FF Kai Jiyeon (KaiYeon) Let It Go

image

                   LET IT GO
                 (One Shoot)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jongin aka Kai (EXO)

Other Cast :
Kim Jinhwan (Team B aka iKon)
Kim Hanbin aka B.I (Team B aka iKon)
Park Hyomin (T-ara)
Park Taejun (Ullzang)
Wu Yi Fan aka Kris (EXO)

Songfict :
Team B aka iKon Climax

Genre. :
Romance, Family, Sad

A/N :
Ini FF ke 20 author yang pernah di publish di tanggal 24 Desember 2014 silam. FF ini dipersembahkan untuk para JiXo shipper dan juga yang kangen sama KaiYeon couple. Semoga FF ini dapat melepaskan kerinduan kalian pada mereka berdua. Yang masih menanti kelanjutan IF I RULED THE WORLD dan DIFFERENT nanti yah. FF ini hanya selingan dan FF ke  16 dan 17 tetap akan di lanjut hingga ending. Author masih menunggu coment dari para readers.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
~BRUK~

Aku merasakan sakit yang menjalar dibagian pantatku saat dengan bebas tubuhku terjatuh di atas lantai. Aku hanya menatapnya, menatap sosok yang telah membuat pantatku ini mencium dinginnya lantai rumah kami.

“Nuna, gwaenchana?” Suara lembutnya membangunkanku untuk kembali ke dunia nyata.
Wajahnya yang tampan, bermata sipit dan berkulit putih. Dialah Kim Jinhwan, ialah sosok yang saat ini tengah membantuku untuk kembali berdiri dari posisi tidak mengenakan sebelumnya.

“Gwaenchana!” Jawabku seraya tersenyum berusaha meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Kulihat matanya menajam menatap sosok namja yang baru saja menabrak tubuhku dan membuatku terjatuh.

“Errrrr, dia keterlaluan!” Jinhwan terlihat benar-benar marah. Aku menjadi tak enak hati padanya.

“Gwaenchana! Nuna baik-baik saja!” Kembali aku meyakinkannya.

“HYUNG!” Namja yang berteriak memanggil hyung adalah Kim Hanbin. Ia sama tampannya dengan Jinhwan. Sama-sama berkulit putih, hanya saja matanya tak sesipit mata Jinhwan dan ia juga lebih tinggi dari Jinhwan. Ia adalah dongsaeng Kim Jinhwan, Kim Hanbin.

“Aku ikut denganmu ya, hyung! Motorku rusak dan masih berada di bengkel!” Rengeknya.

“Kau apakan lagi motormu itu, eoh?” Jinhwan sepertinya kesal. Pasalnya Hanbin bisa mengganti motornya 5 kali dalam sebulan. Entah apa yang ia lakukan pada motor sportnya itu.

“Ayolaaaaah!” Bukannya menjawab pertanyaan hyungnya, ia malah lebih memilih untuk terus merengek padanya. Aku tersenyum melihatnya. Meski dari luar Hanbin tampak dewasa karena perawakannya yang terlihat seperti namja dewasa, namun ia tetaplah remaja biasa. Ia akan selalu merengek pada Jinhwan agar hyungnya itu mau menurutinya.

“Ara ara!” Jawab Jinhwan pada akhirnya. Ia kemudian kembali memandangku.

“Nuna mau ikut bersama kami?” Tawarnya ramah.

“Ani. Nuna akan naik bus saja. Kalian berangkat duluan saja, masih ada hal lain yang harus nuna lakukan sebelum berangkat sekolah!” Jawabku.

“Geurae, kami akan berangkat terlebih dahulu!” Jinhwan Pun sedikit membungkukkan tubuhnya padaku. Aku pun membalasnya dan kembali tersenyum. Kulihat Hanbin langsung merangkul pundak Jinhwan dan menggiringnya keluar.

Aku iri melihat mereka berdua. Meski Hanbin tak seramah Jinhwan, namun dia bukanlah orang jahat. Aku menyimpulkannya karena ia tak pernah menggangguku sejak aku datang ke rumah ini, berbeda dengan sosok namja itu yang memang selalu berlaku buruk terhadapku.

“Sampai kapan kau mau mematung di situ, eoh?” Aku menolehkan wajahku mendengar suaranya yang terdengar baru bangun tidur itu.

“Eomma!” Ya, dia adalah eommaku. Namanya Park Hyomin. Meski usianya sudah kepala 3, namun ia masih terlihat segar dan cantik. Kami lebih terlihat seperti eonnie dan dongsaeng di banding dengan eomma dan aegi.

“Pergilah! Kau bisa terlambat nanti!” Ucapnya melewatiku. Sepertinya dia hendak berenang, terlihat dari langkahnya yang menuju kolam renang.
Ya, kolam renang yang ada di rumah ini memang terletak di lantai 2. Rumah ini bak hotel saja karena banyaknya ruangan dan fasilitas di dalamnya.

Aku berjalan turun hendak menuju lantai satu. Aku bisa ketinggalan bis kalau begini.

Aku, Park Jiyeon. Siswi kelas 3 Annyang High School. Aku adalah kakak tiri dari Kim Jongin, namja yang pertama kali aku ceritakan di awal cerita. Sudah 2 tahun aku tinggal bersama mereka.

Taukah kalian maksud dari kata ‘mereka’ itu siapa?

Itu adalah Kim Jinhwan dan Kim Hanbin. Mereka berdua juga adalah adik tiriku.
Sebenarnya marga Jinhwan dan Hanbin adalah Choi, namun sejak eomma mereka menikah dengan appa Jong In, mereka berganti marga menjadi Kim.

Yang ku ketahui dari cerita Jinhwan, eomma mereka sakit dan meninggal dunia, dan sekarang eomma mereka adalah Park Hyomin, yakni eommaku yang menikah dengan Appa Jongin sekitar 2 tahun lalu.

Ya, eomma ku adalah anae ke 3 dari Appa Jongin. Itupun karena anae pertama dan kedua nya telah meninggal dunia.

Berbeda dengan Jinhwan dan Hanbin yang terlihat bisa menerima kehadiranku dan juga eomma, Jongin sangat menentang kehadiran kami. Ia terlihat begitu sangat membenci kami.

***

~BRUK~

Aku kesal. Ya, akupun hanyalah manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Hari ini sudah dua kali aku terjatuh.

Aku bangkit dan hendak memaki orang yang telah membuatku jatuh di saat aku tengah terburu-buru memasuki kelas karena 5 menit lagi bel masuk akan segera berbunyi, namun,

“Kya! Neo……” Lidahku terasa kelu saat melihatnya. Sorotan matanya benar-benar menyiratkan bahwa ia sangat membenciku.

“Kim Jongin!” Lirihku.
Dia!
Dialah yang telah membuatku kembali terjatuh!
Lagi!

Dia melewatiku begitu saja tanpa sepatah katapun. Aku hanya dapat menunduk dan kembali melangkah menuju kelasku. Sampai disana aku langsung duduk menumpukan wajahku pada kedua tanganku dengan lesu. Aku hanya dapat menunduk sedih. Selama 2 tahun kami tinggal bersama, aku tak pernah sekalipun mendapat perlakuan baik darinya. Ya, aku memakluminya. Tidak mudah menerima anggota keluarga baru dalam kehidupanmu. Ku pikir sama halnya dengan yang dialami Jinhwan dan juga Hanbin saat pertama kali mereka berdua menjadi keluarga baru Jongin. Meski mereka tak terlihat akrab, namun setidaknya mereka tak pernah terlihat bermusuhan. Masing-masing cuek dengan keadaannya.

“Haaaaaah!” Aku hanya dapat menghembuskan nafasku. Mungkin, suatu saat nanti Jongin aka bisa menerima kehadiranku sebagai saudaranya seperti Jinhwan dan juga Hanbin.

Ah, aku melupakan sesuatu. Usia Jongin dan Jinhwan sama. Mereka 1 tahun lebih muda dariku. Kelas mereka juga sama. Berbeda dengan Hanbin yang berbeda sekolah dengan kami karena ia masih Junior High School.

***

Jam sekolah usai.
Aku tak seperti Jongin ataupun Jinhwan yang pergi dan pulang sekolah selalu menggunakan mobil mewah mereka, aku lebih memilih untuk menaiki kendaraan umum setiap harinya.

“Nuna, kau mau pulang bersamaku?” Jinhwan membuka kaca mobilnya saat ia menghentikan mobilnya di samping tempat ku berdiri.

“Ani. Kau pasti harus menjemput Hanbin, bukan! Duluan saja! Masih ada hal yang harus kulakukan sebelum tiba di rumah!” Jawabku tersenyum.

“Errr, kau selalu mengatakan hal itu setiap kali menolak tawaranku!”

“Ani ani, sungguh aku tak berbohong! Mian!” Aku benar-benar merasa tak enak hati padanya.

“Ck, tenanglah! Aku hanya bercanda! Kalau begitu hati-hati, ya!” Ucapnya tersenyum manis. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan diapun kembali melajukan mobilnya. Dia itu bak seorang malaikat. Di saat Jongin melakukan hal buruk layaknya iblis, ada Jinhwan sang malaikat yang siap melindungiku.

~Tiiiiiiiiiiiiiiiiiit~

Aku terlonjak kaget mendengar suara klakson mobil kearahku. Aku melihat seseorang membukakan kaca mobilnya.

“OPPA!” Teriakku senang. Ia tersenyum hangat ke arahku.

“Masuklah!” Ucapnya. Aku pun dengan senang hati melakukannya.
Aku, sangat merindukannya.
.
.
.
.
.
~AUTHOR POV ON~

Sorot matanya tak dapat di artikan saat melihat sang yeoja yang tak lain adalah sosok Park Jiyeon memasuki sebuah mobil yang entah ia tidak tau siapa pemiliknya. Tangannya mengepal seolah ia ingin menghancurkan apapun yang ada di dekatnya.

Kim Jongin.
Ya, namja yang terlihat menahan emosinya itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan area parkir sekolah.

~AUTHOR POV END~
.
.
.
.
.
AKu duduk termangu melihat kebawah dimana kakiku dengan sengaja ku masukkan kedalam kolam renang sebatas paha.

~FLASHBACK ON~

“Bagaimana kabarmu, eum?” Tanyanya dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Sungguh menenangkan melihatnya dari jarak sedekat ini.

“Baik. Bagaimana dengan oppa sendiri? Sepertinya kau lebih kerasan tinggal di Amerika di banding Korea!” Ejek ku seraya menyeruput Bubble Tea yang ku pesan.
Saat ini kami berdua tengah berada di sebuah cafee tak jauh dari sekolahku.

Eoh, aku lupa memperkenalkannya.
Namanya adalah Park Taejun. Dia adalah dongsaeng dari eommaku, Park Hyomin. Karena usianya tak terpaut jauh dariku, aku memanggilnya oppa. Bukan Samchon. Itupun adalah keinginannya. Ia akan marah jika aku memanggilnya seperti itu.

“Kau merindukanku?” Tanyanya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku karena masih terlalu asik dengan Bubble tea yang tengah ku minum.

“Bagaimana kesehatanmu?”

Aku mematung. Sejenak aku kehilangan kata-kata, namun akhirnya aku mencoba tersenyum kembali seperti biasanya.

“Jangan khawatir! Aku baik-baik saja!” Jawabku tersenyum kaku.

“Kau berbohong!”

Aku menunduk.
Ya, aku berbohong.
Aku tidak sedang baik-baik saja. Penyakit ini bisa membunuhku kapan saja.

“Ikutlah bersamaku ke Amerika! Kau harus segera di operasi!”

“Ani. Aku menolaknya!”

“Wae? Apa kau ingin mati, EOH?” Taejun oppa terlihat marah. Terdengar dengan jelas dari nada bicaranya yang kian meninggi. Kudengar nafasnya pun tak beraturan, pasti ia tengah berusaha mengendalikan emosinya.

“Bagaimana dengan Hyomin nuna? Ia sudah mengetahuinya?”

Aku menggelengkan kepalaku. Kuharap dia mengerti alasanku. Aku tak ingin membuat orang lain khawatir dengan keadaanku. Hanya Taejun oppalah yang mengetahuinya.
Awalnya kupikir aku mengalami sakit kepala biasa, saat itu aku masih tinggal bersama Taejun oppa dan juga eomma.

Sebelum Taejun oppa pindah ke Amerika untuk melanjutkan study nya, ia mengantarkanku ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Dan hari itu juga dokter mengatakan bahwa aku mengalami Tumor Meningioma, Sejenis tumor jinak yang menyerang otak manusia.

Mengetahui hal itu, Taejun oppa awalnya hendak membatalkan keberangkatannya, namun aku langsung mencegahnya. Aku mengatakan bahwa aku akan sembuh dan memberitahukan hal ini pada eomma.

“Lalu kau ingin bagaimana? Ini sudah 2 tahun, Park Jiyeon!” Tegasnya berusaha mengingatkanku bahwa penyakit ini sudah bersarang di otakku selama 2 tahun.

“Aku minum obat secara rutin, oppa! Aku juga sudah tidak sesering dulu mengalami nyeri di bagian kepala. Ku pikir tumornya sudah menghilang karena terbunuh oleh obat-obat yang di berikan dokter! Kau tak perlu khawatir, oppa! Aku ini kuat! Hanya melawan satu tumor saja itu adalah hal mudah!” Ucapku tersenyum bangga berusaha meyakinkannya.

~FLASHBACK OFF~

“Haaaaaaaaaaah!” Aku kembali menghembuskan nafasku. Besok aku tak dapat bertemu lagi dengannya, padahal aku masih sangat merindukan Taejun oppa. Apa boleh buat, Taejun oppa hanya datang ke korea untuk mengambil barangnya di apartement kami dulu. Ia hanya ijin 3 hari dari sekolahnya. 2 hari untuk perjalanan pulang pergi dan 1 hari tersisa di korea.

“Apa aku akan mati?” Gumamku menatap langit malam.

~BYUR~

Benarkah?
Benarkah aku akan mati sekarang?
Tapi kenapa harus di dalam air?
Tak adakah tempat yang lebih baik selain disini?
Aku benci ini!
Siapapun, tolong aku!
Aku belum siap mati sekarang!
Aku masih ingin hidup!
Aku…..

~AUTHOR POV ALL~

Kim Jong In, ia melihat Jiyeon yang sepertinya tidak bisa berenang, ia langsung membanting tubuhnya ke dalam kolam untuk menyelamatkan yeoja itu. Ia mulai khawatir saat tubuh yeoja itu tak bergerak sama sekali. Matanya menutup sempurna.

Hey!
Ini hanya lelucon!
Ia tak berniat membunuh yeoja itu dengan mendorong tubuhnya sehingga jatuh ke dalam kolam renang!
Mana ia tau kalau ternyata yeoja itu tidak bisa berenang.

Jongin langsung membawa tubuh Jiyeon ke daratan. Ia langsung memeriksa keadaan yeoja itu.

Damn!
Nafas dan jantungnya berhenti! Ia bisa mati kalau begini!

Jongin mulai panik dan hendak memberikan pertolongan. Ia ingat pelajaran olahraga tentang cara memberikan nafas buatan untuk mereka yang baru saja tenggelam.

Pertama,
baringkan korban pada posisi telentang.
Jongin melakukan hal itu pada tubuh Jiyeon.

Kedua,
atur posisi dengan cara berlutut di samping kepala korban.
Aisssh, ini terlihat canggung. Batin Jongin.

Ketiga,
menarik nafas dalam, jepit lubang hidung korban dengan ibu jari dan telunjuk.

Ke empat,
tutupi mulut korban dengan mulut penolong sehingga mulut penolong dapat menutupi keseluruhan mulut korban agar tidak terjadi kebocoran. Berikan hembusan nafas 2 kali dan seterusnya hingga sang korban kembali sadar.

Kim Jongin melakukan itu semua. Melakukan sesuai dengan yang ia pelajari. Namun aneh, sensasinya berbeda setiap kali bibirnya bersentuhan dengan bibir Jiyeon.
Apa ini ciuman? Pikirnya.

“Ohok Ohok Ohok…..”

Jongin langsung duduk mundur seraya menghela nafas lega. Akhirnya yeoja ini kembali sadar.

“Hiks hiks hiks hiks…..”

Jongin melebarkan matanya melihat yeoja itu menangis.
Wae?
Kenapa ia menangis?
Ia kan masih hidup!
Kenapa rasanya sesak saat melihat ia menangis?
Bukankah ia sudah sering melakukan hal buruk padanya dan pasti ia juga menangis setelah mendapatkannya.
Geundae wae?
Kenapa melihatnya menangis secara langsung seperti ini membuat hatinya terasa teriris?
Ia, ialah yang telah membuat air mata itu keluar dari sarangnya.

~HUG~

Jongin makin melebarkan matanya saat tubuhnya di dekap oleh sang yeoja. Matanya nyaris keluar karena keterkejutannya.

“Go-gomawo. Hiks….”

Tubuhnya membatu.
Yeoja itu berterimakasih padanya dan sekarang memeluknya.
Ia yang menyebabkan yeoja itu hampir mati. Mustahil ia tak mengetahuinya. Harusnya ia mencaci maki, memukul, marah atau apapun hal yang pantas Jongin dapatkan karena ulahnya yang hampir membuatnya kehilangan nyawa, bukannya malah memeluk dan berterimakasih padanya.

Jongin membiarkan tubuhnya menjadi sandaran tangis Jiyeon didadanya. Ego masih menguasainya saat ia hendak membalas pelukan Jiyeon atau sekedar untuk menenangkannya.

***

Sejak kejadian malam itu, entah mengapa Jongin tak pernah lagi mengganggu Jiyeon.
Bukan, tapi karena Jiyeon yang memang menghindarinya.
Hey! Bukankah sejak awal mereka memang tidak akrab bahkan hanya untuk sekedar bertegur sapa.

Apa mungkin Jongin yang tidak berani mengganggunya lagi?
Maukah Jongin mengakuinya?

“Nuna!”

“Jinhwan!”

“Ikutlah denganku! Hari ini ada pertunjukan di sekolah Hanbin, ia salah satu pengisi acaranya. Ia akan tampil disana!” Jinhwan terlihat sangat berharap agar Jiyeon bisa ikut bersamanya.

“Mian, nuna tidak bisa pergi!”

“Wae? Apa nuna sudah punya janji?”

“Eum. Mianhae!”

Jinhwan menghembuskan nafasnya kecewa.
Lagi-lagi di tolak. Batinnya.

“Geurae, aku akan pergi bersama teman-teman ku saja kalau begitu!”

“Kau tidak marah, kan?”

“Sedikit!”

“Mian!” Jiyeon benar-benar merasa bersalah.

“Gwaenchana. Kau memang selalu menolakku, bukan!”

“Bukan seperti itu! Naega….”

“Gwaenchana. Aku bisa mengerti! Kita memang bukan saudara kandung! Geundae, percayalah, aku menganggapmu benar-benar seperti saudaraku nuna!”

“Ani. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu. Aku pun seperti itu terhadap kau, Hanbin dan juga….” Jiyeon menghentikan ucapannya saat hendak menyebutkan nama Jongin.

Jinhwan memandang penuh tanya ke arahnya.

“Kalian adalah saudaraku. Kalian dongsaengku dan aku adalah nuna kalian! Kita bersaudara. Benar begitu, bukan?”

Jinhwan tersenyum menanggapinya.

“Geurae, nuna. Hanbin bisa menggigitku kalau aku datang terlambat! Nan khalke!”

“Eum. Sampaikan salamku untuknya!”

“Eum. Pasti!”

Jiyeonpun melihat kepergian Jinhwan. Tanpa ia sadari sesosok namja menatapnya tajam. Giginya terkatup menahan amarah.

~BRUK~

Matanya membulat sempurna melihat sosok yeoja itu ambruk. Ia langsung berlari kearahnya. Tanpa pikir panjang ia langsung menggendongnya melewati koridor sekolah yang memang sudah sangat sepi karena jam sekolah sudah berakhir setengah jam lalu. Ia langsung membawanya masuk kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Ia benar-benar khawatir. Sangat khawatir.
.
.
.
.
.
“Kau tak mengajaknya, hyung?” Tanya Hanbin pada Jinhwan. Setelah selesai perform, ia langsung menghampiri hyungnya itu.

“Kenapa kau malah menanyakannya? Harusnya kau tanyakan padaku bagaimana pendapatku tentang penampilanmu barusan!” Protes Jinhwan.

“Sudah pasti aku sangat keren, jadi tak perlu ku tanyakan lagi padamu!” Jawab Hanbin dengan bangganya.

“Ck, kau terlalu percaya diri Kim Hanbin!” Balas Jinhwan.

“Eum, tentu saja. Tak ada yang tidak bisa ku banggakan dari diriku ini. Bahkan meski masih duduk di bangku kelas 3 Junior High School, tinggiku melebihi anak kelas 2 Senior High School!”

“Kau mengejekku?”

“Ani. Aku tak mengatakan apapu!” Jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Aisssh!”
.
.
.
.
.
Jongin terduduk menatap sang yeoja yang seolah nyaman dengan kondisinya saat ini. Ia benar-benar terlihat damai dalam tidurnya.
Apakah ia lelah? Batin Jongin.

Tangan Jongin terulur menggenggam tangan sang yeoja yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.

“Pabo yeoja!” Gumamnya.

“Pabo!” Ia terus menggumamkannya.
Ingatannya kembali menerawang saat ia bertemu dengan dokter yang memeriksa keadaan Jiyeon.

~FLASHBACK ON~

“Anda saudaranya?” Tanya seorang dokter berjenis kelamin namja. Namanya adalah Wu Yi Fan, terlihat dengan jelas dari nama yang tertera pada name tag yang terpampang di jas putihnya.

“Ne.” Jawabnya asal.

Wu Yi Fan, namja berparas tampan asal China itu memberikan selembar map berwarna biru pada Jongin. Saat Jongin membukanya terdapat satu gambar di sana.

“Itu hasil pemeriksaannya!” Ucapnya.

Jongin yang tak mengerti dengan maksud gambar tersebut hanya memandang sang dokter meminta penjelasan lebih.

“Tumor otak!”

Detik itu juga tubuh Jongin seolah berhenti berfungsi, bahkan untuk mengedipkan kedua matanya pun seolah tidak bisa ia lakukan.

“M-mwo?” Tanyanya terbata.

“Tumornya sudah sangat mengeras. Sepertinya sudah bersarang cukup lama di otaknya. Kita harus segera melakukan operasi pengangkatan tumor. Memang kemungkinan berhasil hanya 10% mengingat tumor yang sudah mengeras sehingga proses insisi di perkirakan memakan waktu lebih dari 24 jam. Kalau kondisi tubuh pasien menerima, maka akan di pastikan 15% operasi ini akan berhasil. Namun jika kondisi tubuh pasien menolak, maka dipastikan bahwa operasi ini akan 100% gagal. Kita harus mendapatkan ijin dari pasien untuk mengambil keputusan ini karena semuanya tergantung dari kondisi tubuh sang pasien. Namun jika tetap di biarkan, pasien bisa meninggal kapanpun tanpa bisa doker manapun memprediksinya!” Perjelas Wu Yi Fan.

Jongin terdiam mematung.
Apakah yang baru saja ia dengar ini adalah nyata?
Bagaimana bisa yeoja itu selama ini membiarkan penyakit itu terus tumbuh dan berkembang di tubuhnya tanpa membiarkan orang lain mengetahuinya?

“A-apa tidak ada cara lain?” Tanya Jongin.

Wu Yi Fan menggelengkan kepalanya.

“Meskipun sering meminum obat secara rutin, itu hanya untuk mencegah rasa sakit yang timbul di saat tumor itu mulai bergerak di otak. Masalahnya, tumor itu akan tetap berkembang disana jika tidak segera dilakukan operasi pengangkatan tumor pada otak. Kau tau bukan, otak adalah organ tubuh manusia terpenting karena memiliki banyak fungsi. Bisa di katakan, otak itu adalah seorang supir pengemudi. Bisa kau bayangkan jika sang supir mengalami sakit, maka tak akan ada yang mengemudi. Seperti itulah perumpamaannya. Terdapat jaringan-jaringan penting yang ada pada otak dan itu harus berhasil tak tersentuh oleh sang dokter saat mengangkat tumor dari sana. Penyakit ini mematikan, bahkan seorang dokterpun menganggap penyakit ini yang paling sulit penanganannya.” Jawab Wu Yi Fan.

~FLASHBACK OFF~

.
.
.
.
.
“Kalian sudah pulang?” Sambut Hyomin melihat kedatangan Jinhwan dan juga Hanbin.

“Apa Jiyeon nuna sudah tiba di rumah?” Tanya Jinhwan.

“Jongin menelepon katanya ia bertemu dengan Jiyeon dan Jiyeon menitipkan pesan bahwa malam ini ia akan menginap di rumah temannya dan Jongin pun ada keperluan sehingga ia juga tidak bisa pulang ke rumah.” Jawab Hyomin.

Jinhwan dan Hanbin saling beradu pandang.

“Kalian sudah makan? Apa ingin ku suruh para maid untuk menyiapkan makanan?” Tawar Hyomin lembut.

“Tidak usah! Kami sudah makan barusan. Kalau begitu, kami permisi dulu!” Jinhwan membungkuk pada Hyomin di ikuti dengan Hanbin. Mereka pun berjalan menaiki tangga menuju lantai 2 dimana kamar mereka berada.
.
.
.
.
.
“Jo-Jongin!” Jiyeon begitu terkejut saat membukakan matanya yang pertama kali ia lihat adalah sosok Kim Jongin yang menatapnya tajam.

Jongin membantu Jiyeon saat yeoja itu hendak mengubah posisinya dari terbaring menjadi terduduk di atas ranjang.

“Gomawo!”

“Hm!”

Hening.
Keduanya kembali merasa canggung.
Ini pertama kalinya mereka berdua sedekat ini dalam satu ruangan.

“Ba-nagaimana bisa a-aku berada di sini?” Tanya Jiyeon saat melihat sekelilingnya. Ia sudah bisa menebak dimana ia berada dari bau khas rumah sakit yang begitu menyengat di indra penciumannya.

“Kau pingsan!” Jawab Jongin datar.

“Ne?”

Keduanya kembali terdiam.
Ruangan ber AC ini terasa panas bagi mereka berdua.

“Se-sebaiknya ki-kita pulang!” Jiyeon hendak bangkit namun Jongin langsung menghalanginya.

“Kau harus di operasi!”

Jiyeon melebarkan matanya.
Bagaimana bisa namja ini mengetahuinya?

“Ye? Hahaha…. aku baik-baik saja dan tak perlu sampai di operasi. Kau terlalu berlebihan, Kim Jongin!” Ucap Jiyeon tertawa canggung.

Jongin hanya dapat menatap yeoja itu tajam.

Jiyeon yang mulai menyadari kesalahannya hanya dapat menunduk. Jongin bukanlah namja bodoh yang mudah ia tipu, pasti dokter yang memeriksanya sudah memberitahukan perihal kesehatannya pada Jongin.

“Nae-naega……..” Jiyeon menahan tangisnya.

“Aku tidak mau di operasi!” Jawabnya mantap tanpa berani mengangkat wajahnya ke arah Jongin.

“Mwo? Neo micheosseo? APA KAU AKAN MEMBIARKAN PENYAKIT ITU MENGUASAIMU, EOH? APA KAU INGIN MATI BEGITU SAJA, EOH? DIMANA OTAKMU?” Jongin tidak habis pikir dengan keputusan Jiyeon.
Bagaimana yeoja itu bisa semudah itu menganggap enteng peyakitnya?
Tak taukah ia akan ada seseorang yang terluka jika sampai penyakit itu berhasil merenggut nyawanya?
Tak taukah ia tengah ada seseorang yang khawatir tentang keadaannya?
Tak taukah ia akan ada seseorang yang akan menangis nantinya?
Memangnya Siapa?
Siapa dia?
Berani sekali dia melakukan hal itu padanya?

“Nae-naega…..” Air mata Jiyeon lolos begitu saja dari sarangnya.

“Aku takut!” Tubuhnya bergetar. Nafasnya seolah tercekak mengetahui kenyataan itu.
Ia takut.
Ya, sangat takut.
Takut akan hasil yang ia dapatkan jika ia melakukan operasi itu.
Ia takut mati.
Sangat takut.
Itulah yang ia rasakan dan coba ia tutupi selama ini.

Jongin menatapnya sendu.
Melihat yeoja itu kembali terisak membuat dadanya semakin sesak saja. Harusnya ia tau akan hal itu. Ini pasti hal yang sangat berat bagi yeoja itu.
Memilih kembali hidup hanya dengan kemungkinan 10% atau tetap hidup dengan ancaman kematian yang siap merenggutnya kapan saja!

Jongin mendekat dan duduk tepat di hadapan Jiyeon di samping ranjang yang masih tersisa sedikit ruang untuknya. Ia mengangkat kedua tangannya menangkup pipi Jiyeon, membuat kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
Tak dapat di artikan sorot mata keduanya yang menyimpan sesuatu, sesuatu yang hanya bisa di jawab oleh keduanya.

Jiyeon seolah terhipnotis oleh mata tajam Jongin. Ia dapat merasakan ibu jari Jongin yang bergerak mengelus pipinya, menghapus air matanya.

Entah mantra apa yang telah Jongin berikan padanya, ajaibnya, air matanya langsung berhenti. Dunia seolah berhenti berputar saat itu juga. Hanya ada 2 kehidupan yang tersisa, yakni Park Jiyeon dan juga Kim Jongin.

“Jangan takut! Aku akan menemanimu! Aku akan menjagamu! Aku akan melindungimu! Aku akan menunggumu!”

Kata-kata yang terucap dari bibir Jongin benarlah mantra bagi Jiyeon.
Bagaimana mungkin seorang Kim Jongin yang sejak awal begitu terlihat sangat membencinya memberikan mantra itu padanya.
Mantra yang begitu meyakinkan, mantra yang begitu menguatkan dan menenangkan.
Benarkah ia Kim Jongin yang ia kenal selama 2 tahun ini?

Jongin membawa wajah Jiyeon mendekat ke wajahnya, dan mencium lembut bibir Jiyeon.

Jiyeon terkejut, hanya sebentar, sekejap kemudian ia mulai menikmati ciuman lembut Jongin.

Biarlah hari ini, hanya hari ini ia bisa melakukan hal ini dengan adik tirinya.

Tanpa sadar, tangan Jongin merengkuh tengkuk Jiyeon membuat yeoja itu tak bisa pergi kemanapun dari ciumannya. Ciuman manis yang begitu memabukkan.

Bermula dari ciuman lembut sederhana, ciuman itu menjadi semakin liar ketika Jongin memaksa memasukkan lidahnya kedalam mulut Jiyeon. Walau awalnya menolak, Jiyeon tak bisa menahan paksaan lidah Jongin dan akhirnya menyerah. Terpaksa membiarkan lidah liar Jongin menjelajahi rongga mulutnya.

Ciuman panas itu terus berlanjut, hingga mereka berdua berhenti untuk mengambil nafas.
.
.
.
.
.
“Kau belum tidur, hyung?” Tanya Hanbin yang melompat ke atas ranjang Jinhwan.

“Waegeurae? Ada apa kau ke sini? Tidurlah di kamarmu!” Sepertinya suasana hati Jinhwan sedang tidak baik sejak mendengar kabar mengenai Jongin dan juga Jiyeon dari Park Hyomin eomma tiri mereka.

“Kau pasti mengkhawatirkannya!”

Jinhwan langsung memberikan death glare nya pada Hanbin.

“Pergilah!” Perintahnya.

“Jiyeon nuna adalah yeoja tertutup, kupikir dia tidak mungkin memiliki teman. Dia bahkan selalu menolak ajakanmu sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini!”

Jinhwan benar-benar kesal mendengar ocehan dongsaengnya itu. Tapi satu hal yang ia tau, semua yang di katakan Hanbin memanglah benar.

“Kau tau kenapa Jongin hyung memperlakukannya dengan sangat buruk? Berbanding terbalik terhadap kita! Meski ia terlihat tidak perduli, harusnya ia bisa mengusir kita saat eomma kita meninggal dunia. Tidak ada alasan kita tetap bersamanya disini. Kita hanya anak tiri appanya dan eomma kita pun sudah meninggal dunia. Harusnya dia menendang kita kejalanan, bukannya tetap membiarkan kita tertampung disini dengan segala fasilitasnya. Rumah ini bukan panti asuhan, kan? Menurutmu apa alasan dia memperlakukan Jiyeon nuna berbeda?”

Jinhwan mematung. Pertanyaan itu bahkan belum ia temukan jawabannya. Pertanyaan sama yang Hanbin lontarkan padanya. Ia menyadari itu semua bahkan sejak awal Jiyeon bergabung menjadi anggota keluarga mereka.

“Kupikir dia menyukainya. Dia hanya tidak tau bagaimana cara menyampaikannya. Kehilangan eomma sejak ia lahir pasti telah membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak tau bagaimana caranya berbaur dengan orang lain. Kupikir ia membiarkan kita tetap berada di sini karena ia merasa nasib kita sama dengannya. Sama-sama kehilangan eomma. Hanya saja, kita lebih menyedihkan darinya karena kita juga kehilangan Appa. Dua saudara yatim piatu yang tak memiliki siapa-siapa!”

Jinhwan membenarkan semua ucapan Hanbin. Apalagi saat ia tidak sengaja melihat Jiyeon dalam pelukan Jongin beberapa hari lalu di kolam renang rumah mereka, semakin memperjelas bagaimana sebenarnya perasaan Jongin terhadap Jiyeon.

“Kau harus melupakannya, hyung! Melepaskan Jiyeon nuna mulai dari sekarang. Meski kemungkinan Jiyeon nuna bisa bersama Jongin hyung hanya 50% mengingat status mereka sebagai saudara tiri, setidaknya kau bisa mempercayakan Jiyeon nuna padanya. Kau juga tau bagaimana sebenarnya perasaan Jongin hyung.
Dia orang yang baik! Kupikir dia adalah dewa yang di utus Eomma dan juga Appa untuk kita. Sekarang kau bisa membiarkan Jiyeon nuna dalam lindungannya!”

Ya, perasaan Jinhwan memang lebih dari sebatas saudara terhadap Jiyeon. Ia menyukai yeoja itu. Namun, jika orang itu adalah Jongin, ia harus berbesar hati merelakannya.
Melepaskannya.
Melupakannya.
.
.
.
.
.
Jongin berlari tergesa memasuki kediamannya, mencari sosok yeoja yang hilang dari tempat yang seharusnya merawatnya.

Park Jiyeon, yeoja itu tak ia temukan dimanapun setibanya ia di rumah sakit.
Paginya ia memang kembali ke rumah hanya sekedar untuk mengambil seragam sekolahnya.
Awalnya ia enggan untuk sekolah dan lebih memilih untuk menemani Jiyeon mengingat yeoja itu tidak ingin mengenai kondisinya di ketahui siapapun terlebih Park Hyomin eommanya, namun yeoja itu dengan keras menyuruh Jongin untuk sekolah. Dengan terpaksa Jonginpun melakukannya dan betapa terkejutnya ia saat kembali ke rumah sakit usai sekolah berakhir ia tak menemukan Jiyeon di sana.
Recepcionis rumah sakit mengatakan bahwa Jiyeon telah check out beberapa jam lalu. Ia pun langsung bergegas menuju rumahnya. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan yeoja itu.

“Jiyeon eodisseo?” Tanya Jongin dengan terengah saat melihat Jinhwan dan juga Hanbin tengah bemain video game di ruang keluarga.

“Nuna? Aku tak melihatnya sejak kemarin!” Jawab Hanbin dengan polosnya.

“Waegeurae? Kupikir dia bersamamu sejak kemarin!” Sambung Jinhwan.

“Aisssh!” Jongin hanya mengacak prustasi rambutnya. Tak ada jawaban dari kedua saudara tersebut. Ia pun langsung mencari ke kamar Jiyeon. Mungkin saja yeoja itu ada di sana sekarang. Pikirnya.

“Kya! waegeurae?” Jinhwan mulai khawatir saat melihat ekspresi Jongin. Ia pun bangkit dan mengejar Jongin.

“Hyung!” Tak mau di tinggal seorang diri, Hanbin pun mengekor di belakang Jinhwan.

~BRAK~

Jongin membuka paksa pintu kamar Jiyeon.
Nihil.
Yeoja itu tak ada di sana.
Kekhawatirannya semakin bertambah besar saat tak mendapatkan sosok yeoja itu dimana pun.

“Waegeurae?” Tanya Jinhwan kembali.

Hanbin hanya terdiam tidak mengerti dengan situasi yang ada.

“Kalian! Sedang apa di sini?”

Hampir saja Jongin berteriak bahagia saat mendengar suara seorang yeoja, hatinya langsung mencelos saat tau bahwa itu bukanlah suara yeoja yang tengah ia cari. Itu adalah Park Hyomin, eomma Park Jiyeon yang datang menghampiri mereka bertiga.

“Jiyeon, eodisseo?” Jongin langsung bertanya pada Hyomin.

Hanbin dan Jinhwan masih ikut menunggu jawaban dari eomma Jiyeon itu.

“Jiyeon? Eoh, mian! Aku lupa memberitahukan pada kalian! Mulai hari ini Jiyeon tidak akan lagi tinggal bersama kita. Dia akan tinggal bersama Appanya mulai hari ini.” Jawab Hyomin.

“Mwo?” Tanya Jinhwan dan Hanbin bersamaan.

Namun berbeda dengan Jongin. Ia tetap terlihat tenang namun berbanding terbalik dengan hatinya yang seolah ingin berteriak.

“Ne. Hak asuh anak dipindah tangankan. Kini Jiyeon akan di asuh oleh Appanya.”

Jinhwan dan Hanbin saling melempar pandang seolah tidak percaya bahwa Jiyeon benar-benar akan berpisah dengan mereka.

“Kenapa kau membiarkannya? APA KAU TAU DIA SEDANG SAKIT, EOH?” Jongin kehilangan kesabarannya. Ia emosi. Sangat emosi.

Jinhwan dan Hanbin cukup terkejut mendengar teriakan Jongin dan juga tentang Jiyeon yang sakit.

“Aku tau. Itu sebabnya aku membiarkannya! Appanya lebih bisa menjaga dan merawatnya dibandingkan denganku!” Jawab Hyomin tertunduk sedih.
Bagaimana pun juga, ia seorang eomma yang melahirkan Jiyeon, membesarkan, merawat, dan menjaga Jiyeon seorang diri selama ini. Namun ini keputusan terbaik. Ini akan baik bagi Jiyeon.

Jongin melangkahkan kaki dengan lemasnya menuju kamarnya meninggalkan ketiga anggota keluarganya.
Bagaimana bisa ia kehilangan yeoja itu di saat ia baru saja mendapatkannya?
.
.
.
.
.
8 Tahun berlalu.
Ya, sudah selama itu Jongin tetap menunggu yeoja yang entah berada di mana keberadaannya saat ini.
Hanya dengan mengetahui bahwa yeoja itu masih hidup saja sudah membuat perasaan Jongin sedikit tenang.

Ya, Hyomin hanya memberitahukan bahwa Jiyeon berhasil melewati operasinya dan tengah melalui masa penyembuhan seusai operasi.
Namun saat ia bertanya tentang keberadaan Jiyeon, Hyomin akan langsung bungkam. Seolah memang sengaja tidak ingin ia beritahukan padanya.

Jongin hanya dapat menerima semuanya. Asalkan mengetahui yeoja itu masih hidup, ia masih punya kesempatan.

“Hanbin mengundang kita untuk makan di restaurant Jepang sore ini. Apa kau akan datang?” Sembur Jinhwan saat memasuki ruangan Jongin. Ya, saat ini kedudukan Jongin adalah seorang CEO menggantikan Appanya.

“Hm!” Jawabnya.

Jinhwan berdecak mendengar jawaban saudaranya itu. Jongin memang benar-benar namja dingin. Ia harus ekstra sabar menghadapinya.

“Geurae! Aku akan kembali ke kampus. Para mahasiswi pasti akan merindukan dosen tampan sepertiku jika aku berlama-lama di sini!”

Jongin hanya tersenyum tipis mendengarnya.
Jauh-jauh Jinhwan menemuinya dari kampus ke kantor hanya untuk menyakan hal ini?
Bukankah ia bisa mengirim pesan atau meneleponnya?
Mungkin ia merindukan saudarnya itu. Akhir-akhir ini Jongin memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia jarang pulang ke rumah.

Kim Jinhwan, tidak seperti Jongin yang memilih menekuni dunia bisnis, namja itu lebih tertarik menjadi seorang pengajar di Universitas Seoul.

Bagaimana dengan Kim Hanbin?
Tahun ini namja itu lulus dari universitas hukumnya dengan nilai nyaris sempurna. Dan baru hari ini ia bisa mentraktir mereka. Ia terlalu sibuk bersama dengan teman-temannya.
.
.
.
.
.
Jongin melebarkan matanya saat melihat sosok yeoja yang begitu amat ia rindukan tengah tersenyum ke arahnya.
Ya, begitu terkejutnya ia saat tiba di tempat makan yang Jinhwan maksud ada sosok Jiyeon di sana.

Ya, Park Jiyeon.
Ia bergabung bersama semuanya.

“Duduklah, hyung!” Hanbin langsung menarik Jongin.

Mata Jongin seolah tak tertarik dengan hal lainnya. Ia lebih tertarik melihatnya. Melihat yeoja yang selama 8 tahun ini meninggalkannya. Tak memberinya kabar bahkan tak memberikan sedikitpun kesempatan untuknya mencari keberadaannya.

“Makan, hyung! Atau kau ingin memesan makanan lain? Tenang saja, hari ini aku yang traktir.” Ucap Hanbin dengan bangganya.

Jongin tak bergeming.
Jinhwan dapat melihat ketidakpercayaan diwajah Jongin melihat sosok Jiyeon yang tengah bergabung bersama mereka.

Dalam satu meja besar dan mereka semua duduk bersimpuh dilantai khas budaya Jepang. Jinhwan, Hanbin, Hyomin dan juga Appanya, itulah yang dapat Jongin lihat selain kehadiran Jiyeon di sana. Dan juga seorang namja yang waktu itu pernah menemui Jiyeon ke sekolah, namja yang tidak di ketahui Jongin bahwa ia adalah Park Taejun, dongsaeng dari eomma tirinya Park Hyomin yang tak lain adalah samchon Jiyeon dan juga….. Wu Yi Fan?
Wu Yi Fan?
Bagaimana bisa dokter itu juga berada di sini?

Mengabaikan semua pertanyaan itu, Jongin mulai meminum segelas sake yang sudah di siapkan Hanbin untuknya masih dengan menatap tajam Jiyeon yang bersebrangan duduk di hadapannya.

Acara makan terasa begitu membosankan bagi Jongin. Disaat semua orang bersenda gurau saling bertukar cerita, pandangannya hanya terpokus pada satu sosok yakni Park Jiyeon. Ia seolah menulikan telinganya dari suara-suara orang lain, ia juga membutakan kedua matanya seolah hanya dirinya dan juga Jiyeonlah yang ada di sana.
Tidak, itu hanya fantasinya dan berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya.
Jongin bangkit dari duduknya membuat semua orang menoleh ke arahnya.

“Waegeurae, hyung?” Tanya Hanbin.

Semua orang hanya dapat membiarkan Jongin melangkah ke arah Jiyeon dan menarik yeoja itu untuk bangkit dan membawanya keluar dari tempat itu.
Seolah moment itu memang sudah mereka tunggu sejak awal, mereka hanya membiarkannya dan kembali melakukan aktifitas sebelumnya.

Jinhwan hanya dapat tersenyum melihat kepergian mereka.
Hanbin yang mengerti langsung menepuk pundak hyungnya menenangkan.

“Neo gwaenchana?” Tanya Hanbin.

“Eum. Aaaah aku masih lapar. Pesankan aku makanan lagi!”

“Ne, siap hyung!” Jawab Hanbin ala bawahan yang patuh pada atasannya. Sikap Hanbin sukses membuat semua orang yang ada di sana tertawa melihatnya.

Sementara itu, tak ada yang berani membuka suara setelah Jongin membawa Jiyeon dan menghentikan mobil yang ia kendarai tepat di sebuah taman dekat Sungai Han.

Jongin menyandarkan punggungnya dengan rileks pada jok pengemudi. Ia menutup kedua matanya. Berusaha menenangkan dirinya.

Sedangkan Jiyeon, ia hanya mampu terdiam melihatnya dari samping jok pengemudi.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Jongin tanpa berniat menoleh ke arah Jiyeon ataupun membukakan matanya.

“Baik!” Jawab Jiyeon yang masih menatap ke arah Jongin. Namja ini banyak berubah. Ia terlihat lebih dewasa dari 8 tahun lalu. Dia semakin tampan. Sungguh ia sangat merindukan sosok yang ada di sampingnya saat ini itu.

“Penyakitmu?” Tanyanya kembali.

“Sudah sembuh!” Jawab Jiyeon yang masih melihat sosok namja yang ada di sampingnya itu belum membukakan matanya.

“Menikahlah denganku!”

Jiyeon melebarkan matanya mendengar permintaan yang lebih tepatnya perintah keluar dari bibir seorang Kim Jongin.

“M-mwo?”

“Aku tidak menerima penolakan!” Jongin akhirnya membuka matanya dan menoleh ke arah Jiyeon yang tengah menunduk.

“Nae-naega…..”

“Kau ingin menolakku?” Potong Jongin.

“Bu-bukan begitu! Geunyang….. Apa kau tak ingin menanyakan sesuatu setelah 8 tahun berlalu?” Jiyeon masih menundukkan wajahnya. Sungguh ia merasa bersalah karena telah meninggalkan namja ini tanpa memberitahukan apapun padanya saat itu.

“Nan ara. Aku tau semuanya. Kau ikut bersama Appamu dan tinggal bersamanya. Kau berhasil melakukan operasi dan kau tetap hidup. Aku tidak tau kenapa eomma mu saat itu mengatakan bahwa hanya Appamu lah yang bisa menjaga dan merawatmu, entah karena Appamu lebih kaya dariku atau dia yang bisa menyembuhkan penyakitmu layaknya seorang dokter. Naega…….” Jongin menghentikan ucapannya saat mengingat kata dokter terucap dari mulutnya.
Kenapa ia malah teringat Wu Yi Fan?
Dokter yang dulu pernah memeriksa Jiyeon dan memberitahukan padanya tentang penyakit Jiyeon.
Mustahil kalau Wu Yi Fan itu adalah…..

“Wu Yi Fan. Dokter yang memeriksa ku waktu itu, dialah Appaku.”

Terjawab sudah pertanyaan tentang kehadiran Wu Yi Fan dalam makan malam keluarga hari ini.
Lalu namja yang pernah menemui Jiyeon di sekolah, apa ia juga salah satu keluarganya?

“Ba-bagaimana mungkin?” Jongin benar-benar terkejut dengan fakta itu.

“Hari di mana kita menginap di rumah sakit, beliau memeriksa identitasku. Ia langsung mengenal Park Hyomin sebagai orang tua ku satu-satu nya yang tertera dalam identitasku.” Jawab Jiyeon. Kini yeoja itu mulai mengangkat kembali wajahnya menatap Jongin.

“Appa meninggalkan eomma saat eomma tengah mengandungku. Appa meninggalkan Korea dan kembali ke China untuk melanjutkan study kedokterannya. Ia tidak tau bahwa yeoja Korea yang di kencaninya saat pertukaran pelajar yang mengharuskannya tinggal di korea beberapa bulan, tengah mengandung anaknya. Setelah itu, ia menemui eomma dan akhirnya ia tau bahwa aku sebenarnya adalah anaknya, ia langsung meminta maaf pada eomma dan meminta eomma memberikan hak asuh ku padanya untuk menebus semua kesalahnnya selama ini. Ia pun memberitahukan mengenai penyakitku dan meyakinkan eomma bahwa ia akan membuatku sembuh dan merawatku. Akhirnya eomma menyetujuinya.”

Jongin langsung merengkuh tubuh Jiyeon kedalam pelukannya.

“Mian. Aku sudah berjanji, tapi aku tak menepatinya. Aku bahkan tak berada di sampingmu saat kau mengalami masa-masa sulit!” Jongin mengelus lembut rambut panjang Jiyeon.

Jiyeon membalas pelukan Jongin dan hanya dapat menikmati setiap sentuhan yang Jongin berikan padanya.

“Ani. Mantramu sangat berguna. Karena janjimu itulah aku bisa bertahan hidup hingga sejauh ini!”

“Bagaimana dengan pria itu? Pria di samping Wu Yi Fan?” Tanya Jongin.

“Dia Park Taejun. Dia adalah dongsaeng dari eomma.” Jawab Jiyeon.

“Dia pamanmu?”

“Eum. Usianya memang tidak jauh denganku. Itu sebabnya aku memanggilnya oppa. Ia tidak suka jika aku memanggilnya samchon!” Jawab Jiyeon.

Jongin merutuki kebodohannya. Rasa cemburunya waktu itu yang mengikuti Jiyeon ke kafe sehingga membuatnya gelap mata dan membuat ia mendorong tubuh Jiyeon hingga masuk kedalam kolam renang malam itu, dia adalah paman Jiyeon. Orang yang telah membuatnya terbakar cemburu. Pabo!
Tapi ia harus berterimakasih padanya, karena ia hubungannya dengan Jiyeon sedikit ada peningkatan karena Jiyeon memeluknya setelah ia menyelamatkan Jiyeon yang tenggelam di kolam renang.

“Kenapa tak kembali setelah operasi selesai?” Tanyanya kembali.

“Banyak hal yang terjadi setelah operasi. Menjalani operasi selama 36 jam dalam keadaan tak sadarkan diri membuatku melupakan banyak hal ketika kembali tersadar. Dokter mengatakan itu hal yang wajar saat operasi telah usai di laksanakan. Aku harus kembali mengingat banyak hal. Termasuk bahwa kita ini adalah saudara tiri!” Jawab Jiyeon.

Jongin makin mengeratkan pelukannya.
Ya, kenyataan itu tidaklah berubah bahkan setelah 8 tahun berlalu. Mereka tetaplah bersaudara meskipun hanya saudara tiri.

“Biarkan saja! Aku tidak peduli! Kau saudara tiriku atau siapapun, aku tidak akan membiarkanmu kembali kabur dariku lagi. Naega….. ”

“Ck, lagi pula siapa yang mau kabur! Apa aku ini buronan yang harus kabur setiap saat!” Cibir Jiyeon.

“Aku tak akan kemanapun! Lagipula, meski kita memang saudara tiri, marga kita setidaknya berbeda. Aku tak seperti Jinhwan ataupun Hanbin yang sudah berganti marga menjadi Kim. Aku ini bermarga Wu. Wu Jiyeon!” Jelas Jiyeon.

“Ck, dan margamu akan sama berubahnya dengan Jinhwan dan juga Hanbin menjadi Kim setelah aku menikahimu!”

Keduanya terkekeh mendengarnya. Mereka lega. Sangat lega. Setidaknya tidak akan ada lagi hal yang akan memisahkan mereka.

“Apa kau mencintaiku?” Tanya Jiyeon mendongakkan wajahnya menatap Jongin.

Jongin yang ditanya hanya mengernyitkan keningnya.

“Kya! Bagaimana kau bisa mengajakku menikah tanpa mencintaiku, eoh?” Protes Jiyeon melepaskan pelukannya.
Ya, mereka memang tidak pernah mengatakan bagaimana perasaan mereka, namun mereka cukup tau apa yang di rasakan pasangan masing-masing.

Jongin langsung menangkup wajah Jiyeon dengan kedua tangannya, mengeliminasi secara perlahan-lahan jarak di antara dirinya dan juga Jiyeon.

“Saranghae!”

Pernyataan tulus itu akhirnya keluar juga dari mulut seorang Kim Jongin. Tatapannya yang lembut dan senyum manis yang ia berikan pada Jiyeon mampu membuat yeoja itu merona seketika. Baginya ini adalah sesuatu yang sungguh luar biasa membahagiakan.

“Na-nado saranghae!”

Jawaban Jiyeon berakhir dengan Jongin yang mencium bibir Jiyeon dengan lembut. Jiyeon hanya dapat menerima perlakuan Jongin terhadapnya, karena Jiyeon juga menginginkannya.
Biarkan saja kedua orang tua mereka menikah atau status mereka yang menjadi saudara tiri.
Yang mereka tau dengan jelas hanyalah bahwa mereka saling mencintai satu sama lain dan hanya itulah kebenaran yang dapat mereka terima.
.
.
.
.
.
Eotteokhae?
Coment Jusaeyo!

FF Sehun Jiyeon (HunYeon) Part 3 – Ending

image

           DREAM RACER
                     part 3 (END)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Oh Sehun ( EXO )

Other Cast :
Park Chanyeol ( EXO )
Suho ( EXO )
Siwan ( Ze:a )
Kim Ye Jin ( SM Trainee )

Songfict :
Hyomin ( T-ara) ft Sungmin ( Speed )  Fake it

Genre :
Romance, Friendship, Sad
(Idol Life)

Length :
Chaptered

A/N : Part Ending hadir.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Chanyeol, namja tinggi itu hanya terdiam sejak kembali ke dorm EXO.

~FLASHBACK ON~

“Apa kau mencariku, hyung?” Tanya Sehun seraya mendekat kearah Chanyeol disusul oleh Jiyeon.

“Apa semalam kalian bersama?”

“Eoh, ne. Kami tidur dihotel semalam.” Jawab Sehun polos.

“MWO?”

“Aniyo. Jangan berfikir yang tidak-tidak, Yeollie-ah! Kami hanya tidur satu ranjang. Eoh,maksudku kami tertidur pada ranjang yang sama.”

“Eum.” Tambah Sehun membenarkan ucapan Jiyeon.

~FLASHBACK OFF~

“Kya! Waegeurae? Akhir-akhir ini kau terlihat kacau, Park Chanyeol. Waegeuraesseo?” Tanya Suho yang duduk tepat disamping Chanyeol.

“Gwaenchanayo, hyung.” Jawab Chanyeol singkat.

“Sepertinya tahun ini menjadi tahun terberat untuk kita. Setelah Kris hyung, kini Baekhyun pun terlibat skandal. Kuharap kau dan Sehun serta anggota lain tidak terlibat dalam sebuah skandal apapun.” Ucap Suho menepuk lembut pundak Chanyeol. Namja itupun kembali meninggalkan Chanyeol seorang diri.

“Apakah ini saatnya? Apakah aku harus melepaskanmu dan merelakanmu bersama Sehun, Jiyeon-ah?” Batin Chanyeol.
.
.
.
.
.
“Kya! Kya! Kya! Ada apa denganmu, eoh?” Tanya sang sutradara.

“Jeoseonghamnida! Jeoseonghamnida!” Jawab Jiyeon seraya membungkukkan tubuhnya.

“Kau ini aneh sekali! Beberapa hari lalu kau terus mengomel tidak jelas. Sekarang kau bahkan terus saja tersenyum dan tertawa pada scene yang seharusnya kau terlihat begitu sedih.” Protes Siwan.
Saat ini keduanya tengah berada di lokasi syuting drama yang mereka berdua perankan.

“Oppa, bisakah kau membantuku?” Bisik Jiyeon.

“Mwo?”

“Aku sama sekali tidak bisa melakukan adegan itu sekarang, oppa! Suasana hatiku benar-benar sedang senang saat ini. Aku tidak bisa menampakkan ekspresi seperti itu. Jebal, oppa! Bisakah kita break sebentar? Kau pemeran utama disini, sedangkan aku hanya cameo. Kajja, oppa! Bicaralah pada sutradara. 5 menit. Eoh, 10 menit. Oppa!” Rengek Jiyeon.

“Aissh, kau benar-benar dongsaeng yang menyebalkan.” Keluh Siwan.
.
.
.
.
.
“Hyung!” Panggil Sehun pada Chanyeol yang hendak keluar dari dalam dorm.

“Wae?”

Sehun hanya menundukkan kepalanya.

“Kya! Waegeurae? Palli! Bicaralah! Sajangnim sedang menungguku saat ini!”

“Hyung, tentang Jiyeon……”

Chanyeol masih menanti ucapan yang akan dikeluarkan oleh Sehun.

“Tentang Jiyeon. Aku berjanji akan menjaganya. Aku tidak akan membuatnya bersedih apalagi menangis. Nan yaksokhae!” Tambah Sehun mantap.

Chanyeol terdiam. Aliran darahnya berdesir. Iapun kemudian menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas perasaannya begitu tenang saat mendengar semua ucapan Sehun.

“Lakukan, bukan hanya dengan ucapanmu, tetapi yang terpenting adalah, bagaimana kau menepati janjimu itu menggunakan tindakanmu.”

“Ne, hyung. Kau boleh membunuhku jika aku melanggarnya.”

Chanyeol terkekeh mendengarnya.

“Kya! Kenapa kau mengatakan itu semua padaku? Harusnya kau berjanji dihadapan yeojamu itu!”

“Aniyo. Aku hanya akan bertindak dihadapannya. Janjiku ini aku persembahkan untukmu, jyung. Karena kau, karena kau yang telah mempertemukanku dengannya. Karena kaulah aku bertemu dengan takdirku. Gomawo, hyung!”

Chanyeol kembali terdiam. Apakah ia merasakan sakit dalam hatinya?
Ia menyadari bahwa ialah yang telah mempertemukan keduanya. Karena ialah yeoja itu, yeoja yang sejak dulu ia sukai menjalin kasih dengan Oh Sehun. Benar, semua adalah kesalahannya sendiri.

“Sehun-ah! Kupegang janjimu itu! Kuharap kau tidak akan mengecewakanku lagi!”

“Eum. Nan yaksokhae!!

Chanyeol tersenyum seraya menepuk pelan pundak Sehun.

“Nan khalke!”

Sehun tersenyum melihat kepergian Chanyeol. Sedangkan Chanyeol, ia mengehembuskan nafasnya tersenyum lebar. Entahlah, ia merasa beban itu telah memudar secara perlahan. Apakah namja itu benar-benar bisa melepaskan Jiyeon?
.
.
.
.
.
“Kim Ye Jin-ssi!” Panggil Jiyeon pada yeoja yang tengah membelakanginya saat ini.
Setelah selesai syuting, Jiyeon langsung bergegas menuju pusat perbelanjaan yang tak jauh dari lokasi syutingnya itu.

“Jiyeon-ssi!” Gumam Ye Jin saat membalikkan tubuhnya.

“Eoh, kau mengenaliku? Hahaha…. Padahal aku sudah melepaskan seluruh riasan yang menempel pada wajahku ini.”

Ye Jin terdiam tak menjawab ucapan yang dilontarkan Jiyeon padanya.

“Eoh, apa yang kau lakukan disini? Eoh hahaha…. Tentu saja kau akan membeli barang yang kau butuhkan, bukan? Hahaa….”

Ye Jin terlihat menghembuskan nafas kesal mendengar lelucon Jiyeon yang menurutnya sama sekali tidak lucu itu.

“Mianhae!” Ucap Jiyeon menunduk saat melihat ekspresi tidak senang yang diperlihatkan oleh Ye Jin.

” Apa yang kau inginkan?” Tanya Ye Jin malas.

“Eoh?”

“Apa maumu memanggilku barusan?”

“Igo…..” Jiyeon tak meneruskan ucapannya, ia hanya mempoutkan bibirnya lucu.

“Kya!” Teriak Ye Jin kesal.

“Bisakah kita pergi bersama?” Tawar Jiyeon penuh harap.

“Mwo?”

“Kita sudah berada ditempat yang sama. Aku akan menemanimu dan kau juga menemaniku.”

Ye Jin menghembuskan kembali nafasnya.

“Eonniedeul, semuanya sedang sibuk dan tidak ada yang bisa menemaniku berbelanja. Oppadeul pun tidak ada yang bisa dihubungi. Maukah kau pergi bersamaku?” Ajak Jiyeon tulus.

Ye Jin langsung memicingkan matanya kearah Jiyeon.

“Apa kau tidak punya teman, eoh? Dimana teman-temanmu? Bukankah kau artis besar.”

Jiyeon tersenyum miris.

“Kau tau bukan skandal 2 tahun lalu mengenai T-ara?”

Ye Jin langsung memandang wajah Jiyeon yang terlihat menahan kesedihannya.

“Semenjak itu, aku jadi tau mana orang yang benar-benar dapat dijadikan sebagai seorang teman.” Jawab Jiyeon seraya tersenyum.

~DEG~

Ye Jin, hatinya bergetar saat melihat senyuman itu. Senyuman yang benar-benar tulus. Senyuman yang mampu memberitahukan pada semua orang bahwa ia baik-baik saja. Senyuman yang dapat menutupi segala kesedihan.

“Sejak dulu aku ingin sekali mengenalmu lebih jauh lagi, Ye Jin-ssi. Sejak Chanyeol memberitahukan bahwa ia tengah berkencan denganmu. Aku ingin berteman denganmu.”

“Bagaimana kalau aku ini sebenarnya adalah orang jahat?” Tanya Ye Jin menantang.

Jiyeon kembali tersenyum bahkan senyumannya kali ini lebih lebar dari sebelumnya.

“Kau orang baik. Itu sebabnya Chanyeol memilihmu.”

Lagi-lagi ucapan Jiyeon kembali menggetarkan hatinya. Andai yeoja itu tau bahwa ialah yang tengah berusaha merusak hubungannya dengan Sehun.

“Aku tidak mau menjadi temanmu dan aku bukanlah orang baik. Jangan pernah memanggilku lagi.” Ucap Ye Jin seraya pergi meninggalkan Jiyeon berusaha melawan hatinya yang mulai menerima keberadaan Jiyeon.

“Ye Jin-ssi! Kim Ye Jin-ssi!” Teriak Jiyeon.

~BUGH~

Ye Jin terjatuh saat tubuhnya tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang.

“KYA! NEO MICHEOSSEO!” Teriak seorang namja yang tak sengaja tubuhnya ditabrak oleh Ye Jin.
Ye Jin pun bangkit tanpa meminta maaf.

“Neo gwaenchana?” Tanya Jiyeon yang langsung menghampiri Ye Jin.
Ye Jin hanya mendelikkan matanya tanpa berniat untuk menoleh kearah Jiyeon sedikitpun.

“KYA! APA KAU JUGA TULI, EOH? SELAIN BUTA DAN JUGA GILA, TERNYATA KAU JUGA TULI!”

“Jeoseonghamnida! Jeoseonghamnida!” Jawab Jiyeon meminta maaf pada sang namja seraya membungkukkan tubuhnya berkali-kali.

Ye Jin memandang Jiyeon.
Berani sekali yeoja itu membungkukkan tubuhnya meminta maaf atas apa yang tidak ia lakukan? Batinnya.

“Aissh, kalau kalian bukan yeoja sudah kuhajar kalian!”

Jiyeon menarik kembali tubuhnya. Wajahnya tiba-tiba berubah begitu saja.

“W….Wae?” Tanya sang namja saat melihat tatapan horor yang Jiyeon berikan padanya.

“Kau bilang akan menghajar kami jika kami ini bukan yeoja? Hahaha…..”

Ye Jin memandang heran sosok Jiyeon yang tiba-tiba berubah menjadi begitu menyeramkan. Begitu pula dengan sang namja yang hanya bisa menelan salivanya mendengar Jiyeon tertawa aneh.

“K….KYA! BERHENTI TERTAWA! KAU SEMAKIN TERLIHAT GILA MELAKUKANNYA!”

Jiyeon langsung menghentikan tawanya dan kembali menatap horor sang namja.

“Benar-benar keterlaluan.” Gumam Jiyeon mengeraskan rahangnya.

~BUGH~

Ye Jin melebarkan matanya saat Jiyeon tanpa ampun memberikan tinjunya pada wajah sang namja. Meski ia tau Jiyeon menguasai ilmu beladiri, namun ia tak pernah menyangka sebelumnya akan menyaksikan kejadian itu secara langsung.

“Kalau sampai aku melihatmu lagi, aku akan benar-benar merontokkan seluruh gigimu itu.” Ucap Jiyeon saat aksinya terhenti karena menyadari ada banyak pengunjung yang menyaksikan aksinya.

Jiyeon, yeoja itu terlihat tertawa puas. Ye Jin yang berada disampingnya hanya memandang diam sosok yeoja pemberani itu. Ternyata Jiyeon jauh dari kata feminim.
Setelah menyelesaikan aksinya, Jiyeon langsung menarik tangan Ye Jin dan keluar dari dalam pusat perbelanjaan.

“Apa yang special?”

Jiyeon langsung menghentikan tawanya dan menoleh kearah Ye Jin.

“Ne?” Tanya Jiyeon tidak mengerti dengan pertanyaan Ye Jin.

“Neo!”

“Naega? Naega wae?” Tanya Jiyeon bingung.

“Apa yang membuat Chanyeol begitu menyukaimu?”

~DEG~

Jantung Jiyeon berdetak cepat saat mendengar pernyataan Ye Jin.
Chanyeol menyukainya?

“Sekarang aku mengerti.”

Jiyeon kembali menoleh kearah Ye Jin.

“Neo, yeoja yang apa adanya. Tidak peduli kau seorang idola ataupun orang biasa. Itulah kelebihanmu. Aku mengerti sekarang.”

Jiyeon menundukkan kepalanya. Difikirannya masih terngiang ucapan Ye Jin mengenai Chanyeol.
Apa itu benar?

“Jiyeon-ssi, mianhae untuk semuanya!”

Jiyeon kembali mengangkat kepalanya mendengar permintaan maaf Ye Jin padanya.

“Mworago?”

“Untuk Chanyeol dan juga Sehun. Aku akan berusaha menjadi sosok Ye Jin seperti dulu.” Jawab Ye Jin seraya tersenyum manis pada Jiyeon. Ini pertama kalinya Jiyeon melihat senyuman itu.
Jiyeonpun ikut menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Keduanya saling melempar senyum.
.
.
.
.
.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Sehun yang tengah menghubungi Jiyeon melalui android miliknya.

“Eopseo!” Jawab singkat Jiyeon yang tengah berada didalam kamarnya.

“Kau sedang menyembunyikan sesuatu?” Sehun memulai interogasi.

“Aniyo. Geunyang…….”

“Waegeurae?” Tanya Sehun semakin penasaran.

“Ani. Aniyo. Gwaenchana.”

“Errrr, palli katakan padaku!”

Jiyeon terdiam.
Apa ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Sehun?

“Waegeurae? Apa yang sedang kau pikirkan, eoh? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Sehun lembut.

“Hunnie-ah!”

“Eum!”

“Yeollie-ah…..”

~DEG~

Sehun bergetar saat Jiyeon menyebutkan nama hyungnya itu. Ia terdiam masih menanti ucapan Jiyeon selanjutnya.

“Aniyo. Hahaa…. Aku hanya merindukan si jangkung itu. Geurae, aku akan tidur terlebih dahulu. Jalja!”

Sehun hanya terdiam saat Jiyeon mengakhiri sambungan telephon darinya. Begitu pula dengan Jiyeon.
Apa yang yeoja itu pikirkan? Akhir-akhir ini ia terlihat begitu banyak memikirkan sesuatu.

~FLASHBACK ON~

“Annyeong!”

“Eoh, kau seorang trainee juga?”

“Ne.”

“Perkenalkan, naneun Park Chanyeol imnida.” Ucap sang
namja tinggi memperkenalkan diri.

“Ne. Naneun Oh Sehun
imnida. Bangabseumnida!”

Keduanya saling melempar senyum.

“Eoh, berapa usiamu?” Tanya Chanyeol.

“16 tahun.”

“Eoh, kita hanya terpaut 2 tahun Sehun-ah! Usiaku 18
tahun.”

“Eoh, jyung! Jeoseonghamnida!”

Chanyeol tertawa melihat Sehun yang terlihat begitu
sungkan saat mengetahui usianya jauh lebih tua dari
Sehun.

“Gwaenchana! Santai saja! Aku belum punya
banyak teman disini.”

“Hyung, sepertinya aku pernah
melihatmu sebelumnya.”

“Eoh, jeongmalyo?”

“Eum. Kontes model beberapa tahun lalu, aku melihatnya.
Kau juara 2 dan Jiyeon T-ara juara pertamanya.”

Chanyeol
mengusap lembut kepala Sehun. Ia lalu memperlihatkan
handphone miliknya.

“Igo?” Tunjuk Sehun saat melihat
wallpaper milik Chanyeol.

“Hyung, kau berteman dengan Jiyeon T-ara?”

Chanyeol hanya menganggukkan kepalanya.

“Eoh, jeongmalyo? Aigoo, aku adalah penggemar dari
Jiyeon T-ara. Jeongmalyo!”

“Kya! Panggil dia nuna.
Usianya 1 tahun lebih tua darimu.” Protes Chanyeol.

“Shirreo! Aku akan menjadikannya anaeku. Maka dari itu
aku tidak mau memanggilnya nuna.”

“Mwoga? Anae? Kau
bermimpi?”

“Hyung, apa jangan-jangan kau juga menyukainya eoh?”

Chanyeol memalingkan wajahnya saat dilempari pertanyaan
oleh Sehun.

“Eoh, sepertinya kau memang menyukainya.”

“Jangan bergosip! Kami hanya bersahabat. Arra?”

“Errrr…..”

Chanyeol kembali menatap wallpaper handphonenya. Foto
dimana dirinya yang tengah berpose bersama Jiyeon.
Sehun memandang Chanyeol yang tersenyum melihat
wallpaper miliknya sendiri.

~FLASHBACK OFF~
.
.
.
.
.
Namja tinggi yang mengenakan topi itu berjalan riang
menuju sebuah taman yang tak jauh dari dorm nya.

“Kau sudah menunggu lama?” Tanyanya pada sosok yeoja yang
tengah duduk menunggunya itu. Sang yeoja hanya
menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.

“Apa bocah itu membuatmu menangis lagi, eoh?” Tanyanya
seraya duduk tepat disamping sang yeoja. Sang yeoja
kembali menggelengkan kepalanya membuat sang namja
bingung.
“Kya! Waegeurae?”

“Yeollie-ah!”

Sang namja yang ternyata Park Chanyeol itu masih
menunggu ucapan yeoja yang ada disampingnya saat ini.

“Igo….”

“Ada apa denganmu, eoh? Kau terlihat aneh sekali,
Jiyeon-ah!” Tambah Chanyeol pada yeoja yang ternyata
Park Jiyeon itu.

Jiyeon, yeoja itu langsung menyerahkan
sebuah buku kecil berwarna merah pada Chanyeol. Buku
yang sedikit usang.

“Ige mwoya?”

“Itu buku diary ku.”

“Mwo?”

“Tempat dimana aku bercerita saat menemukan cinta
pertamaku.”

Chanyeol terlihat enggan membukanya.

“Bukalah!”

Chanyeol langsung menoleh kearah Jiyeon begitu pula
sebaliknya.

“Bacalah!” Tambah Jiyeon seraya tersenyum
manis pada Chanyeol.

Chanyeol, namja tinggi itupun
mulai membuka lembar demi lembar setiap tulisan tangan
Jiyeon.

Namja berambut panjang, namja yang bahkan terlihat lebih cantik darinya,
namja yang pintar memainkan gitar,
semua tulisan yang ada hanya menceritakan tentang namja manis berambut panjang.

Aliran darah Chanyeol terasa berdesir hebat dengan kemungkinan yang ia pikirkan tentang namja tersebut. Hingga pada lembar terakhir,

“Aku, aku melihatnya mencium seorang yeoja tepat didepan mataku. Rasanya tubuhku ini ingin ambruk seketika. Aku berusaha kuat dan tidak menunjukkan perasaanku. Sampai aku kembali ke dorm, aku menangis dengan sangat keras dan membuat para eonnie begitu mengkhawatirkan keadaanku. Hingga aku menyadari, bahwa aku harus melepaskan cinta pertamaku itu. Melepaskan Park Chanyeol.”

Chanyeol langsung menutup kembali buku diary itu dengan cepat.
Benarkah?

Namja itu langsung menoleh pada yeoja yang menuliskan isi diary itu. Dilihatnya yeoja itu masih setia memberikan senyum manisnya.

“Jiyeon-ah! Ige….”

Park Jiyeon, ia menghela nafasnya lega. Seperti batu besar yang mengganjal dalam hatinya sudah dapat didorong dan keluar.

“Ne. Namja itu adalah kau, Yeollie-ah! Namja yang menjadi cinta pertamaku.”

Chanyeol terdiam. Kembali ia merasa bersalah. Setelah menyakiti Ye Jin, yernyata ia pula telah menyakiti Jiyeon. Hanya karena ia yang tidak bisa melawan emosi dan rasa cemburunya. Kini ialah yang ternyata lebih terlihat seperti anak kecil. Mengikuti ego semata tanpa memikirkan hal lain untuk kedepannya. Tak ada yang berhak disalahkan selain dirinya sendiri.

“Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan juga Kim Ye Jin. Akupun tidak ingin menanyakannya. Geundae, gomawo untuk semuanya. Kau selalu melindungiku hingga akhir.”

Chanyeol, hatinya terasa perih. Andai waktu bisa terulang kembali, Ia ingin memperbaiki semuanya.

“Aku merasa lega karena telah memberitahukan semuanya. Kuharap kau tidak membenciku setelah ini semua!”

“Jiyeon-ah!”

“Ternyata benar kata orang-orang, kita tidak akan pernah berhasil dengan cinta pertama kita. Geundae, setidaknya karena gagal pada cinta pertama, kita dapat menemukan cinta terakhir kita. Dengan masa depan kita. Oh Sehun. Kau menggantikan masalaluku dengan memberikan masa depan untukku. Sepertinya kita berdua memang ditakdirkan untuk menjadi seorang sahabat untuk selama-lamanya. Kau adalah kado terindah yang tuhan berikan untukku. Gomawo, Yeollie-ah!”

Chanyeol, tangisnya sungguh tidak bisa ia tahan lagi. Kebodohan, keegoisan, keegoan, sikap pengecut, semua itu ada padanya. Sedangkan selama ini ia terus menyalahkan orang lain.

“Kya! Geumanhae! Kau ini seperti bayi saja! Aku tidak mungkin memberikanmu air susu!” Ejek Jiyeon berusaha mencairkan suasana.

“Jiyeon-ah, nan Joahae. Aku benar-benar menyukaimu. Geundae, kurasa semua ucapanmu benar. Aku tidak bisa mendapatkan cinta pertamaku karena sikap pengecutku selama ini. Oh Sehun, aku akan benar-benar melepaskanmu untuknya. Aku tidak akan membiarkanmu bersama namja lain selain dengan Oh Sehun. Aku mempercayakanmu padanya.”

Keduanya saling melempar senyum. Saling melepaskan cinta pertama mereka. Berusaha untuk mendapatkan masa depan mereka. Meraih impian keduanya.

“Eoh, aku menuliskan sebuah lagu untukmu, Jiyeon-ah!” Ucap Chanyeol.

“Eoh, jeongmalyo? Kau bisa menciptakan sebuah lagu?”

“Tentu saja. Namja manis ini multitalenta. Apa kau baru tau hal itu, eoh?” Jawab Chanyeol dengan bangganya.

“Errr, namja tinggi ini percaya diri sekali!”

“Kau harus membayarku untuk setiap baitnya. Lagu ini akan menempati chart pertama diberbagai tangga lagu.” Tambah Chanyeol percaya diri.

“Aisssh, kya! Aku tidak akan membayarmu sepeserpun. Ini harga yang harus kau bayar karena telah diam-diam menyukaiku sejak lama.”

“Mwo?”

Keduanya saling melempar ucapan. Saling memberikan lelucon. Saling tertawa bersama, membuat namja yang sedari tadi mendengar dan melihat mereka ikut memberikan senyuman mautnya.

“Yeonnie-ah, Chanyeol hyung, gomawo!” Batin sang namja.
.
.
.
.
.
“Bagaimana pertemuanmu dengan Chanyeol hyung?” Tanya Sehun pada Jiyeon.
Keduanya saat ini tengah berada disebuah kedai kecil. Tentu dengan atribut penyamaran yang mereka kenakan.

“Bukankah kau juga sudah tau!” Jawab Jiyeon seraya memakan Buldak yang sudah ia pesan.

“Mwo?”

“Kau membuntutiku, bukan? Kau melihat dan mendengar semuanya.”

Sehun hanya mengeraskan suaranya. Ternyata Jiyeon mengetahuinya.

“Apa judul lagu yang Chanyeol hyung ciptakan untukmu?” Tanya Sehun kembali.

“Kiss and Cry.”

“Kiss and Cry?”

“Eum. Itu akan menjadi soundtrack pada drama yang kumainkan. Akan diputar pada penayangan episode terakhir.”

Sehun hanya menganggukkan kepalanya.

“Wae? Apa kau cemburu?” Tanya Jiyeon.

“Aniyo. Aku tidak akan cemburu pada Chanyeol hyung.”

Jiyeon langsung menghentikan aksi makannya.

“Kalau dengan Siwan oppa?”

“Aku akan menghajarnya!”

“Errrrr, kau ini sadis sekali.”

Sehun hanya berdecak kesal mendengar ucapan Jiyeon.

Setelah selesai makan, Sehun mengantarkan Jiyeon kembali menuju dorm T-ara dengan berjalan kaki.

“Apa tidak lelah?” Tanya Sehun lembut.

Jiyeon langsung memeluk erat lengan Sehun seraya menggelengkan kepalanya.

“Apa yang kau harapkan dariku?” Tambah Sehun.

“Hanya satu.”

“Apa itu?”

“Tetaplah mencintaiku hingga akhir.”

Sehun tersenyum. Ia langsung mendekap erat tubuh Jiyeon. Jiyeonpun langsung membalas pelukan hangat dari namja yang amat ia cintai itu.

“Bisakah kau menungguku?” Bisik Sehun.

“Ne?”

“Tunggu aku hingga aku benar-benar menjadi namja yang pantas untukmu.”

“Eum.” Jawab Jiyeon seraya menganggukkan kepalanya.

“Aku akan menanti saat itu. Geundae…..” Ucap Jiyeon dan langsung melepaskan pelukannya.

“Wae?”

“Jangan melamarku didalam toilet!”

“Mwo?”

“Aku tidak mau moment penting itu dilakukan didalam toilet.”

“Hahaha…. Kau mengingat moment ciuman pertama kita?”

“Tentu saja!”

“Bagaimana rasanya?”

Jiyeon langsung tersipu malu ditanya seperti itu oleh Sehun.

“Wae?”

“Kenapa menanyakan hal semacam itu?” Protes Jiyeon yang semakin dibuat malu oleh Sehun.

Sehun tersenyum jahil saat melihat wajah Jiyeon yang semakin merona.

“Apa kau ingin merasakannya lagi?” Bisik Sehun tepat ditelinga Jiyeon.

“Kya!” Protes Jiyeon seraya memukul pelan dada Sehun.

“Namja mesum.” Gumamnya.

“Gwaenchana. Aku hanya akan berbuat mesum terhadapmu saja, chagi!”

“Geumanhae!”

Sehun tak henti menggoda Jiyeon membuat yeoja itu semakin merasa malu oleh setiap kata-kata manis yang Sehun ucapkan untuknya.

“Yeonnie-ah!”

Jiyeon langsung menatap Sehun intens begitu pula sebaliknya.

~CUP~

Jiyeon memejamkan matanya. Menikmati setiap sentuhan yang Sehun berikan padanya. Tak peduli kedepannya akan seperti apa, Jiyeon hanya ingin bersama namja itu hingga akhir. Namja yang mampu membuatnya bangkit dari cinta pertamanya yang gagal. Namja yang mampu memberinya kekuatan disaat semua orang berfikiran buruk tentangnya. Namja yang memberikannya kenyamanan disaat ia tengah bersamanya. Bukan Sehun yang mengidolakannya, melainkan ia yang mengidolakan sosok namja seperti Sehun.
Hingga akhir.
.
.
.
.
.
Akhirnya END juga.
Happy endingkan!
Walaupun kayaknya kurang panjang hahaha……
Jangan Lupa kasih kritik dan sarannya untuk FF Dream Racer ini.
Coment Jusaeyo!

FF Sehun Jiyeon (HunYeon) Part 2

image

                  DREAM RACER
                             (part 2)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Oh Sehun ( EXO )

Other Cast :
Park Chanyeol ( EXO )
Kim Ye Jin ( SM Trainee)
Siwan ( Ze:a )
Hyeri ( Girls Day )
Jungwook ( MC )
Suho ( EXO )
Kai ( EXO )
Donghae ( Super Junior )
D.O ( EXO )
Baekhyun ( EXO )
Park Hyomin ( T-ara )

Songfict :
Hyuna ( 4minute ) Red

Genre :
Romance, Friendship, Sad
(Idol Life)

Length :
Chaptered

A/N : Part 2 hadir. Pernah author publish di tanggal 14 Agustus 2014 silam.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
~FLASHBACK ON~

“Kim Ye Jin-ssi!”

“Ne?”

“Mianhae! Geundae, bisakah kau berpura-pura menjadi yeojachinguku?”

Ucapan Chanyeol membuat hati Ye Jin terasa perih.
Apa maksudnya dengan berpura-pura?
Bukankah Chanyeol sendiri yang mengatakan bahwa mulai hari ini ia adalah namjachinguya dihadapan Sehun dan juga Jiyeon?

“Mianhae karena aku sembarang mengatakan itu semua.”

Ye Jin tersenyum miris.
Apa maksudnya?
Pernyataan cintanya pada Chanyeol diabaikan begitu saja?

“Geurae, kajja kita lakukan!” Jawab Ye Jin.

“Jeongmal?” Chanyeol terlihat senang mendengarnya.

“Ne. Bukankah kita hanya perlu bersandiwara? Geundae, kita harus bersandiwara didepan siapa? Apa didepan semua orang? Eoh, apa mungkin didepan Oh Sehun dan juga Jiyeon?”

Chanyeol hanya terdiam menundukkan kepalanya membuat Ye Jin mengerti dengan jawaban atas pertanyaannya itu.

~FLASHBACK OFF~

“Apa kau dendam padaku?” Tanya Chanyeol.

“Mwo? Hahaha…. kau lucu sekali Park Chanyeol. Kau bilang aku dendam? Aku membantumu untuk mendapatkan yeoja yang kau inginkan. Apa menurutmu tindakanku itu sebuah dendam, eoh?” Sinis, itulah jawaban yang Ye Jin berikan.

“Kim Ye Jin-ssi, hanya kau dan aku yang tau mengenai hubungan Jiyeon dan juga Sehun. Kenapa kau melakukannya?”

“Park Chanyeol, jangan berfikiran negatif tentangku. Aku melakukannya karenamu. Hanya itu. Apa kau tidak mempercayaiku?” Ye Jin terdengar menantang.

Chanyeol hanya terdiam.
Kim Ye Jin, yeoja itu sungguh tidak bisa ditebak keinginannya.
.
.
.
.
.
“Geurae, Park Jiyeon. Kau harus tetap bersemangat. Park Jiyeon, fighting!” Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

“Waegeurae?” Tanya Siwan yang membawakan secangkir kopi hangat untuk Jiyeon.
Keduanya saat ini tengah berada dilokasi syuting drama yang mereka perankan.

“Ani. Aniyo.” Jawab Jiyeon seraya mengambil secangkir kopi dari tangan Siwan dan kemudian langsung meminumnya.

“KYA!” Teriak Jiyeon.

“Hahaha…. Kau ini masih saja ceroboh seperti dulu, Jiyeon-ah! Kopinya masih panas. Kemari!” Ucap Siwan seraya mengambil kembali kopi milik Jiyeon dan mulai meniupinya berusaha mengurangi rasa panas pada kopi yang ia bawa.

“Oppa!” Panggil Jiyeon.

“Eum?”

“Kau pernah berkencan?”

Pertanyaan Jiyeon tiba-tiba saja membuat Siwan menjadi tersendak, padahal ia tak sedang memakan apapun.

“Wae? Memangnya kenapa? Apa saat ini kau sedang berkencan dengan seseorang, eoh?” Tanyanya berusaha mengalihkan pertanyaan Jiyeon.

“Animida. Geundae, apa alasan seseorang memutuskan hubungannya? Menurutmu apa penyebab mereka mengakhirinya, oppa?” Tanya Jiyeon penasaran.

“Eum……” Siwan terlihat tengah berfikir.

“Ada 2 alasan.” Jawab Siwan pada akhirnya.

Jiyeon langsung menoleh ke arah Siwan bersiap menerima jawaban dari pertanyaannya itu.

“Pertama, karena ia bosan dan kedua, karena ada orang lain.” Lanjutnya.

Jiyeon langsung menundukkan kepalanya sedih membuat Siwan merasa bersalah atas jawaban yang ia berikan. Namja itu langsung meletakkan kopi yang ada ditangannya itu.

“Waegeurae? Apa kau berkencan dengan seseorang dan orang itu memutuskanmu, eoh?” Selidik Siwan semakin membuat perih hati Jiyeon.

“Aigoo, kenapa dikehidupan nyatapun kau selalu saja disakiti namja? Kukira hanya ada pada drama yang kau perankan saja!” Ejek Siwan berusaha mencairkan suasana.

“OPPA! Hiks…” Teriak Jiyeon seraya terisak. Ia kesal dengan ucapan Siwan yang semakin memperburuk perasaannya.

“Mi….Mianhae. Hahaha…. Geumanhae! Masih banyak namja yang menginginkan seorang Park Jiyeon.” Goda Siwan kembali berusaha mencairkan suasana.

“Oppa, apa itu berarti dia sudah tidak mencintai kita lagi?”

Siwan merasa iba. Ini pertama kalinya semenjak skandal grup yeoja itu 2 tahun lalu melihat Jiyeon kembali bersedih.

“Eoh, Oh Sehun dan Boa? Apa mereka berkencan?” Tanya seorang staf drama yang tengah melihat isi berita didalam layar android miliknya.
Siwan dan Jiyeon yang mendengarnya langsung menoleh.

“Oppa!”

“Eum.”

“Kau mengenal Boa eonnie, bukan? Kalian pernah terlibat dalam drama yang sama, bukan?”

“W….Wae? Kenapa kau menanyakan hal itu?” Tanya Siwan balik.

“Kau berkencan dengannya?” Selidik Jiyeon.

“MWO?”

“Aigoo, Boa eonnie bahkan 2 tahun lebih tua darimu. Bagaimana kalian menjalani hubungan beda usia itu? Kenapa kau menyukainya? Dan apa ini? Oh Sehun dan Boa eonnie? 7 tahun? Apa Oh Sehun itu gila? APA TIDAK ADA YEOJA YANG LEBIH MUDA LAGI? KENAPA DIA MEMILIH YEOJA YANG 7 TAHUN LEBIH TUA DARINYA DIBANDING DENGAN YEOJA YANG LEBIH TUA DARINYA 1 TAHUN? APA YANG 1 TAHUN LEBIH KELIHATAN TUA DIBANDING DENGAN YANG 7 TAHUN?”

Siwan melebarkan mulutnya mendengar ocehan Jiyeon.
Ada apa dengan yeoja ini? Batinnya ketakutan.

Jiyeon kemudian berdiri seraya mengepalkan tangan kanannya.

“Park Jiyeon, FIGHTING!” Ucapnya seraya mengangkat tangan kanannya yang mengepal.
.
.
.
.
.
“Hyung!” Panggil Sehun seraya menghampiri Chanyeol.

“Wae?” Tanya Chanyeol malas.

“Kau masih marah padaku?” Tanya Sehun merasa bersalah.

“Neo! Kau melakukannya karena Jiyeon, bukan? Adeganmu dengan Boa eonnie?” Cecar Chanyeol.

Sehun tertunduk. Adegan mesra yang ia lakukan bersama Boa memang untuk membalas dendam pada Jiyeon.

“Kau ternyata masih seperti anak kecil. Kupikir kau sudah dewasa. Ternyata usiamu sekarang tidak menjamin kau dapat berfikiran dan bersikap dewasa.” Tambah Chanyeol yang langsung bangkit dan meninggalkan Sehun.
.
.
.
.
.
Jiyeon terlihat menghembuskan nafasnya membuat Hyeri dan juga Jungwook partnernya sebagai MC disebuah acara musik bernama MTV THE SHOW langsung menoleh kearah yeoja itu.

“Waegeurae?” Tanya Hyeri.

“Neo appo?” Tambah Jungwook.

“Kenapa mesti ada EXO? Aisshhh…. ” Batin Jiyeon.

Hyeri dan Jungwook saling memandang penuh tanya karena Jiyeon yang tidak menjawab pertanyaan keduanya.

Jiyeon, Hyeri dan juga Jungwook akhirnya mulai melakukan tugas mereka sebagai pembawa acara musik. Hingga tiba saat EXO diwawancara diback stage oleh Jiyeon dan juga Hyeri.

“EXO, bagaimana dengan world tour kalian?” Tanya Hyeri.

“Kami melakukannya dengan penuh semangat. Bertemu dengan para fans dari berbagai negara membuat kami semakin ingin bekerja lebih keras dan lebih baik lagi.” Jawab Suho sang leader.

“Apa kalian tidak lelah?” Tanya Jiyeon.

“Tentu saja tidak. Karena banyak fans yang selalu mendukung kami. Kurasa kau juga salah satunya, Jiyeon-ssi!”
Ucapan Chanyeol membuat semuanya tertawa terkecuali Sehun yang seolah enggan untuk memandang Jiyeon.

“Chanyeol-ssi, tentu saja aku adalah salah satu fans dari kalian. Naega, EXO L. EXO, FIGHTING!” Jiyeon membalas gurauan Chanyeol dan kembali mengundang tawa tanpa mereka sadari bahwa Chanyeol dan juga Jiyeon bersahabat baik.

Sehun, namja itu langsung menoleh menatap Jiyeon saat Jiyeon membalas ucapan Chanyeol. Mata keduanyapun akhirnya bertemu, membuat Jiyeon merasa kikuk. Tak lama EXO pun akhirnya perform membawakan lagu andalan mereka yakni OVERDOSE.

“KYA! KAU BERKENCAN DENGAN JIYEON NUNA, EOH?” Tanya Kai terkejut saat meminjam android milik Sehun dan tak sengaja melihat fotonya bersama dengan Jiyeon.

Sehun langsung mengambil kembali android miliknya dari tangan Kai.

“Memangnya kenapa, eoh?” Balas Sehun kesal.

“Aigoo, pantas waktu itu kau memusuhiku selama seminggu setelah Jiyeon nuna mengatakan pada media bahwa ia mengidolakanku sebagai dancer terbaik di EXO.” Sindir Kai.

Sehun hanya terdiam seraya menyimpan kembali android miliknya kedalam saku jaketnya.
Setelah selesai perform, Kai dan juga Sehun langsung bergegas menuju toilet.

“Kya! Neo eodiga?” Tanya Kai yang melihat Sehun berjalan pergi meninggalkannya.
Kaipun langsung berlari mengejar Sehun.

“Bagaimana rasanya berkencan dengan idolamu sendiri, eoh?” Tanya Kai seraya merangkul pundak Sehun.

“Wae? Kau iri padaku karena dapat berkencan dengan idolaku, Eoh?” Sinis Sehun.

“Errrrr, kau sombong sekali. Seperti apa Jiyeon nuna? Kau dan Baekhyun hyung bernasib sama. Sama-sama berkencan dengan yeoja yang usianya lebih tua.”

Sehun langsung menghentikan langkahnya.

“Kalau kau iri, maka berkencan pulalah dengan yeoja yang lebih tua darimu. Jangan mengatakan ini dan itu! Kau bahkan belum pernah berkencan sebelumnya!”
Balas Sehun semakin kesal.

“Kya! Kenapa mengatakan hal itu? Aku hanya bertanya bagaimana rasanya berkencan dengan idolamu. Itu saja!” Kai ikut terpancing emosi.

“Bagaimana rasanya? Rasanya biasa saja! Bahkan akan lebih menyenangkan jika kau berkencan dengan yeoja yang bahkan bukan kau jadikan idola. Atau kau harus mengidolakan seseorang yang lebih muda darimu. Itu akan lebih terlihat normal saat kau menjadikannya kekasihmu.”

Kai terdiam mendengar jawaban Sehun membuat Sehun heran dengan sikap aneh Kai.

“Wae?”

Kai hanya tersenyum miring berusaha mengisyaratkan Sehun untuk membalikkan wajahnya.
Sehun yang mengertipun langsung menoleh.
Matanya melebar saat menemukan sosok Jiyeon yang tepat berada dibelakangnya itu.

Jiyeon, yeoja itu hanya tersenyum. Berusaha terlihat kuat didepan namja yang beberapa hari lalu memutuskan hubungan mereka tanpa alasan apapun.

“Yeonnie-ah!” Lirih Sehun masih dengan keterkejutannya.
Apa Jiyeon mendengar  ucapannya?

“Geurae, sebaiknya saya permisi dulu. Annyeong!” Ucap Kai formal seraya membungkukkan tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan keduanya.

Sehun, namja itu terlihat canggung saat bertemu Jiyeon. Apa yeoja itu mendengar semua ucapannya barusan?

Sedangkan Jiyeon, ia menyilangkan kedua tangannya tepat didepan dadanya. Ia masih menunggu penjelasan mengenai apa yang baru saja Sehun ucapkan tentangnya.

“B…..Bagaimana kabarmu?”

Jiyeon tak menjawab. Yeoja itu masih menatap intens namja yang ada dihadapannya saat ini.

“Oppa!” Panggil Jiyeon membuat Sehun mengangkat kepalanya.

Jiyeon lalu berjalan melewatinya begitu saja.

“Kau datang!” Sambut Jiyeon.

“Eum.” Jawab sang namja yang dipanggil oppa oleh Jiyeon.

“Eoh, Sehun-ah!” Panggil sang namja membuat Sehun menoleh kearahnya.

“Donghae hyung!”

“Apa kalian berdua saling mengenal? Kulihat kalian berdua sedang bersama.” Tanya namja yang ternyata adalah Lee Donghae salah satu anggota dari grup senior, Super Junior.

“Tenti saja. Dia ini salah satu fans boys ku, oppa. Apa kau belum mengetahuinya?” Sindir Jiyeon di tujukan pada Sehun.

“Eoh, kau sudah tau bahwa Sehun sangat mengidolakanmu Jiyeon-ah?” Donghae nampak terkejut mendengarnya.

“Eum. Dia bahkan memimpikan aku menjadi yeojachingunya hahaha….”

Ucapan Jiyeon sukses membuat Donghae terkekeh mendengarnya. Sedangkan Sehun, namja itu merasa kesal. Apa maksudnya Jiyeon mengatakan itu semua tentangnya?
Apa yeoja itu tengah membalasnya saat ini?

“Kau ini percaya diri sekali, Jiyeon-ah! Geundae…..” Donghae langsung melirik Sehun yang masih terdiam.

“Bocah yang ada dihadapanmu itu memang sangat mengidolakanmu sebelum ia debut bersama EXO.”

Sehun memandang Donghae kesal.
Bocah?
Donghae mengatainya bocah? Bahkan hyung yang begitu dekat dengannya seenaknya saja mengejeknya?
Bagus! Ini hari tersial bagi Sehun.
Hyung terdekat, bahkan yeoja yang masih sangat ia cintai saat ini, mereka tengah membully nya.

“Hyung, aku pamit. Para hyung yang lain pasti sudah menungguku saat ini. Annyeong!” Ucap Sehun membungkukkan tubuhnya tepat dihadapan Donghae tanpa menoleh sedikitpun kearah Jiyeon lalu berjalan meninggalkan keduanya.

“Ada apa dengan anak itu? Sepertinya mood nya sedang tidak baik.” Gumam Donghae.

“Nappeun namja!” Gumam Jiyeon kesal.

“Ne?”

“Aniyo. Hahaha….. Oppa, apa kau tidak ada kesibukan hari ini? Temani aku minum!”

“Mwo?”

“Wae?”

“Sejak kapan kau minum, eoh?” Tanya Donghae penuh selidik.

“Hanya bir, oppa. Kajja!” Jawab Jiyeon seraya menggandeng lengan Donghae yang memang sudah sangat akrab dengannya.

“Eotteokhae?” Bisik Kai pada Sehun.

“Mwo?” Tanya Sehun tidak mengerti.

“Nuna?”

Sehun masih tidak mengerti dengan apa yang Kai maksud.

“Aigoo, yeojamu. Park Jiyeon.”
Ucapan Kai langsung membuat para member EXO menoleh kearahnya terkecuali Chanyeol.

“Kya! Apa yang kau bicarakan, Kai? Siapa yang kau maksud yeojamu? Apa Sehun tengah berkencan?” Selidik manager EXO yang tengah mengendarai mobil van saat ini.
Setelah acara MTV THE SHOW berakhir, EXO langsung kembali menuju dorm.
Kai langsung membuang wajahnya sebelum sang manager menanyainya lebih jauh lagi.

“Kya! Waegeurae?” Tanya D.O pada Kai.

Kai tak menjawab. Ia masih menutup rapat mulutnya.
.
.
.
.
.
“Kya! Geumanhae!” Perintah Donghae mencoba menghentikan Jiyeon meminum birnya.

“Kau sudah meminum lebih dari 5 bir, Jiyeon-ah! Kau bisa mabuk!” Protes Donghae.

“Gwaenchana, oppa. Hanya kali ini saja. Hik.” Jawab Jiyeon yang sepertinya sudah mulai mabuk.

“Apa telah terjadi sesuatu yang buruk, eoh?” Tanya Donghae khawatir.

Jiyeon tak menjawab. Ia kembali meminum birnya.

“Kalau Yesung hyung tau kau mabuk seperti ini, habislah aku!” Gumam Donghae.

“Oppa, aku merindukan Yeppa.” Racau Jiyeon.
Jiyeon memang sangat akrab dengan main vocal Super Junior itu. Yesung sudah menganggap Jiyeon seperti adiknya sendiri begitu pula dengan Jiyeon yang menganggap Yesung seperti kakaknya sendiri. Bahkan para netizen mengira mereka berdua berkencan karena banyaknya benda serupa yang mereka kenakan.

“Aissh, kau menjadikan Yesung hyung sebagai alasan. Saat ia akan WaMil, ia menitipkanmu padaku. Sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Masalah apa yang sedang kau alami saat ini? Apa ada yang mengganggumu, eoh?” Cerocos Donghae.

Jiyeon malah tertawa mendengar Donghae yang begitu mengkhawatirkannya.

“Aissh, yeoja ini! Kya! Cepat ceritakan apa masalahmu! Apa ini berkaitan dengan namja, eoh?” Donghae kembali menelisik.

Jiyeon, yeoja itu malah terisak membuat Donghae semakin bingung.

“Hiks….”

“Kya! Kya! Kya! Waegeurae?” Donghae mulai panik.

Jiyeon, yeoja itu mulai menangis. Hatinya terasa perih. Sehun, namja itu masih menempati posisi pertama didalam hatinya.

“Aissh, geumanhae! Orang-orang akan berfikiran buruk tentangku nantinya!” Bisik Donghae seraya menolehkan wajahnya kekanan dan kiri. Hampir seluruh pengunjung menoleh kearahnya saat Jiyeon menangis.
Keduanya saat ini tengah berada disebuah minimarket.
Donghae yang mengenakan topi membuat pengunjung tidak mengenalinya. Sedangkan Jiyeon, ia hanya perlu menghapus riasan diwajahnya maka tak ada satupun yang mengenalinya selain mereka yang benar-benar dekat dengan yeoja itu.

Donghae, androidnya tiba-tiba berdering dan mengharuskannya untuk menjawab panggilan masuk pada androidnya itu.

“Wae?” Tanya Donghae saat menjawab panggilan masuk pada androidnya.

“Ne. Algaesso.” Donghaepun meletakkan kembali android miliknya kedalam saku jaket yang saat ini tengah ia kenakan.

“Jiyeon-ah, oppa akan mengantarmu kembali ke dorm. Oppa harus pergi sekarang!”

“Shirreo! Aku masih ingin disini. Oppa pergilah! Hik.” Jawab Jiyeon yang mulai menghentikan aksi minumnya.
Namun nampaknya ia benar-benar mabuk sekarang.

“Aissh, bagaimana bisa aku meninggalkanmu disini seorang diri!” Gumam Donghae.

Donghae lalu mengambil handphone milik Jiyeon yang sedari tadi Jiyeon mainkan.
Yeoja itu terlelap membuat Donghae tidak kesulitan untuk mengambilnya.

“Untung tidak menggunakan password” Gumam Donghae yang mulai menyentuh layar handphone Jiyeon.

“Eoh, yeoboseyo! Ige Donghae imnida. Lee Donghae. Jiyeon saat ini tengah bersama denganku. Geundae, ia terlalu banyak minum bir dan mabuk. Saat ini ia tengah terlelap. Saya tidak bisa mengantarkannya kembali ke dorm karena ada hal lain yang harus saya kerjakan…..”
Donghae akhirnya memberitahukan alamat dimana Jiyeon berada saat ini.

“Apa itu Hyojoon?” Gumam Donghae saat menutup sambungan telephon milik Jiyeon.
Hyojoon, ia adalah oppa kandung Jiyeon yang usianya hanya terpaut lebih tua 1 tahun dari Jiyeon.

“Kenapa Hyojoon diam saja? Apa dia mendengarku?” Tambah Donghae.

“Kya! Jiyeon-ah! Hyojoon akan segera datang menjemputmu! Kurasa panggilan cepat nomor 1 dihandphone mu itu adalah Hyojoon.” Pikir Donghae.

“Pokoknya dia akan datang kesini. Oppa akan pergi terlebih dahulu. Khalke!” Ucapnya pada Jiyeon yang sudah terlelap.

Sementara itu, Sehun, ia langsung bergegas keluar dari dalam dorm saat Donghae menghubunginya melalui handphone milik Jiyeon.

“Mau kemana anak itu?” Tanya Baekhyun.

Chanyeol yang tengah bersama Baekhyun melihat kepergian Sehun hanya terdiam. Setidaknya ia tau apa yang tengah Sehun pikirkan saat ini.

“Bagaimana hubunganmu dengan Taeyeon nuna?” Tanya Chanyeol.

“Mwo? Bukankah sudah kukatakan itu hanya sebuah kesalahpahaman.” Jawab Baekhyun takut.

“Kau menjadikan Taeyeon nuna sebagai sebuah permainan. Saat Taeyeon nuna mengiyakan hubungan kalian, kau malah mengatakan itu hanya sebuah kesalahpahaman. Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan? Kau menyakiti banyak orang. Jika kau tidak mau mengakhirinya, maka jangan memulainya sejak awal. Kau sama sekali bukan namja yang bertanggung jawab.” Ucap Chanyeol seraya meninggalkan Baekhyun yang terlihat kesal.

“Ada apa dengan namja itu? Kenapa akhir-akhir ini dia begitu sensitif?” Gumam Baekhyun.

Sehun, saat ini namja itu tengah menggendong tubuh Jiyeon diatas punggungnya. Ia langsung membawa Jiyeon keluar setelah tiba ditempat yang diberitahukan Donghae padanya.

“Hyojoon oppa!” Racau Jiyeon.
Sehun tak menjawab. Ia tau bahwa Jiyeon mengira dirinya adalah Hyojoon. Saat Donghae menghubunginya, ia hanya terdiam karena ia amat hapal dengan suara Donghae sejak awal. Meskipun ia sangat dekat dengan hyungnya itu, namun ia belum memberitahukan perihal hubungannya dengan Jiyeon. Sejauh ini, selama 2 tahun, hanya Chanyeol lah yang mengetahuinya.

“Kenapa namja itu begitu jahat? Setelah ia berhasil membuatku jatuh cinta padanya, ia dengan teganya mengakhiri semuanya. Nappeun namja.”

Sehun, ia langsung menoleh saat Jiyeon mengatakan itu semua. Ia mengerti siapa namja yang dimaksud Jiyeon.

“Oppa, Siwan oppa mengatakan bahwa aku ini yeoja menyedihkan. Baik didalam drama maupun kehidupan nyata, aku selalu saja dicampakkan namja.”

Sehun menghembuskan nafasnya saat Jiyeon menyebutkan nama Siwan.

“Oppa….” Jiyeon semakin mengeratkan lengannya.

“Aku mencintainya. Benar-benar mencintainya. Hiks….”
Jiyeon, Yeoja itu terisak membuat Sehun menghentikan langkahnya.

“Jangan memandangku, oppa! Dongsaengmu ini memang sangat menyedihkan!” Racaunya saat namja yang ia kira Hyojoon hendak menoleh kearahnya.

“Ige mwoya? Naega eotteokhae, oppa? Hiks…” Tangisnya.

Sehun, namja itu kini mengerti. Yeoja yang selama ini ia cintai, yeoja yang dengan tega ia campakkan, ternyata benar-benar mencintainya. Ia baru menyadari bahwa Jiyeon benar-benar tulus mencintainya.

“Oppa, aku tidak ingin kembali ke dorm saat ini. Hyomin eonnie pasti akan mengejekku. Aku ingin pulang bersamamu, oppa!” Tambah Jiyeon yang mulai berhenti menangis.
Yeoja itu kemudian merebahkan kepalanya tepat dipunggung Sehun dan kembali terlelap.

Melihat Jiyeon yang mulai tenang, Sehunpun kembali melanjutkan langkahnya.
.
.
.
.
.
“Yejin-ssi!”

“Waegeurae? Tumben sekali kau ingin menemuiku.”

“Mianhae!” Ucap Chanyeol seraya menundukkan kepalanya.

“Mwo?” Ye Jin nampak tak mengerti.

“Untuk kejadian 2 tahun lalu.” Jawab Chanyeol

“Hahahha… Ada apa denganmu, Park Chanyeol? Untuk apa kau meminta maaf?”

“Karena aku, kau jadi seperti ini! Jadilah Kim Ye Jin yang ceria seperti dulu sebelum kau mengenalku! Jadilah Kim Ye Jin yang dapat berteman dengan siapapun!” Tambah Chanyeol.

“Hahahha….. Kau ini! Kau pikir aku kenapa? Selama ini aku baik-baik saja!” Balas Ye Jin bohong.

“Mianhae karena mengabaikan perasaanmu. Geundae, berhentilah menyukaiku! Jangan membenci Park Jiyeon! Berhenti mengganggu hubungan Jiyeon dan juga Sehun. Kalau kau ingin menyalahkan seseorang, maka akulah orang itu!”

Ye Jin, ia mengepalkan tangannya. Entah kenapa ia begitu kesal melihat Chanyeol yang begitu melindungi Jiyeon.

“Kembalillah seperti dulu! Menjadi Kim Ye Jin yang apa adanya.” Ucap Chanyeol seraya membungkukkan tubuhnya.
.
.
.
.
.
Jiyeon, yeoja itu dengan perlahan membukakan kedua matanya.
Kedua alisnya menaut saat menyadari tempat dimana ia berada saat ini.

“Ige eodiseo?” Batinnya.
Matanya melebar saat mendapati sosok namja yang tengah terbaring tepat berada disampingnya saat ini.

“KYA!” Teriak Jiyeon membuat sang namja langsung terlonjak bangun dari tidurnya.

“Wae? Wae? Wae?” Tanyanya panik. Kedua matanya mas
ih belum sempurna terbuka.

“NEO? APA YANG KAU LAKUKAN, EOH?” Teriak Jiyeon seraya memukul tubuh sang namja.

“KYA! KYA! KYA! GEUMANHAE!”

“DASAR NAMJA MESUM!”

“KYA!”

“APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADAKU EOH, OH SEHUN!”
Sehun, namja yang ternyata Sehun itu berusaha menghentikan aksi Jiyeon dengan menangkap kedua tangan yeoja itu. Membuat yeoja itu kembali terbaring dan ia pun tepat terjatuh diatas tubuhnya.
Kedua mata Sehun mengerjap secara perlahan.
Posisi apa ini?
Ia pernah melihatnya dalam video yang dimiliki Kai.

Jiyeon, ia hanya menelan salivanya gugup.

“Nappeun namja!” Gumam Jiyeon membuat Sehun terbangun dari pikiran-pikiran anehnya.

“Aku sama sekali tidak melakukan hal apapun! Kita hanya tidur bersama! Maksudku, hanya tidur dalam satu ranjang yang sama. Jangan berfikiran buruk tentangku! Aku bahkan tidak menyentuhmu sama sekali semalam.”

Jiyeon terdiam. Ia mulai mencerna baik-baik ucapan Sehun.

“Mianhae. Mianhae karena selama ini aku bertindak kekanakan. Mianhae karena selama ini aku masih berfikiran seperti anak kecil. Mianhae untuk semua yang sudah kulakukan padamu. Geundae, sejak dulu hingga sekarang, hanya kaulah yeoja yang aku sukai. Bukan hanya kujadikan sebagai seorang idola, namun ingin kujadikan pendamping hidupku kelak. Ingin menjadikanmu yeoja yang seutuhnya milikku.”

Jiyeon, air matanya lolos begitu saja keluar dari sarangnya.

“Geumanhae!” Ucap Sehun lembut seraya menghapus air mata Jiyeon secara perlahan menggunakan ibu jarinya.

“Kenapa kau mengatakan itu semua setelah kau mencampakkanku begitu saja? Apa yang kau inginkan sebenarnya? Hiks…”

“Mianhae untuk beberapa hari yang lalu. Untuk semua ucapan dan tindakan yang kulakukan yang sudah pasti menyakitimu. Kembalilah padaku!” Pinta Sehun tulus.

Jiyeon tak menjawab. Yeoja itu malah semakin terisak.

“HIKS…..”

“Geumanhae!” Tambah Sehun dan langsung memeluk tubuh Jiyeon.

“Nappeun namja! Nappeun namja! Hiks…” Ucap Jiyeon parau.

Sehun semakin mempererat pelukannya, berusaha memberi ketenangan pada yeoja itu.

“Mian.” Bisik Sehun.

Sehun, ia melepaskan pelukannya saat tidak lagi mendengar Jiyeon menangis.
Wajah Jiyeon terlihat sembab.
Ia memandang yeoja itu secara intens.
Yeoja itu tetap terlihat cantik meskipun tanpa mengenakan riasan diwajahnya.
Sungguh ia menyesal telah menyakitinya.

Sehun, namja itu secara perlahan mendekatkan wajahnya. Berusaha meraih bibir ranum yeoja yang ada dibawah tubuhnya saat ini.

~CUP~

Jiyeon secara perlahan memejamkan matanya saat Sehun mulai menjelajahi bibirnya. Mulai menggigit kecil bibirnya. Sepertinya namja itu sudah mulai berani melakukan hal itu tanpa malu lagi.
.
.
.
.
.
“Chanyeol-ssi?” Tanya Hyomin saat melihat sosok namja tinggi yang tengah berdiri bersandar pada dinding pagar dorm T-ara.

“Eoh, Hyomin nuna?”

“Sedang apa kau disini? Kenapa tidak menekan bel nya? Kajja kita masuk!” Ajak Hyomin ramah. Ia salah satu yang mengetahui bahwa Chanyeol bersahabat baik dengan Jiyeon.

“Aniyo. gwaenchana. Aku hanya sedang menunggu Jiyeon. Apa dia belum bangun? Aku tidak bisa menghubunginya!”

“Jiyeon? Semalam dia tidak kembali ke dorm. Dia  mengatakan akan bertemu dengan Donghae oppa setelah itu akan kembali pulang kerumah orangtuanya.” Jawab Hyomin.

“Donghae hyung?”

“Ne. Sepertinya mereka membuat janji. Eoh Chanyeol-ssi, kau yakin tidak mau menunggu didalam? Aku harus segera pergi. Kau tau bukan aku sedang promosi album soloku?”

“Ne, nuna. mianhae karena membuat nuna kehilangan waktu nuna.”

“Hahaha…. Gwaenchana. Jangan sungkan terhadapku. Eoh, Kklau kau bertemu Sunny, tolong sampaikan salamku padanya!”
Sunny, ia adalah sahabat Hyomin yang satu agensi dengan Chanyeol. Sunny adalah salah satu anggota dari grup besar, SNSD.

“Ne, akan kusampaikan nanti.”

“Gomawo, Chanyeol-ssi. Geurae, nan khalke!” Pamit Hyomin berjalan menuju mobil van yang akan mengantarkannya menuju tempatnya melakukan showcase.

Chanyeol, ia terlihat bingung. Ia baru mengetahui bahwa Jiyeon akrab dengan artis SM lainnya selain dengannya dan juga Luna dari F(x). Mungkin karena Jiyeon lebih dulu debut dibandingkan dengannya sehingga kini Jiyeon memiliki banyak teman dari agensi lain.

“Yeollie-ah!”

“Hyung!”
.
.
.
.
.
Nantikan next part nya!
Ditunggu kritik dan sarannya!

FF Sehun Jiyeon (HunYeon)

image

              DREAM RACER
                           (Part 1)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Oh Sehun ( EXO )

Other Cast :
Park Chanyeol ( EXO )
Kim YeJin ( SM Trainee )
Park Hyomin ( T-ara )
Suho ( EXO )
Kai ( EXO )
D.O ( EXO )
Baekhyun ( EXO )
Siwan ( Ze:a )

Songfict :
BTS If I Ruled The World

Genre :
Romance, Friendship, Sad (idol lfe)

Length :
Chaptered

A/N :
Akhirnya FF ke 13 diposting juga. Pernah author publish di tanggal 13 Agustus 2014 silam.
Semoga HunYeon Couple ini tidak mengecewakan para readers.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
“HYUNG!” Teriak seorang namja berambut putih.

“Wae?” Tanya namja tinggi yang tengah asyik memainkan PSV (bener ga tuh nulisnya? 😀 ) miliknya.

“Ige mwoya?” Rengek sang namja berambut putih itu seraya duduk disamping sang namja tinggi.

“Wae wae wae?” Tanya namja tinggi yang mulai kesal. Ia akhirnya meletakkan PSV yang sedari tadi ia mainkan diatas meja.

“Waegeurae Oh Sehun-ssi?”

“Aissh, jangan bercanda denganku! Saat ini aku sedang tidak ingin bercanda, hyung!” Jawab namja yang ternyata bernama Oh Sehun itu dengan kesal.

“Errr, kau ini aneh sekali Sehun-ah. Ada apa denganmu, eoh?” Tanya sang namja tinggi mulai penasaran.

“Ige!” Namja bernama Sehun itu langsung memberikan android putih pada namja tinggi yang ada disampingnya saat ini.

“Apanya yang salah?” Tanya namja tinggi heran saat melihat tak ada gambar aneh didalam android putih milik Sehun itu.

“KYA! INI JELAS SALAH! BAGAIMANA BISA PARK JIYEON DISENTUH NAMJA LAIN! APA KAU MULAI MENGKHIANATIKU DAN MEMILIH MENYETUJUI JIYEON BERSAMA NAMJA ITU EOH, CHANYEOL HYUNG!” Teriak Sehun pada namja tinggi yang ternyata bernama Chanyeol itu.

“Kya! Mereka hanya menari. Ini bagian dari pekerjaan mereka. Hanya bagian dari sebuah tarian. Jangan terlalu cemburu hanya karena hal seperti ini!” Jawab Chanyeol berusaha bersikap dewasa.

“Hubungi Jiyeon! Bicara baik-baik dengannya! Jangan berfikiran yang tidak-tidak! Jiyeon itu baru comeback dan ini debut solo pertamanya! Kau harus mendukungnya!” Tambah Chanyeol berusaha menenangkan Sehun.

“Geundae hyung, aku yang selama 2 tahun menjadi namjanya saja belum pernah menyentuhnya! Dan ini hanya seorang dancer! BERANI SEKALI DIA MENYENTUH JIYEONKU!” Sehun kembali tak dapat menahan kekesalannya.

“Pelankan suaramu! Para hyungmu akan terbangun karena suaramu itu!” Protes Chanyeol.

“Dimana Baekhyun hyung?” Tanya Sehun yang tak melihat Baekhyun didalam kamar bersama Chanyeol.
Baekhyun dan Chanyeol, mereka berdua tinggal dalam satu kamar yang sama.

“Dia sedang pergi keluar!” Jawab Chanyeol.

“Kembalilah kekamarmu! Berhenti berfikiran negatif tentang yeojamu itu! Suho hyung pasti mencarimu!” Tambah Chanyeol berusaha mengingatkan Sehun yang pergi meninggalkan Suho seorang diri didalam kamar mereka.
Suho yang seorang leader dan Sehun yang seorang maknae di grup mereka, keduanya tinggal dalam satu kamar yang sama.

“Ne, arraseo! Gomawo, hyung!” Jawab Sehun seraya keluar dari dalam kamar Chanyeol.

“Sesampainya di Korea nanti, akan kuhajar namja itu!” Geram Sehun.

Oh Sehun, ia adalah seorang maknae dari sebuah grup namja ternama di Korea bernama EXO. Saat ini ia bersama dengan grupnya tengah melakukan konser tunggal di Hongkong.

Park Jiyeon, yeoja itu adalah yeojachingu dari Oh Sehun.
2 tahun lalu sebelum Sehun debut bersama EXO, ia telah menjalin hubungan dengan yeoja itu yang tak lain adalah seorang maknae dari grup yeoja bernama T-ara yang usianya lebih tua darinya 1 tahun.
.
.
.
.
.
“Waegeurae?” Tanya Hyomin yang juga seorang anggota dari T-ara sama seperti Jiyeon. Ia melihat Jiyeon yang terlihat begitu tidak tenang.

“Eonnie, Sehun sama sekali tidak menjawab telepon dariku! Apa dia marah?” Jawab Jiyeon yang tengah berusaha menghubungi namjachingunya itu.

“Mungkin dia sedang sibuk dan tidak sempat menjawab telepon drimu. Geogjeongma!” Balas Hyomin berusaha menenangkan yeoja yang sudah ia anggap seperti dongsaengnya sendiri itu.

“Aissh!” Geramnya kesal seraya membanting handphonenya itu diatas ranjang.

“Ck, kau ini! Ini konser tunggal pertama mereka! Kau harus mengerti itu!” Hyomin berkata bijak.

“TAPI INI JUGA DEBUT SOLO PERTAMAKU! DIA BAHKAN TAK MEMBERIKAN KOMENTAR APAPUN PADA PENAMPILAN PERTAMAKU HARI INI!” Teriak Jiyeon kesal.

“Aigoo, bagaimana bisa namja itu tahan bersama denganmu selama 2 tahun ini?” Ejek Hyomin.

“MWO?”

“Berhenti berteriak padaku! Besok kau masih membutuhkan suaramu itu untuk perform. Jangan menghabiskannya hanya karena masalah tak penting seperti ini!” Ucap Hyomin tegas.

“Dan untuk Sehun, pending dia hingga ia kembali ke Korea. Yang harus kau fikirkan saat ini adalah debut solomu! Jangan mengecewakan para eonnie terutama fansmu! Arrasseo?” Tambah Hyomin terlihat begitu menyeramkan membuat Jiyeon hanya dapat mempoutkan bibirnya kesal.

“Eonnie!” Rengek Jiyeon.

“Wae?”

“Aku merindukannya!” Lirih Jiyeon.

“Ck, jadi kau kesal karena hal ini eoh?” Goda Hyomin.

Jiyeon hanya menganggukkan kepalanya membenarkan.

“Tidurlah! Dan semoga kau dapat bertemu dengan namjamu itu didalam mimpi!”

Jiyeon hanya mengangguk dan beranjak naik ke atas ranjang. Ia dan Hyomin memang sangat dekat. Ia juga satu kamar dengan yeoja yang sudah ia anggap seperti eonnie kandungnya sendiri itu.

“Oh Sehun, bhogosippo!” Batinnya menahan rindu.
.
.
.
.
.
“KYA! KYA! NEO EODIGA?” Teriak Suho sang leader saat melihat Sehun yang keluar dari dalam mobil van saat lampu merah menyala.

“Mau kemana anak itu?” Tanya Baekhyun penasaran.

“Bertemu dengan dinosaurus?” Jawab Chanyeol.

“Sejak kapan Sehun suka dinosaurus?” Tanya D.O yang ikut penasaran.

“Sejak kita pergi ke Hongkong!” Jawab Kai yang tengah asik memainkan PSV nya.

“Mwo?” Tanya D.O semakin bingung.

“Sejak tiba di hotel, ia selalu menyebutkan nama dino.Kupikir ia tengah belajar bahasa Inggris untuk konser nanti, ternyata hanya igauan tak jelas.” Jawab Kai masih tak mengalihkan pandangannya dari layar PSV.

“Apa hebatnya dinosaurus?” Ejek Baekhyun.

“Apa aku harus membelikannya boneka dino?” Tanya Suho khawatir.

Sedangkan Chanyeol, namja itu hanya tersenyum memandang pemandangan kota Seoul dari spion mobil. Tentunya hanya ialah yang tau siapa dinosaurus yang dimaksud Sehun.
.
.
.
.
.
Jiyeon, saat ini ia tengah mengadakan fansign di IFC Mall. Dengan dres putih dipadu rok biru selutut, yeoja itu semakin terlihat cantik. Begitu banyak para fans yang hadir dalam acara tersebut.

“Apa sudah tidak ada lagi?” Tanyanya pada sang manager.

“Eopseoyo!” Jawab sang manager.

Jiyeon kemudian berjalan menuju toilet yang tak jauh dari tempatnya mengadakan fansign.

“Eoh?” Ia nampak terlihat begitu terkejut saat seseorang dengan paksa menarik tangannya dan memasuki salah satu bilik toilet yang ada.

“Hunnie-ah!”

~CUP~

Jiyeon melebarkan matanya saat sosok namja yang akhir-akhir ini begitu ia rindukan mendaratkan bibirnya tepat pada bibir Jiyeon.

Jiyeon, yeoja itu hanya mengerjapkan matanya berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak tengah bermimpi saat ini. Jantungnya berdetak abnormal.

“Hunnie-ah!” Gumamnya saat sang namja melepaskan bibirnya.

Namja itu terlihat terengah. Ia pun ikut terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Ia mengerjapkan matanya. Menelan salivanya saat melihat bibir yeoja yang ada dihadapannya saat ini sudah bengkak dan basah karena ulahnya.

“Hunnie-ah!” Ucap Jiyeon yang langsung memeluk tubuh sang namja.

“Akhirnya!” Lanjutnya terlihat senang.

“Ne?” Tanya sang namja tidak mengerti.

“Akhirnya ciuman pertama Oh Sehun dan Park Jiyeon datang juga.” Jawab Jiyeon.
Ia pun langsung melepaskan pelukannya.

“Walaupun sedikit aneh. Kenapa harus ditoilet? Apa tidak ada tempat yang lebih romantis lagi, eoh?”

Namja yang ternyata Sehun itu terlihat kikuk. Ternyata yeoja itu tidak marah dengan apa yang baru saja ia lakukan. Sehun mengeraskan suaranya berusaha menghilangkan rasa canggung yang menghampirinya.

“Kenapa tidak menjawab telephon dari ku, eoh?” Protes Jiyeon.

“Kau tau……” Jiyeon menghentikan ucapannya.

“Aku merindukanmu!” Tambah Jiyeon seraya mengecilkan volume suaranya namun masih dapat didengar Sehun membuat
Sehun langsung memandang Jiyeon yang sudah menundukkan kepalanya berusaha menutupi wajahnya yang sudah memerah karena malu.
Ia tersenyum melihat yeoja itu.

“Neo! Nappeun yeoja!”

Jiyeon langsung mengangkat kembali kepalanya saat mendengar ucapan Sehun.

“Mwo?” Tanyanya terkejut.

“Bagaimana aku bisa berhenti mencintaimu? Bahkan untuk marah saja aku tidak bisa.”

Jiyeon, wajahnya kembali merona saat Sehun mengucapkan itu semua.

“Wae? Kenapa kau harus marah padaku, eoh?” Tanya Jiyeon malu.

“Karena kau! Karena kau disentuh namja lain. BAGAIMANA BISA AKU YANG MENJADI NAMJAMU SELAMA 2 TAHUM BAHKAN BELUM PERNAH MENYENTUHMU, SEDANGKAN NAMJA DANCER ITU? DIA BERANI SEKALI MENYENTUHMU! APA DIA TIDAK TAU KALAU KAU ITU MILIKKU? HANYA MILIK OH SEHUN!” Teriak Sehun yang mulai emosi.

Jiyeon hanya mempoutkan bibirnya.
Yeoja itu kembali memeluk erat tubuh Sehun.

“Mianhae!” Bisiknya.

Sehun, amarahnya kembali surut.
Yeoja itu memang mampu membuatnya tenang.

“Ne, Park Jiyeon hanya milik Oh Sehun. Just for you!” Ucap Jiyeon saat melepaskan pelukannya.

Sehun terkekeh saat Jiyeon mengucapkannya menggunakan bahasa inggris. Itu terdengar aneh ditelinganya.

Jiyeon tersenyum melihat Sehun yang mulai tenang. Ia kemudian merangkulkan kedua tangannya pada leher Sehun membuat namja itu kembali mengerjapkan matanya tegang. Apa yang akan yeoja itu lakukan padanya?

“Neo! Oh Sehun! Kau hanya milik Park Jiyeon! Arraseo?”

Sehun hanya menganggukkan kepalanya polos.
Jiyeon tersenyum manis padanya. Ia kemudian mengangkat kedua kakinya berusaha mensejajarkan tinggi badannya dengan Sehun.

~CUP~

Sehun melebarkan
matanya saat yeoja itu mendaratkan bibirnya tepat dipipi kanannya. Tak lama yeoja itupun melepaskan kecupan singkatnya namun kedua tangan Sehun langsung menangkap pipinya.

~CUP~

Jiyeon memejamkan matanya saat Sehun kembali mencium bibirnya. Melumat bibirnya secara perlahan. Benar-benar lembut apa yang dilakukan Sehun padanya.
Yeoja itupun akhirnya ikut membalas aksi yang Sehun lakukan padanya.
.
.
.
.
.
Park Chanyeol, saat ini namja itu tengah duduk tepat didepan sebuah layar televisi. Ia tengah menonton tayangan Weekly Idol yang di bintangtamui oleh Park Jiyeon. Ia tersenyum sendiri saat sang MC mengingatkan para penonton bahwa ia dan Jiyeon pernah saling menjadi model dalam sebuah acara yang sama.

~FLASHBACK ON~

“Aissh, kenapa kau menyuruhku datang disaat seperti ini?” Gerutu seorang yeoja pada namja tinggi yang ada dihadapannya itu.

“Neo gwaenchana?” Tanya sang namja.

“Mwo?” Tanya sang yeoja bingung mendapati sang namja yang menyuruhnya datang tiba-tiba menanyakan keadaannya.

Namja tinggi itu langsung merengkuh tubuh sang yeoja kedalam pelukannya.

“Gwaenchanayo!” Ucap sang namja berusaha memberi kenyamanan pada sang yeoja.

“Mworago?” Ucap sang yeoja berusaha menutupi perasaannya. Namun tak lama iapun terisak didalam pelukan sang namja.

“Naega aniya. Naega aniya. Hiks….” Tangis sang yeoja pecah.

“Kau percaya padaku bukan? Hiks…” Tambahnya yang terus menangis.

“Ne. Neo aniya. Geumanhae! Park Chanyeol selalu mempercayai Park Jiyeon.” Jawab sang namja yang ternyata Park Chanyeol itu.

~FLASHBACK OFF~

Chanyeol, ia mengingat dengan jelas kejadian 2 tahun silam saat T-ara grup yang di naungi Jiyeon terkena skandal terutama Jiyeon.
Hwayoung, salah satu anggota T-ara keluar dari grup dan mengatakan bahwa ia selama ini telah diperlakukan dengan tidak baik oleh para anggota lain terutama Jiyeon. Rekaman-rekaman yang berusaha menjatuhkan T-ara dan membuat nama T-ara buruk di masyarakat tersebar begitu saja.
Chanyeol ingat betul pertemuannya dengan yeoja itu. Yeoja yang sejak dulu memenangkan hatinya.

“Kini kau sudah kembali lagi, Park Jiyeon. Kita akan bersama-sama berdiri dalam satu panggung. Kita akan bersama-sama didunia yang kita impikan sejak dulu. Akhirnya kini kita kembali memulainya.” Gumamnya tersenyum hangat.
.
.
.
.
.
“Hyung!” Panggil D.O pada Suho.

“Wae?”

“Ige!” Jawabnya seraya memperlihatkan I-phone miliknya.

Suho melebarkan matanya saat melihat isi berita yang ada. Ia langsung menoleh pada Baekhyun yang tengah memperebutkan remote televisi bersama Sehun.

“Waeyo?” Tanya Baekhyun saat ditatap aneh oleh sang leader.
Sehun langsung mengambil remote televisi saat Baekhyun lengah.
Mereka saat ini tengah berkumpul didalam dorm.

“Neo?” Tanya Suho penuh selidik.

“Wae? Naega wae?” Tanya Baekhyun yang tidak mengerti dengan ucapan Suho.

“Apa kau berkencan dengan Taeyeon?”

“MWO?” Teriak Sehun terkejut saat mendengar pertanyaan Suho pada Baekhyun.

“Nugu? Siapa yang berkencan dengan Taeyeon nuna?” Tanya Chnyeol saat tiba didalam dorm.Ia baru saja kembali membeli bahan makanan bersama dengan Kai.

Baekhyun langsung mengambil I-Phone milik D.O dan melihat isi berita tersebut.
.
.
.
.
.
“Kau kenapa?” Tanya Hyomin yang melihat Jiyeon begitu terkejut saat melihat isi dalam layar laptopnya.

“Baekhyun EXO dan Taeyeon SNSD dating?” Eja Hyomin.

“Omo, bagaimana bisa Baekhyun berkencan dengan nunanya?” Gumam Hyomin.
Ia kemudian teringat tentang Jiyeon. Yeoja itu juga berkencan dengan namja yang usianya lebih muda darinya. Hyomin merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Ia baru menyadari hal itu. Ia langsung menoleh ke arah Jiyeon.

“Memangnya apa yang salah kalau berkencan dengan namja yang lebih muda? Mereka terlalu berlebihan.” Ucap Hyomin berusaha memperbaiki ucapannya.

Jiyeon hanya terdiam.
Apakah nasibnya dan juga Sehun akan sama seperti Taeyeon dan juga Baekhyun jika media mengetahui hubungan mereka? Sudah cukup 2 tahun lalu masyarakat membencinya, jangan sampai kejadian dimasa lalu terulang kembali.
.
.
.
.
.
“Hyung!”

“Wae?” Tanya Chanyeol malas menanggapi Sehun yang selalu merengek padanya.

“Ige mwoya? Para namja itu mulai berani terang-terangan mendekati Jiyeonku, Hyung. Setelah ilhoon, Kevin hyung, Jungwook hyung, kini Siwan hyung. Naega eotteokhae?” Rengek Sehun pada Chanyeol.

“Bukankah kau mencintainya. Mereka hanya melakukan hal itu demi pekerjaan. Jangan terlalu merengek padaku. Kau bukan anak kecil lagi, Oh Sehun. Usiamu sudah lebih dari 20 tahun. Kau harus ingat hal itu! Bagaimana bisa kau menjaga Jiyeon jika sikap dan tingkah lakumu masih seperti anak kecil? Jangan sampai kau bersikap pengecut seperti Baekhyun jika nanti media mengetahui hubungan kalian berdua. Kau harus bisa melindungi Jiyeon.”

Sehun terlihat begitu terperangah dengan apa yang baru saja Chanyeol ucapkan.

“Wae?” Tanya Chanyeol saat melihat Sehun yang membuka lebar mulutnya.

“Hyung, kau Chanyeol hyung bukan? Aku tau kau ini memang cerewet, geundae untuk ucapanmu yang satu ini benar-benar Daebak! Neomu neomu daebak, hyung! Jeongmalyo!” Sehun memberikan dua jempolnya ke udara untuk Chanyeol.

Chanyeol hanya terdiam melihat reaksi Sehun yang menurutnya terlalu berlebihan itu.

~FLASHBACK ON~

“Chanyeol-ah!” Panggil seorang yeoja berambut panjang.
Chanyeol langsung menoleh kearahnya.

“Kim Ye Jin, waegeurae?” Tanya Chanyeol.

“Ige!” Jawab yeoja bernama Kim Ye Jin itu menyerahkan setangkai mawar merah pada Chanyeol.

Chanyeol terlihat bingung dengan apa yang Ye Jin lakukan.

Kim Ye Jin, ia adalah salah seorang Trainee di SM Entertainment sama seperti Chanyeol.

“Nan joahaeyo!” Ucap Ye Jin membuat Chanyeol melebarkan matanya.

“Jadilah kekasihku!” Tambahnya.

Chanyeol, matanya menangkap sosok yeoja yang begitu ia kenal tengah berada digedung SM Entertainment, sebuah agensi musik yang menjadi tempatnya menjadi salah seorang trainee.
Oh Sehun, yeoja itu terlihat bersama dengan Oh Sehun.
Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal saat melihat Sehun yang sama-sama menjadi seorang trainee seperti dirinya terlihat begitu akrab dengan yeoja itu.
Hatinya terasa terbakar.
Ia langsung menarik tangan Ye Jin Melangkah mendekati Sehun dan yeoja itu.

“Park Jiyeon!” Panggilnya pada yeoja yang ternyata adalah Park Jiyeon itu.

“Eoh, Yeollie-ah!”

“Hyung!”

~CUP~

Sehun, Jiyeon dan juga Kim Ye Jin melebarkan kedua mata mereka saat Chanyeol mendaratkan bibirnya tepat dibibir Ye Jin.

“Chanyeol-ah!” Ucap Ye Jin tak percaya saat Chanyeol melepaskan bibirnya.

“Hyung, kalian?” Tanya Sehun nampak tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

“Kau berkencan dengannya?” Tanya Jiyeon.

Chanyeol menarik nafasnya. Ia tersenyum kearah Jiyeon dan juga Sehun.

“Ne. Kami tengah berkencan. Hari ini, Park Chanyeol resmi menjadi kekasih Kim Ye Jin.” Jawab Chanyeol mantap seraya menggenggam erat tangan Ye Jin.

~FLASHBACK OFF~

“Hyung!” Panggil Sehun yang melihat Chanyeol melamun.

“Neo gwaenchana?” Tanya Sehun.

Chanyeol memandang sosok namja yang ada dihadapannya itu.

“Oh Sehun, neo wae? Kenapa harus kau yang menjadi kekasih Jiyeon?” Batin Chanyeol.

“Hyung, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Kau sangat dekat dengan Baekhyun hyung, tentu kau merasa terpukul dengan tindakan Baekhyun hyung. Geundae percayalah, Baekhyun hyung pasti mempunyai alasan. Alasan yang tidak bisa ia beritahukan pada siapapun termasuk denganmu, hyung!” Ucap Sehun seraya menepuk pelan bahu Chanyeol.

“Aku iri padamu!” Ucap Chanyeol.

“Ne?”

Chanyeol kemudian berjalan pergi meninggalkan Sehun, membuat tanda tanya besar bagi Sehun.
Kenapa namja sempurna seperti Chanyeol harus iri padanya? Batin Sehun.
.
.
.
.
.
“Jiyeon-ssi!” Panggil seorang yeoja berambut panjang.
Jiyeon yang baru pulang syuting drama terbarunya langsung menolehkan wajahnya.

“Eoh, Kim Ye Jin-ssi!” Jawab Jiyeon.
Keduanya saat ini tengah berada didalam sebuah mini market.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Jiyeon yang menghampiri Ye Jin.

“Aku baik. Bagaimana denganmu? Aku jadi semakin sering kembali melihatmu dilayar televisi setelah debut solomu!”

“Eoh, jeongmalyo? Kau melihatnya?” Jiyeon nampak terlihat senang.

“Ne. Aku selalu ingin melihatmu. Aku ingin selalu mencari tau apa kelebihanmu dibandingkan denganku!”

“Ne?” Jiyeon nampak tak mengerti dengan apa yang Ye Jin katakan.

“Jiyeon-ah!” Panggil seorang namja.

“Eoh, oppa!”

Namja itu langsung membungkukkan tubuhnya saat melihat Ye Jin.

“Ye Jin-ssi, ini Siwan oppa. Kau tentu mengenalnya, bukan? Member Ze:a yang paling tampan.” Goda Jiyeon membuat Siwan tersipu malu.

“Berhenti menggodaku, Park Jiyeon!” Timpal Siwan.

Jiyeon hanya terkekeh melihat Siwan, sedangkan Ye Jin, ia memandang sinis Jiyeon. Kenapa dimanapun yeoja itu berada ia selalu dikelilingi namja-namja tampan? Batin Ye Jin kesal.
.
.
.
.
.
Sehun, namja itu berjalan cepat menuju sebuah taman tak jauh dari dorm T-ara.

“Hunnie-ah!” Panggil seorang yeoja seraya bangkit dari kursinya menyambut kedatangan namja yang tengah ia tunggu.

“Wae?” Tanya yeoja yang mengenakan kacamata besar berwarna hitam sebagai alat penyamarannya.

Sehun, namja itu menatap intens yeoja yang ada dihadapannya saat ini membuat yeoja itu merasa risih dengan tatapan aneh yang ia berikan.

“Park Jiyeon. Kajja! Kita akhiri saja hubungan ini!”

Ucapan Sehun membuat Jiyeon melebarkan matanya.
Benarkah yang ia dengar?
Apa ini mimpi?

Jiyeon, yeoja itu tertawa. Berusaha membuat segala yang ia dengar hanyalah lelucon semata.

“Hahahha…. Hunnie-ah! Ini sama sekali tidak lucu!” Jiyeon tertawa hambar.

“Aku sama sekali tidak sedang bercanda. Kurasa 2 tahun ini waktu yang cukup untuk kita bersama.” Jawab Sehun terlihat begitu serius dengan apa yang ia ucapkan.

“Geundae wae?” Tanya Jiyeon yang mulai mengeluarkan air matanya.

“Geumanhae! Bukankah kita menjalin hubungan dengan baik-baik! Aku juga ingin kita berpisah secara baik-baik! Mianhae jika selama ini aku masih belum bisa memberikanmu kebahagiaan. Kuharap untuk kedepannya kita masih bisa berteman baik. Khalke!” Ucap Sehun pada akhirnya yang kemudian pergi meninggalkan Jiyeon yang semakin terisak.
Yeoja itu sungguh tidak mengerti dengan apa yang Sehun lakukan. Dimana letak kesalahannya hingga namja itu begitu saja memutuskan hubungan yang selama 2 tahun ini mereka berdua jalin.
.
.
.
.
.
Chanyeol, namja tinggi itu langsung berjalan menuju kamar Oh Sehun.

~BUGH~

“KYA! APA YANG KAU LAKUKAN, CHANYEOL-AH?” Teriak Suho sang leader saat melihat Chanyeol yang datang kekamarnya dan langsung memukul Sehun.

Teriakan Suho membuat Baekhyun, D.O dan juga Kai langsung berhambur masuk kedalam kamar.

“GEUMANHAE!” Teriak Suho saat Chanyeol berusaha memukul Sehun kembali.

Kai dan juga D.O langsung menjauhkan tubuh Sehun dari Chanyeol, sedangkan Suho dan Baekhyun berusaha menghentikan aksi Chanyeol.

“Oh Sehun, bukankah sudah kukatakan sebelumnya. JANGAN MEMBUATNYA MENANGIS!” Teriak Chanyeol emosi membuat semua anggota terlihat bingung.
Ada apa sebenarnya?

Sehun, ia langsung menundukkan kepalanya. Ia tau dan mengerti maksud ucapan Chanyeol padanya.

“Geurae, kau sudah melepaskannya! Jadi, jangan salah kan aku jika aku coba mendapatkannya!” Tambah Chanyeol kemudian keluar dari dalam kamar Suho dan Sehun.

“Waegeurae?” Tanya D.O.

“Apa mungkin masalah yeoja?” Tebak Suho.

“Aissh, setelah Baekhyun hyung, kini kau dan juga Chanyeol hyung. Haruskah aku juga membuat skandal bersama seorang yeoja?” Ucapan Kai langsung mendapatkan pukulan dari D.O.

“Jaga bicaramu! Saat ini bukan waktu yang tepat untukmu membuat sebuah lelucon.” Ucap D.O mengingatkan.

“Geurae, sebaiknya kalian selesaikan masalah ini. Hyung, kajja! Buatkan aku makanan!” Ajak Kai seraya menarik lengan D.O keluar dari dalam kamar.

“Aissh, kau ini!” Gerutu D.O kesal.

Kini tersisa Baekhyun, Suho dan juga Sehun didalam kamar.

“Pergi dan temui Chanyeol! Kau tentu lebih mengenalnya dengan baik dibandingkan denganku! Sehun, biar aku yang urus!” Perintah Suho pada Baekhyun.

Baekhyun tak menjawab dan lebih memilih keluar melakukan apa yang dipinta sang leader padanya. Ia tidak ingin membuat sang leader semakin susah setelah skandalnya bersama Taeyeon terungakp beberapa minggu lalu.

“Ada apa denganmu dan Chanyeol, eoh? Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua?” Tanya Suho lembut.

Sehun, ia hanya terdiam. Ia mengingat pertemuannya beberapa hari lalu dengan Kim Ye Jin.

~FLASHBACK ON~

Sehun, ia mengepalkan tangannya saat menonton streaming sebuah drama melalui androidnya. Adegan dimana Jiyeon mencium Siwan. Meski itu hanyalah akting, namun hatinya tetap merasa sakit.
Saat ini ia tengah berada didalam sebuah ruang latihan dance didalam gedung SM Entertainment.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Kim Ye Jin saat memasuki ruangan dimana Sehun berada.

“Eoh, nuna!” Ucapnya saat melihat sosok Ye Jin yang duduk disampingnya.

“Eoh, Park Jiyeon. Kudengar kau sangat mengidolakannya.” Ucap Ye Jin setelah melihat android milik Sehun yang tengah menayangkan drama dimana Jiyeon sebagai salah satu pemerannya.

Sehun tak menjawab. Ia langsung mematikan androidnya.

“Park Jiyeon benar-benar hebat. Pertama kali ia debut solo, ia langsung mendapatkan banyak simpati dari para idol. Kevin U-Kiss bahkan memberikannya mawar saat ia menjadi MC. Dan sekarang ia bermain drama.” Tambah Ye Jin.

“Siwan, kau mengenalnya bukan? Salah satu member dari Ze:a. Mereka bermain dalam drama yang sama sebagai sepasang tunangan bukan? Aigoo, kurasa mereka benar-benar berkencan. Mereka terlihat nyata sebagai sepasang kekasih. Mereka juga pernah menjadi tim yang sama dalam acara ISAC, bukan? Bahkan Jiyeon sendiri yang memilihnya. Eoh, mereka sudah saling mengenal sebelumnya, tentu bukanlah hal sulit bagi mereka berdua membangun sebuah chemistry.” Tambah Ye Jin.

“Eoh, tentu kau tau itu semua bukan? Kau kan salah satu dari fans boys nya? Errrrrrrr, mereka berdua benar-benar sangat serasi.”

Sehun, amarahnya benar-benar membuncah. Ucapan Ye Jin semakin membakar hatinya.

“Eoh, baru saja nuna bertemu dengan mereka berdua. Mereka terlihat sangat romantis. Nuna mengenal Jiyeon karena ia berteman baik dengan Chanyeol. Apa kau juga berteman dengan Jiyeon? Nuna pernah melihat kalian berdua saat pertama kali nuna dan Chanyeol berkencan. Pasti kau sangat senang jika dapat berhubungan baik dengan idolamu itu.”

“Nuna, aku harus pergi!”

“Eoh?”

~FLASHBACK OFF~

Sehun, ia memutuskan hubungannya dengan Jiyeon karena cemburu.
Ya, ia sangat cemburu.
Siwan dan Jiyeon, mereka berdua terlihat begitu serasi. Ia juga tau bahwa Jiyeon lebih dulu mengenal Siwan dibandingkan dengannya. Geundae, ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Pikiran-pikiran negatif selalu menghantuinya. Ucapan Ye Jin mungkin benar. Ye Jin bahkan tidak mengetahui hubungannya dengan Jiyeon. Hanya Chanyeol lah yang mengetahui hubungannya. Tentu Ye Jin tidaklah berbohong saat mengatakan itu semua.
.
.
.
.
.
“Apa terjadi sesuatu yang buruk hari ini?” Tanya Ye Jin pada Chanyeol.
Keduanya saat ini tengah berada di ruang latihan music didalam gedung SM Entertainment.
Chanyeol terus memetikkan gitar yang sedari tadi berada dalam dekapannya.

“Neo haengbokhae?” Tambah Ye Jin dan berhasil membuat Chanyeol menoleh kearahnya.

“Kurasa Sehun dan Jiyeon sudah berpisah. Bukankah ini kesempatanmu untuk mendapatkannya!”

“Mworago?” Chanyeol mulai merasakan firasat buruk atas apa yang Ye Jin ucapkan padanya.

“Sehun, dia terlalu polos. Semua ucapan yang ia dengar akan begitu saja ia cerna. Namja itu bukan tipe namja yang terlebih dahulu menyaring ucapan orang lain.” Ye Jin tersenyum penuh arti.

“Neo?”

“Aku hanya membantumu. Membantumu mendapatkan yeoja yang sudah lama kau sukai itu hingga kau tega memanfaatkan aku untuknya.”

Chanyeol, ia melebarkan matanya.
Benarkah Ye Jin yang membuat hubungan Sehun dan Jiyeon berakhir?
Apa ini juga termasuk kesalahannya?
.
.
.
.
.
Ancurkah FF nya?
Ditunggu Kritik & sarannya.

FF Chanyeol Jiyeon (Park Couple) I Like You The Best (Part 6 – Ending)

image

          I LIKE YOU THE BEST
                     (part 6 – End)

Author:
Erni Eyexs

Twitter:
@ernieyex

Instagram:
@erni_eyexs

Main Cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Park Chanyeol (EXO)

Other Cast :
Oh Sehun (EXO)
Luna (Fx)
Kim Hyuna (4minute)
Bang Yongguk (B.A.P)
Kim Heechul (Super Junior)
Oh Hyerin (After School)
Amber (Fx)
Park Shinhye

Songfict :
Beast Oasis

Genre :
Bromance, Comedy, School life, Friendship, Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N : Akhirnya part END hadir.
Di WP respond nya parah. Viewers 1000 lebih yang coment 1, 2 orang. Mungkin ga bakal posting di WP lagi. Author bakal lanjut posting di FB. Yang masih setia nunggu kelanjutan HongJi sabar ne 😀 pasti di lanjut kok. Ngurusin WP baru soalnya, eh ternyata di WP siders nya bejibun. Jadi serem. Pantesan author di WP banyak yg hiatus.
Oke lanjut nih FF.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING

***

Terlihat seorang namja muda
bertubuh tinggi, berbadan kurus,
mengenakan T-shirt dengan Skinny jeans, berkaca mata hitam dan juga sebuah ransel yang ia letakkan diatas punggungnya, ia terlihat
begitu terkejut saat melihat sebuah rumah yang ada dihadapannya tengah melangsungkan sebuah acara
pernikahan.

“Apa ini alamat yang benar?”
Gumamnya. Ia pun mulai melepas kaca mata hitam yang dikenakannya. Ia memandang sekeliling. Begitu banyak para tamu yang datang. Ia kemudian menghampiri dua namja tinggi bertubuh besar yang mengenakan sebuah seragam
bertag security.

“Annyeonghasaeyo!” Sapanya pada kedua security yang menjaga didepan pintu gerbang rumah seraya membungkuk sopan.
Kedua security itu kemudian
menoleh kearahnya.

“Chogi, apa benar ini alamat yang sama?” Tanyanya pada kedua security itu seraya memperlihatkan android putih yang tertera sebuah alamat disana.

“Pyeongchang-dong Beverly Hills.” Eja salah seorang security.

“Ne. Maja. Apa anda salah seorang tamu yang diundang dalan acara pernikahan anak tuan Heechul?”

“Ne?” Namja tinggi itu terlihat
begitu terkejut.
Pernikahan anak tuan Heechul?
Bukankah anak dari Kim Heechul hanya Hyuna dan juga Jiyeon?
Geundae, Hyuna sudah
menikah 8 bulan lalu.

“Mianhae! Geundae, naega oppa
Park Jiyeon. Ani. Naega namjachingu Park Jiyeon. Naega Park Chanyeol imnida!” Ucapnya memperkenalkan diri.

“Namjachingu Jiyeon agasshi?” Tanya salah seorang security itu.

“Eum!” Jawab namja yang ternyata adalah Park Chanyeol itu seraya menganggukkan
kepalanya mantap.

“Apa anda bercanda?” Tanya salah seorang security seraya tertawa. Kedua security itu malah menertawakannya. Mungkin karena Chanyeol yang datang dengan tiba-tiba kemudian mengatakan bahwa ia
namjachingu dari anak majikannya.

Apa-apa an ini?
Kenapa mereka malah tertawa?
Apa benar firasatnya bahwa
Park Jiyeonlah anak dari Heechul
yang menikah? Batin Chanyeol was-was.

“Dimana Park Jiyeon?” Tanya
Chanyeol kesal. Perasaannya campur aduk saat ini.
Benarkah Jiyeon yang menikah?
Apakah yeoja itu
mengkhianatinya?
Selama 5 tahun Chanyeol di Jepang, mereka berdua memang selalu berkomunikasi. Namun 2 bulan terakhir ini, Jiyeon jarang menghubunginya. Bahkan kerap kali yeoja itu mengatakan ia sedang sibuk.
Apakah yang ia maksud
adalah sibuk mempersiapkan
pernikahannya? Chanyeol kembali membatin.

“KYA! DIMANA PARK JIYEON?” Teriak Chanyeol yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi membuat kedua security itu kemudian menghentikan aksi tawa mereka.

“Ada apa dengan namja ini?” Gumam salah seorang security bingung melihat reaksi Chanyeol yang tiba-tiba saja begitu menyeramkan.

“Tentu saja sedang menghadiri
pernikahan!” Jawab seorang lagi yang nampaknya kesal karena di teriaki oleh namja yang tak ia kenal.

Tentu saja?
Pernikahan?
Jawaban security itu semakin membuat panas hati Chanyeol. Ia kemudian berusaha
menembus kedua security itu
bermaksud masuk kedalam halaman rumah, namun kedua security itu berhasil menghalanginya.

“KYA! LEPASKAN! AKU HARUS
MENEMUI PARK JIYEON!” Teriak
Chanyeol saat kedua security itu
menahan tubuhnya membuat semua tamu yang ada didalam
halaman rumah langsung menoleh kearahnya saat mendengar keributan yang di sebabkan olehnya.

“Jiyeon agasshi tidak ada disini? Dia sedang ada di Cathedral.
Pengucapan ikrar dilangsungkan
disana!” Jawab salah seorang dari
security itu.

Chanyeol langsung menoleh kearah security itu. Tatapannya begitu mematikan saat ini.

“Eodi?” Tanyanya mengeraskan
rahangnya membuat sang security terlihat begitu takut
melihat wajah Chanyeol. Ia
hanya mengerjapkan matanya seraya bersusah payah menelan salivanya sendiri.
“EODIGA?” Teriak Chanyeol bergetar hebat.

***

Setelah mendapatkan informasi
mengenai Cathedral tempat
dilangsungkannya acara pengucapan ikrar, Chanyeol langsung bergegas pergi dari tempat itu, menaiki taksi dan
menuju alamat yang diberitahukan sang security padanya. Namja itu langsung membayar dan berlari saat menuruni taksi yang ia tumpangi.
Tepat didepannya saat ini adalah
sebuah Cathedral yang ada di
Myeong-dong.

“Park Jiyeon, habislah kau!”
Geramnya.

“Apa benar pengantin yeojanya
sudah hamil?” Tanya seorang yeoja paruh baya yang melewati Chanyeol.

“Eum! Kudengar seperti itu! Mereka bahkan masih sangat muda!” Jawab seorang yeoja disampingnya. Kedua yeoja paruh baya itu pun memasuki Cathedral.

Chanyeol, hatinya semakin sakit. Apa yang baru saja ia dengar? Pengantin yeojanya sudah hamil?
Apa Jiyeon hamil sebelum menikah? Batinnya berkecambuk.
Chanyeol langsung herhambur
memasuki Cathedral.
Ia dapat melihat seorang yeoja yang tengah mengenakan gaun pengantin berwarna putih tulang tengah berjalan diatas karpet merah. Yeoja itu hendak menghampiri seorang namja
yang ada didepannya. Disampingnya terlihat seorang pendeta yang akan menjadi pemimpin dalam acara
pengucapan ikrar tersebut.
Mata Chanyeol melebar saat
menyadari siapa sosok namja yang tengah tersenyum manis menanti kedatangan yeoja yang tengah melangkah hendak menghampirinya itu.

“Oh Sehun?” Gumamnya.
Matanya memanas.
Oh Sehun?
Diakah sosok namja yang akan
menikah dengan Jiyeon?
Diakah namja yang sudah menghamili Jiyeon?
Kini penyesalan mulai tumbuh
dibenaknya. Menyesal karena telah meninggalkan Jiyeon bersama dengan Sehun. Meski Sehun saudara tiri Jiyeon, namun kekhawatirannya selama ini benarkah menjadi
kenyataan?
Oh Sehun telah merebut
Jiyeon darinya?
Apakah ini nyata?

“HENTIKAN!” Teriak Chanyeol yang langsung membuat seluruh tamu didalam Cathedral menoleh kearahnya begitu pula dengan sosok yeoja yang mengenakan gaun pengantin tersebut.

“L….Luna-ssi?” Gumamnya saat
melihat ternyata sosok yeoja yang mengenakan gaun pengantin yang membelakanginya itu adalah sosok Luna dan bukanlah Jiyeon. Matanya mengerjap berusaha meyakinkan penglihatannya.
Benarkah sosok yeoja yang mengenakan gaun pengantin yang menoleh kearahnya
itu bukanlah Jiyeon melainkan Luna?
Benarkah bukan Jiyeon yang akan menikah dengan Sehun?

“Oppa, apa yang kau lakukan
disana?” Bisik seorang yeoja
berambut pirang panjang lurus
mengenakan gaun putih diatas lutut pada Chanyeol.

“Ji….Jiyeon-ah?” Ucapnya saat
melihat ternyata sosok yeoja yang berbisik padanya adalah Jiyeon. Ia tesenyum lega melihat ternyata bukanlah Jiyeon yang menikah.

Sementara itu, semua tamu didalam Cathedral mulai berbisik. Mulai bertanya-tanya tentang siapa sosok namja tinggi yang tiba-tiba datang
mengganggu acara pengucapan
ikrar.

“Apa yang kau lakukan, eoh?” Tanya Jiyeon saat tiba dihadapan
Chanyeol.

Chanyeol malah tertawa senang.
Tentu saja ia senang karena Jiyeon tidak mengkhianatinya. Karena Jiyeon tidak meninggalkannya.
Karena Jiyeon tidak menikah dengan Oh Sehun. Tentu saja.

“Oppa?”

Chanyeol langsung berhambur
memeluk erat tubuh Jiyeon. Jiyeon terlihat bingung. Meski ia sangat merindukan sosok yang tengah memeluknya saat ini, namun apa maksud Chanyeol berteriak seperti itu? Pikirnya.

Sementara itu, Sehun terlihat
mengurut keningnya.
Apa-apa an ini?
Ini acara pernikahannya, kenapa
malah kedua makhluk itu yang
menjadi pemeran utama disini?

“Oppa?” Bisik Luna pada Sehun. Ia meminta penjelasan.
Ada apa ini?
Bagaimana dengannya yang tiba-tiba terhenti langkahnya karena teriakan Chanyeol?
Bagaimana dengan
pernikahannya?

“Ada apa denganmu, oppa?” Tanya Jiyeon saat Chanyeol melepaskan pelukannya.

“Kupikir kau yang menikah dengan namja brengsek itu!” Jawab Chanyeol seraya mengelus lembut rambut
Jiyeon.

Sedangkan Sehun, ia  berusaha menahan emosinya.
Berani sekali namja tinggi
itu mengatainya brengsek!

“Mwo?”

“Kupikir yeoja yang hamil diluar
nikah itu kau!”

“Mwo?”

Luna, ia terlihat begitu malu.
Bagaimanapun juga ia tau siapa
yang dimaksud Chanyeol.
Semua yang hadir masih
memperhatikan Chanyeol dan juga Jiyeon. Sedangkan Sehun, sepertinya kesabarannya sudah habis.
Cukup!
Ini acara pernikahannya! Dan namja tinggi itu datang setelah 5 tahun hanya untuk menghancurkan acaranya?
Ini sudah cukup!

“KYA! KELUAR KALIAN BERDUA!”
Teriak Sehun dengan wajah memerah karena marah.

Chanyeol dan Jiyeon baru menyadari ternyata bukan hanya mereka berdualah sosok yang ada didalam sana.
Keduanya langsung menoleh kearah Sehun yang berteriak.

“KYA! KELUAR!” Teriaknya lagi dan benar-benar membuat Jiyeon dan juga Chanyeol baru menyadari kesalahan keduanya.
Mereka langsung berlari keluar dari dalam cathedral.

***

Chanyeol, ia terlihat begitu senang. Sedari tadi ia terus tertawa. Sedangkan Jiyeon hanya
memandangnya aneh. Keduanya saat ini tengah berada di Namsan Park tak jauh dari Myeong-dong Cathedral.

“Oppa, geumanhae!” Pinta Jiyeon
yang mulai risih dengan tawa
Chanyeol yang begitu berlebihan.
Para pengunjung yang tak sengaja lewatpun memandang aneh kearah Chanyeol.

“Jiyeon-ah, jadi si brengsek itu
menikah dengan Luna? Hahaha….” Chanyeol kembali tertawa. Ia
menahan perutnya yang terasa sakit karena terlalu lama tertawa. Sedangkan Jiyeon, ia terus saja berdecak kesal.
Memangnya apa yang salah dengan Sehun dan juga
Luna?
Mereka juga kan manusia
normal, wajar saja jika mereka
berdua menikah.

“Dan Luna sudah hamil sebelum
menikah? Hahaha…… Mereka
berdua benar-benar pantas menjadi seorang pelawak!” Lagi-Lagi Chanyeol tertawa.

“Sebenarnya apa yang kau
tertawakan, oppa? Aku sama sekali tidak mengerti!” Protes Jiyeon.

“Kya! Jiyeon-ah! Kau tau bagaimana Luna, bukan? Sejak SMP dia selalu berusaha mengejarku dan memohon
bantuan padamu, bagaimana bisa
dia memilih Sehun sebagai
pendampingnya? Harusnya dia
memilih namja yang lebih hebat
dariku! Hahaha……” Chanyeol kembali tertawa saat mengingat bagaimana Luna dulu selalu mengejarnya dan sekarang malah bersama Sehun yang MENURUTNYA tak lebih baik darinya.
Oh, kau terlalu percaya diri Park Chanyeol. Lihatlah bagaimana kini wajah yeoja yang ada di sampingmu. Jiyeon mulai kesal.
Apa-apa an namja yang ada dihadapannya saat ini?
Mengatakan bahwa ia lebih
hebat dari Sehun?
Bahkan ia telah meninggalkannya selama 5 tahun, bagian mana yang bisa dibilang hebat?
Ternyata bukan hanya tubuhnha yang tinggi, namun namja tinggi itu juga terlalu meninggikan dirinya sendiri.

“Kya! Neo eodiga?” Tanya Chanyeol saat melihat Jiyeon pergi meninggalkannya.

Jiyeon tak menghiraukannya. Ia
terus berjalan menjauh dari namja tinggi itu.
Merasa tidak mendapat respond,
Chanyeol pun langsung mengejar Jiyeon.

“Kya! Neo eodigayo? Apa kau tidak merindukanku, eoh?” Tanya Chanyeol saat berhasil menarik tangan Jiyeon dan membuat yeoja itu kembali
berbalik kearahnya.

Jiyeon lagi-lagi tak menghiraukannya. Yeoja itu hanya terdiam.

“KYA! APA JANGAN-JANGAN KAU
SELINGKUH DIBELAKANGKU, EOH?” Teriak Chanyeol yang mulai kembali berfikir negatif.

Jiyeon dengan kasar menghempaskan tangan Chanyeol. Ia memandang
kesal namja tinggi itu.
Apa yang dia katakan?
Selingkuh dibelakangnya?
Ini sudah 5 tahun, kenapa namja itu malah membuatnya kesal saat kembali bertemu?

“Ne. Aku selingkuh! Kau dengar?”

“MWO?”

“Aku selingkuh. SELINGKUH DENGAN ANDROID. SELINGKUH DENGAN LAPTOP. SELINGKUH DENGAN KOMPUTER. KAU TAU? BEGITU NIKMATNYA SETIAP HARI BERPACARAN DENGAN 3 BENDA ITU. SAAT PASANGAN LAIN BERKENCAN, AKU HANYA DUDUK MEMANDANG LAYAR KOMPUTER. AKU HANYA
BERBARING MENATAP ANDROID. AKU HANYA TERMANGU DIDEPAN LAPTOP. KAU PUAS? AKU BAHKAN LEBIH BAHAGIA DIBANDING PASANGAN
LAIN YANG MENGHABISKAN
KEBERSAMAAN MEREKA BERDUA
DISEBUAH CAFE ATAU TAMAN.
NAEGA, NEOMU-NEOMU
HAENGBOKHAE. JEONGMAL HAENGBOKHAEYO!” Teriak
Jiyeon kesal. Akhirnya yeoja itu mengeluarakan semua perasaan yang ia tahan selama 5 tahun itu.
Akhirnya ia mengatakan semuanya.

Sedangkan Chanyeol, mulutnya
melebar mendengar ucapan Jiyeon.

“Huft…” Jiyeon menghembuskan nafasnya, seolah beban yang ia pikul selama 5 tahun terakhir ini berkurang dengan mengatakan itu semua. Betapa tersiksanya ia selama 5 tahun ini tanpa sosok namja tinggi itu.

“Geurae, aku akan hidup normal
mulai hari ini. Aku akan mencari
sosok namja yang benar-benar bisa kukencani!” Tambahnya kembali pergi meninggalkan Chanyeol.

Chanyeol melebarkan matanya.
Ia mulai terlihat panik.
Jiyeon akan mencari namja lain? ANDWAE!
Chanyeol langsung mengejar Jiyeon dan kembali menarik tangan yeoja itu dan berhasil membuat tubuhnya berbalik kearah Chanyeol.

~CUP~

Jiyeon melebarkan matanya saat
Chanyeol mendaratkan bibirnya
tepat dibibir Jiyeon.
Hangat.
Itu yang ia rasakan.
Sepertinya 5 tahun tak mengubah kehangatan bibir Chanyeol.

Chanyeol langsung mendekap
pinggang Jiyeon dan memperdalam ciumannya. Melumat lembut bibir itu serta bermain dengan lidahnya.
Jiyeonpun mulai memejamkan kedua matanya, mulai menikmati permainan bibir Chanyeol pada bibirnya. Iapun mulai membalas setiap aksi yang Chanyeol berikan padanya.

***

Sehun, ia memandang horor sosok Chanyeol. Saat ini mereka tengah berada dikediaman Oh Family. Chanyeol hanya menelan salivanya saat ditatap seperti itu oleh Sehun.
Ternyata tatapan Sehun mampu
membuat ia takut juga.

“Chanyeol-ssi, kenapa tidak
memberitahukan terlebih dahulu pada kami kalau kau akan kembali ke Korea?” Tanya Oh Hyerin eomma Sehun mencoba mencairkan suasana.
Setelah resepsi pernikahan yang
dilangsungkan dikediaman Oh Family usai, Chanyeol diundang untuk makan malam bersama.

“Eoh? Itu karena Jiyeon sangat
sibuk. Aku mendadak kembali karena mengkhawatirkannya!” Jawab Chanyeol jujur.

“Jiyeon sibuk membantu pernikahan Sehun dan juga Luna. Hyuna dan nampyeonnya tidak dapat hadir pada hari dilaksanakannya pernikahan karena tengah berlibur ke Hongkong. Mianhae karena telah
membuatmu khawatir, Chanyeol-ssi!” Tambah Heechul merasa tak enak hati pada kekasih putri nya itu.

“Ne, gwaenchananyo abeonim!”
Jawab Chanyeol.

Luna yang tengah makan langsung tersendak saat mendengar Chanyeol memanggil Heechul dengan sebutan abeonim.
Jiyeon langsung memberikan Luna segelas air putih.
Sedangkan Sehun, ia tersenyum
miring seraya masih memandang horor ke arah Chanyeol.

“Untuk kejadian di Cathedral, saya benar-benar minta maaf. Kupikir Jiyeonlah yang akan menikah dengan NYA!” Tambah Chanyeol mengangkat
dagunya kearah Sehun saat
mengucapkan kata NYA.
Sehun yang sudah mengangkat
tangannya bermaksud memukul
Chanyeol hendak berdiri,

“Kya!” Hyerin langsung mencegahnya. Sehunpun kembali duduk.

“Neo! Sama sekali tidak berubah!
Kau masih seperti bocah!” Ucap
Sehun kesal.

“MWO? M….MWORAGO?”

“Bocah! Kau dengar? Mana ada orang dewasa yang berfikiran kalau saudara tiri akan menikah!”

“MWO?”

“Kau hanya mengganggu acaraku!
Kau menghancurkan pernikahanku!” Tambah Sehun.

“Huft…” Chanyeol menghembuskan nafasnya
kesal. Ia tersenyum sinis pada
Sehun.
Bocah?
Lagi-lagi namja brengsek itu
mengatainya bocah?

“Jiyeon-ah?” Bisik Luna pada Jiyeon.

“Eum?”

“Apa kita akan baik-baik saja saat
menjadi satu keluarga?” Tanya Luna.

“Nan molla!” Jawab Jiyeon seraya
mengangkat kedua bahunya.

“Apa kau juga bukan bocah, eoh?
Orang dewasa mana yang
menghamili seorang yeoja sebelum menikahinya?” Timpal Chanyeol tak mau kalah.

Semua yang ada disana melebarkan mata saat Chanyeol mengatakan hal itu.
Sepertinya ucapan Chanyeol
membuat peperangan kembali terjadi.

“MWO?” Teriak Sehun kesal seraya bangkit dari kursinya.

Heechul terlihat mengerjapkan
matanya. Kedua namja muda ini
benar-benar membuat kepalanya sakit saja.

“Wae? Bukankah itu benar?”

“KYA!”

Hyerin dan juga Luna langsung
menghalangi Sehun yang hendak
menghambur menghajar Chanyeol. Sedangkan Heechul, ia hanya mengurut kepalanya yang terasa pening karena tingkah kedua namja itu.

“Kajja!” Ajak Jiyeon berusaha
menjauhkan Chanyeol dari Sehun yang sudah mengamuk.

“Dasar bocah!” Ledek Chanyeol pada Sehun.

“KYA!” Teriak Sehun tak terima.

***

“Kenapa kalian pindah rumah?”
Tanya Chanyeol pada Jiyeon.
Keduanya kini tengah berjalan kaki tak jauh dari kediaman Oh Family.

“Saat Hyuna eonnie menikah, appa dan juga eomma memutuskan untuk.membeli sebuah rumah di
Pyeongchang-dong. Dan kamipun
tinggal disini!” Jawab Jiyeon.

“Bagaimana dengan rumah di
Daegu?”

“Aku masih sering berkunjung kesana. Bahkan tinggal disana selama beberapa hari. Aku berharap eomma akan datang. Namun hingga detik ini, ia tak kunjung datang!” Jawab Jiyeon tertunduk sedih.

“A…..h, kenapa dingin sekali!” Ucap Chanyeol langsung merangkul pundak Jiyeon membuat Jiyeon langsung menoleh kearahnya.

“Wae?”

Jiyeon tak menjawab.

“Jangan berfikir yang tidak-tidak!
Kau lihat? Aku hanya mengenakan T-shirt ini. Jadi wajar saja kalau aku begitu kedinginan!” Tambah Chanyeol.

Jiyeon masih memandangnya.
Chanyeol terlihat salah tingkah. Ia menjadi gugup dan langsung
melepaskan tangannya dari pundak Jiyeon.

“Berhenti menatapku seperti itu!
Apa aku terlihat seperti namja
mesum, eoh?”

Jiyeon hanya mengerjapkan matanya secara perlahan dan masih memandang sosok Chanyeol.

“Kya! Geumanhae!” Rengek
Chanyeol.

“Oppa?”

“Wae?” Tanya Chanyeol masih
merengek.

“Berapa hari kau tidak mandi, eoh?”

“Ne?” Tanya Chanyeol terkejut.

“Tubuhmu bau sekali!”
#Gubrak

“MWO?”

Jiyeon langsung berjalan
mendahului Chanyeol.

“KYA!” Teriak Chanyeol kesal.

“PALLI! AKAN KUCARIKAN SEBUAH HOTEL UNTUKMU! KAU HARUS SEGERA MEMBERSIHKAN TUBUHMU ITU!”

“Apa benar-benar bau?” Gumam
Chanyeol seraya mengendus
tubuhnya.

“KYA! TUNGGU!” Teriak Chanyeol saat melihat Jiyeon yang sudah berjalan jauh didepannya.

***

Jiyeon terlihat tengah asyik
memandangi foto-foto yang ada
dilayar android milik Chanyeol.
Ternyata namja itu memiliki banyak foto tentang dirinya.

“Apa yang kau lihat?” Tanya
Chanyeol saat keluar dari dalam
kamar mandi. Keduanya saat ini tengah berada di The Grand Hotel Myeongdong.

“Eoh? Aniya!” Jawab Jiyeon seraya meletakkan kembali android milik Chanyeol.
Chanyeol yang hanya mengenakan handuk dipinggangnya langsung
mendekat kearah Jiyeon yang tengah duduk di atas ranjang hotel membuat Jiyeon mengerjapkan matanya saat
tubuh Chanyeol semakin mendesak tubuhnya hingga tubuhnya tepat mengenai kasur ranjang.

“A…..Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Jiyeon gugup saat Chanyeol tepat berada diatas tubuhnya yang sudah terbaring diatas ranjang.

Chanyeol tak menjawab dan semakin mendekatkan wajahnya. Jiyeon mulai menutup rapat mulut dan juga kedua matanya. Terlihat kedua alisnya ikut menaut.

“Apa kau berharap aku melakukan hal yang sama seperti yang namja brengsek itu lakukan pada Luna, eoh?” Ucap Chanyeol seraya mengambil ransel yang tepat berada
disamping Jiyeon dan langsung
kembali bangkit.

Jiyeon kembali membuka kedua
matanya dan kembali bangkit.
Ia melihat Chanyeol yang tengah
membuka ransel miliknya dan
mengambil sebuah T-shirt berwarna hitam serta celana pendek selutut dari dalam ransel itu.

“Jangan berfikir aku akan melakukan hal bodoh itu padamu sebelum kita menikah!” Tambah Chanyeol kembali
masuk kedalam kamar mandi
bermaksud hendak mengenakan
pakaian yang ia ambil dari dalam
ransel yang ia bawa.

“KYA! SIAPA YANG MENGHARAPKAN HAL ITU?” Teriak Jiyeon kesal. Wajahnya
terlihat bersemu merah karena
malu.

***

Chanyeol, dengan T-shirt hitam
pekat dipadu dengan jaket hitam
bermotif putih terlihat tengah
menanti kedatangan Jiyeon di
Namsan Park tak jauh dari The
Grand Hotel Myeongdong.

“OPPA!”

Chanyeol langsung menoleh kearah Jiyeon saat yeoja itu berteriak padanya.
Semalam, setelah Jiyeon
mencarikannya hotel, yeoja itu
kembali pulang kekediamannya di Pyeongchang-dong.

Chanyeol langsung bangkit dari kursi taman yang ia duduki. Ia melempar senyum pada yeoja itu.

“Annyeonghasaeyo, Chanyeol-ssi!” Sapa Hyuna yang ternyata ikut mengekor dibelakang Jiyeon.

“Nuna! An……. KYA! NEO?” Tunjuk Chanyeol pada sosok namja tinggi yang ada disamping Hyuna.

“Kya! Jaga bicaramu, oppa!” Protes Jiyeon dan langsung menurunkan telunjuk Chanyeol menggunakan tangannya.

“Annyeonghasaeyo, Chanyeol-ssi!” Sapa namja tinggi itu pada
Chanyeol.

“Eoh, apa kalian sudah saling
mengenal sebelumnya?” Tanya
Hyuna.

“Eum. Chanyeol-ssi ini oppa Jiyeon sebelum menjadi namjachingunya. Kami pernah bertemu saat B.A.P konser di Daegu!”

“Ne, eonnie. Yongguk oppa benar. Mereka pernah bertemu
sebelumnya. Kau tau bukan? Aku ini fans B.A.P terutama Yongguk oppa. Itu sebabnya aku merasa senang mempunyai kakak ipar seperti dia!” Tambah Jiyeon ikut membenarkan
pernyataan namja tinggi yang
ternyata Bang Yongguk sang leader dari grup B.A.P itu.

“MWO? KAKAK IPAR?” Teriak
Chanyeol terkejut.

“Eum! Yongguk oppa adalah
nampyeon Hyuna eonnie!” Jawab
Jiyeon.

“Huft…” Chanyeol terlihat menghembuskan nafasnya.
Kenyataan apa lagi ini?
Setelah Sehun dan juga Luna,
sekarang Bang Yongguk.
Kenapa orang-orang itu tak pernah jauh dari kehidupannya dan juga Jiyeon? Batinnya meringis.

“Wae?” Tanya Hyuna.

“Ani. Gwaenchana. Nuna, kuharap kau bisa menjaga nampyeonmu ini dengan baik! Aku akan membawa Jiyeon ke Daegu untuk beberapa hari. Titipkan salamku untuk
abeonim dan juga eommanim!
Annyeong!” Jawab Chanyeol yang langsung menarik tangan Jiyeon dan menjauh dari Hyuna dan juga Yongguk.

“Oppa?” Tanya Jiyeon yang terlihat bingung melihat tingkah Chanyeol.

Chanyeol tak menanggapinya. Ia
terus berjalan menjauhi dua
makhluk yang ada dibelakangnya.
Lebih tepatnya menjauhkan sosok Jiyeon dari Yongguk.

“Wae?” Tanya Hyuna yang juga
terlihat bingung dengan sikap
Chanyeol.

“Anak itu sama sekali tidak
berubah!” Ucap Yongguk.

“Mwo?”

“Dia akan cemburu jika Jiyeon
berdekatan dengan namja lain.
Beruntung sekali mereka berdua
bukanlah saudara kandung!” Jawab Yongguk.

“Jadi Chanyeol-ssi cemburu padamu, oppa? Hahaha…..”

“Wae? Kenapa tertawa?”

“Dia juga sering bersikap seperti itu saat Jiyeon dekat dengan Sehun!”

“Jeongmal?”

“Eum!”

“Hahaha….” Keduanya tertawa bersama.

Jiyeon, ia selalu mengajak Hyuna
untuk menemaninya menonton
konser B.A.P. Hingga akhirnya baik Hyuna maupun Yongguk memiliki ketertarikan satu sama lain. 2 tahun menjalin hubungan dan akhirnya mereka berduapun memutuskan untuk menikah. 8 bulan sudah usia pernikahan mereka dan dokterpun
memberitahukan bahwa Hyuna
tengah mengandung dan usia
kandungannya sudah menginjak 2 bulan. Yongguk pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari B.A.P
dan lebih memilih untuk fokus
menjaga dan merawat Hyuna dan juga bayi yang ada didalam perut yeoja itu. Namun Yongguk masih tetap aktif menjadi seorang komposer bagi grup yang sudah membesarkan namanya itu. Ia dan Hyuna pun memutuskan untuk tinggal disebuah apartement
dikawasan Gangnam.
Sepertinya setelah kembali berlibur dari Hongkong, Hyuna dan juga Yongguk memutuskan untuk mengantar Jiyeon menemui Chanyeol karena mereka pun sudah lama tidak
bertemu dengan namja tinggi itu.

***

“Berhenti tertawa, oppa!” Perintah Jiyeon kesal karena Chanyeol terus saja tertawa saat melihat Amber yang mengenakan seragam kepolisian begitu terlihat aneh baginya.
Keduanya saat ini tengah berada di kantor kepolisian Daegu Seobu tempat Amber bekerja.

“Apa aku terlihat sangat aneh, eoh?” Bisik Amber pada Jiyeon.

“Ani.” Jawab Jiyeon.

“KYA!” Teriak Jiyeon dan berhasil
membuat Chanyeol terdiam.

“Apa selama kau tinggal di Jepang, kau tidak tau bagaimana caranya bersikap baik saat bertemu dengan teman lama eoh?” Tanya Jiyeon kesal
karena tingkah Chanyeol yang tidak sopan menertawakan aparat kepolisian yang tidak lain adalah Amber itu.

***

“Apa dia tidak salah memberikan
alamat?” Tanya Chanyeol pada
Jiyeon. Keduanya saat ini tengah berada diatas gunung Pulgong yang memiliki ketinggian 1,192 meter diatas permukaan laut.
Tepat dihadapan mereka saat ini
berdiri kokoh sebuah kuil dan
terdapat banyak patung budha dan juga pagoda disana.

“Benar. Ini tempatnya. Amber
mengatakan bahwa pamannya
pernah melihat eomma disini
beberapa waktu lalu.” Jawab Jiyeon. Ternyata maksud mereka menemui Amber adalah untuk mencari informasi mengenai keberadaan Shinhye.

“Eomma!” Panggil Jiyeon saat
melihat sosok Shinhye yang tengah membersihkan salah satu Pagoda yang ada disana.

“Ji….Jiyeon-ah! Chanyeol-ah!”
Gumam Shinhye saat menydari
kehadiran 2 orang yang pernah
menjadi anaknya itu.

***

“Eomma!” Rengek Jiyeon.
Ketiganya saat ini tengah berada
disalah satu pondok dibelakang kuil. Shinhye memberikan mereka berdua secangkir teh.

“Kajja kita pulang!” Tambah Jiyeon membuat Shinhye hanya dapat menunduk malu.
Malu karena telah membohongi
kedua putra-putri yang ada
dihadapannya saat ini.
Malu karena telah berusaha memisahkan mereka.

Jiyeon kemudian menggenggam erat kedua tangan Shinhye. Air matanya tak dapat terbendung lagi. Ia begitu merindukan sosok eommanya itu.

“Eomma! Hiks…”

Shinhyepun ikut meneteskan air
mata. Sudah 5 tahun sejak
menghilangnya ia. Jiyeon dan juga Chanyeol kini sudah tumbuh dewasa.

“Pulanglah bersama kami. Aku akan menikah dengan Jiyeon dan eomma yang harus menjadi walinya.” Ucapan Chanyeol sukses membuat Shinhye dan juga Jiyeon menoleh kearahnya.

“Oppa?”

“Kita bertiga akan tinggal di Daegu seperti dulu. Tidak ada Jepang, Seoul ataupun Pulgong. Kita hanya akan tinggal di Daegu. Kita akan membangun sebuah restorant disana. Restorant Park Family. Kita bertiga. Ya, hanya kita bertiga. Kita akan membangun kembali Park
Family yang terpisah selama 5
tahun. Kita bertiga akan sama-sama membangun sebuah keluarga bahagia seperti dulu.”

“Hiks…” Ketiganya menangis mendengar ucapan Chanyeol. Mereka bertiga pun saling berpelukan melepas rindu yang selama 5 tahun ini mereka tahan.

***

” KYA! KELUAR KAU CHANJI!” Teriak Chanyeol pada bocah namja berusia 2 tahun itu.

” Kya! Jangan berteriak pada
anakku!” Timpal Jiyeon.

“Jiyeon-ah, aku sudah lama
menahannya. Kita harus memberikan Chanji dongsaeng!” Rengek Chanyeol.

Chanyeol dan Jiyeon, usia
pernikahan mereka sudah 3 tahun lamanya dan mereka baru memiliki seorang putra.
Saat ini ketiganya tengah berada
didalam kamar mereka di Home Park Family di Daegu.

“KYA! KENAPA KAU MALAH
MEMELUKNYA?” Teriak Chanyeol saat Jiyeon coba menidurkan Chanji.

“Kau ini berisik sekali!” Jawab Jiyeon seraya menggendong Chanji dan bangkit dari atas ranjang.

“KYA! NEO EODIGA?”

“Aku akan tidur dikamar Chanji.”

“KYA! BAGAIMANA DENGANKU?” Protes Chanyeol tak terima Jiyeon meninggalkannya di atas ranjang kamar mereka sendirian demi Chanji anaknya.

“Kau tidur disini saja! Kau
mengganggu Chanji dengan suaramu itu!” Jawab Jiyeon keluar dari dalam kamarnya.

“EOMMA….” Rengek Chanyeol kesal pada eommanya yang membiarkan Chanji kabur dari dalam kamarnya dan masuk kedalam kamar mereka berdua.

“Kenapa Chanji harus terlahir
dengan cepat? Aku bahkan belum puas bersama dengan Jiyeon! Huaaaaa…..” Rengeknya lagi. Chanyeol langsung bangkit dari atas ranjang.

“Andwae! Aku tidak akan tinggal
diam. Setelah Chanji tidur, aku akan menyerangmu. Habislah kau, Park Jiyeon!” Gumamnya tersenyum iblis.

***

Sampai jumpa lagi di FF selanjutnya!
Mungkin kapan-kapan author posting FF lagi di WP, nunggu para readers nya berhenti jadi siders 😀
Author tunggu kritik dan sarannya!
Coment jusaeyo! 😉

FF Chanyeol Jiyeon (Park Couple) I Like You The Best (Part 5)

image

         I LIKE YOU THE BEST
                              (part 5)

Author:
Erni Eyexs

Twitter:
@ernieyex

Instagram:
@erni_eyexs

Main Cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Park Chanyeol (EXO)

Other Cast :
Oh Sehun (EXO)
Kim Hyuna (4minute)
Kim Heechul (Super Junior)
Oh Hyerin (After School)

Songfict :
T-ara N4 ft Double Kick Can We Love

Genre :
Bromance, Comedy, School life, Friendship, Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N : Part 5 datang. Pernah authot posting di tanggal 27 Mei 2014 silam.
HAPPY READING!
DON’T PLAGIARISM!

***

Terlihat tiga namja dan satu yeoja yang tengah menunggu dengan cemas didepan ruang UGD yang ada di Cheil
General Hospital. Mereka tengah
menunggu dua yeoja yang tengah melakukan operasi transplantasi ginjal.

Jiyeon, setelah ia mengetahui
kebenaran mengenai kelahirannya, ia langsung datang ke rumah sakit di Seoul dan melihat keadaan eonnie
kandungnya, yakni Kim Hyuna.

” geogjeonghaji maseyo! Yeoja itu akan baik-baik saja!” Ucap Sehun pada Chanyeol yang kemudian berhasil membuat
Chanyeol menoleh kearah
Sehun. Ia masih kesal karena Sehun telah berani memeluk yeoja yang ia cintai itu.

“Ck, Tentu aku tau dengan
SANGAT JELAS bagaimana Jiyeon. Dan perlu kau ingat! Yeoja itu memiliki nama. Dan dia adalah Park Jiyeon. ” Balas Chanyeol dingin.

“Huft….” Sehun hanya dapat menghembuskan nafasnya karena tingkah Chanyeol yang menurutnya terlalu berlebihan itu.

“Kau ini kekanak-kanakan sekali. Apa kau masih marah karena aku
memeluknya, eoh? Bukankah kau sudah mengetahui semua
kebenarannya!”

“Mwo? Kau bilang aku kekanak-
kanakan? Kya! Berapa usiamu, eoh? Aku bahkan lebih tua darimu!” Timpal Chanyeol kesal.

“Eotteon. Terlihat jelas dari kerutan yang ada diwajahmu itu!” Balas Sehun seraya menunjuk beberapa titik di wajah Chanyeol.

“MWO?” Teriak Chanyeol.

“Kya! Bisakah kalian diam! Ini rumah sakit!” Ucap Oh Hyerin eomma, Oh Sehun.

“Dan kau Sehun, jangan
mengganggunya!” Tambah sang
eomma.

“Siapa yang mengganggunya,
eomma? Namja ini yang terlalu
berfikir kekanak-kanakan!” Balas
Sehun membela diri.

“MWO?” Chanyeol kembali berteriak.

“Diamlah! Tak bisakah kalian
tenang? Bisakah kalian diam dan
berdo’a untuk keselamatan mereka yang ada didalam sana!” Ucap Heechul yang sepertinya mulai merasa kesal.

Chanyeol dan Sehunpun terdiam.
Oh Hyerin langsung memeluk lengan Heechul.

“Gwaenchana. Kedua putri kita
sangat kuat! Mereka berdua pasti
bisa melewati ini semua!” Ucap
Hyerin menenangkan.

Heechul, ia sungguh beruntung bisa memiliki anae sebaik Hyerin. Meski Hyuna bukanlah puteri kandungnya, namun yeoja itu dengan baik hati
mau merawat dan menyayangi Hyuna dengan sepenuh hatinya. Bahkan iapun juga mau menerima kehadiran Jiyeon dihidupnya.

Bagaimana dengan Shinhye? Sejak terbongkarnya kelahiran Jiyeon, ia pergi entah kemana. Hingga detik ini, tak ada kabar darinya. Mungkin ini memang balasan untuknya karena telah meninggalkan kedua orangtuanya demi menikah dengan Yunho. Mulai dari anak dalam kandungannya yang meninggal dunka, Suaminya meninggal, Hingga Chanyeol dan juga Jiyeon yang sudah ia
anggap seperti anak kandungnya sendiripun meninggalkannya. Sepertinya tuhan benar-benar ingin membuatnya hidup sendirian dalam menjalani hari-
harinya.

***

“Neomu appo?” Tanya Chanyeol pada Jiyeon yang saat ini tengah
terbaring diatas ranjang rumah sakit. Pasca operasi transplantasi ginjal yang di lakukannya, Jiyeon langsung dipindahkan ke
ruang rawat.

“Eum!” Jawab Jiyeon seraya
menganggukkan kepalanya.

“Oppa, neo appa eotteokhae?” Tanya Jiyeon menanyakan kabar appa Chanyeol.

“Eoh, ada banyak keluarga disana. Ada banyak orang yang merawatnya.” Jawab Chanyeol.

“Apa oppa akan kembali ke Jepang?” Tanya Jiyeon sedikit sedih.

“Wae? Apa kau ingin oppa tetap
tinggal disini, eoh?”

“UNTUK APA KAU DATANG JIKA PADA AKHIRNYA KAU AKAN PERGI LAGI!” Teriak Jiyeon kesal.

“KYA! INI SEMUA ADALAH SALAHMU! KENAPA KAU TIDAK PERNAH MEMBALAS SURATKU, EOH? KAU TAU? AKU SANGAT KHAWATIR KARENA HAL ITU!” Teriak Chanyeol tak mau kalah.

“MWO? KYA! SURAT APA? KAU
BAHKAN TIDAK MEMBALAS EMAILKU!” Balas Jiyeon membela diri.

“Kya! Kya! Kya! Kalian berdua ini
berisik sekali!” Sembur Sehun yang baru memasuki ruang rawat Jiyeon bersama dengan Hyuna yang duduk diatas kursi roda. Kontan saja itu membuat Jiyeon dan juga Chanyeol menghentikan perdebatan
mereka dan langsung menoleh
kearah Sehun dan juga Hyuna.

Hyuna, yeoja itu tersenyum manis pada Jiyeon begitu pula dengan Jiyeon. Sedangkan Chanyeol, ia seolah enggan bertemu dengan Sehun.

“Bagaimana keadaanmu? Apa masih terasa sakit?” Tanya Hyuna lembut.

“Anio. Gwaenchana. Aku baik-baik saja!” Jawab Jiyeon berbohong.

Sehun merasa ada atmosfer
kecanggungan antara Jiyeon dan
juga Hyuna.

“KYA! APA YANG KAU LAKUKAN?” Teriak Chanyeol saat Sehun menyeretnya keluat dari dalam ruang rawat Jiyeon.

“Huft…” Sehun terlihat menghembuskan nafasnya saat keduanya sudah berada diluar ruang rawat Jiyeon.
Dengan kesal, Chanyeol langsung
menghempaskan tangan Sehun.

“APA KAU SUDAH GILA, EOH? BERANI SEKALI KAU MENYENTUHKU!” Teriak Chanyeol.

“Kau ini berisik sekali! Apa kau tidak bisa membaca situasi, eoh? Kedua kakak beradik itu baru bertemu setelah 17
tahun. Mereka butuh waktu untuk berdua.”

Chanyeol terdiam. Ia baru menyadari hal itu.

“Kya! Berapa usiamu?” Tanyanya
pada Sehun.

“Wae? Kenapa kau menanyakannya?” Tanya Sehun curiga.

“Aissh, kau hanya perlu
menjawabnya saja! Apa itu sulit?”

“17 tahun. Wae?”

Chanyeol tertawa sinis mendengar jawaban Sehun.

“Kya! Kau harus memanggilku Hyung! Usiaku lebih tua 2 tahun darimu!” Balas Chanyeol bangga.

“Apa itu penting?” Ucap Sehun
seraya melangkah meninggalkan
Chanyeol.

“KYA!” Teriak Chanyeol kesal.

Sementara itu Jiyeon dan Hyuna,
Keduanya masih terdiam. Hyuna
mendorong kursi rodanya membuat jarak antara ia dan juga Jiyeon berkurang.

“Eonnie!” Ucap Jiyeon saat melihat Hyuna mulai mendekat.

Hyuna, Ia merasa sangat senang karena Jiyeon memanggilnya eonnie.

“Jiyeon, itukah namamu?” Tanya
Hyuna yang tak pernah memudarkan sedikitpun senyum dibibirnya untuk
Jiyeon.

“Eum!” Jawab Jiyeon menunduk
seraya menganggukkan kepalanya.
Jiyeon, ia menyembunyikan air
matanya dengan menunduk.
Hyuna menyadari hal itu. Ia langsung mengelus lembut tangan Jiyeon dan berhasil membuat Jiyeon terisak.

“Hiks…”

“Uri dongsaeng!” Ucap Hyuna.
Ia langsung memeluk tubuh Jiyeon.

“Hiks….” Jiyeon, ia menangis didalam pelukan Hyuna begitu pula dengan Hyuna yang tidak bisa menahan harunya.

“Eonnie! Hiks…” Ringis Jiyeon.

“Gwaenchana, eonnie ada disini!”
Jawab Hyuna.

Keduanyapun menangis bersama. 17 tahun sepertinya waktu yang sudah cukup untuk membuat mereka berdua
terpisah.

Sementara itu, Chanyeol mulai
mengkhawatirkan keadaan Shinhye. Bagaimanapun juga Shinhye adalah orang yang telah dengan tulus menyayangi dan juga merawat dirinya bersama Jiyeon.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya
Sehun. Keduanya saa ini tengah berada dikantin rumah sakit.

“Itu bukan urusanmu!” Jawab
Chanyeol dengan ketusnya.

“Dasar bocah!” Gumam Sehun dan terdengar jelas oleh Chanyeol.

“Kya! Mworago? Apa yang baru saja kau katakan, eoh? Bocah? Kau yang masih bocah! Kau dengar itu?” Timpal Chanyeol kesal.

“Bagaimana sikapmu ini tidak
disebut bocah, kau marah padaku dengan alasan yang tidak jelas!” Balas Sehun.

“Tidak jelas? Kau bilang tidak jelas? Apa kau memeluk Jiyeon seenaknya itu bukanlah hal yang jelas, eoh?” Chanyeol tak mau kalah.

“Aigoo, kau masih mempermasalahkan hal itu? Aku ini saudara tirinya dan aku sama sekali tidak tertarik
dengan yeoja cerewet seperti dia!”

“M….Mwo? Mworago? Cerewet?
Berani sekali kau mengatainya
cerewet!”

“Aissh, kalian berdua ternyata sama-sama cerewet. Dasar Two Park! Duo Couple Cerewet!” Tambah Sehun yang langsung beranjak dari kursinya dan
pergi meninggalkan Chanyeol.

“KYA!” Teriak Chanyeol kesal karena Sehun lagi-lagi meninggalkannya.

“Aku bisa gila kalau punya adik ipar seperti dia!” Gumam Chanyeol.

“Adik ipar?” Chanyeol tersenyum
malu saat mengucapkan kata itu.

“Aigoo, Jiyeon-ah! Kau harus segera menikah denganku!” Gumamnya tersipu malu namun terlihat begitu aneh bagi siapapun yang melihatnya.

***

@Seoul National Cementery

“Ini adalah makam eommamu,
Jiyeon-ah!” Ucap Heechul pada
Jiyeon. Heechul, Oh hyerin, Oh Sehun, Kim Hyuna, Chanyeol, dan juga Jiyeon saat ini tengah berada tepat didepan makam Kim Tae Hee, eomma kandung Jiyeon. Jiyeon mulai berjongkok.

“Eomma…!” Lirihnya. Ia tak dapat membendung lagi kesedihannya. Air matanya tumpah diatas makam sang
eomma. Sejak ia lahir hingga
tumbuh besar seperti sekarang, ia belum pernah bertemu sekalipun dengan eomma kandungnya itu.

Hyuna langsung ikut berjongkok dan menepuk pelan pundak Jiyeon, memberikan suatu kenyamanan pada dongsaengnya itu.

“Gwaenchana!” Bisiknya.
Heechulpun ikut berjongkok.

“Ini putrimu, Tae Hee-ah! Dia
datang! Mianhae karena selama 17 tahun ini aku telah memisahkan kalian berdua. Mianhae!” Tangis Heechulpun pecah. Ia benar-benar
merasa bersalah atas kematian Tae Hee.

Tae Hee, yeoja itu menjadi depresi setelah diberitahukan Heechul bahwa anaknya meninggal dunia. Meski saat itu sudah ada Hyuna, namun itu tak
dapat mengobati rasa sedihnya. Ia merasa bersalah karena tidak dapat melahirkan anaknya dengan baik. Ia mengutuk dirinya sendiri akan kematian anaknya.
Kenapa bukan anaknya saja yang hidup?
Kenapa mesti anaknya yang meninggal?
Ia juga merasa bersalah pada Hyuna karena gagal memberikan dongsaeng
untuknya. Begitu pula pada
Heechul. Ia merasa telah gagal
menjadi seorang istri karena tidak bisa menyelamatkan anak kedua mereka. Tae Hee pun mulai sakit-sakitan hingga akhirnya ia meninggal dunia. Heechulpun tak pernah
berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu semua.

Hyuna, ia berusaha menenangkan dongsaeng dan juga appanya. Ia memeluk keduanya. Meski ia tidak
bisa memperbaiki kejadian dimasa lalu, namun ia bisa mengubah kejadian dimasa yang akan datang.

“Kenapa ini begitu mengharukan?” Gumam Chanyeol membuat Sehun langsung menoleh kearahnya.

“Kau ini cengeng sekali!” Ejek
Sehun saat melihat Chanyeol yang tengah menghapus air mata yang terjatuh dipipinya.

“Mwo?”

“Eomma, aku akan berkunjung
kemakam appa terlebih dahulu!”
Ucap Sehun pada Oh Hyerin dan
langsung meninggalkan semuanya.

Oh Hyerin hanya mengangguk pelan. Sedangkan Chanyeol, namja itu benar-benar merasa kesal karena Sehun lagi-lagi
mengabaikannya.

“Apa appanya sudah meninggal?”
Gumam Chanyeol saat melihat
kepergian Sehun.

“Untuk apa kau memikirkannya? Itu sama sekali bukanlah urusanmu, Park Chanyeol!” Monolognya.

Hyerin langsung menoleh kearahnya dengan tatapan aneh.

“Wae?” Tanya Chanyeol heran.

“Apa kau putera Park Shin Hye?”

“Ani. Aku bukanlah puteranya.
Namun dia sudah menganggapku
seperti puteranya begitu pula
sebaliknya.”

Hyerin hanya menganggukkan
kepalanya.

“Apa kau dulu tinggal bersama
Jiyeon?”

“Eum. Sebelum kami mengetahui tentang riwayat kelahiran kami, kami adalah sepasang kakak beradik. Kami
sangat populer disekolah.”

Hyerin lagi-lagi hanya
menganggukkan kepalanya.
Chanyeol merasa bingung atas
semua pertanyaan eomma Oh Sehun itu. Namun, sepertinya eomma Oh Sehun lebih menarik dibandingkan anaknya.

***

“Jiyeon-ah! Mulai besok tinggallah di Seoul! Appa akan mengurus semua kepindahanmu!” Ucapan Heechul sukses membuat
Jiyeon dan juga Chanyeol menghentikan aksi makan mereka. Semuanya saat
ini tengah berada dikediaman
keluarga Oh.

“Ne, eomma setuju. Akan lebih
menyenangkan jika eomma memiliki dua putri sekaligus. Usiamu juga sepertinya sama dengan Sehun. Kau bisa menjadi saudara yang baik baginya.” Tambah Hyerin begitu
berantusias.

Chanyeol langsung memandang
horor Sehun yang ada disampingnya dan tentu saja itu membuat Sehun merasa tidak nyaman.

“Berhenti memandangku seperti itu! Kau dengar? Saudara! Apa kau tidak
mengerti arti dari kata Saudara?”
Ucap Sehun yang sepertinya
mengerti dengan apa yang dipikirkan Chanyeol tentangnya.

“Memangnya apa yang kukatakan?” Timpal  Chanyeol membela diri.

Hyuna terkekeh melihat kelakuan dua namja yang ada dihadapannya saat ini.
Sedangkan Jiyeon, yeoja itu hanya terdiam.

“Apa kau namja chinguya Jiyeon,
Chanyeol-ssi?” Tanya Hyuna membuat Chanyeol langsung gugup mendapat pertanyaan dari eonnie yeoja yang ia
cintai itu. Sejujurnya ia pun belum pernah menyatakan perasaannya pada Jiyeon. Mereka berdua juga tidak ada status layaknya seperti sepasang
kekasih.

Chanyeol hanya menggaruk
tengkuknya yang tidak gatal. Ia
benar-benar bingung harus
menjawab apa.

“Pabo!” Gumam Sehun yang melihat tingkah aneh Chanyeol.

“Mwo?”

“Appa, mianhae! Aku tidak bisa
melakukannya! Aku masih ingin
melanjutkan sekolahku di Daegu
hingga aku lulus nanti. Lagipula,
aku juga belum mendapatkan kabar apapun tentang Shinhye eomma. Entah dimana keberadaannya saat ini. Apakah ia baik-baik saja atau tidak!” Jawab Jiyeon seraya menundukkan kepalanya sedih.

Chanyeol mengerti benar dengan perasaan Jiyeon. Betapapun buruknya Shinhye,
namun selama mereka tinggal
bersama dengan yeoja itu, mereka selalu mendapatkan perlindungan layaknya dari eomma kandung sendiri. Hanya
saja yang berbeda adalah karena mereka berdua tidak terlahir dari rahim Shinhye.

“Kau masih menganggapnya eomma? Dia yang menyebabkan kau terpisah dengan keluarga kandungmu sendiri, Jiyeon-ah!” Tambah Hyerin.

“Gwaenchana! Apapun keputusanmu, appa akan selalu mendukungmu! Katakan pada appa apapun yang kau
inginkan dan kau butuhkan. Ara?”

“Ne. Nan ara! Gomawo appa!”

“Jangan sungkan untuk
menghubungi eonnie, ne?” Ucap
Hyuna.

“Eum!” Jawab Jiyeon menganggukkan kepalanya semangat.

“Eomma do. Kau adalah putriku
juga. Jadi jangan sungkan padaku!
Dan mulai hari ini, kau wajib
memanggilku eomma. Ara?”

“Eum. Arayo, eomma!”

Semuanya pun ikut tersenyum
bahagia.

“Apa kau juga ingin mengatakan
sesuatu, Sehun-ssi?” Tanya Chanyeol dengan sinis.
Sehun tidak menanggapinya.

“Kya!” Ucap Chanyeol kesal.

“Chanyeol-ssi, gomawo karena
selama ini sudah menjadi oppa yang baik bagi Jiyeon!” Ucap Heechul berterimakasih.

“Ne, abeonim!”

“Mwo? Abeonim?” Tanya Sehun
terkejut mendengar Chanyeol
memanggil Heechul dengan kata
abeonim.

“W…Wae? Memangnya ada yang
salah dengan panggilan itu, eoh?”
Chanyeol membela diri.

“Huft…” Sehun hanya menghembuskan nafasnya. Ia malas selalu berdebat dengan namja tinggi itu. Sikapnya
sama persis dengan Jiyeon.

Semuanya tertawa melihat tingkah konyol Sehun dan juga Chanyeol yang selalu berseteru karena hal sepele bahkan sama sekali tidak penting.

***

“Oppa, apa eomma belum
menghubungimu juga?” Tanya Jiyeon pada Chanyeol.
Setelah Sehun mengantarkan mereka kembali ke Daegu, mereka langsung pulang kerumah. Saat ini keduanya
tengah berada dikediaman keluarga Park.
Sepi. Disana terlihat sangat sepi karena tak ada seorangpun didalam sana. Shinhyepun entah menghilang kemana.

“Bagaimana kalau kita coba mencari tau didalam kamarnya? Mungkin saja kita dapat menemukan petunjuk mengenai keberadaannya!” Usul Chanyeol.

Jiyeon hanya mengengguk
menyetujui ide Chanyeol.

Chanyeol kemudian membuka knop pintu kamar Shinhye yang tak terkunci. Terlihat begitu rapih meskipun tanpa penghuni didalamnya. Jiyeonpun mulai masuk lebih dalam lagi.

Chanyeol dan juga Jiyeon, mereka berdua mencoba memeriksa benda yang mungkin dapat dijadikan petunjuk.
Jiyeon tersenyum memandang
sebuah foto berbingkai besar
terpasang didinding kamar Shinhye. Fotonya bersama dengan Shinhye, Yunho dan juga Chanyeol. Ia ingat betul foto itu diambil saat Yunho masih hidup. Saat itu usianya baru menginjak 9 tahun.

“Jiyeon-ah!” Panggil Chanyeol membuat Jiyeon menoleh dan melangkah kearah Chanyeol. Matanya melebar saat menemukan banyaknya surat
didalam laci meja Shinhye yang
ternyata surat itu adalah dari
Chanyeol untuknya.
Chanyeol langsung mengambil
android putih yang ternyata adalah miliknya itu tepat berada disamping surat-surat yang ada.

“Bukankah itu handphonemu, oppa?” Tanya Jiyeon.

Terlihat raut kekecewaan diwajah
Chanyeol. Jadi Shinhye yang
melakukan semuanya. Ia yang
membuat Chanyeol dan juga Jiyeon tidak dapat berkomunikasi selama Chanyeol di Jepang. Sedangkan Jiyeon, ia mulai membaca salah satu
surat yang ada. Kini ia mengerti
kenapa Chanyeol menghilang.
Ternyata Chanyeol selalu
mengiriminya surat selama ini,
namun disembunyikan oleh Shinhye.
Chanyeol dan Jiyeon mulai beradu pandang.

“Apa mungkin eomma
mengetahuinya?” Tanya Chanyeol.

Jiyeon tak menjawab. Setidaknya ia tau pikirannya dan Chanyeol benar- benar sama saat ini.
Jadi Shinhye sudah mengetahui
perasaan Jiyeon dan juga Chanyeol, itu sebabnya Shinhye melakukan ini semua.
Namun sepertinya takdir berpihak pada mereka berdua. Kini perasaan keduanya dapat bersatu karena kenyataan telah memberitahukan bahwa mereka tidak ada ikatan saudara kandung maupun saudara
sepupu sama sekali.

***

“Eoh, kau sudah bangun Jiyeon-ah?” Ucap Chanyeol saat melihat Jiyeon yang turun dari lantai dua rumah mereka dengan mengenakan seragam sekolah.
Sudah satu minggu lamanya Jiyeon tidak bersekolah karena ia berada di Seoul.

“Apa yang kau masak, oppa?” Tanya Jiyeon saat melihat Chanyeol yang tengah menyiapkan makanan yang
dimasaknya diatas meja.
Namja itu terlihat begitu tampan
dengan apron yang menggantung
dilehernya.

“Makanlah! Meskipun masakan oppa tidak seenak masakan eomma, geundae ini masakan yang oppa buat dengan sepenuh hati untukmu Jiyeon-ah!”

Jiyeon terkekeh mendengarnya. Ia mulia duduk dan perlahan
menyantap makanan yang ada
dihadapannya.

“Eotteo?” Tanya Chanyeol penasaran.

“Mashita!” Jawab Jiyeon dan berhasil membuat Chanyeol tersenyum bahagia.

“Geurae, kau harus segera
menghabiskannya! Setelah itu, oppa akan mengantarkanmu ke Sekolah!” Tambah Chanyeol yang kemudian ikut duduk dihadapan Jiyeon.

Tak lama, terdengarlah suara ketukan pintu.

~Tok Tok Tok~

“Siapa itu yang pagi-pagi bertamu?” Gumam Chanyeol bangkit kembali dari kursinya.

“Eoh! Mungkin itu eomma, oppa!” Pikir Jiyeon.

Chanyeol langsung membukakan
pintu dan Jiyeonpun ikut berharap bahwa sang eommalah yang datang.

“Membuka pintu saja kau lelet
sekali!” Sembur Sehun saat Chanyeol membukakan pintu untuknya. Dibelakangnya
terlihat sosok Hyuna yang ikut
bersamanya.

Chanyeol sangat kesal karena Sehun begitu saja melewatinya dan langsung duduk tepat dihadapan Jiyeon. Tepat dikursi yang baru saja ia duduki.
Sedangkan Hyuna, dengan ramah
eonnie kandung Jiyeon itu
tersenyum padanya.

“Annyeong, Chanyeol-ssi!” Sapanya.

“Eoh, annyeong nuna!”

Hyunapun langsung masuk dan
duduk disamping Jiyeon.

“Eonnie, kau datang?”

“Eum. Eomma dan appa
mengkhawatirkanmu yang hanya
tinggal berdua saja bersama
Chanyeol. Bagaimanapun juga kalian bukanlah saudara kandung!” Jawab Hyuna.

Chanyeol ikut duduk disamping
Sehun yang tengah asik memakan masakan yang ia buat.

“Bagaimana, Oh Sehun? Apa kau
suka dengan makanan yang kubuat, eoh?” Sindir Chanyeol.

Sehun hanya menelan salivanya. Tak bisa ia pungkiri bahwa makanan yang dibuat oleh Chanyeol benar-benar sangatlah enak. Namun ia enggan untuk
mengakuinya.

Chanyeol hanya tersenyum sinis
padanya.

“Apa Shinhye ahjumma sudah
kembali?” Tanya Hyuna.

Jiyeon hanya menggelengkan
kepalanya sedih.
Hyuna mengerti bagaimana perasaan Jiyeon saat ini. Ia pasti sangat mengkhawatirkan keadaan Shinhye. Bagaimanapun juga, Shinhyelah yang
membesarkannya selama 17 tahun.

“Eoh, Chanyeol-ssi! Ku dengar kau melanjutkan study di Jepang. Kapan kau akan kembali kesana?”
Pertanyaan Hyuna lagi-lagi sukses membuat Chanyeol dan juga Jiyeon terdiam.
Atmosfer dalam ruangan itu kembali berubah menjadi terasa aneh.

Sehun kemudian dengan sembarang membunyikan suaranya cukup keras, berusaha untuk mencairkan kembali
suasana yang ada disana.

“Kya! Park Jiyeon! Kalau kau sudah selesai, kajja kita berangkat sekolah!” Ajak Sehun.

Mendengar ajakan Sehun pada
Jiyeon, Chanyeol langsung menoleh kearahnya.

“Mworago? Kesekolah bersama?”

“Wae? Aku satu sekolah dengannya!” Jawab Sehun seraya membuka pengait cardigan yang ia kenakan dan menunjukkan pada Chanyeol bahwa seragam yang ia kenakan sama dengan yang dikenakan Jiyeon saat ini. Itu berarti menunjukkan bahwa ia juga salah satu hagsaeg
di Joil Technical High School, sama seperti Jiyeon.

“Sebelumnya Sehun bersekolah di Daegu hanya untuk mencari nae dongsaeng. Meski kami sudah menemukannya, namun sangat disayangkan jika Sehun harus keluar dan pindah sekolah lagi ke Seoul. Jadi eomma dan juga appa sepakat untuk membiarkan Sehun tetap
bersekolah di Daegu hingga ia lulus. Lagipula, kami juga sudah terlanjur membeli sebuah rumah di Daegu. Jadi sangat disayangkan apabila tidak ditempati.” Ucap Hyuna mencoba menjelaskan pada Chanyeol dan juga Jiyeon.

“Kajja! Kita bisa terlambat, Park
Jiyeon!” Ajak Sehun seraya bangkit dari kursinya.

“Chanyeol-ssi, bisakah kita bicara? Biarkan Jiyeon berangkat kesekolah bersama Sehun. Jangan khawatir!” Tambah Hyuna saat melihat Chanyeol yang hendak bangkit dari
kursinya.

Chanyeol kemudian menatap ke arah Jiyeon begitu pula dengan Jiyeon.

“Gwaenchana, oppa! Kau tidak perlu terlalu waspada pada Sehun!” Ucap Jiyeon menggoda.

“Geurae, kalau begitu aku berangkat sekolah dulu! Annyeong, eonnie! Annyeong, oppa!” Pamit Jiyeon yang
kemudian melangkah mengekor
dibelakang Sehun.

Chanyeol, ia nampak terlihat enggan membiarkan Jiyeon bersama dengan Sehun. Meskipun keduanya hanya
saudara tiri, namun ia benar-benar takut nanti Sehun akan merebut Jiyeon darinya.

“Gwaenchana! Sehun tidak akan
merebut Jiyeon darimu!” Ucap
Hyuna yang sepertinya mengerti
dengan apa yang dirasakan Chanyeol saat ini.

“Apa yang ingin kau bicarakan
denganku, nuna?” Tanya Chanyeol pada akhirnya.

“Eoh, ne. Hampir saja aku
melupakannya!” Jawab Hyuna.

Chanyeol masih menanti perkataan yang hendak keluar dari mulut Hyuna.

“Kembalilah ke Jepang!” Akhirnya kata-kata yang ditunggu Chanyeol keluar juga dari mulut Hyuna.

“Mwo?” Tanya Chanyeol terkejut.

“Kembalilah kesana! Jiyeon, ia akan kami urus. Jadi, kembalilah ke Jepang!”

Chanyeol tersenyum sinis.
Apa yang baru saja Hyuna katakan?
Menyuruhnya kembali ke Jepang?
Apa eonnie kandung Jiyeon juga
berencana memisahkannya dengan Jiyeon? Batinnya.

“Jangan berburuk sangka, Chanyeol-ssi! Ini semua demi kebaikan kalian berdua. Kau juga punya appa kandung yang harus kau jaga sebelum tuhan mengambilnya. Lalu, kau juga harus melanjutkan studymu
yang tertunda karena kau datang
kembali ke Korea. Kau harus
menyelesaikan semuanya. Tentang Jiyeon, kami akan menjaganya. kau tidak perlu khawatir! Kalian berdua
juga masih bisa saling
berkomunikasi melalui telepon atau video call juga email. Banyak media yang bisa kalian gunakan untuk saling berkomunikasi. Kembalilah ke
Jepang dan datanglah kembali ke
Korea untuk Jiyeon.” Jawaban Hyuna benar-benar menenangkan perasaan Chanyeol yang sebelumnya sempat berfikiran buruk
mengenai permintaan Hyuna agar ia kembali ke Jepang.

Namun, apakah ia harus kembali ke Jepang dan kembali meninggalkan Jiyeon?
Bagaimana dengan Shinhye yang
hingga detik ini belum ia ketahui
bagaimana keadaan dan
keberadaannya?
Batinnya berkecambuk.
Memilih untuk tetap tinggal di Korea atau kembali ke Jepang menemani appa kandungnya yang tengah sakit dan juga melanjutkan study nya disana.

“Kau tidak perlu takut! Jika kau
sulit untuk meninggalkan Jiyeon, kau bisa mempercayakannya padaku! Aku bisa kau andalkan!” Tambah Hyuna mencoba meyakinkan Chanyeol.

Lalu, bagaimana dengan Jiyeon? Apa yeoja itu setuju jika Chanyeol kembali ke Jepang dan
meninggalkannya lagi?

“Jiyeon, ia akan baik-baik saja!
Percayalah! Kalian berdua masih
punya masa depan yang harus kalian raih!” Tambah Hyuna.

“Baiklah! Aku akan kembali ke
Jepang! Dan akan segera kembali ke Korea untuk Jiyeon! Aku janji!” Jawab Chanyeol mantap dan Hyunapun
tersenyum bahagia mendengarnya.

***

Apakah Hyuna benar-benar tulus
mengatakannya?
Apakah kali inipun perjalanan cinta Park couple ini akan dihalangi oleh keluarga kandung Jiyeon?
Apakah mereka berdua akan bersatu pada akhirnya?
Nantikan part selanjutnya!
Jangan lupa kritik sarannya!
Coment jusaeyo!

FF Chanyeol Jiyeon (Park couple) I Like You The Best (part 4)

image

         I LIKE YOU THE BEST
                               (part 4)

Author:
Erni Eyexs

Twitter:
@ernieyex

Instagram:
@erni_eyexs

Main Cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Park Chanyeol (EXO)

Other Cast :
Oh Sehun (EXO)
Kim Jae Joong ( JYJ )
Park Shinhye
Luna ( Fx )
Amber ( Fx )
Kim Heechul (Super Junior)
Oh Hyerin (After School)

Songfict :
Speed Don’t Tease Me

Genre :
Bromance, Comedy, School life, Friendship, Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N : Part 4 hadir.  Pernah author post di tanggal 23 Mei 2014 silam. Mari kita
lanjutkan story ini.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

“Kya! Ireona!” Perintah Jiyeon seraya menendang pelan kaki namja yang tengah terbaring memejamkan matanya diatas rumput hijau dibelakang Joil Techinal High School.

“Kya!” Perintahnya lagi. Namun namja berkulit putih itu seolah enggan untuk membukakan
kedua matanya.

“KYA!” Teriak Jiyeon dan berhasil
membuat namja itu membukakan matanya. Ia langsung menatap horor
Jiyeon.
Merasa ditatap aneh, Jiyeon hanya mengerjapkan matanya sedikit ketakutan.
Sang namja langsung bangkit dan
meninggalkan Jiyeon.

“Aissh! Dia benar-benar
menyebalkan!” Gerutu Jiyeon.

“KYA! OH SEHUN! NEO EODIGA? KAU TIDAK BOLEH MEMBOLOS LAGI!” Teriaknya.

Namja yang ternyata adalah Oh Sehun itu tak menghiraukannya dan tetap berjalan meninggalkan Jiyeon.

“Yeoja Cerewet!” Gumam Sehun.

Jiyeon, ia diperintahkan oleh Kang Songsaemnim untuk mencari Oh Sehun, hagsaeg baru yang satu kelas dengannya.

Dua bulan sudah Sehun bersekolah di Joil Technical High School, namun namja itu sering sekali membolos. Jiyeon yang menjabat sebagai seorang ketua kelas tentu saja amat merasa kesal.

Oh Sehun, dia adalah sosok namja yang dingin. Bahkan setelah dua bulan ia bersekolah disana, Sehun tak mempunyai seorang temanpun. Sehun selalu saja menghindar apabila ada hagsaeg yang coba mendekatinya.

~BRAk~

“Kya! Wae?” Tanya Amber yang saat ini tengah berada dikantin sekolah.

“Si namja aneh itu benar-benar
menyebalkan. Awas saja kalau
sampai dia berani membolos lagi. Aku benar-benar akan melakukan hal yang buruk padanya.” Jawab Jiyeon
dengan kesalnya. Ia lalu meminum buble tea milik Amber. Sepertinya yeoja itu benar-benar kehausan. Ia
langsung menghabiskan minuman itu begitu saja.
Amber hanya menelan salivanya saat melihat Jiyeon.

“Aigoo, hungry Dino!” Gumamnya dan sukses mendapatkan tatapan horor
dari Jiyeon. Amber langsung mengalihkan pandangannya.

“Luna-ah!” Panggil Amber yang
melihat kedatangan Luna.

“Ada apa dengan matamu, eoh?”
Tanya Jiyeon saat Luna tepat duduk dihadapannya.

“Ini semua gara-gara namja
brengsek itu!” Jawab Luna. Ia
terlihat seperti kurang tidur.

“Nugu?” Tanya Amber nampak terlihat penasaran.

“Tetangga baruku. Dia seperti orang gila. Setiap malam dia bermain basket didalam kamarnya. Terkadang ia menyalakan musik dengan cukup
keras dan menari tidak jelas. Hampir setiap malam dalam 2 bulan terakhir ini aku sama sekali tidak tidur. Jarak
kamarnya dengan kamarku terlalu dekat. Dia selalu membuat bunyi-bunyi yang sangat mengganggu!” Jawab Luna Prustasi.

“Namja? Neo joahe?” Tanya Jiyeon menggoda.

“KYA! NEO MICHEOSSEO? AKU LEBIH MEMILIH MENYUKAI CHANYEOL OPPA DARI PADA MENYUKAI NAMJA BRENGSEK YANG SETIAP MALAM TIDAK PERNAH TIDUR ITU!” Teriak
Luna kesal membuat Jiyeon terdiam.
Park Chanyeol?
Mendengar nama itu membuatnya sangat sedih.
Sudah hampir 2 bulan namja itu
meninggalkannya. Namun hingga
detik ini ia tak mendapat kabar
apapun mengenainya. Chanyeol tak pernah sekalipun menelepon atau mengiriminya surat. Bahkan email yang dikirim Jiyeonpun hingga detik
ini belum mendapat balasan dari
namja itu.

Menyadari perubahan pada wajah Jiyeon, Luna dan Amber pun ikut terdiam.

“Kalau namja itu tampan, kau boleh mengencaninya Luna-ssi!” Ucap Amber mencoba menyairkan suasana.

Luna hanya tertawa aneh
mendengarnya.

***

Sudah hampir jam 10 malam dan
Jiyeon masih berkutat didepan
komputer didalam kamarnya.
Park Chanyeol, ia  sangat berharap namja itu muncul dan membalas emailnya, Hingga ia mendengar suara perutnya yang berbunyi.

“Aigoo, aku lupa kalau cacing-cacing ini belum diberi makan!” Ucap Jiyeon seraya memegangi perutnya yang terasa lapar.
Ia langsung keluar kamar dan
berjalan menuruni tangga. Ia tak
mendapatkan apapun setelah tiba didepan lemari pendingin yang ada didapur rumahnya. Bahkan hanya sebuah mie instan pun tak ia temukan disana. Sepertinya sang eomma belum berbelanja. Ia memandang jam dinding yang menunjukkan hampir pukul 10 malam. Ia urungkan niat untuk
membangunkan sang eomma. Ia kemudian melangkah kearah pintu dan keluar rumah.
Semilir angin malam sukses
membuatnya memeluk tubuhnya sendiri.

“Dingin!” Gumamnya, Namun ia terlalu malas untuk kembali masuk kedalam rumah dan
kembali kekamarnya hanya untuk mengambil mantel hangatnya.

Yeoja itu kemudian melangkah menuju minimarket yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Dinginnya malam sukses membuat yeoja itu menggigil kedinginan. Ia yang hanya mengenakan baju tidur
langsung melangkah cepat, bahkan ia berlari menuju minimarket, berharap itu dapat mengurangi rasa dingin pada tubuhnya.

Bak mendapatkan sebuah
penghargaan, Jiyeon tertawa senang saat sudah berada didalam minimarket dengan terengah karena ia berlari.
Sang kasir dan pengunjung yang ada disana langsung memandang aneh kearahnya.
Menyadari hal itu, Jiyeon langsung menghentikan tawanya.
Ia kemudian melangkah mencari
makanan yang setidaknya dapat ia gunakan untuk mengisi perutnya itu. Ia mengambil beberapa makanan serta minuman dan kemudian langsung bergegas menuju kasir.
Setelah selesai membayar, ia
langsung melangkah pulang. Kali ini ia melangkah secara perlahan dan tidak berlari. Meski ia merasa kedinginan,
namun ia merasa lebih baik setelah memakan makanan yang baru saja ia beli.
Hingga tepat ia melewati sebuah
taman, memory nya kembali pada saat ia sedang bersama Chanyeol ditaman tersebut.

~FlashBack On~

“OPPA!” Teriak yeoja berseragam Joil Technical High School itu pada namja yang tengah duduk dibangku
taman seraya memeluk gitar
merahnya.

“Jiyeon-ah? Apa yang kau lakukan
disini?” Tanya namja tinggi itu pada yeoja berambut ikal yang ternyata adalah Jiyeon.

“Kau tanya ada apa?” Ucapnya
langsung duduk disamping namja
berkulit putih itu.

“KYA! KAU TAU INI JAM BERAPA?
DAN KAU MASIH BERADA DISINI! APA KAU BERMAKSUD MENJADI SEORANG VAMPIRE YANG MENUNGGU MANGSANYA DIMALAM HARI, EOH!” Teriak Jiyeon seraya memukul lengan namja itu.

“Kya! Appo!” Ringis sang namja.

“Kajja! Kita harus pulang!” Ajak
Jiyeon seraya menarik tangan sang namjan yang berhasil ditahannya.

“Wae? Eomma akan memarahi kita, oppa! Ini sudah terlalu malam! Kajja kita pulang!” Ajak Jiyeon kembali.

“Kau ingin mendengarkan lagu
oppa?” Tanyanya.

“Mwo?” Jiyeon sedikit terkejut
dengan pertanyaan sang namja. Ia lalu berdehem.

“Baiklah Chanyeol-ssi, aku akan
menjadi pendengarmu yang baik!” Jawab Jiyeon pada namja yang ternyata adalah Park Chanyeol itu. Ia kembali duduk dan mulai memperhatikan Chanyeol yang memulai kembali memainkan gitar merahnya.

~Cheoneun oneun ireon ohue
neoege jeonhwareul geol su man
ittdamyeon gippeultende
Beolsseo ilnyeoni jananeunde
nan ajig milyeon gadeukhaeseo
sseulsseurhae eoneusae honjamal
1nyeon jeoneuro gal su ittdamyeon
Jigeum urin dallajyeosselkka
Yeah babo gateun soriji,
geuraedo manyag~

~FlashBack Off~

Jiyeon, air matanya sukses meluncur. Ia ingat betul sang oppa menyanyikan lagu itu ditempat ini. Ia benar-benar sangat merindukannya.

~Neoreul mannamyeon
nunmul cha olla
babo gateun nan amu mal
mothae
Malhaejwo meri
meri keuriseumaseu, annyeong
jal jinaeneungeoji”

Jiyeon terisak saat menyanyikannya. Lagu milik EXO berjudul First Snow.
Ia seolah merasakan kembali tengah bernyanyi bersama Chanyeol seperti waktu itu.

“Oppa, nan bhogosippo! Hiks…” Isaknya.

***

@Joil Technical High School

“MWO?” Sehun langsung menutup sambungan teleponnya dan berlari. Ia tak menyadari adanya Jiyeon disana.

~Bruk~

“KYA!” Teriak Jiyeon saat ia terjatuh.

Sehun hanya menoleh dan kembali berlari.

“KYA! OH SEHUN!” Teriak Jiyeon
kesal. Bagaimana bisa namja itu
tidak meminta maaf padanya.

“Awas kau Oh Sehun!” Gumamnya seraya menggigit rahangnya menahan amarah.

“Sedang apa kau? Hahaha….” Tanya Luna tertawa saat melihat Jiyeon duduk diatas lantai.

Jiyeon langsung memandangnya
horor.

“W….Wae?” Tanya Luna ketakutan.

“KYA! CEPAT BANTU AKU BERDIRI!” Teriak Jiyeon.

Lunapun hanya dapat menelan salivanya dan langsung
membantu Jiyeon kembali berdiri.

“Waegeurae? Bagaimana kau bisa
ada dibawah sana?” Tanya Luna kembali.

“Semua ini karena Oh Sehun!” Jawab Jiyeon kesal.

“Eoh? Nugu? Oh Sehun?”

“Wae? Kau mengenalnya?”

“Omo omo omo…. Bagaimana bisa kau mengenal namja brengsek tetangga baruku itu, eoh?”

“Mwo? Jadi tetangga barumu itu
adalah Oh Sehun?”

“Eum!”

“Aissh, pantas saja! Ternyata
dimanapun dia berada, dia selalu
membuat masalah. Dasar anak setan!” Umpat Jiyeon kesal.

“Kya! Kya! Kya! Bagaimana kau bisa mengenalnya, eoh? Apa
mungkin……”

“Ne. Dia hagsaeng baru yang ada
dikelasku!” Jawab Jiyeon mantap.

“Omo… Jadi dia satu sekolah dengan kita?”

“Kya! Bukankah kau ini tetangganya. Bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya?”

“Eommaaaaaa….” Rengek Luna.

“Ige Eotteokhae?” Ringis Luna.

“Wae?” Tanya Jiyeon bingung melihat ekspresi Luna.

“Aku akan semakin gila. Aku sudah cukup gila karena menjadi
tetangganya dan sekarang kenyataan apa ini? Ternyata dia satu sekolah denganku! Eommaaaaa….” Rengeknya kembali.

“Kau ini seperti anak kecil saja!”

“Geundae, diakan tidak satu kelas denganku. Jadi aku aman.
Hahahah…..” Tambah Luna seraya tertawa senang.

“Aissh, ne. Dan aku yang akan
dibuat pusing olehnya!”

“Park Jiyeon, fighting!” Ucap Luna menepuk pundak Jiyeon.

“Aissh, kya! Neo eodiga?” Tanya
Jiyeon saat Luna berjalan
mendahuluinya.

“Shin saem memberikanku tugas
tempo hari, dan aku belum sempat mengerjakannya. Aku harus segera menyalin jawabannya!” Jawabnya
berlalu dari pandangan Jiyeon.

“Dia masih sama seperti dulu! Kali ini, siapa yang akan duduk
disampingnya? Pasti hagsaeg itu
akan sangat menderita!” Gumam
Jiyeon.

***

@Cheil General Hospital

Sehun langsung berlari menyusuri koridor rumah sakit yang ada di Mukjeong-dong, Jung-gu setibanya ia di Seoul.

“Nuna eotteokhae, eomma?” Tanya Sehun pada yeoja paruh baya bernama Oh Hyerin yang ternyata adalah eommanya.

“Dokter mengatakan, kita harus
secepatnya menemukan pendonor untuk transplantasi ginjal Hyuna.” Jawabnya.

Hyuna, ia adalah putri dari
pasangan Kim Heechul dan Kim Tae Hee.

Oh Sehun, ia kemudian memandang sosok namja paruh baya bertubuh kurus tinggi didepan sana.
Kim Heechul, itulah sosok yang saat ini tengah mengkhawatirkan keadaan Hyuna, putrinya.
Heechul adalah appa tiri Sehun.
Namun, meski mereka hanya sebatas appa dan anak tiri, keduanya sangatlah dekat.

“Gwaenchanayo. Nuna pasti akan
baik-baik saja!” Ucapnya saat tiba
disamping Heechul, berusaha
menenangkan sosok namja paruh baya itu.

“Hunnie-ah, bagaimana dengan
dongsaeng Hyuna? Apakah kau
sudah berhasil menemukannya?”
Tanya Heechul.

Sehun hanya menggelengkan
kepalanya. Sebenarnya alasan ia pindah ke Daegu adalah untuk mencari dongsaeng Hyuna yang terpisah. Hanya dialah yang bisa
menyelamatkan Hyuna yang tengah mengalami sakit gagal ginjal.

***

@Home Park Family

“Eomma!”

“Eum!”

“Apa Oppa menghubungi eomma?” Tanya Jiyeon saat berada didapur bersama
dengan Park Shinhye, sang eomma.

“Ani. Wae? Apa oppamu tidak
menghubungimu, eoh?”

Jiyeon hanya menggelengkan
kepalanya sedih. Sudah 2 bulan
lebih dan Chanyeol benar-benar
menghilang. Tak memberikan
sedikitpun kabar padanya.

“Kajja! Kita makan!” Ajak Shinhye
setelah selesai menghidangkan
makanan diatas meja makan.

Dengan senang hati Jiyeon langsung menyantapnya.

“Apa eomma tidak bekerja hari ini?” Tanyanya pada sang eomma.

“Ani. Eomma sudah tidak bekerja di Suseonggyo Restaurant lagi!” Jawab Shinhye seraya menuangkan air diatas gelas milik Jiyeon.

“Jeongmal? Eonjebuteo?” Tanya
Jiyeon terkejut.

“Dua bulan terakhir ini!” Jawab sang eomma yang langsung duduk disamping Jiyeon.

“MWO?” Teriak Jiyeon.

“Kya! Jangan berteriak seperti itu! Kau ini yeoja!” Ucap Shinhye
menepuk pelan lengan Jiyeon.

“Eomma, kenapa tidak
memberitahukannya padaku? Lalu, kemana eomma pergi selama dua bulan ini kalau tidak bekerja?”

“Appa kandung Chanyeol
memberikan sedikit uang pada
eomma sebagai bentuk
terimakasihnya karena eomma sudah merawat Chanyeol selama ini. Eomma sedang mencari lahan baru. Eomma ingin membuka sebuah kedai
kecil sendiri.” Jawabnya.

Jiyeon terdiam. Lagi-lagi nama
namja itu mampu membuatnya
menutup rapat mulutnya. Hatinya terasa perih hanya dengan mendengar nama itu. Kenapa hingga detik ini Chanyeol tidak memberinya
kabar?
Apa ia tidak akan pernah kembali
lagi ke Korea?

“Jiyeon-ah!”

“Eum!”

“Waeyo? Apa yang kau pikirkan?”

“Ani. Nan gwaenchana. Eomma tidak makan, eoh? Ini benar-benar sangat lezat!” Bohongnya.

Shinhye terus memperhatikan
Jiyeon. Ia tentu mengerti betul apa yang dirasakan putrinya saat ini. 17 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk bisa ia mengerti bagaimana perasaan yang dialami putrinya saat ini. Ialah yang tau dengan jelas bagaimana keadaan Jiyeon.

~FlashBack On~

“Ige!” Ucap Jaejoong menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat pada Shinhye. Saat ini keduanya
tengah berada di Seseonggyo
Restaurant tempat Shinhye bekerja.

“Ige mwoya?” Tanya Shinhye kemudian membuka amplop cokelat itu. Shinhye langsung melebarkan matanya saat melihat isi amplop tersebut.
Uang. Dan itu tidaklah sedikit.
Ia langsung memandang Jaejoong, meminta penjelasan pada namja dihadapannya itu.

“Jangan berfikiran buruk. Itu sebagai permintaan maaf dan terimakasihku karena kau sudah merawat Chanyeol selama ini. Meskipun itu tidak sebanding dengan apa yang sudah kau berikan pada Chanyeol hingga
detik ini.”

“Geundae…..”

“Kumohon terimalah! Kau boleh
mengatakan apapun yang kau
butuhkan. Aku akan bersedia
membantumu.”

“Geurae, aku akan menerimanya. Geundae, bisakah aku meminta
bantuan padamu?”

“Mwo? Tentu saja! Katakanlah!”

“Bisakah kau memberikan
handphone milik Chanyeol padaku?”

“Mwo?”

“Bukankah kau bisa memberikannya yang baru! Ini permintaanku untuk
pertama dan yang terakhir kalinya!”

“Geurae, aku akan memberikannya padamu. Entah apa maksud kau memintanya, namun aku tidak akan
menanyakannya lebih jauh!” Jawab Jaejoong.

~FlashBack Off~

Shinhye, ia sebenarnya mengetahui perasaan diantara Jiyeon dan juga Chanyeol. Ia
sengaja meminta Jaejoong
melakukannya untuk membuat
Chanyeol maupun Jiyeon saling
melupakan satu sama lain.
Hari dimana Chanyeol hendak pergi, Jaejoong berpura-pura meminjam handphone milik Chanyeol dan kemudian memberikannya pada Shinhye.

Chanyeol, bahkan saat pesawat
hendak takeoff pun ia tidak
ingat mengenai handphonenya.
Sementara Shinhye, ia langsung
mengubah sandi email milik
Chanyeol sehingga membuat namja itu tidak bisa membuka emailnya sendiri.

“Mianhae, Jiyeon-ah! Eomma tidak ingin kehilanganmu! Eomma tidak ingin kau meninggalkan eomma seperti Chanyeol!” Batinnya.

“Wae?” Tanya Jiyeon yang melihat eommanya terdiam.

“Eoh? Eomma merasa sedikit lelah. Kau bisa membereskan ini semua, bukan?”

“Eoh, ne. Aku akan membereskannya. Eomma beristirahatlah!” Jawab Jiyeon.

Shinhye hanya tersenyum. Kemudian ia bangkit dan mengelus serta mencium puncak kepala putrinya itu
lembut.

“Kalau begitu eomma kekamar dulu, ne!”

“Eum!”

Shinhyepun melangkah masuk kedalam kamarnya.
Ia langsung melangkah menuju laci meja yang ada disamping
ranjangnya. Terlihat beberapa surat didalam laci sana. Ia kemudian mengambil salah satu surat yang ada dan membukanya.

Kyuto, Japan 2014

KYA! KENAPA TAK PERNAH MEMBALAS SURATKU, EOH?
Apa kau marah, Jiyeon-ah?
Oppa benar-benar tidak bisa
membuka email oppa.
Handphone oppa sungguh benar-
benar hilang.
Percayalah!
Oppa hanya mengingat alamat
rumah.
Setidaknya kau harus membalasnya, Park Jiyeon.
Apa kau tidak merindukanku, eoh?
Kau tau?
Aku hampir gila karena kau tak
pernah membalas suratku.
Kau harus membalasnya.
HARUS!

Itulah isi surat yang Chanyeol kirimkan tertuju untuk seorang Park Jiyeon.
Shinhye langsung kembali melipat dan meletakkannya. Matanya tertuju pada android putih yang tergeletak disamping surat-surat yang ada didalam laci.
Android milik Chanyeol.
Ia langsung menutup kembali laci itu.
Ia melanglah kearah jendela kamarnya dan kemudian membuka sedikit tirainya.

“Aku……Aku sangat takut
ditinggalkan. 3 orang sudah
meninggalkanku dan aku tidak ingin ditinggalkan lagi. Mianhae, Jiyeon- ah!” Gumamnya.

***

@Joil Technical High School

“KYA! OH SEHUN! BERHENTI KAU!” Teriak Jiyeon saat melihat Sehun melangkah didepannya.
Dengan malas Sehunpun
menghentikan langkahnya tanpa
sedikitpun ingin menoleh ke arah Jiyeon.

“Apa yang kau lakukan, eoh? Kalau kau tidak berniat sekolah, kau tidak perlu datang! Bagaimana bisa kau datang ke sekolah dan belum saatnya pulang kau sudah hendak
pulang!”

“Lalu apa urusanmu? Apa ini
merugikan untukmu?” Tanya Sehun dingin.

Jiyeon mengeraskan rahangnya
menahan emosi.

“Mwo? Mworago? Merugikan? Tentu saja. Kau tau? Karena kau yang terus menerus membolos ditiap pelajaran, aku sebagai ketua kelas yang dimarahi habis-habisan oleh kepala sekolah! Kalau kau tidak satu kelas
denganku, tentu ini tidak akan
menjadi urusanku!” Jawab Jiyeon
kesal.

“Kalau begitu, bersabarlah! Tidak
lama lagi kau bisa tenang. Karena
tidak lama lagi kau tidak akan
bertemu denganku baik disekolah maupun didalam kelas!” Jawabnya yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Jiyeon yang terlihat begitu terkejut mendengar jawaban Sehun.

“Apa yang dia katakan?” Gumam
Jiyeon.

“KYA! ITU LEBIH BAGUS! AKU TIDAK PERLU BERTEMU DENGAN MAKHLUK MENYEBALKAN SEPERTIMU LAGI!” Teriaknya dan Sehun yang mendengarnya hanya melanjutkan langkahnya.

***

@Suseonggyo Restaurant

“Apa kau sering membolos?” Tanya Heechul pada Sehun. Keduanya kini tengah berada didepan Suseonggyo Restaurant.

“Bukankah aku kesini bukan untuk sekolah!” Jawabnya.
Mereka berduapun masuk kedalam restorant dan langsung disambut oleh sang pelayan yang ada disana. Mereka duduk
disalah satu kursi yang ada.
Kemudian merekapun mulai
memesan makanan.

“Kau yakin ini tempatnya?”

“Eum. Menurut perawat yang ada di Hyeonpoong Hospital, disinilah tempat yeoja bernama Park Shinhye itu bekerja!” Jawab Sehun.

Heechul, sebenarnya maksud kedatangannya mencari Park Shinhye adalah untuk bertemu
dengan puterinya. Lebih tepatnya adalah adik dari Kim Hyuna.
17 tahun lalu saat ia dan istrinya
yang bernama Kim Tae Hee tengah berlibur di Daegu, terjadilah sebuah kecelakaan.
Mobil yang ia kendarai menabrak
tubuh Shinhye yang saat itu tengah mengandung. Shinhye yang tengah melangkah menyeberangi jalan ditabrak oleh mobil yang Heechul kendarai padahal lampu rambu-
rambu sudah menunjukkan warna merah. Karena keadaan tengah sepi, Heechul langsung bergegas membawa Shinhye ke Hyeonpoong Hospital dan dokter mengatakan bahwa Shinhye mengalami pendarahan
yang hebat sehingga anak yang ada didalam kandungannya tidak bisa diselamatkan. Dokter juga
mengatakan bahwa Shinhye tidak akan bisa mengandung lagi karena rahimnya yang harus diangkat untuk menyelamatkan nyawanya. Shinhye yang  pada saat itu sangat marah karena kehilangan anaknyapun tidak
bisa mengendalikan dirinya. Meski Heechul meminta jalan perdamaian, namun Shinhye menolaknya. Baginya,
Heechul adalah pembunuh.
Pembunuh anaknya. Bahkan sebelum ia melihat anak itu terlahir, ia sudah kehilangannya. Apalagi mengingat itu adalah kehamilan pertamanya dan juga yang terakhir kalinya karena rahimnya yang sudah diangkat oleh dokter untuk menyelamatkan nyawanya.
Kemudian ide gila itu muncul saat melihat Tae Hee yang juga tengah mengandung. Ia akan menganggap masalah ini usai
jika Heechul mau menyerahkan
anaknya saat terlahir nanti.
Sebagai ganti anaknya yang sudah meninggal karena kecerobohan Heechul.
Dan tanpa sepengetahuan Tae Hee, Heechul pun menerimanya.
Saat Tae Hee melahirkan, Heechul langsung menyerahkan bayi itu pada Shinhye dan mengatakan pada Tae Hee bahwa anak yang ia lahirkan
tidak selamat. Yunho sebagai suami Shinhye hanya terdiam.
Meski dikeluarga mereka sudah ada Chanyeol, putra dari Park Bom dan juga Kim Jae Joong yang mereka rawat, namun Shinhye terlihat lebih bahagia saat melihat putri dari pasangan Kim Heechul dan Kim Tae Hee. Ia kemudian menganggap bahwa putri mereka adalah putrinya. Dan itulah Jiyeon. Park Jiyeon.

“Chogi, apakah disini ada pelayan
yang bernama Park Shinhye?” Tanya Heechul pada pelayan yang mengantarkan makanan pada mereka.

“Park Shinhye?”

“Ne!” Jawab Sehun.

“Mungkinkah yang kalian maksud
Shinhye Ahjumma? Beliau adalah seorang koki disini.”

“Jeongmal? Syukurlah! Bisakah kami bertemu dengannya?” Tanya Heechul begitu berantusias.

“Sayang sekali, Shinhye Ahjumma sudah berhenti dua bulan yang lalu.”

“Apakah kau bisa memberikan
alamat rumahnya pada kami?” Tanya Sehun.

Sang pelayan muda itu terlihat ragu.

“Kami adalah keluarga jauhnya!”
Tambah Heechul bebohong.
Lalu sang pelayanpun
memberitahukan alamat tersebut pada mereka berdua.

Sebenarnya, selama dua bulan
berada di Daegu, Sehun berusaha mencari tau perihal kelahiran di Hyeonpoong Hospital 17 tahun silam.
Tidaklah mudah baginya mencari
data-data tersebut, apalagi mengingat itu terjadi pada 17 tahun yang lalu.
Ia selalu bermain basket, menari, bahkan menyalakan musik dengan volume yang sangat keras adalah sebagai bentuk rasa untuk menghilangkan kekesalannya.
Kesal karena hingga dua bulan ia
masih belum mendapatkan kabar apapun mengenai dongsaeng Hyuna.

Sehun, ia sangat dekat dengan
Hyuna. Baginya, Hyuna adalah orang yang berhasil mengisi kekosongannya pasca meninggalnya sang appa diusianya yang baru menginjak 3 tahun. Kemudian masuklah Hyuna dan Heechul dalam
kehidupan keluarganya.

***

“Kau yakin ini alamat yang benar?” Tanya Heechul saat tiba didepan rumah keluarga Park.

“Ne, appa? Ini sudah sesuai dengan alamat yang diberikan pelayan itu.”

Mereka berduapun turun dari dalam mobil dan mulai memasuki pagar rumah keluarga Park. Sehun pun
mulai mengetuk pintu rumah.

~Tok Tok Tok~

~Ceklek~

Matanya melebar saat mendapati sosok yeoja yang membukakan pintu.

“Neo?”

“Oh Sehun? Kya! Untuk apa kau
datang kesini, eoh? Belum puas kau membuat hidupku menderita selama di sekolah? Dan sekarang kau juga
ingin membuat hidupku lebih
menderita dengan datang kesini?
Neo micheosseo?” Sembur Jiyeon saat melihat sosok Sehun di depan rumahnya.

Heechul, matanya tak henti
memandang Jiyeon. Wajah yeoja
muda yang ada dihadapannya saat ini benar-benar sangat mirip dengan Tae Hee, istrinya dulu.

“Nugu, Jiyeon-ah?” Tanya Shinhye dan matanya langsung melebar saat melihat sosok Heechul disana.

“Neo?” Gumamnya.

“Hanya orang gila yang suka
mengganggu kehidupan orang lain, eomma!” Jawab Jiyeon asal.

“Kajja! Kita masuk!” Tarik Shinhye.

“Eoh?” Jiyeon terlihat bingung
melihat ekspresi sang eomma.

Heechul langsung menahan pintu
yang hendak ditutup Shinhye
menggunakan tangannya.

Jiyeon yang melihatnya menjadi
semakin terlihat bingung.
Apa eommanya mengenal mereka?

“Dimana puteriku?” Tanya Heechul menahan emosi.

Shinhye langsung membuka kembali pintu rumahnya.

“Masuklah, Jiyeon-ah!” Perintahnya pada Jiyeon.

“Ne?”

“MASUK!” Teriaknya.

Jiyeonpun melangkah lebih dalam memasuki rumahnya.

“Dia? Diakah puteriku?” Tanya
Heechul dan sukses membuat Jiyeon yang mendengarnya langsung menghentikan langkahnya.

“NEO MICHEOSSEO?” Teriak Shinhye.

“Eomma?” Tanyanya kembali berbalik meminta penjelasan.
Apa maksud namja paruh baya itu?
Siapa yang dia maksud puterinya?

“Puteriku? Kaukah puteriku?” Ucap Heechul menahan tangis.

“Jangan dengarkan dia! Cepat
masuk!” Perintah Shinhye. Tubuhnya bergetar hebat.

“Cukup! Kau sudah memisahkan
kami selama 17 tahun, Park Shinhye-ssi! Ini sudah cukup!”

Jiyeon mematung.
Apa yang baru saja ia dengar?
Apa ia sedang bermimpi?

Shinhye terdiam. Ia berusaha
menahan air matanya.

“Eomma, ige mwoya? Apa maksud semua ini? Hiks…” Tanyanya terisak.

Heechul langsung merengkuh tubuh Jiyeon kedalam pelukannya. Ia tak sanggup
lagi menahan tangisnya.
Ialah penyebab Jiyeon pergi. Ialah yang menyebabkan Jiyeon terpisah dari keluarga.
Ialah yang menyebabkan
eomma Jiyeon meninggal dunia.

“Puteriku! Kau puteriku! Ini appa, nak! Ini appa! Hiks…” Tangisnya dalam pelukan Jiyeon.

Jiyeon mematung.
Perasaan apa ini?
Apa benar namja paruh baya yang tengah memeluknya saat ini adalah appa kandungnya?
Lalu bagaimana dengan
Shinhye dan juga Yunho?
Siapa mereka?
Jiyeon langsung melepaskan pelukan Heechul.

“Kau! Kau bukanlah appaku! Kau
bukan appaku!” Ucapnya lalu berlari meninggalkan ketiga orang yang ada disana.

“JIYEON-AH!” Teriak Shinhye.

Sehun langsung mengejar Jiyeon.
Ia dapat menarik tangan Jiyeon dan membuat yeoja itu berhenti berlari.

“Jangan ganggu aku! Apa kau juga
ingin mengatakan bahwa kau adalah keluargaku? Jebal! Ini sama sekali tidak lucu! Hiks…” Tangisnya.

“Apa kau fikir ini hanya sebuah
lelucon? Untuk apa namja itu datang sejauh ini? Dia sudah mencari puterinya kemana-mana!”

“Lalu kemana saja dia selama 17
tahun ini? Apa kau fikir aku ini
sebuah barang yang bisa dibuang
dan dimiliki kapanpun sesuka hati?Hiks… Apa kau fikir aku ini tidak mempunyai hati?”

Sehun langsung merengkuh tubuh Jiyeon kedalam pelukannya. Ia mengerti
betul bagaimana perasaan yeoja itu saat ini. Ini pasti sangat berat
untuknya.

“Hiks…” Jiyeon terisak didalam pelukan Sehun. Ia sudah tak memikirkan betapa kesalnya ia selama ini pada namja itu, yang ada difikirannya saat ini adalah mengenai kelahirannya. Ia
butuh tempat untuk bersandar saat ini.

Jadi, setelah Chanyeol bukan anak kandung sang eomma, apa ia juga bukanlah anak kandungnya?
Geundae, wae?
Kenapa eommanya tidak pernah menceritakan itu semua sebelumnya?
Lalu apa alasan orang tua
kandungnya meninggalkannya?
Siapa sebenarnya orangtua
kandungnya?

“Ji….Jiyeon-ah?” Ucap namja tinggi yang saat ini tengah menyaksikan adegan yang ada dihadapannya.

Jiyeon langsung melepaskan pelukan Sehun dan menoleh ke arah suara yang begitu sangat tidak asing di pendengarannya itu.

“Chanyeol oppa?”

“A…..Apa yang kalian berdua
lakukan?”

***

Bagaimana ending dari story ini?
Nantikan part endingnya!
Coment jusaeyo!  😀

FF Chanyeol Jiyeon (Park Couple) I Like You The Best (part 3)

         

image

          I LIKE YOU THE BEST
                               (part 3)

Author:
Erni Eyexs

Twitter:
@ernieyex

Instagram:
@erni_eyexs

Main Cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Park Chanyeol (EXO)

Other Cast :
Kim Jae Joong ( JYJ )
Park Shinhye
Luna ( Fx )
Amber ( Fx )

Songfict :
EXO My Turn To Cry

Genre :
Bromance, Comedy, School life, Friendship, Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N : Part 3 realise. Pernah author publish di tanggal 18 Mei 2014 silam. Semoga part
inipun tidak mengecewakan.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

Luna, ia masih memandang kedua orang yang ada dihadapannya saat ini. Menanti jawaban mengenai hal yang ia lihat.
Bagaimana bisa mereka melakukannya?
Mereka bersaudara!

“Luna-ah!” Ucap Jiyeon menunduk.

Luna masih menanti kata-kata Jiyeon selanjutnya.

Chanyeol nampak terlihat menghembuskan nafasnya
lelah.

“Kya! Luna-ssi! Kau perlu tau ini!
Kami bukanlah saudara kandung!” Ucap Chanyeol akhirnya.

Jiyeon menoleh kearah Chanyeol. Memicingkan sebelah matanya.
Chanyeolpun ikut menoleh
kearahnya, namun Jiyeon langsung kembali menunduk.

“Apa kalian bercanda? Aku sudah
mengenal kalian lebih dari 10 tahun dan kalian mengatakan bahwa kalian bukanlah saudara kandung? Hahaha….. Lelucon kalian sama sekali tidak lucu.” Balas Luna kesal.

“Terserah! Yang jelas itulah
kenyataannya!” Jawab Chanyeol
bangkit dari atas ranjang Jiyeon.

“Kau tau Luna-ssi? Kau itu
mengganggu sekali!” Bisik Chanyeol pada Luna.

“M……Mwo? KYA!”

~BRAK~

Chanyeol menutup pintu kamar
Jiyeon dengan kasar. Sepertinya namja itu benar-benar kesal karena Luna mengganggu
moment ciuman pertamanya itu.
Luna langsung berhambur duduk
disamping Jiyeon yang masih
menunduk.

“Kya! Cepat katakan yang
sebenarnya!” Perintah Luna.
Jiyeon masih enggan membuka
suaranya.

“Aigoo, aku yang gila atau kalian
berdua yang sudah tidak waras eoh? Apa jangan-jangan ini sebabnya kau tidak mau pulang kerumah selama 2 hari
ini, eoh? Apa Park Chanyeol
menyukaimu? Apa kau juga
menyukainya? Aigoo, kalian benar-benar sudah gila! Kya! Park Jiyeon! Kalian itu bersaudara! Kau harus ingat itu!
Aigoo….” Ucap Luna prustasi.

Jiyeon memandang sahabatnya itu. Ia kemudian membuka suara dan menceritakan semuanya pada Luna.

“MWO? M…..MWORAGO? KYA! PARK JIYEON! KAU TIDAK SEDANG BERCANDA, BUKAN? ATAU AKU YANG SALAH DENGAR?”

Jiyeon hanya menganggukkan
kepalanya mengiyakan bahwa yang ia katakan itu benar nyata adanya.

“Geundae, meski kalian bukan
saudara kandung, tapi kalian masih saudara sepupu! Kau sepupunya, Jiyeon-ah!” Ucap Luna mengingatkan membuat Jiyeon kembali tertunduk.

“Kau harus melupakannya! Kau tidak boleh jatuh cinta padanya! Dia itu sepupumu! Kalian masih ada ikatan persaudaraan! Kau dengar itu?” Sembur Luna lagi.

Jiyeon tak menjawab. Ia merasa
sedih. Bagaimana caranya agar ia tak menyukai Park Chanyeol, sedangkan perasaan itu sudah tumbuh dihatinya.

“Ige!” Luna menyerahkan android putih milik Jiyeon yang tertinggal dikamarnya tempo hari.

“Aku sudah memperbaikinya! Lain kali jangan membanting
handphonemu itu sembarangan! Dia tak melakukan kesalahan apapun padamu!” Tambah Luna.

Jiyeonpun menerima dan memandang layar androidnya yang masih terpasang wallpaper dirinya bersama Park Chanyeol.

“Dan segera ganti wallpapermu itu!” Perintah Luna saat melihat Jiyeon yang tengah memandang android putihnya.

***

@Joil Technical High School

“Ige mwoya?” Tanya Chanyeol pada Shin songsaenim.

“Untuk festival perpisahan kelas 3, kau ditunjuk sebagai pemeran
utama namja yang akan bermain
dalam drama Cinderella.” Jawab
Shin songsaenim.
Keduanya tengah berada diruang
guru saat ini. Beberapa menit lalu, Chanyeol diminta untuk menghadap Shin songsaemnim selaku guru kesenian di
Joil Technical High School.

“Shirreo!” Tolak Chanyeol seraya
meletakkan kembali buku naskah
yang diberikan Shin songsaenim
padanya.

“Geundae wae?”

“Aku sama sekali tidak tertarik!” Jawab Chanyeol acuh.

“Kya! Anggap ini sebagai tugas
akhirmu, Park Chanyeol.”

“Mianhae, saem!” Jawabnya lalu
menunduk dan bangkit
meninggalkan Shin songsaemnim.

“Aisah, anak itu benar-benar…..”
Gerutunya kesal.

***

Luna menatap horor Jiyeon.
Keduanya tengah berada didalam
kelas menunggu kedatangan Shin
songsaemnim saat ini.

“Wae?” Tanya Jiyeon yang merasa risih dipandang aneh seperti itu oleh Luna, sahabatnya.

“Setelah aku pulang, apa kalian
melakukan sesuatu yang aneh lagi?” Luna memulai interogasi.

“Mwo?”

Luna kembali duduk dengan tenang disamping Jiyeon saat Shin songsaemnim mulai memasuki kelas.
Kini kelas terlihat lebih tenang dibandingkan sebelum Shin saem datang.

~BRUK~

Semua hagsaeg nampak tegang saat dengan kasar Shin songsaemnim membanting bukunya diatas meja.
Semua hagsaeg nampak takut melihatnya.

“Park Jiyeon!” Panggilnya.

“Eoh! Ne?”

“Kemari!” Perintahnya mengerikan.

Jiyeon dan Luna saling melempar pandangan.
Ada apa dengan yeoja paruh baya itu?
Kenapa ia harus memanggil Jiyeon?
Apa Jiyeon telah melakukan
kesalahan?
Bukankah tugas mereka sudah
selesai mereka kerjakan?

“PALLI!” Bentak Shin songsaemnim.

Jiyeon nampak takut melangkah
menghadap Shin songsaemnim.

“Ne, saem!”

“Igo!” Ucapnya menunjuk buku tebal yang baru sajaia banting.

“Ne?” Tanya Jiyeon bingung.

“Itu buku naskah drama untuk
festival perpisahan kelas 3. Aku
tidak mau tau bagaimanapun
caranya, kau harus membuat
oppamu itu mau menjadi pemeran utamanya!”

“Ne?”

“Dia harus membacanya! Lalu
memainkan peran itu! Neo arasseo?”

“Geundae saem…..”

“Ini akan masuk dalam nilai tugas akhirmu!”

***

“Aissh, kenapa yeoja tua itu
melakukannya padamu? Benar-benar menyebalkan!” Gerutu Luna seraya melahap snack yang ia pesan. Saat ini mereka tengah berada dikantin sekolah.

“Memangnya ada apa?” Tanya Amber yang berbeda kelas dengan keduanya.

“Si yeoja tua itu meminta Jiyeon
untuk membuat Chanyeol oppa mau memerankan peran dalam dramanya untuk festival perpisahan kelas 3 nanti.” Jawab Luna.

“Memangnya kenapa? Bukankah itu bagus. Dengan begitu, kita bisa melihat Chanyeol oppa kembali pentas diatas panggung. Bukan hanya bernyanyi dan memetikkan gitarnya, melainkan melihat ia yang
akan berakting. Bukankah itu
bagus!” Komentar Amber.

“Ne. Tapi bagaimana kalau Chanyeol oppa menolaknya? Sebelumnyakan dia belum pernah melakukannya! Dan kemungkinan si yeoja tua itu
sudah memintanya namun ditolak. Pada akhirnya Jiyeonlah yang menjadi korban. Kau tau? Dia bilang ini sebagai nilai tugas akhirnya! Dasar yeoja tua gila!” Gerutu Luna kesal.

Jiyeon, ia hanya terdiam. Bagaimana caranya ia meminta sang oppa untuk melakukannya? Bahkan ia sangat canggung hanya dengan bertemu
dengannya setelah kejadian ciuman semalam.
Eotteokhae? Jiyeon membatin

“Jiyeon-ah! Apa yang akan kau
lakukan sekarang?” Tanya Luna.

“Tentu saja meminta Chanyeol oppa untuk memainkan drama itu!” Jawab Amber yang langsung mendapat tatapan horor dari Luna.

“W….Wae? Memangnya kenapa?
Bukankah itu yang memang harus ia lakukan!” Timpal Amber.

“Aisssh!” Luna nampak prustasi.
Ia tau dengan jelas perasaan Jiyeon maupun Chanyeol. Dan itu tidak boleh terjadi. Meski keduanya bukanlah saudara kandung, namun mereka masih bersaudara karena kedua eomma mereka masih kakak
beradik. Mereka adalah saudara
sepupu. Dan mereka tidak boleh
menjalin hubungan terlarang itu.

Jiyeon hanya menghembuskan
nafasnya. Ia bingung dengan apa
yang akan ia lakukan selanjutnya.

***

@Home Park Family

~ I’d like to be everything you want
Hey girl , let me talk to you
If I was your boyfriend
never let you go
Keep you on my arm girl
you ‘d never be alone
I can be a gentleman
anything you want
If I was your boyfriend
I’ d never let you go
I ‘d never let you go~

Jiyeon mematung didepan pintu
kamar Chanyeol yang terbuka. Ia
mendengarkan Chanyeol yang tengah bernyanyi seraya memetikkan gitar merahnya. Lagu milik Justin Bieber
berjudul Boyfriend, apakah lirik lagu tersebut di persembahkan untuknya?

“Masuklah!” Perintah Chanyeol yang menyadari kehadiran Jiyeon.

Jiyeon langsung tersadar dan
melangkah perlahan mendekat kearah Chanyeol yang tengah menyenderkan kepalanya seraya memeluk gitar
merahnya diatas ranjang.

“Wae?” Tanyanya pada Jiyeon seraya meletakkan gitarnya disamping ranjang.
Chanyeol melihat ada sesuatu yang disembunyikan dibalik punggung Jiyeon.

“Igo! Mwoya?” Tanyanya.
Jiyeon hanya menundukkan
kepalanya.

“Kya!”

Jiyeon lalu mengangkat kembali
kepalanya.

~DEG~

Lagi-lagi mata keduanya beradu.

“Park Jiyeon! Sadarlah! Kau tidak
boleh melakukannya! Kau tidak boleh jatuh cinta pada sepupumu!” Batinnya.

Seolah berhasil lolos dari sihir mata Park Chanyeol. Jiyeon mengerjapkan matanya dan perlahan menelan salivanya.

“Oppa!”

“W…..Wae” Tanya Chanyeol yang
masih terlihat gugup karena
pandangan keduanya yang kembali beradu.

Jiyeon langsung menyerahkan benda yang ada dibalik punggungnya pada Chanyeol.

“Ige mwoya?” Tanyanya saat
menerima buku tebal itu.

“Itu naskah untuk peranmu nanti, oppa! Kau harus menghapalnya!”

“Mwo? Kya! Apa maksudmu? Naskah? Eoh, apa Shin songsaemnim yang menyuruhmu? Lupakan! Aku tidak akan melakukannya!” Balas Chanyeol seraya meletakkan buku besar itu tepat diatas meja samping ranjangnya.

“Oppa!” Rengek Jiyeon.

“Shirreo!” Tolak Chanyeol.

“Jebal, oppa! Ini menjadi nilai tugas akhirku!” Jiyeon mulai memasang wajah sendunya.

“Mwo?”

“Shin saem mengatakan ini sebagai nilai tugas akhirku. Jebal, oppa! Bermainlah dalam drama itu!” Pinta Jiyeon.

“Aissh, nenek sihir itu berani sekali melakukannya padamu!” Gerutu Chanyeol kesal.

“Oppa!”

“Geurae, oppa akan melakukannya. Lalu apa yang akan kau berikan pada oppa, eoh?” Chanyeol memasang tampang nakalnya.

“Ne?”

Chanyeol bangkit dan melangkah
mendekat kearah Jiyeon.
Jiyeon mengerjapkan matanya. Apa yang akan namja itu lakukan
padanya?
Chanyeol mendekatkan wajahnya dan Jiyeon mulai memejamkan kedua matanya.

“Buatkan oppa makanan. Oppa
sangaaaaaat lapar!” Bisiknya tepat ditelinga Jiyeon.

Jiyeon kembali membukakan
matanya.

“PALLI!” Teriak Chanyeol.

“Eoh, ne!” Jiyeon langsung bergegas pergi menuju dapur. Ia merutuki tindakannya.
Apa yang ia fikirkan?
Benar-benar memalukan. Sedangkan Chanyeol, ia tertawa melihat respond Jiyeon. Ia merasa Jiyeonpun memiliki
perasaan yang sama dengannya.
Terlepas dari status ia yang sebagai oppa atau sebagai seorang sepupu, yang jelas
ia mencintai Jiyeon. Bukan sebagai siapapun, melainkan sebagai seorang namja yang jatuh cinta pada seorang yeoja.

“Apa kau belum makan?” Tanya
Shinhye saat melihat Jiyeon yang
tengah memasak didapur.

“Eoh, eomma sudah pulang?”

“Eum.”

“Oppa bilang dia lapar. Jadi aku
membuatkan ramen untuknya!”

“Eoh.” Shinhye kemudian mengambil segelas air minum lalu meminumnya.

“Jiyeon-ah! Apa oppamu sudah
memberitahukan padamu bahwa
setelah lulus ia akan ikut bersama appa kandungnya?”

Jiyeon menghentikan aktifitasnya
saat mendengar pernyataan sang
eomma.

“Ne?”

“Mereka akan pergi ke Jepang.
Disanalah keluarga besar oppamu tinggal. Ia juga akan melanjutkan study disana dan menemani appanya hingga waktunya tiba.” Lanjut Shinhye.

Jiyeon, kenapa hatinya terasa sakit mendengar itu semua?
Apa Chanyeol akan meninggalkannya?
Setelah terungkapnya kebenaran
bahwa Chanyeol bukanlah oppa
kandungnya,
setelah tau bahwa ternyata Chanyeol adalah sepupunya,
setelah menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada namja tinggi itu,
kini ia harus menerima kembali kenyataan bahwa Chanyeol akan pergi meninggalkannya dan tinggal di Jepang.
Ini benar-benar sebuah kejutan yang luar biasa untuknya.

“Kya! Kau akan membuat ramennya lembek!” Sembur Chanyeol yang sudah
berada disampingnya.
Chanyeol mulai mengangkat ramen itu dari atas kompor.
Ia langsung duduk dan menyantap ramen panas itu. Sepertinya namja itu benar-benar kelaparan.

Jiyeon, yeoja itu hanya
memandangnya.
Sang eommapun ikut memandang Jiyeon yang terus menatap Chanyeol yang tengah menyantap ramennya.
Terlihat raut kesedihan diwajah
putrinya itu. Namun, ada apa
dengan mata itu? Ini pertama
kalinya Shinhye melihat itu. Bahkan saat Chanyeol kecelakaanpun ia tak
mendapati tatapan itu. Shinhye
menggelengkan kepalanya berusaha untuk tidak memikirkan hal buruk itu.

Jiyeon lalu berjalan menaiki tangga.

“KYA! NEO EODIGA? KAU HARUS
MENCUCI INI!” Teriak Chanyeol saat melihat kepergian Jiyeon. Namun tak ditanggapi Jiyeon. Yeoja itu tetap berjalan menuju kamarnya.

“Ada apa dengannya?” Gumam
Chanyeol seraya memasukkan ramen kedalam mulutnya.
Sang eomma kemudian memandang Chanyeol yang masih mengunyah ramennya.

“Chanyeol-ah!” Ucap sang eomma yang kemudian duduk tepat dihadapan Chanyeol.

“Ne?”

“Apa kau belum memberitahukan perihal kepergianmu ke Jepang pada
Jiyeon?”

Chanyeol menghentikan aksi
makannya. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian menyantap kembali ramennya.
Sang eomma memandang aneh
Chanyeol.
Entah mengapa ada sesuatu yang
aneh diantara Chanyeol dan juga
Jiyeon belakangan ini. Namun ia
berusaha untuk tidak berfikiran
buruk.

Sementara itu, Jiyeon hanya
memandang langit tak berbintang dari jendela kamarnya.

“Kenapa rasanya hambar sekali!”
Gumamnya.
Baik cuaca maupun suasana hatinya, sepertinya memang benar-benar hambar bagi Jiyeon.

***

@Joil Technical High School

“Oppa!” Ucapnya saat lagi-lagi
melihat sosok Park Chanyeol yang tengah duduk didalam kelasnya.

Luna yang datang bersama Jiyeon lebih memilih untuk kabur dan keluar kelas, membiarkan dua makhluk itu menyelesaikan masalah
mereka.

“Dari mana saja kau? Bukankah kau lebih dulu berangkat ke sekolah!” Selidik Chanyeol.

“Aku menunggu Luna dihalte. Kami berangkat bersama. Hari ini supirnya tidak bisa mengantarkannya!” Jawabnya asal.

~BRAK~

Chanyeol membanting buku naskah yang tempo hari Jiyeon berikan padanya diatas meja.

“Waegeurae?” Tanya Jiyeon bingung.

“Bukalah! Dan baca halaman
terakhir!” Perintah Chanyeol kemudian Jiyeon melangkahkan kakinya mendekat dan mulai membuka halaman terakhir buku naskah tersebut.
Matanya melebar saat mendapati ternyata ada scene kissing dibagian ending.

“Apa kau ingin aku melakukannya?” Tanya Chanyeol tajam.

“O….Oppa!”

“Kau benar-benar ingin aku
melakukannya?” Tanyanya lagi seraya bangkit dan melangkah mendekat.

Jiyeon terlihat begitu bingung.
Apakah ia akan merelakan Chanyeol beradegan ciuman dengan yeoja lain?

“Jadi benar kau ingin aku
melakukannya, Park Jiyeon-ssi?”
Bisiknya.

Jiyeon hanya menelan salivanya
bingung akan jawaban apa yang harus ia berikan.

“KYA! LUNA-SSI! KENAPA KAU HOBI SEKALI MENGINTIP, EOH?” Teriaknya saat menyadari kehadiran Luna dibalik pintu.
Luna terlihat panik.
Chanyeol langsung mengambil
kembali buku naskah itu dan
membiarkan Jiyeon tetap mematung.

“Kau selalu saja mengganggu!”
Bisiknya tajam pada Luna lalu pergi meninggalkan kelas Jiyeon.

Luna langsung bergegas
menghampiri Jiyeon.

“Kya! Kau tidak boleh goyah! Ingat, Park Jiyeon! Dia itu sepupumu! Kau dilarang keras jatuh cinta padanya!” Ucap Luna pada Jiyeon yang masih
mematung.

***

“Aku tidak bisa melakukannya.
Mianhae!” Ucap Chanyeol pada Shin songsaemnim seraya menyerahkan buku naskah itu.

“Kya! Wae? Hanya kau yang pantas memerankannya, Park Chanyeol!”

“Geundae, aku tidak mau
melakukannya. Apalagi harus
beradegan ciuman. Itu benar-benar menjijikan. Dan satu hal lagi, jangan pernah menyuruh Jiyeon untuk melakukannya lagi. Kau boleh memberi nilai buruk padaku, tapi jangan padanya!” Ucapnya seraya bergegas keluar dari ruang guru.

“Park Chanyeol, jebal! Pertunjukkan ini akan hancur jika kau tidak ikut serta! Kau boleh memilih siapapun
yeoja yang akan mendampingimu bermain drama nantinya!” Shin saem mulai bernegosiasi.

Mendengar hal itu, Chanyeolpun
menghentikan langkahnya. Seolah mendapatkan sebuah ide bagus, ia kembali berbalik.

“Kalau begitu, aku ingin Park
Jiyeonlah yang menjadi
pasanganku!”

“Ne?”

“Kurasa aku bisa melakukannya jika bermain bersama dongsaengku!”

Shin songsaemnim nampak terlihat tengah berfikir.
Apakah tidak apa-apa Park
bersaudara yang menjadi pemeran utamanya?
Apakah nanti para penonton akan mendapatkan feel dari drama yang diperankan kedua kakak beradik itu?
Namun tidak ada pilihan lain lagi.
Hanya Park Chanyeollah yang pantas memerankannya.

“Baiklah kalau begitu!” Jawab Shin songsaemnin pada akhirnya yang langsung mendapatkan senyum kemenangan dari Park Chanyeol.

***

Jiyeon, setelah diberitahukan Shin songsaemnim bahwa ia yang menjadi pemeran yeoja yang akan mendampingi Chanyeol, ia menjadi terlihat begitu gelisah. Ia tidak mungkin menolaknya karena Shin songsaemnim menjadikan itu
sebagai nilai akhirnya. Namun iapun tidak mungkin melakukannya apalagi dalam drama tersebut akan ada adegan ciuman.
Apa yang akan dikatakan orang-orang nanti saat melihat dua orang yang diketahui kakak beradik itu berciuman?
Meski mereka belum mengetahui bahwa Chanyeol dan Jiyeon bukanlah saudara kandung, namun tetap saja
mereka adalah saudara sepupu.

“Kau harus menolaknya, Park Jiyeon!” Ucap Luna.

“Tapi bagaimana caranya?”

“Aku tidak tau. Yang jelas kau tidak boleh melakukannya. Eommamu pasti akan menonton pertunjukkan kalian. Bagaimana nanti respondnya saat melihat kalian berdua berciuman? Belum lagi reaksi para hagsaeg dan juga songsaemnim yang
hanya mengetahui bahwa kalian ini saudara kandung.”

“Jangan jadi profokator, Luna-ssi!” Sembur Chanyeol yang tiba-tiba hadir diantara mereka.
Luna begitu terkejut melihat
kehadiran Chanyeol disana.

“Kajja! Kita harus berlatih!” Ajak
Chanyeol yang langsung menarik
tangan Jiyeon.

***

Baik Jiyeon maupun Chanyeol,
mereka berdua berlatih setiap hari. Entah itu dirumah maupun
disekolah dan membuat siapapun berfikir mereka tidak terlihat seperti seorang kakak beradik. Mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih.

“Setelah drama ini, kita akan
disibukkan dengan ujian!” Ucap
Chanyeol.
Keduanya kini tengah berada
ditaman belakang sekolah.

“Kalau aku sih tidak masalah. Kau
yang akan lulus, oppa! Kau harus
bisa mendapatkan nilai yang
sempurna!” Balas Jiyeon.
Kemudian Jiyeon teringat ucapan
eommanya beberapa hari lalu
mengenai Chanyeol yang hendak
pergi ke Jepang bersama dengan
appa kandungnya dan akan
melanjutkan study dinegeri sakura sana.

Hingga detik ini, Chanyeol belum
memberitahukan perihal
kepergiannya ke Jepang pada Jiyeon. Jiyeonpun tidak berani untuk menanyakan hal itu. Ia lebih memilih menunggu sang oppa sendirilah yang memberitahukan padanya.

“Apa yang kau fikirkan?” Tanya
Chanyeol saat melihat Jiyeon yang terdiam.

“Ne?”

“Apa kau memikirkan drama ini?” Tanya Chanyeol kembali.

“Eum!” Jawabnya berbohong.

“Apa kau memikirkan adegan
terakhirnya?” Goda Chanyeol.

“KYA!” Teriaknya yang sudah tersipu malu oleh pertanyaan Chanyeol.

Adegan terakhir?
Apa ia dan Chanyeol benar-benar akan melakukannya?

“Jiyeon-ah!” Ucap Chanyeol seraya menggenggam erat tangan Jiyeon.

“Eoh?”

“Kajja! kita lakukan yang terbaik
untuk drama ini!”

Jiyeon hanya tersenyum memandang oppanya itu.

***

Hari yang dinantipun tiba. Semua
penonton sudah hadir didalam
ruangan yang memang dikhususkan untuk pertunjukkan seni teater yang dimiliki pihak sekolah. Baik para tamu undangan maupun para hagsaeg serta songsaemnim, mereka terlihat begitu berantusias
dengan pertunjukkan itu.

Chanyeol melebarkan matanya saat melihat sosok Jiyeon yang sudah mengenakan kostumnya. Ia terlihat bak seorang putri dari negeri dongeng. Dengan rambut yang sengaja diluruskan mengingat rambut aslinya itu ikal berubah menjadi lurus tergerai dengan indahnya, membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona tak terkecuali dengan sosok tinggi Park Chanyeol.

“Wae?” Tanya Jiyeon malu saat
mendapati tatapan aneh dari
Chanyeol.

“Neomu yeoppo!” Jawab Chanyeol yang berhasil membuat semburat merah dipipi Jiyeon.

Acarapun dimulai. Semua pemeran dalam drama tersebut bermain dengan sangat baik. Hingga tiba pada akhir adegan yang mengharuskan Chanyeol untuk mencium Jiyeon.
Dengan jantung yang sudah
bergemuruh, Chanyeol memeluk
pinggang Jiyeon. Menatap dalam
mata yeoja itu, hingga akhirnya ia memiringkan kepalanya.

~CUP~

Bibir Chanyeol tepat mendarat
dibibir Jiyeon. Semua penonton nampak melebarkan mata mereka tak terkecuali dengan eomma Jiyeon dan juga appa Chanyeol yang hadir.
Hingga suara gemuruh tepuk
tangan membuat Chanyeol
menghentikan aksinya.
Ia tersenyum memandang yeoja yang ada dihadapannya itu. Jiyeonpun membalas senyuman manis Chanyeol. Keduanya kemudian menghadap
kearah penonton lalu menunduk.
Suara teriakan penyemangat semakin terdengar seiring dengan suara tepukan tangan yang masih bergemuruh
menandakan bahwa drama yang
mereka mainkan benar-benar
memuaskan para penonton.

***

@Home Park Family

Saat ini Jiyeon, Shinhye, Chanyeol dan juga Jaejoong tengah berada dirumah Park Family. Mereka tengah makan bersama merayakan keberhasilan drama yang Chanyeol dan Jiyeon perankan.

“Kalian terlihat seperti sepasang
kekasih!” Komentar Jaejoong membuat Chanyeol dan Jiyeon hanya dapat menelan saliva mereka masing-masing.
Sedangkan Shinhye, ia hanya terdiam. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh antara Jiyeon dan juga Chanyeol.

“Apa kau sudah mempersiapkan
segala sesuatu untuk
keberangkatanmu bersama Chanyeol ke Jepang nanti?”
Pertanyaan Shinhye sukses membuat Jiyeon terdiam.
Chanyeol yang memang belum
memberitahukan hal itu pada Jiyeon langsung menoleh kearahnya.

“Aku sudah menyiapkan tiket untuk keberangkatan kami 3 minggu yang akan datang!” Jawab Jaejoong.

***

Baik Chanyeol maupun Jiyeon,
keduanya hanya terdiam dan tak
saling menyapa setelah peristiwa
makan malam itu.
Jiyeonpun enggan untuk
menanyakannya pada Chanyeol,
begitu pula dengan Chanyeol yang masih belum siap mengatakan perpisahannya pada Jiyeon. Keduanyapun tengah disibukkan dengan ujian sekolah mereka masing-masing.
Hingga ujian berakhir dan
keberangkatan Chanyeol ke Jepang tinggal menghitung jam.

“Jiyeon-ah!” Ucapnya saat memasuki kamar Jiyeon.
Yeoja itu terlihat tengah duduk
dilantai kamarnya, menyandarkan kepalanya diranjang seraya menyalakan MP3 yang sudah bertengger earphone dikedua telinganya. Matanya terlihat terpejam.

Menyadari itu, Chanyeol langsung melangkahkan kakinya mendekat dan duduk disamping Jiyeon. Ia mengambil sebelah earphone Jiyeon, membuat yeoja itu membukakan matanya dan menoleh kearah Chanyeol.
Akhirnya yeoja itu menyadari
kehadiran Chanyeol disana.

Skyskraper. Itulah lagu yang tengah didengarkan Jiyeon. Chanyeol mengetahuinya setelah memasang earphone itu disebelah telinganya. Lagu milik Demi Lovato. Lagu yang
pernah mereka berdua nyanyikan sebelum Chanyeol mengalami kecelakaan.

Jiyeon hanya memandang oppanya itu. Ia menyadari maksud kedatangan sang oppa.
Besok. Besok adalah hari dimana
Chanyeol dan appa kandungnya akan pergi ke Jepang. Jiyeon tak
menyadari bahwa air matanya telah sukses meluncur dikedua pipinya hingga Chanyeol menghapus air mata itu dengan kedua jari tangannya.

“Kau sudah mengetahuinya?” Tanya Chanyeol.

Jiyeon hanya menganggukkan
kepalanya seraya terisak. Sungguh ia tak sanggup berpisah dengan namja yang selama 17 tahun menemaninya itu.

Chanyeol langsung merengkuh tubuh Jiyeon kedalam pelukannya. Keduanyapun
menangis bersama.

“Hiks…”

“Oppa akan segera kembali!”
Bisiknya dan semakin membuat
Jiyeon terisak. Chanyeol semakin erat memeluk tubuh Jiyeon, begitu pula dengan Jiyeon yang mulai membalas
pelukannya.

***

Sudah hampir sebulan sejak
kepergian Chanyeol ke Jepang.
Jiyeonpun kini sudah menjadi
hagsaeg kelas 3.

“Kudengar akan ada hagsaeng baru!” Bisik Amber yang kini satu kelas dengan Jiyeon, sedangkan kini giliran Lunalah yang berbeda kelas dengan keduanya.

Jiyeon nampak tak menghiraukan ucapan Amber. Hingga muncullah sosok Kang songsaemnim bersama
dengan seorang namja muda, lebih tepatnya hagsaeg namja. Mungkin inilah hagsaeg baru yang Amber ceritakan pada Jiyeon barusan.

Dengan postur tubuh yang cukup
tinggi, berkulit putih bersih dan
berparas tampan, mampu membuat para hagsaeg yeoja disana menatap kagum hagsaeg baru itu.

“Perkenalkan dirimu!” Perintah Kang songsaenim pada namja tinggi putih itu.

Namja itu berjalan selangkah lebih maju. Ia memandang sekelilingnya. Memandang para hagsaeg yang akan menjadi rekannya dikelas nanti. Matanya menangkap sosok Jiyeon yang hanya menunduk. Kemudian ia kembali menatap lurus
ke depan.

“Annyeonghasaeyo! Naneun, Oh
Sehun imnida. Mannaseo
bangabseumnida!” Ucap Namja yang diketahui bernama Oh Sehun itu kemudian membungkukkan tubuhnya.

***

Bagaimana dengan Jiyeon setelah kepergian Chanyeol dan kehadiran Sehun?
Mampukah Sehun merebut hati
Jiyeon?
Ataukah Sehun yang berhasil
memenangkan hati Jiyeon?
Bagaimana dengan Chanyeol?
Tunggu next part nya ne!
Jangan Lupa kritik dan sarannya!
Coment jusaeyo!

FF Chanyeol Jiyeon (Park Couple) I Like You The Best (part 2)

       

image

        I LIKE YOU THE BEST
                             (part 2)

Author:
Erni Eyexs

Twitter:
@ernieyex

Instagram:
@erni_eyexs

Main Cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Park Chanyeol (EXO)

Other Cast :
Kim Jae Joong ( JYJ )
Park Shinhye
Luna ( Fx )
Amber ( Fx )

Songfict :
EXO Moonlight

Genre :
Bromance, Comedy, School life, Friendship, Family, Sad

Length :
Chaptered

A/N : Part 2 Hadir. Pernah autjor publish di tanggal 11 Mei 2014. Semoga part ini
tidak mengecewakan.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

“KYA! PALLIWA!” Perintah Chanyeol pada Jiyeon.

Sejak seminggu dirawat dirumah
sakit karena kecelakaan yang
menimpanya, Chanyeol kini
diperbolehkan untuk pulang
kerumah.

“Ne, oppa!” Jawab Jiyeon yang
tengah mengupas sebuah apel untuk oppanya itu.

“Kau ini lelet sekali!” Ejeknya.

“KYA! TANGANKU HANYA DUA. KAU FIKIR AKU PUNYA BANYAK TANGAN, EOH?” Teriak Jiyeon kesal. Sejak kembali kerumah, Chanyeol menjadi sosok namja yang manja dan suka memerintahnya. Untung sang
pengendara mobil membanting setir sesaat sebelum mobilnya
menghempaskan tubuh Chanyeol, sehingga Chanyeol hanya terserempet dan luka ringan. Sang pengendarapun meminta maaf karena ia
baru pertama kali mengendarai
mobil dan mereka menyelesaikan masalah itu dengan cara kekeluargaan.

“Aku kan sedang sakit!” Jawab
Chanyeol mempoutkan bibirnya
mengikuti kebiasaan dongsaengnya seraya menurunkan volume suaranya.
Begitu terdengar menyedihkan.
Namun bagi Jiyeon, itu sangat
menyebalkan. Ia hanya menghela nafasnya malas. Menutup rapat kedua bibirnya menahan amarah.

“Kya! Kau harus memotongnya kecil-kecil!” Tambah Chanyeol.

Jiyeon menautkan kedua alisnya. Menatap horor kearah oppanya itu.
Dia benar-benar sangat cerewet. Batinnya.

***

@Joil Technical High School

“Bagaimana keadaan oppamu?”
Tanya Amber yang tengah berada didalam kelas Jiyeon dan Luna. Amber memang berbeda kelas dengan keduanya.

“Untuk apa kau menanyakannya,
eoh? Kenapa kau tidak menanyakan keadaanku?” Protes Jiyeon kesal.

“Ck, memangnya kau sakit?” Luna terkekeh mendengar pernyataan Jiyeon.

“Tentu saja. Nan jeongmal aphayo. Penyakitku bahkan sangat parah. Huft…” Jawab Jiyeon seraya menghembuskan
nafasnya kesal.

“Wae? Wae? Wae?” Tanya Amber
yang ikut terkekeh merasa lucu
dengan yang diucapkan Jiyeon.
Oppanya yang baru saja mengalami kecelakaan, kenapa malah dongsaengnya yang merasa sakit? Ck.

“Bagaimana aku tidak sakit, si
monster itu menyuruhku ini dan itu setiap waktu. Aku benar-benar merasa sakit. Neomu Aphayo!” Jawabnya sedih, namun malah terdengar sangat lucu bagi Amber dan juga Luna.

“KYA!” Teriak Jiyeon saat Amber dan Luna menertawakannya.

***

@Suseonggyo Restaurant

“Untuk apa kau datang kesini?”
Tanya Shinhye, eomma Chanyeol, pada namja yang ada dihadapannya saat ini.

“Kudengar Chanyeol kecelakaan!” Jawab sang namja yang memiliki suara lembut.

“Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya!” Jawab Shinhye sinis.

“Aku akan membawanya ke Seoul!”

“MWO? NEO MICHEOSSEO! SETELAH KAU MENINGGALKANNYA DAN JUGA
EONNIE, KAU INGIN MEMBAWANYA? CK, KAU BENAR-BENAR SANGAT LUCU KIM JAEJOONG-SSI!” Ucap Shinhye
kesal.

“Aku tidak pernah meninggalkan
Park Bom. Dialah yang ingin aku
meninggalkannya!” Jawab namja yang ternyata adalah appa dari Park Chanyeol.

“Kau benar-benar memuakkan.
Bagaimana bisa seorang yeoja dapat dengan mudah menerima kenyataan bahwa namja yang selama ini menjadi kekasihnya, namja yang sudah menghamilinya, ternyata sudah mempunyai seorang anae. Kau
benar-benar seorang penipu!”
Tambah Shinhye pada namja yang ada dihadapannya yang diketahui bernama Kim Jaejoong itu.

Jaejoong hanya terdiam. Mungkin benar ini adalah kesalahannya.
Saat ia yang seorang dosen muda
jurusan musik dipindahtugaskan di Daegu National University Of
Education, ia tertarik pada salah
satu mahasiswi yang bernama Park Bom. Tak ada yang tau mengenai hubungan keduanya. Hingga akhirnya Park Bom hamil dan lebih buruk lagi saat ia mengetahui bahwa Kim Jaejoong ternyata sudah
mempunyai seorang anae. Meski
Jaejoong meminta maaf padanya dan berjanji akan bertanggung jawab, namun Park Bom menolaknya dan lebih memilih untuk ditinggalkan
Jaejoong yang akan kembali ke Seoul karena masa tugasnya di Daegu sudah selesai.

“Mianhae!” Lirih Jaejoong seraya
menunduk.

“Jangan pernah datang lagi kemari! Dan jangan pernah sekali-kali menampakkan wajahmu itu dihadapanku maupun Chanyeol.” Ucap Shinhye bergegas pergi
meninggalkan Jaejoong.

Park Bom, setelah melewati masa-masa sulit kehamilan, ia tinggal bersama Shinhye, dongsaengnya yang sudah menikah dengan seorang
mekanis bernama Jung Yoon Ho.
Kehidupan Shinhyepun tidaklah
mulus, ia diusir oleh Park Family
karena menjalin hubungan dengan seorang mekanis. Meski gaji Yoon Ho pas-pas an, namun Shinhye merasa bahagia bersamanya. Merekapun
memutuskan untuk menikah.
Sekarang giliran Park Bom yang
diusir karena hamil diluar nikah.
Park Bom tidak punya tempat lain untuk bersandar selain kepada Shinhye, dongsaengnya. Sayang, saat Park Bom
melahirkan Chanyeol, ia harus
meninggalkan dunia ini. Shinhye yang saat itu tengah mengandung Jiyeonpun
merawat Chanyeol dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.

Bagaimana dengan Jaejoong?
Ia tak pernah berhenti mencari
informasi tentang Park Bom, hingga kematian yeoja itupun ia tak mengetahuinya. Ia datang berkunjung kemakam yeoja
itu sehari setelah dilakukannya
pemakaman, dan iapun baru mengetahui perihal anak yang dilahirkan Park Bom yang
diberi nama Park Chanyeol itu.

***

@Home Park Family

“Waegeuraeseo, eomma? Apa yang sedang kau fikirkan, eoh?” Tanya Jiyeon yang melihat sang eomma tengah melamun didapur rumahnya.

“Eoh, Jiyeon-ah! Kau sudah pulang? Bagaimana dengan sekolahmu?” Balas Shinhye saat menyadari kedatangan puterinya itu.

Jiyeon menautkan kedua keningnya heran. Tidak biasa-biasanya sang eomma menanyakan perihal sekolahnya.

“Kya, eomma! Apa kau sedang ada masalah? Apa terjadi sesuatu? Apa manager restaurant itu membuat ulah padamu? Atau ada yang
mengganggumu? Katakan padaku, eomma! Aku akan menghajar siapapun yang membuatmu bersedih seperti ini!” Cerocos Jiyeon mengepalkan tangannya ke udara.

Shinhye malah tertawa mendengar ucapan Jiyeon. Ia tersenyum seraya mengelus lembut puncak kepala
putrinya itu.

“Aigoo, bagaimana bisa eomma
mempunyai putri secerewet dirimu eoh?”

“KYA!”

Keduanya tertawa bersama saat
mendengar teriakan Jiyeon.

“Eoh, apa oppa sudah tidur?” Tanya Jiyeon.

“Eum. Seharian ini dia ditemani
teman yeojanya. Dia sangat cantik, Jiyeon-ah!”

“MWO? YEOJA?” Teriak Jiyeon
terkejut. Setaunya, oppanya itu
tidak pernah tertarik pada yeoja
manapun. Dia juga akan langsung
mengusir yeoja yang berkunjung
kerumahnya.

“Ne. Neomu yeoppo. Apa mungkin itu yeojachinguya?” Pikir Shinhye.

“MWO? YEOJACHINGU?” Jiyeon kembali berteriak karena terkejut.

“Kya! Kya! Kya! Tidak perlu berteriak seperti itu! Kau bisa membangunkan oppamu nanti!” Shinhye mengingatkan.

“Aisshh!” Jiyeon terlihat kesal dan meninggalkan sang eomma.

“Kya! Neo eodiga? Apa kau sudah
makan, eoh?”

“Sudah!” Jawabnya singkat menaiki tangga menuju kamarnya yang ada dilantai dua rumahnya.

Kini, ia tepat berada didepan kamar Park Chanyeol sang oppa.

“Apa kau sudah mempunyai seorang yeojachingu, oppa? Geundae wae? Kenapa kau tidak pernah memberitahukannya padaku? Apa yeoja itu lebih
cantik dan lebih manis dariku? Awas kau Park Chanyeol!” Geramnya lalu membuka pintu kamar Chanyeol.

“KYA! DARI MANA SAJA KAU, EOH?” Sembur Chanyeol saat melihat Jiyeon memasuki kamarnya. Ternyata dia
belum tidur.

Yeoja itu mengerutkan keningnya dan melangkah mendekat kearahnya.
Jiyeon berkacak pinggang tepat
disamping ranjang Chanyeol.
Chanyeol terlihat heran sekaligus
merasa takut melihat tingkah aneh dongsaengnya itu.

“W…Wae? Wae? Wae? Wae?”

Jiyeon tak menjawab. Ia justru
memandang horor oppanya itu.
Chanyeol menelan salivanya secara perlahan. Sepertinya ia akan mendapatkan masalah LAGI dari dongsaeng tercintanya itu.

“Oppa!” Ucap Jiyeon menekankan kata yang keluar dari mulutnya.

“W….Wae? Waeyo?”

“Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Jiyeon memulai interogasi.

“MWO?”

Jiyeon langsung berhambur kearah Chanyeol dan memukuli oppanya itu dengan bantal.

“KYA! KYA! KYA! APA YANG KAU
LAKUKAN?”

Jiyeon masih memukuli tubuh
Chanyeol, hingga Chanyeol berhasil menangkap kedua tangannya.

~DEG~

Mata mereka berdua beradu. Seolah ada aliran entah itu apa yang tiba-tiba mengalir dengan begitu saja.
Ada apa dengan mata itu? Kenapa keduanya seolah enggan berpaling dari mata itu?
Park Jiyeon?
Park Chanyeol?
Sadarlah!
Kalian berdua bersaudara!

~Wae sseulegicheoleom nal
beolyeoseo
Daeche wae nan amugeosdo hal sueobseo
Daeche wae wae wae nan maeil
Neowaui cheogdeuleul da
jibeodeonjyeo~

Jiyeon langsung tersadar dan
menghempaskan tangan Chanyeol dan langsung mengangkat android putihnya yang berdering.

Sedangkan Chanyeol, ia terlihat
kesal karena mendengar ringtone handphone Jiyeon adalah lagu B.A.P yang
berjudul Coma, apalagi ringtone tersebut berdering tepat di part idola Jiyeon yakni Bang Yongguk.

“Yeoboseyo!”

“MWO? KYA! NEO MICHEOSSEO?”

“Aish, aku akan segera kesana!”

Jiyeon pun menutup kembali
sambungan teleponnya dengan
sangat kesal.
Chanyeol yang melihatnyapun begitu khawatir.

“Waegeurae?” Tanyanya penasaran.

“Karya ilmiah yang baru saja kubuat bersama dengan Luna untuk tugas akhir semester tidak sengaja dibuang Ahn Ahjumma.” Jawab Jiyeon.

“Chinjja?”

“Aku akan menginterogasimu lain kali, oppa!” Ucap Jiyeon seraya meninggalkan Chanyeol.

“KYA! NEO EODIGA?”

“Aku akan mencari makalah itu.
Malam ini aku akan menginap
dirumah Luna. Jaljayo, oppa!”
Jawabnya menutup pintu kamar
Chanyeol.

Ternyata Jiyeon terlambat pulang karena harus mengerjakan tugas akhir semester bersama Luna.

Chanyeol, ia langsung menyentuh dadanya. Masih terasa jantungnya yang berdetak abnormal.

“Ige mwoya? Aisshh, kurasa aku
sudah gila karena kecelakaan
kemarin.” Gumamnya.

***

@Home Luna Family

“Tidurlah! Bukankah kita sudah
menemukan makalah kita. Yaaaaa walaupun harus mencarinya ke tempat sampah!” Ucap Luna yang terlihat begitu mengantuk.

Sedangkan Jiyeon, ia tak
menjawabnya. Pikirannya masih
tertuju pada peristiwa yang terjadi dikamar Park Chanyeol sang oppa.
Perasaan apa ini?
Kenapa jantungnya terus berdetak seperti ini?
Ada apa dengannya?
Yeoja itu terlihat membuang nafas lemas. Ia kemudian memandang langit-langit kamar
Luna. Berharap kemudian ia akan tertidur dan melupakan semuanya.

***

@Joil Technical High School

“KYA! JIYEON-AH!” Sembur Amber yang datang ke kelas Jiyeon. Ia nampak terlihat terengah dan berusaha mengatur nafasnya.

“Kya! Waegeurae?” Tanya Jiyeon.

“Ada apa, Amber-ah?” Tambah Luna yang duduk disamping Jiyeon.

“Kya, apa oppamu berpacaran
dengan Victoria eonnie?”

“MWO?” Teriak Jiyeon terkejut.

“Mwoya? Dari mana kau
mendapatkan gosip itu?” Tambah
Luna.

“Tadi pagi mereka berdua datang
kesekolah bersama. Ingat insiden keluarnya Chanyeol oppa dari kepengurusan OSIS? Bagaimana bisa mereka seakrab seperti sekarang setelah insiden itu!” Amber mengungkapkan pemikirannya.

“Ne. Apa mereka benar-benar
berpacaran?” Tambah Luna.

Jiyeon hanya terdiam. Entah
perasaan apa yang saat ini ia
rasakan. Yang jelas seperti ada
sesuatu yang menohok dadanya.

“Jiyeon-ah! Jiyeon-ah!” Panggil
Amber saat melihat Jiyeon yang
hanya terdiam.

“E….Eoh? Wae?”

“Mworago? Wae? Kya! Bagaimana
dengan oppamu? Benarkah kau tidak mengetahui hubungannya dengan Victoria eonnie, eoh?” Tanya Luna kesal.

Jiyeon bangkit dan memilih keluar dari dalam kelasnya tanpa menjawab pertanyaan dua orang sahabatnya itu.

“KYA!” Teriak Luna dan Amber kesal.

“Oppa? Benarkah kau berpacaran
dengan yeoja itu? Apakah mungkin yeoja yang eomma ceritakan itu.adalah Victoria eonnie? Geundae, wae? Kenapa harus yeoja yang menyebarkan foto-foto memalukan itu?” Batinnya.

Kini ia tepat berada didepan kelas Chanyeol. Victoria yang memang satu kelas dengan Chanyeol terlihat tengah
berusaha memberikan potongan apel kecil pada Chanyeol.

Chanyeol, namja itu memang sangat menyukai buah Apel. Namun ia terlihat enggan menerima potongan Apel itu
dari tangan Victoria, apalagi
mengingat bahwa keduanya tengah berada didalam kelas. Semua hagsaeg disana terlihat
memandang keduanya dengan
perasaan penuh tanda tanya.
Apa keduanya berpacaran?

“JIYEON-AH!” Teriak Chanyeol saat melihat kedatangan Jiyeon yang berada diambang pintu kelasnya.

Victoriapun ikut menoleh dan
mendapati Jiyeon yang tengah
menghapus air mata yang mengalir dipipinya.
Mwo?
Park Jiyeon menangis?
Chanyeol yang ikut menyadari hal itu langsung bangkit dan melangkah mendekat kearah Jiyeon.

“Nan gwaenchana!” Ucap Chanyeol pada Victoria yang hendak membantunya berjalan.
Dengan terpincang karena kakinya yang masih terasa sakit akibat kecelakaan yang menimpanya tempo hari, Chanyeol berjalan mendekat kearah Jiyeon.

“Kya! Waegeurae?” Tanya Chanyeol khawatir.

Jiyeon hanya terdiam. Entah iapun tak tau bagaimana bisa air mata itu mengalir begitu saja.

“Kya!”

Jiyeon hanya menundukkan
kepalanya. Air matanya seolah
enggan untuk berhenti mengalir.
Ada apa dengannya?
Kenapa rasanya begitu sakit?

“Jiyeon-ah! Apa ada yang
mengganggumu? Apa ada yang
menyakitimu? Cepat katakan pada oppa!” Perintah Chanyeol semakin panik saat Jiyeon makin terisak.

Semua hagsaeg yang melihatpun
begitu bertanda tanya, begitupula dengan Victoria. Ia merasa iri karena Chanyeol begitu mengkhawatirkan keadaan Jiyeon. Meski keduanya bersaudara, itu membuat semua orang yang melihatnya merasa iri karena perhatian yang diberikan Chanyeol
yang hanya ia berikan pada
dongsaengnya itu.

“Op….Oppa! Hiks…” Lirih Jiyeon.

Chanyeol langsung memeluknya. Ia merasa sedih jika melihat dongsaengnya seperti itu.

“Katakanlah! Siapa yang
mengganggumu, eoh?” Bisik
Chanyeol.

Jiyeon merasa nyaman berada dalam pelukan Chanyeol.
Selalu seperti itu. Oppanya itu
selalu memberikannya rasa aman dan nyaman.
Jiyeonpun mulai tenang dan
berhenti terisak. Iapun melepaskan tubuhnya dari pelukan Chanyeol.

“Oppa!”

“Eum? Waegeurae? Beritahu oppa!”

“Naega…..”

Chanyeol masih setia menunggu
kata-kata yang hendak diucapkan
dongsaengnya itu.

“Naega….. paegophaya!”

“MWO? M…..MWORAGO?” Teriak
Chanyeol terkejut.

“Kau tau bukan, semalam aku
menginap dirumah Luna. Aku tidak membawa uang dan aku sangat lapar. Luna tidak mau miminjamkan uangnya padaku!” Bohong Jiyeon terlihat merajuk.

“KYA! NEO MICHEOSSEO!” Teriak
Chanyeol kesal.
Kenapa dongsaengnya itu selalu
membuatnya khawatir dan kesal
disaat yang bersamaan?
Jadi dia datang kekelasnya dengan menangis hanya karena dia lapar?

“NAE PAEGOPHAYA!” Rengek Jiyeon yang langsung mendapati pukulan ringan dikepalanya dari Chanyeol.

~PLAK~

“KYA!” Ringisnya.

“Kau benar-benar mau membuat
oppamu ini mati karena jantungan, eoh? Untuk apa kau menangis datang kesini hanya karena lapar? Aisshhh!” Ucap Chanyeol kesal.

Jiyeon hanya menghapus kasar air matanya kemudian mempoutkan bibirnya kesal. Kesal karena sang oppa
memukul kepalanya.
Entahlah, Jiyeonpun tak tau mengapa ia mengatakan hal itu. Hanya itu yang terlintas difikirannya. Saat ini ia
belum bisa memastikan perasaan apa yang ia rasakan terhadap Park Chanyeol, oppanya. Ia harus menemukan jawabannya sendiri.

“Pakai ini, Park Jiyeon-ssi! Dan
belilah apapun yang kau inginkan!” Ucap Chanyeol seraya memberikan beberapa lembar won pada dongsaengnya itu.

Jiyeon terlihat senang menerimanya.

“Gomawo, nae oppa!” Balasnya
seraya menampilkan deretan gigi putihnya.

“Eoh!” Jawab Chanyeol kesal.

“Geureom, neo dongsaeng pamit! Gomapta, Park Chanyeol-ssi! Annyeonghasaeyo!” Ucap Jiyeon yang ikut menggunakan bahasa formal pada oppanya itu membuat Chanyeol hanya dapat berdecak karenanya.

“KYA! PERGILAH! BELILAH MAKANAN FAVOURITEMU ITU SEBANYAK-BANYAKNYA!” Teriaknya pada Jiyeon yang sudah berjalan pergi.

Victoria tersenyum melihat
keakraban kedua kakak beradik itu.
Chanyeol, dia sosok namja
penyayang ternyata. Itulah yang
dapat ia simpulkan tentang namja yang selama ini terkenal dengan kepribadiannya yang dingin.

***

@Suseongggyo Restaurant

“Bukankah sudah kukatakan jangan pernah muncul dihadapanku lagi!” Ucap Shinhye saat Jaejoong kembali
datang ke restaurant tempatnya
bekerja.

Jaejoong tak menjawab. Ia hanya
memberikan sebuah amplop
berwarna cokelat pada Shinhye.

“Ige mwoya?”

Jaejoong kembali tak menjawab dan membiarkan Shinhye membuka sendiri isi amplop itu.
Shinhye melebarkan matanya saat mengetahui isi dari amplop tersebut yang ternyata adalah selembar surat hasil pemeriksaan kesehatan tentang Kim Jaejoong.
Namja itu menderita penyakit kanker otak stadium akhir?
Shinhye langsung menatap Jaejoong, meminta penjelasan tentang itu semua.

“Dokter memvonisku penyakit itu 15 tahun yang lalu. Itu sebabnya aku tidak pernah muncul dihadapan kalian selama ini. Aku sibuk memeriksakan kesehatanku. Setelah aku menceritakan perihal aku yang
telah jatuh cinta dan menghamili
yeoja dari Daegu, istriku
menceraikanku. Ini sepertinya
balasan untukku. Yeoja yang kucintai meninggalkanku begitu pula dengan istriku dan tuhanpun memberikanku
penyakit itu. Ini semua pantas aku dapatkan. Dokter mengatakan, waktuku hanya tersisa 1 tahun saja. Maka dari itu aku ingin Chanyeol menemaniku hingga tuhan
mengambil nyawaku. Aku ingin setidaknya ada orang yang
kusayangi berada disisiku sampai
akhir. Jebal, bantulah aku!” Mohon Jaejoong seraya menunduk dan Shinhyepun
mulai merasa iba.

***

@Home Luna Family

“KYA! Wae? Kau hoby sekali
menginap disini, eoh?” Tanya Luna pada Jiyeon yang kembali pulang kerumahnya.

“Apa kau bertengkar dengan
eommamu? Atau jangan-jangan
dengan oppamu? Aigoo, kau terlihat takut untuk pulang kerumah!” Tambah Luna mengejek.

Takut?
Ya, sepertinya itu benar!
Jiyeon takut tidak bisa
mengendalikan perasaannya
terhadap Park Chanyeol.

Ia tak menjawab pertanyaan Luna dan hanya menghembuskan nafasnya kesal.

“Geureom, tidurlah! Anggap ini
rumahmu sendiri, Jiyeon-ssi!”
Sembur Luna yang masih tak
mendapat respond dari Jiyeon.

Keduanya kini tengah terbaring
diatas ranjang yang sama yang ada didalam kamar Luna.

Jiyeon, Imia terus memikirkan jawaban mengenai perasaannya itu. Tidak mungkin ia menanyakannya pada Luna. Ini akan sangat memalukan.
Jiyeon kemudian mengambil android putihnya dan membuka internet. Ia mencari tau perihal jawaban atas perasaan yang ia rasakan. Dan tepat saat ia selesai membaca informasi dari sana, ia langsung melempar android putihnya itu.

~BRAK~

“KYA!” Teriak Luna saat mendengar suara benda terjatuh.

“Apa yang kau lakukan?” Tambahnya.

Jiyeon hanya menutupi semua
tubuhnya dengan selimut.

“Kau benar-benar aneh Park Jiyeon!” Sembur Luna kesal.

Jiyeon, matanya masih melebar.

Jatuh Cinta

Itulah yang ia temukan.
Apa iya dia jatuh cinta?
Dan……..
Tidak!
Dia itu oppamu dan kau itu
dongsaengnya!
Sadarlah Park Jiyeon!
Kau tidak mungkin jatuh cinta pada oppamu sendiri!
Kau sudah gila! Batin Jiyeon meracau.

***

@Joil Technical High School

“Oppa!” Ucap Jiyeon saat melihat
Chanyeol yang tengah duduk
dibangku kelasnya.

“Sedang apa kau disini?” Tanyanya saat tepat berada dihadapan oppanya itu.

“Kenapa semalam tidak pulang?”
Tanya Chanyeol menginterogasi.

“Eoh, bukankah aku sudah
menelepon eomma!” Jawabnya.

“Apa tugasmu belum selesai juga, eoh?”

“Ne?”

Luna yang menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Jiyeon hanya terdiam.
Ia berbalik hendak keluar dari dalan kelas sebelum oppa sahabatnya itu ikut menginterogasinya.

“Luna-ssi!” Panggil Chanyeol membuat Luna hanya dapat menghembuskan nafasnya berat.
Ia kembali berbalik.

“Ne, Chanyeol oppa!”

“Neo eodiga?”

“Eoh? Na….Naneun harus
mengambil buku diperpustakaan
sekarang!” Jawabnya asal dan
semakin membuat Chanyeol curiga.

“Apa kau fikir perpustakaan buka
dijam segini? Ini belum jam 7 Luna-ssi!” Tambah Chanyeol yang semakin membuat Luna terasa sulit untuk menelan salivanya sat ini.
Ya, Chanyeol benar. Ini belum jam 7 dan perpustakaan sekolah buka tepat jam 7 pagi.
Sepertinya ia harus menyerah. Luna kembali melangkah mendekat dan iapun hanya dapat menundukan wajahnya.

“Ne, Chanyeol oppa!”

“Apa yang Jiyeon lakukan
dirumahmu? Apa benar kalian
melakukan tugas sekolah? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku? Atau kalian membuat rencana baru untuk mendapatkan tiket konser idola kalian seperti tempo hari?” Cerocos Chanyeol.

“Ne?”

“Oppa! Geumanhae! Bukankah sudah kukatakan bahwa makalah kami tidak sengaja dibuang Ahn Ahjumma, jadi kami harus membuat ulang!” Jawab
Jiyeon kesal.

“Shincca?” Chanyeol bangkit dan
berjalan mendekat kearah Jiyeon.

“Para hagsaeg disini mengatakan
bahwa semua tugas sudah diberikan pada Shin saem kemarin. Apa itu salah?”

Jiyeon hanya terdiam. Ia tidak
mempunyai alasan lain. Oppanya
sudah mengetahuinya.

“Jadi, apa yang kau rencanakan Park Jiyeon-ssi? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Tambahnya.

Seolah kembali saat Jiyeon
menanyakan hal yang sama pada
Park Chanyeol beberapa hari lalu
saat didalam kamar. Dan saat itulah perasaan aneh itu muncul.
Mata mereka berdua kembali beradu dan kembali terkunci.

Luna, ia hanya memandang ngeri
keduanya.

~Teeeeeeeetttt~

Hingga bunyi bel terdengar  ditelinga keduanya dan
membangunkan kesadaran mereka.
Baik Chanyeol maupun Jiyeon
terlihat canggung satu sama lain.

“A…..Aku akan menanyakannya lagi!” Ucap Chanyeol terbata dan langsung bergegas meninggalkan kelas Jiyeon.

Jiyeon hanya mengerjapkan matanya.
Menyadari jantungnya yang kembali berdetak abnormal.
Sedangkan Chanyeol, namja itu melangkah menuju kelasnya dengan memegangi dadanya.

“Park Chanyeol! Neo micheosseo!” Gumamnya.

***

@Suseonggyo Restaurant

Terlihat Park Shinhye bersama Kim Jaejoong tengah menanti
kedatangan seseorang.

“Waegeurae, eomma? Tumben sekali memanggilku kesini!” Sembur Chanyeol yang datang dan langsung duduk disamping sang eomma. Ia terlihat bingung saat mendapati seorang namja paruh baya yang duduk dihadapan sang eomma. Ia
hanya melemparkan senyum pada namja itu dan kembali menatap sang eomma.

“Kau mau minum apa?” Tanya
Shinhye.

“Tidak perlu. Aku harus segera
kembali kerumah. Katakanah apa
yang ingin eomma katakan padaku!” Balas Chanyeol.

Shinhye hanya dapat menghembuskan nafasnya berat.

***

“Untuk apa kau menemui eommamu? Bukankah kau sudah mendapatkan uang jajan dari oppamu tempo hari!”
Tanya Luna saat mendengar Jiyeon yang hendak berkunjung ke Suseonggyo Restaurant tempat eommanya bekerja.

“Aku merindukannya! Aku harus tau apakah dia baik-baik saja tanpaku!” Jawabnya.

“Ck, kalau begitu jadilah anak yang baik Jiyeon-ssi!”

“Aissh, shincca! Kau ini menyebalkan, Luna-ssi! Tentu saja aku ini anak yang baik. Bahkan sanggggggat baik!” Balasnya percaya diri.
Keduanyapun tertawa.

“Geureom, hati-hati ne!”

“Ne!” Jiyeonpun turun dari dalam mobil mewah Luna. Ia memang sengaja menumpang pulang bersama Luna untuk berkunjung ketempat eommanya bekerja yang kebetulan satu arah dengan rumah Luna.

Saat hendak membuka pintu
restaurant, matanya melebar saat melihat sosok Chanyeol sang oppa di sana.

“Oppa! Kau disini juga?” Tanyanya dan tak mendapat jawaban dari Chanyeol.

Chanyeol pergi begitu saja
melewatinya.

“KYA! OPPA!” Teriaknya.

“Ada apa dengannya?” Gumamnya. Iapun masuk kedalam restaurant.

***

Hujan turun dengan derasnya,
namun Jiyeon tak menghentikan
langkahnya mencari sang oppa.
Sudah lebih dari 2 jam ia mencari sosok Park Chanyeol.
Setelah ia mengetahui kebenaran mengenai kelahiran Chanyeol, ia langsung bergegas mencari sosok namja tinggi itu. Ia benar-benar mengkhawatirkannya. Ini pasti
sangat sulit bagi Park Chanyeol.

***

@Home Park Family

“Oppa!” Lirihnya saat memasuki
rumah dan mendapati Chanyeol
yang tengah menonton Televisi.

“Jiyeon-ah! Kya! Apa yang kau
lakukan? Kenapa kau basah kuyup seperti ini?” Tanyanya panik dan langsung berhambur kearah Jiyeon yang sudah menggigil kedinginan.

“Oppa!” Ucapnya seraya tersenyum senang. Akhirnya ia menemukan oppanya itu.

~BRUK~

Jiyeon ambruk. Dia pingsan.

“JIYEON-AH!” Teriak Chanyeol dan langsung mengangkat tubuh Jiyeon.

***

” Kau sudah sadar?” Tanya Chanyeol saat melihat Jiyeon mulai membukakan kembali matanya yang sempat terpejam.

“Oppa!”

“Jangan melakukannya lagi! Kau bisa sakit!”

Jiyeon memeriksa tubuhnya yang terasa hangat.
Ia melebarkan matanya saat
mendapati pakaian yang ia kenakan sudah berganti. Ia langsung menatap Chanyeol. Sedangkan Chanyeol, namja itu menelan salivanya gugup menyadari hal itu.

“Aku tidak punya pilihan lain. Kau bisa sakit jika mengenakan pakaian basah itu. Aku tidak melakukan hal apapun selain mengganti pakaianmu!” Ucap Chanyeol.

Keduanya tengah berada didalam
kamar Jiyeon saat ini.
Hening.
Itulah yang terjadi.
Keduanya terlihat begitu canggung satu sama lai.
Apalagi mengingat kini keduanya mengetahui bahwa mereka bukanlah saudara
kandung.

“Oppa!”

“Eum?”

“Gwaenchana?”

“Nan gwaenchanayo.” Jawabnya
singkat. Ia tau, pasti Jiyeon sudah
mengetahui hal itu dan tentu saja yeoja itu pasti sangat
mengkhawatirkannya.

“Eoh, kenapa kau hujan-hujanan?
Apa kau ingin menguji seberapa
hebat dirimu eoh?” Ejek Chanyeol berusaha mencairkan suasana.

“Hiks….” Jiyeon malah menangis. Dan tentu saja itu membuat Chanyeol khawatir.

“Kya! Waegeurae?”

“Aku melakukannya karena sangat mengkhawatirkanmu, oppa! Aku mencarimu kemana-mana! Hiks… ” Isaknya.

Chanyeol semakin merasa bersalah. Ia mendekat dan perlahan menghapus air mata yang mengalir dikedua pipi Jiyeon dengan lembut.

“Geumanhae! Oppa baik-baik saja!” Jawabnya.

~DEG~

Mata keduanya kembali beradu.
Chanyeol, kini matanya tertuju pada bibir mungil milik Jiyeon. Ia mendekatkan wajahnya berusaha meraih bibir itu.

Jiyeon, tubuhnya bahkan tak bekerja dengan normal. Hanya
jantungnyalah yang bekerja dengan sangat cepat.

~CUP~

“A….Apa yang kalian lakukan?”

***

Huwaaa eotteo?
Part 2 Semoga tidak
mengecewakan!
Mungkin ada yang mau nebak part selanjutnya! Jangan
Lupa kasih kritik dan sarannya!
Coment Jusaeyo!  :-*