah.
Kini ialah pemilik sah dari seorang Kim Jaejoong.
Ya, dia adalah Park Jiyeon.
Hanya Jiyeon.

Kepala Jaejoong kembali menunduk. Kembali mengecup bibir yeoja itu yang tampak memerah. Jiyeon hanya mampu memejamkan matanya. Hanya mampu menerima setiap sentuhan yang namja itu berikan padanya.
Tangannya memeluk leher Jaejoong saat merasakan tangan-tangan namja yang tengah menciuminya itu mulai menjamah daerah dadanya. Remasan-remasan lembut mulai ia terima. Lidah panas Jaejoong mulai turun dan memanjakan puting payudaranya.

Entah kapan Jaejoong telah berhasil melepaskan pengait bra milik Jiyeon, Jiyeon terlalu menikmati sensasi itu dan tak mengingat apapun.
Dada kiri Jiyeon diremas lembut oleh namja yang tengah menghisap puting kanannya. Sensasi ini terus berlanjut hingga terhenti 10 menit kemudian.

Kedua tangan Jaejoong menangkup masing-masing payudara Jiyeon. Jaejoong kembali melumat bibir Jiyeon.
Selagi melumat bibir Jiyeon, Jaejoong menggunakan sebelah tangannya untuk membuka jas dan juga kemejanya. Tangannya mulai meraba daerah intim Jiyeon yang masih terbalut dengan celana rawat.
Jaejoong mulai menurunkan celana Jiyeon, menyisakan celana dalam yeoja itu disana.
Wajah Jiyeon memerah saat merasakan tangan Jaejoong mulai memasuki celana dalamnya dan jari-jari Jaejoong mulai membelai bagian intimya.

“Emmmmhhh….” Desahan Jiyeon lolos begitu saja.

Baiklah, Jaejoong tidak bisa menghentikan ini. Ia sudah menahannya terlalu lama.
Tinggal satu atap dan beberapa hari lalu tanpa sengaja melihat tubuh polos yeoja itu, ini sudah ending. Ending dari nafsunya. Ia tidak bisa menahannya lagi. Adik didalam celananya sudah berontak ingin keluar dari sarangnya dan ingin segera memasuki kenikmatan Jiyeon.

“Ngh…” Jiyeon mencoba mendorong tubuh Jaejoong. Namun nihil. Tenaganya seolah habis.

“Tuhan, ini tidak boleh terlanjut. Setidaknya, jangan sekarang!” Batin Jiyeon.

Jiyeon mendorong dada bidang Jaejoong agar namja itu menyudahi ciuman panas mereka.
Sungguh Jiyeon memerlukan bernafas sekarang.
Akhirnya Jaejoong mengerti dan melepaskan ciuman mereka.

“Hah… Hah… Ha…” Jiyeon mencoba mengatur nafasnya. Tangan Jaejoong juga sudah terlepas dari dalam celana dalamnya.
Ini bisa berbahaya jika dilanjutkan.

“Bisakah oppa menunggu?” Pertanyaan Jiyeon lebih terdengar seperti sebuah permohonan.

Jaejoong sadar akan hal itu. Ia telah terbakar nafsu. Hampir saja ia tidak bisa mengendalikannya.

Jaejoong terus-menerus menahannya, hingga ia berlari mengambil kemeja dan jasnya masuk kedalam kamar mandi yang ada disamping ranjang Jiyeon.
Setidaknya yang harus ia lakukan saat ini adalah kembali menidurkan adiknya yang sudah terbangun didalam celananya.

Jiyeon langsung memakai celana dan memperbaiki pakaiannya.
Ini benar-benar memabukkan.
Jiyeon memerah.
Ya, wajahnya memerah menahan malu.
Jaejoong sudah melihat dan menikmatinya.
Ya, meski belum seluruhnya.
Oh tuhan, jaga Jiyeon hingga waktunya benar-benar tiba!
.
.
.
.
.
Yunho langsung menghempaskan tangan Kahi ketika yeoja itu menyentuhnya. Tatapan yang Yunho berikan untuk Kahi benar-benar mengerikan.
Sebenci itukah namja itu padanya? Kahi membatin.

“Oppa!” Lirih Kahi.
Keduanya. Ya, Kahi dan juga Yunho tak sengaja bertemu di gedung Kim Entertainment, yakni management dimana Kahi bernaung sebagai salah satu artis disana.
Lalu, sedang apa Yunho disana?

Yunho hendak kembali melangkah, namun lagi-lagi Kahi menghalanginya.

“Bisakah kita bicara?”

Yunho memutar kedua bola matanya. Malas menatap yeoja yang ada dihadapannya saat ini.

“Mian Kahi-ssi, sepertinya anda telah salah mengenali orang!” Jawab Yunho yang langsung meninggalkan Kahi begitu saja.

Kahi terdiam. Ingin saat itu juga ia menangis. Sungguh, ia benar-benar menyesal. Menyakitkan ternyata saat orang yang masih sangat kita cintai mengacuhkan kita.

Salahkah Yunho karena bersikap seperti itu padanya?
Tidak.
Ialah yang seharusnya disalahkan. Ia yang membuat semuanya menjadi seperti ini. Egonya, keegoisannya, keserakahannya yang saat itu menutupi tulusnya cinta Yunho terhadapnya.

Kini, ia benar-benar menyesal.
Ia membutuhkan sosok Yunho yang selalu siap kapanpun dan dimanapun untuknya.
Impian bodohnya ini, bukankah tidak akan bertahan lama?
Obsesi yang akhirnya menjerumuskannya pada kehidupan yang mungkin sedikit menyebalkan.
Menjadi seorang artis ternyata tak sehebat dan senikmat yang ia impikan selama ini.
Ia bahkan banyak menemui orang-orang yang tak berperasaan, yang hampir semua menggunakan topengnya masing-masing.
Ia merindukan sosok tulus yang selalu berada disisinya.
Jung Yunho.
Ya, hanya namja itulah yang benar-benar tulus terhadapnya.

Andai waktu itu ia tetap mempertahankan keduanya. Mempertahankan mimpi dan juga cintanya, mungkin ia tidak akan merasa menyesal seperti saat ini.
Sejak awal hanyalah sebuah kebohongan dan ia harus siap kapanpun itu saat kebohongan yang ia buat sejak awal terbuka.

Penyesalan memang selalu datang terlambat, tapi setidaknya kita harus menetralisirnya dari awal sebelum penyesalan itu datang.
.
.
.
.
.
“Shin Min Ah!”

Min Ah yang baru saja memasuki sebuah restaurant langsung menolehkan wajahnya saat seseorang memanggil namanya.

“Lee Junki!” Lirih Min Ah saat melihat sosok namja tampan yang tengah bersama dengan seorang yeoja tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

“Kau mengenalnya, oppa?” Tanya yeoja yang ada disamping namja bernama Lee Junki itu.

“Eum. Kami satu universitas saat di Perancis dulu.”

“Duduklah! Bergabunglah bersama kami!” Pinta Junki saat Min Ah tiba ditempatnya dan mempersilahkan Min Ah untuk duduk satu meja dengan mereka.

“Yeoja ini! Bukankah ia yang waktu itu ditemui Siwon oppa?” Batin yeoja yang ternyata adalah Lee Chaerin, kekasih dari Choi Siwon.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Junki.

“Baik. Bukankah kau seharusnya berada di Italia? Kenapa bisa berada di Korea?”

“Errr, kenapa malah menanyakan hal itu? Kau tidak ingin tau bagaimana keadaanku, eoh?” Protes Junki.

“Ku pikir kau akan selalu baik-baik saja!” Jawab Min Ah acuh.

“Tidak, setelah kau menolakku!”

Hening.
Tak ada lagi yang berbicara.
Ada hubungan apa antara Lee Junki dan juga Shin Min Ah?

“Ehem!” Akhirnya Chaerinlah yang memecahkan keheningan. Ya, ia merasa tidak nyaman berada diantara dua orang ini. Terlebih jika ia melihat Shin Min Ah yang membuat Siwon beberapa hari lalu meninggalkannya.
Siwon?
Ya, ia harus mengetahui ada hubungan apa diantara yeoja itu dengan kekasihnya?

“Perkenalkan! Dia adalah Lee Cherin. Adik sepupuku…”

“Dan juga tunangan dari CHOI SIWON.” Potong Chaerin.

Min Ah hanya memandang Chaerin sekilas membuat Chaerin merasa kesal.
Benar-benar tidak sopan.

“Kurasa kau juga sedang dalam keadaan tidak baik. Shin Min Ah, apa terjadi sesuatu? Apa ada hubungannya dengan Kim Jaejoong?” Tanya Junki khawatir.

“Kim Jaejoong? Ada apa lagi ini? Apa dia juga berhubungan dengan Kim Jaejoong? Oh, andwae! Choi Siwon, Lee Junki dan juga Kim Jaejoong? Bagaimana bisa yeoja kurang ajar ini dapat mengenal mereka semua?” Batin Chaerin yang mulai merasa cemas.

“Aku adalah Shin Min Ah, dan aku tidak memiliki hubungan apapun dengan tunanganmu itu. Kami hanya berteman saat Senior High School. Jadi, berhenti menatapku seolah-olah aku ini yeoja yang hendak menghancurkan hubunganmu!”

“MWO?” Chaerin langsung bangkit mendengar ucapan Shin Min Ah yang benar-benar membuatnya naik darah.

“Chaerin, pulanglah! Oppa akan menyusulmu!” Ucap Junki berusaha mencairkan suasana dan membawa Chaerin keluar dari dalam restaurant sebelum yeoja itu mengamuk didalam sana.

“BAGAIMANA KAU BISA MENGENAL SILUMAN RUBAH ITU, EOH?” Teriak Chaerin kesal.

“Jangan berteriak! Semua orang tengah memandang kita saat ini! Percayalah, dia tidak seburuk itu! Kau pulanglah! Nanti oppa akan menjelaskan semuanya!” Ucap Junki berusaha meredakan emosi Chaerin.

Dengan kesal Chaerin langsung pergi menuju mobilnya dan menjauh dari restaurant itu.

Akhirnya Junki dapat bernafas dengan lega setelah kepergian Chaerin.
Ia pun kembali memasuki restaurant dan menemui Shin Min Ah.

“Sebenarnya apa yang sudah terjadi, hm?” Tanya Junki lembut.
Ya, namja itu sudah lama menyukai sosok Shin Min Ah. Namun yeoja itu selalu menolaknya dengan alasan ia mencintai namja lain. Dari situlah Min Ah menceritakan semua tentang Jaejoong pada Junki.

“Bisakah kau memberikanku minum terlebih dahulu, Lee Junki-ssi?”
.
.
.
.
.
“Ige!”

“Mwoya?” Tanya Jiyeon saat Siwon datang berkunjung dan memberikan sepucuk surat padanya.

“Shin Min Ah tidak dapat mengatakannya secara langsung. Jadi ia menulisnya!” Jawab Siwon memberi penjelasan.

Jiyeonpun menerimanya.

“Aku tidak tau ada apa diantara kalian bertiga, aku malas menanyakannya. Tapi, aku berharap aku tidak terlibat didalamnya!”

Jiyeon hanya tersenyum melihat kekhawatiran Siwon.

“Apa anda bertengkar dengan CL eonnie?” Tebak Jiyeon.

“Kya! Kau pikir aku ini orang asing, eoh? Panggil aku oppa! Kau ini tidak sopan sekali! Dan apa itu CL? Kekasihku hanyalah Chaerin. Lee Chaerin.” Protes Siwon membuat Jiyeon terkekeh mendengarnya.

“Mianhae, Siwon Oppa! CL itu adalah singkatan nama eonnie. Lee Chaerin. Aku membaliknya dari nama kemudian marga. Aku menyukai inisial itu.”

“Eum. Lumayan.” Siwon mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kami bertengkar dan itu semua gara-gara Shin Min Ah!” Tambah Siwon.

“Mwo?”

“Chaerin salah paham dan mengira aku dan Min Ah memiliki hubungan khusus. Tempo hari kami tidak sengaja bertemu!” Jawab Siwon menunduk.

Jiyeon dapat melihat raut kesedihan dari wajah Siwon.
Apakah kasus yang dialami Chaerin sama dengannya?

“Eoh, bagaimana bisa kau mengenal Shin Min Ah?” Tanya Siwon penasaran.

“Beliau salah satu songsaenim yang mengajar disekolahku, oppa!” Jawab Jiyeon.

“Oh, pantas saja! Geundae, ini aneh. Kau tah? Jaejoong langsung marah besar pada Min Ah saat mendengar kau masuk rumah sakit!”

“Igo…. Bukan salah Shin saem. Aku memang sedang kurang sehat, oppa!”

“Errr, sepertinya ada sesuatu yang kalian bertiga sembunyikan dariku!”

Jiyeon menunduk.

“Oppa, lalu bagaimana dengamu?” Tanya Jiyeon yang kembali menarik kepalanya menatap Siwon.

“Mwo?”

“Bagaimana bisa CL eonnie salah paham antara hubungan oppa dengan Shin saem?”

“Igo, Min Ah dan kami bersahabat!” Jawab Siwon.

“Kami?”

“Eum. Aku dan juga Jaejoong!”

Jiyeon hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Siwon.

“Geurae, aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini. Eoh, apa kau tidak apa-apa ku tinggal sendirian? Jaejoong sepertinya akan datang sore hari!”

“Eum. Gwaenchana! Palli! Temuilah CL eonnie dan jelaskan semuanya!”

“Eum. Gomawo, Park Jiyeon. Eoh, Jiyeon saeng.”

Keduanya tertawa. Ya, Jiyeon memang terlihat pantas menjadi adik Siwon.

“Geurae, nan khalke!”

Jiyeon hanya tersenyum melihat kepergian Siwon.
Kemudian matanya beralih pada sepucuk surat yang dituliskan khusus oleh Shin Min Ah untuknya.
Sebenarnya sesuatu seperti apa yang tidak bisa Min Ah katakan secara langsung padanya?
.
.
.
.
.
“Ikutlah bersamaku ke Italia!” Pinta Junki membuat Min Ah langsung menatap namja itu saat mendengarnya.

“Hiduplah denganku! Kita mulai semuanya dari awal!” Tambah Junki.
.
.
.
.
.
Jiyeon perlahan membuka isi surat tersebut.
Benar. Itu tulisan tangan Shin Min Ah. Ia sudah hapal dengan tulisan yeoja yang sudah menjadi songsaenimnya selama 1 tahun itu.

“Jangan menertawakanku saat kau membacanya

Jiyeon berhenti sejenak.
Kalimat pertama saja sudah tidak bersahabat.
Haruskah ia melanjutkan membacanya?
Ya, harus.
Jika ia tidak membacanya hingga selesai, maka ia tidak akan pernah tau akhir dan inti dari surat tersebut.

“Aku mencintai Kim Jaejoong. Itu yang harus kau tau. Aku mencintainya sejak dulu. Sudah lama sekali, bahkan sebelum Jaejoong bertemu denganmu.”

Sedikit sakit. Ya, ia memang harus mengetahui kebenarannya.

Jiyeon kembali membaca isi surat tersebut.

“Aku tidak melarangmu untuk membenciku, lakukan saja! Aku juga tidak akan meminta maaf atas perasaanku dan juga atas semua yang sudah kulakukan. Tapi hanya satu yang kuminta darimu! Tetaplah menjadi hagsaengku hingga akhir dan tetaplah menjadikanku sebagai songsaenimmu hingga aku yang memintamu untuk mengakhirinya!”

Isi surat itu, bukan sebuah permintaan maaf, bukan pula sebuah penyesalan. Itu adalah sebuah permohonan. Permohonan dari seorang songsaenim pada hagsaegnya.

Jiyeon tersenyum.
Ya, untuk urusan hati memanglah ia harus menghadapinya.
Shin Min Ah tetaplah songsaenimnya, panutannya dalam menuntut ilmu.
Berbeda dengan urusan hati.
Ia sendirilah yang menentukannya.
Tak peduli ia akan bersaing dengan songsaenimnya sendiri atau siapapun, ia hanya harus menghadapinya.
.
.
.
.
.
“N oppa, bisakah kau membantuku?” Tanya Kahi yang menerobos masuk ke dalam ruangan N.

“Ne, tentu saja! Katakanlah!” Jawab N.

“Bisakah kau keluar sebentar?”

“Ne?” Tanya N tidak mengerti.

“Aku ingin berbicara sebentar dengan namja yang ada dihadapanmu saat ini!” Jawab Kahi.

“Eoh, ne!”
N. Ya, namja yang menjadi manager grup yeoja bernama After School itupun hanya dapat menuruti anggota baru itu.

Kahi, anggota baru itu adalah Kahi.
Yeoja itu berhasil memenangkan audisi dan berhasil menjadi anggota baru dari After School. Esok rencananya N selaku manager akan memperkenalkan Kahi pada khalayak umum sebagai anggota baru After School.

“Ada hubungan apa mereka berdua?” Gumam N setelah keluar dari dalam ruangannya.
Ya, bukankah itu adalah ruangannya sendiri?
Kenapa ia yang harus keluar dari sana?
Entah N bodoh atau terlalu baik hati.
Abaikan N dan lanjutkan dengan keadaan yang ada didalam ruangan N.

“Berhenti menganggap seolah-olah kau tidak mengenalku, Jung Yunho!”
Ya, namja yang tengah berada didalam ruangan N adalah Jung Yunho. Ia datang kesana bermaksud memberikan handphone N yang lagi-lagi tertinggal ditempat tinggalnya.
Beberapa hari ini N tinggal di tempat Yunho dan namja itu selalu meninggalkan benda penting itu disana dan membuat Yunho harus mengembalikannya pada N dan datang ke tempat kerja N dan sepertinya tempo hari pun sama.

“Jangan mengacuhkanku!” Tambah Kahi. Suaranya mulai bergetar.

“Mian!” Kahipun tertunduk.

“Mianhae! Hiks…” Yeoja itu menangis. Akhirnya pertahanannya runtuh juga.

“Apa yang kau inginkan sebenarnya? Kau yang memintaku untuk tidak mengenalmu, sekarang kau menyalahkanku? Ck, apa kau tengah berakting dihadapanku saat ini eoh?” Sepertinya Yunho mulai terpancing emosinya. Sungguh Kahi benar-benar mempermainkannya.

“Kembalilah padaku! Hiks…” Tangis Kahi.

“Mwo?”

“Kembali menjadi kekasihku! Menemaniku! Selalu berada disisiku!”

“Lelucon macam apa ini? Setelah kau mencampakanku begitu saja, kau memintaku untuk kembali padamu? Kau benar-benar lucu Kahi-ssi!”

“Saranghae!”

Jung Yunho, namja itu mematung saat Kahi mengucapkan kata sakral itu.

“Apa kau belum puas mempermainkan hatiku, eoh?”

Kahi terus menangis. Ia tidak dapat menahannya. Ini yang harus ia tanggung. Ya, ini ulahnya sendiri maka wajar jika ia menerima akibatnya seorang diri.

“Neo! Nappeun yeoja! Demi obsesi bodohmu kau mencampakanku!
Demi impian gilamu kau melukaiku!
Kau sudah menorehkan sakit dihati ini!
Sekarang kau mengatakan kau mencintaiku?
Kau sungguh artis yang luar biasa.
Benar-benar akting yang memukau, Kahi-ssi! Chukkae!”
Yunho langsung melangkah melewati Kahi yang masih menangis, berniat keluar dari dalam ruangan N.

“APA YANG HARUS KULAKUKAN SEKARANG?” Teriak Kahi dan sukses membuat Yunho menghentikan langkahnya.

“Aku mencintaimu. Masih sangat mencintaimu. Aku tau aku salah. Setidaknya beri aku kesempatan untuk menebus semuanya! Hika… ” Tangis Kahi belum jua henti.

“Tinggalkan dunia bodohmu ini! Dan kembali menjadi Park Jiyoung yang dulu!” Jawab Yunho yang langsung membuka pintu dan keluar dari dalam ruangan, menyisakan Kahi yang terduduk lemah dilantai dengan tangis yang tak kunjung henti.
Penyesalan!
Rasa bersalah!
Haruskah ia menerima semuanya?
Sanggupkah ia melepaskan dunia barunya ini dan kembali menjadi Park Jiyoung?
Kembali menjadi kekasih Jung Yunho yang bekerja hanya sebagai pelayan restaurant?
Hanya Kahi sendirilah yang mampu menjawabnya.
.
.
.
.
.
Jaejoong membantu Jiyeon hingga yeoja itu terbaring di ranjangnya.
Ya, Jaejoong dan juga Jiyeon kini sudah kembali ke kediaman mereka.
Oh benarkah?
Bolehkan disebut dengan kediaman mereka sementara mereka sendiripun belumlah menikah?
Baiklah mari kita abaikan persefsi itu.

“Gwaenchana, aku baik-baik saja oppa!” Ucap Jiyeon.

“Ternyata kau ini yeoja yang keras kepala, eoh!” Gerutu Jaejoong.

Jiyeon hanya dapat tersenyum mendengarnya.
Bukankah jika seperti ini mereka lebih terlihat sebagai sepasang kekasih?
Jiyeonpun tidak lagi sungkan untuk mengatakan perasaannya pada Jaejoong.

“Beristirahatlah!” Ucap Jaejoong seraya mengelus puncak kepala Jiyeon lembut.

“Eoh, apa kau ingin oppa menemanimu tidur disini?” Goda Jaejoong.

Jiyeon langsung tersipu. Ia hanya dapat menundukkan wajahnya berharap Jaejoong tidak melihat rona yang muncul diwajahnya. Namun sepertinya namja itu sudah melihatnya dan ia terlihat senang.
Sepertinya ini akan menjadi hobi baru Jaejoong.

“A-andwae! A-aku akan segera tidur!” Jiyeon kembali tergagap membuat Jaejoong benar-benar geli melihatnya.

Jaejoong mendekatkan wajahnya membuat Jiyeon sontak memandangnya.
Keduanya kini saling melempar pandang, saling menatap intens.

“W-wae?” Tanya Jiyeon gugup.

“Oppa akan menunggu!” Jawabnya lalu mengecup singkat bibir Jiyeon membuat Jiyeon semakin dibuat malu olehnya.

Menunggu?
Apa maksudnya ucapan itu tertuju pada kejadian yang belum terselesaikan didalam ruangan saat ia dirawat dirumah sakit?
Andwae!
Wajah Jiyeon benar-benar terasa semakin memanas.
Entah sudah semerah apa wajahnya kini mengingat itu semua.

“O-oppa!” Panggil Jiyeon saat Jaejoong hendak keluar dari dalam kamarnya.

“Eum?” Jaejoong langsung berbalik dan menghentikan langkahnya.

“A-apa ki-kita pernah be-bertemu sebelumnya? Ba-bagaimana bisa o-oppa jatuh ci-cinta padaku?”
Pertanyaan itu?
Ya, pertanyaan itu adalah sumbernya.
Sumber dari semua kejadian yang Jiyeon alami.

Jaejoong tersenyum menanggapinya.

“Akan oppa ceritakan besok! Sekarang beristirahatlah!”
Jaejoongpun kembali melanjutkan langkahnya dan keluar dari dalam kamar Jiyeon.
.
.
.
.
.
“Permintaan Junki, haruskah aku terima? Pergi ke Italia dan meninggalkan Korea. Memulai hidup baru tanpa seorang Kim Jaejoong.” Batin Shin Min Ah yang saat ini tengah berdiri diujung kamarnya. Menatap suasana malam dari jendela kamarnya.
Sanggupkah ia melepaskan Jaejoong dan menerima kehadiran Junki dihidupnya?
.
.
.
.
.
Semoga puas dengan part ini!
Coment Jusaeyo!

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 5

image

       IF I RULED THE WORLD
                   (part 5)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong (JYJ)

Other Cast :
Park Jiyoung aka Kahi (After School)
Jung Yunho (TVXQ)
Choi Siwon (Super Junior)
Shin Min Ah
Lee Chaerin aka CL (2ne1)
Yoo In Na
Cha Hakyeon aka N (VIXX)

Songfict :
GD (Bigbang) ft CL (2ne1) R.O.D

Genre :
Romance, Hurt, Bondage, Family, NC 21+

Length. :
Chaptered

A/N :
Langsung comot!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
“Jae-Ah!” Panggil seorang yeoja bername tag Shin Min Ah.

“Hm!” Jawab sang namja.

“Naega…..”

Kim Jaejoong, itulah namja yang saat ini masih menanti ucapan yang akan dikatakan oleh Shin Min Ah sahabatnya itu.

“Naega joahaeyo!” Ucapnya.

Jaejoong, namja itu tak terkejut sedikitpun. Namja yang masih mengenakan seragam Senior High Schoolnya itu hanya menatap datar.
Mungkinkah ia sudah mengetahuinya terlebih dahulu?
Mengetahui bahwa Shin Min Ah memiliki perasaan lebih terhadapnya.

“KYA! KIM JAEJOONG!” Teriak seorang namja bername tag Choi Siwon.

“Kya! Aku mencarimu! Eoh, Min Ah!” Sepertinya Siwon baru menyadari kehadiran Shin Min Ah disana.

“Apa aku mengganggu?” Tanya Siwon.

“Ada apa mencariku?” Tanya Jaejoong.

“Eoh, appa mengatakan bahwa tuan besar Kim ingin menemuimu. Ku rasa inilah saatnya kau menggantikan beliau.”

Jaejoong langsung berlari meninggalkan kedua sahabatnya itu.

“KYA!” Teriak Siwon kesal.

“Benar-benar keterlaluan!” Gerutunya.

Shin Min Ah, ia hanya terdiam memandang kepergian Jaejoong. Bahkan pernyataannya barusan pun belum Jaejoong tanggapi.

“Eoh, apa aku mengganggu kalian? Apa ada hal penting yang tengah kalian bicarakan?” Tanya Siwon penasaran.

Min Ah lalu berjalan meninggalkan Siwon membuat Siwon merasa kesal karena kembali diabaikan.

“Aissh, apa salahku eoh?” Gerutunya.

Setelah itu, Jaejoong yang notabene memang sosok yang dingin menjadi sosok yang lebih dingin terhadap Min Ah. Atau mungkin itu hanya perasaan Min Ah saja. Min Ah merasa Jaejoong menghindarinya. Bahkan hingga lulus senior high school pun mereka tak terlihat bersama. Beruntung karena mereka berdua mempunyai sahabat seperti Siwon yang malas mempertanyakan kebenaran yang terjadi antara Jaejoong dan juga Min Ah.
.
.
.
.
.
Min Ah terus saja memandang foto masa senior high school nya. Ia mengingat masa lalunya. Mengingat saat terakhir kali ia berinteraksi dengan namja itu.

Sulit?
Ya, itu yang ia rasakan saat pertama kali ia mulai menaruh hati pada sosok Kim Jaejoong. Namja itu terlalu dingin. Bahkan ia belum pernah melihat namja itu tersenyum saat menerima berbagai penghargaan saat memenangkan berbagai olimpiade baik akademik maupun non akademik di sekolahnya. Namja itu hanya dapat memperlihatkan wajah datarnya, namun tetap bisa membuat siapapun yang memandangnya terkagum-kagum dengan paras yang namja itu miliki.

Saat itu, Jaejoong memang hanya terlihat dengan Siwon. Tidak. Sepertinya namja itulah yang enggan menerima kehadiran orang lain selain Siwon.

Entah hari itu adalah hari keberuntungan bagi Min Ah atau hari buruknya.
Saat ia berada didalam ruang musik yang sudah tidak berpenghuni, sang Appa menghubunginya. Memberitahukan bahwa sang eomma yang memang tengah sakit parah karena leukimia yang dideritanya meninggal dunia. Saat itu pulalah Min Ah langsung ambruk mendengar kabar itu dan tepat disaat itulah Jaejoong melihatnya. Jaejoong yang kebetulan tengah melewati ruang musik tanpa sengaja melihat tubuh Min Ah yang sudah tak sadarkan diri. Ia lalu membantunya dan membawanya menuju ruang kesehatan yang ada disekolahnya itu.

Jaejoong menungguinya hingga yeoja itu terbangun. Meski ia sosok yang dingin, sungguh ia tidak tega melihat Min Ah seorang diri mengingat hampir semua penghuni sekolah sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.

Saat Min Ah sadar, ia begitu senang melihat keberadaan Jaejoong disisinya. Detik itu juga ia menangis membuat Jaejoong menautkan kedua alisnya bingung. Disaat itulah Min Ah menceritakan bahwa eommanya baru saja meninggal dunia. Dan Jaejoong tersentuh saat melihat Min Ah yang begitu terlihat amat terpukul. Mungkin Jaejoong dapat merasakan bagaimana perasaan Min Ah saat itu. Jaejoong lalu mengantarkan Min Ah pulang dan menemani Min Ah hingga acara pemakaman sang eomma berakhir.

Sejak saat itu, Min Ah dekat dengan Jaejoong. Namun tak dapat membuat namja itu berubah. Ia tetap menjadi namja yang dingin, hanya saja yang berubah adalah ia menerima kehadiran Min Ah disisinya selain Siwon.

Min Ah selalu menceritakan kenangannya bersama almarhum sang eomma. Terdengar dari cerita yang ia ucapkan, yeoja itu amatlah dekat dengan sang eomma. Hingga pada akhirnya, semua kembali seperti pertama kali setelah Min Ah mengatakan isi hatinya pada Jaejoong. Jaejoong kembali menjadi sosok yang hanya dapat menerima kehadiran Siwon sebagai orang terdekatnya.

Setelah lulus senior High School, Min Ah memutuskan untuk melanjutkan studynya keluar negeri lalu kembali ke Korea dan mengajar disekolah khusus yeoja, yakni sekolah dimana Jiyeon menjadi hagsaeg disana.
Min Ah tersenyum miris mengingat masa lalunya.

“Hanya karena seorang Park Jiyeon?” Cibirnya.
Hatinya benar-benar kembali terluka. Memang tidak ada penolakan yang diucapkan Jaejoong atas pernyataannya. Namun namja itu menjawab melalui tindakannya. Tindakannya yang kembali seolah ia tak berteman akrab dengan Min Ah.

Lalu, siapa yang harus disalahkan?
Min Ah kah?
Karena ia telah berani mengatakan perasaannya pada Jaejoong?
Bukankah memang wajar jika kita menyukai seseorang dan mengatakannya?
Lalu, apakah salah Jaejoong?
.
.
.
.
.
Jiyeon terus terdiam. Baik Jaejoong maupun Jiyeon tak ada satupun yang memulai pembicaraan.

Jiyeon, yeoja itu sepertinya tengah menata perasaannya.
Bagaimana tidak,
ia melihat namja yang mengaku sebagai kekasihnya, namja yang membuat ia harus tinggal bersamanya, namja yang mengatakan ingin memiliki Jiyeon seutuhnya, namja itu telah berciuman dengan yeoja yang ternyata songsaenimnya disekolah.

Bolehkah ia bertanya?
Ada hubungan apa antara Jaejoong dan Min Ah?
Kenapa mereka berciuman?
Apa sebelumnya mereka sudah saling mengenal?
Lalu, bagaimana dengan dirinya?
Jiyeon ingin menanyakan semuanya.

Namun, ia kembali mengingat tentang bagaimana perasaan Jaejoong terhadapnya.
Ia akui, ia telah jatuh hati pada namja itu. Tapi, apakah namja itu juga merasakan hal yang sama?
Jiyeon belum mendengar langsung hal itu dari mulut Jaejoong.
Ya, ia ingin mendengarnya. Ingin memastikannya.

“Oppa!”

“Hm!”

“Bolehkah aku menemui Jiyoung eonnie?”

Jaejoong menoleh kearah Jiyeon. Ya, saat ini keduanya masih berada didalam mobil.

“Kahi. Maksudku adalah Kahi eonnie.” Ralat Jiyeon yang baru saja mengingat bahwa eonnienya itu telah mengganti namanya semenjak menjadi artis.

“Hm!” Jawab Jaejoong.

“Gomawo!”

Suasana terasa canggung didalam mobil. Sebenarnya keduanya tengah menata hati masing-masing. Tak ingin memperkeruh suasana atau menambah masalah. Mereka berdua perlu waktu. Hanya itu.
.
.
.
.
.
“Apa terjadi sesuatu yang buruk?” Tanya Siwon saat menyerahkan beberapa berkas kehadapan Jaejoong.

“Apa Jiyeon sakit?” Tambah Siwon.
Ya, tentu saja Siwon merasa aneh melihat Jaejoong yang terus terdiam setelah menjemput Jiyeon dari sekolahnya.

Jaejoong langsung menatap Siwon.

“Kya! Jangan menatapku seperti itu!” Protes Siwon.

“Kau lebih cerewet setelah mendapatkan kekasih!”

“MWO?”

“Tutup mulutmu!”

Ada nada marah saat Jaejoong mengatakan itu. Siwon langsung mengerti dengan sinyal itu. Suasana hati Jaejoong sedang buruk. Akan fatal akibatnya jika ia menanyakan banyak hal pada namja itu.

“Myungsoo sudah berangkat ke Amerika 1 jam yang lalu dan nyonya besar ikut bersamanya. Katanya beliau ingin berlibur disana.” Lapor Siwon.

“Hm!”

Siwon membungkukkan tubuhnya kemudian keluar dari dalam ruangan Jaejoong.

Sepeninggalan Siwon dari dalam ruangannya, Jaejoong langsung mengurut keningnya yang terasa begitu pening. Kejadian sore tadi benar-benar membuat kacau pikirannya.

Ia menghentikan aktifitasnya ketika melihat ada panggilan masuk pada androidnya.

“Hm!”

“Hm!”

Ia kemudian menutupnya. Melempar sembarang androidnya diatas meja dihadapannya. Ia kembali mengurut keningnya.
Apa yang harus ia lakukan?
.
.
.
.
.
“Eonnie sudah menghubungi sajangnim! Beliau mengijinkanmu untuk tinggal disini malam ini!” Ucap Kahi yang ternyata baru saja menghubungi Jaejoong.

“Gomawo eonnie.”

“Eum. Apa kau baik-baik saja? Kau sakit? Kau terlihat lemas, Jiyeon-Ah!” Tanya Kahi khawatir melihat Jiyeon yang hanya duduk terdiam didalam kamar yang sudah Kahi siapkan didalam apartementnya.

Jiyeon hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Kahi.

“Geurae, eonnie harus kembali berlatih. Eonnie sedang ada project untuk mengikuti audisi pemilihan anggota salah satu grup vocal yeoja.”

“Jeongmal?”

“Eum. Eonnie akan tunjukkan pada semuanya, bahwa eonnie ini artis serba bisa.”

Jiyeon hanya terseyum melihat Kahi yang begitu bersemangat.

“Kalau begitu, eonnie akan kembali berlatih!”

“Eum!” Jawab Jiyeon seraya menganggukkan kepalanya.

Kahi kemudian keluar dari dalam kamar dan meninggalkan Jiyeon seorang diri didalam kamar.

Jiyeon kemudian menarik kedua kakinya. Memeluknya dan menundukkan wajahnya.
Yeoja itu menangis.
Ya, Park Jiyeon menangis. Kenapa rasanya seperti ini? Masih terlihat jelas diingatannya saat ia melihat Kim Jaejoong berciuman dengan Shin Min Ah, songsaenimnya.

Kenapa ia merasa telah dipermainkan oleh kedua orang itu?
Apa untungnya bagi mereka berdua?
Lalu, kenapa mereka melakukannya?
Berhakkah ia marah?

Jiyeon, tangisnya semakin mengeras seiring dengan suara musik yang terdengar cukup keras diluar kamarnya. Sepertinya Kahi memang benar-benar tengah berlatih saat ini. Setidaknya ini bagus. Kahi tidak akan mendengar suara tangisannya.

Sekarang, apa yang harus ia lakukan?

Mungkin hari ini ia bisa menghindar dari sosok Jaejoong, tapi bagaimana dengan besok?
Sanggupkah ia bersama namja itu?

Disaat ia  sudah benar-benar menyukai namja itu, kenapa namja itu malah melakukan hal seperti ini padanya?
Mempermainkannya?

Ya, mungkin memang sejak awal Jaejoong hanya ingin menjadikannya sebagai alat mainannya saja.
Namja itu bisa kapan saja membuangnya.

Kenapa rasanya sangat perih menyadari kemungkinan itu? Kenapa ia lagi-lagi tersakiti oleh keluarga Kim?
Apakah dulu rasanya sesakit ini?
Tidak.
Karena dulu Jiyeon hanya memandang fisik Myungsoo, mungkin hanya menganguminya.
Namun, bagaimana dengan kali ini?
Apakah sejak pertemuan pertamanya dengan Jaejoong, namja itu memang sudah berhasil mengambil hatinya?

Jiyeon hanya bisa menangis. Menangis seorang diri. Itulah dia. Dia tidak terbiasa membagi hal menyedihkan dengan siapapun semenjak kepergian kedua orang tuanya. Ia hanya mampu menanggungnya sendiri. Tidak ingin menyusahkan siapapun termasuk dengan eonnienya sendiri. Itulah sosok Park Jiyeon yang sebenarnya.
.
.
.
.
.
“Shin Min Ah!” Ucap Siwon.

“Mwo? Apa kau tengah berselingkuh dibelakangku, Choi Siwon?” Protes Chaerin saat kekasihnya itu menyebutkan nama yeoja lain ketika bersama dengannya.

“Ne? Ani ani ani. Mana mungkin aku melakukannya!” Jawab Siwon membela diri.

“Lalu siapa Shin Min Ah itu, eoh?” Chaerin masih belum puas dengan jawaban yang Siwon berikan padanya.

“Gidaryeo ne, chagiya!” Pinta Siwon yang langsung bangkit dari kursinya.

“MWO?” Chaerin terlihat kesal karena lagi-lagi Siwon meninggalkannya.
Ya, keduanya saat ini tengah berada di sebuah restorant, lebih tepatnya direstorant yang sama saat Siwon melamarnya.

“Shin Min Ah?” Tanya Siwon memastikan saat ia sudah berada tepat dimeja yang Shin Min Ah tempati.

“Choi Siwon!” Jawab Min Ah saat melihat sosok Siwon.

“Eoh, ternyata benar ini kau. Bagaimana kabarmu?” Tanya Siwon yang langsung duduk dihadapan Min Ah.

“Baik. Bagaimana denganmu?”

“Aku juga. Ku dengar kau melanjutkan study ke luar negeri. Kapan kau kembali?”

“Eum. Sudah hampir 1 tahun aku kembali ke Korea.”

“Lumayan lama juga, ya. Tapi aku baru kali ini bertemu denganmu.”

“Aku menjadi guru disekolah khusus yeoja.”

Siwon hanya menganggukkan kepalanya.

“Eoh, apa kau sudah bertemu dengan Jaejoong?”

Min Ah diam sejenak. Ingatannya kembali saat ia berhasil mencium Jaejoong dan ternyata dilihat oleh Jiyeon. Sedikit sakit saat melihat Jaejoong menghampiri Jiyeon dan membantu Jiyeon memungut buku-buku yang Jiyeon jatuhkan, mungkin hagsaegnya itu amat terkejut melihat Jaejoong berciuman dengannya.
Tunggu!
Itu adalah ciuman sepihaknya.
Baiklah, hanya ciuman yang ia seoranglah yang menikmatinya.
Namun yang lebih menyakitkan adalah saat Jaejoong menarik tangan Jiyeon dan menyerahkan buku-buku itu padanya dan meninggalkannya.
Sungguh, itu lebih menyakitkan dari apapun.
Ia marah.
Ia ingin melempar semua buku-buku yang Jaejoong berikan padanya tepat kearah dua orang yang menjauh dari pandangannya itu. Namun ia tak sanggup. Setidaknya ia telah mencuri ciuman dari Jaejoong dan begitu menyenangkan saat ia melihat ekspresi Jiyeon saat itu.

“Kya! Apa yang kau pikirkan?” Tanya Siwon membuyarkan lamunan Min Ah.

“Eoh, ani. Apa kau datang sendiri?”

“Tentu saja tidak. Aku bersama dengan…….” Siwon langsung bangkit mengingat bahwa ia tengah bersama dengan kekasihnya.

“Matilah aku!” Gerutunya saat tak mendapati keberadaan Chaerin di meja semula.

Min Ah hanya mengerutkan keningnya, tanda bahwa ia tidak mengerti dengan situasi yang tengah Siwon alami saat ini.

“Baiklah, Shin Min Ah. Aku harus segera kembali! Senang bisa bertemu denganmu kembali!”
Siwon membungkuk dan langsung berlari meninggalkan Min Ah dan tentu saja mencari Lee Cherin, kekasihnya.

Min Ah hanya tersenyum merendahkan. Siwon masih sama seperti dulu. Masih seperti seorang budak dimatanya. Tentu ia tau dengan jelas bagaimana sikap Siwon terhadap Jaejoong.
.
.
.
.
.
“Eoh, sajangnim!” Sapa Kahi saat melihat Jaejoong yang ada ditempat parkir apartementnya.

“Jiyeon, sepertinya ia demam! Saya tidak bisa menemaninya, saya harus mengikuti audisi pemilihan anggota grup vocal yeoja.”

Jaejoong terlihat panik mendengar bahwa Jiyeon yang tengah dalam keadaan demam.

“Saat ia tiba disini, ia memang sudah terlihat kurang sehat. Ini kartu apartement saya. Berada dilantai 123. Saya permisi dulu Sajangnim!” Pamit Kahi yang langsung menuju mobilnya.

Jaejoong menggenggam kartu yang Kahi berikan padanya dan tanpa menunggu lama iapun langsung menaiki lift menuju apartement yang berada dilantai 123.

“Batalkan semuanya!” Jawab Jaejoong saat menerima panggilan masuk pada layar androidnya.
Baginya, lift didalam apartement itu terlalu pelan. Rasanya sangat lambat. Apa tidak ada cara lain selain menaiki lift untuk mencapai lantai 123?
Menaiki tangga darurat?
Oh! Jangan gila!
Jaejoong bisa pingsan sebelum bertemu dengan Jiyeon.
Itu hanya perasaanya saja. Ia begitu mengkhawatirkan yeoja itu.

Begitu senangnya ia saat tiba dilantai 123. Dia mencari pintu apartement yang sesuai dengan nomor yang tertera pada kartu yang Kahi berikan padanya. Ternyata ia harus bersabar.

Ia langsung menggesekkan kartu itu didepan pintu yang sudah ia temukan dan pintu apartement pun langsung terbuka.
Kakinya melangkah mencari sosok Jiyeon.

“KYA!” Teriak Jiyeon.

Jaejoong hanya dapat mematung melihat pemandangan yang ada didepannya. Jiyeon yang tanpa sehelai kainpun ditubuhnya.

Bukannya segera keluar dari dalam kamar yang tanpa permisi ia masuki, ia malah terlihat begitu menikmati pemandangan itu.
Hingga akhirnya Jiyeon melemparkan bantal tepat mengenai wajah Jaejoong dan Jiyeon langsung berlari memasuki kembali kamar mandi yang ada disamping ranjang tidur. Barulah Jaejoong tersadar.

Luar biasa!
Jaejoong bahkan tak bernafas melihat Jiyeon dengan tubuh polosnya itu.
Oh tidak.
Adik didalam celananya terbangun.
Ini berbahaya.
.
.
.
.
.
“Yunho!” Lirihnya saat tanpa sengaja Kahi melihat sosok Yunho didalam ruang audisi.

“Omo, bukankah itu Kahi!” Ucap seorang namja berambut hitam yang ada disamping Yunho.

Yunho refleks membalikkan tubuhnya. Keduanya saling melempar pandangan. Namun Yunho langsung kembali menolehkan wajahnya.

“Aigoo, ternyata aslinya pun benar-benar cantik!” Kagum sang namja.

“N, aku akan kembali ke restaurant!” Pamit Yunho.

“Eum. Gomawo Yunho-Ah karena sudah mau mengantarkan handphoneku kesini!” Jawab namja yang dipanggil N oleh Yunho itu.

Yunho tersenyum. Ia pun berjalan menuju pintu keluar dan melewati Kahi begitu saja.

Kahi hanya dapat mematung.
Yunho, apakah namja itu tidak mengenalinya?
Tidak. Ialah yang meminta namja itu untuk tidak mengenalnya.
Tapi, kenapa rasanya sesakit ini saat Yunho benar-benar mengabaikannya?
Apakah ia mulai merasa menyesal?

“Baiklah, kita akan memulai audisinya!” Ucap Namja yang beberapa detik lalu terlihat bersama dengan Yunho.

“Siapa namja itu? Ia terlihat akrab dengan Yunho.” Batin Kahi.

Audisipun dimulai. Ada lebih dari 10 yeoja cantik berbakat yang mengikuti audisi. Kahipun tidak mau kalah. Ia akan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ia akan menampilkan talenta yang ia miliki dan ia pastikan, ia akan memenangkannya. Bukan karena statusnya yang sudah menjadi seorang artis yang dikenal banyak masyarakat, tapi karena kemampuan yang ia miliki. Ia tidak akan menyia-nyiakan latihan yang ia lakukan selama ini. Apapun yang terjadi, ia harus memenangkannya. Tekadnya.
.
.
.
.
.
Keduanya hanya mampu terdiam. Duduk diatas sofa yang ada diruang tengah apartement Kahi.
Ada apa dengan keduanya?
Kenapa mereka terlihat begitu canggung?
Atau mungkin karena malu?

“A-akan aku ambilkan mi-minum u-untuk o-oppa!”

Jiyeon hendak bangkit namun langsung dihalangi oleh Jaejoong.

“Tidak perlu!”

Jiyeon kembali duduk, namun pegangan tangan Jaejoong pada lengannya belumlah terlepas. Membuatnya susah untuk bernafas.

Jaejoong kemudian menggeser posisinya, duduk lebih dekat lagi dengan Jiyeon, membuat yeoja itu semakin merasa tidak nyaman.

Lengan Jiyeon akhirnya terlepas dari tangan Jaejoong, Nlnamun kini beralih ke keningnya. Punggung telapak tangan Jaejoong mendarat disana.

“Sepertinya demam mu sudah turun!” Ucap Jaejoong.

Bagaimana namja itu tau kalau Jiyeon mengalami demam?
Oh! Pasti Kahi yang memberitahunya. Pikir Jiyeon.

“Harusnya tidak usah mandi dulu, nanti demamnya makin parah!” Tambah Jaejoong.
Jaejoong mendekatkan wajahnya. Menempelkan keningnya dengan kening Jiyeon.

“Bhogosippo!” Lirihnya.

Jiyeon hanya dapat terdiam. Ia dapat merasakan nafas Jaejoong yang menerpa wajahnya. Jantungnya berdetak abnormal. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Bahkan tubuhnya tidak bisa ia gerakan sama sekali.

Tangan Jaejoong bergerak menyentuh lengan Jiyeon. Semakin naik menuju leher Jiyeon, lalu menyentuh dagu Jiyeon membuat Jiyeon menatapnya. Jiyeon dapat melihat ketulusan dari mata Jaejoong.
Apa ini hanya ilusi?
Jelas-jelas namja itu telah berciuman dengan yeoja lain! Apa ia harus menolak fakta itu dan menerima fakta yang ada dihadapannya saat ini?

“Jangan membuat oppa khawatir! Kau harus selalu sehat!” Tambahnya.

Oh Tuhan!
Namja ini terlalu baik untuk menyakitinya!

Jaejoong mulai memejamkan matanya. Mendaratkan bibirnya tepat dibibir Jiyeon.
Jiyeon yang memang sudah terhipnotis hanya dapat pasrah menerimanya. Ia pun ikut memejamkan matanya. Air matanya sungguh tidak dapat ia bendung lagi. Berharap bibir Min Ah yang mendarat dibibir Jaejoong dapat hilang bekasnya. Sungguh ia tidak rela namja itu membaginya dengan yeoja lain.

Kim Jaejoong, bolehkah Jiyeon juga memilikinya?
Seutuhnya?
.
.
.
.
.
“Yeoja itu tidak masuk sekolah hari ini!” Gumam Min Ah.

“Kim Jaejoong, apa kau juga berusaha menjauhkannya dariku?” Tambahnya.
Terlihat rona marah diwajah Min Ah.

Yeoja itu, ia masih belum berubah! Ia masih sama seperti dulu.
Siapa yang mampu membuka kedoknya?
.
.
.
.
.
“Eoh, ia benar-benar membawanya pulang!” Gumam Kahi saat melihat pesan yang dikirimkan Jaejoong padanya melalui androidnya.

“Kahi-ssi!” Sapa namja berambut hitam.

“Eoh, ne!”

“Penampilanmu sungguh luar biasa! Kau benar-benar berbakat! Suaramu juga sangat indah! Ku harap juri yang lain juga memilihmu!”

“Eoh, kamsahamnida….”

“N. Panggil saya N. Saya adalah manager After School. Grup yeoja yang tengah melakukan audisi untuk anggota baru ini. Saya berharap kaulah yang menjadi anggota baru dan bergabung bersama kami!”

“N. Jadi namanya N. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya tentang Yunho. Kuharap ini akan menjadi awal yang baik!” Batinnya.

“Ne, annyeong N-ssi! Semoga saya bisa memenangkan audisi ini dan bisa bekerja sama dengan anda! Senang bisa berkenalan dengan anda!” Jawab Kahi.

“Jangan sungkan! Aku adalah salah satu penggemarmu, Kahi-ssi. Kemampuanmu dalam berakting sungguh luar biasa. Kau memang benar-benar artis berbakat!” Tambah N.

“Kamsahamnida! Anda terlalu berlebihan memuji saya, N-ssi!” Timpal Kahi merona menerima pujian dari N.

“Geundae, bagaimana bisa anda menjadi seorang manager diusia semuda ini?”

“Eoh? Hahaa…….” N menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Sebenarnya usia saya sudah hampir kepala 3. Saya memang dikarunia wajah yang lebih muda dibandingkan dengan usia saya. Hahaha….”

“Eoh, jeongmalyo? Apa itu berarti aku harus memanggil anda dengan oppa?” Canda Kahi.

Keduanya tertawa. Sepertinya mereka akan lebih akrab setelah ini.
.
.
.
.
.
Jaejoong begitu terkejut mendapati Min Ah yang sudah berada didalam mobilnya, duduk disamping kursi kemudinya.

“Aku ingin berbicara. Kalau kau ingin melihat Jiyeon kembali memergoki kita, maka tetaplah disini! Aku sudah bisa menebak ekspresi seperti apa yang akan Jiyeon tunjukkan saat melihat kita!”

Sungguh, bisakah yeoja dihadapan Jaejoong ini dimusnahkan detik itu juga?

Dengan terpaksa Jaejoong menyalakan mesin mobilnya. Melajukannya menjauhi sekolah Jiyeon.

Ya, pagi ini ia mengantarkan Jiyeon kesekolahnya seperti biasa. Meski Jaejoong melarang karena merasa Jiyeon masih kurang sehat, namun yeoja itu memohon padanya. Ia merasa tidak nyaman karena sudah bolos sekolah kemarin karena sakit. Ia tidak ingin semakin banyak tertinggal pelajaran. Ia harus tetap mempertahankan prestasinya, salah satunya adalah absenannya.

“Turun!” Perintah Jaejoong saat ia menghentikan mobilnya tak jauh dari pintu gerbang sekolah.

“Sekarang jelaskan padaku! Kenapa kau bisa menyukai seorang Park Jiyeon? Apa yang kurang dariku? Dia tidaklah lebih baik dariku!”

Jaejoong menggenggam kemudinya dengan keras. Berusaha menahan emosinya yang siap meledak karena ucapan Min Ah.

“Kubilang, turun!” Jawab Jaejoong menekankan setiap kata-katanya.

“Ck, jangan membuatku menyia-nyiakan moment ini! Aku sudah cukup bersabar selama ini. Kau mengabaikanku setelah aku menyatakan perasaanku padamu. Apa itu sebuah kesalahan sehingga sejak saat itu kau menjauhiku, eoh? APA MENCINTAIMU ITU ADALAH SEBUAH DOSA? LALU BAGAIMANA SEKARANG? KAU BAHKAN TENGAH MENGEJAR YEOJA YANG SAMA SEKALI TIDAK ADA HARGANYA! YEOJA YANG KAU SUKAI ITU SAMA SEKALI TIDAK MEMPUNYAI KELEBIHAN APAPUN! DIA HANYA….”

“CUKUP! Aku bisa benar-benar melakukan hal buruk jika kau terus-menerus mengatakan hal kotor tentangnya!” Geram Jaeoong.

“Kau bilang dia tidaklah lebih baik darimu? Apa itu lelucon?” Tambah Jaejoong.

“Mwo?”

“Kau! Yeoja berhati busuk! Memanfaatkan rasa iba yang kumiliki untuk mendekatiku!”

“A-Apa yang-yang kau katakan?”

“Kau fikir aku tidak mengetahui semua cerita-cerita tentang eommamu itu bohong, eoh? Eommamu sudah bercerai dengan appamu sejak kau masih junior high school dan kalian tinggal terpisah sejak itu, bukan? Kau seolah-olah dekat dengannya. Menceritakan semua kepalsuan tentangnya padaku.”

Sungguh Min Ah tercekak detik itu juga.
Jaejoong, mengetahui semuanya?
Sejak kapan?

“Kau juga membuat para hagsaeg yeoja disekolah ketakutan. Jika ada yang berusaha mendekatiku, kau akan langsung menyiksa mereka. Itu bagus untukku, setidaknya aku tidak perlu menghadapi mereka satu-persatu karena akan sangat merepotkan jika aku melakukannya. Tapi, apa menurutmu itu hal yang benar? Menyebarkan gosip bahwa kita berpacaran! Lucu!”

Min Ah, sungguh sejauh itukah Jaejoong mengetahui semuanya?

“Dan sekarang kau bilang dia yeoja yang tidak ada harganya? Dia bahkan lebih berharga darimu! Saat ia merasa sakit, ia tidak pernah mengeluh pada siapapun. Saat ia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi saat kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dapat menangis seorang diri menanggungnya. Ialah sosok berharga yang meski kuserahkan semua hartaku demi mendapatkannya, itu tidak sebanding dengan kebaikan hatinya.”

Min Ah, air matanya mengalir begitu saja.
Disana. Dimata seorang Kim Jaejoong, ia benar-benar melihat bahwa namja itu begitu tulus pada Jiyeon.

“Lalu, apa kau memikirkan perasaannya saat melihat kejadian tempo hari di sekolah?
Kau hanya tau ekspresi apa yang ia tunjukkan, tapi kau tidak memahami apa yang ada didalam hatinya.
Kau songsaenimnya. Kau yang menjadi panutannya.
Sekarang, apakah pantas kau menjadi songsaenimnya setelah melakukan hal itu?
Jawabannya adalah
TI-DAK.
Kau sama sekali tidak pantas menjadi panutannya.
Ia terlalu berharga untuk menjadi hagsaegmu.”

Min Ah, sungguh ia benar-benar merasa hancur kali ini.
Seburuk itukah ia?
Ya, ia memang seperti itu. Itulah kebenarannya. Tidak ada yang salah sedikitpun dari ucapan Jaejoong tentangnya.

“Kau bilang kau mencintaiku? Kau bahkan tidak mengerti arti dari cinta itu sendiri. Kupikir setelah beberapa tahun ini semuanya akan berubah, ternyata kau masih sama seperti dulu. Kau hanya terobsesi padaku dan bukanlah cinta. Selama kau belum berhasil mendapatkanku, kau akan terus berusaha mengejarku. Tidak ada ketulusan disana. Kau masih belum mengerti hal itu.”

Min Ah terisak. Ia menunduk. Menyesalkah ia dengan semuanya?

“Sekarang kau mengerti bukan kenapa aku menjauhimu! Aku tidak menyukai orang yang hanya memanfatkan kebaikan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Aku tidak butuh orang seperti itu. Dan itu adalah dirimu!”

Min Ah tidak sanggup menjawabnya. Kartu matinya sudah terbongkar. Semuanya. Semuanya sudah berakhir.

“Turunlah! Jangan menyia-nyiakan gelar yang kau dapatkan selama melanjutkan study di luar negeri! Jiyeon pasti sudah menunggumu di kelas!” Tambah Jaejoong bijak.

Min Ah, ia kemudian keluar dari dalam mobil Jaejoong.

Jaejoong langsung melajukan mobilnya. Melesat meninggalkan sosok seorang Shin Min Ah.

Min Ah hanya dapat berjalan kaki demi mencapai sekolahnya. Rasanya sakit. Namun ia berusaha menahannya. Menghapus air matanya. Tidak ada celah baginya untuk bisa memasuki hati Jaejoong.
Sanggupkah ia bertemu dengan Jaejoong dan juga Jiyeon setelah ini?

Sementara itu didalam ruang kelas Jiyeon.

“Dari mana saja kau, eum?” Tanya Jiyeon pada Yoo In Na yang baru saja memasuki kelas.

“Mian, aku terlambat. Semalam aku harus menemani appa sehingga tidur larut malam.” Jawab In Na yang langsung duduk di samping Jiyeon.

“Menemani Ahjussi? Waegeurae? Apa beliau sakit?”

“Eoh, aniyo. Appa memintaku mengajarinya untuk membuat cake di rumah sahabatnya.”

“Cake?”

“Eum. Besok adalah hari jadi pernikahan Appa dan juga Eomma. Appa ingin memberikan kejutan untuk eomma.”

Jiyeon hanya dapat tersenyum. Sejujurnya ia merasa iri pada sahabatnya itu. In Na masih memiliki keluarga yang lengkap. Tidak seperti dirinya. Sungguh ia begitu merindukan Appa dan juga Eommanya.

“Eoh, pergi kemana kau kemarin? Kenapa tidak masuk sekolah? Tidak mengabariku pula? Eoh, apa kau sakit? Wajahmu terlihat pucat!”

“Hanya demam. Sekarang sudah tidak apa-apa, kok!”

“Kau yakin?”

Jiyeon hanya dapat menganggukkan kepalanya.

“Eoh, barusan aku melihat Shin saem bersama seorang namja didalam sebuah mobil. Sepertinya itu kekasihnya!”

Jiyeon terdiam.
Namja?
Jaejoongkah?
Apa mereka kembali bertemu?
Apa mereka melakukannya lagi?
Kenapa rasanya amat sakit mengingat semua kemungkinan itu?

“Namja itu benar-benar tampan. Mobilnya mewah. Ia memakai jas. Sepertinya ia seseorang dari kalangan atas.”

Jiyeon, sepertinya yeoja itu susah untuk bernapas.
Benarkah dugaannya?
Jaejoongkah itu?

Semua hagsaeg terdiam saat melihat kedatangan Min Ah ke dalam kelas.

“Kerjakan halaman 123. Dan kau, Park Jiyeon! Ikutlah bersamaku!” Perintah Min Ah.

Ada apa?
Ada apa Shin saem menyuruhnya untuk ikut bersamanya?
Apa ia akan membicarakan mengenai Jaejoong?

Jiyeon hanya dapat mengikutinya dari belakang, Keluar dari dalam kelas. Rasanya seperti bumi yang tengah ia pijak saat ini berputar. Hingga ia tidak dapat menahan berat tubuhnya. Ia ambruk. Ia tidak dapat melihat apapun. Tidak dapat merasakan apapun.
Inikah yang ia inginkan? Berharap bahwa kejadian 2 hari ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
Coment Jusaeyo!

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 4

image

         IF I RULED THE WORLD
                    (part 4)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong (JYJ)

Other Cast :
Park Jiyoung aka Kahi (After School)
Choi Siwon (Super Junior)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)
Ha Ji Won
Yoo In Na
Shin Min Ah
Lee Chaerin aka CL (2ne1)

Songfict :
BTS Rain

Genre :
Romance, Hurt, Bondage, Family, NC 21+

Length :
Chaptered

A/N :
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Hampir saja Jiyeon terkena serangan jantung saat yeoja cantik yang kini tengah berada dihadapannya dan juga Jaejoong mengatakan bahwa ia adalah eomma Kim Myungsoo.
Tunggu!
Bukankah itu berarti yeoja itu juga eomma Kim Jaejoong?

“Joongie-Ah! Kenapa tidak menghubungi eomma kalau dongsaengmu itu pulang, eoh?” Protes yeoja bernama Ha Ji Won itu. Sungguh yeoja itu lebih pantas menjadi eonnie Jaejoong dibandingkan dengan menjadi eommanya.

“Jeoseonghamnida!” Jawab Jaejoong seraya membungkukkan tubuhnya.

Jiyeon tak mampu mengatakan apapun. Sungguh ia merasa berada diruangan yang dingin padahal didalam sana AC tidak dinyalakan sama sekali. Ia merasa bahwa Jaejoong terlalu dingin bersikap pada Ha Ji Won. Bukankah ia eommanya?
Apa dengan eommanya sendiripun Jaejoong tetap bersikap dingin?

“Neo! Nugunde?” Tanya Ha Ji Won.

Jiyeon terlihat gugup saat Ha Ji Won bertanya padanya.

“Nae-naega…..”

“Park Jiyeon. Nae yeojachingu!” Potong Jaejoong.

Jiyeon langsung menoleh ke arah Jaejoong. Ia tidak keberatan Jaejoong mengatakan itu. Hanya saja, Jaejoong belum mengatakan tentang perasaannya pada Jiyeon. Apakah namja itu menyukainya atau tidak?
Tunggu!
Apa Jiyeon berharap Jaejoong benar-benar memiliki perasaan khusus terhadapnya?

“Eoh. Kalian tinggal bersama?”

“Ne.” Jawab Jaejoong.

“Geurae, eomma harus menemui Myung Myung. Jangan menyuruhnya untuk kembali ke Amerika sebelum eomma menemuinya. Arraseo?”

Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya.

Ha Ji Won lalu bangkit, memandang Jiyeon sekilas lalu keluar dari rumah Jaejoong.

Sungguh, Jiyeon tidak mengerti dengan keadaan ini. Jaejoong memang terlihat hormat, tapi tidak terlihat seperti seorang anak yang bertemu dengan eommanya. Tapi, yeoja itu terlihat akrab dengan Jaejoong walaupun itu berbanding terbalik dengan Jaejoong sendiri. Apakah namja yang ada disampingnya itu benar-benar sangat sulit untuk didekati?

“Beliau eomma Myungsoo.” Ucap Jaejoong seolah menjawab semua pertanyaan yang ada pada otak Jiyeon.

“Ne?”

“Kami satu appa namun berbeda eomma.” Tambah Jaejoong seraya bangkit menuju kamarnya.

Jiyeon terlalu terkejut mengetahui kebenaran itu. Ternyata dua Kim itu berbeda eomma.
Jiyeon hanya dapat terdiam.

“Lanjutkan memasakmu!” Ucap Jaejoong dan langsung menutup pintu kamarnya.

Memasak?
Ya, Jiyeon tengah memasak.
Menyadari hal itu, Jiyeon langsung bangkit dan berlari kembali menuju dapur.
.
.
.
.
.
Park Jiyoung atau sekarang lebih dikenal dengan nama Kahi, semakin hari karirnya semakin melambung saja. Berbagai tawaran modeling dan juga akting menghampirinya. Kini ia tengah berlatih vocal.
Ya, ia ingin menjadi artis multitalenta. Ia juga ingin mencoba dunia tari dan juga bernyanyi.

“Apa dia baik-baik saja?” Batin Kahi yang tiba-tiba teringat pada dongsaengnya yakni Park Jiyeon.
Ia tak mempunyai banyak waktu untuk menemui Jiyeon. Bahkan untuk menghubunginya pun ia terlalu sibuk.
Ya, yeoja itu sibuk menata karirnya.
.
.
.
.
.
“Ha Ji Won!” Nama itu keluar dari mulut seorang Kim Jaejoong yang saat ini tengah berada diruangannya.
Dihadapannya saat ini tengah berdiri sosok Siwon disana.

“Jeoseonghamnida, sajangnim! Semalam tuan muda Kim Myungsoo mabuk dan saya mengantarkan beliau pulang. Mungkin salah satu pelayan ada yang memberitahukan berita kedatangan tuan muda Kim Myungsoo pada nyonya besar.” Jawab Siwon.

“Bukan itu!”

“Ne?” Tanya Siwon tidak mengerti.

“Bagaimana beliau bisa mengetahui rumah baruku?”

“Igo…..”

Jaejoong masih menanti jawaban Siwon. Sudah pasti Siwon yang memberitahukan hal itu pada Ha Ji Won karena hanya Siwon lah yang tau mengenai rumah baru Jaejoong.

Myungsoo?
Tidak mungkin namja itu yang memberitahukannya. Namja itu jelas-jelas menjauhi eommanya yang merepotkan itu.

“Jeoseonghamnida!” Hanya itu kata yang kembali keluar dari dalam mulut Siwon. Ia menunduk menyadari kecerobohannya.

“Nyonya besar memohon ingin menemui tuan muda Myungsoo. Beliau mengatakan mungkin tuan muda Myungsoo pagi-pagi berkunjung ke kediaman hyungnya. Saat beliau tiba di rumah besar, tuan muda Kim Myungsoo sudah tidak ada didalam kamarnya.” Tambah Siwon.

“Begitu, yah!” Hanya itu yang dapat keluar dari mulut seorang Kim Jaejoong.

Iri?
Ya, sepertinya namja itu iri pada Kim Myungsoo.
Iri karena Myungsoo masih mempunyai eomma.
Iri karena dikhawatirkan oleh sang eomma.
Lalu, bagaimana dengannya?
Dimana eommanya?
Jangan tanyakan hal itu pada Jaejoong jika tidak namja itu sendiri yang mau menceritakannya.
.
.
.
.
.
Jiyeon lagi-lagi menghela nafasnya.
Apa yang yeoja itu pikirkan?

“Neo gwaenchana?” Tanya yeoja bername tag Yoo In Na sahabat Jiyeon yang duduk tepat di samping Jiyeon.

Jiyeon hanya menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya ia tengah memikirkan sosok namja yang baru-baru ini hadir dihidupnya. Sosok namja yang bahkan mengatakan bahwa ia adalah kekasihnya. Sosok namja yang membuatnya harus tinggal satu atap dengannya. Dan sosok namja yang terus menerus memenuhi pikirannya.
Ya, dia adalah Kim Jaejoong.
Namja itu telah memporak-porandakan pikirannya. Membuatnya terus-menerus memikirkannya meski saat ini ia tengah berada disekolahnya.

Jiyeon mengacak prustasi rambutnya.
Apa ia jatuh cinta pada sosok itu?

“Errrr, kau ini aneh sekali! Apa yang kau makan tadi pagi, eoh?” Tanya In Na heran.

Jiyeon teringat kejadian tadi pagi. Saat Jaejoong mencium tengkuknya.
Refleks Jiyeon langsung menyentuh tengkuknya, takut ada bekas kecupan yang Jaejoong berikan disana.

“Aisssh, kau menyebalkan!” Protes In Na.
.
.
.
.
.
Kim Myungsoo, namja itu terlihat tengah menatap datar air laut yang ada dihadapannya. Ia sedikit tenang hanya dengan melihat ombak yang mulai menari-nari disana.

~FLASHBACK ON~

“Eomma!” Namja berusia 6 tahun itu mendongak kearah sang eomma yang jauh lebih tinggi darinya.

“Ne!” Jawab sang eomma.

“Ini rumah siapa?” Tanya namja muda itu dengan polosnya.

Pagi-pagi sekali sang eomma langsung membawanya ke Seoul. Ada yang berbeda. Pagi itu sebuah mobil mewah sudah terparkir dihalaman rumahnya yang kecil. Mobil itu pulalah yang membawanya hingga ke tempat ini. Rumah besar dengan halaman yang luas dan air mancur yang cukup besar serta bunga dan pepohonan yang semakin membuat rumah itu terlihat cantik dan juga asri pada bagian halamannya. Tepat dihadapannya saat ini sebuah pintu masih tertutup. Pintu rumah yang menjulang cukup tinggi.

“Ini akan menjadi tempat tinggal baru kita!” Jawab sang eomma.

“Mwo?”

Sang eomma menurunkan tubuhnya menyesuaikan tinggi badannya dengan sang namja muda.

“Mulai hari ini Myung Myung dan juga eomma akan tinggal disini. Kita akan hidup bahagia disini bersama Appa dan juga Hyungmu!”

“Appa? Hyung?”

“Eum. Myung Myung akan mempunyai hyung!”

Pintupun terbuka. Dan keluarlah sosok namja paruh baya dengan namja muda berusia 11 tahun dari balik pintu.

“Ha Ji Won. Kim Myungsoo. Akhirnya tiba juga!” Sambut sang namja paruh baya.

Ya, yeoja itu adalah Ha Ji Won dan namja muda berusia 6 tahun itu adalah Kim Myungsoo.
Myungsoo muda menatap sosok disamping namja paruh baya. Wajah yang tampan meski tanpa ekspresi apapun, terlihat begitu dingin, ia tersenyum pada namja yang lebih tinggi darinya itu. Baginya, namja tanpa ekspresi itu terlihat begitu keren dimatanya.

“Myungsoo, ini adalah Kim Jae Joong. Dia adalah hyungmu!” Ucap namja paruh baya memperkenalkan Kim jae Joong muda.

Jaejoong langsung menunduk memberikan hormat, sedangkan Myungsoo terus saja tersenyum. Ia tersenyum bahagia.

~FLASHBACK OFF~

Myungsoo mengingat pertemuannya pertama kali dengan hyungnya yakni Kim Jaejoong. Awal dari kehidupan barunya setelah meninggalkan Mokpo dan menyandang status Kim.

Dari yang ia ketahui, Jaejoong memang sosok namja yang dingin. Ia sangat susah diajak berbicara. Tapi, sebenarnya sosok Jaejoong itu adalah sosok namja yang lebih mementingkan tindakan dibanding dengan ucapan. Mungkin itulah nilai plus dari seorang Kim Jaejoong sehingga Myungsoo begitu mengaguminya. Berbeda dengan Myungsoo yang mungkin sedikit lebih banyak berbicara. Ia akan mengatakan langsung apa yang ada dipikirannya sedangkan Jaejoong adalah sosok namja yang jika berbicara akan langsung melukai banyak orang. Bagai sebuah bom yang siap meledak. Itulah Jaejoong ketika berbicara.

Myungsoo kagum karena Jaejoong selalu menjadi juara disekolah. Jaejoong selalu membanggakan. Otak yang dimiliki namja itu memang amatlah jenius.

“Hyung!” Lirihnya. Sungguh, Myungsoo benar-benar menyesal. Menyesal karena telah ikut campur dengan kehidupan pribadi hyungnya itu.
.
.
.
.
.
Shin Min Ah, ia terpaku. Tubuhnya seolah tidak berfungsi. Syaraf motoriknya sama sekali tidak bisa ia gerakkan. Matanya terfokus pada namja yang saat ini tepat berada dihadapannya.

“Jae!” Lirihnya.

Kim Jaejoong, namja itu hanya memandang datar sosok Shin Min Ah.

“Oppa, apa aku membuatmu menunggu lama? Mianhae! Kang songsaenim tiba-tiba saja memberikan pelajaran tambahan!” Sembur Jiyeon dengan terengah. Sepertinya ia baru saja berlari agar bisa mencapai posisi Jaejoong yang saat ini sudah berada didepan pintu gerbang sekolah.

Shin Min Ah, sosok itu menatap Jiyeon. Menatap Jiyeon yang tengah dibelai lembut puncak kepalanya oleh Jaejoong.

Jaejoong, namja itu tersenyum.
Untuk pertama kalinya Min Ah melihat namja itu tersenyum dan ia tersenyum untuk sosok yeoja berseragam yang ada dihadapannya. Yeoja yang menjadi hagsaegnya. Park Jiyeon.

“Jangan berlari! Oppa akan menunggu selama apapun itu!”

Blush.
Wajah Jiyeon langsung memerah. Sungguh namja itu selalu saja berhasil membuatnya tersipu malu.

“Gagapmu kembali hilang saat mengkhawatirkan oppa yang menunggu lama!”

Tuhan, bisakah Jiyeon kembali berlari?
Kim Jaejoong, hentikan! Kau dapat membuat Jiyeon ambruk detik itu juga karena bunga-bunga yang entah datang dari mana begitu saja hadir diatas kepala Jiyeon.
Tidak.
Ini terlalu berlebihan.
Kembali ke duniamu, Park Jiyeon!

“Kajja!” Jaejoong langsung mendekap Jiyeon, membawanya masuk kedalam mobilnya dan tentu saja meninggalkan Shin Min Ah dengan tanda tanya besar.
Ada hubungan apa Jaejoong dengan Jiyeon?

“Oppa, kita akan pergi kemana?” Tanya Jiyeon. Gagapnya benar-benar menghilang.
Jaejoongkah penyebabnya?

Jaejoong tidak menjawab. Ia hanya memberikan senyuman mautnya pada Jiyeon membuat yeoja itu harus mengalihkan pandangannya. Berusaha mengatur detak jantungnya.

Sementara itu, Shin Min Ah belum kunjung pulang jua dari sekolah. Ia masih berdiri ditempat yang sama. Berdiri ditempat terakhir kali ia melihat sosok namja yang begitu ia rindukan itu. Air matanya entah mengapa tidak bisa ia ajak berkompromi. Ia keluar begitu saja tanpa persetujuan Min Ah. Rasanya sakit. Sakit karena namja itu kembali mengacuhkannya. Kembali tak menganggapnya.
.
.
.
.
.
“Chagiya!”

“Eum!”

“Igo….”

Saat ini, Choi Siwon tengah berada disebuah restoran yang cukup mewah bersama dengan kekasihnya yakni Lee Chaerin.

“Waegeurae?” Tanya Chaerin penasaran.

Siwon terlihat ragu. Namun ia berusaha memberanikan dirinya. Ia berdiri dari kursinya. Berjalan kearah Chaerin kemudian langung berjongkok dihadapan yeoja itu.

“Menikahlah denganku!” Ucap Siwon menunduk seraya menyerahkan sebuah cincin permata tepat dihadapan Chaerin.

“Cincin yang bagus!”
Suara itu langsung membangunkan Siwon.
Siwon mendongak dan melihat sosok yang begitu menyebalkan tengah memakai cincinnya.

“KYA!” Teriaknya kesal seraya berdiri dari posisinya semula.

“Cara seperti ini sudah sangat kuno. Kau tidak kreatif sekali!”

Siwon langsung mengambil kembali cincinnya dengan paksa.

“APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, EOH?” Teriak Siwon. Sungguh ia benar-benar merasa kesal. Kenapa ia selalu saja diganggu oleh keluarga Kim ketika sedang bersama dengan kekasihnya?
Benar-benar menyebalkan.

“Oppa!” Ucap Chaerin mencoba memperingatkan Siwon bahwa mereka saat ini tengah menjadi pusat perhatian para pengunjung yang lain didalam restorant. Tentu saja kalau bukan karena teriakan Siwon barusan.

Siwon menghela nafasnya. Berusaha menstabilkan kembali emosinya.

“Apa yang sajangnim lakukan disini?” Tanya Siwon selembut mungkin.

“Tentu saja makan!”

Ingin rasanya detik itu juga Siwon mencincang sajangnimnya itu. Kenapa ia suka sekali membuat Siwon kesal?
Apa Siwon itu mainannya?

“Kajja!” Ajak Jaejoong pada Jiyeon yang sejak tadi berdiri dibelakangnya. Ia mempersilahkan Jiyeon duduk diantara Chaerin dan juga Siwon. Sedangkan Jaejoong duduk tepat diseberang Jiyeon.

“Duduklah! Kau tidak lelah berdiri?” Ucap Jaejoong pada Siwon.

Dengan kesal Siwon langsung membanting pantatnya tepat dikursi yang ada diseberang Chaerin.
Apa sakit?
Ya, sepertinya begitu.

Jaejoong langsung mengambil paksa cincin yang ada ditangan Siwon.

“KYA!”

“Namja bodoh ini ingin menikah denganmu, Chaerin-ssi! Jangan menolaknya!” Ucap Jaejoong yang langsung memasangkan cincin itu tepat dijari manis Chaerin.

“KYA! KENAPA MALAH KAU YANG MEMASANGKANNYA!”

“Lepaskan, Chaerin-ssi! Kau tidak pantas menikah dengan namja berisik seperti Choi Siwon ini!” Tambah Jaejoong.

“KYA!”

Suasana yang awalnya Siwon bangun romantis, kini berubah menjadi suasana konyol.
Kesal?
Tentu saja.
Tapi dibalik itu semua, ia merasa senang karena Jaejoonglah yang menjadi saksinya.

Chaerin dan Jiyeon hanya mampu tertawa melihat tingkah konyol dua namja dewasa itu.
.
.
.
.
.
“Eommaaaaaaaaaaa, geumanhae!” Protes Myungsoo saat Ji Won terus-menerus menghujani kecupan diwajahnya.

“Eomma merindukanmu, Myung Myung!”

“Jangan memanggilku seperti itu!” Protes Myungsoo.

“Wae? Bukankah Kau sangat menyukai panggilan itu, Myung Myung!”

“Geumanhae!”

Sepertinya malam ini Myungsoo tidak bisa kabur dari sang eomma. Begitu terkejutnya ia saat tiba dirumah besar keluarga Kim eommanya sudah berada disana.
.
.
.
.
.
Jaejoong menggendong tubuh Jiyeon hingga tiba didalam kamar yeoja itu. Sepertinya Jiyeon benar-benar kelelahan.

Setelah pulang dari restaurant, Jaejoong dan Jiyeon berkunjung ke Lotte World. Tentu saja dengan pasangan yang baru saja berbahagia itu. Choi Siwon dan juga Lee Chaerin. Mereka bermain dengan banyak wahana disana. Rupanya Chaerin langsung menyukai Jiyeon. Mereka berdua langsung akrab begitu saja. Benar-benar terlihat seperti seorang eonnie dengan dongsaengnya sungguhan.

Jaejoong membaringkan tubuh Jiyeon dengan perlahan. Berusaha agar tidak membuat yeoja itu terbangun. Ia membuka sepatu sekolah yang Jiyeon kenakan. Kembali ia menatap yeoja yang masih terpejam itu. Mengusap lembut puncak kepala yeoja itu.

“Mian!” Lirihnya.

“Mianhae, Jiyeon-Ah!” Tambahnya. Jaejoong langsung mengecup lembut puncak kepala Jiyeon. Turun ke hidung. Turun ke bibir.

Cukup lama bibirnya berada disana. Ia hanya perlu menyatukan bibirnya. Ia tidak ingin membuat yeoja itu terbangun oleh gerakannya.

Jaejoong akhirnya menjauhkan wajahnya. Menarik selimut hingga menutupi setengah bagian tubuh Jiyeon.

“Jalja!” Ucapnya.
Ia langsung keluar dari dalam kamar Jiyeon.Menutup perlahan pintu itu. Berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi-bunyi yang dapat membangunkan Jiyeon. Ia benar-benar menjaga yeoja itu.
.
.
.
.
.
“K-Kim-Kim Myungsoo!” Ucap Jiyeon terkejut saat mendapati sosok Kim Myungsoo yang sudah berdiri didepan mobil Kim Jaejoong.

“Hyung ada rapat pagi ini, jadi tidak bisa mengantarkanmu sekolah!”

Jiyeon tidak bergerak dari tempatnya. Sejujurnya ia masih takut dengan sosok namja yang adalah dongsaeng Kim Jaejoong itu.

“Hyung memintaku mengantarkanmu hingga tiba disekolah!”

Jiyeon tetap terdiam. Berusaha mencerna baik-baik ucapan Myungsoo.
Benarkah Jaejoong yang meminta Myungsoo melakukannya?
Bagaimana kalau sampai Myungsoo kembali melukainya seperti kejadian tempo hari?

“Kya! Jangan banyak berfikir! Pesawatku akan segera berangkat!”

Jiyeon langsung memandang Myungsoo.

“Pagi ini aku akan kembali ke Amerika. Jangan sampai kau membuatku harus kembali membatalkannya.” Jawab Myungsoo seolah tau apa yang tengah Jiyeon pikirkan.

Didalam perjalanan, keduanya hanya mampu terdiam. Tak ada satupun yang berani membuka percakapan.

“Mian!” Ucap Myungsoo memecahkan keheningan.

Jiyeon langsung menoleh kearahnya.

“Untuk masa lalu dan juga sekarang!” Tambahnya.

Benarkah seorang Kim Myungsoo meminta maaf padanya?
Sungguh Jiyeon sedikit tidak mempercayai hal itu.

“Aku yang terlalu kekanakkan. Tak seharusnya aku mencampuri hubungan kalian. Aku terlalu sombong dengan status sosial yang kumiliki. Mianhae untuk semuanya! ”

Jiyeon hanya tersenyum, seolah hanya dengan senyuman itulah Jiyeon menerima permintaan maaf Myungsoo.

“Aissh, kalian benar-benar sangat mirip. Bagaimana kalian bisa menjalani hubungan jika kalian berdua saja tidak suka berbicara.”

Jiyeon sedikit terkekeh mendengarnya.
Sungguh perasaan takutnya pada Myungsoo kini menghilang begitu saja.

“Apa kau mencintai hyungku?”
Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Myungsoo.

Jiyeon hanya dapat menelan salivanya.

“Jangan-jangan kau masih memiliki perasaan terhadapku, eoh?”

“Mwo?”

“Hahaha… akhirnya kau bersuara juga. Benar-benar merepotkan menghadapi JaeYeon couple seperti kalian ini!” Gerutu Myungsoo.

Jiyeon dan Myungsoo. Setidaknya kini hubungan keduanya mulai mencair. Membuat sebuah ikatan baru yakni persahabatan bahkan mungkin persaudaraan.
.
.
.
.
.
“Jae!” Panggil suara lembut itu menyadarkan Jaejoong yang tengah melamun menunggu Jiyeon keluar dari dalam sekolah. Hanya ekspresi datar yang dapat Jaejoong berikan saat melihat sosok tersebut.

“Bagaimana kabarmu?” Tanyanya.

Jaejoong hanya mengerjapkan matanya. Tak berniat menjawab pertanyaan yeoja yang saat ini tengah berada dihadapannya.

Menyadari tidak mendapat jawaban, yeoja yang ternyata adalah Shin Min Ah itu hanya menghela nafasnya. Berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan karena kembali diacuhkan oleh namja itu.

Sekolah memang sudah terlihat sepi, namun sosok Jiyeon yang tengah Jaejoong tunggu belum jua muncul.

“Kau menunggu Jiyeon?”

“Hm.”

Sakit. Perih. Itu yang Min Ah rasakan. Kenapa Jaejoong menjawab pertanyaannya mengenai Jiyeon sedangkan saat ia menanyakan kabar Jaejoong, namja itu justru tidak menghiraukannya. Ada hubungan apa antara Jaejoong dengan hagsaegnya itu? Batinnya.

“Jiyeon tengah membantuku memeriksa hasil pekerjaan para hagsaeng!”

Jaejoong langsung memandang Min Ah.
Apa maksudnya?
Kenapa Jiyeon yang melakukannya?
Bukankah Min Ah yang seharusnya melakukan itu?
Lalu sedang apa yeoja itu disini dan bukannya membantu Jiyeon?
Apa ia sengaja melakukannya?

“Aku ingin berbicara denganmu! Itu alasanku jika kau mempertanyakannya!” Jawab Min Ah yang seolah tau dengan isi pikiran yang ada diotak Jaejoong saat ini.

Jaejoong tetap tak bergeming. Ia hanya terdiam.

“Kau masih tidak ingin berbicara?” Tanya Min Ah.

Merasa malas, Jaejoongpun mengalihkan pandangannya dari Min Ah dan itu semakin membuat perasaan Min Ah terasa sakit. Benar-benar terabaikan.

Min Ah langsung menarik tangan Jaejoong tanpa persetujuan dari namja itu dan membawa Jaejoong memasuki sekolah yang memang sudah sangat sepi  karena para penghuninya sudah kembali ke rumah masing-masing beberapa jam yang lalu.

Jaejoong langsung menghempaskan tangan Min Ah membuat pegangan tangan Min Ah pada lengannya terlepas.

Jaejoong hendak berbalik kembali keluar dari dalam sekolah, namun Min Ah langsung menarik bahunya membuat namja itu kembali berbalik kearahnya.

“SAMPAI KAPAN KAU AKAN MENGACUHKANKU, EOH?” Teriak Min Ah yang sepertinya mulai kehabisan kesabarannya.

Sementara itu didalam ruang guru, lebih tepatnya didalam ruang Shin Min Ah, Jiyeon terlihat begitu tergesa memeriksa hasil pekerjaan para chingu nya. Ia takut kembali membuat Jaejoong menunggu terlalu lama seperti tempo hari.
Jiyeon sedikit terkejut saat mendengar suara seseorang berteriak. Ia memang tengah berada dilantai dua, namun suara teriakan itu tetap bisa terdengar olehnya.
Ia pun kembali fokus pada kertas-kertas jawaban yang ada disana. Berusaha untuk tidak menghiraukan suara teriakan yang baru saja ia dengar itu. Ia harus segera menyelesaikan semuanya.

Sedikit aneh memang ketika Shin Min Ah memberinya tugas yang seharusnya dilakukan oleh Songsaenimnya itu. Namun saat yeoja itu mengatakan sedang kurang sehat dan akan pulang lebih awal, akhirnya Jiyeonpun hanya dapat menyetujuinya. Kenapa songsaenimnya itu memberikan tugas mendadak disaat ia sendiri dalam keadaan kurang sehat dan akhirnya Jiyeonlah yang melakukannya?

Kembali ke Jaejoong. Namja itu mengehela nafasnya mendengar teriakan Min Ah.

Sementara itu, Min Ah sudah tidak dapat menahan lagi air matanya. Ia menangis. Menangis tepat dihadapan namja yang amat ia cintai sejak dulu itu.

“Jebal! Kembalilah seperti dulu! Aku menginginkan Kim Jaejoong yang seperti dulu! Hiks…” Tangis Min Ah.

Jaejoong tak menjawab. Ia hanya terus terdiam.

“Jangan menghukumku hingga seperti ini. Mian! Mianhae! Hiks…” Min Ah terus saja menangis. Ia benar-benar menyesal. Menyesal akan masa lalu yang pernah terjadi diantara keduanya.

“Aku tidak mau!” Jawab Jaejoong yang akhirnya membuka suaranya.

Min Ah langsung memandang Jaejoong.
Sungguh, kenapa jawaban dari setiap pertanyaannya selalu dijawab dengan jawaban yang tidak ingin Min Ah dengar.

“Berhentilah! Sudah cukup!” Tambah Jaejoong.

“BAGAIMANA AKU BISA BERHENTI? AKU SANGAT MENCINTAIMU. BAHKAN HINGGA DETIK INI PUN YANG ADA DIPIKIRANKU HANYALAH DIRIMU! APA YANG HARUS KULAKUKAN?”

Jiyeon kembali mendengar suara teriakan. Kali ini ia bahkan mendengar suara tangisan. Jiyeon semakin penasaran.

Sementara itu, Jaejoong benar-benar merasa tidak nyaman. Ia sungguh tidak menyukai suara yang Min Ah timbulkan yang baginya hanya mengganggu gendang telinganya saja.

“Lupakan aku! Hanya itu yang perlu kau lakukan!” Jawab Jaejoong.

“Wae? Kenapa aku harus melakukannya? Park Jiyeon, kau menyukainya? Apa benar itu?” Tanya Min Ah.

“Hm.”

“Kau bohong! Dia itu hanya seorang hagsaeng yatim piatu yang tidak mempunyai apapun. Kau tidak mungkin menyukai yeoja sepertinya!”

Sungguh, Jaejoong ingin membungkam mulut Min Ah detik itu juga.
Haruskah ia melukai yeoja itu? Sama seperti Myungsoo beberapa hari lalu?
Jaejoong hanya memberikan tatapan membunuhnya pada Min Ah. Berusaha menahan diri agar tidak mengucapkan kata-kata buruk tentang yeoja itu.

“Ck, aku tidak akan mau kalah dengan hagsaeg sepertinya. Aku akan mendapatkanmu!” Cibir Min Ah.

Kini, Jaejoong dapat kembali melihat sisi Min Ah yang sesungguhnya.

Jaejoong berbalik hendak meninggalkan Min Ah. Sungguh ia amat muak dengan yeoja bertampang bak malaikat itu.
Tubuhnya kembali berbalik saat lagi-lagi Min Ah menarik tangannya.

~CUP~

Jaejoong langsung melepaskan diri saat Min Ah mendaratkan bibirnya tepat dibibir Jaejoong.

~BRUK~

Jaejoong dan Min Ah langsung menoleh saat mendengar suara benda terjatuh dan benda itu adalah beberapa lembar kertas dan buku yang Jiyeon bawa. Yeoja itu tengah mematung diantara tangga yang menghubungkan antara lantai 2 dan 1 sekolahnya.
Sepertinya yeoja itu melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.

Kim Jaejoong dan Songsaenimnya berciuman?
.
.
.
.
.
Kependekan?
Silahkan lemparkan apapun pada author hahahha….
Coment Jusaeyo!

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 3

image

        IF I RULED THE WORLD
                   (part 3)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong (JYJ)

Other Cast :
Choi Siwon (Super Junior)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)
Lee Chaerin aka CL (2ne1)
Shin Min Ah
Shin Dong Hee (Super Junior)

Songfict :
Winner Color Ring

Genre :
Romance, Hurt, Bondage, Family, NC 21+

Length. :
Chaptered

A/N :
Part 3 hadir. Semoga pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di part 1 & 2 salah satu jawabannya ada di part 3 ini.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Jiyeon, yeoja itu perlahan membukakan matanya.

“Kau sudah bangun?”

Sosok itu, sosok itulah yang pertama kali ia lihat.
Kim Jaejoong. Namja itu terlihat begitu mengkhawatirkannya.
Jiyeon berusaha bangkit namun Jaejoong langsung menghalanginya.

“Beristirahatlah!”

Jiyeon akhirnya kembali berbaring. Dilihatnya Jaejoong tengah mengusap lembut puncak kepalanya. Benar-benar terasa nyaman.

“Kalau lapar seharusnya makan!” Ucap Jaejoong memecahkan keheningan.

“Ne?”

“Dirumah sudah disediakan banyak makanan. Kenapa tidak memakannya?” Suara lembut Jaejoong begitu menyejukkan.

“Igo…….”

Jaejoong terkekeh melihatnya membuat Jiyeon hanya mampu mempoutkan bibirnya.

“Kalau sudah sehat, nanti akan oppa belikan Buldak!”

Jiyeon masih terdiam. Ia terlalu tersanjung menerima semua kebaikan dan kelembutan yang Jaejoong berikan padanya.

“Untuk malam ini, beristirahatlah di rumah sakit! Besok baru boleh pulang!” Tambahnya.

Ya, ia tengah berada dirumah rumah sakit. Terbukti dari beberapa selang yang ada dipergelangan tangan yang terhubung dengan jarum infus.

“Apa aku boleh bertanya?” Tanya Jiyeon.

“Omo, ternyata saat sakit gagap seorang Park Jiyeon menghilang!” Canda Jaejoong.

Jiyeon terkekeh dengan lelucon kecil yang Jaejoong buat. Namja ini, walaupun dari luar terlihat sangat dingin, namun ternyata ia benar-benar namja yang hangat. Atau mungkin ia hanya akan menjadi hangat bila bersama dengan orang-orang tertentu saja? Mungkin.

“Bertanyanya besok saja, ne! Sekarang kembalilah beristirahat!” Tambah Jaejoong seraya mengecup singkat puncak kepala Jiyeon seolah menyalurkan kasih sayangnya hanya dengan sebuah tindakan kecil itu.

Jiyeon hanya menurut. Dilihatnya namja itu berjalan menuju sofa yang ada disudut kamar rawatnya. Namja itu terduduk disana.

“Pasti ia sangat lelah!” Batin Jiyeon.

“Tidurlah! Jangan memikirkan apapun!” Ucap Jaejoong yang menyadari bahwa Jiyeon tengah memperhatikannya.

Jiyeon tak menjawab. Ia langsung memejamkan matanya. Berusaha untuk menjemput kembali alam mimpinya.

5 menit.
10 menit.
Hingga 25 menit.
Ia benar-benar tidak bisa kembali tertidur.
Perlahan ia membuka kembali kedua matanya. Melihat Jaejoong yang sudah terlelap dalam keadaan bersandar pada punggung sofa seraya menyilangkan kedua tangan tepat didadanya.
Bahkan dalam keadaan terpejam pun namja ini masih tetap terlihat tampan. Batinnya.

Haruskah ia menyesali pertemuannya ini?
Namja yang tiba-tiba menjadi bagian dalam hidupnya. Haruskah ia menyebutnya iblis karena telah membuat kehidupannya menjadi seperti ini?
Atau ia sebut malaikat karena namja ini selalu melindungi dan memberi rasa nyaman padanya? Angel Into The Devil. Mungkinkah itu kata yang tepat? Malaikat didalam iblis.
Lucu, bukan?
Jiyeon terkekeh akan pikiran-pikiran aneh tentang sosok Jaejoong.

“Bagaimana kedaan Myungsoo?” Pikirnya.
Setelah mengingat bahwa sebelum ia jatuh pingsan Jaejoong tengah menghajar dongsaengnya itu.

Ia kembali menatap sosok yang masih setia memejamkan mata itu. Menatap sendu sosok itu. Apakah mereka pernah saling bertemu sebelumnya? Bagaimana bisa ia terjebak diantara cinta pertamanya dan juga orang yang mengatakan ingin memilikinya seutuhnya? Benar-benar rumit.
.
.
.
.
.
Jiyeon akhirnya kembali ke rumah. Rumah orang lain dan bukan dirinya. Ya, sepertinya begitu.

Jiyeon tersenyum saat melihat banyaknya Buldak diatas meja. Jaejoong yang ada disampingnya pun ikut tersenyum. Hanya memberikannya Buldak dan ia sukses mendapatkan senyuman yeoja itu. Jaejoong mengusap lembut puncak kepala Jiyeon.

“Errr, sepertinya pesona yang kumiliki kalah hanya karena makanan bernama Buldak.” Sindirnya.

Jiyeon langsung menoleh kearahnya. Keduanya saling tersenyum.
Hangat. Itu yang mereka rasakan saat ini.

“A-apa aku mengganggu?”
Refleks suara itu langsung membuat Jiyeon dan juga Jaejoong menoleh ke sumber suara itu berasal.

“Kya! Jangan menatapku seperti itu! Jangan lupakan bahwa aku yang membawa Buldak-Buldak ini kesini!” Protesnya.

Jiyeon hanya menunduk. Ia merasa moment kebersamaannya bersama Jaejoong terganggu.
Tidak.
Apa yang ia pikirkan?
Apakah ia mulai menerima kehadiran Jaejoong dihidupnya? Apa ia menyukainya?

“Wae?” Tanya Jaejoong yang melihat Jiyeon terus menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Eoh? A-aniyo!” Jawab Jiyeon gugup.

“Bagaimana dengan Myungsoo?” Tanya Jaejoong pada sosok namja yang ternyata Siwon itu.

“Sore ini ia akan kembali ke Amerika.” Jawab Siwon.

Jiyeon langsung menoleh kearah Jaejoong saat namja itu menyebutkan nama Myungsoo, cinta pertamanya.

“Wae?” Tanyanya lagi.

Kali ini Jiyeon tidak menunduk. Ia membalas tatapan seorang Kim Jaejoong.

“Myungsoo. Apa ia terluka parah?”

“Kau mengkhawatirkannya?” Terbesit rasa cemburu didada Jaejoong saat yeoja itu menanyakan keadaan dongsaengnya.

Jiyeon langsung menggelengkan kepalanya.

“Aku khawatir oppa akan lebih terluka karena telah melukai dongsaeng oppa sendiri!”

Bagai mendapat sebuah kado yang luar biasa dihari yang bukan hari ulang tahunnya, Jaejoong merasa lega sekaligus senang mendengar jawaban Jiyeon. Seulas senyum kembali menghiasi wajahnya dan kembali dibalas pula oleh yeoja yang ada dihadapannya itu.

“KYA! APA AKU INI HANYA SEBUAH DEBU YANG BAHKAN TAK TERLIHAT, EOH?” Protes Siwon yang kesal seolah keberadaannya tak dihiraukan oleh kedua orang itu.

Jaejoong langsung memberikannya death glare gratis.

“Menjijikan. Ia dapat tersenyum seperti itu hanya didepan yeojanya. Lihat! Seringaian itu kembali muncul diwajahnya. Orang macam apa dia?” Gerutu Siwon.

“Kajja! Buldak sudah menunggumu!”

“Eum!” Jawab Jiyeon menganggukkan kepalanya.

Jiyeon dan Jaejoong langsung berjalan mendekat kearah Buldak dan siap menyantapnya.

“Ck, kehadiranku benar-benar diabaikan! Dia bahkan bisa berkata semanis itu! Benar-benar membuat telingaku terasa sakit saja!” Siwon terus menggerutu.

“Pulanglah!” Perintah Jaejoong.

“Mwo?”

“Bukankah kau harus menemui kekasihmu!”

“Ne?”

“Kalau kau tidak mau, maka akan aku berikan tugas tambahan kalau begitu!”

“Ani ani ani. Kamsahamnida, sa-jang-nim!” Jawabnya dengan senang seraya menekankan kata sajangnim.

Jiyeon terkekeh melihat tingkah Siwon yang menurutnya sangat konyol itu.
.
.
.
.
.
“Apa yang kau pikirkan, chagi?” Tanya namja paruh baya bertubuh gempal pada yeoja muda berlesung pipi itu.

“Appa!”

“Kau pasti menyembunyikan sesuatu, hm?” Tebak sang Appa yang langsung duduk disamping ranjang sang puteri.

Seharian ini, Shin Dong Hee melihat puteri semata wayangnya itu terus saja melamun didalam kamarnya. Ini tidak seperti biasanya. Entah apa yang tengah dipikirkan puterinya itu. Ia pun memutuskan untuk menanyakannya langsung padanya.

“Ceritakanlah pada Appa, minnie-Ah!” Pintanya pada yeoja yang ternyata Shin Min Ah itu, yeoja yang tak lain adalah songsaenim Jiyeon di sekolahnya.

“Aku rasa aku bertemu dengannya, appa!” Jawab Min Ah.

“Nugu?” Tanya Shin Dong penasaran.

“Kim Jaejoong. Aku merasa itu benar-benar dia.” Jawabnya.

“Onje?”

“Beberapa hari yang lalu. Aku melihat mobilnya terparkir tepat didepan pintu gerbang sekolah!”

“Hmmm, apa dia bermaksud menemuimu chagi?”

“Molla. Saat itu aku masih ragu apa benar itu dia atau bukan. Lagipula, dia juga tidak tau kalau aku mengajar disana, appa!”

“Ck, mungkin mobil yang terparkir itu hanya sama dengan mobil Jaejoong. Kau mungkin merindukannya, maka dari itu kau mengira bahwa pemilik mobil itu adalah Jaejoong. Temuilah dia jika kau benar-benar merindukannya! Bukankah sudah cukup lama kalian belum bertemu kembali, bukan!” Saran sang Appa seraya mengelus lembut rambut puterinya itu.

“Aku takut, appa!”

“Mwo?”

“Takut ia masih membenciku!”

Shin Dong hanya tersenyum menanggapi ketakutan puterinya itu.

“Jika kau terus merasa takut, maka kau tidak akan pernah tau apa yang dirasakan Jaejoong terhadapmu selama ini.” Saran sang Appa.

“Dia membenciku, appa!”

“Dari mana kau tau bahwa Jaejoong itu membencimu, hm?”

“Dari caranya menjauhiku setelah kejadian itu!” Jawab Min Ah tertunduk. Sungguh ia menyesali kejadian dimasa lalu itu. Kejadian yang akhirnya membuat ia dan Jaejoong menjauh. Andai waktu bisa diulang kembali, ia tidak ingin melakukan hal itu pada Jaejoong.

“Kau belum mencobanya, chagi. Jaejoong juga tidak mengatakan secara langsung bahwa ia membencimu. Temuilah dia! Setidaknya, bertemu dengan sahabat lama bukanlah suatu kesalahan. Dia tidak akan membencimu hanya karena kau melakukan itu. Mencobalah! Kalau kau tidak berani mencoba, maka kau tidak akan pernah tau hasilnya.” Tambah Shin Dong bijak.

“Geurae, appa! Aku akan berusaha mencobanya. Gomawo untuk semuanya, appa!” Jawab Min Ah tersenyum lembut.

“Hm, sekarang beristirahatlah! Para hagsaeng di sekolah pasti akan merasa bosan jika saat mengajar songsaenimnya tidak fokus mengajar nanti.”

Shin Min Ah terkekeh mendengar lelucon kecil dari sang Appa. Sungguh, Shin Dong lebih senang dan bahagia melihat Min Ah yang seperti ini. Ia sungguh berharap puterinya itu mendapatkan kebahagiaan yang diinginkannya. Ia sangat menyayanginya.
.
.
.
.
.
“Kau menyukainya, hyung?” Tanya Myungsoo yang saat ini tengah berada dihadapan hyungnya itu diruangan Kim Jae Joong.

“Hm.” Jawab Jaejoong.

“Ck, apa kau buta? Yeoja seperti dia? Benar-benar lucu!” Cibir Myungsoo.

Jaejoong tidak menjawab. Ia hanya terus mengerjakan laporan-laporan yang menumpuk diatas mejanya.

“Eoh, apa kau hanya ingin bermain-main dengannya? Akan ku carikan yeoja yang lebih baik untuk kau mainkan.”

“Kau sudah berkemas?” Tanya Jaejoong masih tetap terpokus pada berkas-berkas yang ada dihadapannya.

“Mwo? AKU SEDANG BICARA DENGANMU. SETIDAKNYA TATAPLAH AKU, HYUNG!” Teriak Myungsoo kesal.

Jaejoong langsung menutup berkas-berkas yang ada ditangannya. Sungguh ia tidak ingin melihat Myungsoo dengan wajah penuh lebam akibat ulahnya kemarin.

Baiklah, ia mulai terganggu dengan suara Myungsoo yang begitu berisik menurutnya.

“Temuilah eommamu sebelum pergi!”

“MWO? EOMMAMU? DIA JUGA EOMMAMU, HYUNG!”

Jaejoong langsung memberikan tatapan membunuhnya pada Myungsoo. Sungguh bocah itu mulai memancing emosinya.

“Katakan apa yang kau inginkan, Kim Myungsoo!”

“Ck. Apa aku harus membuatmu kesal dulu agar mau mengakui kehadiranku, eoh?”

Jaejoong tidak menjawab. Pandangannya masih terpokus pada sosok Kim Myungsoo yang wajahnya dipenuhi memar karenanya.

“Jauhi, Park Jiyeon! Dia tidak pantas untukmu! Dia hanya yeoja rendahan dan berasal dari kalangan bawah. Dia tidak pantas dengan keluarga Kim seperti kita!”

~BRAK~

Jaejoong bangkit dari kursinya seraya memukul meja yang ada dihadapannya dengan keras.

“Cukup! Jangan sampai aku melukaimu dengan kata-kata yang akan keluar dari mulutku nanti!” Ucap Jaejoong geram.

“Ck, kau bahkan sudah melakukannya dengan tanganmu. Apa kau tidak lihat bagaimana wajahku sekarang?”

Keduanya terdiam. Untuk beberapa saat, hanya tatapan keduanyalah yang berbicara.

“Aku ingin kau mencari yeoja yang lebih baik darinya. Kau pantas mendapatkan yeoja sederajat dengan kita dibandingkan denga….”

“APA KAU LUPA SIAPA DIRIMU? KAU BAHKAN LEBIH HINA DARINYA. KAU LUPA KAU INI HANYA PUTERA YANG TERLAHIR DARI RAHIM SEORANG YEOJA YANG TAK DINIKAHI KEKASIHNYA? JANGAN LUPAKAN TAKDIRMU, KIM MYUNGSOO! CIH, BAHKAN KAU TIDAK TERMASUK DALAM KELUARGA INI! KAU, HANYA ANAK HARAM APPAKU! JANGAN LUPAKAN ITU!”
Jaejoong, amarahnya benar-benar sudah membuncah. Kata-kata yang selama ini ia kubur dalam-dalam akhirnya keluar juga.

Kim Myungsoo, matanya memanas. Sungguh detik itu juga ia ingin menulikan telinganya itu.

“Jangan pernah menganggapnya rendah, karena kau jauh lebih rendah darinya!” Tambah Jaejoong.

Myungsoo, namja itu malah tertawa. Tertawa miris. Kata-kata yang seharusnya ia dengar sejak menyandang marga Kim diusia 6 tahun akhirnya dapat ia dengar sekarang.

“Kau membenciku, hyung! Aku tau itu! Kau berpura-pura menerima ku selama ini. Ck, kenapa tidak kau katakan dari dulu? Aku ini anak yang tidak seharusnya ada. Aku ini anak yang telah menjadi bencana untuk keluargamu. Harusnya kau mengatakan itu sejak awal!”
Myungsoo, air matanya seolah tidak dapat ia bendung lagi. Rasanya sangat sesak dan menyakitkan mengingat kebenaran yang ada pada dirinya. Mengingat betapa sosok yang begitu ia kagumi itu sangat membencinya.

“Kau salah! Jika aku membencimu, maka saat pertama kali kau menginjakkan kaki dirumah, aku sudah melenyapkanmu saat itu juga!”

“KAU BOHONG! KAU BAHKAN YANG MEMINTA APPA UNTUK MENJAUHKANKU DARI SINI, MEMBUATKU HARUS BERADA DIAMERIKA!” Teriak Myungsoo.

“Bodoh. Kupikir kau akan lebih dewasa jika hidup mandiri. Ternyata pikiranku salah. Kau sama seperti eommamu. Sama-sama menyedihkan!” Ucap Jaejoong seraya berjalan menuju pintu keluar.

Nafas Myungsoo beradu seilir dengan emosi yang membakarnya.

“Kau adalah pemilik kursi itu! Aku membuatmu menjalani hidup seorang diri di Amerika agar kau terbiasa saat menggantikanku kelak. Aku ingin kau lebih hebat dariku. Berdiri pada kakimu sendiri dan bukan hanya membanggakan statusmu yang terlahir dari benih keluarga Kim. Ternyata kau masih belum dewasa juga. Benar-benar mengecewakan!” Tambah Jaejoong yang akhirnya membiarkan Myungsoo seorang diri dengan tangis yang tak kunjung henti.

Kebodohan apa lagi yang telah ia lakukan kali ini?
Ia telah mengecewakan sosok yang begitu ia kagumi dan ia idolakan itu?
Kim Myungsoo, sungguh bodoh dirimu! Batinnya.
.
.
.
.
.
Jiyeon, yeoja itu terlihat tengah menatap jam dinding didalam kamarnya. Sudah hampir jam 10 malam tapi Jaejoong belum juga pulang. Kini, yeoja itu mulai terbiasa dengan kehadiran Jaejoong disisinya. Meski ia belum memastikan perasaan apa itu. Yang ia ketahui hanyalah ia benar-benar merasa nyaman saat bersama namja itu. Namun tubuhnya seolah tidak mendukungnya. Rasa kantuk mulai menerjang dan detik itu juga ia langsung tertidur.

Tak berapa lama setelah terpejam, Jiyeon merasakan hangat yang menjalar pada bagian perutnya. Seseorang tengah mendekapnya dari belakang. Jiyeon terus terdiam hingga ia mulai merasa dekapan itu semakin erat dan rasa kantuk Jiyeon hilang saat itu juga saat ia mendengar suara isakan dari belakang tubuhnya.

“O-oppa!”

“Jangan berbalik! Tetaplah seperti ini!” Ucap namja yang ternyata Jaejoong saat menyadari yeoja yang tengah ia dekap saat ini akan berbalik kearahnya. Sungguh Jaejoong tidak ingin yeoja itu melihat wajah dingin yang biasa ia pasang diwajahnya berubah menjadi begitu menyedihkan saat ini.

Jaejoong semakin mengeratkan dekapannya, berharap perasaannya akan lebih membaik setelah melakukannya.
Sungguh, hatinya benar-benar terasa sakit. Ia telah mengeluarkan kata-kata yang sejak dulu berusaha ia pendam dalam-dalam. Telah mengucapkan sesuatu yang akan melukai dongsaengnya itu. Sungguh ia lebih terluka dibanding Myungsoo saat ini.
Benar ucapan Jiyeon pagi tadi, ia akan lebih terluka saat melukai orang yang ia sayangi. Dan ia telah melakukannya. Lagi. Hari ini.

Jiyeon, meski ia merasa sedikit sesak karena dekapan Jaejoong yang begitu erat pada tubuhnya, namun ia tetap membiarkan itu. Ia bisa merasakan kesedihan yang Jaejoong rasakan meski namja itu tidak memberitahukan alasannya.

Tangan Jiyeon bergerak mengelus punggung tangan Jaejoong, mengusapnya perlahan. Berusaha memberi kekuatan untuk namja itu.

“Tuhan, bisakah kau hapus kesedihannya untukku?” Batinnya.

Suasana didalam kamar terlihat sunyi dan sepi, hanya suara tangis Jaejoong lah yang terdengar.
Siapa yang lebih menyedihkan diantara dua insan ini?
Park Jiyeonkah?
Atau Kim Jaejoongkah?
Dua insan yang sama-sama terluka karena saudaranya sendiri.
.
.
.
.
.
Disebuah tempat hiburan malam yang cukup terkenal dikota Seoul, terlihat banyak pasangan yang tengah menghabiskan waktu bersama. Berusaha menghilangkan rasa lelah dan penat yang mereka rasakan dikala siang. Begitu pula dengan pasangan Choi Siwon dan juga Lee Chaerin.

“Eoh, bukankah itu Kim Myungsoo?” Tunjuk Siwon melihat sosok Myungsoo yang tengah meminum segelas wine yang ada ditangannya. Sepertinya namja muda itu terlihat mabuk.

“Nugu?” Tanya Chaerin.

“Kim Myungsoo. Dongsaeng Kim Jaejoong.”

“Mwo? Kim Jaejoong mempunyai seorang dongsaeng?” Tanya Chaerin penasaran. Setaunya, keluarga Kim hanya memperkenalkan Kim Jaejoong kehadapan publik.

“Tunggu sebentar ne, chagi!” Pinta Siwon yang langsung meninggalkan Chaerin dan berjalan mendekat kearah Myungsoo.

“Kya! Apa yang kau lakukan disini? Harusnya kau berangkat ke Amerika sekarang!” Ucap Siwon sedikit berteriak agar Myungsoo dapat mendengarnya diantara suara musik yang cukup memekakkan telinga itu.

“Eoh, hyung!” Jawab Myungsoo yang langsung menoleh ke arah Siwon.

“Errr, kau mabuk Kim Myungsoo.”

“Eoh,ani ani ani!” Jawab Myungsoo menggelengkan kepalanya.

“Aissh,sepertinya malam ini akan menjadi malam yang melelahkan!” Pikir Siwon.

Benar saja, ia harus mengantarkan Kim Myungsoo ke rumah besar keluarga Kim dan membiarkan Chaerin pulang bersama supir pribadinya. Bahkan dalam keadaan tidak bekerja pun ia harus mengurusi keluarga Kim. Merepotkan sekali. Tapi sungguh ia tidak tega melihat Myungsoo dalam keadaan kacau seperti ini.

Awalnya ia berniat menghubungi Jaejoong untuk memberitahukan keadaan dongsaengnya itu mengingat Jaejoong begitu menyayangi Myungsoo meski tidak pernah ia katakan secara langsung, tapi dengan tindakan Jaejoong yang selalu memberikan apapun yang diinginkan Myungsoo, menyewa beberapa bodyguard untuk menjaga Myungsoo selama berada di Amerika dan selalu menanyakan kabar Myungsoo membuktikan bahwa namja dingin itu begitu peduli dan menyayangi sosok Kim Myungsoo,namun ia urungkan niatnya dan lebih memilih untuk mengantarkan Myungsoo sendiri kekediaman keluarga Kim.

Sepi. Itu yang dapat Siwon rasakan saat tiba disana. Itu sudah sangat biasa bagi Siwon karena ia tumbuh di sana. Keluarga Choi memang mengabdi pada keluarga Kim sejak appanya menjadi kepercayaan tuan besar Kim dan ia pun mengikuti jejak sang appa.

Lalu kemana tuan besar Kim?

Entahlah!
Sejak Jaejoong menggantikan posisinya, ia tiba-tiba menghilang. Dan tentu muncul kembali tanpa tanda sedikitpun. Itu yang ditakutkan Myungsoo, appanya itu begitu menyeramkan. Ia bisa muncul tiba-tiba. Seperti jin saja.

Lalu eomma Myungsoo?

Kebiasaan seorang yeoja sudah pasti berbelanja. Entah saat ini ia berada dikota mana untuk mencari barang-barang yang menurutnya bisa membuatnya terlihat lebih cantik saat memakainya.

Bagaimana dengan eomma Jaejoong?

Jaejoong bahkan tidak bisa menjawabnya.

Rumit bukan kehidupan keluarga Kim yang dari luar terlihat begitu glamour dan mewah, namun jika kita lebih dekat dengan mereka akan terasa bahwa sesungguhnya mereka hanyalah sebuah patung. Hanyalah sebuah pajangan. Hanya sebuah hiasan yang mengatasnamakan keluarga Kim yang kaya raya.

Kembali pada sosok Siwon yang telah berhasil membaringkan tubuh Myungsoo diatas ranjang king size didalam kamar dongsaeng sajangnimnya itu.

“Kenapa malah mabuk-mabukkan? Harusnya kau kembali ke Amerika! Benar-benar merepotkan sekali!” Gerutu Siwon.

“Hyung!” Panggilan Myungsoo menghentikan langkah Siwon yang hendak keluar dari dalam kamarnya.

“Hm?” Tanya Siwon menoleh.

“Apa benar Jaejoong hyung menyayangiku?” Tanya Myungsoo parau.

“Ck, pertanyaan macam apa itu? Tentu saja ia amat menyayangimu. Bahkan jika kau meminta ia melompat dari atap gedungpun akan ia lakukan!” Jawab Siwon terkekeh mengingat betapa sajangnimnya itu begitu peduli terhadap Myungsoo.

Myungsoo sedikit terkekeh mendengar jawaban Siwon yang menurutnya terlalu berlebihan itu.

“Kenapa ia tidak membenciku?”

“Mwo?” Tanya Siwon heran dengan pertanyaan kedua Myungsoo itu.

“Kau tau semuanya. Harusnya ia membenciku!”

Siwon menatap sosok Myungsoo yang tengah bersandar pada sandaran ranjang.

“Tentu karena dia hyungmu!”
Jawaban Siwon membuat Myungsoo menatapnya. Meminta penjelasan lebih.

“Dia menyayangimu karena dia hyungmu. Dia menyayangimu karena kau adalah dongsaengnya. Meski kalian tidak terlahir dari rahim yang sama, tapi kalian tetap bagian dari keuarga Kim. Putera dari tuan besar Kim. Itu adalah jawaban paling masuk akal yang bisa kuberikan padamu. Meski Jaejoong terlihat dingin, tapi ia selalu memperhatikanmu. Selalu memantau perkembanganmu. Percayalah, ialah orang yang paling menyayangimu dibanding siapapun bahkan eommamu sekalipun.” Tambah Siwon.

“Huwaaa, apa aku terlihat dewasa saat ini? Hahha…. Sepertinya begitu. Baiklah tuan muda Kim Myungsoo, terimakasih karena sudah mengganggu kencanku malam ini. Selamat beristirahat dan selamat tinggal!” Ucap Siwon yang akhirnya keluar dari dalam kamar Myungsoo.

Myungsoo hanya terdiam. Berusaha mencerna baik-baik jawaban Siwon.
.
.
.
.
.
Pagi ini, Jiyeon yang terlihat berada di dapur tengah berkutat dengan spatula yang ada ditangannya.
Memasak?
Ya, tentu saja yeoja itu tengah memasak. Entah apa yang ia masak. Senyuman dibibirnya tak pernah hilang sejak ia membukakan matanya. Meski dengan penuh kehati-hatian saat melepaskan tangan Jaejoong yang melingkar diperutnya, namun akhirnya ia terbebas juga. Ia tersenyum saat bangkit dari atas ranjang. Saat melihat wajah damai Jaejoong ketika terpejam. Benar-benar terlihat seperti seorang bayi. Jaejoong begitu lebih tampan ketika terpejam.

Jiyeon merasa banyak bunga menghiasi atas kepalanya. Serasa terbang entah kemana jika ia mengingat telah tidur bersama namja itu. Ya, meski hanya tidur dan tidak melakukan hal lain yang biasa pasangan lainnya lakukan. Itu sudah membuat perasaan Jiyeon begitu senang.
Apakah ia sudah benar-benar jatuh hati pada namja itu?

Ya, memang mereka tinggal satu atap. Namun Jaejoong ternyata tidak seburuk apa yang dipikirkan Jiyeon. Jaejoong menghormatinya. Terbukti ketika Jaejoong dan Jiyeon tidak tidur dalam satu ruangan yang sama. Padahal kesempatan Jaejoong untuk menyerang Jiyeon sangatlah besar, bahkan bisa kapan saja ia lakukan mengingat mereka hanya tinggal berdua disana. Jaejoong mungkin saja tengah menahan dirinya agar tidak tergoda dengan tubuh Jiyeon saat yeoja itu terpejam. Setidaknya dengan tidak tidur dalam satu kamar, bisa mengurangi resiko Jaejoong menyentuh Jiyeon lebih, mengingat Jiyeon yang belum menyelesaikan masa senior high schoolnya. Atau mungkin karena tubuh Jiyeon tidak menggiurkan sama sekali?
Jiyeon menggelengkan kepalanya menyadari pikiran konyolnya.

“Lucu sekali! Kenapa kepalamu jadi seperti boneka hoka-hoka bento Jepang, eoh?” Sembur Jaejoong yang datang dan langsung memeluk Jiyeon dari belakang, membuat Jiyeon tersentak kaget karena ternyata namja yang tengah memenuhi pikirannya itu telah terbangun dari tidurnya.

“O-oppa!”

Jaejoong menghirup aroma rambut Jiyeon lalu beralih mencium tengkuk Jiyeon membuat yeoja itu merasa geli dengan sensasi yang diberikan namja itu padanya.

“Oppa!” Suara Jiyeon tertahan seiring dengan hisapan dan jilatan yang diberikan Jaejoong pada tengkuknya. Ia berusaha mati-matian menahan desahan yang hendak lolos dari bibirnya.

“Hm!” Dua huruf itu yang mampu keluar dari mulut Jaejoong. Seolah ia tak ingin berhenti melakukan aktifitas yang cukup memabukkan itu. Hingga akhirnya Jiyeon dapat bernafas lega saat mendengar suara bel berbunyi, menandakan ada tamu yang berkunjung kesana. Jaejoong langsung menghentikan aktifitasnya dengan sedikit rasa kesal. Ia pun berjalan meninggalkan Jiyeon dan segera membukakan pintu.

Mata Jaejoong melebar saat mendapati sosok yeoja yang begitu ia kenal berdiri dihadapannya setelah ia membukakan pintu. Yeoja itu langsung berbambur memeluknya.

“Joongie-Ah!” Ucapnya.

Jiyeon yang memang penasaran dengan siapa tamu yang datang dipagi itu pun berjalan menuju pintu dan begitu terkejutnya ia memandang pemandangan yang ada dihadapannya.
Kim Jaejoong yang tengah dipeluk seorang yeoja.
.
.
.
.
.
Lebih baik memberikan komentar kritikan saran hujatan cacian makian dari pada hanya terdiam melihat dan membaca karya orang.
Coment Jusaeyo!

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 2

image

      IF I RULED THE WORLD
                  (part 2)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong (JYJ)

Other Cast :
Park Jiyoung aka Kahi (After School)
Jung Yunho (TVXQ)
Choi Siwon (Super Junior)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)
Shin Min Ah
Lee Chaerin aka CL (2ne1)

Songfict :
Hyuna (4minute) feat Ilhoon (BtoB) Unripe Apple

Genre. :
Romance, Hurt, Bondage, Family, NC 21+

Length :
Chaptered

A/N : Semoga part 2 ini tidak mengecewakan.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Kim Jaejoong kini menatap sosok Kim Myungsoo dengan tajam sembari melipat kedua tangan didadanya.

“Katakan!” Perintahnya.

“Hyung, apa kau berkencan dengannya?”

Jaejoong langsung melempar remote pendingin ruangannya ke arah Myungsoo. Untung saja namja itu dapat dengan mudah menangkapnya.

“Apa yang kau inginkan?” Tanyanya semakin kesal.

“Arasseo arasseo arasseo. Aku ingin meminjam mobilmu, hyung!” Jawab Myungsoo.

Jaejoong langsung melemparkan kunci mobilnya tepat mengenai kepala Myungsoo karena Myungsoo belum bersiap akan serangan mendadak yang diberikan kakaknya itu.

“KYA!” Teriak Myungsoo kesal karena merasa sakit pada bagian kepalanya.

Jaejoong semakin mempertajam pandangannya membuat Myungsoo mengurungkan niatnya untuk memaki kakaknya itu.

“Geurae. Nan khalke!” Ucapnya seraya mengambil kunci mobil yang terjatuh tepat disamping kakinya.

“Tunggu!”

Refleks Myungsoo langsung menolehkan wajahnya.

“Wae?”

” Bagaimana kau bisa mengenal Park Jiyeon?”

“Igo………” Myungsoo sengaja menggantungkan ucapannya membuat Jaejoong semakin dibuat penasaran olehnya.

“Berikan aku mobil dan apartement! Baru kuberitahukan semua padamu, hyung!” Jawab Myungsoo yang langsung berlari keluar ruangan Jaejoong.

Dongsaeng kurang ajar. Bahkan pertemuan kembali mereka setelah 6 tahun tidak cukup membuat dongsaengnya itu bersikap lebih sopan padanya. Batin Jaejoong.

Ya, Kim Myungsoo adalah dongsaeng kandung dari Kim Jaejoong. Hanya saja, keberadaannya tidak diketahui publik. Sejak kelas 6 Elementary School, Myungsoo dipindahkan ke Amerika. Sesekali Jaejoong menemuinya disana. Ia amat menyayangi dongsaengnya meski dongsaengnya itu begitu menyebalkan.

“Sajangnim!” Panggil Siwon yang menerobos masuk kedalam ruangannya.

“Je-jeoseonghamnida!” Ucapnya menunduk menyadari kesalahannya.

“Bisa kau jelaskan!” Perintah Jaejoong dengan nada dingin khasnya.

Baiklah, Siwon harus bersiap menerima hukuman dari sajangnimnya itu.
Pertama,
karena ia tidak memberitahukan mengenai kedatangan Jiyeon. Kedua,
ia tak mendapat informasi apapun mengenai kembalinya Dongsaeng sajangnim yakni Kim Myungsoo.
Ketiga,
karena panik ia langsung menerobos masuk ruangan sajangnim tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Kini,
habislah dia!
.
.
.
.
.
Jiyeon berjalan menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai. Ia hanya terdiam sambil menunduk. Kembali ia dikejutkan dengan hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Pertama,
ciuman yang kembali ia dapatkan dari orang yang baru ia kenal bernama Kim Jaejoong dan,
kedua,
pertemuannya kembali dengan Kim Myungsoo,
cinta pertamanya.
.
.
.
.
.
“Jadi, mereka dulu pernah satu sekolah?” Tanya Jaejoong pada Siwon.

“Ne. Saat itu mereka masih duduk dibangku Elementary School.”

Jaejoong terlihat puas atas laporan yang diberikan Siwon padanya. Konyol sekali jika ia menganggap dongsaengnya itu sebagai rivalnya.

“Geundae, ini benar-benar mengganggu pikiran saya Sajangnim. Setidaknya untuk kali ini saja, biarkan saya bertanya. Bagaimana bisa anda mengenal Park Jiyeon agasshi?” Tanya Siwon dengan beraninya.
Siwon memundurkan langkahnya saat lagi-lagi diberi tatapan mematikan oleh Jaejoong.

“Hari minggu!” Ucap Jaejoong seraya bangkit dari kursi kebesarannya.

“Ne?” Tanya Siwon yang tidak mengerti dengan ucapan Jaejoong.

“Kau tidak akan kuberi libur dihari minggu dan akan kuberikan pekerjaan tambahan.” Tambahnya seraya melewati Siwon dan keluar dari dalam ruangannya.

“Sajangniiiiimmm!” Rengeknya tidak terima atas hukuman yang ia dapat.

“KIM JAEJOONG!” Teriaknya.

“Brengsek!” Gumamnya pelan. Tentu saja karena sudah tidak ada lagi Jaejoong didalam ruangan itu.

“Selama 1 bulan kau tidak akan kuijinkan libur!” Tambah Jaejoong yang membuka pintu kembali membuat Siwon terkejut setengah mati.

“MWO?”

Jaejoong hanya menyeringai dan kembali menutup pintunya.

“KYA!” Teriak Siwon kesal.

Choi Siwon dan juga Kim Jaejoong, mereka berdua sebenarnya adalah seorang sahabat. Siwon tentu tidak pernah lepas dari Jaejoong karena hidupnya selama ini dibiayai oleh Kim Corporation. Ia amat menyayangi sahabatnya itu meski terkadang ia selalu bertindak sewenang-wenang terhadapnya. Saat lulus perguruan tinggi ia memutuskan untuk mendampingi Jaejoong mengelola perusahaan sebagai asisten pribadi Jaejoong. Ia mengenal Jaejoong lebih dari siapapun. Ia sudah menganggap Jaejoong layaknya saudara kandungnya sendiri, maka bukanlah hal aneh jika kini ia membalas budi pada keluarga Kim dengan mengabdikan diri. Toh selama ini ia ikut bersenang-senang bersama Jaejoong. Namun hukuman kali ini menurutnya begitu tidak adil. Hari minggu adalah hari yang sakral baginya karena hanya dihari itulah ia dapat bertemu dengan kekasihnya yakni Lee Chaerin. Seorang desainer ternama dikota Seoul. Pertemuan mereka memanglah sederhana. Saat itu ia datang bersama Jaejoong kesebuah butik untuk membeli beberapa pakaian dan akhirnya ia tertarik pada sang pemilik butik yakni Lee Chaerin. Hubungan merekapun terjalin cukup lama, sudah hampir 2 tahun dan minggu ini ia berencana untuk melamar kekasihnya itu. Sayang, rencana indahnya harus pupus karena mendapat hukuman konyol dari orang yang tidak lebih konyol darinya. Itu pikirnya.

“Mianhae, chagiya!” Lirihnya seolah Chaerin saat ini tengah berada dihadapannya.
.
.
.
.
.
“Jiyeon-Ah!” Jiyoung langsung berhambur memeluk dongsaengnya itu tatkala ia melihat kedatangannya.

Jiyeon hanya tersenyum tipis. Setidaknya yang ia lakukan kali ini benar.

“Gomawo!” Bisiknya masih memeluk Jiyeon.

“Ne, eonnie!” Jawab Jiyeon lembut.

“Kajja! Eonnie sudah menyiapkan makanan untukmu!” Ajaknya saat melepaskan pelukannya pada Jiyeon.

Benar saja, diatas meja yang ada dihadapannya saat ini Jiyeon dapat melihat makanan kesukaannya telah tersaji.

“Buldak!” Ucapnya senang dan langsung meluncur siap menyantap makanan pedas itu.

“Eonnie sendiri yang membuatnya?” Tanya Jiyeon.

“Eum.Habiskanlah!”

Tanpa perlu dikomandopun Jiyeon akan langung menghabiskannya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak memakan makanan kesukaan dari tangan eonnienya itu.

“Eonnie tidak makan?” Tanya Jiyeon yang masih mengunyah Buldak didalam mulutnya.

Jiyoung hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum pada Jiyeon.

“Jiyeon-Ah, dengarkan eonnie! Eonnie sudah tidak bekerja lagi direstorant!”

“Mwo?” Jiyeon jelas terkejut mendengarnya.

“Besok eonnie akan diperkenalkan kepada publik oleh agensi eonnie. Eonnie akan menjadi artis!” Jawabnya dengan mata berbinar.

Jiyeon hanya menghembuskan nafasnya.

“Lalu, bagaimana dengan Yunho oppa? Apa eonnie sudah memberitahunya?” Jiyeon kembali bertanya.

“Eum. Eonnie juga sudah mengakhiri hubungan diantara kami.”

“MWO? EONNIE, NEO MICHEOSSEO?” Teriak Jiyeon terkejut dengan pernyataan eonnienya itu.

“Eonnie bukan lagi Park Jiyoung. Mulai besok publik akan mengenal eonnie sebagai Kahi.”

“Eonnie…..”

“Eonnie tidak akan tinggal disini lagi. Agensi sudah menyiapkan tempat tinggal baru untuk eonnie. Untuk mempermudah jalannya debut, eonnie akan dikenal sebagai seorang anak yatim piatu yang sudah tidak mempunyai keluarga baik orang tua maupun saudara.” Potong Jiyoung.

“EONNIE!” Bentak Jiyeon. Sungguh itu menyakitkan. Pertama kali dalam hidupnya ia berani membentak seseorang terlebih itu adalah eonnienya sendiri.

“Eonnie tau tindakan eonnie ini salah. Geundae, mengertilah Jiyeon-Ah! Eonnie tidak ingin dikenal publik sebagai artis dengan masalalunya yang suram. Eonnie ingin semuanya mengenal eonnie dengan baik. Kau tidak perlu khawatir, eonnie pasti akan mengirimkanmu uang setiap bulannya!”

“Eonnie, neo nappeun! Neomu-neomu nappeun saram! APA KAU TIDAK MEMIKIRKAN BAGAIMANA PERASAAN YUNHO OPPA, EOH?”

“Cukup! Kau sudah kurang ajar padaku, Jiyeon-Ah! kau hanya perlu menyetujuinya. Dan jangan pernah muncul dihadapan siapapun dan mengaku sebagai dongsaengku. Dan satu hal lagi, jangan pernah mengecewakan sajangnim atau kau ingin melihatku benar-benar hancur.” Jawab Jiyoung yang langsung meninggalkan Jiyeon.

Jiyeon menatap nanar Buldak yang ada dihadapannya saat ini. Bahkan makanan yang begitu ia favouritkan itu tidak mampu menghilangkan kesedihannya.
.
.
.
.
.
Jiyeon tertunduk lemas. Sungguh hari ini ia malas melakukan aktifitas apapun.

“Neo appo?” Tanya yeoja cantik yang datang menghampiri Jiyeon. Tentu saja itu membuat Jiyeon terbangun dari lamunannya.

“Shin saem! A-aniyo. Gwaenchana!” Jawab Jiyeon masam. Ia tidak mungkin menceritakan semuanya pada gurunya itu.

“Geurae, saem akan pulang terlebih dahulu! Baik-baik sampai rumah, ne!” Ucapnya seraya mengelus lembut puncak kepala muridnya itu.

Jiyeon beruntung karena ia memiliki seorang guru seperti Shin Min Ah. Guru muda yang tidak hanya cantik parasnya namun juga cantik hatinya. Itu yang Jiyeon simpulkan tentang yeoja itu.

“Ne, saem!” Jawabnya setengah menunduk.

Shin Min Ah pun mendahului Jiyeon keluar dari pintu gerbang sekolah. Matanya menajam saat melihat sebuah mobil yang ia pernah lihat sebelumnya terparkir didepan pintu gerbang sekolah. Ia menautkan kedua alisnya. Berusaha menajamkan pandangannya dan meyakini penglihatannya.

“Mobil seperti itu tentu sudah banyak dipasaran. Babo!” Rutuknya dalam hati lalu bergegas menuju mobilnya sendiri dan meninggalkan gedung sekolah dimana ia mengajar itu.

Setelah Jiyeon tidak melihat gurunya, ia kembali tertunduk lesu.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Kembali kerumah?
Tidak. Ia amat enggan kembali kesana. Percuma ia pulang jika tidak menemukan eonnienya disana. Eonnienya itu bahkan tidak menghubunginya. Sepertinya yang dikatakan Jiyoung semalam benar-benar amat serius. Lagi-lagi Jiyeon hanya dapat menghembuskan nafasnya.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Eoh?” Mata Jiyeon akhirnya bertemu pandang dengan mata Jaejoong. Namja tampan itu tengah berdiri disamping mobilnya. Keadaan sekolah memang sudah sepi dan Jaejoongpun berkata tepat dihadapan Jiyeon yang terus menunduk selagi berjalan dan tidak menyadari akan sosok yang ada dihadapannya itu.

“Sa-sajangnim!”

“Sajangnim?”

“Eoh, tu-tuan!”

“Mwo?”

“O-oppa!”

Jaejoong tersenyum manis pada akhirnya setelah Jiyeon berhasil memanggilnya dengan embel-embel ‘oppa’.

Jiyeon memerah saat melihat senyum Jaejoong.
Kenapa pipinya selalu merasa panas jika melihat senyuman itu?
Jiyeon kembali menundukkan dirinya dan berjalan mendekat.

“A-ada apa Sa-O-oppa datang ke-Kesini?”

Jaejoong semakin melebarkan senyumannya. Bahkan senyumannya kali ini berhasil memperlihatkan deretan gigi putihnya. Entahlah. Ia merasa sangat senang saat melihat yeoja yang ada dihadapannya saat ini terlihat begitu malu terhadapnya.

Jaejoong semakin mempersempit jarak diantara dirinya dan juga Jiyeon.

“Tentu saja menjemputmu!” Bisiknya tepat ditelinga Jiyeon membuat Jiyeon bergidik geli menerima perlakuan seperti ini dari Jaejoong.

Jaejoong langsung menggenggam tangannya membuat Jiyeon mengangkat kembali wajahnya.

“Kita akan pergi kerumah baru kita!”

“Ne?”
.
.
.
.
.
Yunho menatap nanar sebuah layar televisi yang terpampang diruang kerjanya.
Ya, dia adalah pemilik restoran dimana Jiyoung bekerja dulu. Saat ini salah satu stasiun televisi tengah menayangkan seorang Park Jiyoung. Bukan. Tapi seorang Kahi. Itulah nama yang digunakan Jiyoung saat memperkenalkan dirinya pada para wartawan disana.

“Kau benar-benar melakukannya, Jiyoung-Ah!” Lirih Yunho.

“Itu bukan dirimu yang ku kenal! Ya, itu bukanlah Park Jiyoung. Itu adalah Kahi. Yeoja ambisius dan juga egois.” Tambahnya yang langsung mematikan layar televisi tersebut.

Ia terduduk dikursi kebesarannya. Mengurut pelan pelipisnya. Rasanya begitu pening.

“Benarkah? Benarkah kita sudah berakhir?” Gumamnya.
.
.
.
.
.
Siwon menahan sakit dilengannya karena telah dipukuli oleh yeoja cantik yang ada dihadapannya itu.

“Kita hanya bertemu seminggu sekali dan oppa bilang selama sebulan ini kita tidak bisa bertemu?”

“Mianhae, chagi!”

“Apa jangan-jangan kau berselingkuh dengan Kim Jaejoong, eoh?”

“Mwo?”

Chaerin, yeoja itu adalah Lee Chaerin, kekasih Siwon. Dengan kesal ia terus memukuli tubuh kekasihnya itu. Bagaimana tidak, Siwon mengatakan bahwa selama sebulan ini ia tidak dapat menemui Chaerin. Hari ini pun ia datang ke butik Chaerin tanpa sepengetahuan Jaejoong. Ia ingin menjelaskan langsung alasannya pada kekasihnya itu. Haruskah kisah asmaranya juga dipertaruhkan demi melayani Jaejoong?

“ANDWAEEEE!” Batinnya berteriak.
.
.
.
.
.
Jiyeon masih terdiam meski perjalanan mereka kini telah terhenti. Ia hanya menatap pemandangan hijau setelah melewati sebuah gerbang yang cukup tinggi.

“Kau tidak ingin turun?” Tanya Jaejoong membuyarkan lamunan Jiyeon.

“N-ne!”

Jiyeonpun turun dari dalam mobil begitu pula dengan Jaejoong. Dihadapannya kini berdiri kokoh sebuah rumah bercat putih. Dan ini terlihat sangat nyaman bahkan sebelum ia memasukinya.

“Wae?” Tanya Jaejoong.

“A-apa yang kita lakukan disini?”

“Tentu saja melihat rumah baru kita!” Jawab Jaejoong yang siap menarik tangan Jiyeon.

“Tunggu!”

Jaejoong menolehkan wajahnya. Menatap yeoja yang masih mengenakan seragam sekolah itu dengan intens.

“A-apa ma-maksud oppa dengan ru-rumah kita?”

Jaejoong tersenyum, bukan, lebih tepatnya menyeringai membuat Jiyeon sedikit ngeri melihat seringaian itu.

“Mi-mian!” Ucap Jiyeon tertunduk.

Jaejoong kembali menarik tangan Jiyeon memasuki rumah itu. Jiyeon hanya menuruti keinginan Jaejoong. Ia belum mengenal baik bagaimana sosok namja yang saat ini tengah menggenggam erat tangannya itu. Jiyeon tidak tau apa yang terjadi jika namja itu marah. Yang jelas, pasti itu adalah sesuatu yang amat buruk dan ia tidak mau mengalaminya.

Jiyeon memperhatikan sekeliling seraya tertunduk. Pemandangan disekitar rumah begitu indah dengan hamparan danau dan rerumputan hijau memikat.

Pintu pun dibuka dan Jiyeon hanya dapat mengikuti kemana arah kaki Jaejoong melangkah.

Tak hanya disekitar area rumah saja yang menakjubkan, bahkan bagian dalam rumah pun begitu menakjubkan. Aksen industrial pada rumah itu pun terlihat begitu kental jika dilihat dari luar.

“Neo joah?” Tanya Jaejoong.

Yang ditanya mulai terbangun dari pesona rumah yang baru saja ia masuki itu. Jiyeon akhirnya menutup mulutnya setelah cukup lama terbuka karena mengagumi isi didalam rumah tersebut.

“Ne?”

Jaejoong tersenyum melihat tingkah Jiyeon yang menurutnya begitu menggemaskan itu.

Jiyeon kembali memerah setelah melihat senyuman itu. Lagi-lagi ia hanya dapat menunduk malu. Selalu seperti itu.

“Kau suka rumahnya?” Bisik Jaejoong tepat ditelinga Jiyeon membuat yeoja itu semakin merona.

“N-ne!” Jawab Jiyeon asal seraya menganggukkan kepalanya.

“Jeongmal?”

ANDWAE. Jaejoong bisa membuat Jiyeon pingsan. Jarak mereka terlalu dekat. Bahkan Jiyeon dapat merasakan hembusan nafas Jaejoong yang menerpa pipinya yang semakin terasa memanas. Sedangkan sang namja begitu menikmati keadaan Jiyeon saat ini.

~Drt…Drt…Drt~

Jaejoong menjauhkan wajahnya saat android didalam jas yang ia kenakan bergetar. Akhirnya Jiyeon dapat bernafas dengan lega.

“Hm?”

“Hm!”

Hanya dua huruf itu yang keluar dari mulut Jaejoong.

“Beristirahatlah! Semua pakaianmu sudah ada didalam kamar!”

“Geundae…..”

~CHU~

Jiyeon melebarkan matanya saat Jaejoong mendaratkan bibirnya tepat dikening Jiyeon. Jiyeon terpaku menerima perlakuan manis yang diberikan Jaejoong padanya. Jaejoong mengusap lembut puncak kepala Jiyeon dengan sayang.

“Aku akan segera kembali!” Tambahnya.

Jiyeon tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya dapat mematung.
.
.
.
.
.
“Apa yang kau inginkan?” Tanya Jaejoong yang saat ini sudah berada didalam ruangannya.

Seorang namja muda duduk dihadapannya seraya memainkan PSV yang ada ditangannya.

“Berikan aku uang, hyung!” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar PSV.

“Kembalilah ke Amerika!”

“Hyuuuuuuuung, kenapa kau sama saja dengan eomma eoh? Apa kalian benar-benar tidak menginginkan kehadiranku?” Rengek namja yang ternyata Kim Myungsoo itu.

“Appa akan marah jika mengetahui kau kabur dari Amerika!”

“Ck, kalian semua takut pada Appa!” Cibirnya.

“Lalu, apa kau tidak?”

Myungsoo tidak mampu menjawab. Ia kalah. Ia begitu menakuti sosok sang Appa. Lebih menyeramkan dari iblis sekalipun. Itu fikirnya.

“Kapan kau akan kembali?”

“Rumahku disini. Setidaknya biarkan aku bersenang-senang terlebih dahulu disini!”

Jaejoong tidak mau meneruskan percakapan yang menurutnya tidak berguna itu.

“Hyung?”

“Hm!”

“Kudengar kau membeli rumah baru?”

Jaejoong langsung memberikan death glarenya pada Myungsoo. Bocah setan itu tau dari mana ia membeli rumah baru?
Choi Siwon. Itulah tersangka utama.

“Jangan salahkan Siwon hyung! Aku yang mencari tau sendiri!” Jawab Myungsoo yang seolah tau isi pikiran Jaejoong.

“Segera transfer ke rekeningku, hyung!” Tambahnya seraya bangkit dari kursinya.

“Jika kalian tidak menginginkanku, maka aku yang akan membuat kalian menginginkanku.” Ucapnya seraya memberikan seringaian yang tak kalah menakutkan dari Jaejoong. Myungsoo pun meninggalkan ruangan Jaejoong.

“Bocah itu!” Gumamnya. Entah mengapa ia merasa Myungsoo mulai berbahaya. Tidak. Tidak ada yang boleh mengalahkannya selain dirinya sendiri. Hanya ia lah yang mampu melakukan itu. Ya, hanya ia yang boleh.
.
.
.
.
.
Jiyeon mulai menikmati rumah barunya. Ralat. Rumah yang entah milik siapa. Tidak. Rumah ini jelas milik Kim Jaejoong. Tapi, apa benar ia juga akan tinggal disini?
Berbagai macam makanan sudah berada didalam lemari pendingin, namun ia hanya mampu memandanginya tanpa berani memakannya. Setidaknya ia harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dari sang pemilik rumah sebelum ia memakannya.

Perutnya terus saja berbunyi. Ia benar-benar kelaparan. Haruskah ia memakannya? Berkali-kali Jiyeon menggelengkan kepalanya berusaha menolak hasrat untuk segera menyantap makanan yang ada dihadapannya itu hingga sang pemilik rumah tiba. Tapi kapan?
Ini sudah pkl 19:00 dan sejak disekolah iapun belum memasukkan makanan apapun kedalam perutnya itu. Wajar jika saat ini cacing-cacing didalam perutnya mulai protes.

“Gidaryeo!” Lirihnya seraya mengusap perutnya.

“Kau ini aneh sekali!”

Jiyeon tersentak dengan suara orang yang tiba-tiba ada dibelakangnya itu. Refleks ia langsung menutup lemari pendingin dan berbalik ke arah sumber suara.

“K-kim-kim Myungsoo!”

Myungsoo dengan tenangnya melewati Jiyeon dan mengambil makanan yang ada didalam lemari pendingin dan langsung memakanya tepat dihadapan Jiyeon membuat yeoja itu tergiur dan hanya mampu menelan salivanya.

“Apa kau berkencan dengan hyungku?”

“Ne?”

“Ck.”

Hening. Hanya suara kunyahan yang terdengar dari mulut Myungsoo yang tengah mencerna makanan didalam mulutnya.

“Apa kau tidak lapar, eoh?”

“Ne?”

“Ck, kenapa kau selalu bertanya diatas pertanyaan? Menyebalkan!”

Jiyeon menunduk. Sejujurnya ia begitu terluka dengan ucapan Myungsoo. Tidak. Ini bukan pertama kali. Harusnya ia sudah terbiasa dengan mulut pedas itu.

~FLASHBACK ON~

“Mwo? Kau bilang kau menyukaiku?”

“N-ne!” Jawab yeoja berseragam Elementary School dengan malunya.

Sang namja tertawa mendengar sesuatu yang menurutnya begitu lucu itu.

“Kya! Park Jiyeon! Apa kau tidak pernah sadar siapa aku dan siapa kau sebenarnya itu, eoh?” Cibirnya seraya menunjuk dengan jemarinya membuat yeoja yang ternyata Park Jiyeon itu mundur beberapa langkah.

“Aku ini Myungsoo. Kim Myungsoo. Putra dari pemilik Kim Corporation. Apa kau tidak punya televisi dirumah? Harusnya kau tau bagaimana hebatnya keluarga Kim. Kau sangat tidak sepadan denganku! Kau itu hanya anak rendahan dan aku hanya pantas bersanding dengan kalangan atas! Dasar gagap bodoh!” Ucap namja yang ternyata Kim Myungsoo itu dengan kasarnya.

Sejak saat itulah Jiyeon tidak mau lagi mengenal pria. Bahkan ia tidak mau bersekolah disekolah campuran dan lebih memilih bersekolah disekolah khusus wanita.

Sungguh hari itu begitu menakutkan baginya. Cibiran-cibiran yang ia terima dari teman-temanya sejak kejadian itu membuat nyalinya ciut dan enggan berhubungan dengan pria.

Awalnya ia tak berniat menyampaikan perasaanya itu pada Kim Myungsoo, namun teman-teman mendesaknya dan kata-kata itu terucap dihadapan seorang Kim Myungsoo. Namun dengan tega namja itu mengatakan semua hal kasar itu padanya.

Beberapa bulan setelah itu, Myungsoo pindah sekolah keluar negeri entah karena alasan apa. Jiyeon tidak perduli. Itu bagus baginya sehingga ia tidak dapat bertemu kembali dengan simulut pedas itu. Namun sepertinya takdir tidak memihak padanya. Kini ia dapat bertemu lagi dengan namja itu. Namja yang sejak dulu ingin ia hapus dari ingatannya.

~FLASHBACK OFF~

“Kau masih sama seperti dulu!” Ucap Jiyeon dan entah bagian mana yang lucu dari ucapan Jiyeon, lagi-lagi membuat seorang Kim Myungsoo tertawa.

Bagai sebuah dejavu bagi Jiyeon. Kejadian 6 tahun lalu haruskah terulang kembali?

“Ck, sepertinya kau agak sedikit berbeda Park Jiyeon!” Cibir Myungsoo.

“Kau mulai berani berbicara ternyata!” Tambahnya seraya tersenyum sinis.

Sungguh ingin sekali detik itu juga Jiyeon membungkam mulut seorang Kim Myungsoo.

“Neo! Jangan pernah bermimpi untuk menjadi bagian dari keluarga Kim.” Ucapnya seraya mendekat kearah Jiyeon membuat Jiyeon refleks memundurkan langkahnya.

“Aku tidak tau apa yang terjadi diantara hyungku dan juga kau, yang jelas akan kupastikan kau tidak akan mendapatkan apapun dari kami!”

Jiyeon, tubuhnya terbentur lemari pendingin. Ia tidak bisa bergerak lagi sementara Myungsoo mulai menghimpitnya dan terus saja melontarkan kata-kata yang sungguh tidak ingin Jiyeon dengar sama sekali.

“Kau itu hanya kalangan bawah, kau itu rendahan dan jangan bermimpi untuk menjadi seperti kami!”

~PLAK~

Jiyeon mulai hilang kesabarannya. Sudah cukup selama ini namja itu terus menghinanya.

“Cukup! Aku tidak ingin mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kotormu itu!”

Myungsoo tersenyum miring. Tangannya menyentuh pipi kanannya yang terasa perih karena pukulan Jiyeon.
Myungsoo langsung mendorong tubuh Jiyeon, Membuat yeoja itu akhirnya terbentur sebuah rak yang tak jauh dari lemari pendingin.

~BRAK~

Myungsoo mencengkram bahu Jiyeon. Jiyeon bergetar hebat. Ia sungguh ketakutan saat ini. Ia hanya dapat menutup kedua matanya bersiap dengan hal buruk yang akan Myungsoo lakukan padanya lebih dan lebih. Hingga ia tidak dapat merasakan cengkraman hebat dari Myungsoo lagi dibahunya.
Yang ia rasakan hanya sebuah pukulan yang terdengar dari indera pendengarnya. Ia memberanikan diri membuka mata dan matanya langsung terbuka sempurna saat sosok Kim Jaejoong tengah menghajar habis Kim Myungsoo dengan geramnya. Tubuhnya sama sekali tidak bisa ia gerakkan. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya ia memisahkan kedua kakak beradik itu?
Hingga tubuhnya terasa lemah. Perlahan tubuhnya ambruk. Yang dapat ia lihat hanyalah sosok Jaejoong yang langsung menghampirinya dengan wajah panik. Setelah itu ia tak dapat merasakan apapun. Matanya kembali terpejam sempurna.
.
.
.
.
.
Bagaimana nasib Jiyeon?
Apa yang akan terjadi setelah Kim Jaejoong menghajar dongsaengnya sendiri yakni Kim Myungsoo demi seorang Park Jiyeon?
Nantikan next partnya!
Coment Jusaeyo!

FF Jaejoong Jiyeon (JaeYeon Couple) Part 1

image

      IF I RULED THE WORLD
                  (part 1)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jaejoong (JYJ)

Other Cast :
Park Jiyoung aka Kahi (After School)
Jung Yunho (TVXQ)
Choi Siwon (Super Junior)
Kim Myungsoo aka L (Infinite)

Songfict :
Park Jiyeon My Sea

Genre :
Romance, Hurt, Bondage, Family, NC 21+

Length. :
Chaptered

A/N : FF ke 17 hadir. Untuk pertama kalinya author
menggunakan cast JaeYeon couple. Pernah author publish di tanggal 20 September 2014 silam.
Semoga tidak mengecewakan!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
~PLAK~

Sebuah tamparan keras tepat mendarat di pipi mulus yeoja berseragam Baewha Women’s College, Seoul. Sungguh sambutan yang luar biasa yang ia dapat setibanya dirumah.

“E-eon-eonnie!” Ucapnya terbata setelah menerima perlakuan mengejutkan dari sang kakak. Air mata mulai turun melewati pipinya yang membengkak seiring dengan rasa sakit yang mulai menderanya.

“Neo! SUDAH KUKATAKAN JANGAN MENOLAKNYA! APA KAU TAK BISA MENGERTI, EOH?” Teriak yeoja yang dipanggil eonnie itu. Sepertinya yeoja itu benar-benar terbakar amarah saat ini.

“Mi-mian! Mianhae!” Lirih yeoja yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu.

“Dengar, Park Jiyeon! Sajangnim hanya menginginkamu! Kau hanya perlu menuruti semua keinginannya! APA ITU SULIT?”
Yeoja yang diketahui bernama Park Jiyeon itu tak kuasa menahan tangisnya. Ia terus terisak. Ini pertama kali baginya melihat sang eonnie begitu marah.

“Impianku ada ditanganmu saat ini! Jika kau tidak dapat mewujudkan mimpiku, maka enyah dan anggap aku ini bukan saudaramu!” Tambah sang eonnie seraya menekankan setiap kata-kata yang meluncur dari mulutnya. Tak peduli saat ini adiknya begitu kesakitan atas perlakuan kasarnya, tak peduli adiknya begitu ketakutan atas ucapannya, ia tetap meninggalkan yeoja itu yang terus menangis. Menangisi nasib yang telah menimpanya.

Park Jiyeon, ia adalah salah satu siswa dari Baewha Women’s College di Seoul. Sekolah yang hanya diperuntukkan untuk para wanita.
Ia hanya tinggal berdua bersama dengan eonnienya yakni Park Jiyoung. Kedua orang tua mereka telah meninggal dunia saat Jiyoung duduk dikelas 3 High School. Adiknya yang tak lain adalah Park Jiyeon yang baru memasuki Junior High School begitu terpukul atas kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya.
Sejak saat itu Jiyounglah yang bertugas menggantikan kedua orangtuanya untuk menjaga dan merawat Jiyeon, adik satu-satunya. Ia bahkan terpaksa berhenti sekolah karena harus bekerja untuk mencukupi kebutuhannya dan juga Jiyeon. Ia bersikeras membuat Jiyeon lulus hingga perguruan tinggi. Ia sangat menyayangi adiknya itu.
Namun rasa sayangnya berubah saat ia dipertemukan dengan orang yang dapat mewujudkan impiannya. Impiannya untuk menjadi seorang artis papan atas. Ia mengikuti berbagai casting sebagai model. Tidaklah sulit baginya karena ia memiliki wajah yang rupawan serta tubuh yang menawan, hanya satu kekurangannya, ia hanya seorang yeoja lulusan Junior High School dan itu akan merusak citranya kelak saat menjadi artis.
Hampir semua management artis menolaknya.

Ia yang dulunya hanya seorang pelayan disebuah restorant kecil akhirnya bertemu dengan Kim Jaejoong, CEO dari Kim Corporation yang menaungi sebuah agensi keartisan bernama Kim Entertainment. Tidak peduli cacian atau makian yang akan ia dapat nantinya, ia hanya ingin mewujudkan mimpinya. Menjadi seorang artis. Hanya itu satu-satunya cara. Ia akan menyerahkan segalanya agar ia dapat dengan mudah berkiprah didunia entertainment.

***

“Mi-mianhae, sajangnim! Sa-saya hanya ingin meminta kemurahan hati anda!”

Kim Jaejoong, namja itu hanya memandang datar yeoja yang ada dihadapannya saat ini.

“Sa-saya sudah memenangkan berbagai audisi, mu-mulai dari mo-modeling hingga akting, mereka menolak saat mereka mengetahui bahwa saya hanya lulusan Junior High School. A-akan saya lakukan apapun yang a-anda inginkan a-asal anda mau menerima saya dan membuat saya menjadi seorang artis.” Akhirnya Jiyoung dapat mengatakan semuanya. Ia kumpulkan keberaniannya demi dapat menemui pemuda yang selalu dielu-elukan kalangan hawa itu. Bagaimana tidak, Kim Jaejoong memiliki wajah yang tampan dan juga tubuh yang atletis. Selain itu, ia juga seorang pewaris tunggal dari Kim Corporation, sebuah perusahaan raksasa di Korea yang mencakup berbagai bidang termasuk management keartisan.

“Jeongmal?” Hanya itu yang kelar dari mulut sang CEO, ia lebih terlihat seperti seseorang yang sudah berhasil menemukan mangsanya.
Jiyoung bergidik ngeri melihatnya.

“N-ne, sa-sajangnim!”

“Neo Dongsaeng!”

“Ne?” Tanya Jiyoung tak mengerti.

“Berikan adikmu padaku!”
3 Kata. 3 kata yang merubah semuanya.
Dari mana namja itu tau kalau ia mempunyai seorang adik?
Persetan.
Sudah tidak ada waktu untuk memikirkan pertanyaan itu. Ia hanya perlu memberikan Jiyeon pada namja itu. Bukan hanya Jiyeon, jika namja itu menginginkannya, iapun akan memberikannya. Tekadnya sudah bulat. Ia benar-benar ingin menjadi seorang artis. Ingin dipandang orang bukan hanya dengan sebelah mata.

“Ba-baiklah. Akan saya berikan!”

Jaejoong semakin memperlihatkan seringaiannya, tanpa Jiyoung ketahui bahwa semua itu adalah bagian dari skenario yang ia buat sejak awal. Ya, sejak awal.

***

Jiyeon terus menangis. Ia tidak ingin menyakiti eonnienya. Keluarga satu-satunya.
Tapi, permintaan itu cukup sulit baginya.
Bagaimana bisa eonnienya itu membiarkan ia bersama dengan namja yang tak ia kenal sebelumnya?
Menjualnya?
Mungkinkah itu kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang sebenarnya?
Ia ingat saat Jiyoung dengan riangnya kembali ke rumah dengan membawa berbagai macam makanan malam itu.

“Omo, eonnie! Apa bos baru saja memberikanmu hadiah?” Tanya Jiyeon saat melihat Jiyoung meletakkan berbagai macam makanan dihadapannya.

Jiyoung belum menjawab. Ia malah menyenandungkan sebuah lagu yang keluar dari mulutnya.

“Errr, apa jangan-jangan bos telah melamarmu hm?” Goda Jiyeon.

“Ani. Ini bahkan lebih hebat dari itu!” Jawab Jiyoung berbinar.

Jiyeon semakin dibuat penasaran oleh kakak satu-satunya itu.

“Kya! Cepat beritahu aku!” Rajuk Jiyeon.

Jiyoungpun berhenti bersenandung. Ia lalu memandang adiknya dengan serius membuat Jiyeon harus menelan salivanya bersiap menerima kabar menggembirakan dari sang eonnie.

“Naega….” Jiyoung sengaja memperlambat ucapannya.

Jiyeon masih setia menunggu ucapan yang akan segera meluncur dari bibir sang eonnie.

“Aku akan menjadi seorang artis.”

Jiyeon menghembuskan nafasnya. Ini sudah lebih dari 100x mungkin ia mendengarnya. Ia memang mengetahui bahwa eonnienya ini sangat terobsesi untuk menjadi seorang artis. Namun kenyataannya hingga detik ini yeoja itu tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa impiannya itu akan segera terwujud.

“Eoh!” 3 kata itu yang akhirnya mampu keluar dari mulut Jiyeon untuk menanggapi berita yang baru saja disampaikan eonnienya barusan.
Jiyeon kemudian mengambil snack yang baru saja dibawa oleh eonnienya lalu memakannya.

“Jiyeon-ah, ini semua berkatmu!”

“Mwo?” Jiyeon bingung dengan ucapan eonnienya.
Apa hubungannya dengan dirinya?
Ia masih asyik mengunyah snacknya.

“Sajangnim menginginkamu. Ia akan menjadikanku artis terkenal jika aku memberikanmu padanya. Kau memang benar-benar membawa keberuntungan, Jiyeon-Ah! Temuilah ia di Pierre Gagnaire Restaurant besok sore! Ia akan menunggumu disana. Berpakaianlah yang rapih dan jangan lupa sedikitlah berdandan.”

Jiyeon masih terdiam mendengar penuturan sang eonnie, seperti tengah mencerna kata demi kata yang eonnienya keluarkan.

Jiyoung mengecup singkat puncak kepala dongsaengnya itu.

“Eonnie akan beristirahat terlebih dahulu. Besok eonnie akan menandatangani kontrak. Kita akan hidup lebih baik setelah eonnie menjadi artis kelak!” Bisiknya. Ia menguap menandakan bahwa rasa kantuk mulai menyerangnya.

“Selesai makan langsung tidur. Arra!” Perintahnya langsung menutup pintu kamarnya.

Jiyeon, yeoja berusia 17 tahun itu hanya mengerjap. Ia memandang pintu kamar yang sudah tertutup itu. Sungguh ia belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang bergelayut dibenaknya.
Apa sebenarnya maksud sang eonnie?
Siapa sajangnim yang eonnienya maksud?
Lalu apa hubungan itu semua dengannya?
Jiyeon hanya menghembuskan nafasnya. Malas untuk meminta penjelasan lebih kepada eonnienya yang sudah terlelap didalam sana itu. Mungkin besok. Ya. Besok akan ia tanyakan. Bertanya tentang maksud ucapan eonnienya barusan.
Hanya itu.

Itu pertemuan terakhirnya dengan sang eonnie sebelum kejadian ini terjadi. Sebelum sang eonnie memberikannya tamparan hebat malam ini. Sebelum sang eonnie marah dan meninggalkannya.

Jiyeon terus menangis. Dadanya terasa sesak saat mengingat kejadian sore tadi. Saat ia datang ke sebuah restaurant mewah untuk menemui orang yang dimaksud sang eonnie.

Pagi itu ia tak menemukan eonnienya saat terbangun. Ia hanya menemukan selembar kertas yang sepertinya sengaja ditinggalkan Jiyoung untuk Jiyeon.

~Pierre Gagnare Restorant 17:00. Jangan terlambat! Sajangnim menunggumu disana! Masa depan eonnie ada ditanganmu, Jiyeon-Ah! Kuharap kau dapat mewujudkan impian eonnie. Eonnie sayang padamu!~

Awalnya Jiyeon ragu untuk datang ketempat itu, namun pesan yang ditinggalkan Jiyoung begitu mengganggunya. Ia tidak ingin mengecewakan eonnienya. Toh hanya bertemu dengan sajangnim yang entah itu seorang yeoja ataupun namja. Meski tidak tau nanti apa yang akan terjadi, ia hanya perlu menemuinya. Hanya itu. Benar, bukan?

Yeoja berambut panjang itu disambut hangat oleh pelayan yang sudah menunggu tepat dipintu masuk restautant. Ia yang masih mengenakan seragam sekolahnya hanya mengikuti langkah sang pelayan yang hendak mengantarkannya menemui sajangnim.

Aneh rasanya saat pelayan itu langsung mempersilahkannya masuk tanpa bertanya terlebih dahulu. Tapi ia ingat bahwa pesan yang ditinggalkan Jiyoung tertulis sajangnim akan menunggunya.

Sepi, bahkan terlihat kosong. Tak ada satupun pengunjung didalamnya.
Bukankah ini restaurant berbintang 5 yang menjual makanan dan minumannya dengan harga diatas 1juta won?
Kenapa tidak ada pengunjung sama sekali?
Apa warga korea terlalu miskin untuk datang kesini?
Tentu jawabannya tidak, mengingat hampir 75% warga Korea adalah pengusaha dan sudah tentu memiliki uang yang cukup banyak.
Lalu, kenapa tempat ini sepi tanpa pengunjung?

Jiyeon mengamati sekelilingnya. Interior dan segala benda yang ada didalam restaurant benar-benar sangat mewah dan sudah pasti mahal. Wajar saja restaurant ini hanya diperuntukkan untuk orang-orang kalangan atas.

Kakinya terhenti tepat didepan sebuah ruangan.

“Masuklah, nona! Sajangnim sudah menunggu!” Ucap sang pelayan namja dengan sopannya.

Jiyeon hanya tersenyum serta menganggukkan kepalanya, yak lupa ia pun mengucapkan terimakasih karena pelayan itu sudah mengantarnya.

Baiklah. Kini Jiyeon hanya perlu membuka knop pintu dan masuk kedalam ruangan yang ada dihadapannya saat ini. Ia akan menemui orang yang dipanggil dengan embel-embel ‘sajangnim’. Tentu orang itu bukanlah orang biasa sepertinya.

“Kau sudah datang, Park Jiyeon!” Itulah sambutan yang ia dapat saat ia membuka pintu itu.

“Mendekatlah!” Tambahnya.

Jiyeon sedikit ragu. Namun, bukankah ia datang memang untuk menemui sajangnim? Sajangnim yang ternyata adalah seorang namja muda dengan paras yang bisa dibilang sempurna. Tak ada sedikitpun cacat diwajahnya.
Benar-benar namja yang tampan. Batin Jiyeon

“Wae? Apa kau takut padaku?”

Jiyeon tersadar akan pesona sang namja. Ia pun menutup pintu dan berjalan mendekat.

Namja yang belum ia ketahui namanya itu tarus menatapnya intens, membuat Jiyeon hanya mampu menundukkan wajahnya.

Jiyeon berhenti tepat didepan meja sang namja yang tengah duduk disofa seberangnya.

“Kenapa berhenti? Duduklah disini!” Ucap sang namja seraya menepuk ruang kosong disamping sofanya.

“Sa-sajangnim ingin bertemu dengan saya?” Tanyanya terbata. Ternyata tidak jauh berbeda dengan Jiyoung. Batin sang namja.

” Kau tidak ingin makan bersamaku?”

“Eoh?” Jiyeon mengangkat wajahnya. Ia baru menyadari bahwa sudah ada banyak makanan lezat diatas meja. Ternyata pesona sajangnim jauh lebih hebat dibandingkan dengan makanan yang sudah bisa ditebak harganya selangit itu.

“Makanlah bersamaku!” Pinta sang namja lembut.

Jiyeon merasa tidak enak hati. Sepertinya sajangnim memang telah mempersiapkan semua itu untuknya. Tapi Jiyeon merasa ini terlalu berlebihan.

“Aku sudah sangat lapar! Apa kau ingin membuatku mati kelaparan?” Rengeknya.

“A-aniyo.”

“Kalau begitu cepat datang kemari!”

“N-ne!” Dengan perlahan Jiyeonpun mendekat dan duduk disamping sajangnim. Sungguh ia belum mengerti dengan semua ini.

“Mana yang kau suka?”

“Ne?”

“Steak Wagyu? Alain Ducasse au Plaza Athenee? Fillet Of Bass With Imperial Osetra Caviar? Roast Lamb With Aubergine Gratin? Atau kau ingin makanan yang lain, hm?”

Jiyeon hanya dapat membuka lebar mulutnya. Apa yang baru saja ditawarkan namja itu baru pertama kali ia dengar.
Ia kemudian menutup kembali mulutnya seraya menelan salivanya perlahan.
Makanan yang saat ini ada dihadapannya memang terlihat begitu lezat dan menggiurkan, namun mengapa mereka memberi nama makanan serumit dan sepanjang itu? Jiyeon membatin.

“Bu-buldak!” Akhirnya hanya kata itu yang mampu dikeluarkan Jiyeon dari mulutnya.

“Mwo?”

“Bi-bisakah anda memberikan saya Buldak, sa-sajangnim?”

Hening. Seolah dunia ini berhenti berputar pada porosnya saat yeoja itu mengatakan kata ‘Buldak’.

Namja itu kemudian menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Jiyeon yang melihatnya kembali tertunduk. Senyuman itu bahkan mampu menggetarkan hatinya.

Ia merasa ada sesuatu yang bergerak lembut diatas kepalanya. Mengusap perlahan rambut panjangnya.
Tangan. Itu adalah sebuah tangan. Namja itu menyentuhnya.

“Kau memang benar-benar berbeda, Park Jiyeon. Aku semakin menginginkanmu seutuhnya!”

Jiyeon kembali mengangkat wajahnya.

“A-apa maksud anda?” Tanya Jiyeon tidak mengerti.

“Kim Jaejoong. Itu namaku!”

Jiyeon menautkan kedua alisnya. Pertanyaannya bahkan tidak dihiraukan oleh namja yang baru ia ketahui namanya itu.

Tangan sajangnim turun kebagian tengkuk Jiyeon. Jiyeon merasakan jemari itu berada disana.

“Kau akan menjadi milikku!” Bisiknya dengan seringaian yang menurut Jiyeon begitu memabukkan dan mematikan.

Detik itu juga namja itu mendaratkan bibirnya tepat dibibir lembut Jiyeon. Tentu saja itu membuat Jiyeon begitu terkejut apalagi ini untuk pertama kali baginya.

Tidak. Ini salah. Ia baru mengenal bahkan hanya mengetahui namanya. Bagaimana bisa ia membiarkan namja itu menciumnya?
Jiyeon langsung mendorong dada Jaejoong dengan keras hingga bibir keduanya berhasil terlepas.

“Wae?” Tanya Jaejoong tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“I-ini salah. Mi-mian!” Jiyeon langsung berlari keluar dari ruangan itu dan tentu saja keluar dari dalam restaurant aneh tak berpenngunjung itu.

Jaejoong tersenyum. Lama kelamaan senyuman itu membentuk sebuah seringaian. Ada rasa kesal yang menjalar ditubuhnya. Tentu saja karena ia baru saja ditolak. Ditolak oleh remaja berusia 17 tahun.
Tak lama Jaejoong pun tertawa. Tawa yang terdengar seperti sebuah Ejekan.

“Menarik!” Ucapnya. Ia mengeluarkan android mewah miliknya, berusaha untuk menghubungi seseorang diseberang sana.

“Choi Siwon, batalkan semuanya!” Hanya itu. Hanya itu yang ia katakan.
.
.
.
.
.
Jiyeon menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada dihadapannya. Setelah membersihkan diri, kini perasaannya mulai tenang. Ia masih mengkhawatirkan keberadaan Jiyoung.
Dimana eonnienya sekarang?

Pandangannya berpindah pada bibirnya. Ia mengusap perlahan. Masih terasa bibir tebal Jaejoong yang menempel dibibirnya. Ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi padanya. Mendapat ciuman pertamanya dengan namja yang tidak ia kenal. Mendapat pukulan hebat dipipinya dari sang eonnie. Itu semua terjadi dihari yang sama.
Bisakah hari ini dihilangkan?
Ia tidak ingin kejadian ini kembali terulang dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
“Kau sudah mengurusnya?” Tanya Jaejoong pada Choi Siwon asistennya.

“Ne, sajangnim.”

Jaejoong hanya tersenyum menanggapinya.

Sebenarnya Siwon ingin bertanya banyak, bagaimana sajangnimnya itu bisa mengenal Park Jiyeon?
Terlebih ia begitu terobsesi pada yeoja yang masih duduk di bangku kelas 3 High School itu. Bahkan Jaejoong sudah jauh-jauh hari memanfaatkan impian Jiyoung sebagai jalannya untuk bisa mendapatkan seorang Park Jiyeon. Tapi Siwon tau, sajangnimnya itu bukanlah tipe namja yang mau banyak berbicara. Itulah yang Jaejoong sukai dari Siwon, karena Siwon tidak terlalu banyak bertanya dengan tugas yang ia berikan.
Namun sungguh, untuk kali ini saja, Siwon benar-benar ingin menanyakan itu semua. Ingin tau jalan pikiran sajangnimnya mengenai yeoja bernama Park Jiyeon itu.
.
.
.
.
.
Jung Yunho, itulah nama namja tinggi yang saat ini tengah memapah tubuh berat kekasihnya yakni Park Jiyoung.

“Oppa, apa yang terjadi?” Tanya Jiyeon panik saat melihat Yunho masuk bersama eonnienya yang tengah dalam keadaan mabuk.
Jiyeon langsung membantu Yunho membawa tubuh Jiyoung kedalam kamar.

“Eonnie….” Lirihnya saat melihat tubuh sang eonnie sudah tak berdaya diatas ranjang karena pengaruh alkohol yang ia konsumsi.

“Jiyeon-Ah, bisakah kita bicara sebentar?” Ajak Yunho.

Jiyeon hanya menganggukkan kepalanya dan mengekor dibelakang Yunho yang keluar dari dalam kamar eonnienya itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Jiyoung? Akhir-akhir ini dia tidak masuk kerja dan hari ini dia mabuk-mabukkan. Apa ini ada kaitannya dengan obsesi terbesarnya untuk menjadi seorang artis?”

Jiyeon terdiam.
Haruskah ia menceritakan semuanya pada namja yang sudah ia anggap kakaknya sendiri itu?
Tentu Yunho akan membelanya karena dilihat dari segi manapun tindakan Jiyoung adalah salah. Dan ini akan memicu pertengkaran antara Jiyoung dan juga Yunho dan Jiyeon tidak ingin semua itu terjadi.

“Jiyeon-Ah!” Panggil Yunho dan berhasil membangunkan Jiyeon dari pikiran-pikirannya.

“Pulanglah, oppa! Oppa perlu beristirahat!” Ucap Jiyeon lembut.

Yunho sudah menduga akan seperti ini jawaban yang ia dapat. Sudah pasti ada sesuatu yang kedua kakak beradik ini sembunyikan darinya.

“Geurae, oppa akan pulang! Segera hubungi oppa jika terjadi sesuatu yang buruk pada kalian!” Timpal Yunho seraya mengelus lembut puncak kepala Jiyeon.

Jiyeon sangat bersyukur mempunyai Yunho. Yunho begitu tulus pada keluarga mereka. Yunho bak malaikat yang menjaga dan melindungi Jiyoung dan juga Jiyeon.

Sepeninggalan Yunho dari rumahnya, Jiyeon melangkahkan kakinya kembali memasuki kamar sang eonnie. Ia duduk ditepi ranjang. Menyelimuti tubuh eonnienya.

“Jiyeon-Ah!” Racau Jiyoung.

Jiyeon masih terdiam. Duduk disamping eonnienya yang masih terpejam.

“Aku menyayangimu. Hanya kaulah keluarga yang kumiliki. Hanya kau semangatku. Aku rela berhenti sekolah demi bekerja untuk membiayai hidup kita. Aku rela tidak sempat meneruskan sekolah asal kau tetap bisa bersekolah. Aku ingin kau menjadi orang hebat suatu saat nanti. Tapi, bisakah untuk kali ini saja kau membantuku? Impianku. Cita-citaku. Angan-anganku. Bisakah kau mengabulkannya? 5 tahun sudah aku membiayaimu. Masa remajaku hilang saat aku harus bekerja demi membiayaimu. Hanya satu dan hanya kali ini saja aku memohon.” Air mata sukses keluar dari kedua sudut mata Jiyoung yang masih terpejam. Bahkan dalam kondisinya yang lemah, ia masih memikirkan tentang ambisinya.

Jiyeon menutup mulut dengan kedua tangannya. Berusaha meredam isakan yang bisa saja membangunkan eonnienya itu.
Ya. Eonnienya sudah cukup menderita karenanya selama ini.
Sejak kedua orangtua mereka meninggal, Jiyounglah yang selalu menemaninya.
Tak sanggupkah ia mengabulkan keinginan terbesar eonnienya itu?
.
.
.
.
.
Jiyeon, yeoja itu masih ragu apakah ia akan masuk kedalam gedung pencakar langit yang ada dihadapannya saat ini atau tidak. Namun ia harus menguatkan tekadnya. Ia harus membalas semua yang telah Jiyoung lakukan untuknya selama ini.

“Park Jiyeon!”

Jiyeon menoleh saat merasa namanya dipanggil seseorang.

“Park Jiyeon agasshi?” Tanya namja berkumis tipis itu memastikan.

“N-ne!” Jawab yeoja yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu.
Ya, ia langsung datang ketempat dimana Kim Jaejoong berada, yakni Kim Corporation sepulangnya ia dari sekolahnya.

“Apa agasshi ingin bertemu dengan Sajangnim?” Tebak sang namja.

“N-ne!”

“Ikutlah bersama saya, agasshi!”

Jiyeon akhirnya hanya dapat mengekor dibelakang sang namja .

Namja itu terus memperhatikan Jiyeon dari atas hingga bawah membuat Jiyeon merasa risih.

“Jeoseonghamnida! Saya tidak bermaksud membuat Agasshi merasa tidak nyaman!”

Jiyeon hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berdua kemudian memasuki sebuah lift dan namja itu mulai menekan angka pada tombol lift.

“Choi Siwon. Itu nama saya. Saya adalah asisten pribadi Sajangnim!” Siwon memperkenalkan diri.

Jiyeon hanya membungkukkan tubuhnya memberi hormat. Ia merasa tidak perlu memperkenalkan diri karena namja bernama Siwon itu telah mengetahui namanya.

“Apa agasshi pernah bertemu dengan sajangnim sebelumnya? Maksud saya, selain pertemuan di restoran tempo hari!” Tanya Siwon penasaran.

“A-ani. Saya rasa itu pertama kalinya ka-kami bertemu!”

Siwon semakin dibuat penasaran. Ini pertama kalinya sajangnimnya itu berhubungan dengan seorang yeoja.

“Diujung sana! Ruangan sajangnim ada disana!” Tunjuk Siwon saat pintu lift terbuka.

“Beliau pasti akan sangat senang melihat kedatangan Agasshi. Saya sengaja tidak mengantarkan agasshi hingga tepat dihadapan beliau, saya ingin memberi kejutan dengan kedatangan agasshi!” Perjelas Siwon.

“N-ne. Go-gomawo!” Jawab Jiyeon membungkuk lalu keluar dari dalam lift.

Siwonpun mohon undur diri dan kembali menutup lift dan meninggalkan Jiyeon seorang diri.

Akhirnya Jiyeon memberanikan diri melangkahkan kakinya hingga ia harus menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu besar nan tinggi yang ada dihadapannya saat ini itu.

~Tok-Tok-Tok~

Jaejoong menautkan kedua alisnya.
Siapa yang datang berkunjung? Siwonkah?
Hari ini mereka tidak mempunyai janji atau hal penting lainnya. Meskipun ada, pasti Siwon akan menghubunginya terlebih dahulu. Karena lantai paling atas digedung ini diharamkan untuk siapapun menginjakkan kaki disana kecuali Choi Siwon sang asisten.

“Masuk!” Perintahnya.

Perlahan pintu pun terbuka dan mata Jaejoong langsung melebar saat mendapati sosok yeoja berseragam sekolah muncul dari balik pintu. Yeoja itu kemudian menutup kembali pintu itu dan berjalan lebih memasuki ruangan dimana Jaejoong berada saat ini.

Jaejoong masih terlalu terkejut dengan kedatangan yeoja yang tempo hari telah menolaknya itu, setidaknya itulah yang ada dipikirannya saat itu.

“A-aku tidak tau ha-harus mengatakan apa. Ta-yapi kurasa a-anda mengenal Jiyoung eonnie. Sa-saya adalah do-dongsaengnya. E-eonnie me-mengatakan bahwa ha-hanya andalah ya-yang mampu membantunya!” Jiyeon semakin menundukkan wajahnya. Entah benar atau tidak yang barusan ia katakan, iapun tidak mengerti.

“Lalu?” Jaejoong mulai mengerti dan berjalan mendekat.

“A-anda…..”

“Kim Jaejoong. Panggil aku oppa!” Potongnya yang saat ini telah berada tepat dihadapan Jiyeon.

“O-oppa. A-apa yang a-anda i-inginkan dari saya agar anda da-dapat membantu Jiyoung e-eonie?”

Jaejoong mengangkat dagu Jiyeon menggunakan telunjuknya membuat keduanya kini saling beradu pandang.

Jiyeon dapat dengan jelas melihat ketampanan Jaejoong dari jarak sedekat ini. Jiyeon seolah terhipnotis. Bahkan untuk menelan salivanya sendiripun begitu terasa sulit.

“Semuanya!” Jawab Jaejoong yang langsung melumat bibir Jiyeon.

Jiyeon tersentak saat Jaejoong menggigit bibirnya dengan kasar.

“HYUNG!” Teriak seorang namja tampan dan berhasil membuat Jiyeon terbebas dari ciuman Jaejoong.

Jiyeon kembali menunduk sedangkan Jaejoong langsung menoleh dengan pandangan mematikan kearah pintu yang sudah terbuka. Melihat sosok namja yang menurutnya telah mengganggu aktifitasnya itu.

“Ka-kalian?”

“Mau apa kau kemari?” Tanya Jaejoong sinis. Jelas ia sangat kesal pada namja yang menerobos masuk kedalam ruangannya itu.

“NEO!” Tunjuk namja berkulit putih itu saat menyadari sosok yeoja yang baru saja dicium oleh Jaejoong.

Jiyeon menolehkan sedikit wajahnya. Masih dengan menunduk. Matanya langsung melebar.

“K-kim-kim Myungsoo!” Lirihnya dan dapat didengar oleh Jaejoong.

Pandangan Jaejoong beralih memandang Jiyeon kemudian kembali memandang Myungsoo. Apakah mereka berdua saling mengenal?
.
.
.
.
.
Makian cacian hinaan atau apapun akan author terima.
Silahkan berkomentar dikolom komentar!
Coment Jusaeyo!