FF Kai Jiyeon (KaiYeon) Let It Go

image

                   LET IT GO
                 (One Shoot)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jongin aka Kai (EXO)

Other Cast :
Kim Jinhwan (Team B aka iKon)
Kim Hanbin aka B.I (Team B aka iKon)
Park Hyomin (T-ara)
Park Taejun (Ullzang)
Wu Yi Fan aka Kris (EXO)

Songfict :
Team B aka iKon Climax

Genre. :
Romance, Family, Sad

A/N :
Ini FF ke 20 author yang pernah di publish di tanggal 24 Desember 2014 silam. FF ini dipersembahkan untuk para JiXo shipper dan juga yang kangen sama KaiYeon couple. Semoga FF ini dapat melepaskan kerinduan kalian pada mereka berdua. Yang masih menanti kelanjutan IF I RULED THE WORLD dan DIFFERENT nanti yah. FF ini hanya selingan dan FF ke  16 dan 17 tetap akan di lanjut hingga ending. Author masih menunggu coment dari para readers.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
~BRUK~

Aku merasakan sakit yang menjalar dibagian pantatku saat dengan bebas tubuhku terjatuh di atas lantai. Aku hanya menatapnya, menatap sosok yang telah membuat pantatku ini mencium dinginnya lantai rumah kami.

“Nuna, gwaenchana?” Suara lembutnya membangunkanku untuk kembali ke dunia nyata.
Wajahnya yang tampan, bermata sipit dan berkulit putih. Dialah Kim Jinhwan, ialah sosok yang saat ini tengah membantuku untuk kembali berdiri dari posisi tidak mengenakan sebelumnya.

“Gwaenchana!” Jawabku seraya tersenyum berusaha meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Kulihat matanya menajam menatap sosok namja yang baru saja menabrak tubuhku dan membuatku terjatuh.

“Errrrr, dia keterlaluan!” Jinhwan terlihat benar-benar marah. Aku menjadi tak enak hati padanya.

“Gwaenchana! Nuna baik-baik saja!” Kembali aku meyakinkannya.

“HYUNG!” Namja yang berteriak memanggil hyung adalah Kim Hanbin. Ia sama tampannya dengan Jinhwan. Sama-sama berkulit putih, hanya saja matanya tak sesipit mata Jinhwan dan ia juga lebih tinggi dari Jinhwan. Ia adalah dongsaeng Kim Jinhwan, Kim Hanbin.

“Aku ikut denganmu ya, hyung! Motorku rusak dan masih berada di bengkel!” Rengeknya.

“Kau apakan lagi motormu itu, eoh?” Jinhwan sepertinya kesal. Pasalnya Hanbin bisa mengganti motornya 5 kali dalam sebulan. Entah apa yang ia lakukan pada motor sportnya itu.

“Ayolaaaaah!” Bukannya menjawab pertanyaan hyungnya, ia malah lebih memilih untuk terus merengek padanya. Aku tersenyum melihatnya. Meski dari luar Hanbin tampak dewasa karena perawakannya yang terlihat seperti namja dewasa, namun ia tetaplah remaja biasa. Ia akan selalu merengek pada Jinhwan agar hyungnya itu mau menurutinya.

“Ara ara!” Jawab Jinhwan pada akhirnya. Ia kemudian kembali memandangku.

“Nuna mau ikut bersama kami?” Tawarnya ramah.

“Ani. Nuna akan naik bus saja. Kalian berangkat duluan saja, masih ada hal lain yang harus nuna lakukan sebelum berangkat sekolah!” Jawabku.

“Geurae, kami akan berangkat terlebih dahulu!” Jinhwan Pun sedikit membungkukkan tubuhnya padaku. Aku pun membalasnya dan kembali tersenyum. Kulihat Hanbin langsung merangkul pundak Jinhwan dan menggiringnya keluar.

Aku iri melihat mereka berdua. Meski Hanbin tak seramah Jinhwan, namun dia bukanlah orang jahat. Aku menyimpulkannya karena ia tak pernah menggangguku sejak aku datang ke rumah ini, berbeda dengan sosok namja itu yang memang selalu berlaku buruk terhadapku.

“Sampai kapan kau mau mematung di situ, eoh?” Aku menolehkan wajahku mendengar suaranya yang terdengar baru bangun tidur itu.

“Eomma!” Ya, dia adalah eommaku. Namanya Park Hyomin. Meski usianya sudah kepala 3, namun ia masih terlihat segar dan cantik. Kami lebih terlihat seperti eonnie dan dongsaeng di banding dengan eomma dan aegi.

“Pergilah! Kau bisa terlambat nanti!” Ucapnya melewatiku. Sepertinya dia hendak berenang, terlihat dari langkahnya yang menuju kolam renang.
Ya, kolam renang yang ada di rumah ini memang terletak di lantai 2. Rumah ini bak hotel saja karena banyaknya ruangan dan fasilitas di dalamnya.

Aku berjalan turun hendak menuju lantai satu. Aku bisa ketinggalan bis kalau begini.

Aku, Park Jiyeon. Siswi kelas 3 Annyang High School. Aku adalah kakak tiri dari Kim Jongin, namja yang pertama kali aku ceritakan di awal cerita. Sudah 2 tahun aku tinggal bersama mereka.

Taukah kalian maksud dari kata ‘mereka’ itu siapa?

Itu adalah Kim Jinhwan dan Kim Hanbin. Mereka berdua juga adalah adik tiriku.
Sebenarnya marga Jinhwan dan Hanbin adalah Choi, namun sejak eomma mereka menikah dengan appa Jong In, mereka berganti marga menjadi Kim.

Yang ku ketahui dari cerita Jinhwan, eomma mereka sakit dan meninggal dunia, dan sekarang eomma mereka adalah Park Hyomin, yakni eommaku yang menikah dengan Appa Jongin sekitar 2 tahun lalu.

Ya, eomma ku adalah anae ke 3 dari Appa Jongin. Itupun karena anae pertama dan kedua nya telah meninggal dunia.

Berbeda dengan Jinhwan dan Hanbin yang terlihat bisa menerima kehadiranku dan juga eomma, Jongin sangat menentang kehadiran kami. Ia terlihat begitu sangat membenci kami.

***

~BRUK~

Aku kesal. Ya, akupun hanyalah manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Hari ini sudah dua kali aku terjatuh.

Aku bangkit dan hendak memaki orang yang telah membuatku jatuh di saat aku tengah terburu-buru memasuki kelas karena 5 menit lagi bel masuk akan segera berbunyi, namun,

“Kya! Neo……” Lidahku terasa kelu saat melihatnya. Sorotan matanya benar-benar menyiratkan bahwa ia sangat membenciku.

“Kim Jongin!” Lirihku.
Dia!
Dialah yang telah membuatku kembali terjatuh!
Lagi!

Dia melewatiku begitu saja tanpa sepatah katapun. Aku hanya dapat menunduk dan kembali melangkah menuju kelasku. Sampai disana aku langsung duduk menumpukan wajahku pada kedua tanganku dengan lesu. Aku hanya dapat menunduk sedih. Selama 2 tahun kami tinggal bersama, aku tak pernah sekalipun mendapat perlakuan baik darinya. Ya, aku memakluminya. Tidak mudah menerima anggota keluarga baru dalam kehidupanmu. Ku pikir sama halnya dengan yang dialami Jinhwan dan juga Hanbin saat pertama kali mereka berdua menjadi keluarga baru Jongin. Meski mereka tak terlihat akrab, namun setidaknya mereka tak pernah terlihat bermusuhan. Masing-masing cuek dengan keadaannya.

“Haaaaaah!” Aku hanya dapat menghembuskan nafasku. Mungkin, suatu saat nanti Jongin aka bisa menerima kehadiranku sebagai saudaranya seperti Jinhwan dan juga Hanbin.

Ah, aku melupakan sesuatu. Usia Jongin dan Jinhwan sama. Mereka 1 tahun lebih muda dariku. Kelas mereka juga sama. Berbeda dengan Hanbin yang berbeda sekolah dengan kami karena ia masih Junior High School.

***

Jam sekolah usai.
Aku tak seperti Jongin ataupun Jinhwan yang pergi dan pulang sekolah selalu menggunakan mobil mewah mereka, aku lebih memilih untuk menaiki kendaraan umum setiap harinya.

“Nuna, kau mau pulang bersamaku?” Jinhwan membuka kaca mobilnya saat ia menghentikan mobilnya di samping tempat ku berdiri.

“Ani. Kau pasti harus menjemput Hanbin, bukan! Duluan saja! Masih ada hal yang harus kulakukan sebelum tiba di rumah!” Jawabku tersenyum.

“Errr, kau selalu mengatakan hal itu setiap kali menolak tawaranku!”

“Ani ani, sungguh aku tak berbohong! Mian!” Aku benar-benar merasa tak enak hati padanya.

“Ck, tenanglah! Aku hanya bercanda! Kalau begitu hati-hati, ya!” Ucapnya tersenyum manis. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan diapun kembali melajukan mobilnya. Dia itu bak seorang malaikat. Di saat Jongin melakukan hal buruk layaknya iblis, ada Jinhwan sang malaikat yang siap melindungiku.

~Tiiiiiiiiiiiiiiiiiit~

Aku terlonjak kaget mendengar suara klakson mobil kearahku. Aku melihat seseorang membukakan kaca mobilnya.

“OPPA!” Teriakku senang. Ia tersenyum hangat ke arahku.

“Masuklah!” Ucapnya. Aku pun dengan senang hati melakukannya.
Aku, sangat merindukannya.
.
.
.
.
.
~AUTHOR POV ON~

Sorot matanya tak dapat di artikan saat melihat sang yeoja yang tak lain adalah sosok Park Jiyeon memasuki sebuah mobil yang entah ia tidak tau siapa pemiliknya. Tangannya mengepal seolah ia ingin menghancurkan apapun yang ada di dekatnya.

Kim Jongin.
Ya, namja yang terlihat menahan emosinya itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan area parkir sekolah.

~AUTHOR POV END~
.
.
.
.
.
AKu duduk termangu melihat kebawah dimana kakiku dengan sengaja ku masukkan kedalam kolam renang sebatas paha.

~FLASHBACK ON~

“Bagaimana kabarmu, eum?” Tanyanya dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Sungguh menenangkan melihatnya dari jarak sedekat ini.

“Baik. Bagaimana dengan oppa sendiri? Sepertinya kau lebih kerasan tinggal di Amerika di banding Korea!” Ejek ku seraya menyeruput Bubble Tea yang ku pesan.
Saat ini kami berdua tengah berada di sebuah cafee tak jauh dari sekolahku.

Eoh, aku lupa memperkenalkannya.
Namanya adalah Park Taejun. Dia adalah dongsaeng dari eommaku, Park Hyomin. Karena usianya tak terpaut jauh dariku, aku memanggilnya oppa. Bukan Samchon. Itupun adalah keinginannya. Ia akan marah jika aku memanggilnya seperti itu.

“Kau merindukanku?” Tanyanya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku karena masih terlalu asik dengan Bubble tea yang tengah ku minum.

“Bagaimana kesehatanmu?”

Aku mematung. Sejenak aku kehilangan kata-kata, namun akhirnya aku mencoba tersenyum kembali seperti biasanya.

“Jangan khawatir! Aku baik-baik saja!” Jawabku tersenyum kaku.

“Kau berbohong!”

Aku menunduk.
Ya, aku berbohong.
Aku tidak sedang baik-baik saja. Penyakit ini bisa membunuhku kapan saja.

“Ikutlah bersamaku ke Amerika! Kau harus segera di operasi!”

“Ani. Aku menolaknya!”

“Wae? Apa kau ingin mati, EOH?” Taejun oppa terlihat marah. Terdengar dengan jelas dari nada bicaranya yang kian meninggi. Kudengar nafasnya pun tak beraturan, pasti ia tengah berusaha mengendalikan emosinya.

“Bagaimana dengan Hyomin nuna? Ia sudah mengetahuinya?”

Aku menggelengkan kepalaku. Kuharap dia mengerti alasanku. Aku tak ingin membuat orang lain khawatir dengan keadaanku. Hanya Taejun oppalah yang mengetahuinya.
Awalnya kupikir aku mengalami sakit kepala biasa, saat itu aku masih tinggal bersama Taejun oppa dan juga eomma.

Sebelum Taejun oppa pindah ke Amerika untuk melanjutkan study nya, ia mengantarkanku ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Dan hari itu juga dokter mengatakan bahwa aku mengalami Tumor Meningioma, Sejenis tumor jinak yang menyerang otak manusia.

Mengetahui hal itu, Taejun oppa awalnya hendak membatalkan keberangkatannya, namun aku langsung mencegahnya. Aku mengatakan bahwa aku akan sembuh dan memberitahukan hal ini pada eomma.

“Lalu kau ingin bagaimana? Ini sudah 2 tahun, Park Jiyeon!” Tegasnya berusaha mengingatkanku bahwa penyakit ini sudah bersarang di otakku selama 2 tahun.

“Aku minum obat secara rutin, oppa! Aku juga sudah tidak sesering dulu mengalami nyeri di bagian kepala. Ku pikir tumornya sudah menghilang karena terbunuh oleh obat-obat yang di berikan dokter! Kau tak perlu khawatir, oppa! Aku ini kuat! Hanya melawan satu tumor saja itu adalah hal mudah!” Ucapku tersenyum bangga berusaha meyakinkannya.

~FLASHBACK OFF~

“Haaaaaaaaaaah!” Aku kembali menghembuskan nafasku. Besok aku tak dapat bertemu lagi dengannya, padahal aku masih sangat merindukan Taejun oppa. Apa boleh buat, Taejun oppa hanya datang ke korea untuk mengambil barangnya di apartement kami dulu. Ia hanya ijin 3 hari dari sekolahnya. 2 hari untuk perjalanan pulang pergi dan 1 hari tersisa di korea.

“Apa aku akan mati?” Gumamku menatap langit malam.

~BYUR~

Benarkah?
Benarkah aku akan mati sekarang?
Tapi kenapa harus di dalam air?
Tak adakah tempat yang lebih baik selain disini?
Aku benci ini!
Siapapun, tolong aku!
Aku belum siap mati sekarang!
Aku masih ingin hidup!
Aku…..

~AUTHOR POV ALL~

Kim Jong In, ia melihat Jiyeon yang sepertinya tidak bisa berenang, ia langsung membanting tubuhnya ke dalam kolam untuk menyelamatkan yeoja itu. Ia mulai khawatir saat tubuh yeoja itu tak bergerak sama sekali. Matanya menutup sempurna.

Hey!
Ini hanya lelucon!
Ia tak berniat membunuh yeoja itu dengan mendorong tubuhnya sehingga jatuh ke dalam kolam renang!
Mana ia tau kalau ternyata yeoja itu tidak bisa berenang.

Jongin langsung membawa tubuh Jiyeon ke daratan. Ia langsung memeriksa keadaan yeoja itu.

Damn!
Nafas dan jantungnya berhenti! Ia bisa mati kalau begini!

Jongin mulai panik dan hendak memberikan pertolongan. Ia ingat pelajaran olahraga tentang cara memberikan nafas buatan untuk mereka yang baru saja tenggelam.

Pertama,
baringkan korban pada posisi telentang.
Jongin melakukan hal itu pada tubuh Jiyeon.

Kedua,
atur posisi dengan cara berlutut di samping kepala korban.
Aisssh, ini terlihat canggung. Batin Jongin.

Ketiga,
menarik nafas dalam, jepit lubang hidung korban dengan ibu jari dan telunjuk.

Ke empat,
tutupi mulut korban dengan mulut penolong sehingga mulut penolong dapat menutupi keseluruhan mulut korban agar tidak terjadi kebocoran. Berikan hembusan nafas 2 kali dan seterusnya hingga sang korban kembali sadar.

Kim Jongin melakukan itu semua. Melakukan sesuai dengan yang ia pelajari. Namun aneh, sensasinya berbeda setiap kali bibirnya bersentuhan dengan bibir Jiyeon.
Apa ini ciuman? Pikirnya.

“Ohok Ohok Ohok…..”

Jongin langsung duduk mundur seraya menghela nafas lega. Akhirnya yeoja ini kembali sadar.

“Hiks hiks hiks hiks…..”

Jongin melebarkan matanya melihat yeoja itu menangis.
Wae?
Kenapa ia menangis?
Ia kan masih hidup!
Kenapa rasanya sesak saat melihat ia menangis?
Bukankah ia sudah sering melakukan hal buruk padanya dan pasti ia juga menangis setelah mendapatkannya.
Geundae wae?
Kenapa melihatnya menangis secara langsung seperti ini membuat hatinya terasa teriris?
Ia, ialah yang telah membuat air mata itu keluar dari sarangnya.

~HUG~

Jongin makin melebarkan matanya saat tubuhnya di dekap oleh sang yeoja. Matanya nyaris keluar karena keterkejutannya.

“Go-gomawo. Hiks….”

Tubuhnya membatu.
Yeoja itu berterimakasih padanya dan sekarang memeluknya.
Ia yang menyebabkan yeoja itu hampir mati. Mustahil ia tak mengetahuinya. Harusnya ia mencaci maki, memukul, marah atau apapun hal yang pantas Jongin dapatkan karena ulahnya yang hampir membuatnya kehilangan nyawa, bukannya malah memeluk dan berterimakasih padanya.

Jongin membiarkan tubuhnya menjadi sandaran tangis Jiyeon didadanya. Ego masih menguasainya saat ia hendak membalas pelukan Jiyeon atau sekedar untuk menenangkannya.

***

Sejak kejadian malam itu, entah mengapa Jongin tak pernah lagi mengganggu Jiyeon.
Bukan, tapi karena Jiyeon yang memang menghindarinya.
Hey! Bukankah sejak awal mereka memang tidak akrab bahkan hanya untuk sekedar bertegur sapa.

Apa mungkin Jongin yang tidak berani mengganggunya lagi?
Maukah Jongin mengakuinya?

“Nuna!”

“Jinhwan!”

“Ikutlah denganku! Hari ini ada pertunjukan di sekolah Hanbin, ia salah satu pengisi acaranya. Ia akan tampil disana!” Jinhwan terlihat sangat berharap agar Jiyeon bisa ikut bersamanya.

“Mian, nuna tidak bisa pergi!”

“Wae? Apa nuna sudah punya janji?”

“Eum. Mianhae!”

Jinhwan menghembuskan nafasnya kecewa.
Lagi-lagi di tolak. Batinnya.

“Geurae, aku akan pergi bersama teman-teman ku saja kalau begitu!”

“Kau tidak marah, kan?”

“Sedikit!”

“Mian!” Jiyeon benar-benar merasa bersalah.

“Gwaenchana. Kau memang selalu menolakku, bukan!”

“Bukan seperti itu! Naega….”

“Gwaenchana. Aku bisa mengerti! Kita memang bukan saudara kandung! Geundae, percayalah, aku menganggapmu benar-benar seperti saudaraku nuna!”

“Ani. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu. Aku pun seperti itu terhadap kau, Hanbin dan juga….” Jiyeon menghentikan ucapannya saat hendak menyebutkan nama Jongin.

Jinhwan memandang penuh tanya ke arahnya.

“Kalian adalah saudaraku. Kalian dongsaengku dan aku adalah nuna kalian! Kita bersaudara. Benar begitu, bukan?”

Jinhwan tersenyum menanggapinya.

“Geurae, nuna. Hanbin bisa menggigitku kalau aku datang terlambat! Nan khalke!”

“Eum. Sampaikan salamku untuknya!”

“Eum. Pasti!”

Jiyeonpun melihat kepergian Jinhwan. Tanpa ia sadari sesosok namja menatapnya tajam. Giginya terkatup menahan amarah.

~BRUK~

Matanya membulat sempurna melihat sosok yeoja itu ambruk. Ia langsung berlari kearahnya. Tanpa pikir panjang ia langsung menggendongnya melewati koridor sekolah yang memang sudah sangat sepi karena jam sekolah sudah berakhir setengah jam lalu. Ia langsung membawanya masuk kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Ia benar-benar khawatir. Sangat khawatir.
.
.
.
.
.
“Kau tak mengajaknya, hyung?” Tanya Hanbin pada Jinhwan. Setelah selesai perform, ia langsung menghampiri hyungnya itu.

“Kenapa kau malah menanyakannya? Harusnya kau tanyakan padaku bagaimana pendapatku tentang penampilanmu barusan!” Protes Jinhwan.

“Sudah pasti aku sangat keren, jadi tak perlu ku tanyakan lagi padamu!” Jawab Hanbin dengan bangganya.

“Ck, kau terlalu percaya diri Kim Hanbin!” Balas Jinhwan.

“Eum, tentu saja. Tak ada yang tidak bisa ku banggakan dari diriku ini. Bahkan meski masih duduk di bangku kelas 3 Junior High School, tinggiku melebihi anak kelas 2 Senior High School!”

“Kau mengejekku?”

“Ani. Aku tak mengatakan apapu!” Jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Aisssh!”
.
.
.
.
.
Jongin terduduk menatap sang yeoja yang seolah nyaman dengan kondisinya saat ini. Ia benar-benar terlihat damai dalam tidurnya.
Apakah ia lelah? Batin Jongin.

Tangan Jongin terulur menggenggam tangan sang yeoja yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.

“Pabo yeoja!” Gumamnya.

“Pabo!” Ia terus menggumamkannya.
Ingatannya kembali menerawang saat ia bertemu dengan dokter yang memeriksa keadaan Jiyeon.

~FLASHBACK ON~

“Anda saudaranya?” Tanya seorang dokter berjenis kelamin namja. Namanya adalah Wu Yi Fan, terlihat dengan jelas dari nama yang tertera pada name tag yang terpampang di jas putihnya.

“Ne.” Jawabnya asal.

Wu Yi Fan, namja berparas tampan asal China itu memberikan selembar map berwarna biru pada Jongin. Saat Jongin membukanya terdapat satu gambar di sana.

“Itu hasil pemeriksaannya!” Ucapnya.

Jongin yang tak mengerti dengan maksud gambar tersebut hanya memandang sang dokter meminta penjelasan lebih.

“Tumor otak!”

Detik itu juga tubuh Jongin seolah berhenti berfungsi, bahkan untuk mengedipkan kedua matanya pun seolah tidak bisa ia lakukan.

“M-mwo?” Tanyanya terbata.

“Tumornya sudah sangat mengeras. Sepertinya sudah bersarang cukup lama di otaknya. Kita harus segera melakukan operasi pengangkatan tumor. Memang kemungkinan berhasil hanya 10% mengingat tumor yang sudah mengeras sehingga proses insisi di perkirakan memakan waktu lebih dari 24 jam. Kalau kondisi tubuh pasien menerima, maka akan di pastikan 15% operasi ini akan berhasil. Namun jika kondisi tubuh pasien menolak, maka dipastikan bahwa operasi ini akan 100% gagal. Kita harus mendapatkan ijin dari pasien untuk mengambil keputusan ini karena semuanya tergantung dari kondisi tubuh sang pasien. Namun jika tetap di biarkan, pasien bisa meninggal kapanpun tanpa bisa doker manapun memprediksinya!” Perjelas Wu Yi Fan.

Jongin terdiam mematung.
Apakah yang baru saja ia dengar ini adalah nyata?
Bagaimana bisa yeoja itu selama ini membiarkan penyakit itu terus tumbuh dan berkembang di tubuhnya tanpa membiarkan orang lain mengetahuinya?

“A-apa tidak ada cara lain?” Tanya Jongin.

Wu Yi Fan menggelengkan kepalanya.

“Meskipun sering meminum obat secara rutin, itu hanya untuk mencegah rasa sakit yang timbul di saat tumor itu mulai bergerak di otak. Masalahnya, tumor itu akan tetap berkembang disana jika tidak segera dilakukan operasi pengangkatan tumor pada otak. Kau tau bukan, otak adalah organ tubuh manusia terpenting karena memiliki banyak fungsi. Bisa di katakan, otak itu adalah seorang supir pengemudi. Bisa kau bayangkan jika sang supir mengalami sakit, maka tak akan ada yang mengemudi. Seperti itulah perumpamaannya. Terdapat jaringan-jaringan penting yang ada pada otak dan itu harus berhasil tak tersentuh oleh sang dokter saat mengangkat tumor dari sana. Penyakit ini mematikan, bahkan seorang dokterpun menganggap penyakit ini yang paling sulit penanganannya.” Jawab Wu Yi Fan.

~FLASHBACK OFF~

.
.
.
.
.
“Kalian sudah pulang?” Sambut Hyomin melihat kedatangan Jinhwan dan juga Hanbin.

“Apa Jiyeon nuna sudah tiba di rumah?” Tanya Jinhwan.

“Jongin menelepon katanya ia bertemu dengan Jiyeon dan Jiyeon menitipkan pesan bahwa malam ini ia akan menginap di rumah temannya dan Jongin pun ada keperluan sehingga ia juga tidak bisa pulang ke rumah.” Jawab Hyomin.

Jinhwan dan Hanbin saling beradu pandang.

“Kalian sudah makan? Apa ingin ku suruh para maid untuk menyiapkan makanan?” Tawar Hyomin lembut.

“Tidak usah! Kami sudah makan barusan. Kalau begitu, kami permisi dulu!” Jinhwan membungkuk pada Hyomin di ikuti dengan Hanbin. Mereka pun berjalan menaiki tangga menuju lantai 2 dimana kamar mereka berada.
.
.
.
.
.
“Jo-Jongin!” Jiyeon begitu terkejut saat membukakan matanya yang pertama kali ia lihat adalah sosok Kim Jongin yang menatapnya tajam.

Jongin membantu Jiyeon saat yeoja itu hendak mengubah posisinya dari terbaring menjadi terduduk di atas ranjang.

“Gomawo!”

“Hm!”

Hening.
Keduanya kembali merasa canggung.
Ini pertama kalinya mereka berdua sedekat ini dalam satu ruangan.

“Ba-nagaimana bisa a-aku berada di sini?” Tanya Jiyeon saat melihat sekelilingnya. Ia sudah bisa menebak dimana ia berada dari bau khas rumah sakit yang begitu menyengat di indra penciumannya.

“Kau pingsan!” Jawab Jongin datar.

“Ne?”

Keduanya kembali terdiam.
Ruangan ber AC ini terasa panas bagi mereka berdua.

“Se-sebaiknya ki-kita pulang!” Jiyeon hendak bangkit namun Jongin langsung menghalanginya.

“Kau harus di operasi!”

Jiyeon melebarkan matanya.
Bagaimana bisa namja ini mengetahuinya?

“Ye? Hahaha…. aku baik-baik saja dan tak perlu sampai di operasi. Kau terlalu berlebihan, Kim Jongin!” Ucap Jiyeon tertawa canggung.

Jongin hanya dapat menatap yeoja itu tajam.

Jiyeon yang mulai menyadari kesalahannya hanya dapat menunduk. Jongin bukanlah namja bodoh yang mudah ia tipu, pasti dokter yang memeriksanya sudah memberitahukan perihal kesehatannya pada Jongin.

“Nae-naega……..” Jiyeon menahan tangisnya.

“Aku tidak mau di operasi!” Jawabnya mantap tanpa berani mengangkat wajahnya ke arah Jongin.

“Mwo? Neo micheosseo? APA KAU AKAN MEMBIARKAN PENYAKIT ITU MENGUASAIMU, EOH? APA KAU INGIN MATI BEGITU SAJA, EOH? DIMANA OTAKMU?” Jongin tidak habis pikir dengan keputusan Jiyeon.
Bagaimana yeoja itu bisa semudah itu menganggap enteng peyakitnya?
Tak taukah ia akan ada seseorang yang terluka jika sampai penyakit itu berhasil merenggut nyawanya?
Tak taukah ia tengah ada seseorang yang khawatir tentang keadaannya?
Tak taukah ia akan ada seseorang yang akan menangis nantinya?
Memangnya Siapa?
Siapa dia?
Berani sekali dia melakukan hal itu padanya?

“Nae-naega…..” Air mata Jiyeon lolos begitu saja dari sarangnya.

“Aku takut!” Tubuhnya bergetar. Nafasnya seolah tercekak mengetahui kenyataan itu.
Ia takut.
Ya, sangat takut.
Takut akan hasil yang ia dapatkan jika ia melakukan operasi itu.
Ia takut mati.
Sangat takut.
Itulah yang ia rasakan dan coba ia tutupi selama ini.

Jongin menatapnya sendu.
Melihat yeoja itu kembali terisak membuat dadanya semakin sesak saja. Harusnya ia tau akan hal itu. Ini pasti hal yang sangat berat bagi yeoja itu.
Memilih kembali hidup hanya dengan kemungkinan 10% atau tetap hidup dengan ancaman kematian yang siap merenggutnya kapan saja!

Jongin mendekat dan duduk tepat di hadapan Jiyeon di samping ranjang yang masih tersisa sedikit ruang untuknya. Ia mengangkat kedua tangannya menangkup pipi Jiyeon, membuat kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
Tak dapat di artikan sorot mata keduanya yang menyimpan sesuatu, sesuatu yang hanya bisa di jawab oleh keduanya.

Jiyeon seolah terhipnotis oleh mata tajam Jongin. Ia dapat merasakan ibu jari Jongin yang bergerak mengelus pipinya, menghapus air matanya.

Entah mantra apa yang telah Jongin berikan padanya, ajaibnya, air matanya langsung berhenti. Dunia seolah berhenti berputar saat itu juga. Hanya ada 2 kehidupan yang tersisa, yakni Park Jiyeon dan juga Kim Jongin.

“Jangan takut! Aku akan menemanimu! Aku akan menjagamu! Aku akan melindungimu! Aku akan menunggumu!”

Kata-kata yang terucap dari bibir Jongin benarlah mantra bagi Jiyeon.
Bagaimana mungkin seorang Kim Jongin yang sejak awal begitu terlihat sangat membencinya memberikan mantra itu padanya.
Mantra yang begitu meyakinkan, mantra yang begitu menguatkan dan menenangkan.
Benarkah ia Kim Jongin yang ia kenal selama 2 tahun ini?

Jongin membawa wajah Jiyeon mendekat ke wajahnya, dan mencium lembut bibir Jiyeon.

Jiyeon terkejut, hanya sebentar, sekejap kemudian ia mulai menikmati ciuman lembut Jongin.

Biarlah hari ini, hanya hari ini ia bisa melakukan hal ini dengan adik tirinya.

Tanpa sadar, tangan Jongin merengkuh tengkuk Jiyeon membuat yeoja itu tak bisa pergi kemanapun dari ciumannya. Ciuman manis yang begitu memabukkan.

Bermula dari ciuman lembut sederhana, ciuman itu menjadi semakin liar ketika Jongin memaksa memasukkan lidahnya kedalam mulut Jiyeon. Walau awalnya menolak, Jiyeon tak bisa menahan paksaan lidah Jongin dan akhirnya menyerah. Terpaksa membiarkan lidah liar Jongin menjelajahi rongga mulutnya.

Ciuman panas itu terus berlanjut, hingga mereka berdua berhenti untuk mengambil nafas.
.
.
.
.
.
“Kau belum tidur, hyung?” Tanya Hanbin yang melompat ke atas ranjang Jinhwan.

“Waegeurae? Ada apa kau ke sini? Tidurlah di kamarmu!” Sepertinya suasana hati Jinhwan sedang tidak baik sejak mendengar kabar mengenai Jongin dan juga Jiyeon dari Park Hyomin eomma tiri mereka.

“Kau pasti mengkhawatirkannya!”

Jinhwan langsung memberikan death glare nya pada Hanbin.

“Pergilah!” Perintahnya.

“Jiyeon nuna adalah yeoja tertutup, kupikir dia tidak mungkin memiliki teman. Dia bahkan selalu menolak ajakanmu sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini!”

Jinhwan benar-benar kesal mendengar ocehan dongsaengnya itu. Tapi satu hal yang ia tau, semua yang di katakan Hanbin memanglah benar.

“Kau tau kenapa Jongin hyung memperlakukannya dengan sangat buruk? Berbanding terbalik terhadap kita! Meski ia terlihat tidak perduli, harusnya ia bisa mengusir kita saat eomma kita meninggal dunia. Tidak ada alasan kita tetap bersamanya disini. Kita hanya anak tiri appanya dan eomma kita pun sudah meninggal dunia. Harusnya dia menendang kita kejalanan, bukannya tetap membiarkan kita tertampung disini dengan segala fasilitasnya. Rumah ini bukan panti asuhan, kan? Menurutmu apa alasan dia memperlakukan Jiyeon nuna berbeda?”

Jinhwan mematung. Pertanyaan itu bahkan belum ia temukan jawabannya. Pertanyaan sama yang Hanbin lontarkan padanya. Ia menyadari itu semua bahkan sejak awal Jiyeon bergabung menjadi anggota keluarga mereka.

“Kupikir dia menyukainya. Dia hanya tidak tau bagaimana cara menyampaikannya. Kehilangan eomma sejak ia lahir pasti telah membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak tau bagaimana caranya berbaur dengan orang lain. Kupikir ia membiarkan kita tetap berada di sini karena ia merasa nasib kita sama dengannya. Sama-sama kehilangan eomma. Hanya saja, kita lebih menyedihkan darinya karena kita juga kehilangan Appa. Dua saudara yatim piatu yang tak memiliki siapa-siapa!”

Jinhwan membenarkan semua ucapan Hanbin. Apalagi saat ia tidak sengaja melihat Jiyeon dalam pelukan Jongin beberapa hari lalu di kolam renang rumah mereka, semakin memperjelas bagaimana sebenarnya perasaan Jongin terhadap Jiyeon.

“Kau harus melupakannya, hyung! Melepaskan Jiyeon nuna mulai dari sekarang. Meski kemungkinan Jiyeon nuna bisa bersama Jongin hyung hanya 50% mengingat status mereka sebagai saudara tiri, setidaknya kau bisa mempercayakan Jiyeon nuna padanya. Kau juga tau bagaimana sebenarnya perasaan Jongin hyung.
Dia orang yang baik! Kupikir dia adalah dewa yang di utus Eomma dan juga Appa untuk kita. Sekarang kau bisa membiarkan Jiyeon nuna dalam lindungannya!”

Ya, perasaan Jinhwan memang lebih dari sebatas saudara terhadap Jiyeon. Ia menyukai yeoja itu. Namun, jika orang itu adalah Jongin, ia harus berbesar hati merelakannya.
Melepaskannya.
Melupakannya.
.
.
.
.
.
Jongin berlari tergesa memasuki kediamannya, mencari sosok yeoja yang hilang dari tempat yang seharusnya merawatnya.

Park Jiyeon, yeoja itu tak ia temukan dimanapun setibanya ia di rumah sakit.
Paginya ia memang kembali ke rumah hanya sekedar untuk mengambil seragam sekolahnya.
Awalnya ia enggan untuk sekolah dan lebih memilih untuk menemani Jiyeon mengingat yeoja itu tidak ingin mengenai kondisinya di ketahui siapapun terlebih Park Hyomin eommanya, namun yeoja itu dengan keras menyuruh Jongin untuk sekolah. Dengan terpaksa Jonginpun melakukannya dan betapa terkejutnya ia saat kembali ke rumah sakit usai sekolah berakhir ia tak menemukan Jiyeon di sana.
Recepcionis rumah sakit mengatakan bahwa Jiyeon telah check out beberapa jam lalu. Ia pun langsung bergegas menuju rumahnya. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan yeoja itu.

“Jiyeon eodisseo?” Tanya Jongin dengan terengah saat melihat Jinhwan dan juga Hanbin tengah bemain video game di ruang keluarga.

“Nuna? Aku tak melihatnya sejak kemarin!” Jawab Hanbin dengan polosnya.

“Waegeurae? Kupikir dia bersamamu sejak kemarin!” Sambung Jinhwan.

“Aisssh!” Jongin hanya mengacak prustasi rambutnya. Tak ada jawaban dari kedua saudara tersebut. Ia pun langsung mencari ke kamar Jiyeon. Mungkin saja yeoja itu ada di sana sekarang. Pikirnya.

“Kya! waegeurae?” Jinhwan mulai khawatir saat melihat ekspresi Jongin. Ia pun bangkit dan mengejar Jongin.

“Hyung!” Tak mau di tinggal seorang diri, Hanbin pun mengekor di belakang Jinhwan.

~BRAK~

Jongin membuka paksa pintu kamar Jiyeon.
Nihil.
Yeoja itu tak ada di sana.
Kekhawatirannya semakin bertambah besar saat tak mendapatkan sosok yeoja itu dimana pun.

“Waegeurae?” Tanya Jinhwan kembali.

Hanbin hanya terdiam tidak mengerti dengan situasi yang ada.

“Kalian! Sedang apa di sini?”

Hampir saja Jongin berteriak bahagia saat mendengar suara seorang yeoja, hatinya langsung mencelos saat tau bahwa itu bukanlah suara yeoja yang tengah ia cari. Itu adalah Park Hyomin, eomma Park Jiyeon yang datang menghampiri mereka bertiga.

“Jiyeon, eodisseo?” Jongin langsung bertanya pada Hyomin.

Hanbin dan Jinhwan masih ikut menunggu jawaban dari eomma Jiyeon itu.

“Jiyeon? Eoh, mian! Aku lupa memberitahukan pada kalian! Mulai hari ini Jiyeon tidak akan lagi tinggal bersama kita. Dia akan tinggal bersama Appanya mulai hari ini.” Jawab Hyomin.

“Mwo?” Tanya Jinhwan dan Hanbin bersamaan.

Namun berbeda dengan Jongin. Ia tetap terlihat tenang namun berbanding terbalik dengan hatinya yang seolah ingin berteriak.

“Ne. Hak asuh anak dipindah tangankan. Kini Jiyeon akan di asuh oleh Appanya.”

Jinhwan dan Hanbin saling melempar pandang seolah tidak percaya bahwa Jiyeon benar-benar akan berpisah dengan mereka.

“Kenapa kau membiarkannya? APA KAU TAU DIA SEDANG SAKIT, EOH?” Jongin kehilangan kesabarannya. Ia emosi. Sangat emosi.

Jinhwan dan Hanbin cukup terkejut mendengar teriakan Jongin dan juga tentang Jiyeon yang sakit.

“Aku tau. Itu sebabnya aku membiarkannya! Appanya lebih bisa menjaga dan merawatnya dibandingkan denganku!” Jawab Hyomin tertunduk sedih.
Bagaimana pun juga, ia seorang eomma yang melahirkan Jiyeon, membesarkan, merawat, dan menjaga Jiyeon seorang diri selama ini. Namun ini keputusan terbaik. Ini akan baik bagi Jiyeon.

Jongin melangkahkan kaki dengan lemasnya menuju kamarnya meninggalkan ketiga anggota keluarganya.
Bagaimana bisa ia kehilangan yeoja itu di saat ia baru saja mendapatkannya?
.
.
.
.
.
8 Tahun berlalu.
Ya, sudah selama itu Jongin tetap menunggu yeoja yang entah berada di mana keberadaannya saat ini.
Hanya dengan mengetahui bahwa yeoja itu masih hidup saja sudah membuat perasaan Jongin sedikit tenang.

Ya, Hyomin hanya memberitahukan bahwa Jiyeon berhasil melewati operasinya dan tengah melalui masa penyembuhan seusai operasi.
Namun saat ia bertanya tentang keberadaan Jiyeon, Hyomin akan langsung bungkam. Seolah memang sengaja tidak ingin ia beritahukan padanya.

Jongin hanya dapat menerima semuanya. Asalkan mengetahui yeoja itu masih hidup, ia masih punya kesempatan.

“Hanbin mengundang kita untuk makan di restaurant Jepang sore ini. Apa kau akan datang?” Sembur Jinhwan saat memasuki ruangan Jongin. Ya, saat ini kedudukan Jongin adalah seorang CEO menggantikan Appanya.

“Hm!” Jawabnya.

Jinhwan berdecak mendengar jawaban saudaranya itu. Jongin memang benar-benar namja dingin. Ia harus ekstra sabar menghadapinya.

“Geurae! Aku akan kembali ke kampus. Para mahasiswi pasti akan merindukan dosen tampan sepertiku jika aku berlama-lama di sini!”

Jongin hanya tersenyum tipis mendengarnya.
Jauh-jauh Jinhwan menemuinya dari kampus ke kantor hanya untuk menyakan hal ini?
Bukankah ia bisa mengirim pesan atau meneleponnya?
Mungkin ia merindukan saudarnya itu. Akhir-akhir ini Jongin memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia jarang pulang ke rumah.

Kim Jinhwan, tidak seperti Jongin yang memilih menekuni dunia bisnis, namja itu lebih tertarik menjadi seorang pengajar di Universitas Seoul.

Bagaimana dengan Kim Hanbin?
Tahun ini namja itu lulus dari universitas hukumnya dengan nilai nyaris sempurna. Dan baru hari ini ia bisa mentraktir mereka. Ia terlalu sibuk bersama dengan teman-temannya.
.
.
.
.
.
Jongin melebarkan matanya saat melihat sosok yeoja yang begitu amat ia rindukan tengah tersenyum ke arahnya.
Ya, begitu terkejutnya ia saat tiba di tempat makan yang Jinhwan maksud ada sosok Jiyeon di sana.

Ya, Park Jiyeon.
Ia bergabung bersama semuanya.

“Duduklah, hyung!” Hanbin langsung menarik Jongin.

Mata Jongin seolah tak tertarik dengan hal lainnya. Ia lebih tertarik melihatnya. Melihat yeoja yang selama 8 tahun ini meninggalkannya. Tak memberinya kabar bahkan tak memberikan sedikitpun kesempatan untuknya mencari keberadaannya.

“Makan, hyung! Atau kau ingin memesan makanan lain? Tenang saja, hari ini aku yang traktir.” Ucap Hanbin dengan bangganya.

Jongin tak bergeming.
Jinhwan dapat melihat ketidakpercayaan diwajah Jongin melihat sosok Jiyeon yang tengah bergabung bersama mereka.

Dalam satu meja besar dan mereka semua duduk bersimpuh dilantai khas budaya Jepang. Jinhwan, Hanbin, Hyomin dan juga Appanya, itulah yang dapat Jongin lihat selain kehadiran Jiyeon di sana. Dan juga seorang namja yang waktu itu pernah menemui Jiyeon ke sekolah, namja yang tidak di ketahui Jongin bahwa ia adalah Park Taejun, dongsaeng dari eomma tirinya Park Hyomin yang tak lain adalah samchon Jiyeon dan juga….. Wu Yi Fan?
Wu Yi Fan?
Bagaimana bisa dokter itu juga berada di sini?

Mengabaikan semua pertanyaan itu, Jongin mulai meminum segelas sake yang sudah di siapkan Hanbin untuknya masih dengan menatap tajam Jiyeon yang bersebrangan duduk di hadapannya.

Acara makan terasa begitu membosankan bagi Jongin. Disaat semua orang bersenda gurau saling bertukar cerita, pandangannya hanya terpokus pada satu sosok yakni Park Jiyeon. Ia seolah menulikan telinganya dari suara-suara orang lain, ia juga membutakan kedua matanya seolah hanya dirinya dan juga Jiyeonlah yang ada di sana.
Tidak, itu hanya fantasinya dan berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya.
Jongin bangkit dari duduknya membuat semua orang menoleh ke arahnya.

“Waegeurae, hyung?” Tanya Hanbin.

Semua orang hanya dapat membiarkan Jongin melangkah ke arah Jiyeon dan menarik yeoja itu untuk bangkit dan membawanya keluar dari tempat itu.
Seolah moment itu memang sudah mereka tunggu sejak awal, mereka hanya membiarkannya dan kembali melakukan aktifitas sebelumnya.

Jinhwan hanya dapat tersenyum melihat kepergian mereka.
Hanbin yang mengerti langsung menepuk pundak hyungnya menenangkan.

“Neo gwaenchana?” Tanya Hanbin.

“Eum. Aaaah aku masih lapar. Pesankan aku makanan lagi!”

“Ne, siap hyung!” Jawab Hanbin ala bawahan yang patuh pada atasannya. Sikap Hanbin sukses membuat semua orang yang ada di sana tertawa melihatnya.

Sementara itu, tak ada yang berani membuka suara setelah Jongin membawa Jiyeon dan menghentikan mobil yang ia kendarai tepat di sebuah taman dekat Sungai Han.

Jongin menyandarkan punggungnya dengan rileks pada jok pengemudi. Ia menutup kedua matanya. Berusaha menenangkan dirinya.

Sedangkan Jiyeon, ia hanya mampu terdiam melihatnya dari samping jok pengemudi.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Jongin tanpa berniat menoleh ke arah Jiyeon ataupun membukakan matanya.

“Baik!” Jawab Jiyeon yang masih menatap ke arah Jongin. Namja ini banyak berubah. Ia terlihat lebih dewasa dari 8 tahun lalu. Dia semakin tampan. Sungguh ia sangat merindukan sosok yang ada di sampingnya saat ini itu.

“Penyakitmu?” Tanyanya kembali.

“Sudah sembuh!” Jawab Jiyeon yang masih melihat sosok namja yang ada di sampingnya itu belum membukakan matanya.

“Menikahlah denganku!”

Jiyeon melebarkan matanya mendengar permintaan yang lebih tepatnya perintah keluar dari bibir seorang Kim Jongin.

“M-mwo?”

“Aku tidak menerima penolakan!” Jongin akhirnya membuka matanya dan menoleh ke arah Jiyeon yang tengah menunduk.

“Nae-naega…..”

“Kau ingin menolakku?” Potong Jongin.

“Bu-bukan begitu! Geunyang….. Apa kau tak ingin menanyakan sesuatu setelah 8 tahun berlalu?” Jiyeon masih menundukkan wajahnya. Sungguh ia merasa bersalah karena telah meninggalkan namja ini tanpa memberitahukan apapun padanya saat itu.

“Nan ara. Aku tau semuanya. Kau ikut bersama Appamu dan tinggal bersamanya. Kau berhasil melakukan operasi dan kau tetap hidup. Aku tidak tau kenapa eomma mu saat itu mengatakan bahwa hanya Appamu lah yang bisa menjaga dan merawatmu, entah karena Appamu lebih kaya dariku atau dia yang bisa menyembuhkan penyakitmu layaknya seorang dokter. Naega…….” Jongin menghentikan ucapannya saat mengingat kata dokter terucap dari mulutnya.
Kenapa ia malah teringat Wu Yi Fan?
Dokter yang dulu pernah memeriksa Jiyeon dan memberitahukan padanya tentang penyakit Jiyeon.
Mustahil kalau Wu Yi Fan itu adalah…..

“Wu Yi Fan. Dokter yang memeriksa ku waktu itu, dialah Appaku.”

Terjawab sudah pertanyaan tentang kehadiran Wu Yi Fan dalam makan malam keluarga hari ini.
Lalu namja yang pernah menemui Jiyeon di sekolah, apa ia juga salah satu keluarganya?

“Ba-bagaimana mungkin?” Jongin benar-benar terkejut dengan fakta itu.

“Hari di mana kita menginap di rumah sakit, beliau memeriksa identitasku. Ia langsung mengenal Park Hyomin sebagai orang tua ku satu-satu nya yang tertera dalam identitasku.” Jawab Jiyeon. Kini yeoja itu mulai mengangkat kembali wajahnya menatap Jongin.

“Appa meninggalkan eomma saat eomma tengah mengandungku. Appa meninggalkan Korea dan kembali ke China untuk melanjutkan study kedokterannya. Ia tidak tau bahwa yeoja Korea yang di kencaninya saat pertukaran pelajar yang mengharuskannya tinggal di korea beberapa bulan, tengah mengandung anaknya. Setelah itu, ia menemui eomma dan akhirnya ia tau bahwa aku sebenarnya adalah anaknya, ia langsung meminta maaf pada eomma dan meminta eomma memberikan hak asuh ku padanya untuk menebus semua kesalahnnya selama ini. Ia pun memberitahukan mengenai penyakitku dan meyakinkan eomma bahwa ia akan membuatku sembuh dan merawatku. Akhirnya eomma menyetujuinya.”

Jongin langsung merengkuh tubuh Jiyeon kedalam pelukannya.

“Mian. Aku sudah berjanji, tapi aku tak menepatinya. Aku bahkan tak berada di sampingmu saat kau mengalami masa-masa sulit!” Jongin mengelus lembut rambut panjang Jiyeon.

Jiyeon membalas pelukan Jongin dan hanya dapat menikmati setiap sentuhan yang Jongin berikan padanya.

“Ani. Mantramu sangat berguna. Karena janjimu itulah aku bisa bertahan hidup hingga sejauh ini!”

“Bagaimana dengan pria itu? Pria di samping Wu Yi Fan?” Tanya Jongin.

“Dia Park Taejun. Dia adalah dongsaeng dari eomma.” Jawab Jiyeon.

“Dia pamanmu?”

“Eum. Usianya memang tidak jauh denganku. Itu sebabnya aku memanggilnya oppa. Ia tidak suka jika aku memanggilnya samchon!” Jawab Jiyeon.

Jongin merutuki kebodohannya. Rasa cemburunya waktu itu yang mengikuti Jiyeon ke kafe sehingga membuatnya gelap mata dan membuat ia mendorong tubuh Jiyeon hingga masuk kedalam kolam renang malam itu, dia adalah paman Jiyeon. Orang yang telah membuatnya terbakar cemburu. Pabo!
Tapi ia harus berterimakasih padanya, karena ia hubungannya dengan Jiyeon sedikit ada peningkatan karena Jiyeon memeluknya setelah ia menyelamatkan Jiyeon yang tenggelam di kolam renang.

“Kenapa tak kembali setelah operasi selesai?” Tanyanya kembali.

“Banyak hal yang terjadi setelah operasi. Menjalani operasi selama 36 jam dalam keadaan tak sadarkan diri membuatku melupakan banyak hal ketika kembali tersadar. Dokter mengatakan itu hal yang wajar saat operasi telah usai di laksanakan. Aku harus kembali mengingat banyak hal. Termasuk bahwa kita ini adalah saudara tiri!” Jawab Jiyeon.

Jongin makin mengeratkan pelukannya.
Ya, kenyataan itu tidaklah berubah bahkan setelah 8 tahun berlalu. Mereka tetaplah bersaudara meskipun hanya saudara tiri.

“Biarkan saja! Aku tidak peduli! Kau saudara tiriku atau siapapun, aku tidak akan membiarkanmu kembali kabur dariku lagi. Naega….. ”

“Ck, lagi pula siapa yang mau kabur! Apa aku ini buronan yang harus kabur setiap saat!” Cibir Jiyeon.

“Aku tak akan kemanapun! Lagipula, meski kita memang saudara tiri, marga kita setidaknya berbeda. Aku tak seperti Jinhwan ataupun Hanbin yang sudah berganti marga menjadi Kim. Aku ini bermarga Wu. Wu Jiyeon!” Jelas Jiyeon.

“Ck, dan margamu akan sama berubahnya dengan Jinhwan dan juga Hanbin menjadi Kim setelah aku menikahimu!”

Keduanya terkekeh mendengarnya. Mereka lega. Sangat lega. Setidaknya tidak akan ada lagi hal yang akan memisahkan mereka.

“Apa kau mencintaiku?” Tanya Jiyeon mendongakkan wajahnya menatap Jongin.

Jongin yang ditanya hanya mengernyitkan keningnya.

“Kya! Bagaimana kau bisa mengajakku menikah tanpa mencintaiku, eoh?” Protes Jiyeon melepaskan pelukannya.
Ya, mereka memang tidak pernah mengatakan bagaimana perasaan mereka, namun mereka cukup tau apa yang di rasakan pasangan masing-masing.

Jongin langsung menangkup wajah Jiyeon dengan kedua tangannya, mengeliminasi secara perlahan-lahan jarak di antara dirinya dan juga Jiyeon.

“Saranghae!”

Pernyataan tulus itu akhirnya keluar juga dari mulut seorang Kim Jongin. Tatapannya yang lembut dan senyum manis yang ia berikan pada Jiyeon mampu membuat yeoja itu merona seketika. Baginya ini adalah sesuatu yang sungguh luar biasa membahagiakan.

“Na-nado saranghae!”

Jawaban Jiyeon berakhir dengan Jongin yang mencium bibir Jiyeon dengan lembut. Jiyeon hanya dapat menerima perlakuan Jongin terhadapnya, karena Jiyeon juga menginginkannya.
Biarkan saja kedua orang tua mereka menikah atau status mereka yang menjadi saudara tiri.
Yang mereka tau dengan jelas hanyalah bahwa mereka saling mencintai satu sama lain dan hanya itulah kebenaran yang dapat mereka terima.
.
.
.
.
.
Eotteokhae?
Coment Jusaeyo!

FF Kai Jiyeon (KaiYeon) Love Sick

image

                 LOVE SICK

Author :
Erni Eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jong In aka Kai (EXO)

Other Cast :
Byun Baekhyun (EXO)
Park Chanyeol (EXO)
Kim Hyuna (4 minute)
All member SHINee
Lay (EXO)
Kim Jong Dae aka Chen (EXO)

Songficts :
T-ara Falling You

Genre :
Tragedy, sad, Romance, Family

Length :
One Shoot

A / N :
Di kasih KaiYeon couple lagi nih sama author 😀
Pernah author publish di tanggal 25 Maret 2014.
Comot langsung FF nya, der!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
_______________
_______________
Kim Jong In, itulah nama pria
berambut pirang yang tengah berlari mengelilingi lapangan sekolahnya.
Dia dihukum karena tidur didalam kelas. Ya, itu memang sudah menjadi kebiasaannya. Pria berusia 18 tahun
ini duduk dibangku kelas 3 di
Hyundai Senior High School, Seoul.

“Saya sudah tidak sanggup lagi
menangani Kim Jong in, pak!” Keluh Lee Seongsaengnim.
Saat ini di Hyundai Senior High
School tengah mengadakan rapat
guru.

“Nado!” Tambah seongsaengnim
lain.

Sang kepala sekolah terlihat tengah berfikir.

***

Saat ini Kim Hyuna, eomma Kim Jong In tengah menghadap sang kepala sekolah.

“Mianhae nyonya Kim. Sepertinya sekolah ini sudah tidak bisa lagi mempertahankan putra anda lagi.” Ucap
sang kepala sekolah.

***

Sementara itu Kim Jong In, saat ini ia tengah berlari diantara gang sempit. Terlihat 5 namja dibelakangnya tengah mengejarnya.

“Kya! Kau mau lari kemana lagi Kim Jong In?” Tanya namja bername tag Choi Minho.

Buntu, itulah jalan yang saat ini ada didepan Kim Jong In. Nafasnya terengah sama seperti ke 5 namja yang ada dibelakangnya.

“Kau tak bisa kabur lagi!” Tambah
namja bername tag Kim Kibum.

“Sebaiknya kau menyerah, Kim Jong In!” Namja bername tag Jonghyung pun ikut berkomentar.

“Aigoo, aku sudah tidak sanggup
berlari lagi.” Terlihat namja
bername tag Lee Jinki begitu kelelahan.

Kim Jong In, bukannya takut ia
malah tersenyum miring. Ia langsung membalikkan tubuhnya menatap ke 5
namja yang ada dihadapannya saat ini.

“Gheuraeyo?” Tanyanya mengejek masih dengan smirk yang setia menghiasi wajahnya.

“Saekk!” Namja bername tag Lee
Taemin langsung maju seraya
meninju wajah Kim Jong In dan
perkelahianpun tidak dapat
terelakan.

@Kim Jong In Home

“Anta!” Perintah Kim Hyuna saat
melihat Kin Jong In datang.

Dengan memegangi wajahnya yang terasa sakit, Kim Jong In pun menuruti perintah eommanya itu. Ia duduk tepat dihadapan Kim Hyuna.

Kim Hyuna pun langsung ikut duduk.

“Kau berkelahi lagi?”

Kim Jong In tak menjawab.

“Ige!” Ucapnya seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat yang berukuran lumayan besar pada
Kim Jong In.

“Ige mwoya?” Tanya Jong In bingung.

“Itu surat-surat perpindahanmu.
Mulai besok kau akan tinggal di
Busan dan bersekolah disana!”

“Eomma!” Protesnya.

“Lee Ahjussi akan mengantarmu
besok.” Kim Hyuna langsung bangkit menuju kamarnya.

“Hachiman, kenapa harus Busan?
Apa tidak ada sekolah yang lebih
baik lagi di Seoul?” Jong In terus saja menyuarakan ketidaksukaannya.

Kim Hyuna langsung berbalik
mendengar perkataan putra semata wayangnya itu.

“KYA! KAU FIKIR SEKOLAH MANA
YANG MAU MENERIMA MU DI SEOUL, EOH? SEMUA SEKOLAH YANG ADA DI SEOUL SUDAH PERNAH KAU SINGGAHI DAN HASILNYA PUN SAMA. JADI JANGAN BERPURA-PURA TIDAK
MENGINGATNYA!” Sepertinya Kim Hyuna benar-benar
sangat kesal. Ia kembali berbalik
menuju kamarnya.

“Jangan sampai membuat masalah lagi di Busan! Aratsoyo!” Tambahnya.

Kim Jong In lagi-lagi tak menjawab.
Ia berjalan mendahului eommanya seraya membawa amplop cokelat yang diberikan sang eomma.

“Jaljayo!” Ucapnya singkat saat
menaiki tangga menuju kamarnya yang ada dilantai atas.

Kim Hyuna, ia benar-benar menahan kekesalannya pada Kim Jong In. Putranya itu, entah kenapa ia selalu saja membuat masalah. Semua sekolah di Seoul pernah ia tempati
dan hasilnya pun sama. Ia tetap
saja membuat onar. Terlambat
kesekolah, tertidur didalam kelas, membolos, berkelahi, semua sikap buruknya sudah tidak bisa ditangani lagi oleh pihak sekolah.

Kim Jong In, ia terlahir sebagai putra dari Kim Hyuna, seorang desainer yang cukup terkenal. Sedangkan ayah Kim Jong In telah meninggal dunia 3 tahun lalu, dan itulah saat dimana Kim Jong In mulai berubah.
Berubah menjadi sosok namja yang brutal dan pembuat onar.

@Busan Foreign School

Kim Jong In, namja berkulit exotis itu mulai keluar dari dalam mobil diikuti oleh sang supir, Lee Ahjussi.
Kim Jong In, ia terlihat tengah
memandangi sekolah barunya itu.

“Tidak terlalu buruk!” Gumamnya seraya mengunyah permen karet yang sedari tadi ada didalam mulutnya. Ia
lalu membuangnya asal.

~CUH~

” Kya! Apa-apaan ini!” Gumam
seorang namja yang berseragam
sama dengan yang dikenakan Kim Jong In.
Ternyata permen karet yang Jong In buang tidak sengaja diinjak oleh sang namja.
Ia menggerutu kesal, memperhatikan
alas sepatunya yang sudah
menempel dengan permen karet.

“Baekhyun-ah?” Sapa Lee Ahjussi.

Sang namjapun lengsung menoleh saat merasa seseorang memanggil namanya.

“Ahjussi!”

Keduanyapun saling berpelukan.

” Apa ini acara reunian!” Gumam
Kim Jong In lalu berjalan
meninggalkan 2 orang yang
sepertinya saling mengenal itu.
Ia berjalan melewati koridor dan
hampir semua hagsaeng yeoja
menatap kagum atau entah malah terlihat aneh dengan rambut pirangnya yang tak disisir, seragam yang tak rapih dan terlihat sangat urakan. Namun itu semua tak
melunturkan ketampanannya.

“Apa kau tau dimana ruang kepala sekolah?” Tanyanya pada seorang hagsaeng yeoja yang berpapasan dengannya.
Yang ditanyapun hanya diam tak
menjawab.

“Ia terlihat amat bodoh!” Gumam Kim Jong In yang tak mendapat jawaban apapun.

Akhirnya ia memutuskan untuk
mencari sendiri ruang kepala
sekolah.

***

Saat ini Kim Jong In tengah berjalan dibelakang seongsaemnim namja yang berusia kira-kira 50 tahunan.

“Aku sudah tau semua catatan
hitammu selama bersekolah
disekolah yang dulu. Jadi perbaiki sikapmu selama disini ” Ucap sang songsaemnim.

Kim Jong In hanya tersenyum miring menanggapinya.

Saat ini keduanya tengah memasuki sebuah kelas. Semua hagsaeng memandangi 2 orang yang baru saja  memasuki kelas itu. Mereka terlihat tenang akan
kedatangan keduanya.

“Hari ini saya akan memperkenalkan hagsaeng baru. Mulai hari ini ia akan menjadi bagian dari kelas ini.” Ucap sang seongsaemnim.

Kim Jong In, ia menatap
sekelilingnya.

~DEG~

Matanya menangkap sosok yeoja
berambut pirang tengah
menatapnya seraya tersenyum
manis.

“Perkenalkan dirimu!” Perintah sang seongsaemnim dan berhasil
membuyarkan lamunan Jong In.
Matanya belum terlepas dari yeoja berambut pirang itu. Yeoja itu terlihat terkekeh melihat Kim Jong In.

“Kya, palliwa!” Tambah sang
seongsaemnim.

Kim Jong In berdecak, sepertinya ia merasa kesal.

“Naneun, Kim Jong In imnida!
Bangabseumnida!” Ucapnya singkat.

Sang seongsaemnin terlihat kesal.

“Apa aku boleh duduk sekarang?”
Tanya Jong In acuh.

“Bocah ini benar-benar tidak sopan!” Gumam sang seongsaemnim.

“Suho, bisa kau pindah kebelakang?Kim Jong In akan duduk ditempatmu.”

“Ne, saem!” Jawab Suho sang ketua kelas seraya bangkit dari kursinya.

“Anio. Saya akan duduk disana!”
Tunjuk Jong In pada kursi kosong
disebelah yeoja berambut pirang.

Semua hagsaeng menatap kursi
kosong itu.
Pasalnya selama 3 tahun meja dan kursi itu tak ada yang berani
menempati.
Kata salah seorang hagsaeg yang pernah duduk di sana, ia merasa ada yang mengajaknya mengobrol. Jadi hingga
saat ini dibiarkan kosong begitu
saja.

“Kau yakin?” Tanya seongsaemnim memastikan.

“Eung.” Jawab Jong In.
Ia pun berjalan menuju kursi kosong disebelah yeoja berambut pirang itu.

Yeoja itu terus saja melempar
senyum padanya.
Suhopun kembali duduk dikursinya.

“Geureh, buka buku matematika
kalian! Kita akan memulai pelajaran hari ini.” Perintah sang
seongsaemnim.

Kini Kim Jong In tepat duduk
disebelah yeoja berambut pirang. Sang yeoja terus saja tersenyum padanya dan itu membuat Kim Jong In gugup. Ini pertama kalinya ia terlihat begitu bodoh dihadapan
orang yang baru ia temui.

“Mwo?” Tanya Jong In pada sang
yeoja.

“Eoh, apa kau bisa melihatku?”

“Mworago?”

Terlihat 2 hagsaeg namja menoleh kearah Kim Jong In. Kim Jong In, ia duduk dibarisan paling belakang.

“Wae?” Tanya Jong In pada 2
hagsaeg namja yang menatapnya.

“Neo, kau berbicara dengan siapa?” Tanya Hagsaeg bername tag Lay. Sepertinya ia bukan orang korea.

“Mwo?”

Kedua hagsaeg tadi kembali
memalingkan wajah mereka.

“Apa dia gila?” Tanya Lay.

“Molla!” Jawab hagsaeng yang duduk disebelah Lay yang bername tag Kim Jong Dae.

Yeoja berambut pirang itu tertawa.
Kim Jong In, ia jelas meraea kesal karena  lyeoja itu menertawainya.

“GEUMAMHAE!” Bentaknya.

Semua hagsaeg menoleh kearahnya, begitupun sang songsaemnim.

“KYA! MWORAGO?” Bentak
songsaemnim yang berhenti
menulis didepan. Sepertinya ia
benar-benar sangat kesal.

Kim Jong In, ia terlihat bingung
mendapat bentakan dari sang
songsaemnim dan kenapa semua
hagsaeg menatapnya aneh?

Yeoja berambut pirang itu terus saja tertawa. Bahkan tawanya sangat memekakkan telinga Jong In.

“Wae?” Tanya Jong In bingung.

“Neo! KELUAR DARI KELASKU
SEKARANG!” Bentak sang
songsaemnim seraya menunjuk tepat kearah pintu keluar.

Kim Jong In benar-benar sangat
bingung. Kenapa ia yang disuruh
keluar kelas? sedangkan yeoja
berambut pirang yang tertawa
dengan sangat keras tidak mendapat teguran apapun.

“Naega?” Tanya Jong In menunjuk dirinya sendiri.

“Ne. RIGHT NOW!”

***

Saat ini Kim Jong In tengah berada didepan mobil mewahnya. Lee Ahjussi yang tengah meminum Bubble Tea terlihat begitu terkejut saat melihat putra dari majikannya
tidak berada didalam kelas padahal masih waktunya untuk belajar.

“Tuan muda, waegeurae?” Tanyanya panik saat Kim Jong In masuk kedalam mobil mewahnya itu.

Lee Ahjussi pun mengikutinya.

“Apa tuan muda membolos lagi?”

Tak ada jawaban. Kim Jong In
terlihat tengah merebahkan
kepalanya di atas sandaran kursi penumpang.

“Apa tuan muda tidur didalam kelas dan diusir oleh songsaemnim?”

Kim Jong In tetap tak menjawab. Ia terlihat tengah berfikir.

“Tuaaaaan.” Rengek Lee Ahjussi.

“Ini benar-benar aneh.” Gumamnya seraya menggelengkan kepalanya.

“Mworago, tuan muda?”

@KIM JONG IN HOME

“KYA! APALAGI YANG KAU LAKUKAN, EOH?” Tanya Kim Hyuna eomma Kim
Jong In dengan kesalnya.

Anak itu lagi-lagi tak menjawab.

“Lee Ahjussi?” Panggil Kim Hyuna pada supir pribadi keluarganya itu.

“Ne, Agasshi!” Jawab sang supir sopan.

“Waegeuraeseo?”

Lee Ahjussi hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tidak mengetahui apapun yang kemudian membuat Kim Hyuna harus mengurut kepalanya yang terasa berdenyut. Ia benar-benar merasa pusing. Ia membuang nafas berat.

“Ini hari pertamamu disekolah baru, dan kau sudah membuat masalah. Bahkan kau kembali ke Seoul. Apa yang sebenarnya kau inginkan, eoh?” Kim Hyuna sepertinya benar-benar
frustasi.

“Geureh. Besok eomma akan
mengirimmu ke Amerika. Mulai besok kau tinggal disana. Terserah kau mau
melakukan apapun disana. Akan
eomma buatkan pasport untuk
penerbanganmu besok!”

“Andwae. Aku akan tetap bersekolah disini. Di Busan Foreign School.” Jawabnya mantap. Sepertinya Kim
Jong In benar-benar sangat
penasaran dengan yeoja berambut pirang itu.

***

@Busan Foreign School

Saat memasuki gerbang sekolah, Kim Jong In dikejutkan dengan sosok Byun Baekhyun yang langsung merangkul pundaknya.

“Annyeong!” Sapa Baekhyun masih merangkul pundak Jong In.

“Apa kita saling mengenal?” Tanya Kim Jong In dingin.

Baekhyun langsung melepaskan
rangkulannya. Ia nampak terlihat sedih dengan reaksi yang Jong In berikan.

“Apa kau melupakanku?” Tanya
Baekhyun.

Kim Jong In tak menghiraukannya. Ia
melanjutkan kembali langkahnya
mendahului Baekhyun.

“Aissssh, anak itu benar-benar
menyebalkan!” Gerutunya. Ia
langsung mengejar Jong In.
Menyeimbangkan langkah kakinya dengan Jong In.

“Naneun Byun Baekhyun imnida. Kau bisa memanggilku Baekhyun. Aku ini
keponakannya Lee Ahjussi.” Ucapnya dan tetap tak mendapat respon apapun dari Jong In. Baekhyun berdecak kesal.

“Kalau bukan karena Lee Ahjussi,  aku benar-benar malas berbicara
dengannya!” Gumam Baekhyun yang masih bisa didengar Jong In namun Jong In tetap tak menghiraukan itu.

“Kau hebat Kim Jong In. Bahkan
dihari pertamamu kau sudah sangat terkenal.” Tambahnya dan tetap tak ditanggapi Jong In.

“Bagaimana bisa kau berbicara
sendiri didalam kelas?” Baekhyun terkekeh mengingat cerita beberapa hagsaeg yang satu kelas dengan Jong In.

Mendengar hal itu Jong In langsung menoleh kearahnya dengan tatapan tajam.

“Mworago?”

Baekhyun terlihat begitu takut
melihat perubahan ekspresi di wajah Jong In. Bahkan ia terlihat begitu susah untuk
menelan salivanya sendiri.

“Ne?”

“Apa yang baru saja kau katakan?”

Baekhyunpun menceritakan
semuanya. Tentang bagaimana
hagsaeg menganggapnya anak yang aneh kerena ia berbicara seorang diri didalam kelas.

Jong In semakin dibuat penasaran. Ia melangkahkan kakinya lebih cepat lagi menuju kelas.Ia tak memperdulikan pandangan dan pikiran para hagsaeg yang dilewatinya. Ia harus segera memastikan sesuatu. Memastikan
siapa sosok yeoja berambut pirang itu.

~BRAK~

Ia membuka pintu kelas dengan
kasar. Semua hagsaeg menatapnya. Matanya mencari sosok hagsaeg yeoja berambut pirang dan tepat sekali, yeoja itu masih duduk ditempat yang sama seraya memberikan senyumnya pada Jong In.

“Annyeong!” Sapa sang yeoja.

Kim Jong In langsung berjalan
kearah kursinya yang tepat yang tepat berada disamping sang yeoja. Ia menggeser kursinya kasar dan kemudian duduk disana.

“Kenapa kemarin tidak datang ke
kelas lagi?” Tanya sang yeoja.

Kim Jong In tak menjawab.

“Apa kau membolos?”

Lagi-lagi Kim Jong In tak menjawab.
Kemudian terdengar suara bel berbunyi dan tak lama seorang songsaemnim yeoja pun memasuki kelas.

“Annyeong Hasaeyo!” Sapa sang
songsaenmnim tersebut pada semua hagsaeg nya.

“Annyeong Hasaeyo, Im Saem!”
Jawab semua hagsaeng tak terkecuali dengan yeoja berambut pirang yang ada disamping Kim Jong In.
Jong In pun menoleh kearahnya.

“Park Jiyeon.” Ejanya saat melihat name tag yeoja berambut pirang itu.

Yeoja berambut pirang yang
diketahui bernama Park Jiyeon
itupun langsung menoleh ke arah Jong In.

“Ne?”

Kim Jong In langsung memalingkan wajah dinginnya. Ia mulai memperhatikan sang Songsaemnim yang sedang mengabsen kehadiran
hagsaegnya.
Park Jiyeon mempoutkan bibirnya kesal.

“Ne.” Jawab Kim Jong In saat Im
saem mengabsen kehadirannya.
Dan sampai Im saem selesai
mengabsenpun nama Park Jiyeon tidak dipanggil. Menyadari hal itu
Kim Jong In kembali menoleh ke
arah Park Jiyeon.
Lagi-lagi yeoja itu tersenyum manis padanya.

“Dia ini apa?” Fikir Jong In.

Hingga sampai pelajaran
berakhirpun Jong In tak keluar dari dalam kelasnya.
Hingga tersisa hanya dirinya dan
juga Park Jiyeon didalam sana.

“Kau tidak pulang?” Tanya Jiyeon.

Jong In langsung memberikan death glare nya pada Jiyeon.
Merasa ditatap seperti itu, Jiyeonpun merasa heran.

“Wae?” Tanyanya.

“Neo! Nugunde?”

Jiyeon terkekeh mendengar
pertanyaan Jong In.

“Bukankah kau sudah tau namaku.” Jawabnya.

“Park Jiyeon. Naega Park Jiyeon!”
Tambahnya seraya menunjuk name tag nya.

“Neo! Makhluk apa kau ini?”

Jiyeon lagi-lagi terkekeh . Ia
menyentuh tangan Jong In.

“Eoh! Bahkan aku bisa
menyentuhmu! Daebak!” Ucapnya kagum.

“Apa kau ini sejenis hantu?”

Jiyeon terlihat tengah berfikir.

“Eum. Sepertinya begitu.” Jawab Jiyeon.

“Bagaiman bisa hanya aku yang
dapat melihatmu?”

“Molla. Ini pertama kalinya dalam 3 tahun ada manusia yang dapat melihatku. Bahkan akupun bisa menyentuhmu. Ini sangat
menyenangkan.” Jawabnya seraya tersenyum menampilkan sederet gigi putihnya.

Jong In terlihat begitu bingung.
Bagaimana bisa ada hantu secantik ini?
Sebelumnyapun ia tak pernah
melihat hantu. Bahkan tak pernah melihatnya dan itu hanyalah Jiyeon.
Ia pun bangkit dari kursinya dan
berjalan keluar hendak meninggalkan Jiyeon.

“Kya! Neo eodiga? Apa kau akan
akan pulang sekarang?”

Jong In tak menjawabnya.
Ia pun melanjutkan langkahnya
dengan segudang pertanyaan yang bergelayut difikirannya.

“Padahal aku sangat senang
bertemu dengannya.” Gumam Jiyeon saat ia tak lagi melihat sosok Jong In.

***

Kim Jong In, ia tinggal di rumah
Baekhyun selama di Busan.
Rumahnya memang tidak lebih besar darinya, namun Baekhyun setidaknya mempunyai saudara walaupun usianya baru 7 tahun.

“Ku harap kau akan suka tinggal
disini!” Ucap Baekhyun seraya
merapihkan ranjangnya yang tentu saja akan menjadi ranjang Jong In juga.

Jong In langsung berbaring
diranjang itu.

“Aisssh, kau ini! Aku bahkan belum selesai merapihkannya!” Gerutu Baekhyun.

Jong In tak menjawab. Ia
memandang langit-langit kamar Baekhyun.

“Apa ada yang menarik diatas sana?” Tanya Baekhyun seraya ikut menatap langit-langit kamarnya.

“Apa kau percaya dengan adanya
hantu?”

“MWO?”

Jong In pun memejamkan matanya.
Baekhyun terlihat kesal menatapnya.

“Dia benar-benar menyebalkan.” Gumamnya.

***

Sudah lebih dari seminggu Jong In tinggal dirumah Baekhyun.
Lee Ahjussi, ia kembali ke Seoul.
Jong In, ia masih belum akrab
dengan keluarga Baekhyun. Ia masih tetap dingin seperti biasanya.
Tapi berbeda dengan dongsaeng
Baekhyun, ia sangat mengagumi
sosok Jong In. Baginya sikap dingin Jong In lah yang membuatnya begitu special.

“Hyung, apa kau sudah mempunyai seorang yeoja chingu?” Tanya Baekchan dongsaeng Baekhyun.

Jong In tak menjawab.

“Aku dekat dengan seorang yeoja. Ani. Dia yang mendekatiku. Awalnya
aku benar-benar membencinya,
namun saat aku melihatnya bersama namja lain rasanya aku ingin mengatakan padanya JAUHI DIA! KAU HANYA MILIKKU! Tapi aku malu
mengatakannya hyung.”

Kim Jong In, mendengar cerita
Baekchan. Ia kemudian teringat akan yeoja bernama Park Jiyeon itu. Yeoja yang selalu mengajaknya berbicara tapi
tak pernah ia hiraukan.

“Apa yang kau lakukan disini, eoh?” Tanya Baekhyun saat melihat Baekhchan berada didalam kamarnya.

Baekhchan terlihat kesal akan
kedatangan hyungnya itu. Ia bangkit dan keluar dari dalam kamar Baekhyun.

“Kau benar-benar cerewet, hyung!”

“KYA!”

***

@Class Room

“Apa kau membenciku?” Tanya
JIyeon yang sepertinya mulai prustasi karena ia selalu tak dihiraukan oleh Jong In.
Semua hagsaeg sudah pulang saat ini, tersisa hanya Jiyeon dan Jong In didalam kelas.

“Mianhae! Aku tak bermaksud
mengganggumu. Aku hanya merasa senang akhirnya ada yang bisa melihatku.” Tambahnya sedih.

Jong In langsung menoleh ke arah Jiyeon. Ia terlihat mulai simpatik melihat mimik wajah Jiyeon yang berubah menjadi sedih.

“Naega wae?” Tanya Jong In.

Jiyeon langsung menatap Jong In.

“Kenapa hanya aku? Dan kenapa
harus aku?” Tambahnya.

“Molla. Aku sungguh-sungguh tidak tau.” Jawab Jiyeon jujur.

Jong In membuang nafas berat.

“Mianhae! Keundae, bisakah kau
membantuku?”

“Mwo?”

“Neo! Hanya kau yang dapat
melihatku. Aku benar-benar tidak mau selamanya duduk dikursi ini. Bisakah kau membantuku?” Pinta Jiyeon penuh harap.

***

@ Home Baekhyun

Jong In terlihat tengah memandangi layar komputer milik Baekhyun.
Ia mencari informasi mengenai
hantu.
Tentang mengapa mereka tidak pergi kedunia mereka setelah meninggal.
Ia masih ingat dengan jelas
permintaan yeoja itu.
Meskipun ia tak mengiyakan
permintaan itu, namun ia terus saja memikirkannya.

***

Apa keinginanmu saat hidup?” Tanya Jong In pada Jiyeon yang saat ini tengah berada didalam kelas dan tentu saja semua hagsaeg telah pulang kerumah mereka masing-masing.

“Naneun mollayo. Aku bahkan tidak ingat bagaimana kehidupannku saat masih hidup.” Jawab Jiyeon.

Jong In terlihat prustasi.

“Menurut artikel yang kubaca,
kenapa hantu tidak berada dialam mereka setelah meninggal karena mereka
masih mempunyai urusan yang
belum terselesaikan saat masih hidup. Misalnya sebuah dosa atau permintaan.”

Jiyeon hanya mempoutkan bibirnya.

Jong In terlihat tengah kembali berfikir.

“Sejak kapan kau berada disini?”

“Eummmmmmmmm, 3 tahun yang lalu kurasa.” Jawab Jiyeon menerka.

“Apakah tempat ini pertama kalinya tempat yang kau lihat?”

“Ne. Ani. Kursi ini. Aku bahkan tidak bisa kemanapun. Seperti ada lem dikursi ini.” Jawab Jiyeon jujur.

Jong In mulai menebak-nebak.

“Apa kau meninggal saat duduk
dikursi ini?” Fikir Jong In.

“Sepertinya begitu.”

Entah apa yang ada difikaran Jong In, tapi ia benar-benar ingin membantu Jiyeon. Ini pertama kalinya ia membantu seseorang. Ani, tapi hantu.

***

“Apa anda mengenal hagsaeg
bernama Park Jiyeon?” Tanya Jong In saat tiba di ruang kepala sekolah.

“Ne? Park Jiyeon?”

“Eung. Park Jiyeon. Apa ada
hagsaeg bernama Park Jiyeon yang pernah bersekolah disini?”

“Banyak hagsaeng alumni dari
sekolah ini jadi tidaklah mudah
mencari namanya dalam waktu
singkat.”

“Aku akan menunggu.”

“Geureh, aku akan menghubungimu saat aku mendapatkannya. Hachiman,
untuk apa kau menanyakan itu?”

“Mianhae. aku tidak bisa
memberitahumu.” Jawab Jong In
seraya menundukkan kepalanya
memberi hormat pada sang kepala sekolah lalu pergi meninggalkan
ruangan itu.
(Bahasa Jong In benar-benar tak sopan pada sang kepala sekolah. Jangan di tiru ya, der!)

***

Kim Jong In, semakin hari ia semakin merasa nyaman dengan keberadaan Jiyeon. Yeoja itu benar-benar sangat
ceria. Itu yang membuatnya betah berlama-lama didalam kelas.

Park Jiyeon, sepertinya saat ia masih hidup ia seorang hagsaeg yang cukup pintar. Terbukti dari hampir semua pekerjaan rumah yang Jong In terima dari songsaemnim ia dapat
menyelesaikannya dan semua
jawabannya benar.
Sepertinya Jong In mulai luluh
padanya. Dengan senang hati ia
mau diajari oleh Park Jiyeon.

“Sudah malam. Apa kau tidak ingin pulang?” Tanya Jiyeon saat melihat jam dinding yang terpasang didalam kelas menunjukkan pkl 21:00 malam.

“Apa kau ingin aku pulang
sekarang?” Jong In malah bertanya balik.

Jiyeon, ia benar-benar merasa
enggan Jong In pulang. Pasalnya besok adalah hari minggu dan ia tak dapat bertemu dengan Jong In.

Jong In tersenyum melihat Jiyeon yang tak menjawab pertanyaannya dan hanya menundukkan wajahnya.
Ia memegang kedua pipi Jiyeon dan itu sukses membuat Jiyeon
mendongak kearahnya.

~CUP~

Park Jiyeon terlihat sangat terkejut mendapat kecupan singkat dari Jong In tepat dibibirnya.

“Wae? Apa ini ciuman pertamamu?” Tanya Jong In seraya tersenyum jahil.

Jiyeon hanya mengerjapkan matanya.

~CUP~

Jong In kembali menciumnya.

“Ini memang terdengar gila. Tapi
aku menyukaimu, Park Jiyeon. Aku telah jatuh cinta padamu.”

~CUP~

Ciuman yang diberikan Jong In kali ini cukup lama. Ia benar-benar enggan untuk melepaskannya.
Mungkin ini terdengar konyol.
Bagaimana bisa manusia jatuh cinta pada hantu. Tapi itu kenyataan yang dialami Jong In. Park Jiyeon berhasil
memenangkan hatinya.

***

“Anda yakin sudah
mendapatkannya?” Tanya Jong In pada sang kepala sekolah saat berada didalam ruangannya.

“Ne.” Jawabnya. Ia lalu menyerahkan selembar kertas data pribadi Park Jiyeon dan tepat sekali itu memang
Park Jiyeon terlihat dari foto yang terpampang disamping kertas data pribadinya.

“Apa anda mengenalnya?” Tanya
sang kepala sekolah.

“Ne.” Jawab Jong In masih menatap foto Jiyeon.

“Apa anda bisa memberitahuku
begaimana kehidupannya saat
bersekolah disini?” Tambahnya.

“Mianhae, tapi aku baru 1 tahun
menjabat sebagai kepala sekolah
disini. Bertanyalah pada Jang
Songsaemnim. Ia yang paling lama bekerja disini.”

***

Ternyata Jang Sonhsaemnim adalah orang yang sama dengan orang yang mengantarnya kedalam kelas dan mengusirnya saat pertama kali menginjakkan kaki disekolah ini.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”
Tanya Jang Songsaemnim saat mendapati Kim Jong In berkunjung kerumahnya.

Kim Jong In, ia menyerahkan
selembar kertas yang diberikan
kepala sekolah padanya.

“Anda mengenalnya?”

Jang songsaemnim terlihat begitu terkejut saat melihat foto Jiyeon.

“Kenapa keu menanyakannya? Apa kau ada hubungan kekeluargaan dengannya?”

“Aku hanya seseorang yang
mengenalnya. Bisakah kau
menceritakan semua tentangnya
padaku?”

***

~FLASBACK ON~

“Neo appo?” Tanya Jang
songsaemnim pada Jiyeon saat ia
menemukan surat pemeriksaan
dokter milik Jiyeon.

“Kanker otak?” Ucap Jang
songsaemnim terkejut.

Park Jiyeon, ia hanya tersenyum
menampakkan sederet gigi putihnya.

“Akhirnya ketahuan juga!” Jawabnya.

“Kya! Kenapa tidak
memberitahukannya pada saem,
Eoh?”

“Mianhae, saem!”

“Sejak kapan?”

“Eummmm….” Jiyeon terlihat tengah berfikir.

“Kelas 2 SD.”

“MWO?”

Lagi-lagi yeoja itu hanya tersenyum.

Jang Geun Seok, ia sudah
menganggap Jiyeon seperti putrinya sendiri. Jarak antara rumah mereka tidaklah
jauh, hanya berbeda satu blok saja.

Park Jiyeon, ia adalah putri dari
pasangan Park Chanyeol dan Choi
Sulli. Saat ia berusia 3 tahun, kedua orangtuanya bercerai dan ia tinggal bersama eommanya, Choi Sulli.
Park Chanyeol Appanya, ia tidak
pernah lupa mengunjungi Jiyeon.
Jiyeon sangat dekat dengan sang
appa meskipun mereka tidak tinggal bersama.

Park Jiyeon, saat usianya menginjak 9 tahun dokter memvonisnya dengan
penyakit mematikan yakni kanker otak.
Dokter mengatakan bahwa Jiyeon hanya akan bertahan sampai usianya 18 tahun namun sepertinya tuhan berkehendak lain, ia mampu bertahan hingga usianya 19 tahun.
Bagaimana dengan sang eomma?
Eommanya meninggal saat ia duduk dibangku kelas 2 Senior High School.

Selama 2 tahun ia hidup sendiri, di bantu oleh sang appa yang lebih sering berkunjung kerumah semenjak eommanya meninggal dunia. Sang appa
pun tidak mengetahui perihal
penyakit yang di derita putrinya itu.

~FLASH BACK OFF~

“yeoja itu, dia begitu pintar. Selalu mendapat peringkat pertama dikelasnya. Siapa yang tau bahwa sebenarnya ia
mempunyai penyakit mematikan itu.”

“Apa anda tau kejadian saat Jiyeon meninggal?”

“Dia meninggal didalam kelasnya. Sepertinya itu memang sudah saatnya ia pergi.”

“Apa ada sesuatu yang aneh? Apa
ada sebuah benda atau apapun yang ia tinggalkan saat meninggal?”

Jang songsaemnim menggelengkan kepalanya.

Kim Jong In mulai prustasi. Jiyeon, ia meninggal bukan karena bunuh diri atau ada yang mencelakainya.
Lalu apa yang menyebabkan Jiyeon tidak bisa kembali kealamnya?

“Bagaimana dengan eomma dan
appanya?”

“Mereka berpisah saat Jiyeon berusia 3 tahun dan eommanya meninggal saat usianya 17 tahun.”

Jong in mulai berfikir.
Atau mungkin keinginan Jiyeon
adalah bertemu dengan appanya?

“Apa aku bisa menemui appanya?”

“Jiyeon selalu menceritakan tentang appanya. Ia akan sangat
bersemangat bila menceritakannya. Yang ku tau appanya tinggal di Seoul bersama dengan keluarga
barunya.”

“Apa kau tau siapa namanya?”

“Park Chanyeol. Ne. Namanya Park Chanyeol.”

Kim Jong In, ia begitu terkejut
mendengar nama itu. Kepalanya
terasa pening. Ingatan masalalunya kembali berputar.

~FLASH BACK ON~

“Apa benar kita akan bertemu
dengan nuna, appa?” Tanya Jong In yang duduk disamping kemudi sang appa.

“Ne. Maeume daero?”

“Eung, maeume ssok deureo.”
Kim Jong In, putra dari pasangan
Kim Hyuna dan Park Chanyeol
terlihat begitu gembira saat sang
appa menceritakan padanya bahwa ia mempunyai seorang nuna yang usianya 3 tahun lebih tua darinya.
Ia lebih dekat dengan sang appa
dari pada sang eomma.
Appanya menceritakan semua hal tentang masa lalunya yang pernah menikah sebelumnya dan mempunyai seorang putri.

Kim Hyuna, yeoja itu memang
terlahir dari keluarga kaya. Ia jatuh cinta pada pegawainya sendiri yang tak lain adalah Park Chanyeol. Namun karena ia merasa lebih berkuasa, ia terkadang memperlakukan Chanyeol layaknya seorang budak. Chanyeol menerima
saja semua perlakuan buruk Hyuna padanya karena dibutakan oleh harta yang dimiliki yeoja itu. Bahkan
saat ia melahirkan seorang putrapun, ia memakaikan marganya pada putranya itu yang tak lain adalah
Kim Jong In.

“Apa nuna sangat cantik, appa?”

“Ne. Dia sangaaaaaat cantik.”

Tanpa sang Park Chanyeol sadari
sebuah truk melintas didepan mobil mereka dan kecelakaan pun tidak dapat dihindari. Mobil yang dikendarai Park Chanyeol terpental jauh.
Saat kondisi mobil terbalik tepat
ditepi jurang, dengan susah payah Park Chanyeol mendorong Jong In untuk keluar dari dalam mobil dan karena gerakan yang dilakukan
Chanyeol saat berusaha
mengeluarkan Jong In membuat
mobil terjatuh ke jurang.

Kim Jong In, ia melihat dengan jelas saat mobil itu terjatuh.

~FLASH BACK OFF~

“Gwaenchana?” Tanya Jang
Songsaemnim yang melihat Jong In sedari tadi memegangi kepalanya.
Peluh dikepalnya pun tak kunjung berhenti dan wajahnya pun terlihat pucat.

***

3 Minggu, Kim Jong In tidak hadir disekolah selama 3 minggu.

Jiyeon, yeoja itu tentu sangat
mengkhawatirkannya atau mungkin merindukannya.

“Jong In-ah!” Teriak Jiyeon saat
melihat Jong In memasuki kelas.
Tentu saja Jiyeom tidak bisa
berhambur ke arahnya. Ia tetap
duduk dikursinya.

Jong In, ia terlihat berusaha
tersenyum.
Sampai pada akhir pelajaran tak ada pembicaraan diantara keduanya.

Jiyeon, ia masih setia memandang namja yang ada disampingnya itu.
Sedangkan Kim Jong In, ia sama
sekali tak menoleh kearah Jiyeon.
Saat ini hanya tersisa mereka
berdua didalam kelas sore ini.

“Apa aku boleh memelukmu?” Tanya Jiyeon tiba-tiba dan berhasil membuat Jong In menoleh kearahnya.

~HUG~

Yeoja itu, ia langsung memeluk Jong In tanpa menunggu jawaban dari namja itu.

“Bhogosippo!” Ucapnya dan itu
membuat hati Jong In semakin sakit.

“Nuna!”

Jiyeon, ia melepaskan pelukannya. Ia menatap bingung namja yang ada dihadapannya itu.
Apa yang baru saja ia ucapkan? Nuna?
Apa maksudnya?

“Naega! Neo dongsaeng, Nuna!” Jong In, ia tak sanggup lagi menahan air matanya. Perlahan buliran bening itupun turun.

Jiyeon, ia terlihat begitu terkejut
dengan apa yang dikatakan Jong In.
Bagaimana bisa Jong In adalah
dongsaengnya.
Lalu kilasan memory tentang saat ia akan meninggalpun terlintas.

~FLASH BACK ON~

“Jeongmalyo, appa?” Tanya Jiyeon dengan riang saat menerima telepon dari appanya.
Saat ini ia masih berada didalam kelasnya.
Sedangkan hagsaeg yang lain
sudah pulang. Itu memang
kebiasaannya yang selalu pulang
paling akhir diantara hagsaeg yang lain.

“Jigeum?” Tanyanya pada sang appa yang tak lain adalah Park Chanyeol.

“Ne. Ne. Ne, appa. Ne.” Jiyeon pun terlihat begitu senang.
Ia memutuskan sambungan
teleponnya.

“Akhirnya aku bisa bertemu dengan dongsaengku juga!”

Ya, appanya memberitahukan bahwa ia akan mempertemukan Jiyeon dengan dongsaengnya yakni Jong In.
Appanya meminta Jiyeon untuk
menunggu disekolah.

Jiyeon, sejak saat appanya
menceritakan bahwa ia mempunyai seorang putra dari pernikahan keduanya, ia begitu terlihat sangat senang. Ia
memang sangat ingin mempunyai saudara. Setelah bertahun-tahun, akhirnya sang appa akan mempertemukan dirinya dengan dongsaengnya.

~DEG~

Kepala Jiyeon terasa disengat listrik.
Itu benar-benar menyakitkan.
Ia terus memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit.
Peluh mulai membanjiri wajahnya.

“Jebal! Jangan sekarang! Biarkan aku bertemu dengan dongsaengku terlebih dahulu! Jebal!”

Namun sepertinya takdir
berkehendak lain. Jiyeon akhirnya meninggal dunia.
Dan saat ia tersadar ia bukanlah
manusia, bahkan ia tak mengingat apapun.

~FLASH BACK OFF~

“Neo! Uri dongsaeng?” Tanya Jiyeon.
Memory tentang kehidupannya saat masih menjadi manusia pun mulai bisa ia ingat.

Jong In hanya menunduk seraya
menganggukkan kepalanya.

“Hiks…” Namja itu menangis. Tentu saja kejadian ini benar-benar tidak pernah ia duga sebelumnya. Jatuh cinta pada hantu yang ternyata adalah nuna nya sendiri.

Jiyeon, kini tubuhnya membias.
Semakin lama semakin tak terlihat. Jiyeon berusaha menyentuh pipi Jong In yang basah oleh air mata.
Ia menghapusnya dengan perlahan.

“Uri dongsaeng!” Ucapnya tersenyum manis.

Jong In, betapa terkejutnya ia saat mendongakkan kembali kepalanya ternyata Jiyeon sudah hampir tak terlihat. Bahkan tangan Jiyeon kini sudah tak dapat ia rasakan sentuhannya.

“Jadilah namja yang baik Jong In-ah! Kelak, bila kita dipertemukan kembali,
kita akan tetap seakrab ini.Gomawo. Gomawo uri dongsaeng!” Jiyeon, ia benar-benar menghilang.

“Hiks…” Kim Jong In, ia menangis tersedu. Meskipun singkat; namun yeoja itu
benar-benar membuat hatinya
tersentuh.

“Ani. Entah dikehidupan sekarang ataupun nanti, Alaku tidak akan pernah mau menjadi dongsaengmu. Naega, aku hanya akan menjadi namjamu. Neo namjachingu.” Gumam Jong In seraya menangis.
Menangisi yeoja yang tidak akan
pernah bisa ia lihat lagi.

***

Ya, Kim Jong In kini sudah
dinyatakan sembuh oleh dokter.
Amnesia, itulah yang terjadi
padanya selama 3 tahun ini.
Saat kecelakaan bersama sang appa, kepalanya terbentur hebat dan itu mengakibatkan ia tak dapat mengingat apapun tentang masalalunya.

Jiyeon, ternyata ia diketahui
meninggal tepat dihari yang sama dengan meninggalnya sang appa yang kecelakaan bersama Jong In.

~4 TAHUN KEMUDIAN~

“nuna! Ani. Park Jiyeon. Lihatlah!
Kini aku sudah menjadi namja
dewasa. Aku jauh lebih tampan dari 4 tahun lalu. Kau pasti sangat merindukanku, eoh!”
Ucapnya tepat didepan makam
Jiyeon.

“Aku tidak akan pernah menyesal pernah bertemu denganmu. Tidak akan pernah menyesal telah menjadi dongsaengmu dan tidak
akan pernah menyesal telah jatuh cinta padamu.
Saranghae! Saranghae, Park Jiyeon!”

FF nya gajekah?
hahah mian jika tak terpuaskan.
Langsung coment saja!
Coment Jusaeyo! 😀

FF Kai Jiyeon (part 5)

image

     All I Want You To Know Is
                 I LOVE U
              (part 5 end)

Main cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jongin aka Kai (EXO)

Other cast:
Ryu Hwayoung (X “T-ara”)
Park Hyomin (T-ara)
Ham Eunjung (T-ara)
Park Soyeon (T-ara)
Boram (T-ara)
Qri (T-ara)
D.O kyungsoo (EXO)
Park Chanyeol (EXO)
Suho (EXO)
Oh Sehun (EXO)
Byun Baekhyun (EXO)
Boys SM Trainee
*Jeno
*Taeyong
*Ji Sung
*Johny
*Mark
*Ten

Genre:
Romance, Friendship, Sad
(idol life)

Length:
chaptered

Song fict:
Teen Top Date

A/N:
Nih langsung di comot ending part nya!
Di publish pada 4 Maret 2014 silam dan di republish hari ini 28 Mei 2015.
Ga bakal muluk-muluk, author cuma pengen di tinggalin jejak saat readers membacanya.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

**

Mimpi itu, aku sudah berhasil
menemukannya. Aku sudah berhasil menemukan impianku.

~ 7 TAHUN KEMUDIAN~

“Kya! Palli! Kau ini lelet sekali!”
Bentak Chanyeol pada Jeno, namja muda yang menjadi leader grup asuhannya yang bernama ELECTRA, yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti CEMERLANG dan BERKILAUAN, itulah yang ia harapkan saat memberikan nama itu
pada grup asuhannya, berharap
mereka selalu CEMERLANG dan
BERKILAUAN di industri musik entah itu dikorea ataupun dunia.
Jeno dan member lainpun sudah
siap. Mereka mulai menaiki
panggung. Terdengar riuh teriakan para penonton yang meneriaki masing-masing nama dari para anggota ELECTRA. Mulai dari Taeyang, Ji Sung, Johny, Mark, Ten, dan tentu saja nama Jeno. Ia menjadi yang paling terfavourite diantara anggota lain. Bagaimana
tidak, selain memiliki wajah yang
tampan, Jeno sangat pandai menari dan suaranyapun luar biasa bagus. Ia menjadi
Lead Vocal sekaligus Main Dancer di ELECTRA, Ia juga anggota termuda yang juga menjabat sebagai leader.
Wanita mana yang tak akan tergila-gila padanya.

Mereka mulai menyanyi dan menari.
Membuat seisi stage menjadi begitu semakin ramai, ditambah lagi dengan teriakan histeris para fans terutama fans yeoja. Sampai seseorang dengan setelan jas hitam lengkap dengan dasi yang terpasang
rapih dilehernya datang dan berdiri disamping Park Chanyeol yang sedang menyaksikan performa ELECTRA diatas panggung.

“Eotteokae?” Tanyanya.

“Jeno, dia masih saja selalu
terlambat. Dia benar-benar mirip sekali denganmu, Kai!” Jawab Chanyeol.

Kai, itulah pria berjas rapih yang
berada disamping Park Chanyeol
saat ini.
Kai hanya tertawa mendengar
penuturan dari sahabatnya itu.
Selama 5 tahun berkarir, akhirnya EXO memutuskan untuk vakum karena semua anggota memiliki
kesibukan masing-masing.
Park Chanyeol dan Kim Jong In atau lebih dikenal dengan nama
panggung Kai, mereka berdua
memutuskan untuk tetap berkarir didunia musik, membangun sebuah management music yang diberi nama CJ Entertainment yang merupakan inisial nama keduanya, Chanyeol Jong in.

Selama 2 tahun mereka berdua
berusaha menghasilkan penyanyi-penyanyi berbakat dibawah naungan mereka berdua. Dan salah satunya
adalah ELECTRA yang sukses
mendapat berbagai penghargaan
dari berbagai acara musik setahun belakangan ini.

“Tidur itu memang yang paling
utama, Hyung!” Jawab Kim Jong In.

“Tapi anak itu nyaris menghancurkan
acara ini. Benar-benar
menyebalkan.” Chanyeol masih sajamenggerutu kesal.

Setelah acara berakhir, para anggota ELECTRA berkumpul pada satu ruangan.

“Huwaaaaaa, benar-benar
melelahkan!” Ucap Ten saat duduk disebuah sofa yang ada diruangan itu. Disusul para anggota lain yang langsung mencari tempat duduk
untuk mereka beristirahat.

“Hyung, kau lihat gadis yang berponi itu? Yang memakai cardigan merah muda itu, bukankah dia sangat cantik?” Tanya Ji Sung.

“Hmm.” Jawab Taeyong sekenanya.

“Kupikir yang berambut panjang ikal lebih manis!” Timpal Mark.

“Kya, apa selama acara berlangsung kalian berdua hanya memperhatikan
para gadis-gadis itu hah? Pantas
saja tarian kalian berdua benar-
benar sangat buruk tadi.” Ucap
Johny.

Semua member ELECTRA asyik
menceritakan semua kejadian yang terjadi saat acara tadi berlangsung, Namun berbeda halnya dengan
Jeno. Ia berada pada ruangan
berbeda. Bukan bersama hyungnya, namun bersama Chanyeol dan juga Jong In.

“Jeno, apa kau tak pernah
memasang alarm eoh? Kenapa kau selalu saja terlambat bangun dan mengakibatkan terlambatnya kedatanganmu pada acara ini? Kau sudah sering melakukannya! Kali ini
apalagi alasan yang akan kau pakai hah?” Park Chanyeol, ia benar-benar mengerikan.

Kim Jong In yang melihatnya jadi
teringat peristiwa 7 tahun silam saat ia dimarahi oleh Lee Soo Man yang pada saat itu menjadi CEO nya karena telah menolong Park Jiyeon.

Park Jiyeon, mengingat nama itu
membuatnya kembali merindukan sosok gadis itu.

“Dimana kau, Yeonnie?” Batinnya.

Jeno hanya terdiam. Ia tak berani menjawab ucapan Chanyeol.

“Sudahlah, hyung!” Ucap Jong In
berusaha untuk menenangkan
hyungnya itu.

“Pergilah! Beristirahatlah!” Ucap
Jong In pada Jeno.

Jeno hanya mengangguk kemudian membungkukkan badannya memberi
hormat pada kedua CEO nya itu.

“Kenapa kau membelanya, Eoh?”

“Ani. Aku tak membelanya hyung. Aku hanya mencoba mengurangi kerutan-kerutan yang ada diwajahmu itu. Kau semakin bertambah tua karena sering sekali memarahinya.” Canda Kai.

“Eoh, jeongmalyo?” Tanyanya panik.
Ia langsung mengambil cermin kecil dari dalam kemejanya, ia memang selalu membawa cermin kecil kemanapun ia pergi, karena baginya penampilan itu yang paling utama.

“Aku masih tetap tampan.” Jawabnya setelah selesai bercermin.

“Neo! Harusnya kau cepatlah
menikah! Aku yang sudah memiliki 2 puti saja masih terlihat sangat muda
dan tampan, sedangkan kau yang
bahkan lebih muda usianya dariku malah terlihat sudah tua.”

Jong In tak menanggapi ucapan
Chanyeol. Ia hanya tersenyum. Ia pun menepuk pundak Chanyeol lembut dan berlalu dari hadapan Chanyeol.

“Apa ia masih memikirkan gadis itu? Tapi ini sudah 7 tahun lamanya. Apa ia masih mengharapkannya?” Fikir
Chanyeol, kemudian ia kembali mengambil cerminnya.

“Apa aku memang terlihat sudah
tua ya?” Chanyeol terus meraba
wajahnya.

“Aaaah kurasa aku harus
menghubungi Baekhyun.” Ia pun
segera menghubungi Baekhyun.

~MIRACLE CLASS~

Terlihat Byun Baekhyun duduk
didalam sebuah ruangan dengan
mengenakan jas disertai dasi merah mudanya. Ia tengah memeriksa beberapa laporan ketika handphonenya berbunyi. Ia tak melihat lagi nama si penelepon, ia malah langsung mengangkatnya.

“Yeoboseyo!”

“Kya Baekkie-ah. Jigeumeun
mwohago?” Teriak sipenelepon dari seberang sana. Baekhyun yang sudah hapal suara berat itu
langsung menjawab.

“Kya Yeollie-ah, waegeurae? Aku
sedang memeriksa beberapa
laporan.” Jawab Baekhyun.

“Kita harus bertemu. Kau harus
memeriksa kulit wajahku. Kurasa
wajahku ini mulai dipenuhi banyak kerutan.”

“Geurae. Onje?”

“Jigeum. Kita bertemu di Gogung.”

“Arraseo.”

Byun Baekhyun, setelah vakum dari EXO, ia memutuskan untuk membuka sebuah salon kecantikan yang letaknya ada di kawasan Gangnam Seoul.

~GOGUNG~

“Chef, apa ini cukup?” Tanya seorang koki pada D.O Kyungsoo saat mereka sedang membuat menu baru.
D.O pun mencoba mencicipi
masakan itu.
Merasai pada Indera pengecapnya apakah dirasa sudah cukup nikmat  atau tidak.

“Kurasa tambahkan sedikit wijen.”

“Ne, Chef.”

D.O Kyungsoo, ia menjabat sebagai kepala koki direstoran yang ia kelola dikawasan Myeongdong Seoul.

“Hyung!”

D.O tersenyum hangat saat melihat kedatangan Kim Jong In didapurnya. Semua staf di Gogung tentu sudah
sangat mengetahui kedekatan diantara leduanya. D.O pun menghampirinya.

“Kau datang?”

“Hm.”

“Tunggulah dulu diruanganku, akan ku bawakan makanan setelah ini selesai.”

“Ne.”

Kim Jong In pun memasuki ruangan D.O yang memang khusus disediakan untuk kepala Chef direstorannya itu. Ia kemudian duduk disofa yang sudah tersedia.
Ia mengambil sebuah foto berbingkai yang ada diatas meja kerja D.O. Memandang
Foto yang ada didalamnya. Foto EXO-K. Ia lalu tersenyum mengingat hari-hari saat mereka masih bersama di
EXO, sampai tiba-tiba kenangan
masa lalu itu datang.

~FLASHBACK ON~

Mendengar berita hengkangnya
Jiyeon dari T-ara membuat Kim Jong In ingin segera menemui Jiyeon.
Hari itu juga ia datang ke dorm T-ara tanpa mengkhawatirkan akan adanya para netizen yang
menemukannya nanti.

~DORM T-ara~

“Neo! Kenapa tak mengatakannya terlebih dahulu pada kami, Eoh? Hiks…” Tangis Hyomin seraya memeluk tubuh kurus Jiyeon.

“Mianhae, Eonnie!” Sesal Jiyeon.

Qri, Soyeon dan borampun ikut
memeluknya. Mereka semua
menangis bersama, kecuali Eunjung. Ia masih menatap lekat
dongsaengnya itu.

“Kau yakin akan pergi?” Tanya
Eunjung.

“Ne, eonnie. Aku harus pergi meraih impianku.” Jawab Jiyeon mantap.

“Kau ini jahat sekali! Kau tak pernah menganggap kami saudaramu. Kau selalu melakukan keputusan tanpa
berunding terlebih dahulu pada
kami.” Racau Boram.

“Mianhae, eonnie.” Jiyeon semakin merasa bersalah.

“Hubungilah kami sesering
mungkin.” Perintah Qri.

“Ne, Eonnie.”

“Jangan lupa makan yang banyak
dan istirahat yang cukup.” Tambah Soyeon.

Kemudian Jiyeon, ia memeluk Eunjung erat.

“Eonnieeee…”

“Jaga dirimu! tetaplah menjadi uri dino yang kuat. Ingat itu!” Pesan Eunjung, tangisnyapun pecah. Ia membalas pelukan Jiyeon tak kalah erat dari pelukan Jiyeon.

Sementara itu, Kim Jong In, ia memerintahkan sang supir
taksi berhenti tepat didorm T-ara.
Ya, ia menaiki taksi dari dorm EXO untuk tiba di dorm T-ara. Jaraknya cukup jauh.
Ia bergegas masuk kedalam halaman dorm dan menekan tombol yang ada disamping pintu.

Cukup lama, kemudian
muncullah Qri membukakan pintu.

“Eoh, Kai-ssi?”

“Annyeong, nuna!” Sapanya ramah seraya membungkuk.

“Waegeurae, Kai-ssi? Eoh, apa kau ingin bertemu Jiyeon?”

Setelah Kejadian Jong In menolong Jiyeon, saat itulah para anggota T-ara berfikir bahwa mereka berdua
saling mengenal meski belum mengetahui ada hubungan apa diantara keduanya.

“Ne, nuna. Saya ingin menemuinya.” Jawab Kim Jong In mantap.

“Keundae, dia sudah pergi Kai-ssi.” Jawab Qri.

Lalu datanglah Eunjung.

“Nugu, eonnie?” Tanya Eunjung saat belum melihat sosok Kim Jong In yang terhalang tubuh Qri. Kemudian Qri pun membalikkan tubuhnya agak kesamping sehingga Eunjung dapat
melihat sosom Kim Jong In kali ini.

“Eoh, Eunjung-Ah! Kai-ssi. Dia ingin bertemu Jiyeon.” Jawab Qri.

“Masuklah, eonnie! Saya yang akan berbicara dengan Kai-ssi.”

“Eoh, Geurae.”

Qripun masuk kembali ke dalam dorm.
Kini yang tersisa hanyalah
Kim Jong In dan juga Eunjung.

“Kai-ssi!”

Jong In menatap Eunjung.

“Ige!”

Eunjungpun menyerahkan sebuah amplop pada Kim Jong In. Kim Jong In tentu saja bingung.

“Dari Jiyeon. Ia menitipkan ini
padaku. Ia menyuruhku untuk
memberikannya padamu.”

Mengerti dengan ucapan Eunjung, Jong In pun menerimanya.

“Dia sudah pergi. Pesawatnya sudah take off sejam lalu.”

Kim Jong In terdiam. Ia
melakukannya lagi. Membiarkan
gadis itu pergi lagi.

“Dia tidak akan pernah kembali lagi ke Korea.” Tambah Eunjung yang sontak membuat Kim Jong In terkejut.

“Mwo?”

“Ne. Dia yang mengatakan itu
sendiri.”

“Eodigayo, nuna?”

“Molla. Dia juga tak
memberitahukannya pada kami, Kai-ssi.” Jawab Eunjung.

Kim Jong In semakin tertunduk.
Menyesal karena ia selalu saja
terlambat.

~FLASHBACK OFF~

“Harusnya aku datang lebih awal.” Lirihnya.

Ia pun meletakkan kembali foto berbingkai yang sedari tadi ia genggam.

Kemudian masuklah Chanyeol dan Baekhyun.

“Eoh, kau disini juga Kai?” Tanya
Baekhyun saat melihat Jong In.

“Tentu saja. Kemana lagi ia akan
datang selain kesarang eommanya.” Celetuk Chanyeol.

“Hahaha….” Chanyeol dan Baekhyun tertawa bersamaan.

Kim Jong In, ia
tak menghiraukan kedua hyungnya itu yang memang suka sekali menjahilinya.

“Eoh, Baekkie-ah! Coba kau lihat
wajahku ini! Sepertinya ada kerutan disini!” Tunjuk Chanyeol pada bagian wajahnya.

Baekhyunpun memperhatikan wajah Chanyeol dengan cermat.

“Ige! Ige!” Tambah Chanyeol.

Kim Jong In yang melihat kelakuan dua hyungnya itu mencibir.

“Ck, kalian! Harusnya kalian berdua menikah saja!” Sembur Jong In.

Tak tahan lagi melihat dua makhluk yang ada dihadapannya, Iapun memutuskan untuk pergi sebelum perilaku kedua hyungnya itu membuatnya muntah disana.
Saat keluar ruangan, ia pun
berpapasan dengan D.O yang sudah membawakan berbagai macam makanan.

“Eoh, neo odiga?” Tanya D.O.

“Aku harus pergi, hyung!”

“Eoh?”

“Didalam ada dua makhluk yang
sangat mengerikan. Waspadalah saat kau memasukinya, hyung!”
Jong In pun menepuk bahu D.O dan pergi.

“Apa mungkin ada maling ya?” Fikir D.O.

Sesampainya dirumah besar
miliknya.
Ya, Kim Jong In mampu membeli
sebuah rumah besar yang terlihat sangat mewah yang letaknya berada di Gangnam Seoul. Gangnam memang sangat terkenal dengan rumah-rumah mewah yang tentu saja penghuninya bukanlah orang
sembarangan. Penghasilannya
selama bergabung dengan EXO
cukup membuatnya mengumpulkan banyak lembar won dan tentu saja popularitas pastinya. Dia sudah memberikan Kedua orangtua serta kedua nuna nya sebuah hunian yang bisa dibilang sangat nyaman karena harganyapun tidaklah murah.
Selain itu juga ia mempunyai
berbagai jenis mobil sport dari
beberapa merk mobil terkenal. Itu adalah koleksinya. Serta tentu saja rumah besar yang mewah yang saat ini ia tempati.

Semuanya tampak sempurna
memang, tapi berbeda bagi seorang Kim Jong In. Ia masih merasa ada sesuatu yang kurang. Masih ada yang kosong. Itulah yang ia rasakan.
Tentu saja karena sampai saat ini
hanya dialah yang belum
mempunyai kekasih apalagi menikah.

Park Chanyeol, setelah menikahi
seorang wanita bernama Kim Ye Seol, ia dikaruniai 2 orang putri kembar. Kim Ye Seol bukanlah seorang artis. Ia hanya seorang wanita biasa yang berhasil memenangkan hati seorang
Park Chanyeol.

Byun Baekhyun, dia menikah sekitar 2 bulan lalu. Saat ini istrinya sedang mengandung. Ya, Byun Baekhyun bertemu dengan sang istri saat ia
memeriksakan masalah kulitnya.
Karena terpesona dengan kebaikan sang dokter, Byun Baekhyun jadi lebih sering menemuinya dan karena
tuhan sudah mentakdirkan keduanya untuk bersana jadilah mereka menikah.

D.O Kyungsoo, yang Kim Jong In
dengar ia sedang menjalin
hubungan dengan koki junior di
restorannya.

Oh Sehun, dia sudah bertunangan dengan gadis Jepang beberapa bulan lalu. Pertemuan mereka
terjadi saat Sehun menuntut ilmu di Jepang. Setelah vakum dari EXO, Sehun memilih untuk melanjutkan lagi sekolahnya di Jepang. Dan disanalah ia bertemu dengan gadis
yang sekarang resmi menjadi
tunangannya itu.

Suho, tentu saja ia menjadi seorang bos besar. Ia melanjutkan usaha ayahnya menjalankan perusahaan
yang memang sudah ditekuni
keluarga sang ayah sejak dulu.
Menikah? Tentu saja ia sudah
menikah. Ia malah yang lebih dulu menikah dibanding anggota lain. Tapi sampai saat ini ia belum mempunyai seorangpun anak. Entah karena Tuhan yang memang belum memberikannya atau karena pernikahan Suho itu hanyalah di karenakan sebuah perjodohan.
Perjodohan yang dilakukan oleh
kedua perusahaan besar di Korea.

Lalu bagaimana dengan Kim Jong In?

Ia bahkan tak dekat dengan wanita manapun. Bukan karena ia jelek atau tidak menarik, tapi karena ia memang selalu menghindar. Mungkin karena sosok Park Jiyeon begitu amat tak bisa ia lupakan sampai saat ini.

Kim Jong In, ia terbaring diranjang Super Big Size nya. Ia memandang langit-langit rumahnya itu.
Kemudian ia bangkit membuka laci yang tepat berada disamping
ranjangnya dan mengambil sesuatu.
Amplop.
Ia mengambil sebuah
amplop. Membukanya dan
mengambil selembar kertas terlipat dari dalamnya.
Surat.
Itulah selembar kertas yang saat ini ia genggam. Ia pun kembali berbaring dan mulai membacanya. Surat
terakhir yang diberikan Jiyeon
sebelum ia menghilang sampai saat ini.

Annyeong, Jong In-Ah!
Eoh, rasanya sudah lama sekali aku tak memanggilmu seperti itu.
Kau, masih sahabatku yang dulu
bukan?
Ya, tentu saja. Kau harus bangga
mempunyai sahabat secantik diriku.
Hahaha…..
Jong In-ah, beberapa waktu lalu aku bertemu dengan D.O oppa. Beliau menceritakan semuanya padaku.
Mian! Mianhae karena membuatmu begitu merasa bersalah padaku selama ini. Mianata!
Jong In-ah, kau tidak pernah
meninggalkanku. Kau hanya pergi sementara mengejar mimpimu. Kini, giliranku yang akan mengejar impian itu. Tahukah kau, sekarang aku sudah menemukannya. Menemukan impianku.
Rasanya benar-benar
menyenangkan.
Jadi , seperti inikah rasanya? 😀
Jong In-ah, gomawo sudah
menolongku saat itu. Gomawo sudah menjadi sahabatku selama ini. Meski mungkin selama beberapa tahun ini
kita tak banyak bertegur sapa
ataupun berbicara bersama, tapi
kurasa hati kita selalu bersama.
Benarkan!
Aaaah,,, Tanganku terasa pegal. Ini pertama kalinya bagiku menulis huruf sebanyak ini. Kurasa tulisanku tidaklah buruk! Hahaha….
Jong In-ah, gomawo telah lahir ke dunia ini dan berada disampingku dalam beberapa waktu ini. Kau adalah salah satu kebahagiaan yang hadir
dalam kehidupanku.
Sahabat terbaikku.
Saranghae.

Yeonnie mu
     ^___^

Kim Jong In, ia melipat kembali
surat itu, mendekapnya erat diatas dadanya. Iapun terpejam. Berharap dapat menemukan gadis itu mesti dialam mimpi sekalipun.

~INTERNATIONAL AIRPORT SEOUL~

Terlihat seorang pria berkulit putih dan berperawakan tinggi dengan rambut panjang berponi tengah mencari sosok orang yang akan menjemputnya.
Setelah Sehun menemukannya ia
pun langsung memeluknya dari
belakang.
Betapa terkejutnya pria itu saat tiba-tiba ada seorang wanita yang
memeluknya dari belakang. Rambut panjang indahnya terurai
dibahunya.

“Chogi……” Tanyanya berbalik.

Betapa terkejutnya ia saat melihat ternyata sosok yang ia fikir adalah seorang wanita ternyata adalah,

“OH SEHUN!”

“Hyuuuung!” Sehun kembali memeluk Suho yang memang sangat ia rindukan.

“Bhogosippo!” Tambahnya. Namun Suho masih belum bergerak, ia benar-benar sangat shock.

Merasa tidak mendapat respon, Sehunpun melepaskan pelukannya pada Suho.

“Waegeurae?” Tanyanya polos.

“Neo? Apa yang kau lakukan pada
rambutmu HAH?” Tanya Suho
meninggikan volume suaranya.

Sehun hanya mempoutkan bibirnya seraya mengelus rambutnya yang panjang.

“Wae? Bukankah ini sangat keren.” Jawabnya percaya diri.

“NEO MICHEOSSEO?”

Setelah perdebatan kecil itu, Suho langsung membawa Sehun untuk menemui para hyungnya yang lain.

“Hyung, bagaimana dengan anaemu? Apa masih belum ada tanda-tanda ia hamil?” Tanya Sehun.

Suho yang tengah  mengemudikan mobilnya
hanya diam tak menjawab
pertanyaan Sehun.
Sehun tau bahwa hyungnya itu saat ini benar-benar sedang marah padanya, tentu saja karena masalah rambutnya yang ia panjangkan itu.
Namun berbeda dengan Suho. Ia
sebenarnya merasa malu karena
sudah mengira orang yang
memeluknya adalah seorang gadis cantik, ternyata dia adalah Oh Sehun.

~GOGUNG~

Sesampainya Suho dan Sehun
direstoran milik D.O, mereka
langsung masuk menuju ruangan
D.O yang memang sudah ada D.O, Kai, Chanyeol dan Baekhyun disana.
Suholah yang diperintahkan oleh para dongsaengnya itu untuk menjemput Sehun dibandara karena itu sebagai bentuk hukuman bagi Suho yang
selalu absen saat mereka sedang
berkumpul bersama.

“Apa mereka ada didalam?” Tanya Sehun.

“Kau berisik sekali!” Bentak Suho

“Kya! Kenapa kau malah
membentakku, hyung?” Protes Sehun tak kalah keras suaranya.

Suho tak membalas. Ia langsung membuka pintu dan masuk terlebih dulu.

“Sehun eodi, hyung?” Tanya Kim
Jong In saat melihat Suho datang
sendiri.

“Ia akan muncul sebentar lagi.
Siapkan mental kalian.” Jawab Suho yang langsung duduk disamping D.O.

“Waeyo, Hyung?” Tanya D.O.

Dan,

~Cekleek~

Orang yang ditunggupun datang.
Semua yang melihatnya hanya
terdiam mematung.

“Hyuuuuung!” Lagi-lagi Sehun
merengek memanggil hyungnya.

Kim Jong In, ia langsung tertawa.
Sejak kemunculan Sehun ia sudah menahan tawanya, tapi sepertinya memang tidak bisa terlalu lama ia tahan.
Akhirnya keluar juga. Kim Jong In tertawa terbahak-bahak seraya memegang perutnya yang terasa sakit karena ia tertawa terlalu berlebihan.

“Kya! Kai! Apa yang kau tertawakan eoh?”

Kim Jong In masih saja tertawa saat Sehun bertanya padanya.

Byun Baekhyun, ia bangkit dari
tempat duduknya dan langsung
menghampiri Sehun, melihat lebih jelas lagi penampilan Sehun saat ini terutama rambutnya. Sehun yang
merasa jadi bahan lelucon para
hyungnya merasa kesal.

“Wae?” Tanyanya kesal pada
Baekhyun.

“Kawaiii!” Jawab Baekhyun
menggunakan bahasa Jepang.

“Mwo? Sincha?”

“Hai! Oh Sehun Kawaiii!”

Sehun langsung memeluk Baekhyun.
Ia menangis haru, akhirnya ada yang menyukai penampilan barunya juga.

“Apa selama 3 tahun kau tak
memotong rambutmu eoh sampai bisa sepanjang itu?” Tanya Chanyeol.

Sehun langsung melepaskan
pelukannya pada Baekhyun dan
berlari duduk disamping Chanyeol.

“Ne, hyung. Ini trend di Jepang.”
Jawabnya percaya diri.

“Jeongmalyo?” Tanya D.O antusias.

“Tentu saja, hyung!”

Kim Jong In menghentikan tawanya.

“Apa kau bilang? Trend? Bagaimana bisa penampilan seperti ini dibilang trend? Kau malah terlihat seperti wanita penggoda, Oh sehun.
Hahaha. …” Tawa Kim Jong In pecah kembali.

D.O langsung memukul ringan
Kim Jong In.

“Kau terlihat seperti Lee Taemin
SHINee di MV Sherlock, Hunnie.”
Ucap Baekhyun yang memang
menyukai gaya rambut Sehun.

“Apa karena kau ingin bersaing
dengan Taemin untuk mendapatkan Jiyeon eoh, mangkanya kau tak mau
kalah darinya?” Ucapan Chanyeol sontak membuat
Kim Jong In menghentikan tawanya.

~FLASHBACK ON~

Saat Kim Jong In keluar dari dalam ruangan Lee Soo Man, ia bertemu Lee Taemin.

“Bisa kita bicara?”

Kim Jong In tak menjawab. Ia hanya mengangguk. Lalu mengikuti arah kaki Taemin sampai tiba diruang ganti costum.

Kim Jong In masih terdiam. Yang ada difikirannya saat ini adalah keadaan Park Jiyeon setelah insiden pelemparan itu.

“Kim Jong In, apa kau mengenal Park Jiyeon?”

“Ne.”

“Pantas kau menolongnya!”

Jong in tak menjawab lagi.

“Apa kau menyukainya?”

Pertanyaan Taemin jelas membuat Kim Jong In terkejut. Bagaimana ia bisa menanyakan hal semacam itu.

“Apa kau menyukainya?” Kim Jong In malah membalikkan pertanyaan itu pada Taemin.

“Ne, nan joahe!” Jawab Taemin
membuat Kim Jong In semakin
terkejut.

“Aku hanya bersahabat dengannya.” Jawab Kim Jong In kemudian pergi meninggalkan Taemin.

“Kau berbohong Kim Jong In.” Batin Taemin

“Pantas waktu itu Jiyeon
memanggilku Kim Jong In. Ternyata yang dimaksud Jiyeon adalah kau.” Taeminpun keluar dari ruangan itu.

Setelah pintu tertutup ternyata
muncullah sosok Park Chanyeol yang memang tak sengaja mendengar semuanya karena ia memang tengah  mengganti pakaiannya disana.

~FLASHBACK OFF~

Suasana berubah hening.
Merasa suasana berubah panas, Suho mencoba mencairkannya.

“Eoh, aku sangat lapar. Bisakah kau memberikanku makan D.O-ah!”

“Ah, Ne. Akan kuambilkan hyung.” Balasnya membantu Suho
mencairkan kembali suasana.

“Ah ne hyung, nado! Nae Paegopaya, hyung!” Ucap Sehun manja seraya memeluk perutnya.

“Nado.” Tambah Baekhyun.

“Ah, ne. Akan kuambilkan untuk
kalian semua.”

Sebelum D.O bangkit dari duduknya, Kim Jong In sudah terlebih dahulu bangkit.

“Aku harus pergi. Masih ada urusan yang harus kuselesaikan.” Ucap Jong In keluar dari ruangan itu.

“Hyung! Kau menghancurkan
penyambutan kedatanganku setelah 3 tahun!” Sembur Sehun.

“Anak itu yang terlalu sensitif.
Mendengar nama gadis itu saja
sudah membuatnya lesu seperti itu.” Chanyeol membela diri.

“Kurasa Kkamjong pasti selalu makan hati terus bekerjasama dengan orang sepertimu.” Ucap Suho.

“Mwo? Kya hyung, kau fikir aku ini orang seperti apa eoh?” Tanya Chanyeol tak terima.

“Sudah-sudah! Dia juga sudah pergi, jadi tak perlu dibahas lagi. Mungkin dia memang sedang ada urusan.” Ucap D.O menenangkan kedua hyungnya itu.

“Kya D.o-ah, Palli! Ambilkan kami makanan.” Pinta Baekhyun.

“Ne, hyung! Aku sudah sangat lapar hyung!” Tambah Sehun.

D.O pun mengerti dan langsung
keluar ruangannya.

***

Seminggu telah berlalu sejak
kembalinya Sehun ke Korea.
Ia magang di Wooridul Spine
Hospital di Seoul. Ya, jurusan yang diambil Sehun saat menuntut ilmu di Jepang
adalah kedokteran. Karena
profesinya sebagai dokter kelak, maka ia memutuskan untuk memotong rambut panjang nan indahnya itu.

Saat selesai melakukan tugasnya
memeriksa beberapa pasien, ia
memutuskan untuk pulang. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang ia kenal.

“Apa itu Hyomin nuna?” Matanya
menyipit mencoba mempertajam penglihatannya. Kedua alis matanya menaut.

“Benar. Itu Hyomin nuna.” Ucapnya dengan yakin.

“Kurasa aku harus menyapanya.”
Saat ia akan melangkah mendekat, ia melihat Hyomin mengangkat Handphonenya yang berdering dengan senyum merekah.

“Jiyeon-ah!” Teriak Hyomin saat
menerima panggilan itu.

Sehun begitu terkejut mendengar nama yang keluar dari mulut Hyomin.

Park Jiyeon? Jiyeon nuna? Fikirnya.

Iapun mengurungkan niatnya untuk menghampiri Hyomin. Ia lebih memilih bersembunyi dibalik tiang penyangga dekat Hyomin berdiri berusaha agar
ia bisa lebih jelas mendengar
percakapan antara Hyomin dan juga Jiyeon.

“Ne. Jal Jinaesseyo?”

“Ah, bhogosippo Jiyeon-ah.”

“Eoh, Kondoi otteokhae?”

Mendengar Kondoi jelas saja Sehun terkejut.

“Kondoi?”
Ya, itu adalah sebuah pulau kecil
yang ada di Okinawa Jepang. Kondoi sangat terkenal dengan Coral Beach nya yang indah.

“Apa nuna tinggal disana?”Batinnya.

Hyomin menutup sambungan
teleponnya masih dengan senyum bahagia terpasang diwajahnya. Meski usianya tak
semuda dulu, tapi ia tetap eksis didunia hiburan Korea. Ia menjadi model diberbagai majalah terkenal.
Meski ia sudah menikah, tapi wajah dan tubuhnya yang langsing masih terlihat begitu indah.
Tak lama keluarlah sosok Boram dan Qri dari sebuah ruangan yang ada dihadapan Hyomin.

“Eotteokhae, eonnie?” Tanya Hyomin.

“Dokter bilang aku harus
mengurangi konsumsi makanan pedas dan lebih banyak lagi mengkonsumsi air putih.” Jawab Boram.

“Kehamilan pertama memang
merepotkan.” Ucap Qri berkomentar.

“Seperti kau sudah pernah
mengalaminya saja, Qri-ah.” Ucap Hyomin.

“Ne. Setelah pertunangan ini aku
akan menikah dan punya anak.”
Jawab Qri kesal.

“Sudahlah! Sebaiknya aku lebih
banyak bertanya pada Soyeon.
Diakan sudah punya 2 anak, jadi dia pasti lebih berpengalaman.”

“Ne eonnie, aku setuju!” Timpal Qri.

~Kediaman Kim Jong In~

“Apa yang harus kulakukan, Yeonnie?
Bahkan untuk melupakanmupun aku tak bisa.” Ucap Kim Jong In terduduk lemah disofa ruang tamunya yang besar setelah meminum segelas wine.

“Kai!” Teriak Sehun setibanya
dikediaman Jong In.

“Kau benar-benar seorang peminum yang buruk, Kai!” Komentar Sehun saat
mengetahui Kai telah mabuk.
Ia membereskan botol-botol wine dan satu gelas yang dipakai Kim Jong In untuk minum tadi.

“Park Jiyeon! Aku menemukannya,Kai.”

~Kondoi, Okinawa Jepang~

Kim Jong In, ia telah tiba di Coral
Beach. Setelah Sehun mengatakan semuanya, ia memutuskan untuk datang kesana.

“Kau! Tamatlah riwayatmu Park
Jiyeon!” Geram Jong In.

Kim Jong In, ia berjalan kaki
dipinggir Coral Beach didekat hotel Taketomi-Jima yang memang ia memesan
kamardihotel itu.
Langkahnya terhenti saat melihat
sosok yang amat ia rindukan
bertahun-tahun.
Park Jiyeon.
Ya, Ia melihatnya. Melihat Park Jiyeon yang sedang menatapnya. Sepertinya iapun terkejut saat melihat kehadiran Kim Jong In disana.
Tanpa menunggu waktu lama, Kim Jong In langsung mendekat.

Park Jiyeon, ia masih terdiam
ditempatnya sampai jarak diantara keduanya hanya tinggal 5 centimeter lagi.

“neo?” Ucap Jiyeon dan Kim Jong In, ia langsung menarik tengkuk Jiyeon. Melumat bibir mungil Jiyeon.

~CUP~

Sontak itu membuat Jiyeon sangat terkejut.
Jiyeon coba mendorong tubuh Jong In namun tak berhasil.
Jong In, Ia melumat bibir Jiyeon lebih dalam lagi. Memeluk pinggang Jiyeon erat, Sampai,

“Eommaaaaaaaa!” Teriak bocah kecil berumur 3 tahun.

Jong In pun langsung menghentikan aksinya.
Jiyeon langsung tersadar
dan langsung menghampiri gadis kecil yang memanggilnya.
Sedangkan Jong In, namja itu begitu amat terkejut.

“Eomma? Apa Jiyeon sudah menikah dan mempunyai anak? Apa itu anaknya?” Batinnya.

“Eoh Mimi-ah.” Jiyeon langsung
menggendongnya.

“Apa yang eomma lakukan? Apa
Ahjussi ini kekasihmu?”

Pertanyaan bocah perempuan itu
membuat Kim Jong In semakin terkejut sekaligus bingung.

“Apa mungkin suami Jiyeon sudah meninggal? Apa mungkin ayah dari anak ini sudah meninggal? Atau apakah pria itu masih hidup dan meninggalkan Jiyeon dan anaknya?”
Fikir Jong In lagi dan lagi.

Park Jiyeon juga sangat terkejut atas pertanyaan Mimi. Bagaimanapun juga
Mimi hanyalah seorang anak berusia 3 tahun yang belum mengerti apapun.
Sampai sosok Kim Mi Sun datang.

“Mimi-ah!” Teriak Mi Sun memanggil Mimi. Iapun mendekat dan melihat
sosok Kim Jong In.

“Eoh, Neo! Kim Jong In? Kai?”

“Ah, Ne. Annyeong!” Sapa Jong In seraya membungkukkan tubuhnya.

“Kajja, Mimi!” Ajak Mi Sun
meninggalkan Jiyeon bersama Jong In.

Hening.
Itulah yang terjadi saat ini.
Mereka sedang duduk di pinggir
pantai.

“Oraemanieyo, Jong In-ah” Sapa
Jiyeon memulai percakapan, Meski sebenarnya jantungnya masih belum berdetak normal paska ciuman tadi.

Jong In hanya tersenyum tak
membalas.

“Ottoshimnika?” Tanya Jiyeon.

“Jal Jinaesseyo.” Jawab Jong In.

Keduanya kembali larut dalam
pikiran masing-masing. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin mereka tanyakan, namun lidah mereka terasa kelu
saat ini. Sampai Jiyeon bangkit,  membuat Jong In terkejut dan langsung mendongak ke arah Jiyeon yang saat ini sudah berdiri tegap.

“Akuuu… Aku harus segera kembali!”

Jiyeon membungkuk kemudian berniat pergi, namun tangannya digenggam erat Kim Jong In.

“Menikahlah denganku!” Ucap Kim Jong In mantap.

Jiyeon yang mendengarnya langsung menatap Jong In yang masih duduk diatas pasir.

“Mwo?”

Jong In langsung bangkit, tangannya masih menggenggam erat tangan Jiyeon.

“Menikahlah denganku! Tak peduli gadis kecil itu adalah anakmu, aku akan tetap menikahimu. Tak peduli
saat ini kau sedang menjadi istri
siapa, aku akan merebutmu darinya. Tinggallah disisiku! Jadilah istriku!”

Jiyeon, dia benar-benar terharu. Ia menangis menunduk
menyembunyikan air matanya.

“Kau sama sekali tak romantis Kim Jong In! Bagaimana bisa kau
menikahi seseorang sebelum kau mengatakan perasaanmu padanya. Hiks…” Ucap Jiyeon dengan tangisnya.

“Saranghae! Saranghae Park Jiyeon.” Balasnya. Ia pun langsung memeluk tubuh Jiyeon.

Tangis mereka berdua pecah.
Keduanya saling melepas rindu.

~HIKKADUWA~

“Kau ini benar-benar lucu nona Park Jiyeon. Setelah puas menangis bagaimana bisa yang ingin kau lakukan setelahnya adalah makan Ice Cream.” Ucap Kim Jong In yang tak pernah bosan menatap Jiyeon yang sudah menghabiskan 3 porsi
Ice Crean Jumbo di restoran dekat Coral Beach.

Kim Jong In tersenyum melihat
Jiyeon yang masih asik melahap Ice Cream. Ia benar-benar merasa bahagia saat ini. Lalu ia mengingat akan sesuatu.

“Mimi? Nugunde?”

“Eoh, dia anak Mi Sun eonnie. Mi
Sun eonnie adalah anae Hyo Joon oppa.” Jawab Jiyeon. Park Hyo Joon adalah kakak satu-satunya Jiyeon.

Kim Jong In yang mendengarnya
begitu merasa lega.

“Syukurlah!”

“Jadi apa kau benar-benar berpikir bahwa Mimi adalah putriku?”

“Tentu saja. Dia memanggilmu
eomma.” Jawab Jong In kesal yang justru membuat Jiyeon
tertawa.

Jong In merasa kesal
ditertawakan seperti itu.

“Geumanhae, Park Jiyeon!” Tegasnya.

Namun Jiyeon masih saja tertawa.

~CUP~

Kecupan singkat dibibir Jiyeon
berhasil membuat Jiyeon
menghentikan tawanya.

“Kya!” Teriak Jiyeon.

~NAHA~

Kim Jong In dan Park Jiyeon saat ini berada dikediaman Park Jiyeon.
“Jadi kau tinggal disini selama ini?”

“Eum.”

“Kemana Ahjumma dan Ahjussi?”

“Saat aku memutuskan untuk tinggal di Jepang itu adalah saat dimana eomma dan appa memutuskan untuk berpisah.”

“Mwo?”

“Mereka bercerai seminggu sebelum aku mengatakan hengkang dari T-ara. Aku sungguh tak tau alasan
mereka melakukannya. Lalu
kuputuskan untuk ikut bersama Hyojoon oppa ke Jepang dan tinggal disini.”

Jong In langsung mendekap tubuh Jiyeon. Mengelus rambut panjang Jiyeon dengan lembut dan mengecup puncak kepalanya singkat.

“Mian. Aku selalu tak ada
disampingmu saat kau terluka.”

“Nan Gwaenchana, Jong in-ah. Eoh, Mana cincinnya? Bukankah kau sudah melamarku! Kau bahkan tak memberiku cincin.” Tanya Jiyeon melepas pelukan Jong In.

Jong In sedikit berfikir lalu tersenyum tanpa dosa.

“Itu…. Aku belum membelinya.”

“MWO?”

“NEO! BERTAHUN-TAHUN AKU
MENCARIMU. BERTAHUN-TAHUN AKU HAMPIR GILA KARENA TAK MENDAPAT KABAR APAPUN DARIMU. BERTAHUN-TAHUN AKU HAMPIR MATI KARENA MERINDUKANMU. DAN
SETELAH AKU MENEMUKANMU KAU FIKIR AKU AKAN MENYIA-NYIAKANNYA EOH? CINCIN? APA ITU PENTING SAAT INI? AKU AKAN MEMBERIKANMU SERIBU CINCIN BERLIAN YANG KAU INGINKAN. APAPUN YANG KAU INGINKAN AKAN KUBERIKAN ASALKAN KAU JANGAN
PERNAH BERANI UNTUK PERGI LAGI DARIKU DAN TETAPLAH
DISAMPINGKU. AKU TAK AKAN
PERNAH MELEPASKANMU LAGI PARK JIYEON!”
Kim Jong In akhirnya mengatakan semuanya.

Jiyeon terlihat begitu terkejut
dengan semua perkataan Jong In
barusan. Ini pertama kalinya ia
mendengar Jong In berbicara
panjang lebar seperi itu. Ia lalu
tersenyum manis dan kembali
memeluk Jong In.

“Mianhae. Sepertinya kau benar-
benar tersiksa tanpaku tuan Kim
Jong In.” Goda Jiyeon.

Jong In mengeratkan pelukannya.

“Kau kuhukum untuk selalu berada disisiku nona Park Jiyeon.”

“Ne tuan Kim.”

Mereka berduapun tertawa.

***

Jiyeon menyiapakn makan malam.

“Kau sudah sangat cocok menjadi
seorang wanita rumah tangga nona”

“Makanlah!”

“Eum.”

Mereka berduapun makan bersama.

“Eoh, bagaimana kabar Taemin?
Bukankah kalian berdua berteman baik!”

Jong In tersendak mendengar
pertanyaan Jiyeon.

“KYA! KENAPA KAU MENANYAKANNYA EOH?”

“Ige mwoya?” Jiyeon bingung karena kemarahan Jong In.
Sebenarnya Jiyeon tak pernah tau bahwa Taemin sempat menyukainya dulu.

“AKAN KUBUNUH DIA JIKA BERANI MEREBUTMU DARIKU!’

“Errrrr, ada apa denganmu tuan Kim Jong In? Kau benar-benar sangat mengerikan! Keunde, sejak kapan kau mengenal Taemin? Kau bahkan tak pernah menceritakannya padaku.”

“Sejak kecil. Kami dulu selalu menari bersama sampai dia lulus audisi dan menjadi Trainee di SM Entertainment dan aku pindah rumah. Eoh, lalu apa yang kau lakukan di Naha?”

“Aku dan Hwa membuka sebuah
tempat latihan menari.”

“Hwa? Hwayoung? Ryu Hwayoung?”

“Ne. Wae? Kami berdua sangat
dekat. Kejadian dimasa lalu hanya sebuah kekhilafan. Bukankah kau juga pernah melakukan kesalahan dimasa lalu
padaku.”

Jong In langsung diam mendengar sindiran Jiyeon.

Selesai makan, Kim Jong In
memutuskan untuk bermalam
dirumah Jiyeon.
Hyojoon?
Ia tak tinggal bersama
oppanya sejak oppanya menikah.

***

Saat ini keduanya tengah
berpelukan diatas ranjang kamar
Jiyeon.

“Kembalilah bersamaku ke Korea!”

Jiyeon sedikit ragu untuk menjawab.

“Kau harus menjadi nyonya Kim
disana.”

Jiyeon hanya menenggelamkan
kepalanya didada bidang Kim Jong In. Memeluknya makin erat.
Begitupun sebaliknya.

“Saranghae!”

“Nado saranghae oppa!”
Untuk pertama kalinya Jiyeon
memanggil Kim jong in oppa.

***

Saat ini Jiyeon sedang berada
digereja diruang make up menanti kedatangan sang mempelai pria.

“Akan kubunuh kau Kim Jong In.”

“Apa dia belum datang?” Tanya
Eunjung.

“Belum Eonnie.” Jawab Hyomin.

Sementara itu didalam tempat
pengucapan janji suci digereja pun sudah terlihat tegang para tamu yang menghadiri acara pernikahan Kim Jong In dan juga Park Jiyeon.

“Dia akan menghancurkan acaranya sendiri.” Ucap Chanyeol.

“Ku dengar dia baru bangun.”
Tambah Suho.

“Kenapa bisa disaat penting seperti ini pun masih saja terlambat bangun.” Gerutu Sehun.

“Kajja hyung kita bernyanyi sampai menunggu pengantin pria datang.” Usul D.O.

“Kau benar. Setidaknya akan
mengurangi ketegangan para tamu yang hadir.”

D.O dan Baekhyunpun menyanyikan sebuah lagu. Dan tak lama Kim Jong
In pun datang.

“Tak salah aku membeli banyak
mobil sport.” Gumamnya.

“Dia sudah datang,” Teriak Qri.

“Syukurlah!” Ucap Boram.

“Tenangkan dirimu Jiyeon-ah!” Ucap Soyeon menenangkan.

Jiyeon hanya tersenyum kecut.
Ia pun mulai memasuki altar
didampingi sang kakak. Appa,
Eomma serta Kakak ipar dan
keponakannya Mimi ikut menghadiri acara bersejarah bagi hidupnya ini.
Taemin yang tengah melaksanakan wajib militernya tidak bisa hadir.
Onew dan para member SHINee lain pun ikut hadir. Hwayoungpun turut menghadiri acara tersebut.
Semuanya begitu terpesona dengan penampilan Jiyeon.

“Kau membuatku hampir mengamuk tuan Kim.”

“Mianhae.” lirih Jong In.

“Kau sangat cantik nyonya Kim.”
Tambahnya

“Tentu saja.”

D.O dan Baekhyun berhenti
bernyanyi dan pengucapan janji
sucipun berlangsung dengan hikmat.

“Gomawo.”

Jiyeon hanya tersenyum bahagia. Lalu Jong In mengecup singkat bibir Jiyeon yang disaksikan oleh semua tamu yang hadir.

~CUP~

“Eoh, kau belum memberitahukan padaku tentang mimpimu.”

“Mimpiku? Mimpiku adalah dirimu Kim Jong In. Dari dulu hingga saat ini hingga masa depanpun hanya kau lah impianku.”

Keduanya tersenyum bahagia
begitupun para tamu yang hadir
ikut merasakan kebahagiaan mereka.

Cinta itu bukanlah meminta,
Melainkan memberi.
Memberi Maaf,
Memberi Kesempatan,
Memberi Kepercayaan,
Memberi Pengertian,
Memberi Kesetiaan dan tentu saja
Memberi ketulusan.

Wekweeeeeew
Eotteokhae?
Endingnya pie?
Langsung di coment z ye!
Coment Jusaeyo!

FF Kai Jiyeon (Zero) Part 2 – Ending

image

                       ZERO
                (Ending Part)

Main cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jong In aka Kai (EXO)
Ryu Ryan
Teddy Park (YG)
Kim Woo Bin
Kim Hyo Yeon (SNSD)
Oh Sehun (EXO)

Genre:
Tragedi, Family, Romance, Sad

Length:
Two Shoot

Song ficts:
TVXQ  Why did I fall in love with you

A/N:
Nih datang lagi author nya bawa kelanjutan FF Zero yang tadi pagi di republish.
Pernah di publish di tanggal 28 Februari 2014 masih di Facebook pribadi author.
Pengennya si ga ada yang jadi siders, tapi ternyata cukup parah juga ya kalo posting FF di WP.  Siders nya malah jadi bertebaran di setiap sudut kata #plak
Monggo langsung di comot nih, der!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

Ryan, dia membuka memo usang
terlebih dahulu.

Lembar pertama

Aku melakukannya lagi

                       22 Maret 2003

Lembar ke dua sampai seterusnya hanya tertulis kata,

“Lagi”

Sampai entah lembar keberapa,

Tua bangka itu mengambilnya

                                Mei 2008

Dan dibagian akhir

Giliranku yang mengambil

                      November 2008

Tepat pada bulan itulah appa
mereka meninggal.
Ryan semakin bingung. Namun ia
ingat bulan itulah ayahnya
dikabarkan meninggal jatuh dari
atap apartement karena mabuk.
Kemudian Ryan mulai membuka buku diary yang ia temukan.

Lembar pertama

Pria itu. Dia begitu baik. Benar-benar sangat baik. Senyuman itu
begitu menenangkanku. Aku
merindukan senyuman itu.

                       Agustus 2013

Lembar demi lembar hanya
menceritakan semua tentang Pria itu.
Hanya “Pria itu” yang tertulis.
Tak ada nama yang tertulis disana.
Terlihat jelas bahwa Jiyeon begitu menyukai Pria tersebut.

“Apa pria yang dimaksud adalah pria yang ada di foto itu?” Pikir Ryan.

Sampai tiba di lembar yang terdapat tulisan terakhir Jiyeon karena tidak ada lagi
tulisan Jiyeon pada lembar
berikutnya.

Dari awal, lehidupanku memang
begitu menyedihkan. Begitu kosong.
Dari mulai perceraian antara eomma dan appa yang membuatku harus terpisah dengan dongsaengku. Sampai appa yang selama ini kupikir bisa menjadi sosok yang dapat kuandalkan mengambil kebahagiaanku.
Mengambil hal yang paling berharga dalam hidupku.

Ryan menangis. Sungguh ia tak tau bahwa sang kakak begitu menderita selama ini. Dan apa maksud dari mengambil hal yang paling berharga itu?
Apakah mungkin?

Aku menjadi sosok yang suka
mengambil barang milik orang lain sejak perceraian itu.
Bagaikan candu, aku melakukannya lagi dan lagi.
Sungguh hanya hal itulah yang
mampu membuatku merasa senang dengan keadaan saat ini.
Sampai si tua itu merenggutnya.
Sungguh malam itu malam petaka bagiku.

Air mata Ryan kembali keluar
semakin deras. Ternyata benar
dugaannya, appa mereka melakukan hal bejad itu pada Jiyeon.

Aku, aku mengambilnya kembali. Bukan barang atau benda yang biasa ku ambil kali ini, melainkan nyawa si tua bangka itu.
Malam itu, tepat malam ulang
tahunku aku mendorongnya hingga terjatuh dari atas atap apartement.

Ryan menutup mulutnya. Ia makin terisak.

“Eonnie… Hiks…” Lirihnya.

“Jadi kau melakukannya?” Sungguh Ryan tak sanggup melihat tulisan terakhir Jiyeon lebih jauh lagi. Ia takut akan kemungkinan yang lebih buruk lagi dari ini. Tapi dia berusaha kuat. Tetap membacanya.

Hidupku semakin memburuk. Aku harus mencari uang sendiri. Aku juga sempat terlunta lunta selama beberapa hari. Sampai tiba disebuah toko bunga. Disitulah aku bertemu dengannya. Bertemu pria itu. Kim Jong in.

Akhirnya Ryan tau nama pria yang dimaksud Jiyeon dalam tulisannya.

Kami semakin hari semakin dekat dan akrab.
Ia selalu berada disampingku.
Sampai kejadian terkutuk itu kembali terjadi, kakaknya coba melakukannya padaku malam itu. Namun dengan segala kekurangannya, Kim Jong In
mati-matian menyelamatkanku.
Sejak kejadian itulah aku tak berani lagi menginjakkan kaki ditoko bunga itu.
Pria itu, Kim Jong In, sampai saat ini aku tak pernah bertemu lagi dengannya.
Pernah aku datang sembunyi-
sembunyi ke toko bunga itu namun nihil, tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya sampai detik ini.

Ryan mulai menyadari bahwa
eonninya itu begitu menyukai pria bernama Kim Jong In.

Aku, ingin sekali bertemu
denganmu.
Mengatakan terimakasih atas semua yang kau lakukan padaku selama ini.
Dan mengatakan bahwa aku menyukaimu.
Tidak, tapi aku jatuh cinta padamu.
Saranghae, Kim Jong In.

Hanya itu tulisan terakhir Jiyeon.
Ryan akhirnya mengetahui tentang kebiasaan
yang Jiyeon lakukan atau mungkin lebih tepatnya KLEPTO. Mengetahui tentang kematian appa mereka yang memang
sengaja dilakukan Jiyeon. Tentang perbuatan tidak senonoh yang dilakukan sang appa serta tindakan serupa yang hampir dilakukan oleh
sang hyung dari pria bernama Kim Jong In. Yang dapat Ryan simpulkan adalah bahkan sampai Jiyeon meninggalpun Jiyeon belum berhasil bertemu kembali dengan sosok Kim Jong In.

Mengingat semua yang dialami
Jiyeon selama masih hidup semakin membuat Ryan sedih, merasa bersalah karena sebagai saudara bahkan Ryan tidak ada disamping Jiyeon saat Jiyeon benar-benar butuh tempat bersandar.

“Mianhae, Eonnie. Mianata! Hika…” Tangis Ryan kembali pecah.

***

Keesokan harinya Ryan memesan tiket dengan tujuan Minato Tokyo. Dia akan kembali ke Jepang besok pkl 05:00 pagi.
Selesai memesan tiket ia segera
mencari tau perihal Kim Jong In.
Ryan mendatangi setiap toko bunga sampai ia menemukan sebuah toko bunga bernama

~Wiryeo _ Seong~

Ryanpun masuk kedalam toko bunga itu sampai ia bertemu dengan seorang wanita paruh baya.

“Mungkin sang pemilik.” Pikirnya.

“Selamat datang, Agasshi!” Sapa sang Ahjumma ramah.

“Ne.”

“Apa ada yang bisa saya bantu?
Bunga jenis apa yang agasshi cari? Akan saya bantu menemukannya.” Tawar sang Ahjumma.

“Aniya. Saya kesini bukan untuk
mencari bunga.” Jawaban Ryan jelas membuat sang
Ahjumma itu merasa heran.
Bagaiman bisa seseorang tidak
mencari bunga sedangkan ia datang ke toko bunga?

“Ahjumma, saya mencari pria
bernama Kim Jong In.”

Sontak membuat sang Ahjumma itu terkejut saat Ryan menyebutkan nama Kim Jong In.
Ryan pun memberikan selembar foto pada
sang Ahjumma.

“Ige!”

Tentu saja sang Ahjumma mengenal baik pria yang ada difoto itu.

“Untuk apa kau mencarinya?” Tanyanya.

“Aku hanya ingin bertemu
dengannya. Ada suatu pesan yang harus kusampaikan padanya.” Jawah Ryan.

“Apa kau mengenalnya? Lalu pesan apa yang akan kau sampaikan padanya?”

Ryan mulai kesal. Ahjumma yang ada dihadapannya ini begitu ingin tau sekali. Bukankah ia hanya perlu
menjawab mengenal Kim Jong In
atau tidak.

“Ani. Saya tak mengenalnya. Eonnie, Eonnie sayalah yang mengenalnya. Keunde mianhae, Apakah anda mengenal Kim Jong In atau tidak Ahjumma? Saya benar-benar harus
segera bertemu dengannya.”

Sang Ahjumma memperhatikan
wajah Ryan dengan seksama. Eonnie?
Itulah yang dikatakan gadis cantik
yang ada dihadapannya ini. Ia
merasa gadis ini mirip dengan
seseorang yang ia kenal beberapa tahun terakhir ini.

“Chogi, apa yang kau maksud Park Jiyeon Agasshi?”

“Ah, ne. Anda mengenal eonnie,
Ahjumma?”

“Eonnie? Apa kau dongsaengnya?”

“Ne, Ahjumma. Naneun
yeodongsaeng Jiyeon eonnie.” Jawab Ryan.

Akhirnya Ryan bisa bertemu dengan orang yang mengenal Jiyeon saat masih hidup.

“Bukankah dia sebatang kara?”

“Eoh? Ne. Saya dan eonnie terpisah sejak kecil. Ia bersama appa dan saya bersama eomma. Kami tinggal di Jepang.”

“Kalian memang terlihat sangat
mirip. Sama-sama memiliki paras yang cantik.”

“Ah, kamsahamnida!” Balas Ryan seraya menunduk.

“Bagaimana kabarnya?”

“Eonnie. Dia sudah meninggal,
Ahjumma.” Jawab Ryan sedih.

Begitu terkejutnya sang Ahjumma mendengar jawaban Ryan.

“Ia meninggal beberapa bulan lalu.” Tambahnya.

Sang Ahjumma hanya diam. Ia masih tidak percaya dengan yang dikatakan Ryan barusan.

“Bagaimana ini bisa terjadi?
Bagaimana bisa sama?” Batin sang Ahjumma.

“Ahjumma, apakah anda juga
mengenal Kim Jong In? Bisakah anda membawaku untuk menemuinya?”

Sang Ahjumma terdiam. Kemudian,

“Ikutlah denganku!”

“Ne?”

“Aku akan membawamu
menemuinya.”

“Ah Jeongmalyo? Kamsahamnida
Ahjumma!” Ucap Ryan seraya
membungkuk berterima kasih.

Sang Ahjumma mengunci pintu toko bunganya terlebih dahulu setelah itu iapun pergi bersama Ryan.

“Pemakaman?” Tany Ryan setiba
mereka ditempat yang dimaksud
sang Ahjumma.

Ryan semakin bingung, sampai sang Ahjumma berhenti didepan sebuah makam.

“Kim Jong In.” Eja Ryan saat
membaca nama yang tertera pada batu nisan.

“Ahjumma?” Tanyanya ingin segera mendapat penjelasan.

“Ne. Ia sudah meninggal. Kim Jong In, putraku sudah meninggal dunia.” Jawaban sang Ahjumma semakin
membuat Ryan terkejut.

“Park Jiyeon. Gadis itu begitu baik. Ia datang dalam keadaan
menyedihkan saat itu.” Lanjut eomma Kim Jong In yang ternyata adalah Kim Hyoyeon.

~FLASHBACK ON~

“Aku harus kemana?” Ucapnya
dengan tubuh menggigil.
Ia basah kuyup.
Ia diusir oleh sang pemilik apartementnya yang dulu karena ia belum melunasi biaya
sewa kamar selama 2 bulan.

Sejak appanya meninggal ia bekerja paruh waktu.
Mencuci piring disebuah restoran atau sekedar mencucikan pakaian para tetangganya. Namun penghasilannya itu tentu tak
cukup. Ia juga perlu makan dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sekolah.

Sampai ia tak mampu berjalan lagi. Ia pingsan tepat didepan sebuah toko bunga. Lalu Kim Hyoyeon dan Kim Jong In menolongnya.

~FLASHBACK OFF~

“Gadis itu membuat Kim Jong In
selalu tersenyum setiap hari. Aku membiarkannya tinggal dan
mempekerjakannya disini.
Kim Jong In begitu bahagia dengan kehadiran gadis itu.
Park Jiyeon, gadis itu begitu tulus mau berteman dengan Kim Jong In yang memiliki kelainan mental.” Akhirnya Hyoyeon mulai bercerita tentang masalalu antara dirinya dan juga puteranya, KimJong In, Saat bertemu pertama kali  dengan Park Jiyeon, Kakak Ryu.

“Mwo? Mworagoyo Ahjumma?” Ryan nampak tak mempercayai apa yang baru saja terlontar dri bibir Hyoyeon.

“Ne, Kim Jong In, putraku itu seorang autisme. Itu yang menyebabkan ia tak memiliki seorangpun teman. Sampai Park Jiyeon datang. Berteman dengannya. Itulah hal
yang membuatku merasa bahagia. Akhirnya putraku memilili kehidupan normal layaknya orang normal lainnya.”

“Lalu, bagaimana bisa ia……”
Ryan tak dapat melanjutkan kembali ucapannya.

“Dia bunuh diri!” Jawab Hyoyeon seolah mengerti dengan arah pertanyaan Ryan.

“Mwo?” Ryan kembali dikejutkan
dengan penuturan sang Ahjumma.

“Ne, dia bunuh diri. Semenjak
kepergian Jiyeon ia semakin tak
terkendali. Sampai peristiwa buruk itu terjadi.” Ucap sang Ahjumma. Air mata yang ia tahan akhirnya lolos juga keluar dari pelupuk matanya.

Ryan langsung memeluk sang
Ahjumma. Memberikannya ketenangan.
Bagaimanapun juga ia amat tau
bagaimana perasaan sang Ahjumma saat ini, karena ia pun mengalami hal yang sama.
Kehilangan saudara satu-satunya
yang belum sempat ia temui selama bertahun-tahun.

“Tenanglah, Ahjumma!” Ucap Ryan seraya menepuk punggung
sang Ahjumma lembut.

Sang ahjumma pun melepaskan pelukan Ryan dan menghapus air matanya.

“Mianhae agasshi, saya terlalu
terbawa emosi.” Hyoyeon nampak menyesal.

“Gwaenchanayo, Ahjumma. Ryan. Namaku Ryan. Ahjumma boleh memanggilku Ryan.”

“Ah Ne, Ryan-ssi. Tapi apa yang
menyebabkan Jiyeon juga meninggal dunia, Ryan-ssi? Apakah ia mengalami kecelakaan? Ataukah ia sakit?” Hyoyeon pun nampak penasaran dengan kematian Park Jiyeon.

“Eonnie. Ia meninggal dengan cara yang sama dengan yang Kim Jong In lakukan, Ahjumma.”

“Jeongmalyo? Bagaimana mereka berdua bisa melakukan hal yang sama?” Hyoyeon tak habis pikir mendengarnya.

“Eonnie, dari buku diary yang
kutemukan kemarin, Ia menyukai Kim Jong In. Ia jatuh cinta padanya. Ia berkali-kali datang ke toko bunga namun tak berhasil menemuinya. Itulah yang ia tulis dibuku diarynya, Ahjumma.” Jawab Ryan menjelaskan.

“Apa mungkin ia mengetahui bahwa Kim Jong In telah meninggal dunia?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir seoramg Kim Hyoyeon.

Ryan berfikir keras. Bisa jadi Jiyeon melakukan hal itu karena ia mengetahui bahwa orang yang amat ia cintai telah meninggal dunia.
Bagaimanapun juga hanya Kim Jong In lah seseorang yang dijadikan penyemangat hidupnya.

Setelah Ryan kembali dari makam Kim Jong In, ia pun segera pergi ke makam Jiyeon. Setelah itu ia pun segera pulang.
Mengepack barang-barang untuk
keberangkatannya kembali ke Jepang besok pagi.

~~~~~~~~

~MEMORY OF PARK JIYEON~

1998, 6 Year Old

“Eonnie, aku juga ingin bersekolah. Aku ingin ikut bersamamu, Eonnie!” Rengek Ryan kecil.

“Ne. Setelah kau besar dan usiamu 6 tahun kau akan bersekolah juga seperti eonnie. Kita akan berangkat sekolah bersama-sama nantinya.” Balas Jiyeon kecil mengusap lembut
kepala dongsaengnya.

2003, 11 Years old

“Eonnie, apa kita akan berpisah?
Kenapa mereka melakukannya?”
Tanya Ryan yang saat itu berusia 9 tahun.

“Gwaenchanayo. Kita akan bertemu sesering mungkin Ryannie.” Jawab Jiyeon lembut.

2003-2008

Jiyeon mulai terbiasa mengambil
barang-barang milik orang lain. Hal itu membuatnya merasa terhibur. Ia merasakan ada sesuatu yang menyenangkan saat melakukannya.

MEI 2008, 16 Years old

“Appa, Jebal! Andwaeyo!” Tangisnya saat sang appa mulai menanggalkan seluruh pakaiannya, sampai peristiwa
terkutuk itupun terjadi.

NOVEMBER 2008, 17 Years old

“Mianhae, appa! Aku sudah lelah dan muak dengan semuanya. Mian!” Ucapnya saat berhasil mendorong tubuh sang Appa yang tengah mabuk. Membuat sang Appa akhirnya terjatuh dan meninggal dunia.

JANUARI 2009, 17 Years old

“Eommaaaaaaa Ada mayaaaat!”
Teriak Kim Jong In yang saat itu
sedang berada didalam toko bunga,
Sang Eomma jelas tidak tau.
Ia pun berteriak asal.
Kim Jong In yang
mempunyai penyakit autis mulai
menarik tubuh Jiyeon. Menariknya hingga berhasil masuk kedalam toko bunga.

“Yeoppo!” Ucapan itu lolos begitu saja dari mulut seorang Kim Jong In.

Ia pun mulai berani menyentuh
wajah Jiyeon.
Panas.
Itu yang ia rasakan saat menyentuh kening Jiyeon.
Ia langsung mengambil jaketnya.
Menutupi tubuh Jiyeon dengan
Jaket tersebut.
Ia langsung ikut berbaring di
samping Jiyeon dan memeluknya.
Itulah yang biasa eommanya lakukan saat ia terkena demam.

Sampai keesokan harinya.
Saat Jiyeon membukakan mata, tepat dihadapannya ada pria yang sedang memeluk tubuhnya. Jarak wajah mereka hanya beberapa inci. Tubuh
mereka berdua terhimpit karena
pelukan Kim Jong In.
Hangat, itu yang Jiyeon rasakan.
Benar-benar sangat nyaman.
Benar-benar menyenangkan.
Sensani ini lebih membuatnya
merasa bahagia dibanding saat
mengambil barang-barang milik
teman-temannya.

Masih belum bergeming dari
posisinya semula. Ia terus memperhatikan wajah Pria
itu. Melihat setiap lekuk yang ada pada wajah Pria itu.
Sampai sang Pria perlahan-lahan
membukakan matanya.
Pria itu tersenyum sangat manis
membuat Jiyeon pun tanpa sadar
ikut tersenyum.
Mereka berdua saling melempar
senyum masih dalam posisi tubuh berhimpitan.
Mungkin saat itulah keduanya saling jatuh cinta.
Sampai sang Ahjumma atau lebih
tepatnya Kim Hyoyeon eomma Kim Jong In datang.

“Kya! Apa yang kalian lakukan?”

Kim Jong In dan Jiyeon masih saling tersenyum dan berpelukan. Masih
belum menyadari sosok yang baru saja meneriaki mereka berdua sampai sang Ahjumma menarik tangan Kim Jong In. Membuat pelukannya pada Park Jiyeon terlepas.

“Eommaaaaaaa….” Rengeknya dan saat itulah Jiyeon menyadari bahwa pria ini berbeda darinya.

“Kim Jong in, siapa dia? Apa yang
kalian lakukan hah?”

Akhirnya Jiyeon mengetahui nama pria itu.
Jiyeon bangkit namun tubuhnya
ambruk lagi. Refleks sang
Ahjummapun membantu
memapah tubuhnya.

“Neo, gwaencahanayo?” Tanyanya pada jiyeon.

Jiyeon kembali pingsan.

“Eommaaa, kau membuatnya mati lagi. Huwaaaa….” Tangis Kim jong in.

Setelah kejadian itu Jiyeon tinggal dikediaman Kim Jong In.
Membantu membersihkan rumah dan menjaga toko bunga.
Setiap hari ia lewatkan bersama Kim Jong In. Ia benar-benar bahagia. Bahkan ia lupa dengan kebiasaan buruknya dulu yang suka mengambil barang orang lain.

NOVEMBER 2009, 18 Years Old

“Kau mau membawaku kemana Jong In-ah?” Tanya Jiyeon saat Kim Jong In membawanya pergi malam itu.

Tepat pkl 23:45 malam, mereka tiba disebuah ruangan. Lebih tepatnya gudang yang sudah tak terpakai yang ada dibelakang rumah Kim Jong In.

“Kau membangunkanku selarut ini hanya untuk membawaku kesinii?”

Jong In tak menjawab. Ia malah
membuka pintu gudang dan
menyalakan saklar lampu. Jong In semakin membuka lebar pintu. Dan Jiyeon, ia begitu terkejut melihatnya.
Lautan mawar merah. Itulah yang ia fikir saat melihatnya.

“Saengil chukkae hamnida…
Saengil chukkae hamnida…
Saranghaneun uri Yeonnie…
Saengil chukkae hamnida…”
Jong In bernyanyi dengan suaranya yang tidak terlalu bagus.

Jiyeon begitu tersentuh.
Kim Jong In mengingat hari ulang tahunnya.
Bagaimanapun juga Kim Jong In
adalah seseorang yang mempunyai kekurangan mental.

Kim Jong In menarik tangan Jiyeon, memasuki lebih dalam lagi gudang tersebut yang dipenuhi bunga mawar
itu.

Park Jiyeon, ia memang sangat
menyukai bunga mawar.
Jiyeon berjalan diantara banyaknya bunga mawar yang ada, hingga Kim Jong In menghentikan langkahnya dan
mangambil sebuket mawar merah muda. Kemudian ia menyerahkannya pada
Jiyeon.

Jiyeon benar-benar terharu.
Ia menerimanya kemudian menangis.

Kim Jong In bingung kenapa gadis yang ada dihadapannya ini malah menangis.
Kim Jong In berfikir bahwa ia telah melakukan kesalahan besar sehingga membuat
Jiyeon menangis.
Iapun ikut menangis.
Namun suara tangisnya lebih besar dibanding tangisan Jiyeon.
Menyadari telah terjadi
kesalahpahaman, Jiyeon langsung memeluk tubuh Kim Jong In.

“Kenapa menangis?” Bisik Jiyeon
tepat ditelinga Kim Jong In.

“Karena Yeonnie menangis.”
Jawabnya polos.

Sungguh Jiyeon sangat beruntung
karena telah bertemu dengan sosok seperti Kim Jong In dalam hidupnya.
Ia bahkan sudah lupa dengan
kejadian tahun lalu saat ulang
tahunnya.
Saat ia dengan tega membuat sang appa jatuh dari atap apartement.
Meski Kim Jong In memiliki
kekurangan, tapi ia berhasil
membuat Jiyeon merasa ingin terus hidup.
Hidup bersama Kim Jong In.
Melewati hari demi hari bersamanya.

Jiyeon semakin mempererat
pelukannya.

“Saranghae.” Ucapan itu lolos begitu saja dari mulut seorang Park Jiyeon.

Kim Jong In yang tidak mengerti
apapun masih saja menangis.
Lalu Jiyeon melepaskan pelukannya.
Menghapus air mata yang mengalir dari kedua  bola mata Kim Jong In dengan lembut.
Ia memandang lekat sosok pria yang ada dihadapannya itu.
Kim Jong In pun berhenti menangis. Ia ikut memandang balik sosok gadis yang ada dihadapannya saat ini.
Tak pernah merasa bosan untuk
berlama-lama memandangnya.
Sampai,

~CUP~

Park Jiyeon mencium tepat dibibir Kim Jong In.
Kim Jong In hanya
terdiam. Tak menolak dan juga tak membalas.
Menikmati sensasi luar biasa atas
perlakuan Park Jiyeon padanya.
Cukup lama.
Kedua bibir itu masih bertaut
Tanpa menyadari sosok sang
Ahjumma yang melihat kejadian itu semua dari awal.
Kim Hyoyeon tersenyum melihat
keduanya.
Ia sangat bahagia.

JUNI 2013, 20 Years old

“Nugu?” Tanya Jiyeon pada Jong in saat melihat sosok pria yang nampak berbeda usia dengan dirinya dan juga jong in, Mendapat sambutan hangat dari Kim Hyoyeon, eomma Jongin,  dengan kedatangannya.

“Hyung!” Jawab singkat Kim Jong In.
Terlihat jelas Kim Jong In tidak
menyukai hyungnya itu.

***

Hari demi hari kembali berlalu.
Kim Woo Bin, hyung Kim Jongin, setiap hari selalu
menyapa Jiyeon. Terus mencoba
untuk mendekatinya dan itu membuat Jong In merasa cemburu.

“Waegeurae Jong In-ah?” Tanyanya.

Jong In hanya terdiam. Ia benar-benar kesal karena hyungnya terus mendekati Jiyeon.

“Apa kau marah?” Tanya Jiyeon kembali.

Masih belum menjawab. Ia memang tidak berhak marah, namun ia benar- benar amat kesal saat ini.

Jiyeon yang belum mendapatkan
tanggapan apapun dari Jong In
hanya tersenyum. Ia langsung
memeluk Jong In. Itulah hal yang
paling mereka berdua sukai.

“Aku hanya akan bersamamu Jong In-ah. Akan selalu bersamamu. Kita berdua akan selalu seperti ini. Selalu bersama.” Ucapan Jiyeon sungguh membuat
Jong In luluh. Ia membalas pelukan Jiyeon.

“Yaksok?”

“Ne. Nan Yaksohae.”

SEPTEMBER 2013, 20  Years old

“Oppa, Lepaskan! Jebal oppa! Jangan lakukan hal ini!” Ronta Jiyeon.

Kim Woo Bin, Hyung Kim Jong In, sengaja berbohong bahwa Jong In ingin bertemu dengan Jiyeon, membuat Jiyeon datang ke gudang malam itu.

Kim Jong In dan Kim Hyoyeon, Eommanya, pergi
kepesta kembang api karena
perayaan gubernur baru Gangseo-gu.
Jiyeon yang memang sedang dalam kondisi fisik kurang baik
memutuskan untuk tidak pergi.
Sampai fikiran jahat Kim Woo Bin muncul.

Awalnya Jiyeon ragu saat Kim Woo Bin mengatakan bahwa Jong In ingin menemuinya digudang.
Bukankah ia ikut bersama Ahjumma ke pesta kembang api? Pikir Jiyeon.
Namun karena ia  kemudian berfikir, mungkin Jong In akan
memberikannya sebuah kejutan
karena memang ia sering melakukan hal itu, Jiyeonpun akhirnya putuskan untuk
datang ke gudang.

Namun betapa terkejutnya Jiyeon saat melihat tak ada siapapun disana.

“Jong In-ah, neo eodiseo?”

Tak ada jawaban hingga sosok
Kim Woo Bin muncul.

“Oppa, Jong In-ah eodi?”

Pria itu tak menjawab. Ia justru
semakin melangkah mendekat dan mulai membuat
Jiyeon takut.

Sementara itu, Kim Jong In sangat gelisah. Tidak seperti
biasanya yang akan duduk tenang
melihat pesta kembang api.
Menyadari ada yang aneh dengan
putranya, Kim Hyoyeonpun bertanya,

“Waegeuraeseo?”

“Eomma, Jong in ingin pulang.”

Mengerti dengan ucapan sang anak, iapun meminta tolong pada temannya untuk mengantar Kim Jong
In pulang. Ia yang masih harus
menghadiri pesta itu memutuskan untuk tetap tinggal sampai acara selesai.

Saat tiba dirumah, Kim Jong
In langsung mencari keberadaan Jiyeon. Ia mulai khawatir saat tidak menemukan Jiyeon didalam kamarnya.
Ia mulai ketakutan dan menangis, namun
tak berapa lama ia mendengar
teriakan Jiyeon. Suara itu terdengar dari arah gudang. Kemudian Jong In bergegas berlari menuju tempat itu.

“Kau benar-benar menyebalkan.”
Umpat Kim Woo Bin saat berhasil memukul pipi mulus Jiyeon. Ia kesal karena
gadis itu tidak mau diam. Sampai,

~BUK~

Sebuah kursi tepat mengenai
kepalanya. Ia ambruk.

Jiyeon begitu terkejut melihat ternyata Jong In lah yang melakukannya.
Jong In langsung menghampiri
Jiyeon.

“Yeonnie!”

Jiyeon langsung memeluk Jong In. Ia menangis. Mereka berdua menangis.
Jong In begitu erat memeluk Jiyeon begitupun sebaliknya. Sampai,

“Neo! Saekk!” Bentak Kim Woo Bin pada Kim Jong In.

“Kau benar-benar brengsek. Kau
memang tidak seharusnya ada
didunia ini.” Ucapnya berusaha bangkit meski darah mulai keluar dari kepalanya.

Menyadari sang hyung mulai
bergerak, Jong In segera menarik Jiyeon keluar
dari gudang tersebut.
Namun kaki Jiyeon digenggam kuat oleh Kim Woo Bin.

“Argh….” Jiyeon mengerang.

Menyadari Jiyeon kembali dalam
bahaya, Jongin mengambil sebuah tongkat yang tidak terlalu jauh dari tempatnya, Dan,

~BUK~

Ia kembali memukul sang Hyung
yang tidak mau melepaskan kaki
Jiyeon.
Akhirnya Kim Woo Bin pun tak mampu menahannya, ia melepaskan genggamannya pada kaki Jiyeon.
Diapun ambruk.
Benar-benar ambruk kali ini.
Ia tak bergerak lagi.

“Kha!” Teriak Jong In. Ia tak ingin
melihat Jiyeon terluka lagi.

Jiyeon masih diam, menangis hingga Jong In kembali berteriak,

“Palli Kha!”

Jiyeon pun pergi dan tak pernah kembali lagi.

NOVEMBER 2013, 21 Years Old

Jiyeon datang ke toko bunga. Ia tak memasuki toko bunga itu. Ia hanya bersembunyi dibalik dinding rumah toko milik orang lain.
Ia benar-benar takut untuk datang kekediaman Kim Jong In lagi. Ia benar-benar takut untuk bertemu dengan Kim Woo Bin.
Tapi rasa rindunya pada sosok Jong In begitu menyiksanya.
Ia tak bisa lagi menahannya.
Ia ingin bertemu Kim Jong In.
Apalagi mengingat ini adalah tepat hari ulang tahunnya.
Ia yang sudah terbiasa
merayakannya selama 3 tahun
bersama Kim Jong In merasa benar-benar membutuhkan Kim Jong In hari ini.

Sebenarnya selama sebulan ini ia
terus datang namun belum pernah sekalipun ia melihat sosok Kim Jong In disana.
Sampai,

“Kau? Kau bukankah Park Jiyeon?”

“Ah ne Ahjumma.”

“Kemana saja kau selama ini?”Tanya sang Ahjumma tetangga Kim Jong In
yang memang mengenal Jiyeon
selama Jiyeon tinggal dirumah Jong in bertahun-tahun.

“Saya bertemu dengan adik kandung saya, Ahjumma. Jadi saya memutuskan untuk tinggal
bersamanya?” Jawabnya berbohong.

“Ah jeongmalyo? Kupikir kau
sebatang kara, Jiyeon-ah.”

Jiyeon hanya menunduk.

“Tapi sedang apa
kau disini? Kenapa tidak langsung
saja datang ketoko bunga. Ah, Kau pasti ingin pergi kemakam Jong In.” tebak sang Ahjumma.

Jiyeon, dia benar-benar terkejut dengan hal yang baru saja diucapkan sang Ahjumma
tetangga itu.

“Makam? Apa maksud anda Ahjumma?” Jiyeon meminta penjelasan.

“Eoh, apa kau belum mengetahuinya? Kim Jong In
telah meninggal dunia seminggu
yang lalu.” Jiyeon, kakinya benar-
benar tidak sanggup lagi menahan berat tubuhnya sendiri. Kakinya terasa lemas.
Ia jatuh terduduk.
Sang Ahjumma yang
melihatnya langsung terkejut dan membantu Jiyeon.

“Gwaenchana?” Tanya sang Ahjumma.

“Ne.”

Jiyeonpun bangkit.

“Ahjumma, bisakah anda membantuku? Bisakah anda tidak mengatakan pada
Ahjumma Kim tentang
kedatanganku?” Pinta Jiyeon.

Meskipun sang ahjumma bingung, namun ia hanya
mengangguk mengiyakan permintaan Jiyeon.

Jiyeon pun pamit. Ia tidak
datang kemakam Jong In. Namun ia datang kesebuah bar. Ia menumpahkan semuanya disana. Minum-minuman, dan siapa yang tidak terpikat dengan kecantikan seorang
Park Jiyeon. Para pria-pria datang menghampirinya. Jiyeon yang mulai mabuk sudah tidak perduli lagi dengan keadaannya saat ini.
Bagaimana tidak, Kim Jong In, pria itu telah meninggal dunia. Benar-benar lucu hidup ini. Kenapa selalu saja
dia kehilangan. Disaat ia benar-
benar merasa ingin terus hidup, pria itu malah pergi. Pergi dan tak akan pernah kembali.

Jiyeon tidak sadar ada seorang pria yang membawanya
ke sebuh hotel. Dan melakukan hal itu padanya.
Saat Jiyeon tersadar, ia
tidak terkejut atau semacamnya. Dia hanya terdiam.
Menyadari wanita
yang ia tiduri semalam sudah
bangun sang pria pun mendekat.

“Tubuhmu benar-benar luar biasa, Chagi!” Ucapnya dan mengecup kening Jiyeon.

Pria bernama Oh Sehunitu merasa senang karena Jiyeon tak melawan ataupun menolak. Ia merasa wanita ini menerimanya. Kemudian ia
memberikan beberapa lembar uang pada Jiyeon.
Jiyeon masih terdiam
tanpa ekspresi.

“Datanglah sesering
mungkin kesini. Aku akan
memberikan lebih dari ini.”

***

Jiyeon, semenjak malam itu ia sering menemui lelaki itu bahkan setiap hari. Ia mendapatkan uang yang
lebih banyak dari pekerjaannya
menjadi tukang cuci disebuah
restoran. Ya, sejak ia pergi dari
Rumah Kim Jong In, ia bekerja
disebuah restoran dan tinggal di
kontrakan yang hanya terdapat 2
ruangan. Untuk tidur dan untuk
mandi. Namun karena uang yang
diberikan sang pria berna Oh Sehun itu melebihi  dari cukup,
akhirnya ia memutuskan untuk
berhenti dari pekerjaannya
direstoran itu dan memutuskan untuk menyewa sebuah apartement. Ia menyewa apartemen tepat di depan
Seonyudo Park.
Apartement itu memang tua, namun ada kenangan
saat ia dan Jong In berada di
Seonyudo Park saat ulang tahun
Jiyeon ke 19.
Ia masih ingat saat Jong In mengajaknya ke
tempat itu. Ia mengatakan ingin
tinggal disebuah tempat dan ia
menunjuk apartement yang kini
Jiyeon sewa. Itulah mengapa Jiyeon memilih apartement tua ini.
Kedengarannya memang lucu, mungkin saat itu Jong In hanya sembarangan bicara apalagi mengingat Jong In mempunyai kelemahan mental tentu
ia hanya akan asal bicara. Namun
tidak bagi park Jiyeon. Semua
ucapan dan tindakan yang Jong In
lakukan untuknya sangat bermakna.
Jiyeon menyewa kamar apartement itu selama setahun.
Ia tidak berinteraksi sama sekali
dengan penghuni apartement lain.
Ia hanya memberi makan pada sang penjaga apartement yang berusia sekitar 50 tahunan setelah kembali pulang
menemui pria bernama Oh Sehun yang pada malam itu menidurinya.

JANUARI 2014

Kenangan bersama Kim Jong In terus terlintas di fikirannya.
Ia benar-benar sudah bosan.
Merasa benar-benar tak ada hal lain lagi yang bisa membuatnya tenang.
Malam itu ia datang ke toko bunga.
Mengingat kembali moment
kebersamaannya dengan Kim Jong In.
sampai ia melihat,

“Kau benar-benar kurang ajar!” Umpat wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu Kim Jong In, Kim Hyoyeon.

“Untuk apa kau mengambil semua tabungannya hah? Itu semua miliknya.” Tangis sang Ahjumma pecah.

Jiyeon benar-benar tidak mengerti dengan pemandangan yang ada dihadapannya.

“Dia sudah mati eomma. Dan eomma bilang ini untuk Park Jiyeon? Gadis pembawa sial itu? Aku tak akan membiarkannya. Aku adalah hyungnya. Jadi aku yang lebih berhak mendapatkan ini.”

Sang Ahjumma langsung menariknya, berusaha mendapatkan kembali
tabungan Kim Jong In dari tangan
putra pertamanya itu. Namun
dengan kasar Kim Woo Bin
mendorong tubuh sang Ahjumma hingga terjatuh.

Jiyeon benar-benar tidak menyangka pria itu berani melakukan hal itu pada ibu kandungnya sendiri.
Ia tak berani menolong mengingat kejadian malam itu digudang membuatnya sangat takut pada sosok pria itu.

“Jangan pernah menyebut nama
gadis sial itu lagi eomma! Ingatlah! Dia yang menyebabkan Jong In bunuh diri. Ia yang meninggalkan Jong In.” Iapun pergi disertai isak
tangis Kim Hyoyeon sang eomma.

Betapa terkejutnya Jiyeon saat
mendengarnya.
Benarkah Jong In meninggal karena bunuh diri?
Apakah karena kepergiannya?
Sungguh Jiyeon pun tak berniat
untuk meninggalkan pria yang amat ia cintai itu.
Jiyeon pun pergi.

Kini, ia telah tiba diapartement pria yang selalu memberikannya uang, Oh Sehun.
Ia melayani pria itu layaknya
suaminya sendiri. Hal yang
seharusnya tidak ia lakukan.
Saat Sehun hendak memberikan
uang pada Jiyeon seperti biasa,
Jiyeon berkata,

“Bolehkah aku meminta sesuatu selain uang?”

Ini pertama kalinya Oh Sehun
mendengar Jiyeon meminta padanya.
Selama ini yang mereka lakukan
hanya tidur bersama. Bahkan Sehunpun masih belum mengetahui siapa nama Jiyeon.

“Bisakah kau membunuh seseorang untukku?”Tambahnya.

***

Setelah sampai di apartement, Jiyeon termenung.
Apakah mungkin ucapan
Jong In saat ditaman itu memang
benar-benar keinginannya? Bahkan ia mempunyai banyak uang tabungan. Sampai sebelum Jong In pergipun ia hanya memikirkan Jiyeon, terbukti dari ucapan Kim Woo Bin bahwa tabungan itu diperuntukkan untuknya.

Tangis Jiyeon pecah.
Ia terisak.
Lalu ia segera mengambil buku diary yang selalu menemaninya.
Menulis tulisan tangannya untuk
yang terakhir kali.
Lalu ia membuka sebuah laci dan
mengambil sebuah foto.
Ya, foto itu foto Kim Jong In.
Ia memotretnya saat mereka barada di Seonyudo Park.
Mengambil memo usang yang sudah lama selalu menemaninya karena itu
pemberian sang eomma sebelum ia pergi bersama Ryan ke Jepang.

Jiyeon, ia memandang foto Jong In lekat. Sungguh ia amat
merindukannya.

“Tunggulah aku Jong In-ah!”

“Aku akan menyusulmu.”Tambahnya.

Jiyeon pun menaruh 3 benda itu
pada lantai yang berbeda. Ia
menemukan lantai itu berbeda dari lantai lain saat pertama kali datang.
Awalnya ia ingin memberitahukan pada sang pemilik, namun ia pikir tak ada
ruginya juga. Ia pun membiarkan
lantai itu tetap seperti itu sampai pada akhirnya lantai itu bisa ia gunakan. Menggunakan lantai itu untuk menyimpan 3 benda itu. Kini hanya lantai itulah yang dapat
menjadi saksi kehidupannya.
Kehidupannya yang benar-benar
tidak ada artinya. Benar-benar
kosong. Itulah yang ia rasakan.
Sampai ia melakukan hal itu.
menghilangkan nyawanya dengan
meminum racun.
Berharap dengan ia meninggal
nantinya ia bisa kembali bertemu
dengan Kim Jong In.
Hidup bersama selamanya.

~NOW~

Ryan kini sedang berada didalam
pesawat yang beberapa menit lagi akan lepas landas.

“Eonnie, aku akan menggantikan
kehidupanmu yang buruk dimasa
lalu. Aku akan hidup dengan baik
bersama eomma.
Aku akan selalu menjaga eomma.
Selamat Tinggal eonnie.” Lirihnya saat pesawat mulai lepas landas.

Cinta itu adalah kenyamanan.
Nyaman saat kita bersamanya entah dengan keadaannya yang sempurna ataupun tidak.
Cinta itu adalah Kebahagiaan.
Bahagia saat kita selalu bersamanya dengan segala tindakan baik atau buruknya.
Cinta itu hanya satu.
Kita.
Hanya Kita.
Bukan kamu dan aku.
Melainkan Kita.

Huwaaa ini beneran yah nyesek banget. Udah lama setahun lebih baru baca nih FF lagi dan republish. Langsung kasih kritik sarannya aja deh!
Coment jusaeyo!

FF Kai Jiyeon (Zero) part 1

  

image

                     ZERO

Main Cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jong In aka Kai (EXO)
Ryu Ryan

Genre:
Tragedi, Family, Romance, Sad

Length:
Two Shot

Song Ficts:
Beast Black Paradise

A/N :
Nah ini FF kedua author yang di publish di tanggal yang sama seperti FF All I Want To You Know  Is I Love You yakni 27 Februari 2014. FF pertama dengan Length Two Shoot. Masih menggunakan couple KaiYeon.
Ngemeng-ngemeng *Curhat Dikit*
Ini apa emang kalo di WP mah banyak siders, yah!
Viewers nya 200an yang coment cuma 2 orang 😥 Nangis di pojokan.
Hahah pantas banyak author yang vakum di WP wkwk jadi ini toh alasannya.
Jujur si enak posting di FB soalnya lebih banyak yang coment.
Meskipun sedikit yang liat tapi coment bisa lebih dari 50 orang, kalo di WP yang liat nyampe 200 an lebih tapi yang coment ga lebih dari 10 orang hahaha
Apa di tutup aja yah WP nya *Think Again*
Baiklah baiklah! Langsung saja di comot nih FF keduanya.
Yang FF pertama tetap di lanjut kok. Sabar yah, der! #plak
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

Ryan, itulah nama gadis berambut pirang yang kini telah tiba di Bandara Internasional Gimpo di Gangseo-gu, Seoul.
Perjalanan dari Minato Tokyo cukup membuat gadis berambut panjang ini merasa kelelahan.

“Aku harus segera mencari
penginapan!” Ucap gadis bertubuh tinggi ini seraya menarik kopernya keluar dari bandara.

Sesampainya diluar area bandara ia langsung menghentikan sebuah taksi
kemudian menaikinya.
Tak berapa lama, hanya butuh
waktu 15 menit perjalanan dari
bandara ke penginapan.
Setelah menurunkan koper yang
dibantu sang supir taksi dan
memberikan uang, ia bergegas masuk ke dalam penginapan.

~KORSTAY HOTEL~

Itulah nama yang terpampang jelas pada papan diatas pintu.
Tempat ini tak terlihat seperti hotel pada umumnya yang menjulang tinggi, namun lebih tepatnya seperti sebuah rumah hunian biasa. Namun bukan hal itu yang membuat gadis
berparas cantik ini memutuskan
untuk tinggal disini selama berada di Korea, melainkan karena jarak dari Korstay Hotel ke Seonyudo Park hanya memerlukan waktu 12 menit.
Jarak yang cukup dekat.

Setelah memesan kamar, gadis
bertubuh ramping ini langsung
beristirahat.

“Haruskah aku mencarinya?” Ucap Ryan saat ia terbaring diatas ranjang seraya melihat langit-langit ruangan
itu. Tak lama ia pun tertidur.

Keesokan harinya.
Setelah selesai sarapan ia langsung bergegas ke
Seonyudo Park. Bukan untuk
menikmati keindahan sungai Han, namun melihat sebuah apartement yang tepat berada di depan Seonyudo Park.
Ia duduk disalah satu kursi taman yang kosong.

“Disanakah kau tinggal?” Monolognya saat melihat apartement yang tidak
terlalu mewah didepannya.
Kemudian tanpa pikir panjang Ryan pun langsung bergegas menghampiri apartement itu. Ia bertemu dengan sang Satpam Apertement, iapun menyapa sang satpam dengan berbahasa Korea.

“Annyeonghaseyo! Je Ireumeun Ryan imnida. Japaneseo wasseumnida. Mannaseo bangabseumnida!” Ucap Ryan ramah seraya membungkukkan
badannya pada sang satpam yang
kira-kira berusia 50 tahun-an itu.

“Eoh, Ne. Mannaseo
bangabseumnida.” Balas sang
satpam menunduk. Saat ia
sedang memperhatikan Ryan ia
teringat akan seseorang.

“Eoh, apa kau Ryu Ryan? Saudara
kembar Park Jiyeon?”

“Ah, ne. Apakah kami terlihat sangat mirip, Ahjussi?”

“Ne. Kalian benar-benar sangat
mirip. Wah, kau fasih sekali
berbahasa Korea Ryan-ssi!”

“Ah, kamsahamnida Ahjussi. Di
Jepang saya dan eomma memang selalu menggunakan bahasa Korea saat sedang bersama.”

“Wah kau lebih ceria dibanding Park Jiyeon, Ryan-ssi. Aaaahh, sayang sekali. Harusnya kau kemari lebih awal, mungkin kejadian buruk itu tidak akan pernah terjadi.” Ucap
sang satpam sedih.

Ya, itu adalah kesalahan Ryan.
Harusnya ia datang lebih awal
sebelum sang kakak Park Jiyeon
meninggal.
Ya, Park Jiyeon sudah
meninggal.
Ia bunuh diri.
Kejadiannya beberapa bulan silam dan saat itu ia ditemukan sang satpam sudah tidak bernyawa didalam kamarnya.

~FLASBACK ON~

Saat itu sudah hampir satu minggu sang satpam tak melihat kehadiran Park Jiyeon. Tentu saja ia merasa aneh karena biasanya setiap hari
seorang Park Jiyeon akan
menyapanya setiap akan berangkat kerja dan akan memberikannya makanan sesampainya kembali ke
apartement.
Tentu ia amat khawatir karena
setaunya Park Jiyeon tidak pernah bersosialisasi dengan penghuni apartement selain dirinya.

Sampai rasa penasarannya tak terbendung, ia datang ke kamar Park Jiyeon. Saat mengetuk dan memanggilnya, tak ada
jawaban. Ia memberanikan diri
untuk membuka knop pintu dan lebih panik lagi saat pintunya tak terkunci. Kemudian iapun langsung memasukinya. Betapa
terkejutnya sang satpam saat
melihat tubuh Park Jiyeon yang
sudah tak bernyawa.

~FLASHBACK OFF~

“Mianhae, Ryan-ssi!” Ucap sang
satpam saat ia sadar bahwa ia telah salah bicara.

“Ah gwaenchanayo, Ahjussi.” Timpal Ryan dengan senyum manisnya.

“Ah Ahjussi, maksud kedatangan saya kesini adalah saya ingin melihat kamar yang dulu dihuni Jiyeon eonnie. Apakah sudah ada penghuni baru? Bolehkah saya meminta ijin padanya sebentar?” Tambah Ryan.

“Eoh kebetulan belum ada penghuni baru di kamar yang dulu Jiyeon-ssi tempati.
Jiyeon-ssi, dia menyewa kamar
selama setahun jadi masih ada sisa beberapa bulan. Pemilik apartementt idak tega untuk langsung menyewakan kamar itu pada penghuni baru mengingat masa jatuh tempo masih
lama. Jadi dibiarkan kosong sampai tiba jatuh tempo.”

“Ah geurae. Kalau begitu bolehkah saya melihatnya, Ahjussi?”

“Ah, Ne. Akan saya ambilkan
kuncinya. Kuncinya disimpan oleh pemilik apartement. Rumahnya tidak terlalu jauh kok. Gidaryeo Juseyo!”
Lalu sang satpam pun pergi
mengambil kunci kamar yang Jiyeon huni saat ia masih hidup.

Tersisa Ryan seorang diri disana. Ia memandang sekeliling apartement. Apartement
yang memang terlihat sudah tua.

“Kenapa kau memilih tempat tinggal seperti ini, Eonnie? Apakah kehidupanmu di Korea begitu sulit?” Batin Ryan.

Tak berapa lama sang satpam pun datang dan memberikan kunci pada Ryan. Ryanpun menerimanya.

“Kamarnya bernomor 203. Tepatnya dilantai paling atas. Mianhaeyo, saya tidak bisa mengantar.” Ucap sang
Satpam.

“Ah gwaenchanayo, Ahjussi. Kalau begitu saya permisi dulu.
Kamsahamnida atas bantuannya,
Ahjussi. Annyeong!” Pamit Ryan
membungkuk pada sang
satpam yang dibalas dengan
anggukan dan senyuman ramah dari pria 50 tahunan itu.

Begitu membuka pintu apartement, Hawa dingin menyeruak menusuk
kulit Ryan. Bagaimanapun juga
kamar ini ditinggalkan sang
penghuni berbulan-bulan, apalagi mengingat sang penghuni yang sudah meninggal didalamnya. Meninggal karena bunuh diri. Itu semakin membuat siapapun yang
memasuki kamar tersebut berdiri bulu kuduknya.

Tak jauh berbeda dengan Ryan.
Namun gadis ini tak begitu saja
merasa takut. Rasa penasarannya
lebih besar dibanding rasa takutnya saat ini. Penasaran akan hal yang membuat saudara kembarnya itu mengakhiri
hidupnya dengan cara yang tidak
semestinya.
Ia ingin mengetahui kehidupan
Jiyeon setelah keluarga mereka yang terpecah karena perceraian kedua orang tua mereka yang pada
akhirnya membuat Ryan dan Jiyeon berpisah karena Ryan yang dibawa sang ibu pindah ke Jepang.
Mempunyai keluarga baru di Jepang.
Mempunyai seorang ayah tiri
pengusaha yang cukup terpandang di Jepang yang membuat namanya
berubah dari Park Ryannie menjadi Ryu Ryan.

Ryan lebih dalam lagi memasuki
kamar saudaranya itu.
Melihat sekeliling kamar yang
memang tak ada apapun yang
berubah karena sang pemilik
apartement pun tak berani
menyentuh barang-barang milik Jiyeon, apalagi mengingat bahwa Jiyeon hanya sebatang kara.
Ya, Ayahnya yang tak lain adalah
ayah kandung Ryan telah meninggal dunia 5 tahun pasca perceraian dengan ibu mereka.
Mulai dari saat itulah kehidupan
Jiyeon dimulai dengan hanya
mengandalkan dirinya sendiri.

Debu-debu bertebaran dimana-mana karena memang tak ada yang merawat kamar itu.

“Apa aku boleh tinggal disini,
Eonnie?” Monolognya.

Ryan pun meminta izin pada sang pemilik apartement untuk tinggal dikamar Jiyeon selama beberapa hari dan beruntung sang pemilik apartement pun mengijinkannya.

Selama beberapa hari Ryan belum menemukan apapun didalam kamar itu sampai,

“Kyaaaa!” Teriak Ryan terburu-buru keluar kamar mandi karena ia harus segera menemui temannya pagi itu.
Namun tanpa sengaja Jiyeon
terjatuh.

~BRUK~

Tubuhnya sukses jatuh tertelungkup dilantai.
Namum ada hal aneh, lantai yang
tepat berada dihadapannya itu
berbeda dari lantai lain.
Dengan penasaran Ryanpun
berusaha membuka satu lantai itu.
Tidak begitu sulit karena memang terlihat aneh dan berbeda dari lantai
lain.

“Ige mwoya?” Tanyanya saat melihat ada lubang dibawah lantai tersebut.
Bukannya adonan semen atau
semacamnya namun lubang yang
tidak terlalu kecil.

Ryan pun memberanikan diri
memasukkan tangannya lebih dalam lagi ke dalam lubang tersebut sampai ia merasakan tangannya mendapatkan sesuatu.
Ryan langsung mengambilnya.
Sebuah memo berukuran tidak
terlalu besar. Terlihat sudah sangat lama karena sangat usang.
Diapun memasukkan kembali
tangannya kedalam lubang itu dan menemukan buku diary, Buku yang tidak terlalu lama karena terlihat seperti masih baru.
Diapun memasukkan kembali
tangannya dan begitu terkejut saat melihat apa yang ia dapatkan didalam lubang yang ada dibawah lantai itu.

“Nugunde?” Tanyanya saat melihat foto seorang pria tampan tengah tersenyum yang terlihat jelas bahwa
sang pria tidak mengetahui
bahwa ia tengah di potret oleh
seseorang.
Ia pun duduk dan Segera
menghubungi temannya.
Membatalkan janji mereka.

Ia melihat 3 benda yang ia temukan beberapa saat lalu telah terjejer rapih diatas meja.
Sebuah Memo usang,
Sebuah buku diary baru,
Dan,
Sebuah foto.
Apa ini ada hubungannya dengan
kematian Jiyeon?
Lalu apa mungkin pria yang ada
didalam foto itu adalah kekasih
Jiyeon saat ia masih hidup?

Tolololeeeeeeeeeet!
Pantauin terus WP nya.
Mungkin part ending Zero atau next chap FF pertama author republish.
Ngarepnya si yang baca pada coment, tapi mungkin memang kalo di WP itu lumrah yah siders!
Tapi tetep berharap pada mau coment!
Coment buruk pun tak masalah asal tetap berkaitan dengan penyempurnaan FF!
Kasih saran malah bikin author tambah seneng loh #Ngarep
Sok monggo di coment, der!
Coment jusaeyo! 😀

FF Kai Jiyeon (KaiYeon) part 4

image

All I Want You To Know Is I
LOVE U
(part 4)

Main cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jongin aka Kai (EXO)
Other cast:
Ryu Hwayoung (X “T-ara”)
Park Hyomin (T-ara)
Ham Eunjung (T-ara)
Park Soyeon (T-ara)
Boram (T-ara)
Qri (T-ara)
D.O kyungsoo (EXO)
Park Chanyeol (EXO)
Suho (EXO)
Oh Sehun (EXO)
Byun Baekhyun (EXO)
Lee Soo Man (CEO SM Ent)

Genre: Romance, Friendship, Sad
(idol life)

Length: Chaptered

Song fict:
T-ara I’m Okay

A/N:
Nah kan author nya selalu nepatin janji, posting beberapa jam setelah post part sebelumnya 😉
Namanya juga repost wkwk
Part ini di posting sebelumnya pada 27 februari 2014 silam, tanggalnya sama kaya hari ini cuma beda di tahun dan bulan #GaAdaYangNanya
Baiklah baiklah, sebelum author di mutilasi readers gegara kebanyakan nyengnyong *?
Monggo langsung di comot!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

Kejadian itu membuat sosok Kim
Jong In menjadi sorotan publik.
Bagaimana tidak, Ia telah menolong seorang Park Jiyeon yang pada saat itu menjadi orang yang paling
dibenci publik Korea.

“Apa yang kau lakukan, Hah?” Teriak Lee Soo Man CEO SM Entertainment.

Kim Jong In hanya diam menunduk.
Ia tau kalaupun ia menjawabnya
hanya akan menambah kemarahan CEO nya itu.
Ya, setelah mengantar Jiyeon ke
Rumah Sakit ia langsung mendapat telepon dari Suho sang leader yang menyuruhnya untuk segera menghadap CEO SM Entertainment itu.

Bagaimana seorang Lee Soo Man
tidak akan marah, Kim Jong In, ia
meninggalkan acara Music Bank yang sudah pasti itu membuat perform member EXO lain berantakan dengan formasi yang hanya ber 5 karena tidak adanya Kim Jong In. Apalagi
mengingat Kim Jong In
melakukannya demi seseorang yang saat ini dibenci hampir seluruh masyarakat Korea karena tuduhan pembully an yang Park Jiyeon lakukan.

“Apakah kau ingin menghancurkan grup yang bahkan baru debut ini, hah?” Bentak Lee Soo Man.

Sementara itu diluar ruangan Lee Soo Man,

“Hyung, eotteokhae? Apa Kai akan baik-baik saja?” Tanya D.O khawatir.

“Molla. Kelihatannya Lee Sajangnim benar-benar sangat marah saat ini.” Jawab Suho.

“Itu memang konsekuensi yang
harus ia terima atas tindakannya.” Ucap Chanyeol yang tak peduli akan nasib Kai saat ini.

“Hyung, kau tak boleh seperti itu! Bagaimanapun juga Kai
melakukannya karena menolong
Jiyeon nuna.” Bela Sehun yang
memang mendukung tindakan Kai.

“Yang dikatakan Sehun benar.
Bukankah kau yang berteman baik dengan Jiyeon? Tapi lihatlah! Bahkan kau tak berani menolongnya. Menurutku tindakan Kai patut diacungi jempol. Yaaa walaupun dia
meninggalkan kita yang hanya bisa perform ber 5.” Tambah Baekhyun menyetujui perkataan Sehun.

Chanyeol, ia jelas semakin kesal.
Kemudian ia pergi meninggalkan ke 4 member
yang masih setia menunggu Kai.

“Sebenarnya ada hubungan apa
antara anak itu dan Park Jiyeon?
Kenapa dia terlihat begitu sangat
akrab dengan Jiyeon? Apakah mereka saling mengenal sebelumnya?” Batin
Chanyeol.

Sementara itu dirumah sakit didalam ruangan tempat Park Jiyeon dirawat

“Olsseumnida?” Tanya Boram saat Jiyeon mulai sadar.

Park Jiyeon, ia tengah terbaring
diatas ranjang rumah sakit saat ini. Kepalanya diperban.
Mendengar Boram, member T-ara yang lainpun ikut mendekat.

“Ige Eodiseo, Eonnie?”

“Byoengwoen, Jiyeon-ah.”

Jiyeon lalu memegang kepalanya
yang terasa nyeri.

“Apa sangat sakit?” Tanya Qri.

“Apa kita perlu memanggil dokter?” Tanya Soyeon.

Jiyeon malah tertawa melihat para eonniedeul mengkhawatirkannya.

“Yak, Neo Park Jiyeon, bagaimana bisa disaat seperti ini kau malah tertawa hah.” Teriak Hyomin kesal.

Semuanya merasa aneh dengan
tingkah Park Jiyeon. Bagaimana bisa ia malah tertawa sedangkan semua orang begitu mengkhawatirkannya.

Eunjung, ia masih diam belum
memberi tanggapan apapun.

“Yak, Park Jiyeon! Apa ada yang
salah dengan otakmu hah?” Tanya Hyomin.

“Hyomin-Ah, sebaiknya kita memanggil dokter!” Usul Qri yang makin khawatir akan keadaan Jiyeon
sekarang.

“Eotteokhae?” Tanya Boram meminta persetujuan Soyeon.

“Geurae. Akan kupanggilkan.”

Saat Soyeon beranjak meninggalkan ruang rawat Jiyeon, belum sempat ia
membuka knop pintu ia mendengar Jiyeon menangis. Ia langsung berbalik kembali.

“Hiks….”

Tangisan Jiyeon semakin keras sampai para member
lain ikut menangis.

“HIKS…..”

Eunjung yang melihat dongsaengnya semakin
menangis histeris langsung pergi. Ia sungguh tak sanggup melihatnya. Diluar ruang rawat ia mencoba menahan tangisnya namun tetap saja tidak bisa. Ia menangis dalam diamnya.

Hyomin yang masih menangis
langsung mendekap erat Jiyeon,
Berusaha menenangkan
dongsaengnya itu. Qri, ia diam
menunduk dengan air mata yang
terus mengalir dari mata indahnya. Tak jauh berbeda dengan Boram dan juga
Soyeonpun melakukan hal yang sama. Boram langsung
memeluk Soyeon menenangkannya.

Setelah beberapa jam berakhir, akhirnya Jiyeon mulai tenang. Ia kembali terlelap.
Semua member keluar dari dalam ruang rawat setelah melihat Jiyeon benar-benar kembali terlelap.
Mereka menghampiri
Eunjung yang memang masih berada diluar ruang rawat.

“Eonnie, Aku benar-benar kasian
pada anak itu.” Ucap Hyomin yang langsung memeluk Eunjung.

“Apa anak itu sudah kembali
tertidur?”

“Ne. Dia sudah tenang Eunjung-
ah.” Jawab Boram.

“Kalian kembalilah ke dorm. Jiyeon, Saya yang akan menjaganya. Saat
Jiyeon siuman nanti saya pasti akan segera menghubungi kalian.”

“Apa tidak apa-apa, Eunjung-Ah?” Tanya Qri.

“Ne. Kalian butuh beristirahat. Biar saya yang berganti menjaganya.”

“Geurae. Kami akan kembali ke Dorm kalau begitu. Segera hubungi kami saat keadaan Jiyeon membaik.” Jawab Soyeon.

“Ne, eonnie.”

Semua member T-ara kembali ke dorm mereka kecuali Eunjung.

Setelah semuanya kembali pulang, Eunjung langsung masuk ke dalam ruang rawat Jiyeon. Ia duduk disamping ranjang tempat Jiyeon terlelap saat
ini.

“Kau ini bukan Wonder Woman, Park Jiyeon. Kau juga bukan Batgirl ataupun Super Hero lainnya. Kau ini hanya seorang Park Jiyeon. Jadi mulai sekarang berhentilah bersikap
seolah kau baik-baik saja! Mulai
sekarang kau diwajibkan untuk
mengatakan semuanya padaku.”
Ucap Eunjung seraya mengusap
rambut Jiyeon.
Eunjung begitu menyayangi seorang Park Jiyeon. Begitu mengagumi sosok
gadis yang kini tengah terbaring
lemah di atas ranjang rumah sakit. Gadis kecil yang giat berlatih menari. Yang
berani mengalahkan kelemahannya.
Yang tidak pernah mengeluh. Yang meskipun semua orang membencinya ia tetap tak takut untuk tampil dihadapan publik, walaupun Eunjung tau bahwa sebenarnya sosok yang sedang terbaring tak berdaya dihadapannya ini adalah
seorang pembohong besar. Yang
selalu tersenyum ramah pada semua orang padahal hatinya tengah merasakan sakit luar biasa.
Kini ia melihat bahwa sosok Park Jiyeon yang selalu menunjukkan bahwa dirinya kuat ternyata sosok gadis lemah dan rapuh. Hari ini Ia menyaksikan langsung betapa
dongsaengnya yang selalu
mengatakan baik-baik saja begitu
sangat menyedihkan.

“Aku akan melindungimu, Jiyeon-ah.” Janji Eunjung yang kemudian bulir bening
halus keluar kembali dari pelupuk matanya.

Park Jiyeon, yeoja itu kembali terbangun.

“Eonnie?” Jiyeon bersuara dengan lemahnya.

Menyadari Jiyeon telah terbangun, Eunjung langsung menghapus air matanya kasar.

“Apa ada yang kau butuhkan, Jiyeon-ah? Apa kau lapar? Apa kau ingin ke kamar kecil?” Eunjung terus bertanya
dengan khawatirnya.

“Mianhae; eonnie membuatmu
terbangun Jiyeon-ah.” Tambahnya.

“Hwa.” Nama itu yang keluar dari mulut Jiyeon.

“Ne?”

“Hwayoung. Bisakah eonnie
memintanya datang kesini?”

“Neo micheoso? Gadis Setan itu.
Andwae. Eonnie tidak akan pernah membiarkan iblis itu bertemu lagi denganmu.”

“Eonnie,,,” Rengek Jiyeon.

“Andwae, Jiyeon-ah. Eonnie tidak
akan pernah melakukannya. Apa kau tau siapa yang membuatmu terluka seperti ini hah? Dia. Gadis setan itu yang melakukannya. Ia yang
melemparimu dengan batu. Apa kau tau itu, Eoh?” Bentak Eunjung.

“Ne, Naneun algoissda eonnie.” Jawabnya dengan tertunduk.

Ya, Jiyeon melihatnya. Ia sadar saat itu Hwayoung memang akan melakukan hal buruk itu padanya. Tapi ia diam
saja.

“Dan kau masih mau bertemu
dengannya? Kau tau? Bisa saja iblis itu akan membunuhmu saat bertemu denganmu nanti.”

Karena tidak tega melihat
dongsaengnya yang terus memohon padanya, Eunjungpun akhirnya mau tak mau menyetujui permintaan Park Jiyeon.
Malam itu juga ia segera menemui gadis yang
tidak pernah ingin ia lihat lagi
seumur hidupnya. Namun karena ini keinginan Jiyeon, ia pun dengan terpaksa harus menemuinya.

Saat Eunjung pergi menemui Ryu
Hyawoung, tersisalah sosok Park Jiyeon seorang diri didalam ruang rawatnya. Ia tak ingin
ditemani siapapun sampai ia
bertemu Hwayoung.
Namun,

~Krieeeeettt~

Suara pintu ruang rawat jiyeon
terdengar saat seseorang
membukanya.
Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok yang datang adalah seorang Kim Jong In.
Ia masih setengah sadar saat Jong In menggendongnya tadi.
Tentu saja ia amat hafal dengan
punggung itu. Punggung yang
menghangatkannya. Yang
memberikannya ketenangan dan
kenyamanan. Tentu saja punggung itu yang beberapa tahun lalu masih bersedia menahan beban tubuh
Jiyeon.

Kim Jong In, ia masih diam didepan pintu. Masih belum bergerak. Masih menatap khawatir gadis yang amat
ia rindukan itu.
Mereka berdua masih saling menatap satu sama
lain. Sampai Jiyeon tersenyum manis

“Jong In-ah!” Ucapnya masih dengan suara lemahnya.

Mendengar Jiyeon memanggil
namanya seperti beberapa tahun
lalu Kim Jong In pun mendekat.

“Kau datang!” Ucap Jiyeon masih
dengan senyum manisnya.

Kim Jong In, ia masih diam. Ia hanya mengangguk menanggapi ucapan Jiyeon.
Lalu ia terisak. Ia menangis.
Menangis menyesal karena pernah meninggalkan gadis yang ada dihadapannya ini. Sahabat baiknya.

“Hiks….”

Jiyeon yang melihat Kim Jong In
terisakpun ikut mengeluarkan air
matanya.
Bagaimanapun ia tau sosok Kim Jong In tidak akan mudah menangis seperti ini. Kalaupun ia menangis, Ia hanya akan menangis didepan
orang-orang tertentu saja.

“Mendekatlah!” Ucap Jiyeon menepuk ruang kosong yang ada di ranjangnya, ia menginteruksikan Jong In untuk duduk disana, disebelahnya. Jong In pun melakukannya. Ia masih menunduk menyembunyikan air matanya, belum berani untuk menatap gadis yang tepat berada dihadapannya saat ini.

“Apa aku boleh memelukmu, Jong In-ah?”

Sontak permintaan Jiyeon membuat Jong In memandangnya.
Bagaimanapun juga selama ini yang ada difikirannya adalah bahwa seorang Park Jiyeon begitu membencinya. Membenci sahabat seperti dirinya yang dengan tega
meninggalkannya beberapa tahun lalu.

Jong In mengangguk kecil kemudian Jiyeon
langsung memeluk Kim Jong In.
Tangisnya pecah didalam pelukan
Kim Jong In.

“Hiks….”

Mendengar Jiyeon semakin terisak iapun memberanikan
diri membalas pelukan Jiyeon.
Dengan eratnya seorang Kim Jong In memeluk Park Jiyeon saat ini, seolah
ia tidak akan rela untuk
melepaskannya.
Begitu kurus. Tubuh gadis ini
semakin kurus. Itu yang ia rasakan.
Betapa jahat dirinya saat itu,
Meninggalkan seorang Park Jiyeon yang dengan setia selama 4 tahun bersahabat dengannya.

“Mianhae! Mianata, Yeonnie!” Bisik Jong In namun terdengar jelas ditelinga Jiyeon.

“Kau sudah kembali Jong In-ah!”
Batin Jiyeon.

“Hiks…”

Merekapun menangis bersama.
Menumpahkan semua rasa rindu
mereka selama bertahun-tahun
dengan tangis dan pelukan mereka.

Sementara itu didorm EXO

“Apa anak itu benar-benar sudah
gila, eoh? Bagaimana ia bisa pergi menemui Park Jiyeon setelah apa yang ia lakukan pada kita?” Bentak Chanyeol saat mengetahui Jong In
pergi menemui Jiyeon ke Rumah
Sakit.

“Dan Hyung, kenapa kau
malah memberikannya izin? Kau tau apa yang akan terjadi saat para netizen menemukannya bersama Park Jiyeon? Kau akan membuat kita hancur, Hyung!” Tambah Chanyeol yang sudah tidak bisa menahan emosinya.

“Diamlah! Aku pemimpin disini. Jadi aku tau konsekuensi apa yang akan kudapat atas tindakanku ini.” Jawab
Suho Tenang.

“Lalu kenapa kau tetap memberinya izin? Membiarkannya pergi! Apa kau
sudah gila?” Ucapan Chanyeol makin kasar.

“Cukup, Park Chanyeol!” Bentak Byun Baekhyun.

“Kai, anak itu melakukannya karena mengkhawatirkan gadis itu. Apa kau fikir jika Suho hyung melarangnya akan membuat anak itu menurut?
Tidak. Kai akan tetap pergi menemui Jiyeon. Kai bahkan lebih mengkhawatirkan Jiyeon dibanding dirinya sendiri saat ini.” Tambah Baekhyun.

“Kau? Apa kau juga akan
meninggalkan kami saat kami
terjatuh?” Tanya Suho yang sontak membuat Chanyeol mematung.

“Kkamjong, Ia tidak meninggalkan Jiyeon. Ia tetap menolongnya padahal ia tau akan hal buruk yang
bisa saja akan ia dapat nantinya.
Mereka saling mengenal. Itu yang dapat kulihat. Meski aku tak tau pasti ada hubungan apa diantara mereka berdua, tapi tindakan Kkamjong, ia melakukan hal yang
benar. Ia tidak meninggalkannya. Ia merangkulnya. Bahkan usianya lebih muda dariku, Tapi bahkan aku sendiri tidak tau apa kelak aku bisa melakukannya. Tetap bersama meski
salah satu dari kita ada yang
terjatuh. Dia bahkan lebih baik
dariku.” Ucap sang leader lalu
berjalan masuk kedalam kamarnya.

D.O dan Sehun yang menyaksikannya langsung memasuki kamar
mereka. Tidak mau melihat hal yang lebih menakutkan melebihi ini.
Pertengkaran antar Hyung mereka.
Pertengkaran sesama anggota. Itu yang lebih menakutkan dari apapun bagi mereka. Karena mereka satu.
Sama seperti slogan yang selalu mereka katakan ‘We Are One’.

“Kupikir selama 3 tahun kita hidup bersama-sama membuatku mengenalmu dengan baik. Ternyata
TIDAK. Aku benar-benar tidak
mengenali sosokmu saat ini, Park Chanyeol.” Ucap Baekhyun
meninggalkan Chanyeol yang masih mematung.

Menyadari yang dikatakan Hyungnya dan Baekhyun
benar, ia duduk lemas dilantai.
Menyesali semua perbuatannya.

Sementara itu Kim Jong In kembali ke dorm. Ya, setelah dirinya dan Jiyeon
berpelukan dan menangis bersama, ia tak terlibat percakapan apapun
dengan Jiyeon karena Jiyeon tertidur didalam pelukannya.
Awalnya ia tak tega meninggalkan Jiyeon sendiri namun ia berubah
pikiran saat Eunjung datang.
Eunjung tak menyangka Kai akan
berani datang menemui Jiyeon. Ia pun mendekat.

“Kau datang?”

“Ne, Eonnie.” Jawab singkat Jong In.

“Kamsahamnida atas semua
bantuanmu Kai-ssi. Entah ada
hubungan apa antara kau dan Jiyeon, Aku tak akan menanyakannya sampai
Jiyeon sendiri yang mau
memberitahukannya.”

Jong In masih diam.

“Apakah dia tau kau datang?”

Jong In hanya mengangguk.

“Pulanglah Kai-ssi! Jiyeon sudah
tenang. Kaupun harus
mengkhawatirkan dirimu sendiri.
Gadis ini kuat. Ia akan baik-baik
saja. Percayalah!”

Jong In pun kembali menatap Jiyeon yang sedang terlelap.
Terlihat jelas oleh Eunjung bahwa pria ini begitu sangat
mengkhawatirkan dongsaengnya itu.
Tatapan itu.
Tatapan yang Jong In berikan pada Jiyeon benar-benar membuat Eunjung kaget

“Pria ini?
Dia mencintai Park Jiyeon.” Batin Eunjung.

“Aku akan kembali pulang kalau
begitu. Tolong jaga dia, Eonnie!”
Pinta Jong In.

Eunjung hanya mengangguk seraya memberikan senyuman pada Jong In.

Setelah Jong In pergi

Apa kalian punya hubungan
khusus?
Kai dan Jiyeon?
Apa mungkin mereka sepasang kekasih?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ada dibenak Eunjung.

Sementara itu dikediaman Ryu
hwayoung.
Gadis berambut pendek itu masih
teringat kejadian beberapa jam lalu

~FLASHBACK ON~

“TingTong”

Saat mendengar bel apartement nya berbunyi, Ryu Hwayoung langsung bergegas membukakan pintu.
Betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang datang.

“Eo….. Eonnie!” Ucap Hwayoung
gugup.

Eunjung, sungguh ia tak ingin berlama- lama bertatap muka dengan gadis yang begitu ia benci. Yang membuat
T-ara hancur terutama Park Jiyeon.

“Ma…. Masuklah, Eonnie!” Tambah Hwayoung.

Namun Eunjung masih belum
menanggapinya sampai,

“Temuilah dia! Anak itu, ia ingin
bertemu denganmu. Entah apa yang ia pikirkan, tapi itu yang ia inginkan saat ia tersadar. Aku juga tidak tau kenapa kau melakukan semua hal
ini, tapi aku tidak akan pernah
membiarkanmu menyakitinya lagi. Menyentuh seujung rambutnyapun tak akan kubiarkan!”

“Eonnie…..”

“Datanglah! Dia yang memohon
padaku untuk memintamu
menemuinya. Bagaimanapun juga ia pernah sangat dekat denganmu. Aku pergi!”

~FLASHBACK OFF~

“Park Jiyeon, kenapa kau begitu
special? Semua orang begitu
menyayangimu. Begitu
melindungimu.”

***

Keesokan harinya tepat pkl 07:00
pagi.
Eunjung yang terbangun langsung
tersenyum saat melihat Jiyeon yang masih tertidur dengan damainya. Ya, semalam Eunjung tidur di ruang rawat. Tidur di sofa yang ada didalam ruang rawat. Iapun segera
mencuci mukanya. Lalu pergi
mencari makan karena memang ia belum makan apapun sejak kemarin . Karena
terlalu mengkhawatirkan keadaan Jiyeon iapun lupa memberi makan
pada peliharaan yang ada didalam perutnya.

Tak berapa lama setelah Eunjung
pergi masuklah sosok yang amat
ingin ditemui Jiyeon.
Ia mendekat.

“Jiyeon-ah!” Panggilnya.

Jiyeon terbangun dan mendapati Ryu
Hwayoung berdiri menatapnya
disamping ranjangnya. Jiyeon
langsung tersenyum.

Melihat senyum
manis Jiyeon, Hwayoumg ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu sebelum rasa bersalahnya makin bertambah.

“Kau datang, Hwa?” Ucap Jiyeon
dengan senyum manisnya.

“Untuk apa kau memanggilku
kesini?” Tanya Hwayoung seperti tak ingin berlama-lama ditempat itu.

“Aisssssh, kau bahkan tak
memanggilku eonnie lagi.” Ucap
Jiyeon mencoba mencairkan suasana.

Hwayoung tetap tak bergeming.

“Bhogosippo. Jeongmal Bhogosippo, Hwa.” Ucap Jiyeon lirih.

Hwayoung yang mendengarnya
begitu terkejut.
Bagaimana tidak, hadis yang ada
dihadapannya ini mengatakan
Bhogosippo pada orang yang telah melukainya, Menghancurkan nama baiknya.
Tak henti keterkejutan Hwayoung saat Jiyeon mengatakan,

“Mian. Mianhae. Mianata. Jeongmal mianata!” Tambah Jiyeon sambil menunduk. Air matanya dengan sukses mengalir.

“Hiks…”

Hwayoung benar-benar tercengang dengan pemandangan yang ada
dihadapannya. Dia lalu tertawa.
Tawa penyesalan.

“Apa kau seorang bidadari? Apa kau manusia jelmaan peri? Atau kau seseorang yang diutus tuhan dari langit dan berpura-pura menjadi manusia?”

“Hiks…” Jiyeon masih terisak.

“Mianhae!” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Hwayoungpun tak bisa
membendungnya. Ia pun menangis.

“Hiks… Kau. Harusnya kau membenciku. Mencaci atau memukulku saat ini.
Kenapa kau malah mengatakan maaf dan merindukanku? Aku jadi terlihat begitu jahat saat ini.”

“Aniya.Hiks… Kau tidak jahat Hwa. Akulah yang jahat. Aku… Hiks…Aku telah menghancurkan mimpimu. Tak mampu menahanmu untuk tatap
tinggal bersama T-ara. Itu salahku. Aku yang jahat. Hika… Mianhae, Hwa!”

Tangis mereka pecah.

“Aku. Aku begitu iri padamu. Kau
seorang penari yang baik. Suaramu juga sangat indah. Semua eonnie begitu menyayangimu. Begitu
menjagamu. Sedangkan aku? Aku
hanya orang asing bagi mereka.
Mereka tidak pernah menganggapku
ada.” Ucapnya sambil terisak.

“Aniya. Mereka semua
menyayangimu, Hwa. Aku, aku
menyayangimu. Kau sudah ku
anggap seperti saudaraku sendiri.”

“Mianhae.” Akhirnya kata itu meluncur juga dari
mulut Hwayoung.

“Mianhae.” Tambahnya.
Lalu ia bergegas pergi namun belum
sempat ia mendekat arah pintu, Qri, Hyomin, Soyeon dan juga Boram masuk.
Betapa terkejutnya mereka berempat saat melihat kehadiran Hwayoung
didalam ruang rawat Jiyeon.

“Neo!” Tunjuk Hyomin.

“Apa yang sedang kau lakukan disini, eoh? Apa belum cukup kau membuat Jiyeon terluka, eoh?” Bentak Hyomin.

“Apa kau berniat melukainya lagi?” Tanya Qri tak kalah emosi dari Hyomin.

“Hentikan, eonnie! Jangan seperti itu pada Hwayoung. Dia
dongsaengku!”

“Mwo? Neo micheosso? Gadis setan seperti dia masih kau anggap dongsaeng? Dia bahkan lebih tua darimu, Jiyeon-ah.”

Mendengar Hyomin mengatakan
bahwa Hwayoung lebih tua dari
Jiyeon sontak membuat Hwayoung terkejut. Selama ini ia merasa bahwa
rahasianya itu begitu rapih ia
simpan, tapi bagaimana bisa mereka mengetahui kebenaran itu.

“Ne. Kami semua tau tentang
identitas kelahiran yang kau
palsukan. Tak terkecuali Jiyeon. Ia juga mengetahuinya.” Tambah
Boram saat melihat reaksi Hwayoung.

“Bahkan saat ia tau kau berbohong ia masih setia berada disampingmu.
Kami, tentu saja kami begitu tidak menyukai sebuah kebohongan. Maka dari itu kami kurang menyukaimu.
Tapi dia, gadis yang kau lukai habis-habisan, ia bahkan terus
menganggapmu saudaranya.”

Hwayoung, mendengar penuturan Soyeon membuat rasa bersalahnya kian membesar.

“Hentikan, eonnie! Jangan
diteruskan! Hiks…” Tangis Jiyeon.

“Kau, bahkan dia terus
melindungimu saat ia sendiri terluka!” Tambah Qri.

“Pergi kau! Aku benar-benar muak melihatmu. Pergi!” Bentak Hyomin.

Hwayoungpun langsung pergi
dengan perasaan bersalahnya yang menggunung *?*.

Ya, Park Jiyeon. dia yang selalu
menemani dirinya. Menyayanginya.
Bahkan terus melindunginya.
Hanya karena merasa iri, ia
melakukan hal buruk itu. Melukai orang yang begitu menyayanginya.
Menganggap saudara dirinya.

Sementara itu Jiyeon menangis
diruang rawatnya. Semuanya benar-benar tidak tega melihat Jiyeon yang terus menangis.

“Berhentilah menangisi gadis setan itu!” Bentak Hyomin.

“Hyomin-ah, Redakan emosimu!”
Peluk Boram.

Eunjung datang. Ia benar-benar
tidak mengerti dengan keadaan yang ada didepannya.

“Ige mwoya?”

Soyeon yang melihat Eunjung datang langsung menarik eunjung keluar ruangan dan Borampun melakukan
hal itu pada Hyomin.

Sedangkan Qri, dia menenangkan Jiyeon, memeluk
gadis itu memberikannya
ketenangan.

Sementara itu Soyeonpun
menceritakan pada Eunjung perihal kedatangan Hwayoung beberapa menit lalu.

***

Sehari setelah kejadian itu, Jiyeon diizinkan untuk pulang oleh dokter.
Saat ia dan para eonnienya sedang makan diruangan yang memang berhadapan langsung dengan dapur di dorm mereka, mereka melihat
Hwayoung dilayar Televisi. Ia
melakukan konference Fers.

“Apa lagi yang akan gadis setan itu lakukan?” Geram Hyomin.

“Molla” Jawab Qri.

Ryu Hwayoung, ia menyatakan bahwa semua yang ia katakan pada media tentang pembully an itu adalah bohong adanya. Ia juga meminta maaf dan memberitahukan semua kebenarannya pada media.

Jiyeon sontak bergegas mencari
handphone nya dan mencoba
menghubungi Hwayoung namun
gagal. Nomornya tidak aktif.

“Apa ini berarti kita sudah aman?”Tanya Hyomin.

“Kurasa begitu.” Jawab Eunjung.

“Benarkah?” Tanya Qri.

“Huaaaaaaaa akhirnya hari yang
melelahkan berlalu juga.” Ucap
Boram senang.

“Ne. Setidaknya dengan kejadian ini kita dapat mengambil hikmahnya.” Tambah Soyeon.

“Ne. Kita jadi tau mana yang benar-benar menjadi teman kita saat kita terpuruk kemarin.” Timpal Boram.

“Ne.” Jawab Eunjung singkat.

“Apakah kita harus berterimakasih pada gadis setan itu karena sudah berani jujur?” Tanya Hyomin.

“Aisssssh, sirreo!” Tolak Qri.

Semuapun tertawa kecuali Jiyeon. Ia mulai gelisah karena masih belum bisa menghubungi Hwayoung.

“Jebal! Hwa, neo micheosso?”
Monolognya. Ia begitu khawatir akan keadaan Hwayoung saat ini. Ia tau jelas konsekuensi apa yang akan didapat Hwayoung setelah penuturannya pada publik.

***

Haripun berlalu dengan begitu cepat.
T-ara kembali bersinar.
Orang-orang tidak lagi mengucilkan mereka. Walau ada sebagian yang masih membenci mereka. Tapi itulah
kehidupan.
Disaat seseorang menyukaimu,  maka kau juga harus bersiap akan seseorang yang membencimu.
Sampai tiba suatu hari T-ara tak ada jadwal apapun.
Park Jiyeon, tanpa sepengetahuan para eonnienya ia mengadakan Conference Fers.

“Terimakasih atas kedatangan kalian semua hari ini.” Ucapnya ramah pada semua awak media yang hadir.

“Saya akan mengatakan suatu hal
yang penting pada hari ini.”
Tambahnya.

Para awak media dengan setia
menanti ucapan Jiyeon selanjutnya.

“Saya, Park Jiyeon, pada hari ini
menyatakan hengkang dari T-ara.”

Hohohoooooo, Jreng Jreng Jreng, Apa ini?
Siap di timbuk jamban oleh para reader!
Coment Jusaeyo!

FF Kai Jiyeon (KaiYeon) part 3

All I Want You To Know Is I
LOVE U
(part 3)

Main cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jongin aka Kai (EXO)

Other cast:
Lee Taemin (SHINee)
Lee Jinki aka Onew (SHINee)
Park Hyomin (T-ara)
Ham Eunjung (T-ara)
D.O kyungsoo (EXO)
Park Chanyeol (EXO)
Suho (EXO)
Oh Sehun (EXO)
Byun Baekhyun (EXO)

Genre: Romance, Friendship, Sad
(idol life)

Length: Chaptered

Songfics:
Kevin (U-Kiss) My Reason

A/N:
Langsung posting 2 part nih dalam sehari. Semoga authornya ga bosen buat repost nya. 😀
FF ini pernah di publish pada tanggal 24 Februari 2014 silam.
Tentu di repost setelah melalui beberapa proses editing mengenai bahasa dan juga typo.
Langsung di comot aja deh!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

Ketenaran Park Jiyeon semakin hari semakin meningkat.
Selain sebagai seorang model ia juga membintangi beberapa serial drama dan film layar lebar serta menjadi MC
dibeberapa program acara televisi.
Namun scandal tetap mengiringi
perjalanan karirnya.
Mulai dari kemiripannya dengan artis senior Kim Tae Hee sampai Video sexy yang ia akui
bahwa benar itu adalah dirinya.
Semua scandal itu memang sengaja dilakukan karena memang itu semua
adalah bagian dari skenario Kwang Soo, CEO Core Contents Media.
Tiba saat Jiyeon akan bergabung
dengan sebuah grup bernama T-ara.
Dari situlah semuanya dimulai.
Kwang Soo, ia tak hentinya membuat scandal dengan pemecatan 2 anggota T-ara yang bahkan belum debut. Itu semua memang rencana Kwang Soo agar membuat T-ara
semakin disorot masyarakat.

Jiyeon, dia berlatih dengan sangat keras. Terutama menari. Setiap hari dia akan melakukannya.

“Eonnie, apa menurutmu anak itu tidak terlalu berlebihan?” Tanya Hyomin saat memasuki ruang latihan menari dan melihat Jiyeon.

“Molla. Kupikir ini bagus untuknya. Ia masih sangat muda, tentu saja Ia pasti akan sangat mampu melakukannya.” Jawab Eunjung yang berada disamping Hyomin.

“Tapi apakah kau tak
melihatnya, eonnie? Suaranya bahkan lebih bagus dari Tariannya. Bisa
sajakan ia jadi lead vocal, tapi
kenapa ia menolak dan malah ingin menjadi lead dancer? Lihatlah! Bahkan ia tak berbakat dalam menari.”

“Itu kelemahannya. Ia tau akan hal itu dan ia ingin mengalahkan
kelemahannya itu. Aku bangga
padanya.”

Jiyeon, dia berlatih menari dengan sangat keras. Bahkan sering sekali ia terjatuh, tapi ia akan tetap bangkit dan menari kembali.

Sampai tiba saat ia benar-benar
drop. Ia tampil lesu disebuah konser dan itu menuai berbagai kritik dari para netizen. Ia lalu langsung meminta maaf.
Kemampuan menarinya dari hari
kehari semakin meningkat. Bahkan para eonnie & pelatih tari T-ara memuji kemampuan menarinya. Ia berhasil menjadi seorang lead dancer di T-ara.

“Kim Jong In. Lihatlah! Bahkan
disaat aku sudah berada diatas
dengan segudang penghargaan, Kau masih belum debut. Apakah bahkan mimpimu itu tidak bisa kau raih? Lihatlah, Kim Jong In? Impianmu kini ada padaku.” Batin Jiyeon.

Yeoja itu, ia masih mengingat Kim Jong In. Masih tersimpan rapih perasaannya untuk Kim Jong In.
Jiyeon, semakin hari ia semakin
menghiasi layar kaca. Ia bahkan
digosipkan dengan banyak namja. Mulai dari lead vocal grup besar Super Junior, Yesung. Lee Joon Mblaq yang memang lawan mainnya dalam sebuah film, sampai para member SHINee pun tak luput dari
namja yang dikait-kaitkan dekat
dengannya. Namun tak ada satupun pembenaran yang dilontarkan dari mulutnya.

Sampai tiba saat Jiyeon dan Onew membawakan sebuah acara musik dan Onew yang kita ketahui adalah leader dari SHINee ini memberikan
bunga pada Jiyeon. Sontak itu
membuat publik berfikir kalau
mereka ada hubungan lebih dari
sekedar rekan kerja.

~Dorm SHINee~

“Kya, Hyung! Apa yang kau lakukan tadi, eoh? Kenapa kau memberikan Jiyeonku bunga, eoh?” Sembur Taemin saat Onew memasuki kamarnya.

“Kau berisik sekali! Aku lelah!”
Jawab Onew langsung berbaring
diranjangnya.

“Kya, Kya, Kya! Ireona, Hyung! Kau hutang penjelasan padaku.” Rengek Taemin seraya menarik rambut Onew.

“Kya, Micheosseo! Appo!” Erang
Onew.

“Aku akan membuat rambutmu botak kalau kau tak menjelaskannya sekarang, Hyung!” Ancam Taemin.

“Kya! Geumanhae, Lee Taemin!”

Taeminpun melepaskan tangannya dari rambut Onew.

“Aku hanya memberikannya bunga. Aku tidak menyukainya. Aku hanya menganggapnya seperti dongsaengku sendiri. Puas Kau.” Teriak Onew langsung merapihkan rambutnya.

“Cincha! Gomawo, Hyung.
Saranghae!” Ucap Taemin gembira dan langsung memeluk Hyungnya itu.

“Kau benar-benar menjijikan Lee
Taemin. Cepat Lepaskan!”

Taemin tetap memeluk leadernya itu.

**

Jiyeon dan anggota T-ara lainnya
menjalani syuting MV Lies dan dalam MV tersebut akan ada adegan Jiyeon dicium oleh aktor muda berbakat Yoo Seung Hoo.
Saat menghadiri sebuah acara
televisi, MC bertanya pada Jiyeon,

“Jiyeon-ssi, apakah itu ciuman
pertamamu?”

“Ne.” Jawab Jiyeon malu-malu. Lalu saat ia menghadap ke arah kamera yang ada didepannya ia tak sengaja melihat sosok Jong In disana, diantara para penonton yang hadir
dilokasi syuting berlangsung.

“Ah, kurasa tidak.” Ralat Jiyeon.

Eunjung langsung menambahkan

“Dia pintar menyembunyikannya.”

Jawaban Jiyeon diacara kemarin lagi-lagi menuai kontroversi. Membuat para netizen berasumsi bahwa Jiyeon itu seorang pembohong besar.

“Bagaimana ia bisa ada disana?
Sedang apa ia? Mengapa aku malah gelisah seperti ini? Harusnya ini bagus, karena dengan begitu ia akan
berfikir bahwa ciumannya waktu itu hanyalah angin lalu semata. Ada apa denganmu, Park Jiyeon? Kenapa jadi goyah seperti ini setelah bertemu dengannya?” Racau Jiyeon.

~JONG IN POV~

Benarkah kemarin itu, Yeonnie?
Dia benar-benar berbeda.
Dia tak seperti Yeonnie yang dulu.
Apakah dia bahagia dengan
kehidupannya sekarang?
Dengan berbagai scandalnya.
Aku sangat mengkhawatirkannya.
Apakah benar dia tidak apa-apa?

~JONG IN POV END~

“Kya, waegeureseo?” Tanya D.O
salah satu trainee SM pula sama
seperti Jong In.
Jong In sangat dekat dengannya.

“Hyung, ku rasa aku telah melakukan kesalahan yang besar. Nae Nappeun namja.”

“Apa karna Park Jiyeon?” Tebak D.O.

Jong In hanya menunduk menyesal.
Menyesal atas apa yang ia katakan dulu pada Jiyeon.

“Temui saja dia! Kurasa dia tidak
akan menolak bertemu denganmu, Kai.” Ucap D.O menenangkan.

“Ini semua salahku, Hyung. Harusnya waktu itu aku tak boleh seperti itu.
Saat kembali kerumah bahkan
disekolahpun dia sudah pindah
sebelum aku meminta maaf
padanya. Aku benar-benar sahabat yang jahat, Hyung.” Tangis Jong In pecah. D.O langsung merangkul Jong
In. Memberikan sebuah ketenangan untuknya.

**

Pada Desember 2011 SM
Entertainment mengumumkan akan
membentuk satu grup baru. Dan tepat pada 22 Desember Jong in
diperkenalkan sebagai member
pertama dengan nama panggung,

“KAI”

dalam grup bernama,

“EXO”

“Akhirnya kau debut juga, Jong In-ah.” Batin Jiyeon saat melihat Teaser Jong In pertama kali.

**

2012 menjadi tahun yang berat bagi keduanya. Jiyeon yang harus
kehilangan sahabatnya, Ryu
Hwayoung karena mengundurkan diri dari Grup dan Jong In yang menjalani
promosi Grup barunya EXO
keberbagai negara.

“Sudah berapa tahun, Jong In-ah? Dan aku masih tetap merindukanmu.” Batin Jiyeon.

Saat ini Jiyeon dan para member
lainnya sedang di LA melakukan
promosi Sub Unit baru T-ara
bernama T-ara N4 yang dianggotai Eunjung sebagai leader, Hyomin, Jiyeon & juga Dani. Dan tanpa mereka
ketahui EXO-K pun sedang berada di LA sebagai bintang tamu di Super Show para sunbae mereka yakni Super
Junior.

Saat itu T-ara N4 baru selesai
konser dan mereka berniat jalan-jalan disebuah taman tak jauh dari tempat konser mereka kecuali Dani yang harus kembali ke rumah karena memang Dani tinggal di LA dan bersekolah di LA. Sampai,

“Jiyeon, Nuna!” Panggil Sehun
maknae EXO yang berteriak padanya.
Sontak itu membuat Jiyeon dan para nunanya berbalik kemudian melihat ke arah
Sehun.

Mata Jiyeon seperti sudah
mau keluar dari sangkarnya *?* saat pancera inderanya menangkap sosok
Kim Jong In, orang yang sangat ia
rindukan beberapa tahun ini. Jong In pun sama terkejutnya. Mereka saling menatap seolah hanya dengan tatapan merekalah yang mampu
menyalurkan rasa rindu mereka.
Sehun langsung berlari menghampiri
Jiyeon dan para nuna lainnya.

“Annyeong! Sehun Imnida.
Nunadeul, aku adalah fans berat
kalian. Sungguh!” Lalu dengan
antusias nya Sehun bernyanyi &
menari Country Side milik T-ara N4.
Jelas saja itu membuat para
nunanya tertawa. Member EXO-K
yang lainpun ikut mendekat, tak
terkecuali dengan Jong In.

“Jiyeon-ah, apa kabar? Wah kau
terlihat makin cantik saja!” Puji
Chanyeol yang memang berteman baik dengan Jiyeon. Saat Chanyeol masih menjadi Trainee, ia dan Jiyeon sama-sama menjadi Ulzzang saat itu dan mereka juga sekolah di sekolah yang sama di Gangnam, Sekolah Jiyeon yang baru.

“Eoh, Yeollie-ah Bangabseumnida!” Jawab Jiyeon dengan ramahnya seraya menunduk.

“Kya, Hyung! Kenapa tak pernah
memberitahuku bahwa kau mengenal Jiyeon nuna, eoh?” Protes Sehun.

“Kau sendiri tak pernah bertanya
padaku, Pabo.”

“Aissshh, kau tau sendiri kan kalau aku ini Jiyeonistic, Hyung!” Rengek Sehun merasa dikhianati hyungnya itu.

“Kalian berisik sekali.” Ucap Suho.

“Annyeong, Sunbaenim. Joeneun
Suho Imnida, Leader EXO.” tambah Suho. Lalu ia memperkenalkan satu
persatu para membernya dan
Eunjungpun melakukan hal yang sama.

Jiyeon dab Kai, mereka masih berkutat dengan pikiran mereka masing-masing. D.O hanya diam
menyaksikannya. Ia tau apa yang
ada dipikiran Kai saat ini. Sampai
Sehun mengajak foto bersama Jiyeon dan Chanyeolpun melakukan hal yang sama.
Sedangkan Eunjung dan jga Hyomin masih asik mengobrol dengan Suho dan juga Baekhyun.

“Hyung, aku kembali ke hotel. Kurasa aku butuh istirahat.” Ucap Jong In pada D.O.

D.O pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
Jong In pun pergi dan Jiyeon pun melihatnya.

“Jiyeon-ah, apa kalian melakukan
konser di LA juga?” Tanya Chanyeol

“Eoh, Ne.” Jawab Jiyeon singkat yang masih memperhatikan kepergian Jong In.

“Kau kenapa Jiyeon-ah? Apa kau
sakit?” Tanya Chanyeol perhatian.

“Mungkin dia kelelahan Chanyeol-ssi. Kami baru selesai konser dab langsung bermain ke tempat ini.” Ucap Hyomin yang langsung menjawab pertanyaan Chanyeol untuk Jiyeon.

Jiyeon, ia masih terus memandang kepergian Jong In sampai Jong In benar-benar menghilang dari pandangannya. Begitu pula dengan D.O yang terus saja memperhatikan Jiyeon.
Sampai,

~BRUK~

“Kya, Jiyeon-ah!” Teriak Chanyeol
panik.

Jiyeon ambruk. Dia pingsan.

“Bisa tolong bantu kami
membawanya ke mobil,Chanyeol-ssi! Kurasa dia benar-benar kelelahan.” Pinta Eunjung Panik.

Chanyeol langsung menggendong
Jiyeon dan membawanya masuk
kedalam mobil yang memang sudah disediakan pihak agensi untuk T-ara N4 selama di LA.
Member EXO yang lain pun ikut
membantu.

“Kamsahamnida, Chanyeol-ssi, dan yang lainnya juga. Kami permisi dulu. Annyeong!” Ucap Eunjung ramah.

Setelah mobil mereka agak menjauh,

“Apa nuna akan baik-baik
saja, hyung?” Tanya Sehun Khawatir.

“Molla.” Jawab Chanyeol seraya
mengangkat kedua bahunya.

Suho sang leader baru menyadari bahwa Jong In menghilang.

“Di mana si Kkamjong itu?”
Tanyanya. Suho, hanya dia yang
memanggil Jong In dengan sebutan Kkamjong. Karena
kulit Jong In lebih hitam dari
kulitnya.

“Eoh, aku tak melihatnya hyung.”
Jawab Baekhyun.

“Dia pamit kehotel duluan. Tadi dia mengatakan dia akan  beristirahat, Hyung.” Jawab D.O.

Merekapun kembali kehotel.

D.O dan Jong In, Mereka satu kamar.
Sesampainya D.O di dalam kamar hotel ia melihat Jong In sedang menari. Jong In seperti sudah menari berpuluh-puluh jam, terlihat dari peluh dimuka serta pakaiannya yang basah.

“Beristirahatlah! Jangan menyiksa dirimu!”

“Kau lucu sekali, Hyung! Bagaimana bisa kau bilang aku ini menyiksa diri sendiri. Aku sedang latihan. Beberapa jam lagi konser akan segera dimulai. Walaupun ini bukan konser tunggal kita, kita harus tetap
memberikan performa yang terbaik untuk para ELF. Kita tidak boleh mengecewakan para sunbae.” Dan,

~BRUK~

Jong In terjatuh.

“Berhentilah! Sudah cukup, Kai! Dia, gadis itu pingsan dan sudah dibawa kembali ke hotel tempat mereka.”

Ucapan D.O sontak membuat Jong In begitu terkejut. Gadis itu, gadis yang selama
ini sangat ia rindukan, pingsan.

“Temuilah dia! Setelah konser kau datanglah kehotel mereka! Katakan semuanya pada gadis itu!” Ucap D.O tenang seraya memberikan sebuah
kertas pada Jong In dan Jong In pun menerimanya.

“Itu alamat dan nomor kamarnya. Aku mengetahuinya saat Chanyeol Hyung
menelpon Jiyeon tadi dan aku
langsung meminta padanya. Datang dan temuilah dia!”

***

Setelah konser Super Show
Super Junior selesai, Jong In
langsung bergegas pergi dengan
masih mengenakan pakaian
panggungnya dan tak lupa ia
mengenakanJaketnya.

“Ada apa dengan anak itu?”Tanya
Suho sang leader.

“Dia mau kemana?” Sambung
Chanyeol.

“Dia akan menemui temannya.
Baru saja temannya  menghubunginya bahwa ia tengah berada di LA saat ini.” Jawab D.O bohong.

Jong In langsung menghentikan taksi dan lalu menaikinya kemudian menginteruksikan
sang supir menuju ke alamat yang tertera dikertas yang ia perlihatkan pada sang supir.

Sementara itu,

“Kyungsoo-ya, untuk apa kau
meminta alamat hotel dan nomor kamar para member T-ara N4?” Tanya Chanyeol.

“Hanya ingin saja, Hyung! Hehe.”
Jawab D.O cengengesan berusaha menghilangkan kecurigaan hyungnya itu.

Sesampainya Jong In didalam hotel.

“Bagaimana ini? Apa yang harus
kukatakan? Aku bahkan tidak bisa
berbahasa Inggris. Aisssh!” Racau
Jong In prustasi seraya mengacak
rambutnya.
Kemudian Jong In pun mempunyai ide.
Ia segera menghubungi Suho.

“Hyung!” Teriaknya saat sambungan telepon tersambung.

“Wae, Kkamjong? Neo eodiseo?”

“Hyung, aku butuh bantuanmu!”

Kemudian Jong In pun memberitahukan maksudnya, Meminta bantuan agar
Suho memberitahukan pada sang
recepcionis untuk menunjukan kamar bernomor 203 menggunakan bahasa Inggris.

Suho, ia yang paling pandai
berbahasa Inggris dibanding dengan member yang lain. Tentu saja itu karena Suho
mempelajarinya sejak kecil, Karena keluarganya memang mewajibkannya untuk mempelajari berbagai macam
bahasa tak terkecuali bahasa
Inggris. Maka dari itulah Jong In
langsung menghubungi Suho karena tidak diragukan lagi kemampuan bahasa Inggris Suholah yang terbaik diantara semua member.

Jong In pun memberikan
handphonenya pada sang
recepcionis.
Awalnya sang recepcionis ragu, tapi Jong In
mengisyaratkan bahwa ia tidak bisa berbahasa Inggris.
Sang recepcionis pun menerimanya dan berbicara dengan Suho.
Tidak terlalu lama, lalu sang recepcionis menyerahkan kembali handphone itu
pada Jong In.

“Eotteokhae, hyung?”

“Katanya pengunjung yang ada
dikamar itu sudag cek out dari
beberapa jam yang lalu.”

Perkataan Suho langsung membuat lemas tubuh Jong In.

“Yeoboseyo! Yeoboseyo!” Ucap Suho diseberang sana saat tak mendengar suara Jong In lagi. Ia pun langsung memutuskan sambungan teleponnya
dengan kesal.

“Issshhh, benar-benar
tidak sopan si Kkamjong itu.”

Sementara didalam pesawat yang ditumpangi member T-ara N4,

“Gwaenchana?” Tanya Hyomin yang duduk disamping Jiyeon. Dia tentunya masih sangat khawatir pada dongsaengnya itu. Setelah sadar dari pingsan ia malah meminta untuk segera kembali ke Korea.

“Gwaenchanayo, eonnie.” Jawab
Jiyeon dengan lemasnya masih
memberikan senyuman terbaiknya untuk eonnie nya itu.

“Kim Jong In. Kurasa inilah
batasnya. Kurasa Kim Jong In yang selama 4 tahun bersahabat
denganku memang benar-benar
sudah tidak ada. Kurasa inilah
waktunya. Waktu untukku
menghapus semua memory
tentangmu. Selamat tinggal, Kim Jong In.” Batin Jiyeon.

**

Setelah kejadian itu, Kim jong In
mulai murung. Yang akan ia lakukan setelah selesai syuting entah itu reality show atau acara musik adalah diam diruang latihan menari. Bukan untuk
menari, melainkan hanya untuk duduk terdiam.
Sungguh ia melakukan dua kali
kesalahan. Dua kali mengabaikan
gadis itu dan itu semua adalah
kebodohannya.
D.O menghampirinya dan duduk
disampingnya.

“Besok kita akan tampil di
Shimsimtapa. Kau, Aku, Sehun dan juga Chanyeol hyung.”

Jong In masih terdiam. Belum merespon apapun ucapan D.O.

“Juga bersama bintang tamu lain.” Tambah D.O. Dia lalu melihat Jong In yang masih belum meresponnya sampai,

“T-ara. Mereka juga bintang
tamu di acara yang sama dengan
kita.”

Sontak itu membuat Jong In
menoleh kearahnya dengan mimik muka terkejut.

“Ne, T-ara. Eunjung Nuna dan Hyomin nuna yang akan hadir diacara itu.”Tambah D.O.

Jong In pun langsung kembali
menunduk.

“Dan Park Jiyeon.” Lanjut D.O.

Jong In terkejut tapi masih
menunduk.

“Park Jiyeon juga salah satu nya.
Mereka bertiga yang akan menjadi partner kita diacara Shimshimtapa besok.”

Jong In masih tetap diam.

**

Hari yang ditunggupun tiba. Para
member EXO dan T-ara yang hadir mulai menikmati acara, S
Sampai sang MC Shindong Super Junior mengusulkan untuk
battle dance.
Dari EXO akan diwakili
oleh Kim Jong In dan dari T-ara oleh Park Jiyeon.

“Kya, Hyung! Kenapa bukan aku saja? Aku juga tak kalah hebat menari dibanding Kai!” Protes Sehun.

“Kau ini cari perhatian saja, Oh
Sehun. Biarkan nunamu ini
bertanding dengan Kai.” Jawab
Shindong yang tentu sudah mengetahui bahwa Sehun adalah fans dari Park Jiyeon setelah melakukan beberapa wawancara sebelumnya.

“Aissh, geura! Aku akan
mendukungmu nuna!” Teriak Sehun yang langsung mendapatkan pukulan
dari Chanyeol.

~PLAK~

“Kya! Kau ini dari EXO apa T-ara,
Eoh!” Protes Chanyeol sontak
membuat seisi orang yang ada
diruangan itu tertawa, Tak terkecuali dengan Park Jiyeon.
Kim Jong In, Ia masih
diam tanpa ekspresi. Masih
memandang lekat seorang Park
Jiyeon. Sungguh ia amat merindukan tawa gadis itu.
Park Jiyeon yang merasa diperhatikan Kim Jong In
pun mulai berkata,

“Baiklah dongsaengku! Lihat saja nunamu ini lebih hebat dari kawanmu diseberang sana.” Ucap Jiyeon dengan smirknya. Ia pun berdiri dan
musikpun dimulai.

Park Jiyeon menari tanpa kesalahan dan rasa gugup sedikitpun.
Sehun terus meneriaki namanya dan juga selalu mendapat pukulan dari Chanyeol.

Kim Jong In, pria itu begitu terkejut dengan perubahan Park Jiyeon. Walaupun ia pernah melihat tarian seorang Park Jiyeon ditelevisi, namun
ini adalah pertama kali ia
melihatnya menari secara langsung.

Beberapa tahun lalu, terakhir ia
melihat seorang Park Jiyeon menari dengan tarian buruknya yang akhirnya hanya membuat ia terjatuh berkali-kali. Tapi hari ini, seorang Park Jiyeon menunjukkan padanya
tarian yang begitu indah. Bahkan
seorang Hyoyeon yang dimata Kim Jong In adalah seorang penari wanita terbaik tidak sebanding dengan kehebatan seorang Park Jiyeon saat ini. Kim Jong In, ia
menatap kagum sosok Park Jiyeon.
Semua orang bertepuk tangan saat Jiyeon selesai menari.

“Kau sungguh hebat, Yeonnie!”
Akhirnya Kim Jong In buka suara.

Betapa terkejutnya semua orang
yang ada di ruangan itu. Kim Jong In memang tidak terlibat percakapan apapun dari awal acara dan tidak bertegur sapa dengan Jiyeon, tapi yang ia katakan barusan seolah-olah
ia mengenal Jiyeon dengan baik.
Jiyeonpun sama terkejutnya. Ia tidak menyangka Kim Jong In akan mengatakan itu, Juga panggilan Yeonnie. Sungguh ia amat merindukan panggilan itu keluar dari mulut seorang Kim Jong In. Park Jiyeon berusaha menghilangkan rasa
gugupnya.

“Kya, Kai-ssi! Kau sungguh
tak sopan. Bahkan usiaku lebih tua darimu 7 bulan. Harusnya kau memanggilku Nuna seperti yang Oh Sehun lakukan.” Ucap Jiyeon mempoutkan bibirnya seraya berkacak pinggang yang berhasil membuat semua orang
tertawa.

“Kya, Kai! Yang dikatakan Jiyeon
nuna itu benar. Kau harus
memanggilnya nuna! Dan apa-apaan kau ini? Kau sok akrab sekali dengannya.” Protes Oh Sehun jengkel.

Jong In hanya tersenyum manis
menanggapinya. Sungguh Park
Jiyeon membatu saat melihat
senyuman itu. atmosfer diruangan itu seketika berubah menjadi dingin.
D.O hanya diam memperhatikan dua makhluk yang masih saling menatap satu sama lain itu.

***

Setelah kejadian itu, Kim Jong In
kembali bersemangat. Namun
berbeda dengan Jiyeon. Lagi-lagi
skandal menyertainya. Kali ini
tentang penuturan Ryu Hwayoung mentan anggota T-ara yang keluar beberapa bulan lalu. Ia mengatakan pada para awak media bahwa selama ia bergabung di T-ara ia
mendapatkan perlakuan yang tidak baik terutama dari Park Jiyeon. Karena penuturan Ryu Hwayoung itulah sontak membuat para member
T-ara dipandang sebelah mata.
Mereka sering dicaci dan dimaki entah dalam dunia maya maupun nyata.
Bahkan tidak sedikit dari para artis-artis yang menjauhi mereka.

Park Jiyeon, seperti biasa ia hanya diam tak menanggapi kabar tersebut.
Sampai tiba acara Music Bank.
Banyak artis yang mengisi acara
tersebut tak terkecuali T-ara, EXO-K dan Juga SHINee.
Saat T-ara perform, tiba-tiba dari
arah penonton ada yang
melemparkan Batu tepat ke arah
Jiyeon. Dan,

~BRUK~

Jiyeon ambruk.
Dia pingsan.
Jelas semuanya terkejut.
Para member T-ara
langsung berlari ke arah Jiyeon.
Sedangkan artis lain, mereka tidak berani bergerak dari tempatnya. Mereka tidak mau ikut terlibat karena nama T-ara memang sedang buruk dimata publik.
Park Chanyeol, Lee Taemin dan Onew yang memang mengenal baik Jiyeonpun tidak berani angkat kaki dari tempat mereka. Sampai seorang Kim Jong In berlari mendekat
dengan wajah paniknya.

“Yeonnie, Ireona!” Teriak Kim Jong In. Lalu ia melihat darah
ditangannya saat tidak sengaja
menyentuh kepala Jiyeon. Sudah
pasti batu itu mengenai kepala gadis itu.
Tanpa pikir panjang ia langsung
menggendong Park Jiyeon dan
membawanya ke rumah sakit.

Bagaimana kelanjutannya?
Apakah mereka akan kembali
bersahabat seperti dulu lagi setelah kejadian ini?
Lalu bagaimana dengan image Kim Jong In dimata publik yang
menyaksikannya, Apalagi mengingat acaranya ditayangkan secara Live dan
tidak menutup kemungkinan tidak ada sensor?
Kritik dan Saran masih tetap author harapkan.
Pantengin terus WP nya.
Bisa jadi beberapa saat lagi akan hadir part 4 wkwkwk.
Coment Jusaeyo!

image

FF Kai Jiyeon (KaiYeon) part 2

All I Want You To Know Is I
LOVE U

(part 2)

Main cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jongin/Kai (EXO)

Other cast:
Lee Taemin (SHINee)
Lee Jinki aka Onew (SHINee)
Kim Hyo Yeon (SNSD)
Kim Kwang Soo (CEO Core Contents Media)

Genre: Romance, Friendship, Sad
(idol life)

Length: Chaptered

Songfics: Dalmatian-E.R

A/N:
Seperti yang sudah saya beritahukan di postingan sebelumnya, sebisa mungkin saya akan repost FF saya di FB setiap hari. Bisa jadi dalam sehari ada lebih dari 1 FF yang saya repost.
FF ini di publish pada tanggal 23 Februari 2014 tahun lalu. Ada banyak perbaikan mulai dari bahasa sampai tanda baca.
Tetap pantengin terus WP saya yah readers.
Dan jangan lupa untuk setia memberikan jejal selesai kalian membacanya.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

~JIYEON POV~

Ya, keputusanku sudah bulat. Aku
tidak akan mengikuti audisi ini.
Tidak akan.
Tepat dihadapanku saat ini berdiri tegap gedung salah satu agensi terkenal di Korea, SM Entertainment.
Ya Tuhan, sungguh luar biasa
gedung ini.
Saat masih mengagumi gedung SM kulihat banyak remaja seusiaku mulai memasuki gedung ini.
Aku datang jelas bukan untuk
mengikuti audisi ini melainkan
untuk bertemu Jong In.
Kupikir dengan datang kesini
langsung aku bisa bertemu
dengannya.
Ahjumma Kim, eomma Jong In
mengatakan bahwa Jong In sudah
kembali ke dorm pkl 4 pagi tadi. Jadi kuputuskan untuk datang kesini menemuinya.
Saat aku mulai memasuki gedung aku melihatnya. Melihat Kim Jong In.
Segera aku berlari untuk mengejarnya.

“Jong In-ah!”

dia tetap tak berhenti.

“Kya, Kim Jong In!”

aku berhasil memegang tangannya dan diapun berbalik.

“Naega?”

Dia, dia bukanlah Kim Jong In. Mana mungkin aku salah lihat. Tapi benar, dia bukanlah Kim Jong In. Suaranya
bahkan lebih lembut dari Jong In.
Bahkan kulitnya pun lebih putih.
Iya, kupastikan dia bukan Kim Jong In walaupun sekilas mereka memang mirip.

“Mian, kupikir kau temanku.” Sesalku padanya seraya melepaskan tangannya dan menunduk meminta maaf berkali-kali.

“Yak! Yak! Yak! Geumanhae!” Ucap pria cantik yang ada dihadapanku ini.
Dia bahkan lebih cantik dariku. Oh Tuhan, ternyata ada juga pria cantik selain Kim Jae Joong Oppa, biasku.

“Apakah aku terlihat sangat
tampan?” Dia tersenyum. Manis
sekali.

“Ne? Ah Mian. Kalau begitu aku
permisi dulu. Annyeong!” Bisa mati berdiri aku jika dia terus tersenyum semanis itu.

~JiYEON POV END~

~TAEMIN POV~

“Kyeopta.” Itu kata pertama saat kulihat gadis ini menggenggam tanganku. Aigoo, dia benar-benar yeoppo.

Saat dia pamit hendak pergi,

“Kya! Ireum-i mwoyeyo?”

Aisshhh Lee taemin, kurasa kau
sudah gila. Berani sekali
menanyakan namanya disaat baru bertemu. Kulihat dia berhenti dan membalikkan tubuhnya.

“Naega? Kau berbicara denganku?”

Aisshhh aku ingin sekali
mencubitnya. Dengan ekspresinya yang seperti itu membuatku semakin
menyukainya.
Mwo?
Suka?
Kya, Lee taemin sadarlah!
Kau calon bintang, bagaimana bisa tiba-tiba menjalin kasih dengan yeoja yang baru kau
temui yang bahkan belum
memberitahukan namanya itu.

“Ne. ireum-i Mwoyeyo?”

“Ah, Jeoneun Park Jiyeon Imnida. Mannaseo bangabseumnida.”

Dia menunduk lagi. Hahaha benar-benar lucu yeoja bernama Jiyeon ini.

Tiba-tiba kulihat dia seperti
mengingat sesuatu. Dia langsung
berlari.

“Kya! Kya!”

Dia tetap saja tidak mau berbalik.

“Park Jiyeon, Kau akan sangat
menyesal karena belum mengetahui namaku. Setelah kau tau siapa aku, Kau akan langsung berlari mengejarku, Meminta tanda tanganku lalu memintaku untuk foto
bersama lalu menjadikanku
namjachingumu.”

Saat aku sedang bermonolog ria
kepalaku terasa sakit.

~PLUK~

“Kya!”

Saat berbalik benar saja, Setan ayam ini yang memukul kepalaku.

“Jangan berfikir kau ingin manjadi aktor bahkan sebelum kau debut, Lee Taemin.”

Aissshhhh si leader ini benar-benar menyebalkan.
Ya, Dia adalah Onew.
Ani, keunde Lee Jinki. Dia itu sok
keren. Aku membencinya. Sangat membencinya. Aku membencinya karena dia sudah membuatku jatuh cinta pada suaranya. Itu benar-benar menyebalkan.

“Kajja!” Ajaknya seraya merangkul bahuku.

Ah sungguh, Kurasa debut SHINee besok akan tambah membuatku semakin semangat. Bertemu yeoja manis bernama Park Jiyeon memberiku sebuah vitamin. Hahahha. Kau harus melihatku Park Jiyeon. Harus.

~TAEMIN POV END~

~JIYEON POV~

Sungguh adalah suatu hal bodoh
berlama-lama bersama namja cantik itu. Aku harus segera bertemu Jong In karena itu tujuanku datang kesini.
Aku terus berlari sampai,

“Apa yang kau lakukan disini,
Yeonnie?” Suara itu. Suara itu suara Jong In.
Aku langsung berbalik menatapnya.
Ya benar, Ini Jong In. Kim Jong In.

“Bukankah seharusnya kau ikut
audisi, Yeonnie?” Tanyanya. Aku
mulai mendekat namun masih belum menjawab pertanyaannya.

“Kya! KAI!” Kudengar suara seorang yeoja. Dia
menghampiri Kami dan Jong In
langsung menghadap kearahnya.

“Nuna!” Kulihat dia sedikit terkejut.

“Sedang apa disini? Eoh, nugunde?” Tanyanya saat melihatku.

“Dia….. Dia hanya seorang peserta audisi yang tersesat nuna. Dia mencari ruang audisi dan tersesat kesini.”

Bagai tersambar petir disiang hari. Namja yang ada dihadapanku ini mengatakan bahwa aku hanyalah
peserta audisi yang tersesat.
Apakah aku salah mengenali orang lagi?
Tapi kuyakin tidak.
Buktinya tadi dia memanggilku Yeonnie. Lalu, ada apa ini?

“Oh. Kajja! Kita harus kembali
berlatih. Masih banyak tarian yang belum kau kuasai Kai.”

“Ah Ne, nuna.”

Nuna?
Gadis yang dipanggil nuna
itu menggandeng mesra Jong in.
Mereka meninggalkanku. Sungguh, bahkan kakiku ini tak sanggup menopang berat badanku. Rasanya
benar-benar sakit. Air mata ini
langsung meluncur hebat tanpa
dikomando olehku. Aku duduk terjatuh atas dilantai.

~JIYEON POV END~

~JONG IN POV~

Mianhae Yeonnie. Aku sungguh tak bermaksud menyakitimu. Tapi sungguh ini diluar dugaanku.
Bagaimana bisa kau berada
diruangan yang tidak seharusnya?
Harusnya saat ini kau berada
diruang audisi, Yeonnie.
Hyo Yeon Nuna, aku sungguh
khawatir saat ia melihatmu
bersamaku. Aku sangat takut dia
akan mengatakan yang tidak-tidak tentang hubungan kita.
Bagaimanapun juga aku masih
seorang Trainee, bahkan sebelum debut aku sudah membuat scandal, aku tidak ingin itu terjadi. Dan Aku
juga sangat ingin melihatmu berada diatas panggung. Bersama-sama diatas panggung. Itu adalah salah satu impianku. Mungkin kau memang tidak pandai menari sepertiku, tapi suaramu bahkan lebih indah dibanding dengan suara yang kumiliki.
Walaupun kadang bahkan sering
setiap kau berteriak rasanya bumi ini bergetar karena suara teriakanmu itu.
Mianhae Yeonnie. Jeongmal
mianhae. Sesalku.

Aku kembali berlatih
dengan Hyo Yeon nuna. Sungguh
aku sangat mengkhawatirkan
keadaan Jiyeon saat ini.

“Kya, Kai! Kau benar-benar penari yang buruk. Kalau kau terus menari seperti itu, kau tidak akan pernah debut dan selamanya akan menjadi
Trainee. Apa kau mau seperti itu, hah?” Bentaknya.

Tidak. Aku tidak mau seperti itu. Ini hidupku dan aku harus tetap hidup.
Harus tetap menari.
Hanya itu yang perlu kulakukan.

“Mianhae, nuna! Akan kuulangi
kembali.”

Kamipun kembali berlatih.

Hyo Yeon Nuna, dia adalah penari yang hebat.
Ia juga bersedia mengajariku yang hanya seorang Trainee. Dengan jadwal nya yang padat sebagai salah satu anggota dari grup besar SNSD, dia masih mau
mengajari Trainee sepertiku.
Ini adalah suatu keberuntungan.
Aku tidak boleh menyia-nyiakan ini.
Mianhae Yeonnie.

~JONG IN POV END~

~AUTHOR POV~

Jiyeon keluar dari gedung SM
entertainment dengan mata sembab karena menangis dan langkahnya pun nampak terhuyung.
Sungguh hari ini tak sesui dengan
yang ia rencanakan.
Tadinya ia akan memberitahukan
pada Jong In bahwa ia tidak akan
mengikuti audisi karena itu
bukanlah mimpinya. Walau masih belum menemukan impiannya, tapi ia sudah bertekad tidak akan mengikuti
audisi.
Dia akan tetap mendukung
Jong In sampai Jong In debut.
Tapi semuanya berbanding terbalik.
Bahkan Jong In tidak mengakui ia
adalah sahabatnya didepan wanita yang dipanggil nuna itu.
Sungguh hari ini benar-benar hari yang buruk bagi Jiyeon.

Kim Kwang Soo seorang CEO dari
Core Contents Media yang kebetulan lewat ditempat Jiyeon duduk menghentikan mobilnya.

“Gadis itu benar-benar mirip artis Kim Tae Hee.” Pikirnya.

“Dia tidaklah buruk. Sepertinya aku bisa menjadikannya ladang uang.”

Diapun langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Jiyeon.

“Annyeong! Jeoneun Kim Kwang Soo imnida. Apakah aku boleh duduk disini?” Tunjuknya pada kursi panjang yang diduduki Jiyeon yang memang masih terlihat kosong.

Jiyeon langsung menghapus air
matanya.

“Ne, Ahjussi. Silahkan!” Jawab Jiyeon sedikit bergeser dari tempat duduknya semula.

“Apakah kau seorang Pelajar?” Tanya Kwang Soo.

Jiyeon agak curiga dengan pria
paruh baya yang ada disampingnya ini.
Karena merasa dicurigai Kwang
Soo pun tertawa.

“Hahahaha, Apakah kau pikir aku ini orang jahat nak?”

Jiyeon hanya diam.

“Ini!” Kwang Soo menyerahkan kartu namanya pada Jiywon.

Jiyeon terkejut.
Dikartu nama tersebut tertera
“Kim Kwang Soo CEO Core
Contents Media”

“Maukah kau bergabung dengan
kami? Kupikir kau memiliki bakat. Wajah dan fostur tubuhmu sempurna bahkan tanpa make up dan pakain
mewah, nak. Kelak Kau akan menjadi bintang besar.”

~AUTHOR POV END~

~JIYEON POV~

” BINTANG BESAR “

Itulah yang Ahjussi ini katakan.
Bintang Besar. Bukankah itu impian Jong in.
Lalu aku teringat ucapannya
beberapa waktu lalu.

MENARI ADALAH HIDUP baginya.
MENARI ADALAH NAFAS baginya.
Dan
MENARI ADALAH SEGALANYA.
Itu semua adalah impiannya.
Lalu bagaimana dengan impianku?
Bahkan aku tak
mempunyai mimpi.
Mimpi yang
semula kupikir akan kutemukan saat bersamanya semuanya sirna. Sirna karena Namja itu bahkan menganggapmu orang asing, Park Jiyeon.

“Baiklah. Aku akan menerima
tawaran ini. Mohon bantuannya!” Itu kalimat yang ku ucapkan pada Ahjussi ini.

Dia hanya membalas dengan
senyumannya.

” Ya, Ini mimpiku. Mimpi yang bahkan kau tak bisa
menggapainya Kim Jong In. Karena impianku adalah Kau, Kim Jong In.
Kau adalah nafas dan juga hidupku.
Maka dari itu akan kuraih mimpi itu. Aku akan menjadi Bintang yang lebih
bersinar darimu, Kim Jong In.” batinku.

~JIYEON POV END~

~AUTHOR POV~

Beberapa hari setelah pertemuan itu
Jiyeon dan keluarganya pindah ke daerah Gangnam bermaksud untuk lebih dekat
dengan gedung agensinya itu. Jiyeon bahkan tidak pernah lagi bertemu Jong In setelah kejadian itu.
Selain pindah rumah, ia pun pindah sekolah.
Beberapa bulan menjalani Trainee, Jiyeonpun debut sebagai seorang model.
Seperti yang sudah direncanakan
Kwang Soo, Jiyeon akan menjadi Kim Tae Hee ke 2.
Itu membuat Anti Fans Jiyeon
banyak hanya karena wajahnya yang disama-samakan dengan artis senior.
Diawal debutnya, ia malah dibenci orang bahkan dari pihak Core Contents pun tak menolak asumsi publik itu. Tapi ini malah membuat nama Jiyeon semakin dikenal banyak publik.
Tapi Jiyeon Tidak pernah ambil
pusing semua itu. Ia bahkan seperti robot saat ini. Tersenyum dengan
manis, tertawa, itu ia lakukan hanya didepan kamera. Ia ingin
menunjukkan pada Jong In bahwa dia bahkan lebih dulu debut darinya.
Ia menjadi model dibeberapa
produck terkenal dikorea. Mulai dari pakaian sampai produck kecantikan.
Dan tiba saatnya jiyeon akan menjalani syuting menjadi model seragam sekolah bersama member SHINee
yang beberapa bulan lalu debut dan sekarang menjadi bintang yang paling bersinar di korea karena ketampanan dan juga tentu saja bakat yang mereka miliki.

“Park Jiyeon!” Ucap Lee Taemin saat melewati ruang make up Jiyeon. Iapun langsung mendekat.

“Aissh ternyata benar ini kau.
Ternyata model yang akan
berpasangan dengan kami adalah
kau, Jiyeon!”

“Ah, Ne. Annyeong sunbae. Mohon bantuannya!” Ucap Jiyeon ramah seraya membungkukkan tubuhnya.

“Hahahha…. Ternyata kau masih sama seperti pertama kali kita bertemu, Park Jiyeon. Apakah mungkin kita ini berjodoh?”

Jiyeon hanya tersenyum manis.

“Aigoo, Senyummu benar-benar
mematikan Park Jiyeon.”

~PLAK~

Sebuah pukulan tepat
mendarat dikepala Taemin.

“Kya!” Teriak Taemin tak terima.

“Hyung, kenapa kau hobi sekali memukul kepala ku hah?” Lanjutnya seraya menyentuh kepalanya yang terasa nyeri.

“Sedang apa kau disini? Cepat
kembali keruanganmu dan segera ganti pakaianmu! Sebentar lagi kita akan
memulai pemotretan.” Perintah
Onew, Leader SHINee.

Taemin hanya mempoutkan bibirnya menandakan bahwa ia tengah dalam porse kesal saat ini #plak.
Ini sudah yang ke 2 kali hyungnya ini melakukannya. Dan
yang lebih parahnya lagi sekarang dia melakukannya didepan Jiyeon, yeoja yang beberapa waktu lalu membuatnya terpesona. Bahkan
sekarang Yeoja itu terlihat lebih cantik dengan baju mewah & make up yang dipakainya.

“Mian Jiyeon-ssi! Dia memang selalu merepotkan!” Tambah Onew yang hanya ditanggapi dengan senyum manis Jiyeon.

Saat Taemin & Onew akan keluar
dari ruang Make Up Jiyeon,
Handphone Taemin berbunyi dan ia langsung mengangkatnya.

“Waeyo, Kim Jong In?”

Sontak itu membuat Jiyeon berbalik kearah Taemin dan Onew yang sudah hampir berbelok.

“Kim Jong In? Bagaimana namja
yeoppo itu mengenalnya? Bahkan dia lengkap menyebutkan marga dan
namanya.” Batin Jiyeon.

“Eonnie, namja yeoppo itu siapa?” Tanya Jiyeon pada penata riasnya.

“Eoh, Kau tak mengenalnya? Aigoo. Namja Yeoppo itu bernama Lee Taemin dan Pria yang bersamanya adalah Onew. Lee Taemin adalah maknae
dari member SHINee dan Onew adalah leadernya.”

“SHINee? Apakah mereka seterkenal DBSK?”

“Kya! Kau bahkan tidak tau partner pemotretanmu sendiri.”

“Mian, Eonnie. Sungguh aku tak
mengenal mereka. Aku bahkan baru pertama kali mendengar grup mereka.”

“Aisshh baiklah. Mungkin karena
beberapa bulan ini kau dilatih
dengan sangat keras sehingga tidak diperbolehkan menggunakan jejaring sosial ataupun televisi.” Ucapnya
panjang lebar.

“SHINee itu debut beberapa bulan lalu. Kalau tidak salah bulan Mei. Mereka terdiri dari 5 namja tampan dan bertalenta.”
tambahnya.

“Eonnie, Apa mereka dari SM
Entertainment?” Tanya Jiyeon.

“Ne, mereka dari SM Entertainment. Wae?”

“Ani, Aniya. Bisakah eonnie
lanjutkan merias wajahku ini?”

“Eoh, Ne. Mullon.”

SM Entertainment.
Pantas saja waktu itu dia bertemu dengan namja
yeoppo bernama Lee Taemin itu
disana. Lalu telepon tadi. Berarti dia dan Kim Jong in sangat akrab sampai
dia bisa memanggil nama jong in
dengan lengkap. Sedangkan yeoja yang dipanggil Jong In nuna memanggilnya Kai.
Kai?
Apakah itu nama yang akan ia gunakan saat debut nanti?
Dan Lee Taemin, Sedekat
apa hubungan mereka?
Mereka bahkan terlihat sangat mirip.
Apa mereka bersaudara?
Tapi Jong In bermarga Kim dan Itu berbeda dengan namja yeoppo itu yang bermarga
Lee.
Lalu, seperti apa hubungan
mereka?
Bahkan selama 4 tahun
Jiyeon mengenal Jong In ia tak
pernah sekalipun menyebut nama Lee Taemin dihadapan Jiyeon.
Apakah mereka berteman saat sama-sama berada diagensi SM
Entertainment?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dipikiran Jiyeon tentang Lee Taemin.

Nah, nantikan kelanjutan part 3 nya.
Semoga hari ini pun bisa author posting.
Untuk diah saeng, FF HongJi nya eonnie pending dulu. 😀
Eonnie mau ngurusin WP baru ini dulu ne.
Tapi janji pasti bakal eonnie lanjutin FF HongJi nya.
Coment jusaeyo, readers!

image

FF Kai Jiyeon (KaiYeon)

     All I Want You To Know Is I
                   LOVE U
                   (part 1)

Main cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Jongin aka Kai (EXO)

Genre:romance,friendship,sad

Length:chaptered

songfics:
B.A.P SNS (Sexy N Special)

A/N:
Seperti yang sudah saya katakan di awal postingan saya, saya bermaksud membuat WP ini untuk menyimpan karya-karya Fanfiction yang saya buat yang sebelumnya saya posting di Facebook pribadi saya
Mungkin ada beberapa readers yang sudah membacanya.
FF ini di buat pada 22 Februari 2014 silam.
Saya memposting ulang di WP ini dengan memperbaiki beberapa bahasa yang sebelumnya masih buruk dan sekarang pun mungkin tidak terlalu baik tapi cukup tidak buruk haha baiklah silahkan di mulai untuk membaca.
Salam kenal untuk pembaca baru.

DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

~JIYEON ALL POV~

Ini kisah tentangku. Tentang dimana
aku bertemu dengan namja itu.
Namja yang untuk pertama kalinya
membuat jantungku berdetak 100
kali lipat lebih cepat dari biasanya.
Dia adalah
KIM JONG IN.

“auwwww….” Erangku ketika lagi-lagi
aku terjatuh karena latihan menari
yang beberapa hari ini kulakukan.

“kyaa… Pabo yeoja! Kenapa selalu
saja terjatuh, hah?” Bentaknya lalu
ikut membangunkanku yang terjatuh.

“Sejak kapan dia disini? Bukankah
seharusnya sekarang dia berada
didorm!” Batinku.

“auwwww…” Lagi-lagi terasa nyeri saat
kaki ini mulai menginjak tanah kembali.

“Ayo ku gendong!” Ajak KIM JONG
IN.

Ya, dia adalah KIM JONG IN,sahabat
sekaligus tetanggaku. Aku sedang
berlatih menari ditaman yang tidak
jauh dari rumah kami. Sepulang
sekolah aku langsung ke tempat ini. Tak ku
sangka hari ini dia datang.
Kini akupun berada diatas punggung
Jong in.
Hangat & nyaman, itulah
yang kurasakan.

“Jong in-ah!”

“Wae?”

“Bagaimana kalau aku tidak lolos
audisi ini?” Tanyaku yang masih
berada dipunggung Jong in. Dia
sedikit menoleh ke arahku lalu
melanjutkan kembali menatap ke depan.

“Kalau kau tidak lolos maka jadilah
seorang pemain taekwondo yang
hebat! Lagpula, hanya sebuah gerakan
kecil biasa saja kau tidak bisa
melakukannya. Sedangkan kyukpa
yang notabene menghancurkan
benda-benda berat bisa kau
lakukan. Kau payah sekali Yeonnie.” Ejeknya.

Yeonnie, itu adalah panggilan yang biasa ia gunakan untukku.

“Kyaaaa!” Ucapku kesal seraya memukul
punggungnya. Sungguh aku tak
terima dia mengataiku payah walau
itu semua benar adanya.

“Aissshhh… Appo! Pabo!” Bentaknya
tak kalah keras dariku.

“Kalau taekwondo kan aku sudah
belajar dari kecil Jon in-ah,
sedangkan menari? Aku hanya baru
beberapa kali mempelajarinya.” ucapku
bersembunyi dipunggung Jong in.

“Kalau kau tidak bisa menari lalu
untuk apa kau ikut audisi? Pabo!”

“Karena…… Karena aku ingin terus
bersama mu Jong in-ah. Aku ingin
selalu berada disisimu.” Jawabku
dalam hati. Namun sungguh sangat
sulit untuk ku ucapkan.
Entah sejak kapan aku mulai
menyukai pria ini. Mungkin sejak ia
pindah didepan rumahku. Sejak
itulah kami selalu bersama. Saat itu
aku masih duduk di kelas 1 SMP &
sampai saat ini di kelas 2 SMA kami
masih selalu bersama-sama.
Entahlah aku tidak tau bagaimana
perasaanna padaku. Hanya saja,
tetap berada disampingnya seperti
ini sudah cukup membuatku merasa
puas.

“Kya! Sampai kapan kau akan berada
dipunggungku, hah? Cepat turun!
taukah kau kalau kau ini sangat
berat, Yeonnie!” Jong In kembali mengeluarkan ejekannya. Huuuh.

“Ah, mianhae jong in-ah!”
Akupun turun dari atas punggungnya.

“Istirahatlah! Jangan terlalu memikirkan
audisi itu! Kau pasti bisa!” ucapnya
seraya  mengusap lembut rambutku.
Akupun mempoutkan bibirku. Apa-apa
an dia. Tadi sama sekali tidak
medukungku. Sekarang lihat apa yang
baru saja ia lakukan! Dia
mengatakan aku pasti bisa. Benar- benar menyebalkan.

“Wae?”

“Ani. Aku akan masuk & beristirahat.
Annyeong kim jong in.” akupun
langsung masuk

“Apa-apa an dia itu?” Ucapnya
seperti berbisik tapi aku masih bisa
mendengarnya.

***

Semalaman ini aku benar-benar
tidak bisa tidur. Mengingat besok
adalah hari audisi diadakan, itu
membuatku semakin setres saja.
Kubuka jendela kamarku yang
memang berhadapan langsung
dengan jendela kamar Jong in. Ku
lihat dia masih berlatih menari. Ya,
aku ingat! Ingat betul saat itu.
Seperti saat ini namun waktu yang
berbeda. Hari dimana Jong in
pertama kali pindah didepan
rumahku. Dia sama seperti hari ini.
Menari dengan lihai didalam
kamarnya.

~FLASHbACK~

Pertama kali melihatnya, jantungku
langsung berdebar. Tarian yang
Indah. Mulai malam itu selama 4
tahun terakhir ini aku selalu
melihatnya menari setiap malam
didalam kamarnya.
Setiap malam bukannya keluar
rumah untuk bermain sekedar
bermain game bersama teman
sebaya atau berkencan, dia malah
asyik terus menari. Pernah suatu
hari aku bertanya,

“Kenapa kau
sangat suka menari Jong in-ah?”

“Menari? apa kau pernah melihatku
menari?” Tanyanya agak terkejut atas
pertanyaanku. Jelas saja dia terkejut
karena selama ini aku melihatnya
menari tanpa sepengetahuannya.

“Eum. kau selalu menari setiap malam
& aku melihatnya. Mian, tapi
sungguh aku tak bermaksud
mengintipmu. Hanya saja aku terlalu
menikmati setiap gerakanmu.
Melihatmu menari setiap malam dari
dalam kamarku.” Jawabku merasa tak enak hati.

Kami berduapun terdiam.

“Ah, Kau belum menjawabnya Jong in-
ah. Kenapa kau suka menari?” Tanyaku kembali. Sungguh aku begitu amat penasaran akan hal itu.

“Hmmm…. karena…..” Dia diam.
Aku masih menunggu nya melanjutkan ucapannya.

“Karena menari adalah hidup.
Setiap gerakan memiliki arti. Dan itu membuatku benar-benar hidup. Tidak ada lagi yang ku inginkan didunia ini selain menari. Karena menari adalah hidupku. Aku tak tau
apa yang harus kulakukan didalam hidupku jika aku tidak bisa menari. Menari itu sudah seperti bernapas bagiku.”
jawaban yang ia berikan saat itu
seperti bom waktu yang meledak
diotakku. Sungguh ucapannya itu
membutku merasa iri padanya.
Bahkan diusianya yang masih muda, ia sudah tau apa yang  ingin ia lakukan.
Pernah berkali-kali, tidak,  bahkan sering ia menari lalu terjatuh. Sungguh aku tak tega saat melihat ia terjatuh. Tapi dia malah tersenyum bahkan tertawa & itu membuatku tenang. Sampai tiba saat dia memberitahuku audisi itu.

“Yeonnie!” Dia berteriak dan berlari kearahku lalu memelukku. Aku masih
tidak mengerti ada apa dengannya, yang jelas saat ini aku sedang bersusah payah mengatur sistem pernafasanku dan tentu juga dengan detak jantungku.

“Ya tuhan, kuharap dia tak
medengarnya.” Batinku.

Cukup lama dia memelukku sampai dia mengatakan sesuatu yang sungguh diluar dugaanku.

“Yeonnie, aku lulus
audisi. Aku lulus audisi yeonnie.”

“Mwo? Audisi? Sejak kapan dia
mengikuti audisi?” Batinku.

Dia lalu melepaskan pelukannya.
“Kau tak ingin mengucapkan selamat untukku, hah?” Protesnya.

“Ah? ne, chukkae Jong
in-ah.” Balasku.

“Ne.” Balasnya dengan
senyum lebarnya.

“Keundae, Kapan kau
mengikuti audisi? Aku bahkan tidak tau kalau kau ikut audisi Jong in-ah!” Tanyaku.

“Ah ne mianhae yeonnie aku
belum memberitahumu. Nuna
mengirimkan video saat aku menari ke SM entertainment beberapa minggu lalu. Kemudian mereka
menghubungi nuna kemarin &
mengatakan bahwa aku lulus audisi. Sungguh aku sangat senang Yeonnie-Ah. Akhirnya akan ada banyak orang yang melihat tarianku.”

Aku masih mencerna baik-baik ucapan Jong In.
Apa ini berarti kami akan
berpisah?
Yang ku ketahui bahwa mereka yang lulus audisi akan ditraining
dalam waktu yang cukup lama. Itu berarti aku akan semakin sulit bertemu
dengannya.
Benarkah?

Tapi melihat dia
tersenyum gembira seperti itu
membuatku berfikir lagi.
Ini mimpinya. Ini impiannya. Ini
nafasnya dan ini hidupnya.
Ya, yang
perlu kau lakukan hanya mendukung
dan menyemangatinya Jiyeon. Aku kembali membatin.

“Lalu Kapan kau mulai jadi seorang trainee?” Tanyaku berusaha berantusias akan keberhasilan sahabatku itu.

“Besok. Mulai besok aku
akan menjalani hari-hari sebagai
seorang trainee di SM
entertainment. Huwaaaaaaahhh
pasti itu sangat menyenangkan!” Dia benar-benar terlihat sangat gembira.
Selama 4 tahun mengenalnya ini pertama kalinya kulihat dia begitu sangat bahagia seperti ini.
“Tapi mungkin
aku akan sangat sering
absen, Yeonnie. Kau tau sendiri kan bagaimana orang-orang itu akan menyiksa trainee baru seperti ku hahahahaha.”

Aku hanya bisa diam.
Aku tidak tau harus mengatakan
apa.

Benar saja, setelah kejadian itu kami jarang bertemu. Aku benar-benar sangat merindukannya.
Sampai tiba saat aku berada
didalam sebuah supermarket. Tak sengaja kulihat salah satu majalah dan tebaklah apa yang kulihat!
Kulihat disampul majalah tersebut tertulis
“SM ENTERTAINMENT
AUDITION”
Aku benar-benar ingin
berteriak saat itu juga. Tapi ku
urungkan niatku karena ini masih
ditempat umum.
Setelah selesai dari
supermarket dan membeli majalah itu, aku langsung bergegas pulang.

Kulihat lembar formulir itu.
Semuanya sesuai. Hanya saja
kemampuan menari? Aku bahkan belum pernah menari. Tapi hanya ini jalan satu-satunya agar bisa bertemu Jong in. Kuputuskan untuk
mengikuti audisi ini.

Berhari-hari aku belajar menari sampai eomma
membantuku mencarikan guru
menari untukku. Sungguh ini lebih
melelahkan dibandingkan dengan belajar
taekwondo. Tapi bagaimanapun juga aku tak boleh menyerah. Ini semua demi Jong In.

Malam itu kulihat ada
sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan rumah Jong in. Saat kulihat ternyata Jong In yang keluar dari
dalam mobil mewah itu.
Tanpa menunggu waktu lama aku langsung turun dari lantai dua rumahku di mana kamarku berada kemudian berteriak memanggilnya
setelah sampai diluar rumah.

“KIM JONG IN!”

Ia yang pada saat itu akan
membuka pagar rumahnya langsung berbalik kearahku. Aku langsung memeluknya. Aku tidak peduli dengan apa yang akan ia fikirkan, yang jelas aku sangat merindukannya saat ini.

“Jong In-Ah!”

aku menangis masih didalam
pelukannya.

“Hiks…”

“Hahaha kau begitu
merindukanku yah, yeonnie.” Ia
malah tertawa seraya membalas
pelukanku dan sedikit mengusap
rambutku.
Tawa yang sangat
kurindukan. Sungguh aku sangat
merindukan orang ini.

“kya! Jangan menangis! Kau mengotori pakaianku.”

aku langsung melepaskan pelukanku saat ia mengatakannya.

Aku masih menangis. Lalu jong in mengusap air mataku dengan ibu jarinya.

“Jangan menangis!”katanya
lembut.

“KIM JONG IN, bisa cepat
sedikit! Kuta sudah ditunggu
sajangnim.” Ucap pria paruh baya yang keluar dari dalam mobil mewah
itu.

“Ne, ahjussi! Chankkaman!” Balas
Jong in.

“Yeonnie, aku hanya sebentar
pulang. Hanya untuk mengambil
beberapa pakaianku. Aku harus
segera masuk untuk mengambilnya.”
Jong in lalu masuk ke dalam rumahnya.
Lalu aku, aku
masih menunggunya. Masih
merindukannya. Ku dengar 2 nuna & eomma Jong in pun menangis di depan pintu rumah mereka. Mereka
tentunya juga sangat
merindukannya. Tak berapa lama Jong in pun kembali keluar lalu memasukkan tas berisi pakaiannya ke
dalam mobil & kembali
menghampiriku.
Dia memelukku.
Mengusap rambutku.

“Yeonnie, mian meninggalkanmu dalam waktu yang lama. Aku juga sangat
merindukanmu.” Sungguh ucapannya membuatku jadi semakin menangis
keras.

“Kya! Jangan menangis seperti
ini. Kau ini bukan bocah kecil lagi, yeonnie.” Aku tak peduli semua ucapannya. Yang aku inginkan hanya terus berada didalam pelukannya seperti
ini. Terus bersamanya.

“KIM JONG IN, palli!” Ahjussi itu mengintruksikan Jong In untuk cepat kembali. Lalu
Jong in melepaskan pelukannya.
Sungguh aku tak rela.

“Aku harus kembali, yeonnie.” Ucapnya lalu mengecup bibirku sekilas. Kemudian dia melangkah menghampiri mobil mewah itu & Ahjussi itupun langsung masuk kedalam mobil kembali.

“Jong In-ah!” Ucapku
agak parau. Lalu jong in pun
berbalik.

“Aku akan mengikuti audisi
SM entertainment. Aku akan
menyusulmu.” Ucapku dengan
lantang. Kulihat Jong In tersenyum.
Senyum yang sangat kurindukan.

“Kalau begitu berjuanglah,yeonnie!”

~FLASHBACK OFF~

Kulihat jong in terjatuh.
Aku bergerak 1 langkah
dari posisi ku semula. Sungguh aku ingin menangis saat ini juga. Kenapa dia harus sampai seperti ini. Bukankah dia sudah sangat berlatih dengan keras di dorm,  tapi kenapa di rumah dia masih terus saja berlatih?
Seharusnya dia gunakan waktu yang berharga ini untuk beristirahat. Dia
berbalik dan menghadap ke arah
jendela. Dia melihatku lalu
tersenyum.
Bahkan disaat seperti ini
dia masih bisa tersenyum.
Kim jong in, apakah kau benar-benar sangat mencintai dunia tari?
Dia mengisyaratkanku untuk tidur. Lalu aku mengikuti perintahnya dan langsung menutup jendela kamar yang semula terbuka dan segera
berbaring diatas ranjang empuk yang ada di dalam kamarku.

Kim Jong In, kurasa ini pilihanku. Aku tidak akan pernah menyesal melakukannya.
Besok.
Besok harus kuselesaikan
dengan segera.

Gimana?
Ini FF pertama yang saya buat loh readers wkwkw.
Mungkin memang masih jauh dari kata bagus hihi.
Menyadari karena akan ada banyak siders di WP tak seperti di FB yang jadi siders bisa langsung saya blokir, tapi saya tetap mengharapkan para readers untuk memberikan kritik dan sarannya.

Saya usahakan untuk setiap hari memposting FF FF yang sudah saya buat dan saya posting sebelumnya di FB ke WP.
Semoga betah di WP saya dengan karya yang MASIH SaNGAT JAUH dari kata BAIK 😀
Coment jusaeyo!

image

My Bias

Annyeong!
Ini postingan pertama saya.
Salam kenal, yeorobum 😀
Sebenarnya ingin posting tentang semua FF saya yang sudah saya buat di FB sudah setahun lebih, sudah ada lebih dari 30 FF hingga detik ini. Tapi berhubung saya masih dini di dunia ini #plak jadi mungkin hanya ingin sekedar pengenalan di postingan pertama saya ini.

Ada beberapa dari teman-teman di dunia maya yang menanyakan sebenarnya saya berfandom apa?
Hm, saya agak bingung untuk menjawabnya waktu itu.
Maka dari itu saya akan menjawabnya lewat postingan tak bermutu ini 😀

Kalau boleh jujur, saya tak memiliki fandom apapun. Boleh di bilang saya tidak main dengan yang namanya ‘fandom’ #abaikan

Mungkin lebih ke bias.
Karena tak semua anggota dalam grup tertentu dapat saya jadikan bias.
Misalnya saja, Park Jiyeon. Beliau boleh di bilang adalah bias abadi saya. Seseorang yang bahkan tak pernah saya temui dalam dunia nyata namun memberikan banyak motivasi untuk saya. Mulai dari perjuangannya untuk masuk dunia entertainment dengan mengikuti kontes model dan hingga bergabung dengan grup nya. Tentu banyak hal negatif yang menimpa beliau. Dan hal negatif itu bisa beliau jadikan positif hingga saya begitu menggilai beliau.
Contoh:
Kasus Bully yang menyeret namanya (2012). Sebenarnya saya malas untuk mengingat hal terkutuk itu, tapi karena hal itu lah saya semakin mencintai sosok Park Jiyeon.
Hey! Bukan berarti saya Yuri alias cewek doyan cewek, tapi saya mencintai beliau karena ketegaran beliau.
Itu hanya hal kecil saja, ada begitu banyak hal yang jelas saya begitu mengidolakan beliau.

Kenapa saya menjadikan seseorang sebagai bias?

Jawabannya bukan karena ‘dia’ adalah yang paling tampan atau cantik di grupnya (karena menurut saya tampang itu relatif, tergantung dari siapa yang melihatnya)
Mungkin lebih tepatnya adalah bakat yang di milikinya.
Bukan berarti anggota lain di grup tertentu bakatnya buruk, tapi lebih ke bakat yang ia miliki hingga membuat saya begitu mengidolakannya. Sosok yang pertama kali membuat saya jatuh cinta saat saya mengenal grup nya.

Ada beberapa bias yang bisa saya beritahukan. Bisa di bilang ini bias abadi saya 😀
Tapi bukan berarti yang lain nya buruk. Tidak. Semua idol memiliki bakat masing-masing begitu pula dengan fans yang memiliki ketertarikan tersendiri pada sang idola.

1. Park Jiyeon (T-ara)
Beliau saya jadikan motivator sampai detik ini. Yang paling saya sukai dari beliau adalah suara lembut beliau. Itu adalah hal pertama yang membuat saya menjadikan beliau idola di urutan pertama saya. Beliau juga saya jadikan inspirasi pada setiap FF yang saya buat. Maka dari itu FF yang saya hasilkan selalu menggunakan cast beliau.

2. Kim Hyuna (4minute)
3. Lee Chaerin aka CL (2ne1)
(Dua idol yeoja ini akan selalu berdampingan dengan cast utama Jiyeon di FF yang saya buat.)

Pernah saya memikirkan hal ini, bahkan saya sempat mempostingnya di Facebook.
Jika saya menjadi seorang CEO perusahaan di bidang entertainment, saya ingin bekerja sama dengan ke 3 idol yeoja di atas.
Dengan susunan.
-Lee Chaerin aka CL (2ne1) sebagai Leader sekaligus rapper.
-Kim Hyuna (4minute) sebagai dance machine.
-Park Jiyeon (T-ara) sebagau maknae di bidang vocal.
Saya sempat berimajinasi tentang hal itu.
Ketiga idola saya bergabung dan membentuk suatu sub grup dengan nama PKL (What The?)
Singkatan dari marga masing-masing.
Saya rasa kalau singkatan nama sudah lazim, jadi saya terpikir untuk menggunakan marga mereka membentuk sebuah nama menjadi PKL berurut dari usia termuda. Yakni, Park Jiyeon, Kim Hyuna, Dan Lee Chaerin.
Haha abaikan yang ini.
Imajinasi saya nampaknya terlalu liar wkwk

Untuk idol namja,
Ada Kim Jongin aka Kai dari EXO di urutan pertama.
Cha Hakyeon aka N dari VIXX.
Nah yang dua ini biasanya saya suka memanggil mereka dengan bebeb gosong #plak
Bukan berarti saya menghina atau melecehkan mereka, tapi anggap itu sebagai panggilan sayang saya pada mereka.

Selebihnya ada banyak, Mulai dari Yesung (Super Junior), Kim Heechul (Super Junior), Jang Hyunseung (Beast), Kim Sunggyu (Infinite), Lee Howon aka Hoya (Infinite), Kang Seungyoon (Winner), Lee Seunghoon (Winner), Kim Jiwon aka Bobby (iKon), Kim Hanbin aka B.I (iKon), Kwon Jiyong aka GD (Bigbang), T.O.P (Bigbang), Kang Daesung (Bigbang), Kidoh (ToppDogg) , A tom (ToppDogg), Lee Chunji (Teen Top), Jung Daehyun (B.A.P), Choi Sungmin (Speed), Yook Sungjae (BtoB), Jung ilHoon (BtoB), Jung Taekwoon aka Leo (VIXX), Lee Hongbin (VIXX), Lim Hyunsik (BtoB), Kim Jaejoong (JYJ), Park Yoochun (JYJ), Jung Yunho (TVXQ), sepertinya masih banyak lagi idol namja yang saya idolakan. Dan tak semua dapat saya sebutkan. Ini hanya beberapa. Jadi jika tak ada yang saya sebutkan bukan berarti saya tak mengidolakannya ya.

Sebenarnya kalau di lihat dari dunia per Kpop an, akan lebih mudah bagi idol namja untuk mendapatkan fans. Berbanding terbalik dengan idol yeoja.
Karena kalau kita telusuri #plak
Kebanyakan fans Kpop bergenre yeoja, dan tau kan apa yang paling di doyanin sama yeoja 😀
Tentu sah sah saja bagi fans menyukai tampang mereka, tapi tentu mereka juga memiliki bakat yang tidak dimiliki fans.

Semoga kelak kita bisa bertemu dengan bias-bias kita semua ya #Aamiin
Itu harapan seorang fans ketika ia mengidolakan seseorang hahah

Mungkin akan saya akhiri postingan gaje ini.
Terimakasih untuk yang mau meluangkan waktu membaca.
Semoga saya masih bisa terus menjadi fans Kpop bahkan setelah saya menginjakkan kaki di dunia nyata (berumah tangga)
Aamiin

Salam sejahtera selalu untuk semuanya 😀

image