FF Chunji – Jiyeon (ChunJiyeon couple)

image

              GOOD LUCK

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Lee Chunji ( TeenTop)

Other Cast :
Kim Hyuna ( 4minute )
C.A.P ( TeenTop )
Niel ( TeenTop )
L.Joe ( TeenTop )
Changjo ( TeenTop )
Ricky ( TeenTop)

Songfict :
B.A.P With You

Genre :
Angst

Length :
One Shoot

A/N :
FF ke 14 hadir. Untuk pertama kalinya author menggunakan cast ChunJiyeon couple.
Semoga tidak mengecewakan!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!
.
.
.
.
.
Lee Chunji, itulah nama namja yang tengah terpejam diatas sebuah ranjang di Wooridul Spine Hospital Busan. Sebuah rumah sakit di Korea Selatan yang terkenal memiliki 1.200 tenaga medis profesional.

“Kau sudah bangun?” Tanya seorang yeoja berseragam serba putih seraya tersenyum manis kearah Chunji.

Chunji yang baru saja membukakan matanya langsung memalingkan wajahnya. Ia menghembuskan nafasnya malas.

“Kau dokter baru yang akan merawatku?” Tanya Chunji acuh.

“Ne. Naneun Park Jiyeon imnida. Mannaseo bangabseumnida!” Jawab yeoja bernama Jiyeon seraya menundukkan wajahnya memperkenalkan diri.

“Kau tidak akan bertahan lama bersamaku!”

Jiyeon, yeoja itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Chunji. Ia adalah dokter ke 7 yang menangani pasien bernama Lee Chunji setelah 6 dokter sebelumnya memilih untuk menyerah.

Lee Chunji, ia adalah putera pemilik Wooridul Spine Hospital. Beberapa bulan lalu ia mengalami kecelakaan. Ia yang tengah mengendarai motor sportnya mengalami tabrakan hebat dengan sebuah mobil. Kondisi Chunji saat itu amatlah kritis dan mengalami pendarahan sehingga dilakukan transfusi darah berkali-kali. Untunglah Chunji dapat melewati masa kritisnya setelah hampir 2 minggu mengalami koma. Namun kesulitannya belum berakhir. Bagian kakinya mengalami cidera sangat parah berupa tulang kaki patah, dan kulit yang terkelupas sehingga tulangnya keluar. Setelah dilakukan berbagai macam ronsen dan pemeriksaan, akhirnya dilakukan pemasangan pen pada kakinya.

“Eoh, kudengar kau seumuran denganku.” Ucap Jiyeon berusaha mengakrabkan dirinya dengan Chunji.

“Lalu, apa hubungannya denganmu?” Jawab Chunji ketus.

Jiyeon hanya menghembuskan nafasnya. Jadi ini sebabnya banyak dokter yang tidak mau menangani kasus Chunji?
Namja itu terlalu cuek dan sulit dihadapi.

“Park Jiyeon, fighting!” Batin Jiyeon berusaha menyemangati dirinya sendiri.

“Aku baru saja lulus dari universitas kedokteran di Seoul. Ini tugas pertamaku. Kuharap kita bisa bekerja sama, Lee Chunji-ssi!”

Chunji langsung menoleh kearah Jiyeon. Memberikan tatapan mautnya pada yeoja yang baru saja memperkenalkan dirinya itu.

“Jangan sok akrab denganku! Hanya karena ini tugas pertamamu sebagai dokter, kau ingin aku memperlancar segalanya? Kau salah berdiskusi dengan orang, Park Jiyeon-ssi!”

Jiyeon, Sepertinya yeoja itu mulai kesal.

“Geurae! Lee Chunji-ssi. Kini aku yang akan menanganimu. Ini bukan tentang aku, geundae ini tentang dirimu sendiri. Bagaimana kau melawan egomu. Kau fikir hanya kau saja yang mengalaminya? Bahkan sebelum kau, sudah ada berjuta-juta orang yang mengalami hal ini. Jika kau ingin terus terpuruk, maka seharusnya kau mati saja saat peristiwa itu terjadi. Kau tidak perlu bertahan dan berjuang hingga sejauh ini jika pada akhirnya kau ingin menyerah.”

Ucapan Jiyeon mampu menggetarkan hati Chunji.
Kesal?
Tentu saja.
Lancang sekali yeoja itu mengguruinya.
Namun ucapan Jiyeon tidak ada yang salah sedikitpun. Semuanya memang benar adanya. Jika ia ingin mati, seharusnya sejak awal saja.

“Aku tidak akan memanjakanmu seperti para dokter sebelumnya. Meski kau putera pemilik rumah sakit ini, tapi aku akan tetap memperlakukanmu sama seperti pasien lainnya. Jika kau tidak tahan denganku, silahkan minta sajangnim appamu untuk menghentikan tugasku.”

“Ck, jadi kau menantangku?”

Jiyeon hanya terdiam. Sejujurnya, yeoja itu paling malas menghadapi orang yang mudah berputus asa seperti Chunji.

“Geurae, kita lihat siapa yang akan bertahan. Kau atau aku!”

Keduanya saling beradu pandang. Tidak mau kalah dengan keyakinan masing-masing.
.
.
.
.
.
“Bagaimana tugas pertamamu hari ini?” Tanya Hyuna, sepupu Jiyeon yang juga menjabat sebagai seorang dokter.

Jiyeon menghembuskan nafasnya lelah membuat Hyuna menautkan kedua alisnya heran.

“Waegeurae?” Tanyanya.

“Eonnie, bagaimana namja itu akan bertahan hidup jika ia tidak memiliki keinginan untuk hidup?” Keluh Jiyeon.

“Hahaha….. Lee Chunji, namja itu memang special. Selain keras kepala, dia juga sangat percaya diri. Bukankah namja seperti itu yang menjadi tipe idealmu?” Goda Hyuna.

“Tipe ideal apanya? Dia menyuruhku ini dan itu. Aku seperti seorang budak baginya. Benar-benar menyebalkan. Lebih baik merawat seribu bayi dari pada merawat satu orang dewasa gila seperti Lee Chunji itu.” Gerutu Jiyeon.

“Hahaha… Kau benar-benar lucu, Jiyeon-ah! Geundae, kau harus bertahan! Ini tugas pertamamu sebagai seorang dokter. Kau tidak boleh menyerah begitu saja!” Hyuna menyemangati Jiyeon.

“Tugas pertama dan terakhir.” Gumam Jiyeon.

Hyuna yang mendengarnya langsung memandang Jiyeon yang terlihat begitu sedih. Hyuna langsung mendekap tubuh Jiyeon, memberikan sebuah kenyamanan pada yeoja itu.

“Jangan berkata seperti itu! Semuanya pasti akan baik-baik saja! Ini impianmu. Maka kejarlah hingga akhir, dokter Park Jiyeon!”

Jiyeon tersenyum mendengar ucapan Hyuna yang mampu menghiburnya.

“Gomawo, eonnie!”

Hyuna langsung melepaskan pelukannya dan menengadahkan tangannya membuat Jiyeon bingung dengan apa yang dilakukan Hyuna.

“Kau harus memberikanku uang jajan kalau ingin berterimakasih!” Canda Hyuna.

“Hahaha….. Ne ne eonnie nanti akan kuberikan uang jajan untukmu, tapi setelah aku menerima gaji pertamaku ne?”

Keduanya saling tertawa bersama.

Jiyeon, ia adalah puteri dari pasangan Park Yoochun dan Kim Taehee. Kedua orang tuanya meninggal dunia setelah Jiyeon menerima tropi kelulusan dengan nilai sempurna dari universitas kedokteran di Seoul. Mereka mengalami kecelakaan. Jiyeon memutuskan untuk tinggal bersama Hyuna saat menerima tugas kerja di Busan, kebetulan Hyuna memang berasal dari Busan dan juga seorang dokter yang kebetulan Jiyeon ditempatkan dirumahsakit yang sama dengan Hyuna.
.
.
.
.
.
“Hyung, aku merindukan Lee Chunji!” Ucap L.Joe pada pria bertubuh besar yang ada disampingnya saat ini.

“Nado!” Tambah Niel.

“Mau bagaimana lagi, Chunji selalu menolak kedatangan kita.” Jawab C.A.P namja yang usianya lebih tua dari L.Joe dan juga Niel.

L.Joe, Niel, Dan juga C.A.P, mereka bertiga adalah rekan satu band Chunji. Chunji yang terlahir sebagai putera dari pemilik rumah sakit besar yang memiliki banyak cabang lebih memilih untuk bermusik dibanding harus meneruskan studynya.

Niel terlihat menghembuskan nafasnya lelah.

“Bagaimana kalau kita coba sekali lagi, hyung?” Usul L.Joe.

“Ne, Ide bagus. Aku setuju!” Tambah Niel bersemangat.

“Geurae, minggu depan kita pergi ke Busan.” Jawab C.A.P.

Niel dan L.Joe langsung menepukkan keduatangan mereka.
.
.
.
.
.
“Makanlah!” Ucap Jiyeon pada Chunji yang tengah asik memainkan PSV nya.

Chunji tak menghiraukan Jiyeon dan ini bukan hal baru lagi bagi Jiyeon.

“Apa yang kau suka?” Tanya Jiyeon.

Chunji terlihat berfikir. Ia lalu tersenyum jahil menanggapi pertanyaan Jiyeon.

“Yeoja!”

“Mwo?”

“Aku menyukai yeoja. Yeoja yang hanya mengenakan bikini.”

Jiyeon kesal mendengar jawaban Chunji membuat Chunji tersenyum menang.

“Eoh, apa kau ingin keluar? Kita berjalan-jalan diarea rumah sakit!” Usul Jiyeon.

Chunji, wajahnya berubah mengerikan membuat Jiyeon berfikir apakah ia telah salah bicara?

“Apa kau tidak lihat aku tidak punya kaki, eoh? Apa kau sengaja mengatakan itu semua, EOH?” Teriak Chunji kesal.

“Kau ini sensitif sekali, sih! Hanya berjalan-jalan diluar apa salahnya? Apa kau tidak bosan setiap hari hanya memandang tembok putih yang ada disekelilingmu ini, eoh? Kalau kau tidak punya kaki, aku masih punya kaki. Kita bisa menggunakan kursi roda. Jangan pernah berfikir segala sesuatunya berakhir hanya karena kau tidak punya kaki! Kalau kau tidak bisa berjalan, maka gunakan kakiku untuk berjalan. Sampai kapan kau akan seperti ini? Dengan sikapmu yang seperti ini, tidak akan merubah apapun. Kakimu tidak akan pernah kembali.” Balas Jiyeon emosi.

“KHA!” Teriak Chunji.

“Jangan berteriak padaku! Telingaku masih normal. Aku tidak tuli. Jika kau tidak tahan denganku, segera adukan aku pada appamu.” Tambah Jiyeon yang langsung keluar meninggalkan Chunji.

~BRAK~

Chunji dengan kesal langsung melempar PSV yang ada ditangannya tepat pada pintu yang baru saja ditutup oleh Jiyeon.

Jiyeon yang sudah berada diluar ruangan dimana Chunji dirawat langsung menghembuskan nafasnya saat mendengar suara benda yang dibanting Chunji.

“Park Jiyeon, bertahanlah!” Batinnya seraya menyentuh bagian jantungnya.
.
.
.
.
.
Seminggu sudah berlalu, namun sikap buruk Chunji terhadap Jiyeon belumlah berubah. Jiyeon harus ekstra sabar menghadapi sikap angkuh dan keras kepala Chunji.

“HYUNG!” Teriak seorang namja yang mengenakan sebuah topeng Slipknat.

Jiyeon langsung menjauh ketakutan begitu menolehkan wajahnya.

“Kya! Cepat lepaskan!” Perintah C.A.P pada Niel yang ternyata adalah sosok dibalik topeng mengerikan itu.

Niel langsung melepaskannya.
Jiyeon menghembuskan nafasnya lega, sedangkan Chunji hanya memandang malas kedatangan kawan-kawannya itu.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya C.A.P yang semakin mendekat kearah Chunji.

“Ne, bagaimana kabarmu hyung?” Tambah L.Joe.

Chunji hanya menghembuskan nafasnya acuh.

“Hyung, kami semua merindukanmu!” Ucap Niel seraya menundukkan kepalanya.

Melihat Chunji yang sama sekali tidak menghiraukan kedatangan kawan-kawannya itu membuat Jiyeon kembali merasa kesal.

“Kya! Kau ini tidak sopan sekali! Teman-temanmu datang menjengukmu dan kau tidak mengucapkan hal apapun!”

“Lalu apa yang harus aku ucapkan?”

“Mwo?”

“Apa aku meminta mereka datang?”

“Neo!”

Melihat sang dokter dan Chunji bertengkar, membuat C.A.P, Niel, dan juga L.Joe merasa bersalah.

“Ige Eotteokhae?” Bisik Niel

“Molla.” Jawab L.Joe seraya mengangkat kedua bahunya.

“Geumanhae! Sepertinya kami sudah cukup melihatmu! Kajja, kita kembali ke Seoul!” Ajak C.A.P berusaha menengahi pertengkaran antara Chunji dan Jiyeon.

“Geundae hyung….. ” Protes Niel yang masih ingin bersama Chunji.

“Kajja!” Ajak L.Joe yang langsung menarik tubuh Niel dari dalam ruangan dimana Chunji dirawat.

Jiyeon menghembuskan nafasnya kesal saat ketiga orang sahabat Chunji pergi.

“Kya! Lee Chunji! Apakah kau ini sebuah patung yang sama sekali tidak mempunyai perasaan, eoh?”

Chunji hanya memandang malas Jiyeon.

“Aku sedang tidak ingin mendengar ocehanmu! Pergilah!”

“Ck, Lee Chunji. Kau orang yang paling rendah yang pernah kutemui seumur hidupku.”

Ucapan Jiyeon sukses membuat Chunji kesal. Namja itu berusaha menahan emosinya.
Jiyeon, yeoja itu langsung berjalan menuju jendela kamar.

” Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Chunji cemas.

Jiyeon tak menjawab. Ia langsung membuka tirai jendela yang tak pernah sedikitpun tersentuh sejak Chunji dirawat disana.

“KYA!” Teriak Chunji saat pancaran sinar matahari menembus kaca jendela.

“NEO MICHEOSSEO?” Teriaknya lagi.

“Ige! Bukankah ini yang kau takutkan? Kau takut melihat dunia luar setelah kecelakaan itu!” Ucap Jiyeon.
Yeoja itu langsung menarik paksa tirai itu hingga terlepas dari pengaitnya dan membuat Chunji melebarkan matanya dengan apa yang telah Jiyeon lakukan.

“Bercermin dan Lihatlah! Apakah hanya kau yang mengalaminya?” Tambah Jiyeon seraya membawa tirai jendela dan keluar dari dalam kamar dimana Chunji dirawat.

Kini tersisa Chunjilah seorang diri. Nafasnya beradu. Ia berusaha menahan emosi dan menenangkan dirinya. Tak lama iapun menoleh kearah jendela yang sudah tak bertirai itu. Dilihatnya banyak pasien patah tulang seperti dirinya. Mereka tengah berbincang dengan keluarga mereka. Ada yang tengah tertawa bahagia. Ada pula yang tengah berlatih berjalan. Mereka tengah asik bersenda gurau tepat dihalaman rumah sakit.

Wooridul Spine Hospital, sebuah rumah sakit terkenal diBusan yang memang menjadi pusat layanan penyakit Neoru-Muskular yakni gangguan tulang dan saraf tulang serta gangguan persendian. Maka tidak heran jika Chunji dapat menemukan pasien-pasien yang bernasib sama sepertinya.

Lee Chunji, tanpa ia sadari kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Entah apa itu, tapi ia merasa lega. Mungkin ia baru menyadari bahwa bukan hanya dirinyalah yang terluka, melainkan ada banyak orang diluar sana yang bernasib sama seperti dirinya.
.
.
.
.
.
Jiyeon, ia menyentuh bagian dadanya yang terasa seperti terbakar.

“Neo gwaenchana?” Tanya Hyuna panik saat melihat peluh yang mulai keluar dari atas kepala Jiyeon.

“Eonnie…..” Ucapnya lemas. Ia seperti susah untuk bernafas.

“Andwae!” Ucap Hyuna panik.
.
.
.
.
.
Lee Chunji, namja itu masih setia menunggu kedatangan dokter pribadinya.

“Dimana yeoja itu?” Gumamnya kesal.

Chunji langsung menoleh kearah pintu yang terbuka. Ia tersenyum miring saat melihat yeoja yang tengah ia tunggu akhirnya muncul juga.

“Dari mana saja kau, eoh?” Tanya Chunji kesal.

Jiyeon hanya membungkukkan tubuhnya meminta maaf.

“Jeoseonghamnida!”

Melihat perubahan aneh pada sikap Jiyeon, Chunji membuka lebar mulutnya. Tak lama namja itupun tertawa.

“Hahaha.. Park Jiyeon! Ada apa denganmu, eoh? Sepertinya telah terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu! Geundae, itu bagus sekali! Setidaknya aku tidak perlu mendengar ocehanmu itu. Kau memang harus meminta maaf padaku! Harusnya kau melakukan hal itu sejak awal. Hahaha…..”

Jiyeon kembali mengangkat kepalanya.

“Aku meminta maaf karena aku telah datang terlambat, bukan meminta maaf untuk hal lain.”

Chunji menghentikan tawanya. Ada apa dengan yeoja itu?
Meski ia tetap melawannya, namun nada bicaranya lebih rendah dari sebelumnya.
Apa yeoja itu tengah mengalami masalah yang serius?
Chunji menggelengkan kepalanya berusaha untuk tidak memperdulikan kekhawatirannya terhadap yeoja yang ada dihadapannya itu.

“Temani aku keluar!”

“Ne?”

“Aku bosan berada diruangan ini. Aku ingin menghirup udara segar diluar sana!”

Jiyeon tersenyum. Senyuman yang sangat manis.

“Wae?” Tanya Chunji heran.

“Kau tidak mau menemaniku, eoh?” Tambahnya masih dengan nada sinisnya.

Jiyeon langsung menggelengkan kepalanya.

“Kajja!” Ajak Jiyeon yang masih setia menarikkan kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.

Dengan sekuat tenaga dan kesabaran, Jiyeon berusaha memapah tubuh Chunji hingga bisa terduduk diatas kursi roda.

“Apa aku sangat berat?”

“Aniyo.” Jawab Jiyeon.

Yeoja itu langsung mendorong kursi roda yang sudah dinaiki Chunji menuju halaman rumah sakit.

“Jiyeon nuna?” Tanya seorang namja tinggi.

“Eoh, Changjo-ah!” Jawab Jiyeon pada namja yang memanggil namanya itu.

Chunji langsung menatap horor namja tinggi itu.

“Nuna bersama siapa?”

“Eoh, ini Lee Chunji. Pasien nuna!”

“Annyeong!” Sapa Changjo pada Chunji.

Chunji hanya memalingkan wajahnya.
Cemburukah ia?

“Eoh, sedang apa kau disini?”

“Aku sedang menemani hyung sepupuku, nuna!” Jawab Changjo.

“Hyung sepupu?”

“Eum. Dia dirawat dirumah sakit inu. Sudah lama kita tidak bertemu, nuna! Akhirnya nuna bisa menjadi seorang dokter juga.”

“Ne, Changjo-ah! Semua ini berkat dukungan dan doa dari Changjo pula.”

Changjo, namja itu tersipu malu oleh perkataan Jiyeon tentangnya dan berhasil membuat Chunji menghembuskan nafasnya kesal.

“Apa kau menyukainya?” Tanya Chunji pada Changjo.

“Ne?” Tanya Changjo heran.

“Kya! Lee Chunji!” Protes Jiyeon.

“Kalau kau tidak menyukainya, maka menyingkirlah dari hadapanku! Aku ini pasiennya dan tugasnya adalah merawatku. Jika kau ingin bernostalgia dengannya, maka datanglah berkunjung kerumahnya!” Tambah Chunji kesal.

Changjo langsung mempoutkan bibirnya.

“Kau ini tidak sopan sekali!” Ucap Jiyeon pada Chunji.

“Changjo-ah, mianhae! Lee Chunji ini memang namja sensitif.”

“MWO?” Tanya Chunji kesal.

“Geurae, nuna akan melanjutkan merawat pasien sensitif ini. Khalke!” Tambah Jiyeon seraya mendorong kursi roda yang dinaiki Chunji menjauh dari Changjo.

“Jelas-jelas dia yang terlihat begitu menyukai Jiyeon nuna!” Gumam Changjo yang langsung berjalan menemui hyung sepupunya yang dirawat disana.

“Changjo itu bekas namjamu, eoh?” Tanya Chunji penasaran.

“Mwo? Bekas namja? Kya Lee Chunji, kosakatamu dalam berbicara benar-benar sangat buruk. Apa perlu aku mengajarimu cara berbicara yang benar dengan manusia, eoh?” Sindir Jiyeon.

“Jangan menceramahiku! Kalau kau tidak mau menjawabnya, maka jangan dijawab. Aku malas mendengar ocehanmu itu!”

“Aissh, namja ini….” Jiyeon berusaha menahan kekesalannya. Namun setidaknya ada perkembangan dalam diri Chunji, namja itu mau melihat kembali dunia luar. Itu suatu kemajuan yang luar biasa.

“Ck, geundae! Namja itu terlihat menyukaimu.” Ucap Chunji yang masih dihantui rasa penasaran tentang siapa sebenarnya Changjo bagi Jiyeon.
Apa Chunji mulai menyukai Jiyeon?

“Kau berani membayarku berapa jika aku menjawabnya, eoh?” Tantang Jiyeon.

“Aissh, kau ini mata duitan sekali!”

Jiyeon tersenyum mendengar Chunji yang mulai penasaran tentang kehidupannya.

“Kau putera pemilik rumah sakit, tentu uangmu sangat banyak.” Goda Jiyeon.

“Ne, uangku memang sangat banyak. Lalu, apa kau berniat mengencaniku eoh?”

“Eum. Itu ide yang bagus!”

“Aissh!” Ucap Chunji kesal.
.
.
.
.
.
“Hyung?” Tanya Niel.

“Kuharap ini berhasil!” Ucap L.Joe.

” Jangan Khawatir! Apapun hasilnya, yang penting kita sudah berusaha. Kita harus membawa Chunji kembali kekehidupan yang sebelumnya. Kembali bersama kita semua!” Jawab C.A.P.

“Eum. Aku setuju!” Ucap L.Joe

“FIGHTING!” Teriak Niel dan berhasil membuat L.Joe dan juga C.A.P tertawa.
.
.
.
.
.
“Jiyeon-ah!” Ucap seorang namja.

“Eum.”

“Sebaiknya kau hentikan saja!”

“Shirreo! Aku ingin memenangkannya hingga akhir.” Jawab Jiyeon.

“Geundae, kondisimu semakin hari semakin memburuk.”

“Ricky-ah, gomawo karena sudah menjagaku hingga akhir. Kau adalah sahabatku yang terbaik. Bahkan saat Hyuna eonnie memberitahukan keadaanku yang memburuk, kau langsung datang ke Busan untuk menemuiku. Gomawo. Jeongmal gomawoyo! Aku tidak akan pernah melupakanmu hingga akhir.”

Ricky, ia adalah sahabat Jiyeon. Jiyeon yang memang tengah sakit, namja itu mengetahui semuanya. Namja itu sudah seperti saudara bagi Jiyeon, begitu pula sebaliknya.

“Jiyeon-ah!” Ucap Ricky yang mulai menundukkan wajahnya berusaha menutupi kesedihannya.

“Kya! Geumanhae! Kau ini namja! Apa kau tidak malu menangis didepan seorang yeoja yeoppo sepertiku ini, eoh?” Canda Jiyeon.

Ricky yang memang sudah mengeluarkan air matanya langsung berhambur memeluk Jiyeon. Ia sungguh tidak kuasa jika harus kehilangan sosok yeoja seperti Jiyeon.

“Geumanhae!” Tambah Jiyeon seraya menepuk pelan punggung Ricky.

“Aku ini masih hidup dan belum mati. Jadi jangan berlebihan seperti ini.”

“Jangan bicara sembarangan! Kau akan hidup lebih lama! Kau dengar itu?” Protes Ricky.

“Ne. Ne. Aku akan hidup lama. Jadi berhentilah menangis. Kau sangat menjijikan jika seperti ini!” Ejek Jiyeon.

“KYA!”

Jiyeon tertawa melihat Ricky yang langsung melepaskan pelukannya dengan kesal.
.
.
.
.
.
“Kita sudah mendapatkan tulang yang cocok!” Ucap Jiyeon saat memasuki ruangan Chunji.

“Mwo?”

“Kita akan melakukan operasi penyambungan tulang!”

Chunji terlihat berfikir.
Apakah dengan melakukan hal itu ia akan dapat beraktifitas normal seperti dulu lagi?

“Jangan khawatir! Kau akan baik-baik saja! Setelah ini, kau dapat berjalan kembali. Aku akan menemanimu berlatih berjalan!” Ucap Jiyeon seraya menggenggam erat tangan Chunji.

Chunji, namja itu merasa tenang dan nyaman mendengar ucapan Jiyeon. Yeoja itu benar-benar mampu menyentuh hatinya. Yeoja itu mampu melelehkan perasaanya.
.
.
.
.
.
Hari dimana dilakukannya operasi penyambungan tulang bagi Chunjipun tiba. Operasinya berjalan dengan lancar dan Chunjipun kini hanya perlu melakukan terapi berjalan.
Setiap hari dengan sabar Jiyeon selalu menemani Chunji berlatih. Chunjipun kini mulai dapat berinteraksi dengan pasien lainnya. Bahkan sekarang iapun sangat akrab dengan Jiyeon.

“Ige mwoya?” Tanya Jiyeon yang baru saja kembali kedalam kamar Chunji dirawat bersama dengan Chunji.
Keduanya baru selesai berlatih berjalan dihalaman rumah sakit. Perkembangan kesehatan Chunjipun semakin hari semakin membaik.
Chunji langsung mengambil benda yang ada ditangan Jiyeon.

“Ini CD.”

“CD?”

“Bisakah kau membantuku memutarnya?” Pinta Chunji.

Jiyeon langsung mengambil kembali CD itu dari tangan Chunji dan mulai memasukkan kedalam DVD player yang ada didalam ruangan.

Chunji, ia tersenyum menyaksikan setiap aksi panggungnya diputar. Ia yang begitu menikmati setiap lagu yang ia nyanyikan.
Jiyeon ikut tersenyum melihat senyum manis Chunji.

“Kau seorang vokalis?”

“Eum.”

“Kau bernyanyi dengan sangat baik.”

Keduanya menyaksikan bersama setiap aksi panggung Chunji bersama dengan bandnya itu.

“Hyung!” Ucap Niel.

“Kami menunggumu!” Tambah L.Joe

“Menunggu kau kembali bergabung bersama kami!” Ucap C.A.P.

“LEE CHUNJI! FIGHTING!” Teriak ketiganya serempak.

Chunji dan Jiyeon tertawa melihat adegan terakhir yang dibuat oleh C.A.P, L.Joe, Dan juga Niel.

“Kau lihat! Banyak orang yang menantimu! Begitu pula para fansmu!”

“Ck, kau menyindirku? Kami ini bukan artis. Kami hanya band kampungan!”

“Jangan bicara seperti itu! Tidak ada yang tau kalian akan menjadi seperti apa untuk kedepannya. Hanya kalianlah yang dapat menentukan hal itu. Teruslah berjuang! Aku harap kau dan kawan-kawanmu bisa menjadi band besar. Aku ingin sekali menonton konser tunggal kalian nantinya.”

“Jeongmal?”

“Eum. Aku orang pertama yang akan membeli tiket konser kalian dan aku akan berdiri pada barisan yang paling depan.”

Keduanya tersenyum.
Chunji, namja itu semakin merasa nyaman setiap kali bersama dengan Jiyeon.

“Eoh, besok aku tidak bisa menemanimu berlatih Chunji-ah!”

“Wae?”

“Aku akan kembali ke Seoul. Aku akan berkunjung kemakam kedua orangtuaku.”

Chunji merasa tidak enak hati telah menanyakan hal itu pada Jiyeon.

“Mianhae!”

“Hahaha… Gwaenchanayo!”

“Kau berasal dari Seoul juga?”

“Eum. Aku di Busan hanya melakukan tugas kerjaku saja.”

Chunji menganggukkan kepalanya.

“Apa aku boleh ikut?”

“Ne?”

“Sudah lama aku tidak kembali ke Seoul sejak dirawat disini. Aku juga merindukan kota kelahiranku itu.”

“Eum, geurae. Kita akan pergi kesana besok!”

“Geundae, apa boleh kita mampir sebentar menemui kawan-kawanku?”

“Eum, tentu saja. Kita akan pergi kesana terlebih dahulu.”

“Geurae.”
.
.
.
.
.
Hari yang dinantipun tiba. Jiyeon pergi bersama Chunji mengendarai sebuah taksi. Tentu setelah Chunji mendapat ijin dari appanya.

“Apa kedua orangtuamu sudah lama meninggal?” Tanya Chunji saat keduanya tengah berada didalam sebuah taksi yang akan mengantarkannya ke Seoul.

“Aniyo. Mereka meninggal belum lama ini.” Jawab Jiyeon.

“Kau merindukan mereka?”

“Setiap hari. Bahkan setiap detik aku merindukan saat-saat bersama mereka.”

Chunji melihat wajah Jiyeon yang selalu saja terlihat riang. Yeoja itu tak pernah sekalipun menunjukkan wajah sedihnya.

“Bagaimana denganmu? Kudengar eommamu juga sudah meninggal!”

“Eum. Ia pergi saat melahirkanku. Tidak mempunyai eomma sejak lahir, rasanya sudah biasa. Hanya saja terasa aneh jika pada setiap acara kelulusan sekolah hanya ada appa yang menemani.
Appa, ia namja yang luar biasa. Hingga detik ini, ia masih setia pada eomma. Ia tidak pernah sedikitpun meminta persetujuanku untuk menikah lagi. Setiap hari ia hanya mengabdikan dirinya untuk rumah sakit hingga ia membuka sebuah cabang rumah sakit di Busan. Mungkin itu caranya untuk tetap setia pada almarhum eomma. Aku ingin sekali seperti appa. Hanya mencintai satu orang yeoja hingga akhir.”

Jiyeon begitu kagum dengan semua ucapan Chunji. Ternyata namja itu sebenarnya adalah sosok namja yang begitu memperhatikan keluarganya.

Keduanya akhirnya tiba ditempat yang dituju. Tempat dimana Chunji selalu berlatih band bersama kawan-kawannya. Mereka berdua disambut dengan riang oleh ketiga kawan Chunji.

“Hyung, akhirnya kau datang juga!” Ucap Niel yang langung berhambur memeluk Chunji.
Semuanya tersenyum bahagia.

“Bisakah kalian membawakan sebuah lagu untukku?” Pinta Jiyeon.

“Tentu saja. Vokalis kami sudah kembali!” Jawab C.A.P.

“Kajja!” Ajak L.Joe bersemangat.

Jiyeon, yeoja itu begitu terpesona melihat permainan musik Chunji dan kawan-kawannya.
Chunji yang memang seorang vokalis sekaligus memainkan alat gitar listrik yang ada didalam pelukannya begitu benar-benar terlihat mempesona meskipun ia tidak berdiri dan hanya dapat terduduk pada sebuah kursi.

Chunji memang benar-benar berbakat. C.A.P yang sebagai drumer, Niel sebagai pemegang basis dan L.Joe sebagai seorang pianis, merekapun bermain dengan sangat baik. Jiyeon bersyukur dapat menyaksikan itu semua.

Selesai menonton aksi pertunjukan kecil Chunji dan kawan-kawannya, Jiyeon dan Chunji kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat peristirahatan terakhir kedua orangtua Jiyeon.

Chunji, tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mulai membasahi wajahnya, kakinya seolah enggan untuk kembali melangkah setibanya didepan ruangan penghormatan. Disana terlihat foto kedua orang tua Jiyeon terpampang dengan jelas.

“Waegeurae?” Tanya Jiyeon yang melihat kondisi Chunji yang tiba-tiba terlihat begitu pucat.

Chunji, ingatannya kembali pada peristiwa kecelakaan yang terjadi beberapa bulan lalu. Motor yang ia kendarai bertabrakan hebat dengan sebuah mobil. Chunji yang terlempar jauh dari motornya setengah sadar melihat mobil itu terbalik hingga ia melihat sosok kedua orangtua Jiyeon yang berada didalam mobil yang sudah terbalik itu, sebelum akhirnya mobil itu meledak dan Chunji tidak sadarkan diri.

“Kya! Lee Chunji! Neo gwaenchana?” Tanya Jiyeon khawatir.

Chunji langsung menoleh kearah Jiyeon. ia baru menyadari bahwa wajah Jiyeon sangat mirip dengan yeoja yang ada didalam mobil itu.

“Nuguseyo?” Tanya Chunji.

“Ne?”

“NUGU?” Teriak Chunji. Ia tak kuasa menahan rasa kesal atas kenyataan semua ini. Apakah Jiyeon puteri pemilik dari korban kecelakaan yang ada didalam mobil yang meledak saat kecelakaan itu terjadi?

“Chunji-ah!”

Chunji langsung menghempaskan tangan Jiyeon yang membantunya berjalan. Secara perlahan namja itu berbalik pergi meninggalkan Jiyeon.

Park Jiyeon, ia tak mengejar kepergian Chunji. Yeoja itu terlihat tersenyum manis melihat kepergiannya.

“Akhirnya aku dapat melihat kau berjalan juga, Chunji-ah!” Gumamnya yang melihat Chunji semakin menjauh dari pandangannya. Namja itu berjalan tanpa bantuan alat apapun. Tanpa bantuan siapapun. Namja itu kini dapat berdiri sendiri. Berdiri layaknya Lee Chunji sebelum kecelakaan maut itu terjadi.
.
.
.
.
.
Sudah sebulan Chunji kembali ke Seoul. Namun sikapnya berubah. Ia menjadi sosok namja pendiam membuat kawan-kawannya merasa khawatir.

“Jika kau menyukainya, maka datanglah dan temui dia!” Ucap C.A.P seraya menepuk lembut pundak Chunji.

“Hyung, heberapa hari lalu kami pergi ke Busan berniat menemui uisa yeoppo mu itu. Geundae, kami tidak berhasil menemukannya.” Tambah Niel.

“Ige!” L.Joe menyerahkan selembar kertas kecil pada Chunji.

“Ige mwoya?”

“Itu alamat dimana Jiyeon berada. Kami hanya dapat menemukan itu disana.” Jawab L.Joe.

“Pergi dan katakan semua perasaanmu padanya! Kami akan mendukungmu!” Ucap C.A.P

“Ne, hyung! Fighting!” Tambah Niel berusaha menyemangati hyungnya itu.

Tanpa pikir panjang lagi, Chunji langsung bergegas menuju alamat yang diberikan L.Joe padanya.

“Apa dia akan baik-baik saja?” Tanya L.joe khawatir.

“Kita akan mengawasinya!” Jawab C.A.P.

“Kajja!” Ajak Niel.
.
.
.
.
.
Chunji, Matanya melebar.
Ige mwoya?
Tempat yang dulu pernah Chunji kunjungi bersama Jiyeon. Tempat peristirahatan terakhir kedua orangtua Jiyeon.
Itulah alamat yang tertera disana.
Apa maksudnya ini?

Chunji memberanikan diri melangkah mendekat. Tepat disudut kanan ia melihat foto Jiyeonpun ikut terpampang disana.
Apa-apaan ini?

“Lee Chunji-ssi?” Tanya seorang yeoja yang membuat Chunji menoleh kearahnya.

“Akhirnya kau datang juga!” Tambah sang yeoja.

Chunji tak menjawab. Ia masih begitu terkejut dengan apa yang ia lihat.

“Ige!” Ucap sang yeoja seraya menyerahkan selembar kertas pada Chunji dan langsung Chunji terima.

“Aku adalah kakak sepupu Jiyeon. Naneun, Kim Hyuna imnida. Itu pesan terakhir yang Jiyeon titipkan untukmu.” Tambah yeoja yang ternyata Hyuna itu.

“Mworago? Pesan terakhir? Jangan bercanda!”

“Jiyeon sudah meninggal dunia sebulan lalu.”

Chunji melebarkan matanya. Apa maksud perkataan yeoja ini?
Jiyeon meninggal sebulan yang lalu?
Bukankah itu tepatnya saat ia bertemu dengan Jiyeon disini? Ditempat ini?

“Jiyeon, yeoja itu menderita penyakit jantung bawaan sejak lahir. Saat ia mendengar kedua orangtuanya mengalami kecelakaan, ia yang baru lulus dari universitas kedokteran langsung ambruk dan kondisinya makin parah. Ia menjalani operasi transplantasi jantung selama 9 jam yang melibatkan sebuah tim beranggotakan 30 orang dan ia hanya dapat bertahan hidup hingga sebulan lalu. Jantung yang ia dapatkan tepat berhenti berdenyut setelah ia melihat kau dapat berjalan seorang diri. Tugas terakhirnya membawamu kembali kekehidupan sebelum kau kecelakaan akhirnya selesai dan iapun pergi untuk selama-lamanya.”

Chunji langsung ambruk. Tubuhnya benar-benar terasa lemah. Harusnya yeoja itu membencinya bukan malah membantunya hidup normal kembali.

Hyuna langsung meninggalkan Chunji seorang diri. Memberikan ruang untuk namja itu.
Chunji lalu membuka lembar kertas yang Hyuna berikan padanya.

~FIGHTING!~

Chunji terisak saat membaca tulisan tangan Jiyeon. Hanya satu kata. Kata yang mampu memberikannya semangat dan kekuatan.

Ia kembali mengingat setiap moment kebersamaannya bersama Jiyeon. Setiap moment itu memberikannya sebuah pelajaran.

C.A.P, Niel, dan juga L.Joe pun ikut bersedih melihat Chunji.

“Gomawo. Gomawo, Jiyeon-ah!” Gumam Chunji seraya tersenyum berusaha kuat dan menerima segala kenyataan itu semua.
.
.
.
.
.
Dapat pesan moralnya?
Berikan kritik dan sarannya!
Coment Jusaeyo