FF Kris Jiyeon (KrisYeon couple) Part 5 – Ending

image

              Attention
                 (part 5 – END)

Author :
Erni Eyexs

Twitter :
@ernieyex

Instagram :
@erni_eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Wu Yi Fan aka Kris (EXO)

Other Cast :
Xiumin (EXO)
Luhan (EXO)
Eunjung (T-ara)
Qri (T-ara)
Hoya (Infinite)
Kim Myungsoo (Infinite)
Lee Chaerin aka CL (2ne1)
Kevin Wu (U-Kiss)
Kim Hyuna (4minute)
Mason Wu

Songficts :
EXO The First Snow

Genre :
Action, Romance, Friendship,
Family, Sad

Length :
Chaptered

A / N :
Part END hadir. Pernah author publish di tanggal 27 April 2014 silam. O iya author juga mau ngucapin selamat ulang tahun buat sang motivator uri Jiyeon :-* semoga makin sukses karirnya dan makin di sayang keluarga, sahabat, dan juga fans. Cepet punya namja chingu ya Ji 😀
Dan author minta do’a dari reader semua agar ayah author yang sedang sakit bisa secepatnya sembuh dan dapat beraktifitas seperti sedia kala. Aamiin.
Monggo langsung di comot FF nya 😀
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

Seorang yeoja tua berusia kira-kira  70 tahunan terlihat tengah duduk disalah satubangku taman yang tak jauh dari penjara di Bandar Pohang, Timur
Korea Selatan.
Yeoja tua itu terlihat tengah menunggu seseorang disana.

“Jiyeon-ah!”

Yeoja tua itu menolehkan wajahnya ke arah orang yang memanggilnya. Ia melempar senyum hangatnya pada namja
tua tinggi yang usianya tidaklah
muda, sama seperti dirinya.

“Kris oppa!” Balasnya yang langsung bangkit dan melangkah
kearah namja tua yang ternyata adalah Kris.

Keduanya saling melempar senyum.

“Kenapa kau menangis?” Tanya Kris saat melihat butiran bening mulai turun dari mata sang yeoja tua yang ternyata adalah Jiyeon.

Kris makin mendekat. Ia mengelus lembut pipi Jiyeon yang sudah basah oleh bulir bening yang jatuh dari kedua pelupuk matanya. Dengan perlahan Kris menghapus air
mata itu menggunakan ibu jarinya yang sekarang sudah tak selembut dulu lagi. Dengan banyaknya kerutan dikulit keduanya, namun paras
mereka tidaklah banyak berubah, masih tampan dan juga cantik meski stamina mereka tak sekuat saat
mereka masih muda.

“Kau masih tetap cantik, Jiyeon-ah!” Ucap Kris lembut dan semakin membuat Jiyeon terisak.

“Hiks…”

“Kya! Kya! Kya! Geumanhae!
Tenagaku sudah tidak cukup untuk membentakmu! Geumanhae!”

“Hiks….” Jiyeon tetap menangis.
Menundukkan wajahnya yang sudah dibanjiri oleh air mata.

Kris langsung memeluknya hangat.

“Geumanhae!” Bisik Kris lembut.

“Oppa! Hiks…” Panggil yeoja tua itu.

“Eum!”

“Bhogosippo!” Lanjutnya yang membuat Kris makin mengeratkan pelukannya
pada Jiyeon begitupun dengan
Jiyeon yang mulai membalas pelukan Kris, namja yang begitu amat ia rindukan.

~Flash Back On~

Eunjung, Jiyeon, Hoya dan juga
pasukan dari NIS terlihat tengah
mengepung Renaissance Seoul
Hotel. Terlihata ada lebih dari 50 pasukan bersenjata lengkap berjaga diluar gedung hotel tersebut.

“Kau siap, Jiyeon-ah?” Tanya Eunjung yang tengah memegang sebuah pistol Norica Magnum Mod F92.

“Ne.” Jawab Jiyeon mantap yang kini tengah bersiap keluar dari dalam lift.

Eunjung, Jiyeon dan juga 5 orang
pasukan tengah berada didalan
sebuah lift saat ini. Mereka menuju ke lantai paling atas. Tepatnya menuju kamar 701.

~Ting~

Pintu lift pun terbuka. Terlihat
beberapa namja bertubuh besar
langsung menoleh kearah lift.
Dengan sigap namja-namja itu mulai mengambil senjata dari dalam saku jas yang mereka kenakan saat mereka melihat kedatangan pasuka Eunjung, namun Eunjung dan ke 5 rekannya tidak tinggal diam. Mereka langsung menarik pelatuk pistol mereka dan
baku hantampun tak terelakan.

Jiyeon, ia melawan mereka dengan tangan kosong. Yeoja itu sama sekali tidak menggunakan senjata apapun.

Mendengar keributan yang berasal dari luar kamar yang di jaga, beberapa orang berpakaian samapun mulai keluar dari dalam kamar dan ikut bertarung.

~Bugh~

Wajah Jiyeon terkena tinju dari salah seorang namja bertubuh besar. Jiyeon dengan perlahan menyentuh sudut bibirnya yang terluka.

“Saekk!” Umpat Jiyeon kesal saat
melihat darah ditangannya. Ia langsung menghajar namja itu
tanpa ampun.

“Waegeurae?” Tanya namja bertubuh agak berisi pada namja berkacamata saat mendengar suara tembakan dan
gaduh dari luar kamarnya.

“Molla. Akan aku periksa. Jangan
khawatir tuan Xiumin!” Jawab namja berkacamata itu pada namja yang ternyata adalah Wu Xiumin, appa dari Kris.
Namja berkacamata itu langsung
mengambil sebuah pistol Walther P94 dari dalam saku celananya. Ia berjalan mendekat kearah pintu. Matanya melihat para anak buahnya telah babak belur oleh 2 yeoja dan 5
namja dari celah pintu.

“Saekk! Kajja tuan Xiumin, kita harus segera pergi dari tempat ini!” Ucapnya melangkah tergesa kearah Xiumin seraya mengambil androidnya dari dalam saku jas dan langsung menghubungi seseorang.

“Apa maksudmu?”

“Tempat ini sudah dikepung!”

“MWO?”

~Bruk~

Pintu hotelpun didobrak dengan
paksa dan muncullah Jiyeon beserta Eunjung dan juga 5 pasukannya yang sudah mengarahkan senjata mereka
tepat ke arah Xiumin dan namja
berkacamata yang ada disampingnya.

“Menyerahlah tuan Xiumin!” Ucap Eunjung mengeratkan deretan giginya.

“Ada apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti. Siapa kalian?” Jawab Xiumin berpura-pura.

Eunjung langsung memperlihatkan sebuah surat penahanan.

Mata Xiumin melebar saat
menyadari sosok Jiyeon disana.

“Park Jiyeon!” Gumamnya.

“Kau ditahan atas penyelundupan
senjata berbahaya Anti-Tank ke
Korea, tuan Wu!” Tambah Eunjung pada Wu Xiumin.

~Dorr~

Namja berkacamata itu dengan sigap langsung menembak tangan Eunjung dan membuat surat penahanan Xiumin terjatuh.

“EONNIE!” Teriak Jiyeon panik saat melihat tangan Eunjung yang terluka.
Ke 5 pasukannya pun terlihat
terkejut.

Namja berkacamata itu
memanfaatkan moment tersebut untuk membawa Xiumin kabur dengan melewati jendela yang langsung
terhubung dengan balkon atas.

“Kejar mereka!” Perintah Eunjung.

“Geundae……”

“Palli!”

Jiyeon dan ke 5 pasukannyapun
langsung berlari mengejar Xiumin dan rekannya.

“Naiklah bila helikopter sudah
datang! Aku akan menghalangi
mereka, tuan” Ucap sang namja yang tak lain adalah tangan kanan Xiumin.

“Geundae, bagaimana denganmu
Luhan-ah?”

“Aku akan baik-baik saja. Anda harus selamat, tuan!” Jawab namja berkacamata yang diketahui bernama Luhan itu.

Xiumin hanya menganggukkan
kepalanya.

“KYA! MAU LARI KEMANA LAGI
KALIAN, EOH?” Teriak Jiyeon.
Dilihatnya sebuah helikopter datang dan sudah siap memberikan sebuah tali pada Xiumin.

Luhan langsung menembak kearah Jiyeon, namun dengan sigap Jiyeon dapat menghindar.

“Tangkap namja tua berkacamata
itu! Aku akan menangkap namja tua yang satunya!” Perintah Jiyeon pada ke 5 pasukannya.
Jiyeonpun berlari kearah Xiumin
yang masih belum dapat meraih tali dari atas helikopter.

Rupanya Luhan kehabisan
pelurunya. Ia langsung mengejar
Jiyeon dan memukulnya.

~BUGH~

Jiyeon tidak tinggal diam, dengan
sekali pukulan ia mampu
melumpuhkan Luhan.
Jiyeon langsung menarik kaki Xiumin saat melihat namja tua itu berhasil meraih
tali dari atas helikopter.

Kini Xiumin bergelantung diantara helikopter.

“Aku tidak akan membiarkanmu
lolos, penjahat!” Ucap Jiyeon
berusaha menarik kembali Xiumin turun kebawah.

“Lepaskan, yeoja brengsek!” Umpat Xiumin yang mencoba melepaskan kakinya dari genggaman tangan Jiyeon.

Sedangkan Luhan, ia kini sudah
ditangani ke 5 pasukan Jiyeon.
Eunjung terlihat begitu melebarkan matanya saat melihat Jiyeon yang ikut bergelatung terbawa helikopter.

“Jiyeon-ah!”

Sementara itu, dibawah sana, tepat diluar gedung hotel, semua
pasukanpun ikut melebarkan mata mereka saat melihat Xiumin dan juga Jiyeon bergelantung diatas udara dengan sebuah Helikopter.

“Jiyeon-ah!” Ucap Hoya yang
melihatnya. Hoyalah yang bertugas mengawasi bagian luar gedung hotel. Berusaha untuk
tidak membiarkan para penjahat itu lolos.

“CEPAT LEPASKN!” Teriak Xiumin
yang mulai menggoyangkan kakinya.

“Sudah kubilang, aku tidak akan
pernah melepaskanmu!” Jiyeon tak mau kalah.

“Kau benar-benar merepotkan.
Harusnya kubunuh kau 7 tahun lalu bersama dengan appa dan juga eomma tirimu yang brengsek itu.”

Mendengar perkataan Xiumin,
Jiyeonpun kembali teringat peristiwa memilukan 7 tahun lalu saat appa dan eomma tirinya tewas terbakar dan akhirnya ia terpisah dengan
oppa tirinya.

“A-apa maksudmu?”

“Kau benar-benar benalu. Bagaimana bisa aku bertemu lagi dengan bocah petaka sepertimu.”

Sementara itu, Hoya dan pasukannya terlihat sudah menaiki sebuah Helikopter.
Sementara itu pasukan yang lain
bersiap dibawah, siap untuk menangkap Jiyeon yang dikhawatirkan akan terjatuh nantinya.

“Naega! Akulah yang sudah
membuat appa dan juga eomma
tirimu itu meninggal. Dan aku
pulalah yang sudah memisahkanmu dengan putraku!” Xiumin tersenyum penuh kemenangan.

“Oppa? Yi Oppa?” Tubuh Jiyeon menegang seketika.

“Kau pantas mati!” Dengan sekuat tenaga, Xiumin berusaha melepaskan kakinya dari tangan Jiyeon dan membuat tangan Jiyeon terlepas.

“ANDWAEEEE!” Teriak Eunjung saat melihat tubuh Jiyeon terjatuh.

~Flash Back Off~

“Apa kau sangat merindukanku,
eoh?” Tanya Kris masih setia
memeluk tubuh ramping Jiyeon.

“Eum.” Jawab Jiyeon yang sudah sedikit lebih tenang dibandingkan sebelumnya.

Kris tersenyum manis.

“HALMEONI!” Terdengar suara teriakan seorang bocah namja berusia 4 tahun.

Kris langsung melepaskan
pelukannya dan melihat bocah
namja beserta seorang yeoja dan juga namja muda yang terlihat seperti orangtua sang bocah.

“Halmeoni, kenapa tidak
mengajakku?” Rengek bocah kecil itu.

Jiyeon tersenyum dan berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan sang bocah.

“Mianhae, mason-ah!” Jawab Jiyeon seraya mengelus lembut puncak kepala bocah namja yang ternyata bernama Mason itu.

Kris, ia nampak terlihat melebarkan matanya.
Ia begitu terkejut.
Apakah Jiyeon sudah mempunyai sebuah keluarga?

~Flash Back On~

“Gwaenchana?” Tanya Kris pada
Jiyeon yang saat ini tengah berada diruang tamu tahanan.

“Kudengar kau terjatuh dari atas
helikopter?” Tambah Kris yang
terdengar begitu mengkhawatirkan Jiyeon.

“Gwaenchanayo. Pasukan yang lain membantuku mendarat dengan baik!” Jawab Jiyeon dan membuat keduanya tertawa.

Mereka kemudian terdiam.
Ada kecanggungan yang menyelimuti keduanya.

Kris, ia menyerahkan diri dan
menyerahkan semua bukti-bukti
kejahatan sang appa pada NIS.
Sang appa berhasil ditahan dan
dipenjara seumur hidup, sedangkan dirinya hanya ditahan selama 50 tahun. Ia pula yang memberitahukan mengenai keberadaan sang appa pada NIS.

“Mianhae!” Lirih Kris.

“Untuk apa?” Tanya Jiyeon.

“Untuk semuanya!” Jawab Kris.

Keduanya kembali terdiam.

“Naega! Untuk perasaanku selama inu padamu, itu tidak ada satupun kebohongan. Aku benar-benar tulus mencintaimu, Jiyeon-ah!” Ucap Kris lembut.

“Oppa!”

Kris menundukkan kepalanya.

“Yi, oppa! Kau sudah tau hal ini
pula?” Tanya Jiyeon.

Kris hanya menganggukkan
kepalanya masih dengan menunduk.

“Sejak kapan?” Tanya Jiyeon.

“Sebelum aku menyerahkan bukti-bukti kejahatan appa!” Jawab Kris jujur.

“Oppa!” Ucap Jiyeon parau.

“Apa aku boleh memelukmu?”
Tambahnya.

Kris langsung mendongakkan
wajahnya dan melihat Jiyeon yang sudah mengeluarkan air matanya. Tanpa menunggu lama, Kris langsung menarik tubuh Jiyeon kedalam pelukannya.
Keduanya menangis bersama.

“Oppa! Hiks…” Isak Jiyeon dalam pelukan Kris.

“Yi, oppa! Hiks..” Tambahnya masih terisak.

“Bhogosippo!” Lanjut Jiyeon memeluk erat tubuh Kris.
Sungguh selama ini Jiyeon begitu
merindukan oppa tirinya itu.
Sejak ia mengenal Yi, ia tak pernah sekalipun menangis. Yi selalu menghiburnya. Memberikannya rasa aman dan nyaman. Melindunginya
layaknya seperti seorang oppa
kandung sendiri. Meski keduanya hanyalah saudara tiri, namun mereka berdua
saling menyayangi.

“Hiks…” Krispun ikut terisak. Iapun begitu merindukan sosok Jiyeon sang adik tiri. Pantas saja saat pertama kali melihat
Jiyeon disebuah diskotik bernama Club Volume didaerah Itaewon, ia merasa seperti sudah mengenal Jiyeon sejak lama. Hingga takdir akhirnya membuat ia jatuh cinta
pada sosok yeoja itu.

“Oppa!” Ucap Jiyeon yang mulai
merasa tenang. Iapun melepaskan pelukannya.

“Bisakah kau memanggilku seperti dulu? Aku benar-benar ingin mendengarnya saat ini!” Pinta Jiyeon.

Dengan ragu Krispun berusaha
memanggil Jiyeon dengan nama
kecilnya.

“Ji-ah!” Ucap Kris pelan. Lidahnya
terasa kaku setelah 7 tahun lamanya ia tak mengucapkan nama itu.

Jiyeon tersenyum senang
mendengarnya.

“Ji-ah!” Tambah Kris yang mulai
mengeraskan volume suaranya.

Jiyeon terkekeh mendengarnya. Air matanya masih terus saja terjatuh. Begitupula dengan Kris.

“Ji-ah! Ji-ah! Ji-ah!” Ucap Kris
berulang kali. Ia juga begitu rindu mengucapkan nama itu.

Keduanya tertawa bersama dan tak lama kembali terdiam. Keduanya masih saling melempar senyum.

“Aku akan menunggumu, oppa!”
Ucap Jiyeon yang sukses membuat Kris melebarkan matanya.

“Mwo?”

“Aku akan menunggumu. Menunggu hingga masa penahananmu berakhir.”

“Jeongmalyo?”

“Eum.” Jawab Jiyeon mantap.

Krispun langsung memeluk kembali tubuh Jiyeon.
Kini keduanya saling berpelukan.
Saling tersenyum bahagia dengan air mata yang terus mengalir dipipi keduanya.

~Flash Back Off~

“Oppa!” Ucap Jiyeon membangunkan Kris yang tengah melamun mengingat masa lalunya.

“Eoh?”

“Kemarilah!” Pinta Jiyeon lembut.

Kris dengan perlahan mulai
mendekat dan ikut berjongkok.
Dilihatnya bocah namja itu
tersenyum manis padanya.

“Harabeoji!” Ucap sang bocah
langsung berhambur memeluk Kris. Kris terlihat begitu terkejut.
Harabeoji?
Apakah yang dimaksud sang bocah Harabeoji itu adalah dirinya?

Terlihat namja muda dan yeoja
disampingnya ikut melangkah
mendekat ke arah Kris yang tengah dipeluk sang bocah. Mereka berdua ikut melempar senyum padanya.

“Appa!” Ucap namja muda itu.

Kris makin terlihat bingung.
Appa?
Diakah yang dimaksud namja muda itu?

“Annyeonghasaeyo, appanim!”
Timpal yeoja muda seraya
membungkukkan tubuhnya.

Kris langsung menoleh ke arah Jiyeon, meminta penjelasan atas semuanya.

“Mwo?” Tanya Jiyeon yang ditatap aneh oleh Kris.

“Mereka ini adalah keluargamu,
oppa! Kau meninggalkan aku dan
membiarkan aku mengurus mereka seorang diri.”

Kris masih bingung dengan
penjelasan Jiyeon.
Keluarga?

“Harabeoji, berapa hari kau tidak
mandi? Badanmu sangat bau!” Ucap Mason seraya melepaskan
pelukannya dan langsung menutupi hidungnya.

Semuanya tertawa mendengar
perkataan polos Mason.

“Dia itu adalah cucumu. Namanya Wu Mason.” Tambah Jiyeon.

“Cucu?”

“Ne. Dia putraku, appa!” Tambah
namja muda yang masih berdiri itu.

“Kya! Dia juga putraku!” Tambah
yeoja muda disampingnya.

“Ne, yeobo!”

Kris masih terlihat bingung.

“KYA! APA 50 TAHUN DIDALAM
PENJARA MEMBUATMU MENJADI
NAMJA IDIOT SEPERTI INI, EOH?”
Teriak Jiyeon kesal. Jiyeon mulai bangkit dan berjalan
meninggalkan semuanya.

“Jiyeon-ah!” Teriak Kris yang ikut
bangkit. Ia menunduk pada namja muda dan yeoja disampingnya itu dan langsung mengejar Jiyeon.

“Yeobo, apa eomma dan appamu
akan baik-baik saja?” Tanya sang
yeoja muda.

“Eomma akan menjelaskan
semuanya!” Jawabnya seraya
merangkul pundak yeoja yang adalah anaenya itu.

“APPA!” Teriak Mason.

“Eum!”

“Kurasa harabeoji sedikit kurang
waras!”

“KYA!”

“Hahahah, appa mu akan mengamuk Mason-ah!”

Sementara itu, Kris akhirnya dapat mengejar Jiyeon. Ia langsung menarik tangan Jiyeon membuat yeoja tua itu berbalik kembali padanya.

“Mwo?”

“Mianhae!” Jawab Kris.

“Wae?”

“Aku benar-benar tidak mengerti, Jiyeon-ah!”

Jiyeon kembali berbalik dan
melepaskan tangan Kris dan
meninggalkannya.
Kris berdecak kesal dan kembali
mengejar Jiyeon.

“Jiyeon-ah!”

“Jangan memanggil namaku!”

“Ryan-ah!”

“Geumanhae!”

“Ji-ah!”

“KYA!” Teriak Jiyeon lalu berbalik
menghadap Kris.

“Bisakah kau menjelaskan
semuanya!” Pinta Kris.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa bocah itu adalah cucumu!” Jiyeon benar-benar dalam mode kesal saat ini.

“Geundae…….”

“Apa kau lupa kau sudah
meniduriku, eoh?”

“Ne?” Wajah Kris saat ini benar-benar seperti orang idiot di mata Jiyeon.

“Aissh, kau ini benar-benar
menyebalkan!” Gerutu Jiyeon
kembali meninggalkan Kris.

Kali ini Kris tidak mengejar Jiyeon.
Cucu?
Apakah mungkin Jiyeon hamil?
Dan mempunyai anak darinya?
Ya, dia ingat betul bahwa ia dan
Jiyeon sudah melakukannya.
Apakah selama ini Jiyeon setia
padanya?
Apakah Jiyeon benar-benar
menunggunya selama ini?

Kris langsung melangkah mengejar Jiyeon dan memeluknya.

“Kya! Lepaskan!”

“Shirreo. Aku tidak akan
melepaskanmu!”

“Dasar tua bangka brengsek!”

“Mianhae!”

Keduanya terdiam masih dalam
posisi Kris yang memeluk tubuh
Jiyeon dari belakang.

“Gomawo!” Bisik Kris.

“Mwo?”

“Untuk semuanya!”

“Ck, apa kau hanya bisa
mengucapkan kata Mianhae dan
Gomawo, eoh?” Nampaknya Jiyeon masih kesal karena keterlambatan otak Kris memproses semuanya.

“Saranghae!”

Jiyeon mematung saat Kris
mengucapkan kata itu. Meski ia tau Kris sangat mencintainya, namun ini pertama kalinya Kris mengucapkan kata sakral itu. Mungkin hanya satu kata, namun satu kata itu mampu membuat bumi ini seperti berhenti
berputar dari porosnya,
Mampu membuat nafasnya
abnormal,
Mampu menghentikan detak
jantungnya,
Mampu membuat waktu ini terasa berhenti bagi Jiyeon.

“Saranghae! Saraghae, Jiyeon-ah!” Tambah Kris.

Jiyeon langsung menarik kedua
sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia benar-benar merasa bahagia saat ini.

“Jeongmalyo?”

“Eum!”

Jiyeon langsung melepaskan pelukan Kris dari tubuhnya lalu berbalik menghadapnya.

“Kalau begitu, nikahi aku!”

“Ne?”

“KYA! APA KAU AKAN MEMBIARKANKU MELAJANG SEUMUR HIDUPKU, EOH?”

Kris langsung memeluk kembali
tubuh Jiyeon.

“Ani. Aku tidak akan
membiarkannya. Aku akan berada disampingmu. Aku akan menjaga dan melindungimu.”

Jiyeon tersenyum mendengarnya. Ia lalu membalas pelukan Kris.

“Jadi?”

“Aku akan menikahimu. Akan
menjadi suamimu. Akan menjadi
appa dari anak kita dan juga
menjadi harabeoji bagi cucu kita.”

Jiyeon terkekeh mendengarnya.
Keduanya tersenyum bahagia begitu pula dengan ke 3 orang yang tengah menyaksikan moment kebahagiaan keduanya.

“Appa!”

“Eum?”

“Kenapa aku tak setinggi harabeoji?” Tanya Mason yang langsung mendapatkan death glare dari sang appa.

***

@Nonhyeon La Folium

“Jadi, putraku itu bernama Kevin?” Tanya Kris yang saat ini tengah memakan masakan yang Jiyeon siapkan untuknya.
Jiyeon membawa Kris kerumahnya yang berada dikawasan Nanhyeongdong,
Gangnam, Seoul.

“Ne. Kevin Wu.”

“Yeoja yang menjadi anaenya, siapa namanya?”

“Hyuna. Kim Hyuna.”

“Dia terlihat sangat seksi.”

Jiyeon langsung memberikan tatapan membunuhnya pada Kris dan Kris hanya menunduk melihatnya.

“Hyuna. Dia yeoja yang baik .Hanya dialah yang mampu menerima keadaan keluarga Kevin. Kevin memang tampan, banyak yeoja yang mengejarnya. Namun mereka akan
meninggalkannya setelah tau
bagaimana keadaan keluarganya.”

Kris terdiam. Selama ini Jiyeon pasti sangat menderita. Ia tak ada disamping Jiyeon saat Jiyeon
melahirkan. Tak ada bersamanya
saat Jiyeon membesarkan Kevin.
Jiyeon, ia hanya seorang diri selama ini. Dengan status hamil tanpa suami. Mempunyai anak tanpa menjadi seorang istri dari siapapun. Tentu itu hal yang berat baginya. Kris semakin merasa bersalah.

“Hyuna, hanya dialah yeoja yang
dengan setia masih berada
disamping Kevin. Hingga akhirnya mereka menikah dan memiliki Mason.” Tambah Jiyeon.

“Mianhae!” Lirih Kris.

” KYA! Untuk apa minta maap? Ini semua bukanlah salahmu, oppa!”

“Mereka pasti sangat malu
mempunyai keluarga sepertiku!”

“Anio. Justru mereka sangat bangga padamu, oppa! Sulit bagi orang lain untuk mengakui kesalahannya, sedangkan kau berani melakukannya. Aku sangat bangga padamu.”

“Ne. Kami juga!” Tambah Kevin yang tiba-tiba datang bersama Hyuna dan juga Mason.
Mason langsung duduk disamping Kris disusul dengan Kevin dan juga Hyuna.

“Harabeoji!”

Kris langsung menoleh kearah
Mason.

“Kau benar-benar sangat tampan.”

Semuanya tertawa begitu pula
dengan Kris.

***

@Dongjak-Yu

Saat ini Kris dan juga Jiyeon tengah berada dimakam Hyomin. Kris meletakkan sebuket mawar putih diatas makam Hyomin. Bunga
kesukaan Hyomin.

“Mianhae! Mianhae untuk semuanya. Kuharap kau mau memaafkan semua hal yang terjadi selama ini!” Ucap
Kris pada makam Hyomin. Ia seolah-olah tengah berbicara langsung dengan Hyomin.

Jiyeon langsung memeluk erat
lengan Kris. Semilir angin sore mulai menerpa keduanya.
Keduanya membungkuk memberikan hormat pada makam Hyomin yang ada
didalam sana.
Keduanya kemudian bergegas pergi dari makam Hyomin.

“Bagaimana dengan saudaramu yang lain?” Tanya Kris yang saat ini berada disebuah taman bersama Jiyeon.
Saat perjalanan kembali kerumah, mereka memutuskan untuk singgah disebuah taman yang mereka lewati.

“Qri eonnie pindah ke Jepang
bersama keluarganya sejak Hyomin eonnie meninggal dunia dan tak ada kabar apapun darinya hingga detik ini. Sedangkan Eunjung eonnie, ia
memutuskan untuk tinggal disebuah kuil selesai tugas terakhir kami. Kudengar ia mengabdikan diri disana. Sedangkan Hoya oppa
sedang menikmati masa pensiunnya dipulau Jeju.” Jawab Jiyeon.

Kris lalu memeluk erat tubuh rapuh Jiyeon.
Meski keduanya tak semuda dulu, namun perasaan mereka tetaplah sama seperti dulu.

“Tao….”

Kris langsung melepaskan
pelukannya saat mendengar Jiyeon menyebutkan nama Tao.

“Setiap tahun aku tetap
mengunjungi makamnya ke China.” Lanjut Jiyeon.

Kris langsung bernafas lega.
Jiyeon, ternyata yeoja itu tetap
menjaga makam Tao selama ia
berada didalam tahanan.
Kris melemparkan senyum pada
Jiyeon. Yeoja itu, bagaimanapun ia pasti sangat bersusah payah, menahan amarah, mengunjungi makam orang yang telah membunuh Hyomin yang
sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri. Pasti
itu bukanlah hal yang mudah
baginya.

“Jiyeon-ah!”

“Eum!”

“Gomawo!”

Jiyeon langsung menoleh kearah Kris yang masih tersenyum manis padanya.

“Gomawo karena sudah hadir dalam kehidupanku selama ini. Gomawo karena sudah menungguku sejauh ini. Gomawo karena tetap
mencintaiku hingga detik ini.
Gomawo untuk semua yang sudah kau lakukan untukku.” Tambah Kris.

Jiyeon membalas senyum manis Kris.

***

@Dodohae Haesang National Park

Park Jiyeon dan juga Kris saat ini
tengah berada disebuah taman
nasional yang indah dipantai Korea Selatan. Terletak dipantai wilayah Jeolla Selatan atau biasa disebut sebuah desa nelayan kecil.

Keduanya tengah melangsungkan
acara pernikahan mereka.
Meski usia mereka tak semuda dulu, namun mereka tampak menawan menggunakan pakaian pengantin yang mereka kenakan saat ini. Tidak banyak para tamu yang hadir.

“Huaaah, aku bersyukur masih
diberikan hidup sehingga dapat
menghadiri pernikahanmu, Jiyeon-ah!” Ucap Eunjung yang hadir di acara pernikahan Jiyeon.

“Ne, eonnie. Gomawo!”

Kris hanya melempar senyum pada Eunjung.

“Chukkae, Jiyeon-ah! Akhirnya
penantianmu selama ini terbalaskan. Hahaha!” Ucap Hoya yang juga hadir dalam pernikahan Jiyeon dan juga Kris.

“Gomawo, oppa!”

“Halmeoni! Harabeoji! Kajja kita
berfoto bersama!” Pinta Mason.

“Kajja!” Jawab Kris.

Jiyeon, Kris, Eunjung, Hoya, Kevin, Hyuna, dan juga mason terlihat tengah bersiap melakukan fose mereka didepan kamera.

“Siap?” Tanya seorang namja muda bernama Kim Myungsoo yang tak lain adalah cucu dari
Hoya yang seorang photografer itu.

“Hana, Dul, ……..”

“Qri-ah!” Teriak Eunjung saat
melihat Qri datang dengan
menggunakan sebuah kursi roda.
Dibelakangnya terlihat seorang yeoja muda yang tengah mendorong kursi roda Qri.
Eunjung langsung berlari kecil dan menghampiri Qri, disusul pula dengan Jiyeon.

“Qri-ah!”

“Eunjung-ah!”

“Qri, eonnie!”

“Jiyeon-ah!”

Keduanya langsung berhambur
memeluk Qri.

“Mianhae!” Bisik Qri.

Ketiganya menangis haru setelah
bertahun-tahun berpisah, akhirnya tuhan mempertemukan mereka kembali meski dengan usia mereka yang sudah tidak muda lagi.

“Bagaimana keadaanmu selama ini?” Tanya Eunjung saat melepaskan pelukannya.

“Aku baik-baik saja!” Jawab Qri.

“Aku mendengar Jiyeon menikah, jadi aku putuskan untuk kembali ke Korea. Aku benar-benar merindukan negara
ini, terutama kalian. Aku masih takut untuk bertemu lagi dengan kalian, namun kurasa ini
saatnya. Aku harus melupakan masalalu. Kurasa masa kini kita sudah mempunyai keluarga baru, kehidupan baru, dan tentu saja kerutan baru. Hahaha!” Tambah Qri.

Ketiganya tertawa begitupula semua yang mendengarpun ikut tertawa bersama.

“Halmeoni, eiapa nuna ini?” Tanya Mason yang ikut mendekat dan memandang yeoja muda yang ada
dibelakang kursi roda Qri.

“Ini cucu Halmeoni. Namanya
Chaerin.” Jawab Qri.

Chaerin menunduk memberikan
salam seraya melempar senyum.
Matanya menangkap sosok Myungsoo cucu dari Hoya yang ikut menatapnya pula. Keduanya saling melempar senyum.

“Kajja! Kita berfoto bersama!” Ajak Kevin.

Semuanyapun berkumpul bersama. Hanya Myungsoo dan Chaerinlah yang tidak ikut berfoto. Chaerin terlihat begitu senang berada disamping Myungsoo yang saat ini sudah siap memotret.

Sedangkan Myungsoo, namja itu terlihat begitu gugup ditatap seperti itu oleh yeoja yang ada disampingnya itu.

“Kya! Myungsoo-ya! Palliwa!” Teriak Hoya.

“Hana, Dul,……”

~Jepret~

Kris : Tidak peduli sejauh apa kita berpisah, selama apa kita tak bersama, tuhan pasti akan
menyatukan kita. Menyatukan cinta kita.”

Jiyeon : “Aku akan menyimpan
perasaan ini hingga akhir. Aku yang memulai dan aku pula yang akan mengakhirinya. Aku akan
bertanggungjawab atas perasaan
ini.”

Kris & Jiyeon  “Saranghae!”

***
Endingnya gimana nih readers?
Sukakah?
Coment Jusaeyo!

FF Kris Jiyeon (KrisYeon Couple) part 4

image

               Attention
                       (part 4)

Author :
Erni Eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Wu Yi Fan aka Kris (EXO)

Other Cast :
Xiumin (EXO)
Eunjung (T-ara)
Hoya (Infinite)

Songficts :
B.A.P Body and Soul

Genre :
Action, Romance, Friendship,
Family, Sad

Length :
Chaptered

A / N : Authornya baik kan langsung di post part 4 nya #Hemeh Ya iyalah wong cuma repost 😀 pernah author publish di tanggal 22 April 2014 tahun lalu.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

@Pupyong Hotel, Incheon

Ryan membuka knop pintu dan
masuk kedalam kamar hotelnya. Ia.melihat Kris tengah berdiri tepat dihadapannya. Wajahnya terlihat begitu menyeramkan saat ini.
Ada apa dengannya? Batin Ryan yang tak lain adalah sosok Jiyeon.

“Oppa!”

Kris langsung mendekat. Ia
mendorong tubuh Ryan hingga
terbentur didinding.

~CUP~

Ia melumat bibir Ryan, mengunci tubuhnya dan menggigit kasar bibir Ryan.

Ryan yang merasa bibirnya terluka, berusaha mendorong tubuh Kris, namun tenaganya tak cukup kuat.

Kris semakin kasar menikmati
bibirnya. Hingga Kris merasakan bibir Ryan berubah rasa. Seperti rasa darah. Ia pun melepaskan ciumannya. Dilihatnya yeoja itu begitu terengah. Bibirnya berdarah karena gigitannya.

“Oppa!”

Kris langsung menarik kasar tubuh Ryan dan mendorongnya hingga terjatuh diatas ranjang.

Ryan terlihat begitu ketakutan melihat Kris saat ini.

Kris membuka pengait kemeja merah yang ia kenakan.

Mata Ryan melebar saat melihat dada bidang Kris. Kris langsung membuang kemejanya.

“Oppa!”

Ia langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang tanpa pakaian yang ia kenakan.

Antara takut dan terpesona saat
melihat Kris tanpa sehelai pakaian, itulah yang Ryan rasakan saat ini.
Kris menatapnya intens.

“Oppa!” Lagi dan lagi, Jiyeon hanya mampu menyebutkan kata itu.
Kris langsung melumat kembali
bibirnya, namun ini lebih lembut
dari sebelumnya.
Meski Ryan merasakan perih
dibibirnya, namun sepertinya ia
menikmati perlakuan Kris kali ini. Ia memejamkan matanya begitu pula dengan Kris.

Kris, tangannya mulai turun dan
meraba bagian tubuh Ryan.

~DEG~

Mata Ryan melebar saat ia merasa tangan Kris tepat mendarat diatas payudaranya yang masih terbungkus oleh pakaian yang ia kenakan.

Ciuman Kris berhenti dibibir Ryan dan turun ke lehernya.
Ryan mengerjapkan matanya berkali-kali saat Kris mulai meremas payudaranya, mencium dan menggigit kecil tengkuk Ryan dan membuat tengkuk itu terlihat memerah.

Ryan berusaha menahan
desahannya. Menutup rapat bibirnya. Menelan salivanya secara perlahan.

“Jangan pernah pergi kemanapun tanpa sepengetahuanku!” Bisik Kris
tepat ditelinga Ryan.

Kris pun menghentikan aksinya. Ia langsung bangkit dan mengambil kembali kemeja merahnya dan mengenakannya.

Ryan langsung bernapas terengah.

Kris mengambil minum yang ada
didalam lemari es. Sebotol wine.
Iapun duduk diatas sofa dan
menyalakan televisi.

Ryan, ia masih berusaha mengontrol nafas serta nafsunya yang sudah terlanjur keluar karena perlakuan
Kris barusan padanya.
Meskipun selama 3 tahun Ryan dan Kris tinggal bersama, namun Kris tak pernah menyentuhnya melebihi dari sebuah pelukan dan ciuman.
Ini pertama kalinya Kris melakukan ini semua pada Ryan.

Ryan pun bangkit dari atas ranjang. Berjalan mendekati Kris dan duduk disampingnya.
Meskipun namja itu terlihat sedang menonton TV, namun pikirannya saat ini tidak terfokus pada TV layar lebar yang ada dihadapannya itu. Dengan perlahan ia meminum wine
itu. Matanya masih tertuju pada TV layar lebar yang ada dihadapannya saat ini, tanpa sedikitpun ingin menoleh kearah Ryan yang saat ini
ada disampingnya.

Ryan terus memandang Kris yang
terlihat begitu mengacuhkannya.

“Oppa!” Panggilnya kembali.

Kris tak menjawabnya. Ia hanya
meminum kembali wine nya.

“Mianhae!” Lirih Ryan namun tetap tak mendapat respon dari Kris.

Ryan langsung memeluk lengan Kris dan merebahkan kepalanya dibahu Kris.

“Aku hanya merasa bosan tadi. Jadi aku pergi ke Namsan Tower.” Ucapnya terdengar begitu
memilukan.

Krus mulai luluh. Ia menoleh kearah Ryan yang masih bersandar dibahunya.

“Oppa, apa boleh kita berada di
Korea lebih lama lagi?”

Kris kembali memalingkan wajahnya mendengar penuturan Ryan.

Korea, baginya negara ini lebih
menyeramkan dari tempat manapun. Negara yang bisa saja membuat Ryan kembali mengingat masa lalunya.

“Oppa, aku merindukan eomma dan juga Appa. Saat melihat seorang bocah bersama eomma dan appanya, aku langsung teringat mereka. Aku.merasa sedih saat aku tak dapat
mengingat wajah mereka sama
sekali.”

Kris, mendengar itu, hatinya merasa perih. Ia yang menyebabkan Ryan seperti ini. Bahkan iapun tidak tau
apakah Ryan masih mempunyai
keluarga atau tidak. Ia terlalu mencintai yeoja yang ada
disampingnya itu. Ia tak sanggup
untuk melepaskannya.

Kris mendengar Ryan yang terisak. Ia langsung menoleh kembali kearahnya. Yeoja itu begitu menyedihkan saat ini. Krispun luluh. Ia langsung merengkuh tubuh Ryan kedalam pelukannya.

“Oppa! Hiks..” Ucap Ryan terisak. Ia pun membalas pelukan Kris. Menangis didalam dekapan hangat namja tinggi itu.

“Geumanhae!” Bisik Kris mengelus lembut rambut panjang Ryan. Mengecup puncak kepalanya. Memberikan yeoja itu rasa aman dan nyaman.

Ryan melepaskan pelukannya.
Menatap intens namja yang ada
dihadapannya itu. Kris yang ikut menatapnyapun langsung menghapus air mata Ryan
menggunakan ibu jarinya.

“Oppa!”

“Eum.”

“Kau sudah tidak marah lagi
padaku?”

Kris melepaskan tangannya.
Ya, ia memang kesal karena Ryan pergi tanpa sepengetahuannya. Ia hanya
takut Ryan akan bertemu dengan
orang-orang yang mengenalnya
dimasa lalu dan membuat Ryan
kembali mengingat masa lalunya.

“Oppa!”

“Oppa akan tidur terlebih dahulu!” Ucapnya seraya bangkit dan berjalan menuju ranjang. Ia baringkan tubuhnya diatas ranjang itu. Berusaha menahan ketakutannya yang setiap hari selalu menghantuinya. Ketakutan akan Ryan yang kembali mengingat masa
lalunya.

Ryan hanya terdiam. Ia masih duduk diatas sofa. Ia memandang botol wine yang diminum Kris. Hanya
tersisa setengah botol lagi. Tiba-tiba ingatannya kembali terlintas tentang pertemuannya dengan seorang yeoja berambut ikal sebahu saat di Namsan
Tower.

~Flash Back On~

“Kau yakin tidak mengingat eonnie, Jiyeon-ah?” Tanya yeoja berambut ikal sebahu itu pada Ryan.

Ryan hanya menggelengkan
kepalanya..Ryan terlihat bingung dengan panggilan yang diberikan yeoja itu padanya.
Jiyeon?
Apakah itu nama aslinya?
Ia masih mengingat betul 3 tahun lalu ia dan Kris mengalami
kecelakaan dan hanya Krislah yang ada disampingnya.
Kris mengatakan bahwa ia adalah
Ryan dan kedua orangtuanya sudah meninggal.
Apakah selama ini Kris
membohonginya?

“Eunjung. Itulah nama eonnie.
Apakah kau sudah mengingatnya?” Tanya yeoja berambut ikal sebahu
itu yang ternyata adalah Eunjung.

Ryan lagi-lagi menggelengkan
kepalanya.
Eunjung mulai prustasi. Ia tentu
saja merasa senang dapat bertemu dengan Jiyeon kembali. Tapi apakah benar
itu adalah Jiyeon yang 3 tahun lalu dinyatakan meninggal terbakar bersama rekan Tao didalam mobilnya yang meledak?
Bahkan yeoja yang mirip Jiyeon itu terlihat sama sekali
tidak mengenalnya.

“Joeseonghamnida, eonnie!
Geundae, namaku adalah Ryan
bukanlah Jiyeon!” Jawab Ryan.

“MWO?” Eunjung nampak terkejut mendengarnya.

“Ne. Naneun Ryan imnida.”

“Mana mungkin ada 2 orang yang
sama persis didunia ini!” Batin
Eunjung.

“Geureom, meonjeogalgeyo.
Sillyehamnida!” Ryan bangkit dari kursinya.
Saat ini ia dan juga Eunjung tengah berada di U-Cafe
didekat Namsan Tower. Eunjung
memintanya untuk ikut bersamanya.

“Chankanman! Bisakah kita bertemu lagi?” Tanya Eunjung yang ikut bangkit dari kursinya. Iapun menghampiri Ryan.

“Datanglah ke Nonhyeon-dong. Kalau kau memang benar Jiyeon yang kukenal, tentu kau akan dapat dengan mudah menemukan tempat itu.” Tambah Eunjung seraya
menepuk pundak Ryan dan pergi
meninggalkannya.

~Flash Back Off~

Ryan melangkah mendekat kearah Kris yang tengah berbaring diatas
ranjang hotel. Ia lalu bergerak ikut berbaring disamping
namja itu. Memandang punggung
namja yang tengah membelakanginya saat ini.

“Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku, oppa?” Batin Ryan. Ia pun mulai mendekatkan tubuhnya pada tubuh Kris dan memeluknya.
Kris masih terdiam. Belum
memberikan respon apapun.

“Oppa!” Bisik Ryan.

“Saranghandago!” Tambah Ryan.

Tubuh Kris bergetar mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ryan. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Ryan.

Ryan memberikan senyum manisnya pada namja yang saat ini tepat berada dihadapannya itu.

“Apa kau tidak menyukaiku, Oppa?” Jiyeon berpura-pura kesal karena tak mendapat respon apapun dari Kris atas pernyataan cintanya.

“Ck, apa kau sedang bercanda?”

“Kau bahkan tidak pernah
menyentuhku!” Ucap Ryan
mempoutkan bibirnya.

Kris terlihat gugup. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Berusaha menelan salivanya meski dengan bersusah payah.
Apakah yeoja yang ada
dihadapannya saat ini tengah
menantangnya?

“Apa aku kurang menarik, eoh?” Jiyeon kembali bersuara.

“Ck, apa kau ingin aku
melakukannya?”

“Kufikir beberapa jam lalu kau akan melakukannya padaku!” Tantang Jiyeon membuat Kris nampak tak berkutik.

“Kau yakin tidak akan menyesalinya saat aku melakukan itu padamu?”

Ryan hanya menganggukkan
kepalanya pelan.

Kris tersenyum miring. Ia mulai
mendekatkan wajahnya,
menghilangkan jarak diantara
keduanya. Bibirnya tepat mendarat dibibir mungil Ryan.

Ryan menerima bibir Kris yang mulai menjelajahi area mulutnya. Menggigitnya perlahan dan bermain dengan lidahnya. Kris mulai menaiki tubuh Ryan. Meraba setiap bagian tubuh Ryan secara perlahan. Dan malam itupun mereka melakukannya.

Hubungan yang memang selama 3 tahun coba Kris dan Ryan tahan. Kini malam ini mereka
melakukannya.

Korea, rupanya Korealah tempat
beruntung itu. Tempat dimana keduanya menyalurkan semua perasaan mereka. Perasaan saling mencintai dan tidak ingin kehilangan satu sama lain.

***

@Nonhyeong-dong

Eunjung, ia masih terduduk
dikursinya. Kini dorm ini terlihat begitu sepi. Tidak ada Jiyeon dan Hyomin yang selalu berkelahi, begitu pula dengan Qri yang selalu menjadi penengah diantara keduanya. Kini dorm ini terasa amat
sepi. Tidak ada gelak tawa yang
terdengar lagi. Qri, bahkan setelah kejadian itu, Eunjung tidak dapat menemuinya lagi. Entah bagaimana keadaannya saat ini.

Eunjung kemudian teringat peristiwa yang terjadi 3 tahun lalu.

~Flash Back On~

~DUAKKKKKKK~

Mobil dari salah satu anggota
Eunjung tidak dapat mengendalikan mobilnya dan menabrak tubuh Tao.
Semuanyapun menghentikan mobil mereka termasuk Eunjung. Mereka langsung turun dari dalam mobil dan berlari menghampiri tubuh Tao yang sudah tak bernyawa. Tubuhnya dipenuhi darah akibat
terpental cukup jauh.

“KYA! KENAPA KAU MENABRAKNYA, EOH?” Teriak Eunjung pada rekannya
yang menabrak tubuh Tao.

“M….Mianhae! Namja ini tiba-tiba berdiri ditengah jalan. Tentu saja saya tidak bisa menghindarinya dengan mudah.”

“Aissh…” Eunjung terlihat kesal. Ia memandang kearah lain dan sudah tak melihat mobil yang dikendarai rekan Tao dan juga Jiyeon didalamnya.

“Cepat urus mayatnya! Otopsi
apakah ada benda berbahaya
didalam tubuhnya! Aku khawatir dia menyimpan benda berbahaya.didalam tubuhnya karena ia.menabrakkan sendiri tubuhnya.” Perintah Eunjung.

“Kurasa ia melakukannya untuk
menyelamatkan rekannya.
Membiarkan rekannya itu lolos.”
Pendapat Hoya.

Mendengar itu, Eunjung kembali
teringat akan Jiyeon.

“Aku akan mengejarnya. Kau urus ini semua!” Ucapnya pada Hoya.

“Apa tidak apa-apa seorang diri
melawannya?” Hoya berkomentar.

“Aku akan baik-baik saja. Kau urus semuanya. Mengerti?”

Hoya hanya menganggukkan
kepalanya.

Eunjung kembali menyalakan mesin mobilnya dan mengejar Jiyeon yang mungkin saja sudah cukup jauh.

Tepat ditikungan, ia melihat mobil yang didalamnya ada rekan Tao dan juga Jiyeon terbalik. Ia semakin panik.

“Ige mwoya?”

Ia pun menghentikan mobilnya dan mulai turun dari mobilnya.

~DUARRRR~

“ANDWAEEEEEE!!!” Teriak Eunjung saat melihat mobil itu meledak.

~Flash Back Off~

“Jiyeon, apakah ia selamat? Atau
mungkin si brengsek itu
membawanya pergi sebelum mobil itu meledak?” Monolog Eunjung prustasi.

***

@Pupyong Hotel, Incheon

Ryan membukakan matanya
perlahan. Tubuhnya menempel
dengan tubuh Kris yang saat ini
tanpa mengenakan sehelai kainpun. Tangan Kris tepat melingkar dipinggangnya.
Dengan perlahan iapun melepaskan tangan Kris, berusaha untuk tidak
membuat namja itu terbangun.
Iapun menoleh dan mendapati
namja itu masih terlelap. Ia
tersenyum mendapati wajah damai Kris. Iapun mulai bangkit dan melangkah menuju kamar mandi kemudian langsung menutupnya rapat. Ia
berjalan kearah cermin yang cukup besar yang ada didalamnya. Dilihatnya tubuhnya telah banyak tanda
merah yang ditimbulkan oleh gigitan Kris semalam. Ia memandang wajahnya sendiri dari pantulan cermin.

“Jiyeon? Apakah kau Jiyeon?” Lirihnya.

***

Kris membukakan matanya. Ia
menoleh dan tak menemukan Ryan disampingnya. Ia mulai bangkit dan menyesuaikan penglihatannya. Ia melihat kesekeliling dan matanya tak
menangkap sosok Ryan. Ia mulai
bangkit dari atas ranjang menuju
kamar mandi dan iapun tak dapat menemukan yeoja itu. Ia semakin khawatir. Ia mengambil celana panjangnya dan langsung
mengenakannya begitu pula dengan kemeja merahnya.

“Kau sudah bangun, oppa?” Tanya
Ryan yang baru masuk kedalam
kamar hotel dan melihat Kris yang sudah mengenakan pakaiannya.

“Eoh, kau mau pergi oppa?”

Kris langsung menghampiri Ryan dan mencengkram tangannya.

“BUKANKAH SUDAH KUKATAKAN
UNTUK TIDAK PERGI KEMANAPUN TANPA SEIJINKU, EOH!” Teriak Kris. Namja itu benar-benar sangat marah
saat ini.

“O….Oppa!” Ucap Ryan ketakutan.

Kris langsung melepaskan tangannya dan mengatur amarahnya, iapun membalikkan tubuhnya dan berusaha menormalkan kembali pernafasannya.

“Oppa, mianhae! Aku hanya membeli makanan tadi. Kupikir kau akan sangat lapar setelah bangun nanti!” Ucap Ryan.

Kris langsung meninggalkannya
menuju kamar mandi. Ia
membanting pintu kamar mandi
dengan sangat kasar.

“Oppa!” Lirih Ryan.

Kris langsung mengguyur tubuhnya tanpa melepaskan pakaian yang masih melekat ditubuhnya. Ia butuh menenangkan pikirannya.
Mendinginkan otaknya saat ini.

Sementara itu, Ryan terlihat tengah merapihkan makanan yang ia beli barusan.
Sesekali ia meringis karena
tangannya terasa sakit akibat
cengkraman Kris barusan.
Kris, namja itu terlihat begitu
sensitif semenjak datang ke Korea. Pikirnya.

Tak lama Krispun keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk putih
dipinggangnya. Dada bidangnya
terlihat begitu jelas.

“Oppa, kau sudah selesai?” Tanya
Ryan yang melihat Kris keluar dari dalam kamar mandi.

“Kajja! Kita makan, oppa!” Ajaknyan

Kris pun mendekat. Dilihatnya
makanan sudah tertata dengan
rapih disana. Ia pun langsung
duduk. Ryan menyiapkan makanan untuknya dan mata Kris menangkap lengan Ryan yang membiru. Ia ingat
itu semua adalah karena ulahnya. Ia langsung menarik tangan Ryan dan itu membuat Ryan kembali meringis.

“Anta!” Perintah Kris.

Ryan hanya mengikutinya.
Kris lalu bangkit dan mengambil
handuk kecil yang sudah ia basahi dengan air hangat.
Dengan perlahan ia mengompres tangan Ryan yang membiru. Sesekali Ryan meringis karena itu terasa perih.

Kris dengan perlahan
menghembuskan nafasnya dilengan Ryan.
Ryan tersenyum mendapat perlakuan manis dari Kris.

~CUP~

Kris menghentikan aksinya tatkala Ryan mengecup singkat bibirnya.

“Morning kiss!” Ucap Ryan terkekeh.

“Ck, mau mau menggoda oppa?”

“A….Anio.” Jawab Ryan gugup.

Kris hanya tersenyum melihat
tingkah Ryan yang lucu.

“Mianhae!” Ucap Kris penuh penyesalan atas tindakannya.

“Mwo?”

“Untuk kemarin dan juga hari ini.” Tambah Kris.

“Oppa?”

“Eum?”

“Apa aku boleh bertanya sesuatu?”

Dengan ragu Kris menganggukkan kepalanya.

“Apa yang sebenarnya membuatmu takut, oppa? Kulihat kau begitu sangat ketakutan sejak kita kembali
ke Korea.”

“Aku….. Aku takut kau akan
meninggalkanku. Aku takut kau akan mengingat masalalumu dan
membenciku.” Jawab Kris dalam hatinya.

“Oppa!”

Kris tersenyum. Ia mengacak lembut puncak kepala Ryan.

“Kajja! Kita makan!” Ucapnya dan tak menjawab pertanyaan Ryan.

Ryan hanya berdecak kesal.
Perasaannya makin bertambah yakin bahwa Kris telah menyembunyikan sesuatu darinya.
Tapi, apa itu? Batin Ryan beradu.

“Kita akan pulang ke Kanada besok!” Kris membuka suaranya.

“Mwo?”

“Wae?”

“Kenapa cepat sekali, oppa?” Protes Jiyeon.

Kris langsung memberikan death
glarenya pada Ryan dan itu mampu membuat Ryan terdiam.

***

Haripun mulai berganti malam.
Kris dan Ryan, seharian ini mereka berdua tak keluar dari dalam hotel sama sekali.
Keduanya sibuk mengepack barang.

Saat ini keduanya tengah terbaring diatas ranjang.
Ryan menoleh dan mendapati Kris yang sudah terlelap.

“Oppa, aku merasa ada sesuatu yang membuatku harus tinggal disini! Seperti ada sesuatu yang dapat membuatku kembali mengingat masa laluku. Mianhae, oppa! Tapi aku
ingin menemukan itu. Aku sangat ingin menemukan kembali ingatanku.” Batin Ryan.

Dengan perlahan iapun bangkit dari atas ranjang. Ia memandang lekat wajah Kris.

“Saranghae!” Lirihnya yang kemudian mengambil mantel dan pergi meninggalkan Kris yang masih terlelap didalan kamar hotel.

***

@Nonhyeong-Dong

“Jiyeon! Benarkah aku ini Jiyeon?” Ucap Ryan saat tiba didepan sebuah rumah.

” Seperti apa Jiyeon itu? Bagaimana kaki ini bisa dengan mudah menuntunku sampai ketempat ini?” Batinnya.

Ryan langsung mengetuk pintu itu dan tak lama keluarlah sosok
Eunjung.

“Jiyeon-ah!” Eunjung langsung
berhambur memeluk Ryan.

“Sudah kuduga pasti kau Jiyeon yang kukenal. Masuklah!” Ajaknya.

***

@Pupyang Hotel

Kris mengerjapkan matanya.
Ia menoleh dan kembali tak
mendapati Ryan disampingnya. Ia mulai panik dan langsung bangkit menuju kamar mandi. Ia melihat tak ada sosok Ryan disana. Ia kembali melihat sekeliling dan tetap saja
matanya tak menangkap sosok Ryan. Ia langsung mengambil mantel dan keluar dari dalam kamar hotel dengan tergesa.
Ia bertanya pada recepcionis
begitupun pada satpam disana,
namun tak ada seorang pun yang
melihat Ryan. Pikirannya mulai
kacau.
Apa mungkin Ryan sudah
mengingat kembali masa lalunya? Batinnya.

***

@Nonhyeong-Dong

Eunjung menyediakan Buldak untuk Ryan.
Saat ini keduanya tengah berada
diruang makan dorm T-ara.

“Bagaimana tidurmu semalam?” Tanya Eunjung perhatian.

“Aku merasa sangat merindukan
tempat ini, eonnie!” Jawab Ryan jujur.

“Makanlah! Buldak ini adalah
makanan kesukaanmu!” Eunjung memberitahukan.

Ryanpun langsung memakannya
dengan sangat lahap.
Eunjung tersenyum senang
melihatnya.

“Ryan? Sejak kapan kau memakai
nama itu? Dan kau tinggal dimana dan bersama siapa kau selama ini, Jiyeon-ah?” Tanya Eunjung nampak tak sabaran.

Ryan menghentikan aksi makannya.

“3 tahun lalu.” Jawab Ryan.

Eunjung lalu menceritakan semua kejadian tentang 3 tahun lalu. Tentang Hyomin, Qri dan juga Jiyeon.

Mata Ryan memanas mendengar
semua itu. Meski ia belum mengingat itu semua, namun perasaannya tentang Kris
benar adanya. Kris menyembunyikan tentang jatidirinya yang sebenarnya.

Ryan ingat betul pertama kali ia
membukakan mata setelah
kecelakaan itu, hanyalah ada sosok Kris disana.
Batinnya berkecambuk memikirkan apakah Kris itu adalah orang jahat karena selama 3 tahun ia tinggal bersamanya, Kris tidak pernah
sedikitpun menyakitinya.

“Jiyeon-ah! Kau adalah Park Jiyeon. Dan namja yang bersamamu, dia adalah orang jahat. Teman dari orang yang telah membunuh Hyomin.” Eunjung berusaha meyakinkan Ryan tentang fakta itu.

Ryan masih mematung. Mencoba
mencerna baik-baik semua ucapan Eunjung.

Huang Zi Tao, jadi namja yang
dianggap Kris saudaranya itu adalah orang yang telah membunuh Hyomin.
Namja yang selama 3 tahun selalu ia kunjungi makamnya?
Ternyata itu adalah makam
pembunuh?

Eunjung langsung mengambil foto-foto kebersamaannya saat menjadi Jiyeon.
Menceritakan tentang bagaimana ia yang yatim piatu tinggal dipanti asuhan bersama Hyomin. Bergabung dengan organisasi pemerintahan
Korea bernama NIS. Tentang semua masa lalunya. Ia menceritakan semua masalalu Jiyeon.

Ryan, kepalanya terasa sakit.
Perlahan-lahan ingatan itu kembali terlintas. Ingatan dimana ia pertama kali bertemu Kris hingga pertemuan
terakhirnya dengan Kris dan Tao.

“Gwaenchana?” Tanya Eunjung
panik.

~BRUKKK~

Ryan pingsan.
Eunjung langsung berhambur
menghampirinya.

“Jiyeon-ah!”

***

Sementara itu, Kris masih berusaha mencari Ryan. Ia mengendarai mobil sport merah yang baru saja ia beli dengan begitu tergesa.
Ia menyusuri semua jalanan yang ada di Incheon.
Matanya tampak menangkap sosok Wu Xiumin sang appa memasuki sebuah restoran Jepang.

“Papa di Korea? Sedang apa dia
disini?” Ucap Kris menghentikan
mobil sport nya.

“Sebaiknya aku minta bantuannya untuk mencari Ryan!” Krispun langsung keluar dari dalam mobil sportnya itu.

Dilihatnya sang appa mamasuki
ruangan yang hanya tertutup
selembar bilik khas Jepang.

“Sepertinya papa sedang sibuk. Aku harus menunggunya!” Ucap Kris kemudian masuk kedalan ruangan yang tepat berada  disamping ruangan appanya.

Seorang pelayan masuk dan
memberikan menu pada Kris dan Kris pun mulai memesannya.

Entah ini suatu kebetulan atau apa, tapi Kris dapat dengan jelas
mendengar percakapan sang appa dan juga rekannya.

Sang pelayanpun pergi meninggalkan Kris untuk
mengambilkan pesanannya.

Kris pikir appanya hanya akan
membicarakan tentang transaksi
penjualan senjata Anti-Tank pada
rekannya itu, karena setelah Kris
pergi 3 tahun lalu, ialah yang
menggantikan Kris melakukan
transaksi ilegal itu ke sejumlah
negara.

Mata Kris melebar saat mendengar sang appa mengucapkan nama Jiyeon.

“Jiyeon, gadis itu bersama dengan putraku saat ini! Aku ingin kalian menghabisinya! Dia hanya penghalang rencanaku saja untuk menguasai Wu Fan.”

Tangan Kris mengepal mendengar sang appa mengatakan itu menggunakan bahasa Korea.
Ternyata selama ini ia bisa berbicara menggunakan bahasa Korea. Batin Kris.

“Bukankah 7 tahun lalu mereka
sudah terpisah?” Tanya salah
seorang rekan Xiumin.

“Molla. Kupikir mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi selama 3 tahun ini Wu Fan tinggal bersamanya di Kanada.”

Kris, ingatannya kembali pada tragedi 7 tahun lalu ketika ia dan adik tirinya terpisah karena kebakaran rumah mereka.
Jiyeon?
Apakah Jiyeon itu adalah adik tirinya yang menghilang dalam kebakaran itu?
Park Jiyeon?
Mungkinkah Ryan yang ternyata
Jiyeon itu adalah putri dari Park
Chanyeol, appa tirinya?

“Harusnya 7 tahun lalu kau
membiarkan kami menghabisinya juga! Sama seperti appanya dan eomma Wu Fan.”

Kris, emosinya memuncak.
Jadi, kebakaran itu adalah ulah sang appa?

“Aku tidak tega melihat anak kecil itu mati. Dia masih terlalu muda untuk mati. Appanyalah yang bersalah karena berani menikahi mantan istriku itu.
Dan mantan istriku yang bodoh itu, ia harus merasakan semuanya. Memisahkanku dengan Wu Fan. Wu Fan adalah calon penerus Wu Family.
Hanya dialah yang pantas
menggantikanku kelak.”

~BRAKKK~

Bilik itu didobrak dan tampaklah
sosok Kris di sana.
Wajahnya memerah menahan
amarah. Tangannya mengepal seiring dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Sedangkan sang appa dan rekannya, mereka
terlihat begitu terkejut melihat Kris berada di sana bersama mereka.
Apa Kris mendengar semua yang mereka ucapkan?

” Wu Fan?” Ucap Xiumin melebarkan matanya.

“Papa, neo!” Kris tersenyum miring. Wajahnya benar-benar mengerikan saat ini. Ia seperti hendak memakan appanya hidup-hidup.

***

Apakah yg akan terjadi dengan Kris setelah mengetahui kebenaran ini?
Bagaimana pula dengan Ryan yang kembali mengingat bahwa dirinya adalah Jiyeon?
Apakah mereka berdua akan
bersatu?
Nantikan next partnya!
Coment jusaeyo! 😀

FF Kris Jiyeon (KrisYeon couple) part 3

image

               Attention
                        (part 3)

Author :
Erni Eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Wu Yi Fan aka Kris (EXO)

Other Cast :
Xiumin (EXO)
Ham Eunjung (T-ara)

Songficts :
B.A.P Save Me

Genre :
Action, Romance, Friendship, Family, Sad

Length :
Chaptered

A / N :
Part 3 hadir. Pernah author post di tanggal 16 April 2014 silam.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

Terlihat seorang yeoja berambut
panjang pirang menggunakan dres berwarna putih selutut tengah berdiri didepan halaman rumahnya.

Yeoja itu terlihat tengah
memejamkan kedua matanya seraya menarik kedua sudut bibirnya yang membentuk sebuah senyuman.

Tangannya dengan bebas ia
rentangkan. Yeoja itu terlihat begitu menikmati udara pagi itu.

Dua buah tangan tiba-tiba saja melingkar tepat dipinggang sang yeoja dari belakang dan membuat ia membukakan matanya. Ia menoleh kearah orang yang tengah membenamkan wajahnya dibahu
sang yeoja.

“Oppa!” Ucapnya memberikan senyum termanisnya.

Namja itupun mendongakkan
wajahnya, memandang lekat wajah yeoja yang selama 3 tahun hidup bersamanya itu.

“Kenapa tidak membangunkan oppa, eoh?”

Yeoja itu hanya tersenyum. Ia
langsung berbalik dan membalas
memandang wajah sang namja.

“Nae paegopaya!”

“Mwo? Ck, kau mulai mengalihkan pembicaraan lagi Ryan-ssi.”

Yeoja itu hanya terkekeh melihat
sang namja yang terlihat begitu
kesal karenanya. Sang yeoja yang diketahui bernama
Ryan itu langsung memeluk sang
namja.

~HUG~

“Mianhae, Kris-ssi! Kau boleh
memberikan hukuman padaku!” Ucap Ryan manja.

Kris, namja yang ternyata adalah Kris itu langsung memberikan senyum nakalnya pada yeoja bernama Ryan.
Kris melepaskan pelukan di tubuh Ryan. Menatap lekat wajah yeoja yang ada
dihadapannya itu.

“Kau siap menerima hukumanmu, Ryan-ssi!”

Ryan langsung menganggukkan
kepalanya.

~CUP~

Kris melumat lembut bibir mungil Ryan. Menarik pelan tengkuknya sehingga mempermudah ia melakukan aksinya.

Ryan, ia hanya memejamkan
matanya menikmati setiap sentuhan yang diberikan Kris padanya. Ryan terlihat terengah ketika Kris melepaskan bibirnya. Jemari Kris langsung menyentuh bibir Ryan yang basah karena ulahnya.

“Morning kiss!” Ucap Kris sembari tersenyum nakal.

Ryan hanya tersenyum manis
menanggapinya.

“Oppa!”

“Eum?”

“Kapan kita kembali ke Korea?”

~DEG~

Dengan seketika wajah Kris berubah pucat saat Ryan menanyakan hal itu padanya.

~FLAS BACK ON~

Kris, ia melebarkan matanya tatkala melihat dari spion mobil tubuh Tao yang terpental. Matanya memanas.
Saat tikungan ia tidak melihat ada sebuah truk pengangkut sayuran yang melintas dan tabrakanpun terjadi.
Mobilnya terpental dan berbalik
berkali-kali.

Kris, saat mobil terbalik ia masih
dalam keadaan setengah sadar.
Ia melihat Jiyeon. Darah segar
begitu terlihat dari kepalanya. Yeoja itu nampaknya pingsan.
Kris mencium bau kabel mobil yang terbakar akibat tabrakan tersebut.
Sepertinya mobil itu akan meledak. Pikirnya.

Dengan bersusah payah ia mencoba keluar dari dalam mobil.
Dalam kondisi mobil yang terbalik tentu tidaklah mudah untuk ia bisa keluar. Ia
berhasil memecahkan kaca mobil menggunakan tangannya. Saat ia hendak keluar, ia kembali menoleh kearah Jiyeon yang sepertinya terluka lebih parah darinya. Bau mobil
semakin menyengat.
Tanpa pikir panjang ia langsung
menarik Jiyeon dan berusaha
mengeluarkannya.

“KYA! GWAENCHANA?” Teriak seorang Ahjussi pengemudi truk besar pengangkut sayuran itu.

“Ahjussi, jebal bantulah kami!” Ucap Kris meminta pertolongan sang ahjussi.

Dengan bersusah payah sang Ahjussi menarik tubuh Kris beserta Jiyeon.
Setelah berhasil mengeluarkan
keduanya, sang Ahjussi yang mobil dan dirinya baik-baik saja pasca tabrakan itu terlihat begitu panik saat melihat keadaan Jiyeon yang terus
mengeluarkan banyak darah dari
kepalanya.

“Palli! Kita harus segera kerumah
sakit!”

Kris mengangguk.

Sang Ahjussi langsung memapah tubuh Jiyeon dan membawanya masuk kedalam truk besarnya. Kris, kaki dan tangannya nampak terlihat terluka. Iapun ikut
masuk dan sang Ahjussi langsung
melajukan truk besarnya. Dan,

~DUARRRRRRRR~

Kris langsung menoleh tatkala
mendengar sebuah ledakan.
Benar saja, dilihatnya mobil itu
sudah terbakar.

“Untung saja kalian berdua sudah
keluar!” Ucap sang Ahjussi bersyukur.

***

@Cha General Hospital

Saat ini Kris tengah terbaring didalam ruang rawat rumah sakit didaerah Gangnam-gu, seoul.

“Bagaimana keadaan yeoja itu?”
Tanyanya pada sang dokter yang
baru selesai memakaikan perban
ditangannya.

“Dia masih belum sadar!”

“Apa aku boleh menemuinya?”

“Tentu saja.”

Saat ini Kris tengah memasuki
ruangan dimana Jiyeon dirawat.
Ahjussi yang membawanya kerumah sakit langsung membantunya berjalan
mendekati ranjang dimana tubuh Jiyeon berada.

“Ahjussi masih disini?”

“Tentu saja. Aku yang bersalah
karena mengendarai mobil dalam keadaan mengantuk.”

Kris langsung duduk dikursi samping ranjang Jiyeon. Ia tidak menanggapi ucapan sang Ahjussi karena sesungguhnya iapun juga bersalah akan kecelakaan itu. Ia memandang lekat wajah Jiyeon yang masih terpejam.

“Aku sangat bersyukur karena kalian berdua selamat.” Tambah sang Ahjussi.

Kris, ia masih setia memandang lekat wajah Jiyeon.
Kris melebarkan matanya saat Jiyeon menggerakkan tangannya dan berusaha membuka kedua matanya.

“Aigoo aigoo aigoo , yeojachingumu sudah siuman!” Ucap sang Ahjussi.

Jiyeon, saat ia membukakan mata, yang pertama kali dilihatnya adalah sosok Kris yang tengah berdiri disampingnya.

“Gwaenchana?” Tanya Kris terlihat begitu khawatir.

“Nugu?” Tanya Jiyeon lemas.

“Kya! Dia ini namjachingumu. Apa kau tidak mengingatnya?” Tanya sang Ahjussi.

“Namjachingu?” Tanya Jiyeon kembali.

“Ne.” Sang ahjussi membenarkan padahal ia tidak mengetahui hal itu. Ia hanya berpikir sesuai dengan apa yang dilihatnya. Apalagi namanya kalau bukan sepasang kekasih ketika dua anak muda berlawanan jenis berada di dalam mobil yang sama dan itu HANYA mereka berdua. Setidaknya itulah yang ada di otak sang ahjussi. Karena mustahil jika mereka sepasang suami istri karena mereka tentu terlihat sangat muda.

Jiyeon memandang lekat wajah Kris yang terlihat tanpa ekspresi itu.

“Oppa?”

“Huwaaaaaa…. Apa jangan-jangan
yeojamu ini kehilangan ingatannya karena kecelakaan itu?” Tanya sang Ahjussi panik.

Kris melebarkan matanya tatkala
mendengar penuturan sang Ahjussi.

***

@Doctor Room

“Menurut hasil pemeriksaan,yeojamu itu mengalami kehilangan ingatan. Kami tidak dapat memprediksikan kapan ingatannya itu akan kembali. Kami sarankan agar anda bisa membantunya untuk mengembalikan ingatannya yang
sudah hilang!” Ucap sang dokter memberitahukan.
Kris hanya terdiam mendengar
penuturan sang dokter.

***

Saat ini Kris tengah berada disebuah kedai makanan yang tak jauh dari Cha General Hospital.

“Mashitta!” Ucap sang Ahjussi yang kini tengah menyantap makanannya.

“Eoh anak muda, bagaimana dengan keadaan yeojachingumu itu? Apa yang dikatakan dokter tentangnya?” Tanyanya nampak terlihat penasaran dengan keadaan Jiyeon.

“Ahjussi, apa kau bisa
membantuku?” Itu jawaban yang keluar dari mulut seorang Kris.

“Ne?” Sang ahjussi nampak terlihat tak mengerti.

“Bisakah kau merahasiakan pada
semua orang tentang kecelakaan itu, terutama tentang pertemuanmu dengan kami!”

“Wae?”

“Sebagai gantinya, aku akan
melupakan bahwa kaulah penyebab dari kecelakaan ini!”

Sang Ahjussi langsung berhenti
memakan makanannya.
Apakah saat ini ia sedang diancam?
Sang Ahjussi kemudian menelan
salivanya perlahan.

“Geurae. Aku akan melupakan semua kejadian ini! Geundae, kenapa kau ingin aku merahasiakannya?”

Kris terdiam. Ia tak menjawab
pertanyaan yang dilontarkan sang Ahjussi padanya.

“Kya! Apa kalian ini pasangan yang kabur dari rumah karena tidak direstui kedua orang tua kalian, eoh?” Tebaknya menyelidik.

Kris lagi-lagi tak menjawabnya.

“Baiklah-baiklah! Aku akan menutup rapat mulutku ini!” Ucap sang Ahjjussi.

“Aku…..Aku akan menciptakan
kenangan baru untukmu, Jiyeon.
Masa lalu kita?
Aku yang akan menghapusnya!
Aku, akan menciptakan sebuah
ingatan yang hanya ada Kau dan Aku saja.
Ryan, Mulai saat ini kau adalah
Ryan.
Jiyeon?
Jiyeon sudah meninggal
begitu pula dengan Wu Fan.
Hanya akan ada Kris dan Ryan!”
Batin Kris.

***

Dan sejak saat itulah Kris membawa Jiyeon ke Toronto, Kanada, dan menetap disana.

Ryan, kini Jiyeon berganti menjadi sosok Ryan. Sosok yeoja yang begitu mencintai namjanya yang tak lain adalah sosok Kris.

~Flashback Off~

“OPPA!” Teriak Ryan yang langsung membuat Kris kembali keingatannya yang sekarang.

“Waegeurae?” Tanya Ryan.

Kris langsung merangkul Ryan.

“KYA!”

“Nae paegopaya!” Bisik Kris tepat
ditelinga Ryan.

“Aish, kau menyebalkan oppa!”

Kris, namja itu begitu takut
kehilangan Ryan. Kris takut ingatan Ryan dengan tiba-tiba kembali dan ia akan membecinya. Kris amat
mencintai Ryan. Meski memang ia sudah jatuh hati padanya saat
pertama kali bertemu, namun Kris tidak sanggup bila pada akhirnya ia dan Ryan harus berpisah.

Ryan, selama 3 tahun ini ia menetap di Toronto, Kanada,  bersama Kris. Tak ada satu halpun yang membuatnya
sedih. Kris, namja itu selalu bisa
menghiburnya. Membuatnya tertawa dan memberikan begitu banyak kejutan untuknya.
Walau memang hati kecilnya selalu merindukan Korea.
Meski ia tidak mempunyai satu
keluargapun disana karena Kris
mengatakan bahwa kedua orangtua Ryan sudah meninggal dunia, tapi Ryan begitu ingin kembali ke Korea.
Berbicara menggunakan bahasa Korea dengan orang-orang yang ada disana.

Selama ini ia tinggal di Kanada, ia hanya dapat berinteraksi dengan Kris.
Baik teman Kris maupun para
pelayan yang ada disana, semuanya menggunakan bahasa Inggris dan Ryan tidak mengerti itu.
Mungkin itulah salah satu sebab
kenapa ia ingin kembali ke Korea
meski hanya beberapa hari saja.

“Oppa?” Tanya Ryan yang saat ini
tengah makan bersama Kris.

“Eum?”

“Kau melupakan sesuatu!”

“Mwo?”

“China!”

“Eung, ne. Aissh, hampir saja oppa melupakannya!”

“Kapan kita akan pergi kesana?” Tanya Jiyeon nampak berantusias.

“Lusa. Kita akan berangkat lusa.” Jawab Kris mantap.

***

@Qingdao, Shanon, China

Saat ini Kris dan Ryan tengah
berada dihadapan makam Tao dan eomma Tao.

Tao, setelah dinyatakan meninggal dunia oleh pemerintah Korea, jasadnya
dikembalikan ke negara asalnya
yakni China.
Sedangkan eommanya yang memang sudah sakit-sakitan meninggal pula setelah 3 bulan Tao dimakamkan.
Keduanya dimakamkan ditempat
yang sama dan bersebelahan.

“Apa kau merindukannya, Oppa?” Tanya Ryan.

“Eum!”

Ryan dan Kris, setiap tahun mereka berdua selalu datang ke China untuk mengunjungi makam Tao dan eomma Tao.
Kris menceritakan bahwa Tao dan eomma Tao sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.
Tanpa Ryan ketahui bahwa makam yang ada dihadapannya itu adalah makam orang yang telah membunuh Hyomin, seseorang yang sangat ia
sayangi dan sudah ia anggap seperti eonnienya sendiri.

“Oppa!”

“Eum?”

“Aku juga ingin berkunjung ke
makan eomma dan appa!” Ucap
Ryan tertunduk.

Kris langsung menoleh kearahnya, melihat yeoja itu yang begitu terlihat amat sedih.

“Kajja!”

“Eum?”

“Oppa akan mempertemukanmu
dengan appa!”

“Cincha?”

Kris tersenyum manis dan langsung menggenggam tangan Ryan dan mengajaknya pergi dari pemakaman Tao dan eomma Tao.

Kris, ia menceritakan bahwa ia hanya memiliki seorang appa.
Sang eomma meninggal dunia saat usianya 14 tahun karena kebakaran.
Sang eomma yang bercerai dengan appanya menikah lagi dengan seorang pengacara asal Korea dan selama 3 tahun ia tinggal di Korea. Itulah sebabnya mengapa Kris begitu fasih
berbahasa Korea.
Namun selama 3 tahun tinggal
dikorea, terjadilah kebakaran
dirumah yang mereka huni yang
didalamnya tengah berada sosok sang eomma dan juga appa tirinya. Ia yang berusaha
menyelamatkan sang eomma dan appa tirinya kehilangan
yeojadongsaengnya.
Meskipun yeoja kecil itu hanya adik tirinya, namun ia sangat dekat dengannya dan begitu
menyayanginya begitu pula dengan appa tirinya. Keluarga mereka terpisah karena kebakaran itu dan sejak saat itulah ia kembali ke China
dan tinggal bersama sang appa.

Kris, sejak ia pindah ke Kanada
bersama Ryan, ia sudah tidak
berurusan lagi dengan jaringan
ilegal yang dipimpin appanya itu.
Ia fasih berbahasa inggris karena
dulu ia pernah bersekolah di Kanada selama 4 tahun. Dan sejak lulus ia langsung ikut bergabung dengan jaringan
yang dipimpin sang appa.

***

@Huamu Road, Shanghai, China

Kris dan Ryan disambut hangat oleh para pelayan yang ada didalam rumah mewah dan
besar milik appanya itu.

“Xiansheng!” (Tuan!) Ucap sang
Ahjussi berjas rapih. Ia langsung
menunduk memberikan hormat pada sang anak majikan yang selama 3 tahun itu tidak pernah kembali.

“Shenme papa bu hui jia?” (Apa
ayah belum pulang?) Tanya Kris.

“Ran er, xiansheng!” (Belum, tuan.)

Kris langsung melangkah masuk dan berjalan menuju kamarnya masih dengan tangannya yang
menggenggam tangan Ryan.

“Ini kamarmu, oppa?” Tanya Ryan saat mereka tiba diruangan yang cukup luas.
Didalamnya terdapat sebuah TV layar lebar, lemari besar, dan juga lantai yang terbuat dari batu kapur, serta terdapat juga sebuah grand piano dan juga
lampu yang terbuat dari emas 24
karat. Ini membuat siapapun yang melihatnya akan begitu terpesona.

Kris langsung menutup pintu kamar. Ia langsung berjalan ke arah Ryan yang kini tepat berada
dihadapannya itu. Ia langsung
memeluknya dari belakang.

“Eum. Wae?” Bisiknya.

“Ternyata kau namja yang sangat
kaya raya, Oppa!” Ucap Ryan yang terlihat kesal karena Kris selama ini tidak pernah menceritakannya.

“Apa kau semakin menyukaiku?” Goda Kris.

“Ck, ne. Aku akan menghabiskan
semua hartamu ini, Oppa!”

Kris tertawa mendengarnya.

“Wae?” Tanya Ryan masih kesal.

“Kalau begitu lakukanlah!” Jawab
Kris dan langsung menarik tubuh
Ryan hingga terjatuh diatas ranjang super size nya.

“KYA!”

***

Saat ini Kris tengah berada diruang makan super megah didalam rumah appanya ditemani dengan Ryan.

“Eoteo?” Tanya Kris saat Ryan
memakan Fu Yong Hai, makanan khas China yang terbuat dari telur dadar dengan campuran sayur dan daging.

“Mashitta!” Jawab Ryan dengan
riangnya.

Kris terkekeh melihatnya.

“Oppa!”

“Eum?”

“Kapan appamu pulang?”

“Sebentar lagi! Rupanya kau sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon mertuamu, eoh!” Kris kembali menggodanya.

Seketika pipi Ryan memanas
membuat pipinya itu menjadi
merah.

“KYA!”

“Wae?”

Ryan tak menjawab. Ia malah
terlihat mempoutkan bibirnya lucu dan berhasil membuat Kris kembali dibuat tertawa olehnya.

“Wu Fan?” Terdengar suara berat
memanggil namanya. Krispun
langsung menoleh.

“Papa!” (Ayah!)
Ia langsung bangkit dan memeluk appanya itu.

Ryan terlihat heran tatkala melihat namja paruh baya bertubuh agak gemuk memanggil Kris dengan
panggilan Wu Fan.

“Zenme yang jia?” (Bagaimana
Kanada?)

Kris terlihat terkekeh saat sang appa yang malah menanyakan Kanada bukan menanyakan putranya yang selama 3 tahun tidak pulang itu.

“Nali de nuhai yu ni zai zhe duan
shijian?” (Dimana gadis yang
bersamamu selama ini?)

Kris langsung bergeser dan
menampakkan sosok Ryan yang terlihat.
Ryan yang sudah berdiri langsung
tersenyum manis dan menunduk
memberikan hormat pada appa Kris.

“Annyeonghasaeyo!”

Mata sang appa langsung melebar tatkala melihat Ryan.

“Shi shenme ne, papa?” (Ada apa, ayah?) Tanya Kris yang melihat perubahan diwajah sang appa saat melihat Ryan.

“Buyaojin. Baba zou jin fangjian
wanfan hou!” (Tidak apa-apa.
Datanglah kekamar ayah setelah
selesai makan!) Perintahnya. Ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan Kris dan juga Ryan.

“Ada apa dengannya?” Batin Kris.

“Oppa!” Ucap Ryan membangunkan lamunan Kris.

“Ne?”

“Apa appamu tidak menyukaiku?” Tanya Ryan menggembungkan pipinya.

Kris langsung melangkah
mendekatinya dan merangkul
pundaknya.

“Anio. Appa hanya terlihat sangat
lelah.” Jawabnya menenangkan
Ryan.

“Tapi ia terlihat tidak begitu
menyukaiku, oppa!” Ucap Ryan
sedih.

Kris langsung memeluk Ryan.

“Apa karena appa tidak menjawab salammu, eoh?”

Ryan hanya mempoutkan bibirnya.

“Appa tidak mengerti bahasa Korea. Jadi ia tidak tau bahwa tadi itu adalah sebuah ucapan salam. Jangan khawatir!”

Ryan langsung melepaskan pelukan Kris.

“Wu Fan? Nugu yo?” Tanyanya nampak penasaran.

“Itu nama China, oppa. Wu Yi Fan.”

Ryan menganggukan kepalanya berkali-kali dan membuat
Kris terkekeh karena ulah Ryan yang menurutnya sangat lucu itu.
Kebiasaan Ryan yang mampu
membuatnya merasa terhibur.

***

@Wu Xiumin Room

Appa Kris yang diketahui bernama Wu Xiumin itu terlihat begitu panik.

Ryan, wajahnya benar-benar sangat mirip dengan anak itu.

~Flash Back On~

“Park Chanyeol?”

“Shi de, Xiansheng. Ta laizi hanguo. Zhe zhang zhao pian de ta yu ta de nu er jiao Park Jiyeon.” (Iya, tuan. Dia berasal dari Korea. Ini fotonya bersama dengan anak perempuannya
bernama Park Jiyeon.) Ucap seorang namja tinggi bertuxedo hitam seraya menyerahkan selembar foto Park Chanyeol dan putrinya yang bernama Park Jiyeon yang masih berusia 9 tahun.

“Shale tamen! Bing ba wo Wu
Fan!” (Habisi mereka semua. Dan
bawa Wu Fan padaku!)

“Haole, xiansheng!” (Baik, tuan!)
Jawab sang namja tinggi dan
langsung menunduk memberi
hormat pada atasannya itu.

Rainie Yang, yeoja yang terlahir dari keluarga sederhana telah jatuh cinta pada putra pengusaha kaya dari keluarga
Wu bernama Wu Xiumin. Ia dan
Xiumin menjalin hubungan tanpa
sepengetahuan Wu Family.
Hingga pada akhirnya Rainie Yang
mengandung Kris. Xiumin
menikahinya disaat usia
kandungannya menginjak 5 bulan. Namun hubungan mereka tidaklah berjalan mulus. Wu Family dengan berbagai cara mencoba untuk memisahkan
keduanya. Hingga saat Rainie Yang hendak melahirkan, ia diusir dari rumah besar itu oleh Wu Family tanpa sepengetahuan Xiumin. Dengan bersusah payah tanpa sang suami disampingnya, ia melahirkan Kris.

Saat Kris berusia 3 tahun, Xiumin
menemui Rainie Yang. Memintanya untuk kembali ke rumah besarnya. Namun ia menolaknya. Tentu saja ia
menolaknya karena selama 3 tahun itu Xiumin tidak pernah
menemuinya bahkan Xiumin menikah kembali dengan pilihan kedua orangtuanya.

Xiumin, sebenarnya dipernikahannya yang kedua ia memiliki seorang putra, namun putranya itu memiliki kelainan yakni lemah jantung. Saat mengetahui bahwa anak yang
dilahirkan Rainie Yang terlahir
dengan normal, ia meminta Rainie Yang untuk kembali kerumahnya.

Rainie Yang, ia mengajukan surat
perceraian ke pengadilan. Karena memang Wu Family menginginkan anak yang
Rainie Yang lahirkan, mereka
berusaha mendapatkan hak asuh
atas Kris. Namun dengan bantuan seorang pengacara muda asal Korea bernama Park Chanyeol, Rainie Yang
berhasil mendapatkan hak asuh atas Kris.

Sejak saat itu Rainie Yang dan Park Chanyeol berteman baik. Chanyeol yang memang tengah ditugaskan di China, menceritakan semua tentang keluarga kecilnya. Tentang anaenya yang bernama Choi Sulli dan putri kecilnya yang baru berusia 1 tahun bernama Park Jiyeon.
Meski Chanyeol kembali ke Korea, ia tetap berkomunikasi baik dengan Rainie Yang.

Kris, meski kedua orangtuanya
bercerai, ia tetap bisa bertemu
dengan sang appa serta Wu Family. Meski beberapa kali sang appa memintanya untuk tinggal, namun ia menolaknya dan lebih memilih tetap
tinggal bersama sang eomma.

6 tahun kemudian, Chanyeol
memberitahukan bahwa sang anae yakni Choi Sulli meninggal dunia karena penyakit kanker yang ia miliki. Dan 2 tahun kemudian saat Kris tepat berusia 11 tahun dan Jiyeon berusia 9 tahun, ia meminta Rainie Yang untuk menjadi anaenya. Menjadi eomma bagi Jiyeon kecilnya.

3 tahun setelah Rainie Yang pindah ke Korea bersama Kris, Xiumin yang memang diminta Wu Family untuk segera mengambil alih hak asuh atas
Kris langsung merencanakan semua peristiwa itu, tentang kebakaran yang membuat eomma Kris dan appa Jiyeon terpanggang didalam rumah
mereka.

~Flash Back Off~

“Papa!” Ucap Kris saat memasuki kamar sang appa.

“Nage nuhai! Ta shi shui?” (Gadis
itu! Siapa dia?) Tanya Xiumin pada Kris.

“Ta shi shui shitu rang wo 3 nian de nuhai. Ta shi zhengfu zuzhi de
chengyuan Hanguo NIS.” (Dia gadis yang berusaha menangkapku 3 tahun lalu. Dia adalah salah satu anggota dari organisasi pemerintahan Korea NIS.) Jawab Kris.

“Ta zenme neng xianchu de
diren?” (Bagaimana dia bisa bersama dengan musuhnya?)

“Ta shiqule jiyi. Yin wei chehuo, tu mashang chai ta lai he wo yiqi dao Jianada.” (Dia kehilangan
ingatannya. Karena kecelakaan mobil itu ia mengalami amnesia, dan aku langsung membawanya ikut bersamaku ke Kanada.)

“Ta jiao shenme mingzi?” (Siapa
namanya?)

“Jiyeon! Dan wo gai chengle
Ryan.” (Jiyeon! Tapi aku merubahnya menjadi Ryan.) Jawab Kris.

Tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulut Xiumin. Ia langsung meminta Kris untuk meninggalkan ruangannya dengan alasan ia ingin
beristirahat. Dengan perasaan
bingung dan penasaran, Kris hanya mengikuti perintah appanya itu.

Xiumun langsung menghubungi
asistennya yang 7 tahun lalu
membantunya untuk menghilangkan nyawa Rainie Yang dan juga Park Chanyeol. Dan benar saja, sang
asisten mengatakan bahwa putri
Park Chanyeol yang selamat itu saat ini menjadi seorang anggota
organisasi pemerintahan Korea
bernama NIS.
Xiumin langsung memutuskan
sambungan teleponnya.

“Zenyang de mingyun dai gei tamen huilai?” (Bagaimana bisa takdir mempertemukan mereka kembali?)

***

Kris dan Ryan hanya 2 hari tinggal di Shanghai, China.
Saat ini Ryan dan juga Kris tengah berada di dalam kamar hotel Pupyong Incheon, 25,7 KM dari Seoul. Sebelum kembali ke Kanada, Ryan memohon pada Kris untuk singgah beberapa hari di Korea. Meski dengan berat hati, Krispun
mengiyakan permintaan Ryan.

“Ne. Ne. Eum. Aku akan segera
kesana!” Ucap Kris mengakhiri
sambungan teleponnya.

“Nugu?” Tanya Jiyeon penasaran.

“Nae chingu. Oppa akan keluar
sebentar. Jangan kemana-mana dan tetaplah disini! Arasseo?”

“Eum!” Ryan menganggukkan
kepalanya seraya mempoutkan
bibirnya lucu.

Kris mengecup puncak kepala Ryan singkat kemudian bergegas pergi meninggalkan Ryan sendiri didalam kamar hotel.

5 Jam sudah Kris pergi. Ryanpun
mulai merasa bosan. Dilihatnya jam dinding hotel masih menunjukkan pukul 5 sore.

“Aissh, ini benar-benar
membosankan! Aku sudah berada di Korea dan hanya terkurung didalam sini.” Ryan yang terbaring langsung
bangkit dan mengambil mantel
hangatnya.

“Aku hanya akan pergi sebentar,
oppa!” Bisiknya  entah pada siapa lalu pergi keluar
dari dalam kamar hotel.

***

Ryan begitu takjub melihat
pemandangan kota Incheon disore hari.

“Aigoo, bukankah ini negara
kelahiranku? Aku seperti baru
pertama kali kesini saja!” Ucapnya.

Ryan lalu menghentikan sebuah
taksi dan menaikinya.

“Ahjussi, apakah jarak dari sini ke Namsan Tower jauh?” Tanyanya sopan.

“Eoh? Namsan Tower? Lumayan!
Agasshi ingin pergi kesana?” Tanya sabg supir taksi.

“Eum!” Jawab Ryan menganggukkan kepalanya.

Mata Ryan melebar disertai dengan mulutnya yang terbuka.
Pemandangan di Namsan Tower
memang sangat indah pada malam hari.
Setelah membayar sang supir taksi, ia langsung berjalan-jalan
mengelilingi area Namsan Tower.

~BRUK~

Tak sengaja seseorang menabrak
Ryan sehingga membuatnya
terjatuh.

“Gwaenchana?” Tanya sang yeoja
ikut berjongkok.

“Nan Gwaenchanayo!” Jawab Ryan seraya tersenyum manis pada sang yeoja berambut ikal sebahu itu.

~DEG~

Mata sang yeoja itu langsung
memanas. Jantungnya berdetak
dengan sangat hebat.

“Jiyeon-ah?”

“Mwo?”

“Jiyeon-ah!” Ia langsung
menghambur memeluk Ryan yang terlihat begitu bingung.

***

Apakah Ryan akan kembali mengingat masa lalunya?
Bagaimana dengan Kris?
Apa yang akan ia lakukan saat ia
mengetahui bahwa Ryan yang
sebenarnya adalah Park Jiyeon itu adalah adiknya yang terpisah?
Nantikan next part nya!
Silahkan sertakan kritik dan
sarannya!
Coment jusaeyo! 😀

FF Kris Jiyeon (KrisYeon couple) Part 2

image

            
                 Attention
                    (part 2)

Author :
Erni Eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Wu Yi Fan aka Kris (EXO)

Other Cast :
Ham Eunjung (T-ara)
Huang Zi Tao (EXO)
Kim Sunggyu (INFINITE)

Songficts :
B.A.P Coma

Genre :
Action, Romance, Friendship,
Family, Sad

Length :
Chaptered

A / N : Part 2 hadir. Pernah author post di tanggal 11 April 2014. Semoga
part ini tidak mengecewakan.
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

Jiyeon, semenjak kematian Hyomin, ia mati-matian belajar menembak.
Menembak memang bukanlah
keahliannya karena keahliannya
hanyalah ilmu beladiri.
Sementara Eunjung, keadaannya semakin hari semakin membaik. Namun berbeda dengan Qri, ia dibawa pulang oleh kedua orangtuanya. Qri yang memang seorang putri pengusaha kaya, sejak SMA sudah bersahabat baik dengan Eunjung. Saat lulus perguruan tinggi ia memutuskan untuk ikut bersama Eunjung, berlatih ilmu beladiri dan bergabung dalam organisasi NIS.

Eunjung, ia berusaha untuk
menemui Qri, namun kedua orangtua Qri selalu menolak kedatangannya. Tentunya
mereka menyalahkan Eunjung atas apa yang terjadi pada putri mereka saat ini.

***

@DORM T-ARA

“Geumanhae!” Perintah Eunjung saat melihat Jiyeon yang tengah berlatih menembak didalam ruang kedap suara.

Jiyeon, yeoja itu tak pernah berhenti berlatih. Tembakannya memang tak sesempurna Hyomin, namun ia tetap
berusaha menembak tepat sasaran.

Jiyeon, yeoja itu terlihat terengah. Meski hanya memegang sebuah senjata api, namun itu membutuhkan
keberanian dan konsentrasi tinggi. Bahkan ini lebih sulit dibandingkan dengan ilmu
beladiri baginya.

~BRUK~

Tubuhnya terjatuh perlahan dilantai, air matanya mengalir seiring dengan peluh yang membasahi pipinya. Ia
menunduk, menahan rasa perih
dalam hatinya. Hatinya sungguh
belum bisa menerima kepergian
Hyomin.

“Eonnie! Hiks…” Lirihnya dengan terisak.

Eunjung yang melihatpun langsung mendekat. Ia tau dengan jelas bagaimana perasaan Jiyeon saat ini.
Ia duduk disamping Jiyeon. Menepuk pundaknya lembut.

“Geumanhae! Kau harus kuat, Jiyeon- ah!”

Mendengar perkataan Eunjung, ia kembali teringat akan ucapan
Hyomin terakhir kali.

~FLASH BACK ON~

“Apa kau menganggapku seperti
eonniemu sendiri, Jiyeon-ah?”
Mendengar pertanyaan Hyomin,
Jiyeon langsung melepaskan
pelukannya.

“Mulloniji. Wae?”

Hyomin kembali mengelus puncak kepala Jiyeon lembut.

“Teureobwayo! Tetaplah menjadi uri dino yang kuat! Aratsoyo?”

Jiyeon hanya menganggukkan
kepalanya berkali-kali.

~FLASH BACK OFF~

Ne, Jiyeon. Yeoja itu ingat betul
kebersamaannya terakhir kali
bersama Hyomin. Mana ia tau bahwa itu adalah untuk yang terakhir kalinya.
Ne, ia harus kuat. Ia tidak boleh
lemah. Ini semua demi Hyomin.
Huang Zi Tao, ia harus menangkap orang cina itu entah dalam keadaan hidup ataupun mati. Itulah tekadnya.

***

@THE LUXURY VILLA

Saat ini Kris tengah berada disebuah villa mewah di Nonhyeon, Gangnam-gu di Seoul. Ia tegah menunggu
diluar ruangan yang didalamnya
tengah ada Kim Sunggyu dan Tao.

Kim Sunggyu, ternyata ia adalah
salah satu pelanggan setia dari
jaringan penjualan senjata Anti-Tank ilegal yang salah satunya dianggotai oleh Kris dan juga Tao.

Mendengar Tao lah yang telah
membuat yeojachinguya, Hyomin, hingga meninggal dunia, ia langsung datang
menemui Tao. Kim Sunggyu yang
memang memiliki kemampuan
berbahasa mandarin dapat dengan mudah berkomunikasi dengan Tao yang memang hanya mampu berbicara dalam bahasa mandarin.

~BLAG~

Kim Sunggyu dengan kesal
membanting pintu dan keluar dari dalam ruangan itu.

“Neo! KENAPA KAU MEMBIARKAN DIA
MELAKUKANNYA, EOH?” Teriak
Sunggyu. Sepertinya ia benar-benar sangat marah saat ini.

“Jweisonghamnida!” Ucap Kris
menunduk. Walau bagaimanapun
juga, Tao adalah tanggung jawabnya. Ia sudah menganggap Tao seperti adik kandungnya sendiri. Selain karena mereka sama-sama berasal dari cina, karena ialah Tao akhirnya
bergabung dengan jaringan ilegal
itu.

Dengan amarah yang memuncak,
Sunggyu kemudian pergi meninggalkan Kris.

Kris langsung masuk menemui Tao.

“Gege!”
(Kakak!)

“Ni hao ma?”
(Bagaimana keadaanmu?

“Hau, ge!” Jawab Tao menunduk.
(Baik, Kak.)

Kris langsung duduk disamping Tao yang tengah terbaring di atas ranjang.

“Tuei Pu Ci!” Ucap Tao seraya
menunduk.
(Maaf)

Namja tinggi berkulit agak gelap itu benar-benar merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan. Ini pertamakalinya ia mengakhiri hidup seseorang. Saat itu ia benar-benar
tidak bisa menahan emosinya ketika tangannya terluka oleh tembakan yang Hyomin berikan padanya.

Tangan, itu adalah hal yang paling berharga baginya.
Dengan tangan itulah ia berlatih beladiri dan wushu.
Dengan tangan itulah ia bisa
mendapatkan uang untuk
eommanya.

Eomma, hanya yeoja tua itulah yang ia miliki didunia ini.

***

~FLASH BACK ON~

@QINGDAO, SHANON HOTEL

Saat ini terlihat seorang namja
tinggi berkulit agak gelap tengah
melakukan atraksi beladiri wushu tak jauh dari
Qingdao Hotel. Dengan lincah ia
memainkan tongkat yang ia bawa. Semua pejalan kaki yang kebetulan lewat pun langsung ikut menonton.pertunjukan jalanan itu. Mereka bertepuk tangan tatkala namja itu
selesai melakukan atraksinya.
Merekapun juga memberikan sejumlah koin padanya.

Seorang namja berkacamata hitam dari atas kamar Qingdao Hotel begitu kagum melihat atraksi yang dilakukan
namja berkulit agak gelap itu. Iapun turun melalui lift hotel, segera bergegas menemui namja berkulit agak gelap tersebut.

Ditempat namja tinggi berkulit gelap itu kini tengah ada 3 namja paruh baya berseragam polisi.

“Ni Zai.” (Kamu lagi.)

Namja tinggi bertubuh gelap itu
hanya menunduk.

“Yuanlai ni bu fangqi, eoh!”
(Rupanya kau tidak ada kapoknya,
eoh!)

Salah seorang namja paruh baya itu mengobrak-abrik barang-barang yang namja tinggi gelap itu bawa. Ia hanya terdiam tak berani melawan.

“Women yixing gaosuguo ni buyao zai zheli zuo qiguai de shiqing!” (Sudah kami bilang jangan melakukan hal aneh itu disini!)

Namja tinggi berkacamata hitam
langsung datang menghampiri ketiga namja paruh baya berseragam dan seorang namja berkulit agak gelap.

“Tingzhi!” (Hentikan!) Lerainya.

Keempat namja itu langsung
menoleh kearahnya.

“Ni shi shui?” (Siapa kau?)

“Women zai yici yonggan tongzhi.” (Berani sekali memerintah kami.)

Namja tinggi berkacamata hitam itu langsung melepaskan kacamatanya. Ia tersenyum manis pada ketiga polisi
itu.

“Wo shi Wu Yi Fan.”
(Saya adalah Wu Yi Fan.)

Ketiga polisi itu langsung
melebarkan matadan juga mulut mereka. Mereka
kemudian langsung tertawa.

“Ni zai keiwanxiao ba? Hahaha….”
(Apa kau sedang bercanda?)

“Wu Yi Fan? Ni de yisi Wu Xiumin de erzi zhongguo zui fuyou de shangren zai ben? Hahaha…..”
(Wu Yi Fan? Maksudmu kau ini putra dari Wu Xiumin pengusaha paling kaya seantero China ini?)

Mereka bertiga kembali tertawa.

Namja tinggi itu masih setia dengan senyum manis yang menghiasai bibirnya.

“Ni bu xiangxin?”
(Kalian tidak percaya?)

“Hahaha…..” Mereka kembali tertawa.

Namja tinggi itu langsung
menyerahkan kartu identitasnya
pada mereka.

Ketiga polisi itu begitu tercekak
ketika melihatnya. Mereka langsung menelan saliva mereka masing-masing.

“Wo sile!” (Matilah aku!) Gumam
salah satu dari ketiga polisi itu.

Wu Yi Fan, namja tinggi itu langsung tersenyum miring.

“Wo yinggai zenme chenghu wo ba ne?” Tantangnya dengan senyum kemenangan menghiasi wajah tampannya.
(Apa perlu aku hubungi ayahku
sekarang?)

“Buyao Buyao!” (Jangan jangan!)
Ucap ketiganya serempak seraya
melambaikan kedua tangan mereka. Mereka langsung menunduk berkali- lkali meminta maaf padanya.

“Qu!” (Pergilah!) Perintahnya.

Mereka bertigapun langsung berlari pergi meninggalkan Wu Yi Fan dan namja berkulit gelap itu sebelum mereka dan keluarga mereka dalam
bahaya.

Wu Family, mereka adalah keluarga kaya raya yang berasal dari China. Kakayaan mereka terdengar hingga ke penjuru Asia.

Wu Family terkenal dengan
perusahaan mereka yang berada
diberbagai negara, entah itu dalam bidang kosmetik, Transportasi maupun telekomunikasi. Namun
tidak banyak orang tau bahwa
keluarga mereka adalah pemimpin dari jaringan penjualan senjata Anti-
Tank ilegal. Mungkin hanya
beberapa yang tau karena mereka melakukan transaksi itu.

Senjata Anti-Tank, sebenarnya hanya organisasi pemerintahanlah yang boleh memperjualbelikan senjata
berbahaya itu. Namun, karena koneksi Wu Family berada diberbagai negara, mereka
jadi bisa dengan mudah memperjual belikan senjata berbahaya itu.

“Ni hao ma?” (Kau baik-baik saja?) Tanya Wu Yi Fan.

“Hau. Xie-xie, Ge!” (Baik.
Terimakasih, Kak!)

“Xing shenme?” (Siapa namamu?)

“Wo jiao Huang Zi Tao. Gege wo xing Tao!”
(Nama saya Huang Zi Tao. Kakak
boleh memanggil Tao!)

Wu Yi Fan langsung membantu
membereskan barang-barang namja berkulit agak gelap yang diketahui bernama Huang Zi Tao itu.

“Weisheme bu da?” (Kenapa tidak melawan?)

“Tamen ye bing bu fandui Ge, dang tamen you weizhi.” (Mereka juga tidak melawanmu kak, padahal mereka berpangkat.)

Wi Yi Fan langsung terdiam.
Membenarkan apa yang dikatakan Tao.

“Zhege shijie shang zhiyou qian
caijue. Erqie wo juede gege yeyou bi tamen geng duo de qian.” (Didunia
ini hanya uanglah yang berkuasa.
Dan kurasa uang kakak lebih banyak dari mereka.)

Keduanya langsung tertawa.
Selesai membereskan barang-
barangnya, Tao langsung pamit.

“Dengdai! Wo yinggai zenme canyu?”
(Tunggu! Apa aku boleh ikut?) Tanya Wu Yi Fan saat Tao hendak melangkah pergi meninggalkannya.

***

Keduanya kini tengah berjalan
disebuah gang sempit.

“Nin zhu zai nali?” (Dimana
rumahmu?) Wu Yi Fan mulai merasa khawatir.
Apakah mungkin pria bernama Tao itu ingin mencelakakannya?
Pikirnya. Namun ia langsung kenggelengkan kepalanya.
Pasti bukan. Ia kembali membatin.

“Bu duo! Hen kuai women dedao.”
(Tidak jauh. Sebentar lagi kita
sampai.)

Tak berapa lama keduanyapun tiba disebuah rumah yang tidak terlalu mewah. Bahkan terlihat sangat sederhana.
Didepannya tak ada tanaman atau apapun. Hanya sebuah tempat duduk panjang yang terbuat dari bambu.
Ternyata Wu Yi Fan salah atas pikirannya.

“Zhe suo fangzi?” (Ini rumahmu?)
Tanya Wu Yi Fan.

“Shi.” (Iya.)

Lalu keluarlah sosok yeoja berusia 70 tahunan dari dalam rumah itu.

“Ni hui jia?” (Kau sudah pulang?)
Tanyanya.

“Shi, mama!” (Iya, Ibu!)

“Zhe shi shei?” (Siapa ini?) Tanya sang eomma.

“Ta shi wo pengyou, mama!” (Dia
temanku, ibu!)

Wu Yi Fan kemudian memperkenalkan dirinya.

“Ni Hao! Wo jiao Wu Yi Fan. Wo xing Wu Fan!” (Halo! Nama saya Wu Yi Fan. Anda boleh memanggil saya Wu Fan!)

Eomma Tao tersenyum ramah.

Wu Yi Fan, ia begitu rindu akan
senyum khas dari sosok seorang
eomma.

“Zhe shi wo mama, ge!” (Ini ibu
saya, kak!)
Ucap Tao memperkenalkan sang
eomma.

Sang eommapun langsung
menunduk.

***

Wu Yi Fan, sejak pertemuannya
dengan Tao dan sang eomma, ia jadi lebih sering berkunjung kerumah mereka. Selalu membawakan makanan jika ia berkunjung kesana.
Kedatangannya selalu disambut
hangat oleh Tao dan juga sang eomma.
Wu Yi Fan, bahkan ia merasa
memiliki keluarga baru.

Tao menceritakan semua tentang
kehidupannya pada Wu Fan.
Menceritakan tentang appanya yang hanya seorang pelatih ilmu beladiri. Saat itu usia Tao baru menginjak  12 tahun ketika ia diajak appanya untuk pergi
ke Philipina melakukan pertunjukan seni beladiri.
Tao yang memang dilatih ilmu
beladiri sejak kecil dapat dengan
mudah menghibur panonton yang hadir disana. Sampai tiba kejadian naas itu terjadi. Sang appa ditembak oleh salah seorang perampok yang entah
mereka datang dari mana menyerbu tempat pertunjukan mereka. Tao yang melihat langsung kejadian itu tak mampu berkata apa-apa.
Ucapan terakhir appanya adalah
meminta ia untuk menjaga sang
eomma.

Semenjak kematian sang appa, ia
berhenti sekolah dan hanya berlatih ilmu beladiri.
Setiap hari hanya melakukan atraksi jalanan demi mendapatkan uang.
Eommanya yang hanya seorang
penjual kue jalananpun sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan jauh. Kadang Tao ikut membantunya berjualan.

Mendengar kisah Tao, Wu Fan begitu tersentuh. Ia begitu mengagumi sosok Tao yang begitu mandiri. Iapun memutuskan untuk mempekerjakan Tao sebagai
bodyguard nya.

~FLASH BACK OFF~

“Heu ci ta lu!” (Kembalilah ke
China!)

“Ten se, ge….” (Tapi, kak….)

“Wo nung cien tu!” (Akan ku urus
semuanya!)
Kris, iapun pergi meninggalkan Tao yang masih menunduk.

Kris, sebenarnya ia tidak tega
melihat Tao seperti itu. Selama ini Tao sudah menjadi bayangannya. Hingga para anggota dari organisasi
NIS yang mengejarnyapun hanya
mengetahui mengenai Tao. Ini
sudah cukup. Tao sudah sangat
cukup melindunginya selama ini.

***

@Dangjak-Yu

Kim Sunggyu, namja berjas hitam itu terlihat tengah meletakkan sebuket mawar putih dimakam Hyomin.
Bunga kesukaan yeojachinguya itu. Ia langsung duduk disamping
makam yeoja yang amat ia cintai itu.

“Mianhae!” Lirihnya.

“Jeongmal mianhaeyo! Hiks…” Namja itupun menangis disamping makam Hyomin.

Kim Sunggyu, 3 tahun lalu saat
Hyomin menghancurkan seluruh
virus yang ada dikomputer
perusahaannya, ia jelas sudah
tau siapa Hyomin sebenarnya.
Namun ini pertama kalinya ia
bertemu salah seorang anggota NIS yang berkemampuan mengenai telekomunikasi itu, yakni Hyomin. Kecantikan yang dimiliki Hyomin
mampu menghipnotis Sunggyu.

virus-virus itu sebenarnya ia
sendirilah yang menyebarkannya. Saat itu ia mendengar bahwa agen khusus dari pemerintah akan memeriksa semua aset-aset perusahaannya. Yang ia khawatirkan adalah transaksi
yang biasa ia lakukan dengan Wu
Xiumin, sang pemimpin dari
jaringan penjualan senjata Anti-Tank ilegal. Tidak mungkin hanya dalam satu hari ia mampu menghilangkan semuanya. Maka dari itu ia memerintahkan orang yang ahli mengenai telekomunikasi untuk
mengirimkan semua virus-virus itu pada perusahaannya.
Maka dengan sekejap ia mampu
menghilangkan data-data tersebut. Untuk menghilangkan kecurigaan dari agen khusus pemerintah yang akan memeriksa semua aset
perusahaannya, ia memerintahkan bawahannya untuk mempekerjakan seorang yang ahli mengenai
telekomunikasi, dan akhirnya
Hyominlah yang ditugaskan disana.

Jiyeon, yeoja itu terlihat begitu
bingung saat melihat seorang namja yang tengah menangis disamping makam Hyomin

“Dangsineun nugu yo?” Tanyanya.

Sunggyu langsung membalikkan
tubuhnya tatkala mendengar suara Jiyeon.

“Dangsin,,,,,,” Tunjuk Jiyeon tatkala melihat wajah Sunggyu.

Sunggyu langsung menunduk
memberikan hormat.

“Annyeonghasaeyo!” Sapanya.

Jiyeon langsung mendekat.
Ia lalu duduk disamping Sunggyu.

“Kau datang juga!” Ucapnya.

Sunggyu langsung menghapus air
matanya.

“Ne.” Jawabnya singkat.

Jiyeon lalu tersenyum memandang makam Hyomin.

“Eonnie, dia sering sekali
menceritakan tentangmu Sunggyu-ssi!”

Sunggyu langsung menoleh kearah Jiyeon.

“Dia bilang kau namja yang sangat baik. Ia begitu beruntung bisa bersama denganmu!” Jiyeon memulai ceritanya membuat Sunggyu begitu terkejut mendengar penuturan Jiyeon.
Yeoja itu, ternyata ia begitu tulus
mencintainya. Sedangkan ia? Ia
selama ini membohongi Hyomin. Berpura-pura tidak mengetahui profesi Hyomin yang sebenarnya. Meski itu juga bukan kesalahannya karena memang Hyomin pulalah
yang tidak mau memberitahukannya.
Tapi tetap saja ia begitu merasa
bersalah. Apalagi mengingat orang yang telah membunuh Hyomin adalah bagian dari kelompoknya.

“Eonnie, ia akan merias diri dengan sangat cantik tatkala kau
mengajaknya berkencan. Ia akan
memakai berbagai riasan untuk
membuatmu terpesona padanya. Ck, padahal tanpa riasan pun ia sudah terlihat sangat cantik!” Jiyeon, air matanya mengalir tatkala mengingat kenangannya tentang Hyomin.
Dengan kasar ia menghapus air mata yang mengalir dipipinya.

“Eonnie, ia selalu memperlihatkan fotomu pada kami. Ia sangat ingin
memperkenalkan pangerannya itu pada kami semua!” Lanjut Jiyeon.

Sunggyu, hatinya benar-benar terasa perih. Yeoja itu begitu memujanya.

“Kim Sunggyu, akhirnya eonnie
berhasil mempertemukan kita.”
Jiyeon tersenyum miris seiring dengan air matanya yang terus mengalir.

Kim Sunggyu, iapun ikut menangis. Menangis menyesali semuanya.

“Mian! Mianhae! Hiks.. ” Ucapnya
tertunduk.

Jiyeon langsung menoleh kearahnya. Ia melihat namja itu sudah terisak.

“Ini semua adalah salahku!”
Tambahnya dengan suara parau.

Jiyeon, yeoja itu tentu tidaklah
mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan Sunggyu padanya.

“Apa maksudmu?” Tanyanya.

Tubuh Jiyeon bergetar hebat ketika Sunggyu menceritakan semua itu padanya.
Tentang jaringan penjualan senjata Anti-Tank ilegal, tentang Huang Zi Tao yang telah membunuh Hyomin, termasuk tentang keterlibatan perusahaannya dengan jaringan itu.

Sunggyu langsung duduk bersimpuh dihadapan Jiyeon yang kini berdiri tegak seiring tubuhnya yang masih bergetar hebat.

“Neo! Nappeun namja!” Uapnya
dengan suara gemetar menahan
amarah.

“Mianhae! Hiks…” Jawab Sunggyu yang masih menangis.

Jiyeon, dengan langkah lemas yeoja itu pergi meninggalkan Sunggyu yang masih duduk bersimpuh seiring dengan derasnya airmata dan
besarnya penyesalan yang menohok didalam dadanya.

Jiyeon, ia tak menyadari kedatangan Eunjung. Ia langsung menabrak tubuh Eunjung dan melewatinya begitu saja.

“KYA!”

Jiyeon tak menghiraukan teriakan Eunjung. Ia langsung bergegas menuju mobil van yang ia dan Eunjung bawa.

Enjung, setibanya dimakam ia lebih memilih untuk mencari toilet terlebih dahulu.

“Ada apa dengan anak itu?” Gumam Eunjung. Iapun langsung berjalan menuju makam Hyomin. Betapa
terkejutnya ia saat mendapati sosok Sunggyu yang tengah duduk bersimpuh membelakangi makam Hyomin.

“Waegeurae?” Tanyanya saat tiba
dihadapan Sunggyu.

Sunggyu langsung mendongakkan
wajahnya dan mendapati Eunjung
ada disana.

“Mian! Mianhae!” Ucapnya.

Ia pun akhirnya menceritakan kembali kepada Eunjung semua yang ia ceritakan pada Jiyeon.

~PLAK~

Eunjung dengan kasar menampar
pipi Sunggyu yang sembab oleh air mata.

“Ini tidak seberapa dibandingkan
dengan apa yang sudah kalian
lakukan!” Ucapnya tajam.

Sunggyu, namja itu kini sudah
pasrah dengan apapun yang akan terjadi padanya. Ia harus bertanggung jawab atas semuanya.

Eunjung langsung menghubungi
Hoya, salah satu anggota dari
organisasi NIS.

“Yeoboseyo!” Ucapnya saat
sambungan teleponnya tersambung.

“Ne. Cepat datang ke Dongjak-Yu. Bawa beberapa pasukan. Kita sudah berhasil menangkap salah satu anggota dari jaringan ilegal itu. Ne. Palli!” Eunjung langsung memutuskan
sambungan teleponnya.

“Jiyeon, dimana dia?” Tanya Eunjung pada Sunggyu.

“Apa mungkin…….” Eunjung langsung bergegas berlari,
Namun ia kembali menghampiri
Sunggyu. Ia langsung mengeluarkan borgol dari dalam saku jaketnya dan
memborgol kedua tangan Sunggyu.
Sunggyu hanya menerima semua
perlakuan Eunjung padanya.
Eunjung lalu mencari kunci mobil
milik Sunggyu dari dalam saku jas Sunggyu.

“Tetaplah disini! Kau harus
bertanggung jawab atas semuanya!” Ucapnya saat berhasil menemukan kunci mobil milik Sunggyu. Iapun
langsung pergi, namun ia kembali berbalik.

“Mobil mewahmu ini bukankah ilegal juga? Jadi aku tidak perlu meminta ijin darimu untuk menggunakannya!” Eunjung kembali berbalik dan
meneruskan langkahnya menuju
mobil mewah Sunggyu.

***

@The Luxury Villa

Jiyeon, yeoja itu langsung menghajar para penjaga yang menghalanginya. Tujuannya hanyalah satu, yakni membunuh Huang Zi Tao.

Ia akhirnya  berhasil melewati beberapa penjaga dengan mudah karena memang ilmu beladirinya tidak dapat
diragukan lagi.

***

Sementara itu, Kris yang memang tengah membereskan barang-barang Tao begitu heran saat ia mendengar keributan diluar kamar.

“Shenme, gege?” (Ada apa, Kakak?)
Tanya Tao.

“Zai zheli dengzhe! Bu chulai!
Mingbailema?” (Tunggulah disini!
Jangan keluar! Mengerti?)

Tao hanya menganggukkan
kepalanya. Namun saat Kris hendak melangkah menuju pintu,

~BRAK~

Pintu kamar Tao sudah didobrak dan muncullah sosok Jiyeon disana.

Jiyeon dan Kris, keduanya sama-
sama terlihat terkejut.

“Kris?” Tanya Jiyeon. Ia lalu
tersenyum miris.

“Jadi kau juga salah satu dari
mereka?” Tambahnya.

Jiyeon, gadis itu tertawa seiring
dengan hatinya yang terasa perih
mengetahui kebenaran itu. Apakah ia bernasib sama dengan Hyomin?
Mencintai orang yang salah?

Kris, ia benar-benar bingung. Tidak mengerti dengan maksud dari semua ini.
Apa maksud dari perkataan Jiyeon?
Apakah mungkin Jiyeon adalah salah satu dari anggota NIS yang ingin menangkapnya?

“Aku akan ikut bersamamu! Tapi
lepaskan Tao!”

Mendengar Kris menyebutkan nama orang yang telah membunuh Hyomin, ia langsung memandang kearah Tao.

“Kaukah Huang Zi Tao?” Tanyanya
tersenyum miring.

Keduanya terdiam. Tao yang
memang tidak mengerti bahasa Korea hanya terdiam.

Jiyeon lalu mengambil pistol yang ia bawa. Menodongkan pistol tersebut tepat kearah Tao.
Saat ia hendak menekan pelatuk
pistol itu, Kris langsung menghalanginya.

“Haji ma!” Ucap Kris yang tangannya kini dengan pasti menggenggam tangan Jiyeon yang masih memegang
pistol.

“MINGGIR KAU BRENGSEK! AKU AKAN MEMBUNUHNYA! AKU AKAN MENGHABISINYA!” Teriak Jiyeon.

Terdengar suara tembakan dari luar villa. Kris langsung mengunci tubuh Jiyeon.

“KYA! LEPASKAN!”

Tao langsung mendekat dan
memukul pelan tengkuk Jiyeon menggunakan telunjuknya. Yeoja itu langsung pingsan. Kris langsung memapah jiyeon.

“Women yinggai likai zheli!” (Kita
harus segera pergi dari sini!) Ucap Kris. Iapun langsung menggendong Jiyeon diatas punggungnya disusul dengan Tao yang mengekor dibelakangnya.

Mereka keluar melewati jendela
kamar yang memang langsung
terhubung dengan halaman
belakang villa. Tao langsung membukakan pintu mobil yang terparkir disana. Kris lalu
membaringkan tubuh Jiyeon didekat kursi pengemudi.
Sedangkan Tao, ia duduk dikursi
penumpang.
Kris langsung mengendarai mobil itu melewati para anggota NIS yang memang sudah mengepung tempatnya.

“Saekk!” Umpat Eunjung saat melihat mobil yang dikendarai Kris melaju dengan cepat. Eunjung dan para anggota lainnyapun mulai mengejar.

“Ge, tamen you qiang!” (Kak, mereka memiliki senjata!) Ucap Tao ketika terdengar suara tembakan yang menembaki mobil yang mereka kendarai.

Jalanan yang memang berkelok-kelok dan berbukit dapat dengan mudah membuat Kris menghindari tembakan
yang ditunjukkan pada mereka.

“KYA! HATI-HATI! MEREKA MEMBAWA JIYEON! JANGAN SAMPAI JIYEON TERLUKA!” Teriaknya pada Hoya yang
memegang pistol.

Hoya yang duduk disamping Eunjung yang sedang mengemudipun langsung menginteruksikan pada
semua anggota melalui earphone yang terpasang ditelinganya untuk berhati-hati dalam menembak.

“Women jiang wufa yixu, ge!” (Kita tidak akan bisa terus menghindar, kak!) Ucap Tao.

Krispun mulai panik.

“Wo zai zhe’er, ge!” (turunkan sku disini, kak!)

“Shenme?” (Apa?)

“Ni yao jiu ziji. Wo you yige
xiangfa!” (Kau harus menyelamatkan diri. Aku punya ide!)

“Bie shengqi!” (Jangan gila!)

“Qing, ge! Ni yao huo
xiaqu!” (Kumohon, kak! Kau harus tetap hidup!)

“TING XIALAI!” (HENTIKAN!) Teriak Kris kesal.

“Wo hui jiu ni, ge! Wo zai
zhe’er!” (Aku akan menyelamatkanmu, kak! Turunkan aku disini!)

Kris masih melanjukan mobilnya.

“Ge, xiangxin wo!” (Kak, Percayalah padaku!)

Kris mulai menghentikan laju
mobilnya.
Taopun langsung turun dari dalam mobil.

“Wo yao qu zuzhi tamen. Jixu
xingshi! Yongyuan buyao
huitou!” (Aku akan menghalangi
mereka. Teruslah melaju! Jjngan
pernah menengok kebelakang!) Ucap Tao yang kemudian menutup pintu mobil.

Kris dengan berat hati mulai
melajukan kembali mobilnya.

Mobil yang dikendarai Eunjung dan anggotanya pun mulai terlihat.

Tao, Imia berdiri ditengah jalan dan merentangkan tangannya. Ia mulai memejamkan kedua matanya.

“Papa, wo hui gan shang!” (Ayah,
aku akan menyusulmu!)

~DUAKKKKKKK~

Mobil dari salah satu anggota
Eunjung tidak dapat mengendalikan mobilnya dan menabrak tubuh Tao.
Semuanyapun menghentikan mobil mereka termasuk Eunjung. Mereka langsung turun dari dalam mobil dan berlari menghampiri tubuh Tao yang sudah tak bernyawa.
Tubuhnya dipenuhi darah akibat
terpental cukup jauh.

Kris, ia melebarkan matanya tatkala melihat dari spion mobil tubuh Tao yang terpental. Matanya memanas.
Saat tikungan ia tidak melihat ada sebuah truk pengangkut sayuran yang melintas dan tabrakanpun terjadi. Mobilnya terpental dan berbalik
berkali-kali.

~DUARRRRRRRR~

“ANDWAEEEE!!!!!!!!!” Teriak Eunjung saat melihat mobil yang dikendarai Kris meledak.

***

Bagaimana nasib Jiyeon dan Kris?
Apa mereka meninggal?
Tunggu part selanjutnya!
Jika ada salah penulisan bahasa
korea maupun mandarin, mohon
bantu author untuk memperbaikinya.
Saran dan Krtiknya author
tunggu!
Coment jusaeyo! 😀

FF Kris Jiyeon (KrisYeon couple)

image

                Attention
                         (part 1)

Author :
Erni Eyexs

Main Cast :
Park Jiyeon (T-ara)
Wu Yi Fan aka Kris (EXO)

Other Cast :
Ham Eunjung (T-ara)
Qri (T-ara)
Park Hyomin (T-ara)
Huang Zi Tao (EXO)
Kim Joon Myun aka Suho (EXO)
Kim Jong In aka Kai (EXO)

Songficts :
B.A.P Zero

Genre :
Action, Romance, Friendship,
Family, Sad

Length :
Chaptered

A / N : FF ke 9 hadir. Pernah author publish di tanggal 6 April 2014 silam. Kali ini author
kasih yang berlength chaptered.
Untuk cast, author pairingin Jiyi
dengan Kris oppa. Pemilihan cast
pun tidak sembarang author ambil karena author sesuaikan dengan karakter dan story. Semoga KrisYeon couple ini tidak mengecewakan para
readers!
DON’T PLAGIARISM!
HAPPY READING!

***

~Bo Peep Bo Peep Bo Peep Bo Peep Ah!
Bo Peep Bo Peep Bo Peep Bo Peep Bo Peep Bo Peep Bo Peep Bo Peep Ah, Ah!~

“KYA! CEPAT TURUN, JIYEON-AH!” Teriak Hyomin pada Jiyeon yang saat ini tengah berada diatas sebuah meja, ia tengah asik berkaraoke ria
didalam ruang VVIP disebuah klub malam bernama CLUB VOLUME didaerah Itaewon. Klub malam ini berada didalam hotel CROWN, berdekatan dengan stasiun bawah tanah NOKSAPYEONG.
Sepertinya yeoja bernama Jiyeon itu tengah mabuk.

“Dia terlalu banyak minum anggur!” Gumam Eunjung yang juga berada satu ruangan dengan Jiyeon dan Hyomin.

Hyomin masih berusaha membujuk Jiyeon untuk turun dari atas meja.

“Eonnie, target sudah datang!” Ucap Qri saat masuk kedalam ruang VVIP tersebut.

“Kajja!” Perintah Eunjung.

“Bagaimana dengan Jiyeon, eonnie?” Tanya Hyomin.

“Tinggalkan dia disini!” Jawab
Eujung.

Ketiga yeoja berambut pendek itu langsung keluar meninggalkan Jiyeon yang masih bernyanyi diatas meja.

~CEKLEK~

Seorang namja berkacamata hitam berambut pirang nampak terlihat memasuki ruangan
VVIP yang didalamnya tengah berada sosok Jiyeon yang tergeletak diatas sofa.
Sepertinya yeoja itu sudah lelah
bernyanyi, sesekali ia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

“Wo yio mei yio chin chi cou?” Ucap sang namja.
(ABAIKAN BEBEBRAPA BAHASA ASING YANG READERS TEMUKAN DI FF INI KARENA MUNGKIN SAJA ADA BEBERAPA YANG SALAH!)
Kemudian ia mengeluarkan android putih dari dalam saku jaket hitamnya. Ia terlihat tengah menghubungi
seseorang.

“Eomma…. Appa…. ” Racau Jiyeon.

Mendengar hal itu, namja yang
belum menyadari kehadiran Jiyeon sejak pertama memasuki ruang VVIP itupun langsung menghentikan aksinya dan
mendekat kearah sofa. Dilihatnya seorang yeoja berambut pendek hitam tengah berbaring disana.

“Bhogosippo!” Jiyeon kembali
meracau namun kali ini terdengar begitu memilukan ditelinga sang namja. Ia melihat yeoja itu mengeluarkan air mata. Ternyata ia menangis. Entah apa yang ada difikiran sang namja, ia
mendekatkan tangannya pada pipi dan Jiyeon  berusaha menghapus air mata yang mengalir disana. Namun
aksinya terhenti tatkala android
putihhya berbunyi.

“Se. Wo se Kris. cai na li? Hau ah.” Namja itu kembali menatap Jiyeon setelah ia selesai memutuskan sambungan teleponnya.

“Oppa!” Racau Jiyeon.

Namja itu terus memperhatikan
Jiyeon higga seorang namja berkulit agak gelap memasuki ruangan.

“Gege, kuai tien!”

Iapun langsung keluar mengikuti
namja yang tubuhnya tidak jauh
lebih tinggi darinya.

***

@Dorm T-ara

“Eotteokhae, eonnie?” Tanya Jiyeon.

“Gagal!” Jawab Eunjung datar.

“MWO?” Jiyeon nampak terkejut mendengarnya.

“KYA! INI SEMUA SALAHMU, PARK JIYEON! KALAU SEMALAM KAU TIDAK MABUK, KITA PASTI BISA MENANGKAPNYA!” Teriak Hyomin kesal.

“Naega? Wae?” Tanya Jiyeon polos.

“Karena ilmu beladirimu yang paling menonjol diantara kita semua. Lawan kita semalam adalah namja yang
berkemampuan ilmu bela dirinya cukup baik.” Jawab Qri.

“Cincha?” Jiyeon nampak penasaran.

“Geumanhae! Kita harus mengatur strategi baru untuk menangkap mereka!” Ucap Eunjung masih dengan wajah datarnya.

T-ara, salah satu organisasi yang
terdiri dari 4 yeoja muda berbakat yang didirikan oleh badan inteljen Korea Selatan yang dikenal dengan
nama NATIONAL INTELLIGENCE
SERVICE (NIS).
NIS mempunyai tugas utama
menjaga keamanan nasional.
T-ara adalah salah satu unit dari
NIS yang dipimpin oleh Ham
Eunjung. Dengan kemampuannya
untuk mengatur strategi, ia pun
dibantu oleh ketiga rekannya, yakni Hyomin yang memiliki kemampuan mengenai alat komunikasi, merancang senjata dan alat canggih lainnya. Kemudian Qri yang mempunyai kemampuan penyamaran, serta Jiyeon kemampuan beladiri
yang ia miliki.

Saat ini T-ara tengah ditugaskan
untuk mengawasi dan menangkap sebuah jaringan yang terlibat dalam skandal penjualan senjata Anti-Tank
ilegal ke berbagai negara.

***

@Best Western Hotel

“Do you miss Korea?” Tanya namja berkulit putih.

“No.” Jawab namja bertubuh tinggi.

“Come on, Kris! You definitely miss the country?”

Kris, namja tinggi yang diketahui
bernama Kris itu hanya terdiam.
Ia memandang suasana kota seoul pada malam hari dari atap gedung hotel yang terletak ditepi sungai Han bagian barat Seoul.

” Hyung, kajja! Kita harus segera
kembali!” Ucap namja berkulit agak gelap.

“Kau ini cerewet sekali, Kai!”
Jawabnya.

“Geureh, kuserahkan semua tugas ini padamu Kris!” Tambahnya seraya menepuk pundak Kris.

“Suho, apa sajangnim sudah
menghubungimu?” Tanya Kris pada namja berkulit putih yang diketahui bernama Suho itu.

“Belum. Aku harus segera ke Amerika untuk menyerahkan senjata ini. Kuharap kau bisa bertransaksi dengan baik selama disini!” Jawabnya yang kemudian pergi bersama namja berkulit agak gelap yang diketahui
bernama Kai itu.

Kris, namja tinggi berkulit putih ini adalah salah satu anggota dari
sebuah jaringan rahasia. Ia mampu berbahasa Mandarin, Korea dan juga Inggris.

“Apakah aku merindukan Korea?” Gumamnya.
Kemudian tak lama android putihnya berbunyi.

“Tao-ya, ni hao ma?” Tanyanya panik saat mendengar suara Tao namja tinggi berkulit agak gelap itu begitu terengah.

“Cai na li?” Kris terlihat tengah
berjalan menuju pintu.

“Gege masang yao kouci. Teng wo!” Kris langsung bergegas pergi menemui Tao.

***

@Insadong

“KYA! KENAPA KAU MEMBIARKANNYA LOLOS, EOH?” Teriak Hyomin kesal.
Kenapa ia selalu saja di buat kesal?
Tak taukah bahwa yeoja itu begitu mengerikan ketika ia dalam mode on kesal?

“Anio. Dia terlalu cepat, jadi aku
tidak dapat menyusulnya!” Jawab
Jiyeon membela diri.

Hyomin terlihat begitu kecewa.

“Eotteokhae? Eunjung eonnie pasti akan marah!” Ucapnya panik.

Jiyeon hanya menunduk. Lagi-lagi ia yang membuat targetnya lolos.

“Apa Qri sudah menghubungimu?”

“Ani. Qri eonnie dan Eunjung eonnie belum menghubungiku. Apa mungkin mereka sudah berhasil menangkap Kim Joon Myun dan Kim Jong In?” Tanya Jiyeon masih dengan wajah polosnya.

“MOLLA. KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB. SEGERA TEMUKAN ORANG CINA ITU!” Bentak Hyomin pada
Jiyeon. Iapun bergegas
meninggalkan Jiyeon didepan salah satu galeri seni di Insadong.

“KYA! Eonnie! Eodigayo?”
Hyomin tak menjawab, ia tetap
melanjutkan langkahnya.

“Jigeum eotteokhae? Aku harus
mencari orang cina itu kemana?”
Gumam Jiyeon panik. Jiyeonpun
berbalik dan tak sengaja menabrak seorang namja tinggi.

“Jweisonghamnida!” Ucapnya seraya menunduk.

Namja tinggi itu melebarakan
matanya tatkala melihat Jiyeon.

“Bukankah dia yeoja diklub malam itu!” Batin sang namja yang ternyata adalah Kris.

Jiyeon, yeoja itu terlihat terpesona saat melihat sosok namja tinggi yang ada dihadapannya itu. Matanya
melebar, jantungnya berdetak hebat.
Ada apa dengannya?

Kris, namja itu hanya menundukkan kepalanya dan berjalan melewati Jiyeon yang masih berdiri mematung disana.

“Challada.” Gumamnya.

Kris kemudian menolehkah kepalanya dan masih mendapati Jiyeon yang tengah berdiri membelakanginya. Namja itu
menarik kedua sudut bibirnya
membentuk sebuah senyuman.
Entah apa yang ia fikirkan saat ini,  yang jelas ia merasa senang dapat bertemu kembali dengan yeoja itu.

Kemudian ia merasa ada seseorang yang menarik tangannya dan menutup mulutnya. Kris pun melawan.

~BUK~

Tinjunya tepat mengenai perut
orang yang menariknya. Orang yang menariknya itupun melepaskan tangannya dan mengerang kesakitan.

“Tao-ya, ni hao ma?” Tanya Kris dan ternyata orang yang mendapat tinju darinya adalah Tao.

“Sen Ping, Gege!” Erangnya.

“Tuei pu ci!” Ucap Kris menyesal.

***

@Dorm T-ara

“Kim Joon Myun dan Kim Jong In
sudah berhasil kami serahkan pada NIS.” Ucap Eunjung.

Saat ini ke-4 yeoja berambut pendek itu tengah berkumpul didorm mereka.

“Geureh. Hachiman, mianhae eonnie karena kamu masih belum menangkap orang cina itu.” Ucap Hyomin meminta maaf seraya menundukkan
kepalanya.

“Gwaenchanayo. Kita akan
mendapatkan informasi lebih banyak lagi setelah Kim Joon Myun dan Kim Jong In selesai diinterogasi.” Jawab Eunjung bijak.

“Igeon modu je jalmosimnida!” Ucap Jiyeon menunduk merasa bersalah.

Qri langsung merangkul pundak
Jiyeon.

“Kya, gwaenchanayo! Uri dino sangat kuat. Pasti untuk kesempatan berikutnya kau bisa menangkapnya!”

“Ne, keureoke saenggakamnida!”
Tambah Eunjung.

Jiyeon tersenyum mendengar
penuturan kedua eonnienya itu.
Iapun mendongakkan kepalanya dan tepat dihadapannya Hyomin
menberikan death glare padanya, Jiyeon kembali menunduk.

Ne, Jiyeon dan Hyomin memang satu tim. Jadi wajar saja Hyomin terlihat begitu marah saat Jiyeon
membiarkan target mereka lolos.

Selesai berdiskusi, ke-4 yeoja
berambut pendek itu langsung
menuju kamar mereka masing-
masing. Eunjung menginteruksikan mereka untuk beristirahat sampai selesainya proses penginterogasian
Kim Joon Myun dan Kim Jong In.

Jiyeon, ia sangat dekat dengan
Hyomin. Tentu saja, karena ia dan Hyomin sejak kecil tinggal bersama di panti asuhan Kwangju, Korea Selatan. Ia sudah menganggap Hyomin seperti saudara kandungnya
sendiri.

Saat ini, Jiyeon terlihat begitu ragu untuk mengetuk pintu kamar Hyomin.

“Ige otteokhae?” Gumamnya.
Iapun memberanikan diri mengetuk pintu kamar Hyomin.

“Deureogada!” Ucap Hyomin dari
dalam kamar.

Jiyeon menarik nafasnya dan  kemudian  menghembuskannya secaya perlahan. Kemudian ia mulai membuka knop pintu dengan SANGAT hati-hati.

“Eonnie?”

Hyomin menoleh dan mendapati
hanya kepala Jiyeonlah yang terlihat dari balik pintu.

“Deureogada!” Perintahnya.Hyomin saat ini tengah
membersihkan wajahnya. Ia terlihat tengah duduk didepan meja riasnya.

Jiyeonpun semakin memperdalam langkahnya
memasuki kamar Hyomin. Ia masih menundukkan kepalanya.

Hyomin yang melihatnya melalui
pantulan cermin yang ada
dihadapannya hanya tersenyum
jahil. Tentu saja ia tau maksud
kedatangan Jiyeon padanya.

“Waegeurae?” Tanyanya dingin.

Jiyeon masih menunduk.

“Mianhae, eonnie!”

“Mwo?” Tanya Hyomin dengan ketusnya, tentu saja itu hanya untuk menjahili yeoja yang sudah ia anggap seperti dongsaengnya sendiri.

“Mianhae!”

“Mworago? Aku tidak
mendengarnya!”

“MIANHAE!” Teriak Jiyeon dan
kembali menunduk.

Hyomin tersenyum dan langsung
membalikkan badannya menghadap Jiyeon yang masih setia menundukkan kepalanya.

“Dagawa Jwo!” Titah Hyomin.

Jiyeon langsung melangkahkan
kakinya mendekat kearah Hyomin.
Hyomin tertawa melihat tingkah
polos Jiyeon.

“Kya, wae?” Protes Jiyeon merasa dirinya di tertawakan oleh sang Hyomin.

Hyomin masih tertawa. Ia bahkan memegangi perutnya yang terasa sakit akibat tawanya.

“Eonnie!” Rengek Jiyeon.

Hyomin lagi-lagi hanya menjawab dengan tawanya.

“KYA!” Teriak Jiyeon dengan kerasnya membuat
Hyomin akhirnya berusaha menghentikan tawanya namun tatap saja ia kembali tertawa.

Jiyeon terlihat begitu kesal. Ia
mempoutkan bibirnya lucu.

“GEUMANHAE!” Ia kembali menyuarakan protesnya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

Hyomin langsung berhenti tertawa.
Ia melemparkan senyum khasnya pada yeoja yang sudah ia anggap saudaranya itu. Ia langsung bangkit dan memeluk hangat tubuh Jiyeon.

“Uri dino.” Bisiknya seraya mengelus puncak kepala Jiyeon lembut.

“Eonnieeeeeee” Rengek Jiyeon dan kemudian membalas pelukan Hyomin.

“Mianhae, eonnie!” Tambahnya.

Hyomin hanya tersenyum
menanggapinya.

“Apa kau menganggapku seperti
eonniemu sendiri, Jiyeon-ah?”

Mendengar pertanyaan Hyomin,
Jiyeon langsung melepaskan
pelukanyna.

“Mulloniji. Wae?”

Hyomin kembali mengelus puncak kepala Jiyeon lembut.

“Teureobwayo! Tetaplah menjadi uri dino yang kuat! Aratsoyo?”

Jiyeon hanya menganggukkan
kepalanya berkali-kali dan sukses
membuat Hyomin kembali tertawa.

“Geumanhae!” Ucap Hyomin diiringi tawa gelinya.

***

@Dongdaemun

Saat ini Jiyeon tengah berbelanja
disalah satu pusat perbelanjaan di Doosan Tower.
Ia terlihat tengah memilih-milih
sebuah pakaian hangat.

“Saya mau membelikan sebuah
pakaian hangat untuk yeoja berusia 70 tahunan.”

Jiyeon nampak terlihat tengah mendengar percakapan antara
seorang pembeli namja dengan
seorang penjaga toko. Jiyeon
sepertinya tertarik dengan
percakapan kedua orang itu.

“Ne, ju. Hachiman, berapa
ukurannya?” Tanya sang pelayan.

“Geugeos……..” Namja itu memiringkan kepalanya. Ia
terlihat tengah berfikir.

Jiyeon semakin mendekati namja tinggi berambut pirang yang tengah membelakanginya itu.

“Sillyehamnida!”

Sang penjaga toko langsung
menunduk melihat kedatangan
Jiyeon.

“Mueoseul dowa deurilkkayo?” Tanya Jiyeon.

Sang namja berambut pirang itu
langsung menoleh dan ia terlihat
begitu terkejut saat mendapati
ternyata yeoja yang ada
disampingnya saat ini adalah yeoja yang beberapa hari lalu pernah bertemu dengannya.

“Tangshin?” Tunjuk Jiyeon pada
namja tinggi yang ternyata adalah Kris. Ia tersenyum manis dan di balas Kris yang langsung menunduk begitupun
dengan Jiyeon.

***

@Dorm T-ara

“Chongmal?” Tanya Eunjung yang
saat ini tengah menjawab sebuah
telepon dari salah satu anggota NIS.

“Ne. Algessoyo. Ne.”

“Nugulobuteo?” Tanya Qri saat
melihat Eunjung memutuskan
sambungan teleponnya.

“Hoya. Jigeum gaya!”

“Eodio?” Tanya Qri yang melihat
Eunjung melangkah keluar.

“Markas. Aku akan segera
menghubungimu!”

Eunjungpun pergi. Qri yang
melihatnya hanya menghembuskan nafas lelahnya.

“Jigeum eotteokhae?” Iapun langsung mengeluarkan
androidnya untuk bermain game
menghilangkan rasa bosannya yang hanya seorang diri didorm.

***

@Pierre Gagnaire Restaurant

Saat ini Hyomin dengan gaun putih selututnya tengah duduk manis menunggu kedatangan seorang namja yang sudah hampir 3 tahun menjadi namjachingunya, yakni Kim
Sunggyu.

~uri eodiseo bwassdeora?
uri eodiseo bwassdeora?
geunikka uriga
daeche manna mwol haessneunde~

Hyomin langsung mengangkat
androidnya yang berdering.

“Yeoboseyo?”

“Ne, oppa.”

“Gwaenchanayo.”

“Eung.”

Yeoja itu terlihat kecewa tatkala
menutup sambungan teleponnya.

Kim Sunggyu, namjachinguya
mengatakan bahwa ia tidak dapat
datang karena ada rapat mendadak dikantornya.

Kim Sunggyu, namja itu adalah
seorang CEO muda dari sebuah
perusahaan kosmetik terkenal di
Korea. Hubungan Hyomin dengan Sunggyu memang sudah berlangsung selama 3 tahun. Namun keduanya jarang
bertemu karena kesibukan masing- masing.
Hingga saat ini Sunggyu belum
mengetahui pekerjaan Hyomin yang sebenarnya. Ia hanya tau bahwa Hyomin hanyalah seorang karyawan disalah
satu perusahaan telekomunikasi.
Pertemuan merekapun berawal saat Hyomin yang ditugaskan untuk menghancurkan virus-virus yang menyebar diseluruh komputer perusahaan Sunggyu yang memang sengaja dilakukan oleh rival Sunggyu. Dari situlah awal pertemuan mereka berdua.

***

@Dongdaemun

“Yeongeorul malsum halsuisseoyo?”

“Chogumyo.”

Saat ini Jiyeon dan Kris tengah
berjalan melewati toko-toko yang berjejer rapih disepanjang jalan Dongdaemun.

“Eodieseo wasseumnika?” Tanya Jiyeon berusaha mengenal lebih jauh lagi tentang sosok namja yang kini tengah berada di sampingnya itu.

“Torontoeseo wasseumnida!” Jawab Kris memberitahukan tempat asalnya.

“Toronto?”

“Eung. Kanada.”

“Aigoo, Kupikir kau orang cina!”
Kris hanya tersenyum
menanggapinya.
Entah apa yang ia fikirkan, tapi ia
merasa sangat nyaman berada
disamping yeoja itu. Melihatnya
tersenyum dan tertawa tatkala ia
melihat sesuatu yang menurutnya lucu.

“Eoh, kita belum berkenalan.”

Kris lagi-lagi hanya melemparkan
senyumnya.

“Je ireumeun Jiyeon imnida. Ireumi mueosimnika?” Jiyeon mulai memperkenalkan diri.

“Jeoneun Kris imnida.” Jawab Kris.

“Kris? Nama yang bagus.” Ucap
Jiyeon seraya menganggukkan kepalanya lucu dan itu sukses
membuat Kris kembali tersenyum.

***

@The Westin Chosun Hotel

“Eotteokhae?” Tanya Hyomin.

Qri hanya menggelengkan kepalanya.

“Kemana anak itu?” Gumam Hyomin.

Saat ini keduanya tengah berada
didalam mobil van. Mereka tengah menunggu kedatangan Eunjung yang tengah masuk ke dalam sebuah hotel mewah yang ada dihadapan mereka.
Mereka tidak ikut masuk kedalam hotel karena perintah dari Eunjung.

Eunjung yang mendapat kabar
bahwa orang cina yang menjadi
target mereka ada didalam gedung hotel itu langsung menghubungi Qri dan Qripun menghubungi Hyomin, namun sepertinya Jiyeon tidak
membawa androidnya karena ia tidak dapat mereka hubungi.

***

@Dongdaemun

“Gachi gaja!”

“Eodigayo?” Tanya Kris penasaran atas ajakan yeoja yang baru ia ketahui bernama Jiyeon itu.

Jiyeon langsung menarik tangan Kris.
Entah apa yang membuat Jiyeon
berani menyentuh namja tinggi yang baru ia temui itu, namun ia merasa seperti sudah mengenal Kris sejak lama.

Krispun hanya mengikuti kemanapun kaki Jiyeon melangkah. Mereka berdua
berjalan-jalan melihat aneka
pertunjukan dan aneka jajanan yang ada di Dongdaemun. Seperti halnya saat ini, Jiyeon dan Kris tengah makan Ddeokbokki disalah satu
podjungmaja disana.

“Maeume daero?”

“Eung.” Jawab Kris.

“Eoh, untuk siapa pakaian hangat
itu? Apa untuk ibumu?” Jiyeon nampak penasaran dengan pakaian yang di beli Kris itu.

“Anio. Eomeoni sudah meninggal.” jawab Kris masih dengan keramahannya.

“Eoh? Mianhae!” Jiyeon nampak menyesal menanyakannya.

“Gwaenchanayo!”

“Nado.” Balas Jiyeon.

“Mwo?”

“Eomeoni dan appa juga sudah
meninggal.” Jawab Jiyeon nampak muram.

Kris terlihat begitu iba. Ternyata
nasibnya dan Jiyeon sama. Mereka berdua sama-sama yatim piatu.

“Geuraeseo, untuk siapa pakaian
hangat itu?” Jiyeon kembali menanyakannya.

“Inae chinguui eomeoni!” Jawab Kris.

“Chingu?”

“Eung.”

“Yeoja?” Nampaknya yeoja bernama Jiyeon ini benar-benar penasaran padanya.

“Anio. Geu namja.”

Jiyeon terlihat tersenyum manis
mendengarnya.
Kris yang melihatnyapun ikut
tersenyum.

***

@The Westin Chosun Hotel

“Eonnie sama sekali tidak membawa senjatanya!” Ucap Hyomin panik saat melihat pistol berkaliber peluru 22
cal itu tergeletak dijok mobil van
yang memang diduduki Eunjung
terakhir kali.

“MWO?” Qri nampak terkejut mendengarnya.

“Aku akan memberikan ini pada
Eonnie!” Hyomin bangkit.

“Andwae! Biar aku saja!” Tawar Qri.

“Anio. Tunggulah disini! Tetap
hubungi Jiyeon!” Hyominpun masuk kedalam hotel.

***

@Dongdaemun

~ Geurae Wolf, naega Wolf, Awoo… Ah, saranghaeyo! Nan neukdego, neon minyeo ~

Kris langsung mengangkat
androidnya yang berbunyi.

“Wei!”

“Hao de!”

Kris langsung memutuskan
sambungan teleponnya.

“Nugulobuteo?” Tanya Jiyeon penasaran.

“Chinguya. Meonjeo silyehagessumni da! To bweibgesseumnida. Annyeongi gyaseyo.” Kris berjalan meninggalkan Jiyeon. Ia
lalu kembali berbalik.

“Dowa jusyeoseo gamsahamnida!”

Jiyeon hanya tersenyum
menanggapinya. Ia melihat
punggung Kris yang makin tak
terlihat oleh matanya.

***

@The Westin Chosun Hotel

Saat ini Eunjung tengah mengejar Tao yang berlari ke atap gedung hotel.

“Kya! Kau tidak bisa lari lagi, Huang Zi Tao.” Ucap Eunjung yang saat ini sudah berada diatap bersama Tao.

Mereka berduapun terlibat perkelahian hebat.
Tao yang memang memiliki
kemampuan bela diri yang baik sejak kecil dengan mudah membuat Eunjung terluka.
Tao tersenyum miring melihat
Eunjung yang sudah terkapar.
Untungnya Hyomin dapat segera
menyusul keduanya. Dengan nafas terengah Hyomin langsung
menghampiri Eunjung dan
menolongnya.

“Eonnie, gwaenchana?” Tanyanya begitu khawatir melihat keadaan Eunjung saat ini.

Eunjung terlihat babak belur.
Sepertinya orang Cina bernama Tao itu tidak pandang bulu melihat lawannya.

Eunjung ternyata  mengeluarkan banyak darah.
Hyomin langsung menodongkan
pistol yang ia bawa tadi kearah Tao.

~DOARRRRR~

Peluru itu tepat mengenai Tangan Kiri Tao.
Tao yang melihat tangannya mulai berdarah langsung mendekat ke arah Hyomin.

Hyomin, ia memang yang paling
lemah ilmu beladirinya.
Tao langsung menghajarnya.
Melepaskan pistol yang ada ditangan Hyomin dengan memelintir tangannya kasar.

Eunjung dengan susah payah
bergerak berusaha mengambil pistol yang terlepas tadi. Namun Tao langsung menendangnya.
Menendang tepat diperutnya dan itu sukses membuar Eunjung
mengeluarkan banyak darah dari
dalam mulutnya.

Sementara itu, Hyomin tengah
diseret hingga sampai diujung
gedung. Tao sepertinya benar-benar sangat marah.
Sedangkan Eunjung sudah tidak
mampu menggerakkan tubuhnya kembali.

Qri yang mulai khawatirpun
langsung keluar dari dalan mobil
vannya.

~BRUK~

“ANDWAE!” Teriak Eunjung.

Qri, tubuhnya bergetar hebat tatkala tubuh Hyomin jatuh tepat berada dihadapannya.

Tao, ia langsung menghampiri
Eunjung yang terlihat begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Tao pada Hyomin, melemparkannya dari atas
gedung.
Eunjung tak kuasa menahan tangis serta amarahnya.

Tao mendekat dan langsung
menendang Eunjung lagi dan lagi
hingga sosok Kris datang.

“Pu khe ci, Tao-ya! Khuai ce!”
Kris langsung membawa Tao pergi.

***

@Dorm T-ara

Jiyeon memasuki dorm dengan
riangnya. Dilihatnya tak ada siapapun disana.

“Eodiiss-eo?” Jiyeon langsung masuk kedalam kamarnya dan melihat androidnya tergeletak diatas meja riasnya.

“Ternyata benar ada disini!”
Ucapnya. Kemudian ia melihat ada banyak panggilan dari Qri.

“Ige mwoya?” Monolognya mulai merasa cemas.
Pasti telah terjadi sesuatu yang buruk. Batinnya
Iapun langsung menghubungi Qri
namun tak ada jawaban.

***

@Dongjak-yu

Saat ini, Jiyeon tengah menangis
disamping makam Hyomin.
Tepat sehari yang lalu Hyomin
meninggal dunia jatuh dari atap gedung hotel saat menjalankan tugasnya. Semua tim dari NIS yang hadirpun sudah kembali pulang. Saat ini hanya tersisa Jiyeon dan Eunjung disana.

Eunjung, meski hampir semua
bagian tubuhnya terluka, ia tetap
menghadiri upacara pemakaman
Hyomin meskipun dengan
menggunakan kursi roda.

Qri, ia yang melihat langsung tubuh sahabatnya yang terjatuh
didepannya begitu shock. Dokter
mengatakan bahwa ia harus dirawat untuk sementara waktu karena kondisi kejiwaannya yang
terguncang.

“Geumanhae!” Perintah Eunjung lirih.

Jiyeon masih saja menangis.

“Uri kacu gapsida!” Ajaknya.

Jiyeon masih terus menangis.
Eunjungpun tak tega melihatnya.
Angin mulai berhembus seiring
dengan matahari yang hampir
tenggelam.
Eunjung mendorong kursi rodanya dengan sekuat tenaga menghampiri Jiyeon dan mengelus lembut puncak
kepala Jiyeon.

“Eonnie!” Ia langsung memeluk Eunjung. Ia merasa bersalah. Lagi-lagi ini semua
adalah kesalahannya. Ia yang
membuat ketiga eonninya itu
terluka. Bahkan Hyomin yang sudah ia anggap saudara kandungnya sendiri kini sudah meninggalkannya.

“Geumanhae! Hyomin pasti akan
sangat sedih melihatmu seperti ini!” Eunjungpun ikut manangis. Lagi-lagi ia harus kehilangan orang-orang yang ia kasihi. Setelah kedua orangtuanya dibantai habis oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,
Kini giliran sahabatnya yang mati
didepan mata kepalanya sendiri.
Ia benar-benar merasa tidak
berguna karena sudah membiarkan ini semua terjadi.

“Nugu, eonnie?” Tanya Jiyeon masih dengan isak tangisnya.

“Nugu haesseyo?” Tambahnya.

Eunjung malah semakin mempererat pelukannya pada Jiyeon.

“Apa orang cina itu?” Jiyeon terlihat geram seraya air matanya yang masih mengalir.

Eunjung tak mampu menjawab.
Ia sungguh takut jika Jiyeon
akhirnya memiliki perasaan dendam yang sama seperti dirinya. Perasaan yang begitu menyiksanya. Yang tidak
bisa ia hilangkan hingga detik ini.

“Huang Zi Tao? Huang Zi Tao niga
haesseyo?”

***

Eotteokhae? Kasih kritik dan
sarannya ne readers!
Coment jusaeyo!