FF Jungkook Jiyeon (Different) Part 5 – End

image

                 DIFFERENT
               (Part 5 – END)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Jeon Jungkook (BTS)

Other Cast :
Keiko Kitagawa (Paradise Kiss)
Kawaguchi Haruna (Ouran High School)
Kawaguchi Haruhiko (Photographer)
Nanako Matsushima (Hana Yori Dango)
Tori Matsuzaka (Love for Beginners)
Osamu Mukai (Paradise Kiss)

Songfict :
BTS Just One Day

Genre :
Romance, School Life, Friendship, Family, NC-17

Length :
Chaptered

A/N :
Yang di bawah 17 tahun
SEGERA MENYINGKIR!
Yang tidak sanggup baca yadong
SEGERA PERGI!
Akan ada banyak adegan NC di part End ini.
Sampai bertemu di FF selanjutnya.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
“NANI? KIAI, JUNGKOOK-KUN! APA TIDAK ADA GADIS LAIN
LAGI, HM? AKU TIDAK SETUJU!” Protes Haruna pada
kakaknya yang tak lain adalah Jungkook.

Jungkook, ia memberitahukan pada keluarganya bahwa ia
akan menikahi seorang dokter. Betapa terkejutnya Haruna
saat mengetahui bahwa gadis yang hendak dinikahi
kakaknya itu adalah seorang dokter yang begitu
menyebalkan baginya. Siapa lagi kalau bukan Park Jiyeon.

“Ada apa dengan Imouto mu itu, hm?” Gumam Nanako
Matsushima sang eomma.

Jungkook hanya mengangkat kedua bahunya membuat Haruna semakin kesal karena diacuhkan oleh sang kakak.

“POKOKNYA AKU TIDAK SETUJU. TI-TIK!” Tambah Haruna
mempertegas penolakannya.
Yeoja itu kemudian beranjak menuju kamarnya.

“Pertemukan kami dengan gadismu itu! Kami ingin
mengenalnya lebih jauh!” Ucap Kawaguchi Haruhiko sang
appa.

“Hai! Aku akan mempertemukannya dengan haha dan juga
chichi.” Jawab Jungkook.

“juga dengan imouto tentunya!” Tambahnya senang.
.
.
.
.
.
@Asahikawa Medical College Hospital, Hokkaido, Japan.

Jiyeon, kini ia tengah mengerjakan tugas-tugasnya
mengurusi laporan mengenai kesehatan para pasien,
karyawan serta obat-obatan. Sebenarnya tidaklah
merepotkan, ia hanya perlu mengecek ulang dan
menandatangani setiap laporan yang tersedia dimeja
kerjanya.

Lagi-lagi yeoja itu menghembuskan nafasnya membuktikan
bahwa ia cukup lelah. Meski hanya menandatangani, tapi
itu cukup menguras tenaganya.

~TOK-TOK-TOK~

Jiyeon mengalihkan perhatiannya pada pintu yang ada
dihadapannya.

“IKU!” Teriaknya mempersilahkan orang yang ada diluar
sana untuk masuk kedalam ruangannya.

Muncullah sosok yeoja yang beberapa hari lalu
memergokinya yang tengah bertelanjang dada ketika
bersama Jungkook. Benar-benar hal yang memalukan
mengingat ia adalah senior sensei disana.

“S-se-sensei! Apa aku mengganggu?” Tanya yeoja yang
berprofesi sama seperti Jiyeon. Sepertinya ia sedikit
canggung bila berhadapan dengar seniornya itu semenjak
kejadian tempo hari.

“Nai! Iku!”
“Tidak! Masuklah!

Yeoja itupun melangkahkan kembali kakinya memasuki
ruangan Jiyeon.

“Sorehanandesuka, Keiko-chan?”
“Ada apa, Keiko?” Tanya Jiyeon pada yeoja yang ternyata
adalah Keiko itu.

“Saya ingin mengajak anda makan malam bersama, sensei!
Apa bisa?” Tanya Keiko ragu-ragu. saat duduk tepat
dihadapan Jiyeon.

“Eoh, tentu saja! Aku akan datang! Toki?” Tanya Jiyeon
berantusias.

“Malam ini. Bisakah?”

“Hm, tentu saja! Aku pasti datang!”

“Arigatou, Jiyeon sensei!” Ucap Keiko senang.

Jiyeon hanya tersenyum menanggapinya.

“Sensei, ajaklah kekasih anda!”

“Nani?” Jiyeon tersipu mengingat keiko yang pernah memergokinya
tengah bermesraan bersama Jungkook.

“Sepertinya…….”

“Kami akan datang!” Sembur Jungkook yang tiba-tiba
muncul memotong ucapan Jiyeon.

Sontak Jiyeon dan Keiko langsung mengalihkan pandangan
mereka kearah pintu yang sudah terbuka.

“Kami pasti datang. Dimana tempatnya nona……..”

“Keiko. Panggil saya Keiko, tuan!”

“Hai, Keiko-san! Dimana kita akan makan malam ini?” Tanya Jungkook yang terlihat begitu berantusias
akan ajakan Keiko. Ia berjalan menghampiri Jiyeon hingga
tepat berdiri dibelakang kursi yeoja nya itu. Sedangkan
Jiyeon, yeoja itu terlihat kesal dengan kedatangan
Jungkook yang tiba-tiba tanpa memberitahukan kepadanya
terlebih dahulu.

“Baikoken Hoten Restaurant!” Jawab Keiko.

“Hai! Kami tidak akan terlambat. Iya kan, honey?” Goda
Jungkook yang langsung mencium pipi Jiyeon singkat
membuat yeoja itu terlonjak kaget dengan perlakuan yang
diterimanya. Semburat merah mulai mewarnai wajahnya.

“Ka-kalau begitu saya permisi dulu!” Pamit Keiko yang
merasa malu karena lagi-lagi ia telah melihat adegan
mesra seniornya itu.
Keiko langsung melesat keluar ruangan Jiyeon dan
menutupnya.

“Kya!” Jiyeon langsung memukul lengan Jungkook.

“Waegeurae?” Protes Jungkook.
Keduanya kini kembali menggunakan bahasa Korea.

“Apa kau tidak bisa melihat tempat, eoh?”

Jungkook hanya mempoutkan bibirnya memasang wajah
tanpa dosanya.

“Aissh!” Jiyeon benar-benar dibuat kesal oleh namjanya
itu.
Jiyeon bangkit dan berjalan menuju sofa yang telah
tersedia diruangannya.

“Ada apa datang kemari?” Tanyanya.

Jungkook langsung duduk tepat disamping Jiyeon.

“Apa kau tidak bekerja, eoh? Apa yang kau lakukan selama
ini? Apa jangan-jangan sekarang kau tidak punya uang
sama sekali? Apa mungkin yang kau lakukan hanya
menghabiskan uang eomma dan appamu? Bagaimana nanti
kita akan menikah? Apa mmhh…..” Jungkook langsung
membungkam mulut Jiyeon dengan mulutnya. Sungguh,
kenapa yeoja ini cerewet sekali hari ini? Dia tidak mau
mendengar ocehan tidak jelas yang dikeluarkan oleh mulut
jiyeon.

“Hmmmpppp….” Jiyeon meronta. Mencoba mendorong
dada milik Jungkook yang menimpanya. Namun hal itu tak
ada hasilnya sama sekali karena tubuh Jungkook
sangatlah berat.

“Kau ini!” Jungkook melepaskan bibir Jiyeon dari
ciumannya. Dia membutuhkan udara sehingga ia harus
melepaskannya.
Jungkook memperbaiki posisinya yang menimpa tubuh
Jiyeon, melihat yeoja itu terengah karena ciumannya.

“Mesum!” Ucap Jiyeon kesal.

“Ck, namja mesum ini yang telah membuat ketua sensei
Asahikawa Medical College Hospital begitu tergila-gila
padanya!”

“Ck, percaya diri sekali anda Jungkook-ssi!” Jiyeon
memperbaiki posisi duduknya.

“Ah, hampir saja hilang kendali!” Gumam Jungkook namun
masih terdengar oleh telinga Jiyeon.

“MWO?”

“Appa dan eomma ingin bertemu denganmu!” Jungkook
langsung mengalihkan pembicaraan mereka.

“J-jeongmal?”

“Eum. Kapan kau ada waktu?”

Jiyeon terlihat berfikir.

“KYA! KAU HANYA PERLU MELUANGKAN SEHARI
WAKTUMU APA TIDAK BISA, EOH?” Protes Jungkook kesal
karena belum mendapat jawaban dari yeoja nya itu.

Jiyeon hanya menghembuskan nafasnya membuat
Jungkook semakin kesal dibuatnya.

“Setelah kau menikah denganku, aku tidak akan
mengijinkanmu untuk bekerja!” Gumam Jungkook yang
bangkit dari duduknya.

“ANDWAE!” Protes Jiyeon.

“KAU HANYA BOLEH MENGURUSKU!”

“Ada banyak orang sakit yang membutuhkanku!”

“LALU AKU AKAN MENJADI ORANG BERPENYAKITAN AGAR
YANG KAU URUSI HANYA AKU!” Teriak Jungkook yang
menghilang dibalik pintu.

Jiyeon tersenyum. Tersenyum bahagia. Ia dan Jungkook
benar-benar berbeda. Keduanya memiliki kepribadian dua,
selain usia mereka yang berbeda. Jika Jungkook bersifat
kekanakkan, maka Jiyeon yang akan mengimbanginya
dengan bersikap dewasa begitupun sebaliknya. Mereka
berdua saling melengkapi satu sama lain.
.
.
.
.
.
Malampun tiba. Jungkook dengan Tuxedo hitam yang ia
kenakan terlihat tengah menunggu kehadiran Jiyeon
didepan apartement dimana Jiyeon tinggal. Ia
menyenderkan punggungnya disamping Ferrari hitam
miliknya.

“Aku sudah siap!” Ucapan Jiyeon berhasil membangunkan
lamunan Jungkook. Jungkook begitu terpana melihat
penampilan Jiyeon yang tampak begitu cantik dan anggun
malam ini. Gaun tanpa lengan sepaha dengan warna hijau
muda cocok sekali melekat ditubuhnya.
Jungkook mendekat kearah Jiyeon.

“Aymmmmmmmmmhhhh…..” Kata ajakan Jiyeon terpotong
karena ciuman yang Jungkook berikan padanya. Jungkook
masih setia memainkan bibirnya disana.

Jiyeon akhirnya membalas ciuman-ciuman Jungkook.
Hampir saja Jungkook hilang kendali jika Jiyeon tidak
mendorong dada bidangnya sedikit keras.

Jiyeon tampak kehabisan nafas karena ulah Jungkook.

“Bibirmu manis, yeonnie-ah!” Ucap Jungkook berhasil
membuat Jiyeon memerah.

“Keiko sudah menunggu kita! Kajja!”

“Tunggu!”

“Waemmmmhhh…..” Lagi-lagi Jungkook mencuri ciuman
Jiyeon. Kali ini bukan ciuman biasa. Jungkook mengikut
sertakan lidahnya dalam berpagutan dengan Jiyeon.

“Emmmhhhh….” Jiyeon mendesah tertahan karena ciuman
Jungkook.

Setelah merasa mereka membutuhkan oksigen, Jungkook
pun melepaskan ciuman mereka berdua.

“Kajja!”

Jiyeon terlihat kesal pada namja yang sudah menciumnya
dan malah pergi terlebih dahulu memasuki mobil.

Sesampainya di Baikoken Hoten Restaurant, mereka berdua sudah ditunggu oleh Keiko. Keiko memperkenalkan kekasihnya disana.

“Arigatou Jiyeon sensei karena sudah menjaga Keiko selama ini!” ucap Tori Matsuzaka, kekasih Keiko.

“Hai?”

“Keiko sering menceritakan tentang anda. Ia benar-benar sangat mengagumi anda, sensei!” Tambah Tori.

“Hm, arigatou Tori-San!” Jawab Jiyeon.

“Tori-San, jika anda menikah dengan Keiko-San, apa anda tetap akan membiarkan Keiko-San bekerja sebagai dokter?” Tanya Jungkook yang sepertinya mulai penasaran.

“Tentu saja, Jungkook-San. Ini impiannya sejak lama. Apapun yang ia inginkan, aku akan selalu mendukungnya!”

Jungkook terlihat kesal.
Bukan. Bukan itu jawaban yang ia inginkan.
Harusnya Tori menentang, kenapa malah mendukung?

Sedangkan Jiyeon, ia terlihat tersenyum menang. Setidaknya ia punya pendukung agar tetap menjadi dokter meski ia sudah menikah nanti.

Sepanjang perjalanan kembali ke apartement, Jungkook tidak mengeluarkan sepatah katapun. Pandangannya terpokus pada jalanan yang ada dihadapannya. Atau mungkin namja itu tengah memikirkan sesuatu. Memikirkan tentang ucapan Tori mungkin?
Bisa saja.

Jiyeon berkali-kali menolehkan wajahnya kearah Jungkook, namun ia tidak berani mengeluarkan suaranya.
Apakah namja itu marah padanya?

Hingga tiba didepan apartement Jiyeon, Jungkook tetap terdiam. Jiyeon menghembuskan nafasnya. Sepertinya yeoja itu mulai jengah dengan kesunyian yang diciptakan oleh dirinya dan juga Jungkook.

“Kookie-Ah!”

“Eum?”

“Apa kau marah?”

“Ani.”

Jiyeon mempoutkan bibirnya. Kenapa jadi irit bicara seperti ini?

“Turunlah! Kau harus beristirahat! Bukankah besok kau harus bertempur bersama pasien-pasienmu!” Ucap Jungkook tanpa berniat menolehkan wajahnya memandang Jiyeon.

“Geurae, aku akan masuk. Khalke!” Ucap Jiyeon kemudian turun dari atas Ferrari milik Jungkook.

” Menyebalkan sekali! Bahkan ia tak mengatakan apapun!” Gerutu Jiyeon kesal.
Ia berjalan masuk dan melangkahkan kakinya menuju lift. Saat lift terbuka, Jiyeom dikejutkan dengan sosok Jungkook yang mendahuluinya memasuki lift.

“Eoh?”

Jiyeon kemudian mengekor dan menekan tombol lift menuju lantai paling atas dimana ia tinggal.

“Aku hanya ingin meminta kopi!” Ucap Jungkook yang meras risih karena terus dipandangi oleh Jiyeon.

“Sepertinya tidak ada kopi diapartement saya, tuan!”

“Kalau begitu air putih!”

Jiyeon tersenyum tipis. Sungguh konyol! Dirinya merasa tengah menghadapi bocah berusia 8 tahun.

Jungkook memasuki apartement milik Jiyeon yang sederhana. Tidak terlalu mewah namun sangat rapih.

“Anda bisa mengambil air putih disebelah sana tuan Jeon Jungkook!” Tunjuk Jiyeon.

Jungkook terlihat kesal mendengar ucapan Jiyeon yang begitu formal.
Apa-apaan dia? Batinnya.

“Jika sudah selesai, tentu anda tau letak pintu keluar dimana!” Tambah Jiyeon seraya memasuki kamar pribadinya.

“KYA!” Teriak Jungkook kesal.
Sedangkan Jiyeon tertawa didalam kamarnya, senang karena telah berhasil membuat namja keras kepala itu kesal.

Didalam kamarnya, Jiyeon membersihkan diri. Mengganti pakaian yang baru saja ia kenakan dengan lingerie berwarna hijau muda. Sepertinya yeoja itu benar-benar maniak terhadap hijau muda.

Jiyeon keluar dari dalam kamarnya dan matanya tak menemukan sosok Jungkook disana.

“Dimana dia?” Gumamnya. Matanya terus mencari kesekeliling.

“Apa dia benar-benar pulang? Ck, Kekanak-kanakan sekali! DIA BENAR-BENAR PERGI HANYA KARENA MENDENGAR UCAPANKU BARUSAN? KONYOL!” Ucapnya kesal.

“Kau ini berisik sekali nona Park!”

Jiyeon sedikit terkejut dengan suara serak khas bangun tidur itu. Namja itu masih disana. Ia tertidur diatas sofa.

“K-kau belum pulang?” Tanyanya melunak.

Jungkook bangkit dan bersandar dipunggung sofa. Matanya mengerjap. Sepertinya namja ini benar-benar tertidur!

“Kemarilah!” Pinta Jungkook seraya menepuk ruang kosong disampingnya.

Jiyeon menunduk merutuki kebodohannya. Ia berjalan menghampiri Jungkook dan langsung duduk disamping namja itu.

“Eoh?” Jiyeon terkejut saat Jungkook merebahkan kepalanya dibahu Jiyeon.

“Aku akan mengijinkamu!”

“Ne?”

“Tetap bekerja sebagai dokter.”

“J-jeongmal?” Tanya Jiyeon senang dan langsung menoleh kearah namja yang masih menenggelamkan kepala dibahunya.

“Eum. Dengan satu syarat!”

“Mwo?”

“Kau harus menjadikanku nomor satu. Harus mementingkanku terlebih dahulu. Mengutamakanku. Aku tidak ingin bersaing dengan para pasien-pasienmu!”

Jiyeon terkekeh mendengar syarat yang diajukan Jungkook. Tentu saja ia akan menjadikan suaminya kelak yang paling utama diatas segala pekerjaannya.

“Geurae. Gomawo.”

“Hanya itu?”

“Mwo?”

“Hanya mendapatkan ucapan terimakasih setelah aku memberikanmu ijin?”

Jiyeon masih menatap namja yang mulai menatapnya itu. Jiyeon menautkan kedua alisnya bingung. Lalu apa yang harus ia lakukan selain ucapan terimakasih?

Jiyeon melebarkan matanya saat Jungkook menciumnya. Meski bukan pertama kalinya ia menerima itu, tetap saja jantungnya selalu ingin keluar dari sarangnya bila namja itu melakukannya.

Jungkook memasukkan lidahnya kemulut Jiyeon dan mengabsen satu persatu mulut Jiyeon, menggelitik langit-langit mulutnya dan itu sukses membuat Jiyeon melenguh dalam ciumannya.

Jungkook semakin bergairah, begitu pula dengan Jiyeon. Bulu kuduk Jiyeon meremang saat dirasakannya sebuah kecupan mendarat dilehernya setelah ciuman dibibirnya terlepas. Jiyeon mendesah saat lidah Jungkook bergerilya kebagian belakang daun telinganya. Kedua tangan Jungkook yang bebas bergerak menuju payudara Jiyeon yang masih terbungkus oleh Lingerie, kemudian meremasnya dengan pelan.

Jiyeon melenguh, seluruh tubuhnya teras lemas. Jungkook terus menciumi leher Jiyeon lalu turun ke bawah sampai dada Jiyeon.
Tangan kanan Jungkook terus turun menuju perut hingga paha. Ia mengusap bagian paha Jiyeon membuat Jiyeon semakin bergairah. Keduanya kini kehilangan akal dan dikuasai nafsu yang mulai memuncak.

Dengan perlahan, tangan Jungkook menuju ke celana dalam Jiyeon. Jemarinya mengelus celana dalam Jiyeon yang telah lembab. Dengan hati-hati Jungkook menelusupkan jarinya kedalam celana Jiyeon dan itu sukses membuat Jiyeon semakin mendesah. Ia kemudian melepaskan celana dalam Jiyeon dan membuangnya asal. Kemudian memasukkan salah satu jemarinya kedalam vagina Jiyeon.

“Akh….Appo….” Rengek Jiyeon.

Tanpa memperdulikan ringisan Jiyeon, Jungkook memainkan klitoris Jiyeon.

Jiyeon merasakan gelombang kenikmatan yang sangat besar. Jungkook lalu mencium bibir Jiyeon dengan ganas, membuat Jiyeon semakin terbuai.

Jari Jungkook yang berada didalam vagina Jiyeon bergerak dengan perlahan, kemudian semakin cepat. Jungkook mempercepat gerakan jemarinya membuat Jiyeon semakin mendesah.
Jiyeon merasa sesuatu akan keluar dari tubuhnya.
Jiyeon orgasme. Orgasme pertama yang membuatnya kelelahan.

Jungkook semakin bergairah. Dengan keadaan Jiyeon yang sudah tidak berdaya karena baru saja orgasme, ia langsung melepaskan lingerie yang masih menempel ditubuh Jiyeon. Matanya melebar saat disuguhkan pemandangan yang harusnya ia dapatkan setelah menikah.
Persetan!
Nafsu sudah menguasainya!

Dengan hati-hati tangan Jungkook bergerak menyusuri bagian punggung Jiyeon dan ia langsung melepaskan pengait bra milik Jiyeon dan membuangnya asal. Kini tak ada sehelai kainpun yang menutupi tubuh yeoja itu.

Jungkook yang memang sudah bernafsu langsung melepaskan kemeja dan celananya. Kini keduanya benar-benar terlihat seperti bayi yang baru lahir. Tak ada penghalang apapun ditubuh mereka. Jiyeon pasrah, toh Jungkook memang akan memilikinya.

Jungkook mulai kembali mencium bibir Jiyeon dan turun hingga keleher lalu mencium dan menghisap dada Jiyeon, tangannya memilin puting susu milik Jiyeon yang sudah menegang.

“Aahhhh…. Kookie-ah…. Mhhhhm….” Jiyeon mendesah sambil mengangkat punggungnya membuat wajah Jungkook bertabrakan dengan dadanya.

Jungkook lalu menghisap puting susu Jiyeon dengan rakus, membuat Jiyeon menggelinjang kegelian.
Jungkook kemudian menggesek-gesekkan kepala penisnya ke bibir vagina milik Jiyeon. Dengan gerakan cepat ia segera menyatukan tubuhnya dan juga Jiyeon. Darah mulai mengalir melewati selangkangan Jiyeon, membuktikan bahwa Jungkook telah berhasil meruntuhkan pertahanan yeoja itu.

Permainan mereka semakin liar, ketika hanya insting yang menguasai. Jiyeon melingkarkan kedua kaki dipinggang Jungkook,  berusaha mengimbangi gerakan namja itu. Hanya suara desahan dan deru nafas yang terdengar,  hingga akhirnya permainan berakhir saat keduanya mencapai klimaks.

“I…ini memalukan! Kenapa harus diatas sofa? Apa tidak ada tempat yang lebih baik lagi?” Gerutu Jiyeon masih dengan nafasnya yang terengah karena aktifitas yang baru saja mereka lakukan.

“Kalau begitu, mari kita lanjutkan diatas ranjang!” Bisik Jungkook.

“MWO?”

Jungkook langsung mengangkat tubuh Jiyeon dan langsung mendapat protes dari yeoja itu.

“KYA! TURUNKAN AKU!”

Jungkook menonaktifkan indera pendengarannya. Tak menghiraukan jeritan yeoja itu. Mengulang kembali aktifitas yang baru saja mereka lakukan.
Salahkan yeoja itu karena telah kembali membuat libidonya naik.
Habislah kau, Park Jiyeon!
.
.
.
.
.
@Monbetsu Prince Hotel

Jiyeon, yeoja itu terlihat tegang saat ini.
Bagaimana tidak? Yeoja itu tengah berhadapan dengan orang tua kandung namja yang sangat ia cintai. Terlebih tatapan horor yang diberikan dongsaeng Jungkook yakni Kawaguchi Haruna, semakin membuat nyalinya menciut saja.

“Kau yang bernama Park Jiyeon?” Tanya Kawaguchi Haruhiko, Appa Jungkook.

“H-hai!” Jawab Jiyeon gugup.

“Kawaii!” Ucap kagum Nanako Matsushima, sang eomma. Sepertinya yeoja paruh baya itu langsung menyukai Jiyeon.

Sedangkan Haruna, ia hanya berdecak kesal menanggapi sikap sang eomma yang menurutnya terlalu berlebihan itu.

Mereka berempat berbincang mengenai masa lalu Jungkook dan juga Jiyeon. Haruhiko sang appa ikut kagum akan keberanian dan kecerdasan yang dimiliki Jiyeon. Yeoja itu sanggup mengimbangi sifat dan tingkah Jungkook yang menurutnya masih kekanakkan itu.

Haruna tidak ikut ambil suara. Ia hanya memakan makanan yang ia pesan tanpa berniat untuk bertegur sapa dengan yeoja yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya itu.

Jungkook memang tidak perlu menyewa hotel hanya untuk sekedar makan malam keluarga karena hotel ini adalah memang miliknya. Ia menjadi pengusaha sukses tanpa menerima uluran tangan dari keluarga sang eomma yang memang cukup kaya raya itu. Ia ingin seperti appanya yang sukses karena usahanya sendiri sebagai seorang photographer.

“Jiyeon sensei?”

Jiyeon menolehkan wajahnya saat merasa namanya dipanggil oleh seseorang.

“Osamu-Kun!” Jiyeon langsung bangkit dan membungkukkan tubuhnya begitu pula dengan namja bernama Osamu itu.

“Eoh, lama tidak berjumpa sensei! Bagaimana kabar anda?”

“Baik. Bagaimana denganmu? Apa masih mengalami insomnia?”

“Sudah berkurang berkat obat dan nasehat yang sensei berikan!”

“Syukurlah! Kau bisa menghubungiku jika kesehatanmu kembali memburuk!”

“Kau mendo’a kan ku seperti itu, sensei?”

Keduanya tertawa.
Jungkook mulai jengah. Ia seperti debu yang tak lihat.

“Ehem!” Jungkook berdehem berusaha menyadarkan semua orang bahwa ada dia disana.

“Sepertinya anda harus mengetahui ini, Osamu-San!” Jungkook berdiri dan langsung merangkul pundak Jiyeon.

“Sensei anda ini akan segera menikah denganku. Akan kupastikan anda menerima undangan pernikahan kami!”

Haruhiko dan Nanako terkekeh melihat putera mereka yang terlalu menunjukkan bahwa ia begitu cemburu. Padahal jelas-jelas namja itu hanya salah satu pasien yang pernah dirawat oleh Jiyeon.

“Benarkah, sensei? Akhirnya! Aku akan segera menyusulmu kalau begitu!”

Semuanya tertawa kecuali Jungkook dan juga Haruna yang terus memandang sosok namja bernama Osamu itu.

“Bagaimana kau mengenalnya? Apa kau punya nomor telephonnya? Apa dia sudah punya pacar?” Itulah pertanyaan beruntun yang Jiyeon dapatkan dari yeoja yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya itu setelah kepergian Osamu.

“Kya! Bicaramu yang sopan pada kakak iparmu!” Protes Jungkook.

“Dia belum menikah denganmu! Dan aku juga belum memberi restu untuk kalian berdua!” Balas Haruna.

“NANI?”

“Akan kuberi restu jika Jiyeon sensei dapat memberikanku nomor telephon namja itu!”

“KYA! KAU TERTARIK PADANYA? AKU TIDAK AKAN PERNAH SUDI MEMPUNYAI ADIK IPAR SEPERTI DIA!” Teriak Jungkook.

“Dia tampan. Dia juga terlihat baik. Tidak ada yang bisa menolaknya!”

“Pria gatal seperti dia kau bilang baik?”

“Kau terlalu kekanak-kanakkan, Jungkook-Kun!”

“NANI?”

“Pokoknya berikan nomor telephonnya jika ingin mendapat restu dariku!”

“TIDAK AKAN PERNAH!”

“KYA!”

Itulah pertengkaran kakak beradik yang sukses mengundang tawa Jiyeon.
Jiyeon tersenyum bahagia. Akhirnya ia akan membangun keluarga baru. Kebahagiaan baru dikehidupannya yang baru.

~END~
.
.
.
.
.
Siapkan kata-kata terjitu kalian untuk menghujat author yang telah membuat FF abal-abal ini!
Coment Jusaeyo!

FF Jungkook Jiyeon (Different) Part 4

image

                 DIFFERENT
                   (Part 4)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Jeon Jungkook (BTS)

Other Cast :
Park Yoochun (JYJ)
Keiko Kitagawa (Paradise Kiss)
Kawaguchi Haruna (Ouran High School)

Songfict :
Winner But

Genre :
Romance, School Life, Friendship, Family, NC-17

Length :
Chaptered

A/N :
Yang di bawah 17 tahun segera menepi! Akan ada adegan NC disini. Bagi yang tetap baca author tidak bertanggung jawab jika nantinya kalian akan membayangkan adegan tersebut #plak
Akan ada latar tempat di Jepang, maka anggap saja mereka mengucapkannya menggunakan bahasa Jepang, author hanya menggunakan bahasa sehari-hari biasa di Jepang.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Terlihat seorang yeoja muda menggunakan kaos berwarna hijau muda dilengkapi dengan jas berwarna putih bersih melewati koridor Asahikawa Medical College Hospital, Jepang. Ia terlihat begitu anggun saat melewati para pasien dan juga perawat disana.

“Ohayou, Jiyeon sensei!” Sapa seorang suster.

“Ohayou!” Balasnya. Senyum tak pernah lepas dari wajah yeoja yang diketahui bernama Jiyeon itu.
Ya, dia adalah Park Jiyeon. Yeoja lulusan Tokyo University atau dikenal sebagai Harvard nya Jepang, kini menjadi seorang dokter di Asahikawa Medical College Hospital. Ia lulus dari universitas kedokteran tersebut tidak membutuhkan waktu lama, hanya 3 tahun. Ia bahkan belum genap 3 tahun saat bersekolah di Daejeon Gwanjeo High School, Korea dulu.
Ya, yaoja itu berasal dari Korea selatan, lebih tepatnya dari kota bernama Daejeon.

Tanpa sepengetahuan siapapun, ia mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa di Tokyo University dan tidak diragukan lagi, ia mampu melewati tes tersebut dengan nilai sempurna. Kemampuan yang ia miliki memang di atas rata-rata kebanyakan remaja seusianya. Itulah spesialnya seorang Park Jiyeon.
Ia langsung datang ke negeri sakura tersebut begitu surat penerimaan mahasiswa baru dari Tokyo sampai ditangannya. Itu memang cita-citanya. Keinginannya sejak awal. Meninggalkan masa lalunya dan memulai masa depannya disini. Di Jepang.

Yeoja berusia 27 tahun itu memasuki sebuah ruangan. Ruangan yang memang disediakan pihak rumah sakit untuk dirinya. Ruangan tersebut begitu rapih dengan didominasi warna hijau muda pada bagian dindingnya. Terlihat begitu nyaman dan tenang bagi siapapun yang memasukinya.

Sudah 7 tahun ia menjadi seorang dokter dinegeri barunya itu. Dan sudah 10 tahun ia meninggalkan negeri kelahirannya, Korea.
Ia duduk bersandar tepat dikursi kebesarannya. Berusaha merenggangkan seluruh otot-ototnya yang menegang karena aktifitasnya hari ini.
Ia menghembuskan nafasnya. Kedua ujung bibirnya kembali terangkat tatkala matanya melihat sebuah foto yang terletak tepat diatas meja kerjanya. Sebuah foto yang mengingatkan ia akan masalalunya.

~FLASHBACK ON~

“Jiyeonnie, appa……”

“Aku akan pergi ke Jepang!”

Yoochun yang kala itu hendak meminta maaf atas tindakan kerasnya terhadap puterinya tempo hari begitu terkejut mendengar penuturan puteri semata wayangnya itu.

“A-apa maksudmu, Jiyeonnie?”

Jiyeon, untuk pertama kalinya yeoja itu kembali memberikan senyum manisnya pada sang appa. Seperti sudah lama sekali Yoochun tak melihat senyuman tulus itu. Entah mengapa batinnya merasa tenang saat puterinya terlihat kembali normal seperti dulu.

“Aku akan melanjutkan sekolah di sana. Mungkin untuk waktu yang lama tidak akan kembali ke Korea.”

“Geundae, kau bahkan belum menyelesaikan sekolahmu Jiyeonnie.”

“Aku mengikuti tes untuk masuk ke sana. Kepala sekolahpun sudah mengetahui hal ini sejak lama. Ia tidak akan sungkan untuk melepaskanku.”

Yoochun tak sanggup menahan harunya. Ternyata puterinya sudah jauh-jauh hari merencanakan semuanya. Ia bangga. Bangga atas prestasi yang selalu Jiyeon torehkan disetiap sekolahnya. Yeoja itu tidak pernah sekalipun mengecewakannya.

“Menikahlah dengan Kahi eomma!”

Yoochun kembali dikejutkan dengan ucapan puterinya itu.

“Jiyeonnie….”

“Aku akan merestui kalian berdua! Bangunlah rumah tangga yang baru! Jangan terlalu menyibukkan diri untuk perusahaanmu! Kau harus lebih banyak meluangkan waktumu untuk Kahi eomma kelak, appa!”

Yoochun, ia tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Setelah pertengkaran hebat itu, bahkan yeoja itu seolah menganggap tidak pernah terjadi apa-apa.
Yoochun langsung merengkuh tubuh puterinya itu.

“Jiyeonnie, mianhae! Mianhae karena Appa telah menjadi Appa yang buruk selama ini! Hiks…” Tangis Yoochun.

Jiyeon menepuk lembut punggung sang Appa. Seolah merasakan betapa namja itu telah menyesal atas semua masa lalunya.

“Gwaenchana. Aku juga minta maaf karena telah berkata dan bersikap kurang ajar padamu, appa!”

Yoochun semakin mempererat pelukannya. Ia menyadari puterinya itu benar-benar orang yang luar biasa setelah semua yang terjadi.

Jiyeon membalas pelukan sang Appa. Ia menyadari ini akan menjadi yang terakhir ia dapat memeluk tubuh Appanya itu. Ia berniat untuk tidak pernah kembali lagi ke Korea.

“Sampaikan salam dan permintaan maafku untuk Kahi eomma!” Tambahnya.

Yoochun lalu melepaskan pelukannya.

“Kau tidak ingin menemuinya?”

Jiyeon menggelengkan kepalanya.

“Malam ini. Malam ini juga aku akan berangkat ke Jepang!”

“Mwo?”

“Semuanya sudah kupersiapkan, appa!” Tambah Jiyeon.

“Kenapa kau menyembunyikannya dari Appa?”

“Mian. Jaga dirimu baik-baik, appa! Aku akan selalu mendo’akan yang terbaik untukmu. Ingat pesanku! Bangunlah keluarga baru dan kembali berbahagialah!”

Yoochun kembali memeluk tubuh Jiyeon. Kembali menangis dibahu puterinya.

“Kau cengeng sekali, appa! Bagaimana bisa eomma dan Kahi eomma begitu tertarik padamu?” Canda Jiyeon dan berhasil membuat Yoochun terkekeh.

“Appa, bolehkan aku meminta bantuan darimu?”

“Eoh?”

~FLASHBACK OFF~

Jiyeon tersenyum, melihat appanya yang tengah menggendong seorang bocah namja berusia 5 tahun. Disampingnya terlihat Kahi tersenyum ke arah kamera. Mereka benar-benar terlihat bahagia. Foto itu diambilnya 4 tahun lalu saat ia tak sengaja bertemu dengan mereka di Pulau Hateruma, Jepang saat liburan musim panas. Ia tak dapat menghindar saat Yoochun dan juga Kahi begitu gembira karena telah bertemu dengnnya. Permintaanya memang satu, yakni tidak inginnya terjalin komunikasi. Jiyeon tak memberitahukan nomor telephon serta alamat rumahnya di Jepang. Ia benar-benar sebatang kara dan itulah yang memang ia inginkan. Membangun hidup baru dengan caranya sendiri.

Lalu bagaimana dengan hatinya?
Sosok Jeon Jungkook memang belumlah hilang dari ingatannya. Bahkan mungkin tidak akan pernah hilang. Namja yang 2 tahun lebih muda darinya itu yang telah meluluhlantahkan hatinya, yang telah membuatnya terus tertuju pada namja itu. Cinta pertamanya dan tidak dielakkan bahwa masih ada namja itu didalam hatinya. Terbukti dari ia yang tak pernah menjalin kasih dengan namja manapun. Ia tetap menjaga hatinya meski mustahil untuknya mendapatkan itu semua.
Ia memang sengaja tak menyimpan kenangan apapun, bahkan selembar fotopun ia tak punya. Itu caranya untuk menjauh dari perasaannya. Perasaan yang terlalu mencintai sosok Jeon Jungkook. Sosok yang tidak akan pernah bisa ia jadikan dongsaengnya.

~Tok-Tok-Tok~

Yeoja itu terbangun dari lamunannya tatkala mendengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang dari luar sana.

“Iku!”
“masuk!”

Sosok yeoja berjas serupa dengan yang ia kenakan terlihat terengah dengan keringat yang mengalir dipelipisnya saat masuk kedalam ruangan seorang Park Jiyeon. Sepertinya yeoja itu berlari untuk tiba disini!

“Jiyeon-sensei, bisakah anda membantuku?”

Jiyeon, ia sudah hapal dengan kelemahan yang dimiliki yeoja yang berprofesi sama dengannya itu. Yeoja itu terlalu lembut. Bahkan untuk marah saja tidak bisa. Setengah dari sifat yang Jiyeon miliki dulu.
Keiko Kotagawa, itulah nama yeoja yang kini berjalan dibelakang Jiyeon. Yeoja yang bahkan lebih muda dari Jiyeon. Yang memiliki tubuh yang lebih ramping darinya. Bahkan tinggi tubuhnya pun lebih tinggi darinya. Yeoja itu lebih cocok menjadi seorang model dibandingkan dengan dokter.

Jiyeon membuka knop pintu yang ada dihadapannya. Ia mulai memasuki kamar tersebut diikuti oleh Keiko yang mengekor dibelakangnya. Dilihatnya 2 orang yeoja yang ia ketahui adalah seorang suster berusaha menghadapi yeoja muda yang kira-kira berusia 17 tahun itu.

“Dia menolak untuk diperiksa, sensei!” Bisik Keiko memberitahukan situasi yang sebenarnya.

“Sungguh remaja yang merepotkan!” Batinnya.
Iapun mendekat.

Yeoja muda itu menatapnya tajam seolah ia mengerti bahwa orang-orang ini telah meminta bantuan pada yeoja yang berprofesi sebagai dokter itu.

“NANI? SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MAU JIKA BENDA RUNCING DAN ANEH ITU MENYENTUH TUBUHKU!” Teriak yeoja muda itu.

“Namae wan an desu ka?”
“Siapa namamu?” Tanya Jiyeon tenang.

Yeoja muda itu menautkan kedua alisnya heran. Untuk apa dokter yang baru datang itu menanyakan namanya?

“HARUNA. KAWAGUCHI HARUNA!” Jawab yeoja muda yang ternyata bernama Haruna itu tetap tidak menurunkan volume suaranya.

“Benar-benar tidak sopan!” Batin Jiyeon.

“Dia tidak mau disuntik, sensei! Katanya itu akan meninggalkan bekas dan membuatnya terlihat tidak cantik lagi!” Bisik Keiko.

“Baiklah, Haruna-san! Kau boleh pulang!” Ucap Jiyeon tenang.

“Nani? Ck, untuk apa aku datang ke tempat ini jika pada akhirnya aku disuruh kembali pulang? Leluconmu sama sekali tidak lucu!” Nada bicara Haruna memang turun, namun tetap terdengar tidak sopan ditelinga Jiyeon.

“Kalau kau tidak mau benda runcing dan aneh itu menyentuh kulitmu, maka janganlah datang ketempat ini! Datanglah pada seorang cenayang dan minta dia untuk menyembuhkan penyakitmu itu!”

Haruna terlihat kesal. Apa dokter itu pikir ia tidak sanggup membayar biaya rumah sakit hingga harus datang ke seorang Cenayang? Benar-benar menyebalkan.

“Tinggalkan dia! Masih banyak pasien yang membutuhkan kita!” Tambah jiyeon.

“Tapi sensei……” Keiko sedikit ragu. Namun ketika kedua suster yang membantunya langsung menuju pintu keluar mengikuti Jiyeon, iapun hanya bisa ikut menuruti perintah Jiyeon karena Jiyeon jauh lebih senior dibandingkan dirinya yang seorang pemula.

“KIAI! BERHENTI KALIAN!” Teriak Haruna.

“Datang dan segera lakukan! Aku butuh istirahat!” Ucap Haruna masih bernada kesal.

Jiyeon tersenyum menang dibalik tubuhnya yang membelakangi Haruna.

“Lakukan!” Perintah Jiyeon pada Keiko yang mengekor dibelakangnya.

“H-hai!”
“B-Baik!” Jawab Keiko tidak percaya. Hanya dengan gertakan kecil Haruna mampu menuruti kemauan Jiyeon. Jiyeon memang hebat. Tidak. Tapi pengalaman yang telah ia laluilah yang hebat.
Ketika Jiyeon hendak melewati pintu kamar Haruna, jantungnya seolah berhenti berdetak, darahnya mengalir deras, sistem syaraf otaknya tidak berfungsi, bahkan sistem saraf motoriknyapun ikut abnormal. Matanya melebar penuh.

“Ko-kookie-ah!” Gumamnya saat melihat sosok namja yang begitu ia rindukan berada tepat dihadapannya saat ini.
Namja itu terlihat lebih tinggi. Tubuhnya pun terlihat sangat proposional. Ini menunjukan bahwa namja itu sudah semakin dewasa. Rambutnya kembali ia warnai merah tua, sama seperti saat mereka pertama kali bertemu setelah 7 tahun berpisah. Dan kini takdir kembali mempertemukan mereka setelah 10 tahun lamanya.

Namja itu pun tak kalah terkejut. Ingin saat itu juga ia rengkuh tubuh yeoja itu kedalam pelukannya. Namun niatnya itu ia urungkan. Ada banyak orang disini terlebih ada Haruna. Ia pasti akan terkejut saat melihatnya. Akhirnya ia hanya dapat memasang kembali wajah datarnya.

“Sensei, bisakah anda bergeser sedikit? Aku harus masuk dan segera menemui Haruna-chan!” Ucapnya setenang mungkin.

Bagaikan terkena bom, sungguh hati Jiyeon terasa sakit. Apakah Jungkook tidak mengenalinya? Bolehkah ia lupa ingatan kembali saat ini juga?
Tidak. Ini keinginannya. Bukankah ia yang menginginkan semuanya. Ini bagus untuknya.

Mereka bagai orang asing yang tak pernah saling kenal sebelumnya. Ya. Harusnya ini bagus karena memang inilah yang Jiyeon harapkan.

“H-ha-hai!” Jawab Jiyeon lalu menggeser tubuhnya. Memberi celah agar Jungkook bisa melewatinya.
Bodoh. Ia merutuki dirinya sendiri. Saat ini tampangnya pasti terlihat sangatlah bodoh. Harusnya ia pergi saja. Kenapa hanya bergeser yang bisa ia lakukan?

“Jungkook-Kun!” Terdengar Haruna memanggil Jungkook dengan riangnya.

Jungkook begitu saja melewati Jiyeon.

Mendengar Haruna memanggil nama namja itu, sudah ia pastikan bahwa itu benarlah Jungkook. Jiyeon langsung menghembuskan nafasnya dan melangkah kembali menuju ruangannya.

Sepanjang ia terdiam didalam ruangannya, sepanjang itu pula hanya namja itu yang ada dipikirannya.
Namja itu semakin tampan saja. Apalagi ia semakin terlihat matang sebagai seorang namja dewasa.
Jiyeon kembali menghembuskan nafasnya.
Kenapa harus kembali bertemu?
Namun tak terelakkan bahwa ia merasa senang. Senang karena akhirnya dapat kembali bertemu dengannya.
Jiyeon kembali menghembuskan nafasnya. Ia mengingat saat Haruna memanggil Jungkook dengan embel-embel,
“Kun”
Apa mungkin Haruna adalah kekasih Jungkook?
Tapi Haruna terlalu muda untuk Jungkook.
Lalu, siapakah Haruna?

Jiyeon kembali terbangun dari lamunannya saat mendengar suara pintu yang diketuk. Ini memang pekerjaannya sebagai ketua sensei. Memang tidak banyak pekerjaan yang ia lakukan, namun ia harus siap jika para junior meminta bantuannya. Itulah resiko yang harus ia ambil saat ia menerima jabatan yang baru saja ia dapatkan 2 tahun terakhir ini.

“Iku!”

Muncullah sosok namja yang membuatnya kembali tidak dapat bergerak. Seperti kehilangan akal sehat saja.

“Sensei, apa aku mengganggu?” Tanya sosok yang tengah berdiri diambang pintu.

“Ha-hai! I-ie…..” Jiyeon bingung kenapa ia harus tergagap?

Jungkook, sosok namja itu kemudian menutup pintu secara perlahan dan mendekat kearah yeoja yang tengah menundukkan kepalanya saat ini. Tatapannya tak lepas dari sang yeoja. Ia harus bersabar. Ia tidak boleh menerkam yeoja itu begitu saja.
Sabar, Jeon Jungkook!

“Ogenki desu ka?”
“Bagaimana kabarmu?” Tanya Jungkook yang duduk tepat dihadapan Jiyeon.

Ayolah Jiyeon, namja itu bertanya padamu. Jangan menunjukkan kelemahanmu padanya!

Jiyeon menghembuskan nafasnya. Ia berusaha bersikap normal.

“Hai, genki desu!”
“Ya, baik!” Jawabnya lalu kembali mengangkat wajahnya.
Sial!
Mata itu!
Jiyeon merutuki kembali kebodohannya. Mata itu masih sama seperti dulu. Bagaimana caranya ia bisa terlepas dari mata itu?

Jungkook bersorak dalam hati. Yeoja itu masih sama seperti dulu. Masih memiliki perasaan terhadapnya.

“So desu ka?”
“Benarkah?” Pertanyaan Jungkook lebih terdengar seperti ejekan bagi Jiyeon, apalagi saat bibir namja itu terangkat sebelah.
Bibir?
Sial!
Kini matanya tertuju pada bibir Jungkook.
Oh Kami sama (Tuhan), tolong aku! Aku Jiyeon, meracau dalam hati.
Pesona namja itu makin kuat saja.

Jungkook mulai berdiri dari kursinya.
Jiyeon masih terdiam melihat itu semua.
Jungkook melangkah menuju kursi kebesaran Jiyeon menghampiri yeoja itu.
Entah mengapa yeoja itu malah menutup kedua matanya rapat. Baginya sangat susah terlepas dari tatapan seorang Jeon Jungkoon.
Ia merasa tubuhnya hangat.
Matanya kembali melebar.
Tidak salah lagi itu adalah sebuah tangan.
Jungkook memeluknya dari belakang?

“A-qpa yang kau lakukan?” Jiyeon tidak lagi menggunakan bahasa Jepangnya.

“Nan bhogosippo!” Bisik Jungkook tepat ditelinga Jiyeon membuat Jiyeon bergidik geli saat Jungkook mencium telinga belakangnya. Menggigit kecil daun telinganya.

Desahan lolos begitu saja dari mulutnya.
Menyadari kesalahan yang akan semakin membuat libido Jungkook naik, ia langsung melepaskan pelukan Jungkook dan berdiri melepaskan diri.

“Ja-jangan macam-macam!” Ucap Jiyeon yang sudah berdiri dihadapan Jungkook.

Jungkook hanya memberikan senyuman jahilnya.
Bahaya!
Jiyeon merasa sinyal tanda bahaya ditubuhnya berdengung.

“A-aku…. Ada pasien yang harus ku urus!” Ucap Jiyeon langsung berjalan menuju pintu keluar.

~GREB~

Sebuah pelukan hangat menghentikan langkahnya.

“10 Tahun. 10 tahun kau menghilang. Dan setelah kau kutemukan, kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja hm?”

Jiyeon merasa jantungnya ingin melompat saat itu juga.

“Kok-kookie-Ah!”

“Saranghae!”
Akhirnya, kata itu terucap pula dari bibir seorang Jeon Jungkook.

~FLASHBACK ON~

Jiyeon menangis. Sungguh ia tidak ingin semuanya terjadi. Ia belum siap. Masih banyak impian yang harus ia raih. Ia benar-benar ketakutan saat ini.

Jungkook merasakan rasa asin dibibir Jiyeon yang tengah ia lumat. Merasakan yeoja itu yang terisak. Yeoja itu menangis. Ya, itu adalah air matanya.
Jungkook langsung melepaskan bibir Jiyeon. Menatap sendu yeoja itu. Ia telah menyakitinya, lagi.

Jungkook langsung memeluk erat tubuh Jiyeon. Menghentikan aktifitasnya yang membuat yeoja itu takut.

“Mian!” Bisiknya.

Jiyeon terus menangis dan namja itu semakin mengeratkan pelukannya.

Setelah hari itu, Jiyeon menghilang. Bahkan Yoochun dan juga Kahi tidak mau memberitahukan keberadaan yeoja itu.

~FLASHBACK OFF~

Jungkook mulai merenggangkan pelukannya. Menatap yeoja itu intens. Tangannya bergerak menyentuh dagu Jiyeon, berusaha membuat yeoja itu melihatnya.

Jiyeon hanya patuh mengikuti tangan Jungkook. Bahkan tubuhnya ikut berbalik. Kini keduanya saling berhadapan, namun Jiyeon tidak berani untuk menatap seorang Jeon Jungkook.

“Tatap aku!” Perintah Jungkook.

Jiyeon sedikit ragu. Namun lagi-lagi tangan itu berhasil membuatnya menatap mata itu.

“Apa kau tidak merindukanku?”

Jiyeon menelan salivanya. Akankah ia luluh?

“Apa kau tidak mencintaiku?”

Jiyeon semakin susah bergerak. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia menjawabnya?

“Apa kau tidak ingin menikah denganku?”

Mata Jiyeon melebar.
Apa ia sedang dilamar?

“M-mwo…Mmhhh”
Jungkook langsung membungkam mulut Jiyeon dengan mulutnya. Melumat bibir Jiyeon yang sudah terbuka dengan liar. Lidah Jungkook bergerak sangat aktif didalam mulut Jiyeon. Dia menjilati langit-langit mulut Jiyeon, menyapu setiap gigi-gigi yang dimilikinya, serta bergulat lincah dengan Jiyeon beberapa lama.

Yeoja itu menikmatinya. Ia tidak menolak dan malah membalasnya.
Tanpa sadar Jiyeon mengerang.

“Eng… ”

Jungkook menyeringai mendengarnya didalam ciuman yang tengah ia lakukan. Ia senang Jiyeon menikmatinya. Tidak akan ia sia-siakan kembali kesempatan ini. Sudah cukup 10 tahun ini ia gila karena yeoja itu, dan yeoja itu harus mempertanggungjawabkannya. Ia tidak akan dengan mudah melepaskan yeoja itu.

Dengan perlahan Jungkook menghentikan ciumannya. Dia menyeret lidahnya dari bibir Jiyeon menuju leher.

“Kita lanjutkan ini setelah 10 tahun tertunda!” Bisiknya.

Dia mulai bermain ditempat itu. Mulai dari menciumnya, menjilatnya, menggigit-gigit kecil bagian yang dia inginkan serta menghisap bagian gigitan itu berkali-kali.

“Hen-ti-kan! Engh….”

Jungkook tidak menggubrisnya. Mendengar Jiyeon terbata sambil menahan erangannya membuat Jungkook semakin bergairah.
Jungkook memulai kembali melumat bibir Jiyeon. Tangannya bergerak melepaskan jas putih yang dikenakan Jiyeon. Tangannya masuk kedalam kaos hijau muda yang masih menempel ditubuh Jiyeon. Menyentuh bagian perut yeoja itu dan berpindah kebagian punggung. Ia elus lembut punggung Jiyeon membuat yeoja itu bergelinjang kegelian karena sentuhan yang diberikan Jungkook padanya tanpa melepaskan pagutannya.
Jungkook mulai melepas pengait dibelakang bra yang dikenakan Jiyeon.
Ciumannya turun keleher, bagian dada yang masih tertutup oleh kaos hijau muda dan juga bra, lalu turun kebagian perut. Lidahnya bermain dibagian perut Jiyeon membuat yeoja itu kembali melenguh.

“Enghh….”

Ditariknya koas itu hingga terlepas dari tubuh Jiyeon. Kini Jungkook melihat dada Jiyeon yang montok dengan sempurna meski masih tertutup bra yang sudah terlepas pengaitnya. Tanpa dikomando tangan Jungkook langsung mengambil bra itu dan membuangnya sembarang. Kini tidak ada lagi penghalang. Jungkook menikmati pemandangan yang ada dihadapannya.

Jiyeon merona. Ini pertama kalinya ia bertelanjang dada dihadapan seorang namja, terlebih itu adalah Jeon Jungkook. Namja yang hingga detik ini masih sangat ia cintai.

Jiyeon berusaha menutupi dadanya dengan kedua tangannya, namun langsung dihalangi Jungkook.

“Itu milikku! Hanya milikku!”
Dengan segera Jungkook mulai memijatnya secara perlahan dan menjilat dada kiri bergantian dengan dada kanan Jiyeon.

“Enghhh…..”
Jiyeon lagi-lagi mengeluarkan erangannya. Meski Jungkook pernah menyentuhnya, namun sentuhan kali ini sangat berbeda. Bukan hanya dengan tangan melainkan dengan mulut pula. Bahkan tak ada penghalang disana.
Jiyeon tidak tahan jika Jungkook melakukan itu padanya. Ia tidak kuat menahan erangannya yang sedari tadi telah coba ia tahan.
Semakin lama Jiyeon semakin merasakan remasan Jungkook semakin kuat dan cepat. Tidak yang kanan maupun yang kiri, perlakuan Jungkook untuk dadanya sama saja. Terlebih ditambah jilatan serta hisapan yang diterimanya menambah nikmatnya kegilaan ini. Tubuhnya terdorong hingga membentur meja. Sakit memang, namun kenikmatan yang ia dapatkan tidak sebanding dengan sakit yang ia rasakan pada punggungnya.
Baiklah, Jiyeon akan pasrah. Ia memang menginginkannya. Tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan. Usianya dan Jungkook sudah sama-sama dewasa. Namja itu juga mencintainya.
Mencintainya?
Lalu siapa Haruna?
Jiyeon langsung menarik kepala Jungkook, membuat namja itu kembali melihatnya.
Jiyeon merasa kedinginan saat bibir Jungkook terlepas dari dadanya.
Ayolah Jiyeon, kau harus segera sadar!

“Wae?”

“Siapa Haruna?”

“Mwo?”

“Haruna. Yeoja yang kau kunjungi hari ini. Yeoja yang memanggilmu dengan embel-embel Kun!”

“Ck, kau cemburu?”

“A-ani. Aku hanya bertanya!”
Lagi-lagi Jiyeon tergagap.

“Dia dongsaengku!”

“Mwo?”

Jungkook langsung memeluk tubuh Jiyeon membuat tak ada lagi jarak diantara keduanya.

“1 tahun setelah kau menghilang, orang tua kandungku menemuiku. Mereka meminta maaf karena telah meninggalkanku.
Saat itu mereka tengah mengajakku berlibur ke Korea, namun karena pernikahan mereka berdua ditentang oleh keluarga Eomma, mereka selalu mendapatkan kesulitan. Karena takut mereka akan mencelakaiku, Eomma dan Appa menitipkanku disebuah panti asuhan dan kembali ke Jepang. Dan ditempat itulah Kahi eomma dan Jaejoong Apoa akhirnya menemukanku dan membawaku padamu.”

Jiyeon mengelus lembut punggung Jungkook, seolah ia juga merasakan apa yang namja itu rasakan.

“Mereka menjemputku kembali dan tinggal di Jepang, bertemu Haruna yang saat itu masih berusia 8 tahun. Kami berdua sangat dekat!”

“Sepertinya kau menyukainya!”

“Errr, kau cemburu pada dongsaeng iparmu sendiri hmm?”

“M-mwo?”

Jungkook terkekeh. Pasti wajah Jiyeon sudah semerah tomat saat ini.

“Kalau tau kau juga tinggal di Jepang, aku pasti akan langsung menemuimu dan meminta pertanggungjawaban darimu!”

Jiyeon melepaskan pelukannya. Yeoja itu terlihat kesal.

“Pertanggung jawaban apa? Kau yang sudah menyentuhku, apa yang harus kupertanggung jawabi?” Protes Jiyeon.

“Hatiku. 7 tahun, 10 tahun, kau pikir hatiku ini sebuah festival yang hanya dihadiri beberapa tahun sekali?”

Jiyeon menyadari kesalahannya. Ia menunduk.

“Mian!”

Jungkook langsung menyentuh kedua pipi Jiyeon. Mengelusnya lembut menggunakan ibu jarinya. Membuat yeoja itu kembali menatapnya.

“Jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku lagi! Bahkan jika kau menginginkan lepas dariku, aku akan mencengkram mu semakin erat. Kau hanya milikku dan aku hanya milikmu.”

Jiyeon tersenyum. Entah sejak kapan namja ini begitu pandai merangkai kata-kata.

Jungkook mulai memajukan kembali bibirnya dan Jiyeon hanya menutup kedua matanya bersiap dengan apapun yang akan ia dapatkan dari namja itu.

“SENSEI!” Teriak seseorang yang telah membuka pintu ruangan tanpa permisi.

Jungkook langsung menghentikan aksinya dan Jiyeon kembali membuka matanya. Keduanya langsung menoleh kearah pintu yang terbuka.
TIDAK.
JIYEON MASIH BERTELANJANG DADA.

“Go-gomen-ne!”

“KIAI!”
.
.
.
.
.
Hujatan siap author terima!
Coment Jusaeyo!

FF Jungkook Jiyeon (Different) Part 3

image

                 DIFFERENT
                    (Part 3)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Jeon Jungkook (BTS)

Other Cast :
Kim Hyuna ( 4minute )
Luna (Fx)
Kahi (AfterSchool)
Park Yoochun (JYJ)

Songfict :
Winner Empty

Genre :
Romance, School Life, Friendship, Family, NC-17

Length :
Chaptered

A/N : Part 3 hadir.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Jiyeon, yeoja itu berubah. Ia menjadi sosok yeoja yang angkuh dan kasar.
Setelah kembalinya dari rumah sakit, bahkan ia tidak mau disentuh sedikitpun oleh sang appa.

“Apa yang kau pikirkan, eoh?” Tanya Kahi pada Yoochun.
Saat ini Yoochun tengah berkunjung kekediaman Kahi.

“Jiyeon, ada yang aneh dengannya. Sejak ia siuman, ia terlihat begitu membenciku. Bahkan untuk kusentuh saja dia menolaknya.” Jawab Yoochun sedih.

“Apa mungkin ingatannya sudah kembali?” Tanya Kahi.

“Entahlah! Dokter tak mengatakan apapun tentang amnesia yang Jiyeon alami. Dokter hanya mengatakan Jiyeon terlalu lelah dan setres. Seperti banyak hal yang sedang ia pikirkan.”

Kahi menepuk lembut pundak Yoochun yang duduk disampingnya.

“Gwaenchana. Mungkin Jiyeon terlalu setres memikirkan sekolahnya. Bukankah sebentar lagi ujian akhir sekolah? Ia pasti terlalu berusaha keras untuk mempertahankan nilainya.” Tambah Kahi berusaha menenangkan Yoochun.

Sementara itu, Jungkook yang mendengar percakapan keduanya itu dari lantai atas kembali berjalan memasuki kamarnya. Ia membanting tubuhnya diatas ranjang super size nya. Matanya menerawang langit-langit kamarnya. Memikirkan ucapan sang eomma dan juga appa Jiyeon tentang yeoja itu.
Mungkinkah Jiyeon berubah karena kehadirannya kembali dalam hidupnya?

~FLASHBACK ON~

Jiyeon menghempaskan tangan Jungkook dengan kasar saat namja itu berusaha menyentuhnya.

“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya! Jangan pernah muncul dihadapanku lagi!” Ucap Jiyeon menekan semua kata-katanya.

Jungkook terperangah melihat sikap Jiyeon terutama ucapan yeoja itu. Dia pikir Jiyeon mulai menerima kehadirannya. Namun malah berbanding terbalik dari apa yang ia duga.

“Jangan pernah menyentuhku sedikitpun! Pecundang!”

Jungkook masih diam ditempatnya. Berusaha mencerna apa yang baru saja Jiyeon ucapkan.
Kenapa yeoja itu tiba-tiba begitu kasar?
Tak ada senyum bahkan wajah merona diwajahnya. Kini wajah itu menyiratkan suatu kemarahan dan kebencian yang luar biasa.
Mungkinkah ingatan Jiyeon sudah kembali?

~FLASHBACK OFF~

Jungkook mengingat pertemuannya dengan Jiyeon disekolah hari ini. Jungkook tidak bisa berkutik melihat ekspresi Jiyeon yang begitu memandangnya jijik.

Jungkook mengurut kepalanya. Kenapa semuanya malah semakin rumit?
.
.
.
.
.
Jiyeon, saat ini yeoja itu tengah berada di sebuah cafe bernama A Twosome Place dikawasan Daejeon. Ia tengah bersama dengan kedua sahabatnya menyelesaikan tugas akhir yang diberikan Kang songsaenim sebagai wali mereka. Mereka diberi tugas untuk mencari data-data kejahatan terbesar yang pernah terjadi di Korea. Mulai dari pembunuhan hingga tindakan terorisme yang hampir membuat warga Korea ketakutan setiap saat.

“Omo, ini tragedi Lotte World 2007 silam. Tepatnya 7 tahun yang lalu.” Ucap Luna yang tengah membuka sebuah surat kabar yang sudah usang.

“Eoh, aku mendengarnya. Saat itu aku baru duduk dibangku kelas 5 SD. Lotte World adalah salah satu tempat yang ingin aku kunjungi saat itu. Kau tau bukan, anak seusia itu sedang ingin inginnya bermain dengan berbagai mainan, terlebih Lotte World menyediakan puluhan wahana bermain disana.” Ucap Hyuna mengingat masa kecilnya.

“Ne. Saat itu terjadi sebuah penyekapan didalam sana. Bahkan ada sebuah bom pula yang meledak. Beberapa pengunjung yang terperangkap didalam sana disiksa hingga ada yang meninggal dunia. Ini berita yang paling menghebohkan. Sejak itu, aku tidak berani datang ke Seoul. Meski itu ibukota, namun kejahatan sangat rentan disana.” Tambah Luna.

Jiyeon, tubuhnya mulai bergetar. Keringat mulai mengalir dari tubuhnya. Ia merasa sesak mendengar itu semua. Mendengar mimpi buruk yang kembali menghantuinya.

“Itu terjadi saat pergantian presiden. Kubu yang kalah tidak terima dengan kekalahannya dan mulai menteror masyarakat. Untung para penjahat-penjahat itu langsung diamankan para aparat!” Ucap Hyuna seraya menghembuskan nafasnya lega.

“Eum. Itu tragedi ditahun 2007 yang paling menggemparkan. Hingga detik ini, bulu kudukku akan berdiri jika mengingat tragedi yang terjadi di Seoul silam.” Tambah Luna.

“Nado.” Timpal Hyuna.

~KRIET~

Luna dan Hyuna langsung menoleh kearah Jiyeon saat yeoja itu menggeser kasar kursinya dan mulai bangkit.

“Neo eodi?” Tanya Luna.

“Pulang!” Jawab Jiyeon datar.

“Kya! Kita belum menyelesaikan ini!” Protes Hyuna dan tak mendapat respon dari Jiyeon. Yeoja itu terus berjalan meninggalkan kedua sahabatnya.

“Ada apa dengannya?” Gumam Hyuna.

“Molla!”Jawab Luna seraya mengangkat kedua bahunya.

~BRUK~

“KYA! JIYEON-AH!” Teriak Hyuna dan juga Luna saat melihat tubuh Jiyeon yang ambruk tepat didepan pintu keluar cafe.
.
.
.
.
.
Jiyeon, yeoja itu kembali membukakan matanya dan kembali pula ia menemukan ruangan yang didominasi warna putih. Ia menghela nafasnya. Bosan rasanya. Tapi setidaknya disini terlihat lebih tenang. Tidak ada sang appa, yeoja paruh baya maupun Jungkook.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?”

Suara itu membuyarkan kenyamanan yang baru saja ia pikir akan ia dapatkan. Ia menoleh kesamping kanannya dan dilihatnya sosok Jungkook dengan wajah dipenuhi kekhawatiran duduk disamping ranjangnya.

Ia kembali menolehkan wajahnya.
Kenapa rasanya begitu menyakitkan saat melihat namja itu? Batinnya.

“Apa ada yang terasa sakit?”

“Kha!” Perintahnya tenang.

“Shirreo! Aku akan menemanimu disini hingga kau benar-benar sembuh!” Protes Jungkook. Ia begitu khawatir saat Luna menghubunginya dan memberitahukan bahwa Jiyeon kembali ambruk.

“Kha!”

“Kau tau? Kau sudah berkali-kali ambruk akhir-akhir ini. Apa kau tidak tau bagaimana khawatirnya aku? Appamu, eomma, dan juga sahabat-sahabatmu, semuanya mengkhawatirkanmu!”

“Kha!”

“Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini! Kau harus mengutamakan kesehatanmu!”

“KHA! KUBILANG KHA!” Teriak Jiyeon histeris.

“Yeonnie-ah!”

Jiyeon manatap Jungkook dengan penuh kebencian yang membuncah saat ia mendengar namja itu memanggil namanya seperti saat mereka masih kecil.

“Apa kau tau ini semua karena siapa?” Jiyeon menekankan semua kata-katanya. Rasa perih itu kembali datang. Air matanya yang sedari tadi berusaha ia tahan lolos begitu saja.

Jungkook, namja itu menyadari kesalahannya. Jiyeon sering ambruk setelah ia kembali menemui yeoja itu.

“Kau tau bagaimana perasaanku?
PERASAANKU SAAT KAU DAN YEOJA ITU PERGI BEGITU SAJA!
MEMBIARKAN KAMI BERADA DIDALAM NERAKA ITU!
KAU TAU BAGAIMANA PERASAANKU SAAT DENGAN MATA KEPALAKU SENDIRI KEDUA ORANG YANG BEGITU KUSAYANGI MATI TEPAT DIHADAPANKU?
SEDANGKAN APA YANG KAU LAKUKAN BERSAMA YEOJA ITU?
KALIAN HANYA MENONTON KAMI YANG TERSIKSA DIDALAM SANA!” Teriak Jiyeon semakin histeris.

Jungkook langsung menarik kembali wajahnya mendengar Jiyeon mengatakan itu semua.

“K…kau, sudah mengingat semuanya? Ingatanmu sudah kembali?”

“Ne. Aku sudah mengingat semuanya.
SEMUA KEJADIAN YANG BENAR-BENAR INGIN KUHAPUS DALAM OTAKKU TERMASUK MENGHAPUS INGATANKU TERHADAPMU DAN YEOJA ITU!”

Jungkook langsung mendekap erat tubuh Jiyeon. Meski Jiyeon berusaha melepaskan diri, namun Jungkook semakin mempererat dekapannya.

“LEPAS!”

“Mian!”

“LEPASKAN!”

Keduanya menangis bersama. Menangis mengingat ketidakberdayaan mereka berdua dimasalalu.

“Jangan menyuruhku untuk mengerti bagaimana perasaan kalian, karena kalian sendiripun tidak dapat mengerti bagaimana perasaanku! Hiks…” Jiyeon terisak didalam pelukan Jungkook begitu pula sebaliknya.
Tidak ada yang bisa Jungkook lakukam saat ini selain memberi rasa aman dan kenyamanan untuk yeoja itu.

~FLASHBACK ON~

“Eomma!” Namja muda itu begitu khawatir begitu pula dengan yeoja yang ia panggil eomma.

“Gwaenchana, Jiyeon akan selamat! Kau tenang saja, Kookie-ah!” Ucap sang eomma mengelus puncak kepala namja muda yang ternyata Jungkook itu.

“Kahi-ah, bagaimana dengan Jiyeon?” Sembur namja yang baru saja tiba di Sungnam Hospital, Seoul.

“Kau datang?”

“Eum. Mian karena aku terlambat!”

“Kau sudah mendengar semuanya?”

“Eum, Taehee dan Jaejoong hyung……” Yoochun tak sanggup meneruskan kata-katanya.

“Mian. Semua adalah salahku! Hiks..” Namja itu menangis. Menyesali apa yang sudah terjadi terhadap keluarganya.
Taehee sang anae yang menjadi korban penembakan serta Jaejoong, hyung iparnya yang menjadi korban peledakan, ditambah dengan puterinya, Jiyeon, yang masih dalam keadaan koma didalam sana. Membuat dadanya terasa sesak.

“Jiyeon akan baik-baik saja! Percayalah!” Ucap Kahi berusaha menenangkan Yoochun.

Jiyeon, meski hanya benturan yang tidak cukup fatal, namun yeoja muda itu menjadi sosok pendiam sejak ia sadar dari komanya. Tak sekalipun ia mengeluarkan suaranya. Dokter mengatakan bahwa yeoja muda itu mengalami depresi berat. Tentu saja dengan apa yang sudah ia alami. Melihat eommanya ditembak didepan mata kepalanya sendiri, melihat namja yang sudah ia anggap seperti appanya sendiri meninggal dengan cara yang keji. Itu sudah cukup mengguncangkan fisik dan batinnya.

Semakin hari tubuh yeoja muda itu semakin kurus. Ia bahkan tidak mau makan.
Jungkook belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Usia 8 tahun bukanlah usia yang mampu membuat ia dapat mengerti semuanya. Yang ia mengerti hanyalah satu. Jiyeon. Yeoja itu tak pernah sekalipun berbicara sejak kejadian itu terjadi.

“Yeonnie-ah!” Ucapnya seraya menggenggam erat tangan Jiyeon yang kini tengah bersandar dipunggung ranjang kamarnya.

“Phogosippo!” Lirih Jungkook.

Jiyeon, ia memandang namja kecil itu. Ia Tersenyum miris kearahnya. Air mata entah mengapa keluar tanpa dikomando. Rasanya sangat sakit melihat sosoknya. Lintasan disaat dirinya berteriak memanggil nama sang namja berharap namja kecil itu akan, menyelamatkannya, malah membuat ia harus terluka dan eomma yang harus ditembak mati dihadapannya, kembali ingatan itu menghantuinya saat ia melihat sosok namja kecil itu. Awal dimana ia kehilangan segalanya.

Perih. Hatinya terasa teriris. Bisakah aku mati saat ini juga? Aku, Jiyeon berdoa dalam batinnya.

“Neo! BRENGSEK! PERGI KAU! JANGAN PERNAH MUNCUL DIHADAPANKU! DASAR BAJINGAN! PENGECUT! PERGI DARI HADAPANKU! PERGI!” Teriak Jiyeon histeris seraya melempari Jungkook dengan benda-benda yang ada didekatnya. Untuk pertama kalinya Jiyeon mengamuk. Untuk pertama kalinya yeoja itu kembali membuka suaranya.

“Waegeurae?” Tanya Kahi yang datang bersama Yoochun saat mendengar suara teriakan.

Mata Jiyeon melebar melihat sosok Kahi. Baginya, kedua orang itu adalah iblis dimatanya. Orang yang telah membiarkan dirinya mengalami semuanya.

“PERGI KAU! YEOJA IBLIS! PERGI KALIAN!”

Kahi tercekak mendengar teriakan Jiyeon. Untuk pertama kali yeoja kecil yang sudah ia anggap puterinya sendiri mengatakan hal yang tak seharusnya ia dengar.

Jiyeon terus melempari mereka, mengusir mereka, meneriaki mereka, seolah itulah yang ingin ia lakukan sejak dulu, sejak ia tersadar dari komanya.

Ia terus menangis histeris. Rasanya lelah seperti ini.
Yoochun berusaha mendekat sedangkan Kahi berusaha menjauhkan Jungkook dari Jiyeon.

“AKAN KUBUNUH KALIAN BERDUA! AKAN KUBALAS SEMUANYA! KALIAN BERDUA TERKUTUK! ENYAH DARI KEHIDUPANKU! DASAR IBLIS!”

Yoochun langsung memeluk puterinya.
Kata-kata yang keluar dari mulut puterinya sangatlah tak pantas diucapkan yeoja berusia 10 tahun.
Ia berusaha menenangkan puterinya.

Kahipun tak kuasa menahan tangisnya. Ia merutuki dirinya sendiri karena tak dapat menyelamatkan orang-orang yang ia sayangi saat itu. Membuat Jiyeon yang harus dihantui kebencian karena ia dan Jungkook yang telah membiarkan dirinya terperangkap didalam tempat itu.
Sungguh, Kahipun tidak menginginkan itu semua. Andai waktu bisa diulang kembali, ia lebih memilih jika dirinyalah yang terperangkap didalam sana.

Sedangkan Jungkook, namja kecil itu hanya terdiam dalam pelukan Kahi. Ia benar-benar tidak mengerti dengan keadaan ini. Jiyeon yang histeris. Yoochun yang juga ikut menangis begitu pula dengan Kahi. Ia terlalu polos untuk mengerti semuanya. Ia kembali mengerti satu hal. Jiyeon. Yeoja itu membencinya. Terdengar dengan jelas dari apa yang keluar dari mulut yeoja itu.

Jiyeon kembali ambruk membuat Yoochun dan juga Kahi kembali dilanda kepanikan. Sungguh tak tega membiarkan yeoja berusia 10 tahun itu mengalami hal berat seperti ini.

Jiyeon akhirnya dirawat kembali dirumah sakit. Dokter mengatakan ada kerusakan pada otak Jiyeon. Tekanan yang ia dapat membuat memory dalam otaknya menghilang. Tekanan yang terlalu besar serta benturan yang pernah ia dapat sebelumnya membuat otak Jiyeon tak dapat bekerja secara normal.

Menyadari bahwa Jiyeon juga mengalami depresi berat, f
dokter menyarankan agar Jiyeon dibawa ketempat lain. Menjauh dari tempat dan orang-orang yang dulu hadir dalam kehidupannya.

Jiyeon, sepertinya yeoja itu memang menginginkan itu semua. Menginginkan melupakan masalalunya meski ingatan itu akan kembali kapanpun.

Mendengar cerita Yoochun sebelum Jiyeon kembali ambruk, dokter menyarankan agar Jiyeon dipindahkan dari Seoul setelah sadar. Bawa yeoja muda itu ketempat baru yang mampu membuat kenangan baru. Jangan memaksa ia untuk mengingat masalalunya, karena ingatan itu akan kembali dengan sendirinya.

Setelah itu, Yoochun memutuskan untuk pindah ke Daejeon. Meninggalkan semua masalalu yang kelam di Seoul. Berharap puterinya akan kembali sembuh dan hidup normal. Memulai lagi dari awal. Memulai hidup baru.

~FLASHBACK OFF~

Jungkook, ia memandang wajah tenang yeoja yang tengah terlelap saat ini.
Kini ia mengerti kenapa Jiyeon begitu membencinya.
Saat itu ia melihat sendiri Jiyeon yang tengah terperangkap didalam Lotte World. Yeoja itu mengucapkan sebuah kata. Terlihat dari bentuk bibirnya yang terbuka.
Dirinya.
Yeoja itu menyebutkan namanya, atau mungkin lebih tepat memanggilnya. Memanggil namanya. Berusaha meminta pertolongan darinya.

Sungguh ironis. Namun saat itu ia hanya terdiam tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi didalam sana.

Jungkook mengelus lembut rambut Jiyeon. Memandangnya lekat lalu mendaratkan bibirnya tepat dikening yeoja yang masih terlelap itu.

Belum puas ia mencium bagian kening, bibirnya turun kebagian hidung. Mencium lembut hidung mancung itu lalu berpindah kebagian bibir yang menutup itu. Lama ia mempertahankan bibirnya disana. Air matanya menetes tepat mengenai wajah Jiyeon. Takut yeoja itu akan terbangun, ia pun menjauhkan wajahnya mengakhiri ciumannya. Menghapus bekas air mata yang menempel diwajah yeoja itu.

“Aku akan menebusnya, Yeonnie-ah! Menebus semuanya. Aku akan menjagamu dan tak akan membiarkan siapapun menyakitimu termasuk diriku sendiri. Aku berjanji!” Ucapnya mantap.
.
.
.
.
.
Jiyeon, yeoja itu tak luluh dengan semua perhatian yang Jungkook berikan. Sepertinya namja itu harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan kembali hati seorang Park Jiyeon.

“BUKANKAH SUDAH KUKATAKAN, BERHENTI MENGIKUTIKU!” Teriak Jiyeon kesal membuat semua hagsaeng yang melihat yeoja itu bergidik ngeri, pasalnya ini pertama kalinya mereka melihat seorang Park Jiyeon begitu menakutkan. Namun bagi seorang Jeon Jungkook, cacian dan makian yang diberikan Jiyeon padanya tidaklah sebanding dengan penderitaan yang yeoja itu rasakan selama ini.

“Nuna, jangan membentakku seperti itu! Kau menakutiku!” Ucap Jungkook dengan manisnya.

Jiyeon memandang sekelilingnya, ia mendapat tatapan horor dari para hagsaeng yang melihatnya. Ia seolah dianggap sunbae kejam yang menyiksa hoobaenya. Ia menghembuskan nafasnya malas.

“Geurae, apa yang kau inginkan Jeon Jungkook?” Tanyanya merendahkan volume suaranya berusaha menahan emosinya.

“Nuna, kajja! Kita berkencan!” Ajak Jungkook semanis mungkin.

Para hagsaeng mulai berbisik terutama hagsaeng yeoja.
Seorang Jeon Jungkook secara terang-terangan mengajak sunbaenya berkencan, tentu ini berita yang menghebohkan, mengingat Jungkook adalah hagsaeng baru yang langsung populer terutama dikalangan yeoja karena ketampanan serta pesona yang ia miliki.

Jiyeon semakin dibuat kesal oleh tingkah hoobaenya itu. Baginya, ia telah dipermalukan dihadapan para hagsaeng dengan permintaan Jungkook padanya.

“Jeon Jungkook, apa kau tidak sadar tengah mengajak kencan siapa? Aku ini sunbaemu dan kau adalah hoobaeku. Apa pantas kau mengatakan itu semua, eoh?”

“Apa itu masalah? Apa menyukaimu adalah suatu kesalahan?” Jungkook, namja itu kembali pada sosok yang sesungguhnya. Ia tidak mau kalah dengan yeoja itu. Bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan kembali hati yeoja itu.

Semua yang menyaksikan ikut tegang dengan keadaan yang ada. Ditambah pernyataan Jungkook yang secara terang-terangan bahwa ia menyukai sunbae nya itu.

“Wae? Kau tidak bisa menjawabnya?” Jungkook menyeringai melihat Jiyeon yang semakin kesal.

“Kya! Kya! Waegeurae?” Sembur Hyuna yang baru saja datang bersama Luna.

Keduanya saling menelan salivanya masing-masing setelah melihat ekspresi Jiyeon dan juga Jungkook yang terlihat ingin membunuh satu sama lain.

Jiyeon langsung pergi meninggalkan semuanya. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang disekelilingnya.

“Kookie-ah, waegeurae? Apa kalian berdua bertengkar?” Tanya Luna yang akhirnya membuka suara.

“Aniyo. Gwaenchana, nuna. Kami hanya tengah beradu akting. Aku akan mengikuti kontes drama dalam kelulusan kalian nanti dan Jiyeon nuna berusaha menjadi lawan mainku. Hihi….” Jawab Jungkook semanis mungkin.

“Geurae, semoga itu semua benar!” Ucap Hyuna yang sepertinya mulai curiga dengan hubungan antara sahabatnya dengan namja yang ada dihadapannya itu.
.
.
.
.
.
Jiyeon, sepulang sekolah yeoja itu langsung kembali kerumahnya. Ia lelah karena Jungkook terus mengikutinya hingga ia tiba dirumahnya sendiri.

Matanya melebar sempurna saat melihat sosok Kahi yang tengah berada didalam rumah bersama dengan Yoochun sang appa.

“Kau sudah pulang, Jiyeonnie?”
Pertanyaan yang Yoochun lemparkan bukanlah sesuatu yang harus dijawab bagi Jiyeon.

“Chagiya, bagaimana kabarmu? Eomma dengar kau kembali masuk rumah sakit!”

Jiyeon langsung memberikan death glarenya pada Kahi.

“Eomma? hahhaa…..” Jiyeon tertawa sinis mendengarnya.

“Kau bilang eomma? Eommaku sudah meninggal. Bukankah kau saksi mata saat kejadian itu terjadi?” Jiyeon memandang sinis kearah Kahi. Yeoja itu benar-benar terlihat begitu membenci sosok yang ada disamping appanya itu.

” Jaga bicaramu, Jiyeonnie!” Perintah Yoochun.

“Kau, ingatanmu sudah kembali chagiya?” Tanya Kahi gembira saat menyadari bahwa ingatan Jiyeon telah kembali.

“Ck, kau lucu sekali. Jangan bersikap seolah-olah kau mengenalku!”

“JIYEONNIE, CUKUP! KAU TIDAK SOPAN!”

“Gwaenchana!” Ucap Kahi berusaha menenangkan Yoochun yang sudah terpancing oleh emosi.

“Kami akan menikah! Kahi yang akan menggantikan eommamu! hanya dialah yang bisa menjagamu!” Ucap Yoochun.

Jiyeon kembali memperlihatkan seringaiannya.
Tentu ia tidak terkejut akan berita itu. Namun dengan alasan yang tidak masuk akal yang diberikan sang appa, tentu saja tidak dapat ia terima.

“Jangan jadikan aku sebagai alasan kalian menikah! Katakan saja jika kalian saling mencintai, bukankah itu lebih terdengar elegan. Eoh, apa mungkin sudah sejak lama kalian saling menyukai? Omo, apa mungkin sejak eomma dan appa Jaejoong masih hidup kalian sudah menjalin kasih dibelakang mereka? Daebak!”

~PLAK~

“YOOCHUN-AH!”

Jiyeon menyentuh pipi kanannya yang baru saja terkena sentuhan kasar tangan sang appa. Terlihat Kahi tengah menghentikan aksi Yoochun sebelum namja itu bertindak lebih jauh lagi dari sebuah tamparan.

Jiyeon merasa ada darah yang mulai keluar dari sudut bibirnya. Jiyeon kembali menyeringai. Darah itu menunjukkan bahwa sang appa benar-benar dengan keras memukulnya.

“Kau sungguh kurangajar, Park Jiyeon! Appa tidak pernah mengajarimu bersikap seperti itu!”

“Lalu apa yang kau ajari padaku, eoh? Tidak pernah. Aku tidak pernah sekalipun mendapatkan didikan darimu selain didikan kau yang selalu sibuk dengan pekerjaanmu dan meninggalkan keluargamu!”

“KAU……. ” Tangan Yoochun mulai terangkat kembali namun langsung dihalau Kahi.

“Andwae! Yoochun-ah, dia puterimu!” Ucap Kahi berusaha mengingatkan Yoochun yang hilang kendali karena emosi yang menguasainya.

“Apa kalian berdua juga berniat menyingkirkanku setelah berhasil menyingkirkan eomma dan appa Jaejoong, eoh? Kalian berdua benar-benar pasangan yang menjijikan!”
Itulah kata-kata yang terakhir kali diucapkan Jiyeon sebelum akhirnya yeoja itu keluar dari dalam rumah mewahnya.

Kahi terjatuh duduk tepat dikaki Yoochun. Ia sangat shock dengan sikap dan ucapan Jiyeon. Yeoja muda itu benar-benar amat membencinya.

Yoochun langsung bersimpuh dihadapan Kahi. Benar-benar sesuatu yang tidak pernah ia pikir sebelumnya. Ingatan puterinya kembali dan puterinya kembali membenci orang-orang yang pernah ada dalam masalalunya. Membenci orang-orang yang menurutnya telah membiarkan tragedi memilukan itu terjadi.

“Mian! Mianhae!” Lirih Yoochun.

Kedua manusia itu menangis. Menangisi masalalu yang terus menyiksa mereka hingga mereka hidup dimasa depan seperti sekarang.

Jiyeon berlari, berlari dengan kencangnya. Berusaha menutupi kesedihannya. Berusaha membiaskan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.

~BRUK~

Tubuhnya kembali ambruk. Ia menangis. Menangis disisi jalan. Tidak perduli dengan orang-orang yang melihat menganggapnya apa. Yeoja itu hanya ingin meluapkan semuanya. Meluapkan kebenciannya, meluapkan kekesalannya, meluapkan emosinya.

Sementara namja yang mengejarnya, ia tak kuasa melihat keadaan yeoja yang berhasil menaklukan hatinya sejak dulu begitu terlihat menyedihkan, begitu terlihat tersiksa dan menderita.
Jeon Jungkook, itulah sosok namja yang kini mendekat kearah yeoja yang masih menangis itu.

“Geumanhae!” Ucapnya parau. Sungguh ia tak sanggup melihat yeoja yang amat ia cintai seperti ini.

Jiyeon mengangkat wajahnya. Lagi-lagi namja itu yang menghampirinya.
Apa memang mungkin ia ditakdirkan untuk selalu bersama namja itu?
Pandangannya mulai mengabur secara perlahan.

~BRUK~

Kembali Jiyeon ambruk dipangkuan Jungkook.

Jungkook, namja itu langsung membawa Jiyeon kerumahnya. Disana sudah dipastikan sang eomma belumlah pulang. Kesempatan ini ia gunakan untuk membawa yeoja itu kedalam kamarnya.
Ia baringkan tubuh lemah itu diatas ranjang super sizenya. Ia pandangi wajah sembab itu. Ia sentuh kedua pipi tirus yeoja itu dengan lembut.

“Haruskah?” Gumamnya.

Ia mulai mendekatkan wajahnya. Mencium bibir Jiyeon lembut.

Jiyeon perlahan membuka matanya saat merasakan benda kenyal menempel dibibirnya. Matanya melebar saat menyadari bahwa sosok Jungkooklah yang tengah melakukannya. Jiyeon mulai panik saat merasakan tangan Jungkook yang mulai bergerilya dibagian dadanya. Ia berusaha mendorong wajah Jungkook, namun namja itu malah naik keatas ranjang tanpa melepaskan bibirnya.

Jiyeon semakin panik saat bibir Jungkook menggigit bibir bawahnya, membuat ia mengerang dan sukses membuat bibirnya terbuka dan dengan mudah bibir serta lidah Jungkook bermain didalamnya.

Apakah Jungkook akan melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan terhadap Jiyeon?
Bagaimana nasib Jiyeon?
Dan apakah pernikahan Kahi dan Yoochun tetap akan berlangsung?
.
.
.
.
.
Hujatan, cacian, makian, kritik terlebih saran, sangat author harapkan dari readers.
Coment Jusaeyo!

FF Jungkook Jiyeon (Different) Part 2

image

                    DIFFERENT
                          (Part 2)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Jeon Jungkook (BTS)

Other Cast :
Kim Hyuna ( 4minute )
Luna (Fx)
Kahi (After School)
Park Yoochun (JYJ)
Kim Jae Joong (JYJ)
Kim Tae Hee

Songfict :
Henry (Super Junior M) Fantastic

Genre :
Romance, School Life, Friendship, Family, NC-17

Length :
Chaptered

A/N : Part 2 hadir.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Yeoja itu, Park Jiyeon, ia merasa dunia ini runtuh begitu saja. Pertahanannya lenyap sudah.

“Appa!” Gumamnya saat sang appa memeluk mesra pinggang yeoja yang ada disampingnya.

“Ji…Jiyeonnie!” Ucap sang appa Park Yoochun saat menyadari kehadiran puterinya itu.

Jiyeon langsung berbalik, menghapus air mata yang sudah menuruni pipinya. Apa yang ia lihat sungguh sangat ia sesali. Melihat sang appa yang tengah bermesraan dengan yeoja yang bukan eommanya.

Jiyeon, yeoja itu awalnya berniat menemui kedua sahabatnya disebuah Caffe bernama Caffe Bene Daejeon tak jauh dari Cheonsa Store. Hanya saja, matanya berhasil menangkap sesuatu yang menarik disebuah restorant yang ia lewati. Sang Appa yang baru saja keluar dari dalam restorant tersebut tengah memeluk mesra yeoja asing yang ada disampingnya tepat didepan pintu restorant. Hatinya terasa hancur. Appa yang selama ini selalu ia banggakan begitu mudah meruntuhkan kepercayaannya.

Kecewa, marah, tentu saja ia rasakan tatkala menyadari bahwa appanya ternyata diluar sana telah mengkhianati sang eomma. Ingin saat itu juga ia buta dan tak melihat semuanya, namun mustahil. Ia sudah merekam semuanya dalam memory otak terdalamnya.

~BRUK~

Jiyeon, ia terjatuh duduk saat tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang. Ia langsung menunduk menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah berantakan karena airmata yang terus mengalir begitu saja.

“Jeoseonghamnida!” Ucapnya menunduk namun tak berniat bangkit dari posisinya sekarang.

“Sampai kapan kau akan duduk disini, eoh?”

Suara itu, ia kenal dengan jelas suara itu.

~DEG~

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia menemukan sosok namja yang hampir membuatnya gila akhir-akhir ini berada terlalu dekat dengan wajahnya. Namja itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Jiyeon yang terduduk. Jiyeon bahkan dapat merasakan hembusan nafas sang namja yang menerpa wajahnya.

~BRUK~

“KYA!” Teriak sang namja panik.

Jiyeon, yeoja itu pingsan tepat dipangkuan sang namja.

***

Jiyeon, perlahan ia membukakan matanya yang terpejam. Ia berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu yang baginya begitu menyilaukan. Kepalanya terasa pening. Ia mengingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.

“J….Jeon Jungkook!”

Ia langsung terbangun saat menyadari bahwa namja itulah yang terakhir kali bersamanya.

“Wae?” Tanya suara berat itu.

“Neo! Sedang apa kau disini, eoh?” Protes Jiyeon terkejut dengan keberadaan Jungkook disana.

“Ini kamarku!”

“MWO?”

“Kau sudah bangun, chagi?” Suara lembut seorang yeoja paruh baya kembali mengagetkannya.

Jiyeon melebarkan matanya penuh saat melihat sosok yeoja paruh baya yang semakin mendekat kearahnya.

“Yeoja itu?” Gumamnya saat melihat yeoja paruh baya itu terus tersenyum kearahnya. Namun baginya, senyuman itu begitu menyesakkan. Ia kembali mengingat saat ia memergoki sang appa yang tengah bersama yeoja asing dan ingatannya tentu tidaklah salah. Yeoja itu adalah yeoja yang saat ini tepat berada dihadapannya.

“Kau terlalu lelah, chagi! Kau harus mengistirahatkan tubuhmu! Akan eomma buatkan bubur untukmu!” Ucapnya mengelus lembut pipi Jiyeon dan langsung ditepis oleh Jiyeon.

Jiyeon, wajahnya berubah begitu saja membuat sang yeoja paruh baya heran melihatnya.

“Wae?” Tanyanya.

Jiyeon tak menjawab. Ia berkutat dengan pikirannya sendiri.
Berani sekali yeoja asing itu memanggilnya changi!
Siapa dia?
Bahkan Jiyeon tak mengenalnya!

“Eomma, sepertinya Jiyeon nuna masih terlalu terkejut berada ditempat asing ini!”

“Eoh, kau benar Kookie-ah! Geurae, kalau begitu eomma akan membuatkan bubur saja untukmu, vhagi! Jaga nuna mu ini baik-baik!”

Hening, tak ada satupun yang memulai percakapan sejak kepergian sang yeoja paruh baya.

Jiyeon, pikirannya masih terngiang ucapan sang yeoja yang memanggilnya chagi, bahkan ia menyebut dirinya sendiri eomma. Dan lagi, namja yang terus menatapnya sedari tadi itupun memanggil yeoja itu eomma.
Apa mungkin namja ini puteranya?
Dan pikirannya tentang pernikahan yang mungkin terjadi antara dirinya dan sang namja?
Juga appanya yang terlihat mesra bersama yeoja paruh baya itu?
Sebenarnya apa yang terjadi?
Ini semakin membuat Jiyeon prustasi. Ia menghembuskan nafasnya lelah. Ia menunduk lemas.

Jiyeon kembali mengangkat wajahnya saat merasakan tubuh seseorang berada disampingnya. Ia menoleh dan tepat dengan apa yang ada dipikirannya, namja itu naik keatas ranjang dan langsung duduk disampingnya.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Jungkook memandang lurus.

Jiyeonpun mengikuti arah pandang Jungkook. Memandang lurus kedepan tanpa saling menatap lawan bicaranya masing-masing.

“Kuharap ini semua mimpi!” Gumam Jiyeon namun masih dapat didengar oleh Jungkook membuat Jungkook langsung menoleh dan menatap yeoja yang ada disampingnya itu.

“Ani. Ini bukanlah mimpi. Ini semua adalah kenyataan.” Jawab Jungkook. Ia tau yeoja itu pasti begitu shock sejak kedatangannya. Yeoja itu pasti mempunyai segudang pertanyaan yang hendak ia tanyakan.

Jiyeon kembali menghembuskan nafasnya. Ia benar-benar merasa prustasi. Benar-benar seperti terbuang kedunia yang tidak ia ketahui.

Yeoja itu kemudian memberanikan diri menoleh kearah Jungkook. Sepertinya ini sebuah kesalahan.
Kini ia terperangkap dalam mata itu. Meski hatinya ingin berpaling, namun matanya seperti terpenjara dalam tatapan seorang Jeon Jungkook.

Namja itu mulai memiringkan kepalanya dan menekan bibir Jiyeon dengan bibirnya sendiri, memberkan lumatan-lumatan menggairahkan yang membuat Jiyeon merasakan darahnya mengalir deras.

Jungkook melepaskan pagutannya selama beberapa menit. Membiarkan Jiyeon bernafas sejenak.

“Ini nyata bukan, Park Jiyeon?” Bisiknya hingga ia kembali memiringkan wajahnya dan mengecup bibir Jiyeon. Membuat debaran jantung yeoja itu semakin kacau. Jungkook memagutnya dengan semangat.

“KYA! MWOHANEUNGEOYA?”

Mendengar suara teriakan yang sudah tak asing lagi ditelinganya, Jungkook langsung melepaskan bibir Jiyeon dengan malas. Ditatapnya yeoja itu tengah asyik mengerjapkan matanya. Berusaha meyakinkan dirinya, Apakah benar ini nyata?

“KYA! KYA! EOMMA!” Ringis Jungkook saat yeoja yang dipanggil eomma itu menarik paksa telinganya hingga menyeretnya turun dari atas ranjang dan menjauh dari Jiyeon.

“Appo!” Rengeknya saat sang eomma melepaskan telinganya.

“Kau ini nakal sekali! Berani sekali kau menggoda nunamu ini, eoh?”

Jungkook hanya mengerucutkan bibirnya.

“Cepat turun dan rapihkan semua barang-barang yang sudah eomma gunakan untuk membuat bubur barusan!” Perintahnya.

Jungkook hanya menuruti sang eomma dan langsung turun kelantai bawah.

Sang yeoja paruh baya lalu kembali menoleh ke arah Jiyeon. Senyumannya tak pernah hilang ia berikan untuk yeoja yang masih mematung diatas ranjang.

“Chagiya, kau pasti sangat terkejut dengan perlakuan Kookie-ah tadi. Mianhae! Anak itu memang sangat nakal. Hahaa….”

Jiyeon, ia malah merasa aneh mendengar tawa yeoja yang mungkin saja eomma namja yang seenaknya saja menciumnya lagi. Tapi Jiyeonpun tidak bisa mengatakan namja itu kurangajar karena bahkan ia sendiripun tak menolak ciuman itu.

“Nugu?”

“Ne?”

“Dangsineun, nuguseyo?” Tanya Jiyeon datar. Setidaknya ia membutuhkan salah satu jawaban dari segudang pertanyaannya.

“Eoh, naneun eomma Jeon Jungkook. Apakah kami tidak terlihat mirip? Hahaha….”

Jiyeon, yeoja itu merasa kesabarannya hampir habis. Tentu ia tau yeoja paruh baya itu eomma Jungkook, terlihat dengan jelas dari cara Jungkook memanggilnya eomma dan begitu terlihat menghormatinya.

“Eoh, chagiya! Hampir saja eomma melupakannya!” Yeoja paruh baya itu kembali mengambil semangkuk bubur yang tertunda ia berikan pada Jiyeon karena melihat ulah puteranya yang menurutnya nakal, padahal itu jauh dari kata nakal, malah lebih tepat kurangajar.

“Makanlah! Setelah ini, lanjutkanlah beristirahat. Malam ini tidur disini tidak apa-apa, kan? Atau mau tidur dikamar eomma saja, eoh?”

Jiyeon masih terdiam. Ia enggan membuka mulutnya meski yeoja paruh baya itu sudah menyodorkan sesendok bubur kehadapannya.

“Wae? Apa tidak mau makan bubur? Apa ingin eomma masakan yang lain, eoh?”
Yeoja paruh baya itu terlihat tulus. Namun Jiyeon berusaha menutup hatinya. Terlebih yeoja yang ada dihadapannya itu adalah yeoja selingkuhan appanya. Yeoja yang membuat appanya mengkhianati sang eomma.

Yeoja paruh baya itu langsung meletakkan kembali bubur itu diatas meja yang ada disamping ranjang. Ia seolah enggan memudarkan senyumnya untuk Jiyeon. Ia mengelus lembut puncak kepala Jiyeon. Iapun langsung mendekap hangat tubuh Jiyeon. Semakin erat dan Jiyeonpun dapat merasakan bajunya basah pada bagian bahunya.
Yeoja paruh baya itu menangis? Kenapa ia menangis?
Apa ia merasa bersalah karena telah merebut appanya dari sang eomma?
Pertanyaan dalam benak Jiyeon semakin bertambah saja.

***

Tak ada penjelasan dari sang appa. Bahkan sang appa tak kembali ke rumah. Ia mengatakan bahwa ia akan pergi ke Perancis untuk beberapa hari karena pekerjaannya.
Jiyeon yang memutuskan untuk kembali kerumah dari pada tinggal bersama yeoja paruh baya dan puteranya yang sama misteriusnya, kini hanya termangu ditepi jendela kamarnya.
Kenapa saat yeoja paruh baya itu memluknya, ia merasa sangat nyaman?
Seolah ia merindukan dekapan hangat itu.
ANDWAE!
Yeoja asing itu adalah yeoja yang merebut sang appa dari eommanya, ia tidak boleh tertipu dengan senyuman dan perlakuan manis darinya. Itu hanyalah topeng belaka.

Jiyeon semakin prustasi. Ini pertama kali dalam hidupnya ia begitu sulit memecahkan misteri ini. Lebih baik ia mendapatkan bertumpuk-tumpuk tugas sekolah dibandingkan harus mendapatkan masalah yang menurutnya sangat rumit itu. Ditambah dengan namja itu. Namja yang mungkin saja sudah berhasil membuka pintu hati Jiyeon yang lama terkunci.
.
.
.
.
.
“Waegeurae? Akhir-akhir ini keperhatikan wajahmu terus saja murung. Apa terjadi sesuatu yang buruk, eoh?” Tanya Hyuna.

“Eum, Hyuna benar. Ceritakanlah pada kami, Jiyeon-ah!” Tambah Luna.

Jiyeon hanya menghembuskan nafasnya lelah. Akhir-akhir ini ia memang dibuat gila oleh seseorang yang tiba-tiba saja masuk dalam kehidupannya. Seseorang yang baru pertama kali ia temui. Seseorang yang bahkan mungkin telah menempati posisi pertama dalam hatinya. Seseorang yang membuatnya hampir gila dan bahagia disaat yang bersamaan. Seseorang itu adalah namja yang usianya lebih muda darinya 2 tahun. Seseorang yang menjadi hoobaenya disekolah.

“KYA!” Protes Hyuna karena Jiyeon belum menjawab pertanyaannya.

“Annyeong!” Sapa namja yang baru saja duduk tepat dihadapan Jiyeon.

Mata Jiyeon kembali melebar. Namja yang membuat aliran darahnya tiba-tiba melaju cepat saat berada disampingnya.
Namja itu terlihat tersenyum manis kearah Jiyeon. Namun bagi Jiyeon, senyuman itu begitu mengerikan.

“Omo, Kookie-ah! Kau mengganti warna rambutmu?” Tanya Luna saat melihat penampilan baru Jungkook.

“Ne, nuna. Apakah aku terlihat semakin tampan?”

“Eum. Kau terlihat seperti namja dewasa, Kookie-ah!” Tambah Luna.

“Kalau kau bukan hoobaeku, aku akan memintamu untuk menikahiku kookie-ah!” Ucap Hyuna.

Jiyeon yang mendengarnya hanya menelan salivanya gugup. Meski ia belum tau kebenarannya, tetap saja ia merasa jantungnya berdetak abnormal saat mendengar kata pernikahan.

Jungkook memandang Jiyeon yang sudah bersemu merah. Ia tersenyum miring mengetahui bahwa yeoja yang ada dihadapannya saat ini tengah tersipu malu.

Jungkook, ia mulai menempel pada Jiyeon sejak yeoja itu ia ajak kerumahnya tempo hari.
Saat kedua sahabat Jiyeon bertanya, Jungkook hanya menjawab bahwa ia dan Jiyeon adalah saudara sepupu. Jiyeon semakin dibuat pusing dengan pengakuan Jungkook yang menurutnya tidak masuk akal itu.
Sebenarnya yang akan menikah itu ia atau appanya?
Hingga detik ini pertanyaan itu belum dapat ia temukan jawabannya.

“Jiyeon-ah, kau beruntung mempunyai sepupu setampan Kookie-ah!” Ucap Hyuna membuyarkan lamunan Jiyeon.

***

Hari-hari Jiyeon selalu dibayangi oleh sosok Jungkook. Namja itu bahkan menjemputnya sekolah serta mengantarkannya kembali ke rumah setiap harinya. Entah apa yang membuat Jiyeon tidak bisa menolaknya. Jiyeon seolah terhipnotis oleh ketampanan yang dimiliki namja itu. Appanyapun belum memberi kabar apapun padanya.
Kini kehidupan Jiyeon berubah. Kini ia tak lagi bersahabat setiap saat dengan buku-buku yang biasa menemaninya, karena Jungkook selalu membuatnya sibuk hingga ia melupakan kebiasaan dulunya. Namun yeoja itu menikmati semuanya. Menikmati kebersamaannya bersama namja itu. Seperti saat ini, keduanya tengah berada disebuah taman nasional Gyeoryongsan di Daejeon. Mereka berdua duduk disalah satu bangku panjang yang sudah tersedia disana. Tepat dihadapan keduanya mengalir sungai dengan air yang amat sangat jernih. Benar-benar menyejukkan mata.

“Apa aku boleh bertanya?” Tanya Jiyeon memecahkan keheningan.

Jungkook langsung menoleh kearah yeoja itu.
Mungkinkah ini saatnya ia memberitahukan semuanya? Batin Jungkook.

“Eum. Bertanyalah!” Jawab Jungkook lembut. Ia akan bersikap dewasa hanya dihadapan Jiyeon. Berbanding dengan jika ia berhadapan dengan sang eomma atau kedua sahabat Jiyeon.

“Sebelum kau pindah ke Daejeon, kau tinggal dimana?” Tanya Jiyeon yang masih memandang lurus tanpa berniat menatap namja yang ada disampingnya saat ini.

“Seoul.” Jawab Jungkook datar. Ia melihat ekspresi wajah Jiyeon yang berubah saat ia menjawabnya. Yeoja itu terlihat tersenyum miris. Ia mengerti apa yang tengah yeoja itu rasakan saat ini.

“Wae? Kenapa kau pindah kesini?”

Hening.
Jungkook masih belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jiyeon, membuat yeoja itu harus menolehkan wajahnya. Tatapan keduanya akhirnya bertemu.

“Karena kau!” Jawab Jungkook mantap.

Keduanya tak bergeming sedikitpun. Masih enggan melepaskan tatapan keduanya.
Jiyeon, yeoja itu tak berekspresi apapun. Datar. Hanya itu yang ia tunjukkan.

“Aku mau pulang!” Ucap Jiyeon.

Jungkook hanya menuruti kemauan Jiyeon.
Ia tak mau terlalu memaksa yeoja itu.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, baik Jiyeon maupun Jungkook hanya terdiam. Keduanya tengah berkutat dengan pikiran mereka masing-masing.

“Apa perlu ku temani?” Tanya Jungkook saat Jiyeon hendak turun dari atas mobilnya. Keduanya telah sampai didepan rumah Jiyeon.

“Tidak perlu. Pulang dan istirahatlah!”

Jiyeonpun keluar dari dalam mobil dan mulai memasuki rumah besarnya.

Jungkook merasa lega dengan apa yang baru saja diucapkan Jiyeon. Meski Jiyeon belum mengingatnya, namun setidaknya yeoja itu sudah mau menerima kehadirannya meski ia yang selalu harus memaksa yeoja itu.

Jiyeon, ia memasuki rumah besarnya dengan perasaan campur aduk. Jawaban yang Jungkook berikan semakin memperbanyak daftar pertanyaannya.
Apa maksud namja itu pindah ke Daejeon hanya untuk dirinya? Jiyeon semakin dibuat pusing dengan semua pertanyaan itu.

“Appa?” Ucap Jiyeon saat melihat sang appa yang sudah berada didalam kamarnya.

“Jiyeonnie!” Ucap sang appa yang langsung mendekap hangat tubuh puterinya itu.

Jiyeon tak bergeming dan pula tak membalas dekapan sang appa. Ia terlalu lelah dan marah dengan apa yang sudah appanya perbuat dibelakangnya.

“Kau baik-baik saja? Bagaimana kabarmu, eoh? Apa kau sudah makan?”

Jiyeon terdiam tak menjawab. Bolehkah ia bertanya?
Bolehkah ia marah?

“Appa, aku lelah. Bolehkah aku istirahat sekarang?” Tanya Jiyeon lemah.

“Eum, tentu saja. Tidurlah!” Balas sang appa dan langsung mengecup singkat puncak kepala puterinya itu dengan lembut. Iapun keluar dari dalam kamar dan membiarkan Jiyeon beristirahat.

Jiyeon, yeoja itu berjalan memasuki kamar mandi yang ada disebelah kanan ranjangnya. Ia berjalan hingga berhenti tepat disamping cermin besar yang memang sudah tersedia didalam sana. Ia menoleh ke arah cermin tersebut.

“Seoul!” Gumamnya parau.

~BRUK~

Dengan seketika tubuh Jiyeon ambruk begitu saja dengan tak sadarka diri.

~FLASHBACK ON~

Seorang yeoja muda berusia 10 tahun dengan rambut panjang yang ia ikat dikedua sisinya terlihat tengah asyik memandang sosok namja muda berusia 8 tahun.

“Ireumi mwoyeyo?” Tanya sang yeoja.

“Jeon…. Jeon Jungkook.” Jawab sang namja. Wajahnya memerah karena wajah yeoja itu terlalu dekat dengannya.

“Omo, kyeopta!” Gumam yeoja itu.

“EOMMA! LIHATLAH! WAJAHNYA MEMERAH!” Teriak sang yeoja muda.

Yeoja yang dipanggil eomma itu langsung menghampiri keduanya.

“Kau menggodanya eoh, Jiyeon-ah?” Tanya yeoja yang wajahnya hampir sama dengan yeoja muda bernama Jiyeon itu.

“Aniyo. Dia! Dia sangat tampan eomma!” Ucap Jiyeon semakin membuat Jungkook tersipu malu. Wajahnya semakin merona dipuji oleh yeoja yang baru saja ia temui itu.

“Aissh, kau menyukainya chagiya?” Sembur yeoja yang datang menghampiri ketiga orang itu.

“Tae Hee-ah, puterimu mulai menggoda puteraku!” Tambahnya.

“Hahha… Mianhae eonnie. Sepertinya Jiyeon benar-benar menyukai saudara barunya ini!” Jawab yeoja bernama Tae Hee yang tak lain adalah eomma Jiyeon.

“Kahi eomma, kau berselingkuh dariku? Kau mempunyai anak selain aku, eoh?” Tanya Jiyeon seraya mempoutkan bibirnya berpura-pura kesal.

“Hahah….Ani. Eomma tidak menduakanmu, chagi! Dia akan menjadi saudaramu dan menemanimu!” Jawab Kahi.

“Kau menyukainya, Jiyeon-ah?” Tanya namja tinggi berkulit putih yang langsung mencubit pipi chabby Jiyeon.

“Kya! Geumanhae! Kenapa Jaejoong appa malah menggodaku? Akan kuadukan pada appa!”

Semuanya tertawa melihat tingkah konyol Jiyeon.

Jungkook, akhirnya namja itu mendapatkan kehangatan dari keluarga barunya.
Kahi dan Jaejoong, mereka adalah pasangan suami isteri yang tidak dapat mempunyai anak. Karena kecelakaan kecil yang menimpa Kahi saat kehamilan pertamanya membuat rahimnya harus diangkat demi menyelamatkan nyawanya. Akhirnya Kahi tidak dapat mengandung kembali.
Namun kesedihannya berakhir saat adik iparnya yang tak lain adalah Tae Hee melahirkan seorang puteri.

Kim Tae Hee, ia adalah dongsaeng dari nampyeonnya yakni Kim Jae Joong. Kahi dan Jaejoong menganggap Jiyeon seperti puteri mereka sendiri. Bahkan Jiyeon memanggil mereka layaknya orang tua sendiri.

Park Yoochun, appa Jiyeon yang tak lain adalah nampyeon Kim Tae Hee semakin disibukkan dengan pekerjaannya sejak perusahaan yang ia bangun sendiri berkembang pesat dan memiliki berbagai cabang dibeberapa negara besar. Itu membuat waktunya bersama Tae Hee terutama Jiyeon hanya sedikit. Akhirnya karena kesepakatan keduanya, Jaejoong dan Kahi memutuskan untuk mengadopsi seorang anak laki-laki dari sebuah panti asuhan. Akhirnya ide mereka berdua berhasil. Jiyeon tidak kesepian. Ia mempunyai teman, mungkin lebih tepatnya seorang dongsaeng.

“KYA! Kookie-ah! Apa kau pernah berciuman dengan seorang yeoja saat dipanti asuhan?” Tanya Jiyeon.

Jungkook, namja itu begitu pemalu terlebih ditanya pertanyaan seperti itu. Itu membuat pipi Jungkook kembali merona.

“Kya! Kau manis sekai jika seperti itu!” Gumam Jiyeon yang melihat Jungkook semakin merona.

~CUP~

Jungkook melebarkan matanya saat Jiyeon mendaratkan bibir lembutnya tepat dibibirnya.

“Ini ciuman pertama kita. Jangan katakan semua ini pada eomma dan juga appa. Arasseo?” Jiyeon memberikan peringatan pada Jungkook, wajah yeoja itupun memerah sama halnya dengan Jungkook.

“Bersiaplah! Kita akan segera berangkat!” Ucap Kahi.

Kahi, Jaejoong, Tae Hee dan juga Jiyeon serta Jungkook, mereka berlima memutuskan untuk pergi ke Lotte World, sebuah taman hiburan terluas di Korea Selatan yang letaknya berada di Jamsil-dong, Sincheon-dong, Sangpa-gu, Seoul.

Jiyeon, yeoja muda itu terus menautkan jemari tangannya pada jemari tangan Jungkook membuat pipi keduanya merona.

Kahi, Jaejoong dan juga Tae Hee hanya tersenyum senang melihatnya. Mereka hanya berfikir bahwa Jiyeon menganggap Jungkook seperti dongsaeng kandungnya sendiri mengingat usia mereka yang berbeda 2 tahun.

Jungkook dan Jiyeon, mereka berdua menikmati setiap wahana yang ada, salah satunya adalah komedi putar Camelot Carrousel. Selain komedi putar, mereka juga menikmati wahana lainnya seperti Cinderella’s Castle, Alice In Wonderland, Hingga Bioskop 3D.

Kelima orang itu hendak keluar dari dalam Lotte World, namun terjadi ledakan luar biasa yang mengakibatkan tubuh Jaejoong terpental cukup jauh karena jaraknya yang terlalu dekat dengan lokasi bom meledak. Tangan Jiyeon yang semula digenggam Jaejoong terlepas. Pengunjung mulai panik dan berhamburan. Jiyeon masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Tae Hee langsung menarik tangan Jiyeon menjauh, namun beberapa orang bersenjata mulai mengepung mereka. Kahi yang berhasil keluar dari dalam Lotte World bersama Jungkook tidak menyadari bahwa nampyeonnya Jaejoong telah menjadi korban ledakan. Bahkan Jiyeon dan Tae Hee masih berada didalam sana.

Para penjahat bertopeng itu terdiri lebih dari 10 orang. Mereka semua membawa senjata ditangan mereka masing-masing. Semua yang masih terjebak didalam sana begitu ketakutan. Belum reda keterkejutan mereka dengan adanya sebuah ledakan, kini mereka harus dihadapkan dengan para penjahat yang sepertinya memang direncanakan sebelumnya.

Tubuh Jiyeon bergetar ketakutan. Tae Hee yang menyadari itu langsung mendekap tubuh mungil puterinya.

“Gwaenchana! Semuanya akan baik-baik saja! Kita akan selamat, Jiyeon-ah!” Bisik Tae Hee mencoba menenangkan puterinya.

Semua orang menunduk ketakutan.
Jiyeon melihat sosok Jungkook dan Kahi diluar Lotte World. Mereka berdua selamat. Sepertinya tempat ini benar-benar sudah menjadi sarang penjahat. Jiyeon dapat melihat Kahi yang mencoba menerobos para polisi. Kahi terlihat histeris. Kahi sepertinya berusaha untuk masuk kembali kedalam Lotte World.

Jiyeon, tatapannya bertemu dengan Jungkook begitu pula sebaliknya. Jungkook dapat melihat Jiyeon.

“KOOKIE-AH! KOOKIE-AH!” Teriak Jiyeon histeris berusaha meminta pertolongan dari namja kecil itu. Jiyeon lepas dari dekapan sang eomma.

Mendengar suara gaduh, salah seorang penjahat bersenjata itu langsung mendekati Jiyeon dengan geram. Ia membanting kepala Jiyeon hingga terbentur dan terkena kaca.

~BUK~

“Berisik sekali bocah ini!” Ucap sang penjahat.

“KYA! APA YANG KAU LAKUKAN?” Teriak Tae Hee histeris saat melihat puterinya dengan kasar disakiti oleh penjahat itu.

Tae Hee berusaha mendekat kearah Jiyeon.

~DORR~

Jiyeon melebarkan matanya saat tubuh sang eomma merosot tepat dihadapannya. Penjahat itu telah melepaskan pelurunya tepat kearah tubuh Tae Hee.

“Kau sama berisiknya dengan bocah ini!” Gumamnya.

“KALAU KALIAN TIDAK BISA DIAM, NASIB KALIAN SEMUA AKAN SAMA SEPERTI MEREKA. ARASSEO!” Teriaknya.

Jiyeon, pandangannya semakin mengabur. Darah mulai mengalir dari atas kepalanya. Ia pun ambruk tepat dihadapan tubuh sang eomma.

~FLASHBACK OFF~

“Jiyeonnie, ireona chagi!” Ucap Yoochun. Namja paruh baya itu menggenggam erat tangan puterinya.

Setelah tubuh Jiyeon ditemukan oleh pelayan rumah dalam keadaan tak sadarkan diri, Jiyeon langsung dibawa kerumah sakit.

Jiyeon, perlahan matanya mulai terbuka. Ia memandang appanya yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.

“Jiyeonnie, akhirnya kau bangun juga chagi!” Ucap syukur Yoochun, namun alisnya mengernyit saat Jiyeon melepaskan genggaman tangannya.

“Kha!” Ucap Jiyeon parau.

“Jiyeonnie, waegeurae?” Tanya Yoochun tak mengerti.

“KHA! PALLI KHA! KHA!” Teriak Jiyeon histeris. Yeoja itu menangis histeris.
.
.
.
.
.
Apakah Jiyeon sudah mengingat semuanya?
Bagaimana hubungannya dengan Jungkook?
Tunggu next partnya!
Sertakan hujatan dan Pujiannya!
Coment jusaeyo

FF Jungkook Jiyeon (Different) Part 1

image

                     DIFFERENT
                           (Part 1)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Jeon Jungkook (BTS)

Other Cast :
Kim Hyuna ( 4minute )
Luna (Fx)
Jang Hyunseung (Beast)

Songfict :
BTS Danger

Genre :
Romance, School Life, Friendship, Family, NC -17

Length :
Chaptered

A/N : FF ke 16 hadir. Untuk pertama kalinya author
menggunakan cast JiKook couple.
Semoga tidak mengecewakan!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Terlihat seorang pengendara yang tengah mengendarai motor sport dengan dominasi oranye dan slebor putih memasuki halaman Daejeon Gwanjeo High School yang terletak di Seo-gu, Daejeon, Korea.
Hampir semua mata para hagsaeng tertuju pada sang pengendara. Tidak diragukan lagi motor tersebut bukanlah motor yang murah. Hanya orang-orang yang memiliki uang yang banyaklah yang mampu memilikinya.
Tak lama sang pengendarapun menghentikan laju motornya. Ia kemudian membuka helm yang bertengger dikepalanya.

“Omo Omo Omo, kyeopta!”

“Neomu kyeopta!”

“Huaaahhhh….!”

Bisik-bisik para hagsaeng yeoja mulai terdengar. Beberapa diantara mereka bahkan berteriak histeris. Sosok namja berkulit putih bersih, rambut yang sedikit panjang hampir menutupi bagian matanya, serta tubuh yang terlihat tidak terlalu tinggi dan warna rambut yang didominasi warna merah tua, semakin mempertampan penampilannya. Wajahnya benar-benar terlihat manis, namun tatapan matanya menggambarkan bahwa namja itu bukanlah namja yang mudah diajak bergaul.

~DUAK~

“Jeoseonghamnida!” Ucap seorang yeoja berambut pirang sebahu saat ia tak sengaja menabrak tubuh seorang namja.

“Omo, matilah aku!” Ucap sang yeoja saat ia melihat jam tangan yang ada disebelah kiri tangannya.

Sang namja itu terus memperhatikan kepergian sang yeoja.

“Park Jiyeon!” Gumamnya.

***

Hari ini Daejeon Gwaenjeo High School digemparkan oleh seorang hagsaeng namja baru yang amat tampan. Bahkan namja itu langsung populer bahkan dikalangan para sunbaenya.

“Ne, aku sudah melihatnya. Ia benar-benar sangat tampan!” Ucap yeoja bername tag Kim Hyuna.

“Omo, aku jadi benar-benar penasaran!” Jawab yeoja bername tag Luna.

Yeoja disamping Luna hanya terdiam mendengar percakapan 2 orang sahabatnya itu.

“KYA!” Ucap Luna seraya menyentuh lengan kanan sang yeoja.

“Wae?” Tanyanya datar tak mengalihkan pandangannya dari buku yang ada dihadapannya itu.

“Apa kau tidak tertarik sedikitpun, eoh?” Tambahnya.

“Hanya bukulah yang mampu membuat seorang Park Jiyeon tertarik!” Sindir Hyuna pada yeoja yang ternyata bernama Park Jiyeon itu.

Jiyeon, yeoja itu hanya menghembuskan nafasnya berat.

“Kalian tau? Aku hampir saja dihukum Jang songsaenim karena telah lupa mengembalikan buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan. Itu membuatku gila!” Keluh Jiyeon.

“Errrr, kenapa kau suka sekali berurusan dengannya eoh? Jangan bilang kalau kau menyukainya, Park Jiyeon-ssi!” Ejek Hyuna.

“Mwoga? Mana mungkin. Aku hanya dekat dengannya karena ia penjaga perpustakaan dan aku selalu meminjam buku yang kuperlukan padanya. Hanya saja kali ini aku terlalu lama mengembalikannya!” Jawab Jiyeon tertunduk.

“Kau berusaha terlalu keras. Kau menyia-nyiakan masa remajamu hanya karena buku. Jangan takut posisimu tergeserkan karena hanya kaulah hagsaeng terajin disini!” Ucap Luna memberi semangat.

“Pembicaraan ini mulai membosankan! Eoh, nanti malam akan ada pertandingan balap motor dikawasan Hankook Tire. Bagaimana kalau kita menontonnya?” Usul Hyuna.

“Eoh, ide bagus!” Jawab Luna setuju.

“Neo eotteo?” Tanya Hyuna pada Jiyeon.

Jiyeon terlihat tengah mempertimbangkan ajakan Hyuna.

“Ayolah, Jiyeon-ah! Hanya untuk kali ini saja!” Bujuk Luna.

“Eum, geurae! Nan khalke!”

Luna dan Hyuna tersenyum senang mendengar jawaban Jiyeon.
.
.
.
.
.
Jiyeon, Hyuna dan juga Luna, ketiga yeoja itu keluar dari dalam taksi yang mereka tumpangi setibanya si Hankook Tire.
Mata ketiganya melebar saat melihat pemandangan yang ada dihadapan mereka.

“Omo! Daebak!” Gumam Hyuna.

“Neomu daebak!” Tambah Luna.

Sedangkan Jiyeon, yeoja itu merasa sama sekali tidak tertarik. Ia malah menghembuskan nafasnya bosan.

“HYUNA!” Teriak seorang namja pada Hyuna seraya melambaikan tangan kanannya ke arah Hyuna.

“Eoh, OPPA!” Jawab Hyuna.

“Kajja!” Ajak Hyuna pada kedua sahabatnya.

Mereka bertiga berjalan mendekat. Banyak orang-orang yang tengah menanti pertunjukan yang akan segera dimulai itu. Berbagai jenis motor sport berada disana.

“Oppa!” Panggil Hyuna yang sudah berada disamping sang namja.

“Eoh, kau membawa temanmu?” Tanya sang namja yang melihat kedatangan Luna dan juga Jiyeon bersama Hyuna.

“Eum!” Jawab Hyuna.

Jiyeon dan Luna langsung menundukkan kepala mereka memberi salam dan sang namja pun membalasnya.

“Ige, Hyunseung oppa! Dia adalah oppa sepupuku!” Ucap Hyuna memperkenalkan namja bernama Hyunseung itu pada kedua sahabatnya.

“Annyeong!” Sapa Hyunseung ramah.

“Ige, Park Jiyeon!” Tunjuk Hyuna pada sosok Jiyeon.

“Ige, Luna!” Tambahnya memperkenalkan Luna.

“Eoh, pertandingan akan segera dimulai!” Ucap Hyunseung.

Hyunseung, Hyuna, Jiyeon dan juga Luna sudah bersiap disisi kanan arena untuk menonton pertandingan balap motor yang sebenarnya ilegal itu.

Jiyeon, ia langsung menundukkan wajahnya saat sosok namja yang tengah bersiap menyalakan mesin motornya menatap tajam kearah Jiyeon meski dengan helm yang menutupi kepalanya.

“Igo, yang memakai motor orange putih itu adalah rider baru dikawasan ini!” Ucap Hyunseung memberitahukan.

“Eoh!” Jawab Hyuna seraya menganggukkan kepalanya.

Jiyeon yang mendengarkan hanya terdiam.
Kenapa pembalap baru itu menatapnya seperti itu? Batinnya.

Suara sorakan dan deru motor mulai menggema. Ada 3 pembalap didepan sana yang sudah bersiap melajukan motor andalan mereka. Hingga seorang yeoja yang berada ditengah pembalap mulai mengangkat kain putih dan itu tanda pertandingan dimulai. Semua bersorak menyemangati jagoannya masing-masing.

“Eoh, yeoboseyo!” Jawab Luna saat mengangkat panggilan masuk pada androidnya.

“Ne! Ne, arra!” Jawab Luna kesal dan langsung mematikan sambungannya.

“Waegeurae?” Tanya Jiyeon yang melihat ekspresi Luna yang berubah.

“Jiyeon-ah, Hyuna-ah, Hyunseung oppa, aku harus segera pulang. Eomma memintaku menjaga Krystal!” Ucap Luna penuh sesal karena harus meninggalkan arena.

“Wae? Memangnya eommamu mau kemana?” Protes Hyuna.

“Eomma menemani appa menghadiri pesta yang diselenggarakan oleh perusahaan appa!” Jawab Luna dengan nada kesalnya.

“Aissh, kenapa Krystal tidak diajak saja!” Tambah Hyuna.

“Kau ini, mana bisa membawa bayi berusia 1 tahun kesebuah pesta!” Ucap Jiyeon.

Luna hanya menghembuskan nafasnya. Ini nasib keluarganya karena tidak mempunyai seorang pelayan. Jika mereka memperkerjakannya, para pelayan tidak akan bertahan lama disana. Entah apa sebabnya sehingga para pelayan selalu saja tidak pernah betah disana. Mungkin karena sikap aneh appa dan eomma Luna yang selalu bermesraan didepan siapapun tak terkecuali dihadapan Luna. Dan bagi Luna, itu begitu menjijikan, apalagi bagi para pelayan yang setiap hari berada disana.

“Geurigo, aku pulang bersamamu saja ne!” Usul Jiyeon.

“KYA! ANDWAE!” Teriak Hyuna kesal.

“Jiyeon-ah, kau disini saja! Kau bisa pulang bersama Hyuna.” Luna berpendapat.

“Eum. Luna benar!” Tambah Hyunseung.

“Ne. Awas kalau kau sampai meninggalkanku!” Ancam Hyuna.

Jiyeon hanya mempoutkan bibirnya. Sejujurnya ia tak merasa senang berada ditempat ramai seperti ini.

Luna pun pergi dan kini hanya tersisa Jiyeon, Hyuna dan juga Hyunseung disana.

“Oppa!” Bisik Hyuna.

“Eum!”

“Dimana ada toilet?” Tanya Hyuna menahan rasa ingin ke toiletnya.

“Kajja! Akan oppa antar!” Jawab Hyunseung.

“Jiyeon-ah, gidaryeo ne! Aku akan pergi mencari toilet terdekat!” Hyuna memberitahukan.

“Geundae….. ”

“Gwaenchana. Kami tak akan lama!” Potong Hyunseung.

“Geurae!”

Akhirnya tersisa Jiyeon seorang diri di sana. Ia menghembuskan nafasnya bosan. Tempat ini terlalu ramai dan tak ada satu orangpun yang ia kenal.

Tak lama terdengar suara deruan motor. Para penonton mulai bersorak kembali. Dilihatnya motot sport berwarna orange putih ada diurutan paling depan. Hingga finish motor orange putih tetap memimpin. Semua bersorak. Ada yang kecewa karena jagoan mereka harus kalah dan itu berarti mereka kehilangan uang mereka dalam bertaruh. Ada juga yang merasa senang dengan kemenangan si orange putih.

Jiyeon langsung membalikkan tubuhnya berusaha menjauh dari kerumunan. Ia benar-benar berada dititik terjenuh malam ini. Menonton balap liar ternyata begitu membosankan baginya.

Namja pemenang balap liar itupun mulai melepas helm yang menutupi kepalanya. Ia dikerumuni banyak yeoja maupun namja karena kemenangannya. Namun matanya tak berhenti menatap kepergian Jiyeon.

Jiyeon terlihat bingung saat orang-orang mulai berlari melewatinya.

“Waegeurae?” Gumamnya.
Ia merasa ada seseorang yang menarik tangannya.

“Eoh?”

Ia berlari mengikuti langkah orang tersebut.

“KYA! LEPASKAN!” Teriak Jiyeon berusaha melepaskan genggamannya.

“Apa kau ingin masuk penjara, Eoh?”

“MWO?” Jiyeon menolehkan wajahnya. Ia melebarkan matanya saat ada banyak polisi yang berada diarea tempat balap liar terjadi. Ada beberapa orang yang tertangkap dan ada pula yang tengah berusaha melepaskan diri.

Jiyeon mulai mengerti. Balapan ini ilegal dan tentu saja ini melanggar hukum. Ia hanya terus berlari mengikuti langkah orang yang tengah menggenggam erat jemarinya. Dilihatnya punggung orang itu. Berambut pendek. Tentu ia seorang namja.

Jiyeon mulai kelelahan. Dan sang namja menyadari hal itu melihat langkah yang ada dibelakangnya semakin melemah. Ia menengok kebelakang dan sialnya ada 2 orang polisi yang tengah belari kearahnya.

“Saekk!” Gumamnya kesal.

Jiyeon, ia tak sanggup lagi berlari. Nafasnya tersengal. Kakinya terasa berat untuk melangkah kembali dan sang namja menyadari itu semua. Ia langsung membawa Jiyeon kelorong gang sempit. Ia memegang erat bahu Jiyeon. Dilihatnya yeoja itu benar-benar kelelahan. Ia menyadari adanya 2 orang yang datang mendekat melalui sorot lampu. Namja itu memandang Jiyeon. Mengangkat dagu yeoja itu dan yeoja itupun dapat melihat wajah sang namja.
Tampan.
Itu kata pertama yang terlintas dipikirannya saat bertatap muka dengan sang namja.

~CUP~

Jiyeon melebarkan matanya saat sang namja menempelkan bibir lembutnya tepat pada bibir mungilnya.
Ciuman pertamanya.

“Aigoo, apa tidak ada tempat yang lebih baik selain berbuat mesum disini!” Ucap seorang polisi berambut putih yang melihat seorang namja tengah asik mencumbui yeoja nya.

Jiyeon mengerti. Namja itu melakukannya untuk menutupi wajahnya. Geundae, kenapa harus menciumnya? Jiyeon membatin.

“Waegeurae?” Tanya seorang polisi yang mendekat.

“Opps!” Ucapnya langsung menutup mulutnya saat melihat pemandangan yang seharusnya tak ia lihat.

“Kajja!” Ajaknya seraya menarik tangan polisi berambut putih itu.

“Kya!”

“Apa kau ingin terus menontonnya, eoh?”

“Mereka melakukan tindak asusila!” Protes polisi yang sepertinya sudah kepala 6 itu.

“Mereka masih remaja. Apa kau juga tak melakukannya saat remaja, eoh?”

Akhirnya polisi itu terdiam dan ikut pergi meninggalkan kedua remaja yang masih bersentuhan bibir itu.

Jiyeon masih berdiri ditempatnya saat sang namja melepaskan bibirnya. Memang bukan ciuman yang panas, geundae tetap saja itu membuat jantung Jiyeon berdetak abnormal.

“Chog…….” Jiyeon tak dapat melanjutkan ucapannya ketika sang namja kembali menempelkan bibirnya. Mata Jiyeon melebar ketika sang namja menyikutkan lidahnya untuk membuka mulut Jiyeon. Yeoja itu bertahan untuk bibirnya tapi tak berlangsung lama saat sang namja menggigit bibir bawahnya. Mulut Jiyeon terbuka dan sang namja berhasil memasukkan lidahnya.

Jiyeon berusaha menjauhkan badan sang namja, namun tangannya terasa lemas dan hanya meremasi pakaian depan sang namja.

Lidah sang namja mengaduk isi mulutnya, memainkan lidahnya dan menjelajahi langit-langit dalam mulutnya.
Jiyeon tak sanggup menahan nafas lagi. Mulutnya semakin terbuka lebar hingga memberikan ruang lebih bagi sang namja untuk menghabisi mulut Jiyeon.
Meninggalkan saliva yang mengalir disudut bibir Jiyeon.

Yeoja itu berusaha mendorong kuat bahu sang namja ketika ia benar-benar kehabisan nafas.
Sang namja mengalah, menjauhkan bibirnya dari bibir Jiyeon. Meninggalkan benang saliva yang terputus.
Matanya menatap mata Jiyeon yang sayu.

Wajah Jiyeon memerah antara malu, kesal dan juga marah. Tentu saja karena pria asing yang telah mencuri ciuman pertamanya dengan paksa.

“Aku akan mengantarmu pulang!” Ucap sang namja langsung menggenggam erat kembali tangan Jiyeon.

Jiyeon yang masih shock hanya dapat mengikuti langkah namja asing itu.

Sementara itu, Hyuna dan juga Hyunseung begitu khawatir saat mereka sama sekali belum menemukan Jiyeon.

“Aissh, dimana anak itu berada?” Gerutu Hyuna kesal karena ia tak dapat menghubungi Jiyeon.

“Igo?” Tunjuk Hyunseung saat melihat benda menyala yang berbunyi.

“Eoh, itu android Jiyeon!” Jawab Hyuna langsung mengambil android milik Jiyeon itu.

“Apa mungkin terjatuh saat polisi itu datang?” Fikir Hyunseung.

“Ige mwoya, oppa? Apa ia tertangkap oleh polisi-polisi itu? Harusnya tadi kita tak meninggalkannya!” Sesal Hyuna.

“Coba hubungi kediamannya! Mungkin ia sudah berada disana!” Usul Hyunseung.

Sementara itu, tak ada percakapan diantara Jiyeon maupun sang namja. Jiyeon hanya mengikuti langkahnya dari belakang, membuat jarak agar ia bisa berlari jika namja itu kembali menyerangnya.

“Kau lelah?” Tanya sang namja menghentikan langkahnya.

“Eoh?” Jiyeon yang menunduk akhirnya mengangkat wajahnya. Kini langkah keduanya sejajar.

~DEG~

Jiyeon kembali menundukkan wajahnya saat tatapannya bertemu dengan mata sang namja.

“Ani. Aniyo. Gwaenchana!” Jawabnya. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Harusnya ia marah. Harusnya ia berteriak atau setidaknya menghajar namja itu. Namun ketika mata keduanya bertemu, yeoja itu seolah tak berkutik.
Apakah ia menyukainya? ANDWAE.
Mereka baru pertama kali bertemu, bagaimana bisa ia langsung menyukai namja itu. Tapi tak bisa ia pungkiri, namja itu benar-benar tampan.

“Waegeurae?” Tanya sang namja yang melihat Jiyeon terus menggelengkan kepalanya.

“Ani. Aniyo. Kajja! Kita pulang!” Jawabnya gugup dan langsung berjalan mendahului sang namja.

“Kau mau pergi kemana?”

“Ne?”

“Bukankah ini rumahmu!”

Jiyeon, ia menoleh ke samping kanan tepat dimana rumah kokohnya berdiri. Yeoja itu tertawa miris.

“Geurae, nan khalke! Gomawo karena sudah mengantarkanku pulang! Annyeong!” Jawabnya cepat dan langsung melangkahkan kakinya dengan masuk kedalam pekarangan rumahnya. Sedangkan sang namja, ia hanya tersenyum penuh arti melihat kepergian Jiyeon.

***

Keesokan harinya, Jiyeon berangkat sekolah dengan malas. Ini pertama kalinya ia merasa enggan untuk sekolah.
Ada apa dengan yeoja itu? Mungkinkah ia masih terbayang sosok namja asing yang telah mengantarnya pulang semalam? Yang telah mencuri ciuman pertamanya bahkan menciumnya dua kali semalam? Geundae, bagaimana namja itu mengetahui kediamannya?

Jiyeon menghentikan langkahnya tepat dipintu gerbang sekolah.

“Apa jangan-jangan namja itu berniat menculik dan meminta sejumlah uang?” Pikirnya menduga-duga.

“Aww….” Jiyeon meringis saat seseorang memukul bahunya.

“KYA! KEMANA SAJA KAU SEMALAM, EOH? KAU TAU? AKU HAMPIR GILA KARENA TIDAK DAPAT MENEMUKANMU!” Teriak Hyuna kesal.

“Aku takut polisi-polisi itu membawamu saat aku menghubungi kediamanmu dan pelayanmu mengatakan bahwa kau belum kembali kerumah. Hiks…..” Hyuna mulai menangis.

“Kya! Geumanhae! Mianata! Androidku hilang saat berlari dari kejaran polisi. Semalam aku….. ” jiyeon menghentikan ucapannya saat ingatan tentang ciumannya dengan namja yang belum ia ketahui namanya itu terlintas.

“Ige!” Hyuna menyerahkan android milik Jiyeon.

“Mian. Harusnya aku yang mengatakan itu. Mianhae! Aku benar-benar menyesal telah meninggalkanmu!” Tambah Hyuna menundukkan kepalanya merasa bersalah.

“Gwaenchana! Itu sudah berlalu! Dan lihatlah! Aku sekarang baik-baik saja dan tengah bersamamu saat ini!” Jawab Jiyeon berusaha menenangkan sahabatnya itu.

“KYA! Sedang apa kalian berdua masih berdiri disini? Apa sengaja menungguku? Omo, kenapa kau menangis Hyuna-ah?” Sembur Luna yang baru datang.

“Aissh, kau berisik sekali!” Timpal Hyuna yang masih menghapus air matanya.

Jiyeon hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.

“Eoh, bagaimana pertandingan semalam? Motor sport warna apa yang menang?” Tanya Luna penasaran. Luna hanya mengingat 3 motor para rider yang berbeda.

“Kajja! Kita hampir terlambat!” Ajak Jiyeon berusaha mengalihkan pembicaraannya. Ia enggan mengingat kejadian semalam. Lebih tepatnya, ciuman semalam.

Jiyeon, ia melangkah terlebih dahulu. Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat sebuah mobil mewah tak beratap melewatinya. Bukan ia terpesona karena mobil itu, melainkan sosok sang pengendara. Itu adalah sosok namja yang membuatnya gila dan tidak bisa tidur semalaman.

“Igo! Dia hagsaeng baru itu!” Tunjuk Hyuna saat sang namja keluar dari dalam mobilnya.

“Eoh, jeongmalyo?” Tanya Luna.

“Omo, neomu kyeopta!” Tambah Luna.

Hyuna hanya menganggukkan kepalanya menyutujui ucapan Luna.

“Sayang sekali dia hoobae kita!”

Jiyeon yang mendengarnya tak dapat berkata apa-apa dan terus menatap sang namja, meyakinkan bahwa itu benar namja yang mencuri ciumannya semalam.

“Siapa namanya?” Tanya Luna.

“Jeon Jungkook.” Jawab Hyuna.

Luna hanya menganggukkan kepalanya.

Jiyeon, tubuhnya terasa lemah. Akhirnya ia mengetahui siapa sosok pemenang balap liar yang mengantarkannya pulang dan yang telah mengetahui kediamannya sebelum ia memberitahukannya.

Jeon Jungkook. Namja itu ternyata bernama Jeon Jungkook. Dan parahnya ia adalah hoobae Jiyeon si sekolah yang sama dengannya.

~BRUK~

“KYA! JIYEON-AH!” Teriak Hyuna dan juga Luna saat melihat Jiyeon pingsan.

***

Jiyeon, ia membuka perlahan matanya.

“Kau sudah bangun?” Tanya suara datar itu membuat Jiyeon terdiam. Ia hanya mengerjapkan matanya berkali-kali.

“NEO!” Teriaknya yang langsung bangkit saat melihat sosok namja yang semalam menciumnya berada tepat disamping ranjang yang ia tempati.

“Mmpphh….. ” Jiyeon tidak bisa berkutik saat sang namja menutup mulutnya dengan tangan. Tatapan keduanya kembali beradu.

“Ini UKS. Kau dilarang berteriak disini!” Bisik sang namja.

Jiyeon, seketika wajahnya memerah. Jaraknya begitu dekat sehingga hidung keduanya saling bersentuhan. Namja itu seolah enggan berhenti menatap matanya.

“Aissh…” Jiyeon kembali sadar dari pesona namja yang tengah berada tepat dihadapannya itu dan ia langsung menghempaskan tangan sang namja dari mulutnya.
Jiyeon menatap kesal namja yang ternyata adalah hoobaenya itu.

“Neo! Sedang apa kau ditempat ini, eoh? Apa kau membuntutiku? Apa kau seorang penguntit? Apa kau mau menculikku dan meminta sejumlah uang pada keluargaku? Apa jangan-jangan kau seorang pembunuh bayaran?” Tanya Jiyeon beruntun dan berhasil membuat namja itu tertawa.

Jiyeon menautkan kedua alisnya heran.
Apa ada yang salah dari ucapannya?
Ia harus waspada dengan namja ini! Batinnya.

“Kau takut?” Tanya sang namja semakin mempersempit jarak diantara keduanya.

“Kya! A….Apa yang mau kau lakukan?”

Jiyeon kembali berbenturan dengan ranjang. Kini tubuh namja itu tepat berada diatas tubuhnya. Jiyeon bahkan dapat merasakan hembusan nafas sang namja menerpa wajahnya.
Jiyeon kemudian menutup rapat kedua matanya seraya menggigit bibir bawahnya. Cukup. Ia benar-benar ketakutan saat ini.

Sang namja tersenyum miring melihat ekspresi yeoja yang ada dibawah tubuhnya itu.

~CUP~

Jiyeon kembali melebarkan matanya saat sang namja mencium keningnya lembut. Dilihatnya sang namja tengah memejamkan matanya.
Tenang dan nyaman, itulah yang Jiyeon rasakan.

“Istirahatlah! Aku akan membangunkamu jika bel pulang berbunyi! Kau hanya kurang istirahat!” Ucapnya tepat ditelinga Jiyeon membuat yeoja itu bergidik geli.

Jiyeon menelan salivanya mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari hoobaenya.

Saat wajah sang namja menjauh, ia langsung menarik selimut dan menutupi hingga wajahnya. Ia berusaha menutupi wajahnya yang mungkin saja sudah semerah tomat saat ini.

***

Jeon Jungkook, namja itu menggunakan mobil mewah berwarna merah tak beratap miliknya mengantarkan Jiyeon kembali ke rumah. Tak ada percakapan diantara keduanya.

“Kya, Jeon Jungkook! Siapa kau sebenarnya?” Tanya Jiyeon yang akhirnya membuka mulutnya.

“Eoh, akhirnya kau tau namaku juga!”

“Kya! aku ini sunbaemu! Setidaknya usiaku lebih tua darimu! Tentu kau tau harus memanggilku apa!”

“Omo, kau mengetahui semuanya. Bagaimana kalau cha-gi-ya?”

“MWO? KYA! NEO MICHEOSSEO?” Jiyeon mulai kesal. Hoobaenya ini benar-benar membuat kesabarannya habis. Sedangkan Jungkook, namja itu malah tersenyum menang karena telah berhasil membuat yeoja itu kesal.

“Kita sudah sampai! Apa kau ingin kuantar hingga kedalam kamar?” Goda Jungkook.

“NEO!” Teriak Jiyeon menahan agar emosinya tak meledak.

“LUPAKAN!” Jiyeon menghembuskan nafasnya kesal. Ia langsung turun dari atas mobil dengan membanting pintu mobil milik Jungkook dengan kasar.

“Motorku sudah tidak bisa kugunakan karena menyelamatkanmu! Apa sekarang kau juga ingin membuatku kembali tidak bisa menggunakan mobil baru ini?” Jungkook terus saja membuat yeoja itu kesal.

“Aku akan menggantinya dua kali lipat, Jeon Jungkook. Jangan pernah muncul lagi dihadapanku! Neo arasseo?” Ucap Jiyeon menekankan semua kata-katanya. Yeoja itu benar-benar marah sepertinya.

“Eum….” Jungkook terlihat berfikir.

“Eoh, geurae! Aku bisa melakukannya! Geundae, bisakah kau menggagalkan pernikahan ini?” Ucapnya tersenyum miring.

“MWO?”

Jungkook tak menjawab. Senyum miringnya masih setia ia perlihatkan pada Jiyeon.

“Geurae, nan khalke!” Tambahnya seraya menyalakan kembali mesin mobil dan melajukannya, meninggalkan Jiyeon dengan segudang pertanyaan yang ada diotaknya tentang Jeon Jungkook.

***

Jiyeon, yeoja itu terpaku didepan meja rias didalam kamarnya. Ia melihat dirinya sendiri melalui pantulan cermin dihadapannya.
Ia sentuh bibirnya, kemudian beralih kekeningnya. Bagian itu sudah disentuh oleh namja itu.
Jiyeon kemudian mengingat ucapan sang namja.

“Membatalkan pernikahan?”

Apa maksud ucapannya?
Siapa yang ia maksud?
Siapa yang akan menikah? Pertanyaan-pertanyaan itu terus terlintas dipikirannya.
Jiyeon melebarkan matanya akan kemungkinan-kemungkinan buruk dari jawaban atas semua pertanyaannya itu.

Diakah yang namja itu maksud?
Menikah dengannya?
Mungkinkah ini sebuah perjodohan?
Menikah dengan hoobaenya?
Menikah dengan namja yang usianya lebih muda 2 tahun darinya?
Menikah dengan namja yang telah mencuri paksa ciuman pertamanya?
ANDWAEEEEE!!!!!!!!!
.
.
.
.
.
Kritik, saran, hujatan, cacian, makian, pujian, Semuanya author tunggu dari para readers! (hoalah!)
Coment Jusaeyo!

FF Suga Jiyeon (GaYeon Couple)

image

                  DANGER

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Suga ( BTS )

Other Cast :
J-hope ( BTS )
Rap Mon ( BTS )
Jin ( BTS )
V ( BTS )
Jungkook ( BTS )
Jimin ( BTS )
Luna ( Fx )

Songfict :
BTS Jump

Genre :
Romance, NC 20+

Length :
One Shoot

A/N : FF ke 15 hadir. Untuk pertama kalinya author
menggunakan cast GaYeon couple. Pernah author publish di tanggal 24 Agustus 2014 silam.
Semoga tidak mengecewakan!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Namja berambut hitam itu menatap tajam yeoja yang ada dihadapannya saat ini. Sedangkan sang yeoja hanya menundukkan kepalanya takut.

“Kau yang bernama Park Jiyeon?” Tanya sang namja.

“Eum!” Jawab yeoja bernama Park Jiyeon seraya menganggukkan kepalanya.

Namja itu menyentuh dagu Jiyeon membuatnya dapat melihat dengan jelas wajah sang yeoja.

“Yeoppo!” Batinnya.

Sang yeoja yang ketakutan tak berani memandang namja yang belum ia ketahui namanya itu.

“Suga!” Panggil seorang namja tinggi yang baru saja memasuki sebuah ruang perpustakaan dimana keduanya berada.
Namja yang ternyata bernama Suga itu langsung menolehkan wajahnya.

“Songsaenim datang!” Tambah namja tinggi berbisik membuat
Suga langsung kembali menoleh kearah Jiyeon membuat Jiyeon kembali menundukkan kepalanya.

“Kali ini kau selamat, Park Jiyeon-ssi!” Ucapnya berbisik tepat ditelinga Jiyeon.

Namja bernama Suga itupun langsung keluar dari dalam perpustakaan bersama namja tinggi yang belum Jiyeon ketahui namanya itu.

Jiyeon menghembuskan nafasnya lega.
Siapa sebenarnya namja bernama Suga itu?
Apa maksudnya membawa Jiyeon kesana dihari pertamanya menginjakkan kaki di Anyang Art High School yang berlokasi di daerah Anyang, provinsi Gyepnggi-do. Salah satu sekolah seni yang cukup terkenal di Korea Selatan.

“Bagaimana kencanmu hari ini, eoh?” Tanya namja bername tag J-hope pada Suga.

Suga tak menghiraukan namja yang tepat duduk satu meja dengannya itu.

Merasa diacuhkan, J-hope langsung menoleh kebelakang tepat dimana namja bername tag Rap Mon duduk.

“Eotteo?” Tanyanya.

“Molla. Aku tak melihat apapun saat memasuki perpustakaan.” Jawab Rap Mon yang ternyata adalah namja tinggi yang memasuki perpustakaan dan memberitahukan pada Suga mengenai kedatangan Songsaenim.

J-hope terlihat kecewa mendengar jawaban Rap Mon.

“Kya! Apa yang kau lakukan pada anak baru itu, eoh?” Tanya J-hope penasaran.

Suga masih enggan menjawab pertanyaan yang J-hope lontarkan padanya.

Tak lama songsaenim yang akan mengajarpun datang.

Suga, matanya terfokus pada yeoja yang ada disamping sang songsaenim.

Sementara semua hagsaeng namja memandang kagum sang yeoja, Rap Mon dan J-hope malah saling berbisik.

“Igo! Dia yeoja yang bersama Suga tadi pagi!” Bisik Rap Mon membuat J-hope hanya dapat membulatkan mulutnya. Ia kemudian memandang sosok Suga yang ada disampingnya.
Tatapan yang Suga berikan pada yeoja itu benar-benar berbeda, bahkan J-hope yang sudah mengenal Suga sejak lama pun tidak dapat mengartikan arti tatapan itu.
J-hope hanya menautkan kedua alisnya tanpa berniat mempertanyakan hal itu pada Suga.

Jiyeon, yeoja itu memperkenalkan dirinya dengan sangat ramah membuat hampir seluruh hagsaeng baik yeoja maupun namja begitu kagum melihatnya.
Parasnya yang cantik meski tanpa polesan riasan sedikitpun pada wajahnya, kulit yang putih bersih, rambut panjang hitam yang begitu indah, serta tampilan sederhana yang ia kenakan membuat semuanya terhipnotis. Yeoja itu benar-benar amat mempesona.
Tatapannya meredup saat melihat sosok Suga.
Ia yang tadinya begitu terlihat bersemangat berubah menjadi begitu ketakutan. Gadis itu hanya dapat menundukkan wajahnya.

Namja bernama Suga itu, kenapa ia begitu terlihat menyeramkan?
Sepanjang pelajaran berlangsung, Jiyeon selalu dihantui tatapan maut Suga. Membuat yeoja itu merasa risih.

“Neo gwaenchana?” Tanya yeoja bername tag Luna pada Jiyeon.

“Ne. Nan gwaenchanayo.” Jawab Jiyeon bohong.

Luna yang duduk disamping Jiyeon menyadari tatapan yang Suga lemparkan. Luna langsung menoleh ke arah Suga, namun Luna kembali memalingkan wajahnya saat ia melihat tatapan itu. Luna bergidik ngeri melihatnya.
.
.
.
.
.
“Apa kau mengenal Suga sebelumnya?” Tanya Luna pada Jiyeon saat keduanya tengah berjalan pulang.
Jiyeon langsung akrab dengan yeoja itu. Mereka terlihat seperti teman lama yang baru bertemu kembali.
Jiyeon hanya menggelengkan kepalanya.

“Ck, ini aneh. Aku benar-benar melihat tatapan itu. Errr, benar-benar mengerikan.”

Jiyeon hanya menghembuskan nafasnya prustasi.

“Ige eotteokhae?”

Luna ikut menghembuskan nafasnya. Ia sendiri bingung harus menjawab apa.

“Aku tidak bisa mengartikan tatapan itu. Apa ia menyukaimu atau membencimu. Ini sangat sulit.” Jawab Luna nampak prustasi.

“Bagaimana dia bisa menyukaiku, sedangkan ini pertama kalinya kami bertemu? Dan bagaimana bisa dia membenciku? Aku bahkan tidak pernah melakukan kesalahan apapun padanya.” Ucap Jiyeon sedih.

“Mungkin jawabannya adalah yang terakhir. Dia bisa saja membencimu. Ada banyak kemungkinan. Mungkin karena kau cantik, atau karena kau mempunyai kesalahan terhadapnya dimasa lalu.” Pikir Luna.

“Dimasa lalu apanya? Bukankah sudah kubilang ini pertama kalinya kami bertemu.” Jiyeon mulai kesal karenanya.

“Mungkin kau melupakannya. Buktinya, ia langsung menyeretmu ke perpustakaan yang kosong saat kau menginjakkan kaki untuk pertama kalinya disekolah ini.”
Balas Luna yang mengetahui hal itu setelah Jiyeon bercerita padanya.

Jiyeon kembali menundukkan kepalanya sedih.
Kenapa ia harus berurusan dengan orang lain padahal ia baru saja pindah sekolah disana?

Jiyeon dan Luna terlonjak kaget saat mendengar suara klakson mobil yang begitu memekakkan gendang telinga keduanya. Refleks keduanya langsung menutupi kedua telinganya. Mobil itu tepat berhenti disamping keduanya. Mereka berdua langsung menoleh dan mata keduanya melebar saat mendapati sosok Suga bersama J-hope dan juga Rap Mon berada diatas mobil beratap terbuka dengan paduan warna yang unik, yakni abu-abu tua dan oranye.

Jiyeon, yeoja itu menundukkan kepalanya saat ia kembali mendapati tatapan maut yang Suga lemparkan padanya.
Sedangkan Luna, ia langsung bersembunyi dibalik punggung Jiyeon.

“Jiyeon-ah, sepertinya kau dalam bahaya!” Bisik Luna semakin membuat Jiyeon ketakutan.

Yeoja itu hanya dapat menelan salivanya secara perlahan.
Apa lagi yang akan terjadi? Batinnya.

J-hope dan Rap Mon langsung melompat turun dari atas mobil.
Jiyeon dengan refleks langsung memundurkan langkahnya membuat Luna yang ada dibelakangnyapun ikut melakukan hal yang sama.

“Park Jiyeon-ssi!” Panggil J-hope.

Jiyeon masih menundukkan kepalanya tak berniat untuk memandang kedua sosok namja yang tengah berada dihadapannya itu.

“Kajja!” Ucap Rap Mon yang langsung menarik paksa lengan Jiyeon bersama dengan J-hope.

“W….. Waegeurae?” Tanya Jiyeon ketakutan saat ia dipaksa masuk kedalam mobil dan duduk tepat disamping Suga yang sudah siap melajukan mobil sportnya itu.

Suga langsung menatap Jiyeon tajam. Sedangkan yeoja itu tak sanggup melakukan apapun sama seperti Luna yang hanya dapat membiarkan Jiyeon dibawa oleh ketiga namja itu.

“Kya! Apa yang akan kita lakukan padanya, eoh?” Tanya J-hope saat Suga sudah melajukan mobilnya.
Namun dengan tiba-tiba Suga langsung menghentikan mobilnya.

“KYA!” Protes J-hope.

“Turun!” Perintah Suga.

“MWO?” Tanya Rap Mon terkejut.

“Kalian berdua, turunlah!” Ulang Suga.

Jiyeon ikut bingung.
Apa yang sebenarnya namja ini inginkan darinya?

“Aissh, ada apa dengan namja itu?” Tanya J-hope kesal setelah ia dan Rap Mon dengan terpaksa mengikuti kemauan Suga untuk turun dari atas mobilnya.

“Apa mungkin dia menyukai gadis itu?” Tanya Rap Mon yang ikut penasaran.

“Molla. Sejauh ini dia tidak pernah menceritakan seorang yeoja apalagi berurusan dengan yeoja. Ini pertama kalinya aku melihat dia seperti ini.” Jawab J-hope.

“Lalu, bagaimana caranya kita pulang?” Tanya Rap Mon.

“Errr, kau hubungi supirmu! Suruh dia menjemput kita disini!” Jawab J-hope kesal.

“Bagaimana caranya aku menghubunginya, sedangkan tas dan seluruh barang-barangku ada didalam mobil Suga?”

“Aissh, KYA!” Teriak J-hope semakin kesal.

“Ige mwoya? Apa kau tidak membawa handphomemu, eoh?”

“SEMUANYA ADA DIDALAM MOBIL SI TEPUNG TERIGU ITU!” Teriak J-hope, kekesalannya memuncak.

“Aissh, sial sekali hari ini!”

Sementara itu, tidak ada percakapan diantara Jiyeon maupun Suga. Keduanya hanya terdiam. Sesekali Jiyeon menoleh kearah Suga yang tengah melajukan mobilnya.

Jiyeon, yeoja itu melebarkan matanya saat mobil yang Suga lajukan memasuki sebuah pekarangan rumah yang begitu luas. Mereka melewati sebuah pagar besi tinggi. Para penjaga terlihat disegala penjuru, membuat Jiyeon bertanya-tanya, Dimana ia saat ini?

Matanya dimanjakan oleh air mancur yang cukup besar dan sangat indah. Tepat didepan sana, berdiri kokoh rumah yang begitu besar dan terlihat sangat mewah meskipun belum memasukinya.

Mobil yang Suga kendarai tepat berhenti didepan pintu utama yang memang tidak pernah ditutup namun dijaga oleh 2 orang yeoja yang mengenakan seragam khas pelayan. Mereka menyambut kedatangan Suga dengan sangat ramah. Mereka terlihat begitu menghormati Suga.

Seorang namja muda bertubuh tinggi kurus berkulit putih langsung menghampiri Suga yang baru saja turun dari atas mobilnya.

“Tuan muda sudah pulang!” Ucapnya seraya berjalan disamping Suga.

Suga terlihat mengacuhkannya. Sepertinya sudah biasa bagi sang namja muda diabaikan oleh Suga.

Jiyeon menunduk saat namja muda itu menatapnya penuh tanya. Jiyeon mengangkat kembali kepalanya saat sosok namja yang ternyata Suga menarik tangannya untuk keluar dari dalam mobil yang sudah terbuka pintunya. Jiyeon hanya dapat mengikuti langkah namja itu.

“Bereskan mobil itu, Jin!” Perintah Suga saat melewati namja muda yang ternyata bernama Jin itu.

“Ne, algesseo!” Jawab namja bernama Jin.

Mata Jiyeon kembali dimanjakan oleh isi yang ada didalam rumah itu. Hampir semuanya terbuat dari krystal. Ternyata didalamnya masih banyak para pelayan disana. Mereka selalu menundukkan kepalanya setiap Suga melewatinya.

Suga menarik Jiyeon menaiki tangga rumahnya. Rumah ini benar-benar terlihat seperti istana. Suga kemudian membuka sebuah pintu ruangan. Sepertinya kamar Suga.
Bahkan pintu itu harus dibuka menggunakan password, seperti didalam hotel saja. Jiyeon membatin.

Jiyeonpun kembali terpesona melihat kamar yang baru saja ia masuki itu. Suga melepaskan tangannya saat pintu tertutup. Namja itu berjalan menuju sebuah ruangan dan membiarkan Jiyeon tetap berdiri ditempat yang sama.

Jiyeon masih terpesona oleh isi didalam kamar itu. LCD layar lebar yang besar, ranjang super king size, lemari panjang yang besar, sofa yang terlihat begitu mewah, bahkan lantainya saja terbuat dari batu marmer. Ruangan ini benar-benar amatlah luas.

Tak lama Jiyeon pun mendengar suara gemericik air. Sepertinya ruangan yang baru saja dimasuki Suga adalah kamar mandi. Mungkin namja itu tengah membersihkan dirinya.

Jiyeonpun duduk disofa yang terdapat LCD layar lebar yang besar dihadapannya.
Apa yang ada difikirannya? Kenapa ia menurut saja pada Suga?
Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya?

Tak lama pintu kamar mandipun terbuka. Refleks Jiyeon langsung berdiri dan ia langsung menolehkan kembali wajahnya saat mendapati Suga yang hanya menggunakan sehelai handuk pada pinggangnya.

Suga melangkah menuju lemari besar yang panjang. Sepertinya namja itu hendak mengambil pakaian untuk ia kenakan.
Jiyeon masih berdiri memalingkan wajahnya. Ia mendengar derap langkah kaki yang melangkah mendekat kearahnya.
Matanya melebar saat sebuah tangan tepat melingkar diperutnya.

“Kau sudah menunggu lama?” Bisik Suga tepat ditelinga Jiyeon.

Apa maksud perkataan namja ini?
Refleks Jiyeon langsung membalikkan wajahnya.
Tampan.
Namja ini benar-benar amatlah tampan.
Jiyeon berusaha bangun dari pesona namja tampan itu. Ia berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Suga. Suga seolah enggan melepaskannya.

“Kya!”

“Wae?”

“Apa sebenarnya maumu, eoh?” Tanya Jiyeon yang mulai kesal karena Suga tidak mau melepaskan tubuhnya.

“Menurutmu?” Tanya Suga seraya tersenyum miring.

~CUP~

Jantung Jiyeon seolah berhenti berdetak saat bibir lembut Suga mendarat tepat dibibirnya. Jiyeon begitu terkejut hingga matanya melebar dengan maksimal dan tubuhnya terasa lemas seketika. Seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya hingga ia tak mampu berkutik saat bibir lembut Suga mulai melumat bibirnya dalam.

Jiyeon masih terkejut dengan ekspresi bodoh diwajahnya saat Suga melepaskan ciuman manis itu dan kini menatapnya dengan sebuah senyuman menawan.

“Bagaimana rasanya? Ciuman pertamamu?” Tanya Suga.

Jiyeon, bagaimana namja itu tau kalau ini adalah ciuman pertamanya?
Ia hanya dapat bertanya didalam hatinya. Yeoja itu masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja Suga lakukan padanya.
Suga, ia hanya dapat menatapnya intens.

“M….Mwohaneungeoya?” Tanya Jiyeon menahan tangan Suga yang hampir membuka seluruh pengait pada seragam sekolahnya.

Suga langsung mendorong tubuh Jiyeon hingga terjatuh diatas ranjang.

Detik berikutnya, Jiyeon merasakan Suga mulai menggigit dan menyesap liar dada Jiyeon.

“Andwae!” Pekik Jiyeon histeris.
Ia mendorong kuat bahu Suga agar terlepas dari tubuhnya.

Berhasil.
Kali ini Jiyeon dapat bernafas lega karena tubuh Suga yang semula menindihnya kini sedikit menjauh darinya.
Tapi, itu tidak berlangsung lama. Jiyeon terlonjak saat tiba-tiba Suga kembali berada diatas tubuhnya. Jiyeon tak kuasa menahan debaran jantungnya yang kian cepat. Sekujur tubuhnya bergetar, dihinggapi rasa takut.

“Le….Lepaskan aku! Jebal!” Lirih Jiyeon.

Suga memiringkan sedikit kepalanya.

“Wae?” Tanyanya setengah berbisik.

Suga kemudian mengecup lembut sudut bibir Jiyeon kemudian melepaskannya perlahan.

“Apa aku membuatmu takut, eoh?”

Jiyeon menatap wajah yang ada dihadapannya itu. Baru saja ia akan mengatakan sesuatu, bibirnya telah lebih dulu terbungkam oleh bibir Suga. Jiyeon berontak. Mulutnya yang terbuka karena terkejut atas perlakuan Suga yang tiba-tiba, memudahkan namja itu untuk menikmati segala yang ada didalam mulut mungil itu.

Keduanya bergumul dalam ciuman yang semakin memanas.
Jiyeon segera mengerang saat tangan Suga membelai kulit punggungnya, membuat dirinya semakin prustasi atas rasa nyaman yang bergejolak dalam tubuhnya. Cumbuan itu semakin lama semakin dalam.

“Ummhh….” Jiyeon memejamkan matanya rapat-rapat. Nafasnya mulai tidak beraturan. Kedua tangannya mencoba mendorong wajah tampan yang tengah memagut dagunya itu menjauh sedikit, tapi tidak ada hasilnya sama sekali. Nafas keduanya memburu saat ciuman mereka telah usai.
Kesempatan ini tidak disia-siakan begitu saja oleh Jiyeon. Ia mendorong dada Suga yang menindih tubuhnya dan mencoba bangun dari posisinya.

Baru saja ia akan turun dari atas ranjang, Suga langsung memeluknya dari belakang mencegahnya pergi.

“Kau mau kemana?” Tanya Suga.
Tangan besarnya melakukan gerakan memijat dada sebelah kanan Jiyeon.

Jiyeon melenguh dah menundukkan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya. Kembali tubuh mungil itu direbahkan oleh Suga keranjang.
Jiyeon menatap Suga dengan sayu.

“Geumanhae! Hiks…” Ucap Jiyeon terisak. Yeoja itu sukses mengeluarkan air matanya membuat Suga merasa bersalah.

Suga bangkit dari atas tubuh Jiyeon. Ia terduduk berusaha meredakan nafsunya.
Jiyeon langsung bangkit dan merapihkan seragamnya. Air matanya seolah enggan untuk berhenti mengalir.
Suga bangkit dan langsung mengambil jaketnya.

“Aku akan mengantarmu pulang!” Ucapnya.

Mendengar itu, Jiyeon sedikit lega.
Saat Jiyeon dan Suga hendak keluar dari dalam rumah, mereka berdua bertemu dengan dua namja tampan.

“Hyung, neo eodiga?” Tanya sang namja berambut pirang.

“Nuna!” Panggil namja berambut hitam.

“Kookie-ah!” Jawab Jiyeon saat melihat sosok namja yang begitu amat ia kenal itu.

“Eoh, igo Jiyeon nuna?” Tanya namja berambut pirang pada namja yang dipanggil Kookie oleh Jiyeon.

“Eum. Dia nunaku, V-ah!” Jawab namja berambut hitam pada namja yang diketahui bernama V itu.

“Hyung, bagaimana kau bisa mengenal nuna Jungkook?” Tanya V pada Suga yang ternyata adalah hyungnya itu.

Suga langsung mencengkram pundak Jiyeon membuat yeoja itu mengerang kesakitan.

“Hyung!” Protes V.

“Nuna?” Ucap Jungkook khawatir.

“Wae? Apa hanya kalian berdua yang dapat berkencan, eoh?” Tanya Suga sinis.

“Hyung, kau menyakiti nuna!” Tambah V saat melihat cengkraman tangam Suga makin mengeras pada pundak Jiyeon.

“Nuna!” Ucap Jungkook merasa bersalah.

Jiyeon tidak bisa berkutik seperti biasanya.

“Eoh, jadi kau dongsaengnya Jiyeon? Kebetulan sekali! Kau berkencan dengan dongsaengku, dan aku berkencan dengan nunamu!”

“HYUNG!” Bentak V.

“Lanjutkan saja, V! Suga hyung juga akan melanjutkan ini!” Ancam Suga seraya menyeret Jiyeon keluar.

Jiyeon, ia masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Siapa dongsaeng yang Suga maksud?
Apa mungkin V?
Apa itu berarti V dan Jungkook? Mereka?
Jiyeon langsung menoleh kearah Suga yang tengah melajukan mobilnya untuk mengantarkan Jiyeon pulang.

“Jangan bertanya padaku! Tanyakan semuanya pada dongsaengmu itu!” Ucap Suga yang sepertinya mengerti bahwa Jiyeon pasti akan menanyakan hal itu.
.
.
.
.
.
Jiyeon, ia memasuki rumah yang sudah lama tidak ia kunjungi. Sejak kedua orangtuanya bercerai, ia ikut bersama dengan sang appa untuk tinggal di Jepang. Sedangkan Jungkook sang dongsaeng tetap tinggal di Korea bersama eommanya. Beberapa bulan lalu eomma mereka meninggal dan Jiyeon kembali ke Korea berniat untuk mengajak Jungkook ikut bersamanya tinggal di Jepang. Namun setibanya di Korea ia tak mendapati Jungkook sehingga ia memutuskan untuk tinggal di Korea untuk sementara dan sekolah disana hingga Jungkook kembali.

Jiyeon memasuki kamar Jungkook. Sejak awal ia melangkahkan kakinya kedalam, ia banyak menemukan foto Jungkook bersama dengan V. Benarkah firasatnya?
Apa mungkin Jungkook dan V?
Jiyeon berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruknya. Lebih baik ia menanyakannya langsung pada Jungkook.

Jiyeon mendengar suara pintu yang dibuka dan muncullah sosok Jungkook dibalik pintu.
Jiyeon tersenyum melihat kedatangan dongsaeng yang sudah lama tidak ia temui itu. Matanya melebar saat menemukan sosok V yang ikut datang bersama Jungkook.

“Neo?”

“Nuna!” Lirih Jungkook.

“Mianhae!” Tambahnya.

“Aniyo. Ini semua salahku. Salahku karena tidak bisa menahan perasaan ini. Aku menyukai dongsaengmu, nuna. Benar-benar menyukainya.” Ucap V menjelaskan.

Jiyeon, terlihat raut kecewa diwajahnya. Ternyata benar firasatnya.
Namun mau bagaimana lagi? Kedua namja ini saling mencintai. Ini tentang perasaan. Dan perasaan bukanlah barang yang bisa ditawar begitu saja.
.
.
.
.
.
“Park Ji-yeon?” Panggil seorang namja bertubuh cukup tinggi mengeja name tag Jiyeon.

“Eoh, ne?”

“Saya kepala pelayan dikediaman keluarga tuan muda Suga.”

Jiyeon baru mengingatnya. Ia langsung menunduk memberikan hormat.

“Apakah Jiyeon-ssi melihat tuan muda Suga?” Tanya Jin kepala rumah tangga dikediaman Suga.

“Mianhae! Hari ini saya tidak sempat mengikuti pelajaran. Saya baru saja selesai mengurus kepindahan saya.”

“Kepindahan? Apa maksudnya Jiyeon-ssi akan pindah sekolah?”

Jiyeon hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jin.

“Mianhae! Tak seharusnya saya menanyakan hal itu!”

“Gwaenchana!”

“Jiyeon-ssi, Gomawo!”

“Ne?” Tanya Jiyeon tak mengerti.

“Gomawo karena sudah bersama dengan tuan muda Suga. Untuk pertama kalinya tuan muda mengajak seorang yeoja datang kerumah sampai memasuki kamarnya. Jiyeon-ssi adalah yeoja pertama. Sejak eomma tuan muda Suga kabur dari rumah dan memilih bersama dengan namja yang ia cintai, tuan muda menjadi sosok namja yang sulit bergaul dengan yeoja.” Tambah Jin.

Jiyeon hanya terdiam. Ia mengingat dengan jelas kejadian yang hampir menghilangkan hal paling berharga dalam hidupnya saat berada didalam kamar Suga.

“Mianhae! Seharusnya saya tidak mengatakan itu semua! Tuan muda Suga sudah saya anggap seperti dongsaeng saya sendiri meskipun kadang tingkahnya begitu amat menjengkelkan. Hahaha….”

Jiyeon hanya tersenyum menanggapinya.

“Geurae, saya permisi dulu! Khalke!” Pamit Jiyeon kembali menunduk dan dibalas oleh Jin.

“Aissh, harusnya kau bisa menjaga ucapanmu Jin!” Gumamnya kesal karena telah menceritakan kehidupan keluarga Suga pada Jiyeon. Matilah ia jika Suga sampai mengetahuinya.

Sementara itu, Suga menatap kursi kosong disamping Luna. Jiyeon, yeoja itu tak berada disana. Tentu yeoja itu amatlah terkejut atas kejadian tempo hari.

“Eoh, apa terjadi sesuatu dengan yeoja itu?” Tanya J-hope yang ikut memandang kursi kosong milik Jiyeon.

Suga lagi-lagi mengacuhkannya.
Rap Mon langsung menepuk pundak J-hope berusaha meredam kekesalan J-hope yang selalu diabaikan oleh Suga.

“Tuan muda!” Panggil Jin saat melihat Suga keluar dari dalam sekolah. Ia tengah menunggu anak majikannya itu tepat dihalaman sekolah.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Suga heran.

“Eoh, sajangnim datang. Beliau ingin menemui tuan muda. Beliau meminta saya untuk menjemput anda, tuan!” Jawab Jin.

“Eoh, appamu pulang Suga?” Tanya Rap Mon yang datang bersama J-hope.

Suga hanya menghembuskan nafasnya.

“Apa dia sudah tau mengenai V?” Tanya Suga pada Jin.

“Molla. Sajangnim hanya mengatakan ingin segera menemui anda, tuan!”

“V? Ada apa dengannya?” Tanya J-hope penasaran.

“Aku akan membawa mobil sendiri.” Jawab Suga pada Jin.

“Dia lagi-lagi mengabaikan kita!” Bisik J-hope kesal.

“Ne, algesseo. Eoh, tuan muda! Baru saja saya bertemu dengan Park Jiyeon agasshi.” Tambah Jin.

“Park Jiyeon? Dia datang kesekolah?” Tanya Rap Mon.

“Dia mengatakan tidak bisa mengikuti pelajaran karena tengah mengurus kepindahannya. Apa tuan muda tau hal ini?”

“KEPINDAHAN?” Teriak J-hope dan Rap Mon bersamaan.

Suga, ia langsung bergegas menuju mobilnya.

“TUAN MUDA!” Teriak Jin memanggil Suga yang sudah melajukan mobilnya dengan cepat.

“Kya! Jin Hyung! Waegeuraeseo? Pasti terjadi sesuatu diantara
Suga dan Jiyeon!” Tanya Rap Mon.

“Ne?”

“Kau mengenal Park Jiyeon? Apa Suga membawanya ke rumah?” Selidik J-hope.

Jin hanya menelan salivanya mendapat beruntun pertanyaan dari dua sahabat anak majikannya itu.

Suga, pepanjang perjalanan yang ada dipikirannya hanyalah Park Jiyeon. Meski awalnya ia hanya berniat menakuti nuna Jungkook untuk membuat Jungkook menjauh dari V, namun sepertinya ia telah terpesona akan sosok Jiyeon. Bahkan ia lupa dengan tujuan utamanya menyakiti Jungkook melalui Jiyeon. Ia malah menikmati setiap aksi yang ia lakukan pada yeoja itu. Ia benar-benar telah menyakiti yeoja itu.

Sega langsung keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk kedalam pekarangan rumah yang ada dihadapannya saat ini. Ia mengetuk pintu rumah itu berkali-kali namun hasilnya nihil. Tak ada siapapun didalam sana. Apakah Jiyeon kembali ke Jepang?

Saat ia mendengar langsung pengakuan V, ia langsung mencari tau mengenai keluarga Jungkook. Dan ia mendengar bahwa nuna Jungkook yang tinggal bersama appanya di Jepang setelah kedua orang tua mereka bercerai, berniat datang ke Korea beberapa bulan setelah eomma mereka meninggal.

“Park Jiyeon!” Gumamnya penuh penyesalan. Sepertinya ia benar-benar menyukai yeoja itu.
Tak lama android putih miliknya berdering.

“Wae?” Tanyanya pada sosok yang tengah menghubunginya itu.

“Hyung, kami berangkat dulu!” Jawab sosok diseberang sana yang ternyata adalah V dongsaeng Suga.

“Apa Jiyeon bersama kalian?” Tanya Suga.

“Eum. Jiyeon nuna akan ikut bersama kami ke Italia sebagai saksi pernikahan kami disana. Setelah itu nuna akan kembali ke Jepang.” Jawab V.

“Berikan alamat Jiyeon di Jepang!” Perintah Suga.

“Eoh, ne! Aku akan mengirimkannya, hyung! Mianhae karena aku telah menjadi dongsaeng yang buruk bagimu, hyung! Mianhae karena telah mengecewakanmu! Sampaikan salamku untuk appa! Nan khalke!” Ucap V lalu menutup sambungan telephonnya.

Suga menghembuskan nafasnya pasrah. Kini ia akan melepaskan V untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Namun ia tak akan pernah melepaskan yeoja itu. Yeoja yang sudah berhasil menggetarkan hatinya. Yeoja yang sudah membuatnya kehilangan akal.
.
.
.
.
.
5 tahun sudah berlalu semenjak kepergian yeoja itu.

“Aku akan menjemputmu!” Gumam seorang namja berkacamata hitam yang baru saja tiba di Kansai Internasional Airport yang terletak dipinggiran kota Itami dan Toyonaka, Jepang.

Sebuah kapal pesiar sudah menunggunya tepat didepan bandara karena bandara tersebut merupakan bandara pertama di Jepang yang dibangun ditengah laut.
.
.
.
.
.
Seorang yeoja berambut panjang tengah berjalan disekitar jalan kota Osaka tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah mobil Silver yang berhenti tepat dihadapannya. Seorang namja muda keluar dari dalam mobil dengan menggunakan setelan jas berwarna hitam rapih.

“Anata wa Jiyeon san desuka?”
“Apakah anda nona Jiyeon?” Tanya sang namja pada yeoja ang ternyata Park Jiyeon itu.

“Hai. Sou desu.”
“Ya. Betul.”
Jawab Jiyeon sedikit ketakutan.

Sang namja langsung mendekat membuat Jiyeon memundurkan langkahnya.

“KIAI!” Teriak Jiyeon saat namja itu berhasil menyeretnya masuk kedalam mobil.
Jiyeon melebarkan matanya saat ia menemukan sosok namja yang hampir 5 tahun ini begitu ia rindukan.

“Suga!” Gumamnya saat sang namja yang ternyata Suga membuka kacamata hitamnya.
Namja itu memberikan senyum khasnya pada Jiyeon.

“O genki desu ka?”
“Apa kabar?”
Tanya Suga menggunakan bahasa Jepang dan berhasil membuat Jiyeon terkekeh mendengarnya.

“Hai, okagesamade genki desu. Anata wa O genki desu ka?” Tanya Jiyeon balik.

Suga, ia hanya menelan ludah saat dilempari pertanyaan yang belum ia mengerti artinya.

Melihat Suga yang terlihat tidak bisa menjawab, Jiyeon langsung tertawa membuat Suga kesal.

“KYA!” Teriak Suga kesal.

Sedangkan Jiyeon seolah enggan untuk menghentikan tawanya.
Untuk menghilangkan rasa malunya, Suga langsung membuka kaca mobil dan disana masih berdiri setia namja yang baru saja menyeret Jiyeon kedalam mobil.

“Jimin san, arigatou. Mata ne!” Ucap Suga berterimakasih pada namja yang diketahui bernama Jimin itu seraya berpamitan dengannya.

“Hai. Itterasshai!”
“Ya. Hati-hati dijalan!”
Jawab Jimin.

Suga mulai melajukan kembali mobil yang ia bawa dan meninggalkan Jimin seorang diri.

“KYA! GEUMANHAE!” Teriak Suga kesal karena Jiyeon belum juga berhenti menertawainya.

Jiyeon dengan perlahan mulai menghentikan tawanya. Ia memandang lekat sosok namja yang ada disampingnya seraya tersenyum.

“Kakkoi!” Gumam Jiyeon menggunakan bahasa Jepang membuat Suga langsung menoleh kearahnya.

“Apa kau baru menyadari bahwa aku ini tampan, eoh?”

Jiyeon langsung menundukkan wajahnya malu. Ternyata Suga mengerti dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

“Wae? Kau fikir aku tidak mengerti dengan yang kau ucapkan, eoh? Aku berlatih bahasa Jepang selama berbulan-bulan meski masih belum memahami semuanya.”

Jiyeon tersenyum senang mendengarnya. Yeoja itu masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah. Hanya saja, ia terlihat semakin cantik dan dewasa.
Suga tersenyum jahil melihat ekspresi menggemaskan Jiyeon.

“Kau merindukanku?” Tanya Suga.

Jiyeon langsung mengangkat kembali wajahnya.

“Ne?”

Suga tersenyum miring melihatnya. Tentu namja itu sudah tau pasti jawaban Jiyeon.
Suga langsung memarkirkan mobilnya disisi jalan.

“Waegeurae?” Tanya Jiyeon heran karena tiba-tiba Suga menghentikan mobilnya.

Jiyeon membulatkan matanya saat Suga mendekat dan langsung melumat bibirnya. Tak ada respon dari Jiyeon. Suga langsung menggigit bibir bawah Jiyeon membuat yeoja itu membukakan mulutnya. Suga menyeringai. Dengan sigap lidah Suga menerobos masuk kedalam rongga mulut Jiyeon.

Jiyeon tampak terengah karena ciuman panas itu, begitu pula dengan Suga.

“Kau masih mengingatnya?”

“Mwo?”

“Kejadian 5 tahun lalu didalam kamarku!”

Jiyeon terdiam. Tentu saja ia mengingatnya.

“Bagaimana kalau kita benar-benar melakukannya?”

Jiyeon masih terdiam.
Apa yang sebenarnya ada didalam otak namja ini? Batinnya.

Tak lama Suga tertawa. Namja itu tertawa dengan puasnya membuat Jiyeon kesal.

“Lihat wajahmu! Itu benar-benar lucu!” Tawanya pecah.

Jiyeon mempoutkan bibirnya kesal. Namja ini benar-benar pendendam! Ia ingin membalasnya yang sebelumnya telah menertawainya.

Melihat ekspresi Jiyeon yang berubah, Suga langsung menghentikan tawanya. Ia masih setia memberikan senyum manisnya untuk yeoja yang ada disampingnya saat ini.

“Park Jiyeon!” Ucapnya lembut seraya menyentuh kedua pipi Jiyeon membuat yeoja itu merasa tenang namun tidak menutupi rasa bahagianya karena dapat bertemu kembali dengan namja yang hingga detik ini tetap dapat menggetarkan hatinya itu.

“Saranghae!” Ucap Suga dan langsung mengecup lembut bibir Jiyeon.

Jiyeon, Yeoja itu hanya dapat memejamkan matanya saat tangan Suga mendekap pinggangnya untuk mempermudah aksinya.
Jiyeon tak melawan dan tak membalasnya. Yeoja itu hanya dapat menikmati perlakuan manis Suga padanya.

Suga, namja itu membawa Jiyeon kesebuah kota bernama Umeda dibagian Osaka utara, Jepang. Ia membawa yeoja itu tepat kesebuah taman terkenal bernama Midosuji yang dikenal dengan pemandangan daun-daun pohon Ginkgo yang menguning dimusim gugur.

“Apa ini pertama kalinya kau datang ketempat ini, eoh?” Tanya Suga saat melihat Jiyeon yang begitu takjub melihat pemandangan disekelilingnya.

“Eum!” Jawab Jiyeon seraya menganggukkan kepalanya.

“Ck, apa hanya Osaka yang kau ketahui tentang Jepang?” Ejek Suga dan berhasil membuat Jiyeon kembali mempoutkan bibirnya kesal.

Jiyeon, ia terlihat heran saat melihat jalanan yang ia lewati dipenuhi dengan orang-orang berpakaian rapih.

“Apa ada festival?” Gumam Jiyeon.

Suga yang mendengarnya hanya tersenyum jahil.
Semua orang-orang yang mereka lewati tersenyum kearah keduanya membuat Jiyeon yang masih berada didalam mobil semakin dibuat heran.

“Kajja!” Ajak Suga yang sudah menghentikan mobilnya.

“Ne?”

“Apa kau mau tetap berada didalam sini, eoh?”

Jiyeon akhirnya menuruti keinginan Suga dan keluar dari dalam mobil.

Suga mendekat kearah Jiyeon saat keduanya sudah berada diluar mobil.

Suga, ia mempersilahkan tangannya untuk dirangkul oleh Jiyeon. Jiyeon semakin dibuat bingung olehnya, namun tatapan Suga membuatnya seolah wajib mengikuti kemauan namja itu.

Suga dan Jiyeon berjalan melewati orang-orang yang terus memberikan senyumnya pada mereka.

Jiyeon melebarkan matanya saat ia melihat sosok yang juga sudah 5 tahun ini tidak pernah bertemu dengannya.

“Kookie-ah!” Gumamnya saat melihat Jungkook yang juga bersama V tersenyum manis kearahnya.
Dilihatnya juga sosok namja yang memaksanya masuk kedalam mobil bersama Suga ada disana.

“J-hope!” Gumamnya saat melihat sosok J-hope yang bersama Rap Mon dan Jin melambaikan tangan kearahnya.

“Kenapa kau mengingatnya, eoh?” Protes Suga yang sepertinya cemburu.

Jiyeon tak menjawab. Matanya semakin melebar saat tepat didepan sana berdiri sosok namja yang begitu ia kenal menggunakan jas hitam dengan rapihnya.

“Appa!” Gumamnya.

Suga hanya tersenyum jahil melihatnya.

Kini tatapan Jiyeon beralih pada sosok namja tinggi yang sudah berada dihadapan keduanya.
Yeoja itu langsung menoleh kearah Suga meminta penjelasan tentang kehadiran sosok yang tak lain adalah seorang pendeta itu.

“Wae? Kau tidak mau menikah denganku?” Tanya Suga yang seolah mengerti maksud dari tatapan yang Jiyeon lemparkan untuknya.

Jiyeon seolah tidak puas mendengar jawaban yang Suga berikan. Suga hanya dapat menghembuskan nafasnya. Ia kembali menatap yeoja yang masih setia menanti penjelasan darinya itu.

“Mianhae karena tidak langsung menyusulmu ke Jepang. Kau tau bukan, V sudah gagal menjadi anak dari appa?” Ucap Suga yang langsung menoleh kearah V sang dongsaeng dengan tatapan mematikannya dan V langsung tertunduk dibuatnya.

“Karena itu, aku harus tetap menjadi anak yang dibanggakan appa. Aku harus menggantikan appa menjadi pemimpin perusahaan. Dan kau lihat! Aku adalah namja muda yang kaya raya, dan hal itu tidak akan membuatmu menolakku bukan?” Ucapnya percaya diri.

Tak ada jawaban. Jiyeon hanya terdiam membuat Suga semakin kesal.

“KYA! APA KAU TAK MENYUKAIKU, EOH?” Teriak Suga.

Tak lama, seulas senyum terpancar dari bibir Jiyeon. Yeoja itu melangkah semakin mempersempit jaraknya dengan Suga.

~CUP~

Suga melebarkan matanya. Yeoja itu?
Berani sekali menciumnya didepan umum.
Ciuman yang pertama kali Jiyeon berikan untuknya.

“Nan joahe. Neomu joahaeyo. Naega saranghandago.” Ucap Jiyeon seraya memberikan senyum manisnya pada Suga.

Semua yang menyaksikan langsung bersorak melihat wajah yang merona milik Suga untuk pertama kalinya.

“Nappeun yeoja!” Gumam Suga.

Akhirnya pengucapan janji sucipun terlaksana.
Akhirnya, setelah 5 tahun, akhirnya benar-benar menyatukan keduanya.
Akhirnya, akhirnya FF nya berakhir juga.
Akhirnya author harus bersiap menerima semua kritik dan saran dari readers semua.
Akhirnya author menunggu komentar para readers.
Akhirnya, akhirnya…….
Coment jusaeyo! 😀